Chapter Text
Emang bener kata orang-orang. Ada hikmah di setiap musibah. Meski nyaris mokad gara-gara makan bakso aci, tapi di balik itu semua, Intak merasa itu semua udah takdir Tuhan untuk mendekatkan dirinya dan Jiung kembali.
Sepulangnya dari rumah sakit, Intak gak bisa memejamkan matanya barang sekali, meski udah diwanti-wanti sama dokter buat istirahat yang cukup. Alasannya? Tentu aja nunggu balasan Jiung. Bayangin aja, untuk ngetik pesan terima kasih atas bubur saja Intak mikir panjang banget. Melewati proses typing-delete-typing-delete amat sangat lama sampai akhirnya ia mantap menekan tombol send. Makanya saat tahu pesannya langsung dibaca saat itu juga, Intak heboh sendiri.
“Bales, dong, Ji!” lirih Intak.
Sekitar jam 1 dini hari, pesan yang diharapkan Intak itu tiba juga.
Iya, Tak. sama2.
Kondisi lu gimana? Masih di RS?
Demi apapun, Intak gak expect kalau Jiung bakal balas dengan nanyain kabarnya. Kirain balasnya cuma sampe "sama2" and cut. Segitu aja Intak udah seneng. Tapi karena sepertinya Jiung terbuka untuk memulai percakapan, tentu saja Intak gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Entah gimana ceritanya, tahu-tahu Intak udah lancar bercerita tentang penyebab dia bisa kena diare. Lengkap dengan nama olshop tempat Yechan order bakso acinya. Direspon Jiung dengan ikut bercerita tentang pengalamannya kena diare saat masih SMA dulu sampai kapok gak bisa makan pedas lagi. Lancar banget chatannya, sampai akhirnya Intak yang mutusin untuk gak membaca balasan Jiung selanjutnya.
Alasannya? Tentu aja biar bisa bales "sorry, Ji, semalem gue ketiduran," di esok paginya.
****
"Gua masak indomie, siapa mau?" teriak Yechan dari arah dapur.
"Rebus apa goreng?" tanya Jongseob yang langsung nongol aja dari arah kamarnya.
"Rebus pake air galon with telor setengah mateng with cabe rawit diiris tipis-tipis and cheese," balas Yechan.
"Mari kita coba," seru Jongseob dan Yechan saat keduanya udah ambil posisi buat menyantap mie rebus pake air galon with telor setengah mateng with cabe rawit diiris tipis-tipis and cheese buatan Chef Yechan itu.
"Intak, serius lu gak mau nih? Buru… sebelum dihabisin Jongseob," panggil Yechan.
"Mau bunuh anak orang lu?" kata Jongseob sambil hah-huh kepedesan. Ini sih bukan mie rebus dicabein tapi cabe rawit dipakein mie rebus.
"Gak jadi, Tak. Ntar gua buatin bubur milna aja, spesial buat elu,” cengir Yechan.
Mendengar Yechan menyebutkan kata bubur, Intak yang sedang duduk di sofa depan televisi sontak cengar-cengir.
"Itu jamu siapa dah di kulkas?" tanya jongseob saat udah selesai makan. Hidungnya meler tapi puas banget kalau abis makan pedes tuh kayak satu beban terangkat dari hidup lu.
"Gue," sahut Intak.
"Buset. Jualan jamu lu?”
"Kerjaan nyokap, biasa," kata Intak. Beranjak dari tempat duduknya untuk membuka kulkas yang penuh dengan lima botol jamu ukuran satu setengah liter itu. Dipesan khusus oleh Mamanya yang katanya sih manjur buat memulihkan tenaga abis sakit.
"Siapa yang mau, ambil aja. Bagus untuk kejantanan pria."
"Anjir serius lo?" tanya Yechan.
"Bisa bikin PPL lancar gak?" kalau ini pertanyaan Jongseob.
"Bisa buat segalanya ini. Memperbaiki masa depan juga bisa kalo rutin minum tiap hari,” Intak gak kuasa nahan tawa saat dua temannya itu dengan begonya rebutan botol jamu. Akhirnya gak usah pusing-pusing lagi dia mikirin cara ngabisin semua jamu ini.
"Ambil satu lagi, Seob, buat Shota,” kata Intak.
“Gausah deh, Tak. Gak bakal diminum, mending kasi yang lain aja,” kata Jongseob.
“Paksa aja, Seob. Bilang bagus buat kejantanan, ya kan Bang Intak?” sahut Yechan.
“Ya kalo lu ngerasa Shota kurang jantan, boleh dicoba…”
“Apa sih kaga jelas lu berdua,” semburat warna merah menghiasi pipi Jongseob.
Kembali ke sofa, Intak menatap ponselnya dengan harap-harap cemas. Sekarang sudah pukul tujuh malam dan belum ada satu balasan masuk dari nomor Jiung. Padahal chat terakhir Intak tuh pukul delapan pagi. Aduh, bener-bener gak ada harapan ini mah.
Apa gue tawarin jamu aja ya buat balas buburnya semalam?”
Ji, suka jamu gak?
Dan begitu aja, Intak mengirim sebaris pesan itu pada Jiung. Kemungkinan dibalasnya 1 persen lebih tinggi dibanding hanya berharap pada modus, “sorry, Ji. Semalam gue ketiduran.”
"Kayanya khasiat ni jamu juga bisa mikin efek bahagia," kata Yechan ke Jongseob.
****
"Ji, cek email. Gue ada ngirim jurnal yang kurang lebih mirip sama materi kita."
Jiung baru aja sampe kosan dan ngelonjorin kakinya saat ngebaca chat dari Keeho. Udah dari setengah jam yang lalu. Dibalas seadanya aja sama Jiung. Habis mandi deh baru dicek lagi.
Selesai mandi, Jiung langsung membuka laptop. Wifi kotsan lagi gangguan beberapa hari ini jadi terpaksa harus pake hotspot sendiri. Saat Jiung mau nyalain hotspot, keliatan lah notif baru dari Intak. Aneh-aneh aja ni orang kok tiba-tiba nanya suka jamu apa nggak.
Jiung
Dulu waktu kecil sering minum buyung upik sih.
Kenapa deh Tak?
Intak
Nyokap gue ngirim jamu banyak banget gara2 gue drop kemarin.
Katanya bagus untuk kesehatan jadi mana tahu lu mau juga hehe
Jiung
Hahaha
Kan buat lu kenapa malah nawarin gue
Intak
Banyak banget, Ji.
Ga sanggup gue abisin sendiri
Sekalian buat bales bubur lu kemaren
Jiung
Ada jamu apa aja, Tak?
Intak
Ada yang warna kuning sama putih sih
Gak tahu juga gue apa namanya pokoknya bagus buat badan
Jiung
Yang kuning biasanya kunyit asem gak sih?
Gue jarang minum jamu tapi boleh deh dicoba
Intak
Oke, jamu kunyit asem ya kak.
Jika sdh fix order isi FORMAT ORDERNYA ya kak
Nama:
No HP:
Alamat lengkap:
Pesanan:
Jiung
Haha jastip aja bisa gak min?
Temen saya ada yang tinggal di sekitar situ juga namanya Jongseob.
Intak
Demi keamanan pengiriman kami gak berani pakai jastip ya kak.
Jadi langsung diantar ke alamat pemesan dengan kurir khusus kami.
Jiung
sayang banget padahal lagi mau hemat ongkir
Intak
Untuk pemesanan pertama free ongkir kok kak
Yang penting isi format orderan dulu biar gak keduluan yang lain
Limited stock soalnya kak
Jiung refleks membanting ponselnya ke kasur saat menyadari dirinya tersenyum-senyum sendiri membaca balasan Intak. Niat awalnya cuma mau balas seadanya tapi kok malah keasikan gini?
Gak bermaksud ge-er, Jiung tahu banget kok, maksud Intak rajin ngechat dia gini pasti ada alasannya persis seperti yang sering diulang-ulang Shota. Jujur aja saat ini perasaannya ke Intak masih sama. Gak ada sesuatu yang bikin dadanya berdebar tiap nama Intak disebut. Mungkin harusnya sedari awal Jiung abaikan saja kalau ujung-ujungnya malah bikin Intak berharap lebih, bukannya malah transaksi jamu kayak sekarang ini.
Berhubungan baik dengan mantan tuh masih kedengeran utopia buat Jiung. Makanya kalau misalnya nanti emang udah kelewatan batas, baru deh Jiung mau jujur soal bubur. Kenapa bubur? Karena semuanya berakar dari bubur. Mau marahin Yechan yang udah beli bakso aci kayaknya gak mungkin.
"Ji, gue mau makan nasgor sama Jongseob. Ikut gak?" Tahu-tahu Shota nongol di pintu kamar Jiung.
"Nasgor mulu, bosen."
"Apaan lagi kalau udah malam gini. Pecel ayam juga udah bosen."
"Nitip aja deh gue. Kwetiaw tapi."
"Oke. Gue cabut dulu. Oiya doyan jamu gak lu?" tanya Shota sebelum pergi.
"Lagi hari jamu apa gimana sih hari ini?"
"Mana gua tahu. Tumben-tumben banget tuh Jongseob bawain jamu buat gue. Gue kurang suka yang herbal-herbal gitu sih jadi kalo lo mau, minum aja. Gue taro di kulkas," jelas Shota, lalu keluar kosan buat nyamperin Jongseob yang udah nunggu di depan gerbang.
Sepeninggalan Shota, Jiung keluar kamar buat melihat jamu yang dimaksud Shota. Kalau dari Jongseob, udah pasti sumber utamanya dari Intak juga. Nah kan, bener Intak gak ada maksud spesial ke Jiung. Buktinya semua orang dikasih jamu sama dia.
****
Hari Kamis akhirnya datang juga.
Jiung dan teman sekolompoknya udah tiba lima belas menit lebih awal dari janji mereka dengan Pak Hongjoong, Manager News Gathering PrajaTV yang akan mereka wawancarai hari ini.
"Pak Hongjoong-nya lagi meeting. Katanya tunggu sekitar lima belas menit lagi, gak apa kan?" beritahu Keeho ke teman-temannya.
"Ya gak apa lah orang kita yang perlu," kata Matthew, diikuti anggukan dua orang lainnya; Jiung dan Shota.
"Tapi katanya kita langsung naik ke lantai tiga aja."
"Kuy lah naik!" ajak Shota.
Sampai di lantai tiga, mereka berempat celingukan kanan kiri. Berdasarkan instruksi narasumber mereka sih tunggu aja di sofa depan lift. Baru duduk sebentar disana, seorang perempuan berkacamata datang menghampiri mereka.
"Yang mau wawancara sama Pak Hongjoong, ya?"
"Iya, Mbak, kita," jawab Keeho.
"Masuk aja, beliau udah nunggu di meeting room. Ruangannya di sebelah kanan dari pintu masuk," jelas si mbak tadi. Langsung aja keempat sekawan itu nurut, lagi-lagi celingukan sesampainya mereka di ruang redaksi. Padahal jelas dibilang meeting room ada di sebelah kanan pintu masuk.
"Wow, keren," seru Jiung takjub melihat kesibukan di news room. Tepat sesuai ekspetasinya, ruangan luas itu tampak hidup dengan dengan lalu-lalang orang di antara meja-meja dan komputer yang disusun melingkar di tengah ruangan. Tak lupa, TV LCD super besar yang terus menayangkan program mereka tanpa henti.
"Cowok lu, Ki," kata Shota, nyikut Keeho yang diri di sebelah kanannya.
"Mana?" Tanya Keeho. Setahunya, Theo lagi ada liputan di luar. Tapi tetap aja muter kepalanya nyari keberadaan kekasihnya itu.
"Itu di TV," Shota nunjuk layar TV super gede yang dipasang di dinding ruangan, berdampingan dengan layar TV lainnya. Emang bener ada muka Theo yang lagi reporting berita live dari tempat kejadian.
"Ett gua kira beneran di sini," ujar Keeho, tapi tetap aja tersenyum bangga melihat kekasihnya sedang on duty. Masuk tv lagi.
Sesampainya di meeting room, narasumber mereka menyambut ramah kehadiran mahasiswa-mahasiswa itu.
"Mahasiswanya Pak Yonghwa, ya?" tanya Hongjong setelah mereka memperkenalkan diri.
"Iya, Pak," seru semuanya kompak.
"Panggil Mas saja," kata Hongjong. "Btw, saya hanya punya waktu satu jam, cukup ya untuk wawancaranya?"
"Cukup banget, Pak emmm Mas?" koreksi Jiung cepat.
"Oke, langsung kita mulai?"
***
Selesai wawancara dan sesi foto bersama, Hongjoong langsung pamit undur diri karena ada kerjaan lain yang menunggunya.
"Akhirnya selesai juga satu narsum," seru Jiung saat mereka keluar ruang redaksi dan langsung menuju lift. "Rekaman wawancara tadi langsung gue kirim ke grup aja ya takut hp gue kenapa-napa gitu."
"Siapa yang bakal transkrip nih? Lumayan juga satu jam lebih ngetik ulang hasil wawancara," tanya Keeho.
"Bagi-bagi aja, kita kan berempat, jadi kebagian sekitar lima belas menit masing-masing," usul Matthew.
"Ribet gak sih kalau gitu? Kalau saran gue sih, karena narsum kita bakal empat orang, jadi pas tuh satu orang kebagian transkrip satu wawancara."
"Narsum dari marketing jadi juga nih berarti?" tanya Keeho.
"Lagi diusahain. Gue udah dapat kontaknya dari LinkedIn dan udah coba hubungan via email, moga aja cepet direspon," kata Jiung.
"Oiya berarti udah bisa mulai kontak calon stakeholder juga, Ji. Kita udah bisa nyusun pertanyaan baru dari hasil wawancara tadi. Jadi siapa yang mau transkrip?" tanya Keeho lagi.
"Gue dah," Shota menawarkan diri.
Pintu lift terbuka dan langsung membawa mereka kembali ke lobi.
“Pacar lu tuh, Ki" seru Shota ke Keeho.
"Iya di TV, tahu gua," balas Keeho, matanya mengarah ke televisi tapi kok malah iklan nugget?
"Beneran anjir itu pacar lu lagi jalan kesini," kata Shota, nunjuk ke satu orang yang sedang melambaikan tangannya dan berjalan ke arah mereka.
"Makin cakep aja deh Kak Theo," kata Shota.
"Ada pawangnya tuh samping lo," kata Matthew.
"Hai, semua," sapa Theo. Selain Keeho yang memang pacarnya, kebetulan dia juga kenal dengan tiga orang lainnya. Matthew teman dekat Keeho, Jiung juniornya di DirgaTV, dan Shota... siapa sih yang gak kenal Shota?
"Kak Theo, apa kabar, kak? udah lama banget kita gak ketemu," kata Jiung. Mau gimana pun peran Theo dalam hubungan sepihaknya dengan Keeho, tetap aja Jiung menyimpan rasa kagum sama seniornya itu.
"Mau pada langsung balik nih?" tanya Theo.
"Langsung gua," kata Matthew.
"Lu pulang ya kita pulang semua lah anjir kan nebeng mobil lu," kata Shota.
"Buru-buru banget. Makan siang dulu yuk," ajak Theo.
"Ada kelas lagi sih gua jam 2. Mana belum ngeprint tugas lagi. Takut gak keburu," kata Matthew.
"Pak bos sudah bersabda, kita bisa apa?" ujar Shota. "Lain kali main ke kampus dong, Kak. Traktir kita makan."
"Kalo sempet ya," kata Theo.
"Sempet-sempetin lah. Mana tahu mau legalisir ijazah buat daftar CPNS.”
Theo tergelak.
"Bentar lagi pelantikan kepengurusan baru DirgaTV. Datang dong, Kak. Cukup MDP doang lo gak bisa dateng padahal udah diundang jadi narsum juga," ujar Jiung.
"Bentrok sama jadwal liputan gue, mana waktu itu lagi keluar kota," balas Theo.
"Makanya kali ini dateng dong!"
"Gue usahain, ya," kata Theo. "Lu naik jadi stastion manager dong, Ji?"
"Gue kayanya stay di redaksi aja deh, Kak," kata Jiung.
"Kandidat terkuat buat SM saat ini siapa aja deh?" tanya Theo.
"Antara Jungsu dan… gue?”
“Nah… ini baru Jiung yang gue kenal.”
"Theo, jadi launch gak?" panggil rekan kerja Theo, memotong obrolannya dengan Jiung.
"Jadi, Vi," balas Theo ke temannya itu. "Eh, gue udah ditungguin temen gue. Duluan ya. Kalian hati-hati di jalan. Jiung, kalo lu jadi station manager, fix gue dateng. Kalo Jungsu yang naik, mikir dulu deh. Dan Matthew, jangan ngebut lu!
"Giliran cowok lu tuh yang nyetir," Matthew nunjuk Keeho.
"Percaya deh gue kalau sama Keeho."
"Yeeeee!"
****
Sepulang dari PrajaTV, Matthew mendrop mereka semua di kampus. Sementara Keeho dan mathew langsung ke fakultas, Jiung dan Shota milih berdiam diri di perpustakaan utama karena menurut Shota, kerjakan semua tugasmu di kampus. Kalau dibawa pulang ke kosan, niscaya terbengkalai.
"Duluan aja kalo mau ke kosan, Ji. Gua emang sengaja mau ngetranskrip di perpus soalnya kalau di kosan banyak banget setan malasnya," kata Shota.
"Ntar aja deh. Wifi kosan lagi eror jadi mending disini numpang internetan. Mau ke studio juga gak udah pada di-back up sama yang lain kerjaannya," kata Jiung, masih dengan tatapan matanya terpaku pada layar ponsel.
"Jangan ganggu gue, gue mau fokus,” Shota memasang headset ke kupingnya.
"Iya... eh tapi Sho..."
"Apa?"
"Lo dapat jamu dari mana dah itu?”
“Dari Jongseob."
“Jongseob dapat dari mana?”
“Dari Intak sih katanya. Kenapa?”
"Oh.”
“Kenapa?”
“Kirain beli. Pengen tahu beli dimana,” kilah Jiung.
“Gak usah beli. Abisin aja punya gue dulu. Tapi jangan bilang Jongseob, ya!”
***
Nungguin Shota selesai menstranskrip wawancara ternyata bosen juga. Akhirnya Jiung milih ke fakultas dulu. Keinget untuk mengambil surat izin wawancara untuk stakeholder dan marketing tim PrajaTV yang belum diambilnya.
Lagi fokus-fokusnya mencari surat atas namanya di antara tumpukan surat lainnya, sebuah suara memanggil namanya.
"Ji?"
"Keeho!" seru Jiung saat mengetahui siapa yang menegurnya. "Ngapain lu?"
"Lewat doang gue, abis dari ruang dosen," kata Keeho. "Nyari surat, ya?"
Jiung mengangguk, "tapi belum ketemu juga nih surat kita. Masa belum dibuat sih, padahal kan udah dari hari Senin."
"Yang di luar biasanya surat-surat lama semua. Kalau yang baru langsung tanya ke dalam aja."
"Oh, oke deh.”
Jiung pikir abis itu Keeho langsung pergi tapi ternyata ikut masuk juga ke ruang TU dan inisiatif nanya perihal surat ke salah satu staf duluan sebelum Jiung sempat bicara. Gak cuma nanya, Keeho juga yang ngurus urusan pernomor suratan ke meja sebelah. Jiung sama sekali gak ngapa-ngapain kecuali nerima surat yang sudah dimasukkan rapi ke amplop cokelat.
"Makasih ya, Ki," kata Jiung setelah urusannya selesai. Kini keduanya jalan menuju tangga.
"Ngapain makasih. Buat kelompok kita kan," kata Keeho. "Mau kemana abis ini?"
"Tadinya mau balik ke perpus nemenin Shota sih, tapi kayaknya balik aja deh."
"Bawa motor gak? Gue mau ke arah kosan lo juga nih. Ikut gak?" tawar Keeho.
Harusnya kalau Jiung fokus pada pertanyaan pertama, jawabannya sudah pasti, “gak usah, Ki. Gue bawa motor.”
Tapi yang keluar dari mulutnya malah, “boleh deh.”
"Gue parkir depan Kopma, gak apa kan jalan dikit?"
"Mending jalan dikit ke Kopma dari pada jalan ke kosan," kata Jiung, yang kemudian disesalinya setengah mati. Entah gimana caranya semesta akhir-akhir ini kok seperti sengaja banget mempertemukannya lagi dengan satu orang bernama Hwang Intak itu. Dari jarak jauh saja, Jiung sudah bisa mengenali Intak yang sedang nongkrong di bawah pohon ketapang bersama teman-temannya. Ah, masa harus kabur sih?
Mendekati pohon ketapang, Intak masih tak menyadari kehadirannyq. Tampaknya lagi seru betul ngobrol bareng tongkrongannya itu. Satu keuntungan untuk Jiung, apalagi dia bisa dengan mudahnya ngumpet di sebelah badan gede Keeho. Atau begitu lah yang Jiung harap sebelum salah satu di antara orang itu memanggil nama Keeho. Emang bukan Intak sih, tapi tetap aja kan Intak jadi sadar sama kehadiran Jiung
"Keeho!" panggil salah satu cowok gondrong di tongkrongan itu.
Keeho refleks noleh dan langsung nyamperin Hwiyoung, nama si gondrong yang memanggilnya. Jiung juga otomatis berhenti.
"Kapan futsal?" lanjut Hwiyoung.
"Hai, Ji," sapa Intak yang langsung senyum lebar begitu melihat Jiung. Ah, udah berapa lama ya mereka gak bertatap muka seperti ini?
"Hei, Tak," balas Jiung. Alamat bakal ketahan disini nih karena Keeho masih ngebahas rencana main futsal dengan temannya.
"Habis kelas ya, Ji?" tanya Intak.
"Iya, ini mau balik kosan.”
"Tumben gak bareng Shota?"
"Lagi nugas di perpus, jadi gue balik duluan, kebetulan searah sama Keeho jadi yaudah deh."
"Ntar malam lu di kosan gak?" tanya Intak lagi.
"Di kosan lah, mau dimana lagi."
"Ya biasa kan lo stay all day di studio."
Jiung tertawa pelan, "Sekarang gak lagi kok."
"Berarti ntar gue boleh ke kosan lo gak? Mau anter jamu."
"Oh iya jamu," Jiung tergelak, "Padahal titipin ke Jongseob aja daripada ngerepotin lu."
"Gak ngerepotin kok, Ji. Ntar malam gue ke kosan lu ya berarti," ujar Intak cepat saat melihat Keeho udah selesai ngobrol sama Hwiyoung.
"Gua duluan bro, bareng temen soalnya," kata Intak ke Hwiyoung dan yang lainnya walau gak kenal semua. "Ayo, Ji."
"Oke, Ji?" tanya Intak lagi buat mastiin jawaban Jiung.
"Iya, WA dulu ya tapi," ujar Jiung akhirnya.
****
