Actions

Work Header

Lean on Me

Summary:

Lumine memejamkan mata. Entah karena dia menikmati penghiburan Childe di wajahnya atau sedang meresapi perkataan laki-laki itu, tapi bisa jadi keduanya. Air matanya kembali bergulir. Apa yang dikatakan Childe benar. Dirinya ... lelah dan sakit hati.

Notes:

Hai ... ini adalah fanfic Genshin Impact pertamaku. Maaf kalau mungkin Ooc. Semoga kalian suka :DD

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Genshin Impact fanfiction.

Arlene V.

.

.

.

.

Apa yang dia rasakan ketika terbangun setelah ratusan tahun lamanya adalah kehampaan. Tidak peduli sekeras apapun dia berteriak memanggil sebuah nama, sang pemilik nama tak kunjung hadir di hadapannya. Jangankan menampakkan diri, suara langkah kakinya pun tak terdengar. Dia menjalani hari-harinya dengan sepi. Tidak ada seorang pun di sisinya sebelum kemudian dia menemukan sosok asing tenggelam.

Bukan urusannya memang, tapi dia tergerak untuk menyelamatkannya. Paimon, begitu dia mengenalkan diri. Makhluk kecil bersuara nyaring yang terbang ke sana-ke mari. Memberitahu apa yang ada di sekitar dan ada bersamanya. Menjadi teman yang menemaninya berpetualang mencari seseorang. Ya, Aether, kakaknya.

Waktu telah berlalu begitu cepat.

Banyak hal yang dilaluinya selama perjalanan. Berlatih, membantu warga, mengenal banyak orang dan mencari pentunjuk tentang keberadaan kakaknya. Hingga waktu membawanya bertemu dengan Aether tanpa dia duga ketika sedang mengumpulkan petunjuk tentang Abyss Order.

Lumine sempat mendengar ada sosok yang disebut "Ouji-sama" yang menjadi pemimpin para Abyss Order. Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa orang tersebut adalah Aether, kakak yang selama ini dia cari. Hanya saja pertemuan mereka begitu singkat. Belum sempat Lumine berkata banyak hal atau bahkan bertukar kabar, mereka sudah kembali terpisah. Aether meninggalkan banyak sekali teka-teki yang tak bisa Lumine pahami.

Mata emasnya memandang api unggun yang berkibar lembut. Suara gemeletuk api menemani malamnya. Paimon pergi entah ke mana, sepertinya dia paham isi hatinya saat ini. Terkadang dia bisa sangat pengertian.

Suara gemerisik daun gingko yang diinjak menyapa telinganya. Lumine tidak waspada, dia tahu siapa yang datang.

"Kulihat kau sangat tidak waspada saat ini."

Laki-laki itu berjalan mendekatinya dengan senyum khasnya.

Lumine bergeming, hanya ekor matanya yang mengikuti gerakannya yang duduk di sampingnya tanpa izin. Rambut jingganya yang berantakan terlihat merah begitu cahaya dari api menerpanya.

"Aku dengar kau menemukan kakakmu," Ucapnya.

"Dengar dari siapa?" Tanya Lumine.

Childe tersenyum menatap Lumine yang kini juga menatapnya. "Seperti pepatah Liyue, dinding memiliki telinga." Childe berkata sambil berbisik.

Untuk beberapa detik keheningan melanda keduanya. Hanya letukan api unggun yang menemani mereka.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu yang sangat merindukan saudaramu," Ujar Childe memecah sepi. Manik birunya melirik mata emas gadis di sampingnya. Bibirnya tetap melengkung indah penuh perhatian. Sesekali dia melempar kayu ke dalam api unggun.

"Pasti menyakitkan bukan, ketika kau sudah bersusah payah mencarinya, tapi yang kau dapatkan justru perpisahan."

Lumine menarik napas panjang. Bibirnya mulai bergetar menahan isak ketika butiran air mulai mengalir dari sudut matanya.

"Aku ... hanya ingin Aether kembali," isaknya. "Semua yang kulakukan selama ini hanya agar dapat bertemu dengannya."

Tatapan Childe berubah sendu melihat gadis itu. Gadis yang selalu terlihat kuat bahkan panyang menyerah melawannya, kini terlihat rapuh dan semua ini karena saudara yang menolak untuk kembali atau mungkin belum ingin.

"Dia pasti memiliki alasan," timpal pria Fatui tersebut.

Lumine mangangguk, "Benar, Aether tidak pernah melakukan sesuatu yang sia-sia, tapi ...." Gadis itu kembali tersedu.

Angin malam berhembus pelan, membelai wajahnya bersamaan dengan tangan pria itu yang menangkup sisi wajah Lumine. Ibu jarinya mengusap air mata di pipinya yang merona akibat api unggun yang hangat.

"Ojou-chan, kau pasti lelah."

Lumine memejamkan mata. Entah karena dia menikmati penghiburan Childe di wajahnya atau sedang meresapi perkataan laki-laki itu, tapi bisa jadi keduanya. Air matanya kembali bergulir. Apa yang dikatakan Childe benar. Dirinya ... lelah dan sakit hati.

Lumine berkata pada Paimon bahwa dirinya baik-baik saja dan akan terus melangkah ke depan, tapi hatinya berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan.

"Tidak apa-apa. Jika lelah, kau bisa berhenti untuk saat ini. Istirahatlah, gunakan aku jika perlu. Aku bisa menjadi samsak tinju atau mungkin wadah untuk air matamu." Bisikan Childe bagaikan penenang untuk hatinya.

Benar, ketika lelah ada saatnya dia ingin berhenti. Menikmati hari-hari damai yang dia jalani di Teyvat. Namun, sama seperti yang diucapkan Aether, di manapun mereka, selama mereka bersama, maka di sanalah rumahnya.

Melihat butiran bening yang mulai mereda tersebut, senyuman Childe melebar. Sepertinya gadis itu mulai tertidur. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium puncak kepala Lumine. Terakhir, dia membisikkan sesuatu.

"Selamat malam. Semoga hari ini menjadi terakhir kalinya kau menangis sedih."

.

Hal yang Lumine tangkap begitu membuka mata adalah cahaya keemasan dari cahaya matahari yang bersinar menyusup sela-sela pohong gingko. Matanya menyipit karena silau. Paimon yang menyadari bahwa partnernya telah bangun, menyapa.

"Selamat pagi Lumine!" Sapanya dengan suara ceria yang khas.

Lumine tidak langsung bereaksi. Dia hanya mengamati keadaan sekitarnya mencari seseorang.

"Ada apa Lumine?" Tanya Paimon begitu melihat tingkah aneh gadis itu.

"Paimon, apa kau sedirian dari tadi?" Bukannya menjawab, Lumine justru balik bertanya.

"Hm? Tentu saja. Memangnya dengan siapa lagi?"

Lumine merenungkan kejadian semalam. Apa itu hanya halusinasi karena hatinya yang membutuhkan penghiburan? Atau mungkin itu mimpi? Namun, kenapa rasanya begitu nyata? Tangannya memegang dadanya yang berdebar. Benarkah itu hanya mimpi?

"Kau tidak apa-apa Lumine?" Suara Paimon kembali terdengar.

Lumine menggelengkan kepala dan mulai tersenyum. "Aku baik-baik saja. Selamat pagi, Paimon."

Paimon ikut tersenyum lebar melihat partnernya kembali seperti sedia kala.

Kemudian Lumine memutuskan untuk mencuci wajah di sumber mata air terdekat dan sarapan. Selanjutnya keduanya membereskan alat-alat berkemah mereka dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan Lumine masih memikirkan kejadian semalam. Entah itu mimpi, halusinasi atau mungkin benar-benar terjadi, Lumine berterima kasih pada orang itu. Perkataan laki-laki itu membuatnya tenang.

.

Tanpa keduanya sadari, tak jauh dari tempat itu, seorang pria diam-diam mengamati mereka. Benar, dia adalah Childe. Kejadian tadi malam memang bukan mimpi ataupun halusinasi. Dirinya benar-benar datang menemui Lumine. Niat hati ingin menghibur gadis itu dengan sebuah pertarungan, tapi melihat luka yang diderita Lumine, dia mengurungkan niatnya. Bukan hanya luka fisik, juga hati. Dia bisa melihatnya dari mata dan aura gadis tersebut.

Sebenarnya Childe tidak harus bersembunyi, bisa saja dia menemani Lumine sampai dia terbangun dan mendapatkan ucapan terima kasih dari gadis itu. Namun, ketika mengingat betapa-tidak seperti biasanya-dia tadi malam, membuat Childe malu bukan kepalang. Diingat-ingat lagi, tadi malam sungguh bukan dirinya. Ingin rasanya dia menenggelamkan diri ke dalam lubang yang sangat dalam.

Entah kenapa dia meyakini wajahnya sangat merah seperti Jueyun Chili saat ini. Namun, ketika melihat wajah ceria gadis itu lagi, sepertinya cara yang dia gunakan tadi malam tidak buruk juga. Ah tapi dia tidak berharap hal seperti ini akan terulang, karena itu artinya Lumine sedang bersedih.

Childe mendengus. Dia segera beranjak dari tempatnya. Sudah waktunya bekerja. Dia berharap hari bisa bertemu dengan gadis itu akan segera datang.

"Sampai jumpa, Ojou-chan."

.

Fin.

Notes:

Kritik dan saran sangat membantu :D