Work Text:
Bahwasanya, yang mencari jarum di antara tumpukan jerami hanyalah orang gila.
Alasan Norton bersedia menandatangani perjanjian dan menjadi salah satu penghuni dari manor Oletus adalah, selain uang, uang, dan uang; hanyalah beberapa batu mulia, dan banyaknya omega yang dipastikan berada di sana.
Mungkin bagi masyarakat awam, manor itu mirip seperti rumah panggung pencarian jodoh. Mereka tak tahu, dalam surat yang Norton terima, selain satu lembar tanda setuju-tidaknya, adalah kop surat lain berisi puluhan lembar yang terlalu malas ia baca. Yang cuma ia lirik dengan mata bosan, mencari kalimat dan padanan kata yang berhubungan dengan keuntungan materi; selebihnya hanyalah basa-basi yang tak penting sama sekali. Senyum muncul beberapa kali ketika Norton mencatat benefit semacam makanan yang tersedia tiga kali sehari, tempat tinggal dan fasilitas cuma-cuma, ‘gaji’ mingguan ditambah bonus tertentu, bahkan ketika membaca peringatan kalau tiap barang pajangan yang tersebar di sekeliling manor adalah antik dan tak boleh diambil hak untuk dimiliki; dicoretnya perintah larangan itu dalam catatannya.
Penanya berhenti ketika ia membaca tentang aktivitas beregu dan kegiatan sosial yang dimasukkan ke dalam keuntungan program. Mengingatkannya kepada kawan-kawan tambang yang menggodanya, mungkin saja di dunia yang dua per tiga-nya dipenuhi beta ini, Norton akan menemukan omega cantik takdir jiwanya di sana. Norton yang itu, yang selama ini hanya bercinta dengan harta dan nafsu.
Seumur hidupnya yang hina, Norton yang dikelilingi oleh beta cuma mendengar sayup-sayup bagaimana wujud omega itu. Mereka bilang baunya manis, memabukkan; budak cinta dan seks eksklusif yang diciptakan hanya untuk seorang alpha. Hal yang seharusnya tak asing, namun sebagai alpha tersesat sepertinya, Norton mau tak mau mengaku kalau ia benar-benar buta. Ia hanya tahu, kalau bukan ibunya, maka ayahnya yang mungkin menurunkan genetik itu padanya; andai saja ia bisa bertanya kepada mereka yang sudah tidak ada. Norton sendiri mungkin tak akan sadar atas perbedaannya jikalau bukan karena heat yang kerap muncul dan mulai menyusahinya ketika ia berumur 23 tahun. Tubuhnya berbeda dan dokterlah yang memvonisnya, tapi sungguh, konsultasi, check-up, obat penjinak; harganya sekian kali jauh lebih mahal daripada menyewa wanita-wanita yang bisa dan lihai dalam kerjanya.
Menjadi alpha mungkin merupakan keuntungan, dan mungkin pria-pria beta di sekitarnya cemburu membayangkan Norton sudah ‘bertakdir’ memiliki dua-tiga wanita sintal di sisinya. Tapi dunia yang dipenuhi beta seperti ini tak kan mengerti bagaimana susahnya heat dan efek samping yang muncul. Nafsu ingin bercinta, sifat yang menjadi agresif, dan teman-temannya hanya akan tertawa canggung sambil menepuk punggungnya dan berkata untuk Norton menahan diri sedikit—meski semua tidak semudah itu.
“Kau menyusahkan”, itu yang terucap dari muka mereka yang terus mendorong Norton untuk kembali menemui dokter dan membayar obat penenang daripada kabur ke pelacur-pelacur yang sebenarnya tidak membantu sama sekali. Uang lagi uang lagi. Tak ada yang bisa membayangkan apa saja yang sudah ia lakukan untuk mendapatkan kertas dan logam bernilai tersebut. Hidupnya terasa menderita selama 5 tahun lamanya, jika bukan karena sebuah surat dari organisasi yang entah menemukannya di mana; menawarkannya program menarik, dan mengajak Norton untuk membuka dunianya yang sempit.
Jadilah ia segera mengemas barang-barang berharganya dan pergi ke sana.
Ketika Norton dibawa, gas yang ada di dalam mobil membiusnya terlalu efektif sampai-sampai penanggung jawabnya harus menepuk pipi dan mencubit telinganya berulang kali. Penanggung jawab itu—mengenalkan dirinya atas nama Jack, merupakan pria bertopeng putih dengan dua bulatan hitam—apakah itu mata?—yang terlihat kosong. Jari-jari kurus ternyata terasa sakit ketika menggores kulit Norton, tungkai panjangnya melangkah besar—jika bukan karena tempo jalannya yang terlalu cepat, dan suara baritonnya, penuh ciri khas lenggokkan nada, dikumandangkan tiap kali sepi terlantun di udara adalah hal yang paling membekas di dada Norton.
“Ini adalah taman,” tak dibilang pun melihat saja Norton sudah tahu, tapi ia hanya diam menikmati Jack mengenalkan ‘rumah’nya yang baru. Disebut taman pun sebenarnya lebih mirip seperti lapangan. Terlalu luas, dengan pepohonan rimbun di sana-sini, air mancur di tengahnya seolah penanda temu, dan beberapa ‘pasien’ yang sedang bermain kartu atau menonton pertunjukan tari kipas. “Di sini kau bisa menghabiskan waktu dengan teman-temanmu. Kau juga bisa melihat hunter kubu omega yang sedang beraktivitas dengan survivor dari jenis serupa. Namun kusarankan untuk melihat saja, jangan ikut campur apalagi menggoda mereka, ah kita simpan saja bahasan membosankan itu untuk nanti. Sekarang, kau lihat gedung yang itu?”
Jack menunjuk kepada gedung bagian utara, berwarna putih dengan cat yang terkelupas di sana-sini. Terlihat pucat, seperti rumah sakit—ya pantas saja untuk pemukiman para dokter di sana. Berurutan ke kanan ada sebuah bangunan kecil yang berwarna serupa, hanya saja dindingnya tidak terlihat bermotif bata; diplester dengan lebih rapi. “Itu adalah manor milik hunter dan kau tak boleh masuk ke sana. Yang di tengah itu tempat pertandingan ... meski banyak hunter eksentrik yang lebih suka menyebutnya dengan ‘eksperimen’. Haha. Yang di ujung selatan adalah tempat tinggal kalian para survivor. Nanti di dalamnya terbagi lagi untuk omega dan alpha ... nanti saya jelaskan ketika sudah sampai di sana.”
Jika dijelaskan setengah-setengah seperti itu maka Norton juga malas memperhatikan gedung-gedungnya, tapi yang jelas gedung pertandingan entah kenapa terlihat lebih modern dari yang lain, dan manor milik para pasien, terlihat lebih mencekam daripada bangunan-bangunan yang lain, hanya saja jendelanya sepertinya lebih banyak juga daripada milik para dokter. Mengesankan betapa banyaknya ruangan yang ada di dalam sana, dan salah satunya adalah kamar Norton.
Untuk memperlihatkan gedung pertandingan pada Norton, Jack memilih jalan memutar, dan di tengah-tengah rumput dan pohon itu Norton mencium bau manis yang seharusnya tidak ada—ia tak melihat satu pun bunga di sini. Sedikit tertarik, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sumber dari wangi tersebut, yang mana instingnya dengan kuat mengarahkan matanya ke satu gedung yang berada tepat di sebelah manor dokter. Bangunan putih tanpa jendela, hanya ventilasi kecil di atasnya yang, bahkan, jika mencoba mengintip pun, mungkin tak kan jelas apa yang ada di dalamnya. Bagian depannya pun sedikit tertutup dengan lorong-lorong beratap yang tak jelas tujuannya untuk apa. Norton menunjuk ke arah bangunan tersebut, mencoba menarik perhatian Jack.
“Gedung itu?”
“Bukan urusanmu,” dijawabnya cepat, “malah kau tak boleh sama sekali menginjak koridornya. Laboratorium itu milik omega. Kenapa ada di sana, harusnya alpha sepertimu tahu jawabannya.”
Nyatanya ia tidak tahu, tapi Norton paham ia tak bisa bertanya soal bau manis itu pada Jack. Yang terlintas di kepalanya adalah bagaimana teman-teman tambangnya memuji, “Katanya wangi omega itu manis”, “memabukkan, menggoda”, “memancing nafsu”. Padahal hidung Norton tidak termasuk yang sensitif.
Tatapan Jack yang mencurigainya membuatnya berlari kecil mengikuti mentornya itu dan bergegas melanjutkan perjalanan mereka.
Entah mengapa, dokter diganti dengan kata hunter, dan pasien diganti dengan kata survivor, namun Jack bilang sejak organisasi ini didirikan memang sudah seperti itu adanya—dan semuanya menyukai hal itu—jadi mereka biarkan saja, dan Norton sendiri juga tak ada pendapat apa-apa. Yang ia sedikit memiliki ketertarikan adalah penjelasan Jack mengenai bagaimana mereka sama sekali tidak membatasi persahabatan antara alpha dan omega, malah, jika mereka bercinta dan membangun hubungan seumur hidup, adalah sesuatu yang akan mereka berikan tepuk tangan dan ucapan selamat. Jack bilang, mereka tak kan melarang sesuatu yang naluriah semacam membangun hubungan baik dalam bentuk cinta ataupun nafsu. Yang mereka inginkan hanyalah para survivor untuk mengikuti agenda mereka secara teratur dan tanpa absen sama sekali. Mungkin juga melaporkan kisah romansa mereka kepada mentor masing-masing; tidak pun tidak apa-apa.
Jack memberikan buku yang berisi foto para survivor yang ada di dalam manor, dan memberi tahu Norton kalau saat ini keberadaan omega di sana jauh lebih sedikit daripada alpha, banyak dari mereka yang menolak undangan dengan alasan takut dan tidak perlu. Mungkin bagi mereka, seolah masuk ke dalam lubang ular. Tinggal di manor yang dipenuhi alpha ... mereka bahkan tak tahu bisa melindungi diri sendiri ataupun tidak. Meski organisasi sudah menjamin keselamatan mereka, bahkan akan ada penjaga yang berkeliling, dan deskripsi dari penjaga itu adalah lebih canggih mencium bau kejahatan daripada anjing polisi pun, tak membuat jumlah omega bertambah dengan begitu signifikan. Jadi, sambil tertawa, Jack meminta Norton untuk menunggu. Yang dijawab dengan bahu, karena sebenarnya instingnya sendiri sudah mengatakan ada yang salah dengan bau manis yang ia cium.
“Kenapa di sini hanya ada dok—hunter alpha?”
Jack menunjuk buku yang sedari tadi Norton bolak-balik. “Karena untukmu itu tidak signifikan. Pada akhirnya hunter omega tak boleh berhubungan langsung—apalagi menjalin sesuatu dengan survivor alpha. Alasannya banyak, namun salah satunya adalah akan mempersulit kami dalam meneliti.”
‘Begitu?’ Norton menahan napasnya. Diam saja mendengarkan penjelasan Jack yang lain-lain, dan entah sejak kapan ia sudah ada di dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Besok saja ia membuka koper dan membereskan barang-barangnya. Norton hanya menatapi buku biodata penghuni, menghempaskannya ke sebelah, lalu menarik napas panjang.
Semoga yang ia pikirkan sejak tadi bukanlah sebuah pertanda buruk.
Nyatanya, setelah berkeliling dan bersosialisasi—membiasakan diri selama seminggu, Norton tak mencium wangi yang sama dari satu pun omega yang ia temui, termasuk Margaretha—Margie, begitu mereka memanggil wanita dengan tubuh mungil dan rambut hitam pendek tersebut. Ia adalah omega yang paling banyak berceloteh, paling banyak berkumpul bersama alpha dan menjadi bunga di antara kumbang-kumbang sawah. Dan omega tersebut begitu suka menjadi pusat perhatian. Apalagi jika seorang pria bau kencur—dalam hal alpha-omega—yang baru saja tiba ke manor terlihat butuh dibimbing atas hal-hal yang berhubungan dengan kenaluriahannya.
Membiarkan dirinya didekati Margaretha, Norton pun menggunakan mulut wanita tersebut untuk menggali informasi yang tak seharusnya diketahui seorang alpha. Gunjingan itu dihias dengan banyak gosip tak penting, malasnya ia untuk minum obat dan diperiksa, apalagi soal lab—Norton menajamkan pendengarannya—yang mana mereka akan disuruh berjejer menunggu giliran. Tubuh mereka diperiksa, dimulai dari tengkuk, nadi, suhu bawah lidah, dan diinterogasi. Dokter—hunter yang memeriksa mereka ada beberapa, tergantung harinya, namun hari apa pun itu, akan selalu ada bayangan menyeramkan yang duduk di depan mereka, dengan mata yang seolah menelanjangi hingga ke dalam helai kain biru yang mereka kenakan. Margaretha jujur ia tak terlalu menyukainya. Padahal semua hunter yang ada di dalam laboratorium itu pastilah seorang omega, namun gigi taring dan tatapan memicingnya membuat Margaretha bergidik dengan tidak nyaman.
“Seperti itu lho, ditatap oleh alpha liar bau pakaian bekas pakai. Kamu mungkin nggak ngerti tapi buat kami para omega, alpha yang seperti itu sangat mengerikan. Aku selalu merinding dibuatnya.”
Norton menepuk pundak sang wanita, beralih ke helai hitamnya yang mengilat. Membuatnya makin banyak bercerita soal omega-omega lain, soal para dokter yang cantik dan tampan—omega kualitas tinggi, termasuk bagaimana Norton mungkin saja ada kesempatan semenit untuk melihat wujud mereka.
“Itu pada saat pertandingan,” Margaretha memilin ujung rambutnya, “saat kau masuk ke dalam laga, kau bisa melihat sekelilingmu—di sana ada semua dokter—sebelum kaca tersebut berganti menjadi pemandangan sesuai tipe peta. Kau juga bisa bertemu mereka di laga, jika mereka ditugaskan menjadi hunter penguji saat itu ... tapi ya ... ketika di laga mereka akan kehilangan pesona omega seutuhnya. Ada obat untuk itu. Intinya, mereka tak akan menarik sama sekali.”
Norton pun menulikan telinganya. Itu dia informasi yang ia butuhkan!
Laga yang dimaksud Margaretha dan eksperimen yang dimaksud oleh Jack ternyata merupakan satu kesatuan. 4 pasien dikumpulkan di dalam sebuah ruangan—seperti seorang gladiator—lalu mereka (yang sudah diminumkan obat stimulan sebelumnya) akan membayangkan sebuah peta, lalu menatap seorang hunter, tak peduli alpha ataupun omega, seperti wujud nyata dari sebuah mimpi buruk. Mereka akan berpikir untuk, bagaimana pun itu, kabur dari jeratannya. Untuk menjadi seorang survivor.
Sudah berapa kali ia memainkan laga tersebut, kecakapan Norton membuatnya mudah dekat bahkan dengan sesama alpha. Mereka yang bermain bersamanya, bahkan orang-orang yang hanya menonton dari layar pun, beberapa di antaranya langsung datang dan memuji Norton. Ia pandai merisak. Pandai mencari celah. Pandai menyelip bagai tikus. Pandai membawa kemenangan. Meski banyak juga orang yang tak terlalu suka dengan caranya—yang dikatakan, kadang (baca: selalu), terlalu egois.
Sementara itu, jujur saja obat yang mereka minum sebelum pertandingan sangatlah menyulitkan Norton untuk berpikir normal atas tujuan awalnya. Ia sempat melihat dokter-dokter asing—yang ia anggap omega itu, tentu saja, namun jangankan memperhatikan secara detail; yang ia rasakan ketika sirene pertandingan berbunyi adalah rasa mencekam dan ketakutan. Lalu, insting bertahan hidupnya akan hadir. Insting seorang bajingan yang bisa mendorong siapa pun untuk dijadikan pijakan di bawah kakinya. Jangankan mencari omega. Bahkan obat yang dikata Margaretha menahan bau manis itu rasanya terlalu ampuh. Atau mungkin memang ia belum bertemu saja dengan bau yang ia cari. Padahal sudah hampir sebulan semenjak ia berada di sini.
“Norton, fokus.”
“Aku sudah fokus.”
Jawabannya menghadirkan dengusan dari pria yang di seberang sana. Interkom yang menghubungkan mereka seolah terdengar bunyi grasah-grusuh di sana-sini, suara angin yang menandakan betapa cepatnya Naib berlari.
“Kau belum pernah bertemu hunter yang ini. Jika tidak waspada ia bisa mendatangimu dari mana saja.”
“Bhak. Jantungku pasti sudah berdebar saat itu.”
“Makanya kukatakan untuk fokus! Dia bukan hunter yang bisa kau andalkan detak jantungmu!”
Norton sedikit emosi, ia menghentikan tangannya yang sedang mendekode. Suara itu ia keraskan, “Mataku juga masih berfungsi! Memangnya mau datang dari mana dia, dari lang—"
“Bene, ciao ragazzino.”
Tubuhnya refleks melonjak ke belakang ketika Norton merasakan aura membunuh hadir secara tiba-tiba dari langit. Keringatnya membanjir seiring dengan kaki yang terpeleset hingga membuatnya terjerembap dan mengesot di tanah. Napas itu tertahan dengan sendirinya. Selama ini ia bermain laga, perwujudan para hunter memanglah mengerikan, namun rasanya baru kali ini ia melihat sosok mutan yang menjijikkan. Dengan sisik hijau, ekor panjang yang meliuk, dan lidah yang meniti setiap jengkal dari golok yang ia bawa. Golok berkarat bau darah itu.
Lalu gigi runcingnya yang muncul dari seringai lebar, membuat Norton berpikir sebenarnya yang manakah yang digunakan untuk membunuh. Bahkan kuku hitam yang panjang terlihat sanggup-sanggup saja untuk mencungkil bola mata. Norton terpaku. Bahkan teriakan Naib di seberang sana tak lagi masuk ke telinganya.
“Si bangsat itu! Eli, support dia!”
“Ya, saya sedang memantau. Tuan Campbell apa Anda bisa mendengar saya? Tuan Campbell!”
Yang dipanggil hanyalah menelan ludah. Terutama ketika sang hunter di depannya menunjuk ke arah telinga. “Interkommu berisik hingga ke sini. Kau tak jawab mereka sebelum mati di tangan saya?”
Tapi, tapi tapi, hendak menjawab apa, kalau yang ada di dalam kepalanya adalah sesuatu yang merekah lebih kuat daripada obat yang mereka minum? Norton merasa Margaretha berbohong jika seorang dokter akan diberi obat sebelum ikut laga. Lalu bau manis apa ini. Yang segar nan lembut, tidak sekuat biasanya; tapi sanggup membuatnya mabuk kepayang. Yang merebak dari sosok yang sudah mengangkat machete-nya ke atas dengan seringai mengerikan. Yang mana di detik terakhir, Norton, dan instingnya yang mati beberapa saat, baru sempat mengambil kendali sejenak.
“NORTON, LARI, SIALAN!”
“Aku ...” dijawabnya panggilan itu, sembari berlari dengan ekspresi semringah; bahkan lupa untuk berterima kasih kepada Eli dan burung hantu yang sempat menyelamatkannya, Naib yang terus-terusan meneriakinya, atau bahkan Tracy yang sedari tadi berdoa sembari menghidupkan mesin dekode pertama mereka.
“Aku akhirnya menemukannya!”
Bahkan Margaretha berkomentar, ia baru pertama kali melihat seseorang yang dikejar oleh hunter berwajah sesenang itu, tapi sebenarnya hanya Norton sendiri lah yang tahu alasannya. Membuat dirinya tidak sabar dan sedikit menggoda sang wanita untuk kembali bercerita hal-hal yang ia ingin tahu—terutama soal laboratorium itu. Tentu saja dengan menahan diri dan memasang tameng di telinga, karena sungguh ketika Margaretha bercerita maka hal itu akan menjadi amat, sangat, panjang.
“... Hanya Tuhan yang tahu apa yang ia lakukan di dalam laboratorium setelah menikmati tubuh kami dengan pandangannya. Mereka bilang ia itu adalah ketua peneliti di sini tapi di mataku terlihat seperti orang mesum! Bahkan ada yang bilang kalau mereka melihatnya keluar dari laboratorium dan kembali ke kamarnya pada larut malam, dan yang dimaksud malam itu adalah menjelang pagi ...”
Dan karena itulah ia, di tengah dinginnya malam, dengan bahu menggigil, berdiri di depan pintu laboratorium pada jam 3 pagi. Lampunya padahal tidak menyala, tapi Norton lebih percaya kepada insting dan penciumannya. Di dalam sini ada apa yang ia cari. Sosoknya mungkin mengerikan namun hasratnya tak bisa berbohong. Bau manis nan memabukkan itu. Norton hanya ingin tahu saja, sungguh!
“Permisi ...”
Diketoknya pintu beberapa kali, setelah menelan ludah—untuk ke sekian kali juga—suara serak muncul dari dalam kerongkongannya.
“Profesor ... Luchino ... Diruse ...?”
Terdengar suara menggesek di lantai dari balik pintu. Seiring dengan bau yang makin pekat dan jantung yang makin berdegup. Norton bisa merasakan aura dingin, tidak, aura tidak suka, yang bersemayam dari sana.
“Kau ... alpha?”
Lagi-lagi, ia menelan ludah. “Saya ...”
“Saya yakin ... kau sudah dengar dari mentormu, untuk tidak datang ke sini?”
“Maafkan, namun, saya—“
Tak ada alasan yang bisa ia beri, suara pun keluar hanya patah-patah saja. Kakinya lemas, ia berkeringat, lalu rasa panas di ujung perut serasa akan membangunkan sesuatu. Bahkan ketika suara nyanyian terdengar dari sangat jauh pun, Norton hanya bingung sejenak namun kembali fokus kepada pintu di depannya, yang, kini terbuka setengah. Ia tersenyum lebar. Disambut dengan pandangan jijik dari dokter di depannya. Lalu jari kasar yang kukunya menancapi kulit, menarik Norton untuk masuk ke dalam laboratoriumnya.
Jemari yang lain dengan sigap mengunci pintu. Norton berdebar, rasanya seperti seorang perawan yang baru jatuh cinta—atau memang isi kepalanya susah untuk berfungsi normal. Terutama ketika tubuhnya dibungkus oleh jas laboratorium putih, mengimpitkan wajahnya kepada dada bidang sang pria (makhluk?), tapi sensasi itu hanya sekejap saja; ketika Norton mulai menyadari aura membunuh yang dingin mendatangi mereka secara perlahan-lahan.
“Jangan bicara. Jangan bergerak. Kalau kau tak ingin mati.”
Mati? Memangnya di manor ini ada pembunuh berantai? Namun tak sempat Norton bertanya, dengungan nada tersebut berhenti tepat di depan pintu. Lalu suara ketokan kuku yang tajam. Berkali-kali. Sampai akhirnya Luchino mendehem karenanya.
“Profesor, apakah Anda ada di sana?”
Norton kenal suara itu. Jack, mentornya.
“Ya, saya akan melanjutkan penelitian agak lama lagi.”
Senyap sedikit dari balik pintu. “Begitukah. Ngomong-ngomong apakah Anda melihat—atau mencium, sesuatu yang berbahaya?”
Jantung Norton makin berdegup kencang. Apakah ia yang dimaksud?
“Kenapa?”
“Tidak ...” suara tersebut seolah mendekat, bisa dibayangkan Jack yang bersender di balik sana. Mungkin jika ada lubang sekecil apa pun, kedua bulat hitamnya sudah mengintip ke dalam; meneliti setiap jengkal laboratorium yang terasa mencurigakan. “Insting saya berkata ... tikus masuk dan mencoba mencuri keju dari dalam laboratorium Anda ...”
Oh sial, memang Norton yang Jack maksud. Apakah Jack sudah sadar atas keberadaannya? Kini Norton tahu alasan mengapa Luchino memeluknya; untuk menyamarkan bau mereka. Karena Jack yang saat ini bukanlah Jack yang Norton kenali. Ia mengerikan, berbahaya—dan Norton memegangi lehernya. Bayangan itu diputus tak henti menghantui dirinya.
Luchino mengeratkan pelukannya. “Saya tak tahu apa yang Anda maksud. Saya sedang melakukan penelitian dengan damai di sini, dan jika ada yang sedang mengganggu maka orangnya adalah Anda.”
“Meskipun saya bisa mencium bau alpha dari dalam sini?”
“Demi apa pun, Jack,” Luchino menggedor pintu laboratorium; desis yang keluar menunjukkan amarah di setiap nadanya. “Kau tahu AKU adalah seorang ILMIAWAN, BUKAN BEGITU!?”
Terdengar suara tertawa menggelegar dari sana, dan Norton segera menutup telinganya. Begitu mencekam. Ia akan mati!
“... Maafkan saya, Profesor.”
Langkah menjauh, saat itu Norton menghembus napas lega. Sedetik saja karena setelahnya, asap—kabut yang muncul dari balik pintu, sanggup membuatnya meringkuk, bergetar; seolah trauma lama yang kambuh tanpa tahu alasan.
“Tapi Anda tahu konsekuensinya ...”
...
“Dia sudah pergi.” Luchino melepas pelukan dari alpha yang masih bergetar. Wajahnya pucat, Norton terlihat begitu ketakutan. Luchino hanya bisa menghela napas. “Jack ... mentormu itu ... sebaiknya kau indahi kata-katanya. Ia pernah membunuh orang—alpha—yang hampir memerkosa dokter di sini. Tuhan yang tahu apakah itu bukan pembunuhan pertamanya, namun ia ... punya hidung yang kuat, insting yang kuat ... sebaiknya kau tak keluar di malam hari karena ia akan berkeliling dan menjaga—meski terasa lebih seperti mencari mangsa. Kau dengar ucapan saya?”
Padahal sudah banyak berbicara, namun Norton tak memberi jawaban apa-apa. Luchino menghela napas. Sebenarnya ia menyelamatkan bocah ini hanya karena tak mau ada darah mengotori dinding putih laboratoriumnya; tapi sekarang ini akan jadi tanggung jawabnya. Bahkan sulit memulangkan Norton tanpa tertangkap Jack. Hanya ada satu cara saja.
“Profesor?”
Norton baru bereaksi ketika Luchino mengangkat tubuhnya dan berjalan ke ujung kanan laboratorium. Di sana ada pintu menuju basemen. Luchino mengingatkan Norton untuk menutup matanya—atau ia akan lemparkan pria itu ke jalan dan membiarkan Jack melakukan sisanya. Norton menurut. Sampai akhirnya udara dingin menyentuh kulitnya.
Apa salahnya mengintip? Jadi ia buka matanya sedikit, lalu takjub, melihat bulan, bintang, dan gagak yang bertengger satu horizon dengannya. Mereka sedang melambung. Norton seolah terbang di langit. Luchino menggendongnya dan mereka melompat-lompat menuju manor pasien. Wajah Norton terlihat seperti anak-anak yang baru mendapat mainan baru namun ia bahkan tak bisa memuji Luchino. Sungguh pengalaman yang luar biasa!
“Ini kamarmu.”
Norton ingin bertanya, bagaimana cara Luchino tahu tempatnya, namun sosok yang seolah akan pergi saat itu juga hanya bisa ia ambil kartu tanda pengenalnya dengan kasar. Luchino berbalik. Ia terlihat marah.
Norton malah mendekap kartu tersebut di dadanya. “Akan saya kembalikan. Biarkan saya mengembalikannya. Izinkan saya bertemu Anda lagi!”
“Ambil saja, itu untukmu.”
“Profesor—!”
Sungguh, untuk seseorang yang baru saja diselamatkan, Norton benar-benar tidak tahu diri. Mereka hanya akan memancing keributan dan memanggil Jack ke sana. Luchino menarik napas dalam dan menoleh dari ekor mata.
“Laboratorium bukan satu-satunya tempat di mana kau bisa menemui saya, Campbell.”
Luchino pun melesat, pergi ditelan malam, dan sambil menekan kartu nama itu di dadanya, Norton tersenyum. Ia adalah seseorang yang sabar. Selama ini, apa pun itu, meski dalam waktu yang lama ...
Semua yang ia inginkan akan jadi miliknya.
Mungkin seperti tanda baik, tapi Norton tak bisa lupa bagaimana Luchino tahu kamarnya; dan juga tahu namanya. Tapi sama saja seperti Norton yang sudah tahu nama Luchino dari Margaretha—apa itu berarti sang profesor juga tertarik dan menyelidikinya? Banyak hal yang ingin Norton ketahui, tapi yang paling penting adalah menemui mangsanya itu terlebih dahulu.
Setelah itu ia baru mencoba kehidupan selain rutinitas membosankannya. Norton berjalan-jalan di taman, mengalihkan pandang dari omega dan mentor mereka yang sedang beraktivitas bersama, mencari sosok yang tak mungkin ia bisa salah jika melihat meski hanya ujung ekornya saja. Tapi Luchino tak terlihat di mana pun. Baunya saja tidak tercium kecuali dari dalam laboratorium itu.
Seminggu, dua minggu, tiga minggu. Norton lelah mencari. Ia hanya berniat untuk beristirahat ketika memasuki rumah kaca yang terletak jauh dari bangunan-bangunan lain. Di dalam sana ada banyak tumbuhan yang terawat, hawanya dingin, baunya segar. Namun baru kali ini Norton menemukan seorang wanita bertubuh kecil yang sedang asyik memberi pupuk pada tanamannya, lalu terlonjak mendapati seseorang masuk tanpa diduga—diakhiri dengan genggaman erat di tangan Norton. Sang pria jujur ia lupa nama omega satu ini.
“Tuan Norton!” memanggil dengan nama depan seolah akrab, “Aku tidak sangka Tuan juga senang dengan tumbuh-tumbuhan! Apakah Tuan ke sini untuk duduk-duduk saja? Apa Tuan ingin makan? Saya bawa sandwich buatan saya, kalau tidak keberatan, tunggu saya selesai sebentar lagi!”
“Ahaha ... ya,” tak lupa untuk tersenyum, Norton turuti saja undangan itu dan duduk di kain yang sudah digelar. Sang gadis pun lanjut mengenakan sarung tangannya lagi dan kembali mengambil sekopnya.
“Namaku Emma! Yaaah aku senang sekali ternyata ada juga orang lain yang menyukai tempat ini! Padahal selama ini hanya ada aku dan Profesor saja. Ia pasti juga akan senang kalau tahu ada satu orang lagi yang merasa nyaman berada di surga kecil ini! Aku—“
“Emma,” Norton memotong, tidak sopan memang, tapi telinganya menangkap sebuah kata kunci. “Kau merawat tempat ini berdua saja dengan Profesor itu? apa tidak apa-apa?”
“Tentu saja, Tuan Norton. Profesor adalah seorang omega. Anda pernah melawannya. Profesor ... hmm, kalau tidak salah, julukannya adalah Evil Reptilian ...”
Lihatlah.
Dewi fortuna memang memberkahi Norton.
TERNYATA INI TEMPATNYA!
Norton ingin tertawa geli. Memang tak mungkin, sesuatu yang ia kehendaki jadi miliknya, bisa kabur begitu saja. Kesabarannya berbuah. Norton hanya perlu sedikit demi sedikit lagi. Ia ingin bertepuk tangan. Benar-benar pria beruntung!
“Tuan ... Norton ...?”
“Aah, maaf, maaf,” Norton mengambil sandwich yang disodorkan Emma. Rasanya lumayan enak. Tak seenak buruannya. “Profesor ya ... dan dia seorang omega. Tapi apa tidak apa-apa kalau ada aku di sini? Bukannya kami tidak boleh ada hubungan apa-apa?”
“T—tapi—mengusir Tuan Norton hanya karena hal itu ... ah, aku tahu! Kalau karena aku ... kalau Tuan Norton ada di sini karena aku, semua akan baik-baik saja!”
‘Tapi kau sama sekali tak menarik bagiku.’
Andai saja Norton bisa jujur seperti itu, kalau bukan karena ia tahu bisa memanfaatkan keadaannya untuk tujuannya sendiri. di-iya-kan saja, dengan asyik melahap sandwich, lalu hidungnya menangkap bau yang familier, yang jaraknya berhenti beberapa meter dari dirinya. Norton menahan senyum, ia ingin tertawa. Menoleh pun rasanya sulit karena jika ia melihat ekspresi kaget dari Profesor itu ... ah ...
“Profesor Luchino! Di sini!”
... Begitu menggoda.
Emma mendatangi sosok menyerupai kadal—setengah manusia—di depannya, menarik tangan Luchino, dan menjelaskan kalau Norton adalah orang baik yang datang ke sana karena Emma. Jadi Luchino tak boleh mengusirnya. Meski mungkin sang pria tahu kalau alpha tersebut mencarinya, dan Norton juga tak bohong dari matanya; meski mulutnya yang sedari tadi menyeringai itu mengeluarkan kalimat lain. Perkenalan yang sebenarnya, sama sekali tidak dibutuhkan.
“Salam kenal, Profesor. Nama saya Norton Campbell.”
Luchino berpikir, mungkin ada untungnya ia tetap datang ke sana meski mencium bau alpha yang sama dengan malam-malam lalu. Selebihnya karena memikirkan Emma, sekurang-kurangnya ia tak ingin terlalu berurusan. Apalagi dengan survivor nekat seperti ini. Tapi Emma adalah substratnya yang berharga. Apalagi karena hobi mereka sama. Ada sedikit rasa favorit yang bermain di sana. Mungkin. Atau karena alasan lain.
Luchino melihat ke sekeliling, Emma tampaknya sudah selesai memupuk semua tanaman. Ia juga sebenarnya sudah selesai menyiram tanaman-tanaman tersebut pada jam istirahat siang. Hari liburnya hanyalah sabtu saja, itu karena tak ada giliran cek up untuk para omega. Yang mana selalu ia gunakan 1 jam di antara ke-24 nya untuk mampir sore-sore dan makan bersama Emma. Mereka membangun hubungan yang baik, daripada pasien dan dokter mungkin agak lebih seperti kawan satu hobi. Sedikit kurangnya Emma mengerti Luchino—terutama perihal tumbuhan. Kalau hewan dan reptil? Tidak sama sekali.
Tapi Norton terlihat diabaikan total oleh sang profesor. Setiap topik seolah tidak menarik dan hanya Emma lah yang menjawab, tertawa bersama pria tersebut. Mungkin karena Luchino tak mau terlalu dekat dan menunjukkan hal-hal yang bisa dinilai sebagai sebuah penalti. Mungkin karena Luchino memang tipe yang tenang, pendengar, hanya bicara ketika perlu. Mungkin karena Luchino orang yang tidak suka bersosialisasi. Mungkin karena ...
“Tuan Norton, apa Anda punya hobi?”
“Ya ... mengoleksi bebatuan mulia, mungkin? Dulu sebelum ke sini, aku adalah seorang penambang.”
Karena, topiknya memang tidak nyambung saja.
Mata Emma menangkap ekor Luchino yang bergerak kecil. Ia teringat sesuatu. “Kalau tidak salah ada batu yang sangat cantik di dalam laboratorium dan Profesor bilang itu koleksi pribadi!”
“Benarkah begitu?” Mata Norton bertanya. Luchino masih belum menoleh ke arahnya, hanya menatap Emma saja. “Ya ... Aku memang mengoleksi beberapa.”
“Warnanya biru keemasan seingatku, dan bongkahannya lumayan besar! Berkilat-kilat layaknya kristal. Sayang sekali Tuan Norton tidak bisa melihatnya, tapi sangat cantik ... Mungkin Tuan Norton tahu itu batu apa?”
Norton berpikir. Jika dengan deskripsi semacam itu saja ada banyak batu yang bisa ia duga. Namun yang paling indah, dan yang selama ini ia cari sampai-sampai harus melakukan macam-macam hal adalah ...
“Crystalline?”
Akhirnya,
Pada saat itu, Luchino menoleh ke arahnya.
Mata oranye yang membelalak terlihat manis. Mungkin Norton cuma mabuk kepayang tapi ekspresi itu terlihat lugu dan bersemangat. Ia pun membuka suara lagi, menjelaskan sedikit-banyak tentang batu tersebut, dan Luchino, yang akhirnya tak tahan jua; ikut-ikut membahas hal yang sama.
Perlahan mereka pun berbincang. Semakin intens. Diselingi tawa dan diskusi. Emma sama sekali tak mengerti, jadi ia hanya tersenyum senang melihat profesor bisa berbicara akrab dengan Norton setelah mereka melewati perang dingin dari tadi. Wajah kedua pria di depannya terlihat senang, memang begitulah mereka kalau sudah berbicara topik yang disukai.
Namun daripada Luchino, Emma lebih banyak melihat wajah Norton. Tampan. Presisi dengan rahang yang kokoh; hidung mancungnya yang ditindik terlihat seksi. Tapi yang paling menarik adalah, bekas luka bakar di bagian mata kirinya itu; yang entah mengapa malah menambah pesona. Emma membuang muka ketika Norton melirik dan memergokinya. Tapi yang ditatap hanya tersenyum simpul.
“Nampaknya Emma penasaran dengan bekas luka ini?”
Yang ditanya mengangguk kecil, berdoa semoga mukanya tak merah saat itu.
Norton memegang bagian kulit yang beda warna. Senyumnya begitu sendu, lembut; bagai menyentuh trofi kebanggaan. Mengingatkan Emma kepada sesuatu. Yang ia tak bisa sadari saking terpakunya sang gadis kepada wajah tampan di depannya saat ini.
“Ini adalah ‘hadiah’ dari bebatuan indah itu; 5 tahun yang lalu.”
“Profesor, luka apa yang ada di pergelangan tangan Anda itu?”
“Jangan khawatir, Emma. Ini hanyalah ‘hadiah’ untuk survivor tak tahu diri.”
Semakin menghabiskan waktu bersama Luchino, semakin kalah lah Norton kepada pikiran yang terus-terusan menghipnotisnya. Bahwasanya hati kecil itu berteriak, Luchino adalah omeganya. Pasti omeganya. Bukan pun akan ia buat menjadi omeganya. Meski hubungan itu terlarang, meski Jack akan memancungnya nanti—ia akan cari cara agar bisa selamat dan memiliki apa yang ia inginkan meski sudah berbulan-bulan lamanya.
Wanginya terlalu manis. Entah berapa kali ia merasa dibuai asmara meski aslinya wangi itu jauh lebih mulia daripada sekadar pujian ‘menggoda’. Leher yang seolah ingin ia gigit kapan saja; yang membuatnya merasa agresif jika ada alpha lain—termasuk hunter—yang ia bayangkan tengah mendekati sang omega. Margaretha berkomentar, Norton mungkin akan masuk masa heat-nya. Sudah saatnya ia melapor kepada sang mentor. Tapi Norton tak pernah merasa begini sebelumnya, jikalau ini awal-mula heat maka apalah semua pengalamannya selama ini? Heat yang ia tahu tidak terasa seperti ini.
Jadilah ia menunda dan memutuskan untuk mengatakannya di sesi konseling esok hari. Toh hari sabtu adalah harinya bertemu dengan omega itu di dalam rumah kaca. Yang semakin hari baunya semakin ... membuat Norton kehilangan akal, meruncingkan giginya; mendebarkan jantungnya. Tak hanya bau itu saja. Bahkan sifat dan perangai yang entah kenapa terlihat manis, kemampuannya ketika di dalam laga, keseriusannya ketika semenit terlihat dari balik dinding kaca ...
Norton sudah jatuh cinta.
Dimasukinya rumah kaca itu dengan terburu-buru. Entah kenapa di dalam sana terasa pekat sekali. Mata Norton mengerjap beberapa kali, mencari ke seluruh sudut penjuru; menemukan titik di mana semua kegilaan itu berasal. Ia merambat. Napasnya menderu. Menggapai kepada sosok kecil yang meringis ketakutan, memanggil namanya berulang kali,
Tapi, ah, Norton sudah tak sadar lagi; ia ingin menggigit Luchino. Luchino adalah omega-nya. Luchino miliknya. Ini saatnya menjadikan Luchino miliknya!
“Kumohon, Tuan Norton!”
Tapi Luchino tidak pernah sekecil, serapuh ini.
“Tuan Norton! Sadarlah!”
Tapi Luchino tak akan bergetar meringkuk ketakutan karenanya.
“Aaaaargh! Sakit! Tuan Norton!!!”
Tapi suara ini ...
“EMMA!”
Kerah belakangnya ditarik; tubuh Norton terhempas ke tanah. Namun jangankan merasa sakit, ia hanya bisa memandang kosong, kepada sosok wanita yang menangis, lalu manusia reptil yang memeluk wanita tersebut, menatapnya dengan wajah marah dan jijik. Lalu Norton seolah terambil napasnya; ia berteriak patah dan menyeret kakinya kepada mereka.
“Profesor, saya—”
“JANGAN MENDEKAT, CAMPBELL!”
Norton menghentikan tangannya. Apa yang baru saja ia lakukan? Tidak, ia tidak mau ingat. Tidak mau melihat Emma yang meringis di pelukan Luchino. Tidak mau melihat pandangan marah Luchino yang ditujukan padanya. Bahkan ketika Luchino pergi dengan cepat pun, Norton hanya mengiri melihat Emma dibungkus hangat dengan jas laboratorium, sama seperti beberapa bulan lalu; ketika ia dilindungi oleh sang profesor di malam pertama mereka berjumpa.
“Profesor ...”
Sang pria meraung. Dijambaknya rambut hitam itu. Entah apa yang Luchino lakukan namun tak ada satu pun yang datang karenanya. Hanya ada Norton, penyesalan, kesendirian; dan rasa takut, kalau ia, bisa jadi, sudah menggigit seorang omega.
“PROFESOR!!!!”
Dan itu bukanlah Luchino.
Lalu harinya berjalan bagai meniti seutas rambut di atas lubang neraka.
Norton sudah siap—aslinya belum, namun ia sudah mengira kalau esok hari ia akan ditendang pulang, dipenjara, dibunuh—dihapuskan keberadaannya karena sudah menggigit seorang omega. Tapi semua orang memperlakukannya dengan biasa saja. Hingga seminggu kemudian, Jack melempar kertas ke mukanya sebelum berkata kalau, berapa kali pun telunjuk itu mengarah kepada orang lain, dan mereka mencari bukti; pada akhirnya tak ada yang bisa mereka salahkan.
Heat milik Emma datang lebih cepat sebulan daripada biasanya. Dengan tiba-tiba. Ketika ia sedang sendirian. Lalu Norton yang tidak tahu apa-apa hanya terpancing layaknya kodrat seorang alpha. Hanyalah dua insan yang bertemu di saat yang tidak tepat. Untungnya ada Luchino yang entah bagaimana kebetulan lewat dan menyelamatkan gadis malang itu.
Sepertinya, informasi mengenai mereka yang sering kali berkumpul bertiga ditutup sedemikian rupa. Tapi Norton tak akan protes jika dengan ini ia bisa selamat dari tuduhan tersangka.
Ia takut bertanya bagaimana keadaan Emma, namun Jack membocorkannya terlebih dahulu. Ia bilang, Luchino mengambil alih pasien, dan berusaha sekuat mungkin untuk memperbaiki situasi tersebut. Mungkin menghilangkan tandanya. Entah dengan cara apa. Tapi mereka cuma bisa berdoa, apalagi kalau Norton tak mau bertanggung jawab atas gigitannya itu.
Kali itu, Norton merasa syukur. Begitulah keuntungan menjadi seorang alpha ... tak akan ada yang direnggut dari dirinya. Omega yang ia rusak itu? mungkin saja kehilangan segalanya.
“Sebelum kau menjawab,” Jack menyilangkan kaki, “Kami sudah bertanya kepada Nona omega. Ia menolakmu. Bukan sebagai manusia—ia menyukaimu, sebenarnya, tapi ia menolakmu. Jadi kau tak perlu merasa seperti seorang pria bangsat yang menyuruh wanita untuk menggugurkan kandungannya. Kau sendiri tak mau menjadi alpha-nya, kan.”
Ucapan seperti itu, “Jack, kau berkata seolah tahu semuanya.”
Dijawab dengan seringai lebar. “Kau mau bilang apa, aku ini mentorMU.”
Bahkan kini Norton tak akan kaget kalau ternyata Jack tahu, ia lah yang menyelinap masuk ke dalam laboratorium Luchino beberapa bulan lalu. Tapi mengapa lehernya tak juga dipenggal? Apa Luchino yang menghentikannya? Masa’ sih, ia sepeduli itu? rasa panas datang ke hati dan pipi tanpa ia bisa ambil kendali.
Di pembicaraan soal ia dan omega korbannya, bisa-bisanya Norton memikirkan orang lain?
“Intinya, Emma terbaring di tempat rahasia, kau tak akan mendapat hukuman, dan Profesor Luchino akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah kalian. Tempat pertandingan, bagian hunter menonton akan menjadi laboratorium omega yang baru untuk sementara. Itu berarti, penelitian kami terhadap kalian akan berkurang intensitasnya. Menjadi 3 kali dalam seminggu. Malam ini akan kami umumkan secara resmi.”
Mengapa Jack membocorkan sampai sebanyak itu? Bahkan Norton pun merasa ini adalah sebuah jebakan. Mentornya seolah memberi tahu secara tidak langsung di mana Luchino akan selalu berada.
Norton menarik napas, membiarkan Jack pergi sembari berpikir atas rencana matang-matang. Sementara hunter itu hanya mengangkat topinya sebentar sebelum akhirnya berjalan menyusuri lorong sepi.
Ia mengingat, sang profesor, mendesis marah—sekaligus terkekeh. Mengerikan. Tapi Jack mungkin paling suka ekspresi Luchino yang itu. Saat itu ia tak tahu lagi, apakah Luchino memang peduli dengan Emma, atau ia hanya senang karena mendapat penelitian yang lebih rumit namun menarik daripada biasanya. Pada akhirnya, semua dokter yang ada di sini hanyalah seorang egois. Apalagi mereka berdua.
“Serahkan ia pada saya. Anda tahu sayalah yang meminta untuk membawanya ke sini.”
“Bukannya saya tak percaya, Profesor,” Jack bersenandung, seringai yang mencuat dari pipi ke pipi pun menghilang di dalam kabut. “Saya hanya tak sabar, bagaimana Anda akan menyelesaikan kekacauan ini?”
Masa heat sudah lewat, dan Norton rajin meminum obatnya—itu syarat untuknya bisa bergaul dengan teman-teman seperti biasa. Beda sekali dengan omega yang harus dikerangkeng di tempat yang entah ada di mana; seorang alpha—selama meminum obat—akan bebas berkeliaran dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Tapi sepertinya, peraturan itu akan direvisi sebentar lagi. Atau mungkin obatnya lah yang kurang ampuh? Ketika pertandingan sedang dilangsungkan, Norton yang sedang menonton tiba-tiba berdiri dari duduknya. Tubuh itu bereaksi keras, terhadap sesuatu yang memanggilnya, menggodanya; membuatnya melangkahkan kaki perlahan, diganti dengan lari yang kencang; layaknya elang mengejar mangsa. Akan tetapi, emosi yang menguasainya saat itu adalah marah. Berteriak keras-keras dan menggedor pintu laboratorium, bahkan liurnya sudah menetes dari bibir yang terbuka lebar.
“PROFESOR!” Teriaknya, “Apa kau tahu kalau bau Anda tercium hingga ke gedung pertandingan! Hei, Profesor Luchino! Aku tahu kau ada di dalam! Buka pintunya! Profesor!”
Wangi yang semakin pekat di balik pintu; Norton akui ia mau kehilangan kendali. “Lalu apa yang akan kau lakukan, Campbell? Mengigitku? Sama seperti Emma?”
Oh yang benar saja, pada nyatanya Luchino tidak sama seperti Emma namun sungguh, YA, TENTU SAJA, DEMI APA PUN IA INGIN MENGGIGIT TENGKUK OMEGA ITU HINGGA BOLONG DIBUATNYA. Dan setiap sisik, kulit, daging yang menempel di taring akan ia jilat, telan, darah itu akan ia sapu, tubuh itu akan ia jamah, lubang itu akan ia gauli, dan Profesor Luchino, HARUS jadi miliknya SEORANG.
Entah Norton terlalu kuat, atau instingnya yang terlalu tajam, namun ia berhasil mendobrak pintu dan menyergap Luchino. Ditekannya sang profesor ke lantai, tetesan saliva itu mengalir mengenai dada sang pria; namun Norton—dan berkat obatnya, mungkin—masih ada sedikit tali yang mengekang. Meski celananya sudah sesak sempurna.
“Aku ingin memperlakukanmu dengan hati-hati, sayang,” Ia berbisik di telinga sang profesor. “Tapi aku tak bisa, kau tahu aku menginginkanmu, Profesor. Sampai kapan kau akan lari dariku? Mengapa kau tak menerimaku?”
Satu gigitan, mendarat di tangan yang menepisnya. Norton jilat luka itu. “Aku sudah bermain lembut. Aku mendekatimu dengan hati-hati. Apa kau lebih suka kukerasi? Kurenggut paksa? Katakan padaku, Profesor ... apa kabar omega yang hampir diperkosa itu? Mungkin semuanya terasa setimpal ... aku bisa jadi tidak keberatan mati, jika aku bisa memilikimu, bello ... Profesor ... kenapa kau menyapaku di laga waktu itu? Kenapa Jack sangat perhatian padamu ... arg ... kenapa kau yang seseksi ini ... belum juga ada ... yang ... menandai ...?”
Sembari pria yang ada di depannya kehilangan kesadaran, Luchino melirik jam di pergelangan tangan. Butuh waktu 30 menit untuk membuat Norton pingsan; sepertinya obat yang ia buat masih perlu disempurnakan.
“Sepertinya saya tidak perlu datang ke sini.”
“Datang pun Anda sudah telat,” Luchino bangkit, menidurkan Norton di lantai; menatap Jack yang perlahan berjongkok dan memperhatikan pria yang tak sadar diri. “Saya hampir digigit olehnya. Satu lagi hadiah dari spesimen langka. Tapi dengan ini saya sudah mengambil kesimpulan. Saatnya saya mengakhiri percobaan saya.”
Jack mengangkat tubuh Norton. “Anda masih berhutang penjelasan pada saya, Profesor. Jika tidak, di malam di mana Anda menyembunyikannya itu, saya sudah akan membunuhnya keesokan paginya.”
Dijawab tawa, lalu senyum semringah sang peneliti. Jack tahu, sama seperti dirinya; Luchino adalah orang yang eksentrik. Mereka bekerja untuk diri sendiri, bukan untuk manor—tepatnya manor lah yang membutuhkan mereka. Membuat mereka bisa bersikap seenaknya. Dan kali ini pun, meski akan melawan hukum, mereka tak akan berhenti.
“Antarkan dia ke ruangan itu, Jack.”
Apalagi Luchino.
“Sudah bangun, bocah?”
Mata Norton baru saja mengerjap karena ruangan yang ia tiduri kini terlihat begitu terang. Di atasnya ada lampu tembak yang membutakan mata; ruangan serba putih pun terlihat kontras dengan pria bersisik hijau di depannya. Tapi tetap saja; ia terlihat lebih indah. Sanggup membuat Norton sekejap tak sadar jika tangannya kini sudah dirantai di sisi-sisi kasur, begitu juga dengan kakinya.
“Profesor ...”
Norton pun mengerti, saat ini, ia lebih seperti kodok yang dikekang; untuk dibuka perutnya dan dicabut ususnya. Namun Luchino—tangan itu belum mengenakan sarung tangan operasi maupun memegang pisau bedah. Ia hanya duduk, memandangi Norton, dan Norton mulai merasa; ia tengah dipermainkan.
“Mari kita berbincang perlahan.”
“Haha ... apa Profesor akan membunuh saya?”
“Katakan padaku, apa kau ingat kejadian 5 tahun lalu?”
Yang mana yang Luchino maksud? Ketika ia merasa heat pertama kali? Ketika ia hampir memerkosa wanita lewat? Ketika ia menggelontorkan uang terbanyaknya untuk memeriksakan diri? Ketika ia ...
Norton menelan ludah.
“Tentu saja yang ku maksud adalah ledakan tambang yang kau lakukan untuk mengambil ... Crystalline-mu itu. Bulan x tanggal xx ... terjadi ledakan di ... ah ... aku sepertinya tak perlu menceritakannya, ya. Kasus yang merenggut hampir semua pekerja kecuali satu orang. Yang dielu-elukan sebagai survivor. Yang setelah pulih dari lukanya segera berpindah tempat—kabur—dan malah dianggap sebagai seorang pria beruntung. Itu ... kau, kan, Norton Campbell?”
“Profesor ...” Sesak napasnya terasa, “Apakah Anda menyelidiki saya sampai sejauh itu ... atau Anda ... ada hubungannya dengan kejadian tersebut?”
Yang membuatnya kaget adalah Luchino yang tiba-tiba mendekatkan wajah mereka. Senyum itu merekah, memamerkan deretan gigi; sebelum akhirnya diganti dengan raut wajah dingin.
“Kau sepertinya melupakan aku.”
“Eh ...”
“Akulah yang menyelamatkan tersangka, dirimu; dari kejadian itu, Campbell.”
Lalu Luchino mulai berkisah.
Bukan maunya menyelamatkan Norton, ia hanya ingin ambil kesempatan dan mencuri kristal yang Norton rela membunuh semuanya untuk mendapatkan batu mulia itu. Adapun keberadaannya di sana hanyalah sebagai seorang peneliti yang sedang liburan, hobinya merupakan jalan-jalan rahasia (baca: menyelinap) ke dalam tambang dan mengambil (baca: mencuri) apa yang bisa ia sentuh sebagai bahan koleksi. Tak ada yang menyalahinya, aturan itu tak berarti jikalau ia menunjukkan statusnya sebagai seorang ilmuwan sekaligus penemu obat yang paling pandai dalam mengatasi dunia alpha dan omega. Statusnya itu adalah tiketnya untuk lari, namun bahkan dari ledakkan tambang, ketangkasan dan insting adalah satu-satunya yang dapat menolong.
Termasuk instingnya dalam menyelamatkan Norton. Yang ternyata adalah pelaku. Yang ia rawat ketika sang pria masih dalam masa koma, sembari ia jadikan bahan uji coba, karena Norton harus membalas budi; sebagai ganti sebuah nyawa. Dan ketika pria tersebut hampir sadar beberapa minggu setelahnya, barulah Luchino meletakkannya di dalam kamar rumah sakit, menyuap pemiliknya—menjadikan mereka bintang yang berhasil menyelamatkan hidup seorang korban ledakan tambang.
Ternyata, kedatangan Norton ke dalam manor adalah hal yang direncanakan oleh Luchino juga. Ia ingin tahu sejauh apa spesimennya itu dapat bertingkah seolah-olah ia adalah alpha; seolah darah yang mengalir dan menyatu dengan darahnya itu menjadi kesatuan dari dirinya. Ia ingin tahu apakah Norton benar-benar menjadi seorang alpha.
Luchino ingin tahu, Norton itu orang yang seperti apa.
Dada Norton mencelus. Ia terbelalak melihat Luchino, yang dengan santai, menggores nadinya, menempelkannya ke hidung Norton. Lalu di sana, Norton pun tahu; itulah wangi manis yang selalu ia cari.
“Kuminumkan darahku padamu. Untuk menguji buku yang kupunyai.”
Di buku usang milik Luchino (tentu saja ia menemukannya dari tempat terlarang) itu tertulis, kalau alpha dan omega tidaklah jauh dari dongeng vampir dan manusia. Darah bermain peran di sana. Alpha dan omega akan menjadi suatu pasangan, bukan karena gigitan semata; melainkan darah omega, yang terkecap di bibir alpha, dan seolah magnet, alpha itu akan langsung menjadi milik omega dimulai dari indra perasanya. Lalu mereka saling tarik-menarik, dengan omega yang jauh lebih tertarik—karena mereka punya tubuh yang jauh lebih sensitif; lebih sensual.
Jadi selama ini, bukanlah omega yang menjadi budak seks alpha, namun alpha-alpha tak tahu diri itu, yang begitu lancang dan jalangnya, menawarkan diri kepada banyak omega layaknya anjing betina murahan.
Lalu Luchino dan rasa penasarannya muncul. Apa yang akan terjadi, jika ia meminumkan darahnya, kepada seorang ...
“Apakah aku ... beta?”
“Oh, tidak, jangan ambil kesimpulan ke sana,” Luchino mengusap kepala Norton. “Kau bukan ketiganya. Kau adalah wadah kosong. Spesies mu hanya ada nol koma sekian persen dan mereka semua berbaur menjadi seorang beta. Ini biasanya terjadi karena hubungan antara beta dan alpha—atau omega. Hubungan terlarang, karena sebagaimana yang kau tahu, Alpha adalah untuk omega dan begitu pula sebaliknya. Andai saja kau tahu jenis orang tuamu, tapi mana kau tahu, ya kan? Karena perbedaan status itu lah, mereka kabur, memisahkan diri, meninggalkanmu ... sungguh sangat malang.”
Luchino memang sudah menyelidiki Norton sejauh itu, tapi yang diuntit rasanya susah mencerna semua informasi. Ia adalah wadah kosong? Bukan alpha, omega, ataupun beta? Kenapa Luchino bisa tahu secepat itu, fakta yang bahkan ia sendiri tak sadar? Lalu Luchino meminumkan darah padanya? Darah seorang ... Sebentar ... Lalu Luchino itu ... apa?
“Jawaban yang kau tunggu-tunggu, anak muda ...” tubuhnya menggesek, Norton memerah merasakan kulit Luchino di lengannya. “Saya, tentu saja, adalah seorang alpha.”
Deg.
Itu malah menumbuhkan banyak pertanyaan lain.
Jadi Margaretha bukannya takut tanpa alasan pada Luchino. Namun mengapa pria tersebut bisa dengan santainya meneliti omega-omega, mengangoni mereka yang sedang dalam masa heat, dan mengapa tubuh—darahnya, begitu wangi dan—
“Mengapa Anda ... belum juga menggigit satu pun omega itu, Profesor ...”
Luchino mengangkat dua jarinya.
“Obat khusus. Aku adalah dokter untuk omega, tak mungkin aku membiarkan sisi dan bau alphaku tercium oleh mereka. Lalu ... bersenang hati lah, karena kau, Campbell.”
Bisikan yang begitu manis,
“Karena aku sudah terikat denganmu.”
Luchino sudah menebak, dengan memberikan darahnya kepada wadah, itu sekaligus membuatnya akan menjadi alpha milik sang wadah tersebut. Ia tak keberatan; tubuhnya pun akan diberikan demi penelitian. Namun yang tidak ia ketahui adalah bagaimana proses sang wadah tumbuh dengan ciri-ciri yang sama dengan alpha. Sebenarnya Luchino memberitahu Jack soal keberadaan Norton, membawanya ke manor, hanya untuk melihat hasil praktiknya saja. Ia dan obatnya yakin tak akan takluk di depan wadah yang memilikinya itu. Luchino bahkan sudah berlagak tak tertarik. Tapi Norton yang datang padanya. Menggodanya. Bersikap layaknya alpha. Ketakutan melihat Emma dan gigitannya.
(Meski sebenarnya, Luchino sendiri bersyukur, ternyata gigitan Norton tak meninggalkan bekas sedikit pun. Tapi ia harus menyembunyikan identitas Norton. Maka itu ia bersikap seolah sedang mengobati Emma, yang sebenarnya saat ini pun, sudah sembuh sempurna.)
“Kau bukan alpha, Campbell. Namun kau memiliki ciri dan fisik yang sama seperti alpha. Jika bisa dikatakan, kau ... adalah mahakaryaku.”
Laksmi, begitu ia menyebutnya.
Indah, memukau, harta berharga yang menjadi miliknya seorang—yang mana ia juga turut menjadi miliknya.
“Campbell ... kau tertarik padaku bukan karena aku ataupun kealphaanmu. Kau tertarik padaku karena darah yang menyampurimu. Aku tak akan meminta maaf, sayangnya. Aku hanya ingin kau sadar aku sudah tiba di penghujung eksperimenku.”
“Hh ... ” Patah napas itu, menikmati sentuhan jemari Luchino. Semua pembicaraan itu terlalu rumit. Bagaimana kalau ia bergantung pada instingnya saja yang sekarang. Luchino bilang, darah lah yang menyatukan mereka. Lalu jika Norton sudah meminumnya, dan Norton sudah menjadi miliknya, bukankah itu tidak adil? Luchino juga, tak hanya ciuman mesra, Luchino juga ...
“Profesor ...”
Norton kembali dimabuk asmara.
“Biarkan aku ... mengampuimu sebagai milikku ...”
Setelah itu, status Norton mulai ditangguhkan. Bukan kealphaannya, namun status kepemilikannya. Emma sudah dibebaskan, luka gigitnya hilang sempurna (tentu saja), namun giliran Norton yang dengan mencengangkan berjalan dengan santai—dan perban di leher.
Orang bilang, itu bekas gigitan.
Eli hanya menahan tubuh Naib yang hampir membuka paksa perban itu. Margaretha sendiri tercengang dan memutuskan untuk mengambil jarak sedikit. Yang ada di pikiran mereka adalah, bagaimana seorang alpha, memiliki bekas gigit di lehernya?
Lalu makin jatuh lagi jantung mereka. Bagaimana bisa, seorang dokter dari kubu omega, memiliki perban yang SAMA?
.
.
Semua pertanyaan itu terjawab setelahnya.
Norton melempar perbannya ke wajah Naib, memamerkan leher yang tak terluka sedikitpun. Luchino juga sama, berkeliaran dengan tengkuk yang bersih. Semua orang pun menghela napas, itu hanya kebetulan saja, tanpa mereka tahu, di malam nanti, dua orang yang kini berpagutan itu; akan berucap janji. Merusak peraturan. Mencincang moral. Melawan pandang yang akan menghakimi mereka.
Kali pertama, dalam sejarah dunia; seorang alpha jatuh cinta dengan alpha (wadah) yang lainnya.
Luchino merasa, kali itu, mungkin pertama kali ia jatuh cinta.
Pada sosok yang murung dan memandang detonator di tangannya. Bukan dengan keraguan, namun senyum simpul yang sendu. Lalu ledakan yang terjadi setelahnya. Dan tangan berdarah-darah yang mengambil beberapa bongkah Crystalline sebelum akhirnya hilang kesadaran.
Membuatnya merasa, tak hanya batu; orang ini juga perlu ia selamatkan.
Tak susah mencari nama. Ia yakin Norton Campbell adalah ini orangnya. Cocok sekali dengan wajah tampan itu—dan kasus rahasia yang terjadi 23 tahun lalu; mengenai seorang Campbell dan wanita beta yang bercinta lalu membuang anak mereka. Cerita layaknya dongeng di telinga para ilmuwan, dan hanya di kalangan mereka saja; karena publik tak perlu tahu kisah tragis selangka itu. Yang menghadirkan teori wadah. Yang memotivasinya untuk mencuri perkamen kuno dan menyalin isi sebelum mengembalikannya.
Mungkin mengalir dalam darah dan insting sebagai seorang peneliti; tapi Norton pastilah apa yang ia cari.
Pasti. Atau Luchino aslinya hanya bermain cocok-cocokan dan ia INGIN Norton menjadi apa yang ia cari. Tak pernah selama hidupnya ia merasa tertarik dengan manusia hingga sebegininya; meski statusnya adalah sebagai seorang alpha.
Toh ia adalah pembangkang, yang akan melawan hukum alam.
Dan malam itu, kantong semarnya menjadi saksi,
Seorang ilmuwan, yang jatuh cinta, akan menyeret tanpa pinta;
Dan menjadikan Norton sebagai seorang Laksmi.
