Chapter Text
“Ini kamar untukmu selama dirimu tinggal di sini, walau tidak begitu besar namun kuharap kau bisa nyaman tinggal di sini.”
Laki-laki berambut coklat itu menunjukan sebuah kamar yang cukup untuk ditinggali oleh satu orang dengan sebuah kasur single bed, meja belajar beserta kursinya, dan sebuah lemari pakaian. Tidak terlalu banyak barang tambahan di kamar yang didominasi oleh material kayu tersebut, hanya sebuah vas bunga tulip yang diletakan di atas meja dan beberapa lukisan kecil yang menggantung dengan apiknya di dinding. Semuanya terlihat begitu minimalis dan nyaman untuk ditempati.
“Untuk perlengkapan lainnya, kau bisa meminta kepadaku atau yang lain untuk membantumu,” final laki-laki itu menatap sang tamu yang masih melihat kamar yang akan ia tempati nantinya. “Kau sekarang bisa langsung masuk, aku akan pergi ke bawah untuk membantu Minho.”
“Ah, iya. Terima kasih, Juyeon.” Laki-laki berambut jingga dengan badan yang sedikit kecil dibandingkan laki-laki berambut coklat, Juyeon, mulai memasuki kamar baru miliknya. Sementara Juyeon langsung meninggalkan dirinya menuju lantai 1 untuk kembali membantu saudara kembarnya yang sepertinya sibuk melayani para pelanggan yang datang.
Kini, tersisalah laki-laki berambut jingga itu yang sudah masuk ke kamar dan mulai membuka tirai jendela yang menghalangi sinar matahari untuk masuk ke dalam kamar tersebut. Ditaruhnya tas ransel yang sempat ia gendong ke lantai dan mulai membongkar koper miliknya, ia mengeluarkan satu per satu pakaian kotor yang belum sempat ia bersihkan di kota sebelumnya.
Oh, aku lupa untuk mengenalkan dirinya kepada kalian.
Laki-laki berambut jingga itu bernama Hongjoong, Kim Hongjoong sebagai nama lengkapnya. Ia adalah seorang pengembara yang senang untuk mengeksplor kota-kota kecil yang masih asri dengan keunikannya masing-masing tanpa adanya campur tangan pemerintah yang mendirikan berbagai tempat yang menghasilkan banyak polusi. Dan kota ini, Kota Adeline, adalah kota ke-5 yang sudah ia kunjungi untuk tahun ini, Hongjoong juga sudah memulai petualangannya ini sejak 2 tahun lalu bersama sang kakak. Namun karena suatu hal, Hongjoong harus melanjutkannya sendirian.
Hongjoong tidak memiliki pekerjaan tetap untuk membiayai hidupnya sebagai seorang pengembara, tapi setidaknya pekerjaannya sebagai jurnalis lepas mampu untuk menghidupi perjalanannya untuk 1-2 kota kecil lainnya. Iya, tentu saja itu sangat cukup untuk dirinya seorang.
Di kota ini, Hongjoong memiliki kesempatan untuk tinggal di sebuah rumah yang memiliki sebuah toko pada pintu masuknya dan tinggal di satu atap yang sama dengan beberapa orang yang seumur dengannya. Biasanya di kota sebelumnya, ia selalu tinggal bersama seorang lansia atau sebuah keluarga dengan anak kecil yang sedang dalam masa pertumbuhannya, hal itu jelas membuat Hongjoong sedikit kesusahan untuk memiliki waktunya sendiri. Tapi sekarang, sepertinya ia hanya akan menerima sebuah teriakan gaduh sepasang kakak-adik yang meributkan masalah sepele dan dia bisa melarikan diri dari masalah itu.
“Minho, kan?”
Hongjoong sudah berada di lantai satu dengan membawa beberapa helai pakaian kotor miliknya, tanpa sengaja menemui salah satu dari anak kembar Lee tersebut. Yang dipanggil pun menoleh dan menatapnya aneh. “Iya, kenapa?”
“Hm… Apakah ada mesin cuci di sini? Aku ingin mencuci beberapa pakaian milikku, tidak akan lama kok,” balas Hongjoong menjelaskan maksud dirinya memanggil sang pemilik rumah.
“Ada, kau keluar lewat pintu belakang nanti akan ada sebuah mesin cuci di sebelah kananmu. Sabun dan pewanginya juga ada di dekat sana, kau bisa memakainya tapi jangan terlalu banyak.” Laki-laki dengan rambut hitam itu menunjukan rute untuk menuju ke tempat tersebut dengan tangannya, Hongjoong menganggukan kepalanya paham dengan sebuah senyuman yang merekah di bibirnya sebagai tanda keramahan.
“Oke, terima kasih, Minho,” ucap Hongjoong langsung pergi ke belakang sesuai apa yang diperintahkan Minho, laki-laki itu hanya mengangguk dan kembali meneguk segelas air putih yang sempat ia ambil dari teko.
Hongjoong baru menemui dua orang dari anggota keluarga Lee yang memang sibuk dengan toko mereka, sebuah toko kue khas di kota itu. Kata Juyeon, anggota yang lain sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi Hongjoong tidak paham dengan apa yang dimaksud urusan oleh Juyeon. Ia juga tidak terlalu ingin penasaran dengan keluarga Lee itu, ia takut jika itu akan menjadi sebuah bumerang untuknya nanti. Lagipula, mungkin anggota keluarganya yang lain akan kembali pulang dan akan menjawab semua rasa penasaran Hongjoong.
Selagi menunggu pakaiannya tercuci, Hongjoong melihat ke arah pemandangan yang cukup mengagumkan di belakang rumah sekaligus toko kue itu, ia tidak pernah tahu jika pemandangan di sana akan sebagus itu pada siang hari. Hamparan rumput yang sangat hijau menyejukan mata dan sepoi-sepoi angin yang memainkan helai rambut jingganya. Inilah alasan mengapa dirinya sangat menyukai untuk pergi ke kota kecil yang masih asri tanpa adanya gangguan dari pemerintah, mereka masih sangat bersih dan bebas dari keramaian kota besar di pusat.
Hongjoong terlalu menikmati pemandangannya hingga suara mesin cuci yang menyala pun berhenti, sepertinya ia butuh untuk disadarkan.
“Hongjoong?”
“Ah, iya?” Hongjoong langsung menoleh dan mendapati laki-laki yang sempat ia tanyakan tengah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya.
“Mesin cucimu sudah berhenti,” ucap Minho sembari menunjuk ke arah mesin cuci yang memang sudah berhenti, “Cepatlah menjemurnya, selagi matahari masih panas dan memungkinkan untuk diangkat nanti sore.”
“Eh, iya. Terima kasih untuk diingatkan, Minho.” Laki-laki berambut jingga itu pun langsung bergegas mengambil pakaiannya dalam mesin cuci lalu memerasnya sebelum akhirnya dijemur di sebuah tali jemuran yang membentang di tiang kayu yang kokoh.
Minho masih ada di ambang pintu, melihat sang tamu yang kelabakan dengan lucunya. “Makan siang akan segera selesai, mungkin kau sudah bisa duduk di meja makan dan makan bersama kami.”
“Apakah boleh?” Tanya Hongjoong takut untuk membuat canggung di meja makan.
“Tentu saja boleh, mengapa tidak? Kau seorang tamu, bukan tahanan. Kau akan kami sambut dengan baik dan membiarkanmu untuk tinggal di sini dengan nyaman.”
Hongjoong tersenyum simpul sebelum membalas perkataan Minho tersebut. “Terima kasih lagi.”
Sekarang Hongjoong sudah duduk di meja makan milik keluarga Lee itu. Awalnya ia mengira jika anggota yang lain akan telat untuk datang makan siang, namun nyatanya sekarang mereka sudah ada di meja dengan formasi lengkap dan mulai berisik untuk membicarakan banyak hal kepada Juyeon dan Minho yang menjadi kakak tertua mereka.
“Kak, apa kau tahu? Tadi di sekolah, ada anak kecil mendatangiku dan memberikanku sebuah coklat,” cerita laki-laki berambut panjang seleher yang entah dari mana dirinya terinspirasi untuk memanjangkannya. “Terus dia bilang kalau dia suka sama aku karena aku cantik, tapi aku laki-laki!”
Minho mengetuk kepala adiknya itu dengan sendok bersih, “Sadar diri, rambutmu panjang layaknya anak perempuan. Bagaimana caranya ia tidak bisa memanggilmu cantik dengan penampilanmu yang seperti itu?”
“Aku maunya dipanggil ganteng, bukan cantik!” Protes laki-laki itu menggembungkan pipinya sesudah berbicara dengan sang kakak, Juyeon yang belum berbicara pun hanya tertawa melihat kedua saudaranya yang berdebat seperti itu.
“Memangnya kenapa kau tidak suka? Cantik itu bisa untuk laki-laki maupun perempuan, seharusnya kau bahagia jika ada yang menyebutmu cantik,” celetuk Hongjoong mengelus pelan rambut laki-laki yang jelas lebih muda darinya itu. “Lagipula kau memang cantik, Beomgyu.”
Beomgyu, laki-laki berambut panjang itu menatap Hongjoong yang duduk di sebelah dengan tatapan yang tak bisa diartikan. “Kalau kakak yang bilang seperti itu, aku rela untuk dipanggil cantik!”
“Aku juga mau dipanggil cantik oleh kak Hongjoong!” Laki-laki berambut pirang itu berucap dengan senangnya hingga berpindah tempat dari posisi awal dirinya duduk di sebelah Juyeon hingga memaksakan saudaranya yang duduk di sebelah Hongjoong untuk pindah. “Ayo kak, panggil aku cantik juga!”
Adakah seseorang yang ingin menolong Hongjoong?
“Ih, kak San! Aku yang duduk di sana, kenapa kau menyuruhku pindah?” Protes yang lebih muda kepada San, laki-laki berambut pirang tadi.
“Giliran! Kau biasanya juga selalu ingin duduk di samping kak Juyeon, nah sudah aku berikan kesempatan itu sekarang. Jadi duduklah di samping kak Juyeon, Sungchan,” ucap San menunjukan ke tempat duduk yang sempat ia duduki.
“Tapi kan…”
“Hush, Sungchan, sini duduk sebelah kakak. Biarkan San dan Beomgyu duduk di sebelah Hongjoong, jika kau masih berdebat kau hanya akan membangunkan tiga harimau yang akan mengacaukan rumah ini,” lerai Juyeon dan segera menyuruh adik bungsunya untuk duduk di kursi kosong di sebelahnya.
“Kenapa tiga harimau?”
“Karena Minho akan ikut turun menghancurkan rumah ini.”
Iya, Hongjoong tidak akan bertanya lagi. Sudah cukup untuk mengenal semuanya hari ini.
“Kau sedang apa?”
Hongjoong melihat Juyeon yang tengah sibuk menata beberapa barang ke dalam tas plastik, entah untuk apa barang tersebut dimasukan ke dalam tas ketika mereka sudah memiliki sebuah rak dan bahkan sebuah kulkas yang bisa menyimpannya. Juyeon pun menoleh dan hanya tersenyum tipis sebelum kembali sibuk memasukan barang-barang yang masih berantakan di atas meja.
Merasa dihiraukan, Hongjoong pun mulai mendekati Juyeon dan melihat dirinya memasukan barang-barang tersebut dengan telaten. Semuanya tertata rapi hingga menyisakan beberapa ruang kosong di dalamnya. Ada beberapa jenis daging, sayuran, dan beberapa kue dan roti yang sepertinya diambil dari toko mereka. Ia tidak memiliki petunjuk untuk apa dan akan pergi kemana Juyeon dengan tas-tas itu.
“Apa kau mau ikut ke hutan?” Tanya Juyeon sesudah menyelesaikan untuk memasuki barang-barang tersebut.
Hongjoong menatapnya dengan raut wajah yang bingung, “Hutan? Untuk?”
‘“Untuk mengantarkan ini semua, apa kau ingin ikut?” Ucap Juyeon memastikan kembali.
Yang diberi pertanyaan itu diam terpaku, memikirkan tentang siapa yang akan mereka kunjungi dan mengapa orang itu tidak ke kota untuk membeli barang-barangnya sendiri daripada menyusahkan Juyeon untuk mengantarkannya. Apakah dia sudah setua itu dan tidak bisa hidup di kota atau bagaimana?
“Bumi kepada Hongjoong, apa kau mendengarnya?” Juyeon berusaha untuk membuat Hongjoong sadar kembali dari pikirannya sendiri, “Ah, iya. Boleh.”
Juyeon tersenyum lagi, kali ini lebih cerah. “Bagus, kalau begitu bantu aku untuk membawa tas yang ini dan kita akan ke hutan untuk menemuinya.”
Hongjoong pun langsung mengambil tas plastik yang masih ada di meja, tas itu berisikan beberapa roti dan kue yang masih hangat. Mereka berdua pun berjalan keluar rumah melalui pintu toko mengingat rumah keluarga Lee itu memang menyatu dengan toko yang mereka punya. Karena lokasi toko dan rumah yang memang menyatu, aroma adonan dan beberapa bahan roti lainnya pun menjadi seperti pengharum ruangan di sana. Oh ralat, pengharum rumah dikarenakan aromanya yang memang sudah semerbak ke dalam seluruh isi rumah.
Dengan aroma yang sangat menggugah selera itu, tidak diragukan lagi jika banyak pelanggan yang masih mengantri untuk membeli roti mereka. Bahkan, saat Hongjoong baru sampai dan akhirnya keluar untuk membantu Juyeon pun masih ada antrian yang menunggu untuk dilayani. Di balik meja kasir itu pun terdapat Minho yang sibuk melayani semuanya sendiri, adik-adik mereka sibuk di kamar masing-masing, entah melakukan apa.
"Perjalanannya agak jauh, apa kau masih sanggup membawa tas itu?" Tanya Juyeon sesaat melihat Hongjoong hampir jatuh karena sebuah batu kecil.
"Tidak, aku masih sanggup membawanya. Lagipula ini isinya tidak sebanyak punyamu, jadi aku bisa membawanya. Tenang saja," balas Hongjoong tersenyum jika dirinya memang baik-baik saja.
Juyeon pun mengangguk sebelum kembali memimpin jalan untuk ke tempat tujuan. Sinar matahari yang masuk dari celah dedaunan rimbun di atas pohon itu menyinari jalanan setapak yang ada, membuat perjalanan mereka berdua pun tidak terlalu sulit untuk ditempuh. Tidak terlalu banyak suara yang mereka dengar dari dalam hutan tersebut yang seakan memberitahu jika tidak akan ada bahaya yang mengancam keselamatan mereka, bahkan Juyeon yang memang penduduk asli sana berjalan dengan ringannya sembari bersenandung riang.
Aneh? Ya, bagi Hongjoong.
"Juyeon, apa kau selalu sendiri berjalan ke sini?" Tanya Hongjoong mulai takut karena cahaya matahari yang masuk semakin sedikit dan kabut yang entah dari mana mulai menebal.
"Iya, aku selalu sendiri. Tapi tidak selalu yang ke sini, Minho juga terkadang mengantikanku untuk mengantarkan ini semua," balas Juyeon sedikit terkekeh di akhir kalimat, "Kenapa? Apa kau takut?"
Hongjoong menatapnya kesal, "Pakai logikamu, orang waras mana yang bisa berjalan ke sini sendirian dengan membawa tas yang penuh makanan ini ke dalam hutan? Apakah ini sebuah tradisi kota?"
"Hahaha, tidak. Ini bukan tradisi. Yang bisa datang ke sini dan disambut oleh dirinya hanya aku dan Minho," ucap Juyeon tertawa dengan pernyataan yang Hongjoong lontarkan. "Lagipula dia hanya dekat dengan keluarga kami sejak dulu, kalau tidak salah ia pertama kali bertemu dengan buyutku untuk membantunya membawakan keperluan mingguan ke rumahnya dan membayar kepada keluarga kami setiap tahun."
Hongjoong terdiam sesaat mendengarkan penjelasan Juyeon yang menurutnya tidak masuk akal, bagaimana bisa orang ini meminta buyut Juyeon untuk mengantarkan semua belanjaan ini ke dalam hutan? Bahkan sampai keturunan yang sekarang melakukan hal itu juga? Apakah mereka menjadikan keluaraga Lee sebagai budaknya atau bagaimana?
"Sebentar, buyut? Bagaimana? Dia juga tinggal sekeluarga di sana hingga keturunan yang keberapa?"
"Tidak, dia hanya tinggal sendiri di sana. Dia seorang vampir yang kesepian akibat kekasih hatinya yang mati dibunuh."
Oh, kasihan. Vampir yang malang.
Juyeon mengetuk pintu kayu yang cukup besar di hadapannya. Selagi menunggu balasan, Hongjoong memperhatikan sekitaran rumah itu. Ah bukan, itu bukan rumah, lebih tepatnya sebuah kastil tua yang cukup besar untuk ditinggalkan oleh seorang diri. Dirinya tidak mengerti bagaimana bisa perkarangan kastil yang sudah tidak ada pepohonan tinggi itu malah terlihat lebih gelap dari pada di jalanan setapak tadi? Apakah ini efek dari banyaknya kabut yang menutupi pemandangan hutan hingga bisa juga menutup celah untik sinar matahari yang seharusnya masih ada di atas sana.
Tak lama terdengar suara engsel pintu yang belum pernah diberikan oli hingga menjadi suara khas untuk menakuti siapapun yang datang tanpa diundang.
"Oh. Kau membawa manusia baru?"
Laki-laki dengan rambut hitam legam yang tersisir rapih ke belakang itu menatap Hongjoong begitu datar seakan tidak senang akan kehadiran Hongjoong yang ada di sana. Sedangkan Hongjoong sendiri menatapnya sedikit kaget dengan gaya pakaian sang vampir yang terlalu formal untuk dirinya tinggal dalam kastil seorang diri tanpa menunggu kehadiran siapa pun. Lihatlah, bagaimana bisa dirinya memakai kemeja putih lengan panjang yang lengkap dengan tuxedo vest abu-abu dan celana panjang bahan berwarna hitam.
Memangnya ia tidak merasakan panas di siang hari yang cerah ini?
"Iya, dia pendatang baru di kota. Dia akan tinggal untuk sementara waktu sebelum kembali pindah ke kota lain," balas Juyeon.
"Dia tidak berbahaya?" Tanya laki-laki itu membuat Hongjoong sedikit kebingungan, apa yang ia maksud dengan bahaya? Tubuh kecilnya itu menjadi sebuah alarm bahaya untuknya?
"Tidak, dia tidak akan membahayakan dirimu. Aku akan selalu memantaunya." Juyeon memberikan tas yang ia pegang kepada sang vampir tersebut, "Jika memang dia berbahaya, kau bisa melakukan apa saja kepadanya."
"Apa yang kalian maksud?"
Laki-laki yang ada di ambang pintu kastil itu terdiam memandang Hongjoong sebelum menunjukan taring panjang miliknya, "Apa kau akan memberitahu orang-orang dari luar kota mengenai diriku? Jika kau memiliki potensi itu, maka kau akan aku bunuh dan menggunakan semua darah yang ada di dalammu untuk menjadi simpanan persediaan makananku."
"Aku terlihat berbahaya untukmu?" Protes Hongjoong.
"Sangat," balas laki-laki vampir itu tanpa merubah air wajahnya.
Juyeon yang merasa tersingkir dari percakapan pun bingung untuk meleraikan mereka karena mereka juga masih dalam tahap pengenalan satu sama lain, "Oke, berhentilah. Hongjoong, berikan tas itu kepada Seonghwa lalu kita akan pulang. Bisa mati berdiri aku jika tidak memisahkan kalian."
"Jadi namamu Hongjoong?" Tanya Seonghwa, sang laki-laki berdarah vampir murni itu menaikan satu alisnya.
Hongjoong memberikan tas yang dimaksud sebelum membalas pertanyaannya, "Dan kau adalah Seonghwa?"
"Kau terlihat belum setua itu, seharusnya pendegaranmu tidak buruk," ucap Seonghwa tersenyum tipis di akhir. Hongjoong tidak paham bagaimana bisa laki-laki kaku yang umurnya sudah seabad itu bisa tersenyum dan membuat hatinya berhenti sedetik.
"Oke, kalian sudah mengenal satu sama lain. Sekarang ayo kita pulang." Juyeon mendorong Hongjoong menjauh dari pintu kastil dan kembali pulang ke kota, meninggalkan kembali sang vampir di dalam kastilnya.
Seonghwa yang melihat punggung keduanya mulai menghilang ke dalam balik hutan pun hanya bisa terdiam, otaknya sibuk mencerna semua hal yang baru saja terjadi kepadanya hari ini dengan Juyeon yang membawa orang baru untuk menemani dirinya pergi ke kastilnya. Ataukah Juyeon sengaja mengajak laki-laki berambut jingga itu untuk menemuinya?
"Dia sangat mirip denganmu, darling. Apakah itu dirimu?"
