Actions

Work Header

Adek Kana

Summary:

Ketika Kana, pemilik akun alter yang dikenal sebagai "adek nakal", bercinta untuk pertama kalinya dengan Mew, lelaki yang jauh lebih tua darinya.

"Om hiks",
"Shh you're doing great baby, sedikit lagi ya sayang, sedikit lagi.."

Notes:

Cerita pertama mewgulf dan cerita pertama pake bahasa Indonesia haha gak tau kenapa kepikiran nulis ini. Udah lama mengendap di draft akhirnya baru nekat post sekarang. Gak tau bagus apa ga. Unbetaed, excuse some typos.

BACA TAGS! PLS BACA TAGS!

POKOKNYA INI FILTHY YA GUYS! KOTOR! JOROK! MOHON JANGAN RIBUT! KALO GA SUKA JANGAN DIBACA!

Enjoy gays!

PS: Gulf umurnya udah LEGAL tapi ga disebut berapa pastinya, terserah imajinasi kalian.

Chapter Text

 

 

 

 

 

 

 

 

"Om Mew, kita hari ini jadi kan?", tanya Kana pada lelaki yang sedang menyetir di sebelahnya. Lelaki yang kini sedang membawa Kana dalam mobil sedan mewahnya itu berusia 12 tahun lebih tua darinya. Rencananya Kana akan dibawa oleh Mew berakhir pekan di kediamannya di Bogor.

 

"Jadi dong sayang, makanya Om jemput adek", jawab pria itu. "Kemaren kan udah janji, beres kamu uas Om bakal enakin adek", dengan nada menggoda, Mew kemudian meraih tangan Kana sementara tangan lainnya masih memegang kemudi setir.

 

 

"Kok Om Mew udah yakin duluan bakal enak sih? Tar kalo ga enak terus taunya malah sakit gimana hayo?", goda Kana pada Mew yang tak mau kalah dengan aksi nakalnya. Kalau masalah nakal, Kana pikir ia adalah jagonya.

"Haha gimana ga yakin? Kemarin pas adek nyepongin Om sambil disodok pake jari aja kamu udah keenakan, apalagi pake kontol Om?", balas Mew pada Kana dengan nada yang penuh percaya diri, menarik kembali tangannya agar bisa kembali fokus menyetir.

"Ya tapi kan masih belum tentu! Kalo beneran ga enak gimana hm?", Mew menyadari Kana sedang mengetes sejauh apa ia bisa bermain nakal dengannya.

Menarik, pikir Mew.

 

 

"Kalo beneran ga enak nanti Om beliin adek hadiah yang banyak", jawab Mew meladeni permainan Kana.
"Janji ya?",

 


"Janji.. Tapi..",
"Tapi apa Om?",
"Kalo ternyata beneran enak, adek mau ngasih apa sama Om?",
"Hm.. Apa ya? Om mau apa?", jawab Kana khas dengan kerlingan matanya.

Nakal sekali, pikir Mew.

 

 

"Ada satu yang Om pengen dari adek.. Tapi.. Ga tau adek bakal kabulin atau ga",
"Apa tuh Om?", jawab Kana dengan penasaran.







"Om pengen moto adek pas udah selesai ewe",





"Hah?",
"Iya, kalau abis diewe sama Om terus ternyata enak, tar Om mau foto adek",
"Oh.. Hm..", Kana sebenarnya mengerti apa permintaan Mew hanya saja ia tidak menyangka Mew akan melontarkannya.

 

 

"Hm.. Yauda boleh.. Tapi jangan keliatan muka aku ya?", dengan muka yang agak ragu Kana akhirnya menyetujui permintaan Mew.

 

 

"Buat ukuran anak alter kamu ternyata masih ada takutnya ya dek", jawab Mew sambil terkekeh, meskipun begitu ia paham kehati-hatian Kana dan memakluminya. Sejujurnya ia bangga walaupun Kana nakal, ia tidak bodoh.

"Just in case Om, aku kan masih kuliah, ga lucu kalo nanti ada kasus",

"I understand baby, I understand", jawab Mew sambil meraih kembali tangan Kana kemudian memberikannya genggaman penuh pengertian. Mew harap Kana mengerti bahwa Mew disini bukan untuk menyakitinya, tapi mencintainya sebagaimana ia harusnya dicintai.

 

 

 




 

"Om hngg",


 

"Hngg",



"Om hiks",
"Shh you're doing great baby, sedikit lagi ya sayang, sedikit lagi..",
"Om.. udah ga kuat hng ngh", sambil melenguh air matanya jatuh membasahi pipi.

 

 

"Belum longgar sayang.. Kalo masuk sekarang nanti adek sakit, kontol Om kan besar",
"Nghh nyaahh Ommm", dengan kesadaran yang tinggal setengah, Kana mengerang dan memohon.

 

 

 

"Shh anak pinter, sedikit lagi ya, nanti Om masukin kontol Om", bantah Mew sambil memompa kembali sebatang dildo berukuran sedang ke dalam lubang Kana.

Ia mengecup kening Kana, mengelap keringatnya, mengocok juniornya. Semua Mew lakukan agar Kana bertahan menerima gempuran batang dildo yang sedang ia pompa dengan konstan.

 

Hal ini Mew lakukan agar Kana siap menerima kejantanannya yang berukuran tidak kecil. Kalau saja ini bukan kali pertama Kana bersenggama mungkin Mew tidak akan sehati-hati ini. Namun, entah kenapa ia sangat ingin memuaskan Kana. Kananya yang nakal, cantik, pintar dan manja.

 

Mew ingin Kananya menikmati pengalaman pertamanya.

Ia ingin melihat Kananya dikonsumsi oleh kenikmatan, hilang dalam euphoria seks, tenggelam dalam momen bercinta.




Ia ingin Kananya lepas.


Dan Mew bertekad bulat membuat Kananya berserah padanya.


Submitting to him.


 

 

Mew kemudian menaikkan tempo gerakan tangannya. Ia dapat melihat kerut lubang Kana yang semakin longgar.

 

Indah, pikir Mew.


 

Ketika dildo yang dipompa Mew tiba-tiba merajam prostat Kana,
"OM!! HNGG AAAANHHH!!",
sambil menggigiti jarinya Kana menangis dan berteriak dengan kencang.

 


Badannya menggeliat, tangannya ia tahan untuk tidak meraih juniornya.
Ya Kana dilarang memegang penisnya. Mew yang memintanya. "Biar Om yang enakin kamu", begitu ucap Mew.


 

"HIKS OMM AANHH OMMM NYAA HNGG", tidak kuat menahan kenikmatan yang ia rasakan di lubangnya, Kana kembali memohon.

"UDAH OM MASUKIN AJA MASUKIN HNGG", mohonnya kembali pada Mew.

 

 

Mew takjub melihat pemandangan tersebut. Ia tahu Kana tidak akan kuat menahan kenikmatan dari stimulasi anal, tapi sensitivitas Kana benar-benar melebihi ekspektasinya.

"Sedikit lagi sayang, sedikit lagi. Adek tadi ragu ga bakal enak, ini kontol Om belum masuk tapi kok adek udah nangis sih?", Mew menjawab sambil mengelus rambut Kana yang basah oleh keringat.

 

 

Mew memelankan gerak pompanya, memberikan Kana waktu bernafas.

"Shh adek shh",
"Hngg.. Om", dengan badan gemetar ia mencoba mencari mata Mew.

 

 

"Adek pengen diewe aja hiks cepetan Om",
"Cupcup, iya sayang, abis ini om ewe ya", kembali ia usap rambut Kana dengan lembut, kemudian tangannya turun membelai wajah Kana, lalu menyusuri pipinya, kemudian bibir indahnya..

 

Jub..  Kecupan kecil didaratkan oleh Mew pada bibir bengkak Kana.

 

"Udah jangan nangis, satu menit lagi pake dildo abis itu Om masukin ya?", Ia menatap wajah Kana yang sudah penuh dengan keringat.

Matanya yang sudah setengah kosong membuat Mew bangga. Ia sudah setengah berhasil membawa Kana pada kenikmatan bercinta.

 

 

"Jawab dulu dong sayang",
"Iya hiks iya adek ga nangis hiks",
"Anak pinter, cupcup udah taro lagi tangannya di atas ya", jawab Mew sambil menarik tangan Kana dan menyilangkannya di atas kepalanya.


 

 

"Ga boleh dipegang titit kecilnya ya sayang",


 

Kanapun mengangguk.

Tidak, milik Kana sebenarnya tidak kecil, namun terlihat demikian jika dibandingkan dengan milik Mew. Kana juga terlihat menikmati perlakuan tersebut.

 

 

Sebagai seseorang yang bongsor, amat jarang Kana merasa kecil. Namun di hadapan Mew begitulah apa yang dirasakannya.

 

 

Ia menikmatinya, menikmati perasaan menjadi kecil, diayomi, dan didominasi.




 

 

Kana suka merasa kecil.

 

 

 




 

Mew sedang berjalan menuju nakas mencari kondom sambil mengocok kejantanannya. Kana mengikuti gerak Mew dari ekor matanya sedangkan ia masih dengan dildo di dalam lubangnya.

 

 

 

Gemetar.


 

 

Berkeringat.


 

 

Tenggelam dalam nikmat.


 

 

Dan siap untuk digagahi.


 

 

Tangannya yang menyilang di atas kepala, dadanya yang naik turun berusaha mengatur nafas, kakinya yang mengangkang, dan lubangnya yang terisi. Kana benar-benar sebuah pemandangan erotis.

Dan wajahnya, wajahnya yang penuh pasrah dengan bibir bengkak habis diciumi, kening penuh dengan peluh, rambut basah oleh keringat, mata mengawang tinggi, dan air mata mengalir. Tidak heran ia dijuluki "adek nakal" di akun alternya. Nyatanya, Kana memang terlihat erotis dan menggemaskan dalam waktu yang bersamaan.

 

 

"hng Om..", sautnya pelan
"sabar ya dek",

 

 

Mew masih sibuk dan Kana masih tinggi dalam awang kenikmatan.



"Adek inget gak minggu kemarin habis nyepong Om, sisa kondomnya ditaro dimana?", tanya Mew pada Kana yang sejujurnya tidak dalam kondisi yang tepat untuk ditanyai. Kana sedang tinggi, ia bahkan tidak bisa fokus.

 

 

"gak tau hiks",
"Om lupa naronya dimana, di sini kenapa ga ada ya?", Ia sibuk merogoh ke dalam laci nakas mencari kotak kondom yang ia yakin ada di sana, sedangkan tangan lainnya masih mengocok kemaluannya.


 

 

"Kalau Om tinggal buat beli kondom dulu, adek mau-",
"GAK! HIKS JANGAN DITINGGAL!", Mew terkejut mendengar Kana berteriak.

 

 

"OM JANGAN PERGI HNNNNG ADEK GA MAU DITINGGAL! OMM DISINI AJA HIKS", Kana berteriak dan menangis.

 

 

Tangisannya semakin menjadi seiring detik berjalan, air mata yang tadinya mengalir akibat kenikmatan sekarang berubah menjadi air mata ketakutan.

Kana tidak tahu kenapa ia begitu takut, ia hanya tidak ingin ditinggal sendirian.

 

 

"Hush baby, gak Om tinggalin, gak ditinggalin sayang", Mew buru-buru menghampiri Kana memeluknya, memberi kecupan di seluruh wajahnya. Ia mengecup keningnya, pelupuk matanya, hidung mancungnya, pipi gembilnya, dan bibir indahnya.

"Shh sayang, sayang, ga Om tinggal sayang", Mew berusaha menenangkannya. Ia membisikannya dengan sangat lembut.

"Om di sini sayang", Mew meyakinkan Kana ia tidak meninggalkannya.


 

 

Setelah beberapa saat, tangis Kana berhenti.
"Adek sayang, liat Om", Mew berusaha mendapatkan perhatian Kana setelah ia sedikit tenang.


 

 

"Om gak ninggalin adek Kana, Om di sini sama adek",
"Hiks Om",
"Iya Om di sini ya, udah jangan nangis", ia kembali mengecup bibirnya.

 

 

"Do you want to stop baby? Mau pake safeword?", Tanya Mew pada Kana
"Nda hiks", jawab Kana.



 

"Okay, sekarang adek dengerin Om dulu ya?", Kana mengangguk setelah mendengar pertanyaan Mew.
"Om ga nemu kondomnya sayang, makanya tadi Om tanya boleh beli keluar ga tapi adek ga mau ditinggal terus adek mau gimana?", Mew berhenti sejenak bertanya pada Kana.


 

Namun, Kana sepertinya terlalu tinggi untuk menjawab pertanyaannya.



 

"Adek percaya sama Om gak?", tanya Mew pada Kana.

Yang ditanya masih tidak mampu berkata-kata, ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mew. Iya, Kana percaya dengan Mew.

 

 

"Okay.. good", saut Mew, "Kalau gitu Om mau tanya satu hal lagi sama adek",






 

 

"Boleh ga Om ewe adek ga pake kondom?",






 

"Iya hiks".

 

 

 


 

 

 

Tangannya yang disilangkan di atas kepala sekarang berada di bawah cengkraman tangan Mew yang gagah penuh urat.

 

Sedang tangan Mew lainnya berada di sebelah wajah Kana dipakai untuk menopang badannya.

 

Bagian kejantannya sudah melesak sempurna ke dalam lubang si muda.



 

"Adek sayang.. sakit?", tanya Mew pada Kana.

Dengan wajah keduanya yang berdekatan Mew dapat melihat jelas air muka Kana. Ia mencoba melihat ketidaknyamanan di mukanya, tidak ada, tidak ada sebersitpun ketidaknyamanan.


 

Hanya puas yang terlihat. Iya, Kana terlihat puas.


 

Kana cantiknya masih tinggi mengawang, mulutnya terbuka sedikit, terkadang terdengar erangan, lenguhan, dan desahan.

 

 

"Adek.. Sayang, jawab Om..",
"Hng",


 

 

"Dalem".

Mew hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Kana. Ia lega dan juga puas dalam waktu yang bersamaan.

 

 

"Iya dalem ya sayang? Kontol Om kan panjang, jadi pasti dalem masuknya", ia kemudian melepaskan genggamannya pada tangan Kana dan menurunkannya sampai ke perut Kana.

"Mana sayang? Ini ya? Ini kontol Om ya?", Mew menekan bagian bawah perut Kana dimana kepala penisnya dapat ia rasakan bersarang di sana.

 

 

"AHNGGG AHHHHNN",
"Shh adek pinter cup",
Ia kemudian berhenti menekan perut Kana.

 

Sungguh erotis seorang Kana.

 

Mew bahkan belum bergerak namun Kana sudah sepayah ini.
"Penuh.. Hngg gede", saut Kana dengan amat lirih, matanya masih tidak fokus.

 

Tersenyum puas kemudian Mew mengulum bibir si Adek manis.
"Mau gila rasanya om ngewe kamu dek", ucap Mew ditengah-tengah ciumannya.


 

"Adek nih emang lahir ke dunia buat diewe sama Om kayanya, ya? Hm?", Mew mulai menggerakan pinggulnya, maju, mundur, melingkar.

 

Lubang Kana berkedut mendengar perkataan Mew.
"Enak ya diisi kontol? Enak sayang? Enak princess?", Mew semakin menggila dengan dirty talknya.


 

Satu hentakan
"AOWW HNGG NYAA",
Punggungnya melengkung membentuk busur panah. Kemaluan Kana pun naik turun menandakan kenikmatan.


 

 

Ia terlihat seperti dalam birahi.



 

 

Dan Mew siap mengawininya sampai pagi.

 

 

 

"Om genjot ya sayang", saut Mew sambil ia membetulkan posisinya.


Mew dengan kejantanannya yang mengisi lubang Kana, sekarang berlutut di antara kaki si adek dengan kedua tangannya menahan paha Kana sehingga kakinya tertekuk ke dada.



Dan Kana, adek Kana masih patuh dengan tangan yang menyilang di atas kepala. Kemaluannya memerah akibat nikmat dan kepala penisnya basah mengeluarkan pre cum.

Shit, Indah, pikir Mew.


 

 

Satu hentak,


 

 

dua hentak,


 

 

tiga hentak,

"AW HNGGG AHHHH",
Mew tersenyum puas. Kana mengerang, melenguh, mendesah di tiap hentakannya.

 

"Fuck, adek cantik banget",
Serampangan Mew mulai kehilangan akalnya.
"Adek paling cantik pas diewe gini",
Ia semakin mempercepat gerak pinggulnya.

 

"Enak ya dek disodok pake kontol?",
Lubang Kana berkedut. Tampaknya mendengar dirty talk adalah kink si adek manis.


 

"HAH SHIT! Lubang kamu dek, enak banget, pengen Om ewe setiap hari dek",
Mengerang Mew juga mulai tenggelam dalam nikmat.

 

"Liat itu titit kecilnya adek",
Mew tersenyum dengan penuh arogan,
"Fuck, kamu banjir banget, ampe keluar-keluar gitu ", melihat respon tubuh Kana membuat ego Mew meletup-letup.

 

"ENAK YA PRINCESS?",



"ENAK DISODOK SAMA OM?",



"IYA? ENAK DIISI KONTOL?",
Kana melenguh, bola matanya berguling ke belakang mendengar semua perkataan kotor Mew.

 

"Anjing, fuck, makin banjir aja kamu princess",
Mew betul-betul dipompa egonya oleh respon tubuh Kana.



"Adek suka dipanggil princess hah? Titit kecilnya langsung respon".




"Tapi princess ga punya titit sayang",



Mew mengencangkan gerak pinggulnya berusaha merajam prostat Kana tepat pada titiknya.
"Atau titit kecil adek sebenernya bukan titit hah?", Mew sungguh sudah kehilangan kontrolnya.



 

Sambil tertawa penuh ego, Mew menghentakkan pinggulnya ke dalam lubang Kana.


 

 

"Ini", hentak





 

"titit", hentak




 

"apa", hentak




 

"itil?", hentak


Dan Mew berhenti.



 

 

"NYAAAAAA HNGGGGGGG AAaaa",

Berhentinya Mew yang tiba-tiba seketika membuat Kana menggeliat dalam euphoria, ia gemetar hebat, punggungnya melengkung, dadanya kembang kempis.


 

 

Ia makin mengawang tinggi.


 

 

Aku berserah, pikir Kana.


 

 

Semua yang Kana rasakan saat itu hanyalah nikmat tiada tara pada lubangnya.

 

Seakan realita hanya tentang lubangnya yang terisi penuh oleh kejantanan Mew.



Ia terbang tinggi.



Ke langit kenikmatan.



Ia terbang.



Terba-
"..-ek, hey", tiba-tiba Kana mendengar suara Mew.



Ada tangan yang membelai pipinya.
"Adek come back to Om, ayo jangan terbang terus sayang, fokus sama Om",



Kana memfokuskan pandangannya dan ia melihat Mew.
"There you go", Jub

"Halo princess",
Mew mengecup kembali bibir merahnya.

"Jangan lama-lama terbangnya ya?", tiba-tiba saja Mew menjadi lembut kembali.
"Kita belum selesai sayang".




Setelah semua perkataan kotornya. Kana kembali pada Mew yang lembut.




Ia tidak mengerti nikmat macam apa ini.


 

Sebuah nikmat yang hanya ia dapatkan setelah dirajam kuat, dikatai perkataan kotor, terbang lalu kembali ke dalam kelembutan.

Kana tidak percaya pada Tuhan tapi ia pikir dirinya harus berterimakasih pada Nya atas nikmat ini.




 

 

"Adek fokus sama Om ya sayang shh", Mew mengecup keningnya berkali-kali dengan penuh sayang.

 

Iya, inilah nikmat, pikir Kana.


"Om gerak lagi ya dek", Mew kemudian menggerakkan kembali pinggulnya

Ia menahan Kana dengan memegang tulang panggulnya. Kali ini Mew bergerak lebih cepat dan lebih konstan.



 

 

Gerakannya terarah menghantam pada satu titik dalam lubang Kana.

"Ahng hngg", lirih terdengar rintihan dari mulut Kana yang sekarang sudah dihiasi air liur di kanan dan kiri mulutnya.


"Shh sayang, enak ya?",


 

"Adek enak diewe sama Om?",


 

"Diisi penuh lubangnya gini enak ya?",


 

"Adek baru pertama kali aja udah payah gini", Mew terkekeh. Ia puas dapat membawa Kana pada nikmatnya bercinta.


 

 

Kana mulai terbang kembali.



"Emang udah berbakat ya kamu dek", dengan senyum penuh egonya Mew kemudian berhenti sejenak dan memindahkan satu tangannya kembali ke perut Kana bagian bawah.


Tempat kejantanannya bersarang.

Kemudian ia menekannya dan melanjutkan gerakannya.

"Shit haha", Mew puas melihat Kana semakin menggila

 

 

"Kamu tuh udah berbakat dari sananya buat diewe sayang",



 

Ia menekan kembali tangannya. Ia dapat merasakan tonjolan keras di perut Kana setiap kali ia bergerak.

"Berbakat buat dikontolin kaya gini haha",
Mew benar-benar melepas semua kontrolnya.



"Fuck, tugas kamu mulai dari sekarang cuma buat diewe princess", Mew mengencangkan kembali temponya.


"Paham ga? Kamu cuma buat muasin om princess", menyeringai sekarang Mew semakin menjadi dengan dirty talknya


"Anjing", ia melihat penis Kana semakin memerah dan mengeluarkan banyak sekali pre cum.
"Banjir banget kamu dek",


 

 

"Princess suka dikontolin?", Mew sudah gila dengan perkataan kotornya tapi ia tidak dapat berhenti. Kananya amat sangat cantik.

Lubangnya juga mengetat setiap Mew memanggil Kana dengan sebutan Princess.

 

 

Fuck he likes it, pikir Mew.



 

"Banjirnya udah kaya itil aja haha",

Kana mengerjap.

"Haha kamu suka titit kecilnya dipanggil itil hah?", Mew kemudian merajam dengan gila ke dalam lubang Kana.



 

"Enak ya princess diewe? itilnya gatel ya?", ujung jari Mew menyentuh kemaluan Kana. Tidak ia pegang, hanya sentuhan lembut.



Kana kembali mengerjap.


 

 

"Kalau sampe kamu squirting, fiks ini itil bukan titit",

Lubangnya tiba-tiba menjadi ketat tak terkira.

Dan Mew mengganas dengan hentakan pinggulnya.

 

 

"Fuck, you like that huh princess?",


 

 

"Ayo squirting sayang",

 

 

"Pipis yang banyak buat Om",


 

 

"Tunjukin kotornya itil kamu",

Kana mengerang dalam, lalu..


 

 

Crot


Srtt



 

Mew tidak menyangka apa yang baru saja terjadi.

Kana..

Kananya baru saja mengeluarkan air mani berbarengan dengan air seni.

 

 

Fuck, pikir Mew.

 

 

Sedangkan Kana.. Kana terbang jauh, melayang di awan kenikmatan. Tubuhnya kebas, panas, lemah.

 

 

Gemetar.

 

 

Mengerjap.

 

 

Menggigil.


 

 

Seperti jalang.


 

 

"FUCK FUCK fuck", sisi gila Mew semakin menjadi-jadi setelah menyaksikan apa yang terjadi.



"Princess pinter banget sayang", kemudian ia melanjutkan gerak pinggulnya.


 

Semakin cepat dari sebelumnya.

Liar dan ganas.



 

"Enak ya itilnya? Udah pipis lega ya sayang? Iya? ", sungguh Mew sudah kehilangan akalnya.





"Anak pinter harus dikasih hadiah sama Om", Mew kembali merajam dengan ganas, Kana terlihat seperti boneka seks yang hanya dipakai untuk memuaskan nafsu Mew.


 

"Kamu harus terima ya princess?",


 

"Om pengen liat princess penuh sama peju",



 

"Penuh sama peju sampe kamu hamil",



 

 

 

"I know you will like it princess", Mew benar-benar sudah gila.




 

"Hamil anak Om ya dek, ehrghh", Pompa pinggulnya semakin rancu.






"Hamil ya sayang",



 

"GRRRRH", Mew menghentak



Satu



Dua



"EARGHHHHGGHHG", dan ia keluar hebat memenuhi lubang Kana dengan air maninya.

 

 

 

 

Mew masih tinggi dan ganas.

Ia tidak pernah meledak sebegini hebatnya, Kana memang luar biasa. Kananya yang cantik. Kananya yang berserah. Kananya yang menerima.

Kana.

Kana.

 

 


 

 

 

"Hey..", itu kata pertama yang Kana dengar saat ia membuka matanya. Ia terbangun di dalam dekapan Mew.

"Hmm", Kana melihat Mew memperhatikannya dari dekat. Wajah keduanya amat dekat.

 

 

"Adek..? Hi..?", tanya Mew lirih, "Udah bangun? Kamu gak apa-apa?"

Kana berusaha mengumpulkan jiwanya. Ia kemudian membuka matanya dengan lebar. Tampaknya ini sudah pagi, pikir Kana.

"Iya ga apa-apa", saut Kana dengan suara agak parau.

 

 

"Adek pingsan abis Om ewe, I thought I hurt you. I was so scared",
"No, aku ga apa-apa", jawab Kana dengan tenang.

 

 

"Om ga keterlaluan kah sayang?", tanya Mew dengan hati-hati. Kana menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, "Gak, I liked it kok Om".

Mew membalas senyumnya.

 

 

"Congrats for not being a virgin anymore", goda Mew dengan suara lembut.
"Hehe iya sekarang aku bukan anak alter yang virgin lagi", jawab Kana malu. Ia mengencangkan pelukannya di perut Mew.

 

 

"Kapan-kapan kita harus ngobrol dulu masalah kink sampe detail kayanya dek. Tadi Om kaya buta banget tentang preferensi kamu",
"Hm okay... Tapi tadi aku ga ada masalah kok Om. I liked everything", ucap Kana dengan yakin.

 

 

"Feminization is okay?",
"Hm", Kana mengangguk malu.

 

 

"Breeding too?",
"Yeah", mendengar jawaban Kana, Mew sungguh berubah menjadi lemah.. Kana benar-benar akan menjadi gilanya.

 

 

"Ngomong-ngomong breeding, kayanya ga usah sering-sering ya dek? Next time Om mau pake kondom aja, we can fuck bare tapi ga setiap saat, okay?"

Kana mengangguk mengerti.

 

 

"Jadi habis ini kita harus tes atau gimana Om?", tanya Kana penasaran.
"Huh?",
"Kan habis seks ga pake kondom", ah Mew mengerti sekarang.

 

 

"Oh, gak usah baby, Om habis cek minggu kemarin. I want to be safe sebelum kita main, makanya Om pergi cek ke dokter. Kamu juga baru pertama kali kan? Om rasa kita aman".

Kana tersenyum mendengarnya. Memang lelaki ini adalah lelaki yang amat lembut dan perduli akan keselamatannya.

"Okay hehe thank you Om...", pelukan Kana kembali erat. "Oh ya Om? Foto? Om jadi foto aku?".


 

 

Mew tertawa mendengar pertanyaan Kana. "Kok kamu inget sih dek? Haha", gemas ia cubit pipi gembil Kana.

"Inget lah masa gak hehe.. Jadi gimana? Aku beneran difoto?",
"Hm.. Iya.. Mau liat?", tanya Mew pada Kana. Yang ditanya hanya mengangguk.

 

 

Mew kemudian mengambil beberapa lembar polaroid  yang tergeletak di atas nakas. Kemudian ia memberikannya pada Kana.

"Ini", Kana menerimanya dan mulai memperhatikan gambar pada polaroid tersebut.


 

Ada foto lubangnya penuh dengan air mani Mew.


 

Foto perutnya yang dihiasi air mani dan air seninya sendiri.


 

Foto kejantanan Mew di dalam lubang ketatnya, lengkap dengan cipratan air mani di sekitarnya.


 

Foto lubang Kana yang bengkak, dipenuhi oleh jari Mew yang sedang menyekup air maninya keluar.



 

Dan foto tangan berurat Mew yang memegang kejantanannya yang tampak raksasa bersanding dengan penis Kana yang terlihat kecil.


 

Fuck, they're all very hot, pikir Kana.

"Bagus gak dek?", tanya Mew dan Kana mengangguk pelan. Tatapan Kana kini penuh dengan rasa penasaran.
"Aku beneran cantik pas tadi?", tanya Kana lirih pada Mew.

 

 

Mew tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.

Bagaimana bisa Kananya yang cantik setiap saat bertanya seperti itu.


 

Tidakkah Kananya tahu bahwa ia amat indah?

 

 

Harusnya ia tahu ia indah, pikir Mew.

 

 

Dan pada saat itu Mew memutuskan hatinya.

"Of course you are beautiful", jawabnya.

Ia memutuskan akan mencintai Kana sampai Kana tidak lagi meragukan kecantikannya.

 

 

"Kamu cantik setiap saat, sayang. Cantik banget Om sampe gila", Mew mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Kana.

 

"Stay with me for a long time ya cantik".