Chapter Text
Kakaknya sekarang menjauh.
Atau, seperti itulah yang dipikirkan Edgar. Hujan terus turun dan kedua tangannya telah basah. Tahun kemarin sebelum kakaknya masuk SMP, kakaknya akan nekat berlari dari kelasnya di lantai atas menuju kelas Edgar. Kemudian mengajak Edgar menunggu hujan reda bersama. Atau kakaknya akan nekat berlari menembus hujan seraya memberikan payung pinjaman kepada Edgar. Ia pulang lebih lama karena ada piket bersama Emma dan yang lainnya. Hanya Edgar sendiri yang belum bisa pulang.
Seharusnya di jam seperti ini, anak-anak SMP sudah pulang. Dan seharusnya kakaknya sudah menjemputnya.
Seharusnya.
Tetapi Edgar menatap jauh, menatap gerbang sekolah yang terbuka. Tetap tidak ada kakaknya yang datang. Hanya ada sebuah mobil—mobil jemputan Emma. Tidak ada bayang-bayang kakaknya datang membawa payung, berlari ke arahnya, meneriakkan nama Edgar di antara deru hujan.
Tidak ada siapapun.
“Edgar! Papaku udah jemput! Bareng yuk?”
Lamunan Edgar dibuyarkan oleh seruan Emma. Gadis kecil itu sudah berdiri di depannya, memegang erat payung berwarna merah muda. Senyumannya terbentang, lepas. Tangannya terulur ke arah Edgar, menunggu untuk disambut. Mengajak untuk pulang bersama.
“... enggak apa?”
“Enggak apa-apa. Papa kok yang ngajak. Nanti Edgar sakit kalau kehujanan.” Emma langsung menggenggam tangan Edgar. Anak laki-laki itu tertegun. Telapak tangan Emma basah. “Yuk?”
Karena tak enak hati kepada Emma yang menunggu di tengah hujan (dan ayah Emma yang repot-repot menjemput di tengah kesibukannya), Edgar akhirnya melangkah, berteduh di bawah payung Emma. Di antara deras hujan, mereka berdua melangkah beriringan. Untuk terakhir kalinya, Edgar menatap ke belakang.
Bahkan hingga ia hendak beranjak dari tempatnya pun, kakaknya tetap tak datang.
Semua bermula saat Luca lulus.
Upacara kelulusan anak-anak kelas enam merupakan masa untuk pertama kalinya, Edgar menangis kencang di hadapan orang-orang. Sampai Luca bergegas turun dari panggung demi memeluk adik kecilnya erat. Luca akan masuk SMP sementara Edgar masih tetap anak SD. Selama mereka satu sekolah, tiap istirahat, Luca selalu mampir ke kelas Edgar. Selalu melihat keadaan adiknya (mengingat Edgar itu tidak begitu pintar dalam hal bersosialisasi, Luca berusaha agar adiknya tidak kesepian). Mereka berangkat sekolah dan pulang ke rumah bersama. Jika ada salah satu yang piket kelas, satunya akan menunggu di luar agar mereka dapat pulang bersama. Kakak adik itu tak pernah terpisahkan.
Dan ini kali pertama Edgar berpisah dengan Luca. Saat kakaknya harus pergi ke jenjang yang lebih tinggi.
“Abang enggak ke mana-mana kok, Dik.”
“Tapi—“
“Abang masih di rumah.” Luca berkata seraya mengelus punggung Edgar. Menenangkan adik kecilnya. “Gedung SMP ada di sebelah. Nanti pulang juga masih bisa barengan.”
SD dan SMP ini berada di bawah naungan satu yayasan. Bangunan mereka berdekatan. Anak-anak SMP yang mampir ke gedung SD merupakan pemandangan yang biasa, begitu juga sebaliknya. Mereka juga masih satu rumah, masih dapat bertemu kapan saja. Luca tak akan ke mana-mana.
“Jadi jangan nangis ya, Dik?”
Dan Edgar menghapus air matanya dengan ceroboh seraya mengangguk. Benar. Luca tak akan ke mana-mana. Masuk SMP pun, Luca masih kakak Edgar. Masih bisa bertemu dengan Edgar. Mereka masih bisa berbincang seperti biasa. Seharusnya tidak akan ada yang berubah.
Seharusnya, semuanya akan baik-baik saja.
Realitanya, mereka hanya pulang bersama di bulan pertama semester baru.
Ketika Luca masih belum sibuk dengan teman-teman barunya. Ketika perhatian Luca belum tersedot oleh eskul ilmiah sekolah. Ketika Luca masih mengingatnya. Ketika dunia Luca adalah hal-hal yang diketahui Edgar, dan ketika mereka masih mampu berbagi cerita. Sementara kini—tiap kali kakaknya menyempatkan diri untuk bercerita, selalu hal-hal yang tidak Edgar ketahui yang keluar. Ia tak tahu siapa itu Norton, Tracy, dan Naib. Pun tidak mengerti dengan konsep lomba, konsep olimpiade, atau bahkan apa itu fisika yang Luca sukai. Dunia Luca kini adalah hal yang begitu asing, berubah drastis dari apa yang Edgar ketahui. Ia tak tahu apapun yang Luca bicarakan dan dalam diam, itu membuatnya takut sendiri.
Bagaimana—bagaimana jika rasa asing ini berlangsung selamanya?
Bagaimana jika mereka benar-benar akan terpisah?
Edgar kecil baru memahami jika berpindah sekolah, berpindah minat dan kesukaan, sama dengan sebuah perpisahan tersirat. Pada dunia yang lama dan segala penghuninya. Pada dirinya yang pernah sedekat urat leher dengan Luca, dengan kakaknya. Dan kala malam hari ia teringat akan hal itu, tubuh Edgar menggigil. Ia sungguhan berpisah dengan Luca.
Rasanya—mengerikan.
“Masa tadi Pak Orpheus ngasih soal susah banget buat aku?”
Suara Emma menggema di kelas. Eli menatap gadis itu lekat, mendengarkan keluhannya, selagi Aesop merapikan isi tasnya. Mereka baru saja menyelesaikan belajar bersama dan hanya ada mereka berempat di sana. Sudah sore, hanya ada anak-anak eskul sepak bola yang masih bermain di lapangan.Dan Edgar masih menatap gerbang sekolah dengan gelisah. Selalu begitu setiap kali ia pulang sekolah, ia menemukan dirinya menunggu di kelas agak lama sebelum pulang.
Menunggu kakaknya datang menjemput. Dan hingga detik terakhir pun, kakaknya tak kunjung datang.
“Karena Emma pintar.” Eli menjawab dengan lembut. Di antara teman-teman sekelasnya, Eli selalu bisa menghibur orang lain. “Tapi tadi Emma bisa jawab?”
“Soalnya semalem Papa ngajarin. Tapi tetap aja susah!” Kedua bibir Emma mengerucut sebal. Tak begitu lama karena teringat sesuatu, wajah gadis kecil itu kembali berseri-seri. “Eh, jadi enggak kerja kelompok sabtu besok?”
“Jadiii! Mau di apartemenku aja, enggak? Biar Aesop pulangnya enggak susah?”
Aesop menjawab canggung, “Aku ... enggak apa sih.”
“Kalau Edgar?”
Tersentak ia dari lamunannya ketika ia merasakan bahunya ditepuk oleh Emma. Disaksikannya gadis itu menatapnya lekat, menanti jawaban dan tanggapannya.
Rasanya aneh saat ada yang menanyakan pendapatnya seperti ini.
“Ah, ya, aku ikut aja.”
Edgar berteman dengan Eli, Emma, dan Aesop berlandaskan kebetulan. Mereka berada di kelas yang sama dan Emma kebetulan satu bangku dengan Edgar. Mereka berdua sering satu kelompok dengan Eli dan Aesop. Jika Eli dan Emma adalah yang paling mudah berbaur, Aesop dan Edgar lebih banyak diam. Sebelumnya, Edgar tak punya teman di kelas kecuali lukisannya. Saat kelas-kelas sebelumnya pun juga demikian. Karena itulah sebelumnya, kakaknya sering mengajak Edgar ke kantin bersama saat istirahat. Agar Edgar tak sedih karena ia tak punya teman.
Teringat bulan kemarin saat ia bersama Emma dan Eli menunggu jemputan di taman, mereka berkenalan dengan seorang anak. Eli dan Emma menjadi yang paling vokal, sementara Edgar lebih cenderung menahan diri dan merespon seperlunya. Sejak awal, Edgar tak pernah menjadi yang paling vokal. Biasanya ia berada di balik punggung kakaknya atau berada di dekat temannya, karena ia belum begitu terbiasa dengan keramaian. Tetapi bukan berarti Edgar tak ingin berteman. Lagipula, anak itu anak yang baik dan ramah. Edgar ingin berteman, ingin mengenal lebih dekat. Tetapi ia ragu dan pada akhirnya, ia tidak bisa menyampaikan itu.
Baru kemarin, ia bertemu dengan anak lelaki itu bersama Emma dan Eli. Kala ia berusaha untuk tersenyum, anak lelaki itu tak mengenalinya sama sekali. Tetapi tidak dengan Emma dan Eli. Menyaksikan mereka berbincang dengan akrab membuat Edgar perlahan-lahan menarik dirinya, berbalik pergi. Eli yang kali pertama menyadari dan berusaha menghentikannya. Tetapi Edgar berdalih kalau ia sudah dijemput kakaknya dan ia harus pulang duluan.
Tidak ada yang tahu bahwa di sore hari itu, Edgar pulang berjalan kaki seorang diri seraya menangis. Saat itu, rasanya dadanya seakan diremas dari dalam. Sakit.
Sejak awal, anak itu tak pernah menganggapnya ada. Hanya Emma dan Eli. Wajar saja, Emma dan Eli itu mudah berbaur, tidak seperti Edgar yang lebih banyak diam waktu itu. Tetapi bukankah wajar? Soalnya—memang Edgar itu siapa?
Setelah kakaknya menjauh, rasanya kosong. Sepi. Hal-hal kecil mudah sekali membuatnya tersentil. Bukankah sejak awal memang seperti ini? Edgar hanya pintar dalam hal melukis dan pecundang dalam hal-hal lain, termasuk dalam berteman. Andai ia tidak sebangku dengan Emma, andai ia tidak sering satu kelompok dengan Aesop dan Eli, ia tak akan pernah punya teman. Mungkin, Emma dan yang lainnya berteman dengan Edgar atas dasar keterpaksaan. Memangnya—siapa yang mau berteman dengan Edgar?
Memangnya—memangnya Edgar pernah punya teman sejak awal? Kakaknya sudah menjadi orang asing baginya, setelah ini siapa lagi? Aesop? Eli? Emma? Siapa lagi yang akan tersisa untuknya? Memangnya ia pantas mendapatkan siapapun di dalam hidupnya?
“Edgar kenapa? Sakit perut?”
Tatapan Emma begitu cemas. Refleks, Edgar menggelengkan kepala demi meyakinkan.
“Enggak apa-apa kok, Emma.”
Tidak apa-apa. Ini masalah Edgar sendiri. Ini hanya ada di dalam pikirannya sendiri. Sesuatu yang konyol dan harus ia telan sendiri.
Ia tidak boleh melibatkan orang lain dalam dukanya sendiri. Tanpa peduli bahwa saat ini, hatinya berdarah tanpa henti. [ ]
