Actions

Work Header

Sesak Yang Bernama Rasa Bersalah

Summary:

Nusa menatapnya lama sebelum berkata, "Kau sudah dewasa, ya."

Abel dibuat mengernyit. Kenapa tiba-tiba?

"Padahal waktu pertama bertemu, kau masih bocah ingusan yang lemah. Mudah sekali mengusirmu dulu."

"Apa maksudmu, Nusantara?"

***

Percakapan terakhir di antara dua "musuh" yang menginginkan perdamaian.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Abel datang menghampiri kasur, mendekati seorang wanita yang terkulai lemas di balik kelambu. Wanita yang tiba-tiba meminta kehadirannya ketika Abel tengah disibukkan oleh pekerjaan yang menumpuk. Kalau bukan karena kata "darurat", Abel tidak mungkin datang dan meninggalkan semua pekerjaannya itu. 

"Ada apa memanggil saya?"

Nusa meliriknya, masih penuh kebencian tetapi tak lagi membara. Mungkin kondisinya terlalu lemah untuk mendelik seperti biasanya.  

"Aku akan langsung ke intinya … hidupku tidak akan lama lagi," bisik Nusa, masih dengan nada tegas meski tidak lagi mengintimidasi. 

Abel terdiam. Ia sudah mengantisipasi hal ini. Mana mungkin Nusantara dapat terus hidup sementara satu per satu "anak-anaknya" sudah sejak lama diambil. Kekuatannya sebagai seorang personifikasi pasti terkikis habis, tinggal menunggu waktu sampai ia pergi dan menghilang seperti mereka yang sudah lalu. 

"Aku bisa merasakannya, sebentar lagi aku akan tiada."

Abel lagi-lagi tidak merespons. Sebagai salah satu pelaku yang menyebabkan kondisi Nusa jadi menyedihkan seperti ini, apa yang bisa Abel katakan? Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya yang dapat menghapus dosa masa lalu. 

Nusa menatapnya lama sebelum berkata, "Kau sudah dewasa, ya."

Abel dibuat mengernyit. Kenapa tiba-tiba?

"Padahal waktu pertama bertemu, kau masih bocah ingusan yang lemah. Mudah sekali mengusirmu dulu."

"Apa maksudmu, Nusantara?"

"Kau sudah tumbuh besar menjadi seorang pria, Abel."

Nusa tersenyum, tipis tapi ada, ditambah dengan sepercik perasaan nostalgia. Abel tertegun melihatnya, juga terhadap fakta bahwa Nusa baru saja memanggil namanya dengan benar alih-alih menyumpahinya seperti yang selalu terjadi sebelumnya. 

"Tapi sifat kikir dan serakahmu itu jelek, kau juga jarang tersenyum dan tidak ramah. Perbaiki akhlakmu, Bel, tidak adil untuk paras tampanmu," gerutu Nusa sebelum terbatuk kecil. 

Abel menghela napas. "Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan, saya tidak punya banyak waktu."

Nusa mendecak kesal sebelum menatapnya serius. Meski rona wajahnya sudah pucat, masih ada wibawa dan keberanian yang tak pernah luntur dari ekspresinya. 

"Aku mau meminta tolong, bukan kepada Belanda tetapi kepada Abel, sebagai sesama manusia terlepas dari tanggung jawab sebagai personifikasi."

Agaknya Abel bisa menebak permintaan macam apa itu, tetapi dia sama sekali tak menyangka Nusa akan menangis di hadapannya sekarang. 

"Tolong … jaga Dirga, rawat dia sampai dia bisa mengurus dirinya sendiri." Air mata bergulir membasahi bantal, mata emas Nusa berkilauan. 

"Jaga dia dari ketamakan kaummu sendiri, jaga dia dari segala bahaya yang ada dari pihak mana pun. Buat dia bahagia, beri dia kebebasan pada waktunya," ucap Nusa parau. 

Abel tidak pernah melihat wanita tangguh itu menangis. Bahkan ketika anak-anaknya diambil, dia selalu terlihat kuat. Selalu mati-matian berusaha menjaga mereka, meski semua itu pada akhirnya sia-sia. Nusa ditinggal sendirian, tidak ada lagi anak di pangkuannya. Meski tinggal di satu wilayah dengan Dirga, mereka jarang sekali bertemu karena Abel melarangnya.

Hati Abel mendadak berdenyut menyadari itu. Selama ini dia memisahkan seorang ibu dari anaknya. 

"Aku masih benci Belanda, sangat sangat benci. Tapi hanya kamu, Abel, yang bisa membantuku sekarang. Sebagai sesama manusia spesial yang memikul tugas berat, kumohon … kali ini saja, tolong kabulkan permintaanku."

Tangan Nusa terangkat, gemetar. Abel tanpa sadar mendekatinya hingga tangan Nusa dapat digenggamnya. Tangan yang begitu kecil dan rapuh, entah sejak kapan Nusa terlihat begitu ringkih.

"Kalau kau bukan Belanda, mungkin aku akan senang mendengarmu memanggilku 'Ibu'." Nusa mendengkus, balik menggenggam tangan Abel. 

Abel dibuat terdiam. Ia tidak pernah punya sosok ibu maka ia tidak mengerti. Tidak semua negara punya kesempatan memiliki "orang tua". Sejak dulu sekali, Abel hanya punya dua adiknya untuk dianggap sebagai keluarga. Memang sempat ada Antonio dalam hidupnya, tetapi Abel tak sudi menganggapnya sebagai bagian dari keluarga.

"Beri tahu juga Arthur dan Alfred, sampaikan permohonanku untuk menjaga anak-anakku yang mereka ambil. Jaga mereka, jangan sampai mereka cepat hilang sebelum mencicipi rasanya merdeka di atas kaki sendiri. Kalian pun paham betapa kebebasan adalah segalanya bagi kita, kan?"

Abel tidak bisa berjanji. Ia tahu kalimat manis apapun yang keluar dari mulutnya hanya akan menjadi untaian kata kosong tak bermakna, janji yang tak akan bisa ia tepati. Namun, guratan lelah di wajah tua Nusa yang sembab oleh air mata membuatnya ingin berkata demikian, ingin menepati janji yang hampir mustahil dilakukannya. 

"Saya akan menyampaikannya kepada Inggris dan Amerika." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Abel katakan. 

Sepertinya Nusa menyadari bimbang yang muncul di hati Abel karena wanita itu tiba-tiba meraih pipinya dan mengusap pelan. 

"Kau sudah bekerja keras, Abel, menjadi negara memang bukan hal yang mudah."

Abel seketika paham kenapa orang-orang selalu berkata bahwa sentuhan seorang ibu adalah hal paling menenangkan yang pernah ada.

"Sekarang, tolong panggil Dirga. Kau tak mungkin melarang seorang ibu bertemu dengan anaknya untuk terakhir kalinya, kan?" Nusa tersenyum. 

Sejak tadi Abel banyak dihujani perlakuan hangat dari seseorang yang selama ini menjadi musuhnya. Sepertinya berada di ambang kematian membuat Nusa menjadi pemaaf, meski Abel tahu diri bahwa tak sedikit pun ia berhak dimaafkan. 

Maka tidak ada yang bisa Abel lakukan selain memanggil Dirga menghadap. 


Hari itu berakhir dengan tangisan kencang Dirga. Ia sampai menjerit-jerit tidak mau dipisahkan dari tubuh sang ibu, memberontak begitu hebat sampai pipi Abel pun terluka dicakarnya. Untuk hari ini saja, Abel akan mengabaikan hal itu. 

Entah apa yang mereka bicarakan sebelum Nusa pergi. Abel sengaja memberikan privasi kepada mereka sebagai bentuk penghormatan terakhir darinya. Meski besar kemungkinannya bahwa Nusa menanamkan pikiran-pikiran radikal atau revolusioner di otak Dirga (seperti yang Abel takuti selama ini), kali ini saja Abel akan mengabaikan kecurigaan itu. Hanya ini yang bisa dilakukannya kepada sepasang ibu-anak yang selama ini dikekang oleh Abel sendiri.

Ketika Dirga sudah lebih tenang dan memilih untuk mengurung diri di kamarnya, baru Abel meraih gagang telepon dan menelepon nomor yang sudah dihapalnya. Anehnya tidak ada yang mengangkat, karena itu Abel beralih ke nomor lain. 

Hallo .”

"Netherlands, ada urusan apa menelepon malam-malam?" Suara di seberang sana terdengar jengkel. Ternyata perkiraan Abel benar.

"Kau sedang berada di Malaya?" 

"Sejak beberapa hari yang lalu aku berada di sini, kenapa?" 

"Nusantara sudah pergi tadi sore." Seperti biasa Abel selalu tanpa basa-basi, langsung pada intinya. Walaupun kali ini kalimat itu lebih sulit diucapkan. 

Agak lama Arthur terdiam sebelum kemudian menghela napas panjang. "Sepertinya mereka sudah tidur, akan kuberi tahu besok. Ada lagi yang ingin kau sampaikan?"

Abel menelan ludah. "Nusantara menitip pesan, permintaan untuk menjaga anak-anaknya."

Arthur lagi-lagi diam. Sepertinya permintaan tersebut juga tidak mudah diabaikan olehnya, ada rasa bersalah yang menggerogoti dari dalam meskipun mereka tidak seharusnya mencampurkan perasaan personal dengan pekerjaan mereka sebagai negara. 

"Bagaimana respons Hindia?" tanya Arthur setengah berbisik. 

"Mengamuk, sekarang mengunci diri di kamar."

"Hm, berarti aku harus siap menangani dua amukan besok. Alfred juga dapat pesan yang sama?"

"Ya, kau saja yang sampaikan ke dia."

Arthur menggerutu tetapi ia tidak menolak. 

"Ada lagi yang mau kau katakan?"

"Tidak, itu saja." Abel pun menutup telepon tanpa menunggu respons Arthur, lagipula tidak mungkin mereka berbincang panjang lebar ketika keduanya hanya sekadar rekan bisnis, bukan teman. 

Abel bersandar pada punggung kursi, memperhatikan sekeliling ruang kerjanya yang berada di dalam rumah, tempatnya tinggal bersama Dirga. Ia memejamkan mata, mendengarkan suara serangga dari hutan dekat rumah di tengah keheningan malam. Samar-samar juga ada suara isakkan, pasti Dirga lagi-lagi lupa menutup jendela kamarnya yang berada tepat di atas ruang kerja Abel. 

Kau sudah bekerja keras, Abel, menjadi negara memang bukan hal yang mudah.

Kalimat Nusa masih terngiang-ngiang di kepalanya. Abel masih sulit percaya bahwa di penghujung hidupnya, Nusa malah memperlakukannya begitu lembut, begitu hangat, seakan-akan Abel bukan orang yang menghancurkan keluarga kecilnya. Namun, sikap Nusa yang penuh maaf itu malah meninggalkan sesak yang susah pergi, membuat Abel terpojok dengan banyak macam rasa bersalah.

Seharusnya Nusa tetap melempar tatapan benci sampai akhir hayatnya. Itu akan membuat Abel merasa lebih baik. 

Kalau saja di percakapan terakhir tadi Nusa tidak menatapnya seperti seorang ibu, beban yang berada di kedua tangan kotor Abel mungkin tidak akan terasa seberat ini.

Notes:

Ini sebenernya tulisan lama yang udah mulai berdebu, so i might as well post it here wkwk anyway butuh banyak asupan soal mama nusa :(( pukpuk abel

thanks for reading<3