Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-07-22
Words:
1,188
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
27
Hits:
483

i wonder why

Summary:

Perihal Yujin yang bingung kenapa tiba-tiba jantungnya lompat-lompat setiap melihat teman sekelasnya, Wonyoung.

Notes:

mauminju on twitter/write(.)as. first annyeongz au, enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Yujin tidak tahu persis kapan, di mana, dan bagaimana dia mulai melihat seorang Jang Wonyoung dengan tatapan yang berbeda. Tetapi, Yujin tahu betul hal yang dia rasakan sekarang ini tidak biasa, karena belum pernah seumur hidupnya merasakan nafasnya tertahan ataupun rasa bahagia yang tidak tertahankan hanya dengan melihat seseorang. Hal ini dia rasakan setiap dia melihat Wonyoung, teman sekelasnya dari kelas 10.

 

Kalau boleh jujur, sebelum semua hal ini terjadi, Yujin sudah pernah memikirkan kemungkinan menyukai Wonyoung sebagai seorang wanita. Bagaimana tidak? Wonyoung tidak dapat dipungkiri merupakan siswa paling cemerlang, cantik, dan ramah, seantero sekolah. Menurut Yujin, tidak ada satupun orang di sekolah ini yang satu tingkat dengan Wonyoung dalam masalah kesempurnaan. Ya, dia bahkan sudah memikirkan senior dan junior yang selalu menorehkan prestasi.

 

Namun, Yujin tetap yakin Wonyoung merupakan orang yang paling mudah dan pantas untuk dikagumi siapapun. Bahkan, rasanya aneh kalau ada orang yang tidak mengagumi seorang Jang Wonyoung.

 

Imajinasi Yujin tentang menyukai Wonyoung lebih dari sekedar teman kelas namun kandas begitu saja, ketika Yujin sadar bahwa Ia dapat berbicara di depan Wonyoung tanpa masalah. Yujin merasa tenang dengan kondisinya ini dan melewati tahun pertama SMA dengan mulus. Sekarang mereka sudah menginjak kelas 11, tidak banyak yang berubah. Kecuali sarang kupu-kupu yang tiba-tiba bersemayam di perut Yujin setiap ada Wonyoung.

 

Aneh, bukan?

 

Ketika Yujin sudah mengantisipasi perasaan romantis yang mungkin akan muncul, Ia tidak kunjung datang. Tetapi, saat Yujin lengah, perasaan itu menghantam dirinya tanpa basa-basi.

 

Menyukai seorang Jang Wonyoung bukanlah hal yang mudah. Ia merupakan pribadi yang ulet dan anggun menawan. Sedangkan Yujin? Yujin hanyalah seorang Ahn Yujin. Yujin dengan lensa kacamatanya yang ketebalan untuk remaja yang baru 17 tahun, Yujin yang tidak terlalu peduli tentang menorehkan kesan depan guru ataupun prestasi, Yujin yang tidak terlalu punya banyak teman.

 

Yujin mungkin merupakan salah satu siswi yang telah menjadi incaran tim inti basket sekolah mereka, tetapi prestasi akademiknya yang cenderung biasa-biasa saja, membuat Ia tetap berpikir bahwa... Ia hanyalah seorang Ahn Yujin. Tidak ada yang spesial.

 


 

"Yujin keren tau! Yujin aja yang terlalu ngeremehin diri sendiri." Gerutu Wonyoung suatu hari. Percakapan ini sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Wonyoung, tapi Ia tiba-tiba berceletuk di tengah-tengah pembicaraan Yujin dan Sunwoo.

 

"Iya tau nih anak," Sunwoo menyikut Yujin, tanda setuju dengan ucapan Wonyoung. Atau nambah alasan aja buat jadiin Yujin bulan-bulanan.

 

Yujin berdecak kesal, "Elu anjir yang mulai."

 

"Ih, yakan gue cuman bilang elu pasti masuk tim inti, males-malesan juga tetap masuk. Eh lu malah ngomong kalo lo rajin soalnya lo payah."

 

"Mending lu diem!"

 

Wonyoung hanya bisa menggeleng, "Sunwoo juga jangan ganggu Yujin mulu, deh. She knows what she is doing."

 

Mendengar hal itu, Yujin hanya bisa diam dan merasakan telinganya memanas.

 

"KOK GUE?"

 

Tidak peduli dengan bentuk protes dari Sunwoo, Yujin memberanikan diri untuk menatap Wonyoung, "Gak makan siang?"

 

Wonyoung menaikkan alisnya--tidak sering Yujin melontarkan pertanyaan basa-basi seperti ini, "Nggak, susu aja cukup nih." Ujarnya sembari menggoyangkan kotak susu yang daritadi Ia genggam.

 

"Kenapa?"

 

"Pensi udah tinggal tiga bulan, mending kelarin kerjaan OSIS dulu."

 

Mendengar hal itu, Yujin hampir saja ngomel, tapi Ia kembali mengingat posisinya yang hanyalah teman sekelas Wonyoung, tidak lebih. Dianggap sebagai teman baik juga tidak bisa, karena sebenarnya Yujin jarang interaksi dengan Wonyoung. Hanya melalui percakapan singkat seperti ini saja. Lagipula, Wonyoung hampir selalu sibuk, membuat Yujin segan untuk memulai percakapan baru dengannya.

 

"Gila lu ambis banget," Celetuk Sunwoo.

 

"Bukan ambis. Kewajiban." Wonyoung memutar bola matanya kepada Sunwoo dan kembali menunjukkan wajahnya yang cerah tersenyum kepada Yujin, "Gausah dengerin Sunwoo ya, Jin. Lo udah keren banget, kok. Gue cabut duluan, bye!"

 

Wonyoung berlari kecil setelah pamitan dengan kedua sahabat itu, meninggalkan bau strawberry yang kuat pada indra penciuman Yujin.

 

"Merah banget pipi lu kayak kepiting asap."

 

Sebelum Yujin bisa bereaksi, Sunwoo langsung lari kabur dan diikuti oleh Yujin dengan teriakannya yang mengisi lorong kantin, "GUE ADA SALAH APASIH SAMA ELU?!"

 


 

Hampir pukul satu dini hari, Yujin masih belum bisa tidur. Sejak Ia sadar akan perasaan baru yang Ia rasakan ini, susah rasanya untuk tidur tanpa menganalisa segala interaksinya dengan Wonyoung. Tidak penting sih, memang. Tapi, Yujin selalu penasaran bagaimana bisa Ia melihat Wonyoung dengan tatapan dan perasaan yang benar-benar berbeda dari satu tahun terakhir.

 

Apa mungkin ini akibat saat itu di mana Yujin berpapasan dengan Wonyoung di mall dan Ia terlihat terlampau cantik dibanding remaja seumuran mereka?

 

Tidak, Wonyoung memang sudah cantik dari awal Yujin mengenalnya.

 

Apa gara-gara waktu Wonyoung membantunya untuk menjawab tugas bahasa inggris saat Yujin sudah frustasi dibuatnya?

 

Tidak, itu bukan kali pertama Wonyoung membantu Yujin dalam mengerjakan tugas.

 

Oh, apa mungkin saat waktu Yujin presentasi di depan kelas dan Wonyoung menatapnya dengan penuh kepercayaan agar Yujin tidak gugup?

 

Tidak juga...

 

Dan banyak lagi pikiran yang berlalu lalang di otak Yujin, namun Ia tidak kunjung menemukan jawabannya.

 


 

Yujin berakhir dengan tidur pada jam tiga dini hari dan hari ini dia memiliki rencana khusus untuk mengembalikan jam tidurnya yang sehat. Yujin berencana untuk... memperhatikan Wonyoung seharian.

 

Mungkin memang hal itu terdengar seperti sesuatu yang creepy, tapi Yujin bersumpah dia tidak akan menjadi stalker Wonyoung hanya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan mustahilnya itu. Hanya memperhatikan satu dua gerak-gerik wanita yang selalu mengisi pikirannya itu. Hanya akan dilakukan saat Wonyoung berada di dalam radar Yujin. Tidak lebih.

 

"Pagi, Yujin. Lesu banget mukanya?"

 

Speak of the devil. Yujin menelan ludahnya sebelum menjawab untuk menghindari suaranya crack akibat terkejut dengan kehadiran Wonyoung, "Eh, iya. Kemarin gak sengaja begadang."

 

"Gak sengaja?" Wonyoung tertawa, "Kok bisa?"

 

Yujin menghela nafas, "Banyak pikiran."

 

"Apatuh?"

 

Yujin terbatuk kencang hingga Wonyoung harus memberikan botol air minumnya, "Minum."

 

Yujin yang masih terbatuk-batuk hanya mengangguk lemah dan menerimanya.

 

Namun, selagi Yujin minum, Wonyoung malah menambah masalah dengan bertanya, "Gak mikirin gue, kan?"

 

Yujin hampir saja menyembur air yang berusaha Ia telan pada wajah cantik Wonyoung, namun Ia tahan. Sebagai gantinya Ia masih terbatuk-batuk. Wonyoung hanya tersenyum geli melihat teman sekelasnya yang masih berusaha menenangkan dirinya.

 

Gila ni cewe, Pikir Yujin.

 

Setelah Yujin selesai minum dan batuknya hilang, Wonyoung yang tidak sabar kembali membombardir siswi berkacamata itu dengan pertanyaan lain, "Jadi?"

 

Yujin menatap Wonyoung dengan tatapan pasrah, "Apanya?"

 

"Mikirin apa sampe gak tidur?"

 

"Kalau gue bilang, iya mikirin elu. Gimana?" Tepat setelah ucapannya terlontar dari mulut Yujin, Ia hanya bisa menyumpahi diri sendiri dalam hati. Mungkin karena Yujin masih ngantuk, otaknya juga jadi terlalu sembrono dalam mengambil keputusan.

 

Yang ditantang hanya tersenyum, "Gak percaya."

 

Yujin masih merasa percakapan ini merupakan hal gila yang tidak pernah Ia sangka akan terjadi. Tapi apa boleh buat, Yujin akhirnya hanya bisa play along, "Yaudah, terus gue harus apa, dong?"

 

"Hmm," Wonyoung menaruh telunjuknya di bawah bibirnya yang sedang pout, sok terlihat berpikir, "Gimana kalau--"

 

"Selamat pagi, anak-anak!"

 

Yujin tidak tahu Ia harus lega atau malah kecewa karena guru biologinya memutus percakapannya dengan Wonyoung.

 

Wonyoung yang kelihatannya tidak terlalu terganggu dengan hal itu bersiap kembali menghadap depan kelas (posisi duduknya di kelas berada di depan Yujin) dan Yujin melemaskan bahunya yang daritadi terlalu tegang.

 

"Urusan kita tadi belum selesai ya, Jin." Wonyoung mengedipkan sebelah matanya dan akhirnya benar-benar meninggalkan Yujin dengan pemandangan punggungnya yang tegak.

 

Sedangkan Yujin? Yujin hanya bisa lemas dibuatnya. Tapi, mungkin setelah ini Yujin tidak perlu lagi mencari-cari jawaban atas pertanyaan satu miliarnya itu.

Notes:

leave something if u want :D any feedbacks are appreciated. kepikiran bikin long au-nya, tapi masih mikir-mikir, so let me know if u want me to :]

https://curiouscat.qa/mauminju