Work Text:
“Jungkook!”
Jimin berteriak, tidak terlalu nyaring dan tidak terlalu pelan, cukup untuk didengar Jungkook yang kini berusaha keras menahan gelak tawanya. Jimin tidak tahu apa yang terjadi sehingga Jungkook harus menginjak rem mobilnya secara mendadak, membuatnya yang sedang berusaha keras berkonsentrasi memakai eye liner di kelopak matanya menjadi percuma. Kini goresannya menjadi berantakan.
“Tuh kan jadi berantakan! Gimana sih—” Jimin menggerutu pelan. Ia membuka tasnya, mengambil tissue basah yang untungnya selalu dibawa kemana pun ia pergi. “—kan susah kalo ngulang lagi.”
“Lagian ngapain sih dandan dalam mobil? Kenapa gak dandan dari apartemen?”
Berangkat bareng Jimin adalah rutinitas yang dilakukan Jungkook sejak mereka berdua masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Teman sejak kecil. Begitu sebutan orang-orang kepada Jungkook dan Jimin atau jawaban Jimin ke setiap orang yang bertanya tentang hubungan mereka berdua.
Jungkook melewati setiap masa dalam hidupnya dengan melibatkan Jimin di setiap hal yang ia lakukan. Setiap pengalaman yang membuatnya tertawa, setiap pengalaman yang membuatnya marah, setiap pengalaman yang membuatnya merasa lelah dan setiap pengalaman yang membuatnya menangis. Hidup seperti ini— hidup bersama Jimin, adalah rutinitas untuk Jungkook. Menyambut pagi, menjalani siang dan melewati malam, selalu ada Jimin di setiap kenangan yang terukir dalam ingatannya.
Jika dikutip dari perkataan orang lain yang sering Jungkook dengar, seseorang akan memiliki perasaan spesial jika sudah terbiasa. Dan Jungkook, ia terbiasa dengan Jimin. Rutinitasnya yang selalu melibatkan Jimin membuatnya, entah sejak kapan, memupuk perasaan untuk sahabatnya itu. Bukan sekedar perasaan untuk teman sejak kecil. Perasaan Jungkook terhadap Jimin bersifat lebih dari itu. Perasaan Jungkook untuk Jimin adalah satu-satunya; karena Jungkook tidak merasakan hal ini kepada orang lain.
Jungkook menatap Jimin beberapa detik, memperhatikan betapa gesitnya Jimin memperbaiki goresan tinta hitam yang ia lukis di kelopak matanya, sebelum akhirnya menatap jalan raya di hadapannya. Jimin selalu terlihat menawan dengan apapun yang ia lakukan. Jungkook akan selalu terpesona.
“Tadi kan aku udah bilang aku bangunnya telat. Makanya gak sempat dandan.” sahut Jimin, menjawab pertanyaan Jungkook.
“Ngapain dandan cantik-cantik, sih? Yang dilihat di kampus juga orang-orang yang sama.”
Jungkook sebenarnya tidak keberatan jika Jimin mempercantik dirinya. Ia hanya tidak rela harus berbagi pesona Jimin dengan orang lain.
“Mau ketemu Kak Namjoon.”
Oh.
“Kak Namjoon?”
“Iya. Kak Namjoon. Anak kedokteran gigi yang waktu itu aku ceritain ke kamu.”
Kim Namjoon, jika direka ulang oleh ingatan Jungkook, adalah mahasiswa kedokteran gigi yang satu tingkat berada di atas mereka. Jimin menyukainya, memiliki perasaan kagum yang begitu besar pada mahasiswa yang katanya memiliki segudang prestasi itu. Jungkook pernah berpapasan dengan Kim Namjoon sekali-dua kali. Tidak bisa dipungkiri, pesona pria yang menjadi alasan Jimin berdandan lebih dari biasanya pagi ini memang tidak bisa ditandingi. Sudah menjadi hal yang wajar apabila Jimin menaruh perasaan kagum pada pria itu. Jungkook mengakui secara tidak ikhlas dalam hati.
“Mangsa baru, ya?” kata Jungkook sambil tertawa kecil. Atau mungkin ia hanya berpura-pura untuk tertawa, menutupi kegelisahannya.
Jimin terkenal oleh seantero kampus sebagai pria yang tidak bisa bertahan pada satu orang untuk waktu yang lama. Ia akan berpindah hati ketika ia merasa bosan. Ia tidak ingin berkomitmen, lebih memilih untuk menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang. Kata Jimin, rasa bosannya akan memberikan banyak pengalaman.
“Mangsa apaan? Gebetan bukan mangsa.”
“Gebetan? Paling ditinggal kalo udah seminggu.”
Jungkook tidak pernah menyukai ide Jimin soal mencari pengalaman . Ia membenci perasaan tidak nyaman yang selalu ia rasakan di dadanya ketika melihat ada pria lain yang membuat Jimin tertawa. Ia membenci perasaan cemburu yang ia rasakan ketika ada tangan lain yang digenggam Jimin selain tangannya. Walaupun Jungkook tahu di akhir hari Jimin akan meninggalkan pria-pria di luar sana setelah menjalani masa indah yang berlangsung tidak lebih dari seminggu, Jungkook tetap tidak suka merasa seperti ini. Tidak suka terancam oleh kehadiran orang lain.
“Kalo aku seriusin, gimana?”
Pertanyaan Jimin seakan membuat Jungkook ingin menginjak rem sekali lagi, terlalu terkejut mendengarnya.
“Hah?”
“Kak Namjoon...Aku seriusin. Gimana?” Dari ujung matanya, Jungkook melihat Jimin telah selesai melukis kelopak matanya, nampak merapikan alat-alat riasnya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Ehm..Kok..Tumben?”
“Kan kamu tau aku suka banget sama dia. Aku mau serius kalo sama Kak Namjoon.” sahut Jimin dengan mantap.
Jungkook menelan ludah. Ia tidak menyangka bahwa Jimin bisa memiliki rencana untuk serius dalam berhubungan dengan orang lain. Jungkook memang menginginkan Jimin untuk serius, tetapi alangkah menyenangkan jika dirinya yang dipilih Jimin. Tidak pernah terbesit di dalam pikirannya bahwa suatu saat nanti Jimin punya keinginan untuk berkomitmen. Tentu saja dengan orang lain, bukan dirinya.
“Terserah kamu.”
Jawaban yang singkat, padat dan jelas, serta bodoh. Jungkook menginginkan Jimin untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, ia tidak pernah membuat dirinya sebagai pilihan untuk Jimin. Ia tidak pernah mencoba. Ia terlalu takut untuk berperang, bahkan sebelum perang itu dimulai. Jungkook tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Jimin selanjutnya. Ia hanya mendengar Jimin mengucapkan oke kemudian tertawa. Ia berusaha memusatkan pikirannya pada jalan di depannya, berusaha menyetir mobil dengan tenang. Berusaha seolah-olah ia tidak ditolak oleh Jimin, secara tidak langsung, untuk kesekian kali.
Jungkook mencoba melupakan Jimin, mencoba untuk mencari Jimin yang lain di luar sana. Ia mencoba tidak peduli dengan apapun yang dilakukan Jimin. Akan tetapi, selalu ada jalan yang menuntunnya kembali pada Jimin. Mengulang semua usahanya dari 0, sekali lagi dan sekali lagi, sampai sepuluh jari di tangannya tidak bisa membantunya untuk menghitung.
Jungkook selalu membiarkan Jimin menggunakan dadanya sebagai sandaran kepala, membiarkan Jimin menggenggam tangannya sesuka hati, membiarkan Jimin menangis di bahunya dan membiarkan Jimin melakukan apapun yang ia kehendaki terhadap dirinya. Jungkook membiarkan Jimin mengangkatnya ke langit ketujuh lalu mendorongnya jatuh ke bawah dengan begitu sadis. Jungkook membiarkan Jimin mengambil alih emosi, pikiran dan tentu saja, hidupnya. Ia mengorbit kepada Jimin, tidak mampu lepas, tidak bisa tahan jika terlalu jauh.
Jimin adalah sumber sukacita sekaligus sumber dukacitanya. Jimin membuatnya tertawa kemudian membuatnya menangis akan pahitnya kenyataan bahwa Jimin bukan miliknya. Hanya Jimin yang mampu membuat Jungkook merasa berarti dan tidak berguna di saat yang bersamaan.
Hidup Jungkook dengan atau tanpa Jimin terasa begitu menyakitkan.
“Aku turun dulu, ya. Kak Namjoon nungguin tuh.”
Terlalu kalut dalam pikirannya sendiri, Jungkook tidak menyadari bahwa ia sudah berhasil tiba di parkiran kampusnya. Jimin kini menatapnya. Ia terlihat begitu cantik, selalu terlihat indah di mata Jungkook. Park Jimin, sahabatnya, satu-satunya orang yang mampu membuat hidup Jungkook jungkir balik dalam satu jentikan jari.
“Oke.” sahut Jungkook pelan.
Jimin memajukan tubuhnya, memegang satu sisi wajah Jungkook dengan tangan kanannya, lalu meninggalkan kecupan singkat di sisi kiri wajahnya. Satu kebiasaan yang sering dilakukannya sebelum berpisah dengan Jungkook. Cara berpamitan khas Park Jimin yang selalu berhasil membuat Jungkook menahan nafasnya, lupa akan dunianya.
“Sampai jumpa, Jungkook.”
Jimin pun beranjak keluar, meninggalkan Jungkook yang selalu terdiam setelah mendapatkan kecupan singkat di pipinya. Meninggalkan Jungkook dengan jejak aroma stroberi miliknya. Jungkook menyaksikan Jimin berlari-lari kecil menghampiri Namjoon. Terlihat begitu antusias. Jungkook bahkan mampu memvisualisasikan bagaimana Jimin akan menyunggingkan senyumnya tanpa harus melihatnya secara langsung. Membayangkannya saja sudah terasa menyakitkan, apalagi jika harus menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Mengabaikan sesak di dadanya, Jungkook menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Ia berandai dalam angannya tentang dirinya dan Jimin, yang hanya sebatas sahabat dan teman sejak kecil. Terlalu mustahil untuk menjadi lebih dari itu.
Park Jimin, sahabat Jeon Jungkook, cinta dan (mungkin) patah hati terbaiknya.
***
Jungkook mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan Jimin. Sembilan tahun tahun silam, ketika Jungkook untuk pertama kali menginjakkan kakinya di Busan.
Jungkook hanya tinggal berdua dengan Ayahnya. Ibunya meninggal dua tahun sebelum Jungkook pindah ke Busan. Pekerjaan Ayahnya yang selalu berpindah tempat tugas lima tahun sekali membuat Jungkook mengikuti kemana pun Ayahnya pergi. Seringnya berpindah tempat tinggal membuat Jungkook kesulitan untuk membangun hubungan persahabatan dengan anak-anak seusianya. Jungkook kecil terbiasa menghabiskan waktu luangnya sendirian. Entah mengerjakan tugas sekolah atau bermain dengan sejumlah gadget dan video games yang dibelikan oleh Ayahnya.
Sepi? Tentu saja. Jungkook sudah berkawan dengan kesepian sejak kecil. Ia ingin mengeluh, tetapi tidak sampai hati pada Ayahnya. Di usianya yang dini, Jungkook belajar memahami situasi rumit yang dialami Ayahnya sebagai sosok orang tua. Seorang duda dengan peran ganda sebagai Ayah maupun Ibu untuk Jungkook.
Setiap pagi menyiapkan segala keperluan Jungkook sebelum ia berangkat ke sekolah, menjalani harinya sebagai seorang pekerja kantoran dan mengabaikan rasa lelahnya di malam hari untuk menemani anak tunggalnya. Jungkook tahu bahwa dirinya sendiri kesepian, tetapi ia juga paham bahwa Ayahnya merasakan hal yang sama dengannya. Jungkook paham Ayahnya mengemban peran yang begitu berat.
Tempat tinggal barunya di Busan tidak berada di kompleks apartemen, melainkan kompleks perumahan. Ayah Jungkook memilih mengontrak rumah, menyadari bahwa putra tunggalnya mungkin membutuhkan lingkungan yang memberikan kemudahan baginya dalam bersosialisasi. Ia berharap pilihan untuk tinggal di kompleks perumahan dapat membantu Jungkook untuk mendapatkan teman.
Dari dalam mobil, Jungkook melihat tiga orang yang berdiri di depan rumah yang tadi disebut Ayahnya sebagai tempat tinggal mereka selama di Busan.
“Selamat datang!”
Tiga orang yang terdiri dari sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki menyapa sembari menghampiri Jungkook dan Ayahnya ketika mereka berdua turun dari dalam mobil.
Tatapan Jungkook langsung melekat pada anak laki-laki yang mungkin sepantar dengannya. Anak laki-laki itu tersenyum, membuat matanya tertutup membentuk lekungan seperti bulan sabit. Tanpa ragu, ia berjalan mendekati Jungkook, mengabaikan kedua orang tuanya yang kini bertukar kata dengan Ayah Jungkook.
“Halo! Nama aku Park Jimin! Kamu bisa panggil aku Jimin! Nama Kamu siapa?”
Anak laki-laki yang baru saja memperkenalkan dirinya sebagai Park Jimin mengulurkan tangannya. Ekspresi wajahnya begitu riang, membuat Jungkook akhirnya ikut tersenyum.
“Jungkook.” sahutnya malu-malu sambil membalas uluran tangan Jimin.
“Umur kamu berapa?” tanya Jimin begitu bersemangat dengan tangannya yang masih menyatu dengan tangan Jungkook.
“12.”
“Sama dong! Kita temenan, ya?”
Kala itu, matahari siap untuk terbenam. Jungkook menatap Jimin yang masih tersenyum hangat padanya, menatap Jimin yang berada di bawah sinar oranye langit senja Busan. Jungkook merasa kehangatan menyelimuti dirinya, tidak hanya karena sisa-sisa sinar matahari yang nyaris menghilang di sudut barat sana. Ada kehangatan yang menyapa Jungkook melalui sikap Jimin yang begitu ramah dan senyuman yang masih terekat di wajahnya.
Nun jauh di sana, sayup-sayup terdengar suara deru ombak. Hembusan angin membawa aroma pantai, disertai kicauan burung yang mengitari langit sore.
Untuk pertama kalinya, Jungkook dapat memastikan dirinya tidak akan merasa kesepian selama ada Jimin di sampingnya.
***
Pertama kali Jungkook jatuh sakit di Busan, Jimin menangis.
Tubuhnya yang memanas membuat Jungkook merasa lemah, bahkan susah untuk sekedar membuka mata. Ia terbaring di atas tempat tidurnya, diselimuti tebalnya bed cover berwarna abu-abu yang senada dengan warna kain spreinya. Ada Jimin yang duduk di sampingnya, begitu konsisten memutar balikan kain yang sudah direndam air dingin di atas kepala Jungkook. Genangan air di sudut mata Jimin sudah menetes satu per satu membasahi pipinya.
Jimin merasa bersalah karena menganggap dirinya sebagai penyebab Jungkook jatuh sakit. Ia mengajak Jungkook berlari menerobos hujan deras sepulang sekolah, tidak memedulikan tawaran Jungkook untuk menunggu sampai hujan reda. Jungkook yang tidak pernah belajar menolak kemauan Jimin tentu saja tidak sampai hati membiarkan Jimin berlari sendirian. Dengan tangan yang saling bertautan, mereka berlari melawan curahan air dari langit. Tertawa begitu keras ketika pakaian mereka semakin menempel di badan karena basah kuyup.
Kenekatan mereka berdua berakhir dengan teguran Mamanya Jimin dan suhu tubuh Jungkook yang naik drastis.
“Jungkook maafin aku. Jangan marah, ya.” ujar Jimin. Kecemasan dan rasa bersalah terdengar begitu nyaring dari setiap kata yang diucapkannya.
“Jimin, gak apa-apa.” Jungkook berusaha menenangkan Jimin. Suaranya terdengar serak.
“Maafin aku, ya.” sekali lagi Jimin meminta maaf.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Jungkook perlahan membuka kedua matanya. Ia mendapati wajah Jimin yang memerah karena terlalu lama menangis. Matanya sembap dan air mata mengalir turun secara cuma-cuma ke wajahnya.
Jungkook tertawa pelan. Tidak habis pikir Jimin menangis hanya karena dirinya jatuh sakit.
“Ngapain nangis? Besok juga turun panasnya, kok.”
“Panas kamu tinggi banget, Jungkook.” Jimin berbisik dengan lemah tetapi cukup untuk memberikan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.
“Ya kan yang sakit juga tinggi, makanya panasnya harus tinggi kayak orangnya.” gurau Jungkook. Ia dihadiahi pukulan pelan di dadanya dari Jimin.
“ Ouch- Gimana sih tadi minta maaf sekarang malah mukul?”
“Gak lucu Jungkook bercandanya—” Jimin mengucak matanya dengan tangan kanannya dan mengeringkan daerah hidungnya dengan ujung sweater yang terbalut di tangan kirinya secara bergantian. “—udah sakit masih aja bercanda.”
Jungkook tersenyum memandangi Jimin. Rasa senang dan tidak tega melebur menjadi satu dalam hati. Senang ketika Jimin mengkhawatirkannya. Tidak tega ketika melihat Jimin menangis karenanya.
“Jangan nangis.” ucapnya pelan. Matanya kembali tertutup, tetapi masih bisa mendengar suara isakan Jimin yang sudah tidak senyaring tadi.
Jimin tidak menanggapi. Setelah memastikan kompresan di kepala Jungkook terletak dengan rapi, ia merebahkan dirinya di samping Jungkook. Kasur Jungkook yang terlalu besar untuk ditempati sendiri kini menjadi cukup ketika Jimin berbaring di sampingnya. Ada jarak di antara mereka berdua, tetapi Jimin menghubungkan dirinya dengan Jungkook. Ia meraih tangan Jungkook lalu menggenggamnya dengan erat. Sangat erat.
“Cepat sembuh. Jangan sakit lagi.”
Jungkook menggumamkan ya dan sedikit meremas tangan Jimin, seakan meyakinkan bahwa Jimin tidak perlu khawatir. Ia pasti akan segera sembuh.
Sebelum terlena dalam tidur yang pulas, Jungkook berkata dalam hatinya bahwa ia tidak suka melihat Jimin menangis. Ia memastikan bahwa ia akan berusaha untuk tidak membuat Jimin menangis. Jangan sampai.
***
“Jadi kamu gak ikut pindah sama Ayah kamu?”
Jungkook mendongakkan kepalanya, mengalihkan fokus matanya dari handphone -nya ke arah Jimin. Mereka sedang berada di dalam kamar Jimin dan duduk berhadapan di atas kasur. Jungkook bersandar di headboard kasur dan Jimin duduk bersila di hadapannya.
Ayah Jungkook yang selalu berpindah tempat setiap lima tahun akan segera mengakhiri masa kerjanya di Busan. Hal ini tentu saja embuat Jimin cemas. Ia terus-menerus mengeluh membayangkan hidupnya tanpa Jungkook. Jimin bahkan menjadi lebih lengket pada Jungkook. Ia tidak mau jauh-jauh, takut Jungkook akan pergi begitu saja dari sisinya. Jungkook tidak mengeluh. Ia malah menyukai Jimin yang seperti ini.
Setelah melalui diskusi panjang dan serentetan pertimbangan, Jungkook dan Ayahnya memutuskan untuk berpisah. Ayahnya akan kembali ke Seoul dan Jungkook tinggal menetap di Busan untuk menyelesaikan sekolahnya. Ia akan menyusul Ayahnya setelah ia menyelesaikan sisa masa sekolahnya di Busan. Masa kontrak rumahnya diperpanjang sampai dengan Jungkook lulus sekolah dan Ayahnya berniat meminta bantuan keluarga Jimin untuk memantau Jungkook, yang tentu saja akan dipenuhi dengan senang hati oleh orang tua Jimin. Mereka sudah menganggap Jungkook seperti anak mereka sendiri.
Sudah tanggung. Begitu kata Jungkook kepada Ayahnya sebagai pertimbangannya untuk tinggal setahun lagi di Busan dan menyelesaikan sekolahnya sebelum melanjutkan kuliah di Seoul. Walaupun alasan utamanya adalah ia tidak sanggup berpisah dengan Jimin.
“Iya. Aku bakalan tinggal disini sampai lulus. Toh nanti tahun depan aku juga kuliahnya di Seoul. Jadi aku nyusul aja.”
Senyum Jimin menjadi lebih lebar dan tanpa sungkan ia menghamburkan dirinya pada Jungkook. Handphone Jungkook terlepas begitu saja ketika ia menangkap tubuh Jimin yang kini memposisikan diri di atas paha Jungkook, duduk di sana dengan kedua kakinya di samping paha kiri dan kanan Jungkook. Tangan Jimin mengalung erat di tengkuk Jungkook sementara Jungkook menaruh tangannya di pinggang Jimin. Ia menjaga Jimin agar duduk dengan seimbang di atas pangkuannya.
“Jadi gak pindah ke Seoul, kan?”
Jungkook mengangguk.
“Tetap tinggal di sini, kan?”
Jungkook mengangguk.
“Kita lulus bareng, kan?”
Jungkook mengangguk.
“Gak ninggalin aku, kan?”
Jungkook tersenyum, kemudian menjawab, “Enggak Jimin. Aku di sini sama kamu.”
Jimin bersorak, lalu kembali memeluk Jungkook. Kepalanya menemukan tempat di ceruk leher Jungkook.
“Pokoknya kalo kamu ke Seoul, harus sama aku. Kamu gak boleh ninggalin aku, ya!” pintanya, terdengar begitu jelas di telinga Jungkook.
Jungkook, tanpa ragu, tentu saja mengiyakan. Mana mungkin ia sanggup jika disuruh meninggalkan Busan dan berpisah dari Jimin? Mustahil.
***
“Apa bedanya sih pake lensa kontak sama gak pake?”
Jungkook berdiri dengan menumpu pada satu kakinya sambil bersandar di pintu kamar Jimin yang terbuka lebar. Yang ditanya tidak menyahut. Dari sini, Jungkook dapat melihat Jimin berdiri di depan cermin besar, sibuk membelalakkan matanya agar lensa kontaknya terpasang dengan tepat di manik matanya.
“Gak pake lensa kontak juga masih bisa ngeliat,” komentar Jungkook. Ia memasukkan kedua tangannya dalam saku yang terletak di masing-masing sisi celana kain yang dipakainya.
Malam ini adalah malam penyambutan mahasiswa baru yang menjadi puncak masa orientasi Jungkook dan Jimin sebelum benar-benar menjalani kehidupan mereka sebagai mahasiswa. Jungkook memilih jurusan hukum dan Jimin memilih jurusan akuntansi. Pindah ke Seoul untuk melanjutkan kuliah, Jungkook dan Jimin masih tidak terpisahkan. Saling mengekor. Jungkook mengingat ucapan yang sering dituturkan orang tua mereka.
Jungkook kembali tinggal bersama Ayahnya dan Jimin menyewa apartemen yang letaknya tak jauh dari apartemen Jungkook, cukup berjalan selama kurang lebih 10 menit untuk sampai di sana. Meski pun dengan pilihan jurusan yang berbeda, Jungkook dan Jimin berusaha menyesuaikan jadwal mereka sehingga mereka tetap bisa berangkat dan pulang bersama. Apalagi di awal perkuliahan, ketika mereka belum terlalu mengenal teman-teman baru mereka.
Jungkook awalnya menolak untuk mengikuti acara penyambutan mahasiswa baru ini. Ia lebih memilih untuk beristirahat di apartemen setelah mengikuti serangkaian acara orientasi yang menguras energinya. Akan tetapi, seperti biasa, penolakan tidak pernah terdaftar dalam kamus hidup Jungkook apabila Jimin yang memintanya. Jimin hanya perlu memangku wajahnya di atas kedua tangannya dan sejumlah kerjapan mata untuk membuat Jungkook berkata ya.
Jungkook sudah selesai bersiap-siap satu jam yang lalu. Ia bahkan sudah merampok habis isi lemari penyimpanan makanan ringan Jimin. Terlalu lapar untuk menunggu sampai ia tiba di tempat acara. Jimin sangat suka untuk merias dirinya, menambahkan bubuk berwarna—yang seingat Jungkook disebut sebagai eye shadow —pada matanya atau sekedar mengoleskan cairan yang membuat warna bibirnya menjadi lebih merona dan mengkilap.
“Nah,”
Jungkook mendengar Jimin bergumam lega pada dirinya sendiri. Mungkin pria itu sudah selesai memasang lensa kontak. Jimin masih berdiri di depan cermin, kali ini tangannya sudah memegang sebuah kuas besar yang ia sapukan secara halus di kedua bagian pipinya.
“Jimin, udah belum?”
Jungkook bertanya. Sudah mulai tidak sabar dan tidak enak hati jika datang tidak tepat waktu.
“Bentar lagi. Tenang aja kita gak bakalan telat, Kook. Dari sini ke kampus cuma 10 menitan. Kamu bawa mobil kan?” Jimin masih tidak menoleh ke belakang. Ia meletakan kuasnya di meja kecil yang terletak persis di samping tempat ia berdiri. Jemarinya kemudian dengan mahir menyisir rambutnya, merapikan helaian-helaian di sudut kepalanya.
“Iya. Ayo” ajak Jungkook sekali lagi.
Jimin meraih clutch hitam miliknya dan sedikit berlari menghampiri Jungkook yang kini sudah berdiri tegap, siap untuk berangkat. Begitu sampai di depan Jungkook, Jimin sedikit berjinjit, membuat wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Jungkook dengan refleks memundurkan tubuhnya, tiba-tiba merasa gugup dengan jarak wajah mereka yang sedekat ini.
“Bagus gak?” Jimin bertanya. Ia menunggu Jungkook memberikan pendapat, tidak sadar bahwa ia baru saja membuat Jungkook kesulitan untuk bernafas seperti biasa.
Langkah jarum jam di dinding tidak berhenti untuk bersuara. Satu detik berlalu. Dua detik berlalu. Bumi boleh saja berputar. Tetapi Jungkook, ia diam membatu. Terhipnotis karena kehadiran Jimin di hadapannya dalam jarak sedekat ini. Jungkook tahu—selalu sadar, Jimin memiliki pesona yang elok. Sejak pertama kali bertemu, Jungkook sudah terpesona.
Tahun demi tahun dilewati bersama, Jungkook menjadi saksi mata bagaimana waktu memahat paras Jimin. Jungkook kehilangan kata-kata untuk memuji. Elok, indah, cantik, menawan—apalagi? Apa yang harus dituturkan Jungkook untuk menggambarkan betapa sempurnanya hasil karya Tuhan? Tidak ada kata yang cukup untuk mendefinisikan rupa Jimin malam ini. Jungkook terpana untuk waktu yang lebih lama.
“Hmm.” hanya itu yang bisa Jungkook suarakan. Kepalanya terangguk dengan irama yang tidak beraturan. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. Kenapa ia harus merasa salah tingkah seperti ini?
“Gak berlebihan, kan?”
Jungkook menggelengkan kepalanya. Tidak menyetujui jika riasan Jimin dianggap berlebihan.
“Cantik?”
“Banget.”
Terlalu spontan. Terlalu cepat. Terlalu jujur. Sahutan itu keluar dari mulut Jungkook begitu saja. Ia kehilangan kendali atas tubuhnya. Hatinya mengalahkan otaknya. Yang dipuji kini tergelak, membuatnya semakin terlihat indah. Semakin tidak manusiawi.
Jimin mengecup pipi Jungkook. Merasa senang dengan kejujuran Jungkook. “Makasih, Kook!” serunya lalu berjalan ke arah pintu masuk, melewati Jungkook yang terkesiap. Ia berdiri mematung dan memegang pipinya yang terasa sedikit basah, mungkin juga berbekas merah.
Jungkook menelan ludah, membalikkan tubuhnya dan melihat Jimin yang sedang memakai sepatunya. Ia menyadari sesuatu melalui debaran jantungnya. Menyadari tentang perasaannya terhadap Jimin yang selalu mengukir tanda tanya dalam benaknya.
Merindu; walaupun Jimin berada di sampingnya.
Membutuhkan; sampai waktu yang tidak bisa ia perkirakan.
Berjanji; tidak akan ada airmata yang jatuh.
Tidak sanggup; apabila diminta untuk berpisah.
Sejumlah peraturan yang dibuat Jungkook untuk ia patuhi sendiri. Sejumlah peraturan yang dibuat Jungkook teruntuk Jimin. Sejumlah peraturan dengan tujuan mempertahankan kebahagiaan Jimin. Menaruh tangan di atas dadanya, Jungkook sekali lagi merasakan debaran jantung yang berpacu terlalu keras. Sudah lama ia tersihir cinta rupanya. Jimin menaklukan diri pun hatinya.
Di usia 18 tahun Jungkook menyadari bahwa hatinya telah tertuju untuk teman sejak kecilnya. Di usia 18 tahun Jungkook menyadari bahwa dirinya jatuh cinta pada sahabatnya, Park Jimin.
***
Jatuh cinta pada Jimin ternyata tidak mudah.
Bertingkah seperti biasa layaknya seorang sahabat pada umumnya. Berlagak bahwa lututnya tidak menjadi lemas dan keringatnya tidak bercucuran secara berlebihan ketika ia melakukan kontak fisik dengan Jimin. Sejumlah kupu-kupu berenang di dalam perutnya, menggelitik Jungkook dan memberikan getaran hebat di sekujur tubuhnya. Jimin memeluknya. Jimin menggenggam tangannya. Jimin mengecup pipinya. Sentuhan yang sedari dulu sudah biasa diberikan Jimin, tidak lagi menjadi biasa untuk Jungkook. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak kehilangan kendali.
Jatuh cinta pada sahabat sendiri tidaklah mudah.
Mengabaikan sebersit rasa cemburu yang menghampiri hatinya, Jungkook berusaha menumbuhkan rasa sabar ketika ia harus mendengarkan kisah Jimin tentang percintaannya. Ia ikut tersenyum ketika Jimin menceritakan bagaimana bibirnya mendapatkan ciuman pertama dari Min Yoongi, kakak tingkatnya di kampus. Ia meledek saat Jimin menceritakan kali pertamanya dengan Chanyeol, salah satu teman di kelasnya. Ia menyemangati Jimin ketika pria itu hendak mendekati Daniel, salah satu mahasiswa fakultas Hubungan Internasional.
Ia benar-benar melakoni perannya sebagai seorang sahabat yang baik untuk Jimin dan mengabaikan bagaimana hatinya meronta meminta belas kasihan nurani Jungkook. Bahwa hatinya juga butuh untuk diperlakukan dengan baik.
Menjadi sahabat Jimin seperti menjadikan dirinya sebagai lembaran putih yang siap ditorehkan tinta hitam oleh setiap kisah yang diceritakan Jimin. Sekali pun tinta yang ditorehkan menyobek lembaran hati Jungkook. Seperti buku harian, Jungkook menampung semua cerita tentang Jimin. Cerita bahagia maupun cerita sedihnya. Cerita yang membuat Jungkoook tertawa ketika mendengarnya. Cerita yang membuat Jungkook merasa gundah setelah mendengarnya.
“Kamu suka sama Jimin?” Hoseok bertanya. Teman akrabnya di kampus itu pernah menebak tentang perasaan Jungkook terhadap Jimin.
Sekentara itu?
Jungkook tidak mengiyakan. Awalnya mati-matian meyakinkan Hoseok bahwa tebakannya salah. Tetapi Hoseok tidak sebodoh itu. Pria itu selalu memberikan pandangan yang sama—menyengir dengan satu alis yang terangkat—ketika Jimin menghampiri Jungkook atau sebaliknya. Jungkook yang mendapatkan nilai rendah atas aktingnya oleh Hoseok akhirnya berkata jujur tentang perasaannya.
“Dikejar dong Jiminnya—” Hoseok terus-menerus berkata seperti itu. Jungkook nyaris bosan mendengarnya. “—sebelum kamu menyesal.”
Jungkook menghela nafas. Ia belum punya keberanian yang cukup untuk bertindak sesuai kemauan hatinya. Ia bahkan tidak tahu jika ia punya kesempatan atau tidak.
Berbalik dari saran yang diberikan Hoseok, Jungkook malah memilih untuk melupakan Jimin. Ia mulai berkencan ketika Jimin memutuskan untuk mencari banyak pengalaman terkait percintaan. Berharap menemukan seseorang yang mampu merekatkan kepingan-kepingan kecil hatinya menjadi utuh kembali.
Jungkook bertemu Mingyu, salah satu mahasiswa populer di kampusnya. Jungkook melakukan semua hal yang dilakukan pasangan muda seusia mereka bersama Mingyu. Hasilnya? Jungkook tentu mendapatkan kepuasaan dan kenikmatan. Mingyu sungguh luar biasa sebagai seorang kekasih. Hanya saja, Jungkook tidak pernah berhenti membandingkan Mingyu dengan Jimin. Mingyu yang begini dan Jimin yang begitu. Tidak akan ada yang dapat sebanding dengan Jimin. Hubungan Jungkook dengan Mingyu hanya bertahan selama 6 bulan. Keduanya sepakat untuk berpisah, tahu jelas bahwa tidak akan ada tujuan akhir dalam hubungan yang mereka jalani.
Jungkook kemudian mengencani Sungjong di tahun kedua perkuliahannya. Sungjong—primadona fakultas teknik—memiliki kepribadian yang kurang lebih sama dengan Jimin. Hoseok bahkan sudah melampaui yakin tentang Sungjong yang mungkin saja dapat mengubah haluan hati Jungkook. Bersama Sungjong, Jungkook mendapatkan kenyamanan yang sama persis ia dapatkan ketika ia bersama Jimin.
Akan tetapi, disitulah letak kesalahan terbesarnya.
Jungkook tidak benar-benar menyukai Sungjong. Sungjong adalah rekayasa Jimin. Apapun yang dilakukan Sungjong mengingatkannya pada Jimin. Pelukan Sungjong mengingatkan Jungkook pada Jimin. Senyuman Sungjong mengingatkan Jungkook pada Jimin. Bahkan ketika bercinta dengan Sungjong, Jungkook melihat Jimin yang berada di bawah sana. Berharap bahwa Jimin-lah yang mendesahkan namanya. Perasaannya terhadap Sungjong tidak tulus. Ia diam-diam dan tanpa sengaja menyakiti Sungjong.
Tidak ingin meneruskan pelampiasan—bagi Jungkook inilah yang dilakukannya terhadap Sungjong, Jungkook mengakhiri hubungan mereka berdua.
Dua kali mencoba menjalani hubungan dengan orang lain, Jungkook berhenti. Ia tidak ingin lagi mencoba karena semuanya terasa percuma. Ketika malam menjemput dan ia terbaring di atas tempat tidurnya memandangi langit-langit kamarnya, hanya Jimin yang berada dalam benak Jungkook. Jimin menghantuinya, siang dan malam. Tidak ada satu detik pun yang dilewati Jungkook tanpa memikirkan Jimin.
Parahnya, semakin hari perasaannya semakin mendalam. Perasaannya membuncah dan melewati batas kapasitas penuh. Ia jatuh dan terus jatuh, walaupun ia sadar bahwa Jimin tidak akan menangkapnya ketika ia jatuh. Jungkook hanya bisa mengagumi Jimin dari jauh. Ia hanya bisa melakukan peran sebagai sahabat terbaik Jimin.
Jimin adalah nomor satu untuknya. Jimin adalah prioritasnya. Sekali pun perasaannya terhadap Jimin harus bertepuk sebelah tangan, selama ia masih diberi kesempatan untuk berada di samping pria itu, Jungkook tidak apa-apa. Jungkook rela menyimpan rasa.
***
Jungkook memegang konsol hitam, membiarkan jarinya bergerak dengan cepat di atasnya. Matanya menatap layar televisi di depannya dan mulutnya sedikit menganga. Malam minggu seorang pria lajang. Ia sudah seperti itu sejak tadi siang. Bahkan ketika Ayahnya berpamitan untuk pergi bermain golf dengan teman kantornya, Jungkook hanya menaikkan kedua alisnya sambil mengangguk. Anak tidak tahu diri.
Sesekali ia mengumpat, sesekali tertawa. Sesekali ia mencibir, sesekali ia bersorak. Jungkook berada dalam dunianya sendiri. Ia sengaja menghabiskan waktunya untuk bermain video games. Ia tidak membuka akun media sosialnya sepanjang hari. Tidak mau meluangkan waktu untuk menyentuh handphone- nya.
“Jungkook, aku mau nekat.”
“Nekat ngapain?”
“Nekat nembak Kak Namjoon.”
Masih terngiang-ngiang dengan jelas percakapannya dengan Jimin kemarin sore. Jimin akan menyatakan cinta pada Namjoon malam ini. Bayangkan saja. Seorang Jimin yang tidak pernah menyatakan cinta. Seorang Jimin yang lebih suka dikejar daripada mengejar.
Jungkook mengingat dengan jelas bagaimana tenggorokannya tiba-tiba merasa kering. Suaranya seakan habis. Tidak ada kata-kata yang mampu melukiskan bagaimana hati Jungkook digerogoti rasa sakit hati kemarin sore. Luka hati yang terancam tidak akan pernah pulih.
“Good luck.”
Sebuah doa yang tulus ia ucapkan, memberikan dukungan penuh kepada Jimin. Ia memeluk Jimin dengan erat tadi malam. Jimin memintanya, karena bagi pria itu pelukan Jungkook adalah sumbangan energi untuk dirinya.
Di saat Jimin mendapatkan energi, Jungkook menguras habis energinya sendiri. Hatinya sekali lagi dihantam realita.
“Everything is going to be okay.”
Dengan mudah Jungkook menenangkan hati Jimin, ketika ia tidak tahu apa ia juga bisa merasa baik-baik saja setelah ini.
Bersusah payah mengalihkan pikirannya, Jungkook tetap saja penasaran dengan kelangsungan rencana Jimin. Ia berkira-kira; Jimin beneran nyatain perasaan ke Namjoon? Namjoon nerima? Jimin dan Namjoon sudah jadian belum?
Kembali berkutat pada konsolnya, tiba-tiba handphone Jungkook berdering. Layarnya menampilkan nama dan foto Jimin—foto candid Jimin saat sedang makan.
Jungkook menelan ludah. Ia belum siap untuk mengangkat telepon Jimin. Tidak siap untuk menerima kenyataan terpahit yang sebentar lagi akan memporak-porandakan hatinya.
“H-halo?” sapa Jungkook setenang mungkin. Suaranya bahkan nyaris terdengar seperti bisikan.
Jungkook yang menduga akan mendengar suara melengking Jimin—suara yang kerap kali ia dengar ketika Jimin sedang berada dalam suasana hati yang baik—malah disambut dengan keheningan. Tidak ada sahutan.
“Jimin?”
Ia sudah menaikkkan volume suaranya, tetapi tetap tidak ada sahutan dari seberang sana. Ada apa?
“Jimin? Kamu bisa dengerin suaraku, gak?”
“K-kook?”
Bukan suara tawa. Bukan suara gembira. Jungkook mendengar yang sebaliknya. Jimin sedang tersedu-sedu.
Terkendali oleh alam bawah sadarnya, Jungkook sontak berdiri. “Jimin? Kamu gak apa-apa?!”
Ia panik. Ia khawatir. Jimin sedang menangis.
“Kook—“ Jimin terdengar kesusahan untuk merangkai kalimat. Berkali-kali ia menghela nafas, berusaha untuk meredakan tangisnya. “—kesini. Please, kesini. ”
“Kamu dimana sekarang?” Jungkook dengan tergesa-gesa meraih jaketnya. Handphone -nya dijepit menggunakan telinga dan bahunya, berusaha untuk tidak memutuskan sambungan telepon ketika ia memakai jaket.
“Di taman. Taman samping apartemen.”
“Tunggu disitu. Jangan kemana-mana. Aku kesana sekarang.”
Konsol hitam yang terlepas begitu saja. Lampu apartemen yang dibiarkan menyala. Sejumlah bungkusan makanan ringan yang sudah terbuka berserakan di lantai. Jungkook tidak peduli. Jimin membutuhkannya sekarang.
****
Derap kaki Jungkook yang berlari menggema begitu nyaring di kawasan taman apartemen Jimin. Ia tidak memedulikan sejumlah mata yang memandanginya. Mungkin heran melihat Jungkook yang terlihat panik. Ia hanya ingin segera bertemu Jimin dan memastikan bahwa pria itu baik-baik saja.
Jungkook berhenti ketika sampai di taman. Badannya berputar dan kedua matanya menelaah seluruh sudut taman dengan penerangan yang seadanya.
Jimin ada di sana. Duduk di atas ayunan dengan kepala yang tertunduk. Hembusan angin malam terlihat tidak mempengaruhinya yang hanya mengenakan kaos. Jimin terlalu sibuk menangis untuk mempedulikan dinginnya malam.
Jungkook menghampiri Jimin. Ia melepas jaketnya dan langsung menaruhnya di atas tubuh Jimin begitu ia sampai di depannya. Jimin masih menundukkan kepalanya sehingga Jungkook berjongkok di hadapannya agar bisa bertatap muka dengannya.
Jimin masih terisak. Masih ada tetesan air mata yang turun secara perlahan dari kedua matanya. Pipinya memerah, hasil dari lamanya ia menangis dan dinginnya suhu udara malam ini. Jungkook meraih kedua tangan Jimin yang terletak begitu saja di atas pahannya.
“Hei.”
Bahu Jimin bergetar. Mendengar suara Jungkook membuatnya semakin menangis.
“Kok malah nangis? Kenapa?” suara Jungkook terdengar begitu lembut.
Tidak tahan melihat aliran air yang membasahi pipi Jimin, Jungkook menggerakkan tangannya ke wajah Jimin. Ia mengusap airmata Jimin.
“Aku ditolak Kak Namjoon.”
Setelah beberapa menit berada dalam keheningan, akhirnya Jimin bersuara. Ia menjawab pertanyaan atas tangisnya. Terdengar begitu pedih.
Jungkook tidak menjawab. Ia memberikan kesempatan kepada Jimin untuk bercerita. Tangannya menangkup sisi kanan wajah Jimin. Jempolnya bergerak dengan tempo perlahan dari kiri ke kanan.
“Kak, aku suka kakak.”
Jimin menutup mata pasca pengakuannya. Takut menatap Namjoon tetapi tetap mengantisipasi jawaban dari Namjoon. Ia gugup. Gugup sekali.
Jimin tidak mendengar jawaban Namjoon melainkan merasakan ada tangan yang mengelus kepalanya perlahan.
Jimin membuka matanya takut-takut. Namjoon masih berdiri di hadapannya. Ia tersenyum tetapi ada kesedihan di balik senyumannya. Jimin berandai; ingin tahu kenapa.
“Jimin, kamu orang yang baik. Aku senang bisa kenal sama kamu.” Ada keheningan setelah Namjoon berucap, membuat suasana terasa mencekam. “Tapi aku belum bisa balas perasaan kamu. Maaf. “
Jimin merasa bahwa ini adalah karma yang dihadiahkan semesta untuknya. Seperti ganjaran yang setimpal atas perbuatannya. Ia tidak kenal ampun mempermainkan perasaan orang lain, maka seperti itu pula semesta memperlakukannya sekarang. Hatinya terkoyak dan raganya rapuh. Sesakit ini ternyata.
Jimin menghela nafas. Perihnya penolakan yang ia alami 5 jam lalu masih terasa sampai sekarang. Entah sudah berapa lama ia menangis sendirian di taman ini. Matahari sore berganti bintang malam menjadi saksi bisu. Ia butuh menguatkan dirinya sampai akhirnya ia bisa menelepon Jungkook, memintanya datang menemui Jimin. Dan tidak pernah mengecewakan, Jungkook selalu datang kemana pun Jimin memanggilnya. Akan selalu ada uluran tangan Jungkook yang siap merangkul Jimin.
“Kook?” Jimin menatap Jungkook. Matanya masih berkaca-kaca.
“Hmm?”
“Ada gak yang mau sama aku? Aku udah sering nyakitin orang lain. Sekarang orang yang aku suka ternyata gak suka sama aku. Kira-kira ada yang masih mau sama aku?”
Raut wajah Jimin begitu pasrah. Hati yang terkoyak dan rasa malu membaur dalam dirinya. Jimin seperti tidak berdaya ketika bertanya tentang masih ada kah orang yang menyukainya? Tidak bisa bohong bahwa dirinya merasa begitu kecil saat ini.
Jungkook tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan menemani mereka, tiba-tiba butuh waktu untuk mempersiapkan jawaban. Ia terlihat berpikir begitu dalam. Berusaha untuk tidak gegabah dalam menjawab pertanyaan Jimin.
“Ada.” sahut Jungkook. Tangannya yang tadi ia gunakan untuk menangkup wajah Jimin kembali pada posisi awal. Jungkook menggenggam tangan Jimin. “Masih ada yang suka sama kamu.” lanjutnya berbisik.
Jimin tersenyum. “Tapi aku jahat sama orang lain, Kook. Aku bikin orang lain patah hati.”
“Selalu ada orang yang suka sama kamu. Suka apa adanya.”
“Kamu ngomong kayak gitu biar bikin aku senang, kan?”
Sambil tertawa, Jimin masih menitikkan satu-dua bulir airmata.
“Enggak. Aku ngomong kayak gini karena memang masih ada orang yang suka sama kamu.”
Ada penekanan di setiap kata yang diucapkan Jungkook. Seperti memberikan kode kepada Jimin. Kode yang selama ini belum sanggup ia utarakan secara terang-terangan.
“Siapa?
“Mungkin aku?”
Terdengar begitu pelan dan ragu, tetapi pada akhirnya Jungkook mampu berkata jujur.
“Kook, sukanya bukan dalam konteks antara kita berdua.”
Rupanya Jimin belum menangkap dengan tepat maksud perkataan Jungkook. Apa yang ditafsirkan Jimin tidak persis seperti yang dimaksud Jungkook.
Jungkook menggeleng.
“Kalo ada orang yang suka sama kamu, itu aku. Aku suka sama kamu Jimin.”
Harapan . Jungkook pernah ragu tentang harapan. Ia merasa bahwa semesta sudah menutup mata darinya. Merasa bahwa dirinya dilupakan sehingga ia tidak akan pernah memiliki harapan. Jungkook nyaris menyerah. Mungkin Jimin memang tidak tercipta untuknya. Mungkin bahagia Jimin bukanlah tanggung jawab dirinya. Mungkin Jimin hanya utusan semesta dalam hidupnya agar ia tahu rasanya merelakan.
Beribu-ribu hari Jungkook lewati dalam keputusasaan. Tangannya seperti terikat, tidak sanggup menggapai Jimin. Jungkook mengagumi diam-diam dan menganggap tidak akan pernah ada harapan untuknya.
Akan tetapi malam ini Jungkook menyadari bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Harapan adalah pilihan yang tidak kasatmata. Jungkook tidak perlu mencari. Ia hanya butuh untuk memilih. Memilih harapan karena harapan adalah satu-satunya cara untuk menumbuhkan keberanian dari dalam dirinya dan meraih kesempatan memperjuangkan perasaanya.
Ketika ia berharap, ia akan berani. Ketika ia berani, ia akan berjuang.
Dan Jungkook sudah siap untuk berjuang.
***
“Kalo ada orang yang suka sama kamu, itu aku. Aku suka sama kamu Jimin.”
Jimin terduduk diam di sudut meja kantin kampus. Kepalanya ia tidurkan di atas meja dan kedua tangannya ia jadikan bantal. Sudah hampir seminggu tetapi perkataan Jungkook masih terngiang di pikirannya.
“Kasi aku kesempatan?”
Jungkook meminta dan Jimin belum memberikan jawaban. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, membuat Jimin bingung dengan apa yang terjadi. Rasa perih hatinya atas penolakan Namjoon bahkan sudah tidak bisa ia pikirkan saat ini. Bimbang akan Jungkook; itulah yang ia rasakan. Tentang hubungan mereka, tentang persahabatan mereka.
Jimin tetap membiarkan Jungkook mengantarnya pulang malam itu. Akan tetapi, Jimin tidak lagi melakukan rutinitas ketika mereka hendak mengucapkan salam perpisahan di depan pintu apartemen Jimin. Jimin tidak mengecup pipi Jungkook, tidak memeluknya juga. Jungkook tersenyum mengerti. Ia tidak memaksa Jimin untuk melakukan sesuatu yang tiba-tiba terasa enggan untuk dilakukan.
Jimin tetap membiarkan Jungkook menjemputnya sebelum berangkat ke kampus bersama. Hanya saja, Jimin tidak punya kata-kata untuk dituturkan. Mulutnya terkunci rapat dan otaknya menolak untuk memberikan usulan topik obrolan. Jimin dan Jungkook membiarkan suara radio pagi menemani suasana canggung di mobil.
Jungkook pernah menggodanya. Sekali.
Beberapa hari yang lalu ketika Jimin hendak keluar dari mobil dan berpamitan seadanya, Jungkook menahan tangannya. Dengan senyuman congkaknya Jungkook bertanya, “Kok aku gak dicium?”
Jimin seketika ingin bumi langsung menelannya. Seketika ingin menghilang begitu saja. Kenapa ia harus merasa malu ketika Jungkook bertanya seperti itu? Digoda dan menggoda sudah semudah membalikkan telapak tangan untuk Jimin. Ia ahlinya. Akan tetapi, ketika Jungkook melakukannya dengan senyum yang terpahat di wajahnya, Jimin tidak sanggup membalas. Ia hanya bisa mengeluh menyebutkan nama panggilan Jungkook—Kook, jelas-jelas tersipu malu. Jungkook tertawa lalu mengelus rambutnya. Ia tidak meminta lebih. “Have a great day, Jimin.”
Jimin menghela nafas.
“13 kali.”
Suara Taehyung membuat Jimin akhirnya duduk tegap. Rambutnya sedikit berantakan karena posisi awal duduknya tadi.
“Apa?”
“Kamu udah menghela nafas 13 kali.” Taehyung berkomentar tanpa memandang Jimin. Mereka berdua sedang duduk berhadapan di salah satu meja kantin, menunggu jadwal kuliah selanjutnya. Taehyung sedang membaca sebuah buku yang tidak bisa Jimin lihat dengan jelas judul yang tertera pada sampul birunya.
“Terus?”
“Kalo kamu kayak gitu pasti ada yang dipikirin.”
Taehyung adalah sahabat Jimin—selain Jungkook tentunya—yang tahu betul luar dan dalam dirinya. Walaupun mereka baru bertemu saat berkuliah, Jimin tidak ragu menyebut Taehyung sebagai belahan jiwanya. Ia dan Taehyung adalah duo yang tidak terpisahkan. Selalu kompak dalam melakukan sesuatu dan siap sedia untuk saling membantu. Masa kuliah yang menyenangkan menjadi lebih menyenangkan ketika dijalani bersama Taehyung.
Tanpa pikir panjang, Jimin memutuskan untuk memberi tahu Taehyung tentang Jungkook.
“Tadi malam...Jungkok bilang kalo dia suka sama aku.”
Taehyung langsung menutup buku yang dibacanya, kini secara penuh memberikan pandangannya untuk Jimin saja. Kedua alisnya terangkat, ia tersenyum penuh makna.
“Akhirnya.” katanya penuh kelegaan.
Akhirnya? Mengapa Taehyung terlihat begitu lega? Mengapa Taehyung seperti seseorang yang sudah menunggu sejak lama?
“Hah? Kok akhirnya?” Jimin mengerutkan alisnya, tidak paham dengan maksud ucapan Taehyung.
“Akhirnya Jungkook bilang ke kamu.”
“Kamu udah tau????” Jimin mengira Taehyung sudah diberi tahu terlebih dulu oleh Jungkook tentang perasaannya pada Jimin. Ia beranjak dari tempat duduknya, tergesa-gesa ke seberang agar bisa duduk di samping Taehyung. “Jungkook yang ngasi tau????”
“Enggak. Aku tau aja dia suka sama kamu.”
“Tau gimana?”
“Baca di telapak tangan.”
“Taehyung! Serius!”
“Keliatan tau kalo dia suka sama kamu. Kamu gak nyadar?”
“Enggak.” sahut Jimin apa adanya, membuat Taehyung memutar kedua bola matanya.
“Duh—” Taehyung membenarkan letak kacamata yang dipakainya lalu menatap Jimin lekat-lekat “—Jungkook tuh keliatan banget sukanya sama kamu, Jimin. Dari caranya dia natap kamu, sabarnya dia pas kamu lagi ngomel-ngomel gak jelas, nungguin kamu latihan dance sampe malam, keliatan banget Jimin. Cuma orang gak peka doang yang bakalan gak nyadar kalo dia suka sama kamu!”
Jimin tersinggung. Masa dia gak peka?
“Kamu dari kapan nyadar soal Jungkook?” tanya Jimin lagi.
“Dari awal kuliah? Pas aku nemenin kamu nungguin dijemput Jungkook gak, sih? Apa pas di kantin?” Taehyung mengira-ngira, berusaha memikirkan kapan pertama kali ia bertemu Jungkook dan mengetahui perasaan pria itu tanpa harus diberi tahu secara langsung.
“Kalo udah dari awal kuliah, berarti udah lama?”
Jimin menghitung mundur pertama kali mereka menyandang status sebagai mahasiswa. Sudah tiga tahun lalu berlalu. Selama itu Jungkook menyukainya? Atau mungkin lebih lama dari itu?
“Iya pokoknya udah lama kok! Udah dari awal kuliah. Aku ingat banget pertama kali ngeliatin Jungkook. Ketahuan banget tau, Jimin!”
Taehyung menceritakan bagaimana saat ia pertama kali bertemu Jungkook. Ketika pria itu menatap Jimin, tanpa mempedulikan kehadiran orang lain di sekitar mereka berdua. Jungkook yang tidak pernah mengalihkan pandangannya, terus-menerus menjadikan Jimin sebagai objek utama kedua bola matanya. Taehyung memperhatikan bagaimana Jungkook selalu dengan setia mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Jimin. Jungkook memang jarang untuk menanggapi, tetapi mata dan caranya menaikkan kedua ujung bibirnya sudah lebih dari cukup. Taehyung bahkan tidak melewatkan bagaimana sudut telinga Jungkook menjadi merah ketika Jimin dengan manja mengaitkan kedua tangan mereka.
“Taehyung, aku harus gimana?”
Jimin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh-sungguh membingungkan.
“Kamu ke Jungkook, perasaannya gimana?”
“Gak tau. Bingung.” ujarnya. Suaranya terdengar sedikit tidak jelas, mungkin karena kedua telapak tangan yang masih ia taruh di wajahnya.
Taehyung seperti berpikir kembali lalu akhirnya memberikan tanggapannya. “Kasi kesempatan ke Jungkook.”
Jimin menurunkan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya, menatap Taehyung untuk meminta alasan dari perkataannya. Meminta penjelasan yang lebih.
“Gini, lho. Kamu sama Jungkook, cuma orang yang udah kenal lama sama kalian yang bakalan tau kalo kalian berdua cuma sahabatan. Kalo ada orang yang baru kenal sama kalian, aku jamin mereka pasti bilang kalo kalian pacaran.”
Pernah sekali. Tunggu. Tidak cuma sekali. Sering. Terlalu banyak orang yang menerka bahwa Jimin adalah pacar Jungkook ketika mereka baru pertama kali bertemu dengan kedua orang itu.
“Pacaran ya?”
“Ya ampun mesra banget.”
“Jimin manja banget sama Jungkook. Senang ya punya pacar pengertian kayak Jungkook.”
“Jimin jadian sama Jungkook, ya?”
Pertanyaan yang berbeda tetapi mengandung satu arti yang sama. Jimin selalu menggeleng dengan mengibaskan tangan di depan wajahnya lalu menjawab, “Enggak, kok. Teman dari kecil. Jungkook sama aku sahabatan.”
“Emang sih statusnya sahabatan tapi lagak kalian udah kayak pacaran.” Taehyung menyikut lengan Jimin, tersenyum meledek.
Jimin mengacak-acak rambutnya.
“Kamu selalu bilang alasan kamu belum bisa komitmen karena kamu belum nemu orang yang pas. Kamu gonta-ganti gebetan, gak ada yang bakalan tahan sebulan karena katanya gak cocok sama kamu. Kamu sibuk nyari kesana-kemari, susah-susah cari di luar sana, tapi gak ngeliat yang ada di dekat kamu. Gimana kalo ternyata kamu gak bisa nemu yang cocok karena kamu cuma bisa nemu itu sama Jungkook?”
Jimin terdiam. Perkataan Taehyung seperti membuka jalan buntu yang terus-menerus ia kelilingi.
“Mungkin ada bagian dari hati kamu yang udah milih Jungkook. Tau gak kenapa aku bisa bilang gini?”
Jimin menggeleng.
“Kalau kamu sama sekali gak punya perasaan sama Jungkook, kamu bakalan langsung nolak. Kamu gak bakalan bingung kayak sekarang.”
***
“Minggu depan ya!”
Jimin berseru ketika ia sudah di luar ruangan. Beberapa orang membalasnya dengan menyerukan sampai jumpa. Jimin berjalan di koridor gedung kampusnya dengan nafas yang masih sedikit terengah-engah setelah mengikuti kelas dance. Ia merasa lelah, ingin segera sampai di apartemennya dan beristirahat. Begitu sampai di luar gedung, langkahnya terhenti.
Jungkook, berdiri tidak jauh dari tempat Jimin menatapnya saat ini. Jimin melihat Jungkook dari atas kepala hingga ke bawah kaki. Serba hitam. Jaket kulit berwarna hitam membaluti kaos hitam polos didalamnya, celana jeans hitam dengan sobekan di bagian lutut dan sepatu sneakers hitam. Jimin merasakan hawa panas di wajahnya, tiba-tiba terpesona dengan penampilan Jungkook.
Jimin heran. Ini bukan pertama kalinya. Jungkook memang selalu berpenampilan seperti ini. Tetapi Jimin sulit menemukan jawaban atas reaksinya yang tidak bisa berhenti mengagumi Jungkook.
“Hei.”
Suara Jungkook menyadari Jimin yang sedari sibuk mengembara dalam benaknya. Pria itu tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.
“Ayo pulang.” ajaknya.
Jimin menatapnya. Ia mempelajari setiap sudut wajah Jungkook, merasa ia tidak pernah mengamati dengan seksama. Jungkook masih sama seperti dulu, dengan sedikit polesan kedewasaan. Jimin selalu mendengarkan pujian tentang rupa Jungkook, tetapi tidak benar-benar melihatnya. Memang benar. Jungkook tampan. Sangat tampan.
“Atau mau makan dulu?”
Jimin tidak mempedulikan pertanyaan Jungkook, masih sibuk memperhatikan wajah pria itu. Matanya yang selalu berbinar, Jimin seakan melihat langit malam dengan jutaan bintang yang berenang bebas di dalamnya. Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis. Garis wajah Jungkook terlihat begitu tegas. Sungguh gila. Jungkook benar-benar setampan ini ternyata.
“Jimin?”
Tangan Jungkook yang menggoyang bahunya dengan pelan membuat Jimin—sekali lagi—tersadar. “Huh?”
“Aku ngajak kamu pulang. Kalo kamu mau makan, ya udah kita cari makan dulu.”
“Oh,” Jimin merasa malu. Sibuk mengamati Jungkook membuatnya tidak mendengar perkataan Jungkook. “Aku udah makan tadi.”
“Jadi mau langsung pulang?”
Jimin mengangguk.
Tanpa sepatah dua kata yang lain, kedua pria itu melangkah bersama menuju ke parkiran. Jungkook yang tidak berhenti menggigit bagian dalam pipinya. Jimin yang tidak berhenti berdeham. Sungguh sangat canggung.
“Kamu gak latihan hari ini?” Jimin basa-basi berusaha mencairkan suasana yang canggung di antara mereka.
Jika Jimin mengikuti dance, Jungkook mengikuti futsal. Jungkook begitu hebat. Ia bahkan sering memenangkan pertandingan, menjadi pemain terbaik di dalam tim.
“Besok. Ini kan hari kamis. Aku latihan setiap hari Jumat.”
Bodoh. Sungguh bodoh. Jimin seharusnya mengingat jadwal latihan Jungkook. Terlalu salah tingkah dan canggung membuat semua fungsi otaknya beku. Jimin ingin menampar dirinya sendiri.
“Oh iya sih..hahahahhahahahaha” tawa panjang Jimin terdengar begitu renyah. Jungkook mendengus menahan tawa.
Jimin tidak lagi bersuara setelah itu. Memilih untuk diam dibandingkan semakin mempermalukan dirinya sendiri. Begitu pun Jungkook. Ia juga ikut diam. Sesekali melirik Jimin, tetapi tidak membuka suara. Hal ini terjadi sampai mereka masuk ke dalam mobil. Tetap diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jungkook menyetir dan Jimin mengutak-atik handphone -nya.
Begitu sampai di apartemen Jimin, Jungkook memakirkan mobilnya di basement dan seperti biasa, ia mengantar Jimin masuk. Mereka berdua masih tetap diam. Jimin rasanya ingin berteriak karena suasana canggung ini. Ia tidak bisa menatap Jungkook langsung di matanya, tidak bisa berbicara seperti biasa. Jika ia berbicara, ia akan kembali melontarkan kalimat-kalimat bodoh.
“Makasih.”
Sebelum membuka pintu apartemennya, Jimin mengucapkan terima kasih yang biasanya tidak pernah ia ucapkan ketika Jungkook mengantarnya pulang.
Jungkook mengangguk.
Jimin mendongakkan kepalanya, menatap Jungkook. Jungkook juga sedang menatapnya. Mereka saling bertatapan, tetapi tidak mampu untuk saling berbicara. Koridor apartemen yang sunyi membuat helaan nafas mereka berdua bahkan terdengar begitu jelas.
“Jimin, soal waktu it—”
Belum sempat Jungkook menyelesaikan ucapannya, Jimin memotongnya. “Aku masuk dulu. Sampai jumpa.”
Jimin tahu ia seharusnya tidak langsung memotong Jungkook seperti ini. Ia tidak seharusnya menghindar dengan cara seperti ini. Hampir seminggu semenjak Jungkook menyatakan perasaannya, hampir seminggu Jimin berusaha untuk menghindari pertanyaan Jungkook. Kapan pun Jungkook berusaha mengangkat topik tersebut, Jimin mengalihkannya. Ia—secara tidak sengaja—seperti sedang menunjukkan sikap yang tidak nyaman. Sikapnya tadi membuat ia merasa menyesal, apalagi dengan ekspresi wajah Jungkook dan apa yang diucapkan Jungkook setelahnya.
“Jimin kalau kamu emang gak punya perasaan yang sama ke aku, gak apa-apa. Aku gak bakalan marah. Aku gak bakalan maksa kamu buat ngebalas perasaan aku. Kamu tinggal bilang enggak dan aku bakalan berhenti.”
Jungkook terdengar lirih. Kesedihan terpancar dengan jelas dari tatapannya dan Jimin merasakan sesak di dadanya melihat Jungkook menatapnya seperti itu. Jungkook tidak lagi berbicara. Ia langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju lift, tidak memberikan kesempatan kepada Jimin untuk menahannya. Jimin masih terdiam di depan pintu. Wajahnya tertunduk menatap kakinya sendiri. Bunyi dentingan lift terdengar, menandakan Jungkook sudah masuk ke dalam dan siap untuk dibawa ke basement.
Seperti kepingan-kepingan puzzle yang satu per satu disusun, Jimin memutar balik setiap kenangan dengan Jungkook di dalamnya.
Jungkook tidak pernah mengatakan tidak. Ya adalah satu-satunya jawaban yang ia berikan kepada setiap kemauan Jimin. Jika Jimin meminta Jungkook untuk makan jjangmyeon bersamanya di malam hari ketika Jungkook sudah menyantapnya di siang hari, Jungkook akan tetap ikut makan bersama Jimin.
Jungkook yang selalu membiarkan Jimin melakukan apapun yang ia kehendaki. Jungkook menyukai kuning telur, begitu juga dengan Jimin. Tetapi ia membiarkan Jimin mengambil kuning telur miliknya dan menggantinya dengan bagian putih telur. Jika orang lain yang melakukannya, Jungkook mungkin sudah memiting kepalanya.
Jimin adalah pria yang manja. Tetapi ia tidak butuh meminta Jungkook untuk memanjakannya karena tanpa diminta, Jungkook sendiri yang akan memanjakannya. Jungkook is his human heater dan Jimin tanpa harus memberi tahu ia merasa kedinginan, Jungkook siap memeluknya dari belakang, memberikan kehangatan yang Jimin butuhkan.
Bersama Jungkook, Jimin tidak perlu meminta karena Jungkook akan selalu memberi.
Jungkook yang selalu bangun pagi untuk mengantarkan Jimin ke kampus, ketika ia sendiri hanya memiliki kelas di sore hari. Taehyung sempat bergurau mengatakan Jungkook sudah seperti supir Jimin. Jungkook tidak tersinggung. Ia hanya ikut tertawa bersama Taehyung.
Jungkook yang selalu menemani Jimin ketika ia merasa kesepian di apartemen dan sedang dalam masa homesick , membawakan sejumlah cemilan dan tentu saja es krim dengan rasa mint untuk menghibur Jimin.
Jungkook yang mau-mau saja diajak Jimin berkeliling pusat perbelanjaan hanya untuk menemaninya berbelanja. Tidak sedikit pun merasa kesal ketika Jimin membutuhkan waktu yang lama hanya untuk memilih dua baju yang kalau katanya Jungkook terlihat sama baginya.
Bersama Jungkook, Jimin akan selalu merasa senang dan nyaman.
Jungkook tidak pernah mengomentari Jimin dengan wajah polos tanpa make up.
Jungkook tidak akan mencibir ketika Jimin berseru di hadapannya tanpa harus menggosok giginya.
Jungkook yang selalu memberi waktu untuk Jimin ketika ia merasa suasana hatinya sedang tidak baik.
Jungkook yang akann menegurnya jika ia memutuskan untuk tidak menghabiskan makanannya.
Jungkook yang selalu mendukungnya dalam kondisi apapun.
Bersama Jungkook, Jimin tidak perlu takut untuk menjadi dirinya sendiri.
Jimin membuat keputusan.
Secepat kilat, Jimin berlari ke arah lift. Ia menekan tombol anak panah yang mengarah ke bawah dengan tergesa-gesa secara berulang kali. Pintu lift terbuka dan Jimin langsung masuk ke dalam, menekan tombol B dengan tidak sabar. Semoga ia masih sempat.
Lift yang membawanya turun ke basement akhirnya terbuka dan Jimin bergegas keluar, berlari ke arah tempat tadi Jungkook memakirkan mobilnya.
Mobil Jungkook masih ada di sana dan tanpa mengeluhkan kakinya yang sudah sangat terasa lelah, ia tetap berlari.
“Jungkook!!” teriaknya panik ketika melihat kedua lampu di sisi mobil Jungkook menyala, mengindikasikan bahwa pria itu sudah menyalakan mesin mobil dan siap untuk pergi.
“Jungkook!!” teriak Jimin sekali lagi tetapi gemuruh mesin mobil Jungkook yang sudah menyala mengalahkan suara teriakannya.
Kakinya yang sudah melemah dan nafasnya yang tersengal-sengal akhirnya membuat Jimin hanya bisa terduduk lemah di tengah-tengah basement saat mobil Jungkook bergerak mengikuti panah hijau dengan tulisan exit. Jimin tidak mampu lagi untuk berteriak. Energinya mendadak habis. Ia hanya mampu menatap mobil Jungkook yang berlalu pergi dengan nanar.
Apakah ia sudah mengacaukan semuanya?
***
Jungkook tidak membalas pesannya.
Jungkook tidak mengangkat teleponnya.
Jungkook tidak menjemputnya.
Dan Jimin galau.
Ia tidak bisa tidur, terjaga karena rasa khawatir dan sesal yang bercampur menjadi satu. Pikirannya seperti dihantui. Berulang kali ia mengutuk dirinya sendiri karena begitu lamban untuk memberikan jawaban kepada Jungkook. Jawaban yang sudah ia temukan, yang seharusnya langsung saja ia katakan. Jimin ingin menertawakan sekaligus menangisi kebodohannya.
Ia sudah berada di kampus sejak tadi pagi. Terlalu lama menunggu kabar dari Jungkook membuat Jimin memutuskan untuk ke kampus saja, langsung menemui Jungkook disana. Jimin tahu ada kelas yang harus dihadiri Jungkook. Sayangnya, ia terlambat. Semesta seperti sedang bermain dengannya karena ia sampai di kampus ketika kelas Jungkook sudah dimulai dan ia tidak mungkin menerobos masuk menghampiri Jungkook ke dalam.
Semesta masih ingin bermain dengannya.
Kelas Jimin dimulai satu jam sebelum kelas Jungkook selesai. Jimin sudah menghapal betul jadwal kuliah mereka berdua, kapan waktu yang memungkinkan mereka untuk bertemu. Hari ini hari Jumat, hari dimana kelas mereka berdua sangat bertabrakan. Waktu paling sesuai untuk bertemu adalah sore hari. Ketika Jimin menyelesaikan kelas dan ketika Jungkook sedang latihan futsal.
Sepanjang hari Jimin tidak bisa fokus. Bolak-balik mengecek handphone- nya, berharap akan menerima pesan balasan dari Jungkook.
Satu ketukan di layar handphone, tidak ada balasan.
Satu ketukan di layar handphone, masih sama.
Satu ketukan lagi di layar handphone, Jungkook belum membalas.
Jimin menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal sama sekali dengan gusar. Rasa frustasinya benar-benar membuncah. Ia kehilangan kesabaran, ingin sekali bersikap kurang ajar dan meminta Profesor Nam yang sedang khusyuk mengajarkan materi akuntansi manajemen untuk segera menyelesaikan kelas.
Ia tidak berkonsentrasi. Bolpoinnya terus-menerus ia putar dengan jari-jari di tangan kanannya. Kakinya tidak berhenti bergerak di bawah, menimbulkan suara pelan ketika ujung sepatunya bertemu dengan ubin lantai. Perkataan Profesor Nam seperti masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tidak ada materi yang diterima oleh otaknya.
Ketika Profesor Nam mengakhiri kelas, Jimin adalah orang pertama yang berlari keluar. Ia bahkan meninggalkan Taehyung yang berteriak memanggil namanya. Pria itu sudah mempertanyakan sikap Jimin yang gelisah sejak mereka bertemu hari ini tetapi Jimin terlalu sibuk memikirkan Jungkook untuk menjawab pertanyaan Taehyung.
Jimin melewati sejumlah mahasiswa yang berlalu lalang di koridor. Meminta maaf dengan buru-buru jika ada yang bersenggolan dengannya. Ia berusaha secepat mungkin untuk sampai di bagian belakang kampus, letak lapangan indoor futsal berada.
Benar saja.
Jimin tidak perlu menilik setiap sudut lapangan dengan keduanya matanya. Ia tidak perlu bersusah payah mencari sosok Jungkook karena dengan sendirinya matanya akan selalu menemukan Jungkook.
Seperti satu-satunya warna cerah di antara hitam dan putih. Seperti satu-satunya bintang dengan sinar paling terang di langit malam. Satu pria di antara segerombolan orang. Hanya satu Jeon Jungkook.
Dari pintu masuk yang berjarak agak jauh dengan lapangan utama dan jaring-jaring yang mengitari setiap sudut lapangan, Jimin tetap bisa mengenali sosok Jungkook. Gerak-gerik khas Jungkook yang sudah sangat dihafal Jimin.
Mengatur nafasnya sampai tidak lagi berderu terlalu kencang, Jimin melangkah ke tempat duduk di luar lapangan yang paling dekat dengan posisinya saat ini. Jimin sudah sering kesini, menunggu Jungkook selesai latihan dan pulang bersama. Ia biasanya duduk di kursi penonton yang terletak di tengah, mempermudah untuk menyaksikan permainan futsal.
Sore ini Jimin memilih duduk agak jauh sehingga ia bisa mengamati Jungkook tanpa perlu khawatir akan tertangkap basah oleh pria itu. Entah kenapa ia ingin menonton dari sini saja. Mengamati pria itu dari jauh. Mengamati pria itu secara seksama. Mengamati Jungkook dalam tenang.
Jungkook bermain dengan begitu sempurna.
Kebanggaan kampus, kalau kata orang-orang. Pemain futsal dengan rekor mencetak skor terbanyak. Bukan sekedar pemain unggulan fakultas tetapi pemain unggulan kampus. Pemain terbaik yang namanya selalu menjadi gemuruh suara penonton dengan serempak. Si penyerang handal yang sangat mahir menjebol gawang tim lawan. Kapten futsal kampus, Jeon Jungkook.
Jimin mengamati. Benar-benar mengamati.
Jungkook yang berlari sambil menggiring bola. Rambutnya menjuntai ke bawah dahi. Melekat dengan kulit karena peluh yang bercucuran tanpa henti dari kepala hingga ke kaki. Jimin berpikir, bagaimana mungkin seseorang akan terlihat begitu serius dan rileks secara bersamaan sama seperti Jungkook yang sedang bermain futsal? Mata Jungkook dengan tajam menatap lurus ke depan. Satu tujuan saja; gol tim lawan.
Satu ayunan kaki yang kuat dan Jungkook berhasil. Gol.
Jungkook membalikan badan dan berlari dengan satu tangan yang terangkat ke atas sambil menyerukan gol. Ia tertawa dan menampilkan serentetan giginya. Ia terlihat begitu bahagia. Hanya sebuah latihan rutin di hari Jumat, tetapi Jimin tahu bahwa Jungkook selalu melakukan apapun dengan sungguh-sungguh. Latihan atau bertanding, Jungkook tidak pernah setengah-setengah.
Oh.
Jimin menemukan petunjuk hatinya lagi. Jungkook yang selalu sungguh-sungguh, tidak pernah setengah-setengah.
Seperti merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ada aliran listrik yang menggelitik sekujur tubuhnya. Jimin yang baru pertama kali melihat Jungkook dari perspektif yang berbeda. Ketika Jimin melihat Jungkook saat hatinya sudah benar-benar menemukan jawaban untuk kemauannya.
Kedamaian yang Jimin rasakan tidak berlangsung dengan lama. Saat peluit dibunyikan, Jungkook tanpa malu melepas atasan jersey -nya. Jimin tahu bahwa Jungkook merasa kepanasan dan tidak bermaksud memamerkan otot perutnya yang terpahat dengan luar biasa. Begitu seksi.
Jimin selalu mengacuhkan keramaian yang meliputi Jungkook begitu pria itu selesai bermain futsal. Ia selalu mengacuhkan perhatian yang didapatkan Jungkook oleh sejumlah penggemar beratnyaketika pria itu selesai mempertontonkan bakatnya. Apalagi saat ini. Jungkook mempertunjukkan tubuh bagian atasnya. Jungkook yang tanpa firasat buruk sedikit pun dengan sopan menundukkan kepalanya dan mengangguk, membalas sapaan sejumlah orang yang sudah bergerombol mengelilinginya. Jungkook yang pada waktu tertentu tidak peka.
Hal seperti ini sudah sering Jimin alami. Jimin tahu Jungkook begitu populer. Ralat. Sangat populer. Akan tetapi, sore ini, pertama kalinya Jimin tidak menyukai popularitas Jungkook. Apalagi melihat Jungkook dikelilingi seperti ini. Jimin menggerutu dalam hati. Ia tidak ingin berbagi.
Jimin secepat kilat beranjak dari duduknya. Derap langkah kakinya terdengar menggemuruh saat ia berjalan menuju kursi para anggota tim futsal yang sedang duduk mengistirahatkan diri. Mengabaikan sapaan beberapa teman Jungkook, Jimin meraih sebuah tas hitam yang sudah sangat ia kenal. Tas milik Jungkook yang ia beli setahun lalu sebagai hadiah ulang tahun, yang kini dilengkapi dengan gantungan kunci iron man. Ia membuka tas itu tanpa harus menunggu ijin Jungkook dan mengambil handuk berwarna putih gading. Setelah mengunci tas, ia menggantungkan tas tersebut ke lengan kirinya sehingga ia bisa menggantungkan tas miliknya sendiri di lengan sebelah kanan. Handuk putih gading ia pegang dengan erat di tangan kanannya.
Jimin berjalan menghampiri Jungkook yang masih dikelilingi orang lain.
“Jeon Jungkook.”
Hanya dengan memanggil nama Jungkook, sekumpulan orang yang mengelilingi Jungkook termasuk Jungkook sendiri langsung menoleh dengan serentak. Dominasi yang luar biasa terasa dari cara ia memanggil nama Jungkook.
“Jimin?”
Jimin melangkah maju. Tanpa perlu mengatakan permisi, mereka membukakan jalan untuknya. Mempersilahkan Jimin menempatkan diri di hadapan Jungkook. “Ayo pulang.” ajaknya sambil menyerahkan handuk yang ia pegang kepada Jungkook. Jungkook menerimanya dengan ekspresi wajah bertanya. Satu alis terangkat.
Ia mendengar salah satu orang berkata, “Kak Jungkook udah janji mau makan malam sama kita.”
“Jungkook udah ada janji duluan sama aku. Ayo.” perkataan Jimin begitu mutlak. Ia tidak memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk memberi sanggahan.
Tidak mempedulikan beberapa desahan protes, bahkan tidak menunggu tanggapan Jungkook, Jimin langsung menarik tangannya. Jimin tidak mengambil pusing dengan Jungkook yang masih belum mengenakan apapun di bagian tubuh atasnya.
“Ji—”
“Iya. Tenang aja nanti kita mampir toilet dulu.” tanpa harus mendengar permintaan Jungkook, Jimin mengerti.
Dan Jimin masih memegang tangan Jungkook saat mereka berjalan menuju toilet.
***
“Jungkook, kamu kok nyuekin aku?”
Jimin bertanya ketika mereka berjalan perlahan di lapangan parkir kampus yang sudah sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir ditemani lampu tiang yang berdiri di beberapa tempat tertentu. Mobil Jungkook diparkir di bagian belakang, membuat mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh.
Berjalan bersampingan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sudah benar-benar membuat Jimin merasa sangat terbebani. Sejak dari lapangan futsal menuju toilet, mereka diam saja. Bahkan ketika tangan kecil Jimin melingkari pergelangan tangan Jungkook. Hanya ada beberapa kalimat basa-basi yang terucap.
Jungkook diam tidak membalas.
Jimin menoleh ke samping untuk melihat seperti apa reaksi Jungkook. Pria itu sedang menundukkan kepala.
“Kook,” rengeknya pelan. Jimin kembali memegang tangan Jungkook, menghentikan langkah kaki mereka berdua. Persoalan ini harus segera terselesaikan. Jimin harus memberikan jawaban dan membiarkan Jungkook tahu. Mereka tidak bisa seperti ini. Jimin tidak bisa berada dalam suasana tidak mengenakkan seperti ini dengan Jungkook. Sejam saja Jimin tidak tahan. Ini sudah sehari. Hampir dua hari. Dan Jimin tidak bisa.
Jungkook menarik nafas panjang. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan kuat sehingga Jimin mampu mendengarkan bunyi otot dari gerakan tersebut. Jungkook menatapnya.
“Maaf,”
Hanya itu yang keluar dari mulut Jungkook.
“Kok malah minta maaf? Kamu gak bikin salah apa-apa.”
“Aku minta maaf udah nyuekin kamu.” Jungkook menatap langit yang sudah gelap. “Aku cuma ngerasa….yah gitu,” ia menjeda kalimatnya sebelum sekali lagi menarik nafas. “Sedikit kesal.”
Sedikit kesal dan mungkin sedikit sakit hati. Sedikit lebih.
“Aku tau ini semua mendadak buat kamu. Tapi kamu gak pernah ngasi aku kesempatan buat ngomongin ini. Kamu selalu ngalihin pembicaraan. Aku baru mau nanya, kamu udah kabur duluan. Aku cuma pengen kita gak jadi awkward. Kamu jadi diem terus dan aku gak mau semua jadi aneh buat kita.” lanjut Jungkook ketika akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan diri menatap Jimin. “Walaupun aku suka sama kamu, kamu tetap teman aku, Jimin. Kamu tetap sahabat aku. Terlepas dari gimana perasaan aku ke kamu, semuanya balik lagi ke persahabatan kita. Kita yang diam kayak gini bikin aku kepikiran.”
Perasaan yang sama. Reaksi yang sama. Jimin dan Jungkook yang saat ini sama-sama merasakan ketidaknyaman dalam hubungan persahabatan mereka.
“Kamu gak perlu balas perasaanku, Jimin. Aku gak bakalan pernah maksa kamu. Kamu cukup bilang jujur ke aku dan aku bakalan tetap bersikap kayak biasa.”
Karena membiasakan diri sudah Jungkook lakukan sejak lama.
“Selama kamu masih mau temenan sama aku dan gak ngejauhin aku. I’m fine with that. Dan aku minta maaf kalo—Jimin?”
Perkataan Jungkook terpotong ketika Jimin memeluknya. Tiba-tiba. Jungkook yang masih bingung tidak langsung membalas pelukan Jimin. Tangannya tergeletak di samping tubuhnya. Jungkook sama sekali tidak memperkirakan reaksi Jimin akan seperti ini. Jimin tidak peduli.
“Maaf kalo aku udah bikin kamu kesal. Aku bukannya gak nyaman sama kamu. Aku cuma takut hubungan kita bakalan jadi beda.”
Sahabat yang menjadi kekasih. Kekasih yang menjadi mantan.
Ketakutan terbesar Jimin dalam hidupnya adalah terpisah dari Jungkook. Tidak hanya secara fisik, tetapi terhadap hubungan mereka berdua. Tidak sedikit orang yang menjalin hubungan dengan pola seperti ini. Berawal sebagai sahabat, lalu melanjutkannya sebagai sepasang kekasih dan mengakhirinya sebagai mantan. Jimin takut jika hubungannya dengan Jungkook menjadi seperti itu.
Semenjak percakapannya dengan Taehyung, Jimin tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi jika ia memberikan Jungkook kesempatan. Jimin mampu memproyeksikan bagaimana kebahagiaan akan datang menghampirinya jika ia memberikan Jungkook tempat untuk menyandang status sebagai kekasihnya. Jungkook mengenal dirinya, jauh dari Jimin mengenal dirinya sendiri. Jungkook tahu apa yang Jimin mau dan begitu pula sebaliknya.
Tetapi, Jimin tidak mampu membayangkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi apabila hubungan mereka kandas di tengah jalan. Ia tidak bisa membayangkan jika hubungannya dengan Jungkook tidak bisa dilanjutkan, bahkan sebagai sahabat. Jimin tidak sanggup jika ia harus kehilangan Jungkook.
“Aku sayang sama kamu. Tapi aku takut kalo hubungan kita bakalan ngasi resiko yang bikin kita kepisah. Aku gak mau kehilangan kamu, Jungkook.”
Sambil menutup mata, Jimin membiarkan Jungkook mendengarkan suaranya yang bergetar. Emosinya membuncah saat ini. Jimin ingin menangis. Ia membuat Jungkook kesal ketika pria itu sudah cukup lama menunggunya. Ia mendorong Jungkook menjauh darinya, tanpa sengaja. Belum lagi perasaan takut dalam dirinya sendiri.
Tangan Jungkook akhirnya terangkat dan membalas pelukan Jimin. Dagunya diletakkan di atas kepala Jimin, posisi wajib yang ia lakukan apabila sedang memeluk Jimin. Jimin dapat merasakan bibir Jungkook menyapu helaian di puncak kepalanya.
“Aku juga takut Jimin.” kata Jungkook, mengungkapkan kejujuran yang lain dari hatinya. Kejujuran lain yang butuh untuk didengarkan Jimin.
Jimin mendengarkan debaran jantung Jungkook yang mulai seirama dengan debaran jantung miliknya. Rupanya, mereka berdua gugup.
“Dari dulu, yang bikin aku gak pernah berani buat nyatain perasaan aku ke kamu karena aku takut. Aku takut gak bakalan ada harapan buat kita. Aku takut kalo aku bakalan ngerusakin hubungan kita berdua. Tapi aku juga takut buat bohong terus sama perasaanku sendiri.”
Jimin membuka kedua matanya. Ia berusaha menoleh ke atas untuk menatap Jungkook. Pria itu sedang menatap lurus ke depan, tersenyum dengan semburat merah muda di bagian pipinya.
“Bohong ke diri sendiri bikin aku ngerasa capek. Bohong ke diri sendiri bikin aku kayak lari dari kenyataan. Kamu tau sendiri kalo lari itu gak gampang. Lari bikin capek. Kamu gak suka kan lari-larian?”
Sungguh khas Jungkook. Selalu membumbui setiap ucapannya dengan sedikit candaan. Jimin tahu bahwa Jungkook mencairkan suasana canggung yang sejak kemarin menyelimuti mereka. Jimin berusaha untuk tidak tertawa. Situasinya sedang tidak pas untuk tertawa terbahak.
“Dan sebenarnya paling bikin aku takut adalah buat gak nyoba sama sekali. Aku takut nyesal karena gak pernah nyoba buat berani, buat take a risk.”
Jungkook menundukkan kepalanya, bertemu dengan manik mata Jimin yang sudah memandanginya terlebih dahulu. “Makanya aku minta kamu buat kasi kesempatan ke aku.”
Wajah Jimin masih terlihat cemas.
“Gimana kalo ternyata kita gak bakalan bisa?”
“Makanya ayo kita cari tau sama-sama.”
“Aku gak mau kehilangan kamu, Kook.”
“Kamu gak bakalan pernah kehilangan aku, Jimin. Aku bakalan disini terus sama kamu, terlepas dari bagaimana hubungan kita nanti. Aku gak bakalan kemana-mana.”
“Kamu yakin mau sama aku?”
Jungkook tertawa. Mana mungkin ia tidak yakin? Jungkook sudah menunggu cukup lama.
“Lebih dari yakin.” sahutnya terdengar begitu mantap..
“Aku bawel, lho. Aku orangnya gak bisa diam. Aku manja. Aku banyak maunya. Aku nyebelin. Aku gak sabaran. Aku posesif.”
Jimin menyebutkan serentetan sikap kurang baik tentang dirinya yang sering ia dengar dari orang lain. Ia juga sedikit menambahkan agar bisa semacam memberikan tantangan pada Jungkook. Lucunya, Jimin lupa bahwa Jungkook adalah sahabatnya sendiri. Jungkook sudah tahu betul. Jimin tidak perlu mengingatkannya.
Jungkook tertawa, membuat Jimin teringat bahwa satu hal yang ia sukai dari Jungkook adalah suara tawanya. Begitu lepas, begitu bebas. Membawa sukacita dengan caranya tersendiri untuk setiap orang yang mendengarkan.
“Jimin, mau kamu bawel, gak bisa diam, banyak maunya, nyebelin, gak sabaran, posesif, kamu tetap Jimin. Aku suka kamu yang bawel. Aku suka kamu yang gak bisa diam. Aku suka kamu yang manja. Aku suka kamu yang banyak maunya. Aku suka kamu yang nyebelin. Aku suka kamu yang gak sabaran. Aku suka kamu yang posesif. Mau kamu kayak gimana sekali pun, kamu tetap Jimin yang cuma ada satu di dunia. Satu-satunya Jimin yang aku suka. Kamu doang.”
Oh, tidak. Tidak. Tidak. Jimin berseru dalam hati, sungguh ingin berteriak melengking saat ini. Jungkook membuatnya terperangah. Sungguh blak-blakan, sungguh jujur sekali. Jimin menggigit bibir, setengah mati menahan diri sendiri untuk tidak langsung tersenyum sehingga pipinya sekarang terasa begitu berat. Wajahnya terasa panas.
Dipuji cantik, Jimin sudah biasa. Dipuji menawan, Jimin juga sudah biasa. Menerima pujian mungkin sudah bisa dikategorikan sebagai salah satu pekerjaan Jimin dengan kontrak kerja seumur hidup. Ia tidak pernah melewati harinya tanpa menerima pujian. Ia tidak pernah melewati satu hari saja tanpa mendengar cerita orang tentang dirinya yang menakjubkan. Entah itu secara tulus, sekedar basa-basi maupun jilatan semata, Jimin sudah biasa. Bahkan, gosip pun kalah banyak.
Akan tetapi mendengar serentetan kekurangan dirinya yang dipadukan dengan pernyataan Jungkook bahwa pria itu menerimanya karena Jimin adalah dirinya sendiri, sungguh tidak biasa. Tidak pernah. Jimin tidak pernah mendengar bagaimana orang lain menyatakan bahwa mereka akan menerima Jimin beserta kekurangannya. Tidak ada yang seperti ini. Tidak ada yang seperti Jungkook.
Jimin sudah tahu dari lama bahwa ia bisa menjadi dirinya sendiri bersama Jungkook. Tetapi mendengarnya langsung dari mulut Jungkook sungguh memberikan sensasi yang luar biasa.
Jimin merengek mengeluarkan suara seperti rintihan kecil karena malu, sambil menenggelamkan wajahnya di dada Jungkook. Ia menghirup percampuran bau lavender dan kayu cendana di sana. Bau khas Jungkook yang sangat disukai Jimin. Tangannya sudah berpindah mengalungi leher Jungkook sekarang. Seperti mengandalkan tubuh Jungkook sebagai tumpuan untuknya berdiri, Jimin memeluknya erat sekali.
“Jimin, aku gak bisa nafas, lho.” kata Jungkook berbisik di telinganya. Jimin tahu bahwa pria itu sekarang sedang tersenyum. Jimin bisa membayangkan senyum congkak Jungkook ketika ia memenangkan sesuatu. Saat ini ia mungkin sudah memenangkan hati Jimin.
“Kamu belajar gombal darimana?” tanya Jimin, masih berada dalam posisi semula. Terlihat enggan untuk melonggarkan pelukannya pada Jungkook.
“Aku gak gombal. Aku cuma ngomong jujur aja.”
Jimin sudah terbiasa dengan Jungkook. Tetapi ia belum terbiasa dengan Jungkook yang seperti ini.
“Apa sih,” desisnya, tidak terdengar ketus sama sekali.
“Jadi jawaban buat aku, apa? Aku dikasi kesempatan atau enggak?”
Oh Tuhan. Jungkook benar-benar ingin membunuhnya dengan mempermalukannya seperti ini. Apa reaksi tubuhnya dan pelukannya yang terlalu erat ini masih kurang menjawab pertanyaan Jungkook? Haruskah Jimin menjawabnya langsung dengan suaranya?
“Kamu udah tau!”
“Kamu tau kan tujuan orang bertanya tuh karena mereka gak tau. Aku nanya karena aku gak tau, Jimin.”
Tadi sore, Jungkook diam seribu bahasa. Saat ini, Jungkook melontarkan lebih dari seribu bahasa. Jungkook malah mengejeknya. Tidak memberi ampun sama sekali.
“Jungkook!”
“Ya, Jimin?”
Jimin memukul pundak Jungkook.
“Aku butuh kamu jawab. Aku butuh jawaban langsung dari kamu.” tutur Jungkook lembut sembari sedikit memberi jarak di antara dirinya dan Jimin. Jimin yang masih malu awalnya bersikeras untuk tidak melepas pelukannya, tetapi Jungkook menuntut melalui bahasa tubuhnya bahwa ia ingin Jimin menatapnya.
Ketika mereka saling menatap satu sama lain, Jimin melihat ketulusan yang selalu Jungkook berikan kepadanya melalui tatapannya. Jungkook yang Jimin tahu adalah Jungkook yang selalu memberi tanpa mengharapkan imbalan. Jungkook yang baik hati, yang terlalu berharga untuk dunia ini. Jungkook yang selalu ada untuknya, kapan pun Jimin membutuhkan kehadirannya. Jungkook, sahabatnya, satu-satunya pria yang sangat Jimin percaya dan kasihi. Jungkooknya Jimin.
“Ayo kita coba pelan-pelan. Asal sama kamu, aku mau.”
Lapangan parkir kampus di malam hari bukanlah tempat ideal yang pernah Jimin bayangkan sebagai tempat pengakuan cinta. Warna aspal tempat mereka berpijak sudah pudar, penyinaran lampu tiang yang tidak bisa menandingi cahaya mentari pagi dan semilir angin malam yang membantu mereka untuk saling mengeratkan pelukan satu sama lain. Situasi ini benar-benar bukan tempat yang pernah dibayangkan Jimin untuk mendapatkan ciuman dari Jungkook.
Mulut Jimin dan Jungkook bersatu sebagaimana perasaan mereka. Perasaan tidak berbalas kini sudah lama terlupakan. Ketakutan berganti menjadi keyakinan. Hanya ada Jimin dan Jungkook, siap untuk menorehkan tinta hitam tentang awal kisah cinta di lembaran putih milik mereka berdua.
***
Jungkook masih melakukan rutinitas setiap hari seperti biasa.
Bangun di pagi hari, ketika sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamarnya melalui jendela yang terletak di samping kiri tempat tidurnya. Ia duduk, melakukan beberapa gerakan tubuh untuk meregangkan otot tubuhnya. Masih dalam proses mengumpulkan semua kesadarannya, Jungkook beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan malas menuju ke dalam kamar mandi.
Ia menghabiskan kurang lebih 15 menit di dalam sana, melakukan semua hal yang harus dilakukannya. Keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang terlingkar erat di pinggang, Jungkook berjalan ke depan lemari pakaiannya. Ia membuka pintu lemari berwarna putih, menampilkan semua pakaiannya yang nyaris tidak memiliki warna lain selain warna hitam.
Jungkook selalu memakai apapun yang pertama kali dilihat oleh kedua matanya. Sebuah sweatshirt —tentu saja berwarna hitam—menjadi pilihan pakaiannya untuk hari ini. Ia menoleh ke arah pintu masuk kamarnya, memandangi beberapa celana yang digantung di belakang pintu itu. Berpikir sejenak, ia lalu berjalan mengambil celana jeans dengan warna biru pudar untuk dipadukan dengan sweatshirt hitam tadi.
Selesai mempersiapkan diri dan memastikan ia sudah memasukan semua barang yang harus ia bawa ke dalam tas ranselnya, Jungkook keluar dari kamarnya. Ia akan menemukan Ayahnya duduk membaca berita pagi dari ipad yang dipegangnya. Secangkir kopi hangat dan sepiring roti panggang dengan pinggiran roti yang agak hitam. Jika ditanya kenapa Ayahnya masih bisa menggosongkan pinggiran roti ketika roti itu dipanggang menggunakan toaster yang seharusnya mempermudah pekerjaannya, Beliau akan menjawab
“Ayah lebih suka yang gosong kayak begini. Lebih renyah.”
Jungkook akan mengambil sisa roti yang sudah dipanggang Ayahnya. Jika terburu-buru, Jungkook akan langsung mengambilnya dan memasukan ke dalam mulut. Jika tidak, ia akan menyempatkan waktu untuk mengolesi roti panggang tersebut dengan selai hazelnut yang diambilnya dari dalam lemari penyimpanan makanan di atas counter dapur.
Mereka berdua berbincang sebentar, sebelum Ayahnya berpamitan untuk berangkat kerja dan meninggalkan Jungkook yang membereskan semua peralatan makan yang mereka pakai. Setelah memastikan semuanya sudah rapi, tidak ada kompor yang menyala, Jungkook meraih kunci mobilnya yang tergantung di dekat pintu masuk apartemen, memakai sepatu dan berjalan menuju basement apartemennya.
Satu tempat yang ia harus tuju sebelum berangkat ke kampus.
Tidak butuh waktu lama untuk pergi ke satu tempat tersebut. Berjarak 10 menit saja dari apartemennya. Jungkook akan bersiul atau bersenandung mengikuti lagu yang sedang ia dengar dari radio mobilnya saat menyetir. Ketika sampai di tempat yang harus ia tuju, di depan sebuah lobi apartemen tepatnya, Jungkook akan menghentikan mobilnya sesaat. Ia mengutak-atik handphone -nya, membalas sejumlah pesan atau sekedar menjelajah isi beranda setiap media sosialnya.
Tidak butuh waktu lama, pintu mobilnya akan terbuka dan aroma stroberi menyapa indera penciumannya. Seorang pria yang tersenyum lebar masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang.
Park Jimin.
“Selamat pagi,” Jimin menjeda sapanya ketika ia mencodongkan tubuhnya lalu mengecup bibir Jungkook. “Sayang”
Park Jimin. Sahabat sekaligus kekasihnya.
Jungkook akan tersenyum dan mengejar bibir Jimin untuk dikecup kembali sambil sambil menyapa balik “Good morning, babe.”
Kalau saja mereka sedang tidak berada di depan lobi, Jungkook akan menuntut ciuman, bukan sekedar kecupan biasa. Ia mungkin akan mencium Jimin dengan sepenuh hati, tidak setengah-setengah. Ia mungkin akan mencium Jimin sampai mereka berdua kehabisan nafas. Ia mungkin akan mencium Jimin dengan begitu dalam, sedalam perasaannya untuk pria itu. Akan tetapi, Jungkook tidak mau berurusan dengan sejumlah mobil yang berjejer di belakang mobilnya, yang mungkin akan memberikan klakson tanpa henti jika Jungkook berhenti terlalu lama di depan lobi. Ia juga tidak mau membuat kekasihnya terlambat masuk ke kelas.
Pacarnya Jimin. Pacarnya Jungkook.
Melafalkannya saja sudah mampu membuat Jungkook terhempas menuju langit ke tujuh. Seperti seorang yang baru menginjak masa remaja, seperti itulah Jungkook akan cekikikan malu. Ia terkadang merasa bodoh karena bertingkah seperti ini. Menyebut Jimin sebagai kekasih dan sudah punya hak untuk memanggilnya babe. Hidup Jungkook tidak akan terasa lebih baik dari ini.
Apalagi ketika mereka tiba di kampus dan keluar dari dalam mobil bersama. Tidak ada lagi Jimin yang keluar mendahuluinya. Tidak ada lagi Jungkook yang hanya mampu mengamati gerak-gerik Jimin dengan sejuta perasaan dari dalam mobil. Kini Jungkook bisa keluar dari mobil bersama Jimin lalu menautkan kedua jari jemari mereka, menapakkan kaki dengan serentak saat masuk ke dalam daerah kampus.
Beribu pasang mata akan menjadikan mereka berdua sebagai objek pemandangan dan topik terpanas untuk dibicarakan. Setiap hari. Jungkook dan Jimin, Jimin dan Jungkook. Pasangan baru yang tidak terduga sama sekali. Tidak ada yang pernah menyangka mereka akan terlihat serasi sekali seperti ini. Memang beberapa orang sudah mampu menduga perasaan Jungkook terlebih dahulu, tetapi tidak ada yang pernah menduga bahwa Jungkook dan Jimin benar-benar melengkapi satu sama lain. Begitu sempurna. Membuat hati setiap orang tiba-tiba merana karena tidak bisa memiliki Jungkook yang dimiliki Jimin dan Jimin yang dimiliki Jungkook.
Tanggapan Jungkook? Pria yang sudah sejak lama dimabuk kepayang oleh cintanya pada Jimin akan menyeringai dengan angkuh. Langkah kakinya begitu tegap dan dadanya membusung. Ia begitu bangga, begitu congkak dan begitu bahagia karena bisa menggenggam tangan Jimin kapan pun ia mau. Sesekali jika diperlukan, Jungkook akan membawa tautan tangan mereka berdua dan mengecupnya.
“Oh Tuhan..” gumam beberapa orang yang berjalan melewati mereka berdua. Masih tidak biasa dipertontonkan kemesraan dari Jungkook dan Jimin.
Jimin hanya akan menggeleng maklum dengan sikap Jungkook. Ia tidak menolak. Tidak mungkin bisa menolak karena Jimin menikmati setiap hal kecil yang dilakukan Jungkook padanya. Cheesy but he loves it.
“Nanti kabarin aku kalo sudah selesai, ya.”
Jungkook membenarkan kerah kameja biru muda yang dipakai Jimin. Ia juga merapikan rambut Jimin yang tertiup angin pagi, menyisirnya dengan jarinya. Jungkook sempat menoleh ke atas memandangi langit biru tanpa awan yang ditemani pancaran sinar matahari pagi yang masih tidak terlalu terik. Indah dan cerah. Tetapi, tidak seindah Jimin dan tidak secerah hatinya.
“Iya.” sahut Jimin.
“Jangan kangen. Ntar kuliahnya gak konsen kalo mikirin aku terus.”
Jimin mendengus. Justru ia yang harus berkata seperti itu pada Jungkook.
“Iya, Sayang.” Jimin berjinjit, memberikan kecupan terakhir sebelum mereka berpisah untuk berjalan menuju kelas masing-masing.
“Sampai nanti.”
Mencintai Jimin adalah salah satu hal terbaik yang pernah dilakukan Jungkook di dalam hidupnya. Mencintai Jimin memang tidak mudah. Ia membutuhkan waktu yang lama membiarkan dirinya dihempaskan dalam keraguan dan ketidakberdayaan. Ia membutuhkan waktu yang lama untuk bersembunyi dan menahan diri serta sakit. Mencintai Jimin memberikan Jungkook keberanian. Mencintai Jimin membuat Jungkook menggunakan hati dan jiwanya secara utuh.
Masih ada jalan yang begitu panjang yang harus ia tempuh bersama Jimin. Tentu saja ia tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan mudah. Tetapi, baik Jungkook dan Jimin tahu bahwa mereka berdua menginginkan muara yang sama. Kebahagiaan tanpa batas.
Jimin yang mencintai Jungkook dan Jungkook yang sudah mencintai Jimin sejak lama.
