Work Text:
Kala Naib menjadi satu-satunya yang tersisa di arena, ia berkata pada pemburu yang menuju ke arahnya, “Biarkan aku mati kehabisan darah.”
Cara bicaranya terlampau tegas sehingga ucapannya tidak dapat disebut sebagai pinta, tapi suaranya mengandung cukup rasa letih sehingga tak benar juga menjulukinya perintah. Bayangan besar yang menimpanya berhenti sesaat, sebelum mengitari Naib sampai tiba di depan mukanya.
Jack bertinggung. “Aku memang berniat begitu.”
Naib sudah menduga bahwa dari semua pemburu, jawaban Jack akan menjadi salah satu yang berbeda, tapi respons tersebut masih mengejutkannya. Kasihan dan cemas jelas-jelas tidak ada di daftar, namun Naib mengira setidaknya Jack akan kesal atau heran. Ia terdengar tenang; hampir lega, malah.
“Ekspresimu sekarang tidak cocok dipadukan dengan kursi roket. Wajah yang begitu masygul lebih serasi dengan jalanan tak bernama dan tanah lapang, bukankah begitu?”
Naib seharusnya sadar lebih awal. Tentu saja alasan dibalik reaksi Jack adalah nilai estetikanya. Andaikan ia sedang tidak dimakan hidup-hidup oleh perasaan buruk dan gelap yang bangkit dari dasar perutnya, barangkali ia bakal memiliki cukup tenaga untuk mencibir. “Selama itu di medan tempur, di mana aku mati tidak ada bedanya bagiku.”
Sial. Nadanya tidak menggigit sama sekali. Terlalu lemah, terlalu menyedihkan. Naib menggeretakkan gigi. Frustasi yang menggebu-gebu di sekujur tubuhnya menggila, menghujam kulitnya dan membuat tangannya mengepal lantaran semakin kencang dorongan untuk menghantam dirinya sendiri dengan tinju.
Jack terdiam sejenak. “Performamu hari ini tidak seperti biasanya,” ujarnya. “Jalur penyelamatanmu mudah ditebak, kau terus-terusan menampakkan diri terlalu awal, dan terlalu cepat menghabiskan bantalan sikumu.”
Tanpa Jack yang menjabarkannya pun, Naib tahu. Manifestasi dari kegagalannya menyelamatkan mengamatinya dari sudut matanya; mereka mengambil wujud muka-muka lama yang binasa akibat kedua tangannya sendiri, dengan soket mata kosong dan mulut menyerupai lubang hitam yang meraungkan kata-kata yang hanya dapat Naib dengar: ini semua salahmu, kami semua mati karenamu!
Wajah Helena, Norton, dan Fiona ada di antara mereka, meskipun secara logis, Naib tahu itu tidak mungkin lantaran jiwa mereka kembali ke manor alih-alih menyeberang ke sisi lain. Sebersit akal sehat tersebut Naib sengaja tidak telan, dan ia tetap membiarkan dirinya dicambuk oleh seluruh hardik yang lebih menyakitkan ketimbang torehan raksasa di tubuhnya.
“Ada saat-saat dimana kau nekat, tapi ini pertama kalinya aku melihatmu tergesa-gesa sepanjang pertandingan.” Wajah-wajah itu mendekat, seakan hendak menelan Naib bersama dosanya bulat-bulat. “Ada apa?”
Naib terperangah. Atensinya direbut oleh pertanyaan Jack yang tidak ia sangka. Ia menggulirkan tatapannya yang bolak-balik jernih dan kabur ke arah Jack. Pemburu itu masih menunduk memperhatikannya. Ingin tahu.
“...pikiranku kalut. Aku gagal mendinginkannya sebelum pertandingan,” jawab Naib. Kepalanya mereka ulang kepingan mimpi semalam yang membekas di benaknya: ledakan, api yang membara di tanah lapang, dan bagian-bagian tubuh saudara seperjuangannya yang berserakan. Ia juga mengingat bagaimana gelas demi gelas air dingin tidak mampu mengenyahkan bobot meremukkan di dadanya, sehingga ia terjaga sampai pagi sambil mengisi asbak.
Jack mengamatinya lekat-lekat, tampak memikirkan sesuatu. “Sudahkah kau mencoba meminum teh kamomil?”
“Hah?”
“Teh kamomil. Jika isi dapur wastu penyintas serupa dengan dapur wastu pemburu, seharusnya bahan-bahannya tersedia di sana,” Jack menjelaskan, seolah-olah apa yang baru ia katakan tidak mengherankan. “Aku tidak tahu apakah kau tahu cara membuatnya atau tidak, tapi kau selalu bisa meminta bantuan Nona Peri Penyihir. Dia piawai dalam hal minuman herbal.”
“...dan bagaimana itu akan membantuku?”
“Sambil mengasumsikan bahwa alasanmu tidak konsentrasi dalam pertandingan sama dengan penyebab lingkaran hitam di bawah matamu,” Jack menopang dagu, “maka teh kamomil dapat membantumu tidur tenang.”
Tepat sasaran. Rasanya aneh dilihat dengan tembus pandang oleh seseorang, terutama yang berasal dari fraksi lawan. Terlebih lagi, sebuah pertanyaan terus mengganjalnya, memaksa diutarakan. “Mengapa kau memberitahuku ini?”
“Bukannya sudah jelas?” Terdengar senyum dalam nada Jack. “Tidak menyenangkan mengejar mangsa yang tak sepenuhnya fokus pada belatimu.”
Darahnya yang kian menipis membuatnya linglung sehingga ia tak bisa berpikir lurus. Itu adalah pembelaan yang akan Naib gunakan bila ada yang menanyakan mengapa jawaban Jack memancing tawa kecil yang terbangun dari lebih banyak udara ketimbang suara. “Seharusnya aku tidak perlu bertanya. Kau memang pribadi yang seperti itu.”
Jack membalasnya dengan kekeh yang perlahan berubah menjadi lantunan lagu yang pernah Naib dengar tapi ia tak kenali judulnya. Senandung dan topeng tanpa ekspresinya terus menemani Naib sampai ia meregang nyawa; hantu masa lalunya dengan rutukan mereka pergi entah kemana.
Terdapat tangan-tangan yang menantinya di lengan kursi roket. Cengkeraman mereka merunjam lebih dalam daripada duri-duri kawat yang memeluknya. Hanya Naib yang dapat melihat keberadaannya.
Hari ini pun, mereka tetap menunggu kehadirannya. Setelah Jack mendorongnya duduk ke kursi tersebut dan mengikatkan tali kawat ke sekeliling tubuhnya, mereka tak membuang waktu menerangkap lengan Naib dalam genggaman. Kuku-kuku yang berusaha menembus permukaan kulitnya seakan memanggilnya untuk bergabung bersama mereka, jauh di dunia bawah. Dalam pertandingan kali ini, Naib dapat menyambut uluran tangan mereka tanpa meninggalkan penyesalan.
“Sudah kuduga. Raut wajahmu sekarang lebih cocok dengan kursi tersebut,” kata Jack di hadapannya. Belatinya mengeluarkan suara berdenting ketika jemarinya mengejang frustasi. “Meskipun itu membuatku semakin ingin menghapusnya di pertandingan selanjutnya.”
Selain seringai kecil yang tak dapat ia tahan, Naib tidak tahu seperti apa ekspresi yang tengah ia kenakan. Namun, jika mimik wajahnya mampu menekankan kemenangannya di muka Jack, ia tidak berniat menggantinya. “Kau semestinya tahu untuk tidak memberikan amunisi kepada lawanmu.”
Seketika, suasana hati Jack berputar seratus delapan puluh derajat menjadi riang. “Oh, jadi saranku kemarin benar-benar membantu, ya?” godanya. Naib mendecakkan lidah, mukanya berubah kecut. “Syukurlah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau terus-terusan bermain seperti tikus yang kehilangan akal.”
Naib sudah hafal dengan tempramen Jack di balik sampul pria terhormatnya. Sambil membatin agar tangan-tangan yang kerap mengais lengannya untuk sedikit bersabar, ia menjawab, “Manis sekali caramu mengatakan bahwa kegemaranmu adalah menyeret jatuh orang-orang yang berada di atas angin.”
“Kau membuatku tampak seperti aku melakukannya karena dendam. Aku hanya berpikir bahwa binar di ujung kehidupan orang-orang seperti itu adalah yang paling cemerlang, sungguh.”
Sudah Naib duga. Perspektif mereka terlampau berbeda. Bila ada orang awam yang menunjukkan semangat hidup yang menunu, yang ingin Naib lakukan adalah menjaga baranya, bukan memadamkannya, supaya mereka tidak berakhir seperti empunya tangan-tangan yang mencengkeramnya.
Melihat bahwa Eli akhirnya meloloskan diri setelah menanti entah berapa lama—mengikuti langkah William dan Tracy yang segera melarikan diri usai gerbang terbuka—Naib pun menjawab, “Orang aneh.”
Kursinya mulai berputar, tapi sambaran Jack dan tawanya terdengar sejelas gelegar guntur sebelum hujan. “Lalu bagaimana denganmu yang tertolong oleh orang aneh ini, Naib Subedar?”
Naib ingat, hal terakhir yang ia rasakan sebelum kembali ke manor bukanlah kepuasan berkat keselamatan tiga kawannya atau ketenangan atas kematiannya yang demi orang lain, melainkan kejengkelan lantaran Jacklah yang menandaskan adu mulut mereka.
Pertama kali Naib melawan Jack, ia merasa dibangunkan dari mimpi panjang yang kelam kabut.
Ia menduga penyebabnya adalah reaksinya terhadap bisikan intuisinya bahwa pemburu yang tersembunyi dalam kabut itu adalah pembunuh. Bukan pembunuh yang menumpahkan darah akibat peran yang membelenggunya layaknya pemburu lainnya, tetapi pembunuh yang pernah mencabut nyawa atas kehendaknya sendiri, seperti Naib.
Masih terpatri di kenangannya betapa pekat haus darah yang ditujukan padanya serta disparitas antara irama merdu dari balik topengnya dan keganasan belatinya. Akurasi luar biasa dari angin yang dilayangkan kuku-kukunya dan betapa presisi pemilihan waktu peluncurannya; sesuatu yang Naib tahu hanya dapat ditempa oleh pengalaman. Tangannya yang diayunkan bukan dengan niat memukul jatuh, tetapi merobek, mengoyak, menghabisi.
Setelah sekian lama, Naib merasakan pacuan adrenalin yang begitu hebat sejak ia meninggalkan medan perang; rasanya hampir bak disambar petir. Ini dia, pikirnya, sebelum menyayangkan bagaimana pertandingan tidak memperbolehkannya membawa senjata sungguhan sebab keinginan untuk menangkis belati Jack dengan pisaunya sendiri segera menerjangnya bagai ombak.
Maka, ia melawan Jack sebagaimana seorang penyintas dapat melawan: berlari, mengakali, menyelamatkan, dan berusaha kabur keluar. Kakinya bergerak lebih lincah, seluruh inderanya semakin tajam, dan roda gigi dalam kepalanya bertambah gesit berputar. Debaran jantungnya terasa begitu nyata dan meskipun napasnya memburu, bagi Naib angin yang masuk ke paru-parunya adalah udara segar yang ia pertama kali hirup setelah sekian lama. Tak ada ruang untuk rasa bersalah yang selalu mencekiknya setiap kali ia merasakan kesenangan dalam pertandingan; seluruh fokusnya dilahap oleh keberadaan Jack yang berseru dengan lantang: lepaskan matamu dariku sesaat saja dan kalian akan mati.
Kendati nuansa dunia yang mengurungnya adalah monokrom, di pandang Naib yang telah menjadi jernih rona mereka tampak begitu menyala. Ia merasa hidup—sebagai seorang Naib Subedar dan bukan amalgamasi sesal dan dosa yang ditempatkan dalam sebuah tubuh yang enggan mati.
Ketika ia akhirnya diikatkan pada kursi roket untuk ketiga kalinya, tak ada gumpalan pahit di tenggorokannya lantaran gagal mencegah dua rekan setimnya dieliminasi. Tak ada imaji jenazah kawan-kawannya yang menghantuinya dari sudut matanya. Tak ada berat pedih yang menghimpit relung dadanya sampai ia sukar bernapas. Hanya dua hal yang berkobar dalam sanubarinya: frustasi atas kekalahannya dan hasrat untuk menyeka senyuman puas Jack yang mengintip dari pinggir topengnya.
Usai pertandingan, barulah bobot perbuatan Naib menimpanya. Ia menemukan kesenangan dalam laga dimana rekan-rekannya memperjuangkan hidup mereka. Perasaan bersalah yang menghantamnya hampir membuat perutnya bergejolak, dan ia pun mengutarakan maaf yang rekan setimnya anggap adalah atas performanya.
Namun, mau seberapa besar pun penyesalan yang ia pikul, ia tidak bisa menghentikan benaknya yang menggantikan kilas balik peperangan dengan serotonin kala telinganya menangkap senandung familier. Tidak bisa menahan hatinya yang membuncah ketika ia berhasil menikung dan menghindar dari kabut yang melayang. Tidak bisa melepaskan dirinya dari jerat eksistensi sang pemburu yang menuntut perhatiannya, bahkan di ambang kematian yang seharusnya menjadi tempat Naib merenungkan dosa-dosanya.
Naib tidak bisa berhenti menikmati pertandingan melawan Jack, dan ia tidak tahu mengapa.
“Tatapanmu lancang sekali, Anak Manusia.”
Naib tidak segera menjawab. Ia terlalu sibuk berjuang melepaskan diri dari tali yang mengambangkannya di udara. Setelah Hastur mendorongnya ke sandaran yang ia kenal akrab dan mengikatkan kawat berduri di sekitar tubuhnya, ia baru berkata, “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku selalu tampak seperti ini.”
“Benar, kami sudah terbiasa dengan pandangan tidak bersahabatmu setiap kali kau tumbang di pertandingan. Tapi,” celah hitam yang merupakan pupil Hastur seakan membesar bersama dengan bola mata merahnya, walaupun Naib tahu pemburu itu diam di tempat, “hanya orang bernyali terlampau besar yang berani mengarahkan pandangan tidak puas kepada dewa.”
Naib membuang muka. Bukan karena ucapan Hastur, melainkan karena ia tidak tahan berlama-lama bertemu pandang dengannya dan mencerna kegelapan bak miasma di dalam tudungnya. Sampai sekarang, ia tidak tahu bagaimana Eli betah berbincang empat mata sepanjang hari dengan pemburu itu. “Tidak bakal ada penyintas yang puas bila mereka berakhir di kursi ini.”
“Benarkah? Bahkan jika yang berhasil menangkap dan menempatkanmu di sana adalah Jack?”
Kali ini, Naib tahu bahwa ia mendelik ke arah Hastur. Membantah tuduhannya sama dengan berdusta, dan Naib bukan pembohong. Oleh sebab itu, ia memilih untuk bertanya, “Apa yang kau sedang coba buktikan?”
“Tidak ada. Justru, kau yang tampak tengah kebingungan mencari jawaban.”
Naib bungkam. Apabila ditebak oleh Jack terasa janggal, dibaca oleh Hastur terasa tidak menyenangkan. Tatapannya pada pemburu di depannya kian menajam.
Hastur tidak tampak terpengaruh. Setelah memberi jeda, ia menyambung dengan suara beratnya, “Aku akan memberitahumu ini: anak yang dibentuk oleh kabut itu adalah seniman yang berkarya untuk dirinya sendiri.”
Naib mengernyit, tak paham bagaimana petunjuk samar itu dapat membantunya. Masih sambil mengamati sang penyintas, Hastur melanjutkan, “Barangkali, membawanya kemari akan memberimu ilham atau setidaknya,” lingkaran-lingkaran senada darah di dalam tudung tersebut melebar, dan kewaspadaan Naib berseru bahwa erosi hendak menghampiri tepi kewarasannya, “mengubah raut wajahmu.”
Hastur pun beranjak ke arah penjara bawah tanah di mana penyintas yang tersisa berkumpul, meninggalkan Naib dengan decakan lidahnya. Ia tidak tahu motif Hastur mengangkat topik itu, namun terlebih lagi, ia bersikeras bahwa dirinya tak selembek yang pemburu tersebut implikasikan. Serengit tak langsung mengembang di mukanya kala perawakan jangkung Jack memasuki jarak pandangnya saat kemenangan sudah jelas di genggaman lantaran dalam beberapa detik yang berharga tersebut, benaknya terlalu sibuk merakit skenario dimana semuanya berubah kacau beserta cara menanganinya—
“Apa-apaan Hastur itu.” Suara Jack menyambutnya tepat setelah jeruji yang mengurung Naib kembali ke dalam tanah. “Dia bilang aku bakal dapat menonton kelinci kecil merajuk jika datang kemari, tapi yang kulihat hanya tikus besar kepala dalam perangkap.”
Kulit perak Jack berkilau bagaikan intan ketika ditimpa sinar rembulan. Menurut Naib, berlian tersebut akan lebih mudah ditelan daripada kata-katanya sendiri.
Kegelapan tanpa ujung terhampar di depan mata Naib. Sepatunya menapaki permukaan yang gejah, hampir seperti tanah yang basah. Kendali atas anggota tubuhnya tiada dan dugaan bahwa ia tengah berada dalam sebuah mimpi terbukti.
Kehadirannya di tempat ini bukan pertama kali. Alam bawah sadarnya telah cukup sering melahirkan ruang kelam ini sehingga Naib bisa menebak rangkaian peristiwa berikutnya yang tertulis di naskah bunga tidurnya. Benar saja, saat ia menunduk, ada tubuh yang bangkit dari kolam hitam di bawah kakinya. Meskipun warna sekujur badannya selaras dengan sekelilingnya, fitur milik sosok itu terpahat cukup jelas sampai Naib bisa mengenalinya sebagai salah satu saudara seperjuangannya yang mengembuskan napas terakhirnya di atas punggungnya.
Tak lama kemudian, muncul sosok-sosok lainnya. Dua, tiga, empat. Rekannya yang dihabisi oleh peluru ke kepala saat mereka tengah bertempur berdampingan, tentara yang melahap sarapan bersamanya sebelum gagal dikeluarkan dari zona ledakan olehnya kala petang, kawan sebangsanya yang ia binasakan dengan kukrinya sendiri. Jemari mereka mengais mata kaki Naib sembari perlahan memanjat naik. Dengki mengisi lubang di mana netra mereka seharusnya berada dan pertanyaan milik mereka bergema di kepala Naib meski mulut mereka tak bersuara.
Mengapa kau masih hidup?
Naib—tidak tahu. Ia bisa berkata: penebusan dosa; tetapi apakah itu adalah jawaban yang layak ketika ia masih mencari hal yang dapat membuat jantungnya berdebar selama perjalanannya? Atau, sesuatu yang lebih mendasar: naluri bertahan hidup; namun seumpama sosok-sosok tersebut memutuskan untuk menariknya jatuh bersama mereka sampai air menghimpit paru-parunya, ia tidak akan melawan sebab ia tak memiliki hak untuk itu.
Maka, Naib hanya membisu dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Tiba-tiba, bergema langkah kaki yang memecah kesunyian. Spontan, Naib mendongak, berusaha mencari tahu identitas empunyanya. Ia mengira yang hendak menghampirinya adalah wajah lama. Ia tidak meduga justru sebuah siluet tinggi yang memasuki jarak pandangnya.
Mata Naib membelalak. Jack berjalan dengan ringan, tidak memedulikan tempias yang melompat dan menempel ke tepi pakaiannya. Senandung lembutnya menyambut gendang telinga Naib seiring dengan menyusutnya jarak di antara mereka. Dalam kegelapan yang pekat ini, kulit pucatnya membuatnya tampak seperti cacahan cahaya bulan yang menyelip dari sela-sela dahan di malam hari.
Ibarat menyentuh timah panas, jari-jari yang mengakas kakinya lepas dalam sekejap setibanya Jack tiba di depannya. Naib nyaris tidak menyadarinya sebab terlanjur tertegun. Rautnya menimbulkan senyum dalam suara Jack ketika ia berkata, “Rupanya di sini kau berada.”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Jack menelengkan kepala. “Oh, apakah kau lupa?” Ia membungkuk dan melipat salah satu tangannya di belakang punggungnya; tangannya yang lain ia julurkan ke arah Naib. “Kau berjanji untuk berdansa denganku, ingat?”
Selayaknya bagaimana ia akan menanggapi situasi itu di dunia nyata, yang menyambut uluran tangan Jack adalah tatapan sangsi.
Jack tertawa kecil, seolah telah menebak reaksi Naib. “Tidak apa-apa jika kau tidak tahu bagaimana berdansa. Aku dengan senang hati akan mengajarimu.”
Ada cemooh terselubung dalam tawaran murah hati tersebut. Sambil membatin rutukan pada Jack yang mengetahui apa yang harus diucapkan untuk memancingnya, Naib meletakkan tangannya ke atas telapak di hadapannya. “Aku tahu cara berdansa.”
Jarinya digenggam lalu digiring ke samping, yang turut menarik tubuhnya mendekati figur jangkung Jack. “Kejutan yang menyenangkan.” Tapak besar mendarat di bahu Naib, dan secara instingtif ia menaruh tangannya ke pinggang sang pemburu.
Naib mendengus. “Maaf jika aku tidak sebarbar ekspektasimu.”
Gelak dari Jack mengiringi langkah pertamanya. Naib segera mengikuti gerak kakinya serta ayunan badannya; irama yang seharusnya hanya bermain di kepala Jack entah mengapa tubuhnya turut kenali. Tarian Jack yang anggun, namun tegas dan tangkas menjadikan kentara perbedaan asal ilmu dansa mereka. Barangkali ia diajarkan secara turun-temurun atau keluarganya cukup berpunya untuk menyewa pelatih. Tidak seperti Naib yang mempelajarinya melalui praktik langsung yang gabir bersama para gadis yang didorong oleh kawan-kawannya ke dalam rangkulannya kala mereka memiliki waktu lenggang untuk mengunjungi pub-pub murah.
Ah. Ingatan akan rekan-rekannya tersebut mengembalikan perhatiannya pada sosok-sosok hitam yang lamun telah mundur, kini menatapnya penuh geram dan cemburu. Mereka terlihat sudi merobek keluar jantung Naib demi menggantikan posisinya sekarang—dan Naib tak dapat menyalahkan mereka. Dibanding ia yang terus melangkah dengan denyut tanpa arah, mereka lebih layak.
Ia mengingat tawa kawan-kawannya yang mengisi ruang di antara rusuknya dengan kehangatan; bagaimana ia berharap dapat menjaga wajah-wajah bahagia di bawah pendar kuning lampu pub tersebut dan bagaimana ia gagal. Antipati terhadap dirinya sendiri pun kembali bangkit, memenuhi dadanya dengan sensasi dingin dan memecah fokusnya. Apabila Naib adalah pria yang lebih ceroboh, pasti ia telah tersandung kakinya sendiri saat ritme yang dibangunnya goyah.
Secara refleks ia menunduk dengan geraham yang mengerit. Setengah karena segan menampakkan ekspresi menyedihkan kepada lawan dansanya, dan setengahnya lagi agar ia dapat kembali menyamakan langkah mereka dengan memperhatikan kiprah Jack. Sayang, usahanya tak kunjung membuahkan hasil.
Setidaknya, Jack tidak berkomentar selama beberapa saat lantaran ia membiarkan Naib mencoba terlebih dahulu. “Aku akui, kau ternyata tahu cara berdansa,” ucap Jack ketika ia akhirnya memutuskan untuk angkat bicara, “tapi, apakah kau bisa mengikutiku?”
Jikalau Jack tidak memaksudkannya sebagai tantangan, benak Naib tetap mencernanya sebagai itu. “Aku—!” Ia mengadah dengan jawaban yang sudah terbentuk di ujung lidahnya, tapi ketika matanya menangkap sosok Jack yang tampak begitu ganjil di dunia kelam yang berisi jejak masa lalunya, kata-katanya hangus menjadi abu pahit.
Inilah yang Naib sukar akui: bahwa ia mendamba cara hidup Jack. Tak terbelenggu oleh tangannya yang terbasuh darah, mengikuti kemanapun hatinya menunjuk tanpa mengenal inhibisi, dan tidak segan untuk mengukir senyum meski yang menatapnya di mata adalah dosa-dosanya. Tetapi, di saat yang bersamaan, ia benci pada dirinya sendiri yang berani untuk merasa seperti itu.
“...aku tidak bisa,” lirih Naib pada akhirnya. Kakinya berhenti bergerak, namun ia tidak peduli. Toh, ia yang sekarang diam di tempat tidak banyak berbeda dari bagaimana ia menjalani kehidupannya pasca perang: melangkah dengan kaki yang tenggelam dalam lumpur yang pekat, tanpa tahu tujuan.
Jack tercenung, dan Naib melonggarkan genggamannya, siap melepas tangannya. Tetapi, sebelum ia dapat menarik mundur lengannya, jemari yang berada di pundaknya serta mengitari tangannya mengerat, dan Naib hampir terjungkal saat Jack sekonyong-konyong memulai kembali dansanya.
“Apa-apaan kau ini?!” sembur Naib yang tergopoh-gopoh menyeimbangkan dirinya sembari mencari langkah kaki yang tepat. “Sudah kubilang, ‘kan, kalau aku tidak bisa?!”
“Lalu kenapa?” Jack balik bertanya dengan tenang. Naib yang tidak mengerti maksud pemburu itu hendak melontarkan sergahan, tapi Jack mempercepat temponya dengan mendadak sehingga ia terpaksa berkonsentrasi mencocokkan langkahnya sekaligus memacu gerakannya. Sedikit lagi, sedikit lebih gesit lagi. Setelah beberapa saat, ia menemukan irama yang cukup nyaman dipegang walau sedikit tertinggal dari Jack. Ia puas dengan itu.
Seharusnya ia puas dengan itu.
Sesuatu mengganjalnya—frustasi, rasa kesal, atau ego tidak mau kalah, Naib tidak dapat menemukan nama yang tepat untuknya. Ia hanya tahu bahwa rasa yang bergemuruh di dalam dirinya membuat darahnya berdesir hebat. Muncul lonjakan tenaga yang mengingatkan Naib akan pemulihan tubuhnya kala mesin sandi terakhir dipecahkan. Naib tahu bahwa energi tersebut cukup untuk menyelaraskan langkahnya dengan langkah jack, maka pertanyaan yang tersisa adalah: maukah ia?
Ada lengkung yang timbul dari tepi topeng Jack. Jawabannya jelas.
Mengikuti Jack, menyamakan langkah mereka ternyata—lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Naib merasa konyol, terutama setelah Jack terkekeh dan ia menyadari kesenjangan konteks pembicaraan mereka.
“Lihat, pada akhirnya kau dapat mengikutiku, bukan? Jadi, untuk apa lagak rendah hati seperti tadi?”
“Aku bukan berlagak rendah hati,” bantah Naib. “Aku cuma...” ucapannya tersendat, bingung harus mulai menjelaskan dari mana.
Jack bergumam singkat. “Kau terlihat seperti pria yang menyimpan banyak beban pribadi,” katanya, yang menyebabkan Naib membelalak. Apakah Jack sesungguhnya paham makna dibalik kata-kata Naib? “Tapi, di saat yang bersamaan, kau juga pria yang tidak betah berlama-lama menatap punggungku tanpa mengejarnya, benar?”
Napas Naib tercekat.
Salah satu sudut kurva yang Jack sungging lebih tinggi daripada sudut lainnya. Seulas seringai. “Dan menurutmu, apakah aku adalah orang yang akan senang jika pasanganku terpikat oleh orang lain saat sedang berdansa denganku, Naib Subedar?”
Naib mengedarkan pandangannya pada sekitar. Sosok-sosok hitam yang mengelilinginya lenyap tanpa jejak, seolah mereka tak pernah ada sejak awal. Sekarang, di dunia rapuh dan gelap ini, hanya mereka berdua penghuninya.
Oh, Naib akhirnya mengerti. Mengapa tak ada beban meremukkan di bahunya maupun pengingat konstan mayat yang bergelimpangan di belakangnya setiap kali ia menyambut ajakan bertarung Jack, tuntutan untuk memperhatikannya, serta tantangan untuk mendahuluinya.
Semua itu bukan ia ajukan demi Naib. Bukan karena ia ingin menolong Naib melupakan masa lalunya, bukan karena ia ingin membantu Naib tinggal di masa kini, bukan karena ia ingin mengajari Naib betapa bahagianya kehidupan. Seluruh ajakan, tuntutan, dan tantangan itu ia cetuskan untuk kenikmatannya sendiri guna memperoleh hiburan, lawan yang sepadan, serta pemicu debaran. Bagi sosok yang hidup di masa sekarang seperti Jack, kehadiran mereka merupakan pengenyah jenuh terbaik.
Hantu masa lampau manapun tak bakal bertahan lama kala dihadapkan dengan ketamakan semacam itu—dan apabila perbuatan-perbuatan yang selama ini Naib sangka adalah sekadar memperturutkan hati rupanya bertaut dengan pemenuhan dahaga Jack akan stimulus, mana ada ruang yang tersisa bagi tangan penuh dendam mereka untuk menyusup dan mencengkeram tenguk Naib?
Naib menyungging senyum miring dan berkata, “Apakah pantas bagi pria terhormat untuk berperilaku seegois ini?”
“Hanya di depanmu,” jawab Jack, manis dan lembut.
Seraya berpura-pura bergidik, Naib meningkatkan ritme dansa mereka. Langkahnya terasa ringan. Mungkin kaki serupa inilah yang Jack gunakan dalam menapaki kehidupannya.
“Bagaimana pendapatmu bila aku membunuhmu di sini?”
Bukit-bukit kecil tercipta di antara alis Naib dalam sekejap. Ia melayangkan tatapan penuh penghakiman kepada Jack sambil menghiraukan suara kecil di sudut kepalanya yang mengatakan bahwa perpaduan penampilan sang pemburu dan salju yang jatuh tidak teramat buruk.
Mereka kebetulan bertemu di panggung mode khusus ini—atau setidaknya, seperti itu kelihatannya dari sudut pandang Jack. Naib sekedar tidak mempedulikan laporan Nightingale bahwa arena ini tengah digunakan oleh Jack untuk berlatih ketika ia sampai di ruang tunggu dengan tujuan mencarikan aksesoris Helena yang jatuh di tempat ini.
“Itu bukan pertanyaan yang cocok dilontarkan oleh pria terhormat,” tukas Naib.
“Aku tidak perlu khawatir. Di sini hanya ada aku dan kau.”
Debat sampingan tersebut mengingatkannya akan mimpi yang baru-baru ini menghampiri lelapnya, lantas melunturkan niatnya untuk melanjutkannya. Naib pun membiarkan kebiasaannya mengambil alih dan menyapu wilayah sekitarnya dengan netra birunya sambil menandai jalur-jalur yang dapat ia gunakan untuk melarikan diri. “Kau ingin kejar-kejaran?” tanyanya.
“Tidak, yang kumaksud bukan membunuhmu setelah melawanmu,” sanggah Jack, masih terdengar seperti membicarakan hidangan yang kelak dipilih untuk makan malam. “Maksudku adalah kematian yang tiba saat kau sedang menjalani kehidupan sehari-harimu. Sebut saja, kita tengah berbincang seperti sekarang dan aku meraih jantungmu.”
Kerutan dahi Naib semakin dalam. Sebenarnya, merupakan dusta jika ia berkata imaji sejenis itu tidak pernah terbesit di benaknya. Saat ia tengah melahap camilan di pesta teh yang diselenggarakan oleh Jack bersama beberapa penyintas wanita, ia membayangkan bagaimana seumpama jemari yang memeluk gagang cangkir di depannya membentang dan menguak abdomennya. Ketika ia mengantarkan Jack menyusuri taman yang menghubungkan tempat tinggal mereka untuk menemui Emma, terpintas di kepalanya khayal Jack yang mewarnai semak hijau yang mengapit mereka dengan merah padam darahnya.
Sekarang, pikirannya merajut skenario dimana kelima belati Jack mencabik jantungnya kala mereka sedang berjalan berdampingan sembari beradu mulut. Pemandangan terakhir yang ia saksikan: figur pucat Jack yang membaur dengan hamparan putih di sekeliling mereka, mata pisaunya yang berbalut kirmizi berkilau keperakan dikecup binar candra. Bunyi terakhir yang ia dengar: senandung sajak kanak-kanak yang tak pernah ia pelajari namanya, dilantunkan oleh suara berat yang merdu. Rasa terakhir yang menghuni dadanya: ketenteraman yang luluh menjadi kepuasan.
“Kematian seperti itu tidak pantas untukku,” jawab Naib. “Terlalu wajar.”
Itulah yang dirinya percayai. Persemayaman yang pantas bagi Naib Subedar adalah medan tempur dan ceruk-ceruk gelap; yang seharusnya hatinya telan di saat terakhirnya adalah pil pahit atau kehampaan.
“Wajar?” kata Jack setelah terdiam sejenak. Tawa kecil yang lepas dari bibirnya berlanjut sampai ia terbahak. “Dibantai oleh pembunuh berantai itu wajar? Aku tahu bahwa standar-standarku tidak bisa diterima orang banyak, tapi tampaknya kau sama eksentriknya.”
Naib tak bisa membantah. “Diamlah,” gerutunya.
Jack tidak mengindahkan protesnya. “Ah, tadi itu menyegarkan,” ujarnya setelah gelaknya reda. Kemudian ia menunduk dan mengamati Naib. Kendati terhalang topeng, intuisi Naib mengatakan bahwa mata pemburu tersebut tengah memicing jahil. “Kalau begitu, untunglah hak untuk menentukan di mana mangsa binasa ada sepenuhnya di tangan pemburu, ya?”
Dibanding mengungkap isi perut ataupun menyingkap darah dan daging, inilah yang Naib anggap paling mengerikan dari Jack: kemampuannya untuk membongkar keinginan terdalamnya dan merenggutnya keluar.
Naib, dengan bodohnya, juga menemukan pesona dalam bahaya tersebut.
“Jika ujung-ujungnya kau akan menghabisiku sesuka hatimu, untuk apa kau menanyakan pendapatku?”
Kepala Jack kembali menghadap ke depan, nadanya seringan langkahnya ketika ia menjawab, “Aku hanya penasaran.”
Menyebalkan sekali. Naib telah berhadapan dengan beragam watak dan tabiat, tapi tak ada yang menyulut kejengkelannya seperti Jack.
Namun, apabila di tangan pembunuh menyebalkan inilah ia menemui ajalnya, maka ia sudi menjadikannya kesenangan bercampur rasa bersalah terakhirnya.
