Work Text:
Sunwoo dan Chanhee sudah jadi teman sekelas sejak, sejak Tuhan tau kapan. Anak yang tubuhnya lebih tinggi sedikit itu senang sekali mengikuti Chanhee kemana-mana. Gak heran sih, karena Chanhee punya paras yang manis dan juga sifatnya yang menyenangkan bikin semua orang senang dengan Chanhee.
Tapi karena Sunwoo sering melakukan atraksi berbahaya, perlakuan Chanhee kepada Sunwoo sedikit spesial. Misalnya mendelik ketika Sunwoo datang membawa sebotol wedang jahe di siang yang panasnya bukan main atau pakai jas hujan saat matahari terik. Mencebik saat Sunwoo dengan sombong maju ke depan kelas untuk menjawab pertanyaan guru dengan ngawur. Atau memukul belakang kepala Sunwoo saat anak laki-laki itu terlibat perkelahian 1vs4 dengan anak-anak sekolah sebelah.
Seperti hari ini, Sunwoo kembali dipanggil ke depan kelas untuk menjelaskan perihal nilai ujiannya yang dapat angka 3.
"Kim Sunwoo, ke depan. Sekarang!" kata ibu guru sambil melotot dan berkacak pinggang.
"Siap, laksanakan!" Dengan percaya diri, Sunwoo berdiri dari kursi dan berjalan senang ke depan kelas. Membuat seluruh siswa yang sekelas dengan Sunwoo harus menahan tawa. Kecuali Chanhee, yang sedikit khawatir karena Sunwoo yang duduk berjarak dua bangku dari kursinya itu sempat menoleh ke arahnya dan memberikan sebuah kedipan mata.
"Bisa kamu jelaskan kenapa kamu menjawab pertanyaan ujian asal-asalan begini?" tanya ibu guru sambil menunjukan kertas ujian yang banyak dicoret spidol merah.
"Bisa, bu," jawab Sunwoo sambil mengangguk mantap. Namun setelahnya, Sunwoo hanya berdiri dengan tangan ke belakang seperti dalam posisi istirahat di tempat, membuat ibu guru bingung karena Sunwoo tidak kunjung menjelaskan alasannya, "Kenapa diam? Tadi katanya bisa kamu jelaskan."
"Ibu cuma tanya saya bisa jelaskan atau engga, bu. Tidak nyuruh saya jelaskan." Sunwoo menjawab dengan semangat sambil memberikan sebuah cengiran. Ibu guru yang sudah biasa dengan kelakuan ajaib anak sekolah hanya bisa menghela napas lelah dan mempersilahkan Sunwoo untuk menjelaskan.
"Coba jelaskan."
Sunwoo mengambil kertas ujian di tangan ibu guru dan membaca kembali yang tertulis di kertas ujian, "Kan di perintahnya tertulis buat pilih jawaban terbaik. Menurut saya, ini jawaban yang terbaik, bu."
Jawaban Sunwoo tentu membuat hati ibu guru mencelos, tidak menyangka kalau Sunwoo bisa memberikan alasan aneh seperti yang baru dijelaskan anak itu. Sedangkan siswa yang lain sudah mulai tertawa bahkan ada yang sampai terpingkal-pingkal. Keadaan kelas sudah mulai tidak kondusif karena Sunwoo. Dengan pasrah ibu guru kembali bertanya, "Apa kamu selalu pilih yang terbaik secara asal-asalan, Kim Sunwoo?"
"Engga dong, bu."
"Terus yang terbaik yang gak kamu pilih secara ngawur itu yang seperti apa?"
"Yang kaya Choi Chanhee, bu. Kalau menurut saya, Chanhee itu pilihan terbaik dan saya gak asal pilih, bu." Mata Sunwoo langsung tertuju ke arah Chanhee yang sudah menundukan kepalanya dan memasukan wajahnya ke dalam lipatan tangannya. Jelas, malu. Siapa juga yang gak malu kalau dijadikan alasan aneh seperti yang Sunwoo lakukan barusan.
"Cieeeeeeeeee." Suasana kelas semakin panas dengan saut-sautan, bikin telinga Chanhee yang sudah merah jadi semakin merah.
"Kim Sunwoo, kamu saya kasih tugas membuat karya tulis tentang Choi Chanhee, minimal 10 ribu kata dikumpulkan minggu depan!"
"Jangankan 10 ribu kata, bu. Bikin buku 1000 halaman juga saya sanggup kalo tentang Chanhee."
"Bisa gak sih lo berhenti ngeliat gue kaya gue adalah pelaku tindak kriminal?" tanya Chanhee sambil memakan ayam bumbu pedas di depannya. Sunwoo yang sibuk dengan sebuah buku yang kini tengah ia corat-coret pun berhenti menulis dan menatap Chanhee, lagi.
"Gue lagi melakukan observasi plus penelitian untuk karya tulis ilmiah."
"Sumpah ya, gue gampar lo kalo masih ngeliatin kaya gitu." Chanhee yang sudah sangat jengah mengangkat tangannya, ancang-ancang ingin menampar.
“Kalo habis ngegampar gue, lo akan jadi seneng sih gak papa, gampar aja.”
"Lo tuh ya, mau sampe kapan kajak kaya gini? Lo pinter banget waktu SD-SMP."
"Cie, merhatiin!"
"Sunwoo!"
"Iya becanda, ah. Hmm, sampai kapan ya? Awalnya sih gue sengaja keliatan bego biar gak ada yang deketin gue kalo kerja kelompok doang. Tapi gak tau lo tiba-tiba menuhin seluruh isi otak gue. Pake pelet ya?"
PLAK, sebuah tamparan kecil mendarat di pipi kanan Sunwoo. Membuat sang pemilik pipi terkejut dan memegang pipinya yang sakit tidak seberapa itu menggunakan kedua tangan dan wajah yang dibuat sedrama mungkin.
"Kok gue digampar?" tanya Sunwoo kaget.
"Lo banyak omong," jawab Chanhee sambil kembali fokus pada ayam bumbu pedasnya. Belum ada semenit berlalu, Sunwoo sudah kembali ke dalam mode memerhatikan dan tersenyum bodoh karena melihat bumbu yang belepotan di ujung bibir Chanhee.
"Udah seneng belom?" Sunwoo bertanya sambil menopang kepala menggunakan kedua tangannya. Tersenyum bodoh ke arah Chanhee yang dibalas dengan sebuah delikan.
"Apaan?"
"Kan udah gampar gue. Kalo udah gue akan melanjutkan penelitian," ujar Sunwoo sambil membersihkan sisa bumbu di ujung bibir Chanhee menggunakan ibu jarinya. Chanhee yang belum siap-siap dan kecolongan untuk yang ke-n kalinya terdiam dengan pipinya yang terus menjadi merah. Buru-buru ia menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangan, "Terserahlah, gue udah cape."
"Hehehehehe."
FIN.
