Work Text:
"Mmph, mmn, hmmnn"
Sei menutup bibirnya dengan kedua tangan. Bokongnya yang melengkung diatas dudukan toilet terus disodok tanpa henti oleh pria berkulit gelap di belakangnya. Slam. Slam. Slam. Sei menggigit telapak tangan saat kepala penis yang besar itu menghantam prostatnya berkali-kali. Unnhh, nikmat. Ah, kepalanya seakan melayang dicumbui Daiki di public bathroom begini.
"Daiki-hnn!"
Lelaki itu menggeram. Bibirnya mengecupi tengkuk Sei, naik hingga daun telinganya yang dilumat dan digigiti.
"Ah, Sei.. shhh.."
Erangnya sambil sesekali menyentuh kejantanan Sei yang terikat dasi. Tidak boleh datang dari depan, ia ingin Sei mendapatkan orgasm hanya dengan digagahi seperti sekarang ini.
"Haaa, haaa, mmmph.."
Daiki berdecak puas saat Sei menggoyangkan bokongnya antusias, ia sengaja menarik kedua bongkahan sintal itu kearah luar, menyingkap lubang merah muda yang sudah basah akan sperma. Sisa sisa ronde pertama tadi menetes dari sela-sela cincin anus Sei, membuat Daiki makin bergairah. Ia suka melihat Sei takluk di bawahnya seperti ini. Sejak pertama kali membujuk Sei agar mau diperjakai di gudang olahraga SMA, ia sudah candu akan nikmat tubuh lelaki yang jauh lebih pendek darinya itu.
"Hnnn, hnnn, nnnnghhh!"
Daiki mempercepat ritmenya saat tubuh Sei mulai bergetar dan anusnya berkedut-kedut dengan cepat.
Daiki menghentakkan kepalanya ke belakang, Sei sempit sekali ketika sudah akan datang. Anus itu menjepit penisnya dengan kuat, membuat Daiki ingin melesakkan kejantanannya makin dalam, mengobrak-abrik lubang yang selalu membuatnya ketagihan. Daiki menggigit pundak Sei gemas ketika spermanya tak lagi tertahankan.
"Daii--mmmphhn!!!"
Sei memekik saat anusnya dipaksa menelan sperma panas Daiki hingga jauh ke dalam perutnya. Tubuh lelaki itu menggeliat dalam kungkungan Daiki. Lututnya yang lemas hampir roboh jika tak ditahan Daiki. Meski baru saja datang begitu, penis Daiki masih saja tegang. Ia memang tipe yang refractory periodnya pendek. Apalagi sebagai seorang atlit, staminanya jauh diatas orang biasa. Ia belum bisa 'turun' jika belum datang minimal tiga kali.
"Baby~" Seijuuro merinding saat suara rendah Daiki menggelitik telinganya. Ia pasrah saat Daiki mengangkat tubuh mungilnya dalam pelukan sebelum mendudukkan dirinya diatas pangkuan Daiki. Sei terengah saat penis Daiki melesak jauh dalam rektumnya, lebih dalam dari yang tadi.
"Ahhh Daiki, p-penuh ahh..hnnngg.."
Seiijuuro terengah saat bokongnya menempel lekat pada selangkangan Daiki.
"Tahan Sei, sekali lagi saja ya sayang.."
Bisik Daiki sambil meremas dada Sei yang membusung. Tahu Daiki pencinta dada besar, Sei merelakan dadanya terus dipijat hingga sekarang seukuran A cup. Tidak hanya itu, putingnya juga besar akibat bertahun-tahun dihisap Daiki.
"Hnn, Daiki.. cepat ahh.. aku lelah.."
"Jepit yang kuat, Sei..hnnh!"
"Ahhh, ahhh, D-Daikiii!! Haa...nnnh!"
Seijuuro terpekik saat Daiki lagi-lagi menghantam lubangnya keras. Anusnya sudah begitu bengkak, semalam lelaki itu baru saja 'meminta jatah' dan hari ini ia lagi-lagi disenggamai kasar begini. Seandainya tidak terasa nikmat dan bukan karena cinta, Akashi Seijuuro sudah akan mencincang-cincang Aomine Daiki dan membuangnya kelaut.
"Baby...basah ah, hnngh sempit sekali sayang.."
"Daiki~~ hnnn, Daiki... haaa... unnh, nikmat ahhh~"
"Sei, aku datang di dalam ya baby, nghh..!"
"Ummn, ahhhh!!"
Pekik Seijiiro saat perutnya lagi-lagi diisi cairan panas oleh Daiki. Anusnya seperti akan meleleh saking panasnya sperma Daiki di dalam. Seijuuro terengah saat Daiki meraup dagunya kuat, melumat habis bibir merah itu. Dicabutnya penisnya tergesa dari lubang Sei sebelum menyumpalnya dengan buttplug besar.
"Jangan sampai keluar ya, Sei. Nanti kita lanjutkan di rumah," ucap Daiki sambil menjilat bibir. Matanya jalang menatap perut Sei yang membola, tak sabar ingin kembali mengisinya dengan sperma.
Oh well, perjalanan dari sini ke rumah mereka tak memakan waktu lama. Jika memang terpaksa, seks di mobil terdengar tidak buruk juga.
