Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 4 of Halloween Waltz
Stats:
Published:
2021-12-31
Words:
5,021
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Bookmarks:
1
Hits:
148

Halloween Waltz : Masquerade

Summary:

Kiamat dalam tome mu,
Dan mereka, yang tersenyum di dalamnya.

Semua ‘kan abadi, lebih kekal daripada waktu.

Notes:

Identity V © NetEase
Halloween Waltz : Masquerade
by dnw11, SeiYoshi
.
You can listen to
The Vampire Masquerade © Composed and Produced by Peter Gundry
While reading this fanfiction.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sesungguhnya, di ujung dada yang terasa kosong itu, masihlah terdapat hati, dengan eksistensi yang tak lagi diakui.

Seseorang sepertinya, dalam seribu guliran waktu yang meluncur meninggalkan telapak tangan sang pria. Pertama kali merasa jikalau darah yang mengalir di sela-sela papila adalah manis dan hangat yang tak pernah ia suka nuansanya, hanya saja seolah merayu, merasuk, dalam; membuatnya melupa.

Kuku hitam pun menggeriak, di ladang punggung seputih salju; dalam keheningan yang tercipta oleh tangkupan kedua telapak pada sisi-sisinya. Seolah tak ingin diperdengarkan padanya, makhluk agung tersebut; perihal lonceng megah katedral dan nada yang tak pernah berubah selama beratus-ratus tahun lamanya.

Jika mendongak, tak hanya dewa dan malaikatnya; kelelawar, arwah, roh kudus; dunia itu sendiri menjadi saksi. Melihat mereka dengan ribuan matanya, tengah memadu, mengadu; menghapus sekaligus membenih dosa. Satu desah yang keluar terasa bagai sebuah bait dari Tome yang ditelantarkan bagai sebuah buku usang.

Tak ada artinya. Jika Sang Pencipta itu sendiri, kini sedang di genggamannya.

Sembari meringis, menyayang-nyayangi ciptaan, mengabu di bawah kidung suci mereka.

 

Sang Exorcist mulai memalingkan muka.

 

Dan Uskup Agung pun melanjutkan ceramahnya.

 


 

Exorcist, dan pemahamannya, yang mungkin terpengaruh dari darah biru yang melarut di bawah kulitnya; adalah seorang yang hanya melihat dirinya dan memuja tak ada selain nafsu naluriah miliknya. Memang terkadang sifat penyuka kesendirian tersebut sudah disalah kaprah menjadi sebuah bentuk kecongkakan; keangkuhan yang dirasakannya bahkan terhadap ayah angkatnya sendiri.

Tak seperti pasang mata lain yang menghukumnya sebagai sosok tak tersentuh, dengan sebuah elusan pelan, pria tua tersebut akan berkata dengan singkat dan mata seolah penuh kebencian. Berceloteh mengenai darah Bloodline dan status kebangsawanan mereka, kesempurnaan mereka; hingga  sebenarnya tidak ada apa pun yang bisa dibenarkan dari Exorcist. Apalagi orang yang menunjuknya sebagai sosok sinting keterbelakangan mental; para fana itu hanya belum tahu saja, kalau mereka (yang ketika itu masih suka sembunyi-sembunyi) adalah para penghuni strata tertinggi.

Diujarkan berulang-ulang, layaknya kaset rusak yang tak bisa berhenti dan tertinggal di dalam pikirannya meskipun Exorcist kecil sudah mencuci tangan kaki dan berusaha untuk tidur di kasurnya. Sebaliknya tetap saja semua ujaran itu tak jua pernah bisa masuk ke dalam hati yang sudah rusak agaknya. Ia kerap kali terbangun di malam hari dan merenungi, ‘ayah’ yang pernah sekali saja mengucap kasihan pada dirinya,

 

“Pasti luka hatimu, dihina seperti itu, padahal kau adalah seorang mulia.”

 

Diremasnya kain yang menutupi bagian dada, wahai Tuhan, mengapa hanya bagian itu saja yang tak bisa merasa. Mungkin tak sepenuhnya, ia masih bisa tersenyum ketika sang Ayah membelikan ‘ini-itu’ yang ia sukai, namun kekosongan di sana lagi merengek untuk terus diisi.

Exorcist mencari kebahagiaan dalam dirinya dan hidupnya yang penuh dengan kenikmatan duniawi. Hobi ayahnya adalah membanggakan diri sendiri dan Bloodline-nya, tapi Exorcist tak pernah mengerti. Ia butuh pelindung, ia ingin penyelamat. Seorang anak kecil yang tak mengerti bagaimana cara untuk menghidupi dunia. Di antara putih dan hitamnya, hanyalah abu-abu yang tak tahu, akan bergerak ke mana.

“Lalu, eksistensi ini, sejatinya ada untuk siapa?”

Bahkan ia enggan, menjawab kalau dirinya membutuhkan semua itu. teringat seseorang yang mengatainya tuan muda egois yang hanya memikirkan diri-sendiri. Tidaklah kalimat itu menyakitkan, namun label yang ditempelkan padanya adalah sesuatu yang Exorcist ingin buang jauh-jauh.

Belum saatnya saja. Exorcist masih belum menemukan passion miliknya. Roda hidup yang masih berguling entah ke mana, suatu hari nanti akan menemukan tujuannya.

Masih belum. Hanya itu yang ia ingin percaya.

 


 

Dengan seragam lengkap dan koper merah di tangan, Exorcist mendatangi Jamuan, dengan membawa pengertian kalau kali ini cuma untuk memporak-poranda; satu dari seribu bagian pesta yang ingin ia ikut bawa serta.

Namun suasana di dalam kastil kusam tersebut hanyalah gaduh. Para tamu berlarian ke luar, teriakan berbagai nada menggema di sana-sini, lalu suara tembakan, bahkan sekelebat dari ujung matanya, ia melihat Count, yang rambut gelombangnya berkibar tanpa ditutupi tophat favoritnya. Sebagai seorang tamu, memanglah kewajibannya untuk memberi salam kepada sang pengundang, namun selain Exorcist tak acuh perihal tersebut, di keadaan kacau seperti ini, norma dan adab mungkin tak bisa lagi dipakai. Ia yang merupakan seorang Vampir pun dengan mudahnya bisa menyelinap di antara manusia maupun vampir yang lainnya.

“Cari sampai ke ujung! Benda itu pasti ada di sini!”

Suara pekik Bloody Sword sanggup untuk membuat Exorcist menelan ludahnya. Ia sekarang berpacu dengan waktu; berkelahi dengan takdir. Jika ada yang ia tuju di kekosongan hidupnya ini maka itu adalah memiliki apa yang ia mau miliki. Meski hanya sekejap saja nafsunya tumbuh, meski kisah itu belum lama ini menghinggapi kepalanya, namun cerita dari Tome dan Sang Pencipta yang diagung-agungkan itu; telah menjadi sumber rasa penasaran.

Buku yang katanya adalah asal-usul mereka; masa lalu dan masa depan mereka. Di sana ada semua hal yang semua orang inginkan, pengetahuan tak berdasar, tak berujung; tapi kata siapa, yang Exorcist inginkan adalah sebuah kekuatan untuk menjadi Dewa? Pria tersebut malah belum berpikir, mau apa dirinya jika sang kitab sudah berada di tangannya. Mungkin malah akan ia lemparkan tersebut jauh-jauh karena yang Exorcist inginkan adalah,

Ia, dengan bau yang teramat mulia; seolah surat tua yang tersesat lalu tiba pada saat yang tak diduga. Pala yang tercampur kesturi, sekejap saja Exorcist menjadikan dirinya seorang Bloodline dan layaklah tangan itu untuk menjamah—meraup jemari sang Agung.

Tanpa menoleh, dari megah emas-merahnya saja, Exorcist yakin. Kalau tidak, apalah arti dari dentuman kencang yang berguncang saat ini? Bahkan jika dipinta, ia bisa saja bersujud; walau hatinya (misalnya) tidak mau. Bergemetar kaki itu. hampir saja lumpuh kalau saja ia tidak balas menggenggam, sebelum akhirnya tersenyum tipis, menatap Exorcist dari kedua mata merah muram.

Masih terlihat indah.

“Aku sudah menunggu kedatangan engkau.”

Meski itu sudah mulai layu.

 


 

“Duhai, apakah engkau tahu, saatnya akan datang, dan saat itu sudah tiba sekarang. Ketika seorang penyembah akan benar-benar memuja Penciptanya, dalam roh dan jasadnya, karena aku yang menghendakimu berbuat demikian.”

Ia tak tahu, apa yang Embrace bisikkan ke dalam telinganya, namun kini denting katedral sudah berhenti, dan bagian dari dirinya yang menelisik masuk telah terdiam berapa saat lamanya. Sang pemuda menggeram dan taring-taring kecilnya muncul bagai hewan buaslah ia kini tengah berupa. Sang Pencipta yang memanjakannya, dengan hangat dan syair, masih jua tak henti tersenyum. Sesungguhnya siapa yang sudah menunggu-nunggu? Ia ingin bertanya. Lalu ditutup, dengan dua bibir yang bercumbu, mencari celah untuk mengadu meski khotbahnya tak henti pula merayu.

Ia suka. Ia tak suka.

“Wahai engkau. Telah kunasihatkan padamu, demi kemurahanku, dan telah kau sembahkan tubuhmu sebagai apa yang hidup, apa yang kudus, apa yang berkenan untukku. Bukankah itu bentuk ibadahmu yang abadi?”

Seolah terpesona, ia mulai meragu mengenai resolusinya selama ini. Iman yang ia bawa sejak kecil, mengenai dirinya sendiri, dibelok-arahkan seolah—bahkan bentuk dosa besar semacam menjamah tubuh suci nan mulia ini—adalah apa yang diharapkan, dituliskan Embrace untuknya. Jika memang kitab itu adalah segalanya. Lalu sang Uskup memang menginginkan dirinya. Apa ia bahkan bisa mengambil kendali hasrat yang menggebu-gebu di dalam hati saat ini?

Upacara sakral, persembahan diri, tali yang terajut dari dua insan yang saling berjanji. Sang pendeta adalah saksinya, pengantinnya, bapaknya, sembahannya,

Objeknya, dari nafsu maupun rasa.

“Kau tak perlu takut, karena aku, akan mengemban seluruh rasa bersalahmu.”

Ia bersumpah, hanya itu saja, yang tak akan ia biarkan Embrace ambil dari dirinya.

 


 

Umurnya baru 50 tahun, ketika ayahnya membawa Exorcist pergi ke dalam gubuk reyot di tengah hutan. Sungguh tak ada sama sekali rasa ketakutan maupun ragu, hanya saja Exorcist kini mulai merasa sesuatu kepada ayah yang selama ini sudah menyiraminya banyak kata-kata kosong.

Ia kira, pak tua ini hanya berbicara, tanpa berbuat apa-apa. Mengagung-agungi darah mereka dan menyepah-nyepahi manusia yang tak sepadan dengan kebangsawanannya. Ternyata—menurut si tua itu—Exorcist hanya belum cukup umur saja. Terbukti dari goresan coklat tua dan bau pekik di sekelilingnya, jelas sekali tak hanya dibuat untuk menipu.

Exorcist tak bereaksi meski ayahnya sudah tersenyum begitu lebar, meminta vampir muda tersebut untuk membuka pintu secara hati-hati, karena bunyi deriknya sangat mengganggu; padahal pak tua itu sudah mulai tuli. Padahal jerit tangis yang sayup-sayup terdengar sebenarnya lebih menarik perhatian Exorcist. Sumbernya? Seolah jauh, di dalam tanah sana.

“Hati-hati, lantai kayunya juga sudah lapuk. Jangan terlalu ke dalam karena Ayah tidak memedulikan bagian sana. Kan kau yang repot jika terperosok, lalu manusia-manusia menjijikkan itu, akan memakanmu. Haha!”

Apa itu adalah sebuah olokan, kepada dirinya, atau kepada mereka yang bernasib menyedihkan? Exorcist hanya membuka kunci dari pintu basemen, melangkah pelan-pelan dengan lampu minyak yang redup. Sejauh pandangnya, ia tak bisa melihat apa pun, tak pula ia mau melangkah lebih dari ini—instingnya sudah membisik. Dibalas tepuk di pundak. Mungkin pria tua itu sedang memujinya.

“Lihatlah ini, anakku.”

Sejentik dari kukunya, dan sekujur tubuh Exorcist merasa merinding ketika ia melihat betapa menyedihkan, orang-orang desa—beberapa ia ingat wajahnya; beberapanya tidak. Ada gadis cantik yang memberinya salam ketika ia pergi ke kota untuk membeli bibit. Ada pria dewasa yang meneriakinya banci flamboyan hanya karena postur tubuh jangkung dan kulit pucat pasi miliknya. Ada anak-anak yang saling menangis dan berpelukan, berbaur di kerumunan orang dewasa, yang mana semuanya seolah bernyawa sekaligus tidak; bahkan tatap mata itu terlihat lebih kosong daripada dua pasang merah yang Exorcist pandang tiap kali bercermin.

Ayahnya telah memakan jiwa mereka. Entah ini hanyalah hobi atau ternyata orang tuanya ini adalah seorang mesum dengan pikiran nyentrik yang dirasa normal oleh otak mengerutnya. Exorcist tidak bertanya. Mungkin ayahnya bisa membaca pikiran saja.

“apakah kau tahu, anakku? Manusia, memiliki sesuatu yang disebut sebagai sebuah peternakan. Di sana seperti sebuah perkampungan, rumah, ekosistem untuk daging-daging yang akan mereka konsumsi. Aku belajar banyak dari cara mereka bertahan hidup. Rasa bosan ini, ratusan tahun aku hidup dan kurasa sudah saatnya aku punya hobi baru, bukan begitu?”

Mengertikah Exorcist? Mungkin tidak, namun ia paham jikalau yang ayahnya lakukan tak lah berbeda dari dirinya. Mereka sama-sama kosong, mencari jati diri, mengubur lubang dengan tanah yang digali dari lubang lainnya. Kali itu, riak wajah yang ditahan untuk tenang sedemikian rupa, mungkin tergoyah beberapa detiknya. Entah apa yang ia pikirkan sehingga mengangkat cerita pada saat itu juga. Mungkin, melihat peternakannya, sang tua hanyalah merasa nostalgia.

“Gadis cantik itu adalah seorang anak dari kepala desa nun jauh di sana. Ia menggandeng tanganku dan mengajakku ke tempat di mana ia membesarkan babi, sapi, domba ... semua makhluk hidup itu, akan berakhir di perut mereka. Aku awalnya ... tak percaya. Kukira manusia adalah penuh rasa iba, itu yang tercetus ketika ia menyelamatkanku waktu itu. namun senyum manisnya tak berubah sama sekali. Meski di bagian

Para ternak akan bahagia dimakan mereka.

Inilah hidup.

Setidaknya hewan-hewan ternak itu berbahagia.

Dan itu semua adalah nalar wajar. Pantas untuk dilakukan, bisa untuk diperjual-belikan ... ah ... aku tahu ini membosankan. Aku bahkan tak ingat banyak kecuali senyum manisnya. Ia bagaikan bunga murni yang tak takut pada pria sepertiku. Aku seolah terayu, kau tahu, anakku? Wanita—baik manusia maupun vampir—adalah ular berbisa.”

Exorcist bisa menebak. Yang tengah dibicarakan, adalah sosok ibu yang tak pernah ia lihat rupanya. Sang ayah hanya pernah mengajaknya sekali saja, ke gundukan tanah di tengah ladang mawar kuning; mungkin ayahnya memang sangat mencintai wanita tersebut, atau mungkin, yang didedikasikan ke pada makhluk penggoda tak lah lebih dari rasa benci.

Karena, siapa lah yang bisa mendeskripsikan, tatapan tak berubah yang diberikan ayah kepada dirinya?

“Manusia itu ... sedikit sekali umurnya. Kau tahu, dalam sedetik mengedip saja, cantiknya, rupawannya, akan berganti menjadi keriput menggelikan; seonggok hidup yang cuma tahu cara bernapas. Aku ... tak ingin gadis itu menjadi buruk rupa, anakku. Kau harus tahu. Sebuah pengorbanan dibutuhkan, jika kau ingin memenuhi sesuatu yang ada di dalam dadamu.

Sama seperti ia yang tak menyesal mendekatiku karena mengingatkannya kepada bloodline lain yang pernah ia tiduri ... aku pun tak menyesal mencintainya. Tak ada ubahnya, seperti aku mencintaimu.”

Exorcist tersedak. Ia tak menyangka bahwa tenaga dari seorang yang sudah tua bisa sanggup membuatnya tak berkutik. Sang ayah mencekiknya kencang-kencang, sorot tersebut seolah menikmati tiap patahan yang keluar, Exorcist yang meronta-ronta; yang akhirnya pun dipeluk kuat dan dicium keningnya, seolah sebuah kasih; sebuah pengampunan.

“Cintaku padamu saat ini, sesungguhnya begitu dalam, anakku...”

Mengabadikan keindahan dalam sebuah jasad, akhirnya kalimat tersebut menjadi satu-satunya yang tak bisa meninggalkan ingatan Exorcist. Jika sang ayah membunuh dengan cinta,  maka benarlah ia yang menerima perilakunya sebagai sebuah benci.

Mungkin aslinya Exorcist lah yang membencinya; yang tak membunuh Exorcist sama sebagaimana ia membunuh wanita yang mereka berdua kasihi.

(Atau mungkin, Exorcist hanya benci, karena ia pun ingin, kepada ibunya itu; melakukan hal yang sama (membunuh)  sebagaimana yang sudah dilakukan sang Ayah.)

Hasrat itu melompat ke sana-sini, namun kali ini, rasa ingin tahu ikut-ikutan berbicara,

Membisik kepada ayahnya,

“Aku, ingin lihat bagaimana rupa Ibu.”

 


 

Mereka berlari, melewati terowongan, saluran pembuangan, Exorcist tak tahu harus ke mana ia membawa pria tersebut. Isi kepalanya dikacaukan oleh dentuman yang tak jua mau berhenti. Tolonglah, Exorcist tak pernah merasa seperti ini, tak pernah dari sekian ratus tahun hidupnya berjalan; tak pernah meski di malam ketika ia mencintai bloodline dan mengabadikan mereka seutuhnya. Exorcist harus fokus, ia harus berpikir jernih, jadi tanpa mengaba-aba, langkahnya terhenti.

Setidaknya, di sini (meskipun gelap) tak lah terlalu menjijikkan dari tempat yang baru saja mereka lalui.

“Di luar sana, pasti masih ramai. Bloodline dan gereja mencari Anda ... tidak ... maksud saya, buku yang Anda peluk itu. jadi ... meski tidak nyaman ... apa Anda tak ... kebera ... tan ... untuk ...”

“Mari beristirahat sebentar. Baik kamu dan aku sama-sama lelah, bukan?”

Exorcist menunduk, malu; menyembunyikan sesuatu yang tak berhenti mengganggunya. Ah. pria ini. Bahkan tangan dinginnya terasa nyaman. Exorcist baru pertama kali. Ia kebingungan, kelimpungan, makin kalut ketika ia tiba-tiba menyentuh dagu Exorcist dan mengangkatnya beberapa derajat.

Tubuh vampir di depannya ini, meski jauh lebih kecil, Exorcist bisa merasa kalau ia mau-mau saja bersimpuh dan menjilat bagian terkotor di sepatu sang pria jika memang diminta. Pikiran yang berusaha ditepisnya meski kepala yang dimiringkan terlihat begitu teramat manis, leher bersih nan putih itu, lalu jubah kebesarannya, ah, rambut perak yang harum, lagi-lagi kesturi menggoda indranya, Exorcist menelan liur, bagaimana cara menahan hasrat jika semuanya tumpah luah tanpa ritme?

“Apakah engkau memiliki nama?”

Exorcist menggigit bibirnya. “Saya dipanggil Exorcist, Yang Mulia.”

Aku tahu. Aku ingat mengenai dirimu.”

Exorcist tak pernah lebih bingung daripada ini. Pelindung berduri yang ia kenakan pun seolah tak dapat menghentikan pria tersebut dari kejahilannya, yang melepas sarung tangan dan mengecup ujung jarinya; diusap pelan ke permukaan masker merah sang pria.

“Ini untuk menahan penciumanmu? Apakah, engkau terganggu dengan sensitifnya indra ras mu sendiri?”

Menggeleng kuat. Lalu mengangguk. Makhluk Agung di depannya terkekeh kecil, ah, memalukan sekali, Exorcist ini. Seperti pucuk muda yang malu di depan orang yang disuka. Mana harga dirinya? Ia sedang dipermainkan, ia harusnya tahu!

“Engkau begitu menarik, sampai-sampai aku hampir lupa mengenalkan diri. Embrace, wahai Exorcist muda.”

 

Embrace.

 

“Sepertinya, sekitar 24 jam ke depan, engkau harus direpotkan oleh aku.”

 

Embrace. Embrace, aaah, Embrace ... Embrace yang itu? Tentu saja, Exorcist sudah tahu bahwa tak mungkin ada yang lain yang bisa membawa Tome begitu saja, kecuali penulisnya.

Penciptanya.

 

“Yang Mulia ...”

 

Nenek moyang mereka.

 


 

Embrace diam, dengan segala kemegahannya, sehingga sang pemuja pun, dengan segala hikmatnya, dapat menunduk dan menegur dirinya sendiri sembari bermazmur. Puji-pujian rohaniah, pembuktian dalam batiniah; tak hanya dalam hati, dibiarkan pada mereka untuk saling mencintai tanpa henti.

Diserahkan olehnya. segala sesuatu yang bernapas di dalam rumah Tuhan itu agar memujinya; Sang Pencipta itu sendiri. Makhluk terkasihan ini lah yang sudah dipilih Sang Kudus untuk memberinya kasih yang selama ini sudah dimatikannya. Embrace hanyalah sesosok yang, menjadi awal mula, dan akan menjadi akhir; namun di tengahnya ia sudah tak punya apa-apa.

Bahkan pergi meninggalkan duniawi demi menghadapi jemu, berapa abad ia jalani, titik akhirnya tak pula ia ingin ganti. Tome yang ditunjuknya pada Count’s Banquet dengan harapan kecil pun dikecewakan tak pula mengkhianati keinginannya.

Jikalau apa yang ia tulis dalam Tome adalah mutlak, maka memang pilihannya untuk membuat siapa pun selainnya memberontak dan menjadikan Embrace sebagai seorang raja tanpa akhir ataupun makhluk abadi yang kejam tak manusiawi. Hanya saja, itulah yang membuat dunia ini membosankan. Padahal Embrace (merasa kalau ia) bukanlah Tuhan. Apalah semua yang terjadi, bahkan ia turut dilahirkan tanpa pernah ia meminta bahkan kepada dirinya sendiri.

Embrace lebih memilih dikatakan sebagai seorang Rasul;

 

Namun bahkan ia tak tahu di mana Tuhan itu berada.

 

“Bahkan ... untuk orang seperti aku, pun ... bisa saja bosan, dan ingin berhenti bermain peran.”

 


 

Cantik.

Selaras dengan kelopak mawar yang berguguran, pucuk kuningnya dihiasi tetes kemerahan, hadiah Exorcist kepada sang ibu yang tak pernah ia lihat wujudnya.

Insting seorang anak, mungkinlah begitu, bahkan tengkorak nya pun sudah memberi bayang akan rambut panjang dan lesung pipi yang menarik. Ayahnya tak pernah banyak bicara. Exorcist paham kalau tua sialan itu ingin mengabadikan kecantikannya hanya untuk diri sendiri. itu pula yang membuatnya tak mau berbagi. Meski aslinya wanita ini tak pernah mencintai.

Lagipula kasih itu tak boleh atas dasar pamrih. Sama pula dengan Exorcist yang, setelah lebih dari satu abad hidupnya, mengambil keputusan matang untuk mencintai ayah sebagaimana ayah mencintai sang ibu.

Ditutupnya kedua mata, ketika Exorcist memeluk potongan tulang sang ibu yang terasa begitu ringkih. Ia sungguh, hanyalah seorang anak, yang mencintai kedua orang tuanya, yang memberi kasih dan pengampunan ke pada ayahnya, lalu dengan kemurahan hatinya, Exorcist akan mengubur mereka berdua; di padang yang menjadi lokasi favorit keluarga.

Ujung kuku yang kotor, dipenuhi darah, onggokan kulit bercampur sedikit daging; lalu tanah bekas ia menggali. Ditatapnya jasad sang Ayah yang seolah masih melotot padanya.

Exorcist berdarah; menggigiti bibirnya.

 

“Pada akhirnya, cintaku kepada ayah, memanglah jauh lebih besar, daripada cinta ayah kepadaku.”

 


 

Setelah beristirahat, menenangkan diri; Exorcist kini mampu menyesuaikan diri. Sejak dulu ia sudah tak bisa berkomunikasi secara lancar ke pada siapa pun itu. berkata-kata sesungguhnya jauh lebih mudah, namun ia akan menyerah jika mereka (lawan bicara) meminta untuknya menatap ke dalam mata; seolah-olah pada saat itu juga, bulan merah yang ada di corak pupilnya akan dihakimi sebegitu rupa. Tidak hanya manusia. Ayahnya sendiri pun berlaku sama. Exorcist terus-terusan merasa dibenci dan diuji, jadi, cara Embrace melihat ke arahnya, dengan dalam seperti ini; adalah apa yang benar-benar menyiksa batin.

Padahal ia bisa mengatasi itu dengan membuang pandang. Jadi salahnya juga, untuk ikut menatap ke dalam binar milik sang Mulia. Exorcist adalah budak nafsu. Ini tak ada ubahnya dengan ia yang menangisi kepergian sang Ayah lalu tertawa merasakan rongga yang terasa semakin menutup di dalam dadanya. Dan memutuskan, untuk mencintai yang lain, mengisi rongga dengan jasad yang lain; toh si tua itu sendiri yang bilang, Exorcist harus bangga kepada darahnya dan harus cinta kepada Bloodline-nya.

Embrace meminta ke pada Exorcist untuk diantar masuk ke dalam katedral megah singgasananya. Meski seolah masuk ke dalam lubang singa, Embrace sama sekali tidak merasa takut.

“Ketika aku kembali, maka Rumah Tuhan ini akan menjadi rumah milikku dengan aku sebagai tuannya. Tak perlu ragu apalagi takut, tamuku. Lihatlah mukjizat ini, bahwa tak akan ada yang dilindungi olehnya kecuali pemilik, pencipta itu sendiri.”

Sekali langkah saja, dan bangunan megah itu berubah dalam sekejap. Lukisan riwayat yang terpampang di langit-langit gereja pun berubah menjadi warna krem yang kusam, terali menjadi kayu reyot; marmer mengilat pun menjadi karpet merah dengan lubang di sana-sini. Terasa seperti tempat ibadat yang tak layak, namun Embrace hanya tertawa, “Aku lebih suka yang seperti ini.”

Exorcist dapat mengerti. Bukan sekali-dua kali dirinya datang ke tempat ini, namun rasa megah dan tingginya terasa bertolak belakang dengan ajaran kasih dan rendah hati yang disuguhkan mereka. Memanglah, bahkan sang Agung sekalipun lebih menyukai kesederhanaan.

Setelah menelusuri lorong panjang, Exorcist tahu mereka sudah tiba di dalam aula tempat pemujaan berlangsung. Kursi-kursi panjang, altar, kaca patri nya pun; bercorak seolah yang dikisahkan adalah cerita yang baru saja di mulai.

Mungkin ini adalah masa di mana Embrace pertama kali menjadi seorang uskup; ditebak-tebak selagi dirinya terhenti, membiarkan Embrace berjalan sendirian menuju altar, mengusap debu dengan ujung sarung tangan putihnya. Ah, orang agung itu menjadi kotor. Exorcist menatap dengan rasa keki.

“Sudah lama aku tidak melakukan ini. Bukannya akan membosankan, kalau aku langsung menceramahimu?”

Naik ke atas podium; Exorcist memandang dalam-dalam sosok Embrace yang bersinar di atas sana. Bolehkah ia bersimpuh? Sungguh ia ingin mengampu. Begitu indah. Mencekut jantungnya. Dirusak sudah pertahanan dirinya. Tak lagi ada, tali kekang untuk mengikat nafsunya.

 

“Saat ini, di dunia ini, hanya ada aku dan engkau.

Mendekatlah, Anakku.

Biar kudengar, pengakuan dosamu.”

 


 

Pria lugu itu, dalam sejarah hidupnya, segera bereinkarnasi. Kasih yang telah mati lalu dibuat-buatnya, anjing setia yang jadi tali akal sehat pun sudah hilang entah ke mana. Mungkin Embrace mengasihani dirinya sendiri, mungkin ia hanya mencobai; mungkin memanglah yang ia tuju hanyalah sebuah kehancuran pada apa yang sudah memporak-poranda kehidupan dan jiwanya.

Embrace adalah pencipta yang tak lagi memiliki cinta tertinggal di dalam relung hati. Sejak awal niatnya menjadi seorang Mulia (berkedok rasul) adalah kebenciannya, hasratnya untuk menghancurkan, meluluhlantakkan seluruh bumi; menjadikan orang-orang itu merasa keputus-asaan yang ia miliki. Itu jua alasannya menyusupi gereja dan menyesatkan agama mereka (manusia) menjadi dirinya. Seorang Uskup harus memperlakukan segala sesuatunya secara adil, dan Embrace sendiri, sesungguhnya menganggap seluruh Bloodline seperti anak-anak durhaka yang tak pernah ia cinta.

Lalu, kalau begitu, apa yang membuat pemuja ini spesial?

Jawabannya adalah, tidak ada.

Waktu sehari di katedral bisa jadi adalah satu tahun di alam nyata namun Embrace sama sekali tak ada niat untuk memberi tahu ke pada yang tengah menyengaminya. Untuk apa? Embrace memang secara simple sudah memilihnya tapi bukan berarti Embrace tak peduli sama sekali.

Dipikirkannya,

Apakah dunia akan kiamat jikalau satu pemukanya mati?

Selama bumi berputar, dan Tome bercerita, semua berjalan sesuai kehendaknya.

Embrace tak lagi mau menulis, Count’s tak pernah menyentuh; Tome itu akan segera berakhir. Akan jadi apa mereka?

Akan jadi apa, pria ini, yang tengah meringis di dalam pelukannya?

Tenggorokannya kering, namun Embrace tak ingin berhenti bersabda. Ditutupi rasa malunya, hasratnya, kalau saja satu patah desah keluar, ia akan sama sebagaimana hamba yang sedang bersikeras untuk memuaskan dirinya.

Embrace tidak mau.

Ia takut, semua itu akan menggoyah kemantapan hatinya.

 

‘Malaikat, tak ada yang tahu bagaimana wujud mereka. Mungkin saja masing-masingnya bersayap enam, sekeliling dan dalamnya penuh dengan mata yang maha melihat; atau mungkin, hanyalah seorang setengah fana, yang menghidupi darah abadinya.

Mana pun itu, dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru, “Wahai Pencipta yang Kudus, Engkau lah yang Maha Kuasa, dan Tome yang menjadi bukti keagunganMu, akan kami jalankan rodanya, hingga dunia dan seisinya ini, menjadi bahtera milikMu saja.’

Di ujung bibirnya, tertahanlah semua ayat tersebut. Embrace mencumbu, mencari celah untuk ucapan lirihnya,

“Apakah mereka akan kecewa, jika tahu bahwa aku sama saja adalah seorang pendosa?”

 


 

Perlukah untuknya, yang sudah memutuskan untuk mengubur dan meninggalkan semua masa lalu, untuk membakar habis tanpa sisa peninggalan milik sang Ayah?

Berpikir pun tidak perlu; Exorcist paham dengan kepergian sang Ayah; semua kekuatan magis yang dilakukannya pun ikut lenyap. Kini rumah reyot itu hanyalah sebatas gubuk tak berpenghuni. Entah ke mana peternakan itu pergi, apakah mereka masih hidup dan terus bereproduksi, atau tertelan dalam kegelapan yang damai. Exorcist memadamkan lampu minyaknya, meninggalkan tempat tersebut, dan akan memulai perjalanannya.

Bloodline bukanlah mudah untuk ditemui, tapi darah yang mengalir dalam dirinya sudah pasti akan bereaksi; dan Exorcist hanya perlu berjalan sesuai insting saja. Pengembaraannya, sebagai seorang yang begitu mencintai sesama;

Menjadi sesosok yang akan membawa kedamaian layaknya seorang nabi.

 


 

Melihat Embrace yang menutup mata; Exorcist dengan leluasa membiarkan dirinya berekspresi. Kali ini, yang banyak keluar, adalah rasa kalut dan panik. Ketika ia diminta mengaku atas sesuatu yang bahkan Exorcist sendiri tak sadar sudah melakukannya, bukankah wajar jika Exorcist meminta waktu beberapa saat untuk berpikir? Ini adalah egoisnya yang tak mau membuat Embrace menunggu. Meski yang keluar adalah suara tak jelas, Exorcist berusaha menenangkan dirinya; berpikir secara lurus sebagaimana seorang manusia.

“Saya ini, adalah seorang pembunuh.

Mereka yang ras nya sama dengan saya ... saya mencari mereka satu-per-satu, memberikan mereka ketenangan jiwa dan batin; maksud saya, bukan bermaksud membela diri, tapi bukankah, hidup beribu-ribu tahun seperti itu ... daripada sebuah anugerah, lebih mirip seperti kutukan? Saya ... kasihan ... tidak ... saya bukan bermaksud untuk meragukan berkat dan mukjizatnya ...”

Disesalilah semua ujaran itu, andai saja Exorcist bisa menarik seluruh kata-katanya. Sang Uskup mengetuk-ngetukkan jari dan Exorcist merasa kalau ia terpergok karena berani membohongi.

“Apa kau merasa berdosa?”

Tidak, “Bukankah membunuh adalah sebuah dosa?”

“Bukankah, yang kau lakukan adalah atas dasar menyelamatkan mereka?”

Kedua mata Exorcist membelalak. Apakah itu berarti sang Uskup memaafkan dirinya? Padahal selama ini, ia yang sudah membutakan sisi manusiawinya itu; jikalau membiarkan darah sang Ibu berbicara, maka Exorcist bisa saja merasa jijik dan marah kepada dirinya sendiri. Menyelamatkan itu sebagiannya hanyalah alasan! Exorcist sama saja dengan kanibal. Seorang vampir akan sulit berfungsi normal tanpa darah dalam kurun waktu yang lama, dan (dengan alasan tidak mau repot atau bertemu manusia) darah Bloodline lah yang dikonsumsi oleh vampir setengah murni itu. Bukankah tidak apa-apa sebagai bayarannya? Exorcist tak terima disalahkan untuk hal ini. Apa yang mau Embrace dengar, sebenarnya pengakuan dosa itu, bagaimana cara melakukannya?

“Tidak usah terlalu keras dalam berpikir, anak. Aku tidak sesulit itu.”

Bahkan Embrace agaknya sudah membaca isi hati Exorcist. Dengan manipulasinya itu pula Exorcist digoyahkan dan direnggut pondasi batinnya. Apa yang harus ia ucapkan. Bagaimana nafsu menjadi Tuhannya selama ini? Mengenai hati yang kosong dan perlahan mulai terisi? Atau tangan dan mata yang tak henti, sejak tadi, ingin menjamah, menggerayangi, mencicipi—

“Saya, ingin merasakan, cinta, dan kasih, dari Anda.”

Embrace tersenyum dan membuka matanya.

“Saya ingin ... tahu, bagaimana cinta yang Anda miliki kepada umat Anda. Seluruhnya, digelontorkan kepada saya. Seperti ayah yang mencintai ibu saya. Sebagaimana saya mencintai Anda. Saya, saya—”

Embrace meloncat ke atas podium; duduk dengan dua kaki yang disilangkan. Ditepuk pipi sang pria dengan ujung sol miliknya, tawa meluncur membawa arti, cinta kasih macam apa yang diminati, kalau sebenarnya, Embrace sendiri tak punya itu semua?

“Exorcist,

Seluruh aula ini, adalah lantai dansamu.

Apakah kau pernah berdansa?”

Menggeleng, meski kedua kaki itu terasa amat lunglai; Exorcist bertahan dan mencumbui sedikit bagiannya. Memuja. Seolah tanpa malu. Meski tangan dan jemari yang mulai menggerayangi secara perlahan bergetar ragu. Anjing kah ia, yang dengan penurutnya akan kembali meski sudah ditendang dan dicaci?

Embrace tertawa, kencang, lalu menjambak rambut sang Exorcist. Benci. Siapa pun yang memiliki darah yang sama sepertinya sudah pasti akan ia benci.

Sembari satu tangan yang lain itu, melucuti ikatan masker sang pria; membuangnya jauh-jauh ke entah di mana, sama seperti Tome, yang tergelincir dari atas podium akibat pergulatan mereka berdua.

“Ekspresi macam apa itu?”

“Ini—” dari sana saja sudah jelas untuk Embrace, bahwa Exorcist tak terbiasa menunjukkan wajahnya. Mengapa setampan itu tidak punya rasa percaya diri, Embrace sendiri tahu jawabannya.

“Maafkan saya, saya, tidak pernah berdansa.”

“Wah, kebetulan sekali!”

Begitu juga dengannya.

 


 

Ketika seluruh topeng itu terbuka, dengan helai yang terhambur ke mana-mana,

Maka apa, yang sedang menunggu mereka?

Sekian sentak nada telah berakhir, Exorcist tak mampu lagi; dan Embrace sendiri sudah berbisik kalau ia siap untuk dibawa pergi.

Kali ini, Exorcist yang tak mampu untuk ditinggalkan.

“Sekali lagi?” rayunya.

Embrace terkekeh di sela-sela. “Tentu saja. Aku tak akan bilang tidak.”

Mungkin Exorcist hanya lari dari tanggung jawabnya.

Bahkan iman yang mulai goyah, kemantapan hati untuk mencintai Embrace; dikuatkan berkali-kali—Exorcist tahu kalau Embrace juga lah yang menguatkan mentalnya. Tapi Exorcist sendiri baru kali ini merasa dicintai. Baru kali ini merasa kalau hidupnya ternyata memiliki arti. Lalu apakah ini berarti, hari esok sudah tidak ada lagi?

Di tangannya lah, semua akan berakhir, seperti apa yang Embrace ingini?

Meski nanti, sekian waktu lagi, Embrace akan lunglai di pelukannya; dan Exorcist menghambur tangis merasakan kehilangannya. Lalu Katedral akan runtuh menjadi puing-puing abu, dan dunia yang sudah dibangun sekian waktu itu, hancur, beterbangan, menjanjikan sebuah kiamat yang menjadi mimpi indah bagi seorang Embrace.

Ia merasa, tidak akan apa-apa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sama halnya seperti Tome, yang akan terlupa; tak lagi ada lanjutannya.

 


 

Pasalnya, seluruh eksistensi seorang Exorcist taklah ayal selain tukang perahu bagi makhluk yang tak acuh akan sifat seorang fana.

Menjadi seorang pembunuh bukanlah tugas manusia, jadi orang-orang datang berbondong-bondong, kepada sebuah pondok di dalam hutan, di mana reyotnya seolah akan runtuh meski hanya diterpa senyap angin senja. Mereka tanpa diminta bergerumul di sekitarnya; memilih masing-masing posisi pada bekas injak di tanah yang menanda; bagai kursi untuk mereka para penyair kidung suci.

Bukanlah memuja; para lemah berjubah putih tersebut menyedihi perihal tingkah laku makhluk lain yang entah dari mana munculnya, keasingan yang bersikap seolah tinggi dan berlaku angkuh sebagaimana sekumpulan yang hanya bisa dibungkam oleh Tuhan itu sendiri. Menyela keusangan yang berujar bahwa di dunia yang, semestinya, adalah manusia yang memiliki derajat tertinggi. Namun mereka merasa ditindas, dilumpuhkan, dijadikan setara dengan hewan ternak yang digemukkan untuk santapan.

Lama sudah itu terjadi, tak ada yang berani bersuara sebelum akhirnya keluarga merekalah yang menjadi korban; sebelum akhirnya semua itu tak lagi bisa di apa-apakan. Entah karena mereka terlalu baik, terlalu pemaaf, atau hanyalah sekumpulan bodoh yang tak berani mengambil tindakan. Bahkan kali ini pun tangan yang bersih itu lebih memilih untuk memanggil makhluk mistis, ibarat pemujaan kepada iblis yang akan turun dari singgasananya berkat kurban darah dan air mata dari lingkaran pentagram mereka.

Manusia-manusia sedih itu, mereka berteriak dan berseru dalam satu nada mengenai sebuah kebencian yang dispesifikkan kepada ras yang sama. Sementara yang lain berdengung pilu, kali ini sebagai pemimpin koor adalah seorang kakek tua yang warna janggutnya sama putih dengan kain kusam di tubuhnya. Ia bersujud di depan pintu dengan tubuh yang menggigil (entah karena pilu, takut, atau hanya karena dinginnya udara malam pada saat itu). Menangis. Dan mulai berkhayat.

“Dengarkanlah kisah kami ini, wahai engkau! Tak cukup melihat kami mendurja, sudah bertahun-tahun kami tersiksa dan bahkan makhluk-makluk biadab itu tak lagi malu memunculkan muka.  Tolong kami, wahai Makhluk tak Kasat Mata. Tolong kami ... sebagaimana Engkau menolong saudara kami. Para sosok bajingan itu tak seharusnya menginjak muka bumi. Mereka harus binasa, binasa, binasa! Tolonglah kami wahai Engkau yang Agung!”

Sahut-sahutan yang menggema, entah sudah beberapa kali mereka dikatai gila; namun para orang tak berdaya itu seolah terjawab doanya.

 

 

"Tak ada yang abadi, semua yang bernyawa pasti akan mati."

 

Dalam sekejap, takutlah mereka, pada bangunan megah di tengah kota yang tersedot lubang hitam di langit-langit; jeritan pilu di seluruh penjuru.

Manusia-manusia pun tahu, entah firasat, atau sekadar rasa percaya; kalau Tuhan tengah menolong mereka.

Kidung pun terus berlanjut, semakin kencang, diselingi isak tangisan. Mata mereka terpejam, bergandengan, entah sudah pasrah atau menunggu mukjizat saja. Mereka adalah manusia. Disayangi oleh yang Maha Kuasa. Mereka hanya sedang diuji. Tuhan akan tersentuh dengan iman di dalam hati!

Sudah pekak semua telinga, sebaliknya mata pun mulai berani membuka. Sunyi senyap yang terjadi sepersekian detiknya, lalu riuh suara, bersuka-cita; memuji Tuhan, dan keagungannya.

 

Tuhan, yang kini, sudah tidak ada.

 

 

KITA SUDAH TERBEBAS!

MEREKA HILANG TAK BERBEKAS!

KITA SUDAH BERJAYA!

ATAS NAMA TUHAN, MAKHLUK-MAKHLUK BIADAB ITU, KINI SUDAH TIDAK ADA!

Notes:

This is the end of Halloween Series.
Thank you for reading!

Series this work belongs to: