Work Text:
"Ayah mengapa membawa Kakek ke mari? Apakah keadaannya sudah membaik? Dan kenapa harus ke rumah ini? Bagaimana jika penyakit Kakek kam–"
"Jen, tenang dulu. Pelan-pelan. Ayah mengikuti keinginan Kakekmu. Ia –"
"Tap–"
"Kita tidak bisa tutup mata. Kita harus sadar bahwa umurnya tak lagi panjang dan ia pun menyadarinya. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah tua ini. Tempat dimana ia tumbuh dewasa"
"..."
"Sudah, Jen. Sebaiknya kau temui kakekmu di halaman belakang."
"Ia pasti menunggu kehadiranmu, Jeno."
Mendengar ucapan Paman dan Ayahnya mengenai Kakek yang menunggu dirinya, Jeno pun melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menuju halaman belakang. Tempat favorite Sang Kakek.
Jeno sempat bertanya mengapa taman yang hanya dibatasi pagar kayu yang tingginya tak melebihi 60 cm ini menjadi tempat favorite Kakeknya. Dan Pria Tua itu hanya memberikan jawaban klise
'Taman ini menyimpan banyak kenangan'
Pemuda kelahiran April itu menghentikan langkahnya, ketika netranya mendapati punggung lebar Kakeknya yang tak sekokoh dulu. Melihat tubuh yang telah layu itu membawa Jeno kembali ke dalam memori lama. Pemuda tampan itu mengingat bahwa dirinya sering menemani sang Kakek menghabiskan sore di taman ini. Meski mereka tinggal di kota, namun di tiap kesempatan yang ada Kakeknya akan datang kemari.
Yang biasanya Si Tua ini lakukan hanyalah duduk diam sambil menatap kosong rumah seberang, rumah yang berhadapan langsung dengan taman belakang.
Namun semenjak Jeno menginjak remaja, Pemuda berkulit pucat itu sudah tak begitu sering menemani Kakeknya karena tumpukan tugas yang tiada henti. Dan juga sejak beberapa tahun lalu, kondisi kesehatan Kakek tidak memungkinkan untuk bepergian. Jadi pemandangan seperti ini sudahlah lama tidak Jeno dapati.
"Kakek?"
Tersentak kaget, Kakek Jeno langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara, "Jeno? Kau sudah sampai?" tanyanya dengan senyum khas.
Meski kulit sudah tak mampu lagi melawan gravitasi tapi lengkungan mata ketika tersenyum cukup terlihat jelas di wajah tua itu.
Jeno yang ditanya menggangguk sebagai jawaban.
"Kakek kenapa di sini? Ini masih pukul 01.00 siang, Kakek tidak kepanasan?"
Yang ditanya tak kunjung menjawab.
Perhatian Si Tua tercuri lagi pada bangunan di depannya. Rumah yang sudah begitu lama tak berpenghuni, namun masih terawat dengan baik. Bahkan sepanjang ingatan yang Jeno miliki, ia hanya beberapa kali melihat sang pemilik rumah, em, tapi sebenarnya Jeno pun masih ragu apa benar mereka yang datang adalah pemilik rumah karena Jeno tak mengetahui apapun mengenai rumah tersebut. Selain fakta bahwa rumah itu tak berpenghuni dan pesuruh hanya akan membersihkannya beberapa hari sekali.
"Kakek sedang menunggu seorang teman."
Setelah hening beberapa saat, pertanyaan Jeno akhirnya terjawab. Kakeknya memberikan jawaban dengan senyum simpul. Namun tatapan matanya begitu sendu.
"Opa Jaemin akan kemari?" tanya Jeno yang dijawab dengan gelengan.
"Opa Doyoung? Kakek Jisung?" Jeno memberikan pertanyaan beruntun dan masih dijawab dengan gelengan, "lalu siapa, Kek?"
Jeno menyerah. Tak tahu nama siapa yang harus disebutnya. Karena diantara semua teman, hanya mereka bertiga yang masih bertukar kabar dengan Kakeknya.
"Kau tak mengenalnya"
Jeno mengernyitkan alisnya
Bagaimana bisa ada teman kakek yang tak aku kenal?
Tentu Jeno merasa sedikit tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari birai yang lebih tua. Karena sedari kecil Jeno selalu mengikuti kemanapun Kakeknya pergi. Bahkan ketika Pria itu menghadiri reuni akbar SMA, 11 tahun lalu, Jeno dengan senang hati ikut mendampingi. Jadi cukup mustahil Jeno tak mengenal teman Kakeknya.
Uhuk ... Uhuk ...
Suara batuk menyadarkan Jeno dari lamunannya. Dengan sigap Jeno mengusap lembut punggung ringkih itu.
"Kek, kita ke dalam ya? Nanti sore kita ke sini lagi. Menunggu kedatangan teman kakek,"
"Tap–"
"Teman kakek tak akan suka melihat kakek sakit karena menunggu dirinya. Jadi masuk dulu ya?" rayu Jeno
"Ah, iya. Kau benar. Ia tak suka melihat ku sakit," ucap Sang Kakek penuh dengan nostalgia.
Tubuh bungkuk itu bangkit dengan bantuan tongkat berkaki tiga miliknya dan Jeno berdiri di sampingnya siap berjaga jika-jika Kakeknya hilang keseimbangan.
"Kau tahu, Jen? Ketika aku demam, ia menangis. Bukannya pusing karena suhu tubuhku yang tinggi, aku malah pusing karena menenangkannya agar ia berhenti menangis," suara paruh itu bercerita dengan diakhiri sebuah kekehan
"Dan bagian terlucu adalah ia tak mau mengakui jika ia menangisku, ia akan berdalih bilang airmatanya tumbah karena serial kartun peri kesukaanya sedang menayangkan episode yang sedih. Padahal aku tahu, hari itu tidak ada jadwal tayang kartun kesukaannya."
Jika tadi Jeno melihat kesenduaan, maka kini binar terang di sepasang kontelasi malam milik Kakeknya begitu jelas terlihat.
Hati Jeno menghangat. Pemuda Taurus itu gembira. Ia bahagia karena sudah lama tak melihat Kakeknya berbicara dengan menggebu-gebu penuh gairah seperti ini.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, Jeno mendengarkan segala hal mengenai teman Kakeknya yang tak ia kenali itu.
Pria Tua itu mengenang bagaimana dengan suka rela ia memakan hotpot berkuah pedas, padahal dengan jelas ia tak menyukai makanan berbumbu cabai apapun, hanya demi menemani teman yang mood-nya sedang buruk kala itu.
Sebenarnya jarak dari halaman belakang ke kamar Kakek tidak terlalu jauh, tidak sampai memakan waktu 2 menit. Namun dengan kondisi tubuh Kakeknya kini, waktu 5 menitpun bisa dikatakan kurang.
Kursi roda sudah Ayah Jeno belikan namun enggan digunakan. Sebab Yang Tertua merasa bahwa dirinya masih mampu untuk menyongkong tubuhnya sendiri.
Sudah banyak kisah nostalgia yang yang Jeno dengarkan. Akhirnya, mereka pun sampai di depan pintu kayu bercat biru, pintu kamar Kakek.
"Jeno, minta ibu atau bibimu untuk siapkan perasan air lemon dengan madu,"
"Air lemon dengan madu?"
"Ya, air lemon dengan madu. Yang hangat ya. Ia sangat menyukai minuman itu."
"Ia? Oh, maksudnya teman kakek itu?"
Jeno hanya mendapatkan senyum sebagai balasan.
"Sudah cepat sana katakan pada mereka, Jeno Kecil" ucap Sang Kakek dengan nada bercanda.
Jeno Kecil
Sudah lama rasanya ia tak mendengar panggilan itu. Karena Jeno tak ingin lagi dipaggil dengan embel-embel 'Kecil' sejak di tahun pertama ia menginjak SMA.
Sesudah memastikan bahwa panutannya berbaring di atas ranjang dengan nyaman. Jeno pun bergegas menghampiri Ibu dan Bibinya di dapur.
Tok ... Tok ...
Jeno mengetuk pelan sebelum ia membuka pintu kayu itu.
"Kek?"
Dengan langkah hati-hati dan suara pelan, Jeno memanggil. Namun ia tak mendapati jawaban. Hal itu membuat intensitas detak jantung Jeno meningkat seketika.
Apakah kakek ...
Dengan cepat Jeno menaruh nampan berisi teko dan gelas di nakas dekat ranjang dan langsung mengulurkan tangannya ke depan hidung bangir milik Kakeknya
Hufh
Jeno menghembuskan nafas lega ketika didapatnya udara hangat menyentuh jemarinya.
Dengan sorot mata penuh syukur Jeno menatap Panutannya yang tengah tertidur lelap sambil memeluk sebuah buku bersampul kuning.
Jeno ingin mengambil buku itu untuk ditaruhnya di atas nakas, awalnya. Namun, tiba-tiba rasa penasaran menghantamnya.
Buku itu tidak asing. Jeno tahu buku yang berisikan karakter gembrot berwarna putih itu sering kakeknya baca secara diam-diam. Dan akan langsung ditutup dan disembunyikan ketika Si Pemilik menyadari keberadaan seseorang di sekitarnya. Seolah tak ingin satupun orang yang mengetahui keberadaan benda itu.
Demi membunuh rasa penasarannya, buku yang diambilnya dengan hati-hati itu, Jeno buka secara perlahan.
Pada lembar awal terdapat tulisan tangan memenuhi lembaran itu, seolah itu adalah cover atau judul buku itu
I'm the one who light up the world
Awalnya Jeno kira ini adalah buku diary, jika dilihat dari ukurannya yang tidak terlalu besar. Namun ternyata dugaannya salah, ketika ia melihat lembaran selanjutnya ternyata buku itu berisikan gambar hitam putih dari berbagai objek. Ada lampu tidur, bunga mawar, teko, sepatu, kucing, televisi, pantai, burung, pegunungan dan sebagainya.
Jeno membuka lembar demi lembar.
Hingga akhirnya sebuah lembar berhasil mencuri atensi Si Tampan.
Tidak asing
Pagar kayu, kursi taman di bawah pohon maple. Jeno berpikir sejenak. Tak lama, iapun membulatkan matanya. Ia menyadari bahwa itu adalah taman belakang rumahnya.
Namun siapa lelaki ini? Dan siapa yang menggambarnya? Jika dilihat, gambar ini memberikan perspektif dari dalam ruangan. Apakah ini dibuat oleh penghuni rumah depan?
Jeno masih berpikir, hingga matanya jatuh ke sebuah tulisan kecil di pokok bawah,
Bagaimana dia bisa betah membaca berjam-jam?
20 Maret 19xx
Apakah ini Kakek?
Jeno bertanya dalam hati sambil mencuri pandang ke arah Kakeknya. Karena Pria yang tengah pulas tertidur itu pun mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca.
Jeno buka lembar selanjutnya, tidak seperti gambar yang sebelum-sebelumnya. Pada lembar itu terdapat sebuah meja yang digambar dengan tidak utuh, seolah berhenti di tengah jalan. Pun dengan gambar apel di halaman sampingnya. Dan ketika Jeno melihat ke bagian bawah lukisan terdapat tulisan kecil
Tidak fokus
23 Maret 19xx
Lalu di lembar selanjutnya Jeno temukan lagi objek taman dan pemuda yang sama, namun pemuda dalam gambar melakukan suatu aktiviatas pada pohon maple.
Gambar itu cukup indah dengan beberapa detail daun beruas pada pohon, namun satu kalimat tanya di bawah sukses membuat Jeno tersedak menahan tawanya,
Membuang air kecil?
7 April 19xx
Setelah puas menertawakan, Si Taurus kembali membuka lembar lainnya. Sama seperti sebelumnya, ada banyak objek yang digambar tak sampai utuh, bahkan ada yang masih dalam bentuk kerangka namun akan diselingi oleh gambar yang lagi-lagi adalah taman belakang rumahnya dan seorang pemuda dengan berbagai aktivitas, yang digambar secara utuh dan cukup detail.
Selain itu gambar itu juga sama-sama dibuat dari dalam ruangan. Terlihat dari bingkai jendela yang dijadikan seolah sebagai garis tepi.
Jeno seakan tahu pattern dari sang Pelukis pun hanya memerhatikan lembar-lembar berikutnya secara sekilas.
Sampai akhirnya atensinya kembali tercuri pada lembar di mana latar dan objek sama, tapi dari gambar itu terlihat bukan lagi dalam ruangan, Sang Pelukis sudah mendekat ke arah objek. Namun tetap sama, wajah si pemuda masih belum terlihat.
Meski Jeno yakin itu adalah kakeknya tapi tetap saja itu hanya sebuah dugaan.
Dan disana Jeno dapat membaca sebuah tulisan
Aku tak tahu benar apa tidak. Tapi jika dugaanku benar, anggap saja ini hadiah dariku :p tapi kuberi nanti
24 April 19xx
Lalu di halaman selanjutnya berisikan sketsa Pemuda yang tengah memakan semangka.
Aku hanya melukis. Bukan terpesona. Kebetulan saja hanya ada dia. :p
27 April 19xx
Membaca itu Jeno pun tertawa kecil, karena dengan tulisan ini malah terlihat jelas bahwa Sang Pelukis tengah terpesona pada objek gambarnya namun tak ingin mengakuinya.
Cinta remaja
Semakin lama sketsa sketsa itu semakin dekat. Wajah pemuda pun semakin jelas digambarkan dan membuat Jeno semakin yakin bahwa pemuda dalam lukisan itu adalah Kakeknya.
Mata yang melengkung ketika tersenyum dan noktah di bawah mata kanannya. Siapa lagi yang memilikinya? Tentu bukan dia yang di dalam lukisan itu. Bahkan ditahun itu ia belum di rencanakan untuk ada.
Aneh! Ini aneh! Mengapa aku berdebar! Saat menggambar dari dekat!
17 Mei 19xx
Dan lembar selanjutnya tak lagi ada gambar benda mati atau makhluk hidup yang lain, semua diisi oleh sketsa wajah Kakeknya dengan berbagai ekspresi dan gaya.
Perhatian Jeno jatuh pada lembar dimana Kakeknya tengah mengipasi bibir dengan tangannya sendiri.
Sudah tahu tidak bisa makan pedas tapi tetap dimakan. Tapi, tetap aku ucapkan terimakasih, Karena sudah membuatku tersenyum <3
23 September 19xx
Deg
Untuk beberapa saat jantung Jeno seolah berhenti. Ia menyadari sesuatu
Apakah ini milik teman Kakek? Teman kakek yang begitu dekat dan tidak ku kenali? Teman kakek yang mungkin tinggal di rumah yang berhadapan dengan taman belakang rumahnya?
Jeno lanjut membuka lembar demi lembar, masih sama lembar-lembar itu berisikan sketsa Si Tua semasa muda dan beberapa diantaranya berisikan tulisan
Siapa suruh sok kuat?! Cepat sembuh!
25 Januari 19xx
Kau bodoh!
16 Februari 19xx
Kau keren ketika menggunakan kacamata baca
27 Maret 19xx
Dan yang menarik perhatian Jeno ada pada lembaran yang berisikan tulisan
Jangan menatapku dengan wajah seperti ini. Itu tidak boleh
25 April 19xx
Kalimat itu berada tepat di bawah gambar wajah Sang Kakek dengan wajah dan sorot mata memuja.
Apa kakek jatuh cinta pada sahabatnya?
Dan beberapa sketsa dengan ekspreai serupa pun berisikan tulisan
Tolong jangan. Ini salah
7 Mei 19xx
Jeno mengerutkan alisnya
Apakah ini sejenis cinta satu sisi, dimana yang satu merasakan cinta dan yang lain hanya mengganggap sahabat? Apa ini alasan Kakek dan temannya tak pernah berjumpa? Tapi bukankah temannya juga mencintai kakek?
Karena demi apapun, Jeno berani bersumpah siapa saja yang melihat isi buku ini akan sepakat bahwa sang pelukis tengah terperangkap dalam pesona object yang digambarnya.
Meski tanyanya belum terjawab, namun Jeno masih setia membuka lembar demi lembar. Dimana dalam tiap lembar yang dibukanya, Jeno berharap temukan jawab untuk tanyanya.
Jeno membeku beberapa saat, pada satu lembar yang mempertunjukan side profile kakeknya yang tengah menatap ke atas
Aku juga mencintaimu. Aku mencintaimu. tapi tidak bisa. Kita tidak bisa bersama
18 Juni 19xx
Mengapa tidak bisa?
Jeno semakin dibuat bingung. Bukan ini yang ia harapkan. Bukan pertambahan pertanyaan. Jeno ingin jawaban.
Sketsa selanjutnya gambar Kakek Jeno dengan stelan jas.
Kau tampan
20 Juni 19xx a
Lalu sketsa Kakeknya yang tengah minum dari botol
Bagaimana bisa kau mengatakannya lagi dengan tenang, ketika kita sama-sama tau kita tak bisa bersama?
23 Juni 19xx
Ada apa? Kenapa? Kalian saling mencintai kan? Lalu kenapa?
Jeno semakin dibuat penasaran, ia masih berharap akan mendapatkan jawaban pada lembar selanjutnya.
Namun, pada lembar berikutnya hanya berisi coretan abstrak.
Boleh 'kah kita egois?
19 Juli 19xx
Dilanjutkan dengan lembar yang lain
Jadikan aku milikmu. Malam ini hanya ada kita. Aku dan kamu. Kita habiskan malam ini dengan penuh cinta. Biarkan akal sehat kita menghilang. Cukup untuk malam ini saja.
23 Juli 19xx
Masih di lembar yang sama namun terdapat jarak yang memisahkan, seolah menandakan bahwa itu ditulis di waktu yang berbeda
Apakah kita bisa bersama?
Dan pada akhirnya tanyanya tak menemukan jawaban. Itu adalah lembar terakhir yang terisi, dimana pada lembar selanjutnya hanya ada kekosongan. Namun Jeno masih membolak balik lembar demi lembar dari depan ke belakang dan sebaliknya, berharap akan ada sesuatu yang terselip atau mungkin ada yang terlewat. Jeno masih memerlukan jawaban.
"Jeno?"
Suara paruh itu membuat tubuh altletisnya tersentak kaget
"Kakek, maaf ak,aku–" Jeno tergagap sambil menutup buku tua itu dengan tergesah-gesah.
"Kau memlihatnya?" tanya Kakek Jeno dengan suara paruhnya
"Ma,maaf, Kek. Ak–"
"Tak apa. Mungkin sudah waktunya untuk diketahui."
Setelah yang lebih tua mengucapkan kalimat itu keheningan hadir membuat gelak tawa anggota keluarga lain yang berada di luar dapat samar-samar terdengar di rungan ini.
Tanpa suara Jeno mengambil kursi dan duduk di samping ranjang Sang Kakek.
"Kakek, apakah teman yang Kakek ceritakan adalah pemilik buku ini?" tanya Jeno sambil memberikan buku bersampul kuning itu kepada sosok di depannya.
Pria tua itu menerima buku itu dengan memberikan anggukan dan senyum kecil sebagai balasan dari pertanyaan cucu kesayangan itu.
"Dia tinggal di rumah belakang?"
"Iya, dia tinggal di sana. Dan kau tau? kami sering bertemu di taman belakang."
Selain jawaban, Jeno juga mendapati raur bahagia dari wajah layu itu. Tak dapat ditutupi bahwa Kakeknya bersemangat jika membicarakan teman misteriusnya.
"Kakek mencintainya? Kalian saling mencintai?"Jeno bertanya dengan hati-hati namun mantap.
Meski tidak secara lisan dijawab namun Jeno paham arti dari sebuah senyum yang mengembang hingga menciptakan lengkungan di kedua mata milik Kakeknya.
"Lalu dimana dia sekarang?"
Seolah salah menekan tombol. Senyum Sang Kakek memudar.
"Sudah pergi."
Sendu. Jeno merasakan kesenduan dalam jawaban itu. Seketika rasa bersalah mengguyur hatinya.
"Tapi, dia berjanji akan datang menemuiku lagi di taman belakang," lanjut pemilik suara serak dengan begitu optimis, terlihat dari senyuman yang kembali mengembang.
"Benarkah?"
"Ya, dia tadi memberi tahuku."
"Kakek masih mencintainya?" Jeno bertanya tapi belum sempat dijawab, Jeno sudah kembali berbicara dengan sekali tarikan napas, "ma, maksudku jika kakak masih mencintainya dan dia juga sama. Jika kalian bertemu aku rasa tak masalah jika kalian bersama. Ya selama dia juga single dan juga mencintai kakek sih. Pasti Ayah dan Paman mengerti"
Mendengar penjelasan dari pemuda bersurai hitam legam di depannya, membuat pria ringkih itupun tertawa. Sesuatu kejadian langkah, cucunya yang cukup terkenal dengan ketenangannya kini berbicara bak kereta api.
"Selalu. Kakek selalu mencintainya tanpa henti" jawab Kakek dengan penuh keyakinan dan kemantapan.
"Lalu, nenek? Maaf, kek. Maksudku–"
"Kakek dan Nenekmu menikah karena perjodohan. Nenekmu pun saat itu telah memiliki seorang kekasih sebelum bersama Kakek, begitupun aku. Aku memiliki orang yang aku cintai."
Terdapat jeda sedikit lama, sepasang kontelasi malam itu seolah menerawang masa lalu.
"Meski begitu kami sepakat untuk mencoba membangun rumah, menghormati pernikahan kami. Hingga hadir ayahmu. Tapi mau bagaimana? Kami hanya 2 orang yang memaksakan diri untuk menjadi satu. Kakek pun berpikir, nenekmu pantas untuk menemukan kebahagiannya, hidup bersama orang yang ia cintai dan mencintainya. Akhirnya kamipun memutuskan berpisah, beberapa tahun setelah Ayahmu lahir"
Jeno hanya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia paham dan mengerti. Dan iapun menjadi tahu, mengapa meski berpisah tetapi hubungan antara Ayah dan saudara tirinya (Anak dari Nenek dan suami barunya) baik-baik saja. Dan bahkan Jeno juga sering disuruh untuk bermain bersama dengan Mark (Anak dari saudara tiri Ayahnya) semasa kecil.
"Nenek tahu siapa yang kakek cintai?"
"Entahlah. Kami tidak pernah membahasnya"
"Apakah alasan kakek tidak menikahi lagi adalah karena Kakek masih mencintai dia?"
Kakeknya memejamkan matanya singkat dan tersenyum menandakan bahwa apa yang ditanyakan Pemuda dengan tinggi 178 cm itu benar adanya.
"Pukul berapa sekarang?"
"Pukul 04.00 sore, Kek"
"Sebentar lagi ia datang. Aku harus bersiap-siap." ucap Kakek Jeno dengan segera bangkit dari ranjang dan meraih tongkat berkaki tiga miliknya.
Tentu saja Jeno yang melihat itu dibuat kaget dengan pergerakan Kakeknya yang dilakukan dengan tergesah-gesah.
"Kek, pelan-pelan. Kakek harus hati-hati. Biarkan aku yang mengambil apa yang kakek perlukan. Kakek disini saja" ucap Jeno meminta salah satu Pria Hebat dalam hidupnya ini duduk di atas ranjang.
Jeno langsung menuju lemari yang terdapat di sudut ruangan dan membuka lebar kedua pintu lemari itu.
"Kemeja putih"
Mendengarkan hal itu, Jeno menelisik isi lemari dengan mata elangnya beberapa saat hingga akhirnya ia menemukan beberapa kemeja putih lalu menunjukannya pada sosok tua yang duduk nyaman di atas ranjang.
"Yang itu."
Kemeja putih yang berada di tengah menjadi pilihan. Jeno pun menaruh kemeja itu di pundah kokohnya dan mengembalikan kemeja yang tak dipilih ke tempat semula.
"Lalu?"
"Jas dan celana putih, Jeno"
Di dalam lemari hanya terdapat satu jas putih yang sudah dipasangkan dengan celana putih dalam satu hanger. Jadi Jeno tidak perlu lagi bertanya.
“Ada lagi?”
“Itu saja”
Setelah memastikan tidak ada lagi potongan pakaian yang dicari, Jeno pun menghampiri sang Kakek sekaligus membantunya untuk mengenakan pakaian yang sudah dipilih.
Terdapat kelonggaran pada lingkar pinggang celana saat dikenakan, ini karena ukuran pinggang Kakek Jeno menyusut. Ya, semenjak beberapa tahun terakhir bobot tubuh pria itu menurun. Tidak ingin membuat Kakeknya bersedih, dengan cepat Jeno menarik gasper miliknya dan melilitkannya di pinggang kecil itu.
"Terimakasih, Jen"
Jeno hanya balas tersenyum.
"Apakah kau bisa memasangkan bross dan pin yang ada di meja itu?" tanya Kakek Jeno menunjuk sebuah kotak putih di atas meja rias.
"Apapun untuk Kakek Tampanku yang akan bertemu dengan pujaan hatinya" goda Jeno.
Dengan sigap Jeno mengambil bross yang dimaksudkan dan memasangkannya ke stelan yang sudah dikenakan Lee Tua.
Tak lupa Jeno juga menyisiri rambut tipis milik Si Tua Tampan, katanya "Jangan sampai ia melihat botak di kepalaku"
Jika Jeno adalah Haechan, sepupunya (Anak dari keponakan Kakeknya). Mungkin Jeno sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar kecemesan dari birai kering itu.
"Nah, sudah" ucap Jeno ketika semua sudah tertata rapi, "jadi tema kali ini beautiful in white?" tanya Jeno sambil memerhatikan Kakeknya dari atas ke bawah.
Dan hanya diberikan anggukan. Dengan perlahan Kakeknya berjalan ke arah kaca yang memantulkan secara utuh seluruh tubuhnya.
"Apakah aku terlihat gagah?"
"Selalu"
"Apakah penampilanku aneh?"
"Tidak, Kek. Kau sangat menawan," jawab Jeno mendekatkan dirinya dan berdiri tepar di samping Pria Tua itu.
"Kau begitu mirip denganku, Jeno"
Yang tua berucap sambil memandang bayangan yang dipantulkan oleh cermin di depannya. Pantulan itu menunjukan dua sosok tampan berbeda usia.
Aneh. Bukan nada antusias atau nada bangga yang ia dengar, malah gendang telinga Jeno menangkap Kakeknya berucap dengan nada yang sendu, tidak seperti biasanya.
Namun dengan cepat Pemuda pecinta kucing ini menegaskan bahwa ia hanya salah mendengar, karena sepengetahuannya ia dan pria tua di sampingnya adalah Pasangan Kakek dan Cucu impian, jadi mustahil jika Kakeknya sedih karena kemiripan mereka.
"Ya tentu saja! Kau adalah Kakekku!" seru Jeno dengan bangga dan begitu antusias.
"Oiya! Jangan lupakan perfume!"
Dengan sigap Jeno menuju meja rias yang terdapat tepat disebalah kanan cermin dan mengambil botol transparan yang berisikan cairan beraroma. Tanpa aba-aba Jeno menyemprotkan perfume ke arah Kakeknya.
"Sempurna!" ucap Jeno puas. Menghiraukan sosok di depannya yang tengah mengibas-ngibas tangan akibat bau menyengat yang tiba-tiba menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya.
"Bagaimana jika ia tak menyukai penampilan Kakek?"
Tampak kegusaran di wajah Kakek, menambah kerutan pada wajahnya.
"Oyalah, Kek. Mengapa ia tak menyukai penampilanmu? Apa alasannya?"
"Lihat, jas ini sudah tak pas di tubuhku. Dan kau lihat kulit wajahku sudah mengendor." jelas Sang Kakek sambil menunjuk pada jas putih yang sedikit, serius hanya sedikit, menenggelamkan dirinya dan juga kulit wajah yang tak sekencang milik Jeno.
"Tapi, itu adalah Kakek. Jika ia mencintai Kakek, ia akan menyukai segala hal yang melekat pada diri kakek. Dan lagipula dia pasti juga samakeriputnyasepertikakek" balas Jeno cepat
"Benarkah dia keriput sepertiku?"
Apakah itu sebuah pertanyaan?
Jeno membatin, ia sedikit terguncang mendapatkan pertanyaan tak masuk akal seperti ini.
"Ya, kakek! Aku berani jamin." ucap Jeno mantap, "Dan aku juga yakin rambutnya juga menipis dan berwarna putih, lalu iapun bergigi ompong. Jadi Kakek tidak usah mencemaskan hal itu oke?" ucap Jeno mencoba memberikan motivasi.
"Jika kau bohong?"
"Jika aku bohong?" Jeno mengulang pertanyaan Kakeknya, "hm, jika aku bohong. Aku akan. Em, setiap delivery order yang aku lakukan akan di-cancel secara sepihak?" lanjut Jeno ragu.
"Konyol. Tapi baiklah Delivery order-mu akan di-cancel jika kau berbohong."
Setelah mengucapkan itu Kakek Jeno masih memerhatikan penampilannya. Ia memastikan tidak ada cela yang terlewatkan. Ia ingin agar pujaan hatinya terkesan dengan penampilan. Hingga tak menyadari jika pemuda penggila sepeda itu tengah cemas sampai-sampai harus bersusah payah hanya demi meneguk ludahnya sendiri. Pemuda itu takut jika benar delivery order-nya akan ditolak seumur hidup.
Jika itu sampai benar terjadi, bagaimana ia akan menjalani hidup? Karena demi apapun, Jeno termasuk orang yang tidak suka menghabiskan waktu di luar. Ia lebih memilih menyelesaikan tugas atau pekerjaannya sambil menunggu orderan miliknya diantar oleh driver.
"Jeno tolong ambilkan buku moomin itu"
Permintaan dari Si Tua Lee menyadarkan Jeno dari lamunannya.
"Moomin?" tanya Jeno bingung
"Buku kuning itu"
"Oh! Yang itu! Yang bergambar ba–"
"Peri."
"Pe … ri?"
Jeno tertawa terpingkal ketika mengulang kata Peri. Dan wajahnya memerah ketika ia membayangkan sepasang sayap di punggung peri itu mengepak dengan cepat, memaksa tubuh Sang Peri untuk terangkat dan terbang.
"Itu tidak lucu, Jeno. Jangan tertawa. Atau kau akan dimarahi olehnya. Mengerti?"
Kakek Jeno memberikan peringatan. Jeno yang tertawa hingga wajah memerah pun segera melipat ke dalam bibir seksi miliknya, menahan tawa.
Dengan segera ia memberikan buku bersampul ba–peri itu kepada Sang Kakek.
"Kakek akan ke taman belakang sekarang. Kakek akan menemuinya. Dan apakah minuman itu masih hangat? Jika tidak. Tolong buatkan yang baru. Katakan pada ibu dan bibimu, maaf kakek merepoti mereka."
"Bi, tolong buatkan yang baru? Ini sudah dingin. Kakek ingin yang hangat. Oh, ya. Kakek juga menitipkan ucapan maaf karena telah merepotkan."
"Kakekmu itu ada-ada saja. Seperti menyuruh orang lain sampai mengucapkan maaf," tanggap Bibi Jeno yang lalu berjalan menuju dapur menghampiri Ibu Jeno.
"Bagaimana Kakek?" tanya pemuda manis berkulit tan, Haechan.
"Kakek banyak bernostalgia mengenang temannya, dan ia akan menemui teman lamanya," jawab Jeno sambil mengambil kripik yang terdapat di bungkusan yang tengah Haechan pegang.
Haechan hanya ber-oh ria.
"Oiya, Ayah kenal dengan pemilik rumah belakang?" tanya Jeno pada sesosok pria yang tengah sibuk bermain kartu dengan pria lain seusiannya.
"Maksudmu?" tanya Ayah tanpa memandang Jeno dan masih fokus pada kartu dalam gengamannya.
"Itu, kakek mengatakan bahwa dirinya dekat dengan anak pemilik rumah itu," jelas Jeno.
Kini Ayahnya tak lagi fokus bermain kartu, ia jatuhkan seluruh kartu di tangannya dan memfokuskan atensinya kepada sang putra.
"Hei! Aku hampir me–"
"Kakekmu berbicara begitu?"
Protes Paman Jeno terpotong ketika Ayah Jeno bertanya memastikan. Dan Jeno mengangguk sebagai jawaban.
Ayahnya tak langsung menjawab. Dari sorat mata yang seolah menerawang, Jeno tau bahwa Ayahnya tengah berusaha menarik berbagai ingatan dari masa lalu.
"Ayah tidak begitu tahu. Dulu sekali Ayah dan Kakekmu sering berziara ke sebuah makam. Tapi Ayah terlalu kecil saat itu, belum bisa membaca dan tak tahu itu makam siapa, sampai suatu hari keluarga dari pemilik makam datang dan melarang kami untuk datang. Tapi dari sana Ayah jadi tahu jika itu adalah makam dari pemuda yang mendiami rumah belakang. Ia mati muda dan jika tidak salah itu terjadi sehari sebelum pernikahan kakek dan nenekmu."
"A... Apa?"
Jeno tentu tersentak kaget. Tubuhnya menegang mendengar jawaban atas pertanyaannya. Karena dalam satu jawaban itu Jeno menemukan fakta baru.
"Dan kami tak pernah lagi berziarah. Dan penyebab kematian dari pemuda itupun masih simpang siyur. Ada kabar yang mengatakan bahwa pemuda itu terbentur di dalam kamar mandi dan pendarahan di otak, dan ada yang mengatakan pencuri memasuki rumah dan menusuknya, bahkan ada yang mengatakan jika ia memiliki gangguan jiwa yang menyebabkannya bunuh diri."
Jeno masih terdiam mencerna informasi yang baru saja dia dapatkan. Otak encernya mendadak menjadi lamban.
Kakek mencintai temannya. Temannya adalah pemilik rumah di belakang. Pemilik rumah itu seorang pemuda. Pemuda. Ia–
"Jen, kenapa?" Tanya Haechan yang menyadari perubahan ekspresi dari sepupunya.
tewas di usia muda. Tapi Kakek mengatakan bahwa temannya akan–
"Ini minumnya sudah jadi, cepat beri ke Kakekmu," ucap Ibu Jeno menyodorkan nampan kepada anak sulungnya, Jeno. Namun Sang Sulung masih diam di posisi duduknya dengan tatapan kosong.
Jeno linglung.
menemui di taman belakang. Bagaimana bisa–
Setelah menyadari sesuatu Jeno dengan tergesah berlari ke taman belakang. Meninggalkan ruang tengah dengan buru-buru. Tak menghiraukan teriakan jengkel dari Haechan karena keripiknya yang tumpah akibat Jeno menyenggolnya. Jeno pun melupakan minuman lemon madu yang telah ibu dan bibinya buat.
Saat ini pikiran Jeno hanya berfokus pada keadaan Sang Kakek,
'Dia berjanji akan datang menemuiku lagi di taman belakang.'
'Ya, dia tadi memberi tahuku.'
Jeno merasa bodoh, mengapa ia baru sadar. Bagaimana bisa kakeknya berkomunikasi dengan orang lain jika semenjak dirawat di rumah sakit pria tua itu sama sekali tidak menggunakan handphone genggam.
Degup jantungnya berpacu dengan cepat, karena berlari terburu-buru. Dan semakin bertambah cepat dan terasa menyesakan ketika Jeno melihat punggung lebar kakeknya bersandar pada penyanggah kursi.
Langkahnya terasa berat namun ia paksakan untuk mendekat. Jeno berjongkok di depan tubuh Kakeknya.
"Kakek?" panggil Jeno menepuk bahu kanan di depannya dengan tangan yang sudah mulai gemetar.
"Ji-ka kakek masih ingin tidur. Ja…jangan disini, Kek." ucap Jeno berusaha agar getar dalam suaranya tak terdengar.
Tak ada jawaban. Mata yang selalu memandangnya dengan bangga masih tertutup dengan rapat.
"Kakek?" panggilnya lagi kini dengan menggoyang tubuh Kakeknya. Tentu tidak terlalu keras karena ia tak ingin melukai pria tua kesayangannya ini.
Masih tak ada jawaban dan pergerakan apapun.
Mata Jeno memanas. Ia berusaha membasahi kerongkongannya yang mendadak kering dengan meneguk ludahnya sendiri.
Dengan takut-takut jari telunjuk kanannya yang sudah gemetar hebat ia arahkan ke bawah hidung mancung milik Kakeknya.
Satu. Dua. Tiga.
Jeno menghitung dalam hati detik yang terlewat.
Empat. Lima. Enam
Tidak ada hangat yang menyentuh dingin tangannya.
Air mata Jeno menetes.
Tubuh Jeno melemas, ia terjatuh ke belakang dari posisi jongkoknya. Tangan kanannya terkepal di depan dadanya. Jeno berusaha untuk tidak terisak. Ia berusaha untuk menghentikan getaran pada jari-jari tangannya.
"Jeno, minum –"
"I-Ibu" ucap Jeno dengan nada tercekat.
Prak
Tanpa Jeno jelaskan Ibu Jeno sudah lebih dulu paham apa yang terjadi. Jeno adalah anak yang jarang menangis. Namun kini anak sulungnya itu menatap dirinya dengan nanar, air matanya mengucur dengan bebas membasahi pipi. Itu artinya ...
"Sayang! Ayden!" teriak Sang wanita memangil suaminya.
Ayah Jeno datang dengan segera. Melihat kondisi istri dan putra sulungnya, pria itu tau apa yang terjadi dengan segera Ayah Jeno memanggil Haechan dan Ayah Haechan untuk membantunya membopong tubuh tak berjiwa itu. Karena mustahil jika Sang Ayah meminta bantuan kepada putranya yang sedang terguncang.
Melalui ekor mata miliknya, Ayah Jeno memberi isyarat kepada Ibu Jeno untuk menenangkan Jeno.
Buk
Sebuah buku kuning terjatuh tepat di depannya. Dengan ragu dan berusaha menahan getar pada jemarinya, Jeno mencoba mengambil buku itu.
Buku itu terjatuh dengan posisi terbuka, dan lembaran yang terbuka itu dapat Jeno ingat dengan jelas apa isinya,
Apakah kita bisa bersama?
Namun kini tulisan itu sudah terdapat balasan
Bisa. Aku dan Kamu. Lee Jeno dan Huang Renjun. Kita bersama dikeabadian.
Yang Jeno yakini tulisan tangan dari Sang Kakek.
Setelah pemakaman dan segala ritual selesai dilakukan. Seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah tua itu, tepatnya di ruang tengah untuk membacakan surat wasiat.
Selama Pengacara Kim membacakan wasiat, pikiran Jeno mengawang ke masa lalu, masa-masa di mana ia menghabiskan waktu bersama dengan Kakeknya.
Jeno adalah cetak biru Kakeknya. Semua orang selalu berucap ia begitu mirip dengan Sang Kakek. Maka jika diingat-ingat obrolan cucu dan kakek di depan cermin tempo hari itu bukanlah sekedar basa-basi, karena memang benar Jeno seolah mewarisi 100% gen dari Kakeknya. Dan tak jarang akan ada yang berkomentar
'Tak salah jika cucumu juga bernama Lee Jeno'
Ya, nama si muda sama dengan nama yang lebih tua, Lee Jeno. Jeno hanya tahu ia diberikan nama yang sama dengan Kakeknya karena nama itu memiliki makna yang bagus. Sampai akhirnya Jeno mendapatkan surat khusus yang diberikan oleh Pengacara Kim,
Untuk Jeno Kecil
Tak terasa kau kini sudah tumbuh menjadi pemuda gagah. Kau benar-benar mirip sepertiku.
Lee Jeno. Nama yang diberikan Kakek Buyutmu kepadaku. Nama itu memiliki makna yang bagus. Dan saat kelahiranmu pun, seluruh anggota keluarga mengharapkan adanya kehadiran Jeno lain.
Ah ya, seluruh anggota keluarga begitu memuja dan menghormati Kakeknya. Lee Jeno bukan tipe yang suka mendominasi namun pembawaan dirinya begitu mengayomi. Tiap masalah dalam keluarga, Kakeknya yang dijadilan hakim tertinggi, bukan karena ia yang tertua dan dituakan. Namun karena Kakeknya begitu bijaksana dalam pengambilan keputusan.
Dan ya kepercayaan bagi banyak orang, jika nama merupakan salah sagu faktor membangun watak seseorang. Dan disanalah ide pemberian nama itu lahir.
Awalnya aku menolak. Bukan karena aku hanya ingin ada satu Jeno dan tak ingin ada yang menggantikanku. Bukan. Tapi aku hanya takut jika kau akan menjadi aku yang lain. Jeno lain yang menyedihkan. Aku takut kau mengalami apa yang kurasakan. Menjalani sisa hidup dengan hati yang kosong.
Tapi tiba-tiba saja, ia muncul dalam mimpiku. Ia tak berbicara, ia hanya tersenyum dengan begitu manis. Namun anehnya bagiku itu adalah sebuah petunjuk. Bahwa selama hidup, aku begitu beruntung karena bisa merasakan dicintai oleh seseorang dengan begitu tulus dan murni hingga ujung usianya. Dan aku ingin kau pun merasakan indahnya perasaan mencintai dan dicintai seseorang hingga akhir hayat.
Jadi, begitulah alasan sebenarnya mengapa nama Jeno juga bisa menjadi milikmu. Karena kekasihku, Huang Renjun. Aku yakin kalian sudah tahu siapa itu Huang Renjun. Benarkan?
Tolong sampaikan ucapan maafku kepada yang lain. Tentu aku meminta maaf bukan karena aku mencintai Huang Renjun, karena itu bukanlah suatu kesalahan. Tetapi, aku meminta maaf karena sudah menyembunyikan hal ini dari kalian begitu lama.
Ya, Kek. Kami sudah tahu siapa itu Huang Renjun. Kau sudah mempersiapkan kematianmu bahkan jauh sebelum aku ada, sebelum ayah menikah, bahkan sebelum ayah dilahirkan. Kau sudah menentukan di mana kau akan dikebumikan, di samping yang terkasih. Bahkan kau sudah memilih tulisan dalam nisan seperti apa. Kau benar-benar sudah mempersiapkannya. Jadi bagaimana mungkin kami tak menyadarinya.
Kau bahkan tak usah memohon maaf, Kek. Aku tahu itu adalah hal yang berat untuk kau sampaikan. Bukan merasa berat karena hal itu suatu hal tercela atau aib, tapi pasti susah bagimu menceritakan sesuatu yang kembali membuatmu terluka karena mengenang kepergiannya.
Jeno, aku menitipkan rumah ini kepadamu. Tolong jaga rumah ini. Entah mengapa aku memiliki firasat yang kuat bahwa di sini kau akan menemukan kebahagianmu. Tapi, jika kau merasa keberatan, maka kau boleh menjualnya.
Dan juga katakan pada Ayahmu. Kakek sudah lama memaafkannya untuk kejadian malam natal. Dan sampaikan juga permohonan maafku karena saat itu belum bisa mengontrol emosi kala itu.
Jeno mengernyit alisnya. Mencoba mengingat-ingat kejadian yang Kakeknya maksud.
Oh! Insiden itu!
Peristiwa lama yang selalu diungkit tiap tahun. Dimana semasa kecil Ayah Jeno mengotori sebuah lukisan dengan cream kue natal. Berniat untuk segera membersihkan noda cream di lukisan, namun bukannya bersih, gambar itu malah rusak.
Sudah sampai disini saja surat dariku. Jangan menangisiku, karena aku yakin aku telah bertemu dengan pemilik hatiku. Maka, jalanilah hidupmu dengan bahagia.
Sekian surat dari Jeno Besar
Jeno tersenyum kecil saat dirinya membaca penutup surat dari Kakeknya 'Jeno Besar'.
Ia teringat semasa kecil, ia selalu mengikuti kemanapun kakeknya pergi, entah Kakeknya itu hanya berjalan santai di sore hari atau bahkan ketika kakeknya berkumpul dengan teman-temannya. Tiap kali orang-orang memanggil Kakeknya, Jeno selalu ikut menengok, ya karena nama mereka sama.
Maka di sanalah muncul ide brilliant dari sang Paman untuk menambahkan kata 'Kecil' di belakang namanya sebagai pembeda. Namun, tentu saja Jeno saat itu merasa tak terima, karena hanya dirinya sendiri yang diberi tambahan kata di akhir namanya, sedangkan Sang Kakek tidak. Dan karena itupula Kakeknya dengan suka rela menambahkan kata 'Besar' dibandingkan harus dicap sebagai pengkhianat oleh cucunya sendiri.
"Tuan Muda Lee, ini kunci brankas di lemari mendiang Tuan Lee," ucap Pengacara Kim memberikan sebuah kunci
"Untukku?" tanya Jeno sedikit ragu
"Ya, dia memberikan ini kepada anda. Katanya amanah terakhir."
"Apakah harus saat ini juga?"
"Tuan Lee tidak mengatakannya. Tapi bukankah lebih cepat lebih baik?"
"Em, baiklah. Terimakasih." Ucap Jeno meraih kunci itu.
"Saya pamit jika begitu."
Tak terasa 2 bulan telah berlalu, dengan banyaknya pertimbangan sana sini, Jeno memutuskan untuk menetap dan mendiami rumah pemberian Kakek.
Dan tugas pertamanya hari ini adalah membuka brankas dan memenuhi amanat terakhir Si Jeno Besar. Sebab setelah pembacaan surat wasiat, Jeno bersama anggota keluarga kembali ke kota. Jeno tak sanggup jika harus berada lebih lama lagi di rumah tua ini. Ia memerlukan waktu untuk menenangkan pikirannya dari kekalutan.
Dan di sinilah Jeno berada. Tubuh tegapnya sudah berdiri di depan pintu kamar Sang Kakek. Dengan jantung berdegup, Jeno buka pintu kayu itu. Aroma perfume terakhir yang dirinya semprotkan ke tubuh Kakeknya menyapa indra penciuman. Membuat kenangan siang itu kembali memenuhi kepalanya.
Bayangan mengenai apa yang dilakukan oleh kedua Jeno itu berputar dengan begitu apik. Berputar dengan jelas. Meski Sang Kakek sudah meminta Jeno untuk berbahagia, namun tetap saja ia merasakan kehilangan.
Jeno mengusap sudut matanya yang sudah menumpuk airmata. Setelah cukup dirasa untuk bernostalgia Jeno mendekat menuju lemari pakaian yang dimaksud.
Di bawah pakaian yang tergantung, sebuah brankas tua berwarna biru Jeno dapati. Dengan perlahan Jeno memasukan kunci logam yang diberikan oleh Pengacara Kim.
Jeno tak menyadari jika selama memasuki kunci dan memutar kunci brankas itu dirinya menahan napas dan ia baru menyadarinya ketika ia menghembuskan napas lega saat pintu brankas terbuka.
Dengan hati-hati Jeno membuka lebih lebar pintu brankas itu. Disana terdapat sebuah kotak beludru berwarna merah dan sebuah bingkai foto berukuran 8R.
Dibandingkan penasaran dengan isi kotak beludru, Jeno lebih penasaran dengan bingkai kayu antik berwarna coklat muda.
Ia ambil bingkai itu dengan hati-hati. Dilihatnya bingkai itu secara seksama dan ia dikejutkan dengan foto yang ada di dalamnya.
Foto itu berisikan seorang yang amat mirip dengannya, yang tentu saja itu bukan dirinya dan bukan itu pula yang membuat dirinya terkejut. Melainkan, seorang pemuda mungil yang berada di samping Kakeknya.
Pemuda mungil itu tersenyum dengan begitu cerah, terlihat manis dan menawan. Membuat Jeno enggan berkedip dan ingin terus menatap selembar kertas berwarna itu.
Sadar, Jeno! Dia kekasih Kakekmu! Eh? Benarkan dia Huang Renjun?
Jeno membatin
Dan benar saja saat dibalik, terdapat ukiran kecil
Lee Jeno dan Huang Renjun
Dan di belakang bingkai itupun terdapat secarik kertas yang menempel.
Pajang foto ini di ruang tengah
Seketika Jeno merasa merinding. Bukan merinding karena merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata. Melainkan berkedik ngeri karena dalam secarik surat ini, Jeno Besar memerintah tanpa basa basi apapun. Seolah itu adalah hal mutlak yang harus dipenuhi atau jika tidak ia akan murka.
Dengan segera Jeno bergegas menuju ruang tengah mencari sudut mana yang bagus untuk menaruh bingkai foto Kakek dan Kekasihnya. Jeno pun merasa bahwa bingkai ini akan terlihat bagus jika digantung pada dinding. Dan setelah agak lama dan menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk berputar-putar di ruang tengah, Jeno akhirnya memilih titik tengah yang berhadap langsung dengan pintu masuk sebagai spot terbaik.
Tak perlu waktu lama Jeno pun sudah siap dengan perkakas yang ia butuhkan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Bukan! Itu bukan suara palu milik Jeno. Suara itu berasal dari pintu belakang.
"Ya sebentar!" teriak Jeno dan mempercepat ketukannya palu pada paku di dinding dan memasang bingkai itu.
Jeno mundur beberapa langkah, memastikan bahwa bingkai yang digantungnya tidaklah miring.
Tok ... Tok ... Tok ...
Astaga! Mengganggu saja!
Dengan wajah malas dan sedikit raut kemurkaan ia membuka pintu rumah.
"Maaf, mengganggu. Aku adalah penghuni baru rum –"
Jeno tak fokus mendengarkan apa yang sedang tetangga barunya ini katakan. Karena demi Tuhan rasanya jantungnya sudah merosot jatuh ke lantai.
"Huang Renjun?"
"–kue ini– Ah, ya?" ucap pemuda mungil itu terhenti, ketika namanya disebut. "Eh?! dari mana kau tahu namaku?"
Pemuda manis itu bertanya dengan mata yang membulat menunjukan keterkejutannya.
Extra Part :
2 sosok berbeda usia itu tengah berbincang dengan begitu asyik di kursi taman belakang tempat di bawah pohon berdaun lebat.
"Kau tahu aku memiliki seorang cucu, namanya –"
"Lee Jeno," potong Renjun, "aku tahu, Jeno. Aku tahu. Aku selalu memerhatikanmu tiap kali kau kembali ke sini bersamanya atau dengan anggota keluargamu yang lain"
"Maafkan aku, Ren."
"Maaf untuk? Aku malah bahagia, kau bisa menjalani hidup dengan baik dan dikelilingin oleh orang yang juga mencintai dan menyayangimu. Dan asal kau tahu tidak hanya kau, aku juga memiliki cucu," ucap si mungil dengan nada sombong
"Benarkah? Tapi bukankah kau anak tung–"
"Chenle. Adik tiriku memiliki cucu. Dan ia memberika nama yang sama denganku"
"A–apa?"
"Iya namanya Huang Renjun. Katanya karena Chenle begitu merindukanku. Jadi ia memberikan namaku,"
"Apa ia mirip denganmu?"
"Mungkin, tapi aku melihatnya 16 tahun lalu. Masih kecil. Tapi kurasa ia mirip denganku"
"Tiba-tiba aku takut jika mereka akan ber–"
Ucapan Jeno terpotong ketika jemari halus milik Renjun menyentuh masing-masing sisi wajahnya. Membuat mata tuanya bertemu dengan binar indah milik sang pujaan hati.
"Jeno, meski nama dan rupa mereka sama seperti kita. Tapi percayalah mereka memiliki garis takdir sendiri. Biarkan semesta bekerja," ucap Renjun diakhiri sengan senyum hangatnya.
Meski Jeno merasakan perbedaan suhu di kedua pipinya, namun dirinya tetap meraih kedua tangan milik Renjun dan menggenggam telapak mungil itu dengan tangan keriputnya, lalu mengecup jari jemari Renjun tanpa melepas kontak mata.
END
