Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-03-13
Completed:
2021-03-13
Words:
1,749
Chapters:
2/2
Kudos:
48
Bookmarks:
2
Hits:
472

grow as we go

Summary:

renjun dan jeno itu dua insan yang berbeda. kalau renjun sering nangkring di peringkat tiga besar, jeno hanyalah siswa dengan kemampuan akademik pas-pasan yang nggak segitu rajin belajar. neither of them care about it sampai akhirnya jeno gagal ujian masuk universitas dan mulai mempertanyakan apakah dia berhak bersama renjun atau tidak.

Chapter Text

jika boleh jujur, renjun merasa senang hari ini. pertama karena dia baru saja menyelesaikan semua urusan dokumen untuk pendaftaran ulang di universitas impiannya, dan kedua ia dinyatakan diterima sebagai karyawan part time di sebuah cafe, dan ketiga ia dapat makan malam bersama dengan keluarganya di sebuah restauran.

namun, semua kebahagiaannya seketika berubah menjadi kekhawatiran begitu ia mendapatkan pesan dari jeno: ada yang pingin aku omongin sama kamu. cowok itu terdengar sangat serius dan renjun begitu takut untuk mengetahui apa yang membuatnya seperti itu.

terakhir kali renjun bertemu jeno adalah sekitar seminggu lalu ketika ia datang ke rumah jeno untuk menghibur cowok itu yang ditolak di semua universitas yang ia pilih. renjun menghabiskan waktu di kasur jeno sembari memeluk pacarnya, membisikannya kalimat-kalimat penyemangat.

sejak hari itu, mereka tak lagi bertemu, namun komunikasi mereka sangatlah lancar. tiap hari mereka bertukar pesan meski renjun sedang sibuk mengurus dokumen untuk pendaftaran ulang dan jeno sibuk mencari akedemi terbaik tempat ia akan belajar untuk ujian masuk universitas tahun berikutnya.

melalui pesan serta telpon singkat yang mereka lakukan, renjun tak berpikir ada hal aneh dari jeno, sampai malam ini.

"kamu mau ngomong apa sih?" tanya renjun langsung pada topik pembicaraan begitu jeno sudah berdiri di depan perkarangan rumahnya. mereka memang sepakat untuk bertemu di kediaman keluarga huang mengingat renjun sudah merasa lelah untuk keluar rumah lagi.

sejak kedatangannya, jeno tak juga berani melihat lurus pada kedua mata renjun padahal cowok itu sendiri yang bilang bahwa kontak mata adalah hal terpenting dalam komunikasi. renjun jadi semakin takut tentang apa yang akan keluar dari mulut cowok bermarga lee tersebut.

"akuㅡ" jeno memulai, namun napasnya tercekat. cowok itu menghembuskan napas kembali sebelum lanjut berbicara, "kayaknya kita harus putus."

"ha?" adalah satu-satunya silabel yang dapat renjun ucapkan. otaknya masih tak dapat memproses apa yang baru saja jeno katakan.

putus?

kenapa?

perasaan mereka masih baik-baik aja. beneran nggak ada masalah apapun.

"aku mikir ... aku masih belum baik buat kamu. i'm not even on your level, aku nggak tau kenapa kamu masih betah sama aku."

"ha?"

"bentar, jangan dipotong dulu."

renjun mengangguk. masih tidak memahami apa yang baru saja terjadi.

"kayak, aku ngerasa aku butuh perbaikan diri supaya bisa jadi pacar kamu yang lebih baik."

"kamu ngomong apa sih jen?"

"aku 'kan udah bilang jangan poㅡ"

"kamu itu udah jadi pacar terbaik aku. perbaikan diri apaan sih?"

"jun," kata jeno, suaranya jadi memelan. "kamu itu cowok pinter banget, sedangkan aku nggak lolos ujian masuk univ. nggak ada yang bisa dibanggain dari diri aku. aku ngerasa perlu jadi diri yang lebih baik lagi. aku bakal belajar supaya bisa masuk universitas. kamu tunggu aku dulu ya? nanti, kalau aku udah bisa masuk univ itu, kita balikan. atau kalau kamu sadar ada yang jauh lebih baik dari aku dan mau sama orang lain juga nggak apa-apa."

renjun menghela napas dalam-dalam, ia bahkan menutup matanya kemudian membukanya lagi setelah mengeluarkan karbondioksida dari katup bibirnya. "siapa yang bilang kamu bukan level aku?"

"aku sadar diri."

"this is ridiculous, jeno. you're a perfect boyfriend for me. jangan karena kamu nggak lolos ujian masuk, kamu jadi mikir yang aneh-aneh. you don't have to be smart to be a good boyfriend, you know."

"i know, but you deserve a smart boyfriend."

renjun rasanya ingin menangis. "kenapa kita harus putus? 'kan kamu bisa belajar tanpa perlu putus?"

jeno menggeleng. "kita juga butuh jarak buat fokus ke diri sendiri. aku bisa fokus belajar, kamu bisa fokus buat liat sekitar kamu and see if you still want me."

renjun mendengus dan tanpa sadar memutar bola matanya malas. what a piece of bullshit. renjun pernah melihat hal yang sama terjadi pada teman-temannya: diputusin dengan alasan fokus hanya untuk melihat si mantan berpacaran dengan orang lain.

"kalau kamu bosen sama aku, bilang aja, jen. nggak usah bikin alasan begini."

"nggak, renjun. gue serius. gue mau memantaskan diri buat jadi pasangan lo. i want to be a perfect person just like you. supaya nggak njomplang, supaya kamu nggak malu," kata jeno kali ini sembari memandang mata renjun lurus-lurus seolah ingin menekankan keseriusan dari setiap kata yang ia ucapkan.

renjun menelan ludahnya. bahkan setelah sekian lama, ia masih merasakan jantungnya berdetak cepat setiap jeno memandangnya secara intens.

"aku nggak malu punya pacar kayak kamu."

"makasih, tapi aku tetep pingin ini. aku juga butuh growing up biar nggak bergantung sama kamu mulu."

renjun menghela napas, memijat pelipisnya dengan dua jemarinya. this is stupid, ia tak habis pikir bagaimana jeno bisa mengambil konklusi bahwa semua ini adalah ide yang bagus, namun jeno nampak begitu serius.

tapi, jika dipikir-pikir ini juga salah renjun sendiri. jeno memang terlalu bergantung padanya untuk urusan akademik. jeno baru akan mau belajar ketika renjun yang memintanyaㅡtentunya lengkap dengan janji-janji manis yang bisa membuat motivasi jeno seketika menguat. renjun juga acap kali membantu jeno mengerjakan tugas meski mereka beda kelas.

"oke, tapi kalau sampai kamu pacaran sama orang lain setelah ini, i will kill you and feed your body to crocodile."

jeno mengangguk. "aku bakal balik ke kamu, renjun, asal kamu nerima aku lagi."

renjun mengangguk.