Work Text:
Untuk kali ini saja, Satoru tanggalkan gelar shaman terkuat yang ia pikul, melupakan tugasnya untuk membunuh buronan nomor satu dunia jujutsu, dan kembali menjadi manusia biasa dengan nafsu yang memburu.
Satoru punya kesempatan untuk mencabut nyawa Suguru detik ini juga. Semudah menjentikan jari. Kesempatan itu berupa tubuh telanjang telentang di atas ranjang. Ada banyak jiwa non-shaman yang bisa terselamatkan dan ia bisa hentikan malapetaka yang kemungkinan terjadi di kemudian hari. Karena seharusnya itulah yang dilakukan Satoru. Semestinya demikian. Bukan malah bersetubuh dengan musuhnya sendiri.
Gojo Satoru adalah protagonis yang memegang cawan kebajikan dalam panggung sandiwara kehidupan, sementara Geto Suguru adalah antagonis dengan pedang kebatilan terhunus. Peran sebagai rekan satu tim hanyalah kisah lama yang seharusnya telah pupus sejak lima tahun lalu.
Alarm dalam kepala Satoru berteriak, memberi peringatan berhenti karena meniduri orang yang semestinya ia lenyapkan terdengar salah—sangat salah. Namun desahan dan lenguhan tubuh di bawahnya memenuhi seisi kamar, membutakan akal sehat.
Rambut panjang hitam legam tergerai pada sprei putih bagaikan lukisan abstrak di atas kanvas polos. Satoru menyibak helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Suguru, lengket oleh peluh. Ia bisa melihat wajah Suguru seutuhnya sekarang. Begitu indah dengan semburat rona merah merayap di pipi. Bibir tipis setengah terbuka.
Mata Suguru balik menatapnya. Suguru pernah berkata di suatu hari yang cerah tanpa awan, bahwa Satoru memiliki mata yang sangat indah. Satoru tidak berpikir demikian. Dalam ingatannya, Suguru selalu punya warna mata yang paling unik—kompleksi ungu tergelap dalam roda warna—yang membuatnya terperangkap di dalam sana dan tak bisa berpaling.
Satoru mengecup pundak Suguru lalu meninggalkan tanda keunguan. Kemudian berpindah ke leher, bawah rahang, belakang telinga, menjalar ke segala jengkal kulit yang bisa bibir Satoru jamah. Satoru tidak peduli andaikan bercak yang ia tinggalkan dilihat seisi dunia. Biarlah semua orang tahu jikalau Geto Suguru pernah menjadi miliknya.
“Hng, Satoru....”
Ah... suara itu. Suara yang memanggil namanya dengan lembut.
Bagaimana caranya Satoru bisa lupakan Suguru yang selalu mengingatkannya agar tidak lupa makan. Bertanya kondisi Satoru seusai misi. Melontarkan apresiasi atas kerja kerasnya. Mengajari Satoru tentang nilai moral. Suguru adalah kompas saat Satoru hilang jalan. (—Kini jarum kompas itu telah patah dan terabaikan di sudut ruangan.)
Bagaimana caranya Satoru bisa lupakan kenyataan bahwa mereka pernah sedekat itu. Ketika semuanya terasa indah—terasa benar. Sebelum segala sesuatu runtuh begitu cepat dalam satu kerjapan mata. Seperti pasir yang lolos dari sela-sela jemari kala tidak digenggam dengan baik.
Jari lentik Satoru menari di setiap bagian tubuh Suguru. Meraba, merekam lewat sentuhan, seolah ingin ia simpan rapat detil Suguru dalam tiap kubikel otaknya hingga pepat.
Satoru mempercepat tempo gerak pinggulnya, saat ia merasa mereka hampir mencapai puncak kenikmatan. Erangan Suguru ia bungkam dengan mendaratkan ciuman panas dan basah. Tangan Suguru menggapai rambut seputih salju Satoru, melewati tengkuk, lalu turun capai punggung. Ujung kuku terpetakan berupa goresan di sana.
Inilah yang ingin Satoru ingat. Tentang Suguru dan tangan yang membelai rambutnya dengan penuh sayang, serta bibir yang membisikan kata cinta di telinga.(—Sebab tangan dan bibir Suguru tercipta bukan untuk menumpahkan darah non-shaman. Bukan pula memuntahkan kata kutuk.)
Satoru merengkuh tubuh Suguru, mendekapnya begitu erat. Berusaha membekukan waktu serta menyimpannya dalam kotak memori. Karena esok tak akan sama. Karena esok tidak ada lagi Suguru seperti hari ini.
.
.
Bola mata Satoru mengikuti langkah kaki Suguru yang baru keluar kamar mandi. Ia sendiri belum beranjak dari tempat tidur dan masih tanpa busana. Satu tangan menopang kepala. Selimut menutupi bagian bawah badan.
“Kau akan pergi lagi?” Retoris, Satoru bertanya.
Suguru menyahut dengan gumaman singkat.
“Aku akan mengantarmu sampai depan hotel,” ucap Satoru.
Suguru melepas handuk yang melingkari pinggang. Dilipatnya dengan rapi. Diletakkan di atas kursi.
“Tidak usah. Miguel sudah menjemputku di bawah.”
Helai demi helai gojo-gesa Suguru pakai satu per satu. Suguru mematut di depan cermin. Tanda yang Satoru tinggalkan masih terlihat jelas. Jarinya bergerak menyentuh bagian itu.
“Aku dengar kamu sekarang jadi guru.”
“Begitulah.”
“Sama sekali tidak cocok denganmu.”
“Ya, kupikir juga begitu. Karena aku rasa Suguru yang lebih pantas berada di posisi ini.”
Dengusan Suguru terdengar seperti cibiran.
Entah apa yang Satoru implikasikan. Mungkin ia berharap Suguru akan berubah pikiran. Mungkin ia berharap dapat mengembalikan cahaya di mata Suguru yang diambil paksa oleh carut-marut sistem dunia jujutsu. Mungkin Satoru berpikir bahwa—
“Aku kira kamu tidak suka dengan idealisme menolong orang yang lebih lemah. Rupanya kamu sudah berubah.”
“Aku tidak berubah. Aku tidak pernah ke mana-mana. Kamu yang meninggalkanku, ingat?”
—bahwa mereka tidak seharusnya berakhir seperti ini.
Rentetan kalimat Satoru melesat tajam bak anak panah prajurit yang dibalas Suguru dengan tawa dingin dan hambar.
Suguru selesai mengenakan pakaian, sebagian rambut diikat berantakan. Ia berhadapan dengan Satoru yang telah membetulkan posisi duduk di tepi ranjang. Mata mereka bertemu.
“Jangan memintaku untuk kembali lagi, Satoru.”
Napas Satoru tercekat. Sebuah jeda menggantung di udara.
“Tidak akan. Di kesempatan berikut saat kita bertemu lagi, aku akan benar-benar membunuhmu.”
Suguru mengulum senyum. “Aku tunggu.”
Ia berbalik badan bersiap pergi, tangan bertumpu pada pegangan pintu, sebelum akhirnya Satoru merapal,
“Suguru.”
Langkah terhenti. Dari balik bahu, Suguru menoleh.
Suguru menanti patah kata yang sekiranya akan lolos dari mulut Satoru. Namun nihil. Satoru bergeming, memberikan tatapan sendu yang Suguru artikan dalam bahasa yang lebih ia pahami.
Pintu dibuka lalu menutup. Sekali lagi, Satoru melihat punggung Suguru menjauh ke tempat yang tidak bisa ia gapai. Tanpa ucapan perpisahan. Tanpa lambaian tangan.
Di waktu yang bersamaan, ada hal-hal yang berubah di antara mereka. Satoru berlari terlalu cepat, sementara Suguru tertinggal di belakang punggungnya. Menciptakan jurang-jurang kecil yang tak ia sadari. Tetapi ketika Satoru kembali ke titik awal, ia menemukan kekosongan yang terasa asing. Sesuatu berbentuk pil-pil penyesalan yang harus ia telan. Jurang itu kini terlalu lebar untuk Satoru lompati. Ia tidak cukup kuat untuk menarik Suguru keluar dari dasar kegelapan. Ia tidak mampu membuat Suguru bertahan di sisinya.
(“Aku merindukanmu.”)
Sebuah frasa mati di ujung lidah.
.
.
.
.
.
-selesai-
