Chapter Text
Hari ini, tepat tiga puluh tahun lalu, kaisar Alpha yang terakhir berpulang.
Di hari peringatan kematiannya, penduduk Crownland berpesta pora seperti tahun lalu.
Genderang besar berdentum, seakan alat musik ingin meledakkan kota dan membawa euforia massal itu hingga menyentuh ujung teluk. Tak ada seorang Omega pun yang tak melewatkan jamuan mewah. Mereka membuang-buang anggur dan buah-buahan segar untuk dijadikan bahan olok-olok saat otak tak lagi penuh.
Minuman keras disemburkan dari mulut para penduduk yang tak henti tergelak, tertawa-tawa.
Beberapa dari mereka bahkan berciuman di depan umum—sesama Omega dengan Omega—kemudian menukar pasangannya dengan seorang gadis Beta yang hanya bisa tersenyum kikuk, menunggu sisa roti gandum yang dalam keadaan biasa, takkan mampu ia beli sendiri.
Di hari yang berbahagia itu, Jungkook akan selalu menjadi bintang jatuh yang memikat mata semua orang. Sebagai Omega murni yang mewarisi takhta Crownland, kemunculannya dipercaya membawa nasib baik bagi siapapun yang tak sengaja berkontak mata.
Warna rambutnya selalu diikuti oleh ratusan anak muda. Bunga kesayangannya menjadi corak umbul-umbul utama. Wangi parfumnya dibajak di mana-mana.
Bahkan, beberapa orang yang tergabung dalam kelompok "peraup berkah", pernah mengumpulkan tanah yang dipercaya adalah bekas pijakan Jungkook untuk dijual, dan anehnya laku keras meski harganya selangit.
Jungkook memang menawan. Tatapan matanya cemerlang, secemerlang garis darahnya. Ia terlahir dari seorang Omega murni bernama Seokjin, seorang "pemegang pedang" yang di masa mudanya bertanggungjawab terhadap kehancuran kaum Alpha; kepunahan mereka.
Menurut cerita penduduk yang telah menjelma jadi separuh legenda, kala itu Seokjin diundang oleh beberapa Alpha sekaligus, salah satunya adalah sang kaisar, untuk menghibur serta ditiduri beramai-ramai dalam sebuah jamuan pesta.
Namun, belum sempat Omega itu disentuh, para Alpha telah menggelimpang dengan keadaan separuh, atau sepenuhnya telanjang.
Semua orang percaya bahwa Seokjin bisa membunuh orang hanya dengan menyentuh calon korban. Namun Jungkook, sebagai satu-satunya keturunan Seokjin yang tersisa, dengan percaya diri mengatakan bahwa orang tuanya membunuh para penindas itu dengan otaknya.
"Kesejahteraan berlimpah untuk kaum omega kekasih Dewa, dan kaum Beta yang menghamba pada Omega."
Di tengah kerumunan manusia yang berpesta pora, Jungkook mengangkat gelasnya. Ia sudah dilatih untuk berbicara dengan gestur yang meyakinkan di tengah publik. Sekalipun semua kata-katanya di tengah perayaan ini adalah hasil hapalan kebut semalam, Jungkook sudah terbiasa untuk menanggalkan sifat aslinya yang lebih senang merajuk dan bermalas-malasan.
Masalahnya, harga diri tertinggi kaum Omega tergantung pada dirinya. Siapapun tahu, ini sudah bukan zaman milennial di mana Omega ditindas oleh para Alpha yang brutal.
Sudah cukup ratusan tahun, dari literatur demi literatur yang diwariskan turun-temurun, para Alpha selalu menjadi pengendali angin. Kaum Omega hanyalah mereka yang berfungsi melanjutkan keturunan. Omega dianggap hanya kumpulan dari manusia submisif yang hanya penting jika sudah dibuahi. Para Alpha memang sering menyanjung kecantikan Omega agar mereka bisa ditindas. Bisa dibohongi. Bisa digagahi.
Selebihnya? Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa kekuasaan Alpha di masa lalu adalah penjajahan sepihak yang mengerikan. Seorang Alpha pasti menjadi pemimpin dari perkumpulan. Mereka bisa menjadi kaisar. Menjadi pengatur peradaban. Menjadi apapun yang mereka inginkan.
Namun sekarang, semua itu, semua cerita mengerikan itu, telah terbalas dengan sangat setimpal.
"Kehancuran kupersembahkan pada semua Alpha yang mungkin saja masih bersembunyi di gua-gua, di tengah hutan, atau di perkampungan miskin yang tak tersentuh berkah Dewa. Kupastikan kalian semua akan menemukan kiamat jika tak segera mengabdi kepada kerajaanku. Selebihnya, aku harap, tidak ada lagi kaum Alpha yang mendapatkan posisi penting di Crownland, karena sekarang saatnya Omega berjaya. Ini tanah kalian. Ini kerajaan Omega!"
Kata-kata terakhir Jungkook disambut dengan sorakan. Memang benar, semua terasa adil ketika keadaan telah berbalik dari sejarah yang berkabut. Kaum Alpha adalah para manusia tanpa hati yang bisa berbuat semena-mena, bahkan pada pasangannya sendiri. Mereka sama sekali tidak pantas memimpin.
Sementara di bawah kekuasaan Omega, Crownland menjadi tanah makmur yang lekat dengan keindahan. Bebungaan mekar di sepanjang jalan. Bibir teluk selalu basah oleh rusa yang berkeliaran dan gelak tawa anak-anak. Ratusan hektar ladang gandum selalu panen melimpah. Para penduduk tak pernah kekurangan gaun, sepatu, parfum, dan kosmetik. Jungkook bahkan akan marah jika ia melihat seorang penduduk berkeliaran dengan pakaian robek, sekalipun jika ia adalah seorang Beta.
Namun, jika orang yang malang itu adalah keturunan Alpha, lain lagi cerita.
"Aku tidak tahu mengapa Jungkook itu bisa sangat semena-mena," seorang lelaki yang melihat keramaian itu dari balik sebatang pohon di tepi jalan, berbisik pada dirinya sendiri. Baju pelayan istana yang dikenakannya tak bisa disembunyikan di balik mantel belacu.
Wajahnya tak terlihat, tertutup bayangan gelap dari tudung yang terlalu turun.
Sempat terbesit dalam pikiran lelaki itu untuk membubuhkan racun di nampan sarapan Jungkook tadi pagi. Namun, mengingat sebelum disentuh oleh sang Omega, makanan itu pasti akan dicicipi oleh sebelas pelayan, ia mengurungkan niat untuk membunuh dengan tergesa-gesa.
"Mungkin aku akan kembali lagi nanti," bisiknya penuh dendam, "aku perlu meminjam tangan orang lain untuk melenyapkannya."
Aku akan membawa bayiku untuk dites. Kalau dia terbukti membawa darah Omega, kehidupan keluarga kami yang semuanya Beta bisa semakin membaik. Seorang bayi Omega dihidupi secara berkelimpahan oleh negara. Dia akan disekolahkan setinggi-tingginya. Makanan akan dipasok setiap minggu ke rumah kami. Kami akan mendapatkan harta yang cukup untuk berfoya-foya tanpa harus susah payah bekerja."
Obrolan semacam itu bukan lagi hal asing di Crownland. Para perempuan Beta yang menggendong anaknya ke Laboratorium Gnaritas tak pernah putus asa untuk berharap. Meskipun kemungkinan bayinya berdarah Omega tidak besar, mereka akan tetap memaksakan anak-anaknya untuk dites.
Di Laboratorium Gnaritas, sampel darah bayi itu akan diambil. Kromosom mereka diekstraksi untuk dilihat apakah mengandung gen pembawa sifat dominan Alpha, resesif Omega, atau ekspresi dari dua-duanya.
Jika terbukti anak yang tak tahu apa-apa itu adalah Omega, di hari itu juga orang suruhan dari istana akan datang untuk memberikan berkat berupa berkarung-karung bahan makanan, buah-buahan, dan perhiasan mewah untuk ibunya.
"Aku ingin melihat tes hari ini. Temani aku, Jimin!"
Suara yang lembut tapi atraktif, seperti lonceng kecil yang bergerak karena angin. Semua orang sudah tahu itu suara junjungan tertinggi mereka.
Jungkook yang sejak satu jam lalu mengaku bosan karena sudah terlalu banyak minum, mengajak salah satu orang kepercayaannya untuk menyingkir dari pusat kota, tempat pesta digelar.
Mereka berjalan ke Laboratorium Gnaritas untuk melihat apakah di perayaan hari bersejarah ini, ada seorang Omega yang "lahir" dari tangan seorang peneliti.
"Jimin, simpan mantelku," Jungkook menyuruh bawahannya dengan riang. "Pakaikan aku jas laboratorium. Aku ingin masuk. Kau tunggu di sini saja kalau takut. Kau kan memang payah, Jimin."
Bola mata Jungkook berbinar-binar, tapi tetap saja bawahan yang dipanggil Jimin itu merasa segan.
"Silakan, Yang Mulia. Ini jasnya."
Jungkook masih saja tersenyum. Meskipun dibilang payah, nyatanya Jimin yang setia tetap mengikutinya dari belakang sambil sesekali menukar pandang dengan petugas laboratorium.
Jarang-jarang Jungkook terlihat membaur dengan masyarakat. Biasanya, ia hanya bertemu dengan orang-orang penting di istana.
Memiliki kekasih dari kalangan orang biasa pun rasanya mustahil untuk Jungkook. Ketentuan perjodohannya diatur undang-undang. Ada banyak hal yang membatasi pergerakan seorang Omega murni, sekalipun di sisi lain Jungkook bisa memiliki separuh dunia dan isinya.
"Ini bayimu? Matanya besar sekali, seperti mataku." Jungkook bertanya dengan polosnya. Perempuan Beta yang mengantar anaknya mengangguk kecil. Ia gugup karena bertemu dengan penguasa Crownland.
Si bayi mengulurkan tangan untuk menyentuh jari Jungkook. Sang Omega mengatakan bahwa bayi itu sangat cantik. Ia memuji dengan tulus, "Jangan jadi Alpha, bayi manis. Jadi Omega saja agar kau bisa bersenang-senang dan semua orang akan menurut padamu!"
Siapapun pasti setuju. Kesedihan sepertinya haram menghampiri Jungkook. Segala tentangnya adalah tawa riang dan canda tawa. Segala tentangnya adalah matahari bersinar dan bunga mekar. Hidup Jungkook sangat jauh dari kesedihan. Hatinya benar-benar dijaga oleh semua penduduk Crownland. Semua yang ia inginkan dituruti. Semua yang ia mau dikabulkan.
Jungkook barangkali tak pernah tahu rasanya menjadi manusia dan ia tak peduli itu.
"Darah bayi itu sudah diambil dan sedang dilakukan proses ekstraksi untuk dilihat gen dalam kromosomnya, Tuanku," seorang petugas laboratorium mendekat padanya. Jungkook tidak tahu siapa namanya.
"Apakah Yang Mulia Jungkook ingin melihat hasilnya?" Lelaki itu lanjut bertanya.
"Tentu saja, aku ingin melihatnya langsung!" Jungkook berseru. "Dia sangat cantik, aku yakin bayi ini Omega."
"Baik," petugas laboratorium mengangguk, "silakan, Yang Mulia."
Meskipun sangat antusias, rasanya Jungkook tetap saja bergidik saat udara dingin di ruang utama laboratorium itu seolah menyerap dirinya. Jungkook memandang sekeliling seperti anak kecil yang baru hari pertama melihat gedung sekolah.
Ini bukan kali pertama ia masuk ke tempat itu. Namun, setiap kali berkunjung ke sini, pasti ada saja perubahan yang terjadi. Dari alat ekstraksi kromosom lama yang hanya setinggi dadanya, sekarang telah diganti dengan alat ekstraksi yang jauh lebih canggih setinggi kedua bola matanya.
Jungkook juga melihat penambahan angka yang signifikan mengenai jumlah korban pembunuhan yang tergantung di salah satu sisi dinding:
26 Alpha males, 1 Alpha female.
"Itu jumlah bayi Alpha yang kalian bunuh dalam setahun terakhir, kan?" Jari Jungkook menunjuk, tak ada kesan ngeri atau tertekan di raut wajahnya. "Kalian membunuh atas permintaan ibunya, kan?" lanjutnya.
"Benar, Tuanku," petugas laboratorium mengangguk. "Kami takkan membunuh tanpa persetujuan orang tua. Kebanyakan orang tua para bayi Alpha memang meminta anaknya dibunuh di tempat daripada mengundang rasa malu untuk keluarga. Kami menguburkannya dengan layak di halaman belakang laboratorium ini."
"Kalian selalu melakukan hal yang benar," puji Jungkook dengan senyuman tulusnya. "Aku bangga sekali."
"Namun, ada beberapa bayi Alpha yang masih hidup dan dikirim ke panti asuhan sebagai calon budak istana," ujar si petugas laboratorium sambil menatap dalam mata Jungkook, berniat mencari berkah jika memang cerita yang beredar itu benar. "Kadang kami ingin membunuh semuanya, tapi tangisan orang tua sering membuat saya tak tega menyuntikkan racun ke pembuluh darah para bayi itu, Tuanku."
"Tapi memang sudah takdir untuk seorang bayi Alpha harus dipisahkan dari orang tuanya," balas Jungkook. "Jika mereka masih berada di bawah asuhan orang tua dan bukan diasuh oleh negara, aku takut mereka akan belajar mengangkat senjata dan memberontak pada Omega. Sudah bukan masanya lagi Omega dan Beta berada di bawah intimidasi Alpha. Dulu mereka yang mendominasi, dulu mereka jadi superior yang menentukan arah hidup kita. Sekarang saatnya kaum Alpha yang berada pada hierarki terbawah! Aku mau mereka merasakan sakitnya menjadi anggota masyarakat yang tersingkirkan seperti leluhur kita!"
Ketika seorang Jungkook telah bertitah, tak ada seorang pun yang berani membantah. Memang Jungkook selalu berbicara dengan separuh tersenyum, seolah-olah semua pembicaraan tentang pembunuhan bukan hal besar yang patut dirisaukan.
Ia adalah Omega paling rupawan yang pernah hidup di Crownland. Sekejam apapun yang Jungkook lakukan, semua orang di kerajaan itu harus sepakat dengan keputusannya.
"Hasil tesnya sudah keluar, Tuanku." Pegawai laboratorium berjalan pelan menjauhi Jungkook. Ia menarik selembar kertas dari bagian bawah mesin ekstraksi kromosom yang secara otomatis bisa mencatat data.
Mesin itu sempat menderu lama, membuat Jungkook merasa perlu menutup telinga. Namun, ketika kertas putih dengan tulisan hitam pekat itu telah tergenggam di tangan, Jungkook tak perlu waktu lama untuk mengatakan sebuah kekejaman.
"Hm... Sayang sekali. Bayi cantik itu ternyata Alpha. Bunuh saja dia."
Semudah itu.
"T-tunggu, Tuanku. Kita bawa dulu hasil ini pada ibunya..."
"Apakah mesinmu itu bisa salah sampai kau ragu begitu?" Jungkook bertanya, bingung. Matanya berkedip pelan, berusaha untuk memahami isi hati si pegawai laboratorium yang tiba-tiba terlihat pucat. "Kalau memang ada potensi hasil tesnya salah, buang saja mesinnya dan beli lagi yang baru daripada menyusahkan. Uang negara masih banyak kok yang bisa dihamburkan."
"Tuanku, mesin ini..."—sayangnya—"tidak mungkin salah."
"Kalau begitu apalagi yang membuatmu ragu untuk membunuh bayi itu?" Jungkook bertanya lagi. Tangannya terulur untuk mengusap pundak si pegawai laboratorium yang setelah bertahun-tahun bekerja, tetap saja pucat pasi jika harus menjalankan sebuah eksekusi mati.
"Sudah. Bunuh saja, jangan ditahan-tahan. Jangan merasa berdosa. Dia belum punya cerita apa-apa di muka bumi. Kaum Omega justru akan menganggapmu sebagai pahlawan."
Pegawai laboratorium itu, dengan selembar kertas terkutuk itu di tangannya, gemetar hebat sampai nyaris ambruk.
Omong kosong Jungkook semacam "Dewa-Dewa di Langit menyayangimu" atau "Bukankah kau justru berdosa kalau tidak mengirim bayi Alpha ke neraka?" justru membuatnya begitu tertekan.
Ada lebih dari lima belas menit jeda kosong yang mereka habiskan hanya karena berbeda isi pikiran, hingga akhirnya Jungkook ingat bahwa sejak tadi ada Jimin yang diam seperti patung, tidak dilibatkan dalam pembicaraan mereka.
"Hei Jimin, kau mau membunuh bayi itu?"
"M-membunuh bayi?" Jujur, detik itu, Jimin sangat ingin berlari. "J-jangan saya."
"Kenapa? Bunuhlah bayi itu supaya orang tuanya bisa segera membuat bayi baru. Bayi Omega."
"S-sebaiknya Yang Mulia saja yang membunuhnya, jangan saya." Jimin sangat ingin mengatakan "tidak", tapi jabatannya yang rendah tak mengizinkannya untuk melakukan itu. "Yang Mulia lebih berhak..."
"Ugh, membunuh bayi Alpha harus pakai racun dan aku malas menakar racun, Jimin," semudah itu kata malas terlontar dalam kalimat Jungkook. "Kau saja yang melakukannya, ya. Tinggal disuntik saja, tidak pakai lama," desaknya.
Seolah tak pernah mengenal konsep dosa, senyuman Jungkook masih mengembang saat ia mengobrol ringan dengan ibu si bayi yang dengan sukarela menyerahkan anaknya untuk dieksekusi mati di depan matanya.
Bayi Alpha memang aib yang tak tertanggungkan. Begitulah ideologi yang berkembang di seluruh Crownland.
Ibu si bayi justru berseloroh ingin segera membuat anak lagi—seorang bayi baru yang memiliki rahim untuk dibuahi.
Jungkook mengatakan bahwa harapan itu pasti terkabul karena cobaan pertama telah dilalui oleh perempuan itu.
"Aku bosan hidup susah, Yang Mulia." Si ibu tertawa sambil menutup mulutnya. Sebenarnya, di dalam hati kecilnya ia sedikit kecewa. Gagal sudah ia mendapat perhiasan dan pasokan bahan makanan gratis. Mulai besok ia harus bekerja keras lagi. Mulai besok ia harus menjadi pesuruh di pasar lagi.
Ah, kehidupannya akan tetap sebusuk itu jika ia belum bisa menemukan seorang Beta pembawa sifat Omega yang bisa membuahinya. Ia tak sabar untuk kembali bercinta tanpa "cinta" di tengah hiruk pikuk kawasan kumuh Crownland yang tersembunyi.
Semuanya demi harta. Semuanya demi uang.
"S-saya sudah selesai, Yang Mulia Jungkook."
Akhirnya, Jimin yang menjadi "pesakitan" karena dipaksa menginjeksi si bayi dengan cairan eutanasia, kembali ke sisi Jungkook dengan tangan gemetar. "Apakah ... ada lagi yang bisa saya lakukan?"
"Iya, tentu saja ada," Jungkook menjentikkan jari dan mengerling. "Sejak tadi pegawai laboratorium itu sepertinya ingin pingsan. Tolong dia, Jimin. Berikan dia air atau apapun yang ada di sini. Jangan sampai dia menyesal karena bayi itu mati. Kalian, terutama kau Jimin, sudah melakukan sesuatu yang benar."
Sekalipun dalam hati Jimin sudah berteriak bahwa yang ingin pingsan bukan hanya petugas laboratorium itu, ia tetap mengiyakan, "Baik, Tuanku..."
Sambil bersenandung kecil, Jungkook melangkah pergi. Keluar dari gedung Laboratorium Gnaritas yang entah mengapa tiba-tiba mengundang rasa bosan untuknya.
Penguasa Crownland itu mengipasi tengkuknya dengan tangan. Sampai detik ini pun, Jungkook masih bisa mendengar suara musik bertalu-talu dari kejauhan. Pesta pora untuk memperingati kematian kaisar Alpha terakhir rupanya belum berakhir.
Namun, berbanding terbalik dengan itu, Jimin yang tergopoh-gopoh menghampiri petugas laboratorium, justru bertanya dengan ekspresi muaknya, "Kenapa kau tidak palsukan saja hasil tes itu, hah? Keberadaan Alpha di dunia ini hanya mengancam eksistensi Omega, bukan Beta seperti kita!"
"Para Omega... semuanya... semuanya adalah bangsawan yang berpengaruh," si petugas laboratorium menekan suaranya. Takut jika dinding putih di sekelilingnya memiliki telinga. "Aku... aku takut... aku takut dipancung jika memalsukan hasil tes..."
"Biadab, kaum Omega memang keterlaluan," Jimin menggeram, "kudoakan semoga suatu hari Jungkook yang keji itu mengandung seorang bayi Alpha. Aku bersumpah, dia akan menderita karena harus menanggung karma."
"Aku sudah menunggumu sejak tengah hari, Taehyung. Darimana saja kau?"
Tudung yang hampir sepenuhnya menutupi wajah, dibuka. Di bawah sinar matahari yang menyusup di sela-sela dedaunan hutan, Yoongi menatap tajam pada adiknya yang selalu saja bisa memancing emosi.
"Darimana saja kau?" bentaknya. "Apa kau melanggar laranganku? Apa kau mencoba pergi ke tengah kota?"
Di luar dugaan, pemuda yang dibentak itu justru tertawa. Kakak sepupunya memang suka memaki-maki, mengatakan kalau dirinya tidak berguna dan tak akan pernah jadi kaya. Taehyung sudah sangat terbiasa dengan semua itu.
"Kau ini, Yoongi... Aku mau melihat pesta, salah. Aku mau latihan pedang atau memanah juga salah."
"Kau bisa bekerja atau melakukan sesuatu yang lebih berguna daripada hanya bermain-main!" Yoongi masih bersikeras. "Kau bisa mencari kayu atau mengumpulkan buah-buahan!"
"Kenapa kau sombong sekali mentang-mentang sudah bekerja?" ia membela diri. "Padahal pekerjaanmu di istana iblis itu hanya menghamba pada diktator."
"Bekerja untuk bangsawan Omega adalah jalan hidup yang jauh lebih baik dibanding keluyuran di hutan seperti madesu."
Lelaki berkulit pucat yang dipanggil Yoongi itu ingin menepuk kepala Taehyung seperti saat mereka masih kanak-kanak.
Namun, karena Taehyung sekarang sudah jauh lebih tinggi darinya, Yoongi hanya bisa menginjak kaki lelaki yang lebih muda—suatu hal sepele yang entah mengapa bisa membuatnya puas walau hanya sejenak.
"Jadi, apa kau belajar bertarung lagi hari ini?" tanya Yoongi lagi. Suaranya melunak. "Sudah bisa menebas apa saja?"
"Menebas lehermu pun bisa—au!" Taehyung langsung mengaduh saat dijitak. "Kau tahu, Yoongi. Aku sudah membuat tulang rusuk Minho remuk separuh kemarin. Hari ini aku tidak ada lawan karena dia sudah berangkat lagi untuk berburu."
"Cepat sekali sembuhnya. Kau membohongiku, kan?" tuduh Yoongi. "Lagipula, sudah kubilang, kau jangan terlalu banyak bergaul dengan kaum Beta pinggiran seperti temanmu itu."
Taehyung mengedikkan bahu, melihat Yoongi yang terus berjalan mendahuluinya. Kakinya melangkah menuju pondok bambu yang sekaligus mereka gunakan sebagai rumah. Keduanya tak punya orang tua. Mereka hidup berdua. Kadang ada Minho sang pemburu yang hanya diperbolehkan datang oleh Yoongi jika berhasil mendapatkan seonggok hati rusa. Selebihnya, mereka benar-benar tak punya keluarga.
"Kau membawa apalagi dari istana iblis itu, Yoongi?" Taehyung mencoba mengimbangi langkah Yoongi. "Kau membawa makanan, kan?"
"Tidak ada makanan, jangan berharap." Yoongi menaruh mantel belacunya di lantai. Ia membiarkan Taehyung duduk, menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Tapi aku punya sesuatu untukmu."
Sebagai adik—meskipun sering dimaki-maki—Taehyung memiliki ketergantungan yang tak terjelaskan jika sudah berhadapan dengan Yoongi. Kakaknya itu rapuh tapi kuat; Taehyung sungguh sangat mengaguminya.
Belum lagi, Yoongi selalu membawa banyak makanan saat pulang. Meskipun Taehyung bisa mendapatkan banyak buah-buahan dari hutan yang dekat dengan pondok mereka, tetap saja makanan mahal seperti roti atau keju takkan bisa Taehyung cicipi jika tak ada Yoongi.
"Hari ini aku membawa ini."
Namun sepertinya, ini bukan hari keberuntungan untuk Taehyung.
"Masih kusesalkan... mengapa yang kau bawa bukan makanan?"
"Sudah kubilang memang bukan."
"Lalu apa?" Sang adik bingung. "Sang iblis itu memberimu apa?"
Yoongi menyeringai, "Kali ini, kau harus turuti apa mau kakakmu."
"Aku selalu menurutimu—awh!"
Taehyung sudah hampir berlari pergi saat Yoongi—dengan keji—menarik tungkainya hingga ia jatuh berdebum. Yoongi memaksa Taehyung untuk diam atau nyawa adiknya akan melayang.
"A-apa yang kau lakukan? Kau mau apakan aku? Y-Yoongi!"
"Duduk! Kubilang duduk dan jangan ke mana-mana, Taehyung! DUDUK!"
Sehebat-hebatnya Taehyung dalam memanah, tetap saja seorang Yoongi adalah sebuas-buasnya binatang buas.
Taehyung dipaksa untuk menurut. Ia harus menunggu dengan patuh, sementara Yoongi membuka sebuah bungkusan hijau yang—sepertinya—dibawanya dari istana.
"K-kau mau apa?" Taehyung makin bergidik. "Yoongi..."
"Berisik, biji cabai! Turuti saja apa kata kakakmu, bangsat!"
Akhirnya, mau tak mau, Taehyung harus mematuhi Yoongi. Daripada kakaknya itu mengamuk dan menyebabkan kebakaran hutan berhektar-hektar karena amarahnya meluap tinggi, lebih baik Taehyung yang dikorbankan demi keselamatan lingkungan.
Taehyung tak bisa berbuat apapun saat Yoongi meletakkan sebuah jubah mandi, sebuah baju berwarna putih dan sepotong mantel tipis berwarna senada. Ada juga sebotol parfum dengan bau mawar yang menyengat di pangkuannya, tapi Yoongi menepis tangan Taehyung saat ingin mengambil benda itu.
"Mandi sekarang di danau dan pakai baju itu. Cepat lakukan!'
"Yoongi, aku tidak bisa... Apa kau mencuri bungkusan pakaian seseorang dan memberikannya untukku?"
"JANGAN BANYAK TANYA! CEPAT LAKUKAN ATAU KUPUTUSKAN KEPALA DARI LEHERMU!"
Lagi-lagi, mau tak mau, Yoongi yang keji menang. Ah, dia memang selalu menang. Taehyung mengalah agar masih bisa melihat matahari besok pagi. Yoongi sangat mengerikan. Kadang-kadang dia bisa menjadi kakak yang perhatian. Namun, ia lebih sering berubah menjadi iblis bertanduk yang selalu mengancam untuk merenggut nyawa Taehyung dengan manisnya. Taehyung tidak tahan lagi diperbudak oleh Yoongi.
"Memangnya siapa yang akan aku temui? Kenapa aku harus berdandan? Mau ikut pesta di tengah kota saja aku dilarang. Dasar kakak aneh."
Taehyung menghela napas berat. Mengapa hidup begitu sulit, wahai Dewa?
Tanpa menoleh ke belakang lagi karena takut dipelototi Yoongi, Taehyung berjalan menuju danau. Ia pertama kali membenamkan kakinya di air.
Tanpa sengaja, sinar matahari yang menyorot di antara dedaunan membuat bayangannya terpantul di permukaan danau sebening cermin. Taehyung yang telah bertelanjang dada melihat pantulan wajahnya.
Lamat-lamat ia tersenyum; entah apa yang disenyuminya. Baju dan mantel tipis yang teronggok di dekat semak-semak itu terlihat sangat mahal.
Taehyung tahu dirinya akan jadi pusat perhatian jika memakai benda itu.
'Mungkin sudah saatnya aku ikut Yoongi ke Crownland.' Pikiran itu membersit begitu saja ke dalam kepalanya. Taehyung sudah lama mendengar berita tentang betapa "kacaunya" keadaan di luar sana.
Namun rasanya baru hari ini ia merasa penasaran untuk melihat langsung. Apakah Yoongi memberinya baju baru karena bermaksud mengajaknya merantau ke tengah kota?
'Mungkin di sana banyak hal menarik yang belum aku tahu.' Taehyung yang diam-diam menikmati waktu berendamnya, mulai membatin penuh antusiasme. 'Atau mungkin di sana ada banyak uang sampai-sampai Yoongi begitu betah. Kalau begitu aku akan ikut. Aku juga mau mencari pekerjaan di pusat kota Crownland.'
Perlahan, Taehyung membenamkan kepalanya ke bawah permukaan air. Setelah ini ia akan bertanya pada Yoongi.
Bagi Taehyung yang seumur hidup belum pernah berinteraksi langsung dengan para bangsawan Omega yang reputasinya sudah melegenda, tak ada sedikit pun bayangan dalam benaknya tentang kekejaman mereka.
Bersambung
