Work Text:
Jalanan sebuah kompleks perumahan pagi itu terlihat masih sangat sepi, hanya sebuah mobil yang melaju, itu pun hanya dari sebuah rumah dan berhenti di rumah yang tak jauh di dekatnya. Sepasang kaki berbalut sepatu Converse high keluar dari mobil itu dan menginjak aspal di depan sebuah rumah. Kaki-kaki jenjang itu melangkah dengan langkah terburu memasuki rumah yang dituju.
Tanpa perlu menekan bel atau mengetuk pintu, pemuda itu langsung masuk ke dalam rumah. Sudah menjadi kebiasaan sejak belasan tahun yang lalu, pun ia sudah menganggap rumah itu rumah keduanya.
“Taehyung−ie!” seru wanita paruh baya yang gurat kecantikannya tak lekang oleh usia.
“Pagi, Mama.” Pemuda yang dipanggil Taehyung−ie itu lantas mencium tangan wanita yang tadi menyapanya.
“Hari ini giliran pakai mobil kamu, ya?” tebak wanita itu.
Taehyung memberikan sebuah anggukan, “Iya, Ma. Guki udah bangun belum?”
“Masih molor tuh dia. Sana ke atas, bangunin dia.” Ya, wanita paruh baya itu adalah ibu dari pemuda yang dipanggil Guki oleh Taehyung.
“Oke, Ma. Taehyung ke atas dulu, ya.”
Taehyung mendaki satu-persatu anak tangga melingkar yang ada di rumah itu dengan semangat. Anak tangga rumah ini memang banyak dan melelahkan, namun Taehyung sudah terbiasa, sebab dari kecil hingga sekarang ia telah menaiki dan menuruni tangga itu hingga tak terhitung jumlahnya. Bisa dibilang, ia telah menaklukkan anak tangga itu.
Sampailah Taehyung di depan pintu kamar yang terdapat tulisan ‘JK’ lumayan besar sebagai tempelan di pintu. Ia langsung memutar knopnya, hafal bahwa si pemilik kamar tidak pernah mengunci kamarnya.
Bola mata Taehyung memutar kesal saat mendapati si pemilik kamar masih menenggelamkan diri di dalam selimut tebal hingga hanya surainya saja yang terlihat. Taehyung bergegas menuju tirai jendela dan membukanya lebar agar cahaya mentari masuk ke seluruh penjuru kamar.
“Morning, Jeongguk! Rise and shine!” seru Taehyung sambil melebarkan tirai hingga ke ujung.
Tak ada pergerakan sama sekali dari pemuda yang dipanggil Jeongguk. Menghasilkan hembusan napas sebal dari Taehyung. Cahaya matahari sepertinya tidak ampuh untuk membangunkan Jeongguk lantaran pemuda itu terbungkus selimut dengan rapat. Maka, Taehyung pun menyingkap seluruh selimut yang menutupi tubuh Jeongguk.
“Heh, bangun, Guki!”
Udara pagi seketika menerpa tubuh atas Jeongguk yang kini tersingkap. Jeongguk mempunyai kebiasaan tidur tidak memakai atasan apa-apa alias setengah telanjang. Sehingga udara yang lumayan dingin langsung bertemu dengan kulitnya.
Merasa belum ada pergerakan berarti, Taehyung pun melempar dirinya ke sisi kasur samping Jeongguk yang kosong. Membuat guncangan kecil di ranjang Jeongguk. Kemudian berbaring dalam posisi setengah tengkurap. Jeongguk menggeliat dalam tidurnya, merasakan seseorang mengusik tidur nyenyaknya.
“Guk, bangun, ih! Dasar kebo!” Taehyung mengguncang bahu Jeongguk.
Jeongguk kembali menggeliat sekaligus meregangkan tubuhnya dengan erangan keras. Menggosok pelan kedua matanya agar terbuka sempurna.
“Masih pagi buta, Tae. Ngapain sih bangunin aku? Masih ngantuk berat,” ujarnya lirih, suara rendah yang jarang terdengar itu kini keluar sesaat setelah bangun tidur.
“Pagi buta apaan? Matahari udah bersinar terang banget tuh.” Taehyung mendorong tubuh Jeongguk hingga terguling menghadap jendela yang terbuka.
“Ya terus kenapa kalau matahari sudah bersinar? Aku harus fotosintesis gitu?” Jeongguk kembali berguling menghadap ke sisi Taehyung di belakangnya.
Taehyung tertawa dibuat-buat. “Nice joke. Sekarang mending kamu bangun, mandi, sarapan, terus kita berangkat kuliah. Dosen aku killer, Guk. Jangan sampai telat.”
Alih-alih bangun dan melakukan apa yang disuruh Taehyung, Jeongguk justru dengan jahil menarik tubuh Taehyung ke dalam pelukannya. Cukup lama dan erat hingga Taehyung memberontak protes.
“Guk, lepasin ih! Sesek akunya. Sadar diri, badan kamu kayak Hulk tau nggak?” kata Taehyung, mencoba melepaskan diri dari pelukan Jeongguk.
Jeongguk mengabaikannya, netranya kembali terpejam. Hanya bergumam tidak jelas dan justru mempererat pelukannya, kepalanya pun malah ia posisikan di ceruk leher Taehyung. Jeongguk bahkan sampai menggesekkan hidungnya di leher Taehyung seolah mencari kenyamanan. Taehyung bergidik ngeri. Bisa ia rasakan hembus napas Jeongguk menerpa lehernya.
“Guki, lepasin. Napas kamu bau!” Taehyung kembali meronta dalam pelukan Jeongguk.
“Berisik banget sih, pagi-pagi gangguin orang tidur.” Jeongguk terkekeh dan kian iseng mengerjai Taehyung. Dihembuskannya dengan sengaja napasnya di depan wajah Taehyung. Sebuah tamparan kecil mendarat di pipi Jeongguk.
“Sumpah, kamu ngeselin banget sih, Guk! Pantes enggak punya pacar. Kamu jorok, napas bau, iler kemana-mana. Ew!” Taehyung kesal, masih berusaha melepas diri dari Jeongguk namun gagal.
“Enggak apa-apa enggak punya pacar. Yang penting fans aku banyak, lagian kalo aku punya pacar ntar kasian fans-ku pada patah hati dan nangis darah semua,” balas Jeongguk, kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Taehyung.
“Idih, PD amat. Enggak sampe nangis darah juga kali.” Taehyung memutar bola matanya, perlawanannya untuk keluar dari pelukan Jeongguk terhenti sementara.
“Lagian ya, kasihan kamu kalo aku punya pacar, nanti kamu enggak punya temen berangkat ngampus bareng, enggak punya temen main soalnya aku sibuk pacaran.” Jeongguk semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Taehyung.
Hal itu membuat Taehyung merasakan sesuatu keras yang mengganjal di pahanya. Ia berteriak geli dan kembali memberontak.
“Guki mesum banget sih?!” teriak Taehyung.
“Apa sih, Tae? Tadi ngatain jorok, bau, ileran, sekarang dikatain mesum.” Jeongguk mengernyitkan dahi.
“Itu kamu berdiri anjir! Kena pahaku.” Taehyung memasang wajah panik sekaligus geli.
“Oh, biasa aja kali. Morning wood itu rutin buat cowok. Emangnya kamu enggak pernah?”
“Ya pernah, tapi enggak tiap hari juga. Tadi malem kamu pasti mimpi jorok, iya, ‘kan? Ngaku aja!” tuduh Taehyung.
“Ngawur dih kalo ngomong,” sahut Jeongguk.
“Udah deh cepetan mandi, dosenku killer banget, kalo telat nilaiku dikurangi.” Taehyung mendorong tubuh Jeongguk dan akhirnya sahabatnya itu mau merenggangkan pelukan, melepaskan Taehyung dari pelukannya.
***
Perjalanan menuju kampus diisi keheningan pada sebagian besar waktu, lantaran Jeongguk masih sedikit mengantuk, ia sesekali menguap. Beruntung hari ini yang menyetir adalah Taehyung. Jeongguk bisa tidur sebentar di perjalanan.
"Guki, udah mau sampai. Bangun." Taehyung menepuk bahu Jeongguk sebanyak dua kali.
Mobil mulai memasuki gerbang kampus yang sudah ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi. Tidak seperti saat di kamar tidur tadi, kali ini Jeongguk lebih mudah dibangunkan. Ia meregangkan ototnya sebentar dan melepas sabuk pengaman kala Taehyung mulai memarkirkan mobil.
"Jangan lupa nanti habis kuliah latihan band, " ujar Taehyung, mencabut kunci dan melepas sabuk pengaman.
"Oke. Nanti aku chat kabarin kamu kalo sudah selesai." Jeongguk memberi anggukan singkat. Kemudian membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar. Segera berjalan memutari mobil hingga sampai di sisi pintu mobil Taehyung. Sebelum Taehyung sempat membuka pintunya, Jeongguk terlebih dahulu membukakan pintu untuknya.
Parkiran mobil pagi itu cukup ramai, sontak saja aksi itu mengundang perhatian mahasiswa lain. Bisikan-bisikan penasaran saling tertukar di telinga mahasiswa lain yang melihat.
"Guk, jangan gitu. Malu diliatin anak-anak lain." Taehyung mengerucutkan bibirnya.
"Bilang makasih kek. Kok malah malu sih?" Jeongguk berdecak tidak peduli.
"Dikira pacaran," gumam Taehyung amat lirih.
"Hah? Apa?" Jeongguk tidak menangkap gumaman lirih Taehyung tadi.
"Nggak apa-apa. Oiya, Mingyu sama Yugyeom belum aku kasih tau tentang latihannya. Nanti aku chat aja deh." Taehyung mengunci mobilnya, kemudian mulai berjalan menuju koridor kelasnya.
"Nggak usah chat. Aku aja yang kasih tau mereka." Jeongguk berjalan beriringan di samping Taehyung.
"Oke. Kamu ngapain lewat sini? Kelas kamu di koridor sana, Guki." Taehyung menunjuk sebuah koridor yang berlawanan arah.
"Eh, iya deng. Lupa anjir." Jeongguk menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian berbalik arah ke koridor yang dimaksud Taehyung.
"Bego. Sampe ketemu nanti!" Taehyung mempercepat langkahnya untuk menghindari keterlambatan.
"Oke!" Jeongguk berseru sambil berlari kecil menyusuri koridor.
Mereka berpisah di koridor kampus pagi itu. Taehyung menuju ruang kelas program studi Manajemen, dan Jeongguk menuju ruang kelas program studi Ilmu Ekonomi. Keduanya berada di satu fakultas yang sama, yaitu Fakultas Ekonomi & Bisnis di Universitas Konkuk. Empat semester telah selesai ditempuh, kini Taehyung dan Jeongguk tengah menempuh semester lima.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 14.30 saat Jeongguk, Taehyung, Mingyu, dan Yugyeom berkumpul di studio musik yang disediakan oleh fakultas mereka. Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom tergabung dalam sebuah band bernama Stargazer—yang merupakan salah satu band terpopuler di Universitas Konkuk. Latihan band siang ini merupakan latihan rutin yang memang mereka jadwalkan setiap minggunya. Walaupun tidak ada tawaran untuk manggung dan mengisi acara, mereka rutin latihan setiap dua kali seminggu. Tujuannya untuk terus menjaga performa, meningkatkan skill, dan mengasah kemampuan mereka. Selain itu, untuk mempererat bonding di antara para personelnya.
Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom mulai mengambil posisi masing-masing. Jeongguk berdiri di belakang standing mic dengan gitar di genggaman tangan, Mingyu berdiri di samping agak belakang Jeongguk dengan gitar bass terkalung di lehernya, dan Yugyeom duduk di belakang sebuah drum.
Latihan berjalan dengan baik dan lancar, sesekali bertanya pendapat Taehyung yang menemani sambil duduk mengunyah Pocky stroberi di pojok ruangan. Taehyung selalu memberi pendapat dengan cukup adil dan objektif, juga memberi masukan jika dirasa kurang. Ia memang bukan ahlinya, namun tidak ada salahnya memberi pendapat dari sudut pandang sebagai audiens. Terkadang, pendapat dan masukan Taehyung pun sangat bermanfaat bagi mereka.
"Kasih adlibs sama improvisasi dikit gitu, Guk, pas bagian instrumennya doang yang main. Atau kamu bisa interaksi kecil sama audiens," saran Taehyung saat Jeongguk meminta pendapatnya setelah selesai menampilkan satu judul lagu.
"Oke, saran yang bagus," balas Jeongguk.
"Interaksinya nggak harus interaksi fisik. Mungkin bisa kayak kata-kata sapaan, senyum, eye contact, wink, atau lambaian tangan ke penonton," tambah Taehyung.
"Flying kiss juga boleh, Guk," kata Mingyu.
"Nah iya, itu juga boleh," Taehyung menyetujui.
"Terlalu flirty nggak sih kalo kasih flying kiss?" tanya Jeongguk.
"Halah, nggak apa-apa, sekali-kali doang," Yugyeom berucap.
"Kecuali ada hati yang lagi lo jaga." Mingyu terbahak, diikuti oleh Yugyeom kemudian.
"Itu masalahnya, ada hati yang lagi gue jaga. Tapi orang yang gue jaga hatinya nggak tau kayaknya," ujar Jeongguk.
"Ya udah berarti nggak apa-apa kasih flying kiss. 'Kan nggak tau orangnya." Taehyung mengedikkan bahunya.
"Iya, Tae, orangnya nggak tau. Jadi, nggak apa-apa aku kasih flying kiss ke penonton?" tanya Jeongguk.
"Nggak apa-apa sih menurutku. Hitung-hitung bikin seneng fans kamu," jawab Taehyung santai.
Haduh, dasar nggak peka. Batin Jeongguk.
Waktu sudah memasuki sore, latihan dilakukan sekali lagi. Semua pendapat dan masukan dari Taehyung tadi dilaksanakan oleh Jeongguk, mulai dari menambah adlibs dan improvisasi, serta kata sapaan untuk para audiens. Saat dirasa semuanya sudah cukup dan bagus, mereka mengakhiri latihan sore itu. Membereskan dan mengembalikan instrumen musik ke tempat semula.
"Ke foodcourt yuk, gue laper nih," Mingyu mengelus perutnya yang dari tadi sudah berbunyi.
"Boleh. Aku juga laper." Taehyung menyetujui, begitupun dengan Jeongguk dan Yugyeom.
Sesampai di foodcourt kampus, mereka memilih tempat duduk yang masih kosong. Kemudian, Yugyeom pergi ke sebuah stand makanan yang menjual spaghetti aglio olio. Ia memesan empat porsi untuknya dan juga ketiga temannya. Yugyeom memesan varian yang pedas dan terdapat irisan cabai. Lupa bahwa Taehyung tidak menyukai pedas.
Semuanya sudah terlambat, Yugyeom baru menyadarinya saat kembali dari memesan dan duduk di tempat yang telah dipesan bersama dengan pelayan yang membawa empat porsi spaghetti aglio olio.
"Duh, sorry banget, Tae. Gue beneran lupa kalo lo nggak bisa makan pedes." Yugyeom meminta maaf atas kelalaiannya.
"Yugi ih, mana cabenya banyak banget." Taehyung merengek kesal saat melihat banyaknya irisan cabai di piringnya. Yugyeom hanya menyengir merasa bersalah.
"Udah nggak apa-apa. Sini aku pisahin semua cabenya." Jeongguk mengambil piring Taehyung dan mulai memisahkan semua irisan cabai yang ada di piring itu satu persatu dengan sabar.
"Nih, udah. Biji cabenya juga udah aku buang." Jeongguk menyodorkan sepiring spaghetti yang sudah bersih tanpa potongan cabai.
"Makasih, Guki." Taehyung yang semula kesal, kini tersenyum dan berterima kasih kepada Jeongguk.
Seiring berjalannya waktu, empat piring berisi spaghetti itu perlahan mulai kosong, berpindah tempat di lambung keempat pemuda. Helaan napas lega dan sendawa silih berganti terdengar. Sembari menunggu agar makanan turun dan perut tidak begah, mereka mengobrol—lebih tepatnya mengulas balik perjalanan Stargazer dari awal hingga bisa di titik ini.
Universitas Konkuk mempunyai 18 fakultas, setiap fakultas memiliki band atau penyanyi solo andalannya masing-masing. Stargazer berhasil menjadi salah satu band paling terkenal di antara band maupun soloist dari fakultas lain di Universitas Konkuk. Meski baru terbentuk selama kurang dari satu tahun, mereka telah berhasil menggaet banyak penggemar, mulai dari kalangan mahasiswa Konkuk, maupun mahasiswa dari luar Konkuk. Bahkan, beberapa pelajar SMA pun banyak yang mengetahui dan menggemari Stargazer.
Beberapa lagu yang diciptakan oleh Stargazer sangat relate dengan kehidupan para mahasiswa, selain itu lirik lagunya mempunyai ciri khas yaitu puitis dan sering kali mengandung makna ganda yang membuat penasaran. Genre yang dimiliki pun beragam, mulai dari pop, klasik, R&B, dan lainnya. Tak heran jika banyak yang menjuluki Stargazer sebagai band yang versatile. Selain pandai dalam mencipta lagu, Stargazer juga piawai dalam meng-cover lagu-lagu dari musisi lain. Mampu menampilkan lagu lain dengan gaya dan pembawaannya sendiri.
"Dulu gimana sih kok lo berdua bisa nemuin gue?" tanya Jeongguk saat mengingat-ingat bagaimana Stargazer bisa terbentuk pada awalnya.
"Gue sama Mingyu kan udah kenal dan temenan dari SMA. Di SMA juga udah pernah nge-band juga. Terus pas kuliah pengen lanjut lagi, tapi nggak ada vokalis," jelas Yugyeom, di sela menghabiskan jus mangganya.
"Kebetulan waktu itu gue sama Yugi denger lo nyanyi." Mingyu menambahkan.
"Oh, pas gue nyanyi buat Taehyung bukan sih?" Jeongguk mulai mengingat.
"Iya, di taman deket gazebo. Pas sore-sore habis nungguin aku kelas pengganti," papar Taehyung.
"Nah iya, untung banget waktu itu gue sama Yugi lewat," sahut Mingyu.
"Aku nyanyi apa sih waktu itu, Tae? Kayaknya lagu punya Ed Sheeran deh." Jeongguk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya. Perfect-nya Ed Sheeran. Geli banget aku kalo inget." Taehyung merinding saat mengingat bagaimana Jeongguk menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan, menatap wajah Taehyung tanpa berkedip, dan gestur layaknya sepasang kekasih. Taehyung benar-benar geli dan malu saat itu.
Jeongguk terbahak, ia memang hobi menjahili Taehyung sampai sahabatnya itu malu habis-habisan. Menyanyikannya lagu-lagu bertema cinta yang terdengar sangat menggelikan dan cheesy bagi Taehyung.
"Iya anjir, waktu itu nyanyinya totalitas banget, menghayati gitu pokoknya. Sampai gue langsung yakin, nih orang kayaknya cocok deh jadi vokalis. Langsung deh gue sama Mingyu nawarin lo buat gabung band kita." Yugyeom menambahkan dengan intonasi menggebu-gebu.
Sebuah kebetulan yang sangat berpihak pada Mingyu dan Yugyeom, ternyata Jeongguk satu kelas dengan mereka di mata kuliah konsentrasi. Sehingga, Jeongguk yang memang gemar bernyanyi, langsung mengiyakan ajakan untuk bergabung dengan Mingyu dan Yugyeom dalam sebuah band.
Mingyu dan Yugyeom juga turut berkenalan dengan Taehyung. Lama kelamaan mereka menjadi dekat dan akrab karena Taehyung sering menemani dan melihat mereka latihan.
Karena kerja keras, keuletan, dan gencarnya promosi di platform media sosial, serta ikut mengisi acara kecil di lingkup fakultas, nama Stargazer kian dikenal oleh mahasiswa Fakultas Ekonomika & Bisnis. Tawaran untuk mengisi acara seperti dies natalis berbagai jurusan di FEB dan festival yang diadakan beberapa UKM di fakultas mulai ramai berdatangan.
Pada saat itulah Stargazer merasa membutuhkan kehadiran seorang manajer untuk membantu mengelola jadwal dan pemasukan yang didapat. Mengetahui bahwa Taehyung adalah mahasiswa program studi Manajemen, maka tanpa ragu mereka meminta Taehyung untuk menjadi manajer Stargazer.
Kira-kira beginilah percakapan mereka dahulu ketika membujuk Taehyung agar mau menjadi manajer Stargazer;
"Please dong, Tae. Jadi manajer kita, ya?" pinta Jeongguk saat itu.
"Iya, lo kan anak Manajemen, Tae." Mingyu menambahkan.
"Mentang-mentang aku anak Manajemen terus bisa jadi manajer kalian gitu?" Taehyung memicingkan matanya, heran dengan pemikiran Jeongguk dan kawan satu band- nya.
"Ya kan lo punya basic dan ilmunya, Tae." Yugyeom turut membujuk.
"Betul. Itung-itung buat praktek dan terapin ilmu yang udah kamu dapetin." Jeongguk terus meyakinkan.
"Latihan jadi manajer, Tae," ujar Mingyu.
"Anggep aja magang," imbuh Yugyeom.
"Tapi kalo aku nggak bisa gimana?" Taehyung tentu saja paling khawatir dengan hal ini. Ia takut mengecewakan teman-temannya.
"Pasti bisa. Kamu kan udah masuk semester 3, udah lumayan lengkap teori yang kamu dapet." Jeongguk tak menyerah.
"Bener tuh. Tinggal praktekin aja," tambah Yugyeom.
"Ayo lah, Tae, please. Nanti hasilnya juga dibagi berempat kok." Mingyu mulai memasang wajah melasnya.
"Tuh, lumayan 'kan uangnya bisa buat beli stroberi." Jeongguk menjentikkan jarinya, gestur yang menunjukkan seolah ide menjadi manajer adalah ide brilian untuk Taehyung.
"Beneran kalian percaya sama aku buat jadi manajer?" Taehyung mengangkat kedua alisnya ragu, menatap Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom satu persatu.
"Beneran, Tae. Yakin gue mah." Mingyu mengangguk serius.
"Serius!" seru Yugyeom.
"Lagian kalo kita mau hire manajer profesional juga budget kurang," gumam Jeongguk.
"Jadi aku alternatif yang low budget gitu?" Taehyung mendelik tajam.
"Hehe," Yugyeom menyengir kuda. "Bisa dibilang gitu sih."
"Low budget tapi kalau kamu bisa kelola kita dengan baik sampai makin terkenal dan sukses kamu bisa dapet bayaran gede juga tau," ujar Jeongguk.
Taehyung menghela napas pasrah, "Oke deh, aku mau. Kasian nggak ada yang ngurusin."
Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom seketika berteriak girang saat Taehyung akhirnya mau menjadi manajer untuk mereka. Masa-masa awal menjadi manajer merupakan hal yang cukup sulit untuk Taehyung. Karena nyatanya, teori dan praktik sangatlah jauh berbeda, semua itu tergantung lingkup dan kondisi yang ditangani.
Namun, Taehyung tidak menyerah, melihat keseriusan Stargazer dalam setiap latihannya membuat ia juga termotivasi untuk turut bekerja keras menjadi manajer yang baik untuk mereka. Taehyung mulai mengumpulkan jadwal kuliah Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom yang kadang berbeda karena memilih konsentrasi yang berbeda, kemudian mengatur jadwal latihan yang tepat agar tidak tabrakan, mengelola keuangan yang masuk dan keluar, serta terkadang ia juga merangkap menjadi stylist dadakan untuk Stargazer setiap kali mereka akan tampil. Karena diantara mereka berempat, Taehyung adalah yang paling stylish dan mempunyai fashion sense yang bagus.
"Keren banget sih lo, Tae," puji Mingyu setelah mereka selesai flashback akan masa-masa awal band mereka terbentuk.
"Kalo nggak ada Taehyung mungkin kita udah kacau," sahut Yugyeom.
"Setuju. Kita bisa sampe kayak gini berkat Taehyung." Jeongguk tersenyum pada Taehyung.
"Kalian keren juga tau, mau jaga komitmen, konsisten, dan mau luangkan waktu buat latihan." Taehyung selalu tersipu ketika dipuji begini.
"Kita semua keren." Yugyeom tersenyum, kemudian mengulurkan tangan ke tengah. Diikuti oleh Mingyu, Jeongguk, dan Taehyung, mereka melakukan tos bersama yang sering dilakukan sebelum tampil maupun sesudah.
Tos bersama menjadi penutup perjumpaan mereka sore itu. Mereka saling berpamitan dan beranjak menuju parkiran. Jeongguk dan Taehyung masuk ke dalam mobil yang sama, lalu melaju meninggalkan gerbang kampus.
***
"Guk, mampir beli stroberi dulu, ya. Persediaan stroberi di rumah udah habis," kata Taehyung sambil fokus menyetir.
"Aduh, Tae. Aku udah kebelet pipis banget. Pengen cepet sampe rumah." Jeongguk meringis menahan keinginan untuk buang air kecil.
"Bentar doang. Stroberi aku habis, Guki." Taehyung mulai merengek, agar Jeongguk menuruti keinginannya.
"Di rumah aku masih banyak stok stroberi. Nggak usah beli, ambil aja di rumahku nanti." Jeongguk teringat banyaknya stroberi di dalam kulkasnya.
Melihat raut wajah Jeongguk yang menderita akibat menahan kencing, Taehyung pun menurut karena merasa kasihan. Lagipula, katanya Jeongguk punya stok stroberi di rumah.
Karena sudah tidak tahan, Jeongguk menyuruh Taehyung untuk mempercepat laju mobil sambil memegangi kemaluannya dari luar celana.
"Kenapa nggak pipis di kampus tadi sih, Guk?!" Taehyung ikut panik saat Jeongguk menyuruhnya buru-buru. Ia melirik ke arah Jeongguk dan mendapati sahabatnya itu terus memegangi sesuatu di antara pahanya. Taehyung lantas mengalihkan pandangannya, malu dan blushing.
"Tadi belum kerasa mau pipis. Tae, cepetin dikit dong." Jeongguk kembali bergerak-gerak tidak nyaman.
"Iya ih, sabar. Liat tuh jalannya rame. Harus banget burungnya dipegangin gitu?" Taehyung lama-lama kesal juga karena diburu-buru oleh Jeongguk yang tidak sabar.
"Harus lah. Udah nggak tahan mau keluar pipisnya."
"Jorok banget sih." Taehyung mengernyit jijik. "Nggak dipegang juga nggak bakal terbang kali."
"Kalau bisa terbang terus hinggap di kamu gimana?" Jeongguk menoleh ke arah Taehyung dan mendapati pipi tembam Taehyung sudah semerah kepiting rebus.
Taehyung melotot dan refleks mencubit paha Jeongguk cukup keras.
"Sakit anjir!" Jeongguk mengaduh kesakitan.
“Makanya kalo ngomong jangan ngawur.” Taehyung mengerucutkan bibirnya, kembali fokus menyetir.
***
Setelah menempuh perjalanan pulang yang begitu berisik karena Jeongguk terus menerus rewel agar Taehyung mempercepat laju mobil, akhirnya mereka sampai di rumah Jeongguk. Bahkan saat mobil belum benar-benar berhenti, Jeongguk sudah bersiap-siap membuka pintu dan meloncat keluar, kemudian lari terbirit-birit menuju kamar mandi rumahnya. Taehyung hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Jeongguk tersebut.
Taehyung ikut mampir dan masuk ke dalam rumah Jeongguk karena tadi Jeongguk sudah menjanjikannya buah kesukaan Taehyung, yaitu stroberi. Di dalam rumah yang cukup luas dan mewah itu, Taehyung disambut oleh adik perempuan Jeongguk.
“Hai, Kak Tae,” sapa remaja perempuan berusia 17 tahun bernama Jeon Nararya itu.
“Hai, Nara. Udah pulang sekolah? Nggak les?” balas Taehyung sambil menggusak rambut Nara, menghasilkan decakan sebal dari Nara karena rambutnya menjadi acak-acakan.
“Udah pulang dari tadi. Sekarang mau berangkat les,” jawab Nara.
“Oh gitu.” Taehyung hanya mengangguk-angguk.
“Kak Tae tumben mampir dulu? Biasanya langsung pulang kalau habis nganterin Abang.” Nara mengernyit heran.
“Tadi Guki katanya mau kasih stok stroberi di kulkas dia.”
“Loh? Emang boleh? Semalem aku baru buka kulkas aja dia udah teriak-teriak nggak boleh ambil stroberi. Padahal aku cuma mau ambil es batu doang.” Nara semakin bingung.
“Iya kah? Wah bohong berarti dia, katanya tadi boleh ambil stok stroberi di kulkas.” Mata Taehyung memicing kecewa.
Tepat setelah Taehyung mengatakan hal itu, Jeongguk keluar dari pintu kamar mandi di belakang Taehyung.
“Nggak bohong. Ambil aja stroberinya. Semua juga boleh, aku kan nggak suka stroberi,” sahut Jeongguk sambil membenarkan posisi celananya.
“Tuh kan boleh, Ra,” ucap Taehyung kepada Nara. Kemudian, tanpa menunggu lebih lama lagi, Taehyung berjalan menuju kulkas Jeongguk dan mulai mengambil stroberi di dalamnya.
Jeongguk dan Nara saling bertatapan aneh. Nara baru menyadari sesuatu.
“Bucin akut kamu, Bang. Pantesan ngamuk takut stroberi diambil padahal nggak suka stroberi. Ternyata buat crush berkedok sohib.” Nara memutar bola matanya.
“Diem kamu, bocil,” ledek Jeongguk pada adiknya.
“Aku udah gede, ya, udah SMA! Dasar Abang bucin.” Nara kemudian menjulurkan lidahnya mengejek Jeongguk. Dibalas pula oleh Jeongguk dengan juluran lidah menyebalkan. Nara tidak memedulikannya lagi dan segera berlalu untuk berangkat les. Sedangkan Jeongguk menyusul Taehyung di dapur.
“Udah diambil semua belum, Tae?” Suara Jeongguk cukup mengagetkan Taehyung dari belakang.
“Aku sisain dikit buat Nara kalo mau. Nara mau nggak?” Taehyung menengok ke sekitar dan mencari keberadaan Nara.
“Udah berangkat les dia. Ambil aja semua,” kata Jeongguk.
“Oke, thanks bestie!” Taehyung berseru kegirangan dan mengambil semua stroberi yang tersisa di kulkas Jeongguk.
“Apa sih enaknya stroberi? Asem tau,” ucap Jeongguk.
“Ada yang manis, Guki,” jawab Taehyung.
“Oiya, orang manis kayak kamu kalo makan yang asem makanannya bisa jadi manis, ya?” goda Jeongguk.
“Nggak ada hubungannya, bego,” gerutu Taehyung dengan keadaan pipi yang kontradiksi dengan ucapannya, yaitu tersipu dan memerah.
“Kebanyakan makan stroberi muka kamu lama-lama jadi kayak stroberi, merah banget pipinya.” Jeongguk menowel-nowel dan mengusap pipi Taehyung.
“Jangan pegang-pegang! Kamu habis pipis tadi cuci tangan nggak?” Taehyung melotot dan panik.
“Duh, enggak deh kayaknya. Habis pegang anu terus langsung kesini,” tutur Jeongguk dengan raut pura-pura tak bersalah.
“Guki jorok banget sih, anjir! Aku bilangin ke Mama ya kamu!” Taehyung mengusap-usap pipinya dengan lengan jaketnya panik.
“Enggak, woi. Bercanda doang. Udah aku sabun pake sabun wangi. Nih cium.” Jeongguk mengulurkan telapak tangannya ke depan wajah Taehyung.
Taehyung mengendus telapak tangan Jeongguk dan tercium bau wangi. Seketika ia langsung merasa lega.
“Udah percaya, ‘kan?” tanya Jeongguk memastikan.
Taehyung hanya berdehem kecil. “Ya udah aku pulang sekarang.”
“Nggak mampir main dulu?” tawar Jeongguk.
“Kapan-kapan aja deh, takut Bunda nyariin. Dah, ya, Guk, pulang dulu. Makasih stroberinya.” Taehyung tersenyum simpul.
“Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan, kalau ketemu polisi tidur pelan-pelan aja,” pesan Jeongguk.
“Haha, lucu. Rumah kamu ke rumah aku nggak ada polisi tidur,” celetuk Taehyung datar.
“Ya intinya hati-hati dan pelan-pelan aja,” ungkap Jeongguk.
“Iya.”
Setelah itu, Taehyung pun pulang dengan membawa kantong berisi stroberi yang jumlahnya cukup banyak. Jeongguk mengulas senyum di bibirnya sambil memperhatikan Taehyung berjalan menuju mobilnya dan pulang.
Jadi, kira-kira seperti itulah gambaran keseharian Taehyung dan Jeongguk yang tengil beserta rutinitasnya yang selalu menggoda dan menjahili Taehyung hingga pipi rotinya sewarna dengan buah stroberi favorit lelaki manis itu.
***
Satu minggu kemudian, Taehyung mendapatkan e-mail dari salah seorang mahasiswa yang memperkenalkan diri sebagai panitia humas pada acara Accounting Fest, yaitu sebuah acara yang dilaksanakan dalam rangka merayakan dies natalis program studi Akuntansi di fakultas mereka. Taehyung pun menerima tawaran itu setelah sebelumnya berdiskusi dengan Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom.
Hari ini adalah H-3 sebelum Stargazer tampil di Accounting Fest. Beberapa saat yang lalu Taehyung telah mengirimkan pesan kepada Jeongguk dan mengingatkannya agar sahabatnya itu menjaga kondisi fisik terutama tenggorokannya. Taehyung melarangnya untuk makan makanan yang mengandung banyak minyak, selain itu ia juga menyarankan Jeongguk untuk workout di gym yang disediakan oleh universitas, tepatnya di GOR Universitas Konkuk.
Jeongguk dari dulu memang orang yang menggemari dan rutin workout di gym, bahkan sebelum bergabung dengan Stargazer. Siang itu, awalnya ia mengajak Mingyu dan Yugyeom untuk workout bersama, namun Mingyu dan Yugyeom menolak dengan alasan kemarin baru saja workout lumayan berat.
Maka, disinilah Jeongguk sekarang, mengangkat barbel dengan ditemani Taehyung yang sedari tadi hanya duduk sambil melihat Jeongguk melakukan rangkaian aktivitas workout. Sebenarnya Jeongguk bisa berangkat workout sendirian, namun kehadiran Taehyung selalu membuatnya terpacu dan lebih semangat dalam berolahraga. Apalagi, ia juga punya misi terselubung yaitu pamer otot di depan Taehyung hingga lelaki manis itu malu dan blushing.
Tiga puluh menit telah berlalu semenjak Jeongguk mulai berolahraga di gym ini, Taehyung mulai bosan dan lama-lama penasaran ingin mencoba beberapa olahraga.
“Guki, aku mau coba pull up, ya,” ungkap Taehyung, menghampiri Jeongguk yang masih asik mengangkat barbel.
“Pemanasan dulu, Tae. Emangnya bisa pull up?” Jeongguk agak meragukan hal itu, sebab Taehyung jarang sekali melakukan aktivitas fisik yang berat.
“Nggak tau, makanya pengen coba.” Taehyung mengedikkan bahu. Kemudian melakukan pemanasan dasar sebentar agar ototnya tidak terlalu kaku.
Setelah merasa tubuhnya lumayan lentur, Taehyung mengajak Jeongguk untuk menemaninya di sebuah pull up bar. Setelah mencoba beberapa kali untuk meraih pull up bar, Taehyung menyerah. Ia sudah melompat-lompat agar bisa meraihnya, namun tak kunjung bisa. Maka, Jeongguk pun menawarkan bantuannya.
“Sini, aku bantu angkat badan kamu.” Jeongguk berdiri di belakang badan Taehyung dan mulai mendekap paha Taehyung.
Taehyung hanya mengangguk dan menurut. Jeongguk perlahan mengangkat tubuh Taehyung yang baginya hanya seberat kapas dengan mudah, hingga Taehyung bisa meraih pull up bar di kedua cengkraman tangannya. Setelah yakin bahwa Taehyung sudah meraih pull up bar, Jeongguk mulai melepas tubuh Taehyung pelan-pelan namun tetap menjaga dan mengawasinya dari bawah.
Baru beberapa detik bergelantungan di pull up bar dan mencoba mengangkat tubuhnya sendiri, Taehyung merasa tidak kuat dan terlalu berat.
“Kok berat banget sih, Guk?” keluh Taehyung, masih berusaha mengangkat tubuhnya sendiri.
“Ya nggak tau, badan juga badan kamu sendiri kok,” balas Jeongguk. “Gimana, kuat nggak?”
“Bantuin angkat lagi.” pinta Taehyung sambil merengek manja.
Jeongguk pun membantu mengangkat tubuh Taehyung hingga berada pada posisi gerakan pull up yang benar.
“Udah, lepasin,” ujar Taehyung.
Jeongguk melepaskannya. Namun, di angkatan selanjutnya Taehyung kembali kesulitan mengangkat tubuhnya sendiri tanpa bantuan dari Jeongguk. Taehyung membuang napas kasar, menyerah dan akhirnya melompat turun dari pull up bar.
“Huh … ” Taehyung terengah-engah. “Kok berat banget sih? Bikin capek dan pegel.”
“Kamu mah jarang ikut aku olahraga, cuma lihat doang. Kayak gitu butuh latihan terus biar terbiasa. Udah sana duduk aja, ntar malah capek dan cedera otot kamu.” Jeongguk mendorong badan Taehyung di kedua bahunya agar berjalan kembali ke tempat duduk.
“Kamu masih lama workout-nya?” Taehyung menyeka keringat di pelipisnya sambil berjalan menuju tempat duduk.
“Bentar lagi kok. Tunggu, ya.” Jeongguk kembali menuju berbagai alat gym yang belum sempat ia coba, melanjutkan workout-nya yang sempat terinterupsi oleh makhluk manis nan menggemaskan yang penasaran ingin mencoba pull up tadi.
Taehyung kembali duduk manis dan melihat Jeongguk berolahraga mulai dari tingkatan yang ringan hingga berat. Melihatnya saja sudah melelahkan, bagaimana menjalaninya seperti Jeongguk? Taehyung tidak bisa membayangkannya.
Saat tengah asyik berolahraga, Jeongguk merasa kaosnya sudah terlalu basah oleh keringat yang membanjiri tubuhnya. Maka, ia pun melepas kaos itu dan melanjutkan berolahraga dengan telanjang dada.
Di bangku tempat Taehyung duduk, pemuda itu sontak mengalihkan pandangannya. Lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya daripada melihat pemandangan tubuh Jeongguk yang setengah telanjang, berotot sempurna, dan dilapisi keringat. Otot-otot Jeongguk terkadang juga menyembul semakin kentara saat ia melakukan beberapa gerakan tertentu seperti angkat beban. Bisep di lengannya mengencang dan terbentuk sempurna saat Jeongguk mengangkat beban.
Taehyung yang masih menyibukkan diri dengan ponsel terkejut saat dihampiri oleh Jeongguk yang masih telanjang dada dan berlumuran keringat. Tampaknya Jeongguk telah selesai workout.
“Udah selesai?” Taehyung mendongak menatap Jeongguk.
“Iya, udah capek,” jawab Jeongguk sambil menenggak air mineral dari dalam tasnya.
“Jangan deket-deket ih. Bau kecut,” celetuk Taehyung sambil mengusir Jeongguk dengan gerakan tangan yang mengibas-ibas.
“Oh, bau kecut, ya?” Jeongguk menyeringai jahil.
Taehyung tidak sempat menghindar saat tiba-tiba Jeongguk iseng menarik tangan Taehyung dan menghimpit kepalanya di antara ketiaknya yang basah oleh keringat. Sontak Taehyung berontak hebat di himpitan Jeongguk, ia bergidik jijik saat membayangkan keringat di tubuh Jeongguk menempel di tubuhnya juga.
“Ketek kamu bau kecut banget tau!” cibir Taehyung, berusaha melepaskan diri dari Jeongguk namun tenaganya tidak cukup kuat.
Jeongguk tertawa lebar terhibur, lalu melepaskan Taehyung dari himpitan ketiaknya. Taehyung mengomel marah dan mulai memukul badan Jeongguk.
“Guki nyebelin banget, anjir! Nih, rasain!”
Jeongguk masih tertawa, tubuhnya diam tak bergeming. Baginya, pukulan Taehyung tidak meninggalkan efek serius yang menyakitkan.
“Badan aku jadi kena keringet kamu, Gukiii!” Taehyung mengusap-usap kaosnya yang basah terkena keringat Jeongguk, juga lehernya yang terkontaminasi langsung.
“Lebay amat, ikut mandi di kamar mandi gym aja,” usul Jeongguk dengan santai tanpa merasa bersalah.
Taehyung pun dengan pasrah menyetujui usul itu, ia tidak tahan dengan keringat Jeongguk yang menempel di tubuhnya. Dari awal Taehyung memang sudah membawa pakaian ganti yang bersih untuk jaga-jaga jika ia ingin ikut berolahraga juga.
***
Jeongguk dan Taehyung saat ini sudah bersih, segar, dan berpakaian bersih setelah mandi di kamar mandi gym. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dengan Jeongguk yang menyetir mobil. Ada hal yang menarik perhatian Taehyung saat ia melihat-lihat pemandangan luar melalui jendela mobil.
“Guk, berhenti bentar. Mau jajan dulu,” ujar Taehyung sambil menunjuk jajaran street food di sepanjang jalan.
“Oke.” Jeongguk memelankan laju mobil dan mulai menepi.
Saat melihat banyaknya makanan yang dijual, Jeongguk hanya bisa menelan ludah. Ia baru menyadari bahwa ia tidak boleh mengonsumsi makanan berminyak guna menjaga kondisi tenggorokannya. Dilihatnya Taehyung sudah terlanjur membeli banyak jajanan berminyak.
Sampai di dalam mobil, Jeongguk memasang wajah suntuk karena tidak bisa memakan jajanan yang dibeli Taehyung. Sedangkan Taehyung di sampingnya sibuk makan sekaligus pamer dan mengiming-imingi Jeongguk.
“Umm, so yummy!” pekik Taehyung kegirangan saat sebuah corn dog tanpa saus masuk ke dalam mulutnya. “Enak banget, Guk!”
“Bodo amat, terserah.” Jeongguk mendengus tidak peduli, fokus menyetir mobil.
Taehyung terkikik puas, ia terus mengunyah jajanan yang ia beli dengan lahap dan bibir membentuk pout. Jeongguk melirik ke Taehyung yang sedang makan dan tidak bisa menahan kegemasannya saat melihat bibir Taehyung membentuk pout lucu dengan mulut penuh makanan.
“Kalau makan di depan orang lain jangan di-pout-in gitu bibirnya, di depan aku aja pout-nya,” celetuk Jeongguk.
“Kenapa emangnya?” Taehyung heran, padahal ia hanya makan biasa saja menurutnya.
“Kamu gemesin kalau makan sambil pout, orang lain nggak boleh liat kamu gemes-gemes gitu,” papar Jeongguk.
“Ngatur-ngatur dih kamu,” gerutu Taehyung, ia heran mengapa Jeongguk tiba-tiba bersikap posesif.
“Konten kegemasan seorang Taehyung pokoknya cuma eksklusif buat Jeongguk seorang,” tandas Jeongguk dengan nada posesif yang kentara.
Taehyung memutar bola matanya walaupun pipinya berubah memerah.
“Terserah deh, aku laper.” Taehyung melanjutkan menghabiskan jajanan yang masih tersisa.
Sedangkan Jeongguk hanya menghela napas dan menggelengkan kepala, sudah terlampau biasa Taehyung tidak peka dan berlaku tsundere seperti ini.
***
Hari H acara Accounting Fest telah tiba. Acara itu diadakan pada hari Minggu, sehingga mereka tidak ada beban untuk kuliah. Menurut rundown acara yang didapat Taehyung dua hari yang lalu, Stargazer mendapat giliran terakhir sebagai hiburan penutup acara. Sesuai kesepakatan dengan manajemen kemarin, Stargazer akan menampilkan 3 buah lagu.
Jeongguk, Mingyu, Yugyeom, dan Taehyung datang pada pukul lima sore sesuai susunan acara. Sebelum tampil mereka terlebih dahulu briefing di balik layar bersama panitia dan performer lain yang juga diundang untuk meramaikan acara. Semua alat musik dan instrumen yang dibutuhkan telah tersedia dan dipenuhi oleh panitia.
Stargazer dan manajer mereka, Taehyung, saat ini tengah bersiap untuk naik ke panggung. Seperti biasanya, mereka berempat menumpukkan telapak tangan di tengah dan meneriakkan jargon penyemangat mereka. Taehyung kemudian membantu Jeongguk merapikan kerah jaket kulit di lehernya dan menata rambutnya yang bergeser dari posisi awal agar lebih rapi.
“Kamu udah siap?” Taehyung memastikan.
“Siap. Doain lancar dan sukses, ya.” Jeongguk tersenyum.
“Pasti.” Taehyung balas tersenyum. “Gyu, Yugi, semangat ya kalian.”
“Siap. Udah lama nggak manggung, excited banget gue.” Mingyu melompat-lompat kecil.
“Semangat banget nih gue. Banyak cewek-cewek cakep tadi,” seloroh Yugyeom.
“Yang fokus, Gi. Jangan liatin cewek mulu,” cibir Jeongguk.
“Nggak apa-apa lah ngelirik dikit, biar dia semangat,” imbuh Taehyung.
Obrolan mereka sore itu harus terhenti oleh panggilan dari pembawa acara yang menyebut nama Stargazer dengan lantang disertai dengan riuh tepuk tangan dari penonton.
Tiga lagu yang akan ditampilkan oleh Stargazer adalah lagu Fingertips milik Tom Gregory, Rain milik The Script, dan If I Lose Myself milik OneRepublic sebagai penutup. Taehyung memonitor dari backstage saat Stargazer mulai menaiki panggung.
Selama kurang lebih satu jam, penampilan Stargazer berjalan sukses dan lancar. Penonton memberi tepuk tangan meriah saat lagu If I Lose Myself selesai dibawakan dengan ramai dan penuh semangat. Lagu itu termasuk lagu yang up-beat sehingga ketika tadi dibawakan oleh Stargazer, penonton ikut melompat-lompat dan menari mengikuti irama lagu. Interaksi kecil yang dilakukan Jeongguk juga berhasil membuat beberapa penggemar menjerit senang.
Jeongguk sesudah turun dari panggung adalah salah satu pemandangan favorit Taehyung. Keringat yang mengaliri wajah serta rambut yang acak-acakan entah mengapa selalu bisa membuat Taehyung diam-diam terpesona. Taehyung segera memberi minuman untuk Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom yang lelah dengan penampilan barusan, agar cairan yang keluar segera terganti kembali.
“Bagus banget tadi penampilan kalian. Penonton excited banget sampe teriak-teriak girang.” Taehyung tertawa kecil saat mengingat penampilan tadi.
“Apalagi pas Jeongguk interaksi sama penonton,” ujar Yugyeom.
Mereka tertawa dan setuju. Interaksi kecil yang dilakukan Jeongguk dan juga Mingyu tadi sukses membuat penonton semakin riuh. Yugyeom yang notabene adalah seorang drummer tidak bisa melakukan interaksi apa-apa sebab tidak bisa meninggalkan drum-nya. Namun, ia turut senang saat melihat antusias penonton.
“Good job pokoknya!” puji Taehyung sekali lagi sambil mengacungkan jempolnya.
Mereka melakukan tos dan menyerukan jargon sekali lagi untuk merayakan kesuksesan dan kelancaran penampilan mereka tadi. Selanjutnya, Taehyung berpamitan dengan panitia untuk izin pulang terlebih dahulu. Pihak panitia mengizinkan sekaligus berterima kasih serta memuji penampilan Stargazer yang memukau tadi.
Di jalan menuju parkir, ternyata banyak mahasiswi yang menghadang Jeongguk untuk meminta foto bersama. Mingyu dan Yugyeom sudah terlebih dahulu pulang. Menyisakan Taehyung yang kini harus rela menjadi fotografer dadakan untuk para mahasiswi yang berfoto dengan Jeongguk. Sepanjang memotret, Taehyung menahan rasa dongkol dan rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul saat Jeongguk dekat-dekat dengan mahasiswi yang mengajaknya berfoto. Puncaknya ketika seorang mahasiswi merangkul Jeongguk sangat dekat lalu berpose centil.
“Makasih, Kak Jeongguk!”
“Semangat terus, ya, Kak!”
Dan masih banyak lagi pujian-pujian dari penggemar Jeongguk setelah sesi foto selesai. Jeongguk pun merespons dengan sangat ramah, membuat Taehyung semakin cemberut.
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Taehyung memasang raut wajah datar dan hanya diam saja. Tidak seperti Taehyung yang biasanya ramai dan selalu mengoceh. Jeongguk tentu saja bingung, tadi ia sudah bertanya tetapi diabaikan oleh Taehyung.
“Kamu kenapa sih, Tae?” tanya Jeongguk sekali lagi. Tidak tahan dengan keheningan mereka.
“Capek sama ngantuk,” balas Taehyung pendek.
Jika itu alasannya, maka Jeongguk hanya bisa memaklumi, tak mau memaksa Taehyung lebih lanjut untuk mengungkapkan alasan mengapa ia saat ini terlihat berada dalam suasana hati yang sangat jelek.
“Oke, aku sebenernya mau nyampein ide buat Stargazer yang udah aku musyawarah bareng Mingyu sama Yugi juga,” tutur Jeongguk.
“Besok aja. Aku capek banget,” sahut Taehyung dengan suara lirih. Jeongguk pun mengiyakan dalam anggukan kepala.
Karena kali ini menggunakan mobil milik Jeongguk, maka Jeongguk harus mengantar Taehyung pulang meski rumahnya sendiri sudah terlewat. Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Taehyung. Pemuda itu lantas membuka pintu mobil dan keluar tanpa basa-basi serta sepatah kata pun. Sebelum Taehyung masuk gerbang rumahnya, Jeongguk dengan gerakan cepat menahan tangan Taehyung sebentar.
“Tae, makasih, ya. Udah nemenin manggung hari ini sampe malem-malem gini. Makasih udah bantuin mix and match kostum, bantuin ini itu, kasih semangat buat tampil. Pokoknya makasih banget, kamu manajer terbaik.” Jeongguk tersenyum sangat lebar, kemudian meraih tangan Taehyung dan menciumnya. Setelah itu, tanpa menunggu balasan dari Taehyung, Jeongguk buru-buru kembali ke kursi mengemudi dan menutup pintu mobil. Memutar balik mobilnya dan melaju kembali ke rumahnya.
Taehyung mematung sebentar, tak lama kemudian menghentakkan kaki sebal dan meneriaki Jeongguk dengan nada menggerutu marah. Sebuah kebiasaan dari dulu yang selalu membuat Taehyung kesal, Jeongguk selalu meninggalkan jejak ludah sedikit di tangan Taehyung tiap kali menciumnya.
“Ew, jijik!” dengus Taehyung kesal sembari mengelap tangannya dengan kemeja.
Jeongguk yang masih berada di dalam mobil tak jauh dari situ sontak terbahak puas tatkala mendengar teriakan marah dari Taehyung. Ia tidak akan pernah bosan menjahili dan menggoda Taehyung, meskipun lelaki itu jelas-jelas sedang berada di suasana hati yang buruk.
***
Sore itu, setelah selesai kuliah, Jeongguk berdiri di depan kulkas dan sibuk mengemas buah stroberi yang ia pesan dari mamanya. Menaruhnya ke dalam sebuah kantong plastik bersama beberapa buah cupcake stroberi.
“Mau kemana, Bang?” tanya Nara yang juga di dapur untuk memasak ramen instan.
“Rumah Taehyung,” jawab Jeongguk.
“Oh, pantes bawa stroberi banyak. Bucin,” ledek Nara.
“Berisik, bocil.” Jeongguk menggelitik pinggang adiknya kemudian lari kabur sebelum Nara mengamuk dan mengadukan aksi jahil Jeongguk pada mamanya.
Jeongguk berjalan kaki menuju rumah Taehyung, kedatangannya ke rumah Taehyung yaitu untuk menyampaikan idenya kemarin. Membawa buah stroberi dan cupcake stroberi dengan maksud agar Taehyung tidak bad mood lagi seperti kemarin. Sesampai di rumah Taehyung, ia disambut oleh Bunda Taehyung.
“Jeongguk−ie!” sapa Bunda Taehyung.
“Hai, Bunda. Taehyung ada?” Jeongguk membalas sapaan sekaligus langsung menanyakan tujuannya.
“Ada kok, di kamar. Mau main keluar, ya?” tebak Bunda Taehyung.
“Enggak kok, Bun. Mau main di kamar Taehyung aja, bahas kegiatan band,” jawab Jeongguk ramah.
“Ah gitu, ya udah langsung ke kamar Tae aja sana.” Bunda Taehyung menunjuk sebuah kamar dengan pintu bertempelkan stiker buah stroberi.
Tanpa menunggu lebih lama, Jeongguk segera membawa langkah kakinya menuju kamar Taehyung. Ia mengetuk pelan, meskipun mereka sudah sangat akrab dan berteman sejak kecil, Jeongguk tetap mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk kamar Taehyung walau tidak dikunci. Karena, pernah suatu hari ketika Jeongguk tidak mengetuk, ia tidak sengaja mendapati Taehyung hanya memakai celana dalam setelah mandi. Hubungan mereka menjadi canggung untuk sesaat. Sejak saat itu Jeongguk selalu mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Bawa apa kamu, Guk?" tanya Taehyung saat membukakan pintu dan melihat Jeongguk menenteng kantong plastik.
"Stroberi sama cupcake," jawab Jeongguk, menaruh kantong itu di meja dekat ranjang Taehyung.
Mata bulat Taehyung lantas berbinar cerah saat mendengar kata stroberi. Diambilnya kantong itu dan dikeluarkan isinya.
"Buat aku, 'kan?" Taehyung sibuk mengeluarkan cupcake yang berada dalam kardus kecil.
"Iya, buat kamu. Aku kan nggak suka stroberi," balas Jeongguk.
Taehyung mengulas senyum lebar, pipi rotinya naik dan mengembang menggemaskan. "Makasih, Guki."
"Sama-sama. Aku nggak tau apa yang bikin kamu semalam bete dan nggak mood, tapi aku minta maaf, ya, kalau seandainya aku jadi penyebab kamu bete," ungkap Jeongguk dengan tulus, mengunci pandangan dengan sepasang manik Taehyung.
Sejujurnya, memang benar bahwa Jeongguk adalah penyebab dari buruknya suasana hati Taehyung kemarin. Namun, Taehyung tidak mungkin mengaku blak-blakan bahwa ia merasa tidak suka jika Jeongguk dekat dengan orang lain. Apalagi, sekarang Jeongguk datang ke rumahnya membawa makanan kesukaannya. Taehyung langsung luluh dan melupakan kekesalannya terhadap Jeongguk kemarin.
"Mau sampein ide kamu kemarin?" Taehyung bertanya seraya memasukkan stroberi ke dalam mulutnya.
"Iya. Jadi gini," Sebelum melanjutkan, Jeongguk mengambil posisi nyaman terlebih dahulu. Yaitu tengkurap di atas kasur Taehyung, berhadapan dengan Taehyung yang sedang duduk di pinggir kasur sambil memakan stroberi. "Aku punya ide dan usul, gimana kalau Stargazer bikin video cover lagu dan diunggah di Youtube? Buat bentuk promosi gitu, soalnya selama ini menurutku bentuk promosi Stargazer jujur aja, kurang, Tae."
"Hmm. Boleh juga itu. Ide bagus. Setuju sih aku tentang promosi kita yang kurang. Ada banyak platform media sosial yang ada, tapi kita baru pake Instagram sama Twitter doang. Harusnya kita bisa lebih manfaatin dan maksimalin lagi. Terutama Youtube itu." Taehyung merespons sambil memberi anggukan setuju.
"TikTok juga. Tapi itu bisa dipikir setelah Youtube, dua-duanya kan sama-sama platform yang bentuk konten utamanya video. Nanti video di Youtube bisa di-post juga di TikTok," imbuh Jeongguk.
"Yups. Mungkin nanti kita bisa bikin video versi vertikal, biar lebih pas dan cocok buat TikTok," Taehyung menambahkan.
"Boleh, boleh banget. Nah, tentang lagunya, aku udah bahas juga sama Mingyu dan Yugi. Kita mau cover dua lagu, Yellow-nya Coldplay sama Your Guardian Angel punya Red Jumpsuit Apparatus. Menurut kamu gimana, Tae?” Jeongguk meminta pendapat manajer sekaligus sahabatnya itu.
“Oke aja sih aku sebenernya. Kalau kalian udah yakin sama lagu itu ya nggak apa-apa pakai itu aja. Itu lagu-lagu lawas, ‘kan? Malah bagus sih, bawa hits-hits lama gitu, biar anak muda jaman sekarang tau,” jelas Taehyung, saat ini pemuda itu tengah mencoba cupcake dengan topping whip cream stroberi dan potongan buah stroberi di puncaknya.
Jeongguk bernapas lega, semuanya kini telah mendapat persetujuan dari rekan band dan manajernya. Jauh hari sebelum mengungkapkan idenya, Jeongguk telah berlatih vokal menyanyikan lagu-lagu itu di rumah. Sehingga, mungkin hanya perlu latihan beberapa kali lagi untuk membuat Mingyu dan Yugyeom terbiasa dan nyaman membawakan lagu-lagu itu, sekaligus untuk menyempurnakan penampilan saat rekaman nanti.
“Mau cupcake nggak, Guk?” tawar Taehyung.
“Nggak, aku nggak suka stroberi,” tolak Jeongguk, saat ini pemuda itu sibuk berguling di atas kasur empuk Taehyung.
“Bawahnya doang, nggak ada rasa stroberinya, kok.” Taehyung mencuil bagian cupcake bawah yang tidak terkena cream rasa stroberi.
“Suapin,” pinta Jeongguk manja.
“Buka mulut kamu.” Taehyung menyodorkan potongan kecil cupcake dan memasukkannya ke dalam mulut Jeongguk.
“Not bad,” komentar Jeongguk seusai mengunyah dan menelan potongan cupcake.
“Kamu kesini mau ngomongin ide tadi doang?” tanya Taehyung.
“Iya, mau rebahan di sini juga. Kangen tiduran di kamar kamu,” balas Jeongguk.
Kesibukan kuliah dan jadwal manggung serta latihan membuat Jeongguk akhir-akhir ini jarang berkunjung ke rumah Taehyung, kecuali menjemput Taehyung berangkat ke kampus, itu pun hanya sampai di ruang tengah atau gerbang rumah saja. Rasanya sudah lama ia tidak merebahkan diri di kasur Taehyung yang sangat nyaman ini.
Kamar Taehyung akan selamanya menjadi salah satu tempat favorit Jeongguk. Nuansa pastel yang lembut di kamar Taehyung selalu berhasil membuatnya merasa tenang dan nyaman. Isinya tidak terlalu banyak, sederhana namun elegan dan tertata rapi. Jendela kamarnya langsung terhubung dengan pemandangan kompleks perumahan mereka, membuatnya bisa melihat siapa saja yang tengah melintas di jalanan kompleks. Aroma lembut dari diffuser kecil di nakas Taehyung adalah salah satu candu bagi Jeongguk, tidak terlalu bold dan menyengat, justru sangat kalem dan membuat rileks.
Sore itu, niat Jeongguk yang awalnya hanya tiduran sebentar menjadi tidur nyenyak yang lumayan panjang. Aroma wangi khas dari bed cover ranjang Taehyung dan angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela dan ventilasi sukses mengantarnya ke alam mimpi. Tubuhnya melintang berlawanan dengan posisi tidur yang seharusnya, di sampingnya terdapat Taehyung yang juga ikut tertidur pulas akibat kekenyangan memakan stroberi dan cupcake.
Saat Bunda Taehyung membuka pintu kamar Taehyung dengan tujuan menyuruh mereka makan, ia hanya bisa tersenyum lebar saat menyaksikan dua anak laki-laki yang tumbuh bersama sejak kecil hingga dewasa itu tertidur lelap berdampingan. Ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan mereka dan kembali menutup pintu kamar Taehyung.
***
Studio musik yang biasa dipakai oleh Stargazer hari ini agak berbeda penataannya. Jeongguk, Mingyu, Yugyeom, dan Taehyung sengaja memberi sedikit dekorasi agar terlihat lebih menarik dan juga menambah beberapa lampu. Karena, hari ini mereka akan melakukan penampilan cover lagu sekaligus merekamnya untuk dijadikan konten promosi di platform Youtube.
Untuk menghemat pengeluaran, mereka melakukan proses rekaman ini secara mandiri, tanpa bantuan pihak luar. Beruntung Mingyu mempunyai kamera yang cukup bagus dan memadai sehingga mereka tak perlu menyewa atau membeli. Sebelumnya, mereka telah berlatih selama tiga hari, dan sekarang pun mereka baru saja berlatih lagi untuk memantapkan penampilan sebelum rekaman dimulai.
“Udah siap semua?” tanya Taehyung yang sedang menata letak kamera di depan Jeongguk dengan bantuan sebuah tripod.
“Udah.” Jawab Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom dengan serentak.
“Oke. Boleh mulai sekarang.” Taehyung menekan tombol start kemudian menjauh dari kamera sembari mengawasi.
Lagu pertama yang ditampilkan adalah Yellow milik Coldplay. Suara merdu Jeongguk terdengar semanis madu di telinga Taehyung. Jeongguk benar-benar berbakat menyanyi, Taehyung akui dan sadari hal itu. Sejak dahulu mereka masih kecil, Jeongguk selalu menyanyikan lagu untuk Taehyung. Tak terhitung sudah berapa lagu yang Taehyung dengar dari suara merdu Jeongguk, ia selalu kagum dan tak pernah bosan setiap kali mendengar Jeongguk menyanyi, seberapa sering pun ia telah mendengar sebelumnya.
Proses perekaman video cover lagu Yellow telah selesai dan berjalan dengan lancar serta sesuai harapan mereka. Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom mengambil istirahat sejenak, meneguk air mineral, dan berganti kostum untuk membawakan lagu selanjutnya. Pergantian kostum tidak jauh berbeda dengan lagu pertama tadi, hanya jaket luarnya saja yang diganti.
Taehyung kembali sibuk mengatur posisi kamera, memastikan rekaman tadi tersimpan dan penyimpanan masih mencukupi.
“Tae, nanti pas rekaman lagu Your Guardian Angel kamu berdiri deket di belakang kamera, ya,” pesan Jeongguk sebelum rekaman dimulai.
“Kenapa emangnya? Nggak ganggu?” Taehyung mengangkat alisnya heran.
“Biar aku bisa liatin muka kamu pas nyanyi. Biar makin nge-feel dan menghayati lagunya kalau sambil liatin kamu,” ujar Jeongguk dengan senyum miringnya.
Taehyung semakin terheran, ia tahu lagu yang akan Jeongguk nyanyikan, namun ia sedikit lupa tentang isi liriknya hingga membuat Jeongguk melontarkan permintaan aneh itu. Demi kelancaran dan kesuksesan, Taehyung pun menurut, ia berdiri tepat di belakang kamera. Mingyu dan Yugyeom hanya bisa memutar bola mata dan menggelengkan kepala, lama kelamaan hafal jika Jeongguk memang sangat terpesona dan jatuh pada Taehyung, Taehyung-nya saja yang tidak peka dengan semua sinyal-sinyal ketertarikan Jeongguk.
Rekaman telah dimulai, instrumen lagu mengalun dengan indah. Jeongguk tersenyum pada kamera—oh, tepatnya pada Taehyung di belakang kamera. Bait pertama lagu mulai dinyanyikan oleh Jeongguk, pandangan matanya tertuju sepenuhnya pada wajah Taehyung di belakang kamera. Pada bait reff Jeongguk kian menatap netra Taehyung dengan lembut dan penuh pemujaan.
I will never let you fall
I'll stand up with you forever
I'll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
'Cause you're my
You're my, my
Degup jantung Taehyung mulai meningkat intensitasnya seiring ia menyadari lirik lagu tersebut. Ia juga tak melepas pandangannya dari wajah Jeongguk.
My true love
My whole heart
Please don't throw that away
'Cause I'm here for you
Please don't walk away and
Please tell me you'll stay, yeah
Taehyung tenggelam dalam alunan dan lirik lagu itu, hingga tidak menyadari bahwa lagu baru saja selesai dinyanyikan. Ia mengerjapkan mata sebentar dan segera memberhentikan rekaman kamera.
Mereka berempat menghela napas penuh kelegaan, lalu bertepuk tangan bersama untuk mengapresiasi kerja keras masing-masing. Sebelum pulang, mereka terlebih dahulu membereskan semua instrumen alat musik yang tadi dipakai, juga dekorasi yang perlu dilepas. Rekaman video yang telah diambil pun mereka tinjau ulang bersama untuk mengecek apakah ada kekurangan. Ketika dirasa sudah cukup dan tidak terlalu banyak kekurangan—kalau pun ada bisa disamarkan dengan editing. Secara keseluruhan, mereka sangat puas dengan penampilan dan kerja keras hari ini.
Di parkiran mobil, Mingyu dan Yugyeom berpisah dengan Jeongguk dan Taehyung. Mingyu dan Yugyeom masuk ke dalam mobil masing-masing, sedangkan Jeongguk dan Taehyung seperti biasanya, satu mobil berdua.
Kali ini mobil yang digunakan adalah milik Taehyung, sehingga sebelum pulang ke rumahnya, ia mengantar Jeongguk pulang terlebih dahulu.
“Mau mampir main dulu nggak, Tae?” tawar Jeongguk sambil membuka pintu mobil untuk keluar.
“Umm, boleh deh.” Taehyung pun memarkirkan mobilnya di garasi rumah Jeongguk.
Di dalam rumah Jeongguk, mereka langsung disambut oleh Nara dengan wajah melas dan sedikit tertekan.
“Kenapa mukanya ditekuk gitu, Ra?” tanya Jeongguk saat melewati Nara.
“Pusing. Tugasnya susah,” jawab Nara lesu.
“Tugas apa?” Taehyung penasaran.
“Ekonomi, Kak. Ajarin dong, please.” Nara merengek putus asa.
Mereka bertiga berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, tempat kamar Jeongguk dan Nara berada.
“Loh, abang kamu 'kan anak Ilmu Ekonomi. Kok nggak minta diajarin dia aja?” tanya Taehyung sambil menunjuk Jeongguk di sampingnya.
“Habisnya dia ngeselin banget, Kak, kalau ngajarin aku. Darah tinggi mulu,” gerutu Nara, melirik sinis pada Jeongguk dan dibalas dengan lirikan sinis serupa oleh Jeongguk.
“Tapi kan aku Manajemen, Ra. Justru yang lebih tau tentang Ekonomi kan abang kamu,” tutur Taehyung.
Jeongguk mulai malas mendengar gerutuan adiknya, ia pun langsung meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Nara.
“Nggak mau ih, dia mah udah galak, kadang nggak ngerti maksud soalnya juga.” Nara terus mengoceh sambil mengerucutkan bibir.
“Materinya tentang apa sih emangnya?” Taehyung menghela napasnya, merasa kasihan juga lama-lama.
“Kebijakan moneter sama fiskal, Kak,” balas Nara.
“Oh itu, ya udah sini aku ajarin. Masih lumayan inget, dulu semester 1 dapet mata kuliah Dasar-Dasar Ekonomi soalnya,” jawab Taehyung akhirnya.
“Yay!” Nara melompat kegirangan. “Makasih, Kak Tae. Ajarin di kamar aku, ya.”
Nara dan Taehyung pun masuk ke dalam kamar Nara dan memulai mengerjakan tugas. Kamar Nara luasnya hampir sama dengan kamar Jeongguk, namun terlihat lebih sempit karena banyaknya barang-barang di dalamnya. Nara menggelar karpet bulu di samping kasurnya, kemudian menaruh meja lipat untuk belajar.
Tepat di saat Nara sedang membuka buku pelajaran Ekonomi, pintu kamarnya dibuka dari luar oleh seseorang, yaitu Jeongguk dengan membawa sebuah gitar. Dengan santainya Jeongguk langsung mendaratkan diri di atas kasur adiknya.
"Abang ngapain sih ikutan kesini? Bawa gitar segala, ganggu orang belajar tau!" Nara memicing tak suka.
"Sewot amat kamu, belajar ya tinggal belajar doang." Jeongguk acuh dan fokus dengan gitar di pangkuannya.
"Awas, ya, kalau berisik dan ganggu. Kak Tae marahin dong itu sohibnya, suruh jangan ganggu." Seperti dugaan Jeongguk, Nara mengadu pada Taehyung.
"Guki, lagian kamu ngapain sih ikutan kesini bawa gitar segala. Adik kamu lagi belajar lho ini," ujar Taehyung sambil menatap Jeongguk.
"Gabut di kamar, mending kesini liatin kamu," balas Jeongguk santai.
"Dih apaan sih, ya udah terserah tapi jangan berisik dan ganggu," peringat Taehyung.
"Iya iya," jawab Jeongguk sambil menggumam lirih mencoba nada dan melodi baru di gitarnya.
Di sela mengajari Nara, sesekali Taehyung bertanya kepada Jeongguk apakah jawaban Nara benar atau salah. Ia ingin memastikan karena ingatannya saat ini tentang materi Kebijakan Moneter dan Fiskal sudah tidak sekuat kala semester 1.
"Guk, kalau negara lagi ngalamin inflasi, salah satu kebijakan moneter yang bisa diterapkan kan politik diskonto. Nah, di sini Bank Sentral naikin nilai suku bunga, 'kan? Bukan nurunin?" Taehyung menengok sebentar ke arah Jeongguk.
"Iya, kalau nilai suku bunga diturunin berarti negara lagi ngalamin deflasi, bukan inflasi," jelas Jeongguk.
"Oh iya, inget. Tujuan dinaikin nilai suku bunga biar masyarakat terdorong buat nabung. Kalau masyarakat banyak yang nabung, jumlah uang yang beredar bisa berkurang dan tingkat inflasi bisa ditekan. Bener?" papar Taehyung dengan lengkap.
"Yups, bener banget. Pinter kamu, Tae," puji Jeongguk dengan senyum kecilnya.
"Nggak kayak Abang," seloroh Nara.
"Idih, Taehyung aja barusan nanya jawaban kamu ke Abang." Jeongguk menjulurkan lidahnya mengejek.
"Udah udah, jangan ribut mulu kenapa sih?" Taehyung melerai cekcok kecil antara Jeongguk dan Nara.
"Ra, Taehyung idaman banget kan buat ngajarin kamu ngerjain tugas?" celetuk Jeongguk tiba-tiba, seolah baru saja mereka tidak terlibat saling ledek.
"Iya, nggak kayak Abang." Nara terus saja meledek kakaknya.
"Mau nggak kamu punya kakak ipar kayak Taehyung?" tanya Jeongguk.
"Mau lah," jawab Nara tanpa basa basi.
"Tuh, Tae. Nara aja mau dan pengen kamu jadi kakak ipar dia, tinggal kamunya aja, mau nggak?" Jeongguk menaik-turunkan alisnya, menggoda Taehyung.
"Ngomong apa sih, Guk? Heran deh, nggak di kampus, nggak di rumah, hobinya bercanda aneh-aneh mulu," gerutu Taehyung dengan pipi yang terasa mulai memanas.
Nara justru tertawa terbahak, adegan di mana kakaknya menggoda Taehyung adalah hiburan tersendiri baginya. Jeongguk yang sangat tergila-gila sekaligus bucin, dan Taehyung yang amat tidak peka serta bersikap hard to get.
Jeongguk hanya bisa mengelus dada akan sikap Taehyung yang tidak peka. Jeongguk, dalam setiap godaannya, memang bermaksud. Sudah lama ia melancarkan berbagai kata cinta dan pujian kepada Taehyung. Namun, lelaki manis tersebut tak lebih dari menganggap Jeongguk hanya bercanda dan ingin membuatnya malu.
"Semangat, ya, Bang. Emang harus ekstra effort buat naklukin yang tsundere kayak Kak Taehyung gini," cetus Nara, masih tertawa melihat wajah Taehyung yang perlahan berubah memerah.
"Nara, nggak usah ikut-ikutan abang kamu deh, cepet kerjain tugasnya." Taehyung menggerutu kesal sekaligus malu.
"Capek. Istirahat dulu, ya, Kak," pinta Nara dengan wajah memelas.
"Nah, lagi istirahat, 'kan? Aku nyanyiin lagu, nih. Dengerin, Tae." Jeongguk mengambil posisi duduk yang nyaman sambil memangku gitarnya.
Taehyung terdiam, namun tetap merubah posisi duduknya menghadap Jeongguk yang mulai memetik senar gitar.
How would you feel, if I told you I loved you?
It's just something that I want to do
I'll be taking my time, spending my life
Falling deeper in love with you
So tell me that you love me too
Kedua pasang mata pemuda itu bertemu. Jeongguk tak sekalipun melepas pandangannya dari wajah Taehyung. Petikan senar di gitarnya seolah telah ia hapal di luar kepala, sehingga tak perlu melirik pada sang gitar. Taehyung pun balik menatap sambil menahan rasa malu. Entah malu karena apa.
"Gimana? Bagus nggak?" tanya Jeongguk saat ia telah selesai menyanyikan lagu itu.
"Bagus, lagunya siapa?"
"Ed Sheeran, judulnya How Would You Feel. Cocok banget sama apa yang lagi aku rasain sekarang." Jeongguk tersenyum penuh arti kepada Taehyung.
“Ehem,” sela Nara yang merasa menjadi obat nyamuk bagi Taehyung dan Jeongguk. “Kak Tae, lanjut ajarin.”
“Oh,” Taehyung gelagapan dan mengembalikan atensinya pada Nara sepenuhnya. “Oke, lanjut yuk.”
Taehyung tersenyum canggung, namun secepat mungkin berusaha ia hilangkan rasa canggung itu dengan berlanjut mengajari Nara menyelesaikan tugasnya.
***
Suatu hari di tengah jam kuliah, ponsel Taehyung bergetar di dalam sakunya, ia tidak bisa menahan untuk mengeceknya. Satu tahun menjadi manajer untuk Stargazer membuat Taehyung berubah menjadi tipe orang yang selalu fast respon, pekerjaannya sebagai manajer membuatnya harus selalu siap siaga mengecek setiap notifikasi e-mail yang muncul untuk mengetahui apakah ada tawaran manggung untuk Stargazer. Kebetulan hari ini Taehyung duduk di barisan bangku belakang, maka ia pun memberanikan diri untuk membuka notifikasi ponselnya.
Benar saja, notifikasi e-mail itu berisi tentang tawaran kepada Stargazer untuk mengisi acara di Fakultas Ilmu Budaya sebagai salah satu performer. Bola mata Taehyung seketika membulat dan berbinar antusias. Untuk pertama kalinya, Stargazer mendapat tawaran manggung di luar Fakultas Ekonomi & Bisnis. Meskipun mereka cukup terkenal di tingkat kampus, mereka belum pernah tampil di luar FEB.
Taehyung segera memberitahu Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom di group chat mereka agar seusai kelas nanti berkumpul di taman gazebo untuk menyampaikan kabar gembira ini.
“Mau ngomong apa, Tae, kok mendadak kumpul gini?” tanya Mingyu. Saat ini mereka berempat telah berkumpul dan duduk melingkar di salah satu gazebo.
“Jadi, tadi pas masih kelas, aku dapet e-mail dari panitia dies natalis FIB.” Taehyung memulai dengan raut wajah antusias.
“Fakultas Ilmu Budaya?” Jeongguk bertanya.
“Iya,” jawab Taehyung sambil membuka kembali e-mail di ponselnya.
“Isinya apa?” Yugyeom penasaran.
“Tawaran manggung di acara dies natalis FIB!” seru Taehyung sambil menunjukkan e-mail itu di tengah-tengah mereka duduk.
“Sumpah?” Yugyeom melongo tak percaya.
“Bentar, bentar. Sini gue baca, biar yakin.” Jeongguk merebut ponsel Taehyung dari tangan Yugyeom.
“Gila, belum pernah loh kita manggung di luar FEB.” Mingyu terkejut sekaligus tak percaya.
“Bukannya FIB tuh gudangnya penyanyi sama band yang bagus-bagus, ya? Apalagi soloist ceweknya, siapa namanya? Gue lupa.” Jeongguk menyenggol bahu Yugyeom.
“Nama panggungnya IU. Nama aslinya Lee Jieun,” balas Yugyeom.
“Nah, itu. Kenapa, ya, mereka masih ngundang band di luar FIB?” Jeongguk antusias dan senang, namun juga heran di saat yang bersamaan.
“I guess our promotion strategy works well.” Taehyung mengulas senyum lebar.
“Oh iya, anjir!” teriak Jeongguk sambil menjentikkan jarinya. “Mereka pasti kecantol sama video cover kita.”
“Sebelum bikin video cover sebenernya kita juga udah lumayan terkenal nggak sih?” ujar Mingyu dengan percaya diri.
Mereka tertawa lepas, setuju dengan pernyataan Mingyu. Bukannya terlalu percaya diri dan sombong, akan tetapi terkadang self appreciation itu perlu dan penting. Apalagi akhir-akhir ini mereka bekerja dengan cukup keras. Self appreciation sangat membantu dalam membuat mereka merasa lebih percaya diri dengan kemampuan mereka, semangat dalam setiap latihan dan penampilan, serta membuat pikiran menjadi lebih tenang.
***
Suasana auditorium Fakultas Ilmu Budaya sore itu sangat ramai oleh banyaknya mahasiswa dan berisik akan suara teriakan heboh para mahasiswa. Acara dies natalis telah sampai pada rangkaian acara hiburan. Terdapat banyak performer yang menunggu giliran mereka untuk tampil di panggung, termasuk Stargazer, ditemani oleh Taehyung sebagai manajer.
“Habis ini kalian dipanggil, siap-siap, ya,” ujar Taehyung kepada Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom yang saat ini tengah duduk menunggu. Ia terus mengecek papan kecil berisi susunan acara dan nama-nama band serta penyanyi solo yang akan tampil.
“Deg-degan banget gue,” ucap Yugyeom.
“Kalem, Gi. Kalau lo nervous nanti malah blank dan nggak bisa enjoy.” Jeongguk memenangkan rekan band- nya tersebut.
“Perasaan gue campur aduk. Gugup iya, excited juga iya.” Mingyu menghembuskan napasnya kasar, mencoba mengontrol diri agar tidak terlalu gugup.
“Wajar, kok. Tapi, jangan terlalu gugup banget. Dibawa santai aja kayak penampilan biasanya,” imbuh Taehyung.
“Bener. Gue juga gugup tapi lebih banyak excited- nya sih,” ujar Jeongguk.
Tak lama kemudian, seorang panitia mendatangi mereka dan menyuruh untuk segera bersiap-siap karena sebentar lagi Stargazer akan dipanggil untuk tampil di atas panggung. Seperti biasanya, mereka melakukan tos bersama dan menyerukan jargon andalan penyemangat mereka. Taehyung tak lupa selalu mengecek penampilan mereka dari sisi kostum. Setelah semuanya dirasa sempurna, Taehyung mengucapkan kata-kata penyemangat terakhir sebelum mereka naik ke atas panggung.
Riuh tepuk tangan dan teriakan keras menyambut Stargazer pada detik pertama mereka menginjakkan kaki di panggung yang cukup mewah ini. Mereka bertiga merespons dengan melambaikan tangan dan membentuk senyum lebar di bibir. Sesuai kesepakatan awal, pada penampilan kali ini Stargazer akan membawakan tiga lagu cover dan satu lagu ciptaan mereka sendiri.
Lagu pertama yang ditampilkan adalah This Love milik Maroon 5. Penonton ikut bersenandung mengikuti melodi lagu lawas tersebut dan mengetukkan kaki ke lantai perlahan menyesuaikan beat yang mengalun. Jeongguk sangat percaya diri dan tampak menikmati lagu. Begitu juga dengan Mingyu dan Yugyeom yang ikut larut dalam alunan musik.
This love has taken its toll on me
She said goodbye too many times before
And her heart is breaking in front of me
And I have no choice 'cause I won't say goodbye anymore
Kegugupan mereka perlahan sirna saat penonton memberikan respon hangat berupa tepuk tangan meriah ketika lagu telah selesai dibawakan.
Lagu kedua yang dibawakan oleh Stargazer adalah Jet Black Heart milik 5 Seconds of Summer. Lagu ini mengandung makna yang cukup menyedihkan walau dibawakan dengan instrumen yang cukup berisik.
But now that I'm broken
Now that you know it
Caught up in a moment
Can you see inside?
Jet Black Heart seperti lagu anthem wajib untuk mereka yang merasa hidupnya penuh akan kekurangan, penderitaan, dan kesedihan, ditambah pula dengan sisi kelam sehitam arang dan rasa sakit hati yang pernah mereka rasakan.
'Cause I've got a jet black heart
And there's a hurricane underneath it
Trying to keep us apart
I write with a poison pen
But these chemicals moving between us
Are the reason to start again
Stargazer seolah mengajak semua audiens untuk menceritakan cerita dan luka mereka masing-masing melalui lagu ini.
The blood in my veins
Is made up of mistakes
Let's forget who we are
And dive into the dark
As we burst into color
Returning to life
Namun, lagu itu juga mengandung makna bahwa kita harus kembali bangkit dan melupakan semua kesedihan yang pernah kita alami.
Setelah usai membawakan lagu bertema kesedihan, lagu selanjutnya yang akan ditampilkan oleh Stargazer adalah Cake By The Ocean milik DNCE. Lagu ini adalah kebalikan dari lagu sebelumnya, membawa suasana bahagia dengan beat dan melodi yang cocok untuk bersenang-senang.
Waste time with a masterpiece, don't waste time with a masterpiece
You should be rollin' with me, you should be rollin' with me
You're a real-life fantasy, you're a real-life fantasy
But you're movin' so carefully, let's start livin' dangerously
Pada dasarnya lagu ini sudah sangat playful dan mempunyai vibes ceria, namun pembawaan khas dari Jeongguk ditambah Mingyu dan Yugyeom yang ikut menambahkan improvisasi berupa adlibs membuat lagu ini semakin dinamis dan playful.
Talk to me, baby
I'm goin' blind from this sweet-sweet cravin', whoa-oh
Let's lose our minds and go fuckin' crazy
I-I-I-I-I-I keep on hopin' we'll eat cake by the ocean
Walk for me, baby
I'll be Diddy, you'll be Naomi, whoa-oh
Let's lose our minds and go fuckin' crazy
I-I-I-I-I-I keep on hopin' we'll eat cake by the ocean
Para penonton sangat menikmati penampilan lagu seru ini hingga ikut menyanyikan liriknya, melompat-lompat, mengangkat kedua tangan, serta menghentakkan kaki.
Tiga lagu cover telah selesai ditampilkan. Jeongguk mengambil botol air mineral yang telah disediakan di pinggir panggung. Begitu juga dengan Mingyu, ia melepas gitar dari bahunya dan ikut mengambil botol. Yugyeom beranjak dari balik drum dan melakukan hal yang sama. Setelah meneguk air mineral dengan puas dan mengelap keringat di wajah dengan handuk kecil, Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom berdiri sejajar di atas panggung dan memperkenalkan diri mereka.
“Halo, kami adalah Stargazer dari Fakultas Ekonomi & Bisnis!” sapa mereka bertiga dengan kompak diikuti oleh gerakan membungkuk sopan. Reaksi penonton yang heboh dan antusias membuat ketiga pemuda itu tertawa rileks.
“Sebelumnya, kami sangat berterima kasih atas sambutan, antusias, dan dukungan dari semua penonton, juga semua panitia penyelenggara yang telah melaksanakan acara ini dengan begitu baik sehingga kami bisa tampil dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Kami mengucapkan selamat hari jadi yang ke-15 untuk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Konkuk, semoga FIB semakin sukses selalu, menjadi fakultas yang menghasilkan lulusan dan seniman yang sukses dan berbakat, dan menjadi fakultas yang membanggakan Universitas Konkuk. Sebelum kami pamit undur diri, ada satu buah lagu yang akan kami persembahkan untuk kalian semua, yaitu lagu ciptaan kami sendiri yang berjudul Cityscape. Semoga kalian suka dengan lagu ini, selamat menikmati. Terima kasih!” Jeongguk tersenyum lebar, diikuti oleh Mingyu dan Yugyeom yang juga tersenyum dan sekali lagi mereka membungkuk sopan.
Setelah itu, mereka kembali ke posisi masing-masing. Jeongguk dengan gitar dan mic, Mingyu dengan gitar bass, dan Yugyeom dengan drum. Instrumen dasar lagu Cityscape mulai mengalun indah, membuat penonton secara refleks mengangguk-anggukkan kepala. Suara Jeongguk perlahan terdengar melantunkan lagu itu.
After a long day, a very tiring day
The good old night is finally coming on your way
It’s the time when the moon up there glows and gleams its shining charm
Above the cityscape that fills me with delights
So dear my friend, reward yourself with some good sleep
Here, I sing by to you, to wish you a very lovely night
A new day is waiting for you, without any sorrow
Don’t worry, you’ll be okay, goodnight
Bait terakhir lagu telah selesai dinyanyikan, tepuk tangan penonton, bahkan standing applause diberikan untuk Stargazer yang sore hingga malam ini menyajikan penampilan yang memukau dan bagus. Penonton benar-benar merasa puas dan terhibur, berteriak heboh saat Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom melambaikan tangan dan meninggalkan panggung, seolah tidak rela berpisah dengan Stargazer.
Sesampai di backstage, Taehyung yang sedari tadi hanya memonitor melalui layar televisi kecil, langsung berseru dan bertepuk tangan riuh.
“Gila! Kalian keren banget tau! Sumpah, aku agak speechless. Apalagi pas liat reaksi penonton, mereka suka banget dan enjoy,” seru Taehyung sambil bertos ria dengan Mingyu dan Yugyeom.
“Gue juga nggak nyangka bakal serame ini,” ujar Mingyu, masih terengah-engah.
“Definitely one of the best performances, sih.” Yugyeom menggelengkan kepala takjub.
“Guki! You’re the spotlight! Bener-bener gila.” Taehyung merentangkan tangannya dan memeluk Jeongguk, tidak mempedulikan bajunya yang lembab akibat keringat.
“Makasih, Tae. Makasih banyak, ini semua berkat kerja keras kamu juga, kok. Makasih, ya, udah selalu kasih dukungan buat Stargazer.” Jeongguk membalas pelukan Taehyung dengan hangat, menumpukan dagunya di bahu Taehyung.
Taehyung tak membalas, hanya terdiam dan mengembangkan senyuman lebar di balik punggung Jeongguk. Ia sangat bangga dan bahagia melihat kesuksesan penampilan Stargazer tadi, terutama saat mereka menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri. Taehyung terharu sekaligus bangga.
“Udah, lepas. Kamu keringetan banyak banget.” Taehyung kembali ke mode biasanya.
Jeongguk terkekeh, melepaskan pelukan itu. Mereka berempat kemudian pergi ke area restroom untuk beristirahat sebentar. Di perjalanan menuju restroom Jeongguk melingkarkan satu lengannya ke leher Taehyung, merangkulnya sambil berjalan berdampingan. Tidak mempedulikan panitia dan staff yang juga sedang lalu lalang di sekitar mereka.
“Lepasin, Guk. Jangan kenceng-kenceng, nggak bisa napas aku.” Taehyung berusaha keluar dari rangkulan Jeongguk.
“Nanti aku kasih napas buatan.” Jeongguk justru menggusak dahinya di rambut Taehyung. “Lewat mulut, oke?”
Taehyung melotot kaget, “Tabok nih?” ancam Taehyung sambil mengangkat telapak tangannya.
“Bercanda, Sayang.” Jeongguk terkekeh ringan.
“Guk, jangan aneh-aneh bisa nggak sih? Lagi banyak orang loh.” Taehyung memukul bahu Jeongguk main-main.
Saking seringnya Jeongguk melontarkan godaan dan rayuan kepada Taehyung, teman-teman mereka yang belum begitu mengenal mereka pun meyakini bahwa Jeongguk dan Taehyung adalah sepasang kekasih. Nyatanya, nol besar.
Jika ditanya tentang status, mereka terkadang enggan menanggapi atau hanya menjawab bahwa mereka tidak lebih dari sekadar teman kecil. Kontradiksi dengan situasi di lapangan. Di mana Jeongguk selalu menggoda dan menjahili Taehyung, serta Taehyung yang diam-diam blushing saat digoda.
“Kalo nggak banyak orang berarti mau?” Jeongguk menaik-turunkan sebelah alisnya.
“Ya enggak lah!” dengus Taehyung.
Jeongguk baru melepaskan rangkulan erat di leher Taehyung saat seorang perempuan menyapa Jeongguk dari arah yang berlawanan.
“Hai, lo Jeongguk, ‘kan?” tanya perempuan cantik itu yang Jeongguk duga adalah penyanyi solo terkenal dari FIB, IU alias Lee Jieun.
“Halo, iya, gue Jeongguk. Lo IU, kalo nggak salah?” jawab Jeongguk ragu.
“Betul. Gue IU, panggil Jieun aja, ya.” Jieun tersenyum manis.
“Ah, oke, Jieun. Ini Taehyung, sahabat sekaligus manajer gue.” Jeongguk membalas senyuman itu dan mengangguk mengerti.
“Hai, Taehyung,” sapa Jieun dengan sopan.
“Halo, Jieun.” Taehyung mengangguk kecil.
“Penampilan lo dan band lo tadi keren banget, Jeongguk. Gue kagum dan salut,” ungkap Jieun dengan raut wajah antusias.
“Makasih banyak, Jieun. Lo baru mau tampil, ya?” Jeongguk benar-benar tersanjung saat dipuji oleh penyanyi solo itu.
“Iya, nih.”
“Good luck, ya. Semoga lancar dan sukses. Suara lo bagus banget, gue suka.” Jeongguk memberi semangat dan memuji Jieun.
“Yups, makasih, ya, Jeongguk. Salam kenal, semoga kita bisa jadi temen.” Jieun tertawa kecil.
“Salam kenal juga. Iya, semoga,” balas Jeongguk dengan ramah.
Jieun kemudian berpamitan dan melangkah pergi untuk bersiap naik ke atas panggung. Sedangkan Jeongguk melanjutkan jalannya menuju restroom bersama Taehyung yang dari tadi secara tidak sadar Jeongguk abaikan ketika berbincang dengan Jieun. Taehyung hanya diam saja dan memilih untuk terus berjalan di samping Jeongguk.
“Selama ini aku cuma denger suara dia dari rekaman sama Youtube, ternyata aslinya jauh lebih bagus. Iya kan, Tae?” Jeongguk menyenggol lengan Taehyung di sampingnya.
“Iya, bagus,” balas Taehyung singkat.
Setelah berjalan agak jauh, Jeongguk dan Taehyung akhirnya sampai di restroom, menyusul Mingyu dan Yugyeom yang sudah sampai terlebih dahulu. Mingyu tengah membasuh wajahnya di sebuah wastafel, sedangkan Yugyeom sedang mengelap keringat di wajah dan lengannya. Jeongguk datang dengan cerita hebohnya karena tadi ia diajak berkenalan oleh IU, penyanyi solo terkenal dari FIB. Mingyu dan Yugyeom pun sontak menghentikan aktivitas masing-masing.
“Serius lo, bro?” tanya Mingyu tak percaya.
“Serius lah. Tanya aja Taehyung,” jawab Jeongguk.
“Kenalan di mana?” Yugyeom ikut penasaran.
“Beneran, Tae?” Mingyu meminta konfirmasi dari Taehyung.
“Iya, bener. Di jalan pas mau kesini tadi,” balas Taehyung dengan nada datar.
“Dia bilang penampilan kita tadi bagus dan keren,” ujar Jeongguk dengan wajah berbinar senang.
“Bisa lah kapan-kapan collab,” seloroh Mingyu.
Yugyeom dan Jeongguk tertawa, “Amin-in aja deh.”
Karena di restroom itu hanya ada satu wastafel dan masih menunggu giliran setelah Yugyeom, Jeongguk memutuskan untuk duduk di lantai bawah, tepat di depan Taehyung yang duduk di sebuah sofa kecil.
“Tae, capek,” keluh Jeongguk seraya menatap wajah Taehyung dengan tatapan anak anjing yang lucu.
“Mau aku pijit?” tawar Taehyung, mood-nya yang tadi sempat turun dan buruk—entah karena apa, kini luntur saat melihat ekspresi wajah Jeongguk yang terlihat kelelahan.
Jeongguk memberi anggukan kepala sebagai jawaban. Tak lama kemudian dirasakannya dua telapak tangan mendarat di tengkuk dan bahunya, mulai memijit dengan lembut.
“Cari pacar sana, biar ada yang ngurusin kalo capek manggung,” tutur Taehyung iseng.
“Emang pacar gunanya cuma buat ngurusin kita kalau capek?” Jeongguk mengerutkan kening.
“Ya enggak, tapi setidaknya kalau punya pacar nanti ada yang manjain kamu, hibur kamu biar nggak capek lagi, bikin kamu semangat,” sambung Taehyung.
“Nggak mau ah, kamu aja udah lebih dari cukup,” kata Jeongguk dengan mata yang mulai terpejam akibat pijatan yang nikmat dan membuatnya rileks.
Taehyung menghela napas gugup, entah apa maksud perkataan Jeongguk barusan. Apakah Taehyung lebih dari cukup sebagai sahabat dan manajer, atau lebih dari cukup untuk menggantikan sosok kekasih untuk Jeongguk?
***
Tiga hari setelah perkenalan Jeongguk dengan IU, ucapan iseng Mingyu kemarin siapa sangka menjadi kenyataan. Saat ini, Stargazer baru saja selesai latihan rutin di studio musik kampus, ditemani juga oleh Taehyung. Taehyung segera membuka notifikasi e-mail saat ponselnya bergetar. Ia membaca dengan seksama satu persatu kata yang terlampir di e-mail tersebut. Wajahnya berubah datar dan tanpa ekspresi saat membaca kata IU di e-mail tersebut.
“Kalian kenal atau tau Min Yoongi?” tanya Taehyung saat melihat nama pengirim email itu.
“Tau. Dia lulusan FIB tahun 2017 kemarin. Sekarang jadi manajer sekaligus produsernya IU,” jawab Yugyeom setelah meneguk air mineral.
“Kenapa emangnya, Tae?” Mingyu mengerutkan dahinya.
“Barusan dapet e-mail dari dia,” balas Taehyung, masih fokus dengan ponselnya.
“Jangan-jangan omongan Mingyu kemarin jadi kenyataan,” tebak Jeongguk.
“Yups. Mereka ngajak collab sama kita.” Taehyung mendongak dari ponsel dan menatap temannya satu persatu dengan senyum tipis.
“Lo nggak bercanda kan, Tae?” Mingyu membulatkan matanya.
“Gokil bener omongan lo kemarin, Gyu.” Yugyeom berteriak antusias sambil memukul lengan Mingyu.
“Nih, baca sendiri kalau nggak percaya.” Taehyung menyodorkan ponselnya pada Mingyu yang langsung dikerumuni oleh Yugyeom dan Jeongguk, ikut membaca isi e-mail .
Studio musik sore itu dipenuhi oleh suara teriakan girang dari Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom karena mendapat ajakan kolaborasi dengan salah satu penyanyi solo terkenal Universitas Konkuk. Taehyung turut tersenyum senang dan bangga atas tawaran kolaborasi itu.
“Ngomong-ngomong, kolaborasinya nyanyi bareng bawain lagu cover atau bikin lagu bareng, Tae?” Jeongguk bertanya.
“Barusan Kak Yoongi jawab e-mail, katanya nyanyiin lagu cover. Soalnya kalau bikin lagu sendiri dia lagi sibuk, jadi nggak bisa dalam waktu dekat kalau kolaborasi bikin lagu sendiri,” jelas Taehyung sambil membaca e-mail.
“Oh, gitu. Udah lebih dari cukup sih kita bisa nyanyi bareng aja. Kalau ada kesempatan mungkin kedepannya bisa bikin lagu bareng,” ujar Jeongguk.
“Yups. Step by step dulu, bro,” sahut Yugyeom.
“Berapa lagu yang mau kita nyanyiin?” tanya Mingyu.
“Dua lagu, dua kali perform. Satu di kampus, satu lagi di luar kampus biar masyarakat umum bisa tau tentang Stargazer dan IU,” ujar Taehyung.
“Hah? Di luar kampus?” Yugyeom melongo.
“Kayak di kafe gitu?” Jeongguk menambahkan.
“Iya, di kafe atau restoran yang ada live music.” Taehyung menganggukkan kepalanya.
“Kita belum pernah tampil di luar kampus, anjir.” Mingyu heboh, tidak menyangka akan tampil di depan umum.
“Kalem, Gyu, kalem. Ini kesempatan yang bagus banget buat kita promosi diri sendiri dan memperluas audiens.” Jeongguk memberikan pendapatnya.
“Setuju. Apalagi bareng IU,” tambah Yugyeom.
Setelah semua anggota Stargazer dan Taehyung setuju dengan tawaran kolaborasi tersebut, Taehyung segera mengiyakan dan melakukan konfirmasi persetujuan dengan Yoongi. Tak lupa, Taehyung dan Yoongi juga berdiskusi membahas penentuan jadwal latihan bersama antara Stargazer dan IU.
***
Telah disepakati sebelumnya bahwa jadwal latihan Stargazer dan IU sebelum tampil adalah sebanyak tiga kali. Saat ini, mereka tengah melaksanakan latihan ketiga atau terakhir sebelum besok tampil di sebuah kafe. Latihan terakhir kali ini bertempat di studio musik yang biasa dipakai oleh Stargazer, yaitu di FEB.
Latihan berjalan dengan baik dan lancar. Mereka berlatih dua lagu sekaligus, yaitu lagu Irresistible milik Fall Out Boy feat. Demi Lovato dan lagu Jet Lag milik Simple Plan feat. Natasha Bedingfield. Tiga kali latihan telah cukup untuk membentuk chemistry antara Jeongguk dan IU sebagai vokalis. Mereka sering mendiskusikan tentang gaya bernyanyi masing-masing dan memilih gaya yang cocok untuk membawakan lagu secara duet.
Taehyung duduk di pojok ruangan sambil mengamati jalannya latihan, ia tidak banyak berbicara dan berkomentar. Bahkan, sebenarnya cenderung malas melihat setiap interaksi yang terjadi antara Jeongguk dan IU, entah apa yang membuat Taehyung merasa seperti ini. Kehadiran IU terasa seperti sebuah ancaman, namun Taehyung terlalu bodoh dan tidak peka untuk mengerti sesuatu apa yang sebenarnya terancam oleh kehadiran penyanyi solo wanita itu.
***
Penampilan kolaborasi Stargazer dan IU dijadwalkan akan dilaksanakan dalam dua hari berturut-turut. Hari ini adalah jadwal mereka manggung bersama di luar kampus, tepatnya di sebuah kafe yang menyediakan live music. Hari yang dipilih sangat tepat, yaitu malam Minggu, waktu di mana banyak muda-mudi yang nongkrong di kafe untuk berkencan dan sekadar mencari hiburan untuk mengatasi kebosanan.
Pada awalnya, mereka sangat gugup ketika melihat banyaknya pengunjung dari masyarakat umum. Namun, setelah berdiri di atas panggung kecil, rasa gugup itu perlahan pudar, ditambah lagi dengan adanya sorak sorai pengunjung kafe. Sebelum mulai menyanyikan lagu, Jeongguk dan IU terlebih dahulu menyapa semua orang yang ada di sana. Sambutan berupa tepuk tangan meriah membuat Stargazer dan IU menjadi sedikit lebih rileks dan percaya diri.
Taehyung memilih untuk memonitor dan mengawasi dari bangku yang berada di pojok kafe. Sebelumnya, ia telah memesan segelas stroberi squash dan kentang goreng untuk menemaninya. Sesekali ia membalas pesan dari Yoongi yang kebetulan hari itu tidak bisa menemani mereka tampil, Yoongi terus menanyakan perkembangan mereka. Taehyung membalasnya dengan kabar-kabar baik, bahwa chemistry mereka bagus, pengunjung kafe banyak, dan antusias menyambut Stargazer dan IU.
Waktu berjalan sangat cepat, lagu Irresistible berhasil dibawakan dengan sangat baik dan menyita perhatian penonton. Interaksi kecil yang dilakukan oleh Jeongguk dan IU membuat penonton ikut bersorak antusias.
“Terima kasih untuk semua pengunjung yang telah mengapresiasi dan memberikan antusiasnya kepada penampilan kami, terima kasih juga untuk pemilik kafe yang telah memberi kesempatan pada kami untuk menghibur pengunjung kafe ini. Semoga kafe ini selalu sukses dan selalu ramai pengunjung untuk kedepannya. Terima kasih,” ujar Jeongguk sebagai kalimat penutup malam itu.
“Saya, IU, dan Stargazer Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom mengucapkan terima kasih dan selamat malam. Kami undur diri, have a lovely Saturday night, everyone!” IU memberikan salam terakhirnya. Kemudian mereka berempat berbaris berjajar dan membungkuk sopan.
Sekali lagi, pengunjung memberikan tepuk tangan dan sorakan mereka. Beberapa dari mereka juga membalas lambaian tangan yang dilakukan oleh Stargazer dan IU. Taehyung tersenyum bangga dan ikut bertepuk tangan di pojok ruangan.
***
Penampilan kedua Stargazer dan IU adalah pada sebuah pembukaan pekan festival olahraga tingkat universitas. Festival tersebut dilaksanakan di GOR Universitas Konkuk yang berukuran lumayan besar. Panggung untuk hiburan pun didirikan luas dan mewah.
Dibandingkan dengan di kafe kemarin, kali ini Stargazer merasa jauh lebih gugup. Sebab, kali ini audiensnya berasal dari 18 fakultas yang ada di Universitas Konkuk. Pekan festival olahraga tahunan ini adalah salah satu festival terbesar yang diselenggarakan oleh Universitas Konkuk, pengisi acaranya pun tidak sembarangan dan main-main. Bahkan, mereka juga mengundang girl group dan boy group terkenal di Korea Selatan seperti BTS, Ateez, Stray Kids, TWICE, dan Itzy.
“Tenang aja, Guk. Nggak usah dijadiin beban, kita di sini have fun aja, oke?” Jieun menepuk-nepuk bahu Jeongguk, berusaha menenangkan Jeongguk yang gugup.
Jeongguk terkekeh kecil, “Oke, oke. Lo nggak gugup?”
“Gugup sih, tapi nggak terlalu. Tahun lalu gue juga pernah tampil di festival olahraga ini, tapi pas di penutupan, bukan pembukaan,” jawab Jieun.
“Oh, iya. Gue inget, tapi waktu itu gue nggak dateng di GOR,” balas Jeongguk.
Melihat keakraban dalam perbincangan Jeongguk dan IU, Taehyung memilih untuk duduk menjauh dan bergabung dengan Mingyu dan Yugyeom. Sesekali ia juga mengobrol dengan Yoongi yang kali ini menyempatkan diri untuk hadir.
Walaupun terlihat dingin, cuek, dan tegas dari luar, kepribadian Yoongi ternyata sangat lembut dan easy-going. Taehyung dan Yoongi mengobrol dan saling berbagi tentang seluk-beluk mengelola artis. Taehyung mendapat banyak ilmu baru dari obrolan tersebut, Yoongi sudah sangat berpengalaman menjadi manajer dan produser IU hingga penyanyi solo itu telah mengeluarkan satu mini album yang cukup sukses. Taehyung berharap suatu saat nanti, Stargazer bisa seperti IU yang telah mengeluarkan mini album. Ia melihat potensi yang sangat bagus pada diri Jeongguk dengan kemampuan menulis lirik lagu dan menciptakan melodi yang indah.
Giliran Stargazer dan IU untuk tampil telah tiba beberapa menit kemudian. Mereka berenam—Jeongguk, Mingyu, Yugyeom, IU, Yoongi, dan Taehyung berdiri melingkar dan menyatukan tangan mereka di tengah. Teriakan semangat menggelegar dari mulut Jeongguk, diikuti oleh seruan lainnya dari kelima orang tersebut.
Setelah kepergian Stargazer dan IU menuju panggung, Yoongi dan Taehyung tetap berada di backstage, berdiri di depan sebuah layar monitor sembari mengawasi penampilan Stargazer dan IU. Suara sorak sorai penonton terdengar sangat keras hingga ke backstage, cukup meyakinkan bagi Yoongi dan Taehyung bahwa kolaborasi antara Stargazer dan IU akan sukses dan memukau penonton.
Seperti kesepakatan awal, lagu yang akan mereka tampilkan kali ini adalah lagu berjudul Jet Lag milik Simple Plan feat. Natasha Bedingfield. Gitar elektrik yang dipegang oleh Mingyu mulai terdengar, diikuti oleh pukulan drum dari Yugyeom.
What time is it where you are?
Jeongguk mengawali lagu dengan suara semanis madu miliknya.
I miss you more you than anything
Dibalas oleh IU kemudian.
And back to home you feel so far
Jeongguk menyahut.
Waiting for the phone to ring
IU kembali menimpali.
It's getting lonely living upside-down
I don't even wanna be in this town
But trying to figure the time zone's making me crazy
Kemudian pada bait sebelum reff mereka melakukan harmonisasi yang sangat indah dan mengejutkan penonton. Pada bait-bait selanjutnya hingga akhir lagu, Jeongguk dan IU terus berbalas-balasan lirik lagu serta melakukan harmonisasi yang indah. Penonton benar-benar ikut melompat mengikuti irama lagu yang mempunyai vibes penuh semangat dan up-beat. Tak hanya itu, audiens juga terpana akan seberapa merdu dan indahnya suara Jeongguk dan IU bersatu padu.
Tepuk tangan dan teriakan heboh dari penonton menjadi penutup penampilan Stargazer dan IU petang itu. Sebelum benar-benar turun panggung, Jeongguk dan IU mengucapkan beberapa patah kata sebagai ucapan terima kasih atas kesempatan untuk tampil di pembukaan pekan festival olahraga Universitas Konkuk dan mengucapkan selamat bersenang-senang, bertanding, dan semangat untuk semua partisipan yang ikut.
“Jangan lupa tetap jaga sportivitas, fair play, dan semangat berjuang! Semoga mendapat hasil yang terbaik,” tutup Jeongguk sore itu, kemudian bersama dengan Mingyu, Yugyeom, dan IU, mereka membungkukkan badan sebagai pertanda pamit.
Sesampai di backstage, Jeongguk dan kawan-kawan serta IU disambut oleh tepuk tangan dari Yoongi dan Taehyung. Mereka berenam saling melakukan tos satu sama lain. Bahkan, Yoongi berkali-kali memuji Stargazer terang-terangan hingga membuat IU sedikit cemburu.
Yoongi dan Jeongguk tertawa melihat Jieun cemberut karena Yoongi terus memuji Stargazer.
“Jangan cemberut. Lo juga keren banget, Ji. Mungkin kalau tadi gue manggung sendiri, nggak ada lo, gue bakal gugup banget dan mungkin nggak bisa tampil maksimal,” ujar Jeongguk rendah hati, sekaligus meyakinkan Jieun bahwa perempuan itu juga tampil sangat bagus.
“Bercanda doang, Ji. Kayak baru berapa bulan aja kita kenal,” beber Yoongi sambil terkekeh.
Jeongguk berjalan menghampiri Taehyung yang terlihat bergabung dengan Mingyu dan Yugyeom. Padahal, biasanya ketika mereka selesai tampil, Jeongguk lah orang pertama yang akan Taehyung datangi, tanyai, dan diberi minum serta handuk kecil. Namun, kini Taehyung justru duduk bergabung dengan Mingyu dan Yugyeom, membantu mereka membuka botol kemasan dan menyalakan kipas angin kecil.
“Tae!” panggil Jeongguk, ia ikut bergabung dengan Taehyung, Mingyu, dan Yugyeom. Sedangkan Jieun pergi ke sebuah ruangan khusus perempuan untuk istirahat dan berganti baju.
“Iya, kenapa, Guk?” Taehyung menengok ke arah Jeongguk.
“Penampilan kita,” ujar Jeongguk masih sedikit terengah-engah.
“Penampilan kalian kenapa?” Taehyung mengernyit tak mengerti.
“Penampilan kita tadi bagus nggak?” tanya Jeongguk to the point. Rasanya begitu aneh bagi Jeongguk saat kembali dari panggung dan tidak diberi pujian atau komentar dari Taehyung. Tadi, setibanya Stargazer di backstage, Taehyung hanya bertepuk tangan saja, belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
“Oh, bagus kok. Keren, as always,” puji Taehyung dengan senyum tipis di bibirnya.
“Oke,” Jeongguk balas tersenyum lega, seakan pujian dan validasi dari Taehyung sangat ia butuhkan. “Makasih ya, udah temenin dan persiapkan semua.”
“Yups, sama-sama.” Taehyung memberi anggukan singkat sebagai respons.
Mereka berempat kemudian berpindah ke sebuah restroom yang telah disediakan. Beruntung, restroom kali ini mempunya dua buah wastafel dan dua kamar mandi. Maka, setelah memastikan bahwa keringat mereka telah mengering, bergantian mereka memutuskan untuk mandi. Kecuali Taehyung, karena ia tidak begitu gerah dan berkeringat.
Sambil menunggu Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom selesai mandi, Taehyung memilih untuk keluar dari restroom dan berjalan menuju tempat untuk menunggu giliran tadi, sembari menonton penampilan dari artis lain melalui layar monitor yang tersedia. Fokus Taehyung buyar saat aroma parfum khas perempuan yang elegan merasuki indera penciumannya, ia menengok ke arah datangnya bau wangi tersebut dan mendapati Jieun tengah berjalan menuju tempatnya. Penampilan penyanyi solo itu kini tampak jauh lebih fresh dan elegan, mungkin ia baru saja mandi dan berdandan.
“Hai, Taehyung,” sapa Jieun sambil mendudukkan diri di kursi samping Taehyung duduk.
“Hai.” Taehyung membalas dengan berusaha tersenyum.
“Jeongguk dimana, ya? Lo tau nggak?” tanya Jieun.
“Dia lagi mandi di restroom. Mungkin sebentar lagi selesai,” jawab Taehyung dengan intonasi yang sebisa mungkin terdengar biasa dan tidak sinis.
Benar kata Taehyung, tak sampai dua menit Jeongguk keluar dari restroom dan berjalan bergabung dengan Taehyung dan Jieun.
“Hei, Guk,” panggil Jieun.
“Iya? Ada apa, Ji?” balas Jeongguk sambil menyugar rambut basahnya ke belakang.
“Habis ini lo ada acara nggak?” tanya Jieun dengan wajah penuh harap.
“Enggak sih. Kenapa emangnya?” Dahi Jeongguk mengernyit.
“Dinner bentar di luar bareng gue mau nggak? Lo pasti laper,” ajak Jieun dengan senyum manisnya.
“E-eh bentar,” Jeongguk menjawab dengan kikuk, tak menyangka akan mendapat ajakan makan malam bersama. “Gue balik bareng Taehyung dan pakai mobil gue masalahnya. Nanti siapa yang nganter Taehyung pulang?”
“Aku pulangnya nebeng Mingyu atau Yugi aja, Guk. Kamu dinner aja nggak apa-apa,” potong Taehyung.
“Beneran, Tae? Kamu nggak keberatan?” Jeongguk sungguh merasa tak enak hati.
“Iya, bener. Santai aja, rumahku sama Mingyu kebetulan satu arah, kok,” kata Taehyung dengan nada santai.
Jeongguk dan Jieun kemudian berlalu pergi. Sayup-sayup suara obrolan Jeongguk dan Jieun masih bisa terdengar oleh Taehyung.
"Lo pacaran sama Taehyung atau gimana, Guk? Panggilnya udah pakai aku-kamu gitu," tanya Jieun penasaran saat mendengar Jeongguk berbicara dengan Taehyung tadi.
"Nggak kok. Gue sama Taehyung sahabat dari kecil doang. Bunda dia emang tipe orang yang strict masalah etika dan sopan santun. Menurut beliau kata ganti lo-gue itu kurang sopan. Jadi, dari kecil Taehyung biasa panggil pakai aku-kamu. Gue jadi ikutan pakai aku-kamu juga kalau ngomong sama dia," jelas Jeongguk panjang lebar.
"Oh, gitu. I see." Jieun menganggukkan kepalanya paham. "Kirain kalian pacaran.
I wish, batin Jeongguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Taehyung dan Jeongguk tidak pulang dalam satu mobil dan tidak mengantar satu sama lain. Rasanya begitu aneh bagi Taehyung, seperti ada sesuatu yang absen dan meninggalkan gejolak nyeri di sudut kecil hatinya. Bahkan, ketika ia mengajak Mingyu dan Yugyeom untuk menonton penampilan artis lainnya di tribun penonton sebelum pulang, semua penampilan yang bertujuan menghibur itu tak mampu menghilangkan perasaan aneh maupun mengobati sengatan menyakitkan dalam hatinya.
***
Esok harinya, seperti biasa Jeongguk menjemput Taehyung untuk berangkat ke kampus bersama. Kebetulan hari ini adalah jadwal berangkat ke kampus dengan menggunakan mobil Jeongguk.
“Semalam kamu pulang jam berapa?” tanya Taehyung saat Jeongguk mulai menjalankan mobil.
“Sekitar jam 9 malam. Kamu jam berapa?” Jeongguk bertanya balik.
“Gimana kencannya? Did you have fun?” Taehyung bertanya lagi.
“Siapa yang kencan? Orang cuma makan malam biasa doang.” Jeongguk menjawab dengan santai.
“Kamu anterin dia sampe rumah?” Taehyung belum mau berhenti bertanya.
“Bisa nggak kita nggak usah ngomongin tentang itu? Let’s talk about you.” Jeongguk mengulas senyum di bibirnya.
“Aku kenapa emangnya?” Taehyung mengerutkan dahinya.
“Kamu semalem have fun nggak nonton penampilan BTS, Ateez, Stray Kids, TWICE, Itzy?” tanya Jeongguk dengan nada dan tatapan lembut.
“Yah, lumayan.” Taehyung mengangguk-angguk, meskipun di hatinya ingin menjawab jujur bahwa ia tidak terlalu menikmati penampilan semalam.
“Balik bareng Mingyu apa Yugi?”
“Mingyu.”
“Kamu nggak dijahilin kan sama dia?” Kini justru Jeongguk yang berbalik menanyai Taehyung tanpa henti.
“Tenang aja, kamu masih menduduki takhta tertinggi orang yang paling jahil sama aku. Mingyu nggak bisa geser kamu sedikit pun.” Taehyung mendengus dan memutar bola matanya.
Jeongguk tergelak mendengarnya, kemudian mengacak rambut Taehyung dengan gemas. Menghasilkan geraman kesal dari Taehyung karena rambutnya berantakan padahal sebentar lagi mereka sampai di gerbang kampus.
***
Guki
Tae, sorry banget, hari ini aku nggak bisa anterin kamu pulang.
Aku ada meeting bentar sama Jieun buat bahas dan sharing tentang musik. Aku pesenin taksi online , ya?
Oke, gapapa.
Nggak usah pesenin taksi online .
Aku pulang bareng Mingyu lagi aja.
Have fun!
Guki
Oke :(
Maaf ya, Tae
Bilangin ke Mingyu, jangan jahil sama kamu
Nggak bakal ada yang jahil ke aku
Kecuali kamu
Guki
Hehe
Oke, aku pergi dulu ya
Kalo udah sampe rumah kabarin
Iya
Begitu lah akhir dari percakapan antara Jeongguk dan Taehyung melalui pesan. Hari ini menjadi hari-hari lain di mana Taehyung harus pulang lagi bersama Mingyu, bukan Jeongguk. Taehyung mencoba bersikap profesional dan maklum. Mungkin, Jeongguk dan Jieun memang benar-benar bertemu untuk membahas seputar musik, syukur lagi jika Jeongguk bisa mendapat banyak ilmu tambahan sehingga memudahkan karir Stargazer kedepannya untuk meluncurkan album sendiri.
Taehyung kira, hari-hari tanpa pulang bersama Jeongguk atau sekadar menghabiskan waktu bersama Jeongguk hanya akan terjadi satu atau dua kali. Namun, ternyata hari-hari tersebut berlanjut selama hampir satu minggu. Hingga akhirnya Taehyung memutuskan untuk selalu berangkat ke kampus dengan mobilnya sendiri, tanpa harus menjemput atau dijemput oleh Jeongguk karena pemuda itu selalu sibuk dengan urusan sharing musik bersama Jieun sepulang kuliah.
Jujur saja, Taehyung merasa kesepian. Biasanya saat menunggu jam kelas berikutnya ia akan bersantai di taman gazebo bersama Jeongguk, mendengarkan Jeongguk menyanyikan lagu-lagu romantis yang selalu membuat Taehyung diam-diam tersipu malu dan pipinya memerah. Untuk mengusir rasa kesepiannya, terkadang Taehyung ikut hangout dengan Mingyu dan Yugyeom di studio musik. Taehyung juga iseng mencoba menyanyi dengan diiringi instrumen dari Mingyu dan Yugyeom. Ditambah lagi ketika Taehyung mendapat pujian dari Mingyu dan Yugyeom bahwa suaranya bagus, ia tambah semangat untuk terus bernyanyi lagu-lagu kesukaannya.
Kesibukan barunya itu cukup berhasil mengusir rasa kesepiannya akan sosok Jeongguk. Selain bermain di studio musik, Taehyung juga iseng mengajak Mingyu dan Yugyeom untuk belajar trading saham yang diselenggarakan oleh salah satu UKM Fakultas Ekonomi & Bisnis. Sudah seperti tuntutan umum bahwa anak FEB setidaknya paham tentang saham dan produk investasi keuangan lainnya. Untungnya, Mingyu dan Yugyeom mau-mau saja mengikuti ajakan Taehyung.
Suatu sore ketika mereka sedang berjalan menuju laboratorium Akuntansi, tempat pelaksanaan pelatihan trading saham, Jeongguk berlari menghampiri Taehyung.
“Tae!” seru Jeongguk saat sudah dekat dengan posisi Taehyung.
“Kenapa?” balas Taehyung datar.
“Mau kemana kalian?” Jeongguk melirik Mingyu dan Yugyeom di belakang Taehyung.
“Belajar trading saham,” jawab Taehyung.
“Loh, sekarang bukannya jadwal kita latihan band?” Jeongguk mengernyit heran.
“Udah kemarin kali, Guk. Lo malah izin nggak bisa, katanya meeting di FIB,” sahut Yugyeom.
“Terus latihannya kapan?”
“Ya kemarin kita tetep latihan, tanpa kamu. Latihan selanjutnya masih minggu depan,” jelas Taehyung.
“Duh, sorry banget, ya, kemarin harusnya bisa nyusul tapi waktunya nanggung banget,” ungkap Jeongguk, merasa bersalah karena akhir-akhir ini selalu sibuk.
“Nggak apa-apa. Udah, ya, kita mau ke Lab. Akuntansi dulu. Udah mau telat.” Taehyung, Mingyu, dan Yugyeom berpamitan pergi kepada Jeongguk.
Sepeninggal ketiga temannya, Jeongguk berdiri mematung sendirian seperti anak hilang di depan gedung laboratorium. Rasa bersalah, kehilangan, dan kesepian perlahan mulai mengisi relung hatinya. Tiba-tiba ia merasa menyesal dan merindukan kebersamaannya dengan teman-temannya. Satu minggu ini ia terlalu sibuk mondar-mandir dari FEB ke FIB, begitu juga sebaliknya. Ia pun menyadari bahwa sudah terasa lama semenjak terakhir kali ia berada dalam satu mobil bersama Taehyung. Dalam lubuk hati terdalam, Jeongguk merasa jauh dari Taehyung dan ia benci akan hal itu.
***
Satu minggu kemudian, jadwal latihan band Stargazer pun tiba. Kali ini, Jeongguk sudah tidak terlalu sibuk lagi dengan urusannya di FIB. Mereka berempat berkumpul di studio musik seperti biasanya dan melakukan latihan rutin. Taehyung juga menemani serta memberi beberapa masukan yang sekiranya dibutuhkan dan penting.
Sepulang dari latihan band, Jeongguk menghubungi Mingyu dan Yugyeom untuk menyampaikan rasa bersalahnya sekaligus meminta maaf karena akhir-akhir ini ia selalu sibuk. Mingyu dan Yugyeom sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, mereka sudah tahu bahwa Jeongguk tidak hanya mendiskusikan musik di FIB bersama Jieun saja, namun ada Yoongi yang selalu mendampingi. Sehingga, Mingyu dan Yugyeom bisa memaklumi hal itu. Yang membuat mereka agak khawatir adalah sikap Taehyung. Pemuda itu menjadi lebih sering hangout bersama Mingyu dan Yugyeom, mungkin karena tidak punya teman lain selain Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom. Selain itu, akhir-akhir ini Taehyung terlihat lebih cuek dan menghindari Jeongguk.
Gyu
Gue sih santai aja, Guk. Yang sebaiknya lo khawatirin tuh Taehyung
Dia kayak bete, bad mood , dan kesepian gitu
Apalagi pas mau pelatihan trading saham kemarin
Cuek banget ngobrol sama lo
Iya, gue ngerasa nggak enak banget sama dia
Dia biasanya sama gue terus
Eh kemarin tiba-tiba gue sibuk
Terus jadi sering hangout sama lo, sama Yugi juga dia
Gyu
Ya udah sono minta maaf terus dihibur
Pasti dia juga salah paham
Taunya lo diskusi musik berdua doang sama Jieun
Cemburu deh wkwk
Mana ada orang kek dia cemburu
Dikode terang-terangan aja nggak peka
Nyerah aja apa ya gue, Gyu
Gyu
Jangan, anjir
Menurut gue dia tuh juga ngerasain yang sama
Yang kemarin-kemarin tuh dia beneran cemburu deh kayaknya
Semangat, Bro!
Lo tuh nggak ada saingan, coba kasih tau gue, siapa orang yang deket sama dia kecuali lo?
Nggak ada, ‘kan? Tinggal luluhin lagi aja
Buset, diem-diem lo suhu juga ya masalah asmara
Oke, thanks sarannya, Gyu
Mau ke rumah Taehyung dulu
Gyu
Nah, gitu dong
Goodluck!
Sore itu, Jeongguk benar-benar pergi ke rumah Taehyung. Tak lupa ia membawa berbagai makanan dengan rasa stroberi, termasuk buah stroberi juga, favorit pemuda manis itu. Seperti biasa, ia disambut oleh Bunda Taehyung yang langsung menyuruhnya untuk masuk ke kamar Taehyung.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Jeongguk pun berjalan masuk menuju kamar Taehyung.
“Kamu lagi ngapain, Tae?” tanya Jeongguk basa-basi.
“Nggak ngapa-ngapain sih. Kamu kenapa tiba-tiba kesini?” Taehyung mengerutkan dahinya.
“Kamu kok akhir-akhir ini berubah sih, Tae? Jadi cuek sama aku, hangout sama Mingyu dan Yugyeom mulu,” ungkap Jeongguk sambil mendudukkan diri di ranjang Taehyung.
“Kamu kali yang berubah. Sibuk terus, jarang main sama aku. Nggak ikut latihan juga.” Taehyung cemberut.
“Maafin aku, ya?” Jeongguk menatap manik Taehyung lembut. “Janji nggak akan sibuk lagi di luar.”
“Emang udah selesai urusannya?” Taehyung masih memajukan bibirnya kesal.
“Udah, kok. Maafin aku, ya, Tae. Kamu jadi berangkat sendiri terus, pulang juga sendiri, di kampus main sama Mingyu dan Yugyeom. Maaf, ya?” Jeongguk terus menatap mata Taehyung tanpa henti, tatapannya menyiratkan rasa bersalah, penyesalan, sekaligus kelembutan yang selalu bisa melelehkan hati Taehyung.
“Janji bakal berangkat dan pulang bareng lagi?”
“Janji, Taehyung. Nih, sebagai permintaan maaf, aku bawain stroberi sama makanan-makanan rasa stroberi. Kesukaan kamu.” Jeongguk menyodorkan sekantong plastik besar kepada Taehyung.
“Oke, aku maafin. Jangan kayak gitu lagi, aku kesepian tau,” gerutu Taehyung, wajahnya memerah seperti menahan tangis.
“Iya, maafin aku, ya.” Jeongguk mengusap lembut surai halus Taehyung.
Taehyung mengangguk sebagai jawaban, kemudian sibuk membuka kantong plastik itu. Binar matanya yang tadi redup kini berubah menjadi cerah saat mendapati berbagai makanan kesukaannya.
“Makasih, Guki.” Senyum kecil terbit di bibir Taehyung.
“Sama-sama. Gitarku yang waktu itu aku tinggal di sini masih kan, Tae?” Jeongguk mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Taehyung. Mencari keberadaan gitar akustik yang dulu Jeongguk sengaja tinggalkan di kamar Taehyung supaya jika sewaktu-waktu ia ingin memainkannya di sini, ia tidak perlu repot lagi membawa dari rumah.
“Masih. Kamu mau main?” tanya Taehyung tanpa menatap Jeongguk, terlalu asyik dengan makanannya.
“Iya, bosen.”
“Oke, aku ambilin bentar.” Taehyung beranjak dari ranjang dan mengambil gitar yang ternyata ia taruh di balik lemarinya. Kemudian menyerahkannya pada Jeongguk.
“Dengerin, ya,” pesan Jeongguk saat bersiap memetik senar gitar. Taehyung hanya mengangguk sebagai respon, mulutnya terlalu penuh dengan es krim stroberi.
The best thing about tonight's that we're not fighting
It couldn't be that we have been this way before
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core
Taehyung ikut mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama lagu. Ia tahu lagu ini, bahkan hapal dan sangat menyukainya. Fall For You milik Secondhand Serenade.
But hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a boy like you is impossible to find
You're impossible to find
Taehyung mengerutkan dahinya mendengar dua kalimat terakhir.
“Ih, harusnya 'kan girl, Guk. Because a girl like you is impossible to find. Bukan boy,” protes Taehyung.
“Suka-suka aku dong, 'kan sekarang aku lagi nyanyi buat kamu. Kamu cowok, ‘kan?” tanya Jeongguk retoris.
“Gitu?” Taehyung mendongak dan melirik ke arah Jeongguk malu-malu, mencoba menyibukkan diri memakan buah stroberi.
“Iya, gitu. Bagus nggak?”
“Bagus. Aku suka lagunya,” jawab Taehyung seadanya, pipinya perlahan memerah dan terasa panas saat menyadari arti lirik lagu tadi.
“Gemes. Merah banget pipi kamu tiap aku nyanyiin lagu-lagu kayak gini.” Jeongguk terkekeh, mencubit pipi tembam Taehyung.
“Tangan kamu kotor, Guki. Barusan pegang senar gitar.” Taehyung menggerutu sambil mengusap pipinya dengan lengan kaos.
“Dasar clean freak,” cibir Jeongguk. Dihadiahi juluran lidah jahil dari Taehyung.
“Jangan lupa lusa latihan lagi. Lima hari lagi kita tampil di festival music Fakultas Ekonomi & Bisnis.” Taehyung mengingatkan jadwal latihan mereka.
“Oke. Mingyu sama Yugi udah dikasih tau?” tanya Jeongguk memastikan.
“Udah, kok.”
***
Seperti yang sudah disepakati, siang ini adalah jadwal latihan Stargazer untuk mempersiapkan penampilan di festival musik tiga hari lagi. Jeongguk, Mingyu, dan Taehyung telah berkumpul di taman gazebo, menunggu kedatangan Yugyeom yang katanya sedang membeli hotteok.
"Kalian jadinya mau nyanyi lagu apa?" tanya Taehyung.
"Ada deh. Tiga lagu, 'kan?" Mingyu bersuara.
"Iya." Taehyung mengangguk.
"Tae, khusus latihan buat penampilan di festival musik kali ini, kamu nggak boleh lihat dan ikut kita latihan," ujar Jeongguk tiba-tiba.
"Loh? Kenapa emangnya? Aku kan manajernya? Masa nggak boleh lihat?" Taehyung protes tidak terima.
"Pokoknya kamu nggak boleh ikut dulu," sergah Jeongguk.
"Emang mau nampilin lagu apa, sih?" Taehyung bertanya sambil mendengus kesal.
"Itu juga rahasia. Pokoknya penampilan kita di festival musik besok jadi rahasia buat semua orang termasuk kamu." Jeongguk tersenyum miring.
"Terserah, nanti aku tanya Yugi." Taehyung mengedikkan bahunya sambil menunggu kedatangan Yugyeom.
"Yugi udah di-briefing sama Jeongguk buat tutup mulut, Tae," sahut Mingyu diiringi tawa kecil.
"Anjir, nyebelin banget kalian semua!" Taehyung melotot kesal, wajahnya tertekuk masam.
Jeongguk dan Mingyu hanya tertawa melihat Taehyung bersedekap dengan wajah masamnya. Tak lama kemudian, Yugyeom datang dengan membawa beberapa buah hotteok.
"Nih, makan hotteok yang banyak aja, Tae. Jangan marah-marah mulu," tutur Yugyeom iseng.
"Tau ah, nyebelin kalian semua." Taehyung memutar bola matanya kesal.
"Kamu tunggu di sini, ya. Kita mau latihan dulu. Kalo mau pulang duluan nggak apa-apa. Hari ini pake mobil kamu, 'kan? Aku nanti nebeng Mingyu aja," ujar Jeongguk, mulai beranjak berdiri setelah puas memakan hotteok bersama Mingyu dan Yugyeom.
"Aku pulang duluan aja." Taehyung menghela napas penuh kekesalan karena tidak diizinkan melihat latihan Stargazer.
"Hati-hati di jalan, oke?" Jeongguk mengusap kepala Taehyung.
"Sekali-kali biar lo juga dapet penampilan kejutan dari kita, Tae," celetuk Mingyu.
"Bener, biar kayak penonton. Biasanya kan lo udah tau lagu apa aja yang mau kita tampilin," imbuh Yugyeom.
Taehyung hanya bisa mengiyakan dengan pasrah, kemudian membungkus hotteok yang masih tersisa untuk dibawa pulang. Ia berpamitan kepada Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom sebelum melangkahkan kakinya menuju parkiran.
***
Festival Musik Fakultas Ekonomi & Bisnis tahun ini dilaksanakan di auditorium milik jurusan Manajemen, seperti tahun-tahun sebelumnya, karena program studi Manajemen lah yang mempunyai auditorium paling besar di antara program-program studi lain. Auditorium milik Manajemen sangat multifungsi, sering digunakan untuk pertunjukan teater, marching band, konser, dan pertunjukan seni lainnya oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi & Bisnis.
Pada festival kali ini, Taehyung ikut andil sebagai salah satu staf panitia festival musik, sebab auditorium jurusannya menjadi tempat diselenggarakan festival. Ia tergabung dalam sie acara sebagai staf anggota. Saat ini ia tengah bergabung bersama teman-teman staf yang lain untuk melakukan briefing terakhir sebelum acara dimulai. Sama seperti staf yang lain, Taehyung mengenakan tanda pengenal yang ia kalungkan di lehernya dan menggenggam sebuah walkie talkie.
Setelah briefing selesai, Taehyung menghampiri Stargazer yang kini tengah duduk menunggu giliran untuk dipanggil bersama mahasiswa-mahasiswi lain yang juga ikut berpartisipasi dalam festival musik ini.
“Hei, kalian udah siap?” tanya Taehyung, menatap satu persatu Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom.
“Udah. Yang ikut lumayan banyak juga, ya?” Jeongguk mengedarkan pandangannya.
“Studio musik fakultas kan sering dipake anak-anak lain juga kalau kita pas nggak latihan,” ujar Yugyeom.
“Di setiap jurusan kayaknya juga ada studio musik sendiri-sendiri deh. Wajar kalo ternyata banyak yang ikut.” Mingyu menimpali.
“Yups. Cuma beberapa doang yang pake studio musik punya fakultas, salah satunya kalian,” sahut Taehyung.
Jeongguk hanya memberi anggukan kepala paham. Berlanjut mengamati peserta lain. Sesekali menundukkan kepala sopan saat partisipan lain menyapa mereka. Partisipan lain tampak begitu menghormati dan segan terhadap Stargazer. Mungkin karena Stargazer dianggap mempunyai jam terbang lebih tinggi dan lebih senior juga. Apalagi belum lama ini Stargazer diundang untuk tampil di FIB, berkolaborasi dengan IU di pembukaan pekan festival olahraga sekampus, dan juga tampil di depan publik, tepatnya di sebuah kafe.
“Eh, aku ke sana bentar, ya. Dipanggil temen panitia lain,” ujar Taehyung saat walkie talkie-nya berbunyi.
“Iya. Nanti langsung ke panggung aja kan kalo udah dipanggil?” Jeongguk mendongak menatap Taehyung.
“Iya. Langsung ke panggung aja. Semangat, boys!” Kemudian Taehyung berlari kecil menuju teman-temannya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya nama Stargazer pun dipanggil oleh sang pembawa acara untuk segera menuju panggung. Maka, dengan langkah semangat dan antusias ketiga pemuda itu berdiri dan melangkah menuju panggung.
Untuk penampilan kali ini, Stargazer bukan gugup karena banyaknya penonton atau hal lain. Namun, karena hari ini mereka akan mencoba genre lagu baru yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya, yaitu alternative rock. Pada genre ini, Stargazer akan menampilkan lagu Radioactive milik Imagine Dragons. Kemudian, disusul oleh satu lagu klasik dan satu lagu ciptaan mereka sendiri yang belum pernah mereka tampilkan dan belum pernah ada orang yang mendengarkannya kecuali Stargazer, termasuk Taehyung pun belum pernah mendengarnya.
I'm waking up to ash and dust
I wipe my brow and I sweat my rust
I'm breathing in the chemicals
Bait pertama mulai dinyanyikan oleh Jeongguk. Pukulan drum oleh Yugyeom telah berdentum keras mengikuti alunan lagu sejak awal.
I'm breaking in, shaping up, then checking out on the prison bus
This is it, the apocalypse
Whoa
Lagu terjeda sebentar, penonton ikut merasa tegang dengan reff yang sebentar lagi akan dibawakan oleh Stargazer. Begitu juga dengan Taehyung di belakang panggung, mulutnya menganga tak percaya sambil menatap layar monitor saat Stargazer memilih untuk menampilkan lagu dengan genre alternative rock tersebut.
I'm waking up, I feel it in my bones
Enough to make my systems blow
Welcome to the new age, to the new age
Welcome to the new age, to the new age
Whoa, oh, oh, oh, oh, whoa, oh, oh, oh,
I'm radioactive, radioactive
Whoa, oh, oh, oh, oh, whoa, oh, oh, oh,
I'm radioactive, radioactive
Suara berat dan geraman Jeongguk menggelegar di auditorium siang itu. Diikuti oleh suara penonton yang juga menyanyikan lirik lagu Radioactive dengan semangat dan antusiasme tinggi. Hingga bait terakhir lagu selesai dinyanyikan, suara penonton yang ikut menyanyi terus berdengung memenuhi auditorium, sangat menikmati genre baru yang dibawakan oleh Stargazer. Tepuk tangan meriah dari penonton segera menyambut sesaat setelah instrumen musik berhenti.
“Sebelumnya, kami, Stargazer, sangat berterima kasih kepada semua penonton yang telah datang dan meramaikan festival musik tahunan FEB ini. Tadi saya juga lihat semakin banyak musisi dan penyanyi yang ikut di festival ini. Oh ya, sebenarnya genre lagu Radioactive ini adalah genre yang baru buat kami. Kami memang iseng pengen coba genre alternative rock. Tadi seneng banget lihat respon dan antusias kalian semua yang ikut nyanyi sepanjang lagu sampai selesai. Itu bikin kami merasa cukup berhasil dan percaya diri bawain lagu dengan genre alternative rock ini.” Jeongguk berujar panjang lebar dengan napas yang masih terengah-engah.
“Lagu selanjutnya yang akan kami tampilkan adalah salah satu lagu klasik milik Elvis Presley yaitu Can’t Help Falling in Love,” lanjut Jeongguk sambil kembali bersiap menyanyi.
“Untuk laki-laki penggemar lagu klasik yang hari ini datang ke sini dengan cardigan cokelat, kamu manis. Lagu ini untuk kamu,” ucap Jeongguk dengan seringai yang enggan luntur dari wajah.
Audiens bertanya-tanya dan melihat sekeliling. Mencari sosok lelaki yang memakai cardigan cokelat hari ini. Sedangkan lelaki manis yang dimaksud oleh Jeongguk sih, justru sekarang tengah berada di backstage.
Suasana belakang panggung seketika riuh. Tak sulit bagi staf panitia yang ada di situ untuk menemukan siapa lelaki yang hari ini memakai cardigan cokelat, sebab panitia festival musik kali ini tidak memakai dress code khusus alias bebas mengenakan warna baju apapun. Taehyung berdiri mematung di depan layar monitor dengan pipi yang mulai menghangat. Teman-teman stafnya mulai menggoda dengan menunjuk-nunjuk Taehyung yang jelas-jelas sedang memakai cardigan cokelat.
Bukan Taehyung jika tidak denial, maka ia pun berkata, “Apa, sih. Yang dimaksud Jeongguk tuh bukan aku.” Wajahnya terus berusaha untuk sok biasa, padahal tengah berusaha keras menahan senyum terpesona.
Teman-teman stafnya pun hanya menggeleng, mengedikkan bahu, dan tertawa kecil. Mereka tahu, walaupun Taehyung terus denial dan berusaha menolak fakta bahwa yang dimaksud Jeongguk adalah dirinya, namun satu-satunya lelaki yang sangat dekat dan sering berinteraksi dengan Jeongguk adalah Taehyung. Ditambah lagi, satu-satunya yang memakai cardigan cokelat hari ini hanyalah Taehyung.
Wise men say
Only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can't help falling in love with you?
Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand
Take my whole life too
For I can't help falling in love with you
Berbanding terbalik dengan lagu yang tadi baru saja Stargazer tampilkan, lagu ini cenderung lebih pelan dan mendayu-dayu. Suara berat dan rendah Jeongguk pun berganti menjadi suara lembut seperti malaikat dan semanis madu. Membawakan lagu klasik itu dengan begitu magis, menyihir semua audiens untuk ikut larut dalam alunan nada. Alih-alih menatap para audiens, kedua manik Jeongguk justru selalu tertuju pada kamera yang menyorotnya. Sebab ia tahu, kamera itu terhubung langsung pada layar monitor yang sedang Taehyung pandangi dari belakang panggung. Jeongguk seolah benar-benar sedang mengungkapkan perasaannya pada Taehyung melalui lagu itu.
Di belakang panggung, Taehyung pun tak berkedip sama sekali, terus memandang layar monitor, di mana kedua pasang mata Jeongguk seolah tengah menatapnya dalam-dalam. Taehyung baru mengedip dan tertarik kembali ke realita saat lagu selesai dinyanyikan, juga tepuk tangan serta sorakan penonton terdengar.
“Lagu selanjutnya atau lagu terakhir yang akan kami tampilkan di festival musik ini adalah lagu ciptaan kami sendiri. Belum pernah kami tampilkan, juga belum pernah didengar oleh siapapun kecuali anggota band Stargazer. Lagu ini berjudul My Favorite. Selamat menikmati.” Jeongguk tersenyum lebar dan kembali bersiap di belakang standing mic- nya serta memegang gitar akustiknya.
Sometimes, life doesn't go as smoothly as we hope
Sometimes, in the middle of the road we meet chaos
And in the middle of my chaos, there was you
You're the one I prayed for and the one I've always dreamed of
You're my favorite
My favorite pair of eyes to look into
My favorite name to see appear on my phone screen
My favorite way to spend the day
You're my favorite everything
And I want to be your favorite hello and your hardest goodbye
Let's go through another years of sharing life's ups and downs together, baby
Meskipun semua penonton di auditorium itu belum familiar dengan lagu baru ciptaan Stargazer tersebut, namun mereka tetap menyambut dengan baik, hangat, dan penuh dukungan. Bahkan mereka bersama-sama mengangkat tangan dan melambaikan ke samping kanan dan kiri secara serentak. Juga memberi tepuk tangan heboh saat lagu selesai dinyanyikan.
Taehyung di belakang panggung tak bisa menahan diri untuk bertepuk tangan dengan wajah bangga bercampur haru. Jadi, inikah kejutan yang selama ini disiapkan oleh Stargazer tanpa sepengetahuan dan campur tangan Taehyung? Jika iya, maka Taehyung dapat menyimpulkan bahwa kejutan itu sukses dan berhasil. Ia benar-benar terpukau dan tidak menyangka bahwa Stargazer akan mencoba genre alternative rock, menyanyikan lagu klasik favorit Taehyung, dan menampilkan lagu ciptaan mereka sendiri yang belum pernah didengar oleh siapa pun.
Maka, ketika Jeongguk, Mingyu, dan Yugyeom turun dari panggung dan menemuinya, Taehyung langsung mengajak mereka bertiga untuk berpelukan bersama.
“Jujur, aku udah kehabisan kata-kata. Kok bisa sih kalian rahasiain hal sekeren ini dari aku?” Taehyung menggelengkan kepala, masih tidak menyangka akan penampilan Stargazer tadi.
“Gimana? Berhasil nggak kejutannya?” Jeongguk tersenyum miring.
“Seratus persen berhasil.” Taehyung mengangkat kedua ibu jarinya.
“Ya kayak gitu, Tae, rasanya jadi penonton yang nggak tau kita mau nyanyiin lagu apa.” Mingyu terkekeh kecil.
“Seru, ‘kan?” sahut Yugyeom.
“Seru banget. Deg-degan juga.” Taehyung tergelak ringan.
“Acaranya masih lama, Tae?” tanya Jeongguk sambil mengelap keringat di wajahnya dengan tisu.
“Mungkin satu jam lagi. Kalau kamu mau pulang duluan nggak apa-apa,” jawab Taehyung sambil menengok susunan acara di ponselnya.
“Aku ‘kan ke sini bareng kamu, pakai mobil kamu,” celetuk Jeongguk.
“Oh iya. Ya udah bareng Mingyu atau Yugi aja. Kalau mau bareng aku harus nunggu dulu. Kasian, kamu pasti udah capek,” ujar Taehyung, menatap wajah lelah Jeongguk
“Nggak deh. Aku nunggu kamu aja. Biar Mingyu sama Yugi pulang duluan.” Jeongguk memutuskan untuk menunggu Taehyung sambil beristirahat dahulu.
“Oke. Kalau capek tiduran di sofa itu dulu aja.” Taehyung menunjuk sebuah sofa yang cukup panjang dan muat ditiduri satu orang.
Jeongguk menurut, langsung merebahkan tubuhnya di sofa tersebut sambil memegangi kipas angin kecil agar tidak terlalu gerah. Ia bersantai sambil melihat Taehyung dan teman-teman stafnya yang lain berjalan kesana kemari mengatur jalannya acara. Pemandangan berpasang-pasang kaki yang berlalu-lalang di hadapan Jeongguk perlahan mengabur dalam pandangannya, ia terserang kantuk yang hebat dan tanpa butuh banyak waktu lagi Jeongguk memejamkan matanya menuju tidur yang nyenyak.
Satu jam berjalan terasa cepat, apalagi dalam alam bawah sadar Jeongguk. Rasanya ia baru tertidur selama beberapa menit, namun guncangan halus di bahu dan suara lembut yang memanggilnya memaksa dirinya untuk segera membuka kelopak mata.
“Guki, bangun. Acaranya udah selesai.” Taehyung duduk di pinggir sofa sambil mengguncang bahu Jeongguk dan menepuk-nepuk pipi pemuda itu perlahan.
“Huh? Jam berapa?” Jeongguk menggosok kedua matanya agar dapat terbuka dengan sempurna.
“Jam 4 sore. Bangun yuk, mau pulang nggak?” Taehyung saat ini telah melepas kartu tanda pengenal yang sedari tadi melingkar di lehernya, juga tak lagi membawa walkie talkie.
“Pulang. Mau pulang, capek, Tae.” Jeongguk merengek manja, kelopak matanya terbuka setengah akibat masih mengantuk, kemudian menumpukan kepalanya di paha Taehyung.
“Iya, pulang. Makanya bangun, jangan malah tiduran di paha aku.” Taehyung menarik kedua pergelangan tangan Jeongguk agar bangun.
Setelah melalui beberapa menit yang dihabiskan untuk meregangkan tubuh dan membasuh muka, akhirnya Jeongguk benar-benar siap untuk pulang.
“Tae, mampir ke rumahku bentar, ya,” pinta Jeongguk saat mereka hampir sampai di kompleks perumahan tempat tinggal mereka.
“Ngapain?”
“Pijitin aku, hehe. Capek, Tae,” keluh Jeongguk.
“Nggak mau. Aku juga capek tau,” tolak Taehyung. “Sana suruh cewek kamu buat pijitin aja.”
Alis Jeongguk menukik terkejut atas kalimat terakhir yang dilontarkan Taehyung. Jeongguk menebak, yang dimaksud Taehyung pasti Jieun. Sebab, minggu kemarin Jeongguk begitu sibuk bolak-balik ke FIB dan membahas musik bersama Jieun.
“Kamu cemburu?” tanya Jeongguk langsung pada intinya.
Taehyung tak merespons, pura-pura fokus mengemudi dan memperhatikan jalan di depannya. Padahal, bibirnya sudah merengut kesal dan ekspresinya sungguh masam.
“Kamu kenapa sih, Tae? Kamu yang dulu nyuruh aku cari pacar, ‘kan?” Jeongguk menatap Taehyung di sampingnya yang masih saja membuang pandangan ke depan.
Taehyung menghela napasnya, “Tapi kamu nggak mau. Kamu inget nggak dulu pernah ngomong apa sama aku? Katanya aku aja udah cukup buat kamu. Makanya kamu nggak mau cari pacar.”
“Oh, kamu inget? Syukur deh kalau gitu. Aku jadi nggak perlu repot cari pacar ‘kan kalau gitu?” Jeongguk menaikkan satu alisnya.
“Maksud kamu apa?”
“Aku punya kamu dan itu udah cukup buat aku, Taehyung. Kamu segalanya buat aku. Sahabat aku, temen aku dari kecil, manajer aku. Kurang satu aja sih yang kurang.” Jeongguk berharap kali ini saja Taehyung peka.
“Apa?” Taehyung akhirnya menoleh sedikit ke Jeongguk.
“Pacar. Kamu harusnya jadi pacar aku juga.” Jeongguk tersenyum cerah.
Seperti biasanya saat digoda oleh Jeongguk, Taehyung blushing. Namun, kali ini jauh lebih terlihat dan kentara kemerahan di pipi rotinya.
“Ngomong apaan sih kamu? Ngawur.” Bibirnya dimajukan sedikit.
“Tae, aku serius. Please, deh. Kali ini aja, jangan anggep aku bercanda. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Binar di kedua mata Jeongguk begitu memancarkan harapan.
“Emangnya kamu suka sama aku?” tanya Taehyung, entah mengapa pemuda itu harus mempertanyakan hal itu lagi dan merasa ragu.
Jeongguk mendengus kesal dan menghembuskan napasnya. “Ya iya lah, Tae. Pakai nanya segala. Aku kurang flirty apa lagi sih selama ini sama kamu? Nih ya, lagu terbaru Stargazer tadi, yang judulnya My Favorite itu aku bikin dan tulis buat kamu. Itu satu-satunya laguku yang dari segi lirik out of character dan out of topic banget dari lirik-lirik laguku selama ini yang isinya tentang kehidupan kampus dan mahasiswa, motivasi, dan semangat. Tadi di belakang panggung aku scroll Twitter dan baca di base kampus, fans-fans aku sampe kaget aku bikin lagu bulol yang isinya cinta-cintaan kayak gitu.”
“Bulol apaan?” tanya Taehyung sambil menahan rasa malu dan tersipu saat mengetahui bahwa Jeongguk membuatkan lagu khusus untuknya.
“Bucin tolol. Aku bucin sama kamu sampe tolol tau nggak?” Di titik ini, Jeongguk benar-benar gemas dan bingung bagaimana cara meyakinkan Taehyung bahwa ia sangat mencintai Taehyung.
“Terus yang sama Jieun itu selama ini apa?” Taehyung akhirnya menyinggung sesuatu yang menjadi ganjalan terbesar di hatinya.
“Ya nggak ada apa-apa. Partner kolaborasi dan temen sharing musik doang. Selama ini juga aku nggak pernah berdua doang sama dia, apa-apa pasti ditemenin sama Kak Yoongi juga. Bahkan pas dinner habis tampil di pembukaan pekan festival olahraga itu juga sama Kak Yoongi juga. Aku selama ini mondar-mandir ke FIB karena aku minta bantuan Jieun sama Kak Yoongi buat bikin lagu My Favorite. Aku sama Jieun nggak ada apa-apa, Tae,” jelas Jeongguk panjang lebar.
“Oh.” Hanya itu jawaban dari Taehyung. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Matanya fokus menatap ke depan, membelokkan mobil ke jalanan kompleks perumahan mereka.
“Kamu masih belum yakin sama aku?” Jeongguk tentu saja langsung meragukan dirinya sendiri saat mendengar respon Taehyung yang sangat singkat itu.
Bukan, bukan itu yang menjadi permasalahan Taehyung. Ia bukannya masih belum yakin, ragu, atau tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jeongguk dan perasaan Jeongguk selama ini. Akan tetapi, ada sesuatu lain yang masih mengganjal dan menghalanginya untuk memberi jawaban pasti kepada Jeongguk. Sesuatu di masa lalunya yang sampai saat ini masih menjadi salah satu ketakutan Taehyung untuk kembali menjalin komitmen hubungan.
“Guk, tolong udahan dulu bahas ini, ya. Aku belum siap.” Tepat setelah Taehyung berkata seperti itu, mobil berhenti di depan rumah Jeongguk.
Jeongguk lagi-lagi hanya bisa menghela napas, untung saja ia masih mempunyai slot kesabaran yang banyak untuk menunggu Taehyung hingga siap dan mendapat kepastian.
“Oke, nggak apa-apa. Aku bakal nunggu sampai kamu siap, Tae.” Jeongguk tersenyum tipis. Kemudian membuka pintu mobil dan mulai melangkah keluar.
“Guk, maaf, ya. Habis ini kamu jangan lupa makan, mandi, istirahat, dan tidur. Jangan begadang,” pesan Taehyung sebelum Jeongguk menutup pintu mobil.
“Iya. Kamu juga istirahat, pasti tadi capek banget kan jadi panitia?” Anggukan kepala menjadi jawaban dari Jeongguk.
“See you. Makasih udah nungguin sampai acaranya selesai.” Taehyung mengulas senyum tipis.
“Sama-sama. Makasih udah nganterin aku pulang.” Selanjutnya Jeongguk melambaikan tangannya dan berjalan menuju gerbang rumah. Taehyung membalas lambaian tangan, kemudian melajukan mobil menuju rumahnya.
Jeongguk menyeret kakinya masuk ke dalam rumah dengan kepala tertunduk lesu dan badan yang lemas. Hari ini benar-benar menguras tenaganya secara lahir maupun batin. Tubuhnya lelah akibat tampil di festival musik tadi, sedangkan hatinya pun lelah karena usahanya untuk menaklukkan hati Taehyung masih belum mendapat jawaban yang ia harapkan selama ini.
“Lemes banget, Bang?” sapa Nara saat melihat Jeongguk menaiki tangga dengan lesu.
“Capek badan, hati, sama pikiran, Ra,” celetuk Jeongguk asal-asalan.
“Tadi ngobrolin apa sama Kak Tae sebelum masuk rumah? Ada masalah?” Nara mengikuti Jeongguk hingga ke dalam kamarnya.
Jeongguk merebahkan diri di atas kasur dan merentangkan tangannya. “Barusan nembak Taehyung, tapi dia kayak masih ragu dan nggak yakin gitu.”
“Terus dia jawab apa?” Nara penasaran, ia duduk di kursi belajar Jeongguk.
“Belum kasih jawaban. Belum siap, katanya,” ujar Jeongguk lemas.
“Mungkin emang iya, Bang,” sahut Nara.
“Iya gimana?” Jeongguk mengerutkan dahinya.
“Kak Tae belum siap pacaran sama Abang. Nih ya, kalau aku jadi Kak Tae sih aku juga nggak bisa gitu aja ngasih jawaban ke Abang. Banyak yang harus dipertimbangkan, apalagi kalian udah sahabatan dari kecil.” Nara mengutarakan pendapatnya.
“Apa aja emangnya?” Jeongguk malas berpikir, maka menanyakan pendapat Nara adalah ide yang tidak buruk.
“Kak Tae mungkin takut persahabatan kalian jadi rusak kalau semisal suatu hari kalian ada masalah atau putus. Terus Kak Tae juga kan manajer band- nya Abang, mungkin dia nggak mau kedepannya jadi kurang profesional atau urusan kerjaan sama asmara jadi campur aduk. Mungkin Kak Tae belum siap juga punya pacar anak band kayak Abang yang punya banyak fans cewek-cewek. And the worst is … alasan Kak Tae belum siap bukan karena semua kemungkinan yang udah aku sebutkan tadi,” papar Nara.
“Maksudnya?” Jeongguk semakin mengerutkan dahinya bingung.
“Ada sesuatu lain yang nggak kita tau. Kalau Abang emang bener-bener mau perjuangin Kak Tae, Abang harus tau alasan itu,” imbuh Nara.
“Caranya?”
“Ya Abang tanya langsung atau cari tau sendiri. Tapi, lebih aman tanya langsung aja sih. Kak Tae dipancing-pancing dulu biar mau cerita.”
“Gitu, ya?” Jeongguk menatap langit-langit kamarnya.
“Iya. Ya udah, aku mau berangkat les dulu. Good luck, ya, Bang. Kalau udah jadian jangan lupa traktir aku makan,” ujar Nara sambil berdiri dari kursi.
“Tumben kamu bisa ngomong bijak gitu, Ra?” Jeongguk heran.
“Ya kan aku udah gede. Abang aja yang selalu anggap aku masih kecil.” Nara merengut kesal.
“Hmm. Besok kalau jadian Abang traktir makan deh,” sahut Jeongguk kemudian.
“As you should, sih, Bang. Bye, aku mau les dulu.” Nara berjalan keluar menuju pintu kamar Jeongguk.
“Hati-hati di jalan. Les yang serius, jangan kebanyakan bercanda.” Jeongguk berpesan kepada adiknya.
“Iya!” Seru Nara setelah menutup pintu kamar Jeongguk dari luar.
***
“Guk, minggu depan lo kosong nggak?” tanya Mingyu suatu hari ketika ia sedang duduk di samping Jeongguk pada kelas Ekonomi Mikro.
"Kosong. Kita nggak ada jadwal manggung, 'kan?" Jeongguk bertanya balik.
"Enggak. Lo mau nggak nyanyi di penutupan ospek tingkat fakultas minggu depan?" tawar Mingyu.
"Maksudnya, kita? Stargazer?"
"Bukan. Lo doang, nyanyi sendiri sambil akustikan gitu," jelas Mingyu.
"Emang lo sama Yugi kenapa?" Jeongguk mengernyitkan dahi.
"Gue sama Yugi kan ikut panitia ospek. Pusing ngurusin acara. Lo aja sekali-kali sendiri. Kita kekurangan pengisi hiburan juga." Mingyu terus membujuk Jeongguk.
"Oke deh. Satu lagu aja. Bebas, 'kan?" Jeongguk akhirnya menyetujui, lagipula minggu depan ia memang kosong dan tidak ada acara apapun.
"Iya, bebas. Santai aja, ada fee-nya kok." Mingyu terkekeh.
"Oke, bro. Deal. " Jeongguk tergelak kecil.
Setelah kelas selesai, seperti biasanya Jeongguk menunggu Taehyung di taman gazebo untuk pulang bersama. Tak butuh waktu lama untuk menunggu Taehyung sebab jam kuliah mereka selesai pada saat yang bersamaan.
"Udah lama nunggu?" tanya Taehyung yang baru saja sampai di taman gazebo, berjalan menghampiri Jeongguk.
"Belum, kok. Baru aja nyampe," jawab Jeongguk.
"Langsung pulang, 'kan?"
"Aku mau ngomong bentar. Minggu depan ada acara penutupan ospek Fakultas Ekonomi & Bisnis, nah Mingyu tawarin aku buat ikut nyanyi. Tapi nggak sama Stargazer, aku sendiri doang sambil akustikan gitu. Menurut kamu gimana?" Walaupun ini bukan tawaran untuk Stargazer dan bersifat pribadi bagi Jeongguk sendiri, namun Jeongguk tetap meminta izin dan pendapat kepada Taehyung, manajernya.
"Aku sih oke aja. Minggu depan juga nggak ada jadwal manggung. Kalau kamu mau ikut juga nggak apa-apa, Guk," balas Taehyung.
"Oke. Kamu besok ikut nonton, ya." Jeongguk tersenyum kecil.
"Iya, aku bakal nonton." Taehyung membalas senyum itu.
***
Minggu depan datang 4 hari kemudian, sebab ternyata acara penutupan ospek itu mengambil hari Selasa. Sedangkan Mingyu baru menawari Jeongguk untuk mengisi acara pada hari Jumat. Acara penutupan ospek diadakan di outdoor, tepatnya lapangan yang cukup luas di depan gedung Dekanat Fakultas Ekonomi & Bisnis.
Seperti janji sebelumnya, Taehyung datang di acara penutupan ospek tersebut. Saat ini ia tengah duduk di kursi penonton depan panggung bersama Jimin, teman satu kelas Taehyung yang cukup akrab dengannya. Taehyung sengaja datang saat acara hiburan sudah dimulai, ia ingin melihat penampilan solo Jeongguk.
Hari ini Jeongguk mengenakan pakaian casual yang santai. Kaos dalam berwarna putih yang dibalut dengan kemeja kotak-kotak gelap, serta kaki yang terbungkus oleh celana ripped jeans berwarna biru cerah. Rambutnya di tata sedikit acak-acakan namun masih terlihat tertata dan mempesona. Kedatangan Jeongguk di atas panggung siang itu cukup mengejutkan para mahasiswa baru, karena sebelumnya tidak ada informasi bahwa Jeongguk akan tampil menghibur di acara penutupan ospek itu.
"Halo, selamat siang, adik-adik mahasiswa baru dan teman-teman semua!" sapa Jeongguk sebelum mengawali penampilannya.
Sorakan dan tepuk tangan riuh menyambut Jeongguk siang itu. Membuat Jeongguk merasa mendapat semangat untuk tampil.
"Hari ini saya—Jeongguk, akan tampil solo, tanpa teman-teman Stargazer lainnya—Mingyu dan Yugi. Saya akan menyanyikan lagu cover dari Loving Caliber dengan judul She Will Never Know yang liriknya saya rubah sedikit dari lirik aslinya. Semoga kalian suka dan terhibur." Jeongguk tersenyum kecil.
Taehyung di bangku penonton menyimak dengan seksama setiap kata-kata yang dikeluarkan Jeongguk. Judul lagu yang akan dinyanyikan Jeongguk berhasil menarik perhatian Taehyung. Ia tidak tahu dan belum pernah mendengar lagu itu. Namun, dari judulnya Taehyung tahu bahwa lagu itu ditujukan untuk seorang gadis karena pronouns yang digunakan adalah ‘she’.
Jeongguk duduk di sebuah kursi kecil dengan gitar akustik di pangkuannya dan standing mic di depannya. Petikan senar gitar akustik mengawali penampilan Jeongguk siang itu.
Look out here he comes
The man that I love
Kedua manik Jeongguk mendarat dengan akurat pada posisi Taehyung duduk saat ini. Menatap dengan tatapan kagum dan memuja lelaki manis yang terduduk sambil balas tatapan Jeongguk.
It's too bad he'll never know
Yea I can't tell him how I feel
Because he's happy on his own world
Kini, Taehyung baru sadar jika Jeongguk mengganti pronouns 'she' menjadi 'he'.
I'm a ghost in these walls
Or at least I try to be
'Cause I hope that I'm not showing
How I feel for him
He won't feel the same for me
Tatapan mata Jeongguk berubah menjadi lebih sendu dan menyiratkan keputusasaan serta kepasrahan.
I've got this picture in my mind
It's just the two of us
Just the two of us
Dapat Jeongguk bayangkan, gambaran ketika hanya ada Jeongguk dan Taehyung di dunia ini. Seolah mereka adalah tokoh utama sebuah cerita romansa yang berakhir bahagia dan saling mencintai.
But I know I have to try
Try to let him go
Because he won't be mine
Namun, Jeongguk sadar, mungkin ia harus mencoba melepaskan Taehyung setelah usahanya selama ini sepertinya tidak membuahkan hasil. Taehyung tak kunjung memberi jawaban dan kepastian.
I listen when he talks
I watch him when he walks
He's giving me these feelings
That I've never felt before
Cara Taehyung berbicara dan bercerita, cara Taehyung berjalan melangkahkan kakinya, dan segala hal-hal kecil lainnya tak pernah luput dari kedua netra Jeongguk. Perasaan cinta ini hanya Taehyung yang berhasil memberikannya pada Jeongguk, untuk pertama kalinya. Sebab, sebelumnya tak pernah ada satu orang pun yang membuat Jeongguk sampai sebegini tergila-gilanya.
But he will never know
That I love him so
He's happy with himself
And I will have to let him go
He will never know na na
Never know na na
Namun, sepertinya Taehyung tak akan mengerti betapa jatuh cintanya Jeongguk pada dirinya. Di bangku penonton, Taehyung terdiam seribu bahasa dan terus menyimak lagu yang dinyanyikan Jeongguk. Perlahan-lahan ia menyadari bahwa, mungkin lagu itu ditujukan untuk dirinya.
It's like he stole my heart
Without knowing he did
Bait kedua mulai dinyanyikan setelah reff selesai. Perilaku manja Taehyung, sifatnya yang sedikit galak tiap kali Jeongguk melancarkan rayuan dan godaan, pipinya yang diam-diam memerah ketika mendapat pujian dari Jeongguk. Juga, sikap Taehyung yang diam-diam selalu peduli dan mengayomi Jeongguk, memberinya semangat sebelum tampil menyanyi, memijat tubuhnya ketika Jeongguk lelah. Semua perhatian itu tanpa Taehyung sadari berhasil mencuri hati Jeongguk.
But I guess that it will pass
Yea I can't be the only one
Who got lost inside the brown of those eyes
Jeongguk pikir, mungkin itu hanya perasaan yang temporer dan akan hilang seiring waktu. Karena ia tidak bisa menjadi satu-satunya yang jatuh dan hilang di dalam sorot manik berwarna cokelat milik Taehyung.
I've got to let him go
I know it won't be easy
I wanna hold him close
But I have to try
Try as hard as I can
'Cause he'll never be mine
Jeongguk masih setia menatap entitas Taehyung di bangku penonton sambil terus menyanyikan lirik lagu. Tatapan Jeongguk yang tak kunjung beralih dari Taehyung membuat pemuda itu semakin yakin bahwa lagu ini memang ditujukan untuknya.
I listen when he talks
I watch her when he walks
He's giving me these feelings
That I've never felt before
He will never know
That I love him so
He's happy with himself
And I will have to let him go
He will never know na na
Never know na na
Bagian reff lagu kembali dilantunkan. Penonton yang mulai familier dengan melodi lagu pun ikut bersenandung menyanyikan. Jeongguk sesekali tersenyum tipis pada penonton. Namun, fokus utamanya tetap pada sosok Taehyung yang ia harap dapat mengerti perasaannya lewat lagu itu.
Seiring lagu yang terus berjalan hingga akhir, Taehyung perlahan mulai merasa bersalah yang luar biasa karena telah menggantungkan jawaban dan tidak memberi kepastian untuk Jeongguk. Mata Taehyung sedikit berkaca-kaca saat Jeongguk selesai menyanyikan lagu itu dan tersenyum pedih kepadanya.
“Terima kasih untuk teman-teman panitia dan adik-adik mahasiswa baru yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk tampil menyanyi di acara penutupan ospek ini. Saya ingin mengucapkan selamat kepada adik-adik mahasiswa yang telah berhasil diterima di Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Konkuk dan telah menyelesaikan rangkaian kegiatan ospek dengan baik. Semoga sukses selalu untuk kedepannya. Saya Jeongguk, undur diri. Terima kasih!” Jeongguk memasang senyum lebar, melambaikan tangannya pada audiens dan membungkukkan badan sopan.
Setelah selesai menampilkan sebuah lagu, Jeongguk berjalan menghampiri Taehyung di bangku penonton. Kebetulan ada kursi kosong di samping Taehyung, maka Jeongguk pun duduk di kursi itu.
“Gimana penampilan aku? Bagus nggak, Tae?” tanya Jeongguk dengan nada santai seolah ia tidak baru saja mengungkapkan patah hatinya kepada Taehyung melalui lagu.
Taehyung terkesiap untuk sesaat, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya. “Bagus. Bagus banget.” Taehyung mengangguk berkali-kali, seraya menunjukkan senyumnya.
“Thanks,” ujar Jeongguk, seutas senyum kecil tersungging di bibirnya. “Mau pulang sekarang atau kamu masih mau liat acaranya sampai selesai?”
“Sekarang. Pulang sekarang aja, Guki,” tutur Taehyung.
“Oke, yuk ke parkiran.” Jeongguk berdiri sambil menggendong tas berisi gitar akustiknya.
“Jim, aku pulang duluan, ya.” Taehyung menyempatkan untuk berpamitan dengan Jimin yang nampak asik menonton hiburan di panggung.
“Oh, iya, Tae. Hati-hati di jalan, ya.” Jimin mengangguk dan melambaikan tangannya.
***
"Mau mampir jajan dulu nggak?" tawar Jeongguk kepada Taehyung. Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil Jeongguk untuk perjalanan pulang.
"Nggak usah, langsung pulang aja, Guk. Nanti aku mampir bentar ke rumah kamu, ya," ujar Taehyung.
"Oke, sekalian main PS, ya. Udah lama kita nggak main PS." Wajah Jeongguk berubah cerah dan semangat.
"Iya juga, udah lama nggak main PS." Taehyung menyetujui usul itu, namun tak melupakan tujuan utamanya untuk mengobrol dengan Jeongguk.
Di sepanjang perjalanan pulang, mereka memutar beberapa lagu di mobil Jeongguk dan menyanyi bersama. Carpool karaoke.
"Kapan-kapan ikut aku nyanyi, Tae. Suara kamu bagus tau," celetuk Jeongguk di tengah kegiatan karaoke mereka.
"Mingyu sama Yugi juga bilang gitu. Tapi, nggak dulu deh. Aku cukup di belakang layar aja." Taehyung kemudian melanjutkan nyanyiannya.
"Mingyu sama Yugi bilang suara kamu bagus? Kapan?" Jeongguk mengernyitkan dahinya.
"Pas latihan tanpa kamu. Aku nyanyi di studio diiringi drum Yugi sama gitar Mingyu," jawab Taehyung.
"Oh," balas Jeongguk dengan singkat. Berhenti ikut bernyanyi bersama Taehyung dan memilih untuk diam.
"Kenapa sih emangnya?" Taehyung mencium gelagat aneh saat Jeongguk hanya terdiam dan nampak berada dalam suasana hati yang buruk.
"Aku cemburu." Terang Jeongguk jujur.
"Hah? Cemburu kenapa sih, Guk?"
"Kamu jarang banget nyanyi, bahkan nyanyi di depanku pun jarang. Eh sekalinya nyanyi di depan Mingyu sama Yugi." Jeongguk merengut kesal.
"Astaga, Guki." Taehyung membuka mulut tak habis pikir. "Kayak anak kecil banget sih. Nih, sekarang aku nyanyi di depan kamu."
Jeongguk masih terdiam sejenak. "Nggak usah ikut aku nyanyi deh. Cuma aku yang boleh denger kamu nyanyi."
"Siapa juga yang mau ikutan kamu nyanyi." Taehyung memutar bola matanya.
Jeongguk semakin cemberut, kemudian mencubit main-main paha Taehyung.
"Sakit, ih!" Taehyung memukul tangan Jeongguk yang masih mendarat di pahanya.
Jeongguk hanya tertawa, melirik ke arah Taehyung kemudian mengacak rambut lelaki manis itu. "Sayang." gumamnya lirih.
***
Setibanya di rumah Jeongguk, Taehyung langsung menyalami Mama Jeongguk yang kebetulan sedang duduk bersantai di sofa depan televisi.
"Hai, Ma. Lagi nyantai, ya?" Sapa Taehyung sambil mencium tangan Mama Jeongguk.
"Taehyung−ie sayang, lama nggak ketemu. Kok kamu jarang main kesini sih? Mama kangen." Mama Jeongguk menepuk pipi Taehyung halus.
"Sibuk, Ma. Hehe." Taehyung terkekeh. "Ini sekarang mau main bentar kok."
"Salam buat bunda kamu, ya. Ya udah sana main sama Jeongguk." Mama Jeongguk tersenyum dan mempersilakan Taehyung serta Jeongguk untuk menikmati waktu mereka.
"Tae, kamu mau ngapain sih sebenernya? Main PS doang?" tanya Jeongguk saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar Jeongguk.
"Mau ngobrol tentang sesuatu," jawab Taehyung yang kini mendudukkan diri di atas kasur Jeongguk. Sedangkan si pemilik kamar sudah dalam posisi berbaring di dekat Taehyung.
"Ya udah dimulai sekarang aja. Mau ngobrol apa?" Jeongguk memfokuskan perhatiannya pada Taehyung.
"Lagu yang kamu bawakan tadi itu … buat aku?" Taehyung sedikit ragu, takut salah mengartikan lagu tadi.
"Iya," anggukan Jeongguk menjadi jawaban. "Buat kamu, Taehyung." Senyum pedih bertengger di sudut bibir Jeongguk saat mengingat isi lagu yang ia nyanyikan beberapa saat yang lalu.
"Lagu itu nggak bener. Salah," ucap Taehyung, tatapan matanya terkunci di kedua manik hitam Jeongguk.
"Maksudnya?"
It's too bad he'll never know
Yea I can't tell him how I feel
Because he's happy on his own world
"Aku tau, Guk. I know that you love me. Happy in my own world? No. Kamu duniaku dan aku nggak akan bisa bahagia tanpa kamu." Taehyung menggelengkan kepala, tak bisa membayangkan hidupnya tanpa kehadiran Jeongguk.
'Cause I hope that I'm not showing
How I feel for him
He won't feel the same for me
"Pesimis banget kamu, Guk. I feel the same for you, too." Taehyung tersenyum penuh arti.
Jeongguk masih ternganga dan berusaha mencerna semua obrolan yang begitu tiba-tiba ini. Setan apa yang tengah merasuki Taehyung hingga sahabatnya itu akhirnya menyadari semua hal ini?
But I know I have to try
Try to let him go
Because he won't be mine
"Don't ever try to let me go." Tatapan Taehyung berubah menjadi sendu dan memohon agar Jeongguk tidak benar-benar berniat melepaskannya. "Aku cuma punya kamu, sahabatku dari kecil sampe sekarang. Orang yang selalu ada buat aku."
I listen when he talks
I watch him when he walks
He's giving me these feelings
That I've never felt before
"I listen everytime you sing me a love song, a romantic song. Mungkin aku kelihatan nggak peduli pas kamu nyanyiin lagu-lagu itu, tapi aku dengerin, Guk. I always listen to you. Kamu juga kasih aku perasaan yang belum pernah aku rasain ke kamu selama ini.”
"Taehyung—" Jeongguk mencoba menyela namun buru-buru dipotong oleh Taehyung.
It's like he stole my heart
Without knowing he did
"Jahilnya kamu, ngeselinnya kamu, flirty-nya kamu. Tanpa sepengetahuan kamu, it all stole my heart, too, Guki," ungkap Taehyung. Kilat di matanya memancarkan ketulusan.
But I guess that it will pass
Yea I can't be the only one
Who got lost inside the brown of those eyes
"You’re not the only one, Guki . I lost, too. In the sound of your sweet angelic voice every time you sing for me.” Kedua manik cokelat Taehyung mulai berkaca-kaca.
I've got to let him go
I know it won't be easy
I wanna hold him close
But I have to try
Try as hard as I can
'Cause he'll never be mine
“Please, jangan nyerah sama aku, Guki. Hold me close.” Dengan air mata yang sudah berada di ujung kelopak mata, Taehyung merentangkan kedua tangannya.
Jeongguk sontak bangkit dari posisi berbaringnya dan menyambut pelukan itu. Menarik Taehyung ke dalam dekapannya tanpa jarak sedikit pun, meraihnya agar menempel sangat dekat dengan tubuhnya. Jantung Jeongguk berdegup begitu kencang. Seperti ada ombak yang bergulung-gulung di dasar perutnya. Jeongguk tak tahu perasaan asing ini, yang jelas ia merasa begitu bahagia dan lega luar biasa. Taehyung ada di dalam pelukannya, begitu dekat dengan detak jantungnya.
“Taehyung, Taehyung, Tae—” Ucapan Jeongguk tersendat akan seberapa bahagianya ia mendengar pernyataan-pernyataan Taehyung tadi. Bahwa Taehyung merasakan hal yang sama juga, bahwa Jeongguk bukan satu-satunya yang jatuh dan hilang. Perlahan, dapat Jeongguk rasakan basah di bahunya, Taehyung pasti menangis. Jeongguk pun sama, setetes air mata bergulir jatuh melewati pipinya.
“Maaf, Guki. Maafin aku.” Taehyung tersedu di pelukan Jeongguk.
“Hei, maaf kenapa? Kamu nggak salah apa-apa sama aku.” Jeongguk mengusap kepala Taehyung penuh afeksi.
“Maaf udah raguin perasaan kamu, nolak kamu, nggak peka sama kamu, dan nggak kasih kepastian. Sampai bikin kamu kepikiran buat nyerah.” Wajah Taehyung lama kelamaan bersarang semakin dalam di ceruk leher Jeongguk.
“Aku nggak akan nyerah sama kamu. You’re all I want. I don’t want anyone else but you.” Jeongguk terus mengusap surai Taehyung dan mengelus punggung sahabatnya itu.
“Aku kayak gitu juga punya alasan, Guk. Aku—”
Belum selesai Taehyung memberi penjelasan, pintu kamar Jeongguk yang dari awal memang tidak dikunci itu terbuka oleh Nara. Gadis remaja itu sepertinya baru saja pulang dari sekolah, terlihat dari seragam yang masih melekat di tubuhnya.
“Abang, Kak Tae, disuruh makan siang dulu sama Mama. Makan siangnya udah siap—Eh, aduh, maaf maaf. Ya udah diselesaiin dulu aja.” Kedua bola mata Nara membulat saat melihat pemandangan Jeongguk dan Taehyung sedang dalam posisi berpelukan erat. Suasana tiba-tiba terasa sangat canggung. Jeongguk dan Taehyung buru-buru melepaskan pelukan mereka dan mengusap air mata masing-masing yang masih berderai di pipi.
“Nanti aku sama Taehyung nyusul, Ra. Makan dulu aja nggak apa-apa,” ujar Jeongguk dengan perasaan yang malu sebab tertangkap basah sedang berpelukan dengan Taehyung.
“Oke, aku bilangin Mama nanti Abang sama Kak Tae nyusul. By the way, lain kali pintunya dikunci, ya, Bang.” Nara terkikik jahil, kemudian menutup pintu kamar Jeongguk dan berlalu pergi.
“Dasar bocil,” gerutu Jeongguk. Taehyung hanya menanggapi dengan tawa yang canggung.
“Tae, kalau kamu punya perasaan yang sama kayak aku, berarti waktu aku sering bolak-balik ke FIB terus sering hangout sama Jieun itu kamu beneran cemburu? Sampai hindari aku dan malah main sama Mingyu dan Yugi?” Jeongguk melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terinterupsi oleh adiknya.
Taehyung memberi sebuah anggukan sebagai jawaban. “Iya, cemburu. Aku nggak suka kamu deket-deket sama dia.” Bibir Taehyung merengut lucu.
“Kalau cemburu dan nggak suka aku deket sama dia, kenapa kamu nggak pernah respon usaha aku deketin kamu? Padahal kamu tau aku udah berkali-kali bilang kalau aku tertarik dan suka sama kamu.” Hal ini lah yang masih membuat Jeongguk bingung. Sebab, semua godaan dan pernyataan suka Jeongguk sebelumnya—baik tersirat maupun tersurat terasa tak terlihat sama sekali oleh Taehyung. Bahkan, Taehyung hanya menganggapnya sebagai candaan saja.
“Tadi aku udah bilang, Guk. Aku punya alasan. Aku nggak pernah nanggepin kamu serius soalnya aku nggak mau persahabatan kita rusak dan hubungan kita sebagai artis dan manajer jadi nggak profesional,” jelas Taehyung dengan jujur. Ia tak mau kehilangan Jeongguk sebagai satu-satunya sahabat jika suatu saat nanti mereka berkonflik dalam hubungan yang lebih serius.
Jeongguk membuang napasnya, benar perkataan Nara kemarin. Taehyung takut akan rusaknya hubungan pertemanan mereka dan juga hubungan artis dan manajer yang tidak profesional. Jeongguk menatap lekat kedua netra Taehyung, ia menyadari masih ada sesuatu yang belum Taehyung ungkapkan.
“Iya, aku paham dan ngerti tentang itu, Tae. Aku sempat takut juga tentang hal kayak gitu. Tapi, apa salahnya kita coba jalani dulu? Lagian, nggak tau kenapa aku udah yakin banget sama kamu. Rasanya tuh kayak … I've known you since forever, I can't imagine you with someone else, I can't imagine me being with someone else but you either. It's just … you and me, Taehyung. Kalau masih ada yang bikin kamu ragu dan takut selain hal tadi, tolong bilang sama aku. Biar aku ngerti, biar aku bisa kasih solusi," Jeongguk menjelaskan dengan sabar dan pelan-pelan. Mencoba membuat Taehyung merasa nyaman dan mau membuka diri tentang apa yang membuatnya masih belum yakin untuk menjalin hubungan bersama Jeongguk.
"Guki, a-aku—kamu inget mantan aku pas SMA dulu? Sungwoo?” Taehyung berkata dengan terbata dan terdengar begitu tersiksa saat menyebut nama mantan kekasihnya.
“Oh, inget. Kenapa?” Perasaan Jeongguk mulai tak enak saat Taehyung menyebut nama mantannya ketika SMA dahulu. Apakah Taehyung masih belum move on dari laki-laki itu? Jeongguk menebak demikian, namun di lubuk hatinya tentu saja ia berharap tebakannya salah.
“Waktu itu Sungwoo putusin aku dengan alasan karena aku orangnya bosenin, nggak asik diajak pacaran,” suara Taehyung sedikit bergetar saat mengatakannya.
“Tae—” Jeongguk tidak tahu bahwa dahulu alasan Taehyung putus dengan Sungwoo yang sebenarnya adalah karena hal itu. Taehyung dulu berbohong dan bercerita pada Jeongguk bahwa alasannya putus dengan Sungwoo adalah karena Taehyung ingin fokus belajar untuk masuk perguruan tinggi.
“Itu bikin aku jadi punya self-esteem yang rendah, Guk. Aku jadi sulit terima diri aku sendiri, kurang percaya diri, ngerasa nggak pantes buat siapa-siapa, takut buat pacaran lagi karena aku orangnya bosenin dan nggak asik. Aku takut suatu saat kamu bosen sama aku terus kamu minta put—” Suara Taehyung semakin bergetar dan air mata mulai berkumpul di ujung kelopak mata Taehyung.
“Stop. Nggak usah dilanjutin, Taehyung. Omongan Sungwoo nggak bener sama sekali. Kamu nggak kayak yang dibilang sama dia. Kamu nggak bosenin, mantan kamu aja yang nggak bisa click personality sama kamu dan nggak mau usaha bikin hubungan kalian dulu jadi nggak bosenin. It’s not even your fault.” Ada nada marah yang berusaha Jeongguk tahan saat mengatakannya. Marah kepada mantan Taehyung yang bisa-bisanya mengatakan hal itu sebagai alasan putus hubungan dengan Taehyung. Juga, marah karena apa yang dikatakan Sungwoo tidak benar sama sekali. Taehyung memang bukan tipe orang yang ekstrovert, namun ia juga tak membosankan seperti apa yang dikatakan Sungwoo hingga hal itu menjadi penyebab putusnya hubungan mereka.
Pernyataan Nara kemarin lagi-lagi terbukti benar, Taehyung jelas mempunyai alasan mengapa ia belum siap untuk menerima Jeongguk sebagai kekasihnya. Termasuk tentang persahabatan, profesionalitas, dan hal yang tidak diduga oleh Jeongguk sebelumnya yaitu rasa insecure, rendahnya self-esteem Taehyung akibat perkataan sampah mantannya dahulu. Jeongguk bersyukur Taehyung mau membuka diri dan bersikap transparan terhadapnya dengan berani bercerita tentang pengalaman pahit itu.
Sambil menahan air mata yang sebentar lagi berderai, Taehyung berujar, “Beneran aku nggak bosenin?”
Jeongguk memajukan posisi duduknya mendekati Taehyung, lalu mengusap air matanya sebelum sempat jatuh di pipi gembulnya.
“Iya, beneran. Kalau kamu bosenin aku udah ninggalin kamu dari dulu kali. See, I’m still here ‘till now, always by your side. Sungwoo has no idea of what he’s missing and losing. Cowok paling lucu, manis, baik, pinter, dan sabar yang pernah aku kenal. Aku orang paling beruntung di dunia ini. Can you picture it? You and I together?” Jeongguk menangkup kedua pipi taehyung dan meremasnya lembut.
Air mata yang sedari tadi sudah Taehyung tahan akhirnya jatuh juga dalam tangis haru. Jeongguk menarik Taehyung dalam peluknya, berusaha memberikan pelukan yang menenangkan dan hangat. Pelukan yang memang Taehyung pantas dapatkan setelah kehilangan kepercayaan dirinya akibat pengalaman buruk di masa lalu, juga pelukan sebagai bentuk validasi bahwa Taehyung tidak seperti apa yang dikatakan oleh mantan kekasihnya dahulu.
“Guki, makasih banyak,” ujar Taehyung, masih dalam pelukan Jeongguk. Hatinya perlahan menghangat dan terasa lebih baik karena pelukan dan perkataan dari Jeongguk yang sedikit demi sedikit membangkitkan kepercayaan dirinya lagi. Taehyung menghirup napas dalam-dalam dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa tidak semua orang akan menyakitinya seperti Sungwoo menyakiti dirinya dulu. Jeongguk adalah Jeongguk, bukan Sungwoo yang membuangnya begitu saja hanya karena ia dianggap membosankan.
“It’s nothing. You deserve it. Udah, ya. Jangan nangis lagi. Kamu jelek kalau nangis,” canda Jeongguk seraya terkekeh.
“Ih, Gukii!” Taehyung buru-buru melepas pelukan mereka dan memukul dada Jeongguk pelan.
“Bercanda, Sayang.” Jeongguk tertawa kecil, gemas melihat wajah Taehyung yang kini memerah akibat menangis, bibir yang merengut lucu, dan rambut yang sedikit acak-acakan.
Taehyung mengambil selembar tisu di meja dekat ranjang Jeongguk dan mengelap bekas air matanya. Pipinya semakin memerah lantaran mendengar panggilan ‘Sayang’ itu. Memang, itu bukan pertama kalinya Jeongguk memanggilnya dengan panggilan seperti itu, namun kali ini terasa jauh lebih berbeda saat Taehyung telah menyadari bahwa itu bukan semata-mata candaan saja. Jeongguk benar-benar menaruh perasaan sayang dan cinta kepadanya.
“Tae, main game yuk,” ajak Jeongguk.
“Main PS?” Taehyung menaikkan sebelah alisnya.
“Bukan. Main game namanya ‘Kiss Me If I’m Wrong’.” Jeongguk tersenyum miring.
“Nggak usah aneh-aneh deh. Turun aja, udah ditunggu makan siang sama Mama.” Taehyung teringat akan pesan Nara tadi untuk segera menyusul makan siang.
“Bentar doang kok.” Mohon Jeongguk dengan wajah melas dan manja.
“Ya udah cepetan.” Taehyung pasrah dan mengiyakan.
“Sesuai judulnya, ya. Cium aku kalau aku salah. Kiss me if I’m wrong, you want to be my boyfriend,” ujar Jeongguk.
“Bener. Aku nggak mau cium kamu,” jawab Taehyung sambil mengangguk dengan santai.
Jeongguk terdiam sejenak, mulutnya terbuka sedikit. “Jadi, kamu mau jadi pacarku?”
“Iya, aku mau jadi pacar kamu, Guki.” Taehyung tersenyum lebar penuh arti.
Jeongguk masih belum bergerak, mencoba memproses perkataan Taehyung yang baru saja menerima Jeongguk sebagai kekasihnya. Dengan agak gugup, Jeongguk berkata, “Oke, main sekali lagi.”
“Oke.” Taehyung setuju.
“Kiss me if I’m wrong. Dinosaurs are still alive.” tutur Jeongguk.
Taehyung mengernyitkan dahinya, kemudian dengan refleks menjawab, “Salah, dinosaurus 'kan udah punah.”
“Salah, ya? Oke, sekarang cium aku.” Jeongguk menyunggingkan senyum miring di sudut bibirnya.
Taehyung melebarkan matanya, baru sadar jika ia tadi menjawab ‘salah’. Maka, konsekuensinya adalah mencium Jeongguk.
“Dih, nggak mau ah.” Taehyung refleks memundurkan posisi duduknya hingga menabrak headboard ranjang Jeongguk.
“Kenapa nggak mau? 'Kan kita udah pacaran?” Jeongguk menagih dengan raut polosnya.
“Ya udah sini,” ucap Taehyung malu-malu.
Jeongguk mengulas senyum, bergerak memajukan tubuhnya hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Taehyung. Dengan gerakan yang masih ragu dan canggung, Taehyung memajukan bibirnya, menempelkan secara singkat pada pipi kanan Jeongguk.
“Udah,” ujar Taehyung setelah mendaratkan sebuah ciuman di pipi Jeongguk.
“Eh?” Jeongguk mematung. “Bukan cium di pipi, Sayang.”
Lagi-lagi Taehyung blushing akibat panggilan itu, mungkin ia harus membiasakan diri dengan panggilan itu agar pipinya tidak terlalu merah dan jantungnya tidak berdegup terlalu kencang seperti saat ini.
“Mau di mana emangnya?”
Tangan Jeongguk terangkat dan mendarat di bibir tebal Taehyung yang sedikit terbuka. Mengusapnya lembut, kemudian berkata, “Di sini. Boleh?”
Deru napas Jeongguk yang begitu dekat dengan Taehyung, sorot mata Jeongguk yang menatap ranumnya seolah kelaparan dan ingin segera memagutnya, membuat Taehyung menganggukkan kepalanya impulsif sebagai jawaban. Atensi Taehyung beralih, dari kedua manik Jeongguk menuju belah bibir kemerahan Jeongguk yang sedikit terbuka.
Jeongguk mengulum sebuah senyuman sebelum memajukan wajah dan mengikis jarak lima sentimeter di antara keduanya menjadi nol sentimeter. Kedua telapak tangannya diletakkan di masing-masing tengkuk Taehyung dan di rahang Taehyung. Jeongguk telah menunggu momen ini untuk terwujud dalam hidupnya sejak selamanya. Maka, ketika Taehyung memberi anggukan kepala sebagai izin, ia pun lantas mempertemukan bibirnya dengan bibir Taehyung dalam ciuman.
Kupu-kupu khayal berterbangan di perut kedua pemuda itu. Hangat, lembut, dan magisnya bibir masing-masing memberi efek memabukkan bagi keduanya. Degup jantung Jeongguk berpacu begitu kencang, seolah masih belum bisa memproses bahwa saat ini—Taehyung, sahabatnya sejak kecil telah berubah status menjadi kekasihnya. Taehyung yang galak, tsundere, tidak peka, dan manja itu kini takluk di dalam genggaman Jeongguk. Pasrah ketika Jeongguk semakin memperdalam ciumannya.
Taehyung pun sama sekali tak protes, justru memejamkan kedua netranya. Bibirnya semakin terbuka seiring dengan desakan kecil dari lidah Jeongguk dan gigitan kecil di bibirnya yang membuat Taehyung membuka mulut, memberi izin kepada Jeongguk untuk memasukkan lidahnya ke rongga mulut Taehyung. Memporak-porandakan kewarasan Taehyung lewat sapuan lidah Jeongguk di seluruh rongga mulut dan giginya.
Taehyung meleleh, kedua tangannya mencari sesuatu untuk berpegangan sebab percumbuan ini semakin bertambah intens. Taehyung menemukan bahu dan lengan Jeongguk, ia berpegang erat pada bahu dan lengan Jeongguk agar bisa tetap berada di posisi yang benar, sembari terus berpagutan dengan bibir Jeongguk.
Namun, percumbuan itu tak berlangsung lama. Jeongguk menghentikannya sesaat setelah melilitkan lidahnya dengan Taehyung. Segalanya terasa terlalu banyak untuk Jeongguk cerna saat itu juga. Jembatan saliva di antara bibir Jeongguk dan Taehyung menjadi simbol perpisahan kedua penutur mereka.
"Guki—Guki …" Napas Taehyung tersengal, mencari oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi pasokan udara di paru-parunya yang terkikis akibat percumbuan intens tadi.
"Sayang, Taehyung. Did I hurt you?" Jeongguk pun sama tersengalnya. Namun, ia lebih khawatir jika percumbuan tadi menyakiti dan terlalu berlebihan untuk Taehyung.
Taehyung menggeleng dengan cepat. "Enggak, Guki. Lagi, mau lagi. Boleh?"
Binar manik cokelat Taehyung yang memohon dan pipi serta telinganya yang memerah benar-benar menjadi kelemahan Jeongguk. Bagaimana bisa ia menolak permintaan dari sosok itu? Wajah yang memerah, bibir yang bengkak dan berlapis saliva sisa percumbuan tadi, serta tatapan memohon bak anak anjing. Jeongguk bisa gila jika tak segera mengabulkan keinginan kekasihnya itu.
Sementara Taehyung, berperang dengan dirinya sendiri. Antara merasa malu luar biasa sebab meminta Jeongguk untuk memberinya cumbuan yang lebih dan lebih. Akal sehatnya belum terbiasa dan menerima akan fakta bahwa Jeongguk—teman masa kecilnya, sahabatnya hingga tumbuh dewasa, teman berbagi cerita dan keluh kesah, sekarang baru saja berciuman dengannya secara intim dan berantakan. Namun di sisi lain, Taehyung juga merasa begitu mendamba dan terjebak dalam perangkap candu akan bagaimana bibir Jeongguk menyapu dan mencumbunya layaknya seorang ahli.
“Boleh, Sayang. Taehyung mau apa? Bilang ke Guki. I’ll make your command and wish come true.” Telapak tangan Jeongguk menelusuri kulit wajah Taehyung dengan lembut, mengagumi betapa indah, tampan, dan cantiknya rupa sang kekasih terukir.
Jeongguk berjanji akan melakukan apapun untuk menjaga Taehyung agar selalu berada di sisinya dan menjadi miliknya. Hati Taehyung mungkin saja masih sakit akibat perkataan buruk oleh mantan kekasihnya di masa lalu, namun Jeongguk akan memugar kembali hati dan raga Taehyung sebaik mungkin agar kembali sembuh dan utuh. Sebab, Taehyung sungguh layak mendapatkan cinta, kasih sayang, dan semua hal bahagia di dunia ini tawarkan.
Detik berikutnya, dapat Taehyung rasakan kedua belah telapak tangan Jeongguk menangkup sepasang pipinya. Jeongguk memajukan wajahnya, meniadakan jarak diantara mereka. Begitu pula Taehyung, turut memajukan wajahnya agar bibir keduanya segara bertemu. Dan ketika akhirnya bibir mereka bertemu kembali, keduanya saling mengecup perlahan dan terkesan malu.
Berciuman dalam posisi duduk bersila secara berhadapan merupakan posisi yang buruk. Lipatan kaki mereka menghalangi keduanya untuk menyentuh dan meraih tubuh satu sama lain. Maka, dengan terpaksa Jeongguk melepas ciuman itu. Ada dengusan kecewa dari Taehyung saat Jeongguk menarik diri. Akan tetapi, dengan segera Jeongguk menegakkan posisi duduknya dan menepukkan tangan di pangkuannya, memberi gestur kepada Taehyung untuk duduk di pangkuannya.
“Sini, duduk di pangkuan aku aja, ya, Sayang. It’ll be more comfortable, I promise.”
Taehyung menatap pangkuan Jeongguk ragu sekaligus malu. Ia berusaha mengabaikan perasaan ragu dan malu itu serta lebih percaya pada instingnya, yaitu segera mendudukkan diri di pangkuan Jeongguk. Taehyung bergerak pelan, membuka lebar kedua tungkainya dan mulai merendahkan tubuhnya untuk duduk di pangkuan Jeongguk. Kedua kakinya masing-masing berada di sisi kanan dan kiri tubuh Jeongguk.
Jeongguk meraih pinggang Taehyung, memberi dorongan dan kenyamanan pada Taehyung. “Here we go. Rileks aja, Tae.”
Jeongguk mendekap tubuh Taehyung yang kini telah berada di pangkuannya dengan sempurna.
“Cium,” pinta Taehyung, menengadahkan kepalanya memohon kepada Jeongguk.
“Iya, Sayang. Let’s kiss.” Jeongguk menyunggingkan senyum di bibirnya.
Kemudian, tanpa menunggu lebih lama lagi, Jeongguk meraup bibir Taehyung ke dalam pagutan yang dinanti-nanti Taehyung sejak tadi. Kedua lengan Taehyung bergerak otomatis melingkar di leher Jeongguk. Bibir Taehyung terasa begitu lembut, kenyal, dan basah. Membuat Jeongguk tidak tahan untuk tidak menggigit lembut ranum kemerahan itu. Seluruh permukaan kulit Taehyung meremang atas aksi gigitan kecil itu.
Mendapat jawaban berupa terbukanya bibir Taehyung atas gigitan lembut itu, Jeongguk kian memperdalam ciumannya. Tengkuk Taehyung dibawa untuk lebih mendekat oleh Jeongguk hingga pasokan oksigen dalam pernapasan mereka mulai menipis. Taehyung pun berusaha mengimbangi dan membalas ciuman Jeongguk yang sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih menuntut dan bergairah. Suara pertemuan kedua bibir yang saling mengecup dan melumat terdengar begitu nyaring di kamar Jeongguk siang itu.
Taehyung tampak begitu indah, panas, dan menggoda di atas pangkuan Jeongguk seperti ini. Dan hal itu sukses membakar gairah Jeongguk, menginginkan Taehyung lebih dari ini, lebih dari sekadar pertemuan bibir. Jemari Jeongguk mulai berpendar menyusuri punggung Taehyung, mengusap dari bagian atas hingga turun ke bawah sampai pinggang ramping nan elok milik Taehyung. Rasanya tak cukup hanya menyentuh Taehyung dengan berlapis kain. Maka, disisipkan lah tangan Jeongguk ke dalam kaos Taehyung.
Kulit bertemu kulit. Taehyung sedikit bergetar dalam ciumannya saat kulit tangan Jeongguk bertemu tanpa perantara dengan permukaan kulit pinggangnya.
“Pinned me down against the bed, G-guki,” ujar Taehyung terbata di sela permainan lidah bersama Jeongguk.
“Fuck!” umpat Jeongguk dengan refleks. Kemudian dengan perlahan dan penuh kehati-hatian ia mendorong kekasihnya itu hingga jatuh terbaring di atas kasur Jeongguk tanpa melepas tautan bibir mereka.
“Kamu cantik banget di bawah aku, Taehyung. Seumur hidup, aku nggak pernah nyangka kalau kamu—sahabatku dari kecil, bakal tidur pasrah di bawah kendali aku kayak gini. Bahkan, kamu sendiri yang minta. You’re so pretty underneath me,” puji Jeongguk dengan kekaguman yang begitu kentara dan tidak ditutupi.
“Guki, diem. Aku malu.” Kalimat Jeongguk tadi total membuat Taehyung tak berkutik dan hanya bisa terdiam malu.
“Malu? Kamu baru malu sekarang setelah tadi habis ciuman pake lidah sama aku sampai ludah kita nyatu dan belepotan? Iya, Sayang?” Jeongguk semakin menggoda Taehyung dengan permainan verbalnya.
“Malu dipuji-puji terus,” balas Taehyung dengan intonasi manja.
“Oke, kalau kamu lemah sama pujian lewat kata-kata, let me worship your beautiful body with my mouth and hands, then.” Senyum miring terpatri kuat di bibir Jeongguk.
Sedetik kemudian, tanpa menunggu balasan dari Taehyung, Jeongguk menyibak kaos yang dikenakan Taehyung hingga berada di batas antara dada dan leher. Jeongguk merendahkan wajahnya menuju dagu Taehyung, menyeret sebuah ciuman yang meninggalkan jejak basah dari dagu menuju rahang. Menghasilkan sensasi dingin sekaligus panas di permukaan epidermis Taehyung. Ciuman itu berlanjut hingga ke ceruk leher Taehyung, Jeongguk mengendusnya layaknya seekor anjing. Menghirup aroma khas sang kekasih hingga mabuk kepayang. Tak lupa mendaratkan kecupan-kecupan kecil di sepanjang leher Taehyung.
Yang sedari tadi mendapat rangsangan bertubi-tubi pun dengan susah payah menahan erangan yang sedikit lagi meluncur dari mulutnya. Taehyung benar-benar kepayahan menerima afeksi-afeksi berbalut gairah di seluruh tubuhnya.
“Guki … Oh!” Taehyung memejamkan netranya seraya menyebut nama Jeongguk dalam erangan yang tertahan. Kedua telapak tangannya meraih surai Jeongguk dan menariknya pelan.
Erangan yang tertahan itu menambah ledakan gairah Jeongguk untuk terus membuat Taehyung kewalahan. Kemudian, sebuah gigitan Jeongguk berikan di leher Taehyung, meninggalkan bekas kemerahan yang amat jelas. Aksi itu berhasil membuat Taehyung meloloskan erangan dan desahan yang telah ia tahan sejak detik pertama mereka bercumbu.
“A-ah!” desah Taehyung pelan. “Jangan digigit, nanti bekasnya keliatan Mama.”
Rasa malu seketika menguasai Taehyung setelah mendesah di hadapan Jeongguk. Malu luar biasa karena orang yang membuatnya sebegini kacau dan mendesah nikmat adalah Jeongguk. Sahabat Taehyung yang dalam sehari-hari—selama bertahun-tahun, selalu membuat dirinya kesal akan kelakuan jahil dan godaannya.
“Biarin. Biar Mama dan seluruh dunia tau kalau kamu pacar aku,” sahut Jeongguk santai, sambil masih mengecup leher Taehyung.
Taehyung tak dapat protes lagi, sebab kemudian mulut Jeongguk berpindah menuju dadanya yang telah terekspos akibat kaos yang tadi disingkap oleh Jeongguk. Lidah basah Jeongguk menyapu permukaan puncak dada Taehyung dengan begitu lembut, menyeretnya pelan, dan menggigit kecil sebelum melepasnya. Begitu terus secara berulang-ulang hingga kedua puncak dada Taehyung menegang sempurna dan punggungnya membusung terangkat. Taehyung kini tak lagi menahan desahan dan erangannya lagi lantaran rangsangan di dadanya terasa terlalu nikmat untuk dilewatkan tanpa desahan.
“Suka? Taehyung suka?” Jeongguk mendongak menatap wajah Taehyung yang begitu erotis dan mendamba sentuhan.
“Suka,” Taehyung menganggukkan kepalanya berkali-kali. Semua rasa malunya hilang entah kemana. Yang ada hanya rasa nikmat dan nikmat akan sentuhan Jeongguk.
Tubuh Jeongguk yang berada di atas Taehyung—menaunginya, menempel begitu dekat dengan Taehyung hingga pemuda itu bisa merasakan sesuatu di antara paha Taehyung mengeras, bergesekan dengan milik Jeongguk yang juga perlahan bangkit.
Satu tangan Jeongguk beringsut ke bawah dan menyusuri paha dalam Taehyung. Kian berani hingga puncaknya ia menangkup benda yang mulai mengeras itu. Taehyung terkesiap, seluruh tubuhnya meremang saat telapak tangan Jeongguk melingkupi bagian tubuh Taehyung yang tegang sempurna.
"Hard already?" Jeongguk menyeringai.
"Guki—Ah!" ujaran Taehyung terpotong oleh desahannya sendiri saat Jeongguk meremas pelan ereksinya.
"It's okay. Mine too." Jeongguk meraih tangan Taehyung dan meletakkannya di atas gundukan tegang di antara pahanya. Menunjukkan kepada kekasihnya betapa Jeongguk pun sama keras dan tegangnya.
Jeongguk tersenyum kecil, lalu mulai melepas celananya hingga bagian bawah tubuhnya telanjang. Taehyung membulatkan matanya lebar melihat pemandangan itu, pipi dan telinganya lantas berubah warna menjadi kemerahan. Ereksi Jeongguk kini tepat berada di depan mata Taehyung, ia menelan ludah susah payah.
"Lepas celana kamu juga, ya," titah Jeongguk halus.
"Lain kali aja, Guki. Mama udah nunggu makan siang." Taehyung merengek sambil menggelengkan kepala, juga mengalihkan pandangannya dari benda milik Jeongguk yang mengacung tegak.
Jeongguk memicingkan matanya, masih mendapati bahwa milik Taehyung sama tegangnya dengan miliknya.
"Hei, jangan pikirin makan siang dulu. Kita selesaiin urusan kita dulu, oke? Sakit kalau ditahan di posisi masih tegang gini. Kita klimaks bareng, baru turun dan makan, ya, Sayang?" Jeongguk memegang waistband celana Taehyung.
Entahlah, Taehyung terhipnotis oleh bujukan Jeongguk atau memang ledakan nafsunya yang membara dan ingin segera diselesaikan, namun Taehyung akhirnya mengangguk. Ikut meraih celananya sendiri dan menurunkannya hingga lepas dari sepasang kakinya.
Kini, kedua ereksi pemuda itu terekspos jelas tanpa penghalang apapun. Jeongguk menarik napas dalam-dalam saat melihat milik Taehyung yang tak kalah tegangnya dengan miliknya sendiri. Jeongguk lalu memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang dengan tungkai yang menapak di lantai.
"Tae, duduk sini," pinta Jeongguk, menarik pelan pergelangan tangan Taehyung.
Taehyung menurut, melebarkan kedua kakinya dan duduk di pangkuan Jeongguk. Posisinya sama seperti saat mereka berciuman sebelumnya. Kulit pantat Taehyung bertemu langsung dengan paha telanjang Jeongguk.
"Maju dikit," ujar Jeongguk, menarik tubuh Taehyung untuk lebih dekat dengannya hingga kedua ereksi mereka bersentuhan.
Taehyung bersumpah, sensasi ini jauh lebih elektrik, magis, menggairahkan, dan mengaburkan kewarasannya dari pada semua rangsangan Jeongguk tadi. Taehyung tak mampu menahan diri lebih lama lagi untuk menggesekkan ereksinya pada ereksi Jeongguk hingga Jeongguk mengerang keras.
“Sayang,” Jeongguk terengah atas pergerakan itu, kemudian ikut menggerakkan pinggulnya sendiri sambil mendesis nikmat. Ia menengok ke bawah pada kedua ereksi mereka yang saling bergesekan erotis akibat liukan pinggul Taehyung yang semakin berani dan liar.
“Guki …” Taehyung meraih dagu Jeongguk yang masih menunduk ke bawah dan mengangkatnya.
Bibir Jeongguk yang terkuak sensual begitu mengundang Taehyung untuk mengecup dan melumatnya. Jeongguk membalas lumatan Taehyung tak mau kalah, menggigit bibir bawah Taehyung dan menelusupkan lidahnya ke dalam mulut hangat sang kekasih. Di sela pertukaran saliva itu, Taehyung meloloskan desahan-desahan kecil penuh kenikmatan, sedangkan Jeongguk terus mengerang dan menggeram.
Lengan dan kaki Taehyung melingkar di bahu dan pinggang Jeongguk dengan erat. Takut terjatuh akibat terlalu banyak merasakan sensasi penuh kegilaan ini. Posisi ini sangat sempurna. Bibir dan mulut yang saling memagut, ereksi yang bergesekan kian intens dan cepat, serta lengan yang saling memeluk raga satu sama lain.
Rupanya, gesekan ereksi saja tidak cukup untuk Jeongguk, ia menginginkan sesuatu yang lebih. Diturunkannya satu tangan dari pelukan di punggung Taehyung, lalu diraihnya kedua ereksinya dan Taehyung ke dalam satu genggaman tangan. Jeongguk menggerakkan genggaman tangannya ke atas dan kebawah ritmis. Cairan pre-cum yang meleleh dari kedua ujung ereksi mempermudah gerakan tangan Jeongguk untuk kian mempercepat temponya.
Taehyung menjadi tidak fokus sepenuhnya dengan ciumannya bersama Jeongguk. Pikiran dan indera perasanya terbagi fokus pada gerakan yang dilakukan oleh Jeongguk pada kedua batang kemaluan mereka di bawah sana. Taehyung memilih untuk melepas pagutan, menghirup oksigen sebanyak mungkin setelah kewalahan bercumbu dengan Jeongguk. Ia mengintip ke bawah dan mendapati ereksinya berada di satu genggaman yang sama dengan ereksi milik Jeongguk. Pipinya memerah malu atas pemandangan sensual dan erotis di bawah sana. Bagaimana cairan bening mereka menjadi pelumas gerakan ke atas dan ke bawah tangan Jeongguk agar licin.
Taehyung hanya bisa menggigit bibirnya sendiri untuk menahan erangan akibat jari Jeongguk yang mengusap ujung ereksi Taehyung yang sensitif.
“Nggak usah ditahan. Moan for me, Sayang.” Jeongguk mendongak dan menarik bibir Taehyung yang tergigit dengan ibu jarinya.
“Ah!” Erangan tertahan itu akhirnya lepas dengan keras. Taehyung menatap kedua manik hitam Jeongguk, sorot matanya menyiratkan permohonan untuk terus membelai ereksinya hingga mereka mencapai klimaks bersamaan.
Jeongguk membalas tatapan itu, diiringi oleh senyum yang tersungging di bibir bengkaknya. “Iya, klimaks bareng, ya, Sayang.”
Taehyung mengangguk seraya masih tersengal. Jeongguk pun mempercepat gerakan tangannya, membelai, mengurut, dan memberi stimulasi gerakan ke atas dan ke bawah dengan intens. Taehyung turut menggerakkan pinggulnya, menambah gesekan antara ereksinya dengan milik Jeongguk. Mereka kembali menyatukan bibir, saling mencecap lidah dan seisi mulut, menambah dorongan untuk jatuh dalam jurang orgasme bersama-sama.
Tubuh Jeongguk dan Taehyung sama-sama bergetar saat gelombang orgasme melanda dan memporak-porandakan mereka. Cairan klimaks bercucuran deras keluar dari ujung batang ereksi keduanya, disertai lenguhan keras yang penuh kenikmatan sekaligus kelegaan. Air mani mereka bercampur menjadi satu dalam genggaman tangan Jeongguk, menciprat keluar juga mengenai paha dalam masing-masing.
Dada Taehyung naik turun akibat terengah-engah seusai mencapai klimaks. Dagunya ia sandarkan pada bahu Jeongguk dengan lemas. Begitu pula Jeongguk, menundukkan kepalanya dan mencoba menetralkan degup jantung serta pernapasannya yang kacau balau.
“Wow, such a mess.” Jeongguk terkekeh saat melihat cairan klimaks mereka yang berada di mana-mana.
Taehyung mengambil sekotak tisu di meja dekat ranjang Jeongguk, kemudian mengelap telapak tangan Jeongguk, paha mereka yang terkena, serta kedua kemaluan mereka yang mulai melemas seusai orgasme.
“Tau gini tadi pakai kondom,” celetuk Taehyung sambil masih membersihkan bagian-bagian yang terkena air mani.
“Emang punya?” tanya Jeongguk skeptis.
“Aku sih nggak punya. Ngeseks aja belum pernah,” balas Taehyung.
“Aku juga belum pernah.” Jeongguk tersenyum kecil, kemudian mengecup puncak hidung Taehyung di hadapannya. “Sengaja aku simpen yang pertama kali buat kamu. Nggak mau selain sama kamu pokoknya.”
“Dan harus sama aku terus sampai kapanpun, nggak cuma pertamanya doang.” Taehyung melingkarkan lengannya pada leher Jeongguk dan menariknya ke dalam pelukan.
Jeongguk mengulas senyum lebar di balik bahu Taehyung, membalas pelukan Taehyung dengan lebih erat dan hangat. Kedua tangannya mengusap punggung dan kepala Taehyung penuh rasa sayang dan bersyukur.
“Jelas itu mah. Taehyung-ku, Sayangnya Guki.” Jeongguk mendusel ke ceruk leher Taehyung manja.
“Geli ih!” Taehyung menggerutu atas perkataan dan perbuatan Jeongguk yang menurutnya sangat cheesy.
Meski begitu, ia masih tetap mendekap tubuh Jeongguk erat. Taehyung benar-benar harus membiasakan diri untuk sering mendengar pujian dan godaan Jeongguk. Sebelumnya, Taehyung memang sudah terbiasa dengan kebiasaan Jeongguk yang selalu menjahilinya, menggodanya, dan memujinya out of nowhere. Namun, saat ini, ketika ia sudah resmi menjadi kekasih Jeongguk, ia harus semakin terbiasa lagi dengan pujian dan gombalan yang lebih cheesy dan menggelikan.
“Kamu tuh apa yang nggak geli. Harus biasa sama gombalanku.” Jeongguk menghujani leher Taehyung dengan kecupan-kecupan kecil.
“Guki,” panggil Taehyung lirih.
“Hm? Kenapa?” sahut Jeongguk.
“Aku sayang kamu, banget,” ungkap Taehyung dengan sungguh-sungguh.
“Sama, aku juga. Sayang kamu, cinta kamu, sampe mau gila rasanya pas kamu nggak pernah peka sama kode-kode aku.”
“Maaf, ya. Bikin kamu nunggu lama,” bisik Taehyung lirih.
“Nggak apa-apa, sepadan kok bayarannya. Kamu sekarang jadi pacar aku.” Jeongguk menyunggingkan senyumnya.
“Kalau suatu saat kamu bosen, bilang, ya. Jadi, aku bisa intropeksi diri biar nggak bosenin lagi.” Ada nada ketakutan di suara Taehyung.
“Hei, sstt.” Jeongguk menempelkan telunjuknya di depan bibir Taehyung. “Nggak boleh bilang kayak gitu lagi. You never bored me, not even once. Kita belajar sama-sama di hubungan ini, ya.”
“Kita. I like the sound of that.” Bola mata Taehyung sedikit berkaca-kaca atas kalimat penenang dari Jeongguk.
Di tengah pelukan Jeongguk dan Taehyung, suara Mama Jeongguk terdengar memanggil kedua pemuda itu. Sepertinya beliau memanggil dari tengah anak tangga, sebab suaranya tidak terlalu keras, juga tidak terlalu lirih dari kamar Jeongguk.
“Jeongguk, Taehyung, kalian ngapain sih? Makan siangnya keburu dingin loh. Turun makan dulu, Sayang,” panggil Mama Jeongguk.
Di dalam kamar, kedua pemuda yang tengah berpelukan itu mematung dan saling menatap satu sama lain.
“Gawat,” celetuk Jeongguk.
Taehyung buru-buru melompat dari pangkuan Jeongguk dan mengenakan celananya yang terabaikan di lantai.
“Nggak usah turun. Kita masih bau sperma, Tae. Nanti cari makan sendiri aja, atau angetin masakan Mama,” usul Jeongguk.
“Ya udah dijawab dulu sana. Jangan sampai Mama nyamperin ke sini, pintunya belum dikunci.” Taehyung panik.
“Udah makan, Ma!” teriak Jeongguk akhirnya.
“Makan apa, Guki?” mama Jeongguk menyahut sedikit keras.
“Makan Tae—” mulut Jeongguk buru-buru dibungkam oleh Taehyung dengan telapak tangannya.
“Si anjir! Ngawur banget sih, Guk!” Taehyung melotot panik sambil menahan mulut Jeongguk.
“Makan jajanan dari kampus tadi, Ma!” Taehyung segera menimpali.
“Ya udah, kalau masih laper nanti diangetin aja makanannya,” pesan Mama Jeongguk, kemudian suara langkahnya terdengar menuruni anak tangga.
“Bego ih!” Taehyung memukul bahu Jeongguk kesal. Sedangkan Jeongguk hanya tertawa puas, berhasil menggoda Taehyung.
“Apa sih? Emang bener, ‘kan?” Jeongguk menaikturunkan sebelah alisnya.
“Ya nggak gitu juga. Mama loh yang nanya,” dengus Taehyung.
“Bercanda, Sayang. Lucu deh kalau bibirnya dimajuin gitu.” Jemari Jeongguk mendarat di bibir Taehyung yang tengah merengut menggemaskan. Pipi roti Taehyung memerah layaknya buah stroberi kesukaannya.
Sisa siang menuju sore hari itu dihabiskan Jeongguk dan Taehyung untuk membersihkan diri masing-masing serta kasur Jeongguk yang sedikit terkena cairan orgasme mereka. Jeongguk menyemprotkan parfumnya ke seluruh permukaan kasur, agar baunya tersamarkan. Mungkin jika sempat, ia akan mencucinya besok.
“Guki, laper,” keluh Taehyung setelah mereka selesai membersihkan dirinya masing-masing.
“Ya udah ayo turun makan,” ajak Jeongguk, menggandeng tangan Taehyung.
“Malu.”
“Nggak ada yang tau kita ngapain aja tadi. Santai, oke?” Jeongguk meyakinkan, kemudian berjalan keluar dari kamar sambil tangannya bertautan dengan Taehyung.
Taehyung hanya pasrah, perutnya butuh segera diisi oleh makanan. Setibanya di meja makan, mereka disambut oleh Nara yang masih duduk dengan piring di hadapannya yang sudah kosong.
“Cie, kayak truk. Gandengan mulu.” Nara melirik tangan Jeongguk dan Taehyung yang masih bertautan tanpa sadar.
Taehyung lantas segera melepaskannya, suasana menjadi canggung lantaran Nara sudah lebih dahulu menangkap basah ia bergandengan tangan dengan Jeongguk.
“Bang, jangan lupa traktir aku makanan enak.” Nara berujar kepada Jeongguk yang sudah duduk dan mengambil makanan di atas meja makan.
“Hah? Kenapa emangnya?” Jeongguk mengernyitkan kening.
“Udah pacaran sama Kak Tae, ‘kan?” Nara melirik Jeongguk dan Taehyung secara bergantian.
“Oh, iya udah. Gampang, besok Abang beliin makanan,” ujar Jeongguk enteng, tak sadar telah mendapat pelototan mata dari Taehyung di sampingnya.
“Akhirnya Kak Tae resmi jadi calon kakak ipar aku.” Nara tersenyum sumringah sambil menatap Taehyung yang malu luar biasa.
Taehyung hanya bisa tersenyum canggung, lebih memilih menunduk dan berpura-pura fokus mengambil makanan kemudian.
"Makan yang banyak, Sayang. Nih, buat kamu." Jeongguk memindahkan daging teriyaki ke atas piring Taehyung.
"Guk, not in front of Nara, please," bisik Taehyung lirih sambil mendelik pada Jeongguk karena memanggilnya 'sayang'.
"Buset. Langsung sayang-sayangan." Nara terkikik, menggoda kedua pemuda yang tengah dimabuk asmara.
"Biarin. Aku mau semua orang tau kalau kamu pacarku," ujar Jeongguk cuek. Kemudian menyuapkan nasi beserta daging teriyaki ke depan mulut Taehyung. "Aaa … buka mulutnya, Sayang."
Layaknya anak kecil yang polos, Taehyung membuka mulutnya sesuai perintah Jeongguk. Menerima suapan nasi itu dan mengunyahnya dengan nikmat.
"Nurut banget sih. Jadi makin sayang." Senyum cerah terlukis di wajah Jeongguk tak henti. Ia mencuri kecupan kecil di pipi Taehyung saat kekasihnya itu sibuk mengunyah.
"Guki!" Taehyung terkejut akan aksi tiba-tiba itu.
"Ew!" Nara bergidik geli melihat aksi sang kakak.
"Apa sih, Ra? Iri, ya?" Jeongguk meledek Nara dan menjulurkan lidahnya.
Nara memutar bola matanya, tak lama kemudian beranjak pergi dari meja makan. Tidak tahan dengan kelakuan menggelikan kedua pasangan kekasih baru itu.
"Jangan kayak gitu di depan Nara, Guk. Aku malu." Pipi Taehyung blushing dengan sangat jelas.
"Hmm, iya. Sini cium lagi, Nara udah pergi, kok." Jeongguk mendekatkan wajahnya ke arah Taehyung dan mendaratkan ciuman lembut di kening. "I love you."
"I love you, too." Walau sedikit kesal dan malu dengan aksi Jeongguk tadi, semua itu bukan alasan baginya untuk berhenti mencintai dan menyayangi Jeongguk—sahabat yang kini menjadi kekasih hatinya.
Hari ini, Jeongguk menyebutnya sebagai sebuah hari kemenangan. Setelah bertahun-tahun melancarkan godaan dan rayuan yang sering kali berbentuk kejahilan kepada Taehyung—lelaki manis yang menyandang status sebagai sahabatnya dari kecil, yang tidak pernah peka dan sulit ditaklukkan, akhirnya sosok itu luluh dan jatuh juga ke dalam peluk hangat Jeongguk. Menjadi milik Jeongguk seutuhnya.
Taehyung pun tak jauh berbeda, hari ini adalah hari yang istimewa untuknya. Karena, setelah sekian lama ia diam-diam mengagumi dan memendam perasaan yang lebih dari seorang sahabat kepada Jeongguk, akhirnya hari ini semua perasaannya terungkap dan terbalas dengan perasaan yang sama oleh Jeongguk. Yang kian membuatnya bahagia adalah fakta bahwa Jeongguk berhasil membuat Taehyung lebih percaya diri dan merasa pantas untuk dicintai setelah disakiti oleh perkataan mantan kekasihnya. Sebuah pernyataan validasi dan comfort words yang telah Jeongguk katakan benar-benar membantu Taehyung untuk yakin bahwa menerima Jeongguk sebagai kekasih bukanlah hal yang buruk dan salah.
END
