Actions

Work Header

Like a Poem Written On Your Skin

Summary:

Ini hal yang sangat baru baginya. Menjumpai sebuah kekosongan dalam bentuk keringkasan ruang sisa yang hampa pada kulitnya yang serapuh kaca, Soobin menemukan cinta pada ketidakbiasaan.

Notes:

I own this fic entirely but the casts. This work is pure figment of my own imagination and no profit is taken by the author.

 

(name) -san ; is a suffix of respect added to a name in japan.
goshujin-sama ; master
okami-sama ; proprietress (of a japanese inn)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Soobin menghargai segala bentuk nyata estetika. Yeonjun adalah definisi paling sempurna pada kata tersebut.

 

“Perhatikan sushi pada jepitan sumpitmu.”

 

I am.”

 

“Matamu bahkan tak pernah mengarah kemanapun selain melihat mataku.”

 

“Begitukah?”

 

“Jadi, seni yang mana yang sedang kau apresiasi, tuanku?”

 

Well…”



 

 

 

 

 

Like A Poem Written On Your Skin

(and I love it, and I love it, and I love it)

 

 

Soobjun Fanfiction by Jonah @2020

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Ini memang bukan hal yang ia sengaja, atau direncana. Mungkin kata ‘rencana’ sedikit bisa mewakilinya. Tetapi subjek dari kalimat yang akan ia selipkan nomina ‘rencana’ telah mengoyak hatinya tanpa sisa sejak beberapa waktu yang lalu ketika pertama kali ia melangkahkan kaki memasuki distrik Gion, Kyoto. Berawal dari Jungkook―kakaknya yang jengah melihatnya terus-terusan duduk di atas kursi putar depan komputer ruangan pribadinya sebagai Direktur di perusahaan produser mainan warisan mendiang Ayahnya, ia terus uring-uringan memintanya untuk keluar dari kantor atau ia akan gila. Bukan secara gramatikal, tetapi maksudnya adalah; bisakah-kau-sehari-saja-tidak-datang-ke-kantor-?-pergilah-ke-suatu-tempat, atau mungkin bisa; menghilanglah-dari-pandanganku, mungkin juga merupakan sebuah kalimat tawaran, seperti;. aku-membelikanmu-tiket-ke-kyoto-jadi-enyahlah-dari-hadapanku-dan-bersenang-senanglah.

Jungkook sering melabelinya dengan nama-nama aneh seperti; si gila kerja, si tak mensyukuri masa muda, sad awkward big virginmaybe boy, calon penyihir (Jungkook bilang jika kau masih perjaka sampai umurmu menginjak kepala lima, konon alam semesta akan merubahmu menjadi seorang penyihir)― tapi bahkan Soobin telah kehilangan keperjakaannya ketika ia meraih gelar usia legalnya di Inggris dengan mantan kekasihnya. Ia hanya tidak terlalu suka mengumbar pada publik (ini termasuk keluarganya) perihal kehidupan seksnya, lagipula ia merasa tak terlalu aktif secara seksual.

Bahkan dalam kurun waktu setahun, ia bisa menghitungnya dengan jumlah jari pada kedua tangan. Dua kali dalam kurun waktu enam bulan sejak bulan Januari minggu kedua, dengan orang yang ia temui secara tidak sengaja di bar; dua kali adalah kalkulasi finalnya, no feelings attached, seks di atas perjanjian komitmen kedua pihak, tidak ada martabat maupun otonomi dari pihak manapun yang dicela dengan atau tanpa sengaja. Semuanya aman, kebutuhan biologisnya terpenuhi dan ia tak perlu memikirkan hal lain selain daftar draf yang harus ia ketik untuk diserahkan pada dewan direksi esok hari, selesai.

 

 

 

Lalu semuanya hancur dalam sekejap.

 

 

 

Kemudian Jungkook yang membelikannya tiket pesawat pulang-pergi ke Kyoto, menyewakan Ryokan kontemporer bintang lima dengan private onsen di lokasi intim yang dikelilingi pohon willow di ketiga puluh kamar total. Lalu Changmin―pemandu pribadi yang menemaninya hingga hari kepulangan, di hari kedua ketika Soobin sudah cukup jengah dengan pemandangan kamar beralaskan tatami dan lukisan ikan-ikan koi, memintanya untuk diantarkan ke bar terdekat untuk minum Chardonnay atau Shochu dan sepiring burger sliders , inilah awal dari porak porandanya hati Choi Soobin, seorang pria dewasa mapan, tiga puluh dua tahun.

 

 

 

 

“Aku sedang ingin minum segelas Merlot, jaga-jaga jika kau bingung ingin minum apa dan berakhir bertanya padaku.”

 

 

 

Soobin terkekeh. Kurva pada bibir lelaki di hadapannya melengkung curam; surai pirang berkilau yang senada dengan temaramnya lembayung sore memberikan ruang sisa pada konteks estetika baginya.

 

 

 

“Anggur tidak buruk. Ku pikir kau akan menawariku sake lokal dari distrik terkenal Fushimi, tapi baik―aku selalu memiliki kepercayaan penuh pada pelayan yang mendapatkan gelar pegawai terbaik bulanan.” Puji Soobin seraya mengangguk konfirmatif. “Jadi, apa hidangan yang akan menemani segelas anggurku sore ini, Yeonjun-san?” 

 

 

 

Soobin secara mental tengah menghantamkan kepalanya pada Shouji hingga kertas washi yang menjadi penghalang pemandangan seberang robek membentuk struktur pucuk tengkoraknya. Mendapati segulung pita memori yang menangkap tiap-tiap frame visual estetis dari entitas Yeonjun yang tengah membenarkan kerah Yukata bewarna putih tulang dengan pola plum merah muda tepat di hadapannya memang bukanlah hal yang mudah. Matanya menganalisa bagaimana gerak tangan itu melambai anggun menyentuh linen, kuku-kuku jemarinya yang bewarna merah muda seolah menyatu dengan warna obi yang melingkari pinggang sempitnya. Kecil sekali, kedua tangan Soobin mengepal, ah pasti lingkar pinggang itu sangat pas pada rematannya. Kemudian telunjuk tangan kanannya dibawa untuk menyigar poni bergelombang dibalik telinganya, nyaris seperti slow-motion, tetapi diperciki bumbu dramatis; ada kilau seterang matahari musim panas, kubah langit bersolek biru terang, sementara permukaan laut tenang memantulkan keperakan angkasa.

 

 

“Ini menu favoritku.” Ucap Yeonjun tenang.

 

 

 

Oh, salahkah apabila Soobin dengan tidak tahu diri merasa spesial?

 

 

 

“Ikan yang direndam dalam cuka dan kecap asin; nanbanzuke, satu set teishoku. Ku pikir ocha dingin adalah minuman yang serasi. Apa sedikit keberatan apabila anggurnya aku antarkan setelah hidangan utama?”

 

“Tidak sama sekali.” Jawabnya cepat. “Aku tidak boleh memintamu untuk menemaniku menghabiskan sebotol anggur, kan?”

 

“Ya, itu melanggar peraturan, menganomali kebudayaan,” Kedua tangan Yeonjun beristirahat di atas kedua lututnya dalam posisi seiza. “Apa kau tidak membawa teman? Ku pikir tiga hari yang lalu aku melihat seorang pria dewasa keluar dari kamarmu ketika aku membersihkan lorong lantai ini.”

 

 

“Ah, benarkah?” 

 

 

Pura-pura bodoh, ingin saja. Testing the waters.

 

 

“Kekasihmu? Partner sex?”

 

Soobin bahkan hampir saja meremukkan kaleng bir yang sedang diminumnya separuh hingga setipis linen. Ada kepolosan yang menghancurkan respirasinya pada cara Yeonjun berucap seraya memadukan arah tatapan mereka dengan kuriositas.

 

“Kenapa sebegitu ingin tahunya?” Soobin bahkan ingin tertawa atas jenis intonasi yang baru saja diresonasikannya secara kontemplatif. “Apa kau memperhatikanku?” Kemudian darahnya berdesir, seolah seluruh kesadarannya bahkan tak mampu mengontrol dentaman suara pompa jantung ketika biji matanya mendapati rona merah muda tipis seindah bunga Sakura yang mekar di penghujung bulan Maret pada kedua pipi Yeonjun.

 

“Hanya kebetulan melihatnya.”

 

“Aku sih tidak percaya dengan yang namanya kebetulan. Apa kau tahu teori Sigmund Freud?” Lalu ia menjeda untuk menelan seteguk bir, “bahwa alam bawah sadar pada setiap manusia adalah sumber inti yang menghasilkan naluri, intuisi, fantasi, memori, lalu setiap bagian inilah yang menciptakan stimulus; mendorong kita untuk menciptakan berbagai macam perasaan emosi hingga akhirnya mempengaruhi perilaku wadah jasadnya. Kita dipaksa untuk memaknai impuls-impuls yang terlahir dengan menggerakan sistem kerja tubuh. Kehidupan manusia tidak diplot dari awal hingga akhir; kau tidak hidup lalu mati semata-mata karena Tuhan menggariskan takdirmu seperti itu.”

 

“Tunggu sebentar.” Yeonjun menyela. “Kenapa pembahasannya jadi berat? Aku bahkan tidak mengerti filsafat.”

 

Alih-alih menjawab kalimat protesnya, Soobin justru tertawa renyah. Antara merasa terhibur oleh kepolosannya, atau memang pada dasarnya ia hanya sedang dimabuk kepayang oleh benih-benih asmara, realitas ini menyulut naluri alamiahnya untuk berasosiasi dengan nuansa.

Yeonjun merengut lucu. “Jangan menertawakanku, aku memang sedari kecil tidak pintar belajar.” Ia menyembunyikan kedua telapak tangan mungilnya di dalam kedua bagian tamoto pada yukatanya.

 

 

 

Tik, tik, tik,

 

 

 

Pihak mana yang bisa disalahkan ketika Soobin mati-matian mencoba untuk menjernihkan kesesatan komposisi dalam otak yang saling menggempur meraih kembali kekuasaan akal sehat? Melihat Yeonjun saja ia sudah setengah sinting, apalagi ketika pemuda itu melakukan hal-hal menggemaskan, nyawanya terasa bagai meluruh dan terbang menuju awan, lalu terhempas lagi ke bumi karena Yang Maha Agung seolah bersabda; tetaplah hidup dan kejar cintamu atau tidak sama sekali.

 

“Aku tidak menertawakanmu, kau hanya―ehem, menawan di mataku, makanya aku sengaja tertawa untuk membuang sedikit rasa gugup.”

 

Yeonjun terlihat mengedip-kedipkan mata. Lalu kedua belah bibir gemuknya membentuk huruf ‘o’ kecil, seolah neuron pada otaknya baru saja berhasil mengirimkan aliran listrik.

 

“Oh!” Suaranya sedikit melengking. “Kau jatuh cinta padaku?” Tanyanya secara gamblang seraya memukulkan kepalan tangan kanan pada permukaan telapak kirinya.

 

Soobin hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Tapi kalimat Yeonjun seolah berkonotasi abstrak, dalam arti; apakah murni sebuah pertanyaan, atau memang ia hanya mencoba untuk meledeknya karena terang-terangan menunjukkan gajak diporak-porandakan perasaan seilusif cinta. 

 

Waduh, bagaimana, ya?” Intonasinya sedikit menggantung karena gugup.

 

Yeonjun menggeleng-gelengkan kepala. “Ck, ck, kenapa ya orang-orang mudah sekali jatuh cinta padaku?”

 

“Maksudmu?”

 

“Bahkan dua hari yang lalu ada presdir perusahaan Eropa yang jauh-jauh datang ke sini hanya untuk memberikanku sekotak berlian dan memintaku untuk menerima pernyataan cintanya.”

 

 

 

Brengsek.

 

 

 

“Tu-tunggu, Yeonjun-san,”

 

 

 

Soobin reflek melotot. Matanya menganalisa seluruh entitas Yeonjun di hadapannya. Leher jenjangnya putih kosong, tak ada satupun perhiasan yang melingkarinya, aman. Lalu jari manis―astaga, jari manisnya! Soobin menggigit bibir bawahnya dengan gemetar, ia butuh melihat jari manisnya dan memastikan apakah ada cincin yang melingkar disana. Tetapi kedua telapaknya seolah betah bersembunyi pada celah lengan lebar. Sial, sial, sial, Soobin mengutuk alam semesta untuk beberapa detik, lalu memohon pengampunan dengan sedikit panjatan doa; oh, Tuhan! Sudahi siksaan ini dan biarkan aku menambani teka-teki ini agar hidupku tenang dan jika memang kemungkinan buruk pada benakku saat inilah yang akan menjadi kenyataan, sudinya Kau mampu mempercepat kalkulasi waktu sialan ini agar aku bisa move on dengan lapang dada.

 

 

“Ta―da!”

 

 

Oh.

 

 

Pertama dan yang paling penting sekali, Yeonjun bukan orang yang polos seperti yang ia pikirkan selama ini.

 

 

“Yeonjun-san.

 

 

Justru Yeonjun hanya tertawa lebar. Lalu mimiknya berubah total menjadi petang. Pelipisnya menyempit, dan laut biru pada pupilnya tak lagi seterang permukaan yang dipantuli putihnya sang matahari. Jari tengahnya kini bergerak lagi menyigarkan surai-surai lembut pirangnya ke belakang telinga, kepala sedikit memiring hingga telinganya nyaris menyentuh pundaknya sendiri. Soobin mampu menangkap dengan jelas otot diagonalnya mencuat tertahan oleh kulit putih; seolah setiap incinya memanggil-manggil namanya seduktif dan univokal. Seolah Yeonjun memang sengaja berlaku demikian.

 

 

“Tidak ada cincin yang melingkar.” Lanjutnya dengan nada yang menggoda, kedua telapak yang dilebarkan mengatup lalu membuka beberapa kali, jemarinya dilipat dan dibiarkan menganga. “Goshujin-sama, aku memang bodoh dalam hal belajar―“ Yeonjun mengulum tawa, romannya terasa hanyut menenangkan, aromanya yang menyerbak semanis persik matang nyaris membuat Soobin lupa diri, “―aku tidak bilang kalau aku juga bodoh dalam hal lain, aku pintar mengamati tingkah laku seseorang dan menciptakan persepsi yang ajaibnya selalu konkrit. Seperti beberapa menit yang lalu ketika kau menatap leherku―“

 

 

Soobin menelan ludahnya payah.

 

 

“―bet you wanna bite and mark me as yours, did you?”

 

 

 

Lalu ketakutan itu terukir pada alam bawah sadarnya. Seolah bibir ranumnya sudah diguyur oleh anggur manis dengan telak mengalahkan pahitnya melankoli. Tidak ada indikasi birahi dalam cara Yeonjun menatap, mungkin itulah alasan bagaimana Soobin mampu menemukan euforia dalam rasionya yang telah luluh lantak. Ia  menatap Yeonjun yang tengah menata tiga buah handuk hangat di atas nampan, kulitnya memerah oleh air panas, urat tangannya mencuat dan menggelinjang.

 

 

“Kau beruntung karena Okami-sama hari ini datang ke penginapan dan membawa sekotak belut air tawar hasil olah panen awal musim panas. Kami akan memasak Unajyu setelah teh malam.”

Soobin mengerjapkan matanya beberapa kali, cukup terkejut dengan loncatan pokok pembicaraan yang tiba-tiba, namun akhirnya ia ikut menimpali. “Oh?” Ia menerima uluran segulung handuk hangat. Diletakkannya di atas kepala sesuai dengan instruksi Yeonjun yang tengah menepuk-nepuk pucuk kepalanya sendiri. “Apa Okami-sama tidak tinggal disini? Bukankah biasanya para pemilik dan beberapa staf tinggal di Ryokan?”

Okami-sama orang sibuk, beliau tidak hanya mengurus Ryokan ini tapi juga delapan Ryokan yang menyebar di kota-kota besar seperti Nagoya, Tokyo, Kyushu, dan lain-lain. Kebetulan seminggu ini beliau akan tinggal disini untuk melakukan pengecekan bulanan.”

“Kau dekat dengan Okami-sama?” tanya Soobin. “Kau terlihat benar-benar menghormatinya.”

Kali ini wajah Yeonjun mendongak. “Tentu saja. Bagaimanapun beliau yang memberikanku pekerjaan ini.” Lalu ia tersenyum. “Okami-sama orang yang bersahaja.”

 

 

Yeonjun menumpu kedua tangan untuk membantu kakinya berdiri. Ia membungkukkan badan sembilan puluh derajat untuk memberikannya salam perpisahan, sejenak terasa, Soobin sungguh tak rela. Pucuk gembira pada cita rasanya seolah hilang dalam sekejap begitu Yeonjun membalikkan badan perlahan dengan langkah berliku-liku menuju washi ruang utama.

“Ah, Goshujin-sama,”

Yeonjun sedikit berputar menghadap ke arahnya.

Okami-san adalah seorang nenek tua, rambutnya sudah putih, tingginya sekitar dadaku. Ia sering memakai pin berbentuk bintang emas di obi sebelah kanannya. Jaga-jaga kalau ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengannya.”

 

 

Soobin membiarkan setetes keringatnya jatuh, bersimbah dengan mentari. Ia menggamit ujung kausnya, beberapa saat ia hanyut dalam tafakur. Apakah itu kalimat implisitnya dalam; aku ingin berdua secara intim denganmu jadi berjuanglah untukku―begitu? Kupu-kupu dalam relung hatinya yang nyaris tak pernah mengisi realitas kini memenuhinya hingga rasanya ingin meledak. Otot-otot wajahnya yang sedari tadi kaku karena dihujam sara bara, telah bergantikan tumpahan gelak. Agaknya Yeonjun masih belum tahu bahwa Soobin adalah orang yang dakar dan nekat. Jika Yeonjun telah menyaratinya dengan permisif, maka Soobin hanya tinggal menjentikkan jarinya saja.

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

“Kau benar-benar nekat.”

 

 

Soobin mengurvakan kedua ujung matanya. Yeonjun terlihat tolah-toleh di sekelilingnya.

 

 

Okami-sama bilang kau sama sekali belum mengambil jatah libur dua minggu penuh dan selalu menolaknya tiap beliau menawarimu, jadi disinilah kau sekarang.”

“Aku benar-benar tidak akan mau pergi denganmu jika Okami-sama tidak bilang ini akan dihitung sebagai jam kerja shiftku.” Timpal Yeonjun. “Aku memiliki dua pekerjaan sekarang, seorang pelayan penginapan dan candle-light dinner date rental? Apa yang sudah kau katakan pada Okami-sama? Beliau adalah pribadi yang berintegritas, aku yakin tidak mudah berbicara dengannya perihal ini?”

Ah, itu,” Soobin memasukkan potongan hamburg pada mulutnya, mengunyah pelan-pelan seraya menatap lurus pada Yeonjun yang tengah menatap langit-langit dengan tatapan kagum, “aku hanya memperkenalkan diri, memberikannya kartu namaku, lalu memintanya untuk meminjamkan pegawainya yang paling manis untuk menemaniku makan malam di luar?”

 

 

Hanya saja Yeonjun memberikan tatapan bertanya, seolah sangsi atas pernyataannya walaupun ia telah memberikan kredit gestur, ini sungguhan. Memang Soobin tak bermain-main atas kata-katanya. Ia hanya mengandalkan namanya, selesai. Ketika mencoba menawari beberapa lembar cek, Okami-sama justru malah menepis tangannya dengan anggun dan beberapa kali berucap “Iranaiwa! Iranaiwa!” (aku tidak butuh). Ia bilang Yeonjun sudah seperti anaknya sendiri, maka ketika Soobin berkata bahwa ia telah mengantongi persetujuan, Okami-sama hanya perlu mengangguk satu kali.

 

 

“Ngomong-ngomong, kau sangat indah hari ini, Yeonjun-san.”

 

 

Tubuh kurusnya terbalutkan kemeja korduroi pemberian Soobin yang dipesan secara kilat pagi tadi. Memesan ukuran S memang keputusan yang tepat. Kain itu ikut meliuk-liuk ketika Yeonjun mencoba meregangkan kedua tangannya ke atas udara. Pinggangnya yang sempit menjadi sasaran tatap Soobin  yang berkamuflase dibalik bibir gelas anggur merahnya. Dua kancing bagian paling atas sengaja dibuka dan Soobin tak mampu lagi menemukan frasa-frasa elok untuk mempuisikan keindahan atas moleknya kulit yang beradu dengan jingga lampu temaram.

 

 

“Pilihan yang bagus, Goshujin-sama.”

“Oh, tidak-tidak. Panggil aku Soobin jika kita sedang tidak berada di penginapan, Yeonjun-san.”

“Tidak bisa, Okami-sama bilang ini tetap dihitung bekerja dan aku digaji.” Protes Yeonjun. “Aku bisa dituntut karena berlaku tidak sopan pada pelanggan. Negara ini menganut prinsip industri servis.”

Tuhanku, aku serius,”

 

 

Jujur saja, bagi Soobin, mendengar Yeonjun mengumandangkan ‘Goshujin-sama’ benar-benar sangatlah seksi dan nyaris membuat gairahnya meluap-luap. Tapi Soobin ingin mendengar lelaki itu menyerukan namanya dengan suara sengaunya juga. Memanggil-manggilnya seolah ia telah mengenalnya dalam jangka waktu yang terus memanjang, merayunya dalam godaan intens hingga ia lupa diri karena terlalu terpana.

 

 

“Baiklah, errrr―S-Soobin-san…”

 

 

Yeonjun yang pemalu tidak buruk juga, pikirnya.

 

 

“Itu terdengar lebih baik, tanpa surfiks ―san pun tidak masalah, tapi itu terserah padamu.”

Uh, ya―biarkan aku sedikit menyesuaikan diri.” Ia mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat detik jam. “Sampai jam berapa Okami-sama memperbolehkanku keluar denganmu?”

"Tiga hari, ku pikir? Aku hanya meminta hari pertamamu untuk menemaniku, dua hari selanjutnya kau bebas. Ada suatu tempat yang ingin kau kunjungi? Makanan yang ingin kau makan?"

 

 

Yeonjun memasang tampang berpikir. Binarnya membentang di keabadian abu-abu. 

 

 

"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi, Soobin-san? Aku bisa mengantarkanmu. Lagipula tidak ada hal yang ingin ku lakukan secara spesifik." Tawarnya, bibirnya menbentuk kurva cantik. "Tapi mungkin aku akan tabearuki, kau?"

"Bersamamu."

"Uh?"

"Iya." Jemarinya mengetuk-ngetuk kaca pasa atas meja. "Apa saja, asal bersamamu."

 

 

Keluar sudah seutas kalimat yang sedari awal pertemuan pertama mereka sudah memutari otaknya seakan menyemprotkan tinta merta yang meninggalkan jejak berhari-hari lamanya. Koto yang menggantung di tengah-tengah Byobu (dinding lipat) bercorak tanaman-tanaman tumbuh di musim panas, dilapisi brokat sutera emas di setiap sisi sebagai integrasi alami, diturunkan oleh sepasang tangan dari seorang Geisha. Petikan-petikannya mengalun sintesis, bunga-bunga pada koto itu seolah ikut menari melambai-lambai kedapnya udara, seakan mencoba ikut menggembirakan hati orang-orang yang disana. Soobin menatap Yeonjun dengan terpana. Bagaimana bibirnya ikut melengkung ketika wanita separuh baya itu menyelipkan suara rendah dari kerongkongannya yang mengendur, menjangkau mezzro-sopran dengan pola skala yang tertata rapi. Dan ketika ia membungkukkan badan sebagai tanda akhir dari penampilannya, Yeonjun menepuk-nepukkan tangan keras sekali seolah hal itu terasa tak cukup tapi hanya satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sebagai bentuk apresiasi.

 

 

“Kau menikmati penampilannya?”

Uhm,” gumam Yeonjun pelan, “aku suka mengapresiasi seni.”

 

 

Oh?

 

 

“Kebetulan yang mengejutkan, aku juga suka mengapresiasi seni.” Jawab Soobin, “mungkin itu salah satu tujuanku kesini, untuk mengapresiasi salah satunya.”

 

 

Iya, salah satunya.

 

 

“Kau bahkan tidak pernah terlihat keluar dari penginapan?”

“Memang, seni yang ku maksud itu kau.”

“Aku?”

“Aku bisa melihat bagaimana kau menyukai segala bentuk seni dan mengapresiasinya dengan sepenuh hati.”

“Lalu?”

“Yang ku maksud ―“ Soobin memiringkan sedikit kepalanya. Memeta setiap inci wajah Yeonjun dalam benak, “―kau menyukainya sampai-sampai kau menjadi salah satu bagiannya.”

 

 

Sebuah fakta, bahwa Yeonjun adalah satu-satunya potongan momen duniawi yang benar-benar dapat dicerna oleh intuisinya dengan hayati, bahwa ia adalah sebuah kebenaran mutlak yang tak kuasa untuk dijelaskan dengan terminus kodratnya sebagai manusia, bahwa ia―Yeonjun, bukan hanya sekedar potret mimesis untuk dicari nilai valuenya,  tetapi ia adalah sebuah potret seni yang hidup untuk diapresiasi setiap bagian-bagian terkecilnya sekalipun tak nampak dalam pandangan. Benar-benar hidup.  

 

 

“Apa kau akan bertanggung jawab?”

“Atas?”

“Perasaanku, Soobin-san.”

 

 

Berangsur-angsur, Soobin dapat merasakan dadanya menggeliat gemelitik tak karuan. Bahkan ketika Yeonjun memutuskan untuk menyembunyikan wajahnya yang semerah kelopak mawar segar pada tumpuan tangan, Soobin tak kunjung berhasil mengontrol dentuman jantung tak ubahnya badai di laut selatan.

 

 

“Kau bahkan tak perlu memintanya.”

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Kemudian entah bagaimana, semuanya terjadi secara alami begitu saja. Mungkin inilah bagaimana sang alam semesta bekerja memuliakan mereka yang hidup di dalamnya. Sebentar sesudah acara makan malam tiga hari yang lalu, Soobin menemukan dirinya semakin terkapar tak berdaya. Seolah cintanya yang semakin membesar membuat tubuh dan kesadarannya roboh dan butuh topangan tangan. Ia dapat merasakan cinta itu tumbuh suci dalam dirinya, menjulang begitu luhur hingga jiwanya selalu memiliki tempat untuk mengenangnya. Bila ia melihat Yeonjun, ia sendiri merasa indah. Bila ia mendengar alunan tawanya, ia sendiri dapat merasakan hantaran rapsodi pada sanubarinya.

Dua belas hari telah berlalu dan Soobin semakin dibuat sinting karenanya. Kilauan aura Yeonjun seringkali terlihat seperti kristal ketika disinari senja pada pukul enam sore, memikatnya dengan potret ratusan kaligrafi yang melukiskan jiwanya yang mempesona.

Changmin berkali-kali membujuknya untuk keluar dari penginapan dan pergi menyusuri kota Kyoto sesuai dengan itinerary yang disusun Jungkook untuknya, tapi Soobin menghiraukannya. Malahan, Soobin memberikannya uang saku dan meminta Changmin untuk berjalan-jalan sendirian dan tutup mulut tentang segala aktivitasnya disini. Pria yang seharusnya menjadi private tour guide-nya itu hanya menghela napas pasrah.

Kini ia tengah terduduk bersila di atas tatami kamarnya seraya menyesap sekaleng bir yang ia beli di dekat pemandian umum. Netranya tak sekalipun lepas dari figur Yeonjun dari balik jendelanya. Terbalutkan yukata sebiru langit atas dengan semilir angin yang menggoyang-goyangkan helaian pirangnya, oh panorama mana yang mampu mengungguli keelokan momentum ini?

Tangannya dengan cekatan menyusun rerumputan kecil, batang cokelat dan bunga-bunga di atas papan jarum. Ia menekuk dua tangkai bunga bewarna merah muda dan menyelipkan aster biru di dalamnya. Sejenak Soobin berpikir, apakah Yeonjun, sekali saja pernah berpikir bahwa ia jauh lebih indah dari bunga-bunga yang tumbuh liar membentang alam atau yang bahkan sengaja dibentuk sedemikian rupa dalam buket untuk lebih menjunjung tinggi nilai estetikanya? Karena sungguh, atas nama rona kosmos yang melingkupinya, Yeonjun benar-benar jauh lebih indah. Seakan bunga-bunga dengan sejuta warna pekat itu jauh lebih abu-abu apabila bersanding dengan Yeonjun, seakan entitasnya adalah sebuah petunjuk kecil kemurnian dan kebahagiaan dalam dunia dengan warna tunggal.

 

 

“Aku sudah mengetuk kamarmu tapi kau tidak memberikan respon, pintumu terbuka lebar.”

Okami-sama.” Soobin berbalik menatap wanita tua itu. “Maaf, aku mungkin sedang melamun. Ada yang ingin anda bicarakan denganku?”

Nenek tua itu hanya tersenyum, agaknya mengerti konteks dibalik ‘melamun’ yang Soobin maksud. Matanya ikut memincing melirik Yeonjun yang kini berjalan menjauh dari balik jendela, lalu angin membawa tirainya menutupi seluruh permukaan kaca, dan ketika angin itu telah tenang, Yeonjun tak lagi ada disana.

“Anak itu benar-benar membuatmu gila?”

“Ah, ya, mungkin?”

 

 

Jantung Soobin berdegum tak karuan. Pipi dan telinganya panas sekali. Ia tak lagi muda untuk merasakan kilauan cinta monyet, tapi Soobin pikir perasaannya jauh lebih dalam melebihi itu. Mereka bilang cinta bisa tumbuh dalam bentuk apa saja, dalam jangka waktu kapan saja bahkan tanpa disadari, dan ia baru mengalaminya. Hanya diawali dengan kedatangannya di Kyoto, sambutan sopan dari seluruh pegawai termasuk Yeonjun dengan rambut dan warna yukata cerahnya yang mencolok beradu dengan mentari pagi, lalu Yeonjun yang menjadi pegawai pribadinya; menyiapkan segala kebutuhannya, bersendau gurau apabila mereka tengah berada di waktu luang, membantunya memakai yukata, bahkan dua hari yang lalu mereka berjalan berdua menghabiskan panjangnya gelap malam di tengah festival musim panas di ujung perbukitan.

 

 

“Ku pikir dia juga tertarik denganmu.”

“Oh, ya?” Soobin bukan orang bodoh. Memang sejauh ini belum ada indikasi penolakan dari cara Yeonjun merespon segala titik lidah dan afeksinya, tetapi ia masih belum mengenalnya lebih dalam. “Aku hanya perlu mencari tahu tentangnya, sedikit lagi.”

“Kau hanya perlu bertanya padanya.” Tukas Nenek dengan cepat. “Ia anak yang baik dan jujur, ku pikir kau perlu tahu ini, ia tidak bisa berbohong.”

“Ah, pantas saja.” Soobin terkekeh pelan. “Jika aku menggodanya ia terus menyembunyikan wajah dan memohon berhenti, berhenti, benar-benar sangat jujur.”

 

 

Okami-sama berlalu setelah meninggalkan satu nampan berisi camilan dan segelas es kopi hitam.

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Di suatu malam, Yeonjun mengetuk pintu kamarnya.

 

 

“Maaf sekali karena mengganggumu, Soobin-san.”

“Tidak, aku bahkan belum tidur sama sekali.”

 

 

Tentu saja bohong.

 

 

Soobin bahkan sudah kehilangan kesadarannya sejak pukul tujuh malam karena terlalu bosan dan tubuhnya enggan untuk digerakkan. Tapi mana tega ia berkata ‘ah ya kau mengganggu tidurku tapi aku memaafkanmu karena kau sangat manis’, dimana itu sangat tidak mungkin, sebaliknya, ia malah senang bukan main mendapati Yeonjun berdiri di hadapannya; kali ini tidak dengan yukata, tetapi kaos putih polos dengan celana pendek yang menampilkan kaki jenjang dan putih cantik.

 

 

“Aku ingin mengajakmu ke kuil Kifune, mereka sedang merayakan Tanabata di sana. Aku punya sim, kok. Bagaimana?”

“Astaga, tentu saja ―beri aku sedikit waktu untuk berganti, yeah?”

Yeonjun tertawa kecil. “Tidak perlu khawatir tentang penampilanmu. Kau bahkan terlihat keren dengan piyama bergambar roket dan astronot itu.”

Soobin hanya tertawa renyah. Melesat masuk untuk berganti dengan jeans dan kaos seadanya dalam koper, lalu menerima tarikan tangan Yeonjun yang menuntun mereka untuk menaiki mobil tua usang. Tidak ada aroma Yeonjun di dalam, mungkin ia hanya meminjamnya saja, tetapi itu tidak penting.

Perjalanan mereka hanya memerlukan waktu sepuluh menit. Musim panas di Jepang memang tidak main-main, lembapnya udara dan suara jangkrik yang bergerimis layaknya hujan terus mengelilinginya kemanapun ia pergi. Mereka berjalan ke ujung pegunungan, Yeonjun terus tertawa seraya mengisahkan tentang legenda Tanabata; melontarkan beberapa komentar seperti ‘bukankah ayah Orihime sangat kejam? Mereka hanya sepasang entitas yang saling mencintai!’, atau ajakan berupa ‘nanti ayo kita menulis harapan banyak-banyak!’. Mungkin dalam perspektif Soobin, ia memandang pada gambaran yang berbeda.

Lampu menyorot pada kuil yang dikelilingi bambu-bambu besar. Ada beberapa orang yang tersisa disana, rasanya seperti tengah menembus dua batas dunia ketika gerbang Torii melewati pandangannya. Kuil itu terlihat seperti oasis di tengah badai pasir.

 

 

“Apa kau ingin menulis sesuatu?”

“Mungkin? Kau?”

Hmm―aku bingung harus menulis untuk siapa saja.“ Ucap Yeonjun mengambang, “aku ingin mendoakkan semua orang yang ada di sekelilingku, jika aku mewakilkannya dalam kata semuanya, apa kau pikir Tuhan akan mengerti maksudku?”

“Tentu saja, kau bahkan tak perlu mencurahkan segala emosimu dalam kata-kata hanya agar Tuhan mengerti karena jauh sebelum kau menyadarinya, ia lebih dulu mengetahui.”

 

 

Tuhan, Soobin bersumpah bahwa Yeonjun benar-benar lihai dalam menyortir kewarasaannya. Ada tulisan namanya―Soobin, dengan katakana saat Yeonjun tengah menulis. Membuatnya bertanya-tanya doa baik apa yang tengah dipanjatkannya lewat surat kecil yang digantungkan dalam batang-batang bambu di sekeliling mereka.

 

 

“Jangan melihat punyaku.” Protesnya, “Tuhan tidak akan mengabulkannya apabila doaku dibaca oleh orang yang ku maksud di sini.”

 

 

Kekehan melolong dengan nyaring. Wajah Yeonjun memerah padam, seperti tertangkap basah tengah mendeklarasikan cinta di atas panggung tanpa satupun hadirin di dalamnya. Soobin mengangguk-angguk pasrah. Setengah mati penasaran, tapi ditahan dengan sekuat tenaga. Lagipula mengetahui fakta bahwa Yeonjun mendoakannya sudah membuatnya merasa menjadi pemenang alam semesta. Ia meraih lipatan kertas yang tersedia gratis di setiap meja, Yeonjun menjauh saat Soobin tengah menulis sesuatu.

 

 

“Kau juga menulis permohonan?”

“Iya, ada namamu di dalam suratku. Tapi aku tidak akan mengatakan isinya. Takut apabila Tuhan tak mengabulkannya, takut sekali.”

 

 

Rona merah pada pipinya menginvasi seluruh kesadaran Soobin. Ingin sekali memiliki Yeonjun seutuhnya. Mereka menggantungkan doa-doa itu di pohon bambu yang telah menguning. Yeonjun tertawa saat Soobin terjengit panik karena miliknya jatuh di tangan Yeonjun yang refleks mengadah dan langsung menutup mata; takut apabila doa Soobin-san tidak dikabulkan, katanya dengan manis.

Setiap waktu ketika Yeonjun tersenyum, ketika Yeonjun menggandeng tangannya karena takut apabila mereka terpisah dikerumunan dan tersesat, ketika Yeonjun menariknya di atas jembatan sepi dengan cahaya temaram lampu dan bising kembang api musim panas yang melukis gelapnya malam, lalu menciumnya hingga rasanya ia ingin ikut meledak di atas sana. Soobin jatuh, dan jatuh lagi.

 

 

 

 

Lalu entah bagaimana juga, tak lama setelah mereka kembali ke penginapan, ia menemukan Yeonjun tengah duduk di atas pangkuannya dengan tak berdaya. Napasnya menderu tak beraturan dan sangat-sangat panas. Yukatanya yang semula menutupi seluruh bagian tubunya dengan rapi kini membelah menampilkan garis tengah tubuhnya yang seputih awan di hari cerah. Lututnya menekuk dengan gemetar dan pinggulnya menghentak dengan tempo berantakan melawan miliknya yang masih terbungkus kain jeans yang terasa semakin mengerat.

 

 

“Pelan, Yeonjun―baby, shit―“

 

 

Soobin selalu memiliki kontrol diri yang baik. Hanya saja, Yeonjun; dengan yukata ungu petang yang menanggal di salah satu tangannya, mengekspos tulang lehernya yang menonjol, pucat, mengkilap dan jauh mengungguli kata sempurna, menghancurkan stoik pada dirinya. Matanya menelusur, menelisik wajah Yeonjun yang tengah mengadah dengan kedua mata tertutup untuk mencari-cari titik nirwana. Jari-jarinya bergemetar pada pundaknya dengan letih dan pasrah.

 

 

S-soobin―w-want you to h-hold meah,”

 

 

Maka Soobin mendekap kedua sisi pinggangnya erat dengan antisipatif. Anggur tentu bukanlah sebab utama semua ini terjadi. Kemarin malam mereka bahkan menghabiskan berbotol-botol shochu dan semuanya baik-baik saja. Yeonjun bahkan masih sempat memasakkannya semangkuk beef stew lengkap dengan baguette beroleskan margarin asin dan salad. Mungkin arah pembicaraan mereka tentang dismilaritas cinta dan nafsu? Atau tatapan mendambanya pada Yeonjun yang memenuhi sangkala waktu? Atau murni hanya birahi saja?

Wajah Yeonjun kini berpasrah di atas ceruk lehernya. Tenaganya mengembun bersama setiap sengalan napasnya yang memburu berkontradiksi dengan logika. Tetapi keduanya menginginkan ini untuk terjadi. Sementara Soobin masih terlampau ragu untuk sekedar menyapu permukaan kulitnya dengan jemari yang bergetar, Yeonjun semakin kuat menghentakkan pinggul padat di atasnya. Soobin bukan penggemar dry humping, itu menyiksa keinginan naluriahnya untuk selalu memimpin permainan ranjang. Hanya saja disinilah ia berakhir, terduduk tak berdaya menyaksikan Yeonjun yang berkilau bermandikan peluh mendesahkan namanya, menenggelamkan auranya yang seliar hasrat, menyerahkan segalanya.

 

 

“Aku memegangmu, Yeonjun ―ah, pelan baby, you need to take it slow, okay?” Seutuh otot Soobin menegang memohon untuk dibebaskan. “Aku akan membantumu untuk keluar, lakukan sesuai instruksiku, you can do it?”

 

 

Raut wajah Yeonjun semakin kacau dan rusak. ‘Aku mohon, aku mohon’ bergaung berulang kali dengan bibir yang gemetar kentara. Sepasang biji matanya menumpahkan air mata tak berdaya, mulutnya terbuka mengepulkan tuntutan, menyerukan namanya kotor dan penuh tensi. Pergerakan pinggulnya semakin melambat, Soobin pikir hal tersebut hanyalah indikasi bahwa ia hanya kelelahan tapi butuh untuk tuntas dengan cepat. Ia menarik daun telinga Yeonjun dengan lembut, bermain dengannya hingga berwarna merah ikut merasakan tegangan bulu roman, lalu membawa tangannya untuk menyeka buliran air mata yang jatuh setitik-setitik.

 

 

“Lelah? Mau ku bawa ke futon?”

“Ja-jangan―” Suara Yeonjun terdengar putus-putus bagai telah menyerah atas segalanya, “―ti―tidak mau kau melihatku, S-Soobin ―malu…”

 

 

Mendengar kalimat berserahnya membuat Soobin benar-benar sinting. Gairah mengeksploitasi tubuhnya hingga batas.

 

 

“Kau mau aku bagaimana, hm?”

“B-bisakah tanganmu menyentuhku di sini? A-aku tidak bisa sendiri,”

 

 

Kepala Yeonjun masih terus bersembunyi di atas ceruk lehernya, mungkin ia hanya malu, atau sedikit kelelahan. Apapun itu, alam bawah sadarnya benar-benar berkeluk meminta untuk bebas. Tangannya menyentuh organ intimnya sendiri, lalu membimbing tangan Soobin untuk ikut merematnya dengan lembut. Soobin terkekeh, Yeonjun terlihat erotis, dan menggemaskan di berbagai sisi.

 

 

Is handjob okay?”

 

 

Tetapi hanya lenguhan kecil yang mampu keluar dari mulutnya yang seharum madu. Jantung Soobin seolah ingin meledak tak ubahnya kembang api di akhir festival musim panas. Lalu tangan Soobin membelai pucuk kepalanya, menyisiri rambutnya yang basah akan keringat dengan rongga-rongga jari, kemudian mengecup belakang daun telinganya agar Yeonjun sedikit rileks dan mampu menata respirasinya kembali dengan normal. Ia menanggalkan lengan yukatanya dan membubuhi setiap inci rona merah muda pada pundak Yeonjun dengan bibir yang bergetar.

 

 

“A-aku―“

Ssshh― Yeonjun, aku tahu. Kau tidak perlu mengatakan apapun.” 

 

 

Soobin dengan sabar membelai punggungnya yang basah dan sedikit lengket. Celananya sendiri sudah benar-benar menyempit dan sumpah mati itu membuatnya sangat-sangat tersiksa hanya dengan mendengar lenguhan-lenguhan kecil Yeonjun dan rematan tak berdaya oleh tangan mungilnya. Susah payah Soobin mencoba menemukan tempo yang tepat pada gerakan tangannya. Wajahnya sendiripun sudah terlampau panas hingga rasanya itu mampu membakar habis seluruh entitasnya menjadi abu. Momen ini terlalu surgawi untuk dijelaskan dengan susunan kata-kata. Ia masih terpasung untuk membuat Yeonjun keluar secepat mungkin. Matanya menggelap ketika Yeonjun secara naluriah kembali menggerakkan pinggulnya. Obi yang masih membungkus pinggang sempitnya menggesek perut Soobin dan sensasi itu semakin meliar membuat kepalanya pening tak lagi bersudi untuk damai.

 

     

Uhh b-berhenti, Soobin―”

“Tidak apa-apa, sayang. Tidak apa-apa. Keluarkan semuanya, ya? Aku ada disini, you did so well, little prince. Keluarkan untukku.”

 

 

Sial. Sial. Sial. Harus bagaimana lagi? Soobin sudah tidak tahan. Ia mempercepat tempo gerakan tangannya hingga Yeonjun merengek dan nyaris berteriak nyaring apabila Soobin tidak menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Sirkulasi udara semakin terasa memadat, bulir air mata hangat membasahi ceruk leher Soobin dan ia hanya mampu tersenyum maklum. 

 

 

"S ㅡS-soobin ㅡ"

 

 

Maka Soobin semakin mempercepat temponya. Syahwat menggorok logika, dan ketika Yeonjun telah berejakulasi memenuhi perutnya, tubuhnya jatuh lemas di atasnya. Dadanya mengembang dan mengempis dengan sangat cepat, sementara air matanya masih terus mengalir akibat puncak firdaus yang melebur dan memenuhinya. Soobin meraih tisu di atas nakas untuk membersihkan cairan sperma Yeonjun, napasnya yang panas berangsur-ngsur menderu normal. Mati-matian berusaha lupa bahwa ia juga butuh untuk keluar, tetapi itu sudah tidak penting lagi.

 

 

"Masih ingin di posisi seperti ini? Tidak ingin tidur? Aku akan menggendongmu."

"Jika aku mengangkat wajahku apa kau akan menertawakannya?"

"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" Soobin membawa jemarinya untuk menari menyusuri tulang punggung Yeonjun. "Pada wajah yang menganggu tidur malamku selama dua minggu belakangan ini?"

“Kau memikirkanku terus?”

“Tidak boleh?”

“Kau benar-benar jatuh cinta padaku, ya.”

"Hu-um?"

 

 

Soobin tak berpikir bahwa Yeonjun akan mengangkat wajahnya secara tiba-tiba, memandangnya lurus tanpa lontaran kata dan menyelam pada miliknya seolah samudera tercipta begitu bening dan biru di dalamnya. Wajah Yeonjun berpeluh dan memerah, bulu lentik pada kedua matanya ikut memantulkan birunya cahaya rembulan seakan atmosfer bumi telah dipenuhi oleh debu dan partikel-partikel gas panas. Soobin memandangnya adiktif, berpeluh, begitu sayang. Sapuan subtil pada pucuk matanya membawa Soobin untuk menyembunyikan wajahnya pada dada Yeonjun. Telinganya dapat mendengar bagaimana detak jantungnya berdegum semakin cepat dan semakin cepat, lalu ia tersenyum. Yeonjun melenguh, mungkin merasa malu karena detak itu terasa jelas dan nyata, atau mungkin karena sapuan bibirnya yang tersenyum menyapu kulit panasnya, ia sendiri tidak terlalu paham.

 

 

“Tidakkah terlalu cepat?”

“Dalam?”

“Jatuh cinta padaku.” Tukas Yeonjun. “Aku bahkan hanya pelayan yang melayani kebutuhanmu, mengajakmu berbicara sebentar sebelum aku kembali ke pekerjaanku dan kau kembali ke duniamu sendiri.”

“Tidak―Yeonjun, kau tidak mengerti.” Jedanya sebentar, “tidak penting berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk jatuh cinta denganmu. Akulah yang mampu memahami perasaanku sendiri―bahwa jika aku jatuh cinta, aku merasakannya, bahwa jika aku jatuh cinta semakin dalam, aku bisa merasakannya. Tak ada hal yang bisa menjadi alasan untukku menyangkalnya, I just know it.”

 

 

Dan itu menjadi akhir dari percakapan mereka. Yeonjun tidak merespon apapun, tetapi Soobin tahu bahwa ia tersenyum ikrar tanpa wujud verbal. Ia membawa tubuhnya untuk berbaring di atas kasur. Apartemen Yeonjun hanya berjarak setengah kilometer dari  penginapan, ia bilang bahwa ia hanya pulang seminggu sekali untuk membersihkan kamar dan membawa barang-barang yang ia perlukan. Bau persik memenuhi respirasinya, uzur mengambil alih tubuh. Tak butuh waktu lama, Yeonjun terlelap tidur. Jarak mereka bagai menciptakan tipuan optikal, walau jemari Soobin bahkan mampu meraihnya hanya dalam dua jengkal.

Ada secuil kisah yang menjadi pengantar tentang hari ini, awalnya semuanya berjalan seperti biasa. Soobin yang bangun oleh ketukan pintu dari Yeonjun yang membawa nampan berisi teh hijau pagi dan ohagi, bercengkrama dengannya sebentar sebelum ia berpamitan untuk kembali bekerja, di malam setelah perjamuan makan malam ia lagi-lagi pergi menemui Okami-san dan sebelum Soobin sempat membuka mulutnya, beliau lebih dulu berkata ‘iya tahu kok, aku perbolehkan, asal besok Yeonjun tidak boleh bolos bekerja’. Lalu berakhirlah Soobin yang berlari menyusul Yeonjun, menawarinya untuk menjadi teman menyusuri perjalanan pulang, menatapnya mendamba seolah berkat telah terkucur padanya.

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Lalu masalah datang.

 

 

Soobin bahkan nyaris lupa bahwa ia hanyalah seorang turis dan harus segera pulang ke Korea Selatan untuk melanjutkan pekerjaan yang ia tunda. Pagi ini ia bangun bukan karena ketukan pintu Yeonjun dan sapaan ‘selamat pagi’-nya yang terdengar seperti gelombang melodi maritim gereja merdu, tetapi oleh telepon Jungkook―kakaknya yang protes ‘Adikku, cepat pulang ke negaramu dan bantu aku mengurus perusahaan atau kalau tidakkita akan jatuh miskin dan kau tidak akan lagi bisa menemui pegawai penginapan yang sedang kau taksir itu, Changmin yang memberitahuku!’

Jujur, Soobin gondok luar biasa. Ia meminta lima hari perpanjangan dan Jungkook masih bersikeras memberikan tiga hari atau tidak sama sekali. Inti masalah yang sedang berputar-putar di otaknya adalah, ia harus bagaimana sekarang?

Pergi meninggalkan Yeonjun begitu saja?

Jangan bercanda.

Mungkin ia bisa menawari pemuda itu untuk ikut bersamanya, tapi ia cukup sangsi bahwa pemuda itu akan setuju. Fakta baru yang kini memenuhi realitasnya, bahwa ia tak sanggup memulai hari tanpa mendapati pemuda itu bersandar pada pintu dengan senyumnya yang memikat. Kehadiran senyaman rumah, rapsodi tak terbatas, dan kehangatan yang membuat Soobin berjemur dalam keamanan kekal, Soobin tak ingin melepaskannya.

 

 

“Semangkuk anmitsu untuk mengisi siang cerah ini?”

Soobin meraih uluran mangkuk berisi buah-buahan segar dan satu scoop pasta kacang azuki. “Terima kasih, kau yang membuatnya?”

Yeonjun mengangguk. “Dibantu Okami-sama.” Jawabnya, “bad day? Bertengkar dengan Changmin-san?”

“Tidak, tidak tentu saja. Dia terlalu baik.”

Lalu Yeonjun terkekeh sambil menggumamkan ‘aku setuju, aku setuju’. “Apa ini karena kepulanganmu ke Korea? Kau benar-benar akan pulang, ya?”

Nadanya cukup terdengar gembira, tetapi sorotnya kosong; Soobin seperti merasakan getaran putus asa pada bagaimana caranya mengintonasikan kalimat.

“Ya.”

“Begitu.”

Yeonjun memutuskan kontak pandangan mereka. Tak ada niatan kata untuknya mengisi kekosongan bising di antara mereka, Ada sensasi penyerahan dan putus asa pada caranya melihat langit cerah di atas sana. Kepingan demi kepingan patos berkumpul dan mengorbit pada jantungnya yang perlahan mengeropos dan berlubang-lubang.

 

 

Jika ia memberikan seikat janji, apakah ia akan percaya padanya?

 

 

“Yeon―”

“Aku tidak ingin kau memberikan janji kepadaku, Soobin-san.”

“Kau…” Soobin menghentikkan laju lidahnya ketika Yeonjun menundukkan wajah beralih menatapnya. Kursi kayu yang mereka duduki terasa seperti tak lagi mampu menampung beratnya melankoli yang berpunuk pada pundak. “…tidak mempercayaiku?”

“Justru sebaliknya, Soobin ―”

 

 

Yeonjun menggenggam tangannya erat. Kehangatan itu mendepaknya pada alam semesta tertinggi. Seperti The Great Attractor, sang anomali mahadahsyat alam semesta yang memiliki kuasa untuk menarik ratusan ribu galaksi dengan daya gravitasi masif ke dalam kawasannya, dan dari sekian ratus ribu galaksi itu, adalah bimasakti ―tempat bumi mewadahi jiwa-jiwa indah yang hidup di dalamnya. Atau dalam perspektif Soobin, Yeonjunlah sang anomali itu sendiri.

 

 

“― karena aku begitu mempercayaimu, aku tidak perlu janji itu, Soobin. Aku tahu kau akan kembali. Iya, kan?”

 

 

Dahi mereka berhimpitan.

 

 

“Oh, Tuhan. Aku sungguh jatuh cinta padamu. Yeonjun ―aku akan kembali.” Lidahnya tak lagi kelu, walau reaksi tubuhnya masih sedikit lamban dalam memproses awal hingga berakhirnya detik ini dalam sekian rangka peristiwa, Soobin bersyukur Tuhan masih mau mengabulkan doanya untuk menggali keberanian mendekap tubuhnya, berbagi kehangatan mentari yang merobos kain di atas kulit. “Aku akan kembali dan saat itu tiba―” 

 

 

Dekapan itu semakin erat. Semakin terasa. Semakin hidup.

 

 

“― jadilah kekasihku.”

 

 

Yeonjun tersenyum lembut.

 

 

“Pastikan dulu kau akan kembali untuk menemuiku.”

 

 

Maka Soobin tak lagi menuntut apapun.

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Ini tidak baik. Sungguh amat sangat gawat.

 

Tidak baik untuk siapapun.

 

Untuk Soobin,

 

Lalu hatinya,

 

Perasaannya,

 

Kewarasannya,

 

Segala yang ada sangkut paut dengan dirinya.

 

 

 

 

Baru satu hari yang lalu ia dan lelaki pujaannya membicarakan tentang satu sama lain. Yeonjun yang membicarakan tentang dirinya; ia mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai pria dewasa biasa berkepala tiga (satu tahun lebih tua daripadanya), tidak memiliki keahlian apapun selain bersih-bersih seluruh kawasan penginapan dan membantu memasak para koki di dapur (tentu Soobin langsung protes dan berteriak lantang, mengabsen satu per satu keahlian Yeonjun yang tertangkap dalam lensa matanya; Ikebana, menulis kaligrafi, bermain Koto, ia bahkan mampu menghapal nama Jugemu dalam salah satu kisah Rakugou yang membelit lidah), kemudian tentang orang tuanya yang sudah meninggal sejak ia kecil dan Okami-sama yang mengangkatnya sebagai anak dan memberikannya rumah, makan, serta pekerjaan yang layak. Soobin memandangnya sebagai bukti nyata dari sebuah mukjizat.

Satu hari telah berlalu dan hari ini, sore hari, sudah hampir petang, jarum jam menunjuk angka setengah tujuh. Yeonjun sejak pagi tidak sekalipun memunculkan batang hidungnya. Satu kali waktu jam makan siang ia tak sengaja berpapasan dengan Yeonjun di lorong yang menghadap pohon-pohon getah, tetapi lelaki itu langsung berlari dan menghiraukan panggilannya.

 

 

 

Tidak mungkin, bukan? Apabila Yeonjun marah padanya?

Lagi, sebabnya apa?

 

 

Jika itu karena kepulangannya dua hari lagi, seharusnya Yeonjun tidak memeluknya dan memintanya untuk kembali kemarin. Seharusnya Yeonjun tidak memeluknya, mendekap seluruh tubuhnya, meraih tangannya, memberikan kecupan kupu-kupu di seluruh bagian wajahnya dengan selingan-selingan frasa yang memetakan kesempurnaan. Seharusnya.  

 

 

Ia berjalan dengan malas memutari penginapan, kali saja tak sengaja bertemu dengan Yeonjun, pikirnya. Tak banyak orang yang tinggal di penginapan, padahal liburan musim panas sudah dimulai sejak seminggu yang lalu. Pemandian onsen pun nampak sepi (hanya nampak beberapa pegawai yang berlalu lalang). Kemudian Soobin duduk di salah satu kursi jati, menyaksikan lembayung yang memolesi langit atas tergantikan oleh gelapnya jagat. Merasa bosan dan tak kunjung membuahkan hasil, ia berjalan ke arah vending machine dekat resepsionis untuk membeli sekaleng bir, menegak seteguk―mengeluhkan rasanya yang terlampau ringan dan cenderung kuat sensasi sodanya saja. Lalu ia kembali ke kamarnya sendiri dengan hati yang nyaris hampa.

 

 

 

 

Tidak, kehampaan itu tak berlangsung lama.

 

 

 

Soobin mendapati sekotak ayaman rotan tergeletak di atas lipatan futonnya. Selembar yukata bewarna hitam petang dengan motif naga emas dan elang yang seakan sedang bertarung tercetak raksasa pada bagian punggung. Sekuntum bunga kosmos yang diikat dengan tali remi bersamaan dengan selembar surat tertata rapi di sisi kirinya.

 

 

In the northest room of the building, right in front of the lake when your delicate fingers dance across me for the first time,

as we kissed with summer breezes stroking our lips, remember?

Can you meet me there?

I hope you didn’t eat yet.

I have something for you.

 

 

Ini bukan imajinasinya belaka. Soobin menepuk-nepuk pipinya berkali-kali, nyaris merah padam, lalu ketika tepukan terakhir sudah terasa membuat permukaan kulitnya terbakar, ia baru berhenti. Yeonjun tidak marah padanya, justru sebaliknya, oh apakah pemuda itu menghabiskan satu hari waktunya hanya untuk mempersiapkan sebuah kejutan untuknya? Lalu Soobin berangan-angan, kejutan seperti apa bentuknya hingga ia mau repot-repot mempersiapkannya selembar kain dan setungkai bunga segar yang seperti baru dipetik beberapa jam yang lalu?

Mungkin makan malam romantis, atau jalan-jalan?

Itu tidak penting. Ia segera bergegas membersihkan diri, memakai parfum favoritnya dengan aroma noir, menata rambutnya sedemikian rupa dengan gel. Satu kali ia menyugar rambut depannya ke belakang hingga dahinya terekspos bebas, tapi rasanya sedikit berlebihan, ia selalu berpegang teguh pada konsep; kenyamanan adalah senjata paling mematikan. Maka ia menurunkan rambutnya kembali seperti semula.

Ia berjalan dengan langkah pelan. Dadanya bergemuruh, kilatnya seperti menggores urat-urat jantungnya hingga rasanya pedih, ia terlalu gugup. Sejenak terkekeh, usianya sudah tidak lagi muda, tetapi ini pertama kalinya Soobin merasakan sucinya sebuah perasaan. Taburan bintang dan rasi segitiga memapahi langkahnya, dan ia sampai.

Ada seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu, Soobin pernah sekali-dua kali melihatnya bercanda tawa dengan Yeonjun di hari luang. Ia membungkuk memberi hormat.

 

 

“Kau sudah ditunggu.”

“Ah, uhm― terima kasih?”

“Tidak masalah.” Wanita itu tertawa kecil. “Aku hanya membantunya bersiap-siap, ia rekan kerja yang paling ku kagumi.”

 

 

Soobin tak paham apa maksudnya, ia hanya membalasnya dengan senyum dan hormat ketika wanita itu berpamitan untuk pergi. Ia masuk, tanpa mengetuk pintu. Suar-suar cahaya redup dari lampu menyertai gerak tubuhnya. Kepalanya mengadah menatap langit-langit, suara angin semilir mengalun penuh romantik dan disapu oleh dentangan lonceng yang tunggal nada.

Matanya beralih fokus di depan. Sebuah meja raksasa berdiri kokoh di ujung ruangan. Kesadarannya terlena diliputi suasana berat, indah, juga sensual dari wangi-wangian altar lilin-lilin dengan api yang kian memanjang dalam bayangannya yang hitam. Soobin menutup pintu perlahan, menguncinya dan berjalan dengan napas berat.

 

 

Yeonjun terbaring di atasnya.

 

 

Menatapnya dengan senyum kecil, wajah yang memerah dan mata sayu yang berkedip lemah. Kedua tangannya terkulai di kedua sisi kepalanya. Permukaan bola matanya berbintang-bintang, kelopaknya terbuka dan tertutup dengan gerakan yang sangat elok dan menawan. Kedua kakinya terlentang, permukaan kulitnya basah oleh minyak zaitun dan bercahaya― Soobin mendekat dan duduk di atas satu-satunya kursi yang sudah dipersiapkan di sana. Selembar yukata tergantung di rak sisi ruangan, dan Yeonjun tak mengenakan apapun di atas sana. Kedua belah dadanya terlapisi oleh bunga lily merah muda yang segar, sedangkan daun bambu hijau memanjang dari bagian perut  atas hingga area privasinya. Soobin mematung, seperti orang dungu.

 

 

Surprise.

 

 

Raut wajah Soobin melembut ketika mata mereka bertemu dalam lima detik interval paling mendebarkan yang pernah terjadi dalam hidupnya.

 

 

You… want me to eat this off your body?”

Yeonjun mengangguk. “Tentu.” Bisiknya dengan lenguhan kecil. “Aku menaruhnya di atas daun bambu agar temperatur hangat tubuhku tidak merubah rasa segarnya, you want to give it a bite?”

Soobin memejamkan matanya, respirasinya tercekik tanpa ampun. “Shit. Fuck — kau sangat indah, Yeonjun-san. Indah sekali. Jauh lebih indah daripada definisi seni manapun.” Kemudian  mengerang putus asa. “Aku seperti orang paling terberkati di dunia karena telah  menerima kesempatan mahamulia ini.”

 

 

 

Jujur saja, tiga puluh dua tahun selama ia hidup, ia tak pernah sekalipun mengalami hal seperti ini. Memang sempat beberapa kali ia mendengar tentang nyotaimori (atau nantaimori apabila objeknya adalah tubuh seorang laki-laki), tapi ia tak sedikitpun menaruh minat. Toh, apa yang enak dari memakan sushi yang ditata sedemikian rupa pada tubuh telanjang seseorang?

Mungkin ia yang dulu sedikit terlalu menghakimi, sekarang kelenjar salivanya bahkan tak berhenti untuk terus menerus memproduksi air liur di dalam mulut. Melihat pemandangan Yeonjun yang hampir telanjang, mempersembahkan segala yang ia punya, membuatnya hancur seketika karena terlalu mendamba. Ia menggeram frustrasi di atas meja. Jemarinya bergetar nyaris tak mampu digerakan walau hanya untuk meraih sumpit yang tergeletak di samping piring kecil. Indah, indah sekali. Yeonjun nampak begitu nyata dengan latar cokelat pada dinding, dan temaram lampu kecil. Bibirnya terbuka untuk mengambil napas halus, suasana begitu sunyi, seakan ikut mendukung kualitas tertinggi perasaan mereka yang saling ingin memiliki.

Soobin untuk pertama kalinya menyicipi sifat-sifat gemulainya yang murni. Belum pernah satu kalipun dalam hidup ia berjumpa dengan jiwa yang sebegitu bergairahnya, sifat seperti burung dara yang selalu membuatnya terlena oleh kealamian. Hanya dengan menangkap kedua biji mata kecil itu saja Soobin seolah mampu menembus lapisan tertinggi Firdaus di luar jagat raya sana, apalagi jika itu ditambah oleh Yeonjun; dengan seutuh dirinya. Ia bahkan mampu mencium bau minyak yang mengkilapkan kulitnya. Lalu rasa lemas menjalari seluruh tubuhnya, Soobin mungkin hanya terlampau terpana. Ketika nyala emas api pada kobaran lilin memantul pada kulit molek itu, menari-nari dan ikut melebur dengan daya pesona pribadinya yang sesubur pohon anggur di tanah gembur. Dan oleh karena eksistensinya yang sudah terbiasa dengan alam itu sendiri, ia seolah menyatu dengannya, segala yang keras menjadi lunak untuk disentuh. Segala yang buruk menjadi rupawan untuk dilihat. 

 

 

“Tidak apa-apa, Soobin-san ―makanlah.”

 

 

Suara Yeonjun menyeretnya anggun. Dengan setengah mati Soobin mencoba mengembalikan kewarasan. Ia meraih sepasang sumpit gading, menyapit satu nigiri uni yang digulung dengan rumput laut.

 

 

 

“Kalau begitu, Yeonjun-san―itadakimasu.

 

 

 

Rasa pahit dan segar menguasai seluruh indera perasanya. Ia menyapit satu gunkan berisi sayuran yang berada tepat di atas pusarnya. Pancar kilat pada pupilnya tumbuh keayeman hawa nafsu, begitu pula milik Soobin. Suapan ketiga, keempat, kelima, seterusnya… Soobin terus memakannya tanpa jeda. Matanya tak seinchipun bergeser dari kedua pupil Yeonjun yang menatapnya lurus, bercurah gairah, berpasrah atas harga dirinya. Dada lelaki itu mengembang dan mengempis dengan teratur, sekelebat pikiran berputar layaknya kaset bahwa ia pasti telah terlatih secara profesional. Perut ratanya terlihat putih bersih, sangat kontras dengan warna hijau daun bambu yang kini terjatuh di atas permukaan meja saat Soobin berusaha meraih potongan-potongan acar jahe. Seluruh sendinya bagai melebur menjadi debu ketika jemarinya tak sengaja membelai permukaan kulit licin itu. Memerangkapnya dalam kubangan cinta yang agung, menggenangi seluruh hidupnya dengan berkat maha dahsyat.

 

 

 

 

“Perhatikan sushi pada jepitan sumpitmu.”

I am.”

“Matamu bahkan tak pernah mengarah kemanapun selain melihat mataku.”

“Begitukah?”

“Jadi, seni yang mana yang sedang kau apresiasi, Goshujin-sama?”

Well…”

 

 

Yeonjun terkekeh begitu Soobin meraih dua potong tuna sekaligus dan memakannya dengan kunyahan tak berirama, cenderung tergesa-gesa dan sembrono. Soobin pun, sendirinya tidak terlalu mengerti mengapa ia sebegini tergesa-gesanya. Mungkin di antara ia yang masih belum terbiasa dengan elemen baru di hadapannya dalam ukiran artistik, atau dalam perspektif gelora nafsu, bahwa ia ingin belasan potong sushi itu segera menanggalkan polos tubuh Yeonjun agar netranya dapat memotret lekuk indah itu dengan lebih utuh. Tapi yang jelas, ia sungguh-sungguh menikmatinya. Sensasi ini seakan memperbaharui tubuhnya menjadi lebih segar dan hidup. Yeonjun meraih sapu tangan untuk menyapu bulir anggur merah pada sudut bibir Soobin yang setengah terbuka.

 

 

“Kau bisa mati tersedak.”

“Aku bahkan bisa mati kapan saja hanya dengan menerima sentuhanmu seperti ini.”

“Tuanku, sungguh seorang pria yang mendamba cinta kasih, ya?”

Kekehan renyah menjadi jawaban Soobin. “Gochisousama deshita.” Ucapnya seraya meletakkan kembali sumpitnya di atas pinggiran piring agar tidak jatuh ke dalam.

 

 

Detik ketika Yeonjun bangkit dari tidurnya, kedua kepala bunga lily itu jatuh. Menampilkan dua buah dadanya, otot pektoralisnya terbentuk padat, berwarna merah muda, dan sempurna. Ia menyisihkan sisa potongan daun mint dan  kuah acar jahe yang mengenai kulitnya dengan tisu, lalu berusaha untuk turun dari meja sebelum Soobin menahan sebelah pinggangnya.

 

 

“Diam disini.”

 

 

Yeonjun sedikit tersentak, namun akhirnya ia tersenyum penuh sanjungan. Soobin membalutkan yukata yang semula digantung di rak pada tubuhnya, menali pinggangnya hanya dengan koshihimo sekenanya. Ia tidak terlalu ingat caranya, miliknya bahkan hanya ia kenakan sebisanya saja. Tangan Yeonjun menggenggam erat miliknya, bibirnya berbisik terima kasih dengan lembut.

 

 

“Aku akan mengantarmu ke—”

Don’t, please.” Ringan dan penuh permohonan. “Soobin-san, biarkan aku bersamamu, malam ini? Bolehkah?”

 

 

Sedikitpun tak memiliki kuasa untuk menolak, Soobin mendekapnya erat. Aroma minyak zaitun menggelitik rongga hidung hingga dadanya terasa sesak dan ingin segera meledak. Napas Yeonjun sangat-sangat panas, bulir keringat bahkan ikut mengalir pada lehernya ketika dahi lelaki itu menyanggam pada ceruknya yang kini semakin kaku hingga urat-uratnya mencuat seakan memohon ingin menembus kulit. Sisa adrenalin beberapa menit yang lalu kembali menggila merangsang nafsunya. Hatinya lebih berapi-api dari semua kejadian yang pernah ia lewati dalam hidupnya sebelum ini.

Lalu Soobin menarik tangannya erat, menuntunnya untuk kembali ke ruangannya sendiri; tak mengatakan apapun selama mereka berjalan menyusuri lorong, hanya derap langkah yang mengisi udara, dan terkadang degup jantung keduanya ikut serta memeriahkan sunyi itu. Yeonjun terduduk sedikit mengangkang di atas futon miliknya, dan Soobin dengan tertatih meringkuk mendekat padanya. Napas saling beradu, hawa panas menggeliyati kulit, segalanya terasa seperti euforia paling mustahil untuk diraih.

 

 

“Katakan, Yeonjun-san.” Bisiknya pelan, pelan sekali. “Katakan padaku apa yang kau mau, aku tak akan melakukan apapun jika kau tak mengatakannya padaku.”

 

 

Wajah Yeonjun merah, sangat merah. Kepalanya kini ikut tertidur, dengan mata setengah terbuka; menatapnya dengan gigil memanjang. Soobin tersenyum saat ia meremas kerah yukata miliknya yang sudah tak lagi terbentuk, remasan yang lemah, jinak namun juga seksi di saat yang bersamaan. Pria itu tahu bahwa Yeonjun— sama seperti dirinya, memiliki satu keinginan yang sama. Keinginan untuk saling mencumbu, menyentuh, memiliki. Ia hanya butuh satu kata agar keinginan  itu mampu terkabulkan, dan Yeonjun membisikkannya denga merdu.

 

 

“Kau —aku ingin kau —sentuh aku, ku mohon,” 

 

 

Ah, persetan dengan akal sehat dan tetek bengeknya. Soobin benar-benar sudah gila dan tak mampu lagi mengendalikannya. Demikian besar pengaruh Yeonjun dalam kontrol tingkah lakunya, dunia bagai mengejeknya karena telah menemui titik terlemahnya. Dengan punggung tangannya yang licin oleh keringat, dibelainya helai demi helai surai Yeonjun dengan sayang. Terlalu rapuh untuk disentuh, terlampau mempesona untuk dipandang, begitulah bagaimana cara Soobin memandang. Tatapan yang bergetar oleh titik air mata itu memanggil-manggil namanya, memohon dengan caranya yang paling puitis, mengerang lembut meminta untuk disentuh selembut― sehati-hati mungkin.

Yeonjun menyembunyikan wajahnya dalam sungkupan tangan ketika Soobin menanggalkan yukatanya.  Ia terkekeh gemas, menarik kedua pergelangan tangan kecilnya untuk menyingkir dari raut yang mengekspresikan keindahan paling duniawi. Mengecupnya lembut, bertubi-tubi dari punggung telapak tangan hingga sampai ke ujung lengan. Soobin setengah mati berusaha mengambil kembali control tubuhnya, setengah terkekeh mencoba mengeluarkan kelakar mesra yang muncul dalam benak.

 

 

“Cantik―Yeonjun-san cantik sekali.”

 

 

Yeonjun melenguh lemah saat Soobin menyentuh miliknya, berdiri tak berdaya. Cairan pre mani hampir memenuhi genggamannya yang semakin melicin.

 

 

“Oh―Tuhan!” Yeonjun memekik tak berdaya.

 

 

Jemari Soobin mengoyaknya dengan irama yang lembut. Yeonjun tersengal, nafsunya membludak payah. Ia sedikit berjengit panik saat Yeonjun menitikkan air mata, lalu berpikir apakah terlalu cepat untuknya menerima penetrasi. Saat Ibu jarinya mengusap buliran air mata itu dengan hati-hati, begitu takut apabila belaiannya akan memberikan luka,  nafas Yeonjun kembali berderu normal. Soobin nyaris sakit jantung, benar-benar tidak tega. Tetapi cengkramannya terus menguat, bibirnya kembali merapalkan ‘teruskan, teruskan’, dan Soobin mengecup kedua kelopak mata basah itu. Yeonjun menarik punggungnya dengan tiba-tiba, mencoba mendistraksi rasa perih dengan lumatan dan Soobin berkali-kali menelan desahan mulutnya dalam ciuman memabukkan.

 

 

“Rileks, sayang, rileks.” Bisiknya saat Yeonjun melepas pagutan mereka dan kembali melenguh panjang. “You know i will never hurt you.” Ucapnya selembut mungkin. Jemarinya menyisir poni Yeonjun ke belakang, mengusap keringat pada dahi lalu membubuhinya kecupan-kecupan kecil. “Aku akan berhenti jika kau ingin aku berhenti, kau selalu punya hak untuk ikut ambil bagian,”

Tetapi Yeonjun menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Ja-jangan berhenti,” jawabnya memasrah. “A-aku ingin seutuh dirimu menguasaiku, biarkan kau jadi milikku, Soobin― make love to me.” 

 

Benar-benar sudah tidak sanggup. Soobin sudah mencapai batas limitnya. Bola cemerlang Yeonjun semakin berkilau karena air mata yang tumpah ruah, rengekannya semakin lemah, nyaris terdengar seperti bisikan. Separuh jiwa Soobin melebur meninggalkan wadahnya.

 

 

“S-soobin―”

Yes, baby, yesi’m here,” bisik Soobin tepat di atas bibirnya. Menyapu kelopak basah itu dengan kecupan-kecupan, menatapnya dengan memuja saat Yeonjun kembali meloloskan desahan-desahan kecil bercampur rengekan menggemaskan, “Is it okay if i use my mouth?”

U-uhm,”

 

 

Dan Soobin menarik jari-jarinya untuk keluar. Yeonjun menatapnya dengan nafsu birahi, mulutnya setengah terbuka; seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya desauan tak berdayanya yang berdengung. Lalu Soobin mengecup seluruh wajahnya, lagi dan lagi, turun perlahan menuju leher; menyesapnya dengan deru napas memburu, bercak merah tertinggal di atasnya, dan Soobin tersenyum kecil, jiwanya bersorak di angkasa. Jika ingin jujur, ini pertama kalinya dalam kehidupan seksnya ia melakukan rimming, Soobin benar-benar cemas, apa ini cukup? Ia tak memiliki pelumas saat ini, dan milik Yeonjun masih terasa cukup kering. Ia mungkin akan menyakitinya apabila akan menuju penetrasi. Kecupan pada bibirnya semakin terasa gemetar. Sudah cukup terlalu terjebak dengan kekhawatirannya sendiri, sampai ketika lenguhan panjang Yeonjun membawa kembali kesadarannya. Suara decakan lidahnya yang berusaha menjamah titik kenikmatannya bersuar sensual menembus partikel-partikel udara, bercampur tanpa tahu malu bersama desahan nakal keduanya.

 

 

“Yeonjun―Yeonjun, tetap di sini bersamaku, ya? Aku memegangmu, aku berjanji sakitnya tidak akan lama, ya? Tetap disini,”

 

 

Bisikan itu mampu menenangkan rengekan Yeonjun. Air mata itu menyakitinya, Yeonjun yang kesakitan menyakitinya. Soobin terus berbisik kata-kata berlimpitkan betapa ia menyukai setiap bagiannya, menyetir Yeonjun dan menuntunnya untuk terus sadar. Memperlakukannya semanis dan seromantis mungkin. Seklise kedengarannya; ketika miliknya menjepit dan memenuhinya, kupu-kupu terus berterbangan menggelitik pusar hingga dada. Yeonjun kembali merengek, air matanya jatuh, tumpah dengan deras, tetapi ia tersenyum. Tangannya yang gemetar membelai sebelah pipi Soobin dengan sangat lemah, pria itu ikut tersenyum, menggapai belaian itu dan menggenggamnya dengan erat, satu kecupan pada punggung telapak tangan dibubuhkan dengan sangat lama; meresapi setiap detik sensasinya yang terasa seperti sepoi angin sejuk di musim gugur. Air mata Soobin ikut terjatuh; tetapi itu adalah air mata pengakuannya, curahan isi hati yang menggemakan tak terhingganya ruang galasakti.

 

 

“Kau menangis, Soobin―”

Because it’s you. It’s really you.” Mati-matian ia menahan isak.

 

 

Maka Yeonjun mengukir senyumannya, menarik tengkuknya untuk sekali lagi beradu dalam ciuman murni akan gelora kasihnya.

 

 

“Bergerak, Soobin― sudah tidak apa-apa,”

 

 

Soobin menegang. Pinggulnya bergerak dengan hati-hati, menciptakan ritme. Ia mengerang dengan tersendat-sendat, kepalanya terus tersentak ke belakang mencoba untuk menumbuknya semakin dalam. Desahan Yeonjun terdengar semakin manis dan memabukkan untuk didengar. Yeonjun terus-menerus menutup dan membuka kelopak matanya, mencoba menatapnya untuk meraih nirwana. Tangan Yeonjun meremat tangannya yang tengah mencengkram kedua sisi pinggangnya, rematan itu terlalu lemah, bahkan sempat berkali-kali terjatuh di atas matras saat Soobin mempercepat hentakkan tubuhnya. Bulir keringat yang melewati pelipis kini terjatuh tetes per tetes pada dada Yeonjun yang terkulai dibawah kungkungan kuasanya. Utuh, seksi, dan mengadiksi, membuatnya menginginkan lebih, lebih, dan terus lebih.

Hentakannya semakin brutal, sorotnya berembun melayang-layang. Ia menggeram dengan suara rendah saat Yeonjun berkali-kali menjepit miliknya, lalu ia tersenyum lemah. Menjatuhkan kepalanya pada ceruk leher Yeonjun, mengecup gigitannya yang memerah beberapa waktu lalu sebelum menenggelamkan seluruh pandangannya. Bersamaan memecahkan getaran gelombang pada inti tubuh masing-masing, raungan parau dari napas Soobin menelan habis pekikan nikmat Yeonjun dalam ciuman lelah.

Kepala Soobin terangkat dengan pelan, memeta wajah Yeonjun yang terlihat jauh semakin menawan. Menyeka poninya yang basah, terus berkata ‘kau indah, kau cantik’ tanpa lelah seolah itu adalah mantra pelindungnya. Bulu mata lentiknya berair dan Soobin menciuminya terus-menerus tak henti. Yeonjun terkekeh, tersanjung atas bagaimana Soobin memperlakukannya, tetapi bahkan pria itu dengan senang hati tak akan mengenal kata berhenti apabila itu tentang Yeonjun seorang.

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

“Choi Soobin, rangkuman laporan yang kuminta tiga hari yang lalu?”

Ah, persetan denganmu―Jungkook, aku sedang pusing, jangan ganggu aku!”

Lalu tepukan keras pada pucuk kepala menjadi respon non verbal Jungkook padanya. “Watch your mouth, young man.” Ia membanting tumpukan map yang butuh dicap dan ditanda-tangani sesegera mungkin. “Kau benar-benar seperti dirasuki roh menyebalkan semenjak pulang dari Kyoto! Kenapa, sih? Rindu cinta musim panasmu?”

“Kau tahu dan masih sempat bertanya padaku? Menyebalkan. Kau benar-benar menyebalkan.” Erangnya, impulsif menepis tangan Jungkook yang berusaha mengacak-acak rambutnya. “Ia sudah tidak membalas pesanku sejak tiga hari yang lalu, bebaskan aku dari sini agar aku bisa ke Kyoto untuk menemuinya, lagi. Apa kau tidak senang melihat adikmu jatuh cinta?”

Oh, oh, kasihan sekali.” Godanya. “Sebegitu inginnya untuk bertemu? Adikku yang sekeras aspal kering sebegini menggemaskannya ya kalau sedang jatuh cinta? Membuatku bertanya-tanya mantra apa yang telah Yeonjun sematkan pada kepalamu sampai kau sebegini mabuk kepayangnya, hm?”

 

 

Soobin melirik Kakaknya dengan dongkol, lalu kembali menyortir fokusnya pada layar komputer. Harinya tiga hari belakangan ini benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Ia butuh Yeonjunnya. Ia rindu Yeonjunnya. Ia ingin mendengar tawa menggemaskannya lewat gubahan gelombang suara pada ponselnya. Ia ingin Yeonjunnya.

Efek Yeonjun pada hidupnya benar-benar sebegini dahsyatnya. Ia yang dulu gila kerja, kini nyaris mengeluh di setiap pagi saat Jungkook mengajaknya sarapan di kafetaria. Bekerja membuatnya tak bisa berbicara dengan Yeonjun lewat telepon, protesnya setiap kali. Karyawan-karyawannya bahkan sering kedapatan menatapnya dengan raut wajah ‘wow, direkturku seperti terlahir kembali menjadi budak cinta!’, Soobin sih tidak terlalu keberatan, atau lebih bisa dibilang; ia tak punya waktu untuk itu, lebih baik memikirkan Yeonjun, mengiriminya pesan dengan kata-kata manis, menelponnya untuk melayangkan kata-kata serat akan rindu, lalu memikirkannya lagi. Jungkook pasti akan menertawakan dirinya apabila ia mampu membaca pikirannya.

Terhitung sudah empat bulan lebih (empat hari lagi genap menjadi lima bulan total) semenjak kepulangannya dari Kyoto. Itu berarti sudah hampir lima bulan, Soobin tak bertemu dengan Yeonjun selain lewat video call atau telepon suara, dan itu menyiksanya lebih dari apapun. Lebih sakit daripada kepalanya yang terbentur kaca bening saat ia berjalan melamun di lorong kantor, lebih perih dari kulitnya yang tak sengaja terguyur kopi panas di kafetaria. Pokoknya lebih dari daftar terminus sengsara dalam kosakata itu sendiri. Hatinya kosong, sepi, ingin ditemani. Terkadang nyeri berdenyut-denyut pada jantung ketika rindunya membludak meminta untuk segera disembuhkan.

Soobin ingat dengan jelas Yeonjun tersenyum dengan sangat sakit saat mengantarkannya ke bandara (sudah dengan izin Okami-sama, tentu saja). Soobin saat itu berpikir bahwa Yeonjun sedang mati-matian menahan tangis, dan benar saja. Saat ia telah menembus batas pengecekkan security, dan berbalik untuk sekedar melambaikan tangan, ia dapat melihat Yeonjun yang tengah mengusap kedua matanya dengan sweater biru langit yang sengaja ia tinggalkan untuknya. Soobin tak mampu melihat dengan jelas saat itu, tetapi Yeonjun tak sekalipun melihat ke arahnya. Bahkan ketika ia mencoba untuk berlari kembali padanya, sebelum Changmin menarik tas punggungnya dan berkata ‘kau tidak boleh kembali!’ (ia marah pada Changmin karena itu dan mendiamkannya total di pesawat selama perjalanan kepulangannya kembali ke Korea Selatan). Tentu beberapa hari setelahnya Soobin minta maaf atas sifatnya yang kekanakan dan Changmin hanya tertawa lalu menraktirnya segelas krim soda dan pizza toast.

 

 

“Yeonjun belum membalas pesanmu?”

“Aku ingin tidur panjang dan bangun saat Yeonjun sudah membalas pesanku, stiker tidak jelas atau titik koma saja tidak masalah. Aku benar-benar hanya ingin dia membalas pesanku.”

"Tidak ingin menemuinya?"

"Retorik. Sungguh retorik."

 

 

Dengan refleks otaknya memutar ingatan-ingatan kejadian tentang Yeonjun dan Yeonjun seorang. Ia menyaruk-nyaruk kacau. Ingatan ketika pertama kali Soobin menelpon Yeonjun untuk pertama kalinya tepat saat tubuhnya terbaring dengan pakaian dan sepatu yang masih melingkupi kakinya. Suaranya di seberang sana sangat parau, dan saat Soobin bertanya 'apakah ia menangis', Yeonjun terdiam sejenak dan tiba-tiba dengan pelan terisak-isak begitu payah hingga Soobin nyaris sesak napas karena tak tahu harus bagaimana. Berhari-hari hanya kegalauan yang menyekam batinnya, bahkan ketika Yeonjun telah mengiriminya pesan bahwa ia sudah tidak apa-apa dan sedikit lampiran mengenai betapa ia tak sabar menunggu hari dimana mereka akan bertemu lagi, Soobin masih terperangkap dalam sakit.

 

 

“Aku jatuh cinta pada Yeonjun.”

“Terus?”

“Terus kau menghalangi jalan cinta kita berdua.”

“Adikku sayang.” Jungkook membelai pipinya dengan raut wajah yang membuat Soobin ingin menjambak rambut ungu mencoloknya. “Aku mencintaimu, oke? Anggap saja ini ujian kekuatan cinta kalian. Mari lihat apakah perasaanmu atau Yeonjun masih tetap membara atau melayu hanya karena jarak. Siapa tahu itu hanya cinta musiman saja, kita tidak akan tahu, bukan?”

 

 

Jujur saja Soobin ingin menyangkalnya, tapi separuh hatinya ikut tercebur dalam kuriositas. Mungkinkah? Apalagi jangka waktu terhitung sejak pertemuan mereka hingga detik ini masih cukup sebentar. Soobin masih belajar untuk mengenal lelaki itu perlahan-lahan. Tak mudah menghubungi Yeonjun via telepon maupun online chatting, lelaki itu benar-benar terlihat sibuk luar biasa. Soobin mencoba untuk mengerti walau separuh dirinya terasa begitu kosong dan gelap. Ia menyimpan banyak gambar Yeonjun yang dikirim via pesan. Yeonjun yang mengganti warna rambut menjadi merah muda, terlihat semakin manis seperti permen kapas. Yeonjun yang membeli satu setel piyama linen biru tua yang sangat kontras dengan kulit putih porselennya. Yeonjun yang memakai jaket yang ditinggalkannya dengan pesan; aku merindukanmu, hingga Soobin yang membacanya nyaris kehilangan akal sehat.

 

 

 

Yeonjun, Yeonjun, dan Yeonjun.

 

 

 

Ia benar-benar tak bisa memikirkan hal lain selain dirinya.

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

Barangkali memang di setiap kepelikan hidup, kuasa Yang Maha Agung di jagat raya ini selalu memiliki cara-Nya sendiri untuk memberikan ciptaan paling sempurnanya berkat tak terkira. Dan berkat itu, bagi Soobin adalah Yeonjun; yang tengah berdiri di depan pintu ruangan, dengan senyum sekaya warna langit yang membeningkan pudarnya semu yang menyangkut pada aura tak hidupnya sebelum detik ini berakumulasi. Ia masih menyimpan sweater itu dengan sangat baik. Warnanya sama sekali tak pudar, terlihat seperti tak sekalipun pernah dipakai; tapi Soobin yakin, Yeonjun tak akan mungkin melakukan itu.

 

 

“Maaf ya aku suka sekali memberimu kejutan.”

 

 

Maka Soobin menangis dengan payah. Berlari menghambur pada pelukan Yeonjun yang terkekeh seraya mengecup malu-malu pucuk kepalanya. ‘Aku nyata, loh, nyata’ berkali-kali terucap dari bibir ranumnya saat Soobin mempertanyakan kebenaran momen ini di tengah senggukan.

Ia sudah tidak peduli dengan daftar pekerjaan yang menumpuk dan permintaan Jungkook yang harus selesai sore ini sebelum pukul lima. Itu berarti tiga jam lagi, dan ia sudah benar-benar tidak peduli. Pantas saja Jungkook benar-benar menyebalkan hari ini, ia pasti telah bercampur tangan tanpa sepengetahuannya. Ia balas mendekap tubuh Yeonjun dengan erat sekali. Sumsum tulangnya seakan ikut meluruh saat Yeonjun berbisik kata-kata rindu yang membuat naruninya telak terlena. Seluruh zat pada tubuhnya mengelaborasi cara berpikir, tutur kata, juga tindakannya untuk berlaku dengan cara yang paling benar.

 

 

“Kau hampir mencampakkanku selama dua minggu lebih.”

“Ah, maaf, ya― aku bekerja dengan sangat keras untuk menabung agar bisa menemuimu.”

“Kau bahkan tinggal bilang padaku jika kau ingin ke sini, aku bisa―”

“Tidak, tidak,” Yeonjun menungkas dengan cepat, “aku ingin berusaha sendiri, kalau begini lebih terasa perjuangannya, aku puas, kau bagaimana? “

 

 

Waktu dibiarkan berlalu sekenanya. Lagi, air matanya dibiarkan turun meruah-ruah sangat deras. Soobin pikir ia tak lagi memerlukan sedikitpun alasan tentang bagaimana ia mencintai pemuda itu dengat amat sangat. Untuk apa? Segalanya sudah jelas dan tanpa ada ruapan liku cela. Hanya ia yang bisa menuturkannya. Cintanya tumbuh, bertahan, menguat dengan begitu murni dan suci. Soobin membelai pipinya, mencium kedua kelopaknya dengan hati bergemuruh sementara miliknya masih sangat basah oleh tumpahan bening air hangat. Tak ingin melepaskan, tak ingin dilepaskan.

Yeonjun memberikan jarak. Menatap padanya lurus. Samudera biru seolah tercipta, dan Soobin mampu menyelam di dalamnya. Ia tersenyum sangat lebar, menyapu permukaan bibirnya dengan sengalan napas hangat, lalu mengecup miliknya dan menanggalkan harumnya aroma persik yang selalu ia rindukan di sepinya malam.

 

 

 

“Aku tahu jawabanku sudah ada dalam benakmu, Yeonjun. Yeonjunku.”

 

 

 

Lalu Yeonjun terkekeh. Soobin menuntunnya dalam ciuman manis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

fin.

Notes:

GOOD DAY, SOOBJUNIST.
akhirnya kembali dengan work baru (challenge diriku sendiri untuk menulis hal yang beda) and here it is!!! hope you enjoy! makasih ya sudah mau mampir, semoga kalian suka!!!