Work Text:
“Baik, saya mengerti. Saya akan segera kesana sekarang.”
Lee Jeno mengusap wajahnya gusar setelah memutuskan sambungan teleponnya. Jemarinya memijit pelan pelipisnya ketika ia merasa kepalanya mulai berdenyut. Entah sudah berapa kali ia menerima telepon serupa sampai ia bahkan sudah hapal kalimat demi kalimat yang selalu didengarnya.
Kedua tangannya kini mulai bergerak cepat untuk membereskan barang-barangnya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal dan berkas-berkas di atas mejanya telah tersusun rapi, Jeno bergegas keluar ruangannya. Ia menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan sekretaris-nya, mengatakan bahwa ia akan pulang lebih awal dan supaya sekretarisnya itu menghubunginya jika terjadi sesuatu.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit bagi Jeno untuk melajukan mobilnya sampai berhenti di sebuah bangunan sekolah. Jeno turun dari mobilnya dan berjalan memasuki gedung sekolah itu. Kakinya melangkah menyusuri lorong-lorong yang sudah begitu di hapalnya meskipun ia sendiri tidak pernah bersekolah disana.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang anak laki-laki berusia tidak lebih dari lima belas tahun sedang duduk di depan sebuah ruangan dengan kepala tertunduk. Jeno terdiam sesaat sambil memperhatikan anak itu dan menghela napasnya. Ia kemudian berjalan mendekati anak laki-laki itu dan memanggilnya.
“Lee Jisung.”
Anak laki-laki bernama Jisung itu mengangkat kepalanya dan melihat Jeno sudah berdiri di depannya. Jeno menatapnya dengan ekspresi datar meskipun kerutan kecil muncul di antara kedua alisnya dan sorot mata khawatir yang terlihat jelas. Tangan lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu mengusap pelan sudut bibir Jisung yang nampak robek, membuat sang remaja meringis pelan.
“Jika kau sudah sering sekali berkelahi, kenapa masih terluka juga? Bukankah seharusnya kau semakin jago dan bisa menghindari pukulan lawanmu?” tanya Jeno sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya dan menatap putranya tajam.
“Ayo kita segera masuk dan selesaikan apapun masalahmu kali ini,” ujar Jeno ketika Jisung hanya menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Tunggu!” Jisung dengan cepat mencegah ayahnya yang sudah berbalik menuju pintu ruangan bimbingan konseling—yang sudah tidak terhitung berapa kali dimasuki Jeno sejak Jisung bersekolah disana.
“Kenapa?” tanya Jeno bingung.
Raut wajah Jisung yang nampak cemas membuat Jeno bingung sekaligus khawatir. Tidak biasanya Jisung menunjukkan ekspresi lain selain wajah datar yang sama dengan Jeno.
“Itu—aku—” Jisung menggigiti bibirnya ketika tidak menemukan kalimat yang tepat untuk diucapkan pada sang ayah.
“Apapun yang akan kau katakan, bisakah itu menunggu sampai Appa selesai bicara dengan gurumu? Kita tidak seharusnya membuang waktu seperti ini.”
Jeno sudah akan beranjak menuju pintu ruangan bimbingan konseling lagi ketika Jisung menarik lengannya. Namun bukan tarikan Jisung pada lengannya-lah yang membuat Jeno berhenti, melainkan sebuah suara lain yang memanggilnya.
“Appa!”
Jeno dan Jisung menoleh dan melihat seorang anak laki-laki yang sedang tersenyum lebar dan berlari ke arah mereka—lebih tepatnya ke arah Jeno—dan memeluk Jeno erat.
“Chenle—” Kedua tangan Jeno refleks melingkari pundak anak laki-laki yang memeluknya, mendekapnya tidak kalah erat. Ia baru saja akan mengucapkan sesuatu lagi ketika maniknya menangkap sosok lain berdiri tidak jauh dari mereka bertiga.
Sosok itu berjalan pelan ke arah mereka dan Jisung dengan cepat memeluknya, sama seperti anak laki-laki yang dipanggil Chenle itu memeluk Jeno.
“Papa, aku merindukanmu,” bisik Jisung pada lelaki manis yang juga balas memeluknya.
“Papa juga merindukanmu, Jisung. Sangat. Setiap saat,” balas lelaki itu sambil mengecup pelan sisi kepala Jisung.
“Renjun.”
Renjun mengangkat kepalanya dan matanya langsung bersirobok dengan manik tajam milik Jeno. Chenle dan Jisung hanya diam menatap Jeno dan Renjun bergantian. Selama beberapa saat tidak ada satupun dari mereka berempat yang bersuara, sampai akhirnya Renjun mengulas senyum tipis.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam sekarang. Tidak baik membiarkan Kim seonsaengnim menunggu lebih lama lagi, bukankah begitu?” ucap Renjun.
“Tapi—kalian—kenapa kalian ada disini?” Jeno menatap Chenle dan Renjun bergantian.
“Aku akan menjelaskannya nanti.” Renjun menghela napasnya sambil menatap Chenle. “Sebelum itu, aku ingin tahu mengapa aku mendapatkan panggilan dari sekolah dihari pertama anakku mulai bersekolah disini.”
Chenle merapatkan tubuhnya ke arah Jeno ketika sang papa memberinya tatapan tajam. Bahkan Jisung yang biasanya tidak takut pada siapapun—bahkan pada appa-nya sendiri—kini menunduk ketika tatapan tajam Renjun beralih padanya.
Jeno hanya menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Renjun untuk masuk terlebih dahulu ke ruangan tempat mereka dipanggil. Ruangan itu adalah ruangan kepala sekolah yang sudah begitu Jeno hapal saking seringnya Jisung membuatnya berkali-kali diundang ke tempat itu untuk alasan yang sama. Tanpa perlu diberitahu-pun, Jeno sebenarnya sudah tahu alasan dibalik panggilan dari sekolah anaknya itu untuknya. Yang ia tidak mengerti, mengapa Renjun bisa berada disini juga. Tentunya Renjun berada disini mewakili Chenle, tetapi walaupun Jeno sudah cukup lama tidak bertemu dengan putra kembar sulungnya itu, ia yakin bahwa Chenle tidaklah sama seperti Jisung yang seringkali membuatnya naik darah dengan segala ulahnya.
Renjun menyapa sang kepala sekolah dan seorang guru yang memperkenalkan diri sebagai Kim seonsaengnim, wali kelas Jisung dan Chenle. Sementara itu Jeno hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di sebelah Renjun. Chenle dan Jisung tetap berdiri di samping kedua orangtua mereka dengan kepala tertunduk. Jika hanya ada Jeno disana, Jisung biasanya akan tetap mengangkat kepalanya, seolah menantang siapapun yang berani mencela tindakannya. Namun kehadiran Renjun disana nampaknya membuat nyalinya sedikit ciut.
Bukan hal yang baru, pikir Jeno selagi Kim seonsaengnim menjelaskan alasan mengapa ia memanggil Jeno dan Renjun untuk datang ke sekolah. Berkelahi. Lebih tepatnya, Jisung yang berkelahi dengan beberapa siswa lainnya. Chenle, yang kemudian datang dengan niat untuk melerai, pada akhirnya justru terlibat dalam perkelahian itu ketika pukulan salah satu siswa justru mengenainya. Seperti yang sudah sangat di hapal oleh Jeno juga, pertemuan kemudian diakhiri dengan peringatan dari pihak sekolah supaya hal serupa tidak terjadi lagi, terutama untuk Jisung yang nampaknya memang tidak pernah menganggap serius semua peringatan yang sudah didapatnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu.
“Saya mengerti,” ucap Renjun ketika Kim seonsaengnim mengakhiri pertemuan siang itu. Sementara itu, Jeno tetap diam dan membiarkan Renjun mengambil alih. Ia hanya memberi salam singkat ketika mereka berempat meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara ketika keempatnya berjalan bersama ke arah parkiran. Chenle dan Jisung sedang saling melirik dan menyenggol satu sama lain ketika Renjun tiba-tiba berbalik dan menatap kedua anaknya, mengagetkan sepasang anak kembar itu. Seketika Chenle dan Jisung menundukkan kepala mereka, tidak berani balas menatap Renjun.
“Jadi,” Renjun memulai, “siapa diantara kalian yang mau menjelaskan apa yang terjadi?”
Renjun melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu salah satu anaknya berbicara. Sementara itu Jeno tetap diam memperhatikan ketiganya. Ia membiarkan Renjun mengambil alih karena ia tahu jika ia yang berbicara, maka akan berakhir dengan ia dan Jisung kembali bertengkar untuk kesekian kalinya.
“Lee Jisung.”
Chenle bisa merasakan Jisung menegang disampingnya ketika mendengar Renjun memanggil namanya dengan lengkap. Apabila Renjun sudah memanggil nama mereka secara lengkap, artinya papa mereka itu sedang serius. Chenle dan Jisung tidak akan pernah lolos tanpa memberikan jawaban yang memuaskan bagi Renjun.
“Kudengar ini bukan pertama kalinya kau terlibat dalam perkelahian.” Renjun menatap tajam anak bungsunya. Sekilas ia melirik Jeno dan melihat pria itu hanya menatap datar ke arah Jisung. “Apa kau mau menjelaskan pada Papa mengapa kau berkelahi?”
“Anak-anak itu duluan yang memulainya! Papa, aku tidak berbohong. Aku mendengar sendiri anak-anak itu yang memancing perkelahian!” Chenle berusaha untuk membela adiknya. Tangannya menggenggam erat tangan Jisung, seolah memberikan kekuatan untuk sang kembaran, untuk mengatakan bahwa Jisung tidak sendiri.
Tatapan Renjun sedikit melembut. Ia melangkah mendekati Jisung dan menangkup pipinya, memaksa Jisung yang sedari tadi menunduk untuk menatapnya.
“Apa yang mereka katakan sampai kau memukul mereka?” Renjun kembali bertanya dengan nada yang lebih halus dari sebelumnya.
Jisung merasakan kedua matanya memanas ketika ia menatap wajah papa-nya. Wajah yang sudah lama sekali tidak ia lihat sedekat ini. Terutama sentuhan Renjun pada pipinya. Rasanya Jisung ingin menangis keras apabila ia tidak memiliki rasa malu dan gengsi.
“Mereka—” Jisung menggigit bibirnya, berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Demi Tuhan, Chenle bisa meledeknya seumur hidup jika melihatnya menangis!
“Mereka bilang aku tidak punya ibu ataupun papa. Mereka bilang Papa tidak sayang lagi padaku, karena itu Papa pergi meninggalkanku. Mereka bilang aku bukan anak yang baik dan pembawa sial, maka dari itu Papa dan Appa berpisah. Mereka—”
Sudah cukup! Renjun tidak sanggup mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut putranya. Ia segera merengkuh Jisung dan memeluknya erat. Hatinya terasa diremas kuat ketika tangisan Jisung akhirnya pecah. Putra yang dulu ia tinggalkan ketika masih berusia tidak lebih dari tujuh tahun, kini memeluk pinggangnya erat dan membasahi bahunya.
Hanya butuh beberapa detik setelah mendengar Jisung menangis, airmata Chenle juga ikut mengalir. Si sulung dari anak kembar itu mencari penghiburan dan kenyamanan dari pelukan appa-nya. Jeno yang awalnya terpaku mendengar tangisan Jisung, kini memeluk erat Chenle sambil mengusap punggung anak yang sudah lama tidak ditemuinya itu.
Jeno menangkat kepalanya ketika merasa ada seseorang yang sedang memberhatikannya. Benar saja, ia menemukan Renjun yang sedang menatap ke arahnya. Ia tidak terlalu memahami arti dari tatapan Renjun, tetapi ia bisa menemukan kesedihan dan rasa bersalah dalam binar yang dulu terangnya membuat jatuh cinta. Binar yang kini redup dan ia adalah alasan dibaliknya.
- - -
Delapan tahun. Sudah delapan tahun Renjun meninggalkan Seoul dan segala kenangan yang ada di dalamnya sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di ibukota Korea Selatan itu saat usianya baru dua belas tahun. Tidak hanya kenangan, ia juga meninggalkan satu bagian dari dirinya—anak bungsunya—Lee Jisung.
Bukan keinginan Renjun untuk meninggalkan Jisung ketika ia memilih untuk membawa Chenle kembali ke kota kelahirannya, Jilin, di China. Jika bisa, Renjun tentu akan membawa kedua anaknya bersamanya. Walaupun mungkin akan berat baginya untuk menata hidupnya beserta kedua anaknya kembali di kota yang sudah terasa asing baginya, tetapi Renjun akan berusaha semaksimal mungkin demi anak-anaknya. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membawa Jisung bersamanya. Tidak ketika pengadilan sudah memutuskan bahwa sementara ia mendapatkan hak asuh atas Chenle, hak asuh Jisung jatuh pada mantan suaminya, Lee Jeno.
Lee Jeno. Nama yang seharusnya sudah pudar dimakan waktu, namun nyatanya masih berdetak dalam jantungnya. Delapan tahun tidak pernah bertemu rupanya tidak juga mampu untuk menghapus Lee Jeno dari hatinya. Renjun tidak tahu apakah fakta bahwa mereka memiliki Chenle dan Jisung yang akan membuat mereka selamanya terikat, ataukah memang Renjun yang tidak mampu barang untuk membuang secuil kenangan mereka berdua. Bahkan ketika nama tersebut adalah alasan mengapa ia memutuskan untuk meninggalkan Seoul dan Jisung.
Jisung. Mengingat putra bungsunya itu membuat Renjun kembali ingin menangis. Meskipun selama delapan tahun tidak pernah bertemu karena terpisahkan oleh jarak yang membentang, Renjun tidak pernah sekalipun melupakan Jisung. Setiap kali menyediakan makanan untuk Chenle, Renjun akan memikirkan apakah Jisung sudah makan atau belum. Atau ketika mengantarkan Chenle ke sekolah, Renjun juga akan memikirkan bagaimana Jisung di sekolahnya. Bahkan ketika membelikan Chenle hadiah, ia juga akan membelikan sesuatu untuk Jisung, yang kemudian ia kumpulkan untuk dikirimkan pada si bungsu.
Bukan berarti juga selama delapan tahun itu Renjun sama sekali tidak tahu keadaan Jisung. Mereka masih sering berkomunikasi, baik melalui pesan singkat ataupun video call. Renjun juga tahu bahwa Chenle dan Jisung rutin berkomunikasi setiap harinya. Bagaimanapun mereka adalah anak kembar, yang meskipun kini tinggal di negara yang berbeda, pasti masih akan tetap memiliki koneksi yang tidak akan pernah dimengerti orang lain selain keduanya.
Jisung adalah alasan mengapa akhirnya Renjun memutuskan untuk kembali ke Seoul. Hari ini, melihat dan mendengar Jisung menangis di pertemuan pertama mereka, tidak hanya membuat Renjun semakin yakin atas keputusannya untuk kembali, tetapi juga merasa bersalah atas keputusannya untuk pergi dulu. Apapun yang telah terjadi diantara dirinya dan Jeno, Renjun seharusnya sadar bahwa anak-anak mereka yang akan menjadi korban. Seharusnya dulu ia tidak mementingkan ego-nya dan memilih kabur ke Jilin dengan alasan menyembuhkan luka hatinya. Sementara ia sama sekali tidak memikirkan luka yang diterima oleh Chenle dan Jisung atas perpisahan kedua orangtua mereka. Saat itu Renjun hanya berpikir bahwa keduanya masih sangat kecil untuk bisa memahami apa yang terjadi. Ia tidak pernah memikirkan dampak yang mungkin akan dirasakan oleh kedua anaknya ketika mereka beranjak dewasa.
Malam ini, melihat kedua anaknya tidur sambil berpelukan, membuat Renjun kembali merenungi segala keputusan hidupnya beberapa tahun terakhir. Tangannya terangkat dan mengusap lembut kepala Chenle dan Jisung bergantian. Renjun menundukkan tubuhnya untuk mengecup kening si kembar dan membisikkan selamat malam.
Renjun baru saja menutup pintu kamar Chenle ketika ia mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Tidak ada kenalannya yang lain yang tahu bahwa ia sudah kembali ke Seoul, jadi Renjun tidak terkejut ketika ia membuka pintu dan menemukan Jeno berdiri di hadapannya. Pria itu nampaknya baru pulang dari kantornya, terlihat dari pakaiannya yang masih sama seperti ketika mereka bertemu siang tadi di sekolah.
“Boleh kita bicara sebentar?”
Renjun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Jeno masuk ke dalam apartemennya. Ia menutup pintu di belakangnya dan mempersilakan Jeno untuk menunggu di ruang tengah sementara ia akan menyiapkan minum. Setelah selesai dengan urusannya di dapur, Renjun menemukan Jeno sedang duduk di salah satu sofa-nya dengan tatapan kosong.
Sesaat Renjun menelisik wajah mantan suaminya itu. Gurat lelah nampak jelas di wajah pria itu, meskipun sama sekali tidak menyembunyikan fakta bahwa Lee Jeno adalah pria yang tampan. Dengan sorot mata yang tajam dan rahang yang tegas, nampaknya Lee Jeno tidak akan pernah gagal untuk membuat Renjun terpesona dengan ketampanannya. Meskipun jelas bahwa wajahnya saja tidak mampu untuk membuat Renjun tetap tinggal.
Jeno seolah kembali pada kesadarannya ketika Renjun menyodorkan secangkir teh di hadapannya. Ia menerima cangkir itu dan menyesapnya pelan sementara Renjun mengambil tempat duduk di sofa lainnya, tidak terlalu jauh tetapi juga tidak terlalu dekat. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman kecil ketika lidahnya mencecap rasa yang begitu familiar. Tidak terlalu manis, takaran yang pas untuknya, seperti yang seringkali dibuatkan oleh Renjun bertahun-tahun lalu.
“Jadi?” Renjun mulai membuka suaranya ketika beberapa waktu sudah berlalu dengan keduanya yang hanya sibuk meminum teh mereka.
“Apakah sekarang kau kembali untuk menetap?” Jeno meletakkan cangkir teh-nya yang sudah hampir habis di atas meja.
“Ya,” jawab Renjun. “Aku memutuskan untuk kembali dan ya, aku akan menetap disini. Aku merindukan Jisung dan aku juga tahu bahwa Chenle sangat merindukanmu.”
“Ah, dan terima kasih karena sudah mengijinkan Jisung untuk menginap disini. Aku tidak sempat mengatakan ini padamu tadi. Aku juga tidak keberatan jika Chenle ingin menginap di tempatmu suatu waktu nanti,” tambah Renjun.
Jeno hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Jari telunjuknya menelusuri bibir cangkir teh-nya. Renjun menunggu dalam diam. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang ingin Jeno katakan namun tampaknya pria itu masih kesulitan untuk merangkai kalimatnya.
“Maaf.” Satu kata itu akhirnya keluar dari mulut Jeno.
Kerutan kecil muncul di dahi Renjun. Ia sedikit memiringkan kepalanya, menunggu Jeno untuk melanjutkan kalimatnya.
“Aku—kurasa aku gagal menjadi ayah yang baik untuk Jisung.” Jeno menghela napasnya berat. “Sejak kau dan Chenle pergi dari rumah, anak itu menjadi murung dan pendiam. Lalu ketika kau pergi ke China, aku merasa bahwa Jisung semakin jauh untuk kugapai.”
Jeno mengangkat kepalanya dan menatap Renjun. “Kau tahu bahwa aku tidaklah sepertimu. Seringkali aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada anakku, bagaimana aku harus bersikap. Aku tidak tahu apa yang Jisung butuhkan dan anak itu juga tidak mau memberitahuku. Aku berusaha menjadi ayah yang baik untuknya dengan mencukupi semua yang ia butuhkan, sebagai ganti dari rasa bersalahku karena aku tidak bisa memahaminya seperti kau memahaminya meskipun aku sudah mencoba sebisaku. Dan tanpa aku sadari, delapan tahun telah terlewat begitu saja.”
Renjun masih tetap diam, tahu bahwa Jeno masih belum selesai dengan ceritanya. Ia hanya memperhatikan ketika Jeno mengusap wajahnya kasar. Raut wajahnya menunjukkan seberapa berat beban yang selama ini disimpannya. Sekuat tenaga Renjun mencoba menahan dirinya untuk tidak merengkuh pria yang kini adalah mantan suaminya itu.
“Saat Jisung mulai memasuki usia remaja, saat itulah aku mulai sering mendapatkan panggilan dari sekolah. Berkelahi, membolos, tidak mengerjakan tugas, tidur di kelas, aku sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak pelanggaran yang ia lakukan di sekolah. Memang segala pelanggaran yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dikeluarkan dari sekolah, mengingat Jisung sebenarnya adalah anak yang pintar. Nilai-nilainya tetap memuaskan, meskipun ia juga seringkali membolos pelajaran. Tapi aku tahu. Aku tahu bahwa ada yang salah dengannya. Aku tahu bahwa ada sesuatu yang disimpan oleh Jisung tanpa mau ia bagi denganku. Aku mencoba untuk bicara dengannya, tetapi pada akhirnya hanya berakhir dengan pertengkaran. Aku merasa Jisung semakin jauh dariku dan aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya memaafkanku.”
Jeno menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya sedikit bergetar, membuat Renjun tidak tega dan akhirnya beringsut mendekat. Lelaki bermata rubah itu meletakkan satu tangannya di bahu Jeno, meremasnya pelan untuk menyalurkan kekuatan yang ia tahu sedang dibutuhkan oleh ayah dari kedua anaknya itu.
“Mungkin—mungkin seharusnya dulu aku membiarkan Jisung ikut denganmu. Seharusnya Chenle dan Jisung tinggal denganmu saja. Jika denganmu, Jisung pasti tidak akan menjadi seperti ini. Ia pasti akan menjadi anak yang ceria seperti Chenle. Kau—kau pasti bisa membesarkannya lebih baik dariku,” ucap Jeno pelan.
“Jeno-ya.” Jeno mengangkat kepalanya ketika mendengar Renjun memanggil namanya. Sudah lama sekali sejak ia mendengar Renjun memanggil namanya.
“Apa kau tahu bahwa Chenle sangat sering berbicara tentangmu? Setiap kali ia meraih juara kelas atau memenangkan lomba piano, ia akan bertanya apakah kau akan bangga padanya. Setiap kali kau meneleponnya, atau mengirimkan hadiah untuknya, wajahnya terlihat berseri karena bahagia. Anak itu mungkin terlihat ceria dan baik-baik saja bersamaku, tetapi aku tahu bahwa seringkali ia tertidur sambil memeluk fotomu. Aku juga tahu bahwa kadang ia menangis karena merindukanmu,” ujar Renjun.
“Kau tahu, apa yang membuatku memutuskan untuk kembali kesini?” Renjun tersenyum ketika Jeno menggeleng pelan.
“Karena aku ingin berhenti egois,” jawab Renjun. “Chenle dan Jisung tidak hanya membutuhkan satu orangtua saja. Mereka membutuhkan kita sebagai orangtua.”
“Seharusnya saat itu aku tidak pergi. Seharusnya saat itu aku tetap tinggal, sehingga setidaknya, walaupun kita sudah berpisah, tetapi Chenle dan Jisung akan tetap berada dekat dengan kedua orangtuanya. Aku yang memisahkan Chenle darimu dan aku yang memisahkan diriku dari Jisung. Kurasa—kurasa ini saatnya aku memikirkan mereka dan tidak hanya memikirkan diriku sendiri. Kita memang sudah bukan pasangan lagi, tetapi kita tetaplah orangtua Chenle dan Jisung. Mereka tidak hanya membutuhkanku, tetapi mereka juga membutuhkanmu.”
“Jadi, Jeno, kita memang sudah gagal sebagai pasangan, tetapi ini belum terlambat bagi kita sebagai orangtua. Bisakah kita bekerjasama untuk menjadi orangtua yang baik bagi Chenle dan Jisung?”
- - -
Hubungan Renjun dan Jeno semakin membaik setelah obrolan mereka di malam itu. Keduanya memutuskan untuk bekerjasama menjadi orangtua yang dibutuhkan oleh kedua anak mereka. Seringkali mereka berempat menghabiskan waktu bersama entah untuk jalan-jalan atau hanya sekedar makan bersama. Meskipun demikian, Renjun dan Jeno sama sekali tidak pernah melewati batas. Keduanya juga tidak pernah menghabiskan waktu hanya berdua saja.
Renjun juga membantu memperbaiki hubungan Jeno dan Jisung yang merenggang. Dengan adanya Renjun sebagai penengah diantara keduanya, perlahan hubungan antara ayah dan anak itu semakin membaik. Jisung mulai berbicara pada Jeno dan Jeno juga memberikan perhatian yang lebih pada Jisung. Chenle juga terlihat sangat bahagia dengan adanya Jeno di sekitarnya. Si sulung itu akan selalu menempel pada Jeno dan menjadi begitu manja—hal yang tidak pernah ia lakukan pada Renjun—pada appa-nya.
Chenle dan Jisung tentunya adalah yang paling bahagia. Sudah lama sekali keduanya memimpikan keluarga yang seperti ini. Meskipun orangtua mereka tidak—atau belum, menurut Chenle—bersatu lagi, tetapi bisa menghabiskan waktu bersama berempat selayaknya keluarga pada umumnya membuat keduanya merasa senang. Keduanya bahkan sepakat untuk mencoba menyatukan kembali kedua orangtua mereka, supaya mereka benar-benar bisa kembali menjadi keluarga seutuhnya.
Satu hal yang masih menjadi pertanyaan bagi Chenle dan Jisung adalah alasan dibalik perceraian kedua orangtua mereka. Baik Renjun maupun Jeno tidak pernah sekalipun membicarakan hal tersebut, bahkan menyinggung sedikitpun tidak pernah. Chenle dan Jisung juga sudah pernah mencoba bertanya pada orang-orang terdekat orangtua mereka seperti Mark—kakak Jeno—dan Haechan—kakak ipar Jeno sekaligus sahabat Renjun—tetapi keduanya juga bungkam dan selalu mengalihkan pembicaraan setelahnya.
“Chenle-ya, apa kau percaya jika papa dan appa berpisah karena salah satu diantaranya selingkuh?”
Keduanya sedang berbaring di kasur milik Jisung. Malam ini giliran Chenle yang menginap di rumah Jeno—lebih tepatnya rumah mereka bersama dulu, karena Jeno tidak pernah pindah rumah sejak perpisahannya dengan Renjun. Kamar Jisung juga dulunya adalah kamarnya bersama Chenle, hanya tentu saja isi di dalam kamarnya sudah berubah dalam delapan tahun terakhir.
“Apa kau gila? Dari semua alasan yang mungkin ada, aku tidak percaya kalau salah satu dari mereka selingkuh!” Chenle menyanggah cepat pertanyaan Jisung, bahkan melotot ke arah kembarannya itu seolah mempertanyakan kewarasan adiknya karena memikirkan hal tersebut.
Jisung menghela napasnya, tidak terganggu dengan tanggapan Chenle. “Entahlah. Aku—aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun, termasuk padamu. Tapi dulu—aku lupa tepatnya kapan—dulu sekali, aku pernah tidak sengaja mendengar appa berbicara pada Mark samchon. Sepertinya keduanya sedikit mabuk saat itu karena aku juga melihat botol-botol alkohol di sekitar mereka. Tapi—”
“Apa yang kau dengar Jisung?” tanya Chenle yang tidak sabar menunggu kelanjutan ucapan Jisung yang terpotong.
“Aku mendengar appa berbicara tentang papa. Tidak terlalu jelas memang. Sepertinya appa setengah meracau karena mabuk. Tapi aku mendengar jelas appa bicara tentang papa, tentang selingkuh, dan—dan aku juga mendengar nama Jaemin samchon disebut.”
“Jaemin samchon?” Chenle mengangkat sebelah alisnya.
“Bagaimana menurutmu, Chenle-ya? Apakah mungkin papa berselingkuh dengan Jaemin samchon?” Jisung menoleh ke arah Chenle dan menatapnya seolah menuntut jawaban.
Jaemin. Na Jaemin atau yang biasa Chenle dan Jisung panggil sebagai Jaemin samchon. Jaemin adalah sahabat kedua orangtuanya. Jaemin dan Jeno sudah bersahabat sejak bertemu di sekolah yang sama saat taman kanak-kanak dan sejak saat itu mereka selalu bersama. Jaemin kemudian bertemu Renjun yang saat itu baru saja pindah ke Seoul dan keduanya ternyata bertetangga. Jaemin adalah teman pertama Renjun di Seoul dan keduanya berteman baik meskipun saat itu mereka berbeda sekolah. Jaemin juga adalah orang yang dulu mengenalkan Renjun dan Jeno. Ketiganya kemudian bersahabat, terlebih setelah Renjun bergabung dengan Jeno dan Jaemin di sekolah yang sama saat SMA. Hingga saat Renjun dan Jeno mulai menjalin kasih di jenjang universitas, lalu menikah dan memiliki si kembar, sampai akhirnya memutuskan untuk berpisah, Jaemin adalah saksi hidup dalam setiap langkah pasangan tersebut.
“Tidak mungkin!” Chenle kembali menyanggah. “Aku tidak percaya papa berselingkuh, apalagi dengan Jaemin samchon. Aku juga tidak percaya kalau Jaemin samchon akan tega melakukan hal itu pada appa!”
“Lagipula bukankah aneh jika benar papa menggugat cerai appa karena papa berselingkuh, lalu mengapa papa tetap sendiri selama delapan tahun ini? Papa bahkan juga masih berhubungan baik dengan Jaemin samchon. Bahkan samchon juga beberapa kali berkunjung ke Jilin, tetapi aku tidak pernah melihat mereka bermesraan seperti orang pacaran,” tambah Chenle.
“Aku tidak tahu, Chenle-ya.” Jisung kembali menghela napasnya. “Aku juga tidak percaya. Tapi sepertinya appa mempercayai hal itu.”
“Jaemin samchon memang orang yang baik. Aku tahu samchon juga sangat sayang pada kita berdua. Tapi aku tidak ingin appa yang lain. Aku hanya mau Jeno appa,” ujar Chenle.
“Aku juga tidak mau punya appa atau papa yang lain. Aku hanya mau kedua orangtua kita saja. Aku ingin mereka bersatu lagi,” bisik Jisung setuju.
Selama beberapa saat keduanya kemudian terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jisung merasa cukup yakin dengan apa yang didengarnya bertahun-tahun lalu, bahwa appa-nya beranggapan bahwa sang papa telah berselingkuh. Tetapi ia juga menolak untuk percaya bahwa Renjun mampu melakukan hal itu, terlebih dengan sahabat suaminya sendiri. Namun Jisung juga tahu bahwa hubungan Jeno dan Jaemin sendiri memang agak renggang setelah Jeno dan Renjun berpisah. Mungkinkah hal itu adalah penyebabnya? Ataukah ini semua hanyalah sebuah kesalahpahaman dari pihak appa-nya, dan ada suatu hal lain yang disembunyikan oleh Renjun dari Jeno?
“Jisung-ah.” Suara lirih Chenle membuyarkan lamunan Jisung. Ia sedikit menolehkan kepalanya ke arah Chenle, pertanda bahwa ia mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh saudaranya itu.
“Apakah kau tahu kalau—kalau seharusnya kita mungkin memiliki adik laki-laki atau perempuan?” Chenle berkata dengan sedikit tersendat, seperti tidak yakin dengan apa yang diucapkannya.
“Apa maksudmu?”
Chenle bangun dari posisi berbaringnya dan meraih tasnya. Ia mengaduk isi tasnya, mencari sesuatu, kemudian meraih dompetnya. Jisung hanya memperhatikan dari posisinya berbaring ketika Chenle mengambil sesuatu dari dompetnya, menatapnya selama beberapa detik sebelum memberikannya pada Jisung.
Jisung mengambil benda yang seperti sebuah foto dari tangan Chenle. Setelah memperhatikannya lagi, ia lalu menyadari bahwa itu adalah sebuah sonogram.
“Apa ini? Kenapa kau memilikinya?” tanya Jisung. Kerutan kecil di keningnya menandakan bahwa ia belum memahami situasi yang sedang Chenle coba untuk jelaskan.
“Itu—” Chenle berkata dengan suara tercekat. “itu adalah adik kita.”
Jisung membelalakkan kedua matanya. “APA? Kita punya adik? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Lalu dimana dia sekarang? Apa yang terjadi, Chenle?”
Chenle menarik napas dalam-dalam mendengar rentetan pertanyaan dari Jisung. Ia menutup kedua matanya sejenak, kemudian membukanya kembali dan melihat Jisung menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan.
“Dia sudah tidak ada, Ji,” bisik Chenle. “Aku sendiri tidak begitu yakin, tapi kurasa papa keguguran.”
Shock. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan Jisung ketika mendengar ucapan Chenle. Papa-nya keguguran? Ia mungkin punya adik. Mungkin seharusnya saat ini ada anak kecil yang memanggilnya Jisung hyung atau Jisung oppa. Memikirkannya membuat dada Jisung terasa sesak. Jika itu benar dan dirinya saja sudah merasa sakit seperti ini, bagaimana dengan papa-nya? Demi Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada Renjun papa-nya? Dan apakah appa-nya mengetahui tentang hal ini?
“Apakah papa memberitahumu tentang hal ini?” tanya Jisung.
Chenle menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku menemukan foto ini di kamar Papa di Jilin dulu. Aku sering sekali mendengar Papa menangis setiap malam sambil memperhatikan sesuatu. Aku penasaran, lalu aku masuk ke kamar Papa saat Papa tidak ada dirumah dan menemukan foto ini. Aku mengambilnya dan sepertinya Papa menganggap jika foto ini hilang.”
“Tapi foto ini bisa jadi milik siapa saja, Chenle. Kita tidak bisa seratus persen yakin jika ini milik Papa,” ujar Jisung.
“Lalu mengapa Papa menangis jika foto itu bukan milik Papa?” tanya Chenle sebelum kemudian menambahkan ketika melihat Jisung membuka mulutnya. “Lagipula yang membuatku yakin adalah apa yang ada di belakangnya. Coba balik foto itu, Ji.”
Jisung membalik sonogram itu seperti yang dikatakan Chenle dan menemukan deretan kalimat yang ia yakini adalah tulisan tangan Renjun. Tulisan itu berbunyi:
‘Baby L, kami mencintaimu dan menunggu kehadiranmu.
-Renjun papa, Jeno appa, Chenle dan Jisung hyung/oppa.’
Tidak ada keraguan lagi. Jisung yakin bahwa sonogram itu adalah milik papa-nya dan yang berada di dalam foto itu adalah adiknya. Adik yang bahkan kini sudah pergi sebelum ia mengetahui kehadirannya.
“Ji, apakah kau ingat, beberapa hari sebelum Appa dan Papa memberitahu kita bahwa mereka akan berpisah, Papa pernah jatuh dari tangga?”
Ucapan Chenle memancing sebuah memori yang sejujurnya sudah hampir dilupakan oleh Jisung. Tetapi kini ia mengingatnya lagi. Betapa paniknya ia dan Chenle saat itu karena dirumah hanya ada mereka berdua yang tidak lebih dari dua bocah berusia tujuh tahun.
“Ya. Kenapa dengan kejadian itu?”
“Papa meminta kita untuk menelepon Appa, tetapi Appa tidak pernah mengangkatnya meskipun kita sudah berulangkali meneleponnya. Pada akhirnya kita menelepon Jaemin samchon untuk meminta bantuan karena Papa sudah tidak sadarkan diri dan Jaemin samchon-lah yang membawa Papa ke rumah sakit.”
“Lalu setelah Papa keluar dari rumah sakit, ia tiba-tiba membawa semua baju-bajunya dan pergi dari rumah, kau ingat kan? Dan keesokan harinya, Papa dan Appa memberitahu kita bahwa mereka akan berpisah.”
“Aku tiba-tiba saja menjadi kepikiran. Bagaimana—bagaimana jika alasan mereka berpisah adalah karena mereka kehilangan adik kita?” ujar Chenle.
“Tapi mereka kan punya kita! Kenapa mereka harus berpisah karena mereka kehilangan seorang bayi disaat mereka sudah memiliki kita yang juga membutuhkan mereka?” bantah Jisung yang sedikit tidak terima. Baginya sungguh tidak adil jika benar kedua orangtuanya bercerai karena mereka kehilangan seorang anak yang bahkan belum berwujud sempurna, ketika ada ia dan Chenle yang membutuhkan kasih sayang dari orangtua yang lengkap di masa pertumbuhannya.
“Aku tidak tahu, Jisung! Aku juga tidak yakin, tapi ini adalah salah satu kemungkinan. Coba kau pikirkan! Papa mungkin saja menyalahkan Appa karena Appa tidak mengangkat teleponnya saat itu sehingga Papa terlambat dibawa ke rumah sakit dan akhirnya kehilangan bayinya,” kata Chenle.
Jisung terdiam mendengar ucapan Chenle. Meskipun masih merasa tidak adil, namun ia bisa melihat suatu kemungkinan seperti yang dikatakan oleh kakak yang lahir tujuh menit lebih dulu darinya itu. Jika saat itu Jeno tidak memilih untuk bekerja di hari liburnya. Jika saja saat itu Jeno dengan cepat mengangkat teleponnya. Jika Jeno bisa datang secepat mungkin untuk membawa Renjun ke rumah sakit. Apakah saat ini keluarga mereka mungkin masih utuh dengan adanya satu tambahan anggota keluarga lain?
- - -
Jeno memijat kepalanya yang terasa sangat pening. Ia kira dengan kehadiran Renjun kembali, Jisung akan berubah. Beberapa bulan terakhir ini Jisung memang seolah menjelma menjadi anak yang rajin dan tidak membuat ulah di sekolah. Tetapi nyatanya hari ini Jeno kembali mendapatkan panggilan dari sekolah anaknya karena Jisung tertangkap basah saat hendak kabur dari sekolah dengan memanjat gerbang.
Dalam perjalanan pulang, tidak ada satupun dari ayah dan anak itu yang mengeluarkan suara. Jeno berusaha meredam emosinya, mengingat ucapan Renjun bahwa ada baiknya ia menanyakan alasan Jisung terlebih dahulu tentang mengapa sang putra melakukan semua pelanggaran yang dilakukannya. Setelah itu barulah Jeno boleh memutuskan bagaimana cara menghadapi Jisung.
“Lee Jisung!”
Suara berat dan tegas milik Jeno menghentikan langkah Jisung yang hendak beranjak menuju kamarnya begitu memasuki rumah.
“Appa masih mau bicara padamu!” Jeno menggerakkan tangannya dengan gestur menyuruh Jisung untuk duduk di ruang keluarga.
Jisung tahu dari nada suara ayahnya bahwa Jeno sedang tidak ingin dibantah. Tetapi Jisung juga sedang tidak ingin bicara pada Jeno. Sejak percakapannya dengan Chenle malam itu, sikap Jisung pada Jeno kembali berubah. Sadar tidak sadar, Jisung seolah menyalahkan Jeno atas apa yang terjadi pada papa-nya, atas keluarga mereka.
“Kau tahu apa kesalahanmu hari ini?” tanya Jeno ketika Jisung sudah duduk di salah satu sofa yang menghadap ke arah televisi.
Jisung hanya diam tanpa menatap Jeno. Kedua mata sipitnya justru teralih pada sebuah foto yang tergantung pada dinding di atas televisi. Foto pernikahan kedua orangtuanya. Jisung tidak mengerti mengapa Jeno masih memajang foto itu, seolah Jeno dan Renjun masih bersama. Seolah Jeno tidak menyebabkan Renjun—papanya—pergi dari rumah dan meninggalkan Jisung, memisahkan Jisung dan Chenle.
Tiba-tiba Jisung merasa marah. Kini ia yakin bahwa Jeno adalah penyebab Renjun memutuskan untuk berpisah. Tetapi mengapa Jeno menuduh Renjun berselingkuh seolah Renjun adalah penyebab hancurnya rumah tangga mereka?
“Lee Jisung—"
“Dan apakah Appa tahu apa kesalahan Appa?” Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa bisa Jisung cegah.
Jeno mengerjapkan kedua matanya. Ia jelas kaget karena tiba-tiba Jisung balik menodongnya dengan pertanyaan itu. Terlebih lagi ia mendengar kemarahan dalam ucapan Jisung.
“Apa maksudmu, Jisung?”
Jisung tertawa kecil. Matanya masih menatap lurus ke arah foto pernikahan kedua orangtuanya. “Aku mengingat semuanya sekarang. Appa yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan sampai selalu pulang larut malam dan bahkan tetap bekerja di hari libur. Jangankan untuk bermain, Appa bahkan tidak lagi punya waktu untuk makan bersama denganku dan Chenle, tidak, bahkan mengucapkan selamat tidur-pun tidak pernah.”
Jeno tertegun mendengar rentetan kalimat yang meluncur dari mulut putranya. Ia kembali teringat pada beberapa tahun silam, masa dimana ia memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja. Saat dimana ia tidak lagi memiliki waktu untuk keluarga kecilnya. Dalam pembelaan Jeno, ia tidak melakukannya tanpa alasan. Semua yang ia lakukan hanya dengan tujuan yang terbaik untuk keluarganya. Saat itu ia sedang berusaha untuk mendapatkan promosi di kantornya. Ia berpikir bahwa dengan jabatan yang lebih tinggi, ia akan bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lebih baik. Fokusnya yang hanya tertuju pada satu hal itu membuatnya lupa bahwa keluarganya tidak hanya membutuhkan sekedar materi darinya, namun juga waktu, perhatian dan kasih sayang yang tidak lagi ia penuhi.
“Dimana Appa saat aku dan Chenle membutuhkan Appa? Dimana Appa saat Papa membutuhkan Appa?” Jisung kini mengalihkan pandangannya ke arah Jeno yang masih membeku, nampaknya pria itu cukup shock melihat Jisung yang tiba-tiba meledakkan emosinya.
“Dimana Appa saat adikku membutuhkan Appa?” Suara lirih Jisung membuat Jeno mengernyitkan keningnya, merasa ada yang janggal dari ucapan Jisung.
“Jika hari itu Appa tidak lebih memilih pergi ke kantor. Jika hari itu Appa mengangkat telepon dari kami. Jika saat itu Appa ada disini, mungkin—mungkin adikku bisa selamat dan Papa tidak akan pergi meninggalkan kita!”
Jeno mengerjapkan kedua matanya bingung. Suara Jisung mulai memudar di telinganya. Kepalanya terasa semakin pening ketika ia mencoba mencerna seluruh ucapan Jisung. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang diucapkan oleh putra bungsunya itu.
“Apa maksudmu, Jisung?”
Jisung berhenti menumpahkan emosinya ketika ia mendengar Jeno berbicara dengan suara yang tidak lebih keras dari sebuah bisikan namun terdengar tegas dan serius.
“Apa maksudmu?” Jeno mengulang pertanyaannya. “Adik? Sejak kapan kau punya adik, Lee Jisung? Appa tidak mengerti—”
“Apakah Appa memang tidak tahu atau pura-pura tidak mengerti?”
“Demi Tuhan, Lee Jisung! Appa sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan!”
Jisung terdiam dan menatap Jeno. Benarkan appa-nya tidak tahu? Apakah Jeno juga sama sepertinya? Tidak pernah mengetahui kehilangan yang dialami oleh Renjun? Apakah sang papa menyembunyikan rahasia itu dari semua orang? Mendadak Jisung menjadi ragu untuk menjawab pertanyaan Jeno. Haruskan ia memberitahu appa-nya? Ia merasa Renjun adalah orang yang seharusnya memberitahu Jeno. Jika ia memberitahu Jeno sekarang, pasti hal tersebut akan menjadi masalah baru bagi kedua orangtuanya, dan Jisung tidak menginginkan hal itu.
“Lee Jisung, apa maksud ucapanmu tadi?” Jeno mengulang kembali pertanyaannya, pertanda bahwa ia tidak akan berhenti bertanya sampai mendapatkan jawaban.
Jisung meneguk ludahnya, mendadak merasa gugup. Terpikir olehnya untuk berbohong, tetapi otaknya yang biasanya cerdas itu kini tidak mau bekerjasama untuk mencari alasan.
“Lee Jisung—” Ucapan Jeno terpotong ketika tiba-tiba Jisung berdiri dan setengah berlari menuju kamarnya. Ia baru akan beranjak untuk menyusul putranya itu ketika Jisung muncul kembali dari balik pintu dan menghampirinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata-pun, Jisung menyerahkan selembar kertas pada Jeno, yang menerimanya dengan kerutan di dahi. Kedua bola mata Jeno melebar ketika menyadari benda yang diberikan Jisung padanya. Sonogram—yang ditinggalkan Chenle—kini berada di tangan Jeno. Ayah dari dua anak itu seketika merasa lemas ketika membaca kalimat yang dikenalinya sebagai tulisan tangan mantan suaminya di balik foto itu.
“Chenle yang menemukan foto itu di kamar Papa dan ia juga yang menunjukkannya padaku.” Jisung mulai menjelaskan, tahu bahwa Jeno belum sanggup untuk merangkai kalimat bahkan untuk sekedar bertanya.
“Delapan tahun lalu, beberapa hari sebelum Appa dan Papa memberitahu aku dan Chenle jika kalian akan berpisah. Apakah Appa ingat bahwa Papa sempat dilarikan ke rumah sakit karena jatuh dari tangga?”
Ya. Tentu saja Jeno mengingatnya. Kebodohannya meninggalkan ponsel di kantornya ketika pergi mengecek site. Dan betapa terkejutnya ia ketika menemukan puluhan missed call dari nomor milik Renjun dan Jaemin.
“Kurasa—tidak, aku dan Chenle—kami rasa, saat itu Papa mengalami keguguran,” ucap Jisung lirih.
Bagai disambar petir, rasanya seluruh organ tubuh Jeno serasa lumpuh. Benarkah? Renjun tidak pernah mengatakan apa-apa. Jangankan tentang keguguran, ia bahkan tidak pernah tahu jika Renjun pernah mengandung lagi.
“Apakah Appa tidak tahu tentang ini? Kupikir—aku mengira ini adalah alasan Appa dan Papa berpisah.” Jisung berkata dengan sedikit hati-hati menilik eskspresi Jeno yang tidak terbaca.
Jeno masih terdiam. Ia kini mengingatnya. Hari itu, ketika akhirnya ia membaca pesan singkat dari Jaemin yang memberitahunya bahwa Renjun dilarikan ke rumah sakit, ia bergegas menyusul kesana secepat yang ia bisa. Namun sesampainya ia di kamar dimana Renjun berada, ia menemukan Jaemin sedang memeluk Renjun erat dan mengecup pucuk kepalanya, serta Renjun yang memegang erat kemeja yang dipakai Jaemin seolah hidupnya bergantung pada pria itu. Tentu bukan hal yang asing bagi Jeno melihat Renjun dan Jaemin berpelukan—mengingat keduanya bersahabat dekat—tetapi saat itu, dalam keadaannya yang teramat lelah, panik, dan ditambah secuil rasa cemburu yang tiba-tiba muncul, pandangan Jeno berubah menjadi merah. Alih-alih bertanya dan mengkhawatirkan kondisi Renjun, emosi Jeno justru meledak dan menuduh Renjun berselingkuh dengan Jaemin. Jeno bahkan memukul Jaemin, mengabaikan Renjun yang berteriak memintanya untuk berhenti. Tanpa mau mendengarkan Renjun dan Jaemin yang mencoba untuk menjelaskan, Jeno pergi begitu saja dari rumah sakit.
Selama Renjun dirawat, Jeno justru semakin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Mengabaikan Renjun yang menunggunya datang ke rumah sakit, serta kedua anaknya yang belum mengerti apapun. Toh, pikir Jeno getir, ada Jaemin yang akan merawat Renjun. Bahkan Jeno tidak menjemput Renjun yang sudah boleh pulang dari rumah sakit, dan Jaemin-lah yang mengantarkannya pulang. Hingga beberapa malam kemudian, saat Jeno pulang larut seperti biasanya, Renjun sudah menunggunya sambil duduk dengan pandangan lurus menatap foto pernikahan mereka. Selembar amplop cokelat tergeletak di atas meja di depannya.
Jeno tidak pernah melupakan bagaimana Renjun menoleh ke arahnya saat itu, dan betapa dingin suaranya saat berkata,
“Lee Jeno-ssi, mari kita berpisah.”
Dan Jeno baru menyadari. Bahwa ia tidak pernah tahu mengapa Renjun sampai dilarikan ke rumah sakit saat itu.
- - -
Renjun baru saja pulang dari mengantar Chenle les piano ketika pintu apartemennya diketuk. Ia meletakkan tas-nya di atas meja makan dan bergegas menuju pintu depan. Di balik pintu tersebut, nampak Jeno berdiri dan menatapnya. Sorot mata pria itu nampak dingin dan rahangnya mengeras, pertanda bahwa pria itu sedang marah. Namun Renjun juga dapat melihat kekecewaan dan kesedihan dari kedua bola mata yang sedang menatapnya itu.
Tidak seperti biasanya, tanpa menunggu Renjun mengucapkan apapun atau mempersilakannya masuk, Jeno langsung menerobos ke dalam apartemen. Renjun sejenak merasa kaget, kemudian menutup pintu di belakangnya dan menyusul Jeno yang sudah berdiri di ruang tengah apartemennya. Renjun hanya diam dan memperhatikan Jeno yang membelakanginya, menunggu pria itu menyampaikan apa yang mengganggu pikirannya. Setelah beberapa saat, Jeno tiba-tiba berbalik dan menghampiri Renjun dengan tangan terulur menyodorkan sesuatu.
“Bisakah kau menjelaskan ini padaku?”
Renjun membelalakkan kedua matanya. Foto itu—foto yang dikiranya sudah hilang saat ia masih berapa di Jilin—bagaimana foto itu bisa berakhir di tangan Jeno?
“Huang Renjun,” panggil Jeno lagi ketika Renjun hanya diam. “Tidak adakah yang mau kau jelaskan padaku?”
“Aku—aku—” Renjun menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak. Setiap kali ia melihat foto itu, ia selalu teringat akan kehilangan terbesar yang pernah dirasakannya.
“Apakah ini alasan mengapa hari itu kau dilarikan ke rumah sakit?” Jeno bertanya lagi.
Renjun memejamkan kedua matanya. Kilasan memori itu kembali padanya begitu jelas seolah kejadian itu baru kemarin terjadi dan bukannya delapan tahun yang lalu. Tidak pernah sekalipun ia berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu. Seandainya ia lebih berhati-hati, seandainya ia memperhatikan kemana ia melangkah, seandainya ia tidak terlalu banyak melamun. Begitu banyak pengandaian yang dipikirkannya selama delapan tahun terakhir. Seandainya ia tidak ragu untuk memberitahu Jeno lebih awal tentang kehamilannya, mungkin Jeno akan selalu berada di sisinya seperti saat ia mengandung Chenle dan Jisung dulu.
“Ya,” jawab Renjun pelan. Bulir-bulir air bening telah mengalir dari kedua mata yang masih tertutup itu.
Meskipun sudah memperkirakan hal tersebut, namun mendengarnya langsung dari Renjun membuat hati Jeno terasa diremas kencang. Begitu sakit rasanya. Beginikah rasanya kehilangan sesuatu yang kau tidak pernah tahu ada? Anaknya. Calon anaknya, yang tidak pernah ia ketahui kehadirannya. Beribu kata maaf yang Jeno ucapkan dalam hati tidak akan cukup untuk mengobati duka-nya.
Kenapa? Kenapa Renjun tidak pernah mengatakan apa-apa? Jeno sudah akan membuka mulutnya untuk bertanya ketika ia menyadari sesuatu dan tersentak. Tidak, bukan salah Renjun yang tidak menjelaskan apapun. Bukankah hari itu, ia sendiri yang tidak mau mendengarkan penjelasan Renjun? Ia sendiri yang tidak mengacuhkan Renjun, bahkan sampai kekasih hatinya itu pulang dari rumah sakit. Ia yang tidak memberikan Renjun kesempatan untuk mengatakan apapun. Bukan salah Renjun jika akhirnya ia memilih untuk menyimpan rahasia itu sendiri karena berpikir bahwa Jeno tidak akan peduli.
Maka alih-alih menuntut penjelasan, Jeno justru menarik Renjun ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat satu-satunya orang yang memegang kendali penuh atas hatinya, membiarkan tangisan pilu Renjun pecah.
“Maaf,” bisik Jeno sambil mengusap lembut tengkuk Renjun. “Maafkan aku.”
Jika saja waktu bisa diputar kembali, Jeno tidak akan mengabaikan keluarganya. Ia tidak akan menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utamanya. Persetan dengan kenaikan jabatan. Jabatan itu tidak ada artinya lagi ketika ia kehilangan separuh jiwanya. Penghasilannya yang melimpah tidak lagi ada gunanya ketika ia kehilangan keluarganya.
Seharusnya ia terus berada di sisi Renjun. Seharusnya ia menjaga Renjun di masa kehamilannya. Dan jika tragedi itu memang harus terjadi, seharusnya ia yang berada di sisi Renjun dan bukan Jaemin. Seharusnya Jeno yang menghibur Renjun dan menjadi pilar kekuatan bagi suaminya. Demi Tuhan, sungguh Jeno ingin mengutuk dirinya sendiri jika mengingat apa yang ia lakukan hari itu. Renjun baru saja kehilangan bayi-nya—bayi mereka—dan ia justru menaburkan garam pada luka yang masih menganga. Betapa Jeno sangat menyesali setiap kata yang keluar dari mulutnya hari itu.
Terlebih mengingat bahwa ia tidak hanya melukai Renjun saat itu, tetapi juga sahabatnya—Jaemin. Tidak seharusnya Jeno memukul Jaemin tanpa mendengarkan penjelasan seseorang yang sudah bersamanya selama hampir seluruh hidupnya. Jeno justru menganggapnya sebagai penghianat di saat Jaemin hanya mencoba menjadi sahabat yang baik bagi Renjun dengan berada di sisinya saat Jeno lupa akan tugasnya. Nyatanya bahkan setelah Jeno dan Renjun berpisah, Jaemin tidak pernah melewati batasnya. Pria bermarga Na itu tidak pernah mengambil langkah apapun, karena kenyataannya, ia tidak pernah mencoba merebut Renjun dari Jeno.
“Ini semua salahku. Maafkan aku. Seharusnya aku ada di sampingmu. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Maaf.” Jeno terus mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali meskipun ia sendiri tahu bahwa ia tidak akan pernah mampu untuk memaafkan dirinya sendiri atas apa yang dilakukannya delapan tahun yang lalu.
Renjun hanya diam dan balas memeluk Jeno erat. Tanpa pernah ia duga, separuh dari beban yang selama ini ditanggungnya sendiri kini terasa lepas.
Hari itu, sepasang orangtua itu menangis bersama. Keduanya tenggelam dalam duka atas kehilangan yang mereka alami delapan tahun yang lalu. Bersama, mereka mencari penghiburan dari satu sama lain dan saling menguatkan untuk pertama kalinya.
- - -
Ini adalah kali pertama Renjun kembali menginjakkan kaki di rumah yang dulu pernah ditinggalinya selama hampir sepuluh tahun. Sejak kembali ke Seoul, walaupun sering mengantar Chenle ke rumah ini, Renjun sendiri tidak pernah masuk ke dalam. Terlalu banyak kenangan baik yang manis maupun pahit di dalam rumah itu.
Namun malam ini, atas undangan Jeno dan permintaan dari kedua anaknya, Renjun akhirnya menyanggupi untuk makan bersama dirumah lamanya itu. Makan malam kali ini terasa berbeda dengan ketika mereka makan bersama di apartemen Renjun. Mungkin karena rumah ini adalah rumah yang dulunya mereka tempati bersama sebagai satu keluarga yang utuh. Maka ketika mereka berempat duduk bersama di meja makan, tanpa ada yang menyuarakan-pun, keempatnya memikirkan hal yang sama. Seperti inilah yang seharusnya terjadi jika perpisahan itu tidak pernah ada delapan tahun yang lalu. Keempatnya merasa lengkap seolah tempat mereka memang berada disana.
Chenle dan Jisung berkali-kali saling melirik satu sama lain. Keduanya memperhatikan interaksi orangtua mereka. Renjun yang dengan telaten menyiapkan makanan untuk Jeno, dan sang Appa yang tersenyum tanpa melepaskan pandangan dari Renjun. Meskipun tidak tahu pasti bagaimana hubungan kedua orangtuanya sekarang, namun si kembar bisa melihat bahwa ada sesuatu yang berubah dari cara Renjun dan Jeno berinteraksi dibandingkan beberapa minggu yang lalu saat Renjun dan Chenle baru menginjakkan kaki kembali di Korea Selatan.
“Aku ingin menginap disini malam ini,” ujar Chenle setelah acara makan malam mereka selesai dan Renjun mulai membereskan meja makan.
“Baiklah,” sahut Renjun. “Tidak apa-apa. Papa bisa pulang sendiri.”
“Tidak tidak tidak!” Chenle menggoyangkan jari telunjuknya. “Papa juga akan menginap disini!”
Renjun menghentikan kegiatannya dan menatap Chenle dengan sebelah alis terangkat.
“Bagaimana jika kita menonton film bersama? Aku ingat sekali saat aku dan Jisung masih kecil, kita sering sekali menonton film bersama di ruang keluarga malam-malam, dengan lampu dimatikan dan Appa yang membuat popcorn!” seru Chenle.
Renjun dan Jeno saling bertatapan sebelum keduanya beralih menatap Chenle dan Jisung bergantian. Chenle terlihat sangat bersemangat, sementara walaupun Jisung tidak mengatakan apa-apa, namun Renjun dapat melihat sorot berharap dari manik matanya.
“Baiklah, jika Appa kalian tidak keberatan—”
“Tentu tidak.” Jeno menjawab dengan cepat. Senyum lebar terpatri di wajah tampannya. “Appa akan menyiapkan popcorn-nya dan kalian bisa bersiap diruang tengah.”
“Yeay! Appa yang terbaik!” Chenle melompat dan mencium pipi Jeno. “Papa juga, terima kasih!”
Setelah memeluk Renjun, Chenle dengan cepat menarik Jisung dan membawanya menuju ruang tengah, meninggalkan kedua orangtua mereka.
“Apa kau tidak lelah? Besok kau masih harus bekerja kan?” tanya Renjun yang sudah kembali membersihkan meja makan dan berjalan menuju dapur.
“Tidak masalah,” sahut Jeno yang mengikuti Renjun ke dapur untuk mulai membuat popcorn.
“Jadi kau akan menginap kan?” tanya Jeno sambil menyiapkan bahan dan peralatan untuk membuat popcorn sementara Renjun mencuci piring.
Renjun hanya diam sambil membilas sendok-sendok yang sudah diberi sabun. Jeno yang menunggu jawabannya lalu menghela napas.
“Jangan memaksakan diri jika kau memang tidak ingin menginap. Jika sudah terlalu larut, aku akan mengantarkanmu pulang dan—”
“Baiklah.”
“Apa?” tanya Jeno tidak mengerti.
Renjun yang sudah selesai dengan pekerjaannya lalu menoleh dan tersenyum pada Jeno. “Baiklah, aku akan menginap.”
“Sekarang selesaikan tugasmu, Tuan Lee. Aku akan menyusul anak-anak dan menunggu di ruang keluarga,” lanjut Renjun dengan bibir yang masih tersenyum seraya berjalan meninggalkan Jeno di dapur.
Jeno tidak bisa berhenti tersenyum selama membuat popcorn. Hati dan jiwanya terasa lengkap lagi, seperti potongan puzzle yang sempat hilang dan kini sudah kembali terpasang pada tempatnya. Kali ini, Jeno akan menjaga potongan puzzle itu dengan baik.
- - -
Malam semakin larut dan acara menonton film mereka sudah selesai beberapa saat yang lalu. Chenle dan Jisung sudah masuk ke dalam kamar mereka untuk tidur. Jeno sendiri sedang membereskan bekas tempat popcorn dan minuman, lalu membawanya ke dapur. Sementara itu, Renjun hanya berdiri di tengah ruang keluarga sambil menatap foto pernikahannya.
Ia cukup terkejut ketika tadi memasuki ruang keluarga dan menemukan foto pernikahannya masih terpajang di tempatnya. Ketika mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, ia lalu menyadari bahwa tidak ada satupun yang berubah. Foto-fotonya dengan Jeno masih terpajang di salah satu rak yang memang khusus digunakan untuk memajang foto, bercampur dengan foto-foto masa kecil Chenle dan Jisung. Renjun sendiri-lah yang memajangnya disana dulu.
Lamunannya buyar ketika sepasang lengan memeluk pinggangnya. Wangi maskulin milik Jeno dengan cepat memasuki indra penciumannya. Alih-alih menyingkirkan lengan Jeno, Renjun justru mencondongkan tubuhnya ke belakang, bersandar di dada Jeno. Keduanya hanya terdiam sambil sama-sama menatap ke arah foto pernikahan mereka.
Sejak hari dimana Jeno mendatangi Renjun untuk meminta penjelasan, keduanya menyadari ada yang berubah dari hubungan mereka. Meskipun mereka juga belum mendefinisikan ulang hubungan mereka selain sepasang orangtua bagi Chenle dan Jisung. Saat itu Renjun akhirnya menjelaskan semuanya pada Jeno, tentang alasan mengapa ia tidak segera memberitahukan mengenai kehamilannya, mengapa ia memilih untuk menyembunyikan fakta bahwa ia mengalami keguguran, dan mengapa akhirnya ia memilih untuk bercerai.
Tidak hanya Renjun saja, tetapi Jeno juga kemudian menjelaskan alasan yang membuatnya begitu fokus pada pekerjaannya saat itu. Alasan mengapa hari itu ia tidak dengan segera mengangkat teleponnya. Bahkan kecemburuannya ketika menemukan Renjun dan Jaemin berpelukan saat itu, serta banyaknya ucapan maaf yang disampaikan oleh Jeno. Pria itu mengatakan bahwa ia menceritakan dari sudut pandangnya bukan untuk mencari pembelaan atas semua perbuatannya di masa lalu. Ia ingin menceritakan sisinya untuk memberitahu Renjun bahwa semua yang ia lakukan bukan karena ia sudah tidak mencintai Renjun lagi seperti yang diyakini oleh Renjun selama ini. Justru sebaliknya, semua yang ia lakukan semata-mata karena ia menginginkan yang terbaik untuk Renjun dan kedua anak mereka. Akan tetapi ia terlalu gegabah dan tidak berpikir panjang, dan bahwa hanya dirinyalah yang patut disalahkan atas kehancuran keluarga mereka.
“Kenapa kau masih memajangnya?” Suara lembut Renjun membuat Jeno mengalihkan perhatian pada lelaki mungil dalam pelukannya.
Tahu bahwa Renjun merujuk pada foto pernikahan mereka, Jeno mengeratkan pelukannya di pinggang Renjun dan menjawab, “Awalnya aku membiarkannya karena tidak ingin Jisung merasa ada yang berbeda saat berada di ruangan ini. Namun pada akhirnya aku sadar, bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah sanggup untuk menurunkannya.”
Jeno mengecup pelan pelipis Renjun dan lelaki Aries itu membiarkannya, bahkan menutup kedua matanya. Renjun tidak bisa berbohong. Bahkan setelah sekian tahun dan semua yang terjadi pada mereka, pelukan Jeno adalah tempat paling nyaman baginya.
“Jika kau menyadarinya, kau akan melihat bahwa aku tidak pernah sekalipun menghilangkan jejakmu di rumah ini. Aku tidak bisa, Renjun,” ucap Jeno. “Aku tidak mengubah apapun yang kau atur, karena dengan begitu, aku bisa berpura-pura bahwa kau masih ada disini. Bahwa kau tidak pernah pergi.”
“Saat itu, kupikir aku harus melepasmu supaya kau bahagia, entah dengan Jaemin atau dengan kebahagiaanmu sendiri. Tetapi ternyata aku salah. Seharusnya saat itu aku menahanmu. Seharusnya saat itu aku bicara padamu dan menyelesaikan permasalahan kita. Pada akhirnya yang kulakukan hanya menyakitimu, menyakiti Chenle dan Jisung, juga menyakiti diriku sendiri.” Jeno menutup matanya ketika merasakan Renjun berbalik menghadap ke arahnya.
“Aku sangat ingin memohon kesempatan kedua padamu untuk memulai semuanya dari awal, tetapi aku tidak cukup percaya diri setelah mengingat semua yang kulakukan padamu. Aku takut. Sangat takut kalau aku akan menyakitimu lagi dan kau akan pergi lagi dariku,” bisik Jeno.
Renjun mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Jeno, kemudian turun untuk mengusap rahangnya yang menegang dengan lembut. Dengan sedikit berjinjit, Renjun mengecup rahang tegas Jeno, membuat pria itu membuka kedua matanya dan bersirobok dengan manik rubah milik Renjun.
“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Jeno,” ucap Renjun. “Aku yang memilih untuk kabur dari masalah kita tanpa membicarakan apapun denganmu. Kita sama-sama punya andil dalam perpisahan kita delapan tahun yang lalu. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri karena aku sudah memaafkanmu.”
“Satu hal yang harus kau tahu. Saat aku pergi delapan tahun yang lalu, itu juga bukan karena aku sudah tidak mencintaimu lagi ataupun karena aku sudah memiliki penggantimu. Aku memilih untuk pergi karena aku tidak sanggup dengan duka yang kutanggung sendiri. Saat itu aku juga lupa, bahwa seharusnya aku berbagi denganmu. Bukan hanya aku yang kehilangan, tetapi kau juga, meskipun saat itu kau tidak tahu apapun. Tapi alih-alih datang padamu, aku justru mendorongmu sejauh mungkin dan pergi begitu saja. Maafkan aku.” Renjun menatap Jeno sendu, membuat Jeno mengusap lembut kepalanya.
“Tidak, sayang. Aku bisa mengerti. Bagaimana kau mau berbagi denganku jika aku sendiri tidak pernah ada untukmu. Tidak ada yang perlu dimaafkan darimu.” Jeno menempelkan keningnya pada Renjun, membuat wajah mereka begitu dekat sampai mereka bisa merasakan deru napas masing-masing.
“Aku menyadari segala kesalahanku padamu, dan melepaskanmu begitu saja adalah penyesalan terbesarku. Jika kau mengijinkanku, bolehkah aku memperbaiki semuanya? Mengobati luka hatimu, Chenle, dan Jisung. Aku akan membayar semua dosaku pada kalian dengan hidupku,” bisik Jeno.
Tanpa berkata apapun, Renjun mengalungkan tangannya di leher Jeno dan menarik tengkuknya mendekat. Bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya, menyalurkan rindu yang tidak lagi bisa dibendung oleh keduanya. Jeno memeluk Renjun begitu erat sampai tubuh keduanya menempel, seolah takut jika Renjun bisa saja tiba-tiba menghilang.
“Aku mencintaimu, Lee Jeno,” ucap Renjun pelan dengan bibir yang masih menempel dengan milik Jeno.
“Aku juga mencintaimu.” Jeno meraih tangan kiri Renjun dan meletakkannya di dadanya, membuat Renjun bisa merasakan detak jantungnya. “Dari dulu, sekarang, dan sampai selamanya, Lee Renjun. It’s always been you.”
Ketika Jeno menciumnya lagi, Renjun merasakan hatinya kembali penuh. Kali ini ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Demi dirinya dan Jeno. Demi Chenle dan Jisung. Dan ia percaya bahwa Jeno akan melakukan hal yang sama.
This time, they’ll make it work.
-Fin-
“Sometimes, two people have to fall apart to realize how much they need to fall back together.”
