Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2021-12-09
Words:
1,754
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
156
Bookmarks:
14
Hits:
1,006

How They Met

Summary:

Kim Dokja tak pernah percaya akan kebenaran dari cerita belajan jiwa yang selalu orang-orang dewasa sekelilingnya gosipi

Tidak hingga Ia mengalami sendiri bagaimana lengannya dipenuhi dengan coret kalimat-kalimat random tanpa sebab.

Atau—

Tentang Kim Dokja dan Yoo Joonghyuk, serta bagaimana mereka mengetahui belahan jiwa mereka.

(Warning: 19 tahun!Yoo Joonghyuk)

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

[Ngantuk.]

Adalah kata pertama yang muncul di atas kulit lengan Kim Dokja, yang tengah fokus pada pekerjaan di kantornya.

Rasa aneh yang datang seolah habis disengat sesuatu buat fokusnya pada pekerjaan menghilang, alih-alih langsung arahkan pandangnya pada asal rasa itu.

Kim Dokja diam sesaat.

Ia coba gosokkan telapak tangan pada sisi lengannya yang tampilkan sebuah kata abstrak tiba-tiba. Tidak merubah apapun kecuali warna kulitnya yang memerah akibat gosokan.

"Huh..?" Ia menggumam, kentara sekali bingung dalam gumamnya.

Satu kesimpulan mendadak muncul di otak.

Mungkin—

Dari kotak dimana Ia tempatkan semua peralatan tulis kantornya Ia ambil sebuah spidol kecil berwarna hitam. Lambat Ia tuliskan sesuatu tepat dibawah satu kata yang muncul pada lengannya.

/Kalau ngantuk ya tidur?/

Yang perlahan menghilang bersamaan dengan kata di atasnya.

Semenit berlalu dan di lengannya muncul lagi, kali ini sebuah kalimat dan tidak hanya berupa satu kata; [Masih ada match latihan sekali lagi, tanggung.]

Kim Dokja pun jadi yakin,

bahwa baru saja Ia menyaksikan secara langsung fenomena yang telah dipelajarinya dari semenjak belia; tentang bagaimana orang yang memiliki belahan jiwa atau soulmate dapat berinteraksi meski tak mengenal satu sama lain hanya dengan menulis di bagian tubuh mereka.

Oh, wow.

Jujur, di 28 tahun usianya Kim Dokja sama sekali tak pernah percaya pada istilah-istilah yang sering Ia dengar dari ibu-ibu penggosok di sekitaran rumahnya— salah satunya adalah tentang soulmate.

Apalagi ketika dirinya sendiri tumbuh bersama dengan fakta bahwa hubungan belahan jiwa ayah dan ibundanya yang awalnya manis dan baik-baik saja berakhir tragis; dimana sang ibunda menikam mati ayahnya, lalu mendekam beberapa tahun di balik jeruji besi sebelum mengakhiri hidupnya sendiri.

Dari situ Ia tak pernah percaya mitos bernama belahan jiwa. Meski orang-orang disekelilingnya (tetangga, siswa dan guru di sekolahnya) selalu berbicara mengenai belahan jiwa mereka seolah-olah itu adalah kebahagiaan mutlak yang harus mereka capai dalam hidup.

Tidak, hingga saat ini. Ketika Ia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri. Ketika Ia bahkan hingga saat ini masih asyik berkutat mencoret-coret lengannya sendiri, biarkan kata demi kata menghilang tanpa bekas kecuali rasa menyengat sedikit pada permukaan lengannya.

/Match Latihan?/

[Ya.]

/Hee.. semangat kalau gitu./

[Ok. Lagi apa?]

/Kerja. Ada projek collab deket-deket ini./

Agak sedikit aneh bagaimana hanya dalam beberapa menit, dan hanya dengan bertukar beberapa kata bisa buat Kim Dokja merasa.. nyaman. Rasanya seperti ada gelembung-gelembung udara yang menggelitik di dalam perutnya. Aneh, tapi tak membuatnya mual dan ingin muntah.

[Semangat.]

Kim Dokja mengekeh tanpa suara. Sekali lagi Ia menuliskan sesuatu di permukaan lengannya,

/Kalau ngantuk jangan lupa tidur. Jangan ngoyo./

[Ngoyo? Bahasanya tua banget. Om-Tante ya?]

Heh. Bocah sialan kurang ajar.

/28 tahun. Belum tua woi -_-/

[Pantes aja 🎇boomer🎇 Saya 19 om/te.]

Dari yang awalnya Ia masih bisa terkekeh, sekarang gurat sebal muncul di sisi keningnya. Tak percaya bahwa belahan jiwanya ternyata bisa dibilang agak cukup lebih muda dibanding dirinya— dan agak sedikit menyebalkan.

Pun belum sempat Ia lampiaskan kesalnya, kalimat lain sudah terlebih dahulu muncul di lengannya,

[Dah mau mulai match latihannya. Nanti ngobrol lagi ya om/te.]

Sebuah kata 'Ok.' Kim Dokja bubuhkan di atas lengannya, yang kemudian menghilang jadi udara. Juga akhiri percakapan pertamanya dengan yang kemungkinan besar adalah belahan jiwanya.

 


 

Yoo Joonghyuk (19 tahun) hanya iseng awalnya.

Bermula dari ketika Ia yang bosan menunggu lama kawan-kawan satu timnya masuk ke lobby tuk mulai pertandingan latihan mereka sebelum turnamen dalam waktu dekat, Ia ambil sebuah bolpoin yang tergeletak begitu saja di samping keyboard nya dan mulai coret-coret random. Di ujung mousepad nya, di kertas yang Ia ambil dari printer di sampingnya, di atas lengannya..

Sama sekali tak sangka bahwa akan ada kalimat balas yang muncul di atas lengannya, disertai dengan sedikit rasa sengat yang sama sekali tak menyakitkan.

Sekali Ia berkedip, dua kali, tiga kali. Yoo Joonghyuk kemudian ingat kata-kata yang pernah disampaikan oleh wali kelasnya kala Menengah Akhir ketika ada seorang teman kelasnya bertanya asal di salah satu waktu homeroom mereka— yang diisi oleh wali kelas mereka dengan topik seputar 'soulmate'.

 

"Jadi soulmate itu benar adanya ya, pak?"

"Ada. Pun akan berbeda kasusnya pada setiap orang. Ada kasus dimana mereka tak bisa melihat warna sebelum mereka bertemu dengan belahan jiwa mereka. Ada yang, paling obvious seperti ketika di tangan mereka terukir nama belahan jiwa mereka. Atau ada juga kasus dimana mereka memiliki tato pasangan dengan belahan jiwa mereka."

Lantas Yoo Joonghyuk berpikir; apa ini adalah salah satu fenomena dari yang diucapkan oleh wali kelasnya itu? Mengenai belahan jiwa atau hal-hal romantis semacam itu?

Menyerah untuk memikirkan lebih lanjut, Ia ikuti alur saja. Menghabiskan waktu tunggu di lobby game dengan bertukar tulisan di atas lengannya seraya menunggui kawan-kawan se-tim nya datang.

Yang di luar dugaan rasanya.. refreshing sekali.

Meski tak tahu identitas lawan tulis nya kecuali bahwa orang tersebut 9 tahun lebih tua usia dibandingkan dirinya, Yoo Joonghyuk merasa tak kaku sama sekali dan menulis langsung apa saja yang ada di kepalanya (yang tak bisa lagi Ia lakukan semenjak namanya melambung tinggi di dunia profesi e-sports yang ditekuninya begitu Ia lulus dan menerima diploma Menengah Atasnya).

Mungkin juga karena Ia tak tahu identitas lawan tulis nya itu kah yang dapat membuatnya berlaku santai? Ntah lah.

Dan berkelanjutan hingga saat ini, menulis tangannya dengan hal random apapun dalam waktu senggangnya sudah seperti sebuah ritual bagi Yoo Joonghyuk.

Ketika Ia baru bangun tidur dan akan memulai aktivitasnya, kala Ia baru menyelesaikan aktivitas hariannya, disaat sebuah turnamen akan dimulai,

[Om/te. Jangan lupa sikat gigi. Bau. Kecium sampai sini.]

Anehnya, Iya, anehnya, setiap Ia menuliskan apapun mengenai nama (baik bertanya maupun memperkenalkan dirinya sendiri), Yoo Joonghyuk selalu dihadapkan dengan ■■ menyebalkan yang seolah menyensor namanya. Buatnya hingga saat ini sama sekali tak miliki petunjuk mengenai suspek belahan jiwanya kecuali fakta lama berupa 9 tahun jarak antar usia mereka.

— Walaupun jika dilihat dari tata bahasa kalimat tulisannya Ia menduga bahwa suspek belahan jiwanya ini adalah seorang pria.

/Bocah kurang ajar. Udah di kantor. Nih ada rapat bentar lagi. Kamu tuh bangun, katanya hari ini ada janji?/

Lawan tulisnya itu punya rasa humor yang cukup untuk meladeni kalimat-kalimat kurang ajarnya dengan santai. Dan hanya dengan balasan begitu saja sudah cukup untuk menaikkan moodnya yang selalu buruk di pagi hari.

[Sebentar lagi om/te. Mau ngomongin soal kontrak jadi Beta tester gitu deh. Jangan capek-capek om/te, ntar ga bisa ladenin aku.]

Dari yang awalnya Ia merespon singkat sekali, kini sudah meningkat jadi beberapa kalimat dan bahkan tak ragu Ia tuk ceritakan jadwalnya. Menunjukkan bahwa dirinya memang sudah senyaman itu dengan metode komunikasi begini, dibandingkan bertukar pesan melalui aplikasi.

/Y ok aj./

Tawa kecil keluar dari bibirnya melihat balasan singkat tertulis di atas lengan. Ah, Ia merasa hari ini akan berlalu dengan baik-baik saja, bahkan mungkin akan ada hal baik menghampiri.

Tak tahu mengapa, Yoo Joonghyuk yakin saja.

 


 

Hari ini adalah hari yang sibuk untuk pegawai Minisoft seperti Kim Dokja.

Setelah mengawali paginya dengan rapat hektik bersama atasan, presentasikan rancang yang dibuat oleh timnya, siangnya Kim Dokja ada jadwal temu dengan gamer profesional —direkrut langsung dari agensi ternama di kota mereka oleh atasannya— yang akan jadi Beta Tester projek kolaborasi tempatnya bekerja.

'Siangnya' adalah saat ini.

Di sebuah kafe minimalis namun berikan nuansa kenyamanan yang kentara. Dimana Kim Dokja memilih tuk duduk di sudut kafe yang tidak terlalu menarik perhatian— "Sekalian makan siang." Adalah bagaimana pihak agensi gamer profesional mengajaknya tuk bicarakan kontrak lebih lanjut.

Alih-alih hanya menunggu dalam diam, Ia mengambil bolpoin yang selalu ada di saku bajunya. Mulai menuliskan sesuatu di lengannya. Suatu hal yang ntah sejak kapan jadi kebiasaannya ketika waktu sedang tak mengikat pergelangan kakinya.

/Hei. Sibuk?/

Beberapa menit tak kunjung datang balasan merupakan jawab tak tersurat bagi Kim Dokja. Sadar atau tidak lelaki itu hela nafasnya pelan, sandarkan diri pada punggung sofa sementara kedua tangannya Ia biarkan menjuntai bebas.

Walau tak lama kemudian calon rekan bisnis Minisoft datang menghampirinya, buat Kim Dokja yang tadinya bersikap klemar-klemer langsung kembali pada posisi duduk tegap dan senyum profesional terplaster di wajah.

"Kim Dokja..-nim?"

"Iya benar. Dengan Lee Seolhwa-nim?"

Lee Seolhwa, wanita menjabat manajer yang selalu jadi perantara antar Minisoft dan agensi e-sports Olympus jika mengenai hal-hal kecil yang trivial. Yang selama beberapa waktu belakangan selalu berhubungan via telepon dengan Kim Dokja.

Kim Dokja lalu melirik orang yang datang bersama dengan Lee Seolhwa; seorang pria tinggi besar yang mengenakan bodyfit lengan pendek dipadukan jeans. Pria itu Kim Dokja kenali sebagai Yoo Joonghyuk— gamer jenius yang digadang-gadang sebagai ace nya tim e-sports nomor 1 di Korea Selatan.

"Iya. Saya juga membawa serta Yoo Joonghyuk, yang akan jadi Beta Tester di projek kolaborasi perusahaan Minisoft kali ini."

Tak hanya dari wajahnya yang memang sudah dikenal satu penjuru Korea Selatan melalui poster, billboard iklan, dan sebagainya, namun memang Kim Dokja sendiri adalah salah satu penonton setia dari setiap pertandingan Yoo Joonghyuk bahkan dari ketika pria itu hanya streamer game lokal Seoul yang masih belum terkenal.

"Halo, Yoo Joonghyuk-ssi..? Saya—"

Mulutnya membungkam, pandangnya fokus pada dua kata tertulis di atas lengan terbuka Yoo Joonghyuk.

/Hei. Sibuk?/

"— Kim Dokja dari pihak Minisoft. Salam kenal dan mohon bantuannya untuk beberapa waktu ke depan."

Nope. Kemungkinannya 1 banding sejuta. Kata Kim Dokja dalam hati, semakin kencangkan senyum bisnisnya.

Lagipula pria bernama Yoo Joonghyuk di depannya ini terlihat.. dingin dan tak bersahabat (dilihat dari bagaimana keningnya mengerut serta alisnya yang menyatu membentuk sebuah 'v' tajam), tak seperti 'Bocah kurang ajar' yang beberapa waktu belakangan ini selalu jadi moodboosternya.

Saat ini Ia harus fokus pada pekerjaannya. Masalah percintaan itu, belakang—

Dunia seolah berhenti berputar saat tangan kekar milik Yoo Joonghyuk menyabut uluran tangannya. Fokusnya hanya satu; kelam hitam bak lubang hitam galaksi milik Yoo Joonghyuk. Bagian lengan tempatnya menulis barusan terasa menyengat, lebih menyengat dibanding biasanya.

Kala itu juga Ia langsung tahu bahwa..

Bahwa..

"Om boomer. Ketemu juga kita akhirnya. Salam kenal."

Benar. 'Bocah kurang ajar' yang selalu jadi poros dunianya beberapa waktu belakangan ini dengan candaan-candaan tak lucu serta kerandomannya, merupakan lelaki yang Ia cap sebagai dingin dan tak bersahabat, si gamer profesional Yoo Joonghyuk— yang saat ini sedang melemparkan sebuah seringai kecil ke arahnya.

 


Mini Omake

Dihitung semenjak Ia melihat sebuah tulis identik yang dikenalnya di lengan orang bernama Kim Dokja, kemudian pria itu berhenti bercakap sejenak hanya untuk melihat lengannya, hingga Ia akhirnya berjabat tangan dan merasa dunianya berfokus pada satu titik, Yoo Joonghyuk langsung tahu. 

Tahu bahwa pria ini adalah lawan tulisnya.

Maka apa yang Yoo Joonghyuk lakukan adalah, melempar sebuah seringai kecil ke arah Om Kim Dokja, mengeratkan genggam tangan mereka, dan berkata,

"Om boomer. Ketemu juga kita akhirnya. Salam kenal."

Ah, Ia tak sabar tuk suruh manajernya pulang dan biarkan dirinya menghabiskan waktu bersama calon partner sehidup sematinya.

Hehe.

Notes:

Selesai.

Selalu ngebayangin Yoo Joonghyuk pas sebelum regresi berkelanjutan tuh anaknya easy-going banget, seru diajak bercanda, lucu aja gitu.

Hope y'all enjoy!