Actions

Work Header

Sightless

Summary:

Hari Sabtu, dimana kecelakaan yang hampir fatal menghancurkan penglihatannya.

Saat itu juga seorang Park Jimin takut pada hari Sabtu.
Entah itu hari yang paling indah, cerah atau badai yang bergemuruh sekalipun. Setiap hari Sabtu, ia akan bersembunyi, menjauh dari dunia, menjauh dari bahaya.

Tapi kemudian Min Yoongi muncul, mengambil bagian-bagian kecil kehidupan yang hilang dari Jimin dan mencoba menunjukkan kepadanya bahwa hari Sabtu bisa menjadi hari yang paling aman dalam seminggu.

Notes:

Hai!!! Author asli dari sightless udah ngijinin aku buat translate ini, selamat membaca! Pastikan kalian baca additional tags ya^^

Chapter Text

"Oke, tenang. Nanti aku segera kesana! Simpan kulit babi untukku ya, aku lapar"

Malam itu gelap dan dingin, Jimin baru saja pergi setelah singgah di perpustakaan universitas untuk menyelesaikan beberapa tugas. Dia juga menghabiskan sepanjang hari di ruang dance dan sekarang ia siap untuk penampilan besarnya besok.

Sambil menggigil, ia menggosok-gosokkan kedua tangannya saat berjalan keluar dari gedung ke jalan utama. Teman-temannya sudah menunggunya di sebuah restoran di seberang kota, untuk makan malam pra-perayaan untuk hari besarnya. Penampilan itu akan menjadi penampilan terbesarnya, dan para juri disana yang akan memutuskan masa depannya sebagai penari, apakah dia akan masuk ke perusahaan mereka atau tidak.

Melihat taksi melaju dari kejauhan, Jimin melambaikan tangannya di udara, mengisyaratkannya untuk berhenti. Taksi itupun melambat di depan anak laki-laki berambut labu itu ketika dia masuk, dan ia segera memberikan alamat kepada pengemudi.

Sambil duduk menunggu, pengemudi taksi menyalakan radio. Melodi ringan berdenyut di telinganya, lagu klasik yang terlalu sering didengarnya. Suara piano yang tak asing memenuhi mobil kecil itu, Jimin bersenandung. Ponselnya menyala berisi pesan dari temannya yang memberitahu Jimin untuk bergegas atau mereka akan makan semua bbqnya.

Sambil terkekeh pada dirinya sendiri, dia menjawab pesan itu sampai dia mendengar bunyi klakson yang kencang dan ia melirik ke luar jendela, tidak ada apa pun kecuali lampu-lampu terang yang memenuhi penglihatannya.

Sebelum dia punya waktu untuk memprosesnya, sebuah truk besar menghantam ke samping taksi, jendela pecah berkeping-keping, menggores wajah Jimin. Mobil itu terlempar spiral dari semula, bergulir sampai menabrak dinding dan jatuh terbalik.

Karena sakit dan syok, Jimin mengerang keras. Tangannya bergerak ke sabuk pengaman, melepaskannya dari pengait lalu dia jatuh ke tanah. Ia mencoba membuka matanya, tetapi setiap kali ia melakukannya, penglihatannya terlalu kabur dan terlalu menyakitkan.

Jantungnya berdebar kencang saat dia merasakan darah menetes di pipinya. Dia tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi, yang dia tahu adalah seluruh tubuhnya berdenyut kesakitan dan dia harus segera keluar dari mobil.

"Pak?" Jimin meraih tangannya ke kursi pengemudi, menyenggol lelaki itu, dengan suaranya yang lemah. Rasa sakit yang ia rasakan di lengannya mengkonfirmasi bahwa tulangnya telah patah dan pecahan kaca tertanam di kulitnya. Dan ia juga merasakan cairan lengket yang hangat menetes di lengannya.

Sopir taksi itu tidak menjawab dan dada Jimin terengah-engah, napasnya berubah menjadi panik. Dia harus keluar dari mobil, tetapi ia tidak bisa mengumpulkan kekuatan untuk bangun dan mencari jalan keluar.

Suara sirene terdengar dari kejauhan, juga kerumunan orang yang terengah-engah dan berteriak. Selang beberapa menit, yang terasa seperti berjam-jam, Jimin mendengar pintu mobil terbuka di sampingnya ketika ada tangan yang menyeret tubuhnya yang lemas keluar.

"Nak, apakah kamu baik-baik saja? Katakan sesuatu.” Sebuah suara bertanya tetapi Jimin hanya bisa menjawab dengan mengerang kesakitan.

"Dia hidup! Bawa dia ke rumah sakit! Nak, dapatkah kamu melihat saya?”

Jimin perlahan membuka matanya, hanya untuk melihat sekitarnya selain sosok kabur dan kemerahan mengambil penglihatannya. Dia bisa mengidentifikasi cahaya terang yang memantul dari satu mata ke mata yang lain, dengan asumsi itu adalah dokter yang memeriksa tanda vitalnya dengan cahaya kecil.

"Ini terlihat lebih buruk daripada yang kupikirkan, di mana ambulansnya?" Pria itu berteriak ketika Jimin menggigil ketakutan, mengangkat tangannya. Kepalanya berdenyut kesakitan, jantungnya berdebar kencang. Lalu tiba tiba tangan pria yang hangat mengambil tangannya, membelainya untuk membuatnya merasa tenang.

"Aku...sangat takut."

"Kamu akan baik-baik saja, bernapas perlahan." Dia merasakan ada tangan mengangkat tubuhnya ke permukaan yang lebih lembut, lalu menyeretnya melintasi tempat kejadian ke mobil lain. Dia memaksa dirinya untuk tidak menjerit kesakitan karena sedang dipindahkan, seakan akan dia tahu bahwa ada lebih banyak tulang yang patah daripada yang dia harapkan.

Ia membuka mata untuk terakhir kalinya, dia melihat taksi di sampingnya, terbalik dengan satu sisi benar-benar penyok dan sirene polisi menerangi langit malam. Hingga Jimin merasakan satu air mata mengalir keluar dari matanya sebelum hanyut ke dalam kegelapan.

//////////

"Park Jimin?” Dia mendengar suara samar dan mengerang ringan sebagai jawaban. Rasa sakitnya tidak sekuat yang sebelumnya, tetapi masih ada ketidaknyamanan ketika dia mencoba menggerakkan tangannya. Sesuatu menutupi matanya dan ia merasakan perban dibalut diberbagai bagian tubuhnya.

"Jimin, saya perawatmu selama Anda tinggal di sini. Anda aman di rumah sakit. Apakah Anda tahu apa yang terjadi? "

Dia mengulangi peristiwa itu, mencoba menahan air matanya saat dia menggigit bibirnya dengan anggukan. "Bagus, sepertinya ingatanmu cukup stabil."

"Berapa...berapa lama?"

"Anda sudah di sini selama empat hari sekarang. Pemulihan Anda berjalan dengan lancar karena Anda dapat beristirahat dengan baik." Jimin menjawab dengan napas lega panjang sampai dia mengingat sesuatu tentang penampilan dancenya dan panik, duduk tegak.

“Wah wah...hati-hati, Anda sudah mematahkan beberapa tulang rusuk Anda.” Perawat dengan lembut meraih pundaknya ketika Jimin membungkuk kesakitan, lalu bersandar ke ranjang. Lagipula itu tidak ada gunanya sekarang, pertunjukan itu sudah beberapa hari yang lalu.

"Jimin, saya ingin Anda mendengarkan saya dengan hati-hati." Jantungnya langsung tenggelam di perutnya. Menilai dari nada suaranya, itu bukan kabar baik. "Menurut diagnosa, ketika truk itu membuat kontak dengan taksi yang Anda masuki, jendelanya pasti sudah benar-benar hancur."

Jimin duduk diam, menunggu dokter untuk melanjutkan. Seketika tubuhnya menjadi tegang.

"Beberapa kaca itu menembus kornea Anda dengan sangat parah.” lalu dia merasakan ada tangan di wajahnya, perlahan membuka perban di sekitar matanya. "Para dokter sudah membawamu ke ruang operasi dan mencoba segala yang bisa mereka lakukan, tetapi ternyata ada terlalu banyak kerusakan." lalu ia merasakan tangan perawat melepas kapas dan menghela nafas pelan.

"Saya sangat, sangat menyesal Jimin."

Jimin perlahan membuka matanya, jantungnya berdebar lebih cepat dari yang pernah ia rasakan selama hidupnya. Dia berharap bisa melihat perawat itu, mungkin seorang wanita yang lebih tua dengan rambut cokelat panjang dan mata besar dengan seragam keperawatan biru. Dia berharap bisa melihat ruang rumah sakit putih yang steril dan semua mesin terhubung di dinding di belakangnya.

Tapi dia tidak melihatnya. Dia tidak melihat apapun. Yang ia lihat adalah kegelapan total.

Matanya terbakar dengan air mata, hembusan napasnya menjadi cepat dan tidak beraturan.

Dia tidak bisa melihat ekspresi sedih di wajah perawat, dia juga tidak bisa menemukan tangannya yang melayang di depan wajahnya.

Sebagai gantinya, dia hanya mendengar teriakannya yang menyakitkan bergema di rumah sakit.

Hari Sabtu, 5 Desember, kecelakaan yang hampir fatal menghancurkan penglihatannya. Park Jimin, buta.