Actions

Work Header

bottle up

Chapter 4: additional explanation for the whole situation

Notes:

tbh no need to read this part if youre only looking for a nice written smut cus theres no sex scene here but if u insist to read, happy reading, loves♡

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Setelah beronde-ronde lewat, keduanya tarik nafas dengan begitu rakus dan sadar bahwa setidaknya mereka  perlu kembali jadi manusia barang beberapa jam kedepan.

 

Jaehyun bawakan handuk untuk balut tubuh bagian bawah Taeyong, area yang perlu ditutup sebelum dia hujam lagi secara membabi-buta.

 

"Mau bersihin sekarang? Kuat?" tanya Jaehyun seraya dia usap penuh sayang surai Taeyong.

 

Tentu, Taeyong gelengkan kepalanya. 

 

"Merem bentar," bisiknya dengan suara serah, habis dia gunakan teriak, "Cape."

 

"Okay," angguk Jaehyun, "Aku tunggu di luar, ya?"

 

"Disini aja." Dengan menarik nafas berat, "Istirahat bareng aku, sini." dia tendang egonya, terutama rasa bersalah karena baginya, mereka berada di situasi saling benci begini karena dirinya.

 

Kasur di sisinya mencekung saat Jaehyun naik, kemudian baring tepat di sampingnya, "I was wondering."

 

"Hm?"

 

"My rut- came occasionally, thought it was without any reason, and it felt so hurt to keep myself away from anyone." Jaehyun sisir poni Taeyong agar tidak menutup wajah, "I can't imagine how torturous your heat must be." 

 

Taeyong terkekeh, sebisanya.

 

"But- why, though?" tanya Jaehyun, "Why didn't you tell me?"

 

"Ini kan, aku ngasi tau kamu."

 

"Kenapa ga ngasi tau sebelum ini?"

 

Taeyong angkat sorotnya, agar mampu lihat Jaehyun yang penuh risau, "Aku selalu pake suppressant, aku kira emang normalnya sesakit itu. Abis, kamu juga nandainnya tersembunyi, aku mana ngeh kalau dulu kamu sempet gigit."

 

Jaehyun tarik Taeyong dalam pelukan, dia jadikan lengannya sebagai bantal kepala Taeyong, "Maaf," bisiknya, "We were so young when I bit you. I'm so sorry." 

 

"It's okay."

 

"No, it's not," desah Jaehyun, "It was without your consent."

 

"Well," Taeyong hembuskan nafasnya panjang, "Bener sih. Tapi, waktu tau mate aku kamu, aku jadi lega. I don't regret it."

 

Jaehyun tertegun.

 

"Kamu-" Taeyong berdeham, "Kamu  nyesel ga?"

 

Jaehyun menjawab dengan kecupan cukup lama di kening Taeyong, dia eratkan pelukannya pada Taeyong, "Susah banget move on dari kamu. Untung udah gaperlu lagi."

 

Taeyong tersenyum sumringah, dia sudah tidak punya energi untuk ketawa.

 

"Sama- itu, mau nanya."

 

"Hm?"

 

"Yuta emang sengaja nyuruh aku kesini, ya?" tanya Jaehyun, "Dia- tau?"

 

"Hm- kayanya?" balas Taeyong ragu, "Yuta emang aku kasi tau si, tapi kalau soal nyuruh kamu kesini, aku gatau. Aku juga kaget kamu dateng."

 

"Serius?"

 

"Aku uda gapunya tenaga buat bohong,"

 Taeyong hela nafasnya panjang, "Tidur bentar, ya? Bentar. Abis itu mandi." 

 

“Bentar,” Jaehyun benahi posisi kepalanya agar lebih nyaman, “Terus kenapa kamu sampe se defensif itu tadi sama aku?”

 

Taeyong mengerang rendah, “Gatau benci aja liat kamu,” desisnya, “Kangen si, sebenernya. Udah ah, istirahat, bentar,” katanya dengan suara yang nyaris hilang.

 

 

Jaehyun terkekeh singkat, memamerkan lesung pipi manisnya, "Okay." 

 

 

Sebenarnya, masih banyak yang Jaehyun ingin tanyakan. Tapi, melihat kondisi Taeyong yang sangat tidak memungkinkan, maka dia buat list panjang di otaknya dan akan dia tanyakan setelah nanti Taeyong sudah agak lebih segar.

 

Salah satunya, tentang hubungan mereka yang sepertinya sudah pindah tingkat dari status mantan—atau, teman? mantan teman? musuh? semi musuh?

 

 

Taeyong juga sebenarnya ingin cerita banyak, juga menjelaskan tentang saat pecahnya mereka sampai putus kontak; kala Taeyong tanpa kabar kuliah di LA. 

 

Jaehyun baru tahu tentang itu lewat Yuta yang notabene adalah sahabatnya sekaligus kembaran Taeyong; dia kesal, merasa begitu tidak penting sampai disepelekan begitu saja. 

 

Padahal, alasannya karena Taeyong terlalu sibuk mengurus kepindahannya dan hal pertama yang dia bahas dengan Yuta saat baru sampai di LA pun adalah, "Tolong kabarkan ke Jaehyun, ya? Maaf aku gasempet ngabarin." 

 

Tapi, belum sempat pesan itu tersampaikan, Jaehyun sudah terlalu tenggelam dalam pikiran dan teorinya sendiri; berujung dengan dia hapus kontak Taeyong dan mencoba melupakan Taeyong, yang mana nyatanya tidak semudah yang dia kira. 

 

Jadi, dengan perasaan penuh bersalah akan satu sama lain, kini mereka berdua bergelut di atas kasur yang sama, saling berbagi hangat dengan pelukan yang hangat. 

 

Nyaman yang akhirnya merayap pada hati mereka membuat keduanya lupa daratan. Sepuluh panggilan dari Yuta baik untuk Taeyong dan Jaehyun diabaikan begitu saja, nada dering yang bunyi keduanya anggap sebagai musik latar yang mengiringi mereka. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

"I'm glad that you're mine." 

 

"Me too, glad you poured out all the bottled up feelings through our sex, I completely can't move my legs now."

 

Jaehyun terbahak, "Iya, iya. Sini aku gendong." 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NEW MESSAGE

from: YUTA

 

 

YUTA

Pelan-pelan, ya.... Taeyong nya jangan sampe gabisa jalan seminggu:******

YUTA

btw tolong sekalian packingin barang gue dong, gue nginep di dorm lo aja buat sementara.

YUTA

yoi, sama-sama😙.

 

Me

:)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-🙆🏻‍♀️❤️

Notes:

wp; valentyong
twt: lostroses_

Notes:

leave a trace!
curiouscat
twitter
trakteer jeya