Actions

Work Header

A Tiny Step Closer to Your Heart

Summary:

Jung Hoseok itu tidak pernah berbohong dan Min Yoongi itu tidak bisa basa-basi. Ironisnya, mereka saling memendam rasa untuk satu sama lain.

Notes:

AAAAAaaaAaaaaAaAAaAaaaaa sope au pertama aku 🤧 Aku berkesempatan nulis mereka di event ini fufufufufu. Sebelumnya mohon maaf kalau ini corny abis (karena aku hopeless romantic in the heart).

Karya ini aku dedikasikan untuk #NYNH2022 @hopecentric di Twitter. Met 1 tahun base keren🙌

Oiya, kalau mau mampir ke Twitter aku, silakan klik di sini. Selamat membaca!

Work Text:

Jung Hoseok itu tidak pernah berbohong dan Min Yoongi itu tidak bisa basa-basi. Ironisnya, mereka adalah teman lama yang klop.

 

 

Errr … tidak lama juga sih (kecuali kamu menganggap 5 tahun itu bukan waktu yang sebentar). Keduanya bukanlah kombinasi yang menakjubkan, juga bukan kombinasi yang buruk. Bila dipikir-pikir, mereka lebih banyak tidak cocok ketimbang cocoknya, tuh. Yoongi itu orangnya sederhana sementara Hoseok sebaliknya. Yoongi itu lebih suka ketenangan sementara Hoseok sebaliknya. Yoongi pun tidak akan segan mengusirmu dari depan rumah bila ia tidak berkenan menerima tamu (sekalipun itu Hoseok yang datang). Namun, pada akhirnya, segalanya akan berakhir sesuai kehendak Hoseok, tidak peduli sekeras dan sekuat apapun pendirian Yoongi. Well, lagi pula siapa Yoongi yang berani menolak keinginan Hoseok, Jung Hoseok?

 

 

Namun, itu bukan jadi sebuah mitos bahwa badai besar pun tiada mampu memisahkan ikatan erat kedua pemuda ini. Yoongi dan Hoseok itu sudah serupa magnet, menjadi tumpuan dan tempat kembali masing-masing setelah berotasi ke banyak tempat (dalam nada serius). Biarpun Hoseok memiliki banyak teman (bahkan di seluruh penjuru sekolah dan kompleks rumah), ia akan selalu mencari Yoongi di penghujung hari. Menjadikan Yoongi tempat terakhir untuk berlabuh.

 

 

Tunggu.

 

 

Apakah itu terlihat seperti kalimat penuh romansa dan penuh kasih? Tahan dulu di sana karena itu bukan seperti yang kalian kira. Hoseok menggeleng keras, menyanggah gagasan aneh tersebut.

 

 

Iya, mereka hanya teman. Platonically . End of the story. Errr, setidaknya Hoseok menganggap begitu. Tidak tahu deh kalau Yoongi … berpikiran yang sama. Iya, 'kan?

 

 

*****

 

 

Jung Hoseok itu tidak pernah berbohong dan Min Yoongi itu tidak bisa basa-basi. Ironisnya, Hoseok pandai menahan tangis dan Yoongi paling tahu kapan itu terjadi.

 

 

Kejadiannya waktu mereka masih di bangku kelas 3 SMP. Hari itu mereka tidak pulang sekolah bersama sebab Yoongi harus ikut pertemuan di klub basket, untuk terakhir kali. Siswa di tingkat terakhir sudah harus menyelesaikan kegiatan klub dan itu berarti Yoongi juga. Hoseok sudah menyelesaikan urusan itu kemarin, untungnya. Jadi, sebelum benar-benar pulang, ia berpesan pada Yoongi agar pemuda itu berhati-hati dan jangan mengebut, mengingat Yoongi sangat serampangan membawa sepeda. Kebetulan Hoseok tidak membawa sepeda sehingga ia memutuskan untuk pulang dengan bus.

 

 

Hoseok tidak begitu percaya dengan hal mistis (sekali pun ia sendiri adalah salah satu orang yang takut menonton film horor), tetapi perasaannya hari itu memang sangat tidak enak. Ia duduk dengan gelisah di halte dan akhirnya memutuskan memutar arah untuk pergi kembali ke sekolah, setengah berlari.

 

 

Dan dugaannya benar.

 

 

Ia menemukan Yoongi tergeletak tidak jauh dari gerbang sekolah dengan luka di sekujur tangan dan kakinya. Sepedanya tergeletak jauh dari posisinya terbaring. Beruntung sore itu ada banyak orang sehingga Yoongi berhasil dibawa ke rumah sakit sesegera mungkin.

 

 

Salah satu orang di sana bilang bahwa Yoongi menjadi korban tabrak lari. Padahal Yoongi berjalan di sisi kiri jalan dan tidak mengebut. Mobil yang menabrak Yoongi datang dari arah berlawanan dan langsung pergi tanpa mau bertanggung jawab.

 

 

Di dalam ambulans, Yoongi meraih tangan Hoseok. Ia tahu betul bagaimana Hoseok berusaha keras mengendalikan diri. Jadi, ia tersenyum dengan segenap perasaan tidak enak, mengusap tangan Hoseok pelan. “Hoseok, maaf ya? Aku tidak dapat menepati pesanmu untuk berhati-hati.”

 

 

Dan Hoseok menangis keras sore itu. Menangis lebih keras daripada Yoongi yang menahan rasa sakit.



*****

 

 

Jung Hoseok itu tidak pernah berbohong dan Min Yoongi itu tidak bisa basa-basi. Ironisnya, Hoseok justru pandai berakting dan Yoongi pandai menahan segalanya.

 

 

Demi Tuhan.

 

 

Tidak sekalipun Yoongi merasa dicurangi dalam hidupnya lebih daripada hari ini. Kadang ia bertanya-tanya siapa anak dari Keluarga Min yang sesungguhnya; ia atau Hoseok? Atau ini hanya salah satu trik licik dari Jung si–abaikan. Di dalam ekosistem ini, dilarang mengeluarkan kata-kata kasar.

 

 

Tetapi sungguh, ide untuk (memaksa) menginap di rumah temanmu—yang kakinya habis terkilir di pelajaran olahraga—dengan dalih menghilangkan stres di hari Selasa malam tidak terdengar seperti hal baik. Yoongi bahkan sampai memohon pada Mama di telepon agar tidak membawa Hoseok ke kamarnya (sebab ia tahu betul siapa tamu defisit peri pertemanan di balik pintu rumahnya 10 menit lalu). Ia benar-benar tidak siap menghadapi ide-ide luar biasa yang akan Hoseok keluarkan bila pemuda itu tetap memaksa berada di rumahnya.

 

 

Namun, rupanya Yoongi harus kembali menelan bulat-bulat kekalahannya di depan mata. Ingatkan Yoongi untuk melayangkan satu-dua protes pada Mama besok sebab pintu kamarnya terlanjur terbuka oleh orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak bungsu keluarga Jung, bahkan sebelum Yoongi sempat mengunci pintu kamarnya. Ia menghela nafas.

 

 

Well, sekali lagi, siapa Yoongi yang berani menolak keinginan Hoseok, Jung Hoseok?

 

 

Dan di sinilah mereka. Di atap rumah Yoongi yang langsung menghadap lapangan kompleks. Awalnya, Hoseok memaksa untuk memasang tenda agar bisa tidur sambil mengamati bintang. Namun, gagasan tersebut ditolak Yoongi keras-keras. Ia memasang tameng bahwa dirinya habis mengalami kecelakaan kecil sehingga tidur di lantai yang keras tidak membuat cederanya lebih baik dan memohon sedikit belas kasih dari Hoseok.

 

 

Apakah Hoseok akan berhenti? Tentu saja, tidak. Pemuda dengan senyum lebar itu malah menawarkan alternatif lain–pijat–yang lagi-lagi ditolak Yoongi. Ia sangat hafal, Hoseok tidak cukup mahir untuk itu. Gosh, bahkan ia tidak punya sertifikat pijat.

 

 

Oleh sebab itu, keduanya kini saling diam, duduk di atas gazebo sambil menatap langit. Hoseok jelas tidak senang dengan keputusan Yoongi dan Yoongi tidak dapat melakukan apapun terhadap itu. Di dalam kesempatan ini, Yoongi sedikit bersyukur sebab ia dapat melihat serta mengagumi sosok menyebalkan di sampingnya lebih tenang, sekali pun harus berperang pada hati dan logikanya. Ia hampir saja tertawa bila tidak segera menahan diri. Lihat saja bagaimana mulut Hoseok yang sibuk mengomel akibat penolakan dari Yoongi berturut-turut.

 

 

Apakah Yoongi terlalu pengecut? Tidak tahu. Ini terlihat sulit, kamu tahu? Banyak kemungkinan yang menahan Yoongi, yang Yoongi takutkan. Pemuda di sebelahnya adalah orang terakhir yang ingin ia sakiti sehingga Yoongi—pada akhirnya—lebih memilih menahan semuanya, termasuk perasaannya sendiri. Apakah ia punya pilihan untuk menjadi egois? Tentu ada. Tapi, apakah akhirnya akan sesuai harapan?

 

 

"Ya sudah. Ayo, menari saja. Kamu tidak boleh menolak kali ini."

 

 

Begitu saja. Tangan Yoongi ditarik oleh Hoseok tanpa menunggu persetujuan dari yang bersangkutan dan keduanya sudah berdiri menjauhi gazebo. Hoseok menuntun Yoongi untuk menaruh tangannya di bahu dan melakukan hal yang sama pada bahu Yoongi—tidak membiarkan pemuda itu melayangkan satu protes— sedangkan sebelah tangannya yang lain masing-masing saling bertaut. Hoseok membawa keduanya berputar diiringi musik yang dinyanyikan pelan oleh Hoseok sendiri. 

 

 

Sinar rembulan malam ini menambah efek bagus untuk suasana dan situasi yang ada. Well, walaupun Yoongi sendiri sangsi terhadap kemungkinan bahwa Hoseok merasakan suasana seperti yang ia rasakan.  Hoseok menutup matanya sambil terus mendendangkan nada-nada lembut dan Yoongi tetap fokus menatap wajah pasangan menarinya dengan hati yang kacau. Seandainya saja otaknya sudah lebih gila, Yoongi mungkin saja sudah maju dan mencium kedua mata yang tertutup itu serta turun ke bibir lembut di depannya.

 

 

"Kamu tau, Yoongi?” Hoseok tiba-tiba saja membuka mata dan menatap Yoongi nyalang. Sejujurnya Yoongi agak sedikit kaget. “Hari ini kamu super duper menyebalkan."

 

 

Yoongi mengangguk. Masih membalas tatapan jengkel dari Hoseok dan tersenyum, tanpa sadar. "Iya, aku tau."

 

 

"Astaga, lihatlah senyum itu." Yoongi benar-benar ingin tertawa. Hoseok benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. "Kamu ini bisa tidak, sih, berhenti menyebalkan? Padahal niatku ke sini baik."

 

 

Yoongi menggeser langkahnya, tanpa sadar hampir memimpin tarian sebelum Hoseok refleks menginjak kakinya.

 

 

"Wow, yang satu itu lumayan. Injakanmu kali ini cukup kuat." Puji Yoongi, jenaka. Ia masih memegangi kakinya yang diinjak Hoseok, meringis menahan sakit.

 

 

"Rasakan itu. Aku tidak bertanggung jawab."

 

 

Menaruh kakinya kembali, Yoongi akhirnya menghadap Hoseok. Ia yakin hari ini sedang kerasukan dewa nasib baik atau entitas apapun itu tetapi selanjutnya ia berucap,

 

 

"Lantas, kamu juga tidak mau bertanggung jawab atas perasaanku?"

 

 

Dan membuat Hoseok yang bertolak pinggang jengah total menghadap Yoongi sepenuhnya, tidak siap dengan respons yang demikian. "Tunggu, kamu bilang apa?"

 

 

"Aku suka kamu, Hoseok."

 

 

"Wow, kamu bahkan tidak terbata-bata." Ujar Hoseok jujur.

 

 

Keduanya lantas diam.

 

 

"Yoongi?" Yang dipanggil menoleh. Yoongi sudah siap menulikan telinga sampai ia mendengar, "Aku juga suka kamu."

 

 

Yoongi melebarkan matanya sebentar. "Kamu suka aku juga? Wow."

 

 

Wow.

 

 

Mereka lantas tertawa bersamaan. Tidak dapat membendung perasaan dan suasana asing yang sudah memenuhi udara.

 

 

"Gila, aku tidak menyangka. Kamu bahkan tidak terlihat sedikit pun seperti seseorang yang menyukaiku lebih dari teman." Hoseok berujar.

 

 

"Tidakkah kamu juga, Jung?” Balas Yoongi. “Aku, uh, aku ternyata tidak terjebak perasaan sendirian." Lanjut Yoongi dengan suara pelan.

 

 

“Kamu bilang apa, Yoongi?”

 

 

“Oh? Tidak ada.” Ucap Yoongi kelewat keras.

 

 

Tautan di tangan kembali menyatu. Dengan segenap keberanian dan panas yang mulai menjalar ke leher, Yoongi berucap kembali, menatap mata yang kini resmi menjadi objek favoritnya. "Mau menari lagi? Kali ini sebagai sepasang kekasih, bukan teman yang sedang bermusuhan."

 

 

Hoseok tertawa sebentar. "Tentu, tuan kekasih. Dengan senang hati." 

 

 

Rasanya bulan malam itu bahkan lebih terang daripada bulan-bulan sebelumnya. Kedua anak Adam itu kembali menari lebih khusyuk di bawah sinar rembulan.

 

 

*****

 

 

Jung Hoseok itu tidak pernah berbohong dan Min Yoongi itu tidak bisa basa-basi. Ironisnya, mereka saling memendam rasa untuk satu sama lain.

 

 

Setelah menari dan mengobrol sampai agak larut, keduanya kembali ke kamar Yoongi untuk tidur. Hoseok masih terjaga sejak kembali 30 menit lalu. Ia mengambil ponselnya di bawah bantal, menatap presensi di sebelahnya yang sudah terlelap di alam mimpi.

 

 

‘Dear diary, hari ini aku dan Yoongi sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Terima kasih  sudah menemani perjalananku selama ini’ <>