Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-07-09
Updated:
2022-12-14
Words:
14,950
Chapters:
5/?
Comments:
15
Kudos:
68
Bookmarks:
9
Hits:
1,053

Pemilik langit

Chapter 5: harganya sebuah cerita

Notes:

AKU BOHONG, MAAP YA! sumpah sebenernya minggu lalu mau nulis tapi dihajar sama UTS. selo saja kidz, ini udah deket liburan, berarti gue punya banyak waktu nulis ntar. kalo gue ga upload, ingetin aja gue lewat comments, pls, gue seneng banget baca komen kalian gila, alasan gue jadi inget ama ni ff gara-gara liat komen kalian muncul di email minggu lalu. KASIH GUE KOMEN BANYAK-BANYAK ITU UDAH KAYAK PUKPUK AMA PEYUK ULU ULU CAYANK BUAT GUE!

Chapter Text

Dirga menghela nafasnya. Ia tahu Ludwig akan bicara begitu.

Agaknya, Dirga sedikit menyesal telah berbohong pada Ludwig. Kelakuannya ini malah menjadi bumerang, Ludwig terus memberikan Dirga bantuan berupa makanan dan mantel. Mungkin kata “memberikan” tidak pantas dan cocok dengan situasi Dirga saat ini, “melempar” lebih cocok.

Hampir setiap hari, Dirga disambut oleh barang, tanpa tahu wujud pembawanya. Tiba-tiba saja jatuh dari atas, atau memantul di tubuhnya, atau bahkan saat Dirga menoleh sebentar dari mejanya, sudah ada makanan di samping bukunya entah darimana.

Jika Dirga tidak menyadari dan mengenal bayangan sekelebat yang buru-buru melarikan diri saat Dirga dikagetkan dengan makanan yang mencoleknya, mungkin Dirga tidak akan bisa tidur hingga tubuhnya ambruk sendiri. Sempat dikiranya ia diusili oleh hantu atau ada mata-mata yang sedang menguntitnya, sebelum matanya bisa mengikuti sosok besar dengan mantel hitam dan topi hitam buru-buru memasuki toko roti terdekat. Sempat berpandangan mata pula dengan sosok misterius ini—yang diketahui ternyata matanya berwarna biru langit dan rambut pirang hingga ia membuang muka.

“biarkan aku selesai bicara dulu, Ludwig.” Kata Dirga. Ludwig diam menurut. Dirga menarik nafasnya “aku tidak akan menghentikanmu.” Ludwig tersenyum puas mendengar ini. Ia menang! Misi terselesaikan! “namun,” Dirga melanjutkan, “aku akan tetap menolak barang pemberianmu jika kurasa itu berlebihan atau aku sedang tidak membutuhkannya. Sebaliknya, kumohon jangan melempar barang padaku lagi. berikan saja padaku langsung.”

Ludwig melempar tatapan tidak setuju pada Dirga. Ini sama saja bernegosiasi dengan musuh dengan kesepakatan yang konyol seperti “aku akan membunuhmu, lalu setelah itu aku bunuh diri.” Ludwig membalas “dan kau akan memberikanku sesuatu balik, bukan?”

Dirga malah tersenyum. Ia menepuk tangannya “begini saja, bagaimana bila kita barter?”

Itu tak beda jauh dengan apa yang berusaha dihindari Ludwig. Tahu saja ia, Dirga sedang menggunakan taktik yang sama dengannya—menggunakan kata berbeda dengan makna sama untuk membuat lawannya setuju meski tak mengerti, misalnya saat Ludwig menyebutkan makanan pemberiannya pada Dirga adalah makanan sisa.

“oh jangan salah! Ini bukan tanda terimakasih! Ini sebagai tanda pengenalan satu sama lain!” seru Dirga.

“tanda pengenalan satu sama lain?” ulang Ludwig.

“ya! Kau berikan aku makanan atau apapunlah yang ingin kau berikan, aku akan memberikanmu sesuatu juga dari negaraku atau olahanku!” serunya dengan semangat. Ia lalu berdiri dan membuka sekotak kardus disamping pintu, yang tidak disadari keberadaannya oleh Ludwig hingga Dirga memegangnya. Kardus itu sudah dalam keadaan terbuka. Dirga mengobok-ngobok isi kardus itu, barang yang ia pilih dikempitnya, lalu dicari lagi barang yang ia ingin ambil, hingga ketiaknya tak bisa menahan barang lagi lalu ia selempangkan salah satu barang di dalam kardus itu ke pundaknya, sebuah plastik bening berisi benda putih dengan corak aneh yang disusun rapih.

Dirga mengurutkan barang-barang dari ketiaknya dan pundaknya itu ke kasur. Ia dengan semangat mengambil salah satu barang itu dan memberikannya ke Ludwig. Ludwig memegang barang pemberian Dirga dengan bingung. Sebuah kotak, dengan gambar hewan yang terlihat seperti musang di depannya.

“cobalah itu nanti di rumah, Ludwig!” seru Dirga dengan semangat. “kau bisa menyeduh kopi kan? Cobalah! Itu asli dari tempatku!”

“ini.... kopi?” tanya Ludwig. Ia mengira itu adalah coklat.

“ya! Itu kopi luwak!” serunya. “jangan kau tanya proses pembuatannya, coba saja dulu. Itu kopi andalanku jika ada tamu main ke negaraku. Kau pasti suka, Ludwig! Sebaliknya—“ Dirga menunjuk sosis yang sebelumnya gagal diberikan pada Dirga di saku celana Ludwig. “berikan itu padaku.”

Ludwig merogoh sosis di sakunya, Dirga menerima sosis itu dan memakannya dengan lahap. “sekarang kita impas.” Kata Dirga.

Ludwig masih ingin menolak, namun bagaimana caranya ia menolak bila sudah seperti ini? Apalagi, Dirga sangat antusias memberikan kopi luwak itu pada Ludwig. Mata emasnya berkilat-kilat penuh semangat dan ia terlihat bahagia saat memberikan kopi itu pada Ludwig. Ia tak ingin kegiatan barter ini dilanjutkan. Bagaimana pula orang yang bercukupan barter dengan orang yang berusaha menahan dingin dan lapar?

Masih merasa Ludwig ragu, Dirga mengucap “barter ini tak perlu dengan makanan atau barang. Mungkin, bisa dengan jasa atau hal lain yang kau ingin aku lakukan. Misalnya mencuci baju, membersihkan rumahmu, atau apalah.”

“Aku tak mau memperlakukan tamuku seperti pembantu.” Tanpa jeda, Ludwig menolak. “kau itu pelajar, kau kesini untuk belajar, berilmu, bukan menjadi babu.”

Dirga tak tahu harus bagaimana lagi. Masalah ini segera selesai jika saja Dirga menerima bantuan dan pemberian Ludwig secara cuma-cuma, namun hati dan moralnya tak terima. Selalu ia ingat ajaran leluhur dan budayanya untuk menjadi seorang yang sungkan. Janganlah mengadahkan tangan terus-menerus pada orang lain, hingga kau bergantung. Sekali-kali, jadilah orang yang memberi diatas tangan yang mengadah. Sudah bagus Ludwig membiarkannya belajar disini, mencarikannya tempat, membiarkannya mengambil ilmu. harus ia akui, ia amat sengsara sebelum Ludwig melakukan aksi usil padanya. Ia selalu kedinginan, kelaparan, kesepian. Jika makanan dan uangnya habis dan belum ada kiriman dari pemerintah, ia hanya bisa berjalan tanpa arah di luar. Namun berjalan menguras energinya dan itu membuatnya semakin lapar. Akhirnya ia mengganti aktivitasnya dengan duduk di air mancur tengah kota, sambil melihat angkasa dan orang sekitar. Yang tidak ia sadari, disitulah Ludwig memergokinya menangis dan merenung.

“begini saja, Dirga” lanjut Ludwig. “Aku ingin jasa bartermu itu berupa cerita saja.”

“cerita?”

“ya, cerita. Cerita tentang negaramu, wargamu, tentang kau, tentang budayamu, apapun itu.” Jelas Ludwig. Dirga masih terlihat bingung.

“seperti ceritamu tentang saudara-saudaramu tadi.” Lanjutnya. “aku ingin tahu seperti apa dirimu, saudara-saudarimu, dan seperti apa asia tenggara ini, Dirga.”

Dirga terkekeh, “mahal sekali, sebuah cerita seharga makanan dan barang?”

“dan kau baru kali ini menceritakan tentang dirimu sendiri. Itu pun aku harus mengendap-endap memberi sosis dan diculik ke kamarmu.” Balas Ludwig. “dan apalah ruginya sebuah cerita seharga makanan sisa dan baju bekas? Begini saja Dirga, jika aku beri kau sesuatu, aku akan meminta bayarannya dengan cerita yang ingin kau ceritakan. Jika kau tak mau, tak apa, bisa dibayar dengan cerita lain. Kuyakin ceritamu tak sedikit kan?”

“Jika kekayaan seseorang diukur dengan cerita, aku yakin bisa makan di restoran bintang 5 setiap hari, Ludwig.” Balas Dirga. “Rakyatku pun akan tentram hidupnya. Bahkan tak perlu kerja mereka. Sungguh jika cara bekerja manusia berlaku sepertimu ini, berapa orang yang bisa lolos dari kelaparan, Ludwig? Tak ada cara lain kah?”

“itu hargaku. Tak lebih, tak kurang.” Dengan tegas Ludwig berkata.

Meringis Dirga dibuatnya. Berdebat dengan saudara-saudaranya yang tengil-tengil saja selalu kalah, apalagi berdebat dengan negara yang dikenal tegas dan berwibawa? Ini sudah larut malam pula, tak ada energi yang bisa ia gunakan melawan Ludwig. Dirga akhirnya mengangguk dan mengalah.

Ludwig tersenyum puas. Disinilah kemenangan sesungguhnya. Keputusan sesuai dengan apa yang ia mau. Ludwig beranjak dari tempat duduknya, lalu berpamitan dengan Dirga. Sudah saatnya ia pulang, apalagi ini sudah jauh melewati jam tidur.

“Kukira negosiasi kita akan berlangsung hingga pagi, syukurlah kau menerima tawaranku, aku sudah mulai mengantuk.” Canda Ludwig.

Dirga melirik kopi luwak pemberiannya yang digenggam Ludwig. Ada alasan lain mengapa Dirga cepat mengalah. Dirga menganggap semua pemberian Ludwig dari awal hingga akhir sudah impas dengan kopi luwak itu, yang tak diketahui Ludwig betapa mahal dan elitnya barang di genggamannya itu.

“aku pun juga.” Balas Dirga. “sosismu tadi enak sekali, Ludwig. Terimakasih. Kau coba ya kopi itu nanti!” serunya.
“ini bayaranku Dirga. pasti akan kucoba.” Balas Ludwig. “Gute Nacht, Dirga.”
"Gute nacht, Ludwig." balasnya, sambil melambaikan tangannya pada Ludwig yang membalikkan badannya, hingga tak terlihat punggungnya.

************************************************************************************************************************************************************************************

Gilbert menguap lebar. Sungguh tak ingin ia keluar dari kasurnya. Suhu saat ini mengurungnya ke dalam selimut hangatnya yang lembut dan hangat. Namun apalah daya, sekuat-kuatnya sipir dingin yang menahannya, hidungnya memberontak dan menghancurkan kurungannya. Ia mencium aroma wangi, sedap, sungguh menggoda seolah ia ditarik, membuatnya turun dari kasurnya, dan mengikuti pemilik aroma yang centil dan kurang ajar ini.

“walah, walah.” Muncul cengiran di wajahnya yang pucat. “Sejak kapan adikku yang manis nan baik hatinya ini menyeduhkan kopi untuk abangnya yang tampan nan perkasa ini di pagi hari?”

Ludwig hanya menyeruput kopinya tanpa membalas abangnya. Sungguh sedap kopi ini. Aromanya seperti coklat, teksturnya amat lembut pula. Ia juga membuatkan segelas untuk Gilbert, karena disaat ia mencium aromanya yang menghajar, pastilah abangnya akan memalaknya untuk dibuatkan kopi juga.

“haruskah aku melihat bintang untuk meramalkan apa yang akan terjadi esok? Apakah di esok hari aku akan melihat mobil meroket di angkasa?”

“akan kuminum kopimu kalau kau terus berceloteh.” Gumam Ludwig. “daripada saying jadi dingin, kuminum saja sekaligus.”

“eh eh eh, bukan begitu adikku yang menawan dan lagi baik hatinya.” Gilbert langsung lompat ke sofa dan membanting pantatnya hingga ia memantul dan menyenggol Ludwig. “masa’ abang langsung nyerobot minum tanpa pembuka? Ga seru kali lah! Pertama nih, abang mengucapkan beribu terimakasih pada dedek abang yang namanya Ludwig Beilschmidt yang sudah membuatkan kopi di pagi hari padahal katanya sibuk terus—“
“yang suka bilang sibuk itu abang.” Potong Ludwig.
“halah abang lagi santai ga ada kerjaan aja kamu bilangnya sibuk terus dek. Terus kedua, sebagai ucapan terimakasih, abang mau kasih hadiah berupa ciuman dahsyat jeder 222, 20 kali di kepala, 20 kali di pipi kiri, 20 kali di pipi kana—“

Ludwig langsung menaruh gelas kopinya yang sudah setengah, dan mengambil gelas kopi penuh milik abangnya untuk diteguk. Gilbert langsung mencengkram lengan Ludwig yang kekar “IYAIYAIYAIYA IYAAAA NGGA KOK, NGGA ABANG CIUM! JANGAN DIMINUM!!!! Ini abang minum yah, abang minum. Acara pembukaannya selesai.”

Ludwig mendengus dan kembali menyeruput kopinya. Ia menyalakan televisi sambil mencari saluran yang jernih suaranya dan sedikit semut-semut di layarnya. Ini adalah kegiatan yang selalu Ludwig lakukan setiap pagi. entah itu musim panas, musim dingin, musim semi, musim gugur, menyeruput kopi hangat memanjakan lidah sambil menonton berita untuk melihat kejadian kemarin dan memprediksi kejadian nanti, adalah sebuah terapi tersendiri baginya. Ia bisa merasakan kelopak matanya yang gatal untuk terbuka, menjadi segar bak bunga disiram air saat kopi hangat menyentuh mulut dan tenggorokannya yang terasa gersang. Sinar matahari yang lemah menembus jendela dan kordennya, tak cukup bagi matanya untuk membaca sesuatu, namun cahaya itu ada, dan ia gigih. Setebal-tebalnya awan, sekotor-kotornya jendela, cahaya itu masih bisa masuk. Meskipun tak terasa kehangatan atau panas dari cahaya itu, meskipun masih gelap juga ruangnya, suasana ini berbeda dibanding dengan ruangan yang dicahayai oleh lampu atau lilin. Cahaya inilah yang menjadi penanda datangnya pagi, yang berasal dari sang surya itu sendiri.

“HEI DEK KAU DAPAT DARIMANA KOPI INI??? TAK PERNAH KURASAKAN KOPI INI!!!!” dan kegiatan yang menjadi terapinya itu, tentu saja tidak akan bisa dijalankan bila abangnya berada disampingnya. Abangnya terus meneguk hingga kopi itu setengah kosong jadinya. Setiap tegukan, matanya mengerjap-ngerjap, seolah takjub dengan rasanya. Dan tiap ia selesai meneguk, ia melihat lagi gelasnya sambil menoleh ke Ludwig, lalu menunjuk gelasnya seolah gelasnya itu baru saja hidup dan berbicara. Tanpa bicara pun Ludwig tahu artinya, “rasa apa ini!? Kau rasakan kopi ini, Ludwig!?”

“tidak usah banyak tanya, habiskan saja.” Balas Ludwig.
“kau menyembunyikan sesuatu dariku! Tak mungkin kau racik sendiri, kau pasti mendapatkannya dari seseorang! Tak pernah kurasakan kopi seperti ini, kopi ini bahkan bukan dari Eropa! Kuyakin itu!” seru Gilbert.
Ludwig sudah menduga ini. Tapi tenang saja, Ludwig sudah punya taktik untuk melarikan diri. “aku berangkat dulu, aku mau mencari sarapan lalu meeting.”
“meeting!? Sepagi ini!? Jangan kau lari, Ludwig! Kau tak pintar berbohong, apalagi dariku, kau tahu itu!”
“aku juga berkata bahwa aku ingin mencari sarapan.” Balasnya sambil mengambil mantel dan cepat-cepat menutup pintu sebelum abangnya menginterogasinya lebih lanjut.

Sebenarnya, Ludwig tidaklah berbohong. Benar ia mau mencari sarapan, untuknya dan untuk Dirga. dan benar ia mau meeting. Meeting tidak formal lebih tepatnya. Apakah bertemu dengan negara asing di pagi hari agar ia lebih mengenal dan dekat dengannya bisa disebut meeting? Tentu bisa.

Tak mahal-mahal Ludwig membeli sarapan. Toko roti baru buka dan roti yang ia beli pun masih hangat, ini sudah lebih dari cukup. Jika ia membeli makanan yang agak mahal sedikit, pastilah ditolak Dirga.

Ludwig sudah sampai di depan kampus dimana Dirga berkuliah. Ia tahu jadwal Dirga sedari awal ia menjadi “ninja”. Namun belum sempat ia menemukan tempat duduk, Dirga sudah terlihat berjalan tergopoh-gopoh membawa tas, dan mantel tebal yang diberikan Ludwig.

Saat Dirga melihat wajah Ludwig, ia terkekeh. Ludwig telihat mencolok dengan mantelnya yang gelap dan postur tubuhnya yang tegap, berdiri di kaki tangga kampus yang masih sepi, seperti satpam kepagian yang sedang bertugas.

“sejak kapan kampus ini ada security?” canda Dirga. Ludwig tertawa kecil, lalu menyodorkan roti hangat padanya. “ini karcismu, tuan. dihabiskan ya.” Ludwig ikut bercanda.

“kalau saya menolak?”

“tidak boleh masuk, tuan.” balas Ludwig.

Dirga tertawa sambil mengambil roti yang disodorkan Ludwig. “aku belum bayar, tuan, tak punya uang aku. Bagaimana aku bisa membayar karcis hangat dan lembut ini?”

Ludwig memegang dagunya sambil melihat keatas. Pikirannya menerawang kemana-mana. Dulu, ia punya berjuta pertanyaan, sekarang ia bingung ingin bertanya apa.
“ceritakanlah seperti apa negaramu, Dirga. kali ini lebih detil.”

Notes:

saya sebagai penulis menyadari penuh atas banyaknya kesalahan dan ketidak akurasian dari fanfic ini, untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya dan meminta para pembaca untuk memaklumi. saya tidak mempunyai pengetahuan apapun yang berhubungan dengan negara Jerman, ilmu pesawat, ilmu teknik, dan lain sebagainya. Referensi saya hanya di dapat dari film Habibie & Ainun, terutama film Habibie & Ainun 2, dan fanfiction ini juga terinspirasi dari film tersebut.

*le: sebutan orang Jawa untuk anak laki-laki