Work Text:
Kapten Levi sebenarnya tidak paham. Beberapa jam lalu, Jean dan Connie berlari ke kantornya dengan terburu-buru. Wajah keduanya panik. Ia berharap akan mendengar kabar tentang serbuan titan yang membuat dinding runtuh lagi. Namun, dua prajurit khususnya itu justru memberitahu sesuatu yang… sangat tidak masuk akal.
“Ada dua orang yang mengaku sebagai Kapten Levi dan Eren Jeager dari masa depan,” kata Jean dalam satu tarikan napas. Bila salah satu anggota prajurit khususnya itu tidak memiliki wajah pucat dan ekspresi panik, mungkin ia akan mengira Jean sedang mabuk karena terlalu lama mengirup aroma kotoran kuda.
Walau begitu, Kapten Levi tetap skeptis. Omong kosong macam apa yang telah bawahannya katakan? Apa tadi katanya? Dua orang dari masa depan? Tidak mungkin. Tidak mungkin hal tersebut bisa terjadi. Ia dan Eren dari masa depan tiba-tiba datang? Hmp. Gila.
Lalu, setelah melihat—secara langsung—dua orang yang Jean sebut adalah dirinya dan Eren dari masa depan, ia dengan senang hati menganggap dunia memang sudah gila. Ah, tidak. Dunia semakin gila.
Bagaimana seseorang dari masa depan muncul begitu saja?
Tidak ada yang tahu. Bahkan dua pelaku yang kini sedang berada di kamar pribadi Kapten Levi pun tidak mampu menjawab. Eren dari masa depan—yang ternyata bertambah tinggi dan memiliki rambut lebih panjang—hanya bisa menggeleng. Mata hijau yang tetap indah itu tidak berhenti menatap lurus ke arah Levi.
Levi dari masa depan pun juga tidak banyak membantu. Sejak datang ke markas, perhatiannya terus tertuju kepada Eren muda. Sepasang mata elang itu bahkan tidak berkedip. Sesuatu yang membuat Sang Kapten merasa… tidak suka.
“Jadi, tidak ada satu hal pun yang bisa menjadi bukti bahwa kalian benar-benar berasal dari masa depan.”
Pernyataan tersebut akhirnya muncul. Berhasil menarik perhatian dua orang asing yang masih tetap mencurigakan di mata Kapten Levi. Eren dewasa hanya mengangkat bahu. Walau mata dan suaranya memang mirip sekali dengan Eren di masa muda, nyatanya sikap pria tinggi itu terasa berbeda. Tidak ada lagi bocah menggemaskan yang sering menggembungkan pipi bila sedang dimarahi. Hanya tersisa pria dewasa berusia—mungkin awal dua puluh—yang mudah menyembunyikan ekspresi wajah.
“Percaya atau tidak, kami memang datang dari masa depan,” katanya datar, lalu menunjuk Eren menggunakan telunjuk. “Aku… adalah Eren Jeager. Sama sepertinya. Kelak, ia akan tumbuh tinggi sepertiku. Dan memiliki garis takdir yang sama. Haha.”
Entah mengapa, ada kesan dingin dan gelap dari setiap perkataannya. Kapten Levi tidak tahu dan sedikit tidak yakin, tapi… instingnya mengatakan bahwa dia, Eren Jeager dari masa depan, telah melihat banyak hal yang belum pernah Eren muda rasakan.
“Apa yang Eren katakan adalah sebuah kebenaran. Hanya saja, kami juga tidak terlalu mengerti mengapa bisa kembali ke masa lalu seperti ini.”
Suara bariton Levi akhirnya terdengar. Bocah Eren hampir melompat dari tempatnya berdiri. Sesuatu yang tidak luput dari pandangan dua pasang mata hitam keabu-abuan. Sadar telah menarik perhatian dua pria dengan wajah serupa, pemuda menggemaskan segera berdeham. Berusaha tetap tenang walau jantung sedang berdebar sangat kencang.
“Umm. M-Maaf menyela pembicaraan penting ini,” ujar Eren sedikit ragu. Ia menunduk untuk melirik Kapten Levi yang ternyata sudah menoleh. Pria itu hanya mengangguk singkat, memberi izin kepadanya untuk berbicara. Eren kembali mengangkat wajah, menatap Levi dan dirinya dari masa depan secara bergantian. “Saya tidak tahu pasti alasan mengapa kalian berdua dapat kembali ke masa lalu, dan ini hanya perkiraan saja. Umm… tapi, b-bisa jadi semua ini berhubungan dengan apa yang kalian lakukan tepat sebelum berakhir di sini… bukan?”
Kapten Levi mendengkus pelan. Cukup terhibur dengan spekulasi bawahannya yang—di luar dugaan—cukup masuk akal. “Kau sedang memberitahu sebuah informasi atau justru bertanya kepada mereka, Jeager?”
Sebenarnya hanya pertanyaan sederhana, tapi sudah membuat Eren panik luar biasa. Ia berubah gelisah. “A-Anu… Kapten. M-Maksud saya—
“Logika yang masuk akal,” potong Levi, menarik tiga pasang mata. Ia mendengkus pelan sembari bersedekap. Ekspresi masih datar dan tenang. Mata tajam itu melirik ke samping, tepat ke arah Eren dewasa yang diam. “Kami memang sempat terlibat perdebatan.”
Kapten Levi tampak tertarik dengan informasi tersebut. “Jelaskan lebih detail.”
Sebuah perintah yang membuat Eren bertubuh tinggi itu tertawa pelan. Tawa yang begitu renyah. Mata hijau kebiruan memandang tepat di mata. Ada binar aneh yang membuat Kapten Terkuat sedikit merinding.
“Kau memang tidak pernah berubah, Kapten,” katanya dengan nada mendayu dan sedikit sensual. “Dulu maupun di masa akan datang, kau selalu suka memberi perintah.”
Kapten Levi tidak paham.
“Banyak bacot. Cukup jelaskan perdebatan macam apa yang membuat kalian berakhir di masa ini.”
Eren dewasa kembali terkekeh. Kini, ia melangkah menuju Kapten Levi yang duduk di seberang. Mata indah itu sempat melirik dirinya di masa lalu yang berdiri patuh seperti anjing. Sebelum akhirnya jatuh berlutut, tepat di hadapan pria tampan yang wajahnya masih mulus.
“Hanya perdebatan biasa, Kapten,” mulainya, sembari mengusap dua lulut Kapten Levi dengan perlahan. “Sama seperti yang aku katakan sebelumnya. Kapten Levi di masa depan tidak jauh berbeda, selalu memberi perintah. Suatu waktu, tepat sebelum kami kembali ke masa lalu, ia memberi perintah yang… sedikit membuatku kesal.”
“P-Perintah… apa?”
Pria berambut panjang itu tiba-tiba menyeringai ketika mendengar pertanyaan dari Eren muda. Usapan lembut pada lutut semakin naik, meraba area paha yang membuat Kapten Levi menahan napas.
“Perintah untuk mencari dua orang yang bersedia bergabung dengan semua rutinitas seksual kami,” jawabnya dengan sedikit mendesah.
Tiba-tiba saja perasaan Levi menjadi tidak enak. Seolah ingin memperparah keadaan, pemuda berusia belasan mencicit dengan wajah merah padam. Berhasil menarik perhatian dua orang dewasa yang mengamati tanpa kedip.
“S-S-S-S-Seks… ?!”
Levi mendengkus pelan. Merasa terhibur melihat reaksi yang ia rindukan dari sosok manis. Bibir tipis yang memiliki luka sayat itu menyeringai kecil. “Ho. Apakah ini masa di mana kau belum menyentuh bawahanmu, Kapten Levi?”
Wajah merah semakin gelap. Eren hanya bisa menunduk, meremas jemarinya sendiri. Ingin bersembunyi, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia mengintip malu-malu, melirik dirinya dari masa depan yang masih mengusap lutut dan paha bagian dalam Kapten Levi. Tenggorokan tiba-tiba kering. Bersamaan dengan rasa kesal yang ternyata terlihat sangat jelas dari ekspresi wajah.
“Jika melihat bagaimana wajah kesal Eren saat ini hanya karena melihat dirinya di masa depan sedang menggerayangimu, maka dugaanku memang benar,” lanjut Levi, melebarkan seringai. Dua pasang mata elang saling tatap. Hendak membunuh satu sama lain. “Apa? Aku benar, bukan? Bagaimanapun juga, aku masih ingat dengan masa-masa di mana kau masih menahan diri untuk tidak menyentuh tubuh semok itu. Percayalah, Levi. Kau akan sangat menyesal bila tidak mencobanya sekarang.”
Eren muda hanya terkesiap. Tak tahu harus berkomentar apa. Awalnya, ia masih menganggap kedatangan dua orang asing ini hanya bagian dari mimpi atau akal-akalan Mayor Hanjir. Hanya saja, setelah mendengar langsung ucapan Levi yang selaras dengan semua mimpi basah yang ia alami selama beberapa hari, mau tidak mau Eren menjadi percaya bahwa mereka sedang tidak berbohong.
“Tsk. Singkirkan tangan kotormu,” sentak Kapten Levi memecahkan suasana tegang. Eren dewasa menyeringai dan menjilat bibir dengan begitu sensual. Sebelum akhirnya merangkak mundur. Ia bahkan sempat memberikan remasan pelan pada paha bagian dalam hingga membuat pria berambut hitam harus menahan erangan.
“Keinginanku masih tetap sama,” ujar Levi sembari mengusap luka sayat di wajah. “Rutinitas seksual kami semakin membosankan. Aku ingin mencoba hal lain. Eren sepertinya enggan membayangkanku digerayangi oleh pelacur kotor. Mungkin karena itulah kami kembali ke masa lalu. Kau tau maksudku, ‘kan?”
Walau hanya sedikit, tapi ada ekspresi panik yang muncul di wajah datar.
“Tidak,” katanya dengan gigi bergemeletuk. Jika perkiraannya benar, maka Kapten Levi benar-benar tidak sudi. Ayolah, ia bahkan belum pernah menyentuh Eren. Ia telah menahan semua nafsu dan berahi yang ada di dalam diri hanya untuk menjauhkan bocah menggemaskan tersebut dari perbuatan kotor.
“Reaksi yang terlampau cepat, Kapten,” kekeh Eren dewasa yang kini sudah berlutut di lantai, tepat di antara dua kaki Levi yang terbuka lebar. Bibir merah muda—sial, bahkan bibirnya pun masih tetap ranum—membentuk senyum tipis, penuh godaan. “Bagaimana jika itu adalah satu-satunya cara agar kami dapat kembali ke masa depan?”
Bila boleh jujur, Kapten Levi sama sekali peduli.
Sayang, dirinya di masa depan dapat membaca perasaan tersebut dengan sangat mudah. Maka, sangat tidak mengejutkan jika ia tiba-tiba mendengkus pelan. “Ya, kau memang tidak peduli. Lalu bagaimana jika kepergian kami di masa depan justru mempengaruhi keberadaan kalian di masa kini? Apa kau masih akan tetap merasakan hal yang sama?”
Sialan.
Kapten Levi bahkan tidak berpikir sampai sejauh itu. Pun, apa yang dikatakan oleh dirinya dari masa depan juga sangat masuk akal. Bagaimana jika keputusannya saat ini akan mempengaruhinya dan Eren? Mati di medan perang adalah sebuah kebanggaan. Mati saat melawan titan adalah kewajiban. Namun, mati karena sebuah keputusan yang membuat dirinya di masa depan tidak dapat kembali ke zaman semestinya… entahlah. Ia merasa dapat memikirkan keputusan yang jauh lebih baik lagi daripada berakhir dengan kematian.
Helaan panjang terdengar sangat lelah. Kapten Levi memijat kening dengan perlahan. Tiba-tiba saja merasa pening. Bingung harus mencoba cara yang diajukan oleh dirinya dari masa depan atau justru berusaha mencari jalan lain yang tidak harus menghancurkan kepolosan bawahannya sendiri. Namun, berahi dan nafsu membimbingnya untuk memilih cara pertama.
Di luar dugaan, Eren ternyata memikirkan hal yang sama. Bocah itu maju beberapa langkah ke depan, lalu berbalik, menghadap Kapten Levi yang masih berusaha berpikir jernih. Wajah menggemaskan terlihat sedikit merah. Eren muda menggigit bibir bawahnya sendiri, gelisah. Mata hijau indah memancarkan sedikit keraguan, tapi ada dedikasi besar dan… hasrat di dalam sana.
“Kapten…,” bisiknya dengan suara sedikit serak. Eren berdeham, pelan. Berusaha membasahi tenggorokan yang kering. “Sepertinya tidak ada salahnya kita mencoba cara itu…”
Kapten Levi hanya bisa diam. Terpana. Terpaku di tempat duduknya sendiri ketika bocahnya ditarik oleh Eren dewasa. Wajah merah dikecupi dengan bibir yang tak kalah ranum. Tepat sebelum kewarasannya hilang, ia sempat menangkap basah dirinya dari masa depan sedang menyunggingkan seringai puas.
Sialan.
Sialan.
Sialan.
Mengapa ia juga sangat terangsang dengan situasi ini?
●●●
Masih bocah atau tidak, Eren tetap memesona. Sebuah fakta baru yang Kapten Levi ketahui. Ia masih duduk di sofa panjang, sama seperti Levi yang juga belum menunjukkan tanda-tanda ingin bergabung. Kini, mereka sibuk mengamati dua lelaki dengan wajah serupa yang sedang bercumbu. Sangat ganas. Eren dewasa jelas memiliki pengalaman yang lebih banyak. Fakta baru lagi yang membuat Kapten berharap bahwa pengalaman nakal itu hanya dilakukan bersamanya di masa depan.
Sementara, Eren yang masih bocah lebih banyak mengerang. Mata terpejam erat. Tubuh langsing terlihat begitu kaku di bawah rengkuhan jemari panjang dan lentik. Jerit tertahan terdengar redup saat jemari itu mencubit puting merah cukup keras.
Kekehan terdengar. Eren dewasa melepas cumbuan dan menyeringai, puas mendengar reaksi yang sangat responsif. “Aku tidak ingat memiliki tubuh yang sangat sensitif seperti ini saat masih muda,” ujarnya tanpa berhenti meraba tubuh bagian atas Eren muda yang sudah telanjang.
“Sampai sekarang pun tubuhmu masih sensitif, Bocah,” adalah komentar Levi yang membuat pria tinggi menggembungkan pipi, kesal.
Ah.
Bahkan kebiasaannya menggembungkan pipi ketika kesal pun ternyata masih tetap tidak berubah, batin Kapten Levi, tanpa sadar telah membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak luput oleh mata hitam tajam.
“Apa kau sudah menikmati situasi ini, Kapten?”
Ada nada mencemooh yang sengaja tidak disembunyikan. Kapten Levi hanya melirik. Ekspresi datar dan terlihat tenang. Walau sebenarnya, jauh di dalam hati, ia ingin sekali menghajar wajah penuh luka sayat di seberangnya. Persetan dengan wajah yang serupa, ia baru sadar jika tingkahnya sangat menyebalkan.
Sekarang, Kapten Levi tahu bagaimana perasaan orang lain yang sedang berhadapan dengannya.
Lenguhan manja yang terdengar berhasil mengalihkan perhatian keduanya. Eren muda kini rebah di atas ranjang. Pasrah. Mata masih terpejam erat. Dua tangan sibuk meremas helai rambut panjang milik Eren dewasa yang kini sedang mengulum puting merah jambu. Decap basah semakin membuat suasana riuh.
“Ahh!”
Desah manis terlampau sangat erotis. Kapten Levi menelan ludah. Tidak ingin mengedipkan mata. Ia ingin mereguk pemandangan sensual ketika bawahannya sedang digerayangi oleh dirinya sendiri dari masa depan. Sungguh pengalaman yang unik dan mungkin tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.
Celana putih ketat sudah lepas. Jatuh sembarangan di atas lantai. Cumbuan dan jilatan panas mulai turun ke bawah. Sesekali akan memberikan tanda kemerahan yang membuat dada Kapten Levi bergemuruh, tidak suka. Hanya ia yang boleh meninggalkan tanda cinta di permukaan tubuh bawahannya.
Eren dewasa berhenti tepat di bagian pusar. Ia menjulurkan lidah, tanpa ragu menjilati lubang tersebut hingga bocah perjaka menjerit nyaring. Helai panjang ditarik paksa, lebih kuat. Geraman animalistik terdengar sayup. Tanda jika pria tinggi tersebut menyukai permainan yang sedikit kasar.
Tak tahan melihat dua submisif bersenang-senang, Levi mulai bergabung. Ia mendekat. Langkah begitu tenang. Tangan kanan terulur untuk mengusap bokong bulat Eren dewasa yang sedang menungging. Kekehan tak mampu ditahan ketika bokong tersebut sengaja bergoyang, memberikan hiburan gratis dan segera mendapatkan tamparan cukup keras.
“Kau suka membuat dirimu mendesah, hm?”
Erangan terdengar sebagai jawaban. Levi mengumpat, kembali memberikan tamparan pada bokong kenyal. “Isap penis mungilmu, Eren. Buat dirimu sendiri muncrat.”
Tak perlu menunggu perintah kedua, tubuh tinggi itu sudah bergerak semakin turun. Eren membuka mata, ragu. Namun kembali memejamkan mata sembari mendesah panjang ketika kelamin mungilnya tiba-tiba berada di dalam rongga basah dan panas. Levi mengembuskan napas panjang. Sangat terangsang melihat pemandangan erotis di hadapannya.
Eren mengisap begitu buas. Lidah menggelitik lubang urinal, mencicipi rasa cairan bening miliknya sendiri. Erangan tak berhenti, bersamaan dengan goyangan bokong. Levi kembali mengeluarkan kata-kata kotor yang membuat dua Eren semakin gila.
Di sisi lain, Kapten Levi masih terdiam. Napas sudah memburu. Selangkangan bengkak dan terasa sakit. Namun, ia masih diam. Tak berhenti mengamati tiga orang yang terlilit oleh berahi. Mata hitam menatap ekspresi seks Eren muda yang begitu… menggiurkan. Bocah itu meremas seprai putih hingga tak berbentuk. Punggung meliuk, membusur sangat indah. Sementara tangan yang bebas sibuk meremas helai rambut panjang. Sengaja menarik dengan kuat hingga erangan sensual terdengar.
Erotis.
Sangat erotis.
Levi ternyata mulai serius. Dua tangan sibuk menurunkan celana panjang milik Eren. Sengaja memberikan satu, dua, dan tiga tamparan pada bokong telanjang, sebelum akhirnya membuka pipi semok tersebut.
“Lihat,” ujarnya dengan suara serak. “Bahkan lubang mungilmu tidak berhenti berkedut. Naa, Eren. Apa mengisap penis mungil milik dirimu di masa lalu membuatmu benar-benar terangsang?”
Tak ada jawaban selain erangan keras.
Levi terkekeh, memandang kerutan mungil yang berkedut dengan cepat. Ia menggigit bibir, mulai mengusap titik tersebut menggunakan ibu jari. Awalnya hanya pijatan lembut. Namun, semakin lama, usapan itu berubah lebih menuntut dan masuk lebih dalam.
Tak tahan, Eren dewasa melepas isapan untuk mendesah panjang. Punggung melengkung, menggoda pria pendek yang kuku ibu jarinya sudah tenggelam di kerutan panas.
“Apa, hm? Nikmat?”
Eren mengangguk. Tiba-tiba lupa dengan duplikatnya sendiri yang kini berbaring di atas ranjang. Mata hijau itu sayu, tapi terlihat fokus mengamati interaksi di antara keduanya. Bahkan ia sampai menahan napas ketika Levi menarik paksa surai panjang hanya untuk mencumbu bibir ranum tersebut. Sebuah pemandangan yang membuat bocah lima belas tahun sedikit terpana.
Beberapa pertanyaan muncul di dalam kepala; apa hubungannya dengan Kapten Levi di masa depan? Mengapa interaksi dua orang asing ini terasa sangat… intim? Apakah ia juga akan memiliki hubungan yang sama dengan Kapten Levi?
Belum sempat memikirkan sebuah jawaban, pergerakan dari sisi kanan berhasil menarik perhatian bocah tersebut. Mata hijau lagi-lagi melebar. Gugup membuat tenggorokan kering ketika melihat Kapten Levi sudah merangkak di atas ranjang. Mata hitam terlihat sangat tajam dan sarat akan… hasrat. Sesuatu yang membuat Eren melenguh manja saat merasakan belaian lembut di pipi kiri.
“Lihatlah dirimu, Jeager,” bisik Kapten Levi dengan suara bariton yang serak. “Sangat cantik. Memesona. Kau… begitu menggairahkan.”
Pujian yang sangat asing, tapi sanggup membuat batinnya menjadi porak-poranda. Eren hanya bisa mengerutkan kening dan memasang wajah memohon. Dua tangan terulur ke depan, meminta dekapan hangat. Sebuah pergerakan yang membuat Kapten mendengkus lagi. Wajah tampan mendekat, pasrah ketika bocah perjaka mendekap kuat.
“Ada apa, hm?”
Eren merintih. Ia bahkan tidak sadar sedang menggesek pipi Kapten Levi menggunakan pipinya sendiri. Tak tahu bila tingkahnya terlihat sangat menggemaskan di mata tiga orang dewasa yang ternyata sibuk mengamati. “Kapten,” bisiknya penuh dengan berahi.
“C-Cium—hhh—aku juga ma—umh!”
Kapten Levi tidak bisa menahan geraman ketika sudah merasakan bibir ranum Eren secara langsung. Ia melumat pelan, memberikan isapan pada bibir bawah. Detik berlalu bersamaan dengan intensitas ciuman yang semakin menuntut. Lidah mulai bergerak, melesak masuk melalui celah bibir yang terbuka. Lalu hanya terdengar desah manis yang tertahan.
Dua orang lainnya ikut bergabung. Eren dewasa sibuk mengecupi telinga, menjilat area sensitif hingga bocah itu menjerit nyaring di dalam mulut Sang Kapten. Sementara Levi menggerayangi tubuh mungil tersebut. Meraba tubuh molek yang dahulu—hingga di masa depan—selalu berada di bawah sentuhannya.
Telapak kasar membelai dada. Sesekali akan memainkan dua puting secara bergantian. Lalu semakin turun ke bawah, mengusap pinggul penuh. Levi menjilat bibir ketika tujuan akhirnya adalah tulang ekor Eren. Ia sedikit menekan dan memijat area tersebut. Area yang selalu membuat bocah titan mengerang nyaring.
Sesuai dugaan, bocah tersebut benar-benar mengerang. Bahkan ia sampai melepas cumbuan hanya untuk mengeluarkan desahan panjang, menyebut satu nama dengan sangat lantang. Baik Kapten Levi maupun Levi, keduanya menyeringai.
Di sisi lain, Eren dewasa justru terkekeh. Senang karena titik sensitifnya tidak berubah. Tanda bila ia memang benar-benar kembali ke masa lalu. Ia memberikan ciuman basah di seluruh wajah, leher, hingga tulang selangka. Sebuah ciuman selamat karena dirinya di masa lalu telah merasakan sebuah kenikmatan duniawi.
“Kapten—hhh—K-Kapten…”
Tubuh telanjang kembali rebah di atas ranjang. Bibir kembali sibuk, kali ini bergulat dengan dirinya sendiri. Sementara dua Kapten Levi sedang menggerayangi tubuh bagian bawah, mengagumi permukaan kulit yang masih mulus, menyentil penis mungil yang ujungnya sudah basah dan berwarna kemerahan.
“Naa, Eren,” bisik Kapten Levi, tepat di telinga. Eren hanya bisa mendesah lirih sembari menggigit bibir. Ia menatap mata hitam yang terlihat jauh lebih gelap dari biasanya. “Apa kau benar-benar siap mengikuti permainan mereka?”
Walau hasrat sudah setinggi langit, tapi bila bawahannya menolak untuk melanjutkan permainan gila ini, maka Kapten Levi akan dengan senang hati menariknya menjauh. Ia tidak ingin menyakiti Eren. Ia tidak ingin membuat Eren terpaksa melakukan hal ini. Ia ingin prajurit muda yang diam-diam telah menarik seluruh perhatiannya itu menikmati setiap proses, dari awal hingga akhir.
Seolah menyadari keraguan yang ada di dalam hati kaptennya, Eren memberikan senyum kecil, penuh tanda terima kasih. Ia mengulurkan tangan. Sejenak menghiraukan dua orang yang masih sibuk memberikan tanda kemerahan di setiap permukaan kulit. Telapak tangan yang tidak terlalu halus karena terbiasa memegang sebilah pedang itu mengusap pipi Kapten Levi.
“Kapten…,” balasnya dengan bisikan lembut. “Percayalah. Aku ingin melakukannya… bersamamu. Selalu.”
●●●
Sesuai persetujuan, hanya Kapten Levi saja yang boleh menggagahi Eren untuk yang pertama kali. Dua orang dari masa depan tidak banyak protes. Keduanya mengangguk. Sangat memahami situasi yang terjadi. Bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman pertama bagi mereka di masa lalu.
Eren masih rebah di atas ranjang. Sepenuhnya menikmati setiap detik yang berlalu. Ia menunduk, mengamati atasannya sedang mengecupi paha bagian dalam, memberikan banyak tanda kemerahan di area tersebut. Tangan kanan sibuk meraba kerutan mungil yang masih sangat sempit. Eren dewasa berada di samping kanan dengan posisi terbalik. Wajahnya tertuju pada penis mungil. Sesekali akan memompa batang keras sembari memberi jilatan kucing. Ia juga akan mendesah manja ketika merasakan tangan kasar Levi berhasil menyentuh titik terdalam di lubang anal. Terakhir, Levi berlutut dengan dua kaki terbuka, tepat di atas Eren. Penis besar sudah keluar dari sangkar, sibuk menggesek permukaan pipi gembil yang kemerahan.
Udara di dalam kamar sudah mulai sesak. Penuh aroma seks yang sangat kental. Desahan, geraman, makian, dan jeritan nikmat silih berganti terdengar. Bahkan Kapten Levi sudah tidak peduli bila pasukan khususnya yang lain mendengar suara berisik ini.
“Ahn!—Y-Ya—sebelah sana—uhh!”
Perbedaan paling menonjol di antara dua Eren berbeda zaman ini adalah dari tingkat kebinalannya. Eren berusia lima belas masih malu. Ia lebih banyak mendesah dan melenguh sembari menyebut nama Kapten. Sementara Eren dari masa depan lebih berani untuk meminta lebih, menuntut jemari panjang untuk menusuk lubang analnya lagi. Lebih cepat. Lebih kasar. Lebih dalam. Sebuah perbedaan yang membuat Kapten Levi merasa takjub.
Apakah Eren-nya juga akan mengalami perubahan serupa di masa akan datang?
Hasrat sudah tak mampu ditahan. Kapten Levi bangkit untuk berlutut. Kening penuh peluh. Napas memburu. Ia menatap Eren muda yang kini sibuk mengulum penis Levi. Bocah itu terlihat sangat fokus, menuruti setiap panduan yang diberikan. Mata hitam memandang dirinya sendiri yang kini memejamkan mata sembari menengadah. Bibir tidak berhenti memuji betapa pintarnya Eren dalam mempelajari hal baru. Sesuatu yang sama sekali tidak berubah bahkan saat ia tumbuh besar.
Terlalu sibuk mengamati interaksi tersebut, membuat Kapten Levi tidak sadar dengan tangan lentik lain yang kini meraba kelaminnya. Ia segera menunduk, menemukan Eren dewasa sedang mengerling nakal ke arahnya.
“Suka melihat Erenmu sedang belajar mengisap penis, hm?”
Sial.
Hanya dengkusan yang terdengar sebagai balasan. Sesuatu yang justru membuat pria tinggi itu terkekeh geli.
“Tidak perlu khawatir, Kapten,” bisiknya sembari menepuk penis keras itu ke arah pipinya. “Kau adalah orang pertama yang mengajariku. Kau pula orang pertama yang mengambil semuanya dariku. Hingga masa yang akan datang, tubuhku hanya untukmu.”
Apakah itu benar? Apakah Eren benar-benar hanya untuknya?
“Aku tidak mungkin berbohong, Kapten. Aku datang dari masa depan. Aku sudah mengalami berbagai macam hal yang belum kalian alami.”
Tapi bagaimana kalau—
“Agh—bangsat!”
Kekehan kembali terdengar. Kapten Levi memberikan tatapan galak kepada Eren yang baru saja meremas dua bola testikelnya dengan cukup kuat. “Ayolah, jangan memikirkan hal lain. Aku hanya perlu menunjukkannya kepadamu, bahwa keahlian mengisapku ini adalah ajaran darimu.”
Lalu, tanpa menunggu reaksi atau penolakan, Eren dengan rambut panjang itu sudah membuka mulut. Sangat lebar, melahap batang keras yang panas. Bahkan ia sempat bergumam. Seolah mengapresiasi rasa penis yang serupa tapi juga tidaklah sama.
Di sisi lain, Levi semakin puas dengan isapan Eren yang walaupun masih amatir, tapi tetap begitu nikmat. Bocah itu sudah sanggup menelan hingga kerongkongan. Beberapa kali ia memang sempat mual. Namun, hanya butuh hitungan menit sebelum akhirnya ia terbiasa dengan sodokan maut yang membuat mata berair.
Kapten Levi mengumpat kasar. Ia menengadah. Tangan bergerak secara refleks untuk menjambak surai panjang. Eren hanya mengerang. Tak berhenti menelan penis panjang dan gemuk ke dalam mulut. Kepala mulai bergerak, maju dan mundur. Sesekali pipi akan berubah cekung sesuai dengan isapan kuat yang membuat pria pendek mengerang keras.
Sebuah reaksi yang berhasil menarik Eren lain.
Bocah itu mengerling ke bawah dengan mulut penuh. Mata hijau terlihat berkabut, kotor oleh berahi. Ia mengeluarkan suara rintihan yang membuat Kapten Levi membuka mata dan menoleh ke arahnya. Keduanya saling tatap. Mengamati ekspreis seks masing-masing ketika menikmati layanan dari orang lain.
“Ngh—fuck! Isapanmu semakin kuat,” puji Levi sembari menggerakkan pinggul lebih kasar. Ia tidak peduli dengan liur yang menetes dari sela bibir. Ia justru semakin menggempur Eren.
Hingga beberapa menit kemudian, Levi dan Eren menjauh. Membiarkan diri mereka di masa lalu untuk merengkuh tubuh masing-masing. Kapten Levi bahkan bergerak semakin kasar. Lidah menyeruak masuk, merasakan rasa penisnya dari bibir Eren yang berubah merah.
“Kapten—hhh—Kapten—a-aku sudah…”
Rengekkan mulai muncul. Kapten Levi tidak mampu menolak. Ia hanya memberikan kecupan singkat pada bibir bengkak, sebelum akhirnya kembali ke posisi. Ia buka tungkai kaki bawahannya dengan lebar. Lubang sempit sudah menyapa, berkedut tidak sabaran.
Eren meremas seprai ketika merasakan benda tumpul menggesek lubang analnya. Mata tetap terbuka, menatap lurus ke arah Kapten Levi yang juga tidak memutuskan pandangan. Hingga dorongan pertama membuat keduanya menggeram secara bersamaan.
“Agh—kau… sempit sekali…”
Tak ada balasan. Rasa sakit membuat Eren merasa pening. Ia berusaha untuk tetap membuka mata. Dalam hati berterima kasih kepada dirinya dari masa depan yang tiba-tiba menunduk untuk memberikan stimulasi di area dada. Isapan pada puting setidaknya berhasil mengalihkan rasa perih ketika penetrasi dimulai.
Lalu, satu entakan terakhir, berhasil membuat bocah itu menjerit keras.
Sesak. Penuh. Perih. Nikmat. Semua bercampur menjadi satu.
Kapten Levi memilih diam. Ia mendesis sembari memejam mata selama beberapa detik, menikmati sensasi pijatan lembut di dalam sana yang membuat penisnya berkedut senang. Di sisi lain, ia menyadari pergerakan dari samping ketika Levi menampar bokong Eren sebelum akhirnya menyodok pria tersebut dengan sangat kasar.
“AHH!—L-LEVIH!”
Tak ada kelembutan.
Levi menghajar lubang anal Eren tanpa henti. Sesekali akan memberikan tamparan pada pipi tebal, memerintahkan pria itu untuk mengetatkan otot rektum.
Tak ada penolakan.
Eren hanya bisa menerima. Mendesah. Menjerit. Mengumpat. Memuji betapa besarnya penis Levi yang tidak berhenti menyundul titik nikmat di dalam sana.
Semua interaksi tersebut tidak luput dari pandangan Kapten Levi dan Eren. Keduanya membatu. Sebelum kembali memandang satu sama lain.
Apakah suatu hari nanti, hubungan ranjang mereka juga akan seperti itu?
“A-Agh!—Eren!”
Bayangan Kapten Levi berlaku kasar kepadanya saat sedang berhubungan seksual nyatanya membuat otot rektum Eren mengetat tanpa sadar. Pria pendek yang sedari tadi diam itu mulai kehilangan kesabaran. Bercermin dari dirinya di masa depan, ia mulai menggerakkan pinggul.
Kasar.
Kuat.
Tepat sasaran.
Eren menjerit lagi. Punggung melengkung. Pinggul naik seolah meminta lebih. Dua submisif mendesah, meramaikan ruangan yang sudah gaduh oleh suara becek. Sementara dua dominan tidak berhenti menggerakkan pinggul. Fokus untuk menyentuh sasaran utama yang membuat dua Eren melihat ruangan putih.
Semburan pertama berasal dari bocah mantan perjaka. Cairan putih itu menyembur begitu kuat hingga mengotori wajah Eren dewasa yang masih menungging di sisinya sembari menerima setiap sodokan. Kapten Levi masih belum berhenti. Tempo justru semakin cepat. Ia menunduk, menjambak helai panjang untuk mengajak pria tinggi beradu lidah. Detik berikutnya, satu Eren kembali tumbang berkat stimulasi yang terasa asing.
Dua dominan sepakat untuk bertukar tempat. Kapten Levi sibuk menggenjot lubang Eren yang ternyata sedikit lebih longgar. Ia tidak berhenti mengamati dirinya sendiri yang sedang menggempur lubang anal Eren muda.
“Mngh—aku rindu lubang sempitmu yang seperti ini—agh!”
Eren dewasa hanya bisa terkekeh. Mata hijau terlihat lebih gelap. Ia mengulurkan tangan ke atas, meminta untuk didekap. Sesuatu yang dengan senang hati Kapten Levi berikan.
“Haha—ahh!—ahh!—dan aku rindu permainanmu yang lembut seperti ini—mngh!—y-yeah—lagi—Kapten—s-sebelah san—aahhh!”
Klimaks kedua membuat dua submisif bergetar hebat sembari saling menggenggam tangan.
Lalu, mereka bertukar tempat lagi.
Walau Eren dewasa memiliki tingkat kebinalan yang luar biasa, tapi Kapten Levi tetap ingin merengkuh tubuh Eren-nya. Membuat bocah itu mabuk kepayang hanya dengan sodokan lembut. Di sisi lain, Eren dengan senang hati membuka tangan, mempersilakan atasannya untuk merengkuh erat. Keduanya sibuk mencumbu. Penis besar kembali melesak. Mereka menikmati tempo pelan yang tidak terburu-buru. Walau permainan kasar Levi sangat menjanjikan, nyatanya Eren lebih menyukai sentuhan lembut Kapten Levi yang seolah-olah selalu memikirkan persetujuannya.
Sementara itu…
Di sisi lain ranjang…
Walau Levi rindu dengan keketatan lubang Eren di masa lalu, tapi ia tidak sanggup untuk menahan diri. Ia ingin merusak Eren. Ia ingin kekasihnya menjerit, memohon untuk disodok lebih keras layaknya pelacur murahan di luar sana. Lalu, Eren... ia juga rindu dengan sentuhan lembut kekasihnya. Ia ingin diperlakukan seperti dulu. Begitu lembut. Seolah ia adalah orang yang sangat berharga. Namun, ia tidak puas. Ia ingin permainan kasar. Ia ingin dijambak, ditampar, dan digagahi dengan sangat kasar oleh Levi. Ia ingin merasakan semua obsesi dan kasih sayang kekasihnya, seutuhnya.
Suara becek terdengar semakin riuh. Geraman animalistrik yang serupa, memenuhi ruangan. Desah manja dan menuntut juga mulai vokal.
Satu sodokan terakhir, dua dominan klimaks secara bersamaan di dalam lubang anal dua submisif yang tidak berhenti bergetar hebat.
●●●
Tiga jam setelah permainan panas…
Kapten Levi memandang langit-langit kamar yang remang. Langit masih gelap. Eren menggeliat pelan di dalam pelukan. Tubuh telanjang saling rapat. Sudah satu jam berlalu sejak perginya dua orang yang mengaku datang dari masa depan. Usai dua dominan klimaks secara bersamaan, mereka tiba-tiba saja menghilang. Lenyap seperti hantu. Lalu menyisakan suasana canggung segera menyesakkan kapten dan bawahannya.
Tak ingin menghancurkan segalanya, Kapten Levi menarik tubuh telanjang Eren ke dalam dekapan. Mereka masih belum bicara. Belum memberikan konfirmasi tentang perasaan masing-masing. Masih terlalu malu untuk mengakui semuanya.
Sampai akhirnya, Eren tidak tahan lagi.
“Apakah… kita bisa melakukannya lagi?”
Sebuah pertanyaan yang sangat berani. Kapten Levi menunduk, tersenyum kecil—walau hanya sebentar—lalu memberikan kecupan sayang, tepat di kening bocah tersebut.
“Tentu,” jawabnya lembut. “Kau tidak perlu meminta izin, Eren. Karena setelah hari ini, kita akan selalu bersama.”
.
.
Sementara itu, di waktu yang sama dan tempat berbeda…
“Aku tidak percaya kita benar-benar bisa kembali setelah melakukan foursome—ahh!”
Levi hanya menggeram, memberikan gigitan kasar pada pundak telanjang. Pinggul tak berhenti bergerak. Ini adalah ronde ketiga setelah keduanya kembali dari masa lalu. Gairah masih berada pada puncak tertinggi.
“Ngh!—dan aku sudah merindukan lubangmu yang sempit lagi!”
Eren mengumpat kasar sembari meremas seprai. Ia berlutut dengan kaki terbuka lebar. Punggung melengkung seperti busur. Sesekali sepasang matanya akan berputar ke rongga mata, tidak kuat menahan nikmat yang membuat kantung spermanya kering.
“Kau bajing—AHH!—L-Levi—ahh!—ahh!”
Dengkusan terdengar kasar. Levi menjambak helai panjang cukup kuat. “Jangan munafik—agh—kau juga senang karena melihatku di masa lalu, kan?”
Tak ada jawaban selain desahan panjang ketika Eren mencapai klimaks lagi. Detik beriktunya, Levi ikut menyusul. Pinggul mengentak seirama dengan semburan sperma di dalam lubang panas dan basah. Keduanya ambruk di atas ranjang kotor.
Ruangan dipenuhi oleh embus napas memburu. Lalu suara serak Eren berhasil memecahkan suasana.
“Apa kita perlu berdebat lagi agar bisa kembali ke masa lalu? Aku belum sempat mencicipi lubang analku sendiri,” katanya. “Aku bersumpah Eren manis itu akan suka jika—
“Diamlah, Bodoh,” potong Levi lelah. “Hanya aku saja yang boleh mencicipi lubangmu. Di masa lalu atau masa depan.”
“Tapi itu adalah lubangku! Aku berhak untuk—
“Diam atau aku sodok lagi.”
Eren hanya bisa diam.
