Chapter Text
Masih ada dua orang yang antri di depan Renjun. Dari sini, ia bisa melihat Jeno yang berada di sebelah kiri. Duduk di sofa berkaki pendek sambil memainkan ponsel.
Pemandangan ini membuat Renjun bernostalgia. Ada banyak hari-hari seperti ini, dulu. Renjun yang berdiri untuk mengantri, sedangkan Jeno duduk menunggunya di meja mereka. Atau sebaliknya. Renjun yang duduk dan Jeno yang mengantri. Keadaannya mirip. Bedanya, itu sudah bertahun-tahun lalu dengan mereka yang begitu dekat. Sekarang, mereka sudah besar dan tidak pernah bertemu setelah sekian lama.
Renjun menyebutkan pesanannya pada kasir di hadapannya dan membayar sesuai harga yang tertera. Renjun minggir ke kanan untuk menunggu namanya dipanggil.
Lagi, ia melihat Jeno yang masih fokus pada ponselnya. Di mejanya masih belum ada makanan atau minuman. Mungkin, seperti dulu, Jeno mengambil tempat untuk keduanya dan akan bergantian untuk mengantri. Renjun tersenyum karena asumsinya sendiri.
Renjun menghampiri Jeno setelah pesanannya lengkap dan menyapa, “Hei,” Jeno mendongak, tersenyum kecil menyambutnya, “Gue nggak tahu preferensi kopi lo masih sama apa nggak, tapi, matcha cake masih suka, kan?” ucap Renjun setelah meletakkan nampannya di atas meja.
“Jun, ngapain dibeliin sih…”
Renjun tersenyum, “Sekalian tadi. Pesen, gih. ”
Jeno mengangguk dan bangkit dari kursinya, berjalan menuju kasir untuk memesan. Renjun menunggu Jeno sambil memainkan ponsel. Sesekali juga melirik Jeno yang berdiri dengan kaki menekuk sebelah, tangannya dimasukkan kedalam saku hoodie merah off-white yang sepertinya sudah overwashed. Kacamata yang bertengger di hidung mancung juga tidak membuat pesona Jeno berkurang. Jeno kembali tidak lama kemudian dengan segelas green tea frapucino di tangan.
“Oh, untung nggak tak beliin. Lagi nggak pengen minum kopi ternyata.” sahut Renjun
Jeno terkekeh, “Kalo lo beliin apa aja bakal tetap gue minum kok. Ini random kok. Lo udah bisa minum kopi ya, berarti? Dulu nggak bisa, kan?”
“Bisa sih. Cuma emang nggak sering.”
“Masih sakit kepala kayak dulu kalo minum kopi?” tanya Jeno lagi.
Renjun menggeleng, “Udah nggak kok.” Renjun membuka iPad miliknya dan berkata, “Jadi, mau belajar dari mana?”
Jeno menjawab dan Renjun mulai menjelaskan satu-persatu.
“....Jadi Mask clearing itu apa, Jeno?”
Jeno berpikir sebentar sebelum menjawab, “Cara buat ngeluarin air yang masuk ke masker. Caranya menghembuskan udara dari hidung ke dalam masker sambil pegang bagian atas masker. Nanti airnya keluar dari bagian bawah masker.”
“Good. Kalo equalization? ”
“Buat ngatur tekanan air di dalam dan luar telinga. Cara yang paling gampang, jepit hidung lalu hembuskan.”
Renjun mengangguk setelah mendengar jawaban Jeno. “ All good. ” ucap Renjun sambil menatap Jeno. jeno balas menatap dan keduanya tersenyum.
Mereka seperti kembali ke masa lalu. Saat mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu dan saling mengajari satu sama lain.
Minuman dalam gelas mereka nyaris tandas dan hari sudah berganti jadi gelap. Obrolan mereka masih mengalir tanpa henti. Benar-benar tipikal teman lama yang kembali bertemu setelah banyak waktu berlalu.
“Kerjaan kamu-eh-lo oke sekarang? Atau gimana? Cerita dong kalo nggak keberatan.”
“Gitu-gitu aja sih. Ini sekarang gue lagi cuti, makanya hari senin siang bisa ikut zoom , bisa ngopi sama lo sampe malem gini.” kata Jeno tersenyum miring. “Lo sendiri gimana?”
“ Freelancer di mana aja, kapan aja kerja sih...tapi, ya bisa diatur kok kapan mau harus kerja dan kapan mau istirahat.” Jeno mengangguk mendengar jawaban Renjun. Kemudian, Renjun kembali bertanya, “Keluarga gimana? Sehat?”
“Sehat kok. Mereka happy banget tinggal berdua di Bandung. Padahal anaknya jadi anak kosan.”
“Oh ya? Pindah?”
Jeno mengiyakan, “Beberapa tahun yang lalu sih. Makanya, gue ngekos.”
Mulut Renjun membentuk huruf ‘o’ menanggapi, “Kirain ngekos karena udah gede. ”
Jeno terkekeh lucu, “Iya sih, itu juga. Dulu. Sebelum ngekos sempet tinggal bareng mantan gue juga sih. Terus karena jauh dari kantor, gue ngekos sendiri.”
Kalau Jeno tidak menyadari keterkejutan Renjun, bisa jadi Jeno memang tidak peka atau Renjun yang pandai mengatur ekspresi wajah.
Di dalam kepala Renjun, Renjun berteriak, ‘MANTAN? UDAH PUTUS?’ hanya dalam kepala.
Renjun berdehem, meminum sisa kopinya dengan gugup, lalu bertanya senatural mungkin, “Mantan? Pacar kamu yang udah lama itu, ya? Udah putus?”
Jeno mengangguk, ekspresinya tidak berubah, tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan Renjun, “Udah lama.”
“Oh...kirain masih.”
Jeno tertawa kecil, “Nggak, udah expired. Haha. Btw, lo kenal Yangyang dari mana? Apa temen diving juga?” tanya Jeno lagi, mengalihkan pembicaraan.
“Oh, bukan sih. Temen kuliah. Dia ikut kelas Mas Kun juga sampe beres, Tapi nggak ikut LOB. Aku tahu Mas Kun juga dari Yangyang.”
“Emang personally kenal Mas Kun berarti?”
“Renjun mengangguk kecil, “Satu kampus sih di Surabaya. Tapi, baru kenal tahun lalu.”
Jeno mengerti maksud Renjun, “Makanya lo ngambil Kelas Diving jauh-jauh kesini. Udah kenal soalnya, ya?”
“ Yes, kurang lebih gitu sih. Btw, Jen, maaf ya kalo aku keceplosan ngomong ‘aku-kamu’. Nggak biasa, sumpah. Udah gitu, kamu tahulah….aku kan medok. Aneh aja nyebutnya.”
Jeno tertawa sampai matanya menyipit, membentuk bulan sabit. Bulan sabit yang masih jadi kesukaan Renjun.
Renjun senang bisa melihatnya lagi. Apalagi, itu karena dirinya.
“Iya, santai aja, jangan minta maaf. Gue ngerti kok. Lo kan dulu juga gitu, sih. Udah kebiasa kok gue.” Jeno lanjut tertawa, “Asli, nggak bakal baper karena dipanggil ‘kamu’. Siapa sih dulu yang baper gara-gara lo ngomong ‘kamu’? Haechan bukan sih?”
Dulu, saat ia masih kelas sepuluh dan baru saja pindah ke Jakarta, Renjun masih membawa kebiasaannya dari Surabaya, menggunakan ‘aku-kamu’ dengan teman sebaya. Dia masih sulit menggunakan ‘lo-gue’ seperti teman yang lain. Sampai pada suatu hari, Jeno mengatakan bahwa mereka tidak biasa menggunakan ‘aku-kamu’ kecuali dengan kekasih masing-masing. Terlambat menceritakan, salah satu teman mereka, Haechan, sempat baper lantaran Renjun menggunakan ‘aku-kamu’ ketika berbicara dengannya. Setelah itu, Renjun membiasakan dirinya untuk tidak lagi menggunakan ‘aku-kamu’ karena takut memakan korban lagi.
Renjun ikut tersenyum, “Iya, Haechan. Tapi, habis gitu kita jadi bestie kok. Gara-gara kita harus bikin band itu…” Renjun menceritakan lagi cerita masa SMA mereka yang disusul tawa oleh Jeno karena kejadian-kejadian lucu. Renjun menyaut lagi, “Kamu tahu nggak? Dua bulan lagi dia mau nikah?”
“Oh ya?”
Lagi, pembicaraan mereka belum habis. Mereka terus-menerus menyambung pembicaraan. Masih tertawa-tawa karena jokes atau cerita-cerita memalukan di masa lalu. Padahal, es di gelas mereka sudah mencair sepenuhnya. Sisa-sisa dinginnya sudah merembes membasahi meja. Piring-piring mereka juga sudah kosong sejak beberapa waktu lalu. Tapi mereka masih disana. Berbagi cerita, berbagi tawa.
It is easy. It is easy to reconnect. It wasn’t awkward at all. It feels good. They don’t have to try. It’s always a good time.
“Lo kesini beneran jalan kaki?” tanya Jeno ketika mereka sudah berdiri, akan keluar dari coffee shop ini.
“Beneran lah. Kan cuma di seberang situ. Kamu sendiri naik apa?”
“Sepeda.”
“Serius?”
“Iya. Kosan gue tuh di komplek sebelah gedung apartemen itu.”
Hari benar-benar sudah gelap saat mereka sampai di luar coffee shop . Benar-benar tidak terasa waktu berjalan sangat cepat.
“Yaudah, hati-hati, Jen. aku duluan-” Renjun berhenti berucap ketika Jeno menarik lengan bajunya. Ia sudah hampir berbalik menjauh ketika mereka sampai di tempat Jeno memarkir sepeda.”
“Duluan apanya? Bareng gue aja jalannya.”
“Kamu kan naik sepeda?”
“Ya gue tuntun. Kan se arah juga. Kita berdua tetap harus muter kalo mau sampe ke seberang.”
Renjun menurut dan menunggu Jeno membuka kunci sepedanya.
Lagi-lagi, Renjun diserang nostalgia karena pemandangan ini.
Jeno selalu menemaninya menunggu sang Ayah menjemput setengah jam setelah bel pulang berbunyi. Ketika ayahnya luang. Ayahnya juga tidak membiarkan dirinya menaiki angkutan umum sendiri. Maka, ia harus menunggu hingga ayahnya menjemput. Jeno menemaninya sepanjang tahun selama mereka masih di kelas sepuluh. Ketika mereka menginjak kelas sebelas dan dua belas, Jeno tidak selalu menemaninya, namun berusaha untuk itu.
Padahal, saat itu, Jeno bisa saja pulang lebih dahulu dengan sepedanya. Ia bisa memilih untuk tidur siang dengan AC menyala. Dibanding harus menemani Renjun panas-panasan di halte.
Memang sih, terkadang mereka membahas PR atau tugas yang mereka dapatkan hari itu. Atau, belajar untuk ulangan esok hari. Tapi, tetap saja.
Renjun sangat tersentuh dan senang sekali Jeno menemaninya.
“Jadi kayak pas kita sekolah nggak, sih? Gue nuntun sepeda sambil jalan ke cafe tempat kita biasa main kalo kita lagi kepanasan banget nunggu di halte.”
Renjun terkekeh. Jeno ingat juga rupanya. Terkadang, mereka akan menunggu ayah Renjun menjemput di cafe dekat sekolah, kalau uang jajan mereka hari itu masih tersisa atau mereka sedang mendapat uang jajan lebih.
“Hati-hati di jalan, Jen. Nanti kalo udah sampe kosan, kabarin ya.” ucap Renjun saat keduanya sampai di kawasan apartemen tempat Renjun menginap.
Renjun sudah memundurkan badan, menunggu Jeno untuk menaiki sepeda dan mengayuh menjauh dari tempatnya. Tapi, Jeno malah diam dan menatap dirinya bingung.
“Kenapa?” tanya Renjun.
“Nggak punya kontak lo.”
Renjun tertawa dan berjalan mendekat lagi, menyodorkan ponsel dalam genggaman pada Jeno. Jeno mengambil dan mengetikkan nomornya cepat. Ia juga melakukan panggilan kepada ponselnya sendiri sebelum mengembalikan lagi pada Renjun.
“Gue balik ya, Renjun. See you, around.”
Renjun memperhatikan hingga punggung Jeno hilang dari pandangan. Senyumnya masih belum hilang.
