Actions

Work Header

Chapter 4: FOUR

Summary:

Althaea beranjak, menginjakkan kakinya ke bara api—yang seharusnya melahapnya lamat-lamat, namun ketika lidah api itu menyentuh kulitnya, Althaea malah merasakan dingin air Laut Celestine.

"Now, Isla of Sylvaire. That's the most interesting thing you have said the whole time we know each other."

Chapter Text

"NO?! Anda bisa melukai keluarga saya!"

"Kukira itu yang kau mau?"

Isla buru-buru berlari menghampiri keluarganya, mendorong Althaea ke samping dalam geraknya. Ia sempat menoleh ke arah Althaea dengan tatapan kesal.

Althaea hanya mengedikkan bahu.

"Mama, Papa, kalian tidak apa?" ia bisa mendengar Isla bertanya sambil membantu kedua orang tuanya bangkit.

Ayah Isla, yang menjadi "tameng" dari mantra Althaea barusan terlihat paling parah. Bibirnya mengeluarkan darah hijau kebiruan, tipikal bagi seorang Fey.

Tangan pria itu tergenggam, seperti siap membalas serangan Althaea. Namun sang putri dewi melihat nereid muda itu menahan lengan sang ayah.

Tampaknya Isla juga punya kekuatannya sendiri, Althaea bisa melihatnya menggumamkan semacam sajak yang seiring ia nyanyikan, mulai menyembuhkan luka-luka di tubuh ayahnya. Ia melakukan hal yang sama untuk ibunya, namun tidak dengan ketiga saudaranya—yang tampaknya sudah sibuk menyembuhkan diri masing-masing dari serangan Althaea.

Mereka tampak sedang berdebat dengan bisikan-bisikan rendah, mencegah Althaea dari mendengar percakapan mereka dari jauh. Lagipula Althaea tidak peduli, jadi sang putri hanya mengebas-ngebaskan tangannya ke gaun, menyingkirkan debris dari tanaman jalar yang entah sejak kapan menempel disana.

Setelah hampir dua menit penuh mereka berbicara di kalangan mereka sendiri, keluarga Fey itu akhirnya angkat kaki dari halaman depan rumah Isla.

Sang empunya rumah akhirnya berputar badan, mengarah kembali ke arah rumah, ke arah Althaea. Mukanya memerah, bahkan hingga pucuk telinganya, dan ia menatap Althaea dengan ekspresi geram yang Althaea anggap lucu. Seperti ikan buntal yang sering berenang dekat jendela kamar Althaea di kastil kerajaan.

"Kau marah denganku?" tanya Althaea ketika Isla melaluinya begitu saja, kembali masuk ke dalam rumah. Althaea mengikutinya.

"Bukan itu mauku, Princess," Isla melontarkan kata-katanya dengan nada kesal. Bahkan panggilan hormat tersebut terasa ganas. "Memang aku yang salah disini, orang tuaku tidak tahu apa-apa."

"Kau jelas-jelas tidak berminat dengan pernikahan itu, no offense, tapi aku jago membaca orang."

Isla menggenggam kedua tangannya ke dada. "Itu bukan masalahmu untuk diselesaikan."

Althaea melangkah melingkari ruang tengah rumah itu dengan angkuh, membuat bola-bola es dengan satu tangannya. Memainkannya seakan sedang bermain juggle. "Oh, jadi ini salahku kau tidak bisa menolak perintah orang tuamu untuk menikahi whatever beast it is waiting for you di Sylvaire?"

"I'm betrothed to Rilathen."

Althaea terhenti dalam langkahnya, bola-bola es itu jatuh dan meleleh di tanah, membasahi lantai.

"Anak laki-lakinya Q'as'ahn'j'rah (read: Kassandra)?"

"Dan Ankarna!" tekan Isla, lagi-lagi meningkatkan nada bicaranya.

Sang nereid terduduk di sebuah bangku panjang mirip sofa yang mengambil hampir semua tempat kosong di ruang tengah itu. Ia menguburkan wajahnya di telapak tangan.

Rilathen bukan nama yang asing bagi Althaea. Q'as'ahn'jrah adalah salah satu saudara Galicaea—menjadikan Rilathen sepupunya. Q'as'ahn'jrah sendiri merupakan Dewi yang sudah berabad-abad menguasai Sylvaire. During the ups and downs of it all, Althaea tahu satu milenia yang lalu Q'as'ahn'jrah sempat "jatuh" dari takhtanya, ketika pengikutnya mulai memuja sisi gelapnya sebagai Dewi dari Misteri dan Malam—mengubahnya menjadi Dewa Mimpi Buruk demi keuntungan mereka sendiri.

Mungkin sekitar dua atau tiga abad lalu ia kembali mengambil alih wujud aslinya, menemukan Cleric baru yang mempercayai wujud aslinya, serta memeperbaiki hubungannya dengan Ankarna—pasangannya—kemudian membangun Sylvaire kembali dari keruntuhan.

Lagi-lagi Althaea dipaksa peduli dengan hal-hal yang tidak melibatkannya.

Althaea melangkah hingga ia berdiri tepat di hadapan Isla yang dari penampilannya sudah hampir menangis.

"Bagaimana?" tanyanya.

Isla mengangkat kepalanya, benar saja matanya sudah berkaca-kaca.

"Apa yang bagaimana?"

"Bagaimana kau bisa ditunangkan dengan Rilathen?"

Isla menghela napas. "Ayahku champion Q'as'ahn'jrah."

"Apa yang terjadi ke champion yang dari Solace?"

Isla mengernyitkan dahi. "She died. She was a human, what do you think?" Ini pertama kalinya Isla menghardik Althaea, hilang sudah nereid sopan yang malu-malu kemarin.

Althaea can't help but be intrigued by that. Bahkan mungkin dia menyukainya.

"Whew, ga harus judes gitu, bub."

Isla membuka mulutnya, membuat suara tidak percaya. Ia bangkit dari duduknya, membuat tingginya sepadan dengan Althaea. "Kau bisa merusak kehidupan keluargaku, paham?"

"It seems like you were already planning to," jawab Althaea angkuh. Isla hanya sedikit lebih pendek darinya, sehingga ia memanfaatkan beberapa sentimeter tingginya itu untuk mengintimidasi Isla.

Namun sang nereid tidak menyerah maupun memalingkan tatapannya. "Saya bisa mengatasinya sendiri."

"No, you can't."

"Tapi aku benar kan? You don't want to marry him."

"Ini bukan tentang apa yang saya mau."

"Oh, you sweet thing. Memang apa yang bisa kau lakukan?"

"Apa yang bisa kau lakukan? You're as mortal as I am."

That hurt, batin Althaea. Ada rasa marah yang mulai menggelembung di dalam perutnya, seperti ombak pasang tengah malam.

Isla menyadari kata-katanya yang tidak sopan beberapa detik kemudian, ia melangkah mundur, namun merasakan bangku di belakangnya menghalangi pergerakannya. Nereid itu berakhir terjerembab hingga ia kembali ke posisi duduknya.

"Maafkan saya, Yang Mulia," ucapnya dengan suara bergetar. "Saya tidak bermaksud—hanya saja Rilathen. Pangeran Rilathen, ia.."

Althaea mengangkat tangannya, mirip seperti ketika ia mengeluarkan kepingan salju raksasa yang menghantam keluarga Sylvaire tadi, menghentikan Isla di tengah-tengah kalimatnya. Isla menatapnya nanar.

Namun Althaea hanya mengibas-ngibaskan tangan itu di udara.

"Kau benar," gumam Althaea. "Kalau Rilathen yang datang kesini, we're both fucked."


Althaea berjalan di belakang Isla, melewati semak belukar yang sama yang kemarin mereka terjang untuk menuju rumahnya. Namun kali ini, tujuan mereka adalah Kuil Galatea.

Althaea tidak berminat mengunjungi kuil sialan itu. Paling isinya patung-patung megah yang menggambarkan ibunya, ditambah ada banyak priestess lain yang terobsesi dengan sang dewi menyebalkan. Inilah pentingnya untuk tidak pernah menemui pahlawanmu. Althaea menghabiskan seumur hidupnya mengenal sang Ibu, jadi ia tidak pernah paham apa yang para pemuja ibunya itu lihat di nenek sihir galak itu.

"Kenapa kita harus ke kuil Galatea sih?" gerutu Althaea semakin dekat mereka dengan kuil tersebut. Althaea tahu mereka sudah dekat karena ia bisa merasakan hangat dari api abadi ibunya semakin panas. Aneh bagaimana semakin Althaea mendekat, semakin ia merasakan sihir yang mengalir di dalam dirinya.

She is still very much tethered to Galatea. Dan Althaea tidak suka. Tidak sama sekali.

Althaea mendengar nyanyi-nyanyian pujian itu bahkan sebelum kuil tersebut sampai ke jarak pandangnya. Tertutup oleh deretan pohon yang berperan sebagai pagar, tanaman jalar menyambungkan satu pohon ke pohon lainnya, dengan semak-semak windflowers menghias jalan setapak berbatu.

Kuil Galatea berdiri tegak di tengah-tengah pelataran berumput, disokong pilar-pilar berbatu yang dilapisi marmer berwarna biru-kehijauan yang mengingatkan Althaea pada air laut malam hari dengan atap segitiga—sebuah pedimen yang terbuat dari bebatuan yang sama. Ada beberapa cottage kecil di samping kirinya, dibangun oleh bebatuan dan lagi-lagi ditutupi tanaman jalar.

"Paling tidak kau harus bilang kepadaku kenapa kau perlu kembali kesini? I reaaaally do not want to see my mother—" Althaea mengernyit ke arah sebuah patung megah yang menggambarkan sang Ibu di tengah-tengah kuil itu, menutupi perapian api abadi yang menjadi tugas Isla, dan priestess lainnya, untuk dijaga. "My mother's face," Althaea melanjutkan dengan nada jijik.

"Kalau kau tidak bisa membantuku, I might as well to ask someone who can."

"Oh, as if she has ever helped you before this."

Isla berhenti dari jalannya, menoleh ke Althaea dengan mata memicing—tajam, dan… mengancam? Althaea tidak yakin.

"Dia sudah membantuku lebih banyak daripada dirimu."

Althaea menyeringai. "That wasn't very nice."

Isla hanya memalingkan wajahnya lalu kembali berjalan cepat menuju perapian. Althaea berhenti mengikutinya, terdiam di samping patung Galatea. Althaea memainkan lidahnya di dalam mulut, mendorong-dorong sisi dalam pipinya sambil mengerlingkan bola mata. Menyenderkan sisi badannya ke pedestal dari patung Galatea itu.

"Lo payah, Galatea," ujar Althaea ke patung ibunya itu. "And I know you're planning something."

Althaea mendengar suara ombak menghantam jurang, menggertarkan tanah tempatnya berdiri beberapa detik kemudian. Padahal sepemahaman Althaea, pesisir pantai cukup jauh dari sana. "Butthurt bitch."

Lagi-lagi suara ombak menerjang terdengar. Kali ini, suara itu menghentikan nyanyi-nyanyian yang sedari tadi menggema di dalam kuil.

Althaea melihat empat orang priestess, melangkah dari balik api abadi itu. Tidak ada Isla di antara mereka.

Mereka hanya menatapnya kosong, membungkuk menyapa sopan, dan melenggang pergi keluar dari kuil.

"Isla?" panggil Althaea begitu keempat priestess itu hilang dari pandangan.

Ketika sang nereid tidak menjawab, Althaea mulai melangkah kembali, mendekati perapian.

"Jangan ganggu aku."

Althaea tidak bisa melihat Isla dengan jelas di balik api yang terbakar tinggi di antara mereka, namun sekelebat gambaran Isla yang sedang duduk bersila masuk ke jarak pandangnya di antara kobaran api itu.

"Dia nggak bakal ngurusin masalah trivialmu, kau tahu?" ucap Althaea, ke arah perapian itu dan bukan ke Isla.

"She already did."

Althaea harus mengakui kalau dia terkejut dengan jawaban Isla itu.

"Bagaimana," Althaea berucap, tanpa indikasi bertanya. Ia memerintahkan Isla untuk memberitahunya.

"Dia mengirimkan anda."

Althaea melangkah lebih dekat lagi ke perapian. Api abadi itu malah semakin kehilangan panasnya semakin Althaea mendekat. Sesuatu di dalam diri Althaea memberi tahunya kalau api itu tidak bisa melukainya.

"Kenapa kau berpikir kalau kemunculanku itu untuk membantumu?"

Helaan napas Isla yang halus itu masuk ke pendengaran Althaea. "Karena aku meminta Galatea agar aku bisa melayaninya selamanya."

Althaea tidak bisa menahan kekehan mengejek keluar dari mulutnya. "Why in the hell do you wanna do that?"

"Because anything is better than marrying a man."

Althaea beranjak, menginjakkan kakinya ke bara api—yang seharusnya melahapnya lamat-lamat—namun ketika lidah api itu menyentuh kulitnya, Althaea malah merasakan dingin air Laut Celestine.

"Now, Isla of Sylvaire. That's the most interesting thing you have said the whole time we know each other."

Notes:

baru a very, VERY rough idea dan jujur i haven't plot anything (berniat untuk menentukan jalan cerita dengan sebuah dadu 20 sisi lmao) ini hasil brainrot memikirkan bonek main dnd.. that's NEVER gonna happen jadi biar gue menjerumuskan mereka ke dunia dnd.

p.s. ini dunianya is set loosely on & inspired by Fallinel, Spyre dari campaign Dimension 20 yang Fantasy High series karena aku ga jago worldbuilding lol but you don't have to watch the show kok, i'll bring it to you. but if you DID watch d20, you'd probably recognize a lot of things i mentioned HEHEHE

p.p.s. jangan ditungguin, i have yet to write anything else T-T i just need to get it out of my system AAAAAA