Work Text:
Yoongi pernah membaca sebuah kutipan: Dinding rumah sakit lebih banyak mendengar doa yang tulus daripada dinding rumah ibadah, sedangkan jendela bandara lebih banyak menyaksikan ciuman yang tulus daripada aula pernikahan. Tak pernah ia sangka dirinya akan mengalami salah satu skenario dari kutipan itu.
Bibirnya sekarang tengah beradu dengan bibir Namjoon dalam satu irama yang padu. Tidak ada peran lidah dalam pagutan bibir mereka kali ini, karena keduanya hanya ingin merasakan kehangatan satu sama lain yang akan absen selama tujuh hari ke depan. Yoongi pun ingin mengingat tiap detik momen ini—tempat di mana ia seharusnya berada, dalam dekapan sang suami.
Namjoonlah yang pertama menarik diri melepas ciuman mereka. Seutas tali saliva muncul di kala kedua wajah mereka mengambil jarak.
"Ih, jorok." Yoongi mengusap bibirnya dengan punggung tangan yang terbalut lengan jaket.
"Jorok-jorok gini nanti juga kangen." Sahut Namjoon dengan senyuman. Yoongi tidak membalas ucapan Namjoon dan malah melingkarkan lengannya ke tubuh lelaki jangkung di depannya. Lengan Namjoon pun refleks ikut melingkari tubuh Yoongi.
"Jangankan nanti, sekarang aja udah kangen banget." Suara Yoongi tidak terlalu jelas terdengar karena terhalang oleh bahu Namjoon, tetapi suaminya masih bisa menangkap apa yang ia ucapkan.
Namjoon pun mempererat pelukannya dan mengusap punggung sang suami pelan, " Hey, we've talked about this. No more sad moments before you leave . Aku gak mau nanti di sana kamu malah sedih terus. Nanti kerjaannya jadi gak fokus."
"Gimana gak sedih, Joon? Belum ada seminggu sejak hari pernikahan kita tapi aku udah harus pergi ke luar negri karna ada kerjaan. Kamu tau sendiri kalo pasangan soulmate habis nikah gimana."
Namjoon melepas pelukannya, kemudian kedua tangannya menangkup wajah Yoongi, "Aku paham banget gimana rasanya, aku bahkan liat sendiri gimana Seokjin-hyung sama Hoseok udah kayak amplop sama perangko setelah nikah. Lengket banget. Tapi kamu pergi, 'kan, cuma sebentar, Yoon. Untuk urusan kerjaan pula, dan tujuan kerjaan kamu itu mulia banget. Tolong ditahan sebentar, ya? Tanpa kamu sadari waktu bakal terasa berjalan cepet, terus tiba-tiba udah ketemu aku lagi, deh!"
Obrolan ini bukan yang pertama kalinya untuk mereka. Yoongi dan Namjoon sudah membicarakan ini beberapa kali setelah Yoongi mendapat berita dari Universitas Nasional Seoul—tempat ia mengajar sebagai profesor teori musik.
Yoongi sempat cemas dinas ke luar negeri ini akan mengganggu koneksi soulmate -nya dengan Namjoon karena ia harus pergi jauh setelah mereka mengikat janji suci. Tetapi Namjoon seratus persen mendukung Yoongi untuk pergi dinas ke luar negeri.
Namjoon tahu bahwa soulmate -nya ini sangat mencintainya dan ingin menghabiskan masa-masa honeymoon phase pasca-pernikahan mereka berdua. Di sisi lain, Namjoon juga harus mengakui fakta bahwa dinas ke luar negeri ini merupakan kesempatan besar untuk sang suami, terlebih lagi Yoongi sangat menyukai apa yang ia kerjakan.
Yoongi bukan hanya sekedar profesor teori musik, tetapi ia juga memiliki gelar master dalam bidang psikologi. Tujuan dinas ke luar negerinya pun untuk menghadiri sebuah konferensi internasional dan memberi seminar mengenai penggunaan musik sebagai media terapi bagi orang-orang yang kehilangan soulmate mereka. Namjoon sebagai salah satu orang yang sadar akan pentingnya kesehatan mental tentu saja mendukung hal ini. Maka itulah ia terus meyakinkan Yoongi bahwa ia baik-baik saja dengan kepergian sang suami. Namjoon juga meyakinkan Yoongi bahwa koneksi soulmate mereka tidak akan mengalami masalah apa-apa.
"Oke …." Yoongi menggumam, pipinya mengusal pelan ke telapak tangan Namjoon, "Tiap malem telponan. Atau video call . Harus. Wajib."
Lelaki di hadapan Yoongi hanya memberi senyuman hangat berlesung pipi yang selalu berhasil membuat perutnya terasa penuh oleh kupu-kupu, "Iya, Sayangku."
Keduanya pun keluar dari tempat persembunyian mereka—di samping mesin penjual minuman otomatis—karena mendengar pengumuman bahwa pesawat yang akan Yoongi naiki sudah bisa boarding penumpang.
Namjoon melambaikan tangannya kepada Yoongi seraya ia melangkah memasuki ruang boarding . Dari balik pintu kaca Yoongi terlihat seperti kucing yang sedih ditinggal di luar rumah ketika hujan deras.
Tujuh hari ke depan akan terasa sepi tanpa suami sekaligus soulmate -nya.
—
2 jam dan 25 menit di dalam pesawat Yoongi gunakan untuk tidur siang. Ia memang sudah berniat untuk tidur di pesawat sebagai pengganti tidurnya semalam. Yoongi tidak bilang apa-apa kepada Namjoon mengenai fakta bahwa ia tidak tidur satu detik pun semalam. Yoongi terlalu sibuk menelusuri lekuk wajah dan menyisir pelan rambut sang suami dengan jemarinya semalaman. Namjoon sesekali mengerutkan hidungnya, merasa tidurnya terusik, tetapi 1 detik kemudian kembali tidur dengan tenang.
Silakan panggil Yoongi budak cinta yang manja, tetapi ini bisa dikategorikan hal yang wajar bagi pasangan soulmate yang baru menikah. Yoongi juga berusaha memaksimalkan penggunaan waktu yang ia miliki sebelum harus terpisah jauh selama tujuh hari ke depan.
Setelah mengambil kopernya, Yoongi bergegas mencari orang yang ditugaskan untuk menjemputnya. Ia mencari namanya di antara kertas dan papan yang dipegang oleh orang-orang di depan pintu kedatangan.
Iris hitam Yoongi menangkap seorang laki-laki muda yang memegang kertas bertuliskan namanya dalam huruf hangeul. Ia melambaikan tangannya untuk memberi tanda bahwa ia adalah Min Yoongi.
"Selamat siang. Selamat datang di Tokyo. Nama saya Nishimura Riki. Saya mahasiswa tingkat akhir jurusan psikologi Universitas Tokyo sekaligus staf magang kampus. Saya akan menjadi pendamping Profesor Min selama di Tokyo," ujar Riki dengan bahasa Korea setelah membungkuk sopan. Yoongi mendapat kesan pertama yang baik mengenai lelaki di depannya ini. Riki membungkuk hingga 90°, tanda bahwa ia sangat menghormati sang profesor.
Yoongi pun membalas salamnya, "Selamat siang. Mohon kerja samanya, Riki."
"Mari ikuti saya, hotel tempat profesor menginap memberi fasilitas shuttle bus dari bandara. Terminalnya cukup dekat dari sini."
Hotel tempat Yoongi menginap ternyata terletak tidak jauh dari Universitas Tokyo, kampus di mana konferensi internasional dan tempatnya memberi seminar akan diadakan.
Selama di perjalanan, Riki memberi arahan mengenai jadwal, susunan acara dan lokasi acara berlangsung. Karena hari ini Yoongi baru sampai Tokyo, maka ia tidak memiliki jadwal apapun hingga sore. Riki juga mengatakan bahwa Yoongi diundang untuk datang ke jamuan makan malam hari ini, di mana ia akan bertemu deretan akademisi lain yang juga akan mengisi acara seminar nanti.
Sejujurnya Yoongi tidak menyukai acara seperti itu karena bersosialisasi di acara besar sangat melelahkan secara mental, tetapi ia harus datang karena akan tidak sopan jika menolak undangan tersebut. Terlebih lagi akan banyak akademisi senior yang tidak ingin Yoongi singgung dengan ketidakhadiran dirinya.
Jika bisa memilih, Yoongi lebih ingin tinggal di hotel dan memesan makanan. Ia ingin makan sambil menelepon atau video call dengan Namjoon untuk mengobati rasa rindunya.
Yoongi semakin gelisah kala ia sudah sampai di kamar hotelnya. Bukannya jelek, tetapi kamar hotel ini terlalu luas untuk ia tinggali sendiri. Haruskah mereka memberinya kasur ukuran king size padahal ia datang sendirian?
"Profesor, saya sudah menulis nomor HP saya di jadwal yang tadi saya kasih. Kalau ada apa-apa bisa telepon saya. Nanti jam tujuh akan saya jemput lagi di sini. Semoga hari P rofesor menyenangkan." Riki membungkuk 90° lagi yang dibalas oleh Yoongi. Lelaki itu kemudian meninggalkan kamar Yoongi.
Setelah kepergian Riki, kamar ini semakin terasa menyesakkan.
Yoongi meletakkan koper dan tas laptopnya di samping lemari lalu duduk di tepi kasur. Irisnya menatap sendu ke luar jendela, ke arah pemandangan ibu kota Jepang yang hiruk pikuk.
Pandangannya turun ke arah kertas jadwal yang Riki berikan di genggamannya. Mungkin ia sebaiknya menyimpan nomor ponsel Riki untuk berjaga-jaga. Bahasa Jepangnya tidak terlalu lancar dan Yoongi takut akan bertemu masalah. Hanya Riki yang ia kenal dan bisa diandalkan di sini.
Setelah menyimpan nomor ponsel Riki, Yoongi membaca ulang susunan jadwalnya. Ia dijadwalkan untuk memberi presentasi seminar pada hari ketiga dan keempat, lalu ada undangan makan malam lagi setelah seminar, kemudian tidak ada jadwal apapun selain itu. Secara teknis bukannya tidak ada lagi, masih ada seminar di tiga hari setelahnya, tetapi Yoongi tidak diwajibkan untuk datang.
Jika situasinya berbeda, mungkin Yoongi akan memanfaatkan tiga hari terakhirnya di Tokyo untuk berkeliling kota, berjalan-jalan, makan makanan autentik Jepang, atau berbelanja membeli oleh-oleh. Tetapi kenyataannya, Yoongi hanya ingin pulang. Ia ingin kembali ke Seoul, ke dalam dekapan Namjoon. Mungkin Yoongi akan pulang lebih awal. Entahlah. Ia harus berbicara dulu dengan pihak penyelenggara seminar nanti.
Yoongi memotret jadwalnya dan mengirimnya kepada Namjoon.
Yoongi
[Photo]
Jadwalku selama di sini cuma sampe hari keempat, mungkin nanti aku bisa pulang lebih cepet. Aku kangen.
2 menit, 5 menit, 10 menit berlalu dan belum ada balasan dari Namjoon. Mungkinkah Namjoon sedang sibuk di studio?
Sang profesor mematikan ponselnya dan melempar gawai itu ke tumpukkan bantal dengan gusar. Hatinya gelisah karena kehadiran soulmate -nya yang absen dari sisinya.
Yoongi berbaring di atas kasur. Entah mengapa pikirannya memutar memori ketika ia pertama kali bertemu Namjoon. Mungkin ini efek samping dari rasa rindu yang disebabkan jarak yang membentang di antara dua soulmate yang terpisahkan.
Mereka bertemu di konser musik klasik Universitas Musik Seoul, di mana Jeongguk, adik Yoongi, menjadi pianis pengiring Kim Taehyung, seorang penyanyi opera yang juga adalah sepupu Namjoon.
Yoongi dan Namjoon baru benar-benar bertemu di pesta setelah konser. Ketika ingin menyalami dan memberi selamat kepada anggota keluarga masing-masing, mereka merasakan rasa terbakar di jari kelingking mereka. Seluruh orang di aula pesta itu terdiam dan menonton jari kelingking Yoongi dan Namjoon yang bersinar merah. Setelah sinarnya hilang dan hanya tertinggal garis berwarna merah, semua orang bersorak sorai. Tepuk tangan dan ucapan selamat yang tidak berkesudahan membanjiri pasangan soulmate yang baru saja dipertemukan.
Lalu apa yang terjadi setelahnya terasa mudah. Yoongi dan Namjoon cepat akrab hanya dengan pergi berkencan beberapa kali. Mereka ternyata cukup mirip dan memiliki minat dan ide yang sama, terutama dalam musik dan filsafat hidup.
Namjoon memutuskan untuk melamar Yoongi setelah empat tahun berpacaran dan akhirnya mereka menikah enam bulan setelahnya dengan pernikahan bertema musim semi di ruang terbuka (ide Namjoon).
Sang profesor hanya bisa tersenyum jika mengingat memori itu. Tetapi rasa hangat di dadanya dengan cepat tergantikan dengan sendu. Ia jadi semakin lapar akan kehadiran Namjoon. Tangannya meraih ponsel untuk mengecek apakah sang suami sudah membalas pesannya atau belum, tetapi tidak ada notifikasi baru yang muncul di layarnya. Yoongi hanya menghela napas pelan dan bangun untuk mengambil laptop. Mungkin mengecek ulang bahan presentasi seminarnya bisa menjadi distraksi pikirannya dan tetap membuatnya sibuk yang produktif.
—
Pada dua hari pertama, semua berjalan dengan baik. Yoongi menepati janjinya untuk menelpon Namjoon tiap malam. Ia juga tak lupa untuk mengirim banyak foto kepada suaminya mengenai kesehariannya selama di Tokyo seperti foto sarapannya di hotel, anjing shiba inu yang ia temui di jalan, swafotonya bersama Riki yang berperan sebagai pemandu wisata dadakan, dan aula seminar yang akan dipakai nanti.
"Kok udah ke aula seminar? Bukannya besok presentasinya, ya? " Namjoon bertanya di sesi telpon mereka malam itu.
"Iya, aku mau liat bentuk panggung sama ngerasain atmosfer ruangannya aja supaya ada bayangan. Jadi besok gak grogi banget pas naik panggung."
"Udah sering ngajar puluhan mahasiswa di kelas yang gede banget kok masih grogi? Harusnya udah biasa, dong." Yoongi dapat mendengar nada meledek dari ucapan Namjoon. Refleks, ia pun mengerutkan wajahnya kesal walaupun Namjoon tidak bisa melihatnya.
"Audiensnya, 'kan, beda! Ngomong di depan mahasiswa sama orang akademisi rasanya gak sama, Joonie …. "
"Aduh, iya maaf, S ayang. Aku ngerti, aku cuma bercanda. " Namjoon meringis kecil, " You did the right thing , kok. Dengan kamu cek lokasi, kamu juga bisa lebih siap. Memang pinter banget suamiku."
Yoongi hampir melempar ponselnya. Ia masih belum terbiasa dipanggil dengan panggilan "suamiku" oleh Namjoon. Dulu saat mereka masih pacaran, Namjoon memang sering menyebutnya "pacarku". Lalu setelah melamar dirinya, panggilan dari Namjoon pun ikut naik pangkat menjadi "tunanganku" hingga akhirnya mereka menikah. Otomatis panggilannya pun turut ikut naik pangkat.
Sudah bertahun-tahun lewat dan panggilannya kian naik level, tetapi Yoongi masih merasakan kupu-kupu di perutnya tiap Namjoon memanggilnya dengan panggilan sayang itu.
"Halo? Yoongi? Kok diem? "
"Hah? Oh, gapapa …. "
"Malu, ya, dipanggil begitu. "
"Malu apa, sih."
"Malu dipanggil 'suamiku'. "
Pipi Yoongi memanas, "Diem."
Tawa Namjoon pun pecah di ujung telpon, "Aduuuuhh, gemesnya S uamikuuuuu. Masih aja suka maluuuuuuuu. "
Yoongi bersyukur ia tengah sendirian di kamar hotelnya saat ini, karena pasti wajahnya sangat merah sekarang. Apalagi kulitnya yang terbilang pucat membuat rona merah di wajahnya makin mudah terlihat.
"Namjoon, aku tutup telponnya sekarang, ya."
"Jangan, dong, S uamiku–eh, Yoongi! Iya, iya, maaf, aku gak godain lagi. Jangan ditutup sekarang, aku masih kangen."
Kedua lelaki itu pun meneruskan obrolan mereka hingga hampir tengah malam untuk melepas rindu. Walau tidak bisa bertemu secara langsung, Yoongi puas hanya dengan mendengar suara soulmate -nya.
—
"Sekian presentasi dari saya mengenai penggunaan musik sebagai media terapi bagi orang yang telah kehilangan soulmate mereka. Terima kasih ," u cap Yoongi untuk menutup seminarnya. Seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya menerjemahkan ucapannya ke dalam bahasa Jepang dan audiens di aula itu pun bertepuk tangan.
Yoongi tersenyum kecil kepada audiens sebelum turun dari podium untuk kembali ke kursinya. Riki yang duduk di kursi sebelah Yoongi pun menyambutnya dengan senyuman lebar.
"Profesor Min tadi keren banget! Materinya bagus, pembahasannya mendalam, dan mudah dimengerti juga. Saya jadi paham kenapa profesor bisa diundang ke acara ini." Jika ini adalah dunia anime, mungkin mata Riki sudah dipenuhi efek berkilau. Terlihat jelas sekali bahwa ia mengagumi sang profesor.
Yoongi yang dihujani pujian hanya bisa mengulum senyum dan tertunduk malu, "Saya lega kalau materinya tersampaikan dengan baik."
Seminar terus berlanjut hingga pukul tiga sore. Ada beberapa akademisi Jepang yang memberi presentasi, Riki sebisa mungkin membantu dengan menerjemahkan garis besar dari isi materi yang dipresentasikan. Terbesit di pikiran Yoongi bahwa ia mungkin harus mentraktir mahasiswa tingkat akhir ini karena sudah bekerja dengan baik dan selalu membantunya hingga sejauh ini.
"Riki, selesai acara ini kamu ada rencana lain? Saya pengen traktir kamu makan sebagai terima kasih karna udah bantu saya selama di sini."
"Eh? Gak usah, P rofesor!" Riki menggelengkan kepalanya dengan panik, "Memang udah tugas dan kewajiban saya sebagai staf magang di kampus. Saya juga gak mau ngerepotin profesor."
Yoongi hanya tertawa kecil mendengar penolakkan Riki, "Gak apa-apa. Karna kamu udah melaksanakan kewajiban kamu, anggep aja ini hak yang pantes kamu dapet. Yah, biarpun gak seberapa, sih …. "
"Eh …. Ya udah, deh, boleh boleh aja kalo gak ngerepotin P rofesor …. "
Yoongi tau betul pasti sebenarnya Riki mau menerima tawarannya. Hanya saja dihalangi oleh rasa sungkan. Yoongi pun pernah menjadi mahasiswa dan baginya kesempatan ditraktir seperti ini sama saja dengan momen perbaikan gizi untuk mahasiswa seperti Riki.
Mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran ramen atas rekomendasi Riki. Tempatnya tidak terlalu besar dan jika dilihat dari menunya, makanan yang disajikan terlihat seperti masakan rumahan.
Seorang pramusaji menghampiri meja mereka untuk mencatat pesanan.
"Kamu aja yang pilih menunya, saya percaya sama rekomendasi pilihan kamu ," u jar Yoongi.
"Tenang aja, P rofesor. Semua makanan di sini dijamin enak." Riki pun beralih ke pramusaji dan menyebutkan pesanan mereka dalam bahasa Jepang.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Yoongi dan Riki mengobrol seputar perkuliahan. Kebanyakan Yoongi bercerita mengenai pengalaman-pengalamannya saat masih mengenyam pendidikan di jenjang kuliah dulu. Riki sendiri pun menyimak dengan antusias dan beberapa kali bertanya atau meminta saran mengenai akademiknya.
Makanan mereka pun akhirnya tiba di tengah obrolan mengenai keinginan Riki untuk ikut program pertukaran pelajar ke Seoul. Riki memesan ramen dengan kuah miso dan potongan daging yakiniku untuk Yoongi, sedangkan dirinya sendiri memesan udon dengan kuah kare dan katsu ayam. Makanan yang sudah datang tidak menghentikan obrolan mereka, tetapi telepon dari Namjoon mau tak mau harus memotong pembicaraan mereka sejenak.
“Sebentar ya, suami saya telpon ,” u jar Yoongi sambil meringis kecil.
“Gak apa-apa! Angkat aja, P rof!” Riki membalas sambil menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tak keberatan.
Yoongi menggeser logo telepon berwarna hijau dan langsung disambut oleh suara sang suami, “Halooooo Yoongi S uamikuuuuuu.”
Yoongi melotot kaget mendengar sapaan Namjoon, ia langsung bangun dari kursinya dan memberi tahu Riki bahwa ia akan ke luar sebentar. Riki yang tengah mengunyah katsu hanya membalas dengan mengacungkan jempol. Udara malam Tokyo langsung membelai wajah Yoongi kala ia menutup pintu restoran, tetapi hal itu tak berpengaruh apa-apa karena fokusnya hanya tertuju pada sang suami yang berada di ujung sambungan telepon.
“Namjoon, kamu mabok, ya?”
“Mmm, mabok gak, yaaaa? Hoseok, gue mabok, gak?” Namjoon berteriak, kemungkinan besar kepada Hoseok. Hening selama dua detik hingga terdengar suara Hoseok membalas ‘mabok dikit!’. “Iyaaaa, kata Hoseok mabok dikit.”
Yoongi menghela napas , sudah terbayang besok pagi Namjoon akan hangover . Kemungkinan yang pasti sakit kepala dan tenggorokan terasa kering, tetapi tidak sampai muntah.
“Kamu kenapa? Kamu marah, ya, gara-gara aku minum banyak?” suara Namjoon terdengar merajuk. Yoongi dapat membayangkan wajah Namjoon dengan ekspresi sedih, pandangannya akan turun menatap lantai dan bibirnya agak mengerucut.
“Enggak, kok. Aku gak mara–”
“Aku kangen kamu banget, Yoongi.” Pernyataan dari Namjoon lantas membuat ekspresi Yoongi langsung melembut. Sekarang ia paham kenapa Namjoon menelponnya dalam keadaan mabuk seperti ini. Sang soulmate juga tengah dihantam rasa rindu seperti dirinya, tetapi bedanya Namjoon menggunakan sebotol soju untuk mengatasi hal itu.
“Aku kangen kamu juga, Namjoon. Tunggu beberapa hari lagi, ya? Habis itu kamu mau gelendotin aku seharian juga boleh.”
Namjoon mengerang frustrasi di seberang telepon, “Mau gelendotinnya sekarang.”
Suara Hoseok pura-pura muntah terdengar.
Yoongi berpikir sejenak. Sejujurnya ia punya rencana kecil untuk mengatasi kerinduan mereka. Masalahnya adalah ia terlalu malu dan kurang percaya diri untuk mengusulkan ide ini kepada Namjoon. Tetapi setelah mendengar suara Namjoon yang mabuk dan merengek manja padanya membuat Yoongi menjadi yakin akan ide gilanya.
“Namjoon, kamu mau hadiah, gak?”
“Hah? Mau mau mau mau mau.”
“Oke …. Besok malem aku video call bisa?”
“Bisa bisa bisa bisa bisa.”
“Kasih HP kamu ke Hoseok, aku mau ngomong sama dia.”
“Oke oke oke oke oke. Nih, Seok.”
Terdengar suara grasak-grusuk ponsel yang berpindah tangan, tak lama kemudian suara Hoseok terdengar menggantikan suara Namjoon.
“Kenapa, Yoongs? ”
Yoongi menghela napas lagi, “Gue titip Namjoon, ya. Gue sebenernya lagi makan malem sama mahasiswa yang ditugasin untuk ngedampingin gue selama di sini, gak enak bikin dia nunggu kelamaan. Nanti tolong suruh Namjoon minum air yang banyak, terus siapin dua tablet advil atau apapun obat yang ada ibuprofennya sama air di meja nakas sebelah tempat tidur, supaya besok pagi pas Namjoon bangun bisa langsung minum.”
"Beres, bos. "
"Makasih banyak, Seok. Maaf jadi ngerepotin …. "
"Santuy aja, H yung. Kayak sama orang asing aja, lo. Ya udah, sana balik lagi lanjut makan. Kasian yang nemenin lo malah makan sendirian. Namjoon aman kok–HOI, JANGAN GIGIT-GIGIT PAHA GUE—" sambungan telepon Hoseok terputus setelah terdengar grasak-grusuk dan suara erangan protes dari Namjoon.
Yoongi hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap layar ponselnya. Namjoon yang sober memang terlihat pintar, bijak, atentif, bahkan suka menggoda dan romantis, tetapi ia akan berubah menjadi sosok yang manja dan suka merajuk ketika mabuk, di mana itu adalah salah satu hal mengenai Namjoon yang menurut Yoongi sangat menggemaskan. Semoga saja Hoseok bisa bertahan mengurus Namjoon yang mabuk dan manja malam ini.
—
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Yoongi selesai mandi. Siang tadi ia kembali sukses memberikan seminar dengan pembahasan yang sama kepada audiens yang berbeda. Jika kemarin audiensnya adalah akademisi-akademisi, hari ini giliran mahasiswa yang datang. Selepas acara seminar, Yoongi diajak oleh koleganya untuk makan malam bersama dengan akademisi lain yang juga mengisi acara seminar hari itu. Mengingat bahwa besok ia berencana untuk pulang lebih awal, Yoongi akhirnya menerima ajakan itu. Momen makan malam ini juga Yoongi gunakan untuk memberi tahu kolega-koleganya bahwa ia akan pulang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Setelah Yoongi memberitahu alasan utamanya kenapa ia ingin kembali ke Seoul besok, semua orang di meja langsung mengangguk-angguk paham.
Sang profesor meraih ponselnya dari meja nakas lalu berbaring di kasur tanpa mengeringkan rambutnya terlebih dahulu atau mengganti bathrobe -nya dengan piyama tidur. Ibu jarinya bergerak cepat di atas layar sentuh ponselnya mencari kontak sang suami dan menekan tombol video call .
Hanya butuh dua deringan, Namjoon langsung mengangkat video call -nya.
“Halo, S ayang,” sapa Namjoon, ia kemudian meletakkan ponselnya agak jauh, kemungkinan di depan monitor komputer sebelum menyender ke kursinya.
“Hei, kamu masih di studio?”
“Iya, ada beberapa lagu yang mau aku edit, masih kurang pas gitu di kuping aku ,” j awab sang suami.
“Tapi gak lagi sibuk banget, ‘kan?”
Namjoon terlihat berpikir sejenak, “Mmm, kayaknya enggak?”
“Oke. Sekarang kunci studio kamu.”
Ucapan Yoongi membuat alis Namjoon bertaut, “ O ... ke.”
Namjoon pun beranjak dari kursinya untuk mengunci pintu studio, lalu kembali duduk di kursi.
“ Udah aku kunci.”
“Kamu inget, gak, kemarin aku bilang mau kasih hadiah?”
Ekspresi bingung kembali mewarnai wajah Namjoon, “ … Inget. Kamu mau kasih hadiahnya sekarang?”
Yoongi mengangguk pelan, “Mhm, sebentar, aku ambil dulu hadiahnya.”
Ia lalu bangkit dari posisi berbaringnya untuk duduk di tengah kasur, kemudian menyenderkan ponselnya ke headboard kayu tempat tidur. Tangannya meraih laci meja nakas di samping kasur untuk mengambil sebuah botol tube berisi cairan berwarna pink. Yoongi baru membelinya kemarin malam seusai makan malam dengan Riki di toko serba ada yang berada di hotelnya.
Saat ingin membayar, sang kasir berbicara sambil menunjuk rak di samping kasir. Walau Yoongi tidak mengerti apa yang ia katakan, ia tetap paham apa maksudnya hanya dengan melihat isi rak yang ditunjuk sang kasir. Deretan kotak pengaman.
Wajah Yoongi langsung memanas. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan hanya menunjuk botol lube yang sudah ada di meja kasir sebagai isyarat bahwa ia hanya membeli itu saja. Sekarang botol itu ia tunjukkan di depan layar ponselnya.
“Ini hadiahnya!” u jar Yoongi. Namjoon yang sadar akan apa yang ada di genggaman Yoongi pun langsung melotot kaget dan menggenggam ujung bantalan lengan kursinya lebih kencang.
“ Holy shit, is that … Holy shit, Yoon. I swear you’ll be the death of me. ” Namjoon mengacak rambutnya kasar. Namjoon mengira Yoongi akan menunjukkan oleh-oleh yang dibelinya selama di Jepang. Bukan sebotol lube bening berwarna pink.
“ So ,” Yoongi melepas simpul tali bathrobe-nya, “ how do you want me , Joonie?”
Bathrobe putih yang awalnya menutupi tubuh bagian atas Yoongi turun perlahan, memperlihatkan tubuhnya yang tidak terbalut apapun. Di bawah indirect lights yang bersinar temaram, kulit Yoongi bak disinari cahaya keemasan.
Hening. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Namjoon.
“Joonie, S ayang, please use your words. Tell me how do you want me tonight? ” Yoongi memiringkan kepalanya sedikit.
“ Fuck, um, okay . Lepas bathrobe kamu. Put it away. I want to see you bare .”
Yoongi menuruti permintaan Namjoon. Ia menanggalkan bathrobe -nya, lalu melempar jubah mandi itu ke lantai tanpa melepas pandangannya dari kamera depan ponselnya. Penisnya sudah setengah tegang karena udara kamar hotelnya yang dingin. Kehadiran Namjoon yang melihatnya telanjang pun turut ikut membuat aliran darahnya semakin deras ke arah selatan.
Namjoon terlihat terpukau dengan pemandangan yang ada di depannya. Pandangannya menyapu tubuh Yoongi dari atas sampai bawah dengan hasrat.
“Join me? Aku juga mau liat kamu, Joon.”
Merasa celananya mendadak menjadi sempit, Namjoon langsung menurunkan sweatpants dan celana boxer -nya dalam satu tarikan. Namjoon mengerang lega kala penisnya sudah terbebas dari sesaknya celana. Tangannya turun untuk mengelus kejantanannya pelan.
“ Mmh, still as big as the last time I remember, huh? ” Yoongi terkekeh pelan.
“ Shut up ,” Namjoon ikut tertawa kecil, “ Okay, I want you to put on a show for me as I guide you through it. Paham? ”
Yoongi mengangguk.
“ Use your words, P retty. ”
“Iya, aku paham.”
“Bagus. I want you to be on your hands and knees, with your ass facing the phone screen. ”
Yoongi mengikuti perintah Namjoon. Ia membalikkan tubuhnya dan langsung memosisikan tubuhnya di kedua lutut dan tangan, “ Like this, Joonie? ” tanya Yoongi sambil menoleh ke belakang.
“ Yes . Turunin kepala kamu, sayang. Sampe dada kamu nempel ke kasur.”
Alis Yoongi bertaut, “Tapi kalo begitu aku gak bisa liat kamu, dong. Aku mau liat kamu, Joonie …. ”
Namjoon menaikkan sebelah alisnya, “Tadi kamu bilang ini hadiahku, ‘kan? Let me enjoy my present however I want. And I want you with your face down and your ass up . Udah jelas?”
“Iya, Joonie.”
Sekali lagi Yoongi menuruti perintah suaminya. Dada dan pipinya menyentuh kasur dan bokongnya terangkat tinggi. Angin AC yang berhembus pelan membuat Yoongi bergidik merinding.
“Kamu tahu kalo aku ateis tapi, demi Tuhan, kalo aku punya agama mungkin aku bakal berterima kasih sama Tuhan setiap hari karena udah nyiptain kamu di dunia ini, Yoon.”
Mendengar ucapan Namjoon, Yoongi langsung merengek malu, tetapi suaranya terdengar pelan karena teredam oleh kasur, “Namjoon, aku lagi horny , kamu jangan bikin komentar cheesy kayak gitu, nanti aku malah nangis terharu.”
Protes dari Yoongi malah dibalas tawa oleh Namjoon, “Oke, oke, kalo gitu aku bikin kamu nangis pake cara lain.” Yoongi dapat membayangkan sudut bibir Namjoon naik membentuk senyum miring ketika mengatakan itu. “Ambil botol lube -nya terus tuang yang banyak di jari kamu. I like it wet. I wanna see your hole dripping. ”
Yoongi membuka botol lube -nya dan menuang cairan itu ke jarinya. Sesuai perintah Namjoon, ia menuang agak banyak ke jarinya hingga ada beberapa tetesan yang jatuh ke kasur. Yoongi dalam hati meminta maaf kepada staf housekeeper dan staf laundry yang harus membersihkan kasurnya nanti.
“ Can I touch myself now? ” t anya Yoongi.
“ One finger in . Kamu cuma boleh nambah jari kalo aku izinin.”
“Iya, Joonie , ” ucap Yoongi, jarinya yang berlumur lube berputar mengitari lubangnya sebelum memasukkan satu jari ke dalam dengan pelan. Dinginnya lube dan jarinya yang terkena angin AC membuat dirinya merintih pelan.
“ So good, baby. You’re doing great. ” Pujian dari Namjoon membuat Yoongi meleleh. Yoongi mulai menggerakkan jarinya keluar dan masuk lebih cepat saat ia sudah merasa terbiasa akan kehadiran jarinya. Tiap mendorong jarinya masuk, Yoongi mencoba untuk meraih lebih dalam. Tetapi karena jari telunjuknya tidak sepanjang jari tengahnya, ia selalu gagal untuk menyentuh prostatnya.
“J-Joonie … Aku boleh tambah j-jari lagi … ?” Yoongi bertanya dengan napas terengah.
Keadaan Namjoon pun tak jauh berbeda dengan Yoongi. Napas Namjoon memburu kala tangannya yang melingkar di penisnya bergerak dengan tempo yang cepat, “ Yes, B aby . Tambah lagi satu jari, gerakkin tangan kamu lebih cepet and find your sweet spot. You’re doing amazing right now. ”
Setelah mendapat izin dari Namjoon, Yoongi langsung memasukkan jari keduanya. Otot-otot dinding lubangnya terasa seperti direnggangkan dengan paksa. Sakit. Tapi ada rasa nikmat juga yang menyertai.
Yoongi kembali menggerakkan jarinya keluar masuk lebih cepat. Karena sudah menggunakan dua jari, kali ini ia juga sambil menggerakkan jarinya seperti gunting untuk mencari prostatnya. Tangan Yoongi yang bebas meremas seprai kasur dan pahanya gemetar saat akhirnya jari tengahnya bertemu dengan prostat.
Suara tawa Namjoon dapat terdengar dari belakang Yoongi, “ I see your body shakes . Udah ketemukah, sweet spot -nya? ”
Pertanyaan Namjoon terjawab oleh suara rintihan Yoongi yang mulai tidak karuan dan tubuhnya yang gemetar sambil menggeliat penuh nikmat saat jari tengahnya bertemu dengan prostat di setiap tusukan jarinya.
“N-namjoon … I’m gonna come … Boleh—”
“Gak. Stop touching yourself now. ” Yoongi ingin menangis di saat itu juga saat Namjoon menyuruhnya untuk berhenti. Tetapi ia tetap menuruti apa kata sang suami dan menoleh ke arah layar ponselnya.
“Kenapa disuruh berhenti … Sakit, Joonie …. ” Yoongi mulai menggesekkan penisnya ke kasur dengan putus asa.
“Yoongi, baby, stop rutting against the bed. I want you to come while facing me. I want you to ride your fingers until you come . Kamu boleh tambah jari lagi atau tambah lube, but you are not allowed to touch your dick . Paham? ”
Yoongi langsung mengangguk cepat, “Paham, Joonie.”
Tangannya dengan cepat mengambil botol lube dan melumuri tiga jarinya dengan cairan berwarna pink itu. Ia memutar tubuhnya menghadap layar ponselnya, di mana Namjoon tengah duduk menyender sambil membuka kakinya lebar dan mengelus ereksinya yang berdiri tegak. Yoongi tanpa sadar menelan ludah setelah otaknya memproses apa yang ada di hadapannya.
Namjoon sendiri pun menikmati pemandangan di depannya. Yoongi yang disinari lampu temaram sudah bersinar keemasan, ditambah lapisan tipis keringat dan rona alami kulitnya makin membuat Yoongi bersinar.
“ Alright. Now give me your best show , ” u cap Namjoon dengan seringai kecil.
Yoongi berdiri dengan lututnya sebagai tumpuan di atas kasur. Tangannya yang berlumur cairan lube sudah berada di posisi. Ia pun menurunkan tubuhnya perlahan, kepalanya mendongak ke belakang dengan bibirnya terbuka yang mengeluarkan suara desahan tertahan. Kerutan di antara alisnya menjadi semakin dalam kala otot-otot dinding lubangnya berusaha menerima tiga jarinya sekaligus dengan pelan.
“Hah … J-Joonie …. ”
Yoongi mulai bergerak naik dan turun. Sesekali memutar pinggulnya agar dinding lubangnya merasakan ketiga jarinya, terutama prostatnya. Karena Namjoon melarang Yoongi untuk menyentuh ereksinya, tangan Yoongi yang bebas naik ke dadanya. Ia memutar dan mencubit putingnya.
“ Fuck, Yoongi, B aby, I’m so jealous of your hands . Harusnya tangan aku yang ada di sana. I would bury my fingers in your hole and scissor you open while my other hand grope your ass so tight sampe ninggalin bekas telapak tangan. Aku bakal ninggalin banyak tanda di tubuh kamu supaya dunia tau kalo kamu itu milik aku.”
Dirty talk Namjoon membuat Yoongi mendesah lebih kencang tanpa memperdulikan jika kamar sebelahnya dapat mendengar suaranya. Tak hanya pinggulnya yang bergerak naik turun, sekarang tangannya pun juga bergerak naik turun, membuat jarinya masuk lebih dalam dan tentunya terasa lebih intens.
“ After I’m done scissoring you open, I would fuck you, fill you up with my cock. I would fuck your belly button from behind. I would fuck you so good sampe cuma hal itu yang bisa kamu pikirin selama seminggu ke depan. ”
“N-Namjoon, aku—”
“ Yes, B aby, you can come. ”
Dunia terasa berhenti kala Yoongi mengejar orgasmenya. Perutnya dipenuhi jutaan kembang api seperti di malam tahun baru yang ditembakkan ke langit malam. Namjoon pun turut melepas orgasmenya tak lama setelah Yoongi, sambil mengarahkan ereksinya ke samping agar tidak mengenai alat-alat rekaman di depannya. Yoongi tumbang ke kasur dengan napas terengah, sementara Namjoon terkulai di kursinya.
Suasana terasa hening untuk sesaat seraya kedua pasangan ini mengatur napas mereka yang memburu. Yoongi bangkit dan menatap Namjoon di layar ponselnya. Senyuman lebar terukir di wajahnya, pikirannya terasa di awang-awang karena kebanjiran hormon oksitosin.
“Gimana hadiah dari aku?”
Senyuman lebar juga terukir di wajar Namjoon. Kemungkinan besar dia juga masih mabuk di bawah pengaruh hormon oksitosin.
“Aku gak tau kamu dapet ide dari mana atau dari siapa, tapi yang pasti hadiah ini masuk top 10 hadiah terbaik dari kamu untuk aku.”
Yoongi hanya bisa tertawa.
—
Keesokan paginya, Yoongi langsung mencari tiket penerbangan dari Narita ke Incheon untuk hari ini. Agak bodoh memang, harusnya Yoongi mencari tiket dari kemarin-kemarin, tetapi pikirannya sedang tidak fokus. Kebanyakan tiket penerbangan ke Seoul hari ini ada untuk jadwal sore atau malam hari. Yoongi sendiri sudah menandai beberapa jadwal yang potensial, tetapi ia masih ingin mencari penerbangan yang memiliki jadwal berangkat pada siang hari.
Saat tengah fokus melihat-lihat list tiket, tiba-tiba bel kamar Yoongi berdering.
Aneh. Padahal sarapannya sudah diantar semua tadi. Mungkinkah itu Riki? Tetapi Yoongi sudah berpamitan dengan Riki kemarin setelah bilang bahwa ia akan kembali ke Seoul hari ini.
Yoongi pun bangkit dari kursi tempat ia duduk untuk mengecek lewat peep hole . Di detik itu, jantung Yoongi terasa seperti ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia langsung membuka kunci dan pintu kamarnya.
“Namjoon?”
“Hai.”
Yoongi tidak percaya ini, bagaimana bisa Namjoon bisa muncul di hadapannya? Apakah ini hanya tipuan belaka? Hologram mungkin? Tetapi saat Yoongi menyentuh pipi Namjoon, ia dapat merasakan bahwa manusia di hadapannya itu nyata dan memang benar Namjoon, suami sekaligus soulmate -nya.
“Kamu nyata … ?” Yoongi bertanya lagi.
Namjoon tersenyum menampilkan lesung pipinya, “Kamu butuh bukti?”
Hanya butuh satu anggukan dari Yoongi sebelum Namjoon menarik belakang leher Yoongi dan mempertemukan bibir mereka. Ciuman mereka kali ini berbeda dari yang di bandara. Jika yang lalu dilapisi rasa melankolis dan perpisahan, maka kali ini ciuman mereka dilapisi rasa lapar. Lapar dalam artian mereka telah saling mendamba sentuhan satu sama lain dalam beberapa hari ke belakang, dan ketika akhirnya mereka dipertemukan, mereka tidak membuang waktu selain menikmati kehadiran satu sama lain.
Namjoon mendorong Yoongi masuk ke dalam kamar hotelnya. Saat mereka sudah di dalam, Namjoon menutup pintu hotel dengan kakinya. Bibirnya masih terkoneksi dengan bibir sang soulmate dalam pagutan yang dalam.
Setelah puas membayar kerinduan, barulah mereka berbicara.
“Kamu … Kok bisa ada di sini … ? Semalem kamu di studio, sekarang udah di kamar hotel aku … ?” Tanya Yoongi bingung. Tangannya masih menangkup wajah Namjoon sambil sesekali mengelus pipi sang soulmate dengan ibu jarinya.
“Iya. Habis sesi video call kita semalem, aku langsung book flight ke Tokyo. Aku gak bisa diem aja di studio abis ngeliat kamu semalem. I just can’t. I have to see you , Yoon. Aku dapet flight jam empat pagi, jam enam aku nyampe Narita, trus aku langsung ke sini naik taksi dari bandara.” Jelas Namjoon. Kedua lengannya masih menggenggam erat pinggang Yoongi.
“Hmm, trus rencana kamu setelah sampe sini mau ngapain?”
“Mau ngabisin lube yang kemaren sama kamu.”
Yoongi melotot lalu memukul bahu Namjoon pelan, sementara itu, yang dipukul hanya tertawa cengengesan.
Ah, mau bagaimanapun nanti, yang penting sekarang batin Yoongi sudah terasa tenang. Ia kembali pulang ke dekapan Namjoon dan hanya hal itu lah yang penting baginya.
