Chapter Text
Sudah hampir dua jam berlalu dan buku tulis di hadapannya baru terisi kurang dari satu halaman.
Jinhyuk menghela napas panjang. Padahal dia sudah sengaja memilih salah satu sudut di perpustakaan ini sebagai tempatnya “bersembunyi” karena tidak banyak teman-temannya yang berkunjung ke sini. Dia sungguh-sungguh butuh ketenangan (yang dia tahu akan sulit dia dapatkan jika dia memilih tempat lain), tapi ternyata memang menulisi buku ini lebih susah dari yang dia bayangkan.
Ini adalah ide kakak sepupunya. Perempuan yang sudah seperti kakak kandungnya itu kebetulan sedang berlibur di kota tempat Jinhyuk sedang menimba ilmu sebagai mahasiswa tahun ketiga. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu dan dia lupa kapan terakhir kali obrolan mereka bukan cuma sekedar berisi “Nyuk, minta rekomendasi serial anime baru dong. Bosen nih gue gak ada tontonan!” atau “Anjir lah Kak, pusing banget gue ngerjain tugas. Boleh gue bakar aja gak ini tumpukan laknat?”
Karena itulah Jinhyuk sama sekali tidak berpikir dua kali ketika Kak Gaeun memintanya untuk menemaninya selama liburan singkatnya. Sudah waktunya dia menumpahkan uneg-unegnya pada seseorang dan tidak ada orang yang dirasanya lebih tepat selain kakak sepupunya itu.
(“Seriously, Nyuk? Jadi selama ini lo suka sama sahabat lo sendiri dan lo gak cerita apa-apa ke gue? Adek macem apa lo?!” Disusul sebuah bantal yang menghantam kepalanya, keras.
Jinhyuk cuma bisa meringis. Kak Gaeun emang suka brutal kalo lagi kesel.)
Yah, andai hatinya bisa memilih, tentu dia tidak akan membiarkannya jatuh dan tertambat pada Kim Wooseok. Mereka berdua sudah saling kenal sejak masuk SMA, tapi baru benar-benar berteman dekat setahun kemudian. Lulus SMA, mereka berdua diterima di universitas yang sama meskipun beda fakultas. Dan sebagai mahasiswa rantau, sudah sewajarnya mereka hidup mengandalkan satu sama lain layaknya keluarga kedua.
(“Sejak kapan lo suka sama Wooseok?” tanya Kak Gaeun.)
Jinhyuk tidak bisa langsung menjawab. Dia sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Apakah dia sudah menyukai Wooseok ketika mereka berdua berbagi contekan ulangan sejarah di barisan paling belakang kelas 2C? Atau ketika mereka berdua jingkrak-jingkrak dan berpelukan bahagia saat dinyatakan diterima di universitas pilihan pertama mereka? Atau ketika Wooseok tanpa ba-bi-bu langsung memasangkan topinya di kepala Jinhyuk yang kepanasan di tengah-tengah upacara penerimaan mahasiswa baru? Atau ketika mata mereka selalu beradu setiap kali Wooseok hadir di semua latihan dan pertandingan baseball Jinhyuk? Atau ... entahlah, Jinhyuk tidak tahu.
Yang dia tahu, jantungnya selalu berdegup sedikit lebih cepatㅡseolah mengantisipasi sesuatuㅡtiap kali Wooseok mengetuk pintu kamar kostnya, entah untuk mengajaknya berangkat bareng ke kampus, keluar cari makan malam, atau sekedar butuh teman ngobrol. Dan meskipun sudah bertahun-tahun saling mengenal, Jinhyuk selalu beranggapan bahwa Wooseok adalah lelaki paling menawan yang pernah dia kenal.
Jadi … barangkali saja dia memang sudah menyukai Wooseok sejak dulu, siapa yang tahu?
(“Trus lo bakalan gimana, Hyuk?”
Kalau Kak Gaeun sudah mulai mengganti panggilan “Nyuk” jadi “Hyuk,” Jinhyuk tahu kakak sepupunya itu sedang serius.
“Gak tau gue, Kak. Yang jelas gue gak mungkin ngaku ke dia.”
“Lo mau diem ampe kapan emang?”
Jinhyuk membenamkan mukanya ke kedua telapak tangannya. “Sumpah gue gak tahu, Kak.”
“Jinhyuk, gue kenal lo. Gue tau seberapa tersiksanya lo sekarang, dan gue juga tau kalo ini bakalan makin nyiksa lo ntar-ntar. Semakin lo pendem, semakin sakit di lo.”
“Dia cuma nganggep gue sahabat, Kak, gue tau itu. Kalo gue ngaku ke dia, malah ngaco ntar semuanya.”
Kak Gaeun menghela napas. “Jadi lo bakalan tetep mendem semuanya sendirian?”
“Gak sendirian lah, kan gue udah cerita ke lo.”
“Ya tapi kan gue gak bisa selalu ada buat lo. I mean, I will always try to be there for you, but … you know what I mean.”
Jinhyuk manggut-manggut. “Thanks, Kak. But … for real, tho, so far gue gak ngeliat ada opsi buat nyatain perasaan gue ke dia tanpa merusak persahabatan kita.”
Mereka berdua sama-sama terdiam lama. Kak Gaeun lalu meraih ranselnya dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah buku tulis tipis yang masih baru dan bersih. Dia lalu meletakkan buku itu di depan Jinhyuk dan berkata, “Tulis semua yang mau lo omongin ke dia di buku ini. Atau apa aja yang lo rasain dan gak bisa lo ceritain ke gue atau dia. Gue harap minimal ini bisa bikin lo lebih lega ketimbang kebanyakan mendem.”)
“Jinhyuk! Gue cariin dari tadi!”
Jinhyuk tersentak kaget ketika tiba-tiba mendengar suara yang kelewat familiar. Refleks, dia langsung menutup buku tulisnya, menyebabkan pulpen di atasnya terjatuh ke lantai dan bergulir mendekati kaki si pemilik suara. Wooseok.
“Kok … lo tau gue ada di sini?”
Wooseok berjongkok untuk memungut pulpen Jinhyuk sebelum mengembalikannya ke pemiliknya. “Chat gue gak dibales-bales, di kost gak ada, di kampus gak keliatan, hari ini gak ada jadwal latihan baseball. Gue inget kemaren Suhwan sempet cerita ke gue kalo dia liat lo di sini, tapi gak berani negur karena katanya muka lo serius banget. Makanya gue nyoba ke sini, kali aja lo ada di sini lagi. Eh, bener ternyata.”
“O-oh … haha, sori sori,” Jinhyuk tertawa canggung. Padahal perpustakaan ini sengaja dia pilih karena lokasinya yang terletak cukup jauh dari gedung fakultasnya dan juga fakultas Wooseok, supaya tidak ada yang ganggu. Ternyata di sini pun masih ada yang mengenali dia. The perks of being a social butterfly, pikirnya, entah harus merasa bangga atau kesal. “Mau cari makan sekarang? Eh, apa masih kecepetan ya? Baru jam setengah 6.”
“Gue belom laper sih, tapi boleh deh kalo mau ngemil aja. Roti bakar enak kali ya?” Wooseok menarik kursi yang ada di hadapan Jinhyuk, lalu duduk di sana.
“Boleh. Kemaren gue abis ngajakin Kak Gaeun nyobain roti bakar rekomendasi Midam sebelum dia balik. Enak ternyata, kita ke sana aja ya,” kata Jinhyuk sambil sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam ranselnya.
Wooseok cuma manggut-manggut. Matanya terus melekat pada sebuah benda yang baru saja dimasukkan Jinhyuk ke dalam ranselnya. Sejak dia tiba tadi, entah kenapa benda itu begitu menarik perhatiannya. Baru saja dia hendak membuka mulut untuk bertanya, Jinhyuk sudah berdiri sembari menyampirkan ranselnya di pundak dan tersenyum, “Yuk?”
Wooseok pun memutuskan untuk menyimpan pertanyaannya untuk lain kesempatan.
Kalau sebelumnya dia hanya curiga, kali ini Wooseok benar-benar yakin.
Lee Jinhyuk, sahabatnya selama sekian tahun, sedang menyembunyikan sesuatu.
Secara sepintas, orang-orang tidak akan menyadari adanya keanehan dari sikap lelaki kurus jangkung itu, karena sebetulnya memang hampir tidak ada perubahan yang jelas terlihat. Tapi tidak bagi Wooseok.
Pasalnya, meski beda fakultas dan tidak pernah mengikuti kelas perkuliahan yang sama, Wooseok tahu sahabatnya itu hampir tidak pernah mencatat di kelas. Bukan karena malas atau bodoh (buktinya Jinhyuk selalu berhasil meraih IP di atas tiga koma tiap semester), tapi karena Wooseok paham betul Jinhyuk lebih suka belajar dengan cara mendengarkan penjelasan dosen atau berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya. Catatan? Tinggal copy yang tulisannya paling rapi di kelas atau minta soft copy bahan kuliah ke asisten dosen.
Karena itulah, Jinhyuk yang sedang menulis sendirian di salah satu sudut perpustakaan (yang Wooseok tahu tidak pernah dikunjungi oleh sahabatnya itu sebelumnya) adalah pemandangan yang cukup ganjil. Selain perpustakaan, Wooseok juga mendapat laporan bahwa Jinhyuk juga sesekali terlihat di sudut kantin dan selasar fakultas lain yang tidak banyak dilewati orang. Seolah-olah dia memang sedang bersembunyi dan tidak ingin bertemu siapa-siapa saat sedang bersama buku itu.
Buku itu. Sumpah, dia penasaran sama buku tulis itu.
Hari ini lagi-lagi Wooseok tidak bisa menemukan Jinhyuk di mana-mana. Dia sudah mengecek perpustakaan tempat dia menemukan Jinhyuk minggu lalu, tapi nihil. Ponselnya mati, teman-teman kampusnya juga tidak tahu dia di mana. Hingga akhirnya Wooseok berhasil menemukan Jinhyuk sedang duduk sendirian di bangku penonton lapangan baseball yang sepi. Buku tulis itu tergeletak membuka di pangkuannya, tangan kanannya menggenggam pulpen. Dia terlihat lebih banyak merenung, matanya tidak fokus menatap lapangan di depannya. Sesekali dia menulis sedikit di bukunya, lalu kembali melamun.
Apa sih yang ditulis Jinhyuk di buku itu sampai harus sembunyi-sembunyi begini? Belum lagi raut wajahnya yang tidak bisa dijelaskan. Meskipun ekspresinya kelihatan serius, Wooseok bisa menangkap sedikit senyuman di sana, dan juga … sedikit kesedihan?
Sungguh Wooseok tidak paham. Selama bertahun-tahun mengenal Jinhyuk, dia lebih terbiasa melihat Jinhyuk dengan jokes-jokes recehnya yang selalu bisa membuat orang lain entah tertawa atau kesal sendiri, si social butterfly yang hampir selalu bisa ditemukan di tengah-tengah kerumunan, si ekspresif yang sulit menyembunyikan suasana hatinya.
Hingga dia bisa melihat sisi Jinhyuk yang seperti ini, sesuatu yang cukup serius pastilah telah (atau sedang) terjadi.
Wooseok lalu mengurungkan niatnya untuk menampakkan diri dan menghampiri Jinhyuk. Kalau memang Jinhyuk sedang butuh waktu untuk sendirian, biarlah dia membiarkannya untuk sementara waktu. Toh, jika memang sahabatnya itu butuh seorang pendengar, dia pasti akan mencarinya kan?
Meskipun tidak yakin dengan jawaban atas pertanyaannya sendiri, Wooseok berbalik pergi.
Kesempatan itu datang secara tiba-tiba, tanpa diduga-duga, tidak sampai dua minggu kemudian.
"Hyuk, lo di mana? Lagi gak di kamar? Gue di depan kamar lo nih, gue ketok-ketok dari tadi gak ada yang nyaut."
"Eh? Sori sori, gue lagi keluar bentar ngambil laundry. Masuk aja ke kamar gue, gak gue kunci kok."
"Ih, kebiasaan deh lo, gak ngunci kamar kalo ambil laundry," Wooseok berdecak sembari membuka pintu kamar Jinhyuk yang memang tidak terkunci.
Dari ponselnya, dia bisa mendengar Jinhyuk terkekeh. "Ya kan cuma bentar, deket pula. Kalo jauh atau lama pasti gue kunci lah."
"Tetep aja bahayaaa Jinhyuuuk, jangan dibiasain ah," omel Wooseok. "Buruan gih, gue tunggu di kamar lo ya. Mana ini tempat tidur belom diberesin pula, dasar bocah.”
Belum sempat Jinhyuk menjawab, Wooseok keburu memutus sambungan telepon. Dia lalu menghampiri tempat tidur Jinhyuk, minimal untuk melipat selimut supaya terlihat lebih rapi. Sesuatu terjatuh ke lantai ketika dia menarik selimut Jinhyuk dan tangannya langsung berhenti bergerak ketika dia menyadari benda apa itu.
Buku itu. Buku tulis yang sudah mengusiknya selama berminggu-minggu.
Dia lalu mengambil benda itu dan duduk di pinggiran tempat tidur Jinhyuk. Tangannya bergerak ingin membuka, tapi rasa ragu menahannya. Wooseok teringat betapa hati-hati Jinhyuk memperlakukan buku ini, pastilah isinya sesuatu yang sangat pribadi dan tidak mau dia perlihatkan pada orang lain.
Tapi sumpah dia penasaran setengah mati. Apa sih yang Jinhyuk rahasiakan segitunya, bahkan dari sahabatnya sendiri? Akhirnya dengan tangan sedikit gemetar, dia pun membuka buku itu dan membaca halaman pertamanya.
They said love doesn’t come easy.
I don’t know who the hell they are, but I have to disagree.
Falling in love with you was too easy that I didn’t even realize when or how did I fall. Next thing I knew I was already at the bottom of a well without knowing how to climb up again.
They said love is beautiful.
This time, I agree with them.
You are beautiful, I always know that. But I don’t know if I simply fell for your beauty, or everything just feels beautiful for me because I’ve fallen in love with you.
This won’t be a smooth and beautiful ride, but I do really hope thatㅡ
Apapun yang diharapkan oleh Jinhyuk, Wooseok tidak pernah tahu karena dia tidak sempat membacanya. Dia langsung menutup buku itu. Jantungnya berdegup kencang didera perasaan bersalah. Harusnya dia mengikuti kata hatinya untuk tidak membaca buku itu. Harusnya dia lebih bisa menahan diri. Seperti dugaannya, buku itu benar-benar berisi hal pribadi Jinhyuk yang tidak seharusnya dia baca.
Tapi yang membuat tangannya terasa melemas bukanlah perasaan bersalah.
Wooseok cukup mengenal Jinhyuk untuk mengetahui seberapa dalam perasaan sahabatnya itu hingga dia bisa memendam dan menulis seperti ini diam-diam.
Jinhyuk ... jatuh cinta? Sama siapa?
“Seok?” Wooseok terperanjat ketika pintu kamar terbuka, memperlihatkan Jinhyuk yang sudah kembali membawa satu tas besar berisi baju-bajunya yang baru di-laundry. “Lama nunggu? Sori ya, tadi gue …“
Jinhyuk tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika dia melihat benda yang sedang dipegang Wooseok. Dan Wooseok ingin menangis rasanya, menyadari wajah sahabatnya yang langsung memucat.
“J-jinhyuk,” dia tergagap, menjatuhkan buku itu ke atas tempat tidur. “S-sori, gue gak maksud …”
Keheningan yang canggung dan tegang menyelimuti ruangan itu, sesuatu yang belum pernah terjadi di antara mereka. Dengan gerakan perlahan, Jinhyuk meraih bukunya dari atas tempat tidur. “Lo … baca?”
Wooseok menarik napas. “Iya.”
“Seberapa banyak?”
“Cuma … halaman pertama aja. Itu pun gak semuanya,” jawab Wooseok cepat-cepat. “Jinhyuk, gue bener-bener minta maaf. Harusnya gue gak baca sama sekali. Tapi … tadi …” Dia ragu-ragu. Memangnya dia punya dalih apa selain kelewat kepo dan lancang?
Jinhyuk masih diam saja. Mukanya pucat dan pandangannya agak nanar. Wooseok makin merasa bersalah. “Jinhyuk?”
“Iya, gak papa, Seok. Lupain aja ya.” Sebuah senyum kecil yang amat dipaksakan muncul di wajah Jinhyuk. Wooseok sangat tidak suka melihatnya, terlebih karena dia tahu dialah penyebabnya. “Lo … ke sini mau ngapain by the way? Mau ngajakin keluar? Bentar ya, gue … beres-beres duluㅡ“
“Mmmm, gak kok, tadinya gue mau main aja, bosen soalnya hehehe,” Wooseok cepat-cepat menjawab, garing. Dia sendiri juga sudah lupa tadi mau ngapain ke sana. “Ya udah deh ... gue cabut dulu ya kalo gitu. Bye, Hyuk.”
Tanpa menunggu jawaban Jinhyuk, Wooseok bergegas pergi dari sana.
