Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-11
Words:
1,292
Chapters:
1/1
Kudos:
29
Hits:
478

two of us gazing as stars

Summary:

Dunia menakutkan, jika Jaeyun boleh jujur. Akan tetapi, kemisteriusan alam semesta yang sulit diterka itulah yang membuat Jaeyun sedikit punya harapan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Derak angin hantam jajaran pepohonan, rasa dingin merayap lalui celah pakaian.

Pada malam yang cerah ini, Jaeyun duduk di atas kap mobil dengan sepasang lengan hangat yang lingkari pinggang. Ceruk leher tahan rasa geli dari rambut kepala yang tenggelam di sana.

“Dingin gak?” Tanya Heeseung yang lantas dijawab gelengan.

“Mana mungkin dingin kalo kita rapet begini.”

Heeseung memeluk Jaeyun dengan erat, sedangkan yang dipeluk mengelus lengan Heeseung dengan lembut.

Adalah pengghujung minggu keempat di bulan Desember, yang mana langit terang benderang disinari cahaya bintang yang brilian, Jaeyun layangkan pandang kepada rembulan yang tergayut di awang-awang.

Berada di ujung jalan buntu, di bukit kecil tepat di atas metropolis yang hampir tertidur. Ia nikmati setiap detik yang terlewati bersama Heeseung malam ini. Terbenam rasa nyaman dalam dekap belahan jiwanya, tanpa khawatirkan satu pun noktah hitam yang selalu ganggu keduanya bersama.

“Kamu kepikiran gak sih?”

“Apa?”

“Kita, pengangan tangan di depan publik, jalan-jalan sambil rangkulan, then I kiss you on the cheeks. Pengen gak sih kamu kayak gitu?”

Jaeyun tersenyum, usak rambut Heeseung dengan kelembutan tiada tara. Coba hapuskan entah pikiran buruk seperti apa yang lelaki itu punya.

“Pengen,” jawab Jaeyun sontak rasakan tubuh Heeseung menegang, “tapi, sayang,” ia lanjutkan, “sometimes, being happy in a safe private setting is enough. Asal bareng sama orang yang kita cintai. Kayak sekarang, bareng kamu disini, di tempat yang cuma ada kita berdua, i feel grateful

Jaeyun bisa merasakan tubuh Heeseung yang rileks kembali. Pria itu tertawa, kecup ceruk leher Jaeyun dengan singkat, lalu sejajarkan wajah keduanya.

Why did I do to deserve you? Orang yang pas SMA suka tawuran dan pas kuliah suka cabut duluan, boleh ya dapet pacar anak baik kaya begini?”

Justru itu, Jaeyun punya seluruh waktu, tetapi kegiatan cari kekurangan dari  Heeseung selalu berakhir tanpa titik temu.

Entah itu  netra Heeseung yang bercahaya, entah lengkung senyumnya yang manis, Jaeyun rasa dirinya telah diserap oleh gravitasi habis-habisan. Bahwa tidak ada yang sangat ingin ia lakukan selain tautkan bibir dengan Heeseung.

Your cheeks are red.

Buku-buku jari yang halus, belai pipi Jaeyun. Lembut napas yang teratur sapu wajah pria itu. Hidung Heeseung dan Jaeyun bersenggolan. Ada seribu macam distraksi, namun dari bibir Heeseung, mata Jaeyun memilih untuk tidak pergi.

“Aku lagi mikir buat cium kamu.” Jujurnya.

“Hahaha, kenapa gak cium langsung?”

Sudut bibir Jaeyun diusap dengan ibu jari, netranya seolah ditelanjangi. Kalah telak oleh milik Heeseung yang ramah sekaligus mengintimidasi.

Jaeyun pikir, sinar keperakan dari rembulan sangat menawan di kulit Heeseung. Dan sebab terlalu banyak berpikir, Heeseung putuskan untuk bergerak lebih dulu. Kecup Jaeyun dengan sabar dan lumat ranumnya dengan hati-hati.

Seharusnya, Jaeyun merasa dingin. Namun, disana; dibawah pepohonan yang rindang yang bermandikan gemerlap bintang, Jaeyun hanya mampu rasakan kehangatan. Ciuman Heeseung hangat. Bersama Heeseung hangat. Semua tentang pria itu, hangat.

Jaeyun meremas bahu Heeseung dan mendorong- nya pelan, “as much as I love it, we need to breath.”

Heeseung mengangguk, “yeah, we need to stop, sebelum ada kegiatan partikular yang jadi semi publik.”

Pukulan pelan dilayangkan ke pundak Heeseung oleh Jaeyun, “mesum aja terusss.”

Tawa mereka mengalahkan suara angin malam dan serangga-serangga yang berbunyi dibalik dedaunan.

“Jaeyun, kalo suatu saat kita bisa menikah. Kam-”

“Kita pasti menikah, kak.”

Jaeyun menggenggam telapak tangan Heeseung dengan mantap, dan menatapnya dengan penuh keyakinan, membuat Heeseung tersenyum, menampakkan deretan giginya yang rapi.

“Iya, kalo kita menikah. Kamu mau kita tinggal dimana?”

Jaeyun menyandarkan kepala ke pundak lebar Heeseung, “di mana aja. As long as I’m with you.”

 

*

 

Jaeyun membayangkan, suatu hari, keduanya berjalan bergandengan di bawah pohon mapel yang daunnya  mulai berguguran. Lempar godaan satu sama lain dengan bebas. Lalu, Heeseung tertawa dengan gelak murni yang menular, tawa yang ingin Jaeyun ingat dan patri seumur hidup dalam benaknya.

Hari itu, dengan cuaca yang sedetik panas sedetik hujan. Heeseung menariknya memasuki sebuah café yang kecil. Duduk di pinggir jendela untuk saksikan puluhan manusia sibuk yang berjalan terburu-buru di bawah hujan yang turun miring.

Heeseung memesankan cokelat hangat untuknya, sekaligus memberikan sentuhan yang lebih hangat di buku-buku jarinya. Heeseung menarik tangan Jaeyun untuk dikecup dan Jaeyun tersenyum tanpa terganggu dengan tatapan merendahkan dan tidak suka dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Sebab pada hari itu, buana sudah restui mereka seutuhnya, membiarkan mereka menjadi pemilik dunia yang bersama atas nama cinta.

Suatu saat, suatu saat, semua itu pasti terjadi.

“Jaeyun,” Panggil Heeseung membawa Jaeyun yang sedang jauh dalam lamunan untuk kembali.

 “Kenapa ngelamun? Lagi mikirin apa?”

“Kak,”

“Iya?” Heeseung sunggingkan senyum.

Everyone will always have something to say about whatever you do and you don’t have to be a gay.

Mata Heeseung membulat, mimik wajahnya seketika berubah sendu, dihias dengan rasa bersalah yang tiba-tiba singgah. “Oh, lagi mikirin yang tadi. Maaf udah bawa topik itu, kamu malah jadi kepikiran.”

Jaeyun menggeleng, tangkup wajah Heeseung dengan kedua tangannya. “Gak gitu, being comfortable with each other is more important than being comfortable with strangers, right? Setuju?”

Heeseung mengangguk.

Jaeyun menarik napas untuk berbicara lagi, “then do whatever you want to do, kak. Aku gak takut sama sekali. We have each other. Kamu juga gak boleh takut.”

“Aku juga gak takut.”

“No, aku tahu kamu takut. Kamu gak boleh invalidasi perasaan kamu sendiri, kak. Jangan pura-pura gak apa-apa kalo kamu sakit. Aku gak suka.”

Di dunia yang hitam putih ini, benar dan salah lebur dalam titik abu. Gravitasi takdir hanya turut andil dalam satu persen, sisanya adalah pilihan.

(There will be people who don’t like you because of your sexuality. Akan tetapi, itu bukan berarti kamu tidak valid.)

Heeseung mengangguk sekali lagi, bersamaan dengan titik bening yang turun dari matanya yang indah. Bahu yang kokoh kini terlihat rapuh, tetapi keraguan yang sempat sirat kini menghilang sepenuhnya.

Melihat Heeseung sedemikian hancur, membuat Jaeyun ingin ikut menangis. Akan tetapi, harus ada salah satunya yang bersikap tenang. Karena itu Jaeyun tersenyum, mengapus air mata di pipi lelaki pujaannya itu dengan lembut.

Ia membawa tubuh Heeseung dalam peluk.

 “It’s okay, kak. Kita ada di titik gelap sekarang, tapi gak apa-apa. Kita bisa jadi bintang buat satu sama lain. Hang in there ya, sabar sedikit lagi. It will all be worth it in the end. Dunia baik kok, dunia baik.”

Dunia menakutkan, jika Jaeyun boleh jujur. Akan tetapi, kemisteriusan alam semesta yang sulit diterka itulah yang membuat Jaeyun sedikit punya harapan.

Someday, everything will be ok.

“Kamu kalo ada apa-apa tolong cerita ke aku. Kita lewati semua bareng-bareng. Aku bakal selalu ada di samping kamu, kak. Kamu sama aku, ngelawan dunia bareng. Aku janji, semua bakal baik-baik aja.”

“Jaeyun, a-aku, aku, maaf aku gak bisa berenti nangis. Aku-,”

“Shhh, gak apa-apa, kak. Nangis aja, gak ada yang liat.”

Terkadang, dinding terkuat sekalipun bisa runtuh. Apalagi manusia, yang selalu ceria bukan berarti tidak  merasakan luka. Yang terlihat kuat bukan berarti tidak punya rasa lelah. Mungkin saat ini Heeseung sudah ada dipuncaknya. Rasa lelahnya tidak mampu lagi ia tahan.

 Jaeyun mengusap punggung Heeseung yang gemetar, ucapkan deretan kalimat menenangkan sampai isak-isak pilu satu persatu hening.

Menarik diri, keduanya saling bertatapan. Senyum terpatri di bibir dan rasa syukur tertanam di kedua bola mata. It will all be worth it in the end. Jaeyun mengingat kalimat itu lagi.

I love you, kak,” bisiknya.

I love you too, Jaeyun. I won’t leave you, in a million years.

“Aku gak suruh kamu janji.”

“Aku tetep mau janji. Maaf juga karena udah bikin kamu kawatir. Lain kali, kalo ada yang ganggu pikiran aku, aku pasti langsung cerita.”

“Bagus itu.”

Dengan demikian, malam penuh rahasia di bawah kemisteriusan alam semesta terlewati. Dan dua insan itu, kini  sama-sama merasakan kekuatan yang nyaris mistis dalam bentuk harapan yang mereka bagi.

Di bawah terang rembulan, manakala seluruh kota tertidur. Jaeyun dan Heeseung dipenuhi banyak mimpi.

“Kalo kayak gini, kita keliatan kecil ya, Kak.”

“Iya, kita kayak partikel terkecil di alam semesta, tapi kalo gini, kita jadi kayak yang punya dunia.

 

Fin.

Notes:

Thank you for reading! I hope you liked it!