Work Text:
1 NEW MESSAGE
Aku udh beli kondom sama lubenya. Katanya pake yg ini enak.
[image]
Jeno membaca pesan WhatsApp dari Mark dengan perasaan yang campur aduk: deg-degan, nervous, dan excited jadi satu. Beberapa hari lalu, waktu Mark lagi main ke rumahnya, mereka memang sudah membahas hal ini. Jeno tidak bakal lupa sama wajah Mark yang merah padam tapi dengan berani meminta, “Jen, can we have sex?”
Dan tentunya, sebagai anak muda yang baru genap berusia 20 tahun dan dimabuk perasaan cinta, Jeno mengiyakan dengan malu-malu. Tapi, karena di hari itu belum ada persiapan apa-apa, mereka tidak berani melakukan lebih jauh daripada sekadar berciuman dan mencupang leher satu sama lain. Leher mereka berdua yang merah-merah bahkan ketahuan sama bundanya Jeno, tapi untungnya mereka berdua tidak kena dimarahi, dipelototin saja.
Sambil tersenyum malu-malu mengingat kejadian beberapa hari lalu, Jeno dengan cepat membalas pesan WhatsApp tersebut:
Oke kak, see you tomorrow (.◜◡◝)
🔞🔞🔞
Menatap cukuran berwarna merah muda di tangannya, Jeno menggigit bibir bawahnya sambil mengingat-ngingat nasihat panjang dari Donghyuck -- sahabat karibnya sejak masih kecil -- waktu mereka berbicara di telepon tadi sore.
“Kalau mau have sex, mending cukur dulu rambut di area bokong sama genital lo biar rapi sama bersih. Malu tau, kalau keliatan lebat gitu. Sebenarnya sih nggak masalah, karena selama ini Jaemin juga nggak pernah masalahin, cuma lebih enak aja gitu kalau nggak ada rambut. Terusss jangan lupa, jangan makan yang aneh-aneh! Nggak lucu kalau kotor boolnya, langsung nggak mood nanti. Oh terus, biar cukurannya aman, lo pake cukuran buat cewek. Nggak tau juga kenapa pisaunya nggak setajam dan seganas cukuran cowok. Jadi pake itu aja, daripada bokong lo lecet sebelum dimasukin.”
Seumur-umur, baru kali ini Jeno kepikiran untuk menjaga dan merawat penampilan di area genitalnya. Biasanya dia tidak peduli mau rambutnya tebal kek, berantakan kek. Tapi... malu juga ya, kalau nanti dilihat sama Mark rambutnya tebal seperti hutan.
Sambil menghadap cermin, Jeno meregangkan bokongnya menggunakan tangan kiri, kakinya diangkat satu di atas toilet. Kemudian, menggunakan tangan kanannya, dia mulai mencukur rambut-rambut halus yang berada di sana. Tangannya sedikit gemetar, soalnya dia ngeri kalau-kalau salah cukur dan malah ngelukain bokongnya sendiri. Pisau beneran, nih.
Dia pun mulai berpeluh, bibir bawahnya digigit dalam konsentrasi. Ternyata susah juga ya, nyukur jembut, batin Jeno. Harusnya dia mengikuti saran Donghyuck untuk pergi waxing, tapi dia juga takut sakitnya sih.
Anyways, bagian bokongnya sudah aman, kayaknya. Sekarang tinggal bagian depan. Sambil duduk di toilet, Jeno konsentrasi penuh untuk mencukur dan merapikan rambut di area genitalnya itu. Tidak sampai botak, tapi sampai lebih bersih dan rapi saja.
Setelah selesai dan puas sama hasil karyanya, Jeno langsung membersihkan tubuhnya, menghilangkan serpihan-serpihan rambut yang tersebar di sana. Penampilannya jadi jauh berbeda, batin Jeno, mesem-mesem menatap bayangannya di cermin. Semoga Mark juga suka dan tidak ilfeel melihat tubuh polosnya.
Sambil menyapu lantai kamar mandi supaya tidak diinterogasi sama bunda, pikirannya pun melayang ke hari esok, di mana dia tidak akan virgin lagi.
Jeno menertawai pikiran kotornya sendiri.
🔞🔞🔞
Menggunakan transportasi umum KRL, Jeno berangkat dari stasiun Kebayoran menuju stasiun Rawa Buntu.
Kosan Mark yang berlokasi di area BSD memang paling cepat ditempuh naik kereta. Tadinya sih Jeno mau bawa mobil sendiri, tapi Mark melarang karena perjalanan yang panjang dan jauh. Sedikit canggung dan bingung karena jarang naik KRL, Jeno memilih untuk duduk di dekat pintu, sambil menggenggam erat dua bungkus Rotiboy yang dibelinya secara impulsif karena tergoda sama harum rotinya.
Sepanjang perjalanan, hati Jeno berdegup tidak karuan. Pesan WhatsApp dari Mark yang bilang kalau dia sudah menunggunya di stasiun tujuan berhasil membuat perutnya semakin mulas. Rasanya, waktu kencan pertama dulu tidak sebegininya deh.
“Sesaat lagi kereta Anda akan tiba di Stasiun Rawa Buntu.”
Mendengar pengumuman tersebut Jeno langsung berdiri, berpegangan pada tiang besi agar tidak terjatuh saat kereta memelan dan berhenti. Ugh nervous banget rasanya. Dan setelah kereta sepenuhnya berhenti, dia langsung keluar, sedikit celingukan karena ada dua pintu keluar. Untungnya dia bisa menangkap siluet Mark yang bersandar pada pintu mobilnya dari kejauhan, jadi dia langsung keluar menggunakan pintu di sebelah kanan.
Jeno sedikit memelankan langkahnya saat Mark sudah terlihat jelas di hadapannya. Hari ini, Mark mengenakan kaus polos berwarna putih dan celana jeans. Rambutnya yang berwarna hitam dibiarkan jatuh terurai tanpa pomade, dan Mark tidak menggunakan kacamatanya. Ya ampun, has he always looked this cool?
"Hai kak," ucap Jeno malu-malu, menyerahkan dua bungkus roti yang dibelinya kepada Mark. "Umm ini, ada roti."
Mark hanya tertawa dan mengusak tengkuknya pelan.
🔞🔞🔞
Jeno duduk dengan canggung di kursi plastik dalam kamar kosan Mark. Mark sedang mengambil minuman di dapur, dan Jeno mengamati kamar pacarnya yang… agak berantakan. Ada gitar yang diletakkan sembarangan, tumpukan buku, kabel, dan kertas di setiap sudut ruangan, dan tentunya pakaian-pakaian bekas yang menumpuk dekat pintu. Baunya… ya, bau manusia (baca: bau).
Tipikal mahasiswa tingkat akhir banget, batin Jeno kegirangan sendiri.
Kosannya Mark itu sebenarnya lebih tepat disebut sebagai rumah kontrakan sih, karena bentuknya yang seperti rumah biasa dan hanya memiliki tiga kamar serta satu kamar mandi sharing. Mark pernah cerita, awal-awalnya dia selalu cepat kehabisan sampo dan sabun, ternyata dipakai sama penghuni kosan yang lain. Akhirnya sejak saat itu alat mandinya diumpetin di kamar.
Jeno yang berkuliah di tengah kota dan diantar-jemput ojek langganan dari rumah ke kampus can't relate. Tapi dia selalu senang mendengar cerita keseharian Mark di kosan dan kampusnya.
"Jeeeen, tolong bukain pintu dong," terdengar suara Mark dari balik pintu, membuyarkan lamunan Jeno, dan dia dengan sigap berdiri untuk membukakan pintunya.
Setelah pintu dibukakan, Mark langsung melenggang masuk ke dalam kamar dan meletakkan dua gelas berisi minuman soda favorit mereka di atas meja, kemudian dia duduk di atas ranjangnya.
"Kok berdiri? Sini," Mark menepuk ranjangnya, "duduk aja, Jen."
“Kotor ah, aku belum ganti baju,” ucap Jeno sambil menggelengkan kepala. “Tadi kan aku naik KRL.”
“Oh iya,” Mark langsung berdiri dan membuka lemarinya -- yang ternyata lebih parah berantakannya -- dan mengeluarkan satu pasang baju untuk Jeno. “Nih, pake punya kakak aja. Ganti baju dulu gih, terus rebahan.”
“Ganti bajunya di kamar mandi?”
“Ngapain, ribet, di sini aja,” ucap Mark santai, menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan mengistirahatkan kepalanya di atas tangan kanannya. Dia tertawa melihat wajah Jeno yang memerah. “Nih, kakak tutup mata, janji nggak bakal ngintip.”
Jeno mengangguk pelan dan langsung memutar badannya membelakangi Mark untuk ganti baju. Celana Mark sedikit ngepas di badannya, bagian pinggangnya agak sedikit ketat. Jeno jadi menyesal tidak bawa baju ganti sendiri.
"Umm," dia duduk di tepi kasur Mark, dan Mark membuka matanya. Saling bertatapan dari jarak dekat dan mengingat tujuannya ke kosan Mark hari ini… Jeno jadi salah tingkah. Dia pun membuang muka.
"Kok nggak mau liat kakak, sih?" Mark tertawa geli, kemudian tubuh Jeno ditarik ke dalam pelukannya. "Kenapa malu-malu sama kakak hari ini?"
Jeno mengerucutkan bibirnya dan membenamkan wajahnya di dada Mark. “Deg-degan, tau…”
Mark mengusap-usap punggungnya. “Kalau gitu, hari ini mau cuddle aja? Sambil nonton film. Kakak kemaren download film baru, Sound of Metal, katanya bagus banget.”
Cuddle aja? Kalau gitu untuk apa dia sampai telepon Donghyuck dan minta saran? Untuk apa juga dia sampai susah payah cukuran sambil keringat dingin di kamar mandi dan bahkan sampai puasa supaya pencernaannya bersih? Jeno menggelengkan kepalanya dan langsung duduk di atas tempat tidur.
“N-nggak mau,” Jeno menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia malu juga sih langsung bereaksi seperti ini, tapi dia sudah menunggu-nunggu dari kemarin. Masa batal? "Um, kondom sama lubenya di mana?"
“Jen…”
“Please,” Jeno menggelengkan kepalanya sekali lagi, wajahnya merah padam. “Aku mau have sex sama kakak.”
Mark ikut duduk, kemudian mengusap-usap tengkuk Jeno yang sekarang hanya bisa menunduk malu. “Oke kalo gitu, we’ll take it easy ya. Tapi jangan nunduk. Liat kakak, dong.”
Jeno mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu dengan Mark yang sedang tersenyum kepadanya. Dia pun ikut tersenyum, perasaan canggung dan nervousnya langsung jauh berkurang. Kemudian Mark mencium pipinya lembut.
“Muka kamu merah banget kayak kepiting rebus, lucu.”
“Apaan sih,” Jeno memukul lengan Mark pelan sambil tertawa. “Nyebelin.”
Mark tertawa dan membuka laci mejanya, yang kebetulan terletak tepat di sampingnya, kemudian mengeluarkan kondom dan lube yang dibelinya kemarin. Melihat kotak berwarna merah bertuliskan Fetherlite dan botol lube berwarna biru secara langsung dan bukan dari foto membuat Jeno kembali salah tingkah. It’s happening!
“Kemaren aku beli ini rasanya kayak lagi mau nyuri tau, soalnya sambil pake topi dan nunduk-nunduk,” cerita Mark sambil tertawa geli. “Deg-degan juga ya beli kondom. Ketauan banget mau ngeseks.”
“Tapi nggak ditanyain umur atau dimintain KTP gitu, kan?”
“Ya enggak,” Mark membuka bungkusan plastik dari kedua benda yang ada di tangannya sebelum kembali diletakkan di meja. “Lagian kalau diminta aku kan udah cukup umur juga.”
Jeno mengangguk, entah kenapa wajahnya memanas lagi. Pasti merah lagi juga, deh.
“Jen,” panggil Mark, dan Jeno kembali mengangkat kepalanya untuk menatap pacarnya. Tatapan Mark dan suasana di kamar sudah berubah: yang tadinya canggung malu-malu, kalem, dan wholesome, sekarang jadi intens.
Mark menangkap dagu Jeno, diarahkan mendekat ke wajahnya, kemudian bibir Jeno dipagutnya pelan. Jeno paling suka saat Mark menciumnya: bibir bawahnya akan diresap lebih dulu, kemudian Mark akan menyapu bibir atasnya dengan lidahnya. Ciuman Mark selalu basah, lembut.
Tanpa melepaskan pagutannya, tubuh Jeno didorong untuk berbaring di atas tempat tidur, sementara Mark bertumpu menggunakan kedua tangannya -- kedua kakinya mengapit tubuh Jeno. Mark melepaskan ciumannya, bibir mereka tersambung oleh untaian saliva, dan mata mereka berdua bertemu. Mata mereka berdua sudah sayu, dan napas keduanya juga sudah sedikit memburu.
Merasa lebih berani, Jeno menyingkap kaus yang dikenakannya, tangannya bergerak pelan. Matanya tidak pernah lepas dari Mark yang kini membelakak kaget.
“Jen--”
Jeno melepaskan kausnya dalam sekali tarik dan tidak sengaja menggebok wajah Mark yang (tadinya) sedang intens menatap wajah Jeno.
“Aduh!”
Jeno langsung duduk, merengkuh wajah Mark untuk diusap-usap sambil meminta maaf. “Astaga maaf, aku nggak sengaja. Lagian kenapa wajah kamu deket banget sih, kak?”
“Ya kamu ngapain buka baju kayak gitu?” tanya Mark balik, sedikit gusar dan emosi. Batal romantis ini mah namanya. “Sakit, tau. Kamu tenaganya gede banget.”
“Pfft,” Jeno menahan tawanya dan mereka berdua saling tatap-tatapan lagi.
“Tuh, nyebelin kan, malah ngetawain.”
Tawa Jeno pecah sejadi-jadinya, merasa geli karena mood romantisnya ambyar. Mark juga ikut ketawa, walaupun wajahnya nyut-nyutan karena terkena pukulan Jeno. Mereka berdua pun rebahan samping-sampingan di tempat tidur sampai tawanya reda.
Mengambil botol lube di atas meja, Jeno memerhatikan benda asing di tangannya itu dengan rasa penasaran yang tinggi. “Rasanya kayak apa sih ini?”
“Coba aja kamu telen kalau nggak langsung masuk UGD,” celetuk Mark.
“Ya nggak ditelen juga kaliii,” Jeno memutar matanya malas, kemudian membuka botol lube tersebut. Menuangkan sedikit ke jarinya, matanya membelakak karena sensasi yang dingin dan aneh di tangannya. “Ih, dingin banget masa? Terus agak lengket.”
“Mana, coba?” Mark mengulurkan tangannya dan Jeno menuangkan sedikit di sana. “Eh iya dingin, kirain lube tuh bakal kayak air gitu.”
“Sama, aku juga mikir gitu,” Jeno membolak-balikkan botol lube di tangannya, kemudian berhenti saat menangkap tatapan Mark yang sudah berubah (lagi).
“Jen, can I try it on you?”
Jeno menelan ludahnya, salah tingkah, tapi dia mengangguk membolehkan. Mark kemudian mengambil botol lube dari tangannya, dan Jeno tidak bisa mengucapkan apa-apa saat Mark membaringkan tubuhnya. Mark menangkap matanya, seolah-olah minta izin untuk meneruskan aksinya.
Setelah Jeno mengangguk pelan, Mark langsung menurunkan celananya, dan Jeno kini polos tanpa pakaian sama sekali. Dia sendiri baru sadar kalau dari tadi dia juga tidak mengenakan atasan. Tangannya pun refleks memeluk tubuhnya sendiri.
Penisnya sudah setengah keras, dan wajahnya panas -- merah padam, karena sekarang mata Mark berfokus pada area genitalnya.
“J-jangan diliatin gitu, kak… malu…”
Mark mengusap pipi Jeno pelan. “But you look perfect, Jen. Kalau kamu bolehin, aku mau liat semuanya hari ini.”
Napas Jeno tercekat, tidak biasa diperlakukan selembut ini oleh Mark. Mengangguk pelan, Jeno pun merentangkan kedua tangannya, mengekspos tubuhnya kepada Mark seutuhnya. Mata Mark yang melahap tubuhnya dengan rakus membuatnya gemetaran.
“Kasih tau aku kalau ada yang kamu nggak suka,” Mark kembali memagut bibirnya, kali ini lebih bergairah dan tidak selembut tadi, dan ciuman Mark pun mulai turun ke lehernya -- lalu ke dadanya. Seolah-olah sedang bereksperimen, Mark menjulurkan lidahnya ragu ke puting Jeno yang sudah mengeras karena dingin, dan kemudian diresapnya pelan-pelan.
Jeno kesulitan bernapas, tubuhnya terasa dingin dan gemetaran, penisnya sudah menegang dan terasa basah karena telah mengeluarkan precum. Mark berhenti meresap putingnya, dan dia mencari wajah Jeno untuk bertanya. “Is it good when I do that?”
“I-iya,” Jeno mengangguk, giginya gemeletuk.
“Boleh lagi?” tanya Mark, dan Jeno hanya bisa mengangguk sebelum Mark kembali meresap putingnya sampai Jeno melepaskan desahan pertamanya. Mark langsung berhenti, napasnya begitu memburu saat menatap Jeno. “Wow. Suara kamu...”
Mengambil lube yang tergeletak di samping mereka berdua, Mark kembali menemukan mata Jeno. “Boleh aku cobain di kamu, Jen?”
“B-boleh, tapi,” Jeno mengangkat tubuhnya, menggunakan kedua sikunya untuk bertumpu. “Kakak buka baju juga, please. Aku malu telanjang sendirian.”
Mark tertawa pelan, mengusak rambut Jeno, dan mengangguk. Kemudian Jeno memerhatikan Mark: otot perutnya yang tertarik dan melemas saat dia menarik kausnya, semua rambut di tubuhnya, wajahnya yang penuh konsentrasi, serta peluh yang menetes dari pelipisnya. Mark menarik celananya dengan kasar, dan posisi tubuhnya saat ini tidak seseksi dan seindah yang ditampilkan di film. Tapi untuk Jeno, Mark looks perfect.
Tanpa pikir panjang, Jeno bangun dari posisi tidurnya untuk mencium pipi Mark. I love you, batinnya, suaranya tertahan. Tapi sepertinya Mark mengerti, karena dia tersenyum dan merengkuh wajahnya, dan bibirnya kembali dipagut pelan.
Saat ini mereka berdua sudah sama-sama tidak mengenakan pakaian, dan kulit mereka yang bersentuhan seolah mengalirkan aliran listrik ke tubuh Jeno. Sudah tidak ada lagi rasa malu, canggung, ataupun ragu. Yang ada sekarang hanya keinginannya untuk berdekatan dengan Mark.
“K-kak,” panggil Jeno. Saat ini posisinya di atas Mark, dan lututnya terasa lemas setiap kemaluan mereka bersentuhan. “T-try the lube on me.”
Mark mengangguk, menuangkan lube ke tangannya yang juga gemetaran. “Ready?”
Dengan anggukan Jeno, Mark pun melingkarkan tangan kanannya yang basah dengan lube pada penis Jeno, kemudian digerakkan naik dan turun seperti memompa.
“Nnnngh,” Jeno memejamkan matanya erat, tubuhnya bergetar hebat. Sensasi dingin dari lube dan juga gerakan tangan Mark seolah-olah membuka matanya pada hal baru. Enak.
“Is it good when I touch you like this?”
Jeno mengangguk cepat, lututnya lemas dan tubuhnya hampir ambruk. “E-enak, tapi kak, aku nggak kuat. Lutut aku lemes…”
Mark mengangkat tubuhnya menjadi posisi duduk, kemudian tubuh Jeno didekap erat. “Pegangan sama kakak,” ucapnya, matanya menatap Jeno dengan intens dan tangannya digerakkan semakin cepat. “Dan kalau mau teriak cium kakak aja.”
Jeno langsung membungkam mulutnya dengan mencium Mark, bibirnya memagut dengan penuh urgensi. Semua lenguhannya ditelan oleh Mark, yang semakin bergairah untuk mengantar Jeno ke klimaks pertamanya.
“K-kak--”
“Keluarin,” ucap Mark, meresap dada Jeno di depan matanya sampai meninggalkan tanda kemerahan yang cukup besar. “Keluarin, kiss me.”
Dengan teriakan tertahan yang dilumat habis oleh Mark, Jeno pun mencapai klimaks pertamanya, menyemburkan air mani yang cukup banyak ke tubuh mereka berdua. Setelahnya mereka berdua langsung ambruk ke tempat tidur dengan napas tersengal-sengal dan peluh yang membanjir.
Dan dari posisi ini, Jeno bisa merasakan penis Mark yang keras.
“Kak,” panggilnya, “mau cobain kondomnya sekarang?”
Tanpa menunggu jawaban Mark, Jeno langsung mengambil kotak berwarna merah yang ada di meja dan mengeluarkan satu strip. Bungkusan tersebut disobek, dan Jeno terlihat kebingungan saat melihat isinya.
“Hmm. Cara pakenya gimana, kak?”
Bentuk kondom dari dalam bungkusannya mirip dot bayi, batin Jeno, dan lagi-lagi lengket. Menggunakan kedua tangannya, Jeno menarik bagian bawah kondom tersebut untuk dipanjangkan.
“Jen jangan--” Mark memegang kotak kondom di tangan kanannya, baru selesai membaca instruksi, dan dia langsung tertawa melihat kondisi kondom yang sudah dipanjangkan oleh Jeno. “Harusnya dipanjangin pas dipakein ke aku.”
“Oh, ups,” Jeno nyengir canggung, matanya menghilang. “Ini nggak bisa dipake, dong? Yah maaf…”
“Nggak apa-apa,” Mark mengeluarkan satu bungkusan lagi dari dalam kotak. “Lagipula… kayaknya lebih baik aku prepare kamu dulu?”
“Oh,” Jeno mengangguk dan memindahkan posisinya untuk berlutut di samping Mark. “Hmm, kemarin Donghyuck bilang, kalau pertama kali biar nggak sakit mendingan gaya doggy. Jadi nggak apa-apa ya nggak liat-liatan dulu? Jujur aku agak takut sakit soalnya...”
Mark tersedak ludahnya sendiri dan wajahnya merah padam. “Hah, kamu nanya Donghyuck?”
“Iya,” jawab Jeno santai. “Kan dia udah pengalaman, udah sering ngamar sama Jaemin bahkan. Ya aku tanya dia aja…?”
“Astaga,” Mark tertawa dan Jeno ikut tertawa bingung. “Sumpah Jen, kamu lucu banget. Jangan berubah, ya. Tetep jadi Jenonya kakak selamanya.”
“Apaan sih,” Jeno mengerucutkan bibirnya malu.
Mark mencium bibirnya singkat, tertawa karena wajah Jeno masih saja memerah malu-malu. Padahal saat ini mereka sedang telanjang berduaan dan bahkan Jeno baru saja mencapai klimaks.
“Hmm,” memposisikan dirinya untuk menungging di atas tempat tidur, Mark pun dibuat salah tingkah dengan keberanian Jeno saat ini. “Kak, pelan-pelan ya. Kata Donghyuck coba satu jari dulu.”
Menelan ludahnya, Mark mengangguk pelan. “Wow, oke. Sebentar.”
Mark menuangkan cukup banyak lube di tangannya, melebihi batas wajar dan yang telah ia gunakan sebelumnya untuk memberikan handjob pada Jeno. Jeno menunggu dengan perasaan tidak karuan, bokongnya dinaikkan setinggi-tingginya. Dan saat Mark meletakkan jarinya yang basah dengan lube di sekitar lubang analnya, Jeno mendesis, giginya gemeletuk.
“Kasih tau kakak kalau ada yang sakit atau nggak enak, I will stop.”
“Oke...”
Mark memasukkan satu jarinya, dan mata Jeno terpejam erat, menunggu rasa sakit atau perih yang sudah diwanti-wanti oleh Donghyuck. Tapi kok tidak ada?
“Kak, udah masuk?” tanyanya polos.
“Udah ini,” jawab Mark bingung. “Nggak berasa?”
“Nggak tuh,” Jeno menoleh ke belakang, melihat wajah Mark yang melongo kebingungan. “Coba digerakin keluar masuk?”
Mark menggerakkan jarinya, menukikkannya ke arah bawah, dan Jeno membelakakan matanya kaget. “A-ah,” Jeno mencengkeram bantal di bawahnya. “Itu tadi apa kok enak?”
“Enak?” Mark kembali menggerakkan tangannya dalam posisi yang sama, dan Jeno kembali melenguh. “Wow, Jen, suara kamu… enak banget memangnya?”
“E-enak, lagi,” Jeno menoleh ke belakang, matanya sedikit berair. “Tambahin jarinya, kak.”
Hidung Mark kembang kempis, penisnya sendiri sudah berdiri tegak. Dia merasa senang sudah berhasil membuat Jeno merasa enak dalam sekali tusuk. Menambahkan lube di jarinya, Mark kemudian memasukkan dua jari, dan kali ini Jeno sedikit mendesis perih.
“Sakit, Jen? Mau aku stop?”
“J-jangan,” jawab Jeno, “tunggu sebentar. Gerakin pelan-pelan.”
Menuruti perintah Jeno, Mark menggerakkan tangannya pelan, berusaha mengarahkannya ke area yang membuat Jeno merasa enak.
“Hmmmh,” Jeno mencengkeram bantal di depannya erat-erat. “Enak, tapi yang ini kerasa lebih penuh… a-ah, kak, di situ enak.”
“Di sini enak, Jen?” Mark menggerakkan tangannya sedikit lebih cepat, menekankan jari-jarinya di area yang berhasil membuat paha Jeno gemetar. Jeno kembali melenguh pelan, berhati-hati supaya tidak didengar penghuni kosan yang lain, dan penisnya sudah kembali ereksi.
“K-kak, mau coba,” Jeno menoleh ke belakang lagi, dan matanya tertuju pada penis Mark. “Mau coba itu.”
“C-coba ini? Yakin udah siap, Jen?”
“Siap,” Jeno mengambil bungkusan kondom yang tergeletak di tempat tidur dan menyerahkannya pada Mark. “Please, kak?”
Mark mengangguk, menarik tangannya dan mengambil bungkusan kondom dari tangan Jeno. Dia masih agak bingung sama instruksi cara pakainya, tapi ya sudah dicoba saja dulu. Menjepit bagian atas yang berbentuk seperti dot di atas penisnya, Mark menarik gulungan kondomnya ke bawah, dan dia sedikit amazed karena langsung berhasil terpasang.
(Semoga sudah benar.)
Rasanya agak aneh, ada plastik yang membungkus penisnya dengan sedikit ketat, dan bau lube dari kondomnya membuat Mark mengernyitkan dahi. Mengocok-ngocok penisnya supaya kembali full ereksi, Mark menuangkan lube dari botol biru di atasnya, dan sensasi licin yang dia rasakan membuat dia kelepasan melenguh.
“W-wow,” ujarnya kaget sendiri, dan Jeno menoleh ke arahnya bingung. “Wow.”
“Enak, kak?”
“E-enak,” Mark melumuri anal Jeno dengan lebihan lube di tangannya. “Kakak coba masuk, ya?”
“Oke, pelan-pelan ya.”
Jeno mencengkeram bantal di hadapannya, mengantisipasi rasa sakit dan perih saat Mark mendorong penisnya masuk, berusaha melewati rim sempit yang belum terlalu regang.
“Ow, ow, ow,” ucap Jeno sedikit panik, karena rasanya perih. “U-udah masuk, kak?”
“Belom, baru ujungnya sedikit,” ucap Mark. “Sakit, Jen? Mau udahan?”
“N-nggak mau,” ucap Jeno keras kepala. “Coba terus sampe masuk.”
Sambil mengusap-usap tubuh Jeno, Mark mendorong penisnya masuk dalam sekali hentakan, dan Jeno memejamkan matanya erat untuk menahan sakit. Air matanya mulai menetes, tapi dia mati-matian menahan agar isakannya tidak terdengar oleh Mark.
Sementara itu, Mark yang juga baru pertama kali merasakan sex ikut memejamkan matanya. Kekuatan pijatan tangannya tidak akan pernah bisa sekuat pijatan anal Jeno. Kalau dia tidak mengatur napas dan menahan diri, dia akan langsung menggerakkan pinggangnya dan klimaks dalam lima detik. Seenak itu.
“S-sebentar,” gumam Jeno, dan Mark langsung panik mendengar pacarnya menangis.
“J-jen, shit, mau udahan?”
“I’m f-fine, tapi sebentar,” Mengingat instruksi Donghyuck untuk mengatur napas saat pertama dipenetrasi, Jeno pun menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, masih sambil berair mata. Jeno bisa merasakan telapak tangannya lecet karena dicengkeram terlalu kuat.
Setelah rasa perih di analnya sedikit memudar, Jeno menoleh ke belakang untuk menatap Mark yang terlihat khawatir. “Coba gerak pelan-pelan.”
Mark mengeluarkan penisnya setengahnya, kemudian kembali didorong masuk. Mereka berdua mendesah pelan.
“Is it good for you, Jen?”
“Nggak tau, coba gerak terus kak,” jawab Jeno, masih merasa perih namun jauh lebih bisa ditoleransi daripada sebelumnya.
Menuruti permintaan Jeno, Mark pun melancarkan aksinya untuk menggerakkan pinggangnya, menggenjot tubuh Jeno dengan terbata-bata. Jepitan dan pijatan anal Jeno yang begitu kuat membuatnya hilang akal dan lupa diri.
“J-jen, ini enak banget, sumpah,” ucap Mark, tangannya mencengkeram pinggang Jeno erat-erat. Dia hampir mimisan saat melihat penisnya keluar-masuk anal Jeno. “S-shit, maaf Jen, kakak udah nggak tahan.”
Otot perut Mark menegang, dan tubuhnya bergetar saat mencapai klimaks. Air maninya memenuhi kondom, dan mereka berdua kembali dibuat takjub karena kondom tersebut dapat menampung cukup banyak. Setelah membuangnya ke tong sampah, mereka berdua pun berbaring sampingan lagi. Tapi, kali ini Jeno memilih untuk tengkurap.
“Maaf, tadi nggak enak ya buat kamu?”
“Perih,” jawab Jeno jujur, “pantat aku sakit banget sekarang. Tapi… aku seneng. Hehehe.”
“Kalau gitu next time,” ucap Mark sambil menatap wajah pacarnya, “kalau boleh, aku bakal usaha sebisanya buat kamu ngerasa enak juga.”
Jeno tertawa, senyumnya sampai ke mata. “Iya. Boleh, kok.”
