Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-11-03
Words:
1,633
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
93
Bookmarks:
3
Hits:
1,617

phosphenes

Summary:

yotasuke terlelap dan bermimpi—ia dan yaguchi yatora bersetubuh, lagi—membuat pemuda takahashi terbangun di pagi hari dengan basah merapati selangkangannya.

Notes:

first indonesian blue period ff on ao3, i guess...?

definisi mengasupi diri sendiri.

written in lowercase, as usual.

Work Text:

yotasuke paling benci pada yatora.

ubun-ubunnya terasa pening hanya dengan memikirkan eksistensi si pemula. rambut mencuat, senyum dipaksakan, overall bergores cat. sebagai seseorang yang menekuni seni sejak dini, yotasuke menganggap sosok yaguchi terlampau fana. lelaki itu tentunya populer, yotasuke dengar pula akademiknya bagus, tampan, senyum ramah, pandai bersosialisasi—kenapa orang seperti dia menyentuh bidang ini? bukankah ia punya segala hal yang diharapkan oleh yotasuke?

meskipun yotasuke tidak benar-benar berharap menjadi yatora, ia hanya punya seni dalam kehidupannya. bermulut tajam dan berwajah masam menyebabkannya tak punya teman. kertas, cat dan kanvas ialah kawannya—ia bergelut siang-malam dengan mereka. terkadang ia berbicara pada mereka, kadang ia mempertanyakan kewarasannya dengan bercakap-cakap pada benda mati, dan cangkir teh hangat yang diantarkan ibunya tiap hari.

ia hanya punya seni.

karena itulah, ketika yatora mendatanginya dengan senyuman kaku, yotasuke diliputi tanda tanya besar. mengapa? mengapa lelaki itu tertarik padanya? apa yang menarik dari dirinya? terus terang, yotasuke ingin mengenyahkan sosok yatora. lelaki harimau yang menghalangi jalur kehidupannya, kalau bisa, yotasuke ingin sekali membunuhnya-

“yotasuke-kun, aku menyukaimu.”

yang dinyatakan konfesi membelalak. jantungnya terasa jatuh di keramaian. namun, kelanjutan dari pernyataan tersebut makin membuat yotasuke kebingungan.

“tetapi aku juga sangat membencimu, sampai-sampai aku merasa mual.”

bukankah... itu sama seperti yang yotasuke rasakan? tertegun, yotasuke memalingkan pandangan. di tengah acak adut isi kepalanya, hitung mundur tahun baru mencapai puncak, diikuti kembang api di langit. keduanya termenung, menelusuri diri masing-masing. ekspresi yatora juga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

entah sejak kapan keduanya berada di kamar yotasuke, merasakan hangat tubuh masing-masing. apakah bara itu bagian dari masa muda, entah, yotasuke tidak tahu. yatora berada di atasnya, melancarkan sentuhan-sentuhan, dan keringatnya meluncur hingga ke pelipis. sejujurnya, yotasuke begitu kosong tatkala yatora mengisinya. bahkan ketika yatora menelusupkan jemari pada sisi-sisi tubuhnya, yotasuke terasa sunyi. batinnya bergejolak, namun ia setenang air. raganya perih, namun tatapannya tenang.

pagi hari, yotasuke didekap oleh yatora dari belakang. keduanya tidak mengenakan busana. yang lebih mungil turun dari kasur, mengenakan kembali pakaian yang tersebar di lantai sebelum ibunya datang dengan muka terkejut.ah, putraku diancam oleh preman! jangan sampai ada kesalahpahaman seperti itu. yatora memang tampak seperti berandalan, tetapi lelaki itu lebih sopan, manis dan—tidak akan memaksanya.

apa, ya? kenapa yotasuke bisa mengiakan... dia sendiri juga tidak paham.

apakah itu cinta? bukan. yotasuke yakin betul. ia tidak tersipu serupa yatora ketika mendengar balasan “aku juga membencimu”. ia bukan masokis seni penuh insekuritas laiknya pemuda yaguchi. tidak pernah terbersit ada gejolak di dada pada sesama jenis (maupun lawan jenis). tidak ada desir nikmat saat yatora berbisik di telinganya semalam.

lantas, apakah yang yotasuke rasakan? selagi bertanya-tanya, ia membuka laptop yang nyaris tak pernah disentuhnya. menonton beberapa potongan film romantis, memahami apa itu cinta... persetan dengan hatsumode. ia bahkan mengabaikan teriakan ibunya dari lantai bawah.

“pagi.” yotasuke hampir-hampir terjungkal dari posisinya ketika mendengar sapaan tersebut. yatora bangkit dari kasur, menggaruk kepalanya, telanjang sembari memunguti pakaiannya sendiri.

“aku pikir…” yotasuke bergumam cukup keras agar terdengar ke telinga sang lawan bicara, “...mungkin tadi malam adalah kesalahan.”

“hah?” yatora berbalik, membelalak dan tertegun. “apa maksudmu?”

“tidak mungkin, kan, aku setuju untuk ditiduri dalam posisi sadar.” pandangan yotasuke jatuh pada si lelaki harimau. “kau pasti memasukkan sesuatu ke dalam amazake yang kuminum semalam, kan? iya, kan?”

yaguchi yatora mengacak-acak rambutnya. kedua alis membentuk kerut-kerut tidak nyaman, bahasa tubuhnya juga menunjukkan bahwa ia terlewat kesal.

“itu konsensual, lho.” merah menjalar dari leher ke sekujur wajah. “k-kau tidak melawan samasekali, jadi kupikir—”

“coba bayangkan, kau hendak melakukannya bersama seorang gadis dan ketika kau mulai melucuti pakaiannya, ia diam saja hingga usai persenggamaan. apakah berarti dia memberikan izin?”

“te-tentu saja!”

yotasuke mengerut, mengeluarkan ekspresi mencela yang ditujukan kepada yatora. “kau memang manusia rendahan, yaguchi-kun.”

◦ ミ⛧ ◦

selagi fokus pada detik-detik ujian masuk geidai, yotasuke memanfaatkan waktunya untuk menjauhi yaguchi yatora. pokoknya semakin jauh, semakin bagus! begitu batin yotasuke. ia lelah berhadapan dengan si lelaki harimau—yaguchi seringkali menggodanya bahkan ketika mereka di tempat kursus.

yotasuke, menghantam kepala yatora dengan kanvas dua puluh kali dua puluh senti yang dipegangnya, membentak, “kalau berani macam-macam, aku akan memblokir nomormu!”

“jahat sekali.” yatora mengaduh dan mengusap kepalanya. “tetapi, bukankah kita semakin dekat? kau juga bukannya tidak suka, kan, sekai-kun—”

“panggil aku sekai-kun sekali lagi dan kita tidak akan pernah bertemu selamanya.”

mendengar ancaman yotasuke, yatora otomatis bungkam. langkah berisik lelaki takahashi menggema di koridor, meninggalkan yaguchi yatora—mungkin suram, mungkin juga separuh nafsu pada yotasuke.

namun, sehari sesudah ujian tidak masuk akal itu, yotasuke semakin yakin yang membara dalam dirinya tidak lebih dari sekadar gejolak masa muda.

karena tidak punya teman semasa sekolah, yotasuke tidak pernah terpapar video pornografi, majalah dewasa, maupun komik hentai. mengecek internet juga jarang, ponsel lipatnya ketinggalan zaman dan daftar kontaknya hanya berisi nomor keluarga. tetapi, karena ingin mengecek situs web seni di laptop, muncul pop-up iklan yang tidak senonoh. beberapa detik video cukup terpatri dalam ingatannya, yotasuke tanpa sadar bermasturbasi, membayangkan milik yaguchi memasuki dirinya. menjadi satu, lebur bersama peluh dan tarikan-tarikan napas pendek.

padahal, ketika ia melakukannya bersama yaguchi saat itu, yotasuke tidak merasakan apa-apa. malu, ia segera membersihkan diri di kamar mandi, mendinginkan kepalanya dengan guyuran air.

mungkin frustrasi akibat ujian? efek jembatan gantung (meski mereka tidak sedang berada dalam marabahaya)? hormon pubertas?

awalnya, yotasuke tidak mengindahkan hasrat tersebut. tangannya terus bergerak membuat karya baru, entah itu gores grafit pada kertas polos maupun torehan cat di atas kanvas kosong, semuanya ia lakukan demi meredam dukana dalam diri. petang membumbung tinggi di langit, yotasuke terlelap dan bermimpi—ia dan yaguchi yatora bersetubuh, lagi—membuat pemuda takahashi terbangun di pagi hari dengan basah merapati selangkangannya.

◦ ミ⛧ ◦

yotasuke menyerah.

bukan, bukan karena dia mengakui perasaannya pada yaguchi yatora. ia yakin betul bahwa tidak ada asmara antara dirinya dengan yatora. sekali lagi, tidak ada debar di dada tatkala mereka berdekatan, pun rasa ingin memiliki satu sama lain.

“yaguchi yatora.” yotasuke menyilangkan lengan di dada. pandangannya menantang. “malam ini, tiduri aku.”

“sungguh?” tentu saja yatora melonjak kegirangan.

saat matahari tergelincir jauh, keduanya berjalan beriringan menuju kediaman takahashi. takdir memihak mereka sebab ibu yotasuke kebetulan sedang bepergian, suatu momen langka bahkan bagi putranya sendiri. beliau tidak akan menyangka yotasuke-nya yang pendiam akan berjimak dengan teman satu-satunya—yaguchi yatora.

ah, bukankah kami juga melakukannya ketika okaa-san berada di rumah? selagi melamun, yotasuke menanggalkan pakaian dan membersihkan badan. siraman air membuat pikirannya segar dan lebih rileks. tidak lupa berendam sejenak, pemuda yotasuke pun menyelesaikan ritualnya kurang dari setengah jam. kepalanya terbalut handuk kecil dan tubuhnya disusupi uap-uap panas usai mandi.

yatora menyusul sesudahnya dan memakan waktu lebih lama, mungkin gugup akibat mempersiapkan mental. ia menghambur ke kasur yotasuke, membangkitkan amarah si pemilik. keduanya sempat bertikai sebelum—pergulatan itu berganti menjadi alunan desah di udara.

jejari yatora perlahan menjamah kulit. kanvas itu polos, seolah meminta untuk dinodai. perlahan, warna-warna ditorehkan oleh lelaki yaguchi. merah, biru, ungu, semuanya indah (sudah seperti lagu saja). aroma yang menguar dari si mungil takahashi dan dirinya ialah serupa—wangi sabun antiseptik yang tidak ada seksinya, tidak membuatmu bergairah, dan terkesan kekanakan—namun yaguchi keras di bawah sana, sedikit menggesekkan miliknya pada landai perut yotasuke. yang di bawah pasrah ketika sentuhan jemari yatora berganti dengan jilatan lidah serta sedikit gigitan-gigitan kecil. tidak posesif, namun cukup untuk dicurigai apabila yotasuke membuka atasan di tempat umum.

tepukan yotasuke meraih pundak yaguchi. ia menggeleng lemah sembari berbisik, “jangan meninggalkan banyak tanda, nanti okaa-san tahu…”

yaguchi yatora menaikkan sebelah alis, mendaratkan telunjuk pada kalam lawannya, meloloskan buai syahdu diikuti balasan mengejek, “sekai-kun ternyata masih dimandikan oleh okaa-san, gemas sekali.”

“bu-bukan begitu…” genggaman yaguchi pada miliknya mengerat, sekali lagi menimbulkan desah lantang di ruangan tiga kali tiga.

mereka kembali ke permainan. acap kali yotasuke hendak mendebat yaguchi, ia akan dibungkam dengan sentuhan-sentuhan musuhnya. lagipula, orang macam apa yang sempat-sempatnya adu mulut ketika bersenggama?

jemari terampil yatora memang ahli dalam melukis, menggambar sketsa dan memuaskan hasrat terpendam takahashi yotasuke—entah sudah berapa kali dia datang. matanya sayu dan tubuhnya tidak bertenaga, padahal mereka belum mencapai inti aktivitas. yotasuke bisa merasakan ada benda asing mengendurkan liangnya—tekstur itu bercampur dengan dingin yang melingkupi. fokusnya lantas dialihkan oleh kuluman pada gelanggang susu—ia merasa hilang akal. titik-titik kenikmatannya seolah berada dalam kuasa yaguchi yatora. satu tombol yang ditekan lelaki tersebut mampu membuatnya mengejang dan berderai air mata.

telunjuk dan tengah berganti dengan tebal menjejali dirinya, memasukinya—yotasuke membelalak. perih. sakit. air matanya meleleh kembali—dengan cepat diusap lelaki yaguchi. kecupan-kecupan ringan dilancarkan untuk mengalihkan perhatian sang takahashi—finalnya mendarat pada tipis bibir yotasuke, lidahnya mendobrak pertahanan dan mengajaknya bergulat, bergemeletuk dengan gigi, mengabseni satu-satu. yaguchi mulai bergerak perlahan, menggaritkan lonjornya hingga pangkal. awalnya memang seperti terbelah menjadi dua, tetapi lama-lama yotasuke candu dan pandangannya memburam seiring hunjaman yang dilancarkan yatora.

“sebenarnya... ah… kita itu apa?”

terkekeh, yatora malah balik bertanya, "menurutmu apakah seorang teman akan menyetubuhimu seperti ini?"

tentu saja tidak , batin yotasuke. kepalanya menghentak ke belakang mengikuti ritme yatora. ah, enak

“bukankah sudah kubilang... bahwa aku menyukaimu?”

darah di sekujur badannya bagai tersedot keluar. ia memandang lelaki di atasnya dengan pandangan horor, seperti melihat seekor alien. seorang yaguchi yatora sungguh menanyakan hal tersebut hanya untuk merusak suasana—yotasuke tak habis pikir.

“apakah aku tidak boleh berharap lebih?” tanya yatora—miliknya masih sekeras bata dan yotasuke bisa merasai guratannya makin menonjol, membuatnya penuh.

mulutnya terbuka, tidak berani mengatup karena yatora sangat cepat. bagaimana bisa dia menjawab apabila titik sensitifnya terus ditabrak tanpa henti? yang mencapai kulminasi bukan hanya lelaki yaguchi, melainkan yotasuke—yang rasa-rasanya ingin tumpah kapan saja.

pemuda takahashi pikir, kepalanya dihantam kembang api. dan debur ombak meraih perutnya hingga yang terdalam. jarak pandangnya mengabur, namun muka yaguchi yatora terlihat jelas—dipenuhi kepuasan. napasnya sama terengahnya dengan yotasuke, bulir-bulir keringat memenuhi dahi dan pelipis dan ia terlihat sangat—seksi.

yotasuke ingin sekali melempar dirinya sendiri dari lantai dua kediaman takahashi. ia pikir—diikuti irama detak jantungnya yang menggedor-gedor—mungkin hatinya sudah jatuh pada sosok yatora.