Work Text:
Gulungan kertas lusuh dijeberkan, ditekan kuat, kemudian dikelompokkan sesuai nominal. Jay menghitung dalam diam, dari kerincing logam berbahan kuningan, hingga kertas merah bergambar pahlawan Nasional. Kemudian ia berdecak, menyamai suara nyaring cicak di atas lemari kayu tua.
Pengeluaran akhir bulan memang selalu menjadi masalah besar. Tidak, seluruh hal yang menyangkut keuangan bagi Jay merupakan masalah besar. Tangan-tangan keriput mengerikan, orang tua tamak, wanita malang penuh pengharapan, Jay tidak peduli. Ia membutuhkan uang, bekerja dari pagi hingga malam. Dari tukang loper koran dini hari hingga menjadi mucikari sebuah bar prostitusi.
Di usia dua lima, Jay mungkin sudah menemui ratusan jenis manusia. Dari wanita beriman penghuni gereja, hingga pria bertangan dingin pemimpin mafia. Jay mengambil semua pekerjaan yang ada, baik atau buruk. Tak apa, selama ia mendapat uang, maka semua akan baik-baik saja. Asal lintingan rokok masih di tangan, maka Jay tetap akan tenang.
Hidup sebatang kara di kota besar agaknya memang terasa menyusahkan. Pengeluaran defisit akibat biaya hidup serba mahal, ditambah lapangan kerja yang ikut menyempit dengan saingan super sengit. Jay merangkak, mencoba bertahan walau bahkan ia tidak menyelesaikan sekolah menengahnya.
Barangkali jika ada yang bisa dijadikan hiburan, maka itu adalah lintingan nikotin penghasil asap tebal. Jay tidak pernah tertarik pada mode atau kuliner mahal, semua uangnya habis untuk sewa apartemen, rokok, alkohol, dan mungkin berbagai jenis mie instan. Jika sedang merasa lapang, maka ia akan membeli bahan makanan, mungkin daging dan sayuran cukup untuk mengisi lemari es hingga sebulan. Atau mungkin uangnya akan ia habiskan untuk Park Sunghoon.
Jay mendengus geli dalam diam. Suara bising sirine ambulan memekik dari arah jendela luar. Hujan deras di malam Oktober, mungkin jalanan licin dan menyebabkan kecelakaan. Ia tiba-tiba teringat sebuah pesan yang diterima sejak tiga puluh menit yang lalu.
15 menit lagi gue sampai. — katanya.
Ujung batang rokok diselipkan antara jari, Jay menghisap nikotin hingga pipi membentuk cekungan. Park Sunghoon. Entah sejak kapan pria itu menjadi pusat dunianya. Mungkin sejak ia masih menjadi siswa sekolah menengah dan mendapati Sunghoon melompat ke arahnya dengan wajah terperangah.
—'Mata gue emang nggak pernah salah. Lo ganteng, bener-bener tipe gue.'
Park Sunghoon memang selalu terlihat unik di mata Jay. Atau mungkin sedikit gila. Orang bilang Park Sunghoon adalah begundal cilik pemilik mulut menyebalkan, orang lain bilang Park Sunghoon adalah bocah masokis tukang cari perhatian. Tapi Jay bilang, Park Sunghoon adalah malaikat cantik anugerah dari Tuhan.
Mungkin jika ada yang gila, maka itu adalah dirinya sendiri
Gelas bening setinggi satu jengkal diangkat perlahan, ditenggak langsung tanpa peduli alkohol dapat menyakiti tenggorokan. Kepala ia senderkan ke belakang. Mendongak, menatap langit-langit dengan pandangan tajam.
Jika ditelik kembali, hidup Jay selama delapan tahun kebelakang memang hanya soal Park Sunghoon dan Park Sunghoon saja. Jika ada yang lain maka itu adalah lintingan rokok mentol penghilang nestapa.
Cinta pertama Jay adalah Park Sunghoon, kebahagiaan Jay ada pada Park Sunghoon, dan pesakitan Jay juga merupakan Park Sunghoon.
Semesta agaknya memang suka memainkan perasaan orang. Terkadang Jay merasa hidupnya seperti boneka yang sedang bermain peran. Sialnya lagi, ia mungkin hanyalah seorang figuran, bukan tokoh utama berlakon pangeran. Bukan juga ksatria berkuda pembawa pedang.
Kepulan asap rokok kian menebal, cicak di dinding semakin berbicara nyaring seolah sedang menyuarakan protes. Mungkin karena sudah lama tinggal bersama, cicak pun ikut mengkhawatirkan kesehatan paru-parunya. Atau mungkin ia hanya takut asap rokok dapat membunuh mereka sekaligus secara perlahan.
Suara dentuman dari arah pintu depan membuat Jay menoleh sebentar. Sebelum kembali ke posisi semula tiga detik kemudian dan menghisap rokok mentol dengan tenang. Pintu dibuka secara kasar, mungkin engselnya sedikit rusak, tapi Jay tetap diam. Seorang pria berbaju serba hitam masuk dengan mulut penuh omelan.
"Masa di depan ada kecelakaan, gue jadi telat dateng ke sini. Dasar ibu-ibu sein kiri belok kanan, nggak tahu apa ya mereka itu super meresahkan?"
Jay melirik. Menyimak dalam diam walau pandangan mata masih datar. Ia tepuk bagian sebelah sofa yang kosong, mengkode pemuda di depan untuk duduk dan kembali tenang. Tapi yang dituju tidak mau menurut, dan justru menangkup rahang Jay dengan sebelah tangan. Mengelusnya sensual sebelum memberi kecupan pelan.
"Jongseongii udah makan malem?"
Park Sunghoon ini memang menyeramkan
___________________________________________________
"Dua atau satu? Oke tiga."
Tiga butir telur dipecah, kemudian dimasukkan ke dalam panci berisi didihan mie instan. Padahal Jay belum menjawab, tapi Park Sunghoon memang suka seenaknya sendiri. Tak apa, toh Jay juga tidak peduli.
"Gue bisa mati kalau tiap hari makan mie instan," Jay mendekat, memeluk pinggang Sunghoon dari belakang. "Tapi emang cuma itu sih yang bisa lo buat."
Ujung alis Sunghoon berkedut karena kesal. "Bawel! Calon suami gue aja nggak pernah protes."
"Kalau gue jadi calon suami lo, gue juga nggak akan pernah protes."
Park Sunghoon tertawa, "kencengin doa sepertiga malamnya, siapa tahu terkabul kayak pasangan yang pernah viral."
Jay mendengus geli, sedetik kemudian tertawa seperti orang autis. Suara air mendidih semakin pekat, melebar keluar membuat Sunghoon terpenjat. Knob kompor diputar ke kanan, ia menatap skeptis pada lelehan kuah rebusan mie instan. Pasti nanti susah dibersihkan.
"Mau makan di mana?"
Pinggang ramping diputar ke belakang, wajah Jay mendekat, menatap lekat. Bulu mata panjang berkedip tiap tiga detik, cantik. Netra coklat mengelap, pupil mata melebar, Sunghoon lupa bagaimana caranya bersikap.
"Gimana kalo, gue makan lo aja."
Park Jongseong membawa satu alisnya terangkat –menggoda– dan Sunghoon tak memiliki jawaban lain selain anggukan kepala.
__________________________________________________
Ranjang kayu berderit. Jay menindih tubuh Sunghoon dalam kungkungan. Bibir bertemu bibir, digesek berulang-ulang, dilumat perlahan. Sunghoon merintih karena kewalahan. Lidah Jay masuk, merayapi seisi mulut, mendominasi secara total. Gigi diabsen, langit-langit digelitik, Sunghoon menggelinjang karena kegelian.
Bibir saling melumat dengan lapar, lidah berkelit, tangan bertaut, saliva tumpah membasahi dagu dan bantal. Paras memerah parah, Sunghoon terengah lupa caranya mengambil nafas. Jay melepaskan ciuman setelah memberikan satu gigitan nakal di bibir bawah sang lawan.
"Napas Sunghoon."
Sunghoon mengangguk, mengambil nafas dalam sampai dadanya membusung. Menatap sayu ke arah Jay yang masih berada di atas tubuhnya. Lelehan saliva di sepanjang garis rahang mengkilap, seolah sengaja menggoda Jay untuk kembali mendekat. Di cumbu, diberi bekas gigitan, dilumat secara sensual.
"Bukannya udah gue bilang buat napas?"
Bahu Jay dipukul, Sunghoon menatap dengan mata menyipit tajam. "emangnya siapa yang buat gue nggak bisa napas?"
Pertanyaan retoris, Jay malas untuk menjawab, lebih memilih kembali memagut bibir Sunghoon dalam ciuman. Kembali tidak memberikan kesempatan yang lebih muda untuk mengambil nafas.
Tangan Jay secara nakal turun, mengusap sepanjang garis perut. Turun ke pinggang, memberikan pelukan kencang di sana. Sunghoon memiliki bentuk tubuh yang bagus, proporsional. Pinggang ramping dengan otot perut samar. Jay suka, ia mendamba.
Benang saliva terjuntai, terlihat erotis keluar dari bibir Sunghoon saat Jay melepas ciuman. Mulut Sunghoon terbuka, dengan lidah terjulur keluar. Entah sengaja menggoda atau untuk mempermudah mengambil udara. Telunjuk Jay naik, merambat dari rahang menuju bibir bawah. Mengusap dengan sensual ke kiri dan kanan, sebelum memasukkannya ke dalam liang.
Jemari Jay dilecehkan, dihisap kuat maju mundur sampai saliva menetes keluar. Lidah hangat melilit telunjuk, dikulum dalam, kemudian dijilat berulang-ulang. Sunghoon menatap Jay dengan pandangan sensual, mengerling dengan satu mata dikedipkan nakal. Pada titik ini, Jay merasa kewarasannya telah terenggut hilang.
"Berhenti."
Jay melepaskan jari telunjuknya dari hangat liang mulut Sunghoon. Menariknya perlahan, membuat lelehan benang saliva kembali keluar. Benang yang erotis, menambah kadar seksi dari pemuda yang masih dalam kungkungan. Wajah Jay mendekat, dahi penuh keringat ia beri kecupan hangat. "Lo takut?"
Nafas panas berhembus menyapu liang telinga. Jay sengaja berbisik, menghembuskan nafas memburu yang sarat akan birahi. Ia merasa lapar. Bagaikan hewan buas yang bertemu buruan setelah sekian lama mendamba.
Sunghoon menggeleng kecil. Tak sanggup untuk menjawab. Ia kemudian memekik saat merasakan liat lidah hangat mengorek liang telinganya. Lidah Jay menari, mengobrak-abrik cuping telinga Sunghoon tak kalah hebat seperti saat menyusupi dinding mulut. Bergerak konstan keluar masuk, sebelum memberikan gigitan di belakang cuping telinga.
"J-jay," wajah Jay diangkat dengan kedua tangan. Membuat kontak lidahnya dengan cuping telinga terputus. Ia menatap Sunghoon dengan satu alis terangkat, meminta penjelasan atas apa yang lebih muda perbuat.
"Kenapa, heum?" Jemari Jay menyentuh wajah Sunghoon lembut. Turun dari jembatan alis, menyusuri pipi merona, kemudian mengusap kedua belah bibir bengkak akibat dilumat terlalu lama.
Sunghoon lagi-lagi menggeleng, dengan wajah malu-malu ia menjawab, "jangan di telinga, geli."
Jay dibuat terbahak. Ia hujani wajah Sunghoon dengan kecupan kupu-kupu, mulai dari puncak kepala hingga ujung dagu. Terkadang dualitas dari seorang Park Sunghoon memang ada ada saja, beberapa saat lalu anak itu bahkan menantangnya dengan tatapan sensual, tapi sekarang berlagak seperti bocah yang akan hilang keperjakaan.
"Buka baju lo," Mulut Jay memerintah, bertentangan dengan tangannya yang justru bergerak melepaskan kancing kemeja, membiarkan Sunghoon tetap diam di bawahnya. Melepaskan atasan kemeja bergaris hitam lalu membuangnya ke lantai dengan asal. Dalam waktu singkat, Sunghoon sukses dibuat setengah telanjang.
Bibir Jay bergerak, mengarungi garis leher jenjang menuju rahang. Dikecup, dihisap kuat hingga menimbulkan ruam kemerahan. Sunghoon mendongak, sengaja memberi akses dan merintih seolah meminta lebih. Tangannya bergerilya mengacak rambut hitam Jay dan menekan kepalanya untuk lebih mendekat. Ia merasa panas. Di bawah sana, lutut Jay dengan sengaja menekan tonjolan kejantanan, Sunghoon sekilas melihat putih di balik matanya sejenak.
Telunjuk Jay yang masih basah akibat saliva bergerak ke bawah, lalu diusapkannya ke pucuk dada Sunghoon. Digesek kasar berkali-kali hingga tonjolan mungil di dada mengeras. Cukup keras hingga dapat dihisap sampai mengecap bunyi basah. Sunghoon mengerang keras, ia dibuat tidak waras. Jay selalu berhasil membuatnya menjadi gila, dan sialnya ia selalu suka.
Erangan Sunghoon terbungkam, saat Jay kembali membawa bibir mereka dalam pagutan. Melumatnya dalam, membuat sang empu menjadi kewalahan. Jay kembali membuat Sunghoono lupa caranya mengambil udara, tapi pria itu tetap menyukainya. Nafas Sunghoon memburu, ia terpacu oleh hawa nafsu.
"Lo belum ngelepas baju."
Perkataan Sunghoon tepat setelah mereka melepas ciuman membuat Jay mendengus geli. Pria itu bahkan belum bernafas dengan benar, tapi pikirannya sudah melayang ke mana-mana.
Jay menyeringai, ia angkat tubuhnya untuk terduduk dengan lutut menopang, mengangkangi kedua sisi pinggang Sunghoon. Sorot lampu dari arah belakang terhalangi, membuat wujud Jay menjadi sedikit gelap tapi sialnya justru menambah kadar seksi.
"Lo mau ngelepasin baju gue apa gimana?"
Sunghoon menggeleng, ia tatap Jay dengan senyum lucu hingga lesung pipinya terlihat. "Gue lebih suka nonton lo buka baju sendiri," ia menjeda untuk mengedipkan satu mata. "Seksi."
Jay lagi-lagi mendengus geli. Tapi ia tetap menurut, melepaskan kaos hitam yang melekat di tubuhnya kemudian dibuang asal. Membuatnya ikut setengah telanjang dengan otot perut terekspos keluar. Ibu jari Sunghoon terangkat sesaat kemudian.
"Bagus, lo memang selalu seksi."
Jay membuat suara tertawa tertahan sebagai balasan.
Jemari Sunghoon bergerak menyusuri, mulai dari bahu tegap hingga perut dengan enam buah gundukan. Merasakan bagaimana kulit kasar dan otot badan tercetak sempurna dari telapak tangan. Jay selalu memiliki tubuh yang sempurna dan Sunghoon tak bisa berbohong bahwa ia amat menyukainya.
Puas membiarkan Sunghoon bermain dengan otot perutnya, Jay kembali membanting tubuh Sunghoon dan membawanya dalam kungkungan. Ia menindih lagi. Kedua kulit dada bergesekan, terasa begitu erotis, begitu magnetis. Sunghoon memejamkan mata sekejap untuk mengatur nafas. Di bawah sana, bagian selatannya menyempit dan Jay dengan senang hati menggesekkannya. Selangkangan saling beradu, membuat suara kasar akibat gesekan kain jeans dengan celana training tipis selutut.
Pipi Sunghoon diusap dengan sebelah tangan. Jay menikmati bagaimana rona merah dan ekspresi bernafsu dari pemuda dalam kungkungan. Mulut Sunghoon terbuka, dengan nafas panas keluar tiap detiknya. Sesekali ia akan mengeluarkan desahan tertahan, sedangkan matanya setengah terpejam. Itu terlihat sangat seksi, dan Jay amatlah suka. Ia mendamba.
Jay kembali membawa bibir Sunghoon pada ciuman dalam. Saling bertarung lidah dan menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Tangannya tak tinggal diam, beraksi turun kebawah untuk melepaskan celana Sunghoon. Jay benci celana jeans saat bercinta, itu sulit untuk dibuka. Kancing pengait dicopot, celana ditarik secara susah payah untuk turun kebawah. Bokong Sunghoon terangkat untuk mempermudah pergerakan. Sesaat setelah celana mulai tanggal, Sunghoon dapat merasakan dingin udara malam menyapu seluruh badannya. Ia hampir telanjang bulat, hanya menyisakan satu celana dalam calvin klein berwarna hitam gelap.
Rasa dingin angin malam tak berselang lama, satu detik setelah bibir Jay kembali bekerja. Menciumi dari telapak kaki dan naik hingga ke ujung paha. Jay selalu bersikap romantis, bahkan walau mereka dalam keadaan sepanas apapun, kenyamanan Sunghoon adalah hal pertama yang ia perhatikan. Paha dalam dicumbu, dihisap kuat hingga menimbulkan bunyi kecap. Ruam merah hampir memenuhi semua tubuh Sunghoon, dari wajah hingga betis kaki. Tapi Jay tetap tak mau berhenti memberi, seolah mengatakan tahu bahwa Sunghoon sudah ditandai. Sudah ada yang memiliki.
Sunghoon tak bisa berhenti merintih. Bagian bawahnya terasa basah dengan celana dalam sudah menyempit. Wajah Jay tiba-tiba terbenam pada selangkangan. Mencumbu di sana, dengan lidah penuh saliva walau masih terhalang celana. Sunghoon sukses dibuat pergi ke nirwana.
Bokong Sunghoon ditangkup, celana dalam calvin klein ditarik dan dibuang asal. Jay kemudian melakukan oral, dengan satu tangan menguleni bongkahan sintal bagaikan adonan. Sunghoon dibuat pusing bukan kepayang. Ia merasa nikmat dan geli disaat yang bersamaan. Ingin tertawa tapi yang keluar justru desahan keras dengan nafas tak beraturan.
Kain sprei diremas kuat, Sunghoon pikir ia akan sampai pada puncaknya. Hampir, sebelum Jay tiba-tiba berhenti dan mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang. Memutus kontak begitu saja tanpa tahu bahwa Sunghoon merasa kecewa, tapi Jay yang duduk sambil menepuk kening lebih membuatnya bertanya-tanya.
"Kenapa?" Sunghoon ikut mendudukkan tubuhnya di samping Jay. "Lo mau udahan?" Tanyanya.
"Enggak, Sunghoon," Jay membawa tubuh yang lebih muda dalam pelukan. Membawa pinggang telanjang Sunghoon dalam dekapan.
"Terus kenapa berhenti? Gue buat salah ya?" Bibir Sunghoon melengkung ke bawah. "Apa gue terlalu berisik?"
Jay yang kembali menggeleng justru membuat Sunghoon makin bingung saja.
"Bukanya gue pernah bilang, kalau gue suka sama desahan lo."
Pipi Sunghoon seharusnya merona, tapi ini bukan waktunya. Dia sudah telanjang bulat, lalu apa? Jay tiba-tiba berhenti begitu saja. "Terus kenapa, anjing? Jangan tiba-tiba berhenti kayak gini!"
Pipi Sunghoon ditangkup dengan kedua tangan. "Gue nggak punya kondom Sunghooonn. Gue kehabisan kondom." Jay membuang nafas pelan sebelum melanjutkan. "Gue lupa beli."
"...."
Kening Sunghoon dikecup dengan perlahan. "Maaf, gue beli dulu ke minimarket depan. Lari deh gue, Itupun kalau lo masih mau nunggu."
"Nggak usah," Sunghoon menghela nafas. Merasa pusing sendiri. Kenapa pula Jay bertingkah seolah ia telah membuatnya muak hanya karena kehabisan kondom.
"Ambil tas gue di sofa, kayaknya gue masih punya satu."
__________________________________________________
Jay kembali datang setelah satu menit keluar menuju ruangan depan. Di tangannya, terdapat satu bungkus kondom warna ungu tua serta botol kaca berisi cairan lubrikasi. Ia berjalan ke arah Sunghoon yang terduduk dengan selimut menenggelamkan hampir seluruh tubuh telanjangnya. Pemuda itu terlihat sangat lucu. Seperti anak anjing yang kedinginan.
Jay mendudukan tubuhnya di pinggiran ranjang, lalu memberikan kepala Sunghoon usakan pelan. "Lo masih mau ngelanjutin?" Tanyanya.
Sunghoon berdecak kesal, ia bawa tubuhnya mendekat ke arah Jay, membuat selimut yang menutupi dadanya turun ke bawah. "Gue bahkan masih tegang, terus lo masih nanya?"
"Maaf," kening Sunghoon lagi lagi dibubuhi kecupan pelan. Hangat serta lembut bibir Jay membuat mata Sunghoon terpejam.
Jay menyingkirkan selimut dari tubuh Sunghoon lalu kembali membawanya dalam kungkungan. Bibir Sunghoon dicium lagi, dari lumatan berirama pelan hingga lidah menyusup secara kasar. Jay mencoba mengembalikan suasana, walau ia akan tetap merasa panas selama Sunghoon meringkuk di bawahnya.
Jemari Jay bergerak melepas penutup botol kaca, menuangkan isinya ke atas tangan dengan semena-mena. Sebagai cairan lengket luluh meluber ke kain sprei. Ia tetap tidak peduli. Bibir dan lidah Jay masih sibuk merayapi isi mulut, tapi tangannya tetap bekerja dengan semestinya. Kelaki-lakian yang lebih muda ditangkup, digerakkan ke atas dan kebawah dengan irama konstan. Tangan penuh cairan lengket bekerja keras tanpa sungkan, Sunghoon sukses dibuat basah dengan mata setengah terpejam. Ia menggelinjang dalam ciuman, hampir menggigit lidah Jay sebagai balasan.
Jemari Jay turun, mengikuti garis selangkangan untuk menemukan titik incaran. Bermain-main di sana, membasahi dengan lubrikasi sebelum telunjuk menembus cincin anal. Sunghoon melepaskan ciuman dalam sekejap, terkesiap kaget dalam desahan. Ia memekik kencang, sebelum menjadi lebih tenang dengan membuat desahan panjang. Nama Jay dipanggil, berkali-kali dalam desahan nikmat, membuat sang empu tidak bisa menahan diri untuk mengumpat.
Jari telunjuk Jay masuk dengan lembut, tapi tetap menggali hingga titik terdalam. Saraf sensitif ditumbuk satu kali, Sunghoon tersentak sambil meneriakkan nama Jay berkali-kali. Jemari lincah bergerak dengan semena-mena, keluar masuk sambil sesekali meliuk dengan sengaja. Lalu jari tengah ikut bergabung, ikut menikmati bagaimana lubang berkerut menjepit tiap tiga detik.
Sunghoon dibuat terbang hingga ke nirwana, ia bisa melihat putih di balik matanya. Ia khawatir akan tumpah, bahkan sebelum Jay benar-benar memasukinya. Satu hentakan kuat berikutnya, Sunghoon benar dibuat memuntahkan segalanya. Membasahi perut dan tangan Jay. Ia mendesah panjang dengan kedua mata terpejam, dalam gelap melihat berbagai refleksi bintang-bintang yang membuat mabuk kepayang. Nafas Sunghoon masih tersengal, tapi Jay tidak memberikan banyak waktu untuk beristirahat.
Jemari Jay keluar secara keseluruhan. Kemudian ia membawa tungkai kaki Sunghoon untuk naik ke atas bahunya. Membuatnya mengangkang dengan kaki terbuka lebar. Fabrik kain yang tersisa dibuka dengan perlahan, Jay sengaja menggoda. Menyeret turun celananya dalam tempo pelan. Di bawah Sunghoon menggeram, bibir bawah digigit kuat. Ia sudah tak tahan, tapi Jay justru bermain-main. Jadi saat kain celana Jay sudah melewati setengah jalan, ia turunkan secara cepat membuat sang empu hanya meninggalkan celana dalam berwarna hitam. Sunghoon tak membiarkan Jay untuk berkedip, tangannya kembali menurunkan celana dalam hitam hingga turun ke lutut. Membiarkan kelaki-lakian Jay mencuat ke atas, menantang gravitasi dengan berani.
Jay menatap Sunghoon dalam skeptis, tapi yang ditatap malah tersenyum kecil. "Apa? Mau dipasangkan kondom juga?" Ledeknya.
Jay mendengus geli. Tangannya mengambil bungkus kondom dan membukanya dalam sekali gigitan. Sunghoon bersiul, merasakan aura dominan dari yang lebih tua. Pangkal karet kondom disarungkan pada kejantanan, cepat dan licin. Perut Sunghoon terasa melilit untuk sesaat.
"Gue nggak akan kasih ampunan," kata Jay.
Sedang Sunghoon balas mengangguk, "kalau gitu, jangan ampunin gue." Ia menantang.
Kedua tangan Jay bertumpu pada ranjang. Mencium kening Sunghoon pelan sebelum mendorong bagian bawahnya masuk ke dalam. Bahkan, walau Jay berkata ia tidak akan memberi ampunan, pria itu tetap bergerak dengan perlahan. Tidak ingin menyakiti Sunghoon sekecil apapun dan tetap membuatnya nyaman.
Tubuh Sunghoon menggeliat, tangannya terjulur berniat memeluk leher Jay. Ingin mendapat tumpuan atau untuk sekedar ia beri cakaran. Nafas Sunghoon tersengal, lalu ia mendesah hebat saat merasakan lubangnya telah penuh dengan kejantanan.
"J-Jay," rintih Sunghoon pelan.
Keduanya sama-sama terengah, sama-sama berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Jay kembali membubuhi bibir Sunghoon dengan kecupan, dalam maksud membuat yang lebih muda untuk tenang. Hembusan angin mengintip dari tirai jendela, rintik hujan akhir Oktober sudah tidak terdengar suaranya. Hanya helaan nafas panas juga degup jantung menggila yang terdengar di telinga.
Jay tersenyum, ia sengaja memberi jeda. Membiarkan Sunghoon merasa nyaman sebelum kembali menerkamnya. Ini memang bukan yang pertama, tapi rasa sakit akibat diterobos secara paksa tentu tetap akan datang kapan saja. Kening penuh keringat, Jay usap lamat. Rambut lepek yang menutupi mata ia singkirkan, sebelum diusapnya dengan ibu jari. Sunghoon terpejam, menikmati afeksi yang Jay berikan.
"Lo kesakitan."
Bukan pertanyaan, tapi Sunghoon menggeleng pelan. Mencoba bersikap sok kuat, walaupun bagian bawahnya jauh dari kata selamat. Ia peluk leher Jay lebih erat, membuat penyatuan menjadi semakin dekat. Membuat yang lebih tua menggeram dalam, karena merasa dihimpit dinding yang menyempit.
"Gue mulai gerak, kalau sakit tolong hentiin gue."
Sunghoon mengangguk, masih ngotot untuk menahan rasa sakit. Sedang Jay mulai bergerak keluar dengan perlahan, sebelum menumbuk masuk lagi dalam sekali tusukan. Sunghoon memekik sebagai respon balasan. Pinggiran terluar kondom menubruk permukaan lubang anal, Sunghoon mendesah kan nama Jay dalam sekali hentakan.
Organ dengan balutan selaput karet bergerak konstan, maju mundur menubruk titik terdalam. Bunyi tepukan antar kulit memekik, seirama dengan desahan yang Sunghoon keluarkan. Kelenjar prostat diberi tepukan. Sunghoon menjerit, berikan cakaran pada leher belakang tempat ia menahan tumpuan. Memberi bekas cakaran memanjang, seperti seekor kucing kecil yang nakal.
Nafas Sunghoon tak beraturan, ia coba bawa wajah Jay dalam rengkuhan. "J-jay cium g-gueee," kemudian merengek.
Jau menurut. Memberi ciuman panas seperti yang diinginkan. Membawa lidah mereka untuk bertarung dalam lumatan. Pergerakan di bawah semakin cepat, pinggang saling bergerak maju mundur dalam arah yang berlawanan.
"Gue mau bergerak kayak rodeo."
Sunghoon tak seharusnya mengatakan itu, karena pada akhirnya Jay menjadi terlalu bernafsu, benar-benar mengendarai yang lebih muda seperti rodeo. Bergerak liar maju mundur, membuat Sunghoon kewalahan untuk menyamai tempo. Maka Sunghoon tergelak pasrah di bawah, dengan kaki terbuka lebar membiarkan Jay memegang penuh kendali atas tubuhnya. Pada titik itu, Sunghoon tahu bahwa ia sudah dekat untuk mencapai klimaks.
Punggung Jay kembali diberi cakaran saat titik sensitif ditumbuk dengan gerakan liar dan memutar. Jay sudah mulai bersuara, merintihkan nama Sunghoon sesekali dibubuhi umpatan dalam berbagai bahasa.
"J-jay gue suka lo."
Mendengar bisikan, Jay mendekat, memberikan leher jenjang ciuman pekat. Menggigitnya, memberi tanda lagi dan lagi.
"Jay, g-guee suka lo. N-nggak gue cinta sama lo akhh," Sunghoon memekik saat merasakan kuncup dadanya kembali dimainkan oleh yang lebih tua. "Gue nggak pernah bohong, gue selalu cinta sama lo."
Lalu semuanya menjadi putih, saat satu tumbukan kuat di prostat dan Sunghoon akhirnya mencapai pada klimaks. Ia menjerit dengan mata memejam rapat, meneriakkan nama Jay dalam nikmat. Lubang bawah kontan mengetat, satu menit kemudian Jay menyusul menuju klimaks. Membisikkan kata sayang pada telinga Sunghoon dan membawanya pada pelukan hangat.
Suara desiran angin berhembus terdengar dari arah luar. Hangat pelukan Jay membawa Sunghoon pada rasa kantuk yang mendalam. Nafas mereka masih terengah, tergolek lemah dengan dada naik turun karena merasa lelah. Saling bertukar pandang, tersenyum kecil dan berbagi ciuman. Samar-samar suara jalanan kota metropolitan masih terdengar. Masih cukup bising bahkan walau hari sudah kelewat malam. Wajah Jay ditangkup dengan sebelah tangan, Sunghoon mengusapnya lembut. Dari kening penuh peluh menuju pipi tirus yang kemudian ia beri kecupan.
"Jay, gue harap, lo dateng ke hari pernikahan gue."
Park Sunghoon ini memang menyeramkan
___________________________________________________
Jay pertama kali mengetahui keberadaan Park Sunghoon adalah ketika masih menduduki bangku sekolah menengah. Pada waktu itu ia hanya tahu bahwa Sunghoon merupakan siswa kaya populer anak dari pasangan keluarga konglomerat. Jay awalnya tidak peduli, kehidupan semasa remaja sudah cukup berat. Ia tak mau mengurusi atau ikut campur dengan seorang anak manja kaya raya yang selalu menjadi bahan perbincangan. Orang-orang seperti Park Sunghoon adalah sesuatu yang harus Jay hindari. Selain karena perbedaan kasta yang terlampau kentara, ia juga tak mau menjadi penjilat yang sok peduli dan mengerubungi anak itu seolah ia adalah pusat bumi.
Tapi, ketika Sunghoon datang kepadanya dengan suka rela dan mengatakan hal konyol di koridor sekolah, Jay tahu bahwa ia tak akan bisa lepas sejak hari itu.
'Mata gue memang nggak pernah salah. Lo ganteng, benar-benar tipe gue.'
Park jongseong tidak pernah percaya dengan frasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Atau bahkan ia tak peduli dengan hal yang berbau cinta. Itu semua konyol menurutnya. Tapi Park Sunghoon ini memang ajaib sekali. Jay dapat merasakan bagaimana jantung dalam tubuhnya berdegup kelewat kencang, atau bagaimana perutnya menjadi dihujani serbuan kupu-kupu secara lancang.
Jay kalah, telak. Hanya karena senyuman lucu sejak pertama kali bertemu.
Tapi mencintai Park Sunghoon bukanlah perkara mudah. Bahkan walau anak itu berkata bahwa ia mencintainya, Jay tetaplah pada posisi sama. Bukan siapa-siapa. Mungkin ia dianggap sebagai kakak, atau mungkin seorang teman. Tapi seorang kakak atau teman tidaklah saling bertukar ciuman.
'Park Sunghoon itu beruntung sekali, dia terlahir dari keluarga konglomerat kaya.'
'Park Sunghoon sangat beruntung, dia bertunangan dengan Lee Heeseung. Dia tampan, dewasa, dan kaya raya.'
'Beruntung sekali Park Sunghoon, bisa bersahabat dengan super model Sim Jaeyun.'
'Aku ingin menukar hidup ku dengan Park Sunghoon, dia sangat beruntung. Hidupnya sempurna.'
Beruntung. Park Sunghoon sangat beruntung.
'Gue beruntung Jay, ketemu sama lo. Karna punya lo.'
Tidak, ini semua adalah kesalahan.
Hari itu hujan salju, pukul delapan malam dengan suhu minus 3 derajat. Jay menemukan Sunghoon di depan pintu apartemen kecilnya, berjongkok dengan bibir memucat karena kedinginan. Ia meringis, menyambut Jay yang baru pulang kerja sambil tersenyum lebar. Walau tubuhnya bahkan hampir limbung saat berdiri, tapi Sunghoon tetap berlari, menerjang Jay dalam pelukan.
Sunghoon membolos les dan kabur dari rumah. Ia merusak senar cello, putus ketika dipetik hingga membuat jarinya berdarah. Alhasil ia disuruh untuk membuat tiga lagu dalam waktu seminggu sebagai hukuman.
'Jay, gue capek.' adalah perkataan pertama Sunghoon setelah mereka memasuki apartemen.
Anak itu menangis. Memeluk leher Jay erat tak mau melepaskan. Isakannya terdengar menyayat, membuat siapapun yang mendengar seolah teriris. Jay membalas pelukan Sunghoon tak kalah erat. Memberikan seluruh afeksi yang ia punya hanya kepada Sunghoonnya.
'Gue capek Jay. Gue nggak mau idup kayak gini.'
Puncuk kepala Sunghoon dihujani kecupan berkali-kali.
'Gue mau belajar lima bahasa tiap hari. Gue juga nggak mau harus bisa lima jenis bela diri.'
Tangan Jay bertengger di punggung Sunghoon, memberikan usapan naik turun dengan irama konstan.
'Gue nggak mau punya tunangan. Gue nggak mau dijodoin, Jay.'
Dada Jay seolah dicubit oleh tangan tak kasat mata ketika suara bergetar Sunghoon kembali terdengar.
'Gue nggak mau hidup terkekang. Gue pengen bebas, gue pengen lari Jay. Hidup gue ini nggak sempurna.'
Sunghoon tersedak karena terlalu keras menangis.
'Gue bukan Park Sunghoon si anak serba bisa dan beruntung.'
'Gue nggak beruntung, gue sama sekali nggak beruntung.'
Kepala Sunghoon menggeleng berkali-kali, sampai Jay harus menghentikannya karena tak ingin anak itu menyakiti dirinya sendiri. Kening Sunghoon dibubuhi kecupan pelan hingga matanya terpejam.
'Tapi mungkin gue emang agak beruntung.'
Bibir Jay diberi kecupan.
'makasih udah selalu ada di samping gue.'
Hari itu mungkin Jay membuat kesalahan besar, karena telah membiarkan Sunghoon mencicipi gulungan nikotin untuk pertama kalinya. Membiarkan anak itu menangis dalam pelukan dengan mulut menghembuskan asap tebal. Tapi Jay tidak menyesal.
Jay mungkin akan menjadi laki-laki paling beruntung di dunia, jika ia bisa menjadikan Sunghoon sebagai miliknya. Tapi sayangnya, itu hanya buaian semata. Bahkan walau Sunghoon bilang bahwa ia mencintainya, Jay amat tahu, anak itu tidak akan pernah menjadi miliknya.
__________________________________________________
"Beruntung sekali."
Suara sorakan dan tepuk tangan ribuan orang menggema di penjuru ruangan. Di depan sana, sepasang manusia, saling mengikat janji dan bertukar cincin dengan senyum lebar di bibir.
"Tentu aja!"
Jay mengalihkan perhatian, memandang wanita asing yang berdiri di sampingnya tanpa segan.
"Tentu aja Park Sunghoon sangat beruntung. Lee Heesung itu pengusaha muda kaya, siapa yang nggak beruntung menikah dengannya?"
Jay mendengus geli sebagai balasan. Ia dongakkan kepalanya ke atas, menatap silau lampu gantung dan tertawa keras. Wanita di samping mengernyitkan kening, mengira bahwa Jay mungkin adalah seorang pria sinting.
Jay menyudahi kekehan lima belas detik kemudian. Ia tatap wanita bergincu tebal di sampingnya, dengan satu sudut bibir naik ke atas.
"Anda salah nyonya," Ia menunjuk. "Justru Lee Heesung yang beruntung," lanjutnya.
Park jongseong tersenyum, sorot matanya memandang jauh ke depan. Dimana di sana, cintanya, kekasihnya, tengah dicium di hadapan ribuan orang.
"Park Sunghoon itu bukan manusia. Dia malaikat."
