Chapter Text
Satu bulan berlalu, mereka sudah dua kali lagi keluar bersama. Yang kedua, makan siang di sekitaran terminal Leaf lagi—kali ini adik temannya tidak ikut, hanya mereka berdua. Yang ketiga, mereka memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota pada malam hari.
Dua-duanya berjalan lancar. Keduanya tidak secanggung saat pertemuan pertama, hanya seperti sebuah pertemuan teman lama.
Tapi meski telah pergi bersama sebanyak tiga kali, kemajuan hubungan itu tetap saja lambat.
Masalah terbesar Akaashi adalah: dia tetap tidak yakin, seberapa besar perasaan suka Bokuto kepadanya. Hal yang membuat Kenma jengkel, temannya, juga orang tuanya. Akaashi memutuskan untuk akhirnya memberitahunya kepada orang tuanya—melalui telepon, tentu saja. Dia menceritakan semuanya mengenai Bokuto, mulai dari pertemuan awal mereka, seorang penumpang yang selalu turun terakhir hanya untuk sekedar mengobrol lima menit, hingga kencan-kencan mereka.
“~ Hei, Mami senang sekali mendengar kabar ini. Oh ya, bagaimana dengan sekolahmu?”
“ Sekolah Akaashi baik-baik saja, Mami. Mam, sekitar dua bulan lagi Akaashi akan lulus.”
“~ Dua bulan lagi? Okeh , nanti Mami sama Papi datang ya, tunggu saja.”
“ Mami Papi tidak datang juga, tidak apa, ` kan jauh Mam, ke sininya.”
“~ Issh , ya tidak apa lah, biar Mami bisa sekalian lihat calon menantu Mami, haha.”
“ Mami, yaudah Mami tidur ya, sudah malam, selamat tidur Mam, Akaashi sayang Mami.”
Telepon ditutup, Akaashi sekarang sedang berbaring di atas ranjangnya. Tetap saja, seperti ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Apa bukti kalau Bokuto memang mencintainya? Akaashi butuh bukti, bukti bahwa penumpang terakhir busnya itu memang mencintainya, dia butuh bukti.
Kabar baiknya saat hubungan itu buntu tidak ada kemajuan, tanpa Akaashi ketahui, Bokuto telah menunjukkan bukti itu, bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Akaashi baru tahu soal ini sebulan kemudian, ketika bus gandengnya mengeluarkan asap tebal dua ratus meter meninggalkan terminal Leaf. Mesin bus rusak, tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Akaashi mempersilakan penumpang untuk turun, pindah naik bus di belakang. Akaashi melangkah gontai meninggalkan busnya, menuju ruang pengawas terminal Leaf. Pengawas terminal segera menghubungi petugas pool. Ini yang kedua kalinya busnya mogok.
“Mobil derek akan segera datang, Akaashi.” Pengawas terminal memberi tahu.
“Kamu mau minuman dingin?”
Akaashi mengangguk.
Pengawas tua itu mengambil minuman botol dari kulkas.
“Hari yang cerah untuk bus mogok, heh?” Pengawas menemani Akaashi.
Akaashi tertawa pelan, melepas topi pengemudinya.
“Siapa nama pemuda yang sering mengobrol denganmu, Akaashi?”
Akaashi menoleh, melotot.
“Tidak, tenang saja. Aku tidak akan menggodamu, Akaashi. Aku sudah terlalu tua untuk hal semacam itu.”
“Hmm, namanya, Bokuto.” Akaashi menjawab.
Pengawas terminal mengangguk, “Aku punya sebuah rahasia kecil mengenai pemuda bernama Bokuto itu.”
“Rahasia?”
“Yeap, kamu mau mendengarnya?”
Akaashi terdiam. Rahasia apa?
“ Anak itu, dia sebenarnya tidak bekerja di kantor Batavia Telecom dekat Leaf sini. Kantornya di Batavia Telecom Orchid.”
“Orchid? Yang ada di sebelah utara kota?”
“Yeap.”
“Kalau kantornya di sana, kenapa dia setiap pagi naik bus rute 16 menuju arah selatan? Itu terbalik sekali dengan rute menuju kantornya. Satu di atas, satu lagi di bawah.”
“Yeap. Itulah rahasia kecilnya. Setiba di terminal Leaf, saat busmu kembali menuju Garda, dia berlarian ke stasiun kereta Leaf, mengambil rute kembali ke utara. Berlarian sambil merutuki diri sendiri, ‘Sial, sial, sial, aku akan telat!’ Haha, pemuda yang aneh.”
Akaashi terdiam.
“Anak muda itu sepertinya amat menyukaimu, Akaashi. Dia mengorbankan setidaknya sejam untuk berputar setiap hari ke selatan. Memaksakan naik busmu sesuai jadwal, hanya untuk mengobrol lima menit, lantas berlarian naik kereta, menuju kantornya di utara. Aku tidak tahu, apakah dia dapat tiba tepat waktu atau tidak di kantornya. Satu tahun penuh aku menyaksikan kegilaan ini.”
Si pengawas berhenti sebentar, meneguk minumannya. Dia kembali melanjutkan.
“Hari saat dia pertama kali bertemu denganmu, dia kebetulan ada tugas ke kantor dekat terminal Leaf sini. Dia tidak sengaja naik busmu, lantas terpana melihatmu yang turun membantu penumpang yang menggunakan kursi roda, pun saat kamu dengan tegas menghadapi penumpang yang berulah. Dua minggu kemudian, dia mencari tahu jam berapa kamu melintas, menaiki setiap bus. Hingga akhirnya dia tahu, dan menjadi kebiasaannya. Setiap pagi menyempatkan diri naik busmu.”
“Ah, jatuh cinta. Membuat orang bisa melakukan hal bodoh dan tidak masuk akal. Dan pemuda itu sungguh beruntung, dia melakukan kegilaan itu untukmu, Akaashi.”
Akaashi sempurna mematung.
“Bagaimana kamu bisa tahu soal itu?”
“Karena salah satu staf di kantor Orchid adalah anakku. Dia mengenal laki-laki itu, pengawas senior teknisi kabel di sana. Teman-teman kantornya, saat mengetahui fakta tersebut, selalu menggoda Bokuto, bahkan ada yang menciptakan lagu khusus untuknya dengan judul, ‘Tentang Kamu’, menyanyikan kebiasaannya setahun terakhir. Gila, gila sekali `kan ?’
Akaashi menggigit bibirnya. Dia baru tahu rahasia kecil itu.
Esok paginya, saat Bokuto naik bus gandeng rute 16.
Ketika bus gandeng tiba di pemberhentian terakhir, berhenti di terminal Leaf, Akaashi lebih dulu bersuara sebelum Bokuto menyapanya.
“Apakah kantormu di Batavia Telecom Orchid, sebelah utara kota?”
Bokuto terdiam.
“Jawab, Bo.”
Laki-laki itu akhirnya mengangguk.
“Lantas kenapa kamu selalu naik busku? Menuju ke selatan setahun terakhir? Kenapa kamu menghabiskan waktu sejam untuk berputar arah? Buat apa?”
Bokuto terdiam lagi.
“Karena ... karena-” Bokuto tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia ingin sekali bilang betapa dia mencintai Akaashi pada pandangan pertama. Tapi ujung lidahnya kelu.
Mata Akaashi berkaca-kaca, dia menangis. Itu tidak perlu lagi dikatakan. Akaashi sudah tahu.
“Minggu depan orang tuaku akan ke sini, menghadiri acara kelulusanku. Kamu harus berbicara dengan keduanya, katakan, lamar aku di depan keduanya. Setelah lulus nanti, aku akan berhenti menjadi sopir bus, aku akan kembali ke barat. Kalau kamu mau ikut, ayo kita menikah.”
Bokuto terpana. Satu detik.
Lantas mengepalkan tangannya. Yes! Dia mengangguk mantap.
Akaashi tertawa, menyeka air mata di pipinya. Dia menunjuk ke depan, Pengawas sudah memberinya kode agar busnya segera maju ke depan.
“Maaf, aku akan turun."
Akhir tahun, di suatu hari yang istimewa. Akaashi dan Bokuto menikah. Seminggu sebelumnya, setelah acara kelulusan Akaashi, Bokuto melamarnya tepat pada hari itu, di depan kedua orang tua Akaashi. Karena sama-sama berasal dari kota di barat, setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal kembali di barat. Bokuto meminta atasannya agar dia dipindahkan ke salah satu kantor Batavia Telecom yang ada di barat. Atasannya tidak keberatan, dia langsung memindahkan Bokuto untuk bekerja di salah satu kantor cabang di kota di barat. Akaashi yang lulus dengan jurusan sastra kebahasaan, memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Hidup bahagia bersama di kota di barat, dengan orang yang saling mencintai masing-masing.
