Work Text:
Prima = Ryujin
Wina = Winter
Nicole = Ningning
Yona = Yeojin
Yerim = Choerry
Malam setelah belajar bersama, Wina dan kawan-kawan berencana untuk berkumpul dan main di rumah Prima. Awalnya sih Prima menolak, kata dia, "Lu pada mah kalo bertamu ngerusuh doang. Bawa makanan kaga, bawa petaka iya. Mana gue sendiri doang yang beresin bekas rusuh-rusuh kalian. Hadeh, gak dulu deh." Begitu katanya, Prima ogah disuruh beberes rumah sendirian pasca kediamannya dijadikan tempat berkumpul oleh kawannya tersebut.
"Kurang ajar. Bohong aja lo, biasa dibantu beberes juga tiap abis ngumpul." Timpal Yona.
Sehabis mendengar omongan Prima dan timpalan yang dilontarkan oleh Yona, yang lain pun ikut membalas, "Yeu, babi. Begitu banget dah lu sama sohib sendiri, liat aja ntar kalo lo tiba-tiba diusir dari rumah kita semua ga ada yang mau nampung." 4 sekawan tersebut (tidak termasuk Prima), lanjut bersungut sambil mengomel. Prima sih bodo amat, toh memang faktanya begitu.
Tidak lama setelahnya Yerim berkata, "Gampang deh, ntar gue bawain martabak manis sama telor. Terus kita bantu beresin rumah lo juga, gimana?"
Prima langsung sumringah, "Nah, gitu dong. *BTW*, martabak manisnya yang cokelat keju susu aja, ya. Jangan pake kacang atau wijen, soalnya gue gak suka." Si ngelunjak. Yerim cuma bisa iya-iya aja nurutin kemauan si tuan rumah, karena memang itu tujuannya. Untuk membujuk Prima.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah menunggu hampir 30 menit (menunggu Yerim yang sedang membelikan martabak untuk si tuan rumah), akhirnya 5 sekawan tersebut bisa duduk-duduk nyantai di halaman belakang rumah Prima sambil menyantap martabak yang masih panas.
"Prim, gitar lo mana deh? Gue mau pinjem dong..." Yang dipanggil hanya memajukan dagunya, menunjuk ke dalam rumahnya. "Di mana, anjing? Gue mana ngerti kalo lo maju-majuin dagu doang," protes Wina.
Prima berdecak, "Ck. Ada di ruang tamu, nyet. Kek baru main ke rumah gue aja deh lu, biasa juga gue taroh di situ kan." Wina hanya mengacungkan jempol lalu berdiri untuk mengambil gitar tersebut.
Tidak lama Wina balik dan mengambil posisi duduk di sebelah Yona dan Nicole. "Wih, pengamen mau bawain lagu apa nih?" tanya Yona dengan nada mengejek.
"Bangsat lo. Mana ada si pengamen bentukannya kek gue gini?"
"Lah emang bentukan lu kek gimana, Win?" Tanya Nicole.
"Ya gini, cakep dan menawan... Hehe."
Tidak lama setelah itu, Yerim melempar sebuah botol plastik kosong ke kepalanya sambil berkata, "Pede gila si babi."
Wina yang dilempari botol hanya bisa manyun, maklum, Wina paling tidak bisa yang namanya balas menjahili satu teman tersayangnya ini. Jadi dirinya hanya bisa membalas Yerim dengan mengeluh, "Udah ngelemparin botol, eh masih juga ngatain. Sialan banget lo." Usai adegan lempar botol tersebut, Wina pun lanjut mencari posisi agar nyaman saat bermain gitar.
Baru saja Wina ingin memetik gitarnya, tiba-tiba seseorang bertanya, "Win, gua jadi kepikiran sama kak Karin, deh. Kira-kira kabarnya gimana, ya?"
Wina hanya menatap orang tersebut sebentar lalu menjawab, "Kayaknya baik? Ga tau juga deh. Lagi kenapa nanya ke gue deh, Nic?" Oalah, ternyata Nicole yang bertanya.
"Ga kenapa-kenapa sih, gua cuma mau tau aja. Kangen juga udah lama ga main bareng, emang lu ga kangen sama dia, Win?" Duh, Wina paling malas kalau sudah membahas Karina. Bukan apa-apa, dia hanya kesal lantaran dirinya masih tidak kunjung *move on* padahal sudah hampir 5 tahun berlalu. Lalu, jika bertanya apakah dirinya kangen atau tidak, tentu saja jawabannya adalah IYA (ditulis menggunakan huruf kapital semua sebagai tanda bahwa dirinya benar-benar merindukan sang cinta pertama.)
10 menit sudah berlalu, namun Wina masih tetap saja terdiam memikirkan oknum berinisial K tersebut. "Win? Lu kenapa jadi diem?" Panggil Yona. Aduh, kayaknya salah banget nih bawa-bawa cinta pertamanya Wina, secara anaknya langsung diem gitu tiap ada yang bahas atau nanyain soal Karina.
"Ini udah mau 5 tahun lho, Win? masih bloman bisa move on juga lo?" Prima yang tadinya asik nyemilin martabak sekarang udah fokus ke Wina. Prima khawatir, apalagi ia tau bahwa sohibnya ini masih sering memimpikan cinta pertamanya. Kasihan Wina, dirinya serasa seperti dihantui oleh seseorang yang bahkan belum meninggal.
Wina terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Blom. Ga tau kenapa susah banget buat gue move on dari dia. Gue juga pernah dua kali PDKT sama orang, tapi ya gitu, ujung-ujungnya ga jadi. Kayaknya gue masih kepikiran banget sama dia makanya tiap deket sama orang gagal terus hahaha." Ntah kenapa suasananya berubah jadi agak sendu, selain itu teman-temannya juga sadar betul bahwa tawa yang keluar adalah palsu. Tawa tersebut adalah salah satu dari berbagai cara Wina untuk menutupi kesedihannya.
Nicole yang merasa bahwa dirinya lah penyebab Wina menjadi sedih pun meminta maaf, "Win, maaf ya, maaf gua udah bikin lu jadi sedih gini... Gak seharusnya gua nanyain soal kak Karin ke lu." Nicole sungguh tak enak hati, pasalnya malam ini mereka ber-lima berniat untuk menghibur diri setelah seharian belajar, tetapi dirinya malah merusak suasana.
Wina menggeleng kepalanya pelan, tanda bahwa ia tidak apa-apa dan tidak menyalahkan Nicole. "Sans aja sih, Nic. Kayak baru pertama liat gue sedih aja. Bukan salah lo juga kok."
Yerim pun menghampiri Wina lalu memeluknya; diikuti oleh Prima, Yona, dan Nicole. "Aduh aduh, kok kita jadi mellow gini, sih? Peluk-pelukan udah kek teletabis aja." Celetuk Yona.
"Yaelah, Yon, lo ngerusak suasana aja dah."
"Si anjing. Jarang-jarang kita begini, eh lu langsung ngancurin momennya."
"Wkwk mampus si bangsat kena omel."
Setelah acara berpeluk-pelukan tadi, suasana hati Wina pun perlahan membaik. Ia pun melanjutkan kegiatan bermain gitarnya yang tadi sempat tertunda. Sebelum mulai, Wina memberi peringatan kepada teman-temannya, "Heh bangsat, gue daritadi mau gitaran ga jadi mulu. Lo semua pada diem aja ya jangan ada yang ganggu."
Wina memutuskan untuk menyanyikan *Be My Mistake*, lagu dari THE 1975. Menurutnya lagu tersebut cocok untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini.
"Et, ini anaknya beneran galau ya?"
"Ya menurut lu aja anjrit masa bohongan?"
"Wkwk yaudah si biarin, biar hari ini jadi momen buat dia ngelepas rindu ke kak Karin. Kan ga enak kalo dipendem terus."
"Walaaach, iya deh iya."
"WIN, LANJUT TERUS WIN! GAPAPA KITA DENGERIN KOK. Mau lu nyanyi sampe abis 2 album juga gas aja, nanti kita dengerin." Teriak Nicole sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Yakali gue nyanyi 2 album, lo gila kali? Ngalah-ngalahin artis lagi konser itu mah." Balas Wina sambil mendelik.
Malam itu pun diisi oleh Wina bernyanyi dan bermain gitar serta kawannya yang tidak henti-hentinya saling melemparkan candaan ke satu sama lain.
Wina berpikir mungkin memang sudah saatnya untuk melupakan cinta pertamanya tersebut. Bukan apa-apa, dirinya hanya tidak ingin menyiksa diri dengan terus terjebak di masa lalu. Ia yakin Karina sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang, maka dirinya juga harus melakukan hal yang sama.
- selesai -
