Work Text:
Kim Mingyu bukannya buaya.
Pacarnya yang segunung itu bukan semata-mata ulahnya; mereka yang voluntarily melemparkan diri padanya.
Kim Mingyu tak banyak menggerakkan jari, tak pakai tenaganya untuk mulai duluan. Mereka-lah yang mengiriminya dm request di instagram atau twitter, yang mengunjungi kelas umumnya, yang langsung saja tanpa basa-basi tembak lewat nomor pribadi atau menaruh catatan di jok motornya; “lo ganteng, mau gak sih kalau gue ajak makan besok?” .
Si pemuda di awal cuma bermodal, “ya udah, coba aja, kali aja cocok.” yang berakhir gagal kemudian. Rekor terlamanya 3 bulan, putus lagi-lagi dengan alasan Mingyu gak ngejar balik , yang akhirnya ditanggapi oleh Mingyu, “oh, oke.”
Sampai seseorang terlihat di pandangannya.
Mingyu niatnya ngadem di perpustakaan jurusan sebelah, menunggu temannya, Myungho, yang lagi-lagi jadi budak dosen padahal sudah mengiyakan ajakan nongkrong bareng teman seangkatan yang lain. Tak disangka, tujuan sederhananya malah mempertemukannya dengan... obsesinya .
Pemuda yang duduk di tepat di bawah pendingin ruangan itu sebenarnya tak mencolok, cuma salah satu di antara mahasiswa yang meluangkan waktu untuk benar-benar menggunakan fungsi perpustakaan di kampusnya. Ia tak berbeda, kepalanya menunduk dengan buku di meja, sama seperti yang lainnya.
Maka aneh, si lelaki yang bukannya bunga di antara ilalang membuat Mingyu menemukan dirinya, yang bosan dan tidak tertarik membuka bahkan satu halaman buku di tangannya, menatap tiap gerik lelaki itu.
Jarinya yang lentik bermain di ujung kertas halaman bukunya sebelum membaliknya.
Kacamatanya terus lolos bergulir dari hidungnya yang tinggi karena ia terlalu menunduk.
Matanya yang mengedip tiap kali bingkai kacamatanya membentur pangkal hidungnya.
Sudut bibirnya yang berkedut sebelum mengukir lekukan senyum karena hal yang dibacanya (Mingyu mengernyit di bagian ini, karena orang macam apa yang tersenyum saat membaca novel sastra klasik dengan tatanan bahasa yang harus dibaca tiga kali untuk dimengerti?).
Kemudian–
Ponsel berdering, tanda pesan masuk. Kim Mingyu lupa membuatnya senyap dan hampir semua orang disana menengok, beberapa dengan wajah kesal karena interupsi yang tak diinginkan.
Mingyu hanya mengangguk, meminta maaf, tapi tak juga, karena dalam hatinya ia malah berterima kasih. Berkat ponselnya yang tak tahu situasi itu Mingyu bisa ditatap balik oleh mata yang... Mingyu baru sadar begitu menukik bagai mata rubah. Menawan, dibingkai dengan bulu mata lurus yang cukup lebat.
Bukannya kembali membaca bukunya, lelaki itu tak melepaskan pandang dari Mingyu yang menatap lurus padanya.
Mingyu knows the effect he has on people. Maka, saat mahasiswa itu masih menatapnya, Mingyu tersenyum. Tak begitu lebar, cukup sampai membuat gigi taringnya mengintip, porsi pas untuk membuat hati seseorang layaknya ikan yang menggelepar saat ditarik dari dalamnya laut .
Yang selanjutnya tepat sasaran; anggukan malu-malu dan bintik merah muda di pipi yang didapatkan Mingyu.
Melihat respon positif, Kim Mingyu tiba-tiba punya semangat yang baru dirasakannya. Dengan cepat ia memutar otaknya untuk mencoba peruntungannya yang akhirnya dimulai dengan menyampirkan jaketnya di kursi pemuda asing itu ( “lo kedinginan, pake aja. ”) dan meninggalkan perpustakaan terburu-buru.
Wonwoo, lagi-lagi sesuai perkiraannya; mahasiswa itu mencarinya di keesokan harinya untuk mengembalikan jaketnya. Kalau ditanya bagaimana , mudah saja mencari mahasiswa semacam Mingyu.
Teman-temannya biasa memutar bola mata jika ada orang di luar kelas yang menunggu Mingyu, tapi kali ini kerutan dahi yang dihadapi Mingyu.
Yang biasanya orang-orang populer yang berani mendekati Kim Mingyu terang-terangan, kini cuma ada mahasiswa berkacamata yang matanya terus menatap ujung sepatunya. Cuma pemuda biasa berkaus putih yang dibalut kemeja jeans rapi dan celana kaku plus Converse yang dimintai nomor ponsel oleh Mingyu.
“Tumben? Lo yang minta nomornya?” heran teman-temannya.
Ya, tapi itu cuma langkah pertama.
Di mulai dari sana, kali ini Kim Mingyu yang benar-benar memulai segalanya duluan dan membuat banyak pengorbanan untuk pertama kalinya.
Kim Mingyu tak suka berdiam diri di suatu tempat. Ia lebih suka melaju, berkegiatan yang membutuhkan banyak tenaga dan gerak tubuh. Demi Wonwoo, Mingyu membiarkan dirinya duduk kebosanan di bawah rindang pohon dengan Wonwoo yang serius dengan series novelnya. Menuruti Wonwoo, Mingyu mau saja ikut berselonjor di lantai, bermain dengan kucing di sebuah cafe tengah kota.
Darisana, adalah sebuah kebiasaan baru Mingyu untuk membawa tas ekstra sebelum berangkat kuliah. Isinya berbeda tiap harinya; kue coklat panggang yang Mingyu pastikan baru matang, bunga yang selalu ia cari artinya sebelum dibeli atau kadang hanya minuman dingin dengan note saat ia terlalu terlambat untuk kelasnya.
Apapun akan dilakukannya. Kim Mingyu was so head over heels; apa saja untuk mendapatkan hati pemuda yang dengan mudahnya membuat pipinya sakit karena tersenyum terlalu lebar.
Kim Mingyu tak bisa diremehkan dalam hal ini; walau ini pertama kali, usahanya tidak sia-sia. Wonwoo begitu menyukai hal-hal kecil yang dilakukan Mingyu untuknya.
Bibirnya melebar saat Mingyu memintanya buru-buru menggigit kue pemberiannya dengan alasan “lebih enak kalau hangat!".
Ia mendengarkan dengan mata penuh perhatian saat Mingyu menjelaskan arti bunga yang diterimanya.
Tawa tak dapat ditampungnya saat Mingyu meninggalkan minuman di tangannya dan berlari buru-buru ke arah kelasnya yang jauh di gedung seberang.
Memang, saat pengakuan perasaannya setelah 3 bulan usaha akhirnya tiba untuk diluapkan, sedikit banyak bagian dirinya berteriak pasti berhasil , tetapi saat jari tangannya benar-benar digenggam balik oleh Wonwoo, Kim Mingyu hampir berteriak girang saat itu juga (tapi baiknya, ia pandai menjaga kalemnya).
“A-aku, Mingyu?”
Tanya Wonwoo saat itu, wajahnya panik dan penuh keraguan.
Wonwoo bertanya seakan terkejut ia dipilih oleh seorang Kim Mingyu. Aneh, karena lelaki di depannya malah ragu dengan pernyataan perasaannya saat Mingyu ingin berteriak bahwa tidak ada yang lain yang bisa buatnya sebegini mendamba seseorang, di saat Kim Mingyu inginnya Jeon Wonwoo memilih nya.
Mingyu mengangguk keras, menunjukkan niat besarnya.
Jeon Wonwoo memang tidak populer, sama sekali tidak nyentrik, bukan juga yang paling mencuri fokus di antara yang lain, tapi Mingyu tak bisa menarik pandangannya dari pemuda yang malu-malu membenarkan poninya yang basah karena Mingyu sempat bermain basket sambil menunggu kelas Wonwoo bubar.
Kim Mingyu mengepalkan tangannya menahan diri saat Wonwoo, dengan manis dan lugunya tersenyum puas, menegakkan kembali tubuhnya untuk bersandar di jok mobilnya, menjauh saat Mingyu sudah tak terlihat seberantakan tadi.
Ditatap intens begitu, Wonwoo membetulkan kacamatanya yang tak kendor, kebiasaan yang Mingyu sadari akan dilakukannya saat gugup.
“K-kenapa, Mingyu?”
“Maaf,” Mingyu tak bisa menahannya lagi, tak bisa hanya berdiam diri di balik setirnya, tak mau tidak mengambil kesempatan di lapangan parkir yang tak seramai tadi sore, “boleh?”
Yang dimaksud Mingyu jelas dimengerti karena kini ia mencondongkan setengah tubuhnya ke ruang pribadi Wonwoo, dengan hidung yang hampir menempel punya Wonwoo dengan sekali dorong.
Dilihatnya, di celah lampu yang temaram dari luar mobil, Wonwoo menggigit bibirnya, tanda ragu.
Mingyu hampir menarik tubuh bersama dengan kata-katanya, karena ia tak mungkin memaksakan kehendaknya; yang terpenting adalah Wonwoo dan izinnya.
Sampai Wonwoo mengangguk kecil, mata tak mau, tak berani , lihat Mingyu. Tulang pipinya yang tinggi padam luar biasa.
Lampu hijau dan Mingyu memagut bibir tipis lelaki di depannya. Bibir yang awalnya terkatup rapat dan kaku dibawanya luluh, dibuatnya terbuka untuk dicium lebih dalam, untuk lebih leluasa meraupnya.
Di tengah ciumannya, di tengah udara yang memanas walau pendingin mobil mengepul kencang di udara, di tengah hela nafas yang berebut di antara keduanya, di tengah rasa pegal pundaknya yang diremas oleh tangan lelaki yang dipojokkannya, Wonwoo berbisik, buat Kim Mingyu mengerang hampir gila karena, entah kenapa, puas dengan kenyataan bahwa—
“Mi— Mingyu, ini— ini ciuman pertamaku.”
-
Menjadi segalanya yang pertama untuk Wonwoo membengkakkan kepala, memompa ego Kim Mingyu.
“Ini... gak apa-apa begini? Aku gak pernah , Mingyu.”
“Oh, kamu inget? That's... the first time . ”
“Aku gak pernah , bisa ajarin aku?”
“Ini... ini pertama kalinya ada yang segini perhatiannya sama aku, Mingyu.”
Pertama, pertama, pertama.
Kim Mingyu adalah segala yang pertama untuk Jeon Wonwoo.
Kim Mingyu perokok aktif, sedangkan Jeon Wonwoo tak pernah bahkan memegang satu batang pun rokok di tangannya.
Mingyu memang bukan perokok berat. Satu bungkus tak akan habis dalam sehari, tapi saat penat dan essay -nya dipenuhi komentar dosennya, ia akan menarik diri sejenak, menghisap batang rokoknya di balkon rumahnya.
Wonwoo yang terbangun dari tidur siangnya dan tak mendengar lagi suara keyboard laptop Mingyu yang tadi jadi lullaby nya mendekati Mingyu.
“Udah bangun? Eh, Nu, masuk dulu ya? Aku lagi ngerokok.”
“Aku mau coba, boleh?”
Dahi Mingyu terlipat tanda tak setuju, beralasan rokok (jelas) tak baik untuk kesehatan. Bilangnya, Wonwoo jangan pernah memulai.
“Pas di lidah kamu rasanya enak, Mingyu.” alasan Wonwoo dengan polos.
“Hah?”
Tahu kalimat barusan tergelincir tak sengaja dari mulutnya, Jeon Wonwoo terlihat begitu malu. Menyalahkan kepalanya yang belum sadar sepenuhnya dari tidur siangnya.
Tapi, ia tetap menjawabnya karena Mingyu masih menatapnya.
“Kalau kita ciuman, l-lidah kamu... rasa rokok... m-mint? Menthol? Aku.. aku suka?”
Mingyu bersumpah serapah, menyodorkan batang rokok yang belum selesai dihisapnya. Tangannya yang bebas melingkar di pinggang pacarnya, mata lamat-lamat perhatikan bibir Wonwoo yang ragu tapi pasti mendekati rokok di antara jari Mingyu.
(Berakhir dengan Wonwoo yang terbatuk di hisapan pertama, buat Mingyu mendengus, kemudian tertawa keras “Aku bilang apa!” )
Wonwoo, seperti yang bisa ditebak, tak pernah melewati kelasnya kecuali sakit menghentikannya. Berbanding balik dengan Mingyu yang akan mengambil kesempatan menyelinap lewat pintu bagian belakang kelasnya. Jenuh dijadikan alasannya.
Mingyu tak berniat jadi pengaruh buruk untuk pacarnya. He would never do that , tapi saat Wonwoo mengeluh lelah, mengeluh karena mahasiswa di kelasnya terkadang membuatnya overwhelmed karena persaingan yang tak perlu, Mingyu baru akan menawarkan tangannya.
“Yuk?”
“Mau kemana, Mingyu?” tanya Wonwoo masih dengan jari-jarinya yang dipijat oleh lelaki yang tadi serius mendengarkannya.
“Pulang, terus tidur,” jawabnya enteng, pijatannya berevolusi jadi genggaman, kemudian menarik berdiri Wonwoo, “bangunnya kita ngojek Gulu-gulu, mau? Kalau laper di rumah ada puding kalau gak salah—”
Kemudian Kim Mingyu akan mengoceh. Dongengnya, satu loyang puding mangga buatan ibunya akan ludes dalam lima menit saat masuk ke kamarnya. Jeon Wonwoo mendengarkan, senyuman tak mau luntur dari wajahnya. Tangannya mau saja diayun Mingyu sampai ke parkiran kampusnya, sebagai jawaban bahwa ia menerima tawaran Mingyu untuk melupakan mata kuliahnya dan tenggelam di atas kasur yang hangat karena sinar matahari yang terlalu banyak di kamar Mingyu.
(Tidur siang berakhir jadi tidur sore. Bukannya tidur, mereka berdua keasyikan mengobrol yang diselingi teka-teki jenaka, juga Wonwoo yang berkali-kali diciumi pipinya saat lengah.)
Jeon Wonwoo nyaman dengan kaus kebesaran yang dirangkap jaket jeans yang juga sama besarnya. Di kali pertama kencan resmi, Wonwoo memakai sweater yang membuatnya terlihat lebih manis dan rapi dari biasanya, but that's it . Wonwoo tak pernah rumit dengan pakaiannya.
Untuk ini, Mingyu tak secara langsung mempengaruhi Wonwoo.
“Nanti Sabtu?”
Mingyu mengangguk, matanya fokus di halaman Instagram yang terbuka di ponselnya, “tapi ramai banget. Kalau kamu gak mau ikut gak apa-apa, nanti aku bisa pergi sama temen.”
Yang dibicarakan mereka adalah tradisi penyelenggaraan pentas seni oleh fakultas sebelah sebagai rasa syukur selesainya Ujian Akhir Semester yang berhasil dilewati berkat bergelas-gelas kopi dan berhari-hari tanpa tidur.
Bedanya, kali ini ada penyanyi yang dikenal dengan musik ‘keras’nya di performer list yang jadi daya tarik untuk Mingyu, yang kemudian buat Wonwoo penasaran.
Wonwoo tak ragu-ragu menyertakan dirinya.
Di hari pentas seni diselenggarakan, Mingyu hampir tak mengenali siapa yang berdiri di depan pintunya karena penampilan Wonwoo yang... luar biasa berbeda.
Warna soft atau basic biru jeans hilang dari tubuh Wonwoo, digantikan dengan warna yang biasa tak pernah menempel dan dikorelasikan dengan Wonwoo.
Kaus hitam, yang warnanya pudar karena terpapar sinar matahari terlalu lama, disampir oleh jaket belel abu. Celana yang biasanya longgar 3 senti dari kulitnya kini merekat ketat di kakinya, mencetak jelas bentuk kaki Wonwoo yang terlihat lebih panjang dari biasa. Bukan lagi Converse, boots yang kelihatan dua nomor lebih besar dari ukuran kakinya yang sebenarnya menapak di keset rumah Mingyu. Wajahnya yang memang elok… oh. Mingyu mengedip karena Wonwoo memakai riasan di kulitnya yang biasa polos.
Sebenarnya, wajah Wonwoo tak punya sisi yang harus ditutupi oleh kosmetik. Ia tak memerlukan ilusi bayangan untuk buat hidungnya runcing, untuk buat pipinya mencekung kurus atau yang lainnya. Wonwoo memiliki semuanya di wajah telanjangnya. Tetapi, jejak brush berwarna ungu gelap yang tipis di permukaan kelopak matanya berikut polesan kelap-kelip di tempat yang sama menjadikan Wonwoo terlihat lebih ethereal, tak wajar, tak biasa, sinting di mata Mingyu .
Jendela mata yang disikat cairan tipis eyelashes , garis hitam tegas menggoda yang mengitari mata rubahnya yang panjang, juga– fuck, is that a fucking gloss on his tiny lips?
Mingyu tak bisa berhenti membolongi Wonwoo dengan tatapannya pada bagian ini. Tiba-tiba Mingyu begitu yakin dengan kemampuannya untuk melahap dalam sekali telan bibir mungil sang pacar yang terlihat bagai apel paling merah di matanya. Mingyu tak akan menggigitnya, tak akan mengulumnya di antara bibirnya, pokoknya ia akan melahapnya, menelannya–
“A-aneh ya?” tanya Wonwoo menyadarkan rentetan mimpinya kejamnya.
“Jeon Wonwoo,” potong Mingyu, menarik Wonwoo masuk ke dalam rumahnya, pintu rumah utama ditutup begitu keras, buat Wonwoo berjengit.
”I swear I —” Mingyu menghembuskan nafasnya keras, “ you look so breathtaking.” bisik Mingyu tepat di telinga sang tamu sebagai sambutan.
Tak tahu harus merespon Mingyu dengan apa, sang tamu hanya bisa mencengkram pinggang si tuan rumah, tersenyum tipis saat Mingyu begitu lekat menatapnya.
“Ki-kita telat.” kecoh Wonwoo agak terengah karena ambisi Mingyu, yang jelas transparan di matanya yang sengit menatap Wonwoo, terasa sampai-sampai menyekat jalur pernafasannya.
“Aku gak minat lagi,” gumam Mingyu, jempolnya mengusap gloss yang keluar dari jalur bibir Wonwoo yang tipis, “God, who did all of this?”
“S-sendiri,” Wonwoo melipat bibirnya, “I want to look good for you.”
Mingyu yang berjarak hanya nafas mengeryitkan keningnya, “you always look good for me though?”
Sebagai yang paling berisik dan ribut soal betapa cantiknya Wonwoo di kesehariannya, Mingyu benci disangkal soal hal ini. Maka Wonwoo hanya tersenyum, tak mau berdebat, “I want to look especially good for you tonight.” tekannya.
“For me?”
“For you.”
Mingyu yang menjadikan wajah Wonwoo sebagai lintasan pandang rupanya menjadikan Wonwoo gugup setengah mati. Jari kurus Wonwoo naik ke hidungnya sendiri, gerak reflek untuk membenarkan kacamatanya, tapi kemudian ia tertawa. Sadar, ternyata ia meninggalkan kacamatanya, menggantikannya dengan softlens yang sewarna retina.
Mingyu terkekeh kecil, mengecup pucuk hidung lelaki di depannya yang malu karena kebodohannya.
“You don't need to do this, you know that.” Mingyu semakin mendekat, semakin mencekik udara di sekitar lelaki yang dikurung di antara pintu dan tubuh yang besar.
“I know.” lirih Wonwoo saat nafas Mingyu menabrak pipinya, “I just wanna do this.”
Mereka tak lagi bertukar kata, tapi senyap tak kunjung menyapa telinga karena nafas keduanya keras-keras berdering di pendengaran. Mata memandang mata, dua ujung hidung bertemu, tapi bibir masih jauh dari dimana yang paling diidamkan.
Haus, ingin sekali mencicipi seteguk air dari sungai yang bukan lagi fatamorgana di padang sahara; bukan lagi hal yang mustahil karena Mingyu hanya tinggal mengucap permisi untuk menjadi tamu dan ia akan bisa meneguknya.
Mingyu meminta dan Wonwoo menerimanya, mengiyakan keinginannya.
Mingyu maju, menyapa kedua belah bibir Wonwoo dengan kecupan.
Yang dicium tak menyangka sapaan yang begitu singkat. Kiranya, Mingyu akan membawanya berlayar lebih jauh.
Alih-alih mengayuh kembali, Mingyu menggulung layarnya untuk menatap Wonwoo di mata, kemudian berpindah ke bibir Wonwoo yang bercelah.
Tatap Mingyu bagai tantangan, tapi juga bagai undangan, bagai sebuah kesempatan untuk Wonwoo memulai duluan.
Tentu sebagian dari Wonwoo paham maksud Mingyu, tapi ini semua bukan hanya karena kesempatan yang diberi Mingyu. Rasa penasaran mendorong Wonwoo lebih banyak dan tanpa Mingyu minta, Wonwoo akan mengejarnya.
Mingyu membiarkan Wonwoo mengambil apa yang diinginkannya.
Wonwoo memeluk lehernya longgar, tapi memeluk bibirnya begitu erat. Wonwoo menciumnya penuh rasa ingin tahu yang banyak, penuh pertanyaan yang bertubi-tubi; apa Mingyu sudah minum cukup air? Apa Mingyu menghisap rokoknya hari ini? Apa pasta gigi yang Mingyu gunakan sama dengannya? Apa Mingyu menepati janjinya untuk tidak meminum kopi?
Pertanyaan yang mengambang di kepalanya dijawab oleh sapuan tunggal lidah Mingyu langsung di atas lidahnya, buat Wonwoo mengerang rendah.
Rasanya basah sekali; Mingyu sudah cukup minum air hari ini.
Sensasi dingin daun mint yang begitu familiar dan pahit pekat yang seharusnya asing di lidah tapi kini begitu dikenalnya; Mingyu menggunakan pasta gigi yang sama dengannya, Mingyu sudah menghisap rokoknya, Mingyu melanggar janjinya untuk tidak meminum kopi.
Erangan rendah Wonwoo buat Mingyu makin menggebu-gebu, buatnya makin menempel dengan tubuh Wonwoo yang sudah terbentur pintu rumahnya sejak tadi.
Keduanya tau akan dibawa kemana ciuman ini. Mudah saja ditebak karena suhu tubuh yang sama-sama hangat, pipi yang sama padamnya, sesama idiot yang daya pikirnya tak bisa lagi diajak bekerja sama dan detak jantung yang terasa menggedor-gedor rongga dada.
Mingyu menjarak diri. Tak jauh, ujung bukit bibir keduanya masih bersentuhan saat Mingyu mengutarakan keinginannya.
“Wonwoo,” mulainya dengan gugup, “aku mau bawa kamu ke atas, boleh?”
Yang dimaksud Mingyu memang kamarnya yang berada di ujung lantai dua, tapi Yang dimaksud Mingyu juga bukan sekedar mengunjungi kamarnya. Yang dimaksud Mingyu juga apa yang bisa dilakukan di dalam kamarnya di rumah yang kosong.
Wonwoo menarik nafas sebelum mengangguk. Mata lurus menatap Mingyu, meyakinkan lelaki yang lebih tinggi bahwa ia mengerti .
Tak banyak menyia-nyiakan waktu, Mingyu menuntun sang pacar menaiki satu demi satu anak tangga.
“M-mingyu?”
Tangan Mingyu yang hampir membuka pintu kamarnya membeku, kepala menoleh menghadap Wonwoo yang menempel di sebelahnya.
Kiranya, Wonwoo berubah pikiran. Pikirnya, perjalanan ke kamarnya yang membutuhkan waktu kurang dari satu menit cukup untuk mengurungkan niat pacarnya itu.
Mingyu sudah meneguhkan hati, niatnya berpacaran bukan karena aktivitas seksual belaka. Ia bisa menunggu, sampai kapanpun. Lagipula mereka baru berpacaran kurang dari 5 bulan, mungkin ini terlalu cepat untuk Wonwoo–
“Ini juga pertama kalinya buat aku, j-jadi aku gak tau gimana–”
Tersentil , Mingyu menarik keras tangan yang sejak tadi digenggamnya, buat kedua pasang kaki remaja terburu-buru menyusuri lantai sampai tiba di ranjang si sulung tuan rumah.
Wonwoo dibawa duduk, sedangkan Mingyu bersimpuh di lantai kamarnya, kedua lututnya menyentuh lantai.
“L-loh Mingyu?”
Yang disebut namanya menenggelamkan wajahnya di perut Wonwoo yang kebingungan, yang tak tahu harus apa selain dengan ragu menyisiri rambut Mingyu yang kelihatan… resah.
“Mingyu, kenapa?”
“You are killing me here, sweetheart,” geram sang pemuda, sebelum kembali menampakkan lagi wajahnya, menatap Wonwoo di atasnya, “If– if this happened, will I really be your first?”
“Hmm,” mata Wonwoo bergulir kesana kemari, kecuali menemui iris pacarnya, “kamu pertama– tapi ini bukan pertama kalinya aku– you know–?”
Kedua pasang alis mengeryit, “I don’t know honey, talk to me?”
“Aku laki-laki, Mingyu,” jawab Wonwoo setelah menelan ludahnya dalam-dalam, “I have… needs? I take care of myself.”
Click, “Oh.” Mingyu menggigit bibirnya, dengan jelas menggambar Wonwoo taking care of himself di kepalanya, buat Wonwoo menjewer telinganya dan tawa canggung terlepas dari bibir yang telinganya perih.
“Wonwoo?”
“Ya?”
“But have you…” lengan besar Mingyu yang melingkari tubuh sang pacar menurun, sampai telapak tangannya bertengger di pinggul Wonwoo, jarinya menyelip masuk ke dalam saku belakang celana jeans Wonwoo yang sangat ketat, “have you do anything with this?”
Wonwoo mengerti, Wonwoo menunduk. Kening keduanya saling beradu. Wonwoo menggeleng keras dengan mata tertutup saat jari-jemari Mingyu mengelus bokongnya di balik sakunya, membuat pattern lingkaran di ruang yang sempit; sebuah cuplikan dari apa yang Mingyu tanyakan, tawarkan .
“Sweetheart,” Mingyu mengecup delima di atasnya, “would you please let me?”
Mingyu, sebenarnya, bisa punya segalanya. At this point, Mingyu buta jika ia tak melihat Wonwoo begitu patuh atas inginnya, yang sudah mencair sejak dipojokkannya untuk memenuhi gelas yang Mingyu sodorkan. Ia bisa saja mendorong Wonwoo untuk berbaring di atas ranjangnya untuk menuntaskan hasratnya yang hampir tumpah tak terbendung lagi. Wonwoo-pun tak akan menolaknya.
Tapi ini Kim Mingyu, yang selalu meminta permisinya, yang selalu bertanya apa maunya, yang membuang egoisnya sendiri untuk nyamannya.
Maka jawaban Wonwoo sepenuhnya adalah keinginannya sendiri.
Walau niatnya teguh, tetap saja lidahnya kelu. Malunya naik tercermin sampai pada kedua pasang matanya yang memanas.
Akhirnya Wonwoo mengecup kembali Mingyu sebelum mengangguk yakin.
Kecupan Wonwoo yang diniatkan sekedar hanya untuk jawaban tak diakhiri Mingyu. Tak diperingati lampu merah, pemuda yang tadinya bersimpuh memajukan tubuhnya, mendorong Wonwoo dengan gerak ciumannya, sampai Wonwoo pasrah jatuh berbaring di bawah tubuhnya.
Mingyu menggiring pemuda di bawahnya sampai di posisi ternyaman. Dibuatnya kepala Wonwoo ditumpu bantal-bantal yang empuk, kaki jenjangnya pun tak dibiarkan menggantung. Semuanya dilakukan tanpa melepas ciumannya dengan Wonwoo, yang ia pastikan pegal di leher karena harus menjangkau Mingyu di atasnya.
Ini yang pertama untuk Wonwoo, ini yang pertama untuk Wonwoo, ini yang pertama untuk Wonwoo. Kim Mingyu terus memantrai diri agar tindakannya hati-hati, agar sentuhannya tak menakuti dan yang paling penting tak lepas kendali.
“Sweetheart, can I take this off?”
Sudah gerah sejak tadi, tanpa bimbingan, Wonwoo mengangkat sendiri kausnya dan Mingyu mengikutinya. Pinggang ke atas tak berkain saling berhadapan.
Mingyu kembali mengambil inisiatif, sembilan puluh persen didukung oleh ketidak sabarannya untuk memeta hamparan kulit menggoda di bawahnya langsung dengan jarinya. Dilihatnya semu di Wonwoo tak hinggap hanya di pipi tapi juga sampai kulit di balik kausnya. Mingyu tak menahan diri untuk terjun ke bawah, mengecup kemudian menjilat gumpalan merah sipu di kanvas putih.
Tarikan nafas mengaung saat bibir Mingyu mendekati pucuk dadanya.
Mingyu menoleh ke atas, tersenyum meledek.
“Oh, you are sensitive here?”
Pertanyaannya tak menunggu jawaban karena Mingyu mencari tahu sendiri dengan menjilati puting Wonwoo tanpa ragu, mengulur lidahnya keluar, membasahi landasan lidahnya.
Wonwoo mendesah. Jarinya naik mencengkram kepala Mingyu. Alih-alih kapok dengan nyeri di kulit kepala, Mingyu mendengung senang, makin kuat menghirup Wonwoo dengan bibirnya.
“Hmmng– M-mingyu– udah–”
Berinya ampun, Kim Mingyu naik, rahang yang berkeringat diciumnya. Naik lagi, desahan Wonwoo yang makin menjadi-jadi karena ujung dadanya dipilini, dilahapnya untuk dibungkam.
Turun, tangan Mingyu menjelajah, mengusap sensual pinggul Wonwoo yang tadi ikut naik saat dadanya dikerjai. Turun lagi, tangan Mingyu sampai menangkup di bokong lelaki di bawahnya.
“Aku buka, ya?”
–adalah sebuah pekerjaan yang agak sulit. Celana Wonwoo begitu merekat di tubuhnya bagai kulit kedua.
Usaha yang besar biasa menghasilkan buah yang manis; susahnya Mingyu menurunkan kain celana dihadiahi dengan kaki jenjang pacarnya yang terpampang telanjang di pandangan.
Mingyu menjilat bibirnya, mengangkat sebelah tungkai Wonwoo agar memeluk lehernya.
Selanjutnya yang dilakukan Mingyu buat Wonwoo tertegun. Sensasinya mirip seperti saat pertama kali memberanikan diri menonton video porno di masa remajanya yang penuh rasa penasaran; sungkan untuk mengakui bahwa ia menikmatinya.
Bedanya, kali ini aktor -nya berada langsung di depannya, mengurungnya, menyentuhnya . Mengajaknya untuk bukan lagi menjadi audiensi tetapi sama-sama menjadi aktor di film vulgar mereka sendiri.
Kim Mingyu mencumbu lututnya, terus sampai naik ke pahanya, membibiri kakinya sama seperti ia menaklukan bibirnya. Gigi dan lidah ikut andil mengerjainya buat sang korban basah bukan hanya di kulit yang dijilati tapi juga selangkangannya.
Sukses buat kaki Wonwoo bergetar lemas, Mingyu naik lagi, mencium dagu kesayangannya yang berusaha menutupi pandangannya dengan lengan.
“Kaki kamu cantik,” puji Mingyu menenangi Wonwoo, “would love kissing them all night.”
Dibalas gelengan tak habis pikir, Mingyu hanya terkekeh.
Tiba-tiba Mingyu bangkit, pergi ke laci paling bawah di kamarnya, dan kembali dengan botol di tangannya.
Kernyitan di dahi Wonwoo karena ditinggal begitu saja oleh Mingyu sirna setelah mengetahui apa yang dibawanya.
Mingyu mendekat lagi, menaungi Wonwoo lagi, kembali membawa kedua kaki Wonwoo bersandar di pundaknya yang lebar.
“Aku mulai, ya?”
Segera setelah kain terakhir dari tubuhnya hilang, elusan jari basah Mingyu mendatangi analnya, buat Wonwoo terkesiap.
“Relax, Honey. Let me in, hm?”
Mata Wonwoo terpejam begitu erat disebabkan emosi yang campur aduk, malu masih juara satu mendominasi. Tempat yang bahkan tak pernah terjamah oleh tangannya sendiri kini dimasuki oleh satu, kemudian dua jari pacarnya.
Basah dan lengket, juga dingin. Juga sedikit rasa sakit tak bisa dihindari. Wonwoo lebih banyak merasa aneh, namun tak terganggu saat kulit di dalam tubuhnya yang seharusnya rapat malah dipijat terbuka oleh jari Mingyu.
“You are doing great,” lutut yang terlipat dikecup, “ini yang ketiga, Wonwoo.”
Tiga berbeda dengan dua , sangat jauh daripada satu . Wonwoo yang awalnya hanya merespon tiap dorongan jari Mingyu yang keluar dan masuk tubuhnya dengan gigitan di bibir kini mendesah bebas, gema yang mengancam keluar dari ujung tenggorokannya terlepas dari kurungan.
Sampai Wonwoo yang mulai asik belajar terbiasa dengan apa yang ada di tengah kakinya, menyeret telapak kakinya di punggung Mingyu, tiba-tiba dikagetkan dengan kuku pendek Mingyu yang menyundul sesuatu, buatnya berjengit keras, hampir memukul wajah Mingyu dengan lututnya.
“Kenapa? Sakit?”
Kedipan bingung yang juga berarti pertanyaan diberikan Wonwoo, “tadi… tadi itu apa?”
Oh. Mingyu mencoba menekan bagian dalam tubuh pacarnya yang tadi dan kena.
“Mi-Mingyu–”
“Feels good?” Mingyu menekannya beberapa kali sampai erangan keluar dari mulut Wonwoo.
Kemudian ia melepas jarinya, membuka lebar kaki Wonwoo sambil berdiri pada lututnya, “that’s where the sweet spot lies, honey.”
Wonwoo yang susah payah berhasil mengatur nafasnya harus kembali ke garis start saat Mingyu bercermin pada keadaannya saat ini.
Lelaki di atasnya melonggarkan celana dalamnya tanpa peringatan sambil terus menatap Wonwoo di mata.
Tak memikirkan hal lain selain dirinya sendiri, Wonwoo baru sadar bahwa Mingyu lambat laun akan telanjang juga sama sepertinya. Saat sang kekasih akhirnya polos , Wonwoo tercengang seperti baru saja diguyur oleh air dingin yang malah memberikan efek sebaliknya karena ia merasa panas bukan main.
Wonwoo tak punya banyak pengalaman sampai tahu bagaimana ukuran lelaki untuk dicap kecil atau besar, tapi saat ia mengalihkan perhatiannya pada apa yang ada di pusat tubuh Mingyu, ia tahu bahwa kali pertamanya ini tidak akan berlalu dengan mudah.
Anehnya, bukannya takut atau padam nyalinya, Wonwoo malah merasakan sisi remajanya yang mudah penasaran naik ke permukaan, mengambil alih segala reaksi tubuhnya , buatnya Ingin tahu apa Mingyu bisa ditelan oleh tubuhnya? Apa rasanya akan sakit seperti jari pertama tadi? Atau rasa nikmat yang tadi diberi oleh tiga jari Mingyu bisa kembali dirasakannya berkali-kali lipat–
“You are staring.”
Bisik Mingyu tepat di telinganya mengagetkan, memukulnya sadar bahwa sedari tadi matanya terpaku ke tempat yang salah.
“M-maaf–”
“Mau coba pegang?”
Tarikan nafasnya tak disertai hembusan karena Wonwoo menahan nafasnya saat Mingyu menggiring jarinya untuk menuju ke bawah , bawah, bawah, sampai ujung telunjuknya menyentuh kepala tonggaknya.
Mingyu menggeram saat Wonwoo menggenggamnya, sesuai dengan arahannya.
Akhirnya Wonwoo menghembuskan nafasnya, terlalu keras daripada intensinya. Oksigennya lebih banyak keluar dari mulut ketimbang hidungnya. Dilakukannya bukan demi bertahan hidup, bukan untuk bernafas; tiap hembus udara dari tubuhnya semata-mata adalah usahanya untuk mengeluarkan kalor dari tubuhnya yang kian menjalar sentuh tiap sudut tubuhnya dan mulai mempengaruhi bukan hanya pernafasannya tapi gerak otaknya.
Asalnya dari apa yang digenggam tangannya, yang berat dan keras, yang membuatnya entah punya keberanian dari mana untuk menyusurinya dengan jari-jarinya, menandai tiap helai urat yang melilit bagian tubuh Mingyu itu dengan sidik jarinya, sampai basah mengalir dari ujungnya membasahi jari, buat pergerakan naik turunnya lebih mudah, lebih licin.
Mingyu mencuri kecup di matanya, “do you want it, honey?”
“P-please, Mingyu–”
Pemuda berambut hitam menarik miliknya , menjauhkan tangan Wonwoo untuk berpindah haluan. Dimintanya Wonwoo memeluknya di leher.
Wonwoo menurutinya sampai ujung yang tumpul terasa mengetuk lubang analnya.
“Hmh–”
Mingyu tak langsung memasukinya. Walau celah yang diberikan Wonwoo menjanjikan untuk dimasuki, ini tetap saja masih kali pertama untuk Wonwoo. Maka Mingyu membuat kedua bagian tubuh yang akan memasuki dan dimasuki ini untuk saling mencumbu dengan lubrikan yang membanjiri.
Sedangkan lelaki di bawahnya makin tak sabar. Mingyu kian mengetuk pintunya tanpa mendobrak masuk.
“Hurry, giv- give it to me?”
Mingyu tersenyum, bibir sendiri digigitnya karena sesungguhnya bukan hanya Wonwoo yang tak sabar.
“Sure, sweetheart.”
Wonwoo tak mempersiapkan dirinya untuk ini.
Persiapan yang dielu-elukan Mingyu ternyata bukan permainan belaka, bukan hanya akal-akalannya untuk menggoda Wonwoo.
Mingyu yang mendobrak tubuhnya untuk kemudian melesat masuk begitu menyesakkan. Mingyu terasa lebih besar daripada saat digenggam tangannya. Mingyu bukan hanya panas tapi terasa seperti batang kayu yang berapi, menghanguskan Wonwoo yang sudah terbakar sejak tadi. Mingyu yang penuh gelora begitu keras, menerobos dinding tubuhnya yang erat akan resistensi.
Mingyu, Mingyu, Mingyu.
Kepalanya kosong, hanya diisi oleh bayang pacarnya yang maju-mundur hati-hati di atasnya, maka otaknya dengan lancar mengirim perintah untuk mulutnya memanggil siapa yang bukan hanya memenuhi tubuhnya tapi juga kepalanya .
“M-mmingyu– Min– Mmh– Mingyu–”
Panggilan Wonwoo atas namanya makin mendorong antusiasmenya untuk menghujani Wonwoo dengan nikmat sebanyak yang bisa ia berikan. Wonwoo di kesehariannya tak pernah setengah-setengah dalam memanggilnya; it was always “Mingyu”, tak pernah “-Gyu” atau lainnya.
Jawaban Wonwoo saat ditanya begitu sederhana. Akunya, “Mingyu” terasa nyaman di lidahnya.
Melewati beberapa bulan menjadi pacarnya, Mingyu tak pernah mendengar namanya diujar oleh Wonwoo dengan nada frustasi, penuh hasrat di antara hembusan nafas yang basah seperti saat ini, buatnya penasaran bagaimana namanya akan terdengar dari mulut Wonwoo saat Mingyu berhasil membawanya ke puncak orgasme?
Mingyu menggali lebih dalam, memanfaatkan lubrikan yang disiram pada penisnya untuk memudahkannya hinggap lebih jauh. Menekan dan menyeret titik-titik sensitif yang buat Wonwoo tak bisa berkata-kata lagi selain membuka-memejamkan matanya, makin lama tak sanggup menampung air matanya.
Rintihan Wonwoo disertai tangis yang menyeret dari tenggorokannya.
Saat kedua tangan Wonwoo yang diangkat di atas kepalanya digenggam Mingyu, disitulah Mingyu mendengarnya.
Sepersekian detik, Mingyu terkejut. Wajahnya hampir pias, menelusuri ekspresi Wonwoo yang naik turun di atas spreinya karena geraknya.
Bukannya rasa takut atau sakit yang dilihat Mingyu, ia malah menemukan Wonwoo menangis dengan matanya yang hampir terjungkal masuk ke dalam tengkoraknya. Tulang pipi yang tinggi padam merah dengan keringat yang merayap turun sampai dagunya. Jelas semuanya ada pengaruhnya dari rasa sakit karena ini kali pertama untuk pemuda itu, tapi aliran air yang menyungai di wajah pacarnya juga sarat akan rasa nikmat, rasa puas saat gairah yang kembung membengkak di tubuh sang kekasih dituang bensin untuk menyala agar lepas dari tubuhnya.
Wonwoo was just too overwhelmed. Kenikmatan yang diberikan Mingyu begitu berbeda dari apa yang biasa ia cari sendiri, begitu jauh dari masturbasinya. Mingyu tak hanya menjilat titik nikmat di permukaan; Kim Mingyu mencongkelnya sampai dasar , mengeruk nikmat sampai ujung tubuhnya, sampai Wonwoo bisa merasakan penis Mingyu di pelosok tubuhnya, bahkan terasa sampai tenggorokannya.
Gerak Pinggul Mingyu makin brutal, menabrakkan tubuhnya sampai Wonwoo dilipat dua untuk dimasuki lebih dalam.
Gilanya, Wonwoo yang seharusnya dalam keadaan berantakan karena akalnya yang dicabuti di tiap gerak Mingyu buat lelaki di atasnya terpana.
Air mata Wonwoo yang cukup deras melunturkan riasan wajahnya, terutama di bagian matanya. Olesan eyeliner yang mempertegas lingkar matanya kini bekerja sebaliknya karena Wonwoo kini terlihat lemah, berantakan ternodai di sisi matanya. Glitter yang samar-samar dibubuhnya di sekitar mata malah bersinar makin terang ketika disiram air matanya.
Di matanya, Wonwoo terlihat bagai utusan langit tercantik yang paling suci, yang tak tahu hitam di bumi yang baru dipijakinya, yang hilang menyusuri dunia sampai dipertemukannya dan berakhir mendesau serak dengan tubuh polos di bawahnya, yang meminta lebih dan lagi, lagi, lagi kepada Mingyu.
Buku jari Mingyu memutih, nafsunya sampai di ujung kepalanya, siap untuk meletus.
“Angel,” Mingyu menangkup pipi kekasihnya, “the prettiest angel.”
Walau sibuk membenahi nafasnya dan kewarasannya, Wonwoo dapat mendengarnya jelas.
Mingyu menyebutnya banyak hal , tapi "Angel" adalah yang pertama kalinya. “ Angel” did things to his core. Wonwoo merasa besar , merasa yang paling berarti di mata lelaki favoritnya, merasa tidak ada lagi yang bisa melebihi elok parasnya.
Wonwoo merasa terbang dan mungkin Mingyu benar soal memanggilnya dengan sebutan “Angel” karena Wonwoo merasa menjadi salah satunya, yang sedang naik melayang di bawah pengaruh kenikmatan dan ia tak butuh sehelaipun bulu untuk jadi sayapnya.
Ia hanya butuh Mingyu.
Mingyu, Mingyu, Mingyu, Mingyu, Mingyu–
Wonwoo mengerang makin keras dengan kaki yang makin ribut menyeret di atas kasur.
“Hmmh– Min– Mingyu– Aku–” punggungnya naik dari ranjang, menarik Mingyu mendekatinya. Wonwoo melihat putih dan buram di matanya, bersama tegang di perut bawahnya, “ak– aku mau– mau keluar– Mingyu– please– ”
Penis Wonwoo dengan mudah digenggam Mingyu untuk dijempoli ujungnya dan Wonwoo tak bisa untuk tidak membenturkan kepalanya ke pundak Mingyu karena stimulasi dimana-mana.
Satu kecup di dahi dan Wonwoo selesai–
“Come, angel.”
–dan maksud Mingyu ke atas tadi bukan cuma menuju lantai dua kamarnya, melainkan angkasa yang dipenuhi lautan bintang.
-
Mingyu terbangun dari tidurnya akibat gelitik di hidung yang makin mengganggunya.
Bias cahaya penanda pagi yang masuk dari gorden kamarnya menyelinap sedikit demi sedikit ke dalam matanya, buat pandangannya yang gelap makin jernih–
–dan akhirnya ia bisa menemukan kedua bola mata pacar kesayangannya menatapnya.
"Hmmh." Mingyu memperbaiki posisi tubuhnya, membawa Wonwoo ikut serta dengannya. Sepertiga tubuh lelaki yang kurus memang sudah menibannya sejak tadi, tapi kini ia biarkan hampir sepenuhnya berada di atas tubuhnya.
"Pagi?" sapa Wonwoo kecil, hampir terlewat dari pendengaran. Suaranya hampir hilang, menyisakan gema yang menyeret dari tenggorokannya.
"Good Morning for you too, Angel." dibalas dengan suara yang sama pilunya.
Mingyu mengecup keningnya, membawa tangan besarnya ke bawah untuk memijat pinggang lelaki kesayangannya.
"Ada yang sakit?" sambung Mingyu.
Wonwoo menggeleng, menggelitik dadanya yang ditutupi kaos sleeveless.
Mingyu mendengung bersyukur karena rasa cemas memang ada. Semalam setelah keduanya sama-sama melepas orgasme, Wonwoo setidaknya 80% tak sadarkan diri. Bukannya pingsan, hanya tak responsif seperti seharusnya. Sang kekasih hanya terbaring dengan mata setengah terbuka saat Mingyu membersihkan tubuh sampai ke riasan wajahnya, (dengan susah payah) mengganti sprei di bawah tubuhnya dan memakaikannya pakaian layak untuk kemudian terlelap tidur setelahnya.
"How was it?" tanya Mingyu sambil menyisiri rambut Wonwoo yang mencuat kemana-mana, dalam hati begitu mendambakan pujian, "was it... okay?"
Dua-tiga detik sampai Wonwoo memeluk lehernya.
“Hm?”
“It was okay,” katanya serak, “more than okay– I– I rather like it.”
Alisnya naik, terkejut dengan pernyataan yang gamblang, “kamu suka.”
“Suka,” yakinnya dengan senyuman kecil dan semburat malu yang sama sekali tak samar di pipinya, “thank you for taking care of me, Mingyu.”
Bukan Wonwoo yang harusnya berterima kasih.
Dengan izin Wonwoo dan juga kemauannya sendiri, Mingyu juga baru saja melewati malam yang paling berarti dalam 20 tahun hidupnya. Memang ini bukan yang pertama baginya, but it feels like one.
Soal pertama, Wonwoo bukan satu-satunya yang melalui momen-momen pertama dengan Mingyu.
Wonwoo juga buat Mingyu mengalami, merasakan hal-hal pertama kali di hidupnya lewat Wonwoo.
Wonwoo tanpa sadar yang memperkenalkan padanya bagaimana berjuang untuk seseorang, bagaimana enaknya menggigit manisnya kemenangan hasil jerih payahnya sendiri.
Wonwoo dengan sikap manisnya memikat, membuat Mingyu tak hanya menunggu untuk disuapi tapi dibuatnya berlari, dibuatnya mengejar apa yang diinginkannya.
Wonwoo adalah yang didamba Mingyu, yang Mingyu susul dengan polos nya lewat bertangka-tangkai bunga, gigitan coklat, tatapan perhatian, telinga untuk mendengarkan dan yang penting perasaannya.
Menyaksikan Wonwoo berbaring di atasnya, dengan mata yang tak sepenuhnya terbuka, rambut yang saling berbelit dan senyumnya yang cantik karena ulahnya buat dadanya membuncah; senang tak karuan.
Ini juga yang pertama untuk Mingyu.
Dan Mingyu tak bodoh untuk menyebutnya cinta pertama .
“I love you.”
Wonwoo mengedip, tak menyangka kalimat itu yang dijadikan balasan dari terima kasihnya.
Sang penerima pesan tak terlalu lama berdiam. Dengan cepat menelan kalimat sakral yang terdengar tulus di setiap desibelnya.
Cengiran malu Mingyu dibalas senyuman lebar.
“I love you too, Mingyu.”
