Actions

Work Header

Chapter 2: Sepucuk Surat dari Alam Bawah

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Teruntuk Chan, Warna Biruku

 

 

 

Chan,

Hari ini lagi aku melihat biru.

Pada sehampar langit yang keseluruhannya terbentang; pada semak anyelir yang mekar di pekarangan; pada kibar kemeja beterbangan diembus angin di tali jemuran pakaian—kemeja yang sama dengan yang saat itu kamu berikan; serta pada sehelai saputangan, yang kini tergeletak di atas meja sewaktu jemariku menulis surat ini kepadamu.

 

Hari ini lagi aku melihat biru.

Dan mungkin bakal terus melihat biru—selama kusimpan erat-erat warna ini, bersama dengan seluruh kenang benang yang terajut ketika menghabiskan sisa-sisa waktu usai bertemu denganmu.

Memang cantik sekali biru itu, pikirku.

 

 

 

Chan,

Apakah kamu ingat?

Hari itu bersama-sama kita melihat biru; warna pertama milik kita—ketika kamu tidak sengaja mengotori bajuku dengan coreng tanah basah pekuburan. Waktu itu aku sedang duduk di tepian untuk memperhatikan Ibu mengusap air mata, tepat di samping makam yang baru saja kamu gali, yang bernamakan milik Bibi Ketiga. Aku mendengar isak di setiap mulut mengitari gundukan—selagi aku di sini tidak merasa kehilangan, pun hanya untuk sedikit.

Yang saat itu aku rasakan hanyalah kecamuk; melilit seperti seekor ular hingga sesaknya memenuhi rongga dada. Bagaimana rasanya mati? Bagaimana rasanya dikubur dan ditangisi? Apakah pemakamanku juga nantinya akan dibasahi oleh derai air mata?

Aku terus bernala sampai habis dilahap angan-angan. Sementara sakit yang selalu mendera di sekujur tubuh ini terus melesat berdenyar, menghantam sumsum dan sendi tulang sampai meringis saja sudah tak lagi berguna. Yang jelas ada satu hal yang lantang kepalaku menerus suarakan, jika aku sekarang mati—apakah seluruh derita ini akan turut berhenti?

Aku ingin mati, Chan.

Saat itu aku ingin sekali mati.

Namun keinginan bakal hanya berlaku sebagai lamunan—sebab buah pikirku kamu buyarkan oleh kejut tepukan ringan, untuk sekadar melepas tanya akan apa yang sedang aku lakukan hingga mesti menepi sampai ke ujung pekuburan. Kupikir tidak berguna juga berkelakar mengumbar dusta. Maka dengan gamblang kuucap bahwa aku ini orang sekarat yang datang bukan untuk ikut berkabung—melainkan melihat-lihat suasana tempat singgahku sebelum berlabuh di Jembatan Naihe nanti.

Dan kulihat gelagat bersalahmu sebelum meminta maaf kemudian.

Kebersalahan itu selanjutnya berubah menjadi iba, turut kamu pun berduka melalui ucap sesal dan kata-kata. Padahal kamu tahu benar bagaimana aku sama sekali tak membutuhkannya. Aku adalah seorang yang tumbuh dengan menerima rasa kasihan. Menurutmu, Chan, berapa banyak sudah aku mendengar simpati penuh kekosongan belaka dari mulut manusia—dan berapa banyak lagi aku mesti mendengarkannya?

Jadi kuungkap jika aku lebih senang untuk menyimak dan bercakap-cakap denganmu, ketimbang membahas waktu kematianku. Dan kulihat bagaimana kamu mengobral berbagai cerita—yang nantinya tanpa kita duga menjadi awal mula dari kisah biru kita. Persis seperti cantiknya bentangan angkasa yang kita pandangi bersama.

Hari itu kamu berjanji untuk menemuiku lagi.

Dan setelahnya kutemukan kamu di seluruh penjuru—bahkan sampai ke celah kecil di sekat jantungku.

 

 

 

Chan,

Semenjak aku melihat biru itu, maka selalu kunikmati pula keelokan warnanya. Karena kamu yang mengatakan jika biru adalah kamu; adalah kita—dan juga jalinan asmara yang menguasai diri kita. Maka—bukankah menjadi sebuah kesalahan apabila aku mencemarinya dengan merah pekat? Seperti saat ini ketika tetes darah tak berhenti mengucur dari penghidu—mengotori saputangan pemberianmu dengan bercak noda.

Aku masih ingat dengan kelakar besarmu akan angan-angan; bahwa kelak kita akan menjadi sepasang kucica yang akan membantu Vega dan Altair menyeberangi Sungai Perak pada tiap-tiap hari raya. Kemudian kamu akan mengajakku terbang berkeliling menjelajah langit dan Bimasakti; sebelum kembali menapak ke Bumi untuk bersama menikmati penghujung kita.

 

 

 

Namun, Chan.

Kita saat itu masih sama-sama terlalu naif. Pada kenyataannya kita tak lebih dari masing-masing seekor kuda dan rusa; yang pada hakikatnya tidak akan bisa menjadi sebuah keselarasan. Kita tak dapat menampik kejinya realitas—bahwa kita adalah sepasang perjaka bodoh yang kebetulan mengalami nasib sial bernama jatuh cinta.

Dan mungkin akulah seorang yang jauh lebih bodoh lagi.

Sebab di tengah-tengah kubangan merah dengan tubuh aus dikeruk berbagai macam komplikasi—aku tetap berusaha menjaga cerah biru itu.

Aku adalah seorang bodoh yang terus memohon dan mencinta. Meskipun telah menghabiskan kesabaran Ibu Waktu—berjaga di sisi liang lahat di tanah pekuburan yang kamu rawat selalu.

Aku adalah seorang bodoh, yang mulai dikuasai ketamakan untuk menguasai warnamu; warnaku—warna kepunyaan kita. Hanya—bisakah aku terus seperti itu? Darah telah menodai cita saputangan ini; beberapa titiknya bahkan juga mengenai putihnya kertas yang kini sedang kutulisi.

Aku memang seorang bodoh. Karena di dalam hati yang ringkih ini—kuselipkan sepercik harap agar kamu selamanya ditakdirkan menjadi milikku. Lantaran aku juga ingin menyimpanmu untuk selamanya, sebanyak seluruh cinta yang memenuhi peparuku ini. Aku ingin menikmati hari-hari lain bersamamu sampai kita abadi dimakan usia. Aku ingin tinggal lebih lama untuk menemanimu. Aku ingin hidup untukmu.

Aku ingin hidup, Chan.

Aku sangat mencintaimu.

Namun, aku telah dibangunkan oleh garis takdir yang gemar bermain-main ini. Dan sekarang aku telah menyadari—bahwa aku tidaklah boleh menyimpan keegoisanku hanya untuk sendiri. Kini usai kupahami, jika bentuk cinta tertinggi yang dapat kupersembahkan kepadamu adalah—dengan merelakanmu pergi bersukacita dengan kasih yang lain, yang tentunya dapat mendampingimu hingga akhir hayat nanti. Sebab bahagiamu kelak akan selalu menjadi bahagiaku di akhirat juga.

 



 

 

Chan,

Dengan berakhirnya surat terakhir yang kutulis ini, maka akan pula kututup lembaran kisah kita. Tidak perlu kamu mengenang aku. Biar aku sendiri yang menyimpan biru ini untuk sendiri.

Terima kasih, Chan.

Terima kasih telah mengenalkan warna terindah dalam jumpa kita yang tak begitu panjang ini. Aku mencintaimu, selalu.

 

 

 

 

 

 

 

Tertanda,

Minho,

 

Raga yang pernah menjadi birumu.

 


[Beribu sayang, sepucuk surat itu tak pernah sampai. Terburu lecak diremas kuat-kuat—dengan deret huruf yang tertutup bercak-bercak darah dan bulir air mata hingga bentuknya tak dikenali lagi.

Minho meradang terbatuk-batuk. Tubuh lemahnya terguling ke lantai kayu. Ketika Ibunya datang membawa kabar pernikahan—napas Minho hampir seutuhnya melemah. Surat yang bersusah dia tulis terempas jauh entah ke mana. Mungkin jika ada yang teliti mencari, lembarannya terselip di bawah dipan ranjang—dikerubuti semut dan juga sekawanan serangga.] []


***


Catatan Kaki:

  1. Jembatan Naihe (奈何桥, Nàihé Qiáo, Jembatan Tanpa Harapan) merupakan pintu masuk menuju dunia bawah (neraka) dalam kepercayaan Tiongkok. Dikatakan bahwa selepas meninggal dunia, para arwah akan dikirim untuk melintasi Jembatan Naihe sebelum dapat bereinkarnasi. Kelancaran dalam melintasi jembatan diukur berdasarkan amal perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia. Makin banyak dosa yang dilakukan, maka akan makin sulit pula untuk melintasi Jembatan Naihe.
  2. Burung kucica (magpie) merupakan lambang cinta yang diadaptasi dari kisah mitologi Tiongkok, Gadis Penenun dan Gembala Sapi. Mitologi ini mengisahkan percintaan antara Zhinü (織女, gadis penenun, yang melambangkan bintang Vega) dan Niulang (牛郎; gembala sapi, yang melambangkan bintang Altair), yang tidak direstui sehingga mereka diasingkan menuju sisi yang berlainan di Sungai Perak (yang melambangkan galaksi Bimasakti). Maka sekali dalam setahun, sekawanan burung kucica akan membentuk jembatan, untuk membantu menyatukan sepasang kekasih tersebut selama satu hari.
  3. Kata bodoh dalam bahasa Jepang (馬鹿, baka) disusun atas dua kanji, yaitu kanji kuda (馬, uma) dan kanji rusa (鹿, shika).

 

 

Notes:

Kalau bicara tentang hakikat cinta, mana yang lebih benar—antara Chan yang tetap menginginkan Minho meskipun dia telah tiada; ataukah Minho yang merelakan cintanya agar Chan dapat bahagia?

Jawabannya adalah kedua-duanya. Karena cinta sendiri tidak mengenal benar dan salah.

 

Chan adalah orang yang telah mengerahkan segalanya, hanya untuk mencintai Minho—tetapi malah kehilangan hatinya sekadar karena cinta. Chan kemudian memilih untuk mati seiringan dengan kepergian Minho.

Sementara di lain sisi, Minho merupakan orang yang keseluruhannya telah direnggut sejak awal. Namun, dia menemukan kembali hidupnya akibat cintanya yang begitu besar pada Chan.

 

Lantas apa sebenarnya definisi cinta itu sendiri, jika cinta yang diberikan Chan dan Minho memiliki wujud yang begitu berbeda?

Cinta adalah seluruh emosi yang terkandung dalam hati seseorang. Cinta bisa rapuh, tetapi dia juga bisa begitu kuat membara. Cinta dapat juga penuh kasih, tetapi cinta juga mengandung nafsu yang berkobar. Cinta adalah kebahagiaan; adalah kesedihan; adalah amarah—adalah hidup dan mati manusia.

 

Dengan membaca PASCAHUMUS, aku harap teman-teman dapat menjadi lebih memaknai cinta itu sendiri.

Terima kasih telah mampir di persinggahan sesaat ini. Mungkin, di semesta yang lain—Chan dan Minho dapat menjadi sepasang kucica yang terbang bersama-sama di langit.

Notes:

Terima kasih telah membaca PASCAHUMUS.
Seluruh bentuk interaksi akan sangat diapresiasi.

Cuitan Promosi
alterspring