Actions

Work Header

LUFTSCHLOSS

Summary:

A Luftschloss (plural Luftschlösser) is a fantasy, an unrealistic dream. The compound noun literally translates as ‘air-castle’ as it is made up of the words Luft, meaning air, and Schloss, meaning castle.

Kalau kata Bang Namjoon, pilihannya cuma dua: dibiarin ngambang aja "sky castle"-nya, atau diupayakan supaya bisa menapak bumi.
Apa pun itu, pilihannya tetap ada di tangan Taehyung dan Jeongguk sebagai yang punya kendali.

Notes:

Prompt:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita tentang jungkook dan taehyung who likes to have casual sex sambil belajar mendefinisikan batas antara cinta dan nafsu.

Dw: bahasa semi-baku, lo-gue
Dnw: open/sad ending

Work Text:

 

 

 

 

 

“G-GUK, mau keluar, mau keluar, please please please!” suara pekikan dari lelaki berambut ikal yang bergerak lincah di atas pangkuan lelaki lainnya yang sedang setengah bersila itu terdengar nyaring. Geramannya terdengar kesal, juga gemas. Berakhir dengan rengekan yang tak bisa ditahan lagi karena gemas akan dirinya yang mengulur waktu klimaksnya sendiri, gemas dengan partner duel favoritnya yang tiap serangannya selalu tepat sasaran dan tanpa ampun ini, juga gemas dengan segala kenikmatan yang ia rasakan bertubi-tubi. 

Kim Taehyung.

Yeah?” Lelaki yang lebih muda, yang tak kalah heboh bermanuver sambil memegang—meremas—kedua bokong Taehyung, bertanya di sela engah. Inginnya menggoda, namun getaran dalam suaranya menolak untuk bekerja sama mendukungnya menjadi sok jagoan sekarang. Ia juga sudah telak kewalahan.

Jeon Jeongguk.

Taehyung mengangguk cepat dalam upaya menjawab pertanyaan retoris yang lebih muda. Lalu melenguh ketika lelaki yang mendekapnya, yang dadanya semula menempel lengket dengan dadanya, menjauhkan diri untuk meraih penisnya yang sudah memerah seperti meminta perhatian. Lalu mengocoknya dengan cara yang paling disukai Taehyung.

“Gguk, astaga! Jeongguk, Gguk—oh!

Taehyung merasakannya. Gelenyar menyenangkan yang merambat perlahan dari pusat tubuhnya menyebar ke seluruh sendi badan dan membuatnya gemetar. Kedua tangannya meremas pundak telanjang Jeongguk sekuat tenaga. Ia masih tidak berhenti menggerakkan tubuhnya dengan lincah, tahu persis bahwa lelaki yang ia tunggangi akan menyusulnya sebentar lagi. Persetan dengan rasa ngilu yang hadir karena tubuhnya sedang dalam kondisi terlalu sensitif pasca klimaks tadi.

Upayanya tidak berakhir sia-sia. Jeongguk mendapatkan puncaknya dengan erangan nama Taehyung yang diucapkan berulang seperti namanya adalah lirik baru. Bagi Taehyung, desahan dan erangan lelaki yang lengannya penuh rajah ini terdengar seperti lantunan lagu rindu. Kedua lengan Jeongguk mendekap pinggang Taehyung semakin kuat. Jika tubuh Taehyung tidak sebesar sekarang, sudah dipastikan ia akan berakhir remuk-remuk kemudian—berlebihan, memang.

Keduanya tidak bergerak beberapa saat. Mengambil waktu untuk menata napas yang berantakan juga untuk saling dan mengecup bahu. Menunggu adrenalin meninggalkan mereka, menikmati dopamin terasa hingga ujung kuku, dan membiarkan oksitosin membanjiri tubuh.

Taehyung yang lebih dahulu bergerak. Ia menempelkan dahinya dan Jeongguk. Lelaki yang lebih muda mulai menggerakkan telapak tangannya untuk mengusap-usap punggung penuh peluh milik Taehyung. Ia mencari bibir Taehyung untuk dipagut ringan dan berulang. Taehyung terkekeh dibuatnya.

Keduanya bertahan dengan banyak sentuhan, pelukan yang tak kunjung terlepas walau badan sudah lengket oleh aneka cairan, dan ciuman pelan yang tak kunjung usai.

Demi untuk segera kembali menapak bumi dari perjalanan bersenang-senang malam ini.




Di kamar sebelahnya, Namjoon melepas satu airpod dari telinganya perlahan. Memastikan telinganya hanya mendengarkan suara dengan desibel normal kali ini. Ia menghela napas panjang ketika rungunya tidak menangkap suara-suara yang tidak diinginkan. Ketika dirasa aman, ia lalu melepaskan airpod di telinga satunya lagi. Dengan cekatan Namjoon memencet satu nama kontak yang ia yakin tengah sama-sama tersiksa bersamanya sedari tiga perempat jam ke belakang.

“Hobi? Ya, udah aman. Lo sama Jimin udah bisa lepas airpods trus tidur nyenyak sekarang. Gue mau kasih tau Bang Jin sama Bang Yoongi dulu. Mm, sama-sama. Met tidur.”

Demi apa pun. Besok mereka memiliki schedule wawancara pagi dan harus berangkat dari apartemen sedari dini.

Namjoon hanya berharap semoga tidak ada yang bangun terlambat nanti.

 

 

 

*

 

 

 

Intervention number one.

 

Jam dinding di ruang tengah masih menunjukkan pukul empat pagi dan Jeongguk sudah disibukkan dengan jjapaguri di hadapannya.

“Met pagi.”

Jantungnya mencelus mendengarkan satu sapaan dari suara berat yang sarat akan kantuk dari arah belakangnya. Kakak-kakaknya jarang sekali berkeliaran di jam-jam begini di dapur. Hampir saja ia refleks melemparkan spatulanya sebagai perlindungan diri—yang kalau betul dilakukan akan tepat mengarah pada  wajah abang tertuanya.

Bahaya sekali.

Aset nasional itu.

“Bang Seokjin? Udah bangun lo.”

“Mm. Mau kopi kayaknya gue. Lo bikin apa itu?” Seokjin melongokkan lehernya di samping Jeongguk dan bersiul Rajin betul, Anak Bontot seraya mengacak rambut Jeongguk sambil berlalu menuju mesin kopi.

“Bukan buat gue. Taetae yang ngidam,” gumam Jeongguk. Seokjin mengangguk dan bergumam sangat pelan, namun masih bisa Jeongguk dengar walau ia pura-pura tidak, Kalo lo jadi partner seks gue, udah gue block semua kontak lo, Gguk.

“Semalem lo berdua berisik,” lanjut yang lebih tua dengan suara yang normal.

“Sori, Bang …,” tanggap Jeongguk. “Perasaan udah bisik-bisik …,” gumamnya lagi. Seokjin berdecak keras.

“Bisik-bisik versi lo sama Taehyung tuh jerat-jerit, asal lo tau.”

“Pelanin lagi mainnya lain kali. Kita setuju kalian bebas mau ngapain aja di sini buat meminimalisasi risiko yang bakal kejadian kalo kalian ngelakuinnya di luar. Kita udah pernah obrolin ini bertujuh juga dan kita nggak masalah. Cuma gue harap lo berdua bisa lebih considerate sama yang lain. Ada yang mau tidur, mau konsen, mau sunyi, mau teleponan sama keluarga—kasian Hobi semalem harus bilang ke nyokapnya kalo Jimin−ie lagi nonton film slasher thriller—dan sebagainya.” Seokjin mengatakannya seraya menyeruput kopinya perlahan dari posisinya yang sedang duduk di kursi pantri. Berbeda dengan Jeongguk yang memusatkan perhatian padanya, pandangan Seokjin terfokus pada kopinya. Kentara canggung membawa topik ini kepada si bungsu subuh hari di pantri.

“Gue nggak bilang lo berdua harus diem ato tahan napas juga—mokat dong ntar. Dibikin lebih pelan ajalah gitu intinya. Jangan ngambek tapi nih, gue kasih tau gini?”

“Enggaaak, gue nggak ngambek. Makasih udah ngasih tau gue, Bang. Nanti gue infoin Tae juga, janji.” Jeongguk membuat tanda peace dengan jemari tangan kirinya dengan wajah yang serius. Seokjin mengangguk sambil menyeruput kopinya lagi. Good.

Pembawaan Seokjin yang santai sebagai kakak tertua, membuat Jeongguk tidak mudah untuk tersinggung ketika diberitahu—akan berbeda jika yang menegurnya abangnya yang lain, mungkin akan Jeongguk beri perlakuan dingin untuk beberapa hari ke depan baru ia mau mengakui kesalahan. Dengan Seokjin, yang ada wajahnya memerah karena malu. Abangnya yang satu ini tidak hanya mampu menyamakan langkah ketika bercanda dengan dirinya di hari biasa, tetapi juga mampu memikat rasa hormatnya seketika di saat yang diperlukan seperti ini.

“Asal lo juga jangan ngiri sama gue, Bang?” Tidak perlu waktu lama, Jeongguk sudah kembali dalam mode jahilnya.

“Najong. Nggak ngiri gue. Efek denger lo berdua tiap gituan kayaknya titit gue makin kisut,” ujar Seokjin seraya memutar bola matanya dramatis. “Dick dead. Flop. Gone.

“Makanya biar nggak kisut dipake dong. Mainannya curi-curi ciuman sama Bang Hobi di ruang ganti kalo lagi sepi aja sih lo.” Jeongguk berkata sambil bergegas membawa mangkuk besar isi jjapaguri matang ke kamar Taehyung.

Namun ia terlambat membalikkan badan.

Satu sendok teh mendarat tepat di kening Jeongguk.

Sial.

Jeongguk harus menjelaskan sesuatu pada make up director-nya nanti soal benjol di jidat. Untuk jaga-jaga saja.




 

*

 

 

 

Intervention number two.

 

“Gguk. Gue nggak tau ini gimana enaknya ngomongnya, ya. Tapi intinya, bisa nggak sih lo tahan dulu burung lo di dalem celana kalo temen gue lagi tepar? Kasian tau nggak?” adalah kalimat yang Park Jimin katakan di sela-sela waktu santainya dan Jeongguk pada suatu malam. Dengan beberapa kaleng bir di hadapan.

“Hah?”

“Gue ngomongin soal dua malem yang lalu. Waktu gue telepon Tae mau minta dibawain apa dari Busan tapi dia bales pertanyaan gue udah kayak kucing melahirkan keabisan napas. Lo apain?”

“Nggak gue apa-apain.” Jeongguk tidak bisa jujur untuk mengatakan bahwa sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi Taehyung dan dirinya untuk berlutut dan berada di antara paha masing-masing saat keduanya butuh pelepasan tapi tidak dalam waktu yang prima untuk melakukan hubungan badan. Tidak ada tuntutan untuk dipuaskan balik, hanya keinginan untuk memberi agar partnernya merasa tenang dan mudah beristirahat.

Semacam acts of service, kalau diambil dari klasifikasi love language.

Tunggu, love, katanya? Jeongguk menggelengkan kepalanya kasar, berharap menepis pikirannya yang ngawur.

“Lo tegang banget. Gue bercanda. Tae udah jelasin ke gue kok. Udah kenyang gue sama TMI-nya dia kalo itu tentang lo. Pening gue,” ujar Jimin seraya terbahak. Ia kembali menenggak birnya langsung dari kalengnya yang isinya tinggal sedikit, lalu membuka kaleng yang baru.

“Kalo gue minta lo BJ gue, ato Bang Hoseok yang minta, lo mau?”

“Nggaklah, gila apa lo, Bang? Lo semua udah kayak abang gue sedarah. Gue nggak bisa bayanginnya. Ancur.” Jeongguk seketika memasang wajah jijik.

“Jadi kesimpulannya, ide soal lo ngemut burung temen gue dan telen maninya rutin setiap dia susah bobo ato lagi stress ato lagi nggak enak badan itu khusus privilese punya Taehyung, ya?” desak Jimin lagi. Kedua alisnya naik-turun.

“Jelaslah. Cuma buat dia doang pengecualiannya. Nggak ada yang lain.” Jeongguk menggunakan nada yang agak tinggi—sebenarnya ia malu setengah mati. Entah mengapa ia menjadi defensif memikirkan ia harus melakukan hal-hal yang khusus ia lakukan dengan Taehyung pada orang lain?

Eww!

“Cuma Taehyung ya, Gguk? Nggak ada yang lain? Gue pegang kata-kata lo. Kalo soulmate gue kenapa-kenapa, gue yang minta abang-abang lain buat ngerujak lo idup-idup.”

Kala itu Jeongguk hanya bergeming. Ia menatap Jimin tak mengerti. Sama sekali tidak paham mengapa ia harus diancam karena memikirkan seks bukan dengan Taehyung, atau hidup pada umumnya tanpa Taehyung adalah bukan tujuannya sama sekali.

Seperti diancam harus bernapas dengan oksigen.

Ya memangnya ada lagi cara lain?

Kalau melakukan sebaliknya, jelas ia akan mati, bukan?

Ancaman Jimin—pada saat itu—sungguh tidak beralasan bagi Jeongguk.

Mungkin keduanya sudah terlalu banyak menghabiskan bir malam ini.




 

*

 

 

 

Intervention number three.

 

“Ya lo bayangin aja, pas dia masih on fire, gue udah lemes, selemes-lemesnya. Ya udah gue sok-sokan aja ditelepon kantor dan bilang harus cabut gara-gara ada meeting dadakan. Padahal sebenernya Joni gue udah nggak sanggup tempur lagi.” Hoseok tertawa heboh mengingat salah satu pengalaman memalukannya saat tidur dengan orang asing sepulang dari bar ketika mereka sedang tur di luar negri. Disusul Namjoon yang tertawa berisik sambil mengumpat Berengsek!

Taehyung sedang berada di dalam RKive sesorean ini. Ia berniat mendiskusikan lirik pada Namjoon. Karena sebelumnya ia tidak memberi tahu, maka ketika masuk ke ruangan bernuansa kayu tersebut, Taehyung disambut dengan Namjoon dan Hoseok yang sedang terlibat diskusi sengit soal perlu atau tidaknya efek doubling di salah satu track mereka.

Berencana undur diri karena merasa menginterupsi, kedua kakaknya itu malah bersikeras meminta Taehyung untuk bergabung dalam diskusi. Namjoon meminta maaf karena diskusi liriknya harus menunggu, tetapi Taehyung lebih dari ikhlas untuk itu. Ia selalu senang dapat menyimak banyak pendapat dalam proses pembuatan musik yang memang kompleks. Ditambah, ia mendapatkan masukan ekstra karena ada Hoseok sekarang.

Hoseok memesankan makanan untuk mereka bertiga di akhir diskusi. Taehyung sudah mendapatkan banyak masukan dan isu soal liriknya yang stuck beberapa minggu ke belakang. Hasilnya memuaskan. Masih ada beberapa bagian yang harus ia selesaikan sendirian, namun berkat bantuan kedua seniornya, Taehyung merasa masih bisa ia coba garap tanpa bantuan.

Entah bagaimana mereka berakhir saling bercerita soal pengalaman seks yang memalukan setelahnya. Obrolan tentunya didominasi oleh Hoseok dan Namjoon yang memiliki pengalaman dengan banyak orang. Taehyung lebih menikmati menjadi pendengar yang sibuk memegang perutnya sambil terpingkal-pingkal.

“Taeby kita sih kayaknya pengalamannya mulus-mulus terus, ya?” Hoseok mengerling padanya, memancing.

“Gue yakin Taetae tipe yang kalo main, lebih suka vanilla.” Namjoon menanggapi dengan senyumnya yang jahil.

“Menurut gue nggak juga, Joon. Lo nggak denger apa Jeongguk−ie sama Taehyung−ie kalo udah mulai mirip korban kejambretan?” mendengar kalimat Hoseok, Taehyung mengerang seraya melemparkan satu kentang goreng ke arahnya dan berkata Sembarangan, Bang Hobi!

Pada akhirnya ia bergabung tertawa juga.

“Menurut gue romantis sih, lo berdua ngelepas perjaka buat satu sama lain. Bukan sama orang sembarangan. Dan lo masih awet ampe sekarang,” ujar Namjoon. Taehyung merasa pipinya memanas dan jantungnya berdebar lebih kencang.

“Bener. Udah berapa taun ya, ngomong-ngomong? Tiga ada, ya? Prestasi banget,” timpal Hoseok. “Lo berdua loyal satu sama lain. Gue sering iri sama lo berdua, serius.”

It’s not that deep though, Bang,” tanggap Taehyung. “Kita ‘kan cuma temen tidur iseng aja. Anggaplah kayak … partner buat eksplorasi yang aman? Mengingat kita sama-sama bersih juga.”

Taehyung mengatakannya sembari menunduk dan memotong pretzels-nya menjadi kecil-kecil. Ia tidak sempat memperhatikan kedua abangnya yang berbagi tatapan penuh arti di hadapannya.

Is it, though, Tae?” tanya Namjoon pelan. Taehyung bergeming. Ia menatap Namjoon dan Hoseok bergantian.

“Apa pun itu, selama lo berdua nyaman, kita pasti ada di belakang lo. Tapi kalo emang memungkinkan untuk dibuat lebih dari level nyaman, gue sama abang-abang yang lain, sama Jimin−ie, bakal lebih dukung lagi.”

“Maksudnya, Bang?”

“Anggaplah lo sekarang lagi ada di fase atas awan. Lo ngerasa aman, nyaman, tapi semuanya ngambang. Kayak castle in the sky. Buat bikin dia jadi lebih nyata, ya dibawa aja napak tanah itu istananya.”

“Gue bukan Howl, Bang,” canda Taehyung. Namjoon membalasnya dengan tinjuan pura-pura di lengan atas Taehyung. Mereka paham ke mana maksud kalimat Namjoon berrmuara. Membawa istana di atas awan menapak tanah.

 

Das sind doch alles nur Luftschlösser.

 

“Dalam konteks apa pun, kalo lo ragu, lo bisa liat dari matanya, Tae. Seumur gue idup, mata nggak akan pernah bisa boongin gue,” lanjut Hoseok dengan suara dan senyuman terlembutnya. Satu abangnya itu mengacak rambut ikal Taehyung dengan sayang. Namjoon mengangguk menyepakati.

“Kalo mau contoh, perhatiin aja gimana matanya Bang Seokjin waktu lagi ngeliatin Hobi, Tae.” Celetukan Namjoon membuatnya terkena lemparan bantal sofa tepat di muka. Hoseok bersungut-sungut mengancam akan pergi dari ruangan dengan wajah yang luar biasa merah.

Taehyung tak ayal bergabung dengan Namjoon. Tertawa keras sampai perutnya sakit. Menikmati bagaimana Hoseok salah tingkah dan berteriak-teriak agar kedua orang di ruangan itu menghentikan rundungannya.

Bang Hoseok yang kasmaran terlihat sangat manis.

Saat keluar dari RKive, Taehyung segera memberikan pesan singkat pada Jeongguk. Menawarkan diri untuk menjemputnya di Itaewon, tempat Jeongguk dan teman-teman dekatnya makan malam. Taehyung hampir berlari menuju ke lantai parkir ketika Jeongguk mengiakan tawarannya.

Kim Taehyung tiba-tiba rindu menatap dua mata bola Jeongguk yang berkilauan selayaknya ringkasan galaksi.

Mengapa tiba-tiba Taehyung mellow begini?




 

*

 

 

 

Intervention number four.

 

“Gue baru liat lo hari ini,” adalah kalimat yang diutarakan Yoongi pada Jeongguk saat keduanya bertemu di ruang tengah pada hari libur.

Yoongi sedang menonton National Geographic, edisi khusus kehidupan bayi anjing laut di Kutub Utara. Jeongguk memutuskan bergabung karena ia pikir abangnya yang satu itu sedang menonton serial baru Netflix—rekomendasi film dari Yoongi selalu cocok dengannya—saking seriusnya. Ternyata ia sedang menonton kondisi indukan singa laut yang menangis karena terpisah dari anaknya. Pantas saja wajahnya seperti sedang sembelit.

Ternyata ada upaya menahan air mata di sana.

Cukup ajaib kalimat Yoongi tadi terucap untuk Jeongguk karena biasanya, Yoongi dan Jiminlah yang keluar kamar paling sore—kadang malam—saat ketujuh manusia di apartemen itu tidak memiliki kegiatan dan tidak berniat untuk pulang ke rumah orang tua. Kalimat itu terdengar lebih “normal” diucapkan untuk Yoongi atau Jimin biasanya.

“Mm. Nemenin Tae dulu sambil cerita-cerita,” jawab Jeongguk tak acuh. Ia mengambil tempat duduk di samping Yoongi, menyimpan lima onigiri di atas sofa antara mereka duduk.

“Dari semalem?” tanya Yoongi tanpa melepaskan pandangan dari adegan anak anjing laut yang ditemukan tim penyelamat. Dalam hati ia melanjutkan Gue ampe khawatir lo berdua kena asma dadakan karena semaleman yang kedengeran bunyi megap-megap kenceng banget saut-sautan.

“He-em.”

“Lo berdua udah pacaran belum?”

“Abang jangan ngaco. Udah dibilang ‘kan, kita berdua cuma kasual doang. Jadi tempat sampah satu sama lain doang.”

“Gguk, gue nggak mau bawa-bawa umur awalnya, tapi kayaknya harus sih ini. Gue juga nggak tau Bang Jin udah ngomong ke elo berdua ato belum.”

“Bang Jin pernah bilang kalo gue kasualan sama dia, dia udah block gue dari kapan tau.”

Exactly.” Yoongi mengangguk menyetujui sebelum melanjutkan, “You’re the worst one night stand partner ever.

“Jelasin. Gue nggak paham, Bang.”

“Jeongguk−ie, temen seks kasual nggak akan ada buat cuddling setiap kelar, apalagi stay ampe pagi. Nggak ada bikinin sarapan, apalagi cemburu,” jelasnya. Ada penekanan yang nyata di akhir kalimat. Membuat Jeongguk menelan ludahnya berat.

Booty call disebut booty call karena emang nggak ada tujuan lain selain seks. Kalo lanjut lain-lain mah namanya konsultasi,” Yoongi menghela napas sebentar, “or you guys just simply dating.

“Nggak, bentar, Bang. Gue nggak bisa nangkep.” Jeongguk menginterupsi. Sekarang tubuh keduanya sudah saling berhadapan—dipisahkan lima onigiri di tengah—mengindikasikan keduanya memberikan perhatian mereka satu sama lain.

“Maksudnya, gue nggak paham gimana cara gue bisa biarin Tae bobo sendirian setelah kita selesai. Gue nggak meluk dia, dia nggak meluk gue? Nggak ada ciuman selamat pagi? Atau sarapan sambil pelukan di atas ranjang? Ngebiarin dia kencan sama orang lain? Bang, gue bukan psikopat.”

“Tentu aja lo bukan. Lo cuma punya sesuatu yang lebih ke Taehyung dan sesuatu itu cuma lo sama dia yang ngerti, bukan gue.”

“Iya, gue paham. Tentu aja lo nggak akan ngerti kalo Tae sukanya di atas dan reverse soalnya—”

“Bukan posisi anu maksud gue—ya Tuhan, di mana Namjoon atau Jimin di saat gue butuh?” Yoongi menghela napas lalu membuka satu bungkus onigiri kelewat bertenaga. Lalu ia melanjutkan kalimatnya lagi.

“Lo boleh tanya abang-abang lo di sini semua yang udah berpengalaman hook up sama orang random. Setelah kelar, ya lo pisahin urusan ranjang lo sama yang lain-lain. Ato bener-bener nggak kontak lagi sekalian. Dibikin simpel. Karena urusannya sesederhana titit lo hepi aja yang jadi indikator. Ada kompartemennya masing-masing. Di kasus lo sama Taehyung, gue yakin pasti bakal kecampur-campur juga, apalagi hubungan kita udah saling deket dan ngertiin satu sama lain hampir sepuluh taun. Agak blur dikit ya wajar. Tapi ada bedanya, Jeongguk−ie. Lo pasti ngerasa.”

Mendengar penuturan Yoongi yang panjang dengan suaranya yang selalu stabil—walau abangnya itu terlihat kelewat lapar untuk seseorang yang sedang menyantap onigiri—membuat Jeongguk terdiam.

Ia teringat obrolannya dengan Jimin. Juga kalimat-kalimat tersirat yang diutarakan Seokjin padanya di waktu lalu.

So, we’re dating without realizing it … wow.” Mendengar Jeongguk yang bergumam untuk dirinya sendiri membuat Yoongi ingin meninju sesuatu dan berteriak AKHIRNYA!! sekencang-kencangnya.

“Jeongguk−ie, gue bangun tidur cariin sedih banget lo ilang.”

Tiba-tiba Taehyung dengan wajah yang masih mengantuk menghampiri mereka berdua. Suara beratnya semakin dalam dan terdengar serak. Seksi sekali. Membuat Jeongguk refleks mengulurkan tangannya untuk diraih Taehyung sebelum lelaki Kim itu mengambil duduk di antara dua orang di atas sofa—Yoongi buru-buru mengamankan onigiri yang tersisa ke atas meja.

Seperti sesuatu yang natural, Taehyung meluruhkan tubuhnya di sisi kiri dada Jeongguk. Ia mengecup pipi Jeongguk, dilanjut mengecup punggung tangan yang lebih muda sebelum mengaitkan jemarinya di sana. Jeongguk mengecup puncak kepala Taehyung sebelum menjawab Singa laut nyasar ketika Taehyung bertanya dengan bisikan Bang Yoongi nonton apa, Jeongguk−ie?

Keduanya menyamankan posisi masing-masing. Seperti satu kesatuan. Saat itulah kenyataan sepertinya baru menghantam Jeongguk.

Mereka benar-benar berakting seperti sepasang kekasih.

Tiba-tiba kedua pipinya terasa sangat panas. Jeongguk kemudian menoleh takut-takut ke arah Yoongi. Abangnya itu sedang menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan yang lembut.

Yoongi melemparkan senyum penuh sayang padanya.

Jeon Jeongguk menyadari, dirinya sudah terjebak di dalam labirin menyenangkan ini entah sejak kapan.

Ia tidak menyesal.

“Gguk, mau gue suapin onigiri, nggak?” tawar Taehyung sambil mendongak. Bulu mata panjangnya mengerjap malas.

Indah sekali.



 

 

*



 

 

“Gguk, gue mau tanya satu. Tapi kalo lo nggak nyaman, lo boleh nggak jawab dan kita lupain aja pembicaraan malem ini dan kita balik kayak biasa lagi.”

Sore itu, dengan banyak sekali pertimbangan—juga dengan ancaman Jimin yang menyeramkan—Taehyung membulatkan tekadnya untuk berbicara dengan Jeongguk. Mengenai penjelasan status, mungkin. Mengenai opininya akan hubungan mereka berdua selama ini, yang pasti. Mengutip kata sahabatnya, mereka bukan bocah umur belasan lagi yang tidak seharusnya hobi menunda-nunda masalah dan memeliharanya demi kondisi nyaman yang fana.

Maka, di sinilah ia sekarang. berdiri di tengah kamar Jeongguk dengan pemilik kamar yang menatapnya penuh tanya, juga sedikit khawatir. Mungkin wajah Taehyung sedikit kehilangan warna. Karena demi apa pun, isi perutnya seperti ingin dimuntahkan keluar semua.

“Taeby … lo oke, ‘kan?” Bergerak dengan mode autopilot, lelaki yang tengah memakai setelan piama berupa kaus pendek dan celana pendek bertema Jujutsu Kaisen pemberian Taehyung itu mendekat ke arahnya. Ia menatap yang lebih tua dari atas ke bawah, kembali lagi ke atas, dan berulang. Satu tangannya mengusap siku Taehyung, satu tangan lainnya mengusap pipi, kening, pundak, pinggang, di mana saja, dalam upaya memeriksa.

“Lo agak pucet.”

“Gue oke, tenang aja,” jawab Taehyung setelah berdeham. Perkataan kakak-kakaknya sepertinya sudah benar-benar masuk ke dalam kepalanya sehingga gestur yang biasa dari Jeongguk ini mampu membuat kedua pipinya memanas.

Ia menyadarinya sekarang.

Jeon Jeongguk memang manis sekali.

Selalu manis.

Berusaha membawa dirinya kembali menatap bumi, Taehyung berdeham lagi. Lebih keras kali ini. Ia mendongakkan wajah untuk menatap lurus ke lawan bicaranya.

Ya Tuhan, mata besarnya Jeongguk bulat sekali. Imutnya …. 

“Gguk, what are we?”

Akhirnya.

Pertanyaan keramat untuk seluruh jemaat friends with benefits di seluruh dunia itu akhirnya meluncur juga. Taehyung merasa buku-buku jarinya kian memutih karena ia mengepal telapak tangannya sekuat tenaga kini. Jimin akan habis menggodanya jika melihatnya sekarang, menuduh Taehyung sedang melakukan pameran otot biseps solidnya dengan sengaja.

“Lo nggak akan suka jawaban gue, Tae.”

Oh.

“Kenapa tuh?”

“Kata Bang Jin sama Bang Yoongs, gue the worst one night stand partner ever.”

“Jangan didengerin, ngaco banget mereka berdua. Lagian kalo iya juga, lo bukan partner tidur gue semalem doang kali, Gguk. Beratus-ratus malem.” Mendengar jawaban Taehyung yang santai—mungkin terdengar bercanda namun Jeongguk menjadi lebih tenang dibuatnya—Jeongguk dapat melemaskan otot-otot bahunya.

So … about us? I don’t know, Tae,” jawab Jeongguk dengan sepasang mata bergemerlapan. Berbanding terbalik dengan Taehyung yang sekuat tenaga memasang wajah biasa-biasa saja.

“Gue nggak bisa pasang label buat kita berdua tanpa kesepakatan, ‘kan?” Taehyung menggumamkan Ah pendek sambil mengangguk-angguk mengerti.

But for me, I’m yours, Tae,” ujar Jeongguk lagi. “From the very first time. Always have, always will.” Senyum Jeongguk merekah ketika mengucapkannya. Lalu lelaki itu menggaruk tengkuknya yang sepertinya tidak gatal. Seperti anak kecil berukuran besar.

“Sori kedengerannya kayak bullshit. Padahal kemarin-kemarin gue udah latihan ngomong depan kaca tuh kayaknya keren,” lanjut lelaki yang lengan kanannya dipenuhi tato itu sambil memamerkan giginya dan menunduk.

Di hadapannya, Taehyung mengerjap-kerjap. Sepasang matanya panas. Ia mengantisipasi jawaban I don’t know dan sama sekali tidak untuk I’m yours. Namun, lanjutan kalimat terakhir Jeongguk dan gesturnya yang begitu rikuh membuatnya tertawa juga.

Taehyung merengkuh pinggang yang lebih muda untuk mendekat lalu mencium bibir favoritnya di dunia. Ia dapat merasakan Jeongguk mengembuskan napas lega di tengah ciuman. Keduanya melangkah tak mau pisah sampai ke pinggir ranjang dan berakhir bergulingan di atas tumpukan bantal.

So, you’re … mine now?” tanya Taehyung. Senyum sama sekali tidak mau meninggalkan bibirnya. Perutnya terasa diaduk. Tubuhnya terasa ringan. 

Rasanya terlalu kasmaran.

Kedua lengannya menahan tubuh untuk tidak menindih Jeongguk. Walau pemuda Jeon itu sekarang terlihat seperti bersedia diapakan saja—termasuk ditindih.

I am.” Jeongguk menjawab sambil merapikan rambut-rambut nakal yang menutupi mata indah Taehyung di atas wajahnya. Tatapannya begitu menyejukkan.

“Gombalnya najis banget.”

“Iya emang,” Jeongguk tertawa. Tidak ada upaya untuk mengelak sama sekali. Wajahnya kemerahan menggemaskan. Kedua telapak tangannya tidak berhenti mengusap pinggang Taehyung.

“Gue seneng lo punya gue,” komentar Taehyung pada akhirnya. Ia mengecup dahi Jeongguk perlahan. Jeongguk membalasnya dengan satu kecupan di dagu yang lebih tua.

“Sipp. Seneng aja terus, Tae. Jangan sedih-sedih sama gue. Guenya udah siap mau diapain aja kok sama lo. Mau disayang-sayang, ayo. Diajak berantem juga boleh, asal jangan keseringan.”

Alright, Lover Boy.

“Lo nggak mau bilang ‘I’m yours too’ gitu ke gue? Nangis nih.” Jeongguk memasang wajah merajuk. Taehyung mencubit hidungnya, membuat kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri seperti boneka.

“Enggaklah, ngapain?” Taehyung tergelak ketika Jeongguk menggelitik pinggangnya dari kedua sisi sembari mendesis Jahat banget anaknya Bapak Kim, sumpah!

I’m my own person and so are you,” ujar Taehyung. Ia menelusuri tulang pipi Jeongguk dengan pinggiran telunjuknya. Jeongguk beberapa kali terpejam, menikmati sentuhan manusia favoritnya.

“Lo boleh sayang sama gue dan lo tetap elo, Jeon Jeongguk. Gue juga sama. Biar kita saling sayangnya pake cara masing-masing. Saling jaganya pake cara masing-masing juga. Bukan karena kepaksa ato karena cuma punya satu motif aja. Ampe tua. Ato ampe lo bosen sama gue deh minimal.”

Mendengarnya, tak ayal membuat Jeongguk tersipu malu—ia masih sempat menyanggah, Lo kira gue apaan, pake bosen segala sama lo!? Kim Taehyung secara tidak langsung mengungkapkan perasaan bahwa dirinya menyayangi Jeongguk juga. Dengan cara yang sama seperti bagaimana Jeongguk menyayanginya.

Sudah gila.

Untuk menutupi rona wajahnya yang semakin masuk ke gradasi merah muda paling gelap, Jeongguk segera menarik tengkuk Taehyung mendekat dan mencium bibir lelaki yang sedang mengungkungnya itu penuh tekad. Ciumannya segera dikembalikan Taehyung dengan tak kalah semangat. Tak butuh waktu lama untuk keduanya menemukan ritme tubuh masing-masing untuk meleleh dalam sentuhan satu sama lain.

Seperti biasa.

“Tae …,” gumam Jeongguk di sela-sela napas yang susah—Taehyung sangat sibuk membuat tanda di lehernya dengan pinggul yang bergerak sangat kurang ajar.

“Mm?”

Love it when you talk smart,” Jeongguk mengatakannya dengan kilatan cahaya lain yang terpancar dari kedua bola mata Bambi-nya. “Gue jadi sange. Yuk?” Jeongguk memperlihatkan wajah seperti Yeontan umur delapan bulan yang meminta untuk diajak jalan-jalan sore. Taehyung tak kuasa untuk tidak terbahak.

“Emang bisa-bisanya ya, lo?”

Protes Taehyung terdengar selayaknya omong kosong. Karena pada detik berikutnya, ia dengan sembrono melepaskan celananya, celana Jeongguk, lalu melemparkannya ke sembarang tempat. Keduanya kemudian tidak berhenti cekikikan pada setiap sentuhan dan lumatan.

Untuk Taehyung dan Jeongguk, Yuk? kali ini rasanya berbeda.




Bertujuh Group   6:10 PM

Bang Namjoon: Airpods time, guys.

Bang Namjoon: Full volume now.

Bang Namjoon: Wait, airpods gue manaaaaa???

 

*