Work Text:
Secretary x Me
Markhyuck
Baelinsh; commisioned by Mint
Suara derap kaki sepatu pantofel bersinggungan dengan lantai marmer bergema di sepenjuru lorong. Tampak seorang pria dengan langkah tergesa-gesa sambil memegang map berkas berjalan membelah lorong, diikuti oleh seorang pria lainnya yang juga berjalan dengan tempo yang sama.
Jika menebak dari posisi mereka berjalan, dalam sekali pandang pasti mengira bahwa lelaki dengan jas hitam dan membawa map di tangannya itu ialah sang petinggi. Mukanya datar, langkahnya cepat teratur, seakan mengejar waktu yang bermakna uang. Sedangkan lelaki di belakangnya tampak lebih santai, berjalan lebih lambat namun dalam tempo yang masih sesuai dengan pria di depannya—ia tampak seperti bawahan dari sang lelaki pemegang map.
Namun apa yang dilihat bukan berarti sama dengan apa yang terjadi, bau feromon sebenarnya sudah cukup mendukung untuk menjelaskan posisi mereka. Sang pemilik feromon daun mint, yang berjalan di belakang dengan tempo lambat, lelaki dengan alis camar dan senyum yang terpatri menghadap ke depan, ialah Mark Lee, sang CEO Lee Company, anak perusahaan dari korporasi raksasa, Lee Corp. Usianya masih muda, ia masih dalam kategori fresh graduate. Namun keahliannya untuk memimpin perusahaan tidak perlu diragukan lagi. Di bawah kepemimpinannya, Lee Company menjadi salah satu cabang usaha dari Lee Corp yang mendapatkan surplus laba paling besar di antara cabang perusahaan lainnya—ia begitu brilian.
Di lain sisi, sang pemilik feromon persik manis, yang berjalan di depan dengan tergesa-gesa, adalah Haechan, seorang omega dan juga sekretaris dari Mark. Ia sudah bekerja dengan Mark selama yang Mark bisa ingat—mereka sudah bersama terlalu lama—ia adalah orang kepercayaan Mark. Orang yang selalu Mark cari, orang yang selalu Mark butuhkan. Hingga sampai pada tahap menjadi orang yang selalu Mark inginkan.
Sangat tidak sopan bagi sekretaris untuk berjalan mendahului atasannya ketika jam kerja. Tentu saja Mark membiarkan Haechan untuk berjalan mendahului dirinya karena ada suatu alasan, kan?
Mark membuka pintu kaca lorong lantai 38. Jam makan siang baru saja akan dimulai. Ia yang baru saja selesai rapat dengan tim marketing, masuk dengan malas ke lorong ruangannya. Bau vanilla langsung menguar ketika ia masuk—bau feromon omega, bau yang akan beradu dengan feromon persik manis Haechan jika Mark melewati lorong depan—feromon Jungwoo, resepsionisnya. Jungwoo tersenyum ramah menyambut kedatangan kembali Mark ke ruangannya.
"Ow, sendiri saja?" dan ini alasan mengapa hanya feromon Jungwoo lah yang menguar di udara. Jungwoo menatap Mark dengan mata bulatnya. Tumben sekali bosnya ini berjalan kembali sendirian, biasanya sang sekretaris selalu siap sedia menemani.
"Dia ke toilet," jawab Mark lesu melewati meja resepsionis Jungwoo. Melihat respon boss-nya, Jungwoo terkekeh.
"Hey Mark," Mark yang sedang memegang knop pintu ruangannya membalikkan badan menatap Jungwoo, merespon panggilan omega tersebut. Mark mengangkat alisnya, menunggu kalimat keluar dari mulut pria itu.
Namun bukannya bersuara, Jungwoo malah diam, membiarkan Mark menanti kata-katanya. "Tidak ada," ucapnya akhirnya setelah terdiam selama beberapa detik. Ia terkekeh geli melihat wajah kesal Mark.
"Kau membuang-buang waktuku," sungut Mark.
Jungwoo semakin terkekeh mendengar dengusan Mark. Sebelum Mark mendorong pintu ruangannya, Jungwoo dengan kekehan gelinya berujar, "Jangan terlalu lemas jika omegamu tidak ada di sampingmu,"
Mark membalikkan badan lantas mengangkat alisnya. "Siapa bilang dia omegaku?" Lontar Mark, lalu sedetik kemudian Mark masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Jungwoo yang tertawa terbahak-bahak menertawai merahnya wajah Mark.
Haechan baru saja balik dari toilet ketika tiba-tiba Mark yang sedang membaca artikel di tabletnya bertanya dengan suara datar, "menurutmu makanan yang enak dimakan ketika makan siang apa, ya?"
Haechan mengangkat alisnya berusaha berpikir. Ia menyemprotkan hand sanitizer di tangannya kemudian berjalan mendekat ke meja Mark.
"Udon?" Tebaknya.
Mark menaikkan alisnya. "Udon?" Dengan nada tanya yang sama yang digunakan Haechan tadi, Mark bertanya.
"Entahlah Tuan Lee, udon tampak enak dimakan sekarang,"
Mark tersenyum. "Oh begitu," Ia menaruh tabletnya ke atas meja kemudian menatap Haechan. "Sekretaris Lee, pesankan udon untuk makan siangku hari ini,"
Haechan dengan sigap meraih ponselnya, kembali dalam mode profesional. "Pesan antar atau reservasi, Tuan?" Tanyanya.
"Reservasi," Mark memutar kursinya, menghadap ke jendela, menonton pemandangan kota di bawah sana. "Untuk dua orang," lanjutnya.
Haechan dengan gesit mengutak-atik ponselnya. Bukan rahasia umum bahwa kinerja Haechan begitu sempurna. Ia adalah orang yang ligat, yang melakukan segala pekerjaan dengan cepat, rapi, bahkan tanpa disuruh sekalipun pekerjaan tersebut akan siap sempurna. "Baiklah. Udon Caden, Mapo, reservasi untuk 2 orang atas nama Mark Lee jam 1.30 siang; sudah dipesan," dengan begitu Haechan berhenti mengutak-atik ponselnya. "Apa ada yang lain, Tuan?"
Mark memutar kursinya kembali menatap Haechan. Ia menggeleng, "Silahkan kembali ke tempatmu, Sekretaris Lee,"
Membungkukkan badannya, Haechan berlalu mundur untuk duduk di sebuah meja yang berada dekat di pintu masuk ruangan Mark.
"Oh ya," celetuk Mark, yang mana membuat langkah Haechan terhenti. Ia membalikkan badan menatap sang bos. "Apakah kau sudah makan siang?"
Haechan menggeleng. "Belum,"
Tampak senyum langsung merekah di bibir bos-nya. Lelaki alis camar itu langsung menata mejanya, merapikan jasnya—yang padahal sudah lurus nan rapi—kemudian bertanya, "Apa kau ingin makan siang denganku?"
Dua mangkuk udon panas sudah tersaji di atas meja. Dua gelas ocha panas pun tampak mengepul, mengisi indra Mark dengan wangi pahitnya teh tersebut. Hanya satu gelas teh yang tampak diminum, dan hanya semangkuk udon yang tampak sudah diaduk. Mark menyesap teh hangatnya, mendecih ketika menatap kursi kosong yang ada di depannya, kursi yang udon maupun teh panasnya masih tersaji lengkap, kursi yang seharusnya Haechan lah yang mengisi.
Ya. Haechan menolak ajakan makan siang Mark.
Setelah bertanya ‘hey, apa kau mau makan siang denganku?’ dengan mulusnya—Mark bahkan bertanya secara tak langsung ke Haechan apa menu makan siang yang ingin dia makan!—Haechan tersenyum manis membalas pertanyaan bos-nya, lalu dengan manis pula ia menjawab, ‘Maaf, saya sudah ada janji makan siang dengan Jungwoo,’ dan senyuman tampan yang sudah Mark pasang demi memikat sang omega langsung terbenam turun, kemudian ia mengangguk, seakan mengisyaratkan, "oh, aku mengerti,"
Dan akhirnya di sinilah Mark. Berteman semangkok udon lain yang seharusnya menjadi milik Haechan.
Sebenarnya ini bukan sekali atau dua kali Mark mencoba untuk berkomunikasi secara personal—bukan hanya sebagai atasan-sekretaris—dengan Haechan. Ia terus berusaha, mengajaknya keluar, makan siang, makan malam, jalan-jalan, hingga mendatangi pesta keluarga pemegang saham mereka. Walaupun frekuensi pendekatannya tidak sering—tiga bulan sekali mungkin?—namun setidaknya ia mencoba, dan, yah, semuanya nihil. Sejauh ini yang bisa Mark dapatkan hanyalah; makan siang bersama Haechan featuring Jungwoo, atau ke Jeju bersama Haechan dalam rangka perjalanan dinas (ini hanya pernah terjadi sekali). Hanya sebatas itu. Hanya sebatas pekerjaan, atau makan bersama anak kantor.
Haechan... dia memasang tembok terlalu tinggi antara dirinya dan Mark. Padahal apakah dia tau bahwa di sini ada yang sudah sedari dulu memendam rasa kepadanya?
Mark telah memupuk rasa kepada Haechan sejak lama. Mereka telah bersama 4 tahun lamanya, dari Mark yang hanya seorang CEO baru yang masih belum banyak tau, masih banyak ragu maupun diragukan, hingga menjadi Mark yang sekarang—Haechan seakan sudah ada dengannya sedari nol. Hubungan mereka memang berawal—dan memang berjalan sampai detik ini—hanya sebatas bos dan sekretaris. Namun di tahun keduanya bersama Haechan, setelah banyaknya pekerjaan, kesusahan, beban, suka duka yang ia lewati bersama pria itu, tak memungkiri bagi Mark untuk memupuk rasa. Walaupun mereka dituntut untuk menjadi profesional, tidak melibatkan perasaan pribadi di pekerjaan, tetapi entahlah, pesona Haechan terlalu kuat untuk Mark lewatkan. Dan sampai lah dia di sini, memupuk rasa hari ke hari, tahun ke tahun, kepada sekretarisnya yang sialnya terlalu malu untuk ia dekati secara terang-terangan.
"Udon gratis demi menemani temanku yang ditolak kebeberapa kalinya oleh sang pujaan hati?" Nada ejekan itu membangunkan Mark dari pikir panjangnya. Ia mendongak menatap ke samping. Mendengus melihat senyuman lebar penuh ejekan Hendery, teman dekatnya, tertuju kepadanya. Lelaki itu tanpa basa-basi langsung duduk di depan Mark, mengaduk mangkuk udonnya dengan mata lapar.
"Bilang terima kasih kepada crush-mu itu, tau saja dia aku lapar,"
"Aku yang membayar udon itu," Mark mengerutkan dahi melihat kekehan Hendery.
"Aku tau, tapi kalau dia menerima ajakan makan siangmu, aku pasti tak akan dapat udon gratis kan? Jadi bilang terima kasih kepada dirinya karena telah menolak ajakanmu, lain kali aku sarankan dirinya untuk terus menolak ajakanmu," menyeruput mi udonnya rakus, Hendery mengangkat alisnya menggoda Mark.
"Sialan," geram Mark.
"Bagaimana caranya kau menjadikan dia omegamu, bahkan untuk mengajaknya makan di luar berdua saja susah. Sudah lah Mark, mending kau menikah saja dengan berkas-berkasmu itu," Hendery meminum teh nya, mengerut ketika merasakan rasa pahit juga panas menyentuh lidahnya.
"Maksudku—sudah 2 tahun, apa kau tidak lelah memendam?" setelah mendesis karena rasa panas, Hendery menatap Mark, bertanya dengan serius seakan lidahnya tak mati rasa karena kepanasan.
Mark hanya bisa tertawa pelan mendengar ucapan sahabatnya. Ia juga menyesap sedikit teh hangatnya, "Entahlah, hatiku masih ingin menyimpan namanya,"
Hari ini adalah hari yang panjang, setidaknya menurut Haechan. Setelah istirahat makan siang tadi, bos-nya memberikan ia setumpuk dokumen yang harus disortir, belum lagi rangkuman meeting yang harus ia kerjakan.
Haechan merenggangkan tubuhnya ketika satu file dokumen terakhir telah berhasil ia sortir. Ia menengok pergelangan tangannya, melotot ketika sadar hari sudah menunjukkan pukul enam setengah sore, sudah lewat 30 menit dari jam pulang.
"Apa kau akan lembur?" Mark, yang sedari siang tadi duduk di mejanya memeriksa berbagai macam laporan maupun proposal, bertanya kepadanya. Lelaki itu melepaskan kacamata yang sedari tadi tergantung di hidungnya, menatap Haechan dengan mata yang sedikit menyipit karena lelah membaca.
"Pekerjaan saya sudah selesai. Saya akan mengirim rangkuman meeting tadi pagi ke surel anda kemudian saya akan bersiap pulang," Haechan menjawab, menatap Mark sebentar untuk lanjut berkutat pada komputernya.
Mark mengangguk lalu membiarkan keheningan menggerayangi ruangan, sama seperti yang terjadi selama lebih dari 5 jam tadi. Ia menatap jam, kemudian menatap tumpukan berkas yang ada di mejanya. Matanya tampak gelisah seperti memperkirakan sesuatu. Bau mint terus menguar dari badannya, menandakan ia sekarang benar-benar gelisah.
"Tuan Lee... apa kau baik-baik saja?" Haechan mengernyit mencium feromon Mark memenuhi ruangan, menekan bau manis persiknya, membuat dirinya hampir saja tercekat.
Mark terkesiap. Ia berusaha merilekskan tubuhnya, menurunkan kadar feromonnya ketika melihat wajah Haechan yang mulai tak nyaman. "A-aku baik-baik saja," ucapnya cepat. Ia berdehem seakan berusaha menutup kejadian yang sempat terjadi tadi.
Lalu Mark melakukannya lagi. Menatap gelisah jam dinding, namun ia tak menatap gelisah tumpukan berkasnya lagi, kini Haechan lah yang ia tatap, ia tatap dengan segala macam kegugupan.
Dan sekali lagi, tanpa sadar Mark mengeluarkan feromonnya, memenuhi ruangan hingga Haechan kembali mengernyit tak nyaman.
"M-mark," meninggalkan etika kesopanan selama bekerja, Haechan meringkih, memanggil bosnya hanya dengan nama panggilannya saja, mengerutkan dahinya tanda ia sangat tidak nyaman.
Mark terkesiap mendapati wajah omega tersebut tampak memerah menahan rasa yang menganggu. Ia mencoba merilekskan tubuhnya lagi, membuat bau mint yang menyengat memuai, perlahan hilang dari udara.
"S-saya akan menyelesaikan pekerjaan saya sebentar lagi," setelah akhirnya bisa bernafas dengan tenang, Haechan menghadap layar komputernya lagi.
Mark sadar arti mata yang bergetar dan jari yang menari di atas keyboard dengan kecepatan yang seakan dipercepat—Haechan ketakutan, omega itu ketakutan. Ia bagaikan telah tertekan oleh feromon yang Mark keluarkan sedari tadi. Kini membulatkan tekadnya, menegakkan punggungnya, ia menatap lekat omega itu, membuang semua keraguan dan cemas di hatinya kemudian bertanya,
"Apa kau ingin ku antar pulang?"
Padahal Mark sudah memperhitungkan dengan teliti—bahkan sampai ia mengeluarkan feromonnya, karena gelisah, yang membuat Haechan merasa tercekat—waktu dan kesempatan yang bisa ia gunakan untuk bertanya; 'apakah kau ingin ku antar pulang?' itu, namun seperti yang diduga dari Lee Haechan, ia menjawab, 'Maaf, tadi pagi saya sudah memesan taksi' dan pergi berlalu begitu saja, bahkan tanpa memberitahu Mark bahwa ia telah mengirimkan email rangkuman meeting kepada lelaki itu.
Benar, yang sedang kalian saksikan sedari tadi ialah 'kompilasi kegagalan Mark dalam mendekati Haechan'. Aah! Sebenarnya ia tidak sering melakukannya, kok! Mecoba mendekati Haechan adalah kegiatan yang jarang sekali Mark lakukan. Namun entah kenapa hari ini perasaannya malah menggebu, membuat ia memikirkan berbagai ragam cara untuk mulai mendekat, yang sayangnya malah berakhir tragis—sebenarnya ini berakhir seperti yang ia duga, Haechan sedari dulu memang tak pernah bisa tersentuh olehnya jadi, ya, dissapointed but not surprised.
Kini hanya tersisa Mark, tenggelam dalam tumpukan pekerjaannya. Memilih untuk melemburkan diri agar setidaknya ia ada kegiatan. Ia tak ingin menghabiskan malamnya memikirkan omega itu, memikirkan kembali bagaimana cara untuk menerobos masuk pertahanan omega itu. Gemerlap perkotaan di bawah sana menemani lembur Mark malam ini. Cahaya lampu yang terang benderang menerangi ruangannya yang tak begitu luas namun tampak lapang, membuat ia hampir merasa kesepian. Matanya menyipit merasakan cahaya lampu itu bagaikan menyengat matanya yang sedari tadi siang terus berkutat dengan huruf maupun angka berukuran kecil. Sedikit meminum kopi kalengnya, ia berdiri, menyeret kakinya malas untuk setidaknya mematikan lampu kristal di tengah langit-langit yang terang benderang, untuk hanya menyisakan empat buah lampu kecil di empat titik ujung plafon ruangannya.
Matanya mengerjap.
Oke, sempurna. Tidak terlalu terang juga tidak terlalu remang.
Kini ia menyeret kakinya lagi, berjalan kembali ke tempat duduknya sambil menguap. Merenggangkan badannya ke kanan, ke kiri sambil berjalan. Hingga ketika ia merenggangkan badannya untuk kedua kalinya ke kiri, langkahnya terhenti seketika. Matanya membulat melihat sesuatu terampai di atas kursi sekretarisnya. Berjalan cepat mendekat ke meja sekretarisnya, Mark mencoba memastikan dengan pasti apa barang yang sedang ia lihat tersebut.
Sebuah cardigan. Cardigan Haechan.
Cardigan berwarna kuning dengan bahan wol itu adalah cardigan yang akan dipakai Haechan di pagi hari ketika cuaca sedikit lebih dingin, cardigan yang akan ia pakai di atas jas kerja kantornya—walaupun terdengar aneh, tapi percayalah, ia tetap manis memakai apapun.
Mark mengambil cardigan tersebut. Hampir saja bergetar ketika merasakan seluruh feromon persik manis Haechan memenuhi indranya. Ia tampak memegang lama cardigan itu, entah apa yang dipikirkannya.
Lalu tiba-tiba ia bergerak, berlari menuju mejanya sambil memegang cardigan tersebut di tangannya. Mengemas seluruh pekerjaannya, ia pun berlari keluar dari ruangannya sambil memeluk cardigan berbau persik tersebut.
Sepertinya, lemburnya demi menghindari Haechan sudah gagal total.
Bunyi radio mobil dan sayup-sayup bisingnya perkotaan di malam hari adalah teman Mark malam ini, di depan rumah Haechan.
Matanya terfokus antara dua hal sekarang; ponselnya, dan pintu rumah kecil tersebut. Ia sibuk membaca email yang baru saja masuk di ponselnya, tepat ketika mobilnya berhenti di depan rumah sang omega, yang mengatakan bahwa lusa pihak investor Jepang ingin bertemu dengannya di Tokyo. Sungguh menyebalkan sekali memberitahukan hal tersebut di malam hari begini, di jam yang biasanya digunakan orang untuk beristirahat. Ia mengontak Hendery, orang yang selalu menjadi partner-nya ketika dinas di luar. Menekan nomor pria tersebut dengan malas.
"Halo," belum ada sedetik berdering, Hendery sudah menerima panggilan Mark.
"Ke Tokyo, lusa," Mark tak perlu menjelaskan toh Hendery pasti sudah mengerti.
Tampak seperti gerutuan terdengar di ujung sana. "Kau tau, lusa anniversary-ku,"
"Ya aku tau dan apa korporasi peduli?"
"Sialan Mark!" Hendery mengumpat. "Cari orang lain saja, jangan aku, sekretaris mu—“
Mata Mark yang tampak malas seketika membulat antusias. Ia dengan cepat memandang sekitar, hampir tertawa ketika tersadar dirinya masih berada di depan rumah sang pujaan hati—ia terlalu kesal dengan isi email itu sampai terlupa dengan posisi dan maksudnya ke sini.
"Thanks," tanpa mendengarkan ucapan Hendery lebih lanjut, Mark mematikan panggilannya, keluar dari mobilnya, lalu dengan tangan dingin karena gugup dan cuaca malam yang memang sedikit dingin, ia berjalan menuju pintu depan rumah sang omega manis, menekan bel pintu dengan pelan.
Ia sudah beberapa kali ke sini, hanya sekadar mengantar omega itu pulang. Namun bukan pulang seperti yang biasanya novel romansa tuliskan—pulang berdua dalam cahaya rembulan, sambil berpegangan tangan seakan dunia hanya milik mereka berdua—bukan, bukan seperti itu. Hantaran pulang tersebut hanya sebatas Mark, Haechan, dan Jungwoo yang menumpang mobil Mark untuk pulang ke rumah sehabis acara makan-makan perusahaan karena rumah mereka sama-sama satu arah. Tidak ada adegan berduaan di dalam mobil di bawah kelap-kelip lampu kota dengan sang pujaan hati, yang ada hanyalah Mark mengantarkan Haechan terlebih dahulu ke depan rumahnya lalu setelahnya ia mengantar Jungwoo—rutenya ia lah rumah Haechan, rumah Jungwoo, baru kemudian mansion Mark—yang mana setelah mengantar Haechan, tinggal lah Mark berdua dengan Jungwoo—yang kadang setengah mabuk, kadang juga tidak mabuk—menertawakan Mark dan segala macam perasaan bodohnya. Entahlah, sepertinya setiap orang di perusahaan tau seberapa jatuhnya Mark terhadap Haechan. Bayangkan, mana ada CEO yang terus datang ke acara makan-makan perusahaan. Setiap karyawan pasti tau seberapa sibuk dan padatnya jadwal seorang CEO, bahkan 24 jam pun rasanya tak cukup untuk bekerja—namun ini dia Mark, CEO muda dengan berkas tertumpuk di atas mejanya, datang secara rutin ke acara makan-makan perusahaan demi melihat sekretaris-nya tersenyum, tertawa, melemparkan lelucon yang membuat satu ruangan tertawa, makan dengan lahap, hingga bermanja-manja kepada Jungwoo seperti anak beruang (sebenarnya Mark agak cemburu). Ia sampai rela mengesampingkan segala urusnnya demi datang ke acara makan-makan itu—sampai pernah suatu hari ia mengecek laporan di laptop sambil ditemani suara bising nyanyian dari karyawannya yang sedang ber-karaoke ria. Untung saja acara makan-makan itu hanya dirayakan empat bulan, atau lima bulan sekali, atau tidak Mark mungkin benar-benar tidak bisa istirahat jika terus mengikutinya.
Maka dari itu kan, bagaimana mungkin tidak ada yang tau bagaimana perasaan CEO mereka terhadap sang sekretaris? (sepertinya hanya sang sekretaris lah yang tak mengetahuinya.)
Namun mereka tetap diam, mencoba menjaga privasi CEO mereka, atau mungkin mereka berbisik di belakang, berusaha untuk tak terlalu tampak membicarakan bos mereka—keadaan yang sama yang terjadi dengan Mark, daripada menunjukkan secara terang-terangan di depan Haechan, ia lebih memilih diam, ataupun jika ia membuat pergerakan, ia lebih memilih melakukannya dalam diam, berusaha untuk tak terlalu tampak.
Hingga sekarang ketika omega itu membuka pintu rumahnya, membulatkan matanya melihat kehadiran sang bos di larut malam yang dingin ini, Mark masih terdiam, tersenyum kaku sambil dengan pelan membawa cardigan wol itu ke depan Haechan.
"Tuan Lee...." Cicit Haechan. Matanya terkejut menatap kardigan kuning disodorkan oleh Mark.
"T-tadi tertinggal," ucap Mark.
Haechan menerima kardigan tersebut, lalu memeluk gumpalan wol itu di dadanya. "Terima kasih," ucapnya.
Ingatkan Mark untuk memijak tanah. Senyuman Haechan dan bau manis persik yang menyerbak seakan mengerumuni Mark membuat pikirannya berada di awang-awang, ia hampir saja pingsan.
Tak seperti kantor Mark yang sangat berbau dirinya, dengan sedikit tambahan bau Haechan di dalamnya—dan bau Jungwoo di koridor—rumah kecil ini benar-benar menyerbakkan bau persik manis. Hanya ada feromon Haechan, hanya ada omega manis itu di sini. Bau yang terus membuat Mark hampir saja gila ketika memijakkan kaki di sini.
"Tuan Lee...? Tuan Lee?"
Sudah Mark bilang, tolong ingatkan dia untuk memijak tanah. Kini ia menggelengkan kepalanya, mencoba membawa kembali kesadaran dirinya setelah termenung dalam kesenangannya. Ia tersenyum kikuk ke arah Haechan. Sialan. Ia pasti tampak sangat bodoh sekarang.
"Apakah kau lembur hari ini, Tuan?"
"Mark. Panggil aku Mark," potong Mark cepat. Ia menggigit lidahnya, mengutuk dirinya, berpikir bahwa ucapan impulsif nya tadi terdengar sangat menjijikkan. Padahal adalah hal yang wajar untuk meminta Haechan memanggil dirinya dengan namanya ketika tidak di jam kerja. Mereka pernah menyepakati hal tersebut dan lihat! Haechan biasa saja dengan hal itu, Mark saja yang berpikiran berlebih!
"Oh baiklah Mark Lee," seisi kepala Mark selalu saja merasakan euforia berlebihan ketika mendengar suara manis tersebut menyebut namanya.
Lalu diam, keduanya terdiam. Angin malam berhembus pelan, mengganggu rambut kelam Mark yang sedari pagi masih tertata rapi. Bau mint juga tercium samar-samar, seakan angin yang membawa feromon tersebut.
Mark mengutuk dirinya melihat Haechan yang hanya berdiri di ambang pintu, seakan menanti apa yang akan ia katakan. Mark hanya menyunggingkan senyumannya. Entah apa yang ingin ia bilang tadi, entahlah, pikirannya sudah terlanjur kosong.
"Mark, apa kau mau pulang? Sudah larut..."
Alis mata Mark terangkat mendengar cicitan Haechan. Ia tersenyum lalu mengangguk. "Hahaha iya, sampai jumpa besok pagi, Haechan," pamitnya lalu membalikkan badan untuk kembali ke mobil.
Dapat ia lihat Haechan masih saja membuka pintunya, menatap kepergiannya ketika ia menghidupkan mesin mobil. Lalu pintu itu tertutup, dengan satu lambaian tangan ketika mobil mulai berjalan sedikit. Mark tersenyum, namun seketika mengumpat ketika ingat bahwa ia melupakan sesuatu yang penting,
Ia lupa menanyakan tentang perjalanan dinas ke Haechan!
Itu dia poinnya—dan dia melupakannya! Mark Lee bodoh... kenapa otaknya malah tidak sinkron...? Padahal ia bisa berbasa-basi lebih lama dengan omega itu, merencanakan perjalan dinas, keperluan ketika perjalanan dinas, hingga mungkin jika terlalu lama berbincang, omega itu bisa saja mengundangnya untuk masuk ke sarang manisnya...
Sialan.
Mark benar-benar kesal dengan dirinya. Bagaimana bisa otaknya tiba-tiba mati rasa ketika berada di depan sang omega dengan bau feromon manisnya yang menyelubungi Mark bagaikan hanya itulah satu-satunya oksigen yang tersedia—oke! Mungkin itu dia masalahnya. Otak Mark seketika berhenti berfungsi karena feromon sang omega, ya, feromon itu... begitu mematikan.
Hingga akhirnya di esok hari, Mark bertanya dengan santai tentang kesediaan Haechan untuk ikut perjalanan dinas, dan karena Haechan adalah sekretaris Mark, dan juga karena omega itu merasa bertanggung jawab atas sang bos jika Hendery, partner perjalanan dinas Mark, tidak bisa ikut, Haechan pun menyanggupi permintaan tersebut. Toh, semua biaya ditanggung perusahaan.
Lalu di sinilah Haechan, pagi-pagi buta datang ke mansion sang atasan, membantu Mark untuk melipat beberapa dasi kemudian memasukkannya ke koper. Menyiapkan beberapa cemilan untuk Mark makan sebagai sarapannya—bos-nya ini lebih memilih memakan Oreo sebagai menu sarapan daripada memakan menu sarapan biasa lainnya.
Haechan menyapa sopan ketika Mark keluar dari kamarnya sambil menggeret koper abu-abu besar.
"Sekretaris Lee, kopermu mana?" Tanya Mark ketika sudah berdiri di depan Haechan.
"Sudah saya taruh di mobil," jawab Haechan. Ia lalu mengarahkan Mark untuk duduk di kursi meja makan, menarik kursi itu untuk Mark duduki.
"Tak apa!" Mark langsung menolak, menahan kursi yang ditarik Haechan. "K-kau silahkan duduk," keadaan berbalik, kini Mark yang mendorong kursi itu, menggantikan tangan Haechan yang terlepas dari pegangan kursi karena terkejut, mempersilahkan omega itu untuk duduk di kursi putih berbantalan empuk itu.
Haechan awalnya tampak bingung, namun dengan satu arahan dari sudut mata Mark, ia pun mulai membawa dirinya untuk duduk, menjatuhkan pantatnya di atas bantalan bulu putih kursi meja makan Mark. Kepalanya mendongak, menatap pergerakan Mark; yang mana bos-nya itu mendorong dengan lembut kursinya. Memutari meja makan lalu duduk di hadapan Haechan.
"Sudah sarapan?" Sebenarnya ini pertanyaan bodoh. Siapa yang akan bertanya ‘apa kau sudah makan?’ kepada orang yang telah kau persilahkan untuk duduk di kursi meja makan? Namun Mark Lee ya tetap Mark Lee, rencana jitu pdkt-nya terkadang tidak terlalu bagus.
Mark membuka plastik oreo-nya dengan santai, melirik sekilas ke arah sang sekretaris. Tersenyum ketika sang sekretaris mengangguk.
"Tuan, apa ada lagi yang perlu disiapkan?" Pasti Haechan. Kepalanya menatap ke samping, menatap koper Mark yang masih berdiri tegak di samping tempat duduknya.
Mark menggeleng. "Tidak—"
Tring!
Setelah berkata begitu, tiba-tiba dering ponsel berbunyi nyaring, bergema di mansion Mark yang besar namun kosong ini. Haechan yakin ini bukan ponselnya, deringnya beda dengan dering ponselnya. Namun wajah datarnya itu langsung mengerut ketika melihat Mark meraba jasnya, meraba kantong celananya, terus meraba namun ia tak merasakan suatu benda persegi bergetar di pakaiannya.
Mark melotot kaget kepada Haechan.
"Saya akan pergi ke kamar anda," dengan begitulah Haechan berdiri dari duduknya, berlari pelan menuju kamar Mark untuk mengambil ponsel yang masih tergeletak di atas nakas samping tempat tidur alpha itu.
"Panggilan dari Jeno, Tuan Lee," ucap Haechan ketika keluar dari kamar, berlari pelan sambil melirik sedikit layar ponsel atasannya.
Mark mengerut bingung. Ia membersihkan tangannya yang terkena remahan Oreo, berdiri dari tempat duduknya untuk berjalan mendekat kepada Haechan.
Ia meraih ponselnya dari tangan Haechan, menerima cepat panggilan itu. "Halo—"
Pip!
Dan panggilan pun dimatikan sepihak. Mark menjauhkan ponsel dari telinganya, mengerutkan dahinya kesal.
Jeno. Lelaki brengsek ini.
Ya Jeno, teman seperjuangan Mark ketika kuliah. Teman Mark yang berjiwa bebas namun pekerja keras. Teman yang selalu membuatmu naik darah-seperti saat ini. Teman yang membuatmu berkata 'Jeno ya Jeno' sangking ciri khas sifat menyebalkannya.
Lantas Mark hendak menyimpan ponselnya, hendak berbalik untuk memakan oreo-nya—bodo amat dengan panggilan lelaki itu. Namun satu notifikasi pesan masuk mengalihkan atensi Mark.
Jeno mengirimkan pesan
Mengerutkan dahinya kesal, Mark membuka pesan tersebut.
"Aku dengar omega manis mu itu akan berkunjung juga ke sini, hm, aku ingin bertemu dengannya. Kira-kira apa dia akan suka teh racikanku? Kau tau, banyak omega yang jatuh cinta karena teh ku hahahahaha dia pasti manis. Oh ya aku awalnya ingin menelponmu namun setelah dipikir-pikir, hariku akan hancur jika hal yang pertama kali ku dengar di pagi hari ialah suaramu, maka dari itu lebih baik aku mengirimmu pesan saja, toh intinya tetap sama, kok. Hihihi sampai jumpa di Tokyo, Mark"
Dan seperti yang sudah dibilang kan, Jeno itu selalu berhasil membuat Mark naik darah!
Bandara Narita tampak ramai ketika kedua pasangan bisnis itu memijakkan kaki mereka ke negara matahari terbit tersebut. Setelah mengambil koper, Haechan dengan cepat berjalan di depan Mark, membuka jalan di antara orang ramai untuk sang atasan.
"Tuan Nakamoto dari cabang Jepang sudah menunggu kita," ucap Haechan.
Mark terdiam. Bukan, ia terdiam bukan karena tidak mengerti, namun langkah Haechan yang melambat, memelan seakan tak punya cukup tenaga—membuat Mark terdiam khawatir. Sekretaris nya ini adalah ahli berjalan cepat. Dengan kaki panjangnya , ia bisa melangkah lebar, bahkan setara lari kecilnya Mark. Namun kini kaki itu melambat, padahal jalan mereka terbuka lebar. Bahkan Mark kini sudah berjalan sejajar dengan Haechan, menatap wajah sang sekretaris. "Sekretaris Lee, apa kau tak apa?"
"Saya tak apa,"
Mark panik bukan main ketika Haechan menoleh kepadanya, menampakkan wajahnya yang pucat pasi. "Sekretaris Lee, kau sakit." Mark menghentikan langkahnya, memegang bahu sang sekretaris.
"Tidak, Tuan," tukas Haechan. Ia sedikit bergeser agar pegangan Mark pada bahunya terlepas. "Saya mungkin agak jet lag,"
"Kau yakin?" Yakin Mark. Sebenarnya janggal sekali untuk merasakan jet lag di penerbangan yang hanya memakan waktu sekitar satu jam.
"Iya," angguk Haechan. "Mari kita ke depan, Tuan Nakamoto sudah menunggu," lalu ia melanjutkan jalannya, berjalan duluan daripada Mark. Namun langkah lambat itu membuat Mark mampu mengejar Haechan, berjalan beriringan dengan Mark yang sesekali menatap wajahnya, mencoba memastikan apa dia baik-baik saja.
Haechan tertidur lelap ketika mobil sedan perusahaan yang dikendarai oleh tuan Nakamoto Yuta, salah satu karyawan Lee Company di Jepang, melaju melesat menuju Tokyo. Sepertinya ia benar-benar jet lag.
Mukanya tampak polos, tentram, dan damai. Jaket bulu hitamnya yang kebesaran, tampak seperti menenggelamkan badannya, menyisakan pucuk kepala bersurai coklatnya menyembul dengan lucu. Bibir penuhnya tampak sedikit terbuka, mendengarkan dengkuran halus di sela-sela deru mobil. Pipinya tampak menggembil, tertekan oleh kursi mobil tempat ia menyender menyamping.
Mark tersenyum oleh pemandangan itu.
"Indah bukan?"
"Eh?" Mark terkejut mendengar Tuan Nakamoto bersuara, mengeluarkan suaranya yang berat juga bahasa Korea-nya yang terdengar fasih. Namun bukan itu saja keterkejutan Mark, senyum yang lelaki Jepang itu berikan kepadanya dari kaca depan, juga pertanyaan lelaki itu yang tak bersubjek—apa lelaki itu menangkap basah dirinya yang sedang menatap Haechan?
"Sangat...?" Jawab Mark. Ia tak tau subjek indah apa yang dimaksud tuan Nakamoto ini tapi hal yang indah yang ada di antara mereka sekarang ya hanya Haechan seorang.
Tuan Nakamoto terkekeh, matanya yang tadi melirik ke arah Mark dari kaca depan kini kembali fokus ke jalan. "Syukurlah kalau kau suka pemandangan bunga sakura-nya, Tuan Lee,"
Dan dengan begitulah Mark memandang ke sekitar, terkekeh kering menatap pohon bunga sakura yang memenuhi pinggir jalan.
Sepertinya keindahan Haechan tak memberi ruang bagi bunga sakura untuk Mark kagumi.
"Sore ini kita akan meeting dengan investor, kemungkinan kita akan makan malam bersama investor tersebut. Namun saya juga sudah menyiapkan reservasi restoran hotel jika saja kita tidak makan malam dengan para investor—" jelas Haechan sambil berdiri di depan Mark dengan memegang tab-nya. Tangannya sibuk mengutak-atik tab tersebut, sedangkan Mark duduk di sofa kamar, menatap dengan alis terangkat wajah Haechan yang tampak lelah nan pucat, namun masih dengan profesional menjelaskan rangkaian kegiatan mereka untuk 3 hari ke depan.
"Sekretaris Lee, sepertinya lebih baik jika kau istirahat terlebih dahulu, tidak apa-apa tidak ikut meeting, kau tampak pucat," badan Mark yang tadi bersandar pada sofa kini tegak lurus menatap Haechan.
Haechan mengerutkan alisnya. "Saya tidak apa-apa, Tuan Lee,"
"Jangan terlalu memaksa—"
Haechan dengan cepat menggeleng. "Kalau begitu saya tidur sebentar sebelum meeting sore nanti. Saya permisi kembali ke kamar," Haechan membungkuk hormat sebentar lalu dengan cepat pula berlalu keluar dari kamar Mark.
Haechan berjalan gontai membelah lorong untuk mencapai kamarnya. Tangannya sedikit bergetar karena, entahlah, badannya terasa sangat tidak enak, ia benar-benar kelelahan. Ia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras ketika sudah sampai di kamar, menyeret kakinya ke arah tempat tidur lalu tanpa ia sadari, melepaskan pakaiannya, menyisakan celana dalam dan tubuh telanjangnya untuk ia balut dengan selimut, menghangatkan tubuhnya yang padahal sudah terasa sangat hangat. Ia menelungkupkan dirinya, mencoba mencari posisi nyaman untuk mencapai alam mimpi; lalu setelah 15 detik telungkup, akhirnya Haechan pun tertidur.
Hari sudah sore ketika Haechan terbangun dari tidur siangnya. Ia berlari panik menyiapkan diri ketika mengingat ia ada meeting menemani sang bos sore ini—ia terlambat!
"Tuan Lee? Tuan Lee?" Haechan memanggil nama sang atasan dari luar pintu kamar Mark sambil menekan lonceng kamar. Sesekali matanya mengecek ponselnya, mengerut gugup ketika sadar Mark sudah menelponnya satu jam yang lalu.
"Halo Tuan Lee—"
"Aku di bawah," belum sempat Haechan bertanya keberadaan lelaki alis camar itu, sang atasan di ujung sana sudah lebih dulu menjawab, membuat Haechan langsung berlari menuju lift, bahkan ia tidak peduli apakah panggilan tersebut sudah terputus atau belum.
Lalu di sinilah Haechan sekarang, terengah-engah mendapati Mark di tengah lobi. Membungkuk hormat sekejap lalu menghadap Mark untuk meminta maaf atas keterlambatannya.
Namun sebelum ia sempat meminta maaf, pandangannya membingung ketika melihat satu orang pria berdiri di samping Mark. Tak seperti Mark yang tampil formal; menggunakan jas, rambut di tata rapi, dan sepatu pantofel hitam mengkilat—lelaki itu tampak lebih santai, hanya menggunakan kaos juga skinny jeans biru. Senyum sipitnya merekah menatap Haechan.
Apa dia klien Jepang mereka?
"Sekretaris Lee, apa kau baru bangun tidur?"
Haechan yang masih dalam mode bengong langsung sigap menatap Mark ketika namanya dipanggil. Ia mengangguk lalu siap melemparkan permintaan maaf.
"Kalau begitu aku minta maaf ya tadi sudah menelpon dirimu," dan bibir Haechan yang terbuka untuk meminta maaf langsung terkatup ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulut bos-nya.
Ia percaya bahwa dia lah yang salah dan lalai di sini, lalu kenapa malah Mark yang meminta maaf?
"Hahahaha alpha perhatian, huh?"
Pandang Haechan langsung beralih menuju ke samping Mark Lee, menatap bingung sekali lagi laki-laki yang kini terkekeh mengarah ke sang atasan, yang mana membuat sang atasan memukul pundaknya pelan.
Siapa laki-laki ini? Sepertinya ia bukan klien Jepang mereka.
"Oh, hai aku Jeno," dan bak bisa membaca pikiran Haechan, lelaki itu maju, mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan.
Haechan dengan sopan menjabat tangan itu, "Lee Haechan, sekretaris Direktur Mark Lee," perkenalnya profesional.
"Kau manis,"
Haechan melotot terkejut mendengar kalimat itu langsung keluar dari orang yang baru pertama kali ia kenal, dari orang yang ia sendiri tidak begitu tau dia siapa. Lelaki itu tersenyum manis kepadanya, sedangkan Mark yang berada di samping lelaki itu memberikan pukulan pelan di perut lelaki itu.
Jelas, hanya bercanda kan?
"T-terima kasih," dengan pelan Haechan membalas.
"Aku panggil Haechan saja ya. Namamu manis,"
Haechan berdehem sambil tersenyum canggung. Baru pertama kali ia mendengar ada orang yang memuji namanya. "Boleh," dan tentu saja itu jawabannya.
"Btw, aku teman kuliahnya Mark dulu. Aku yakin dia enggan menceritakan tentangku jadi, aku alpha dominan 27 tahun yang masih belum beromega—"
"Ekhem!" Dehem Mark. Haechan yang tersenyum antusias menunggu kelanjutan kalimat Jeno langsung berdiri sedia menghadap atasannya. "Kita akan meeting sekarang, Sekretaris Lee." Ucap Mark pada Haechan.
"Dan Jeno, terima kasih atas kunjungannya hari ini tapi kami akan meeting dulu—"
"Hah?! Kita sudah 2 tahun tak bertemu dan hanya berakhir begini saja?" Jeno menatap Mark tak terima. "Aku akan menunggu di lobi, aku masih ingin berbicara dengan sekretaris manismu, Mark,"
Mark mengerutkan dahinya. "Terserah," lalu dengan cepat melewati Jeno untuk menuju ruang meeting mereka. Haechan juga langsung mengikuti Mark, tak seperti biasanya dimana ia berjalan di depan Mark, kini langkah Mark tampak lebih cepat dari langkahnya.
"Semangat, Haechan!" Haechan menoleh ke belakang ketika ia mendengar seruan tersebut bergema di lobi. Tersenyum karena malu namanya berkumandang di satu lobi besar hotel, ia pun memberikan jempol kepada Jeno, menggumamkan terima kasih dalam diam dengan lucunya.
Mark tak pernah melihat senyum manis dan pandangan malu-malu itu Haechan berikan pada alpha manapun. Juga cicitan pelan nan lembut itu, Mark belum pernah mendengar Haechan memberikannya kepada orang yang baru ia kenal. Wajah datar juga lisannya yang sopan nan profesional bak hilang seketika ketika di lobi tadi, ketika berada di depan Jeno tadi. Membuat ia heran dan sedikit kesal—ya kesal. Kesal karena Haechan tak pernah bersikap seperti itu kepada dirinya!
Kini meeting tengah berlangsung. Fokus Mark kini terbagi antara pembicaraan bisnis dengan Tuan Osaki, calon investor mereka; dan Haechan yang sekarang duduk di pojok ruangan, mencatat tiap-tiap perjanjian dan ketentuan dengan telaten, namun bukan itu poin yang membuat Mark terfokus menatap sang sekretaris, fakta bahwa mukanya memucat dengan keringat yang bercucuran di dahinya lah yang membuat Mark terus mencuri pandang khawatir.
Lalu ketika ia melihat Haechan mulai oleng dari tempat duduknya, ia pun berdiri. Permisi dengan sopan kepada Tuan Osaki menggunakan bahasa Jepang seadanya, alpha itu berjalan menuju Haechan, "kau sakit, Sekretaris Lee," ucapnya.
Haechan mengerjapkan matanya melihat sang atasan kini berada di hadapannya. "Tidak, Tuan," jawab Haechan cepat. Ia menegakkan duduknya lalu menatap laptop dengan serius.
Mark berkacak pinggang tampak frustasi. Tidak bisa begini... Haechan benar-benar tampak tak baik-baik saja, ia harus istirahat. "Kau istirahat lah dulu, Sekretaris Lee. Tugasmu akan ku berikan pada Tuan Nakamoto. Jika kau sudah baikan kau bisa melanjutkannya," ujar Mark akhirnya.
Haechan baru saja hendak menolak, namun pandangan khawatir yang atasannya berikan membuat Haechan terdiam segan. Ia tak mungkin menolak tawaran baik bos-nya itu, setelah membuat Mark sebegini cemas kepada dirinya. "Baik, Tuan," Lalu dengan pelan ia mengemas pekerjaannya, menyimpan laptopnya, lalu berdiri dari tempat duduknya.
Mark juga berjalan kembali ke hadapan Tuan Osaki hendak melanjutkan pembahasan mereka. Namun suara terkesiap dari arah belakangnya ketika ia berjalan kembali membuat Mark membalikkan badan, melotot ketika melihat Haechan tengah berpegangan pada sisi kursi—omega itu hampir saja jatuh.
"Sekretaris Lee, apa kau tak apa?" Mark dengan cepat kembali menghampiri Haechan, berusaha membantu omega itu agar kembali berdiri.
"Tidak apa, Tuan," walaupun ia menjawab tak apa, tapi tubuhnya begitu lemah.
Tidak. Tidak bisa begini.
Haechan sedang sakit dan begitu lemah, ia bahkan sepertinya tak bisa berjalan sendiri untuk kembali ke kamarnya. Mark harus mengantarnya kembali. Mark harus. Namun sangat tak sopan bagi dirinya untuk meninggalkan klien di tengah pembicaraan. Tak habis pikir, Mark pun meraih ponselnya, menekan tombol panggil kemudian berpesan,
"Jeno, ke conference room lantai 12 sekarang. Antar Haechan kembali ke kamarnya, dia sakit,"
Kepala Haechan sudah terasa begitu pusing ketika badannya dibopong keluar oleh Jeno. Ia hampir saja benar-benar jatuh ketika berada di dalam lift jika saja Jeno tidak merangkul badannya.
"Badanmu panas," Jeno berucap setelah meletakkan punggung tangannya di dahi Haechan. "Kita harus ke dokter. Apa setelah ini kau luang? Aku akan membawamu ke klinik, aku tau beberapa klinik di dekat sini,"
Haechan yang sudah tak berdaya hanya bergumam tak jelas menanggapi apapun yang Jeno bilang.
Kemudian bunyi dentingan lift pun terdengar, pintu lift terbuka. Jeno membawa Haechan berjalan keluar dari lift, "kau ingin istirahat sebentar atau langsung aku bawa ke klinik?" Tanya Jeno.
"Terserah—lakukan, terserah...." Dengan gumaman yang semakin tak jelas, Haechan menjawab. Jeno mendesah pelan mencoba memikirkan pilihan terbaik. Ia mendudukkan Haechan di sofa lobi kemudian dalam sekali helaan nafas, bersamaan dengan nafas Haechan yang kian memberat dan mukanya kian memerah, Jeno melihat keluar, "kita akan pergi ke klinik sekarang," katanya.
Dan alpha itu membawa Haechan, yang masih terbalut jas kerja lengkap, ke motor sportnya yang terparkir di depan hotel. Memakaikan omega itu helm, menyembunyikan surai gelapnya. Membawa omega itu untuk duduk di kursi belakang memeluk pinggangnya. Lalu motor itu melaju kencang dengan Haechan yang tenggelam di punggung Jeno, mengistirahatkan kepalanya yang pening.
Seperti kata Jeno, klinik itu berjarak tak jauh dari hotel. Haechan bahkan rasanya masih belum cukup menyandar di punggung Jeno ketika alpha itu menggoyang badannya, membangunkan istirahat kilatnya.
Ia melepaskan helm-nya, turun dengan pelan dari motor Jeno. Bersama dengan Jeno, ia masuk ke dalam klinik. Jeno mempersilahkannya untuk duduk di kursi tunggu sedangkan alpha itu mengurus segala macam urusan di meja resepsionis.
"Sebentar lagi namamu akan dipanggil," ucap Jeno sekembalinya ia dari meja resepsionis. "Tidurlah sebentar, aku akan menelpon Mark," ucapnya kemudian duduk di samping Haechan.
Haechan hanya bergumam pelan. Kemudian ia menyenderkan badannya, berusaha meredakan kepalanya yang pening—tak sadar bahwa kini kepalanya sudah bergerak ke samping, menyender pada bahu lebar Jeno.
"Mark pasti membunuhku kalau melihat ini," Jeno terkekeh menatap kepala Haechan yang menyender di bahunya. Ia sedikit menggeser kepala tersebut agar semakin nyaman bersandar. Jeno dapat mendengar nafas pelan Haechan yang mulai teratur, ia mendesah nafas lega lalu merogoh koceknya hendak menelpon Mark—juga memarahi pria itu karena sialan, atasan mana yang membiarkan karyawannya yang sakit untuk tetap bekerja; bahkan ikut dinas ke luar negeri?
"Aku di klinik," itu kalimat pembuka Jeno ketika panggilannya sudah tersambung dengan Mark. Dapat ia dengar sayup-sayup suara terkejut Mark di ujung sana.
"Kau tidak membawanya ke kamar?"
Jeno mengerut tak suka. Dengan keadaan Haechan yang sudah sebegini lemah, apa membawanya ke kamar menjadi salah satu pilihan utama? "Kau gila?" Akhirnya Jeno berucap. "Dia sakit dan kau masih menyuruhnya bekerja—bahkan ikut dinas ke luar negeri?! Ini eksploitasi pekerja kau tau. Apa selama ini kau kejam kepada dirinya makanya dia tidak ingin membuka hati kepadamu? Kalau iya, aku sangat mewajarkan. Omega mana yang ingin berhubungan dengan—"
"Jeno sialan!" terdengar geraman kesal Mark di ujung sana. "Aku akan menyusul ke sana. Kau dimana?" Dengan nada yang naik satu oktaf, Mark bertanya.
Jeno mendecih malas. "Aku tidak butuh kau di sini, toh, sebentar lagi dia akan diperiksa. Kami akan kembali sekitar 30 menit lagi, tenang saja, sekretaris-mu aman bersamaku," dalam suara jengahnya, Jeno sempat tertawa, menertawakan bunyi grusak-grusuk yang terdengar di ujung sana. Alpha bodoh itu pasti sedang panik. "Aku tak menyangka kedatanganku yang awalnya untuk menemui teman lamaku malah berakhir menjadi jalan-jalan berdua dengan omega manisnya. Hahahaha kau bahkan menemuiku di lobi sangking tak inginnya kau membiarkan aku bertemu dengan sekretaris manismu ini—lalu lihat sekarang! Kami berjalan naik motorku berdua jika kau ingin tau," goda Jeno. Ia tersenyum jenaka menunggu reaksi teman bodohnya itu. Namun sedetik dua detik ia menunggu, suara di seberang sana terdengar hening, lalu pip! bunyi itu pun terdengar. Panggilan dimatikan sepihak oleh Mark. Jeno menjauhkan ponselnya dari telinga, tersenyum miring menatap ponselnya. Ah, sepertinya sahabatnya itu akan menghujamnya sehabis dari sini.
Ada sekitar 8 menit mereka menunggu di ruang tunggu sebelum akhirnya nama Haechan dipanggil. Jeno membantu Haechan berjalan menelusuri lorong untuk masuk ke ruang dokter. Haechan langsung diperiksa oleh dokter wanita tersebut. Ruang praktik itu hening, hanya ada suara pena dan gerak gerik dokter itu yang memenuhi ruangan.
"Apakah kau sudah lama merasa tidak enak badan?" Dengan bahasa Jepang, dokter itu bertanya kepada Haechan setelah memeriksa berbagai bagian vital Haechan. Haechan yang kini sudah sepenuhnya sadar dari istirahatnya tadi, mengerutkan dahinya bingung. Bahasa Jepangnya bagus namun disaat tidak kondusif seperti ini, apapun tak bisa diproses oleh otaknya.
"Dia baru saja sampai dari Korea tadi pagi," sebagai gantinya, Jeno lah yang menjawab dengan bahasa Jepang fasihnya.
"Jet lag?" Tebak dokter itu. Ia lalu menulis di kertasnya.
"Mungkin saja," ujar Jeno.
Lalu pemeriksaan pun selesai. Dokter itu memberikan secarik kertas tadi kepada Jeno untuk alpha itu berikan ke bagian farmasi untuk pengambilan obat.
Haechan membungkuk hormat sekejap sebagai rasa terima kasihnya. Ia lalu berjalan menuju pintu mengikuti Jeno. Namun belum sampai langkahnya sampai ke luar pintu, tiba-tiba saja dokter itu memanggil dirinya. Haechan membalikkan badan, menatap bingung dokter itu. Sang dokter hanya tersenyum kepada Haechan lalu membuat gestur seakan menyuruh Haechan mendekat ke arahnya. Dan dengan begitulah Haechan berjalan kembali ke meja sang dokter, menatap penuh tanya dokter yang kini meraih sesuatu di rak samping mejanya.
"Ini," Haechan tak begitu mengerti kapsul obat apa yang telah dokter itu berikan kepada dirinya, kemasannya bertuliskan kanji hitam besar. Ia menatap dokter itu penuh tanya ketika sang dokter berkata, "untuk jaga-jaga," dengan bahasa Jepang yang akhirnya bisa Haechan pahami.
Melihat Jeno yang sudah menghilang dari pandangannya, Haechan dengan cepat langsung membungkuk kepada dokter tersebut. Mengambil obat tersebut, memasukkannya ke dalam kantong jasnya lalu berlari menyusul Jeno.
Hal pertama yang Mark lihat ketika mencium feromon manis persik menguar di sepenjuru lobi hotel ialah Haechan yang berjalan pelan di samping Jeno. Muka omega tersebut tampak lelah sedangkan Jeno di sampingnya terus tersenyum mengembang menatap Mark lalu balik menatap Haechan.
Mark berjalan cepat menuju Haechan, berdiri dengan khawatir di depan omega tersebut. "Apa kau tak apa?" Tanyanya.
Haechan menatap Mark, membungkuk pelan lalu mengangguk. "Aku tak apa, Tuan,"
"Kita langsung ke kamar, aku mau kau istirahat penuh malam ini." Mark meraih tangan Haechan, mencoba membawa omega itu agar pergi ke atas bersamanya. Namun rangkulan tangan itu ditepis, Mark menatap bingung Haechan.
"S-saya bisa sendiri," Haechan berucap pelan. Ia membungkuk sopan sekali lagi lalu berjalan melewati Mark. Mark terdiam menatap tangannya yang ditepis, ia menghadap ke belakang sebentar, menatap sang omega yang sudah berlalu masuk ke lorong menuju lift.
"Hey dude, pelan-pelan modusnya," dan tersisalah Jeno menertawai percobaan tidak mulus Mark. "Kau pasti punya cara lain untuk memilikinya, jadi pelan-pelan saja,"
"Sialan, diam!" Mark mendengus kesal mendengar tawaan Jeno. Ia menyimpan tangannya yang ditepis Haechan tadi ke dalam saku jasnya.
"Tapi kau seperti tidak tulus membantu dia kalau dengan cara begitu," ujar Jeno. "Ditambah lagi fakta bahwa dia sakit namun kau membawanya untuk dinas ke luar negeri...? Mark, modus mu berlebihan,"
"Aku benar-benar khawatir!" Mark berseru. "Aku juga tidak tau kalau dia akan sakit seperti itu. Dia tampak baik-baik saja kemarin, dia juga bahkan bilang bahwa dia hanya jet lag," argumen Mark. Ia tak suka dianggap tidak bertanggung jawab atas karyawan manisnya.
"Jadi, apa kata dokter?" Mengesampingkan rasa kesalnya, Mark bertanya, menodong Jeno dengan tatapan tajamnya.
"Dia kelelahan, meriang. Kau jangan terlalu memaksanya bekerja, kalau perlu kau selesaikan sendiri pekerjaanmu di Jepang ini, biarkan dia beristirahat,"
"Memang itu niatku," ucap Mark tajam. "Aku akan ke atas merawatnya," Mark beranjak, siap-siap meninggalkan Jeno.
Sebelum Mark benar-benar meninggalkan sang sahabat, Jeno, mencegat tangan Mark, berpesan kepada alpha tersebut, "jangan melakukan hal yang bodoh Mark, kulihat-lihat, dia sedang sensitif," katanya.
Mark menatap Jeno kemudian mengangguk. "Tentu saja," senyumnya.
"Apa kau sudah makan?"
Haechan terlonjak kaget ketika di kursi ruang tengah suit hotelnya sudah ada Mark yang menuangkan teh ke dalam cangkir.
Haechan baru saja mandi, berendam di dalam bathtub selama, mungkin setengah jam, membersihkan diri karena badannya terasa sangat lengket. Ia dengan kikuk membungkuk kepada Mark, merasa begitu segan melihat bos-nya yang masih berpakaian rapi bak pagi hari di kantor, sedangkan ia sudah berganti kostum lebih santai dengan kaos dan celana pendek biasa.
"Sekretaris Lee, kau belum makan, kan?" ucap Mark Lee berdiri mendekat ke arah Haechan. Haechan mengerjap, ia jadi ingat bahwa ia melewatkan jam makan siangnya karena tadi ia ketiduran.
"Belum," jawab Haechan akhirnya.
Mark tersenyum. "Kau mau makan apa? Aku akan memesan pesan antar," Mark yang tadi berdiri di depan Haechan kini berjalan menuju sofa, terduduk sambil membuka ponselnya. Sebelum mengutak-atik ponselnya, Mark menatap Haechan. "Jangan berdiri terus, kau sedang sakit, Haechan" ucapnya yang mana membuat Haechan langsung mencicit duduk di atas ranjangnya.
"Saya akan memesan ramen saja, Tuan Lee,"
"Haechan, kau sedang sakit. Ramen tidak baik, kita makan makanan yang lain," tolak Mark. "Bagaimana dengan nasi ikan muda? Aku tadi melihat di internet kalau—Haechan, apa kau baik-baik saja?" Penjelasan Mark terputus saat melihat Haechan, yang terduduk di atas tempat tidur, memajukan badannya ke depan hingga menyentuh kakinya yang sedang bersila, seakan badannya terlipat, seakan ia sedang menahan sakit di perutnya. Mark berdiri dari kursinya, berjalan dengan cemas menuju Haechan untuk memastikan keadaan pria tersebut.
"Haec—"
"Jangan sentuh!"
Mark terlonjak kaget oleh ringisan melengking itu. Tangannya yang tadi menyentuh bahu Haechan, hendak memanggil omega itu, langsung tertarik terkejut melihat keadaan omega itu sekarang; wajahnya yang menatap Mark kini memerah, penuh keringat, menatapnya seakan penuh amarah.
"M-maaf," Mark melangkah mundur. Nafasnya kian tercekat seiring dengan feromon manis Haechan yang kian menebal—omega itu benar-benar marah kepadanya.
"Maafkan aku karena telah membawamu ke perjalan dinas bahkan di saat kau sakit. Kau silahkan beristirahat hingga perjalanan dinas ini selesai—"
"Jas!" Sekali lagi ocehan Mark dicela oleh sang sekretaris. Tangan ramping omega itu terulur, menunjuk ke arah sesuatu yang berada di dekat lemari. "Kantong jas... tolong ambilkan...." Lirihnya.
Mark menaikkan alisnya, mengerti apa maksud sang omega. Ia lalu berlalu cepat menuju ke arah lemari, mengambil jas lalu merogoh satu persatu kantongnya hingga tangannya menemukan sesuatu. Ia melihat barang itu sekilas—sebuah obat, sepertinya ini obat dari dokter yang Haechan temui tadi.
Mark berjalan cepat menuju Haechan. Mengambil air putih botol yang tersedia di laci samping tempat tidur, ia membawa obat tersebut ke depan matanya, berusaha membuka kemasan silver itu. Namun matanya seketika menyipit aneh ketika membaca sebuah tulisan romawi yang tampak besar membentang di kemasan. Ia dengan cepat menatap Haechan, melototkan matanya tak percaya ketika dengan suara berat ia bertanya, "Haechan, kau heat?"
Dan omega yang sedari tadi melipat badannya, menyembunyikan mukanya di selimut, kini menatap Mark dengan wajah basahnya. Feromon manisnya menguar dengan luar biasa. Dengan terisak sang omega menatap Mark, "alpha...." Mengulurkan tangannya, ia berlirih menyambut Mark.
'kau pasti punya cara lain untuk memilikinya, jadi pelan-pelan' mungkin kalimat Jeno yang tadi adalah cara yang paling benar mendeskripsikan keadaan Mark sekarang. Ia sudah menahannya selama bertahun-tahun; menerima segala penolakan, memendam segala perasaan, hingga menahan pahit di hatinya seorang diri. Namun kini jalan seakan terbuka lebar kepada dirinya, teriakan dan tangisan omega itu terus berkumandang, memanggil dirinya, mengundang dirinya, memberikan Mark akses penuh atas raganya.
Namun Mark, seperti orang bodoh, terdiam di sisi ranjang. Ia menggenggam tangannya erat-erat, menancapkan kukunya di daging telapak tangannya, berusaha membiarkan dirinya terjaga, berusaha agar ia tetap pada batasnya. Ia bisa saja keluar kamar untuk mempertahankan kewarasannya, namun entah kenapa ia tetap di sini, membiarkan dirinya tersiksa habis-habisan.
"A-alpha... aku mohon...." Haechan mengerang. Ia terus berguling, menaikkan sedikit kaosnya untuk mengelus perutnya sambil memohon terisak ke arah Mark.
Mark mengeraskan rahangnya, ia semakin menancapkan kukunya hingga mungkin telapak tangannya sudah penuh dengan tetesan darah.
"Alpha, alpha, panas... aku butuh dirimu, Alpha... alpha tolong... alpha!" Rengekan Haechan semakin kuat berkumandang. Kaosnya yang tadi hanya tersingkap sampai ke batas perut kini sudah hampir setengah terbuka; menampakkan badan kecoklatannya, mengekspos puting merahnya yang sudah menegang sempurna.
Haechan menangis. Dengan tangan bergetar, omega itu membuka bajunya sambil menangis. Mengucapkan seribu kali kata alpha dalam tangisnya. Mark dari sini hanya melihat, memperhatikan dengan nafas berat bagaimana omega itu melempar kaosnya sembarangan, membuka celananya dengan gerakan asal, yang mana membuat Mark mengerang, mengeluarkan feromonnya dengan semakin pekat dan membuat Haechan semakin menggelinjang, menangis sejadi-jadinya dengan wajah memerah mencoba meraih tangan Mark yang tak dapat ia raih karena dirinya yang sudah tak kuat beranjak dari kasur.
Badan Haechan jatuh ke dalam selimut. Isakan terus terdengar, kini tangannya menggerayangi badannya sendiri; menyentuh sisi pinggangnya, mendesis ketika merasakan basah di bagian bawahnya, berteriak ketika ia meremas penisnya yang membengkak dari luar celana dalam, menangis tersedu-sedu ketika mencubit putingnya, mengusap puting itu pelan lalu mencubitnya lagi. Haechan menggelengkan kepalanya tak karuan, seakan tak bisa lagi menerima kenikmatan ini.
Air matanya meleleh ketika ia menoleh ke samping. Dengan mata berair Haechan menatap mata sang alpha, "alpha, would you mind to fuck me, please?”
Dan sepertinya sampai di sini sajalah kewarasan Mark berada.
"Haechan, aku peringatkan kembali, aku tidak akan berhenti setelah ini. Lebih baik kau hentikan aku sekarang—"
"Alpha! Cepat lalukan!"
Mark menggeram menatap omega yang kini berada di bawahnya. Air matanya telah membasahi seluruh wajahnya, membuat pipinya memerah hebat. Bibir bengkak yang sudah terbasahi saliva habis ia esap sedikit tadi menambah ketidakwarasan Mark petang ini. Mark memegang bahu Haechan, mendesis merasakan libidonya yang melonjak hanya karena satu sentuhan tersebut. Mengindahkan kata Haechan, menuruti kemauan omega manis satu ini, Mark pun kembali menurunkan kepalanya, menubrukkan bibir tipisnya ke atas bibir hati nan manis sang omega.
Bibir Haechan tanpa Mark perintahkan sudah terbuka sendiri, mempersilahkan agar sang alpha masuk, mengecap mulutnya dengan berantakan. Mark dengan senang hati menerima tawaran masuk dari sang omega tersebut, ia bawa lidahnya untuk mengecap langit-langit mulut itu, mengetuk gigi rapi sang omega, kemudian menarik lidah panas tersebut, saling beradu bertukar ludah.
Haechan di bawah Mark hanya menurut termabuk oleh permainan lidah alpha itu. Tangan kirinya meremas bisep Mark, meremas kemeja putih khas orang kerja yang masih menempel di badan sang alpha. Sedangkan tangan kanannya turun ke bawah, berjumpa dengan puting tegangnya yang dengan tangan bergetar ia sentuh; ia usap kemudian cubit.
Ciuman mereka semakin dalam ketika tangan Mark yang tadi berada di bahu Haechan kini berpindah ke dagunya, sedikit mengangkat dagu tersebut, memperdalam pangutannya. Suara kecipan kuat menemani desahan Haechan di kamar ini. Suara itu begitu basah, sebasah jari Haechan yang kini turun ke bawah, bertemu dengan lubang yang sudah terbuka, mengerut hendak diisi.
'hah'
Pangutan terlepas. Keduanya terengah. Benang-benang saliva terbentuk antar dua bibir bengkak tersebut, terjatuh hingga membasahi dada tan sang manis juga mengotori kemeja putih mahal sang alpha.
Peluh memenuhi seluruh inci wajah Mark, membuat rambut yang sudah di-pomade rapi itu hancur berantakan, entah itu karena ciumannya yang menggebu-gebu atau karena tangan Haechan yang lasak mengusak, entahlah, namun diri Mark yang berantakan ini... tampak sangat seksi.
Begitu seksi hingga Haechan mengerang, merasakan penisnya menegang hebat, merasakan lubangnya berkedut gatal.
"A-alpha...." Dengan suara manis pelan, bak sangat pasrah, Haechan mendongak. Ia dengan berani mengecup pelan bibir panas tersebut. Lalu ketika ia melepaskan kecupannya, Mark dengan senyumnya langsung menarik diri, membuat omega Haechan panik bukan main.
"JANGAN PERGI!" Haechan memekik. Tangisnya keluar lagi, tangannya bergetar mencoba meraih Mark kembali.
"Aku tidak akan pergi," Mark berucap. Ia terduduk di depan Haechan, memberikan seringaiannya kepada pria tersebut. Tangannya perlahan naik ke atas, membuka kancing kemejanya, menatap Haechan dengan mata tajam alpha-nya selagi ia melakukan hal seksi tersebut.
Haechan yang tadi hendak duduk, hendak meraih sang alpha, kini kembali berbaring, merasa lemah mencium aroma mint menyeruak memenuhi indra penciumannya.
"M-mark...." Lirihan pelan nama tersebut keluar dari mulut sang omega. Mata sang manis berkabut oleh air mata. Ia menghadap ke bagian bawahnya, menatap Mark yang dengan cepat membuka kemejanya, menyisakan tubuh tegap berototnya tersaji di depan mata Haechan. Haechan melenguh menatap otot-otot perut tersebut, tangannya terulur, mencoba meraih Mark, ingin merasakan bagaimana rasa perut atletis itu di tangannya.
Namun bukannya menyambut uluran tangan frustasi Haechan, tangan Mark malah terulur ke arah lain, menyambut paha Haechan kemudahan membuka lebar paha tersebut. Haechan melenguh ketika tangan nakal yang ia damba untuk bisa ia genggam itu mengusap gembungan celana dalamnya, memanjakan area yang basah karena pre-cumnya itu dengan jempol pria tersebut.
Mark tersenyum melihat betapa basahnya Haechan di bawah sini. Ia dengan cepat menarik celana dalam hitam itu, membuat penis kecil yang sudah memerah hebat dan basah luar biasa terungkap, mengacung tegak layaknya senang ia bisa dibebaskan. Mark senang mendengar lenguhan Haechan yang terus keluar ketika jari-jarinya mulai bermain di pucuk penis omega itu; mengusap kemudian memutari lubang kencing yang sudah luar biasa basah tertutup oleh sperma.
"Aku belum menyentuh mahkotamu padahal," kekeh Mark menatap ke sang omega yang tengah menangis pelan sambil membuka lebar-lebar selangkangannya, berusaha memamerkan lubang merah merona yang sudah becek siap Mark kuasai.
"S-sentuh!" Seru Haechan. "Cepat sentuh!"
Mark menyeringai. Ia memajukan badannya, kembali mengukung Haechan. Feromon mint nya langsung menguasai Haechan saat wajah tampan itu berada tepat sejajar dengan wajahnya.
"Terlalu banyak menuntut," jari Mark mengelus pelan rahang Haechan. Terasa sedikit bekas basah habis mempermainkan penis omega itu berjejak di rahang sang omega. "Siapa yang alpha di sini?"
Haechan menggigil mendengar suara berat itu. Cairan lubrikasinya di bawah sana semakin banyak keluar karena kini Mark benar-benar telah mendominasi dirinya. Bau mint itu melingkupi Haechan, membuat ia melenguh pelan, berkaca-kaca merasa tak berdaya.
"Tolong...." Haechan memegang lengan Mark, meremas lengan tersebut pelan. Pipinya memerah, matanya terus saja berair, entah apa yang ia tangisi. Mark tersenyum bangga, kau benar-benar tunduk kepadaku, Lee Haechan.
"Apa yang harus kutolong?" Mark belum pernah menggoda sebelumnya, dan sepertinya saat inilah saatnya lelaki itu mencobanya—menggoda sang omega hingga sang omega manis itu bertekuk lutut di hadapannya.
Haechan mengerutkan dahinya tak nyaman. Ia memegang pergelangan tangan Mark, lalu dengan susah payah membawa tangan tersebut ke dadanya, menaruh tangan itu di atas puting tegangnya, "i-ini," ucapnya. "Gatal,"
Mark sedikit menurunkan badannya, mensejajarkan wajahnya dengan puting yang dimaksud Haechan. "Ini gatal?" Mark dengan wajah mengamati yang dibuat-buat menatap puting merah muda itu dengan seksama.
"I-iya!" Haechan berseru tak sabaran. Bagian bawahnya mengerut merasakan nafas hangat Mark menyentuh puting kirinya.
"Harus aku apakan?" Tanya Mark jahil.
Haechan mengerut. Ia menatap Mark dengan tak sabaran. "Mainkan!" Pintanya. "Hisap, sedot, tolong...."
"Seperti ini?" Mark menurunkan kepalanya, membuka mulutnya sedikit lalu menjepit puting kenyal itu di bibirnya. Lidahnya menyentuh pucuk merah jambu itu, sedikit mengusapnya lalu bermain membentuk pola melingkar kecil di atas pucuk tersebut; membuat Haechan berteriak, memeluk erat badan Mark dengan kakinya, menggesekkan penis tegangnya di perut atletis sang alpha. Mark tersenyum senang melihat reaksi omeganya itu. Ia melepaskan kulumannya, terkekeh menatap Haechan yang melotot merasakan kehangatan di dadanya menghilang.
"Apakah seperti itu?" Seakan permainan tadi hanyalah uji coba, Mark bertanya.
Haechan mendesah frustasi. Ia dengan brutal mengangguk. "Iya iya seperti itu. Iya alpha seperti itu! Lakukan lagi! Lakukan lebih!"
Mark terkekeh mendengar teriakan pasrah omega manisnya tersebut. Ia kembali menurunkan kepalanya ke dada sang omega, mengulurkan lidahnya lalu menyapu puting itu. Ia buat gerakan berputar di pucuk puting kiri sang omega, membuat sang omega mendesah manja tak karuan.
Perasaan geli di puting kirinya sebab gelitikan lidah Mark belum seberapa dengan rasa panas yang ia rasa dari bagian bawah sana—tangan kanan Mark yang tak menopang tubuhnya turun ke bawah, menarik kaki Haechan agar sedikit terlipat hingga tersingkap lah lubang merah berkedut itu. Jari alpha itu ia bawa untuk menyapa pintu lubang Haechan, bermain dengan cairan lubrikasi alami di bawah sana. Jempol Mark bertemu sapa dengan lubang merah tersebut, sedangkan telunjuknya mengelus buah zakar Haechan, bermain dengan gerakan lambat.
Haechan mengerang. Mark telah dengan gila bermain di titik-titik sensitifnya; sedari tadi menghisap putingnya dengan gerakan lambat, menyentuh pintu lubangnya, mengusap-usap buah zakarnya. Ia semakin meremat rambut hitam Mark, mendorong agar kepala tersebut semakin dalam menghisap putingnya, mempermainkan lidahnya, membusurkan dadanya maju, mempersilahkan Mark untuk terus menyusu. Sedangkan tangan Haechan yang satunya pergi ke puting kanannya, mengusap puting tegang yang belum tersentuh hangatnya isapan sang alpha itu pelan. Mencubit, mengusap, kemudian memelintir.
Mark di lain sisi menikmati menu kulumannya petang ini. Ia kulum, jilat, hisap, kadang juga menggigit pelan puting mungil itu sambil sesekali tangannya menggoda, entah itu lubang atau penis kecil sang omega di bawah sana. Mark suka puting ini, ia sampai berharap semoga ada sedikit tetesan cairan putih manis keluar dari puting lembut ini.
Mark yang sedari tadi terpejam menikmati permainannya, kini terkekeh ketika tak sengaja ia melihat di puting sebelah kanan sana, ada tangan bergetar sang omega yang dengan seadanya memberikan kenikmatan pada puting yang belum Mark sentuh sama sekali tersebut.
Maka Mark pun melepaskan kulumannya, bunyi kecipak basah langsung terdengar ketika Mark melepaskan susunya.
"Alpha...." Lirihan Haechan langsung terdengar tepat sesaat setelah kuluman terlepas. Mark menatap wajah tak terima omega itu, yang semua kenikmatannya ditarik oleh Mark, bahkan tangan nakal Mark yang bermain di bawah sana sudah naik kembali, mengelus puting kanan omega itu dengan jari-jari basahnya.
"Ku lihat yang sebelah kanan juga ingin diperhatikan," Mark mencubit puting kanan tersebut, membuat desahan halus Haechan mengalun merdu.
"Iya! Dia ingin diperhatikan! Alpha, hisap...."
Tanpa disuruh pun Mark pasti akan melakukannya. Ia menurunkan kepalanya, mengecup puting tegang itu lembut, lalu menjulurkan lidahnya, sekali lagi mengusap pucuk merah muda itu. Bibirnya menjepit puting merah bak kelopak bunga sakura tersebut, membasahi puting tegang itu dengan lidah basahnya, menggigit pelan pucuk lembut itu.
Tangan Mark menyusuri sisi ramping Haechan; turun dari bahu, menyusuri lengannya, lalu berlabuh mengusap pinggang ramping Haechan. Suara hisapan basah juga lenguhan Haechan berkumandang di sepenjuru kamar ini. Badan Haechan berdesir merasakan perut bawah pusarnya dielus lembut telapak tangan Mark.
Hisapan Mark pada putingnya semakin menjadi seiring Mark yang mulai meremas-remas penisnya kuat. Bunyi becek dari bagian bawah juga dada Haechan membuat lelaki itu hilang akal. Ia semakin membusurkan dadanya, jari-jari kakinya bergulung kenikmatan, air liurnya sudah meleleh—ini begitu nikmat.
"Ah!" Dan tak perlu waktu lama, Haechan pun mencapai pelepasan pertamanya. Badannya bergetar hebat, degup jantungnya menderu cepat, air matanya menggelinang membasahi wajahnya.
Mark melepaskan kulumannya. Tersenyum menatap hasil permainannya—menatap puting Haechan yang basah dan membengkak, merasakan penis panas itu berkedut mengeluarkan sisa-sisa spermanya, menatap wajah kacau sang omega dengan seringaian puas.
Mark menarik dirinya dari kukungan sang omega. Ia biarkan lelaki itu mencapai euforia-nya, bergelinjang hebat selama hampir 2 menit lamanya. Mark lantas membuka sisa pakaiannya, melepaskan celana kain yang masih menghalangi ereksinya lalu membuangnya ke sembarang tempat.
Mark yang sudah telanjang bulat berguling di samping Haechan. Ia menatap wajah merah yang masih terpejam menjemput kenikmatan tersebut, tangannya ia bawa untuk menyeka air mata yang menggelinang. Mark mengecup pelan pipi merah tersebut, lalu ciumannya semakin turun ke bawah, menuju leher mulus sang omega, tempat dimana feromon persik manis itu berasal.
Bibir Mark mengecup leher tersebut, mencoba mencari-cari titik manis sang manis. Hingga di suatu titik, di bawah rahang kiri Haechan, Mark menemukan sesuatu yang sedikit menggumpal, yang berbau harum dan memabukkan—kelenjar feromon Haechan. Mark membawa hidungnya menempel di titik itu hingga tak sadar penisnya langsung menegang hebat. Ia kecup titik itu, kemudian ia jilat. Titik feromon ini terasa begitu nikmat, Mark hampir pingsan bak orang mabuk berat karenanya.
Feromon kedua manusia ini saling beradu. Mint bercampur persik manis menguar di udara.
Haechan bangkit dari surga dunianya, matanya secara perlahan terbuka. Bak tak dikasih jeda, badannya kembali menggelinjang merasakan geli dan nikmat di lehernya, di pusat feromon sang omega. Ia meremat tangan Mark yang melintang memeluk perutnya, mencoba menyalurkan rasa nikmatnya pada tangan berurat itu. Tangan Mark terus memeluk erat badan ramping omega itu, menyusuri sisi pinggang ramping sang omega kemudian turun ke bawah hingga sampai di pipi pantat Haechan. Mark meremas pantat kenyal tersebut, sangat keras hingga ia yakin pasti tangannya berbekas di pantat mulus itu.
"Alpha…." Erang Haechan ketika Mark dengan nakalnya mulai membuka belahan pantatnya, membuat lubangnya yang basah bersentuhan langsung dengan udara kamar yang dingin. Omega itu semakin memiringkan kepalanya, memberikan sang alpha akses penuh menuju titik manisnya.
Nada manja terus-terusan keluar dari bibir hati Haechan. Tangannya mendorong kepala Mark, meminta agar hisapan, kecupan, dan jilatan kecil di kelenjar feromonnya tak terhenti. Kaki mulus kecoklatannya naik memeluk erat pinggang sang alpha, membuat kejantanan mereka saling bersentuhan, membiarkan sang alpha untuk semakin mudah bermain di pintu lubangnya—sekadar mengusap sama seperti tadi.
"Alpha alpha! Langsung masuk! Tolong…." Teriak Haechan frustasi. Rasa nikmat di kelenjar feromonnya membuat lubangnya semakin berkedut tak karuan, ditambah lagi Mark yang kini hanya terus mengusap pintu lubangnya, memberikan rasa nikmat namun Haechan tentu saja ingin lebih!
Mark menarik jilatannya pada kelenjar feromon Mark, membuat Haechan terkesiap panik.
"Alpha!"
"Kau ini… terlalu banyak meminta," Mark menaikkan kepalanya, mensejajarkan wajah tampannya dengan wajah kacau Haechan, kemudian tersenyum. Jari yang ia gunakan untuk bermain dengan daerah bawah becek tersebut kini ini bawa untuk berputar, melingkar di depan pintu masuk Haechan. "Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" Tanya Mark dengan seringaiannya.
Haechan semakin membuka lebar selangkangannya, memegang pahanya agar semakin terbuka lebar. "M-mainkan, masukkan!" Pintanya.
Tak butuh waktu lama, jari telunjuk Mark kini sudah masuk sedikit ke pintu lubang itu, seakan sekadar mengintip keadaan di dalam sana. Namun walaupun hanya masuk sedikit, Haechan sudah berteriak nyaring, penis mungil pria itu langsung tegak sempurna.
"Kau ingin aku memasukkan sesuatu ke dalam ini?" Mark menggoda, ia menaikkan satu alisnya.
Haechan mengangguk cepat. "Iya! Iya, masukkan alpha!" Serunya.
Mark mengecup sebentar bibir Haechan lalu ia menarik diri, yang mana Haechan hampir panik, namun langsung mendesah lega ketika sang alpha duduk di depan selangkangannya, memegang paha Haechan agar semakin terbuka lebar.
"Kau ingin aku masukkan lidahku ke dalam itu?" Mark bertanya, menunjuk lubang yang luar biasa basah oleh cairan bening itu dengan arah matanya.
Haechan menatap ke bawah, melenguh menatap senyum seksi Mark. "Iya iya iya! Jilat lubang itu alpha, masukkan lidahmu!"
"Kau ini memang suka dijilat, ya," Mark kini turun ke bawah, bertemu dengan paha coklat Haechan. Ia mengecup-ngecup pelan paha tersebut lalu tiba-tiba, dengan gemasnya, ia mulai menggigit pangkal paha Haechan, meninggalkan sedikit sisa gigitan di sana, membuat ringihan serupa lenguhan terdengar dari sang manis. Mark mengecup tanda gigit tersebut kemudian menaikkan kepalanya, menatap dengan seksama kemaluan Haechan; penis mulus yang sedari tadi terus basah oleh spermanya. Pantat yang memerah, yang seperti Mark duga tertinggal sedikit tanda remasan di pipi pantat mulus tersebut. Lubangnya yang sudah benar-benar basah kuyup.
Mark membawa tangannya ke penis Haechan, mengocok penis tersebut, mengusap lubang kencingnya dengan jempolnya. Lalu tanpa aba-aba, Mark langsung menurunkan kepalanya, memposisikan mulutnya di daerah basah tersebut kemudian dengan lidah panasnya, ia ketuk pintu lubang Haechan.
Lubang tersebut masih begitu ketat, otot Haechan masih menegang di bawah sana. Mark membantu Haechan rileks, ia usap pelan penis sang manis, seakan ingin memberikan kenikmatan yang tak begitu terburu-buru. Namun tak sejalan dengan usahanya, lubang Haechan masih mengetat, membuat Mark hanya bisa merasakan kecutnya cairan sang manis dari luar, melingkari pintu lubang Haechan dengan lidahnya.
"Rileks," Mark mengangkat kepalanya kemudian menatap wajah memerah Haechan yang terpejam erat. "Aku tak bisa masuk ke lubangmu jika kau tak rileks," Alpha itu mengelus pelan paha Haechan, memberikan perasaan geli juga merilekskan. Haechan sedikit demi sedikit membuka matanya, menarik kerutan yang ada di dahinya. Pahanya yang tadi terbuka menegang kini tampak semakin rileks, membuat Mark tersenyum puas.
"Anak pintar," Mark kembali mengarahkan wajahnya pada selangkangan Haechan, mengecup buah zakar pria itu lembut.
Mata Haechan yang terbuka kembali tertutup rapat, menikmati intensnya kecup-kecupan ringan yang alpha itu berikan pada titik-titik sensitifnya. Desahan Haechan masih terdengar halus ketika Mark terus mengecup, memberikan ciuman basah di titik-titik manis tersebut, namun desahan ringan itu langsung berubah menjadi erangan manis nan manja ketika Mark tiba-tiba menjilat pintu lubang Haechan, lalu tanpa permisi, ia menyelinap masuk ke lubang yang berkedut itu.
Badan omega itu melengkung ke atas, tangannya mengepal menggenggam seprai, mulutnya terbuka lebar membuat liurnya keluar meleleh hingga ke lehernya, penisnya mengeluarkan banyak pre-cum saat sang alpha dengan ganasnya mengubrak-abrik lubang itu dengan lidahnya, memasukkan lidah itu sebentar lalu mengeluarkannya lagi untuk menjilat kembali lubang Haechan yang berkedut seakan bernafas.
Mark terus-terusan bermain dengan lubang Haechan, menjilat kemudian mengecupnya sedikit. Tangannya meremas buah zakar Haechan hingga,
"Anh!~" omega itu mendapatkan pelepasannya untuk yang kedua kali.
Mark mengangkat kepalanya dari lubang sang omega. Ia menyeka sedikit cipratan sperma yang ada di dahinya, kemudian tersenyum melihat Haechan yang terlena, terpejam sambil membusurkan badan, menikmati surga dunianya lagi.
"Sebegitu enaknya, kah?" Mark mengusap pinggul bergetar Haechan. Ia menggeram melihat penis merah itu yang sudah basah kuyup, bergetar pelan mengeluarkan sisa-sisa spermanya. Lubang di bawah sana tampak membuka dan menutup, seakan mengundang Mark untuk masuk.
Dan Mark pun tentu saja tak bisa menolak undangan tersebut.
Ia dengan cepat melucuti celananya, membuang celana kain itu asal lalu membuka celana dalamnya yang mengembung. Penis kebanggaan alpha itu langsung mengacung tegak, terbebas dari kekangannya. Penis berurat itu sedikit berdenyut, pre-cum juga sedikit keluar dari pucuknya.
Mark mengelus cepat ereksinya sambil menunggu Haechan bangun dari klimaksnya. Ia mencolek cairan yang ada di lubang Haechan, membuat badan omega itu sedikit bergetar, kemudian melumuri penis tersebut dengan cairan itu.
"A-alpha…." Suara manja itu mengalihkan atensi Mark pada kocokan penisnya. Ia menatap ke atas, menaikkan satu alisnya menatap Haechan yang sudah terbangun.
"Kita akan langsung melakukannya," Mark melepaskan kocokannya. Ia merangkak ke atas, mengurung badan Haechan lalu mengecup bibir bengkak itu.
Haechan mengangguk pelan. Ia esap bibir alpha itu lalu dalam esapannya, tiba-tiba matanya melotot, bagian bawahnya mulai terasa perih—Mark sedang melakukan penetrasi.
"Ah!" Haechan mengereng. Mukanya berkerut, pahanya menegang. Ini benar-benar terasa perih.
"Rileks," Mark bertitah. Seperti sebelumnya, ia berusaha memberikan afeksi agar Haechan rileks; alpha itu kecup rahang Haechan sambil sesekali memberikan jilatan kecil pada pusat feromonnya. Sedangkan tangan alpha itu mengelus lengan Haechan hingga ke puting kanan Haechan.
Haechan menarik nafas. Erangan manja mulai terdengar hasil dari perlakuan Mark. Omega itu begitu menikmatinya hingga tangannya mengalung erat di leher Mark, seakan tak memberikan Mark menjauh dari titik feromonnya.
Merasakan omeganya mulai merilekskan diri, Mark mulai menggunakan kesempatan tersebut. Ia mengarahkan penis tersebut pada lubang Haechan, menaruh kepalanya di pintu lubang kemudian dalam satu hentakan kecil, penis itu sudah masuk setengah di lubang hanga itu—membuat sang omega menjerit, meremas rambut Mark kuat kemudian bergetar.
Ini adalah salah satu kelebihan omega, mereka bisa menghisap penis alpha lebih baik dari siapapun. Hingga tanpa banyak usaha, tanpa banyak genjotan, penis Mark sudah masuk sempurna pada lubang Haechan.
Mark mendiamkan sejenak penis itu mengisi lubang Haechan. Ia beri Haechan ciuman panas di bibir manisnya, sekadar berperang lidah membuat sang omega mabuk kepayang. Dalam mabuknya, dalam getaran geli omega itu karena bulu-bulu di bawah pusar Mark menyapu penis polosnya, Mark menggunakan kesempatan itu untuk menarik penisnya setengah lalu menghantam masuk seluruh penisnya, membuat omeganya mengerang, mencakar punggung Mark kasar.
Mark mencobanya lagi. Ia tarik kembali penisnya setengah lalu menghujamnya dengan tempo sedang, berusaha mencari titik manis di bawah sana. Lalu ia angkat pinggulnya lagi kemudian menghantam keras titik manis sang omega,
“Ah!~”
Hanya dalam 3 kali genjotan, Mark menemukannya.
Haechan tak berdaya menerima rangsangan yang pertama kali ia alami. Ciuman terputus dengan Haechan yang mendorong Mark menjauh, benang-benang saliva langsung terbentang di antara mereka. Haechan mendesah dengan keras, benang saliva yang tergantung tadi kini telah bercampur dengan saliva yang keluar dari mulutnya karena rasa nikmat yang sedang Mark beri di bawah sana—alpha itu terus menggenjot, mengeluarkan bunyi kulit yang saling beradu, bunyi basah yang nyaring mengisi ruangan.
Mata saling memandang. Mark tersenyum bangga melihat mata Haechan yang berair penuh dengan air mata. Tangan sebelah omega itu meremas rambut sang alpha, sedangkan tangan yang lainnya turun ke dadanya, mencubit putingnya dengan tangan bergetar.
"Sialan." Mark menggeram. "Kau ingin aku menyusu?" Mark memelankan genjotannya. Matanya berkabut menatap puting merah basah yang menegang itu sedang dipermainkan.
"Alpha…." Desahan manis itu terdengar seakan meminta, memohon kepada Mark.
Mark tanpa disuruh juga mulai menurunkan kepalanya ke bawah, ia menghembuskan nafasnya di puting sensitif itu.
"Eungh!~" Haechan membusurkan dadanya, tangannya semakin erat meremas seprai saat Mark dengan gilanya menjilat puting Haechan layaknya es krim.
Mark terus menjilat, mengulum, kemudian menggigit puting itu, sedangkan pinggulnya mulai secara perlahan kembali bergerak, menggenjot lubang Haechan.
Haechan terkulai. Matanya telah terpejam bermandikan air mata. Mulutnya terbuka, terus mengeluarkan desahan dan erangan manja. Kakinya menggantung di udara, bergetar oleh tiap rangsangan Mark. Badannya tersentak-sentak hingga membentur kepala ranjang. Putingnya terus dijilat hingga rasanya membengkak.
Ini gila. Perasaan penuh di lubangnya, titik manisnya yang terus dimanjakan—ini terasa gila.
Haechan tak bisa berbuat apapun lagi. Ia hanya terkulai menerima diri Mark, mendesah meneriakkan kata alpha beribu-ribu kali.
Sentakan, bunyi kulit yang basah, bunyi hisapan di dada Haechan, juga desahan Haechan memenuhi sepenjuru kamar. Feromon saling bersahutan, bertemu memenuhi udara. Haechan meremas kepala sang alpha yang sedikit tersentak-sentak di dadanya, menyusu di putingnya. Lalu saat matanya menatap ke samping, menatap jendela yang sudah menampakkan matahari terbenam, saat itulah kakinya menegang, badannya membusur naik, teriakan manjanya terdengar nyaring; ia klimaks untuk ketiga kalinya.
Tak seperti klimaks sebelumnya yang terjadi karena foreplay Mark, klimaks kali ini terasa begitu panas, menyenangkan, dan gila sebab—inilah intinya!
Mark melepaskan hisapannya. Ia naikkan kepalanya untuk menatap wajah memerah dan terengah sang omega. Alpha itu mengecup bibir terbuka itu, lalu mengelus pipi sang manis.
"Aku melupakan sesuatu," ucapnya.
Haechan yang masih berada di atas, tak bergeming mendengar ucapan Mark. Nafasnya masih memburu, pinggulnya masih bergetar.
Mark tersenyum. Ia lantas biarkan sang omega untuk menikmati waktunya sekejap.
"Alpha…."
Hingga akhirnya suara manis itu mencicit.
"Hai," Mark mencium pipi sang omega. "Bagaimana perasaanmu?"
Haechan mengerjap. Tangannya terangkat untuk mengelus muka tampan Mark. "Aku ingin lagi…."
"Tentu saja kita akan melakukannya lagi," Mark memangut bibir Haechan pelan. "Aku belum menyelesaikannya, juga—aku melupakan sesuatu," Mark mengelus satu titik di leher Haechan, melingkarkan jarinya di titik tersebut—titik feromon Haechan. Alpha itu akan melakukan mating.
Bau harum seprai memenuhi indra penciuman Haechan ketika ia menenggelamkam kepalanya ke dalam seprai, menungging mengangkat pinggulnya. Pahanya membuka lebar, mempersilahkan jari-jari panjang Mark masuk ke dalam lubangnya yang basah.
"Hah~"
Pinggul itu bergetar merasakan jari Mark melingkar di pintu lubangnya, turun ke bawah hingga mengocok penisnya. Haechan menggigit seprai di bawahnya, jari-jarinya menggenggam erat seprai tersebut hingga kain silver itu tak terbentuk, berserak di bawah badannya yang basah.
"Kita langsung mulai saja," Mark memgecup telinga Haechan lalu menarik dirinya, duduk di depan pantat Haechan yang terbuka. Alpha itu mengocok penisnya cepat, melumuri penis tersebut dengan cairan Haechan yang baru saja ia colek.
Haechan di lain sisi menggigil, menunggu dengan lubang yang berkedut penis Mark untuk mengisinya.
"Akh!" Mark tanpa aba-aba, secara perlahan mulai memasukkan penisnya, memasuki setengah penisnya dengan mudah pada lubang Haechan berkat bantuan lubang heat omeganya. Dan penis itu pun akhirnya mengisi Haechan.
Mark memeluk Haechan dari belakang. Mengangkangkan kakinya lebih lebar dari Haechan untuk menahan berat badannya. Ia kecup tengkuk sang manis, berkelana di leher coklat tersebut untuk mengecup titik feromon yang akan menjadi fokusnya kali ini.
"M-move…."
Mark terlalu sibuk mengecup titik manis Haechan di bagian atas sampai lupa untuk juga memanjakan titik manis bagian bawahnya. Mark tersenyum, ia kecup leher tersebut untuk terakhir kalinya lalu ia menarik badannya, terduduk di belakang Haechan lalu dengan sekali pegangan pada pinggul sang omega, Mark pun mulai menggenjot lubang itu.
Genggaman Haechan pada seprai semakin mengerat saat teriakannya keluar nyaring, meneriakkan nama Mark, menangis karena rasa nikmat yang alpha itu berikan pada lubangnya, bahkan hanya dengan beberapa kali genjotan saja Mark sudah menemukan titik manis Haechan.
Haechan menggeleng. Ini sungguh nikmat. Kepalanya terasa pening, air liur pun telah meleleh. Perutnya serasa dikocok-kocok acak. Ia tersentak-sentak, menggigil pada tangan Mark yang memegang pinggulnya erat. Namun euforia tersebut langsung terpadam saat tiba-tiba sebuah rasa menyapa lehernya, sebuah helaan nafas panas menyapa lehernya. Haechan mendesis, hingga akhirnya desisannya berubah menjadi pekikan—dalam genjotan cepatnya, Mark, menggigit titik feromonnya.
Entah mana yang harus Haechan fokuskan sekarang, entah nikmat di bawah sana atau rasa sakit di lehernya. Entahlah, air matanya terus terjatuh, bingung keluar karena apa.
Gigitan tersebut berlangsung tak begitu lama. Tepat di genjotan Mark yang ketiga setelah ia menggigit titik feromon Haechan, alpha itu pun menarik taringnya keluar, menyudahi prosesi matingnya.
Bunyi tabrakan kulit di bawah sana melemah, genjotan Mark melambat. Ia menatap titik yang habis ia gigit tersebut, menyeka sedikit darah yang keluar dari sana. Lalu ketika ia mendengar tangisan kembali kuat terdengar dari sang omega, Mark pun langsung menghantam keras prostat Haechan, membuat tangisan itu terganti dengan teriakan manisnya.
Haechan hampir gila merasakan kecupan basah pada titik feromonnya yang masih terasa sedikit perih, prostat yang ditabrak dengan keras, juga sebuah perasaan aneh, dimana terasa menggelitik juga terasa menyenangkan—perasaan yang Haechan tangkap sebagai hasil dari pengikatan mereka, ia dan Mark kini telah terikat.
Ia kini sudah tak bisa mengangkat pinggulnya lagi, badannya jatuh telungkup di atas kasur. Penisnya sudah tak bisa berdiri tegak lagi, entah sudah berapa kali ia melakukan ejakulasi—ia sudah hampir hilang akal.
Mark di belakang sana masih menggenjot lubang dengan semangat. Kini alpha itu membalikkan badan Haechan, tersenyum menatap wajah merah penuh keringat omeganya.
"Ini baru hari pertama heat mu," alpha itu menaikkan satu kaki Haechan ke pundaknya lalu mulai menggenjot lagi, membuat Haechan tersentak melenguh merasakan prostatnya kembali dimanjakan. "Apakah menyenangkan?" Tanya alpha itu.
Haechan menutup matanya, menikmati tiap stimulasi yang Mark berikan. Ia hendak mengangguk, berteriak terus-terusan memanggil nama Mark, meminta Mark agar melakukan lebih, mengatakan bahwa betapa menyenangkannya perbuatan Mark petang ini. Namun tubuhnya terlalu lelah menerima setiap kenikmatan. Haechan benar-benar telah kacau karena Mark.
Ini adalah kali pertama Haechan melewati heat dengan keadaan begini; terkulai lemas karena rasa nikmat, bukannya terkulai lemas karena haus akan belaian seorang alpha—jadi sangat wajar bagi Haechan untuk merasa lemas begini, seluruh energinya seakan habis tersedot euforianya sendiri.
Bunyi basah terus-terusan mengalun di bawah sana, tubuh Haechan tersentak-sentak hingga menabrak kepala ranjang, pandangannya telah kabur oleh air mata, tangannya meremas rambut Mark yang berada di dadanya, menghisap putingnya dengan semangat.
Hingga ketika penis tersebut terasa membesar di lubang Haechan, begitu sesak hingga tiada ruang lagi yang tersisa untuk penis itu masuki; hisapan Mark pada putingnya berubah menjadi gigitan, kemudian alpha itu melepaskan hisapannya, mensejajarkan wajahnya pada wajah Haechan, ia pun menggeram, semakin mempercepat genjotannya.
"Fuck Haechan!"
Hingga rasa hangat pun langsung memenuhi seluruh isi lubang Haechan, menjalar hingga ke rahimnya. Haechan bergetar, Mark juga bergetar. Mereka sama-sama melepaskan pelepasannya. Mark menggenjot pelan lubang Haechan, mengeluarkan sisa sperma ke dalam lubang tersebut. Nafas alpha itu memburu, menggeram menikmati ejakulasinya. Sedangkan sang omega kini menutup matanya, liur terus membasahi dagunya karena rasa nikmat yang teramat sangat, tangannya menggenggam lemah seprai di bawahnya. Otot lubangnya meremas penis sang alpha, memberikan pijatan otomatis pada batang yang masih terbenam tersebut. Penisnya kini bergetar, mengeluarkan sisa sperma yang sudah sedikit karena jumlah ejakulasinya hari ini bukan main banyaknya.
Mint bercampur persik manis menguar memenuhi udara. Deru napas saling bersahutan. Mark mengelus pipi Haechan yang memerah, tersenyum mendengar deru nafas omega tersebut yang kini berubah menjadi dengkuran halus nan teratur.
Mark kecup bibir Haechan. Lalu dengan perlahan ia mengeluarkan penisnya dari lubang Haechan, meringis ketika melihat banyaknya cairan yang keluar dari lubang tersebut. Mark mengambil tisu yang ada di laci samping tempat tidur, ia mengelap cairan yang meluber hingga ke seprai tersebut baru kemudian juga mengelap sperma yang ada di tangannya dan paha Haechan.
Mark menarik selimut yang terjatuh di samping tempat tidur, menyelimuti badan polos Haechan kemudian mengusap dahi penuh keringat sang omega. Perasaannya membuncah, rasa pada ikatannya memanis, seakan memberitahu Mark bahwa Haechan mimpi indah dalam tidurnya. Ia mengecup pipi memerah itu lagi bak kecup-kecupan adalah hal yang wajib bagi Mark. Ia hendak bergabung, tidur memeluk Haechan. Namun sebelum ia melakukannya, Mark meraih ponsel yang tergeletak di atas laci samping tempat tidur, mengetik sebuah pesan kepada Tuan Nakamoto untuk mengabari bahwa mereka tak bisa diganggu selama 3 hari ke depan. Mark menutup ponselnya lalu berbaring di samping Haechan. Ia tak peduli betapa basahnya tempat tidur di bawahnya atau seberapa tidak sopannya mereka karena telah mating di kamar yang bukan sarang mereka. Toh, tempat kotor ini sudah sangat berbau mereka, Mark merasa begitu nyaman, terlebih lagi omeganya kini mulai menyelusupkan wajahnya ke leher Mark, melekatkan hidungnya ke titik feromonnya, memeluk Mark erat. Mark tersenyum, membalas pelukan erat Haechan lalu terpejam, tertidur menutup hari di malam yang masih menunjukkan pukul 7 ini.
Badan Mark terasa segar. Bau shampo ginseng semerbak tercium dari rambutnya yang basah. Ia hanya memakai kaos biasa dengan celana pendek seadanya setelah berlari mengangkut barang-barangnya dari kamarnya tadi. Penampilannya boleh saja segar, namun berbanding terbalik dengan tampilan segarnya, kini wajahnya kusut. Ia duduk di pojokan ruangan, menatap dengan wajah kusut Haechan yang masih terbaring di atas kasur.
Ia telah tidur dengan Haechan.
Ia terbawa nafsunya sendiri sehingga meniduri Haechan yang jelas-jelas tengah heat.
Mark Lee bodoh. Ia meniduri Haechan yang sedang sangat rentan, yang membuka kakinya untuk alpha mana saja.
Mark melakukannya tanpa persetujuan dari Haechan. Non-consent sex. Sialan hormon alphanya, ia telah memperkosa Haechan karena hormon sialan tersebut. Dan parahnya lagi, ia telah terikat dengan Haechan…. mereka akan terikat selamanya dan Haechan, dalam keadaan sadar, bahkan belum menyetujui hal tersebut!
Mark memang gila.
Mark bisa saja pergi meninggalkan Haechan menghabiskan heat-nya sendirian, membelikannya surpresan lalu semuanya akan baik-baik saja. Namun penisnya…. Fuck. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Sekarang Haechan masih tertidur, dan bagaimana caranya menjelaskan kepada omega itu apa yang telah Mark perbuat?
Dengan pikirannya yang sudah mulai tersambung dengan realita, yang sudah tak terpengaruh hormon rut, Mark berpikir dalam, menyusun seribu kata maaf dan penyesalan untuk Haechan.
"M-mark…." Lirihan suara serak tersebut mengejutkan Mark dari pikiran dalamnya. Ia terlonjak mendapati selimut di kasur sudah bergerak-gerak, semakin melotot lagi ketika mendapati Haechan telah terduduk. Dengan badan polosnya, ia mengerjapkan mata, menggeliat kemudian menguap menatap Mark.
Mark dengan cepat tegak dari duduknya, berjalan cepat menuju hadapan Haechan.
"Bagaimana perasaanmu?" Buka Mark. "Sepertinya aku tidak bisa menjelaskannya namun aku sudah membuat satu kesalahan besar yang tidak bisa aku perbaiki. Mohon maaf—"
"Alpha,"
Mark menegakkan kepalanya ketika mendengar suara manis tersebut. Perkataannya terpotong melihat senyuman terpatri di wajah sang omega.
"Aku ingin dipeluk, dingin," Haechan mengulurkan tangannya. Tersenyum lebar menyambut sang alpha untuk mendekat.
Mark, walaupun sedikit bingung dengan reaksi Haechan, ia dengan ligat naik ke atas tempat tidur, mendekap erat tubuh polos penuh dengan baunya tersebut.
"Aku ingin mandi," Haechan berbisik di telinga Mark. "Ingin berdua?"
Well, sepertinya ucapan maaf dan seribu kata penyesalan yang telah ia rancang sudah tidak ia perlukan sekarang.
"I love you,"
dan kata yang terpendam selama 2 tahun tersebut pun akhirnya keluar. Haechan tersenyum, memangut bibir Mark pelan kemudian berbisik di depan bibir sang alpha,
"Aku juga,"
Tamat
