Actions

Work Header

Mimpi

Summary:

Seorang pria tak dikenal melayang di depan Suguru.
“Kamu... malaikat?”
“Aku suamimu dari masa depan!”

Notes:

Jujutsu kaisen milik Akutami Gege. No profit gained from this fic.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ketika membuka mata, Satoru dapati dirinya terombang-ambing melayang di angkasa. Coba gerakan badan, tubuhnya terasa ringan dan semua gerak motorik berfungsi dengan baik. Ia bebas bergerak ke sana ke mari, melompat dari satu awan ke yang lain. Di bawahnya, deretan perumahan nampak mengecil seperti miniatur. Satoru mencubit pipi. Tidak sakit. Satoru yakin dia tengah berada dalam alam mimpi, tapi kesadaran masih sepenuhnya dalam kendali.

Puas terbang di ketinggian, Satoru turun ke bawah, melayang rendah melewati orang yang lalu-lalang. Tidak ada yang peduli dengan kehadiran Satoru meski kakinya tidak menjejak aspal. Kedua sudut bibir tertarik ke atas. Ini adalah dunia yang dia ciptakan dalam alam bawah sadar dan Satoru adalah penguasanya. Satoru berkeliling di kota yang tak dikenal. Masih kental bernuansa Jepang dengan arsitektur bangunan yang khas, konbini 24 jam, dan pos polisi yang siap siaga terapit di antara toko kelontong. Satoru mampir ke sebuah toko permen. Ia mengambil segenggam permen berperisa apel dari toples. Dibukanya satu bungkusan permen dan dimakan. Sisanya dijejalkan ke dalam saku celana. Rasa manis menyebar rata di lidah. Di dalam mimpi ini, Satoru masih bisa mencecap rasa sebagaimana mestinya. Nenek penjaga toko hanya tersenyum sambil mengangguk kecil ketika Satoru pergi tanpa membayar.

Siluet seorang anak laki-laki mengejutkan Satoru saat ia keluar dari toko. Terasa sangat familier dan Satoru bisa mengenalinya dalam sekali pandang. Dari belakang, Satoru bisa melihat anak itu berambut gelap belah tengah dan dipotong pendek. Masih berbalut seragam sekolah, tubuh mungilnya memikul tas ransel SD yang kelihatan berat. Anak itu belok kanan di persimpangan jalan. Satoru terbang mengikuti sebelum tertinggal lebih jauh.

“Suguru?”

Yang dipanggil menoleh. Mata sipit berbentuk kacang almond memicing, satu tangan terangkat melindungi mata karena silau terpapar sinar matahari tepat di belakang Satoru—yang membuatnya terlihat seperti meradiasikan cahaya dari langit. Dahi berkerut. Alis tipis bertaut.

Tidak salah lagi. Itu memang Suguru versi mini. Sugurunya.

“Kamu... malaikat?”

Sebuah pertanyaan polos terucap begitu saja dari bibir Suguru.

Satoru menyengir.

“SUGURUUUUU! Sayangku manisku cintaku pujaan hatiku!” Satoru menerjang ke depan. Dipeluknya Suguru erat dengan gemas lalu menggosokan pipi mereka. Suguru terhuyung, hampir jatuh kalau saja ia tidak dengan cepat menyeimbangkan badan dan melepas diri dari Satoru.

“Kamu siapa sih? Dan kenapa tahu namaku?” Suguru yang kebingungan mundur beberapa langkah ke belakang. Mengambil jarak dengan Satoru.

Cengiran Satoru semakin lebar, memperlihatkan deretan gigi putih berbaris rapi.

“Aku suamimu dari masa depan!”  Satoru menunjuk diri sendiri. Nadanya terdengar riang seolah sedang mengabarkan kabar baik bagi umat manusia.

Suguru melongo. Dalam pikirannya teringat kembali pesan dari Mama: jangan bicara dengan orang asing, terutama yang berpenampilan mencurigakan. Satoru, dilihat dari sudut mana pun, memang tampak mencurigakan dengan warna rambut yang abnormal dan tubuh melayang seperti dedemit. Apalagi dia tiba-tiba muncul dari antah berantah dan mengaku sebagai suami. Suguru berpikir dia masih terlalu kecil untuk itu. Suguru masih ingin main dengan teman sebaya dan bersekolah, bukannya punya rumah tangga seperti Papa-Mamanya.

“Orang aneh!” Suguru memacu kaki berlari berlawanan arah dengan Satoru.

“E-eh, tunggu! Suguru!” Satoru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suguru dengan cepat telah hilang dari jangkau pandangnya.

Mungkin ia terlalu antusias melihat Suguru kecil secara langsung—yang selama ini hanya ia lihat lewat lembar foto—dan membuat yang bersangkutan takut. Satoru pertama kali bertemu dengan Suguru ketika mereka masih remaja di bangku Sekolah Menengah Atas. Gejolak darah muda membuat keduanya menjalin hubungan selama tiga tahun. Secepat perasaan cinta mekar, secepat itu pula layu seiring mereka memutuskan berpisah saat hari kelulusan tiba. Suguru pulang ke kampung halamannya melanjutkan studi di Fukuoka, sementara Satoru menetap di ibu kota. Sepuluh tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan oleh roda takdir di Tokyo. Orang lain menyebutnya sebagai jodoh. Satoru menyebutnya sebagai kesempatan kedua untuk bersama dengan Suguru. Manakala waktu dan pengalaman hidup menempa mentalitas mereka menjadi semakin matang, keduanya lalu sepakat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius; menikah. 

Usai bernostalgia singkat dengan kenangan, Satoru putuskan untuk mengejar Suguru. Ia kembali terbang guna memperluas jarak pandang. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sang target. Satoru mendarat perlahan. Ia berjalan santai mengikuti Suguru dari belakang. Merasa ada yang menguntit, Suguru menoleh.

“Kamu lagi... Jangan ikuti aku!”

“Tega benar aku diusir Suguru.” Satoru berpura-pura sedih dengan nada yang dibuat-buat. “Aku hanya ingin melindungimu.”

“Dari apa? Aku tidak butuh,” tukas Suguru ketus sembari kaki tetap melangkah, mengindahkan Satoru yang masih mengikuti.

“Yah...” Satoru memutar otak, mencari alasan yang layak agar bisa lebih lama bersama dengan Suguru. Tangan menyilang di belakang kepala.

“Karena kamu sendirian dan itu bahaya.”

Langkah Suguru terhenti mendadak. Sekali lagi ia tolehkan kepala menatap Satoru. Mata memicing.

“Kok bisa?”

“Tentu saja. Apapun bisa terjadi.” Karena ini cuma mimpi, Satoru menambahkan dalam hati. “Jadi kamu butuh seseorang untuk menjagamu dan orang itu adalah aku.” Bibir Satoru melengkung ke atas.

Baru saja berkata demikian, tiba-tiba dari bawah tanah mencuat sesosok gelap menyerupai bayangan bermata satu dengan gigi-geligi tajam.

Suguru terperanjat, bokong menabrak aspal. Tangan sosok bayang itu mencoba meraih kakinya. Suguru memekik. Satoru pun sebenarnya sama terkejutnya dengan Suguru. Tidak menyangka apa yang diucapkan sungguh kejadian. Tetapi dengan sigap Satoru melesat ke depan, Suguru ditarik ke dalam pelukan. Satoru lalu mengerahkan tendangan tepat ke bagian tengah. Sosok itu terpental beberapa meter.

Satu tangan Satoru terentang, satunya lagi menggendong Suguru.

Bankai! Rasengan! Ryoiki Tenkai!”

Dari telapak tangannya keluar sinar plasma yang meratakan makhluk itu tanpa sisa.

Dalam kehidupan nyata, Satoru tidak pernah mendalami seni bela diri. Melawan pencopet kelas teri saja ia tidak pernah, apalagi menghadapi entitas tidak jelas. Jadi opsi terakhir yang terlintas dalam kepalanya adalah meneriakkan jurus-jurus di anime yang pernah ia tonton.

“Wah! Keren!” Suguru yang menyaksikan aksi Satoru tersebut dibuat terpukau. Mata berkilat antusias.

“Hahaha! Siapa dulu dong.” Satoru tertawa jemawa. Padahal kalau mau jujur ia sendiri tidak benar-benar paham akan apa yang barusan terjadi.

“Nah, sekarang Suguru percaya padaku, kan?”

Satoru menurunkan Suguru dari gendongan.

“Un!” Suguru menggangguk penuh semangat.

Anak-anak memang mudah diperdaya, pikir Satoru.

“Paman benar-benar kuat!” Lanjut Suguru.

“Paman? Sebentar. Aku belum setua itu. Panggil aku nii-chan coba.”

Suguru menelengkan kepala. “Nii-chan?

Satoru berguling-guling di tengah jalan, tidak kuat melihat Suguru yang terlalu menggemaskan. Awalnya Satoru hanya iseng, tapi ternyata efek yang dihasilkan melebihi ekspektasi. Selama mengenal Suguru, ia tidak pernah dipanggil seperti itu. Tentu saja karena mereka seumuran. Lagipula Satoru tidak yakin sekalipun ia meminta, kecil probabilitas bakal disanggupi Suguru. Sementara mini Suguru  mengucapkannya dengan polos dan imut.

Suguru yang tidak mengerti dengan tingkah Satoru lalu bertanya, “Nii-chan baik-baik aja?”

Sambil menahan laju mimisan dengan punggung tangan, Satoru buru-buru bangkit sebelum dicap orang aneh oleh Suguru dan kabur lagi.

“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Tadi hanya sakit perut.”

“Ngomong-ngomong, Suguru mau ke mana? Biar kutemani.” Satoru alihkan pembicaraan.

Nampak Suguru berpikir sejenak.

“Aku mau main game.”

“Oke! Kita pergi sekarang juga.” Satoru lalu menggendong Suguru ala pengantin.

“Eh?”

“Pegang yang erat.”

Suguru lingkarkan lengan mungilnya pada leher yang lebih tua. Detik berikutnya mereka terbang melintasi langit biru yang senada dengan mata Satoru. Suguru yang awalnya tutup mata, perlahan membuka kelopak dan takjub dengan pemandangan sekitar. Dunia seakan muat dalam genggaman.  

“Di situ!” Telunjuk Suguru mengarah ke sebuah bangunan bertingkat dengan plang berhiaskan lampu aneka warna berkedap-kedip memanggil pengunjung.

Mereka mendarat. Suguru loncat tak sabar dari gendongan Satoru, buru-buru hampiri Game Center. Berbagai mesin permainan berbaris teratur. Mesin arkade adalah tujuan Suguru. Suara game saling bersahutan, beradu bising dengan bunyi tombol dari jari cekatan para pemain lain. Suguru menempati satu mesin di tengah. Dilepaskannya ransel dan diletakkan di samping.

Mata Satoru bergulir pada nama permainan yang terpasang di atas mesin; Street Fighter 3. Satoru tanpa sadar tersenyum sendiri tatkala mengingat ia dan Suguru sering memainkan permainan itu bersama ketika mereka masih remaja.

Nii-chan, ayo main denganku juga,” ajak Suguru yang melihat Satoru sedari tadi hanya berdiri.

Satoru mengambil tempat berseberangan dengan Suguru.

“Kalau kalah jangan menangis, ya.” Cengiran jahil Satoru menghiasi bibirnya.

“Hmph! Aku nggak akan kalah semudah itu.”

Sesuai dugaan Satoru, Suguru memilih karakter Ken—sebagaimana telah menjadi kebiasannya. Sementara Satoru sendiri pakai Ryu. Disebabkan Satoru yang sudah hafal gaya permainan Suguru, tidak butuh sepuluh menit untuk menyelesaikan permainan. Satoru melongokan kepala, mencari tahu kondisi sang lawan main. Pipi Suguru menggembung kesal. Bibir mengerucut. Alisnya bertaut dalam. Satoru menahan diri untuk tidak mencubit gemas pipi Suguru.

“Satu ronde lagi, mau?” Tawar Satoru yang dijawab dengan anggukan kecil dari Suguru.

Gojo Satoru dikenal sebagai pribadi yang kompetitif. Tidak suka kekalahan dan berambisi menjadi yang terbaik dalam hal apapun yang ia lakoni. Baik ketika Satoru meraih medali emas pada olimpiade fisika internasional saat masih SMA, atau wisuda dari Universitas Tokyo dengan nilai sempurna. Tetapi ada masa di mana ia memilih mengalah dalam sebuah permainan kecil yang tidak ada artinya, hanya untuk melihat sebuah senyuman mengembang dan tawa berdenting riang dari bibir mungil Suguru.

“Aku menang!” Suguru bersorak.

Satoru menepuk puncak kepala Suguru sambil tersenyum.

“Masih mau main atau sudah bosan?”

“Tunggu. Aku mau coba beberapa game lain.”

Mereka pun memainkan macam-macam permainan seperti tembak-tembakan, balapan, hingga memasukan bola basket pada ring—yang dieksekusi dengan sangat mudah oleh Satoru dibantu tinggi badannya di atas 190cm. Suguru menenteng tiket untuk ditukarkan dengan hadiah dengan gembira. Ia bersenandung kecil dengan langkah ringan. Sesampainya di konter, mata ungu Suguru menjelajah setiap hadiah. Ia menimbang sekilas dan pilihan jatuh pada sepasang gantungan kunci yang masing-masing bergambar kucing putih dan hitam. Suguru kaitkan gantungan kunci kucing hitam di ranselnya. Satunya lagi ia berikan pada Satoru.

“Untuk Nii-chan yang sudah menemaniku bermain.” Mata Suguru menyipit ketika ia tersenyum lebar.

Satoru secara spontan langsung memeluk Suguru, yang kali ini tanpa aski penolakan atau protes.

“Aww! Baiknya Suguru. Terima kasih!” Satoru mengambil benda tersebut dan disimpan dalam saku celana. “Ngomong-ngomong, Suguru lapar, tidak? Makan yuk!”

Suguru memegangi perutnya. Keasyikan bermain membuatnya lupa akan rasa lapar.

“Boleh.”

Satoru menggandeng tangan Suguru. Tinggi Suguru hanya mencapai perut Satoru. Mereka berjalan keluar Game Center sembari membahas menu makan siang.

“Mau makan apa?”

“Hamburger steak,” sahut Suguru tanpa jeda.

“Loh? Suguru bukannya suka soba?”

“Aku baru makan soba kemarin. Eh, Nii-chan tahu dari mana aku suka soba?”

“Tentu saja tahu, aku kan suam—ahem, maksudku, itu hanya tebakanku saja.”

Restoran yang mereka tuju terletak tidak jauh dari Game Center sehingga Satoru putuskan untuk ditempuh dengan jalan kaki ketimbang terbang. Dengan begitu ia bisa punya waktu lebih bersama Suguru. Tidak berbeda dengan kehidupan nyata, melewatkan momen sekecil apapun dengan Suguru selalu terasa menyenangkan bagi Satoru. Satu hal yang diinginkan Satoru; semoga mimpi ini belum berakhir.

Setibanya di restoran, mereka menempati meja di pinggir jendela yang menghadap ke luar. Pelayan berdiri di samping bersiap mencatat pesanan. Suguru memesan satu set hamburger steak, sedangkan Satoru yang tidak ingin makanan berat dan memilih parfait jumbo dengan tambahan topping wafer, sirup cokelat, dan taburan popcorn karamel. Tak menunggu lama bagi pramusaji menghidangkan santapan mereka.

Dahi Suguru berkerut begitu melihat parfait Satoru yang meneriakkan diabetes di setiap suapan.

“Uh... Nii-chan yakin mau makan itu?”

“Kenapa tidak?” Satoru menyendok parfait dan dimasukan ke dalam mulut.

“Itu nggak bagus buat kesehatan. Kebanyakan gula.”

Satoru tertawa. Benar-benar Suguru dan insting orang tuanya.

“Jangan khawatir. Aku suka yang seperti ini.”

“Tapi jangan sering.”

“Iya, iya. Siap!” Rambut Suguru diacak Satoru.

Suguru lanjutkan makan dengan lahap. Kentang goreng serta kacang polong dan wortel sudah tandas dalam sekejap. Satoru mengambil tisu kemudian mengelap noda saus yang menempel di ujung bibir Suguru. Satoru tidak menghabiskan makanan pencuci mulutnya, alih-alih dagu bertumpu pada punggung tangan dan memandangi Suguru mengunyah patty daging sapi adalah opsi yang lebih menarik.

Selesai mengisi perut, keduanya menuju destinasi berikut, yakni pantai atas usulan Suguru. Matahari mulai terbenam di ujung horizon, menyisakan rona jingga pada kaki langit. Mereka duduk di tangga bersebelahan, menyaksikan debur ombak pecah menabrak pasir putih.

“Suguru.”

“Ya?”

“Kamu belum pulang? Sudah sore lho. Nanti dicari orang tuamu.”

“Aku nggak mau pulang.”

Satoru otomatis menatap Suguru. Tanda tanya hiasi wajah.

“Eh? Kenapa?”

Suguru merapatkan lutut di depan dada.

“Hari ini pembagian hasil ujian matematika. Aku cuma dapat 85. Pasti Papa bakal marah.” Air muka Suguru berubah muram.

“Nilai 85 sudah termasuk bagus, kan?”

Suguru mengedikkan bahu. “Papa maunya aku jadi yang terbaik di kelas. Sementara aku—“ Suaranya tercekat.

Bergeser ke samping, Satoru merapatkan jarak antara mereka berdua. Kedua tangannya menangkup pipi Suguru. Satoru menatap dalam mata Suguru.

“Suguru, umurmu berapa?”

“Sembilan tahun.”

“Barangkali dunia ini memang tidak adil bagimu. Tetapi aku yakin, baik di semesta ini maupun semesta yang lain,  ada kebahagiaan tengah menunggumu. Dan Suguru memang layak untuk bahagia. Istirahatlah kalau Suguru memang lelah, tapi jangan lupa untuk terus melangkah ke depan.”

Satoru tahu toh ini cuma dalam alam mimpi, semua perkataannya tidak akan berefek apapun, Setelah ia bangun, Suguru yang hidup dalam mimpi ini akan menghilang. Namun, bagaimana pun juga Satoru tidak sanggup jika harus melihat Suguru yang begitu ia cintai terluka—entah sosok itu nyata atau semu.

Mata Suguru berkaca-kaca. Bibir bergetar. Suguru menghambur ke dada Satoru. Lengan Satoru merengkuhnya erat. Satoru bisa rasakan kemejanya dibasahi air mata.

“Terima kasih, Nii-chan. Maaf sebelumnya aku pernah bilang Nii-chan orang aneh,” ucap Suguru disela isakan.

Satoru terkekeh. “Tidak usah dipikirkan. Aku tidak masalah, kok.”

Setelah Suguru mulai tenang, ia melepaskan diri. Satoru menyeka hidung Suguru dengan lengan kemejanya.

“Um, anu, ngomong-ngomong...” Suara Suguru terdengar seperti cicitan. Ujung seragam dipilin. Mata menghindari bertatap langsung dengan Satoru.

“Apa? Suguru boleh cerita apapun kepadaku.” Satoru dekatkan wajahnya agar bisa mendengar Suguru dengan lebih jelas.

“Anu... apa kita beneran nikah kayak yang dibilang Nii-chan?”

Telinga Suguru sukses merona sempurna. Seolah ia baru saja kerahkan seluruh keberaniannya buat mengatakan itu.

“Oh, jelas! Aku tidak bohong soal itu. Tapi tentunya bukan sekarang. Aku bisa ditangkap polisi jika menikahi anak di bawah umur.” Satoru kembali terkekeh.

“Nah, Suguru. Kalau kamu sudah besar dan ada orang bernama Gojo Satoru yang mengajakmu menikah, langsung iyakan saja, oke?” Satoru mengedipkan sebelah mata. Tangannya menjawil pipi Suguru yang masih tersipu.

Suguru mendadak mengangkat kepala.

“Eh? Nii-chan namanya Satoru?”

“Benar.”

“Aku juga punya teman dengan nama yang sama.”

Seakan ada petir yang menyambar di belakang Satoru, ia punya firasat yang tidak enak.

“Lepaskan Suguru, dasar om-om mesum!”

Satoru dan Suguru terhenyak dengan suara yang muncul tiba-tiba itu. Serempak mereka menoleh. Tidak jauh dari tempat mereka, nampak sesosok bocak sepantaran Suguru. Rambut putih menghiasi kepalanya. Mata biru cerah melempar tatapan galak. Tangannya tersimpan dalam saku celana.

Ternyata dugaan Satoru benar. Sosok itu adalah ia sendiri dalam versi anak kecil.

“Satoru!”

Suguru yang sedari tadi murung, seketika wajahnya menjadi sumringah kala berlari menghampiri anak itu. Hati Satoru mencelus. Serasa baru saja dicampakan.

“Heh bocah tengik! Kau baru saja memanggilku apa tadi?”

Seolah suara Satoru dewasa hanya angin lalu, Satoru kecil tidak ambil pusing. Ia fokus kepada mata Suguru yang agak merah.

“Orang itu yang bikin kamu nangis?”

“Bukan! Justru Nii-chan yang menghibur aku.”

Bibir Satoru tersungging angkuh setelah dibela Suguru. Seperti baru saja dapat satu poin kemenangan.

“Jangan panggil dia ‘Nii-chan’, Suguru. Geli.” Satoru kecil memasang ekspresi jijik yang membuat darah Satoru dewasa naik ke ubun-ubun.

Bocah sialan! Satoru mengumpat dalam hati. Sepanjang hidupnya, telah banyak orang yang bersaksi bahwa berhadapan dengan Satoru butuh kesabaran yang ekstra panjang (dan fakta bahwa hanya segelintir yang tahan dengan kelakuannya salah satunya adalah Suguru). Satoru tidak ingin mengakui hal itu. Tetapi setelah menghadapi langsung dirinya sendiri, mungkin ia mulai sadar diri.

“Tidak usah songong dulu, bocah. Aku lebih kenal Suguru daripada kau.”

“Hah! Apa buktinya?”

“Aku tahu Suguru punya tanda lahir di paha bagian dalam.”

Satoru menukas penuh percaya diri berdasarkan pengalaman panas ia dan Suguru saat malam tiba.

“Suguru, itu benar?” tanya Satoru kecil curiga.

Anggukan pelan Suguru sebagai afirmasi. Satoru kemudian dengan cepat sadar ucapannya terdengar ambigu.

“Tu-tunggu. Aku bisa jelaskan.”

“Cabul! Kau bisa tahu dari mana hal pribadi semacam itu? Biar kulaporkan kau ke Komisi Perlindungan Anak!”

Suguru kecil menarik tangan Suguru.

“Ayo kita pergi saja. Jangan dekat-dekat dengan orang mencurigakan.”

Dua anak itu berbalik badan dan berjalan menjauhi Satoru yang tersungkur di tanah, bahkan belum sempat membela harga dirinya.

Bye-bye, Nii-chan.” Suguru menoleh sekilas lalu mengikuti temannya.

“Ah! Suguru jangan tinggalkan aku!”

Satoru bangkit, ia berusaha mengejar namun hanya bisa berlari di tempat, sementara mereka semakin hilang dalam pandangan menjadi titik kecil. Lanskap di sekitar lumer. Satoru terjatuh pada lubang hitam tanpa dasar.

Tersentak dari tidur, Satoru terengah-engah. Langit-langit putih kamar yang familier menyambutnya. Satoru bangun dengan perasaan kesal, seperti ingin mematahkan leher seseorang. Kepala menengok ke samping. Ada Suguru yang masih terlelap. Satoru buru-buru memeluknya manja. Jika tidak dapat Suguru dalam mimpi, setidaknya Satoru punya yang asli.

“Hng? Satoru, kamu sudah bangun?” tanya Suguru—yang terpaksa terjaga dari tidur—dengan suara parau.

“Aku patah hati.”

“Hah?”

Suguru yang masih dalam proses mengumpulkan nyawa harus dibuat heran dengan perkataan pasangannya.

“Aku barusan mimpi Suguru pergi dengan laki-laki lain.”

“Oh ya? Dengan siapa?”

“Aku, dalam bentuk anak kecil.”

Ada jeda tiga detik sebelum tawa Suguru terburai.

“Cemburu kok sama diri sendiri. Satoru tuh, aneh seriusan. Dipikir-pikir, kenapa aku bisa suka sama kamu. Jangan-jangan aku kena pelet.”

“Ih, Suguru kok gitu sih...” Satoru mencebikkan bibir, benamkan kepala ke perpotongan leher Suguru.

 “Bercanda.”

“Cium dulu baru aku maafkan.”

“Repot ya punya bayi besar.”

Satoru menyengir. Suguru memutar badan biar mereka bisa saling bertatap muka, merasakan embusan napas saling membelai kulit masing-masing. Suguru hujani tiap senti wajah Satoru dengan kecupan.

“Aku cinta Satoru.”

Senyum merekah di bibir Satoru. Ia bisa resapi kelembutan dalam suara Suguru. Satoru menarik kepala Suguru dan memperdalam pagutan bibir mereka. Setelah puas lidah bertemu lidah, Satoru memisahkan diri untuk mengambil napas.

“Aku cinta Suguru banyakbanyakbanyaaaak!”

Suguru tergelak.

“Hari ini aku masak. Satoru mau makan apa?”

“Hamburger steak!”

.

.

.

the end


.

.

—epilog—

“Suguru.”

“Hm?”

“Panggil aku nii-chan dong.”

Notes:

SHOTA SUGURU WANGY WANGY HU HA (gws)

terima kasih sudah membaca!