Actions

Work Header

the last baton - before Paris

Summary:

Just basically the last baton au before Paris "happened".

We will get to know about Vincentius T. Adhitama and Gregorius J. Prawira years before they finally met in Paris in 2021.

Chapter 1: first meeting

Chapter Text

Jakarta, 2007

 

Vincentius duduk bersila diatas kasurnya yang empuk sambil termangu, memandangi dinding kamar tidurnya yang dilapisi cat berwarna putih gading—semula penuh dengan foto para pemusik genre klasik dan jazz ternama yang ia kagumi. Tak hanya itu, ia juga memiliki beberapa piringan hitam yang sempat digantungnya di sana, digunakan sebagai pajangan. Dinding yang biasanya terlihat estetik karena terdapat sebuah rak untuk menggantung saksofon dan biolanya, kini terlihat kusam dan jelek. Lapisan cat dinding pada beberapa sisi pun mengelupas; sudah rusak dan tidak cantik. Kedua manik hazel dibalik kacamata bulatnya mampu melihat dengan jelas keadaan kamar tidurnya, walaupun pencahayaan ruangan yang sudah menjadi zona nyamannya selama belasan tahun itu hanya mengandalkan lampu tidur temaram yang menyala diatas nakas.

 

Saat ini, kamar tidurnya terlihat seperti tak berpenghuni—ia sudah mengeluarkan banyak barang yang masih layak pakai; seperti meja dan kursi belajar. Beberapa minggu lalu, Vincent sempat meminta izin pada kedua orang tuanya untuk menyumbangkan barang miliknya dan diberikan pada orang yang lebih membutuhkan. Ia sudah merencanakan hal itu jauh hari, sejak ia tahu bahwa dirinya akan berangkat menuju London dalam waktu dekat, beberapa hari setelah ia merayakan hari ulang tahunnya yang kedelapan belas di penghujung bulan Desember lalu.

 

Lagipula, setelah ia pindah dari Indonesia nanti, ia tidak tahu kapan akan kembali lagi ke tanah kelahirannya itu. Maka, Vincent memutuskan untuk menghabiskan seluruh barang di ruangannya yang lebih berguna untuk orang lain dengan bantuan ayahnya dan dua orang ART.

 

Vincent menghela napas, menggelengkan kepalanya dan menyugar surai hitamnya yang sudah mengenai kedua alisnya. Sial , ia tidak sempat pergi ke tukang cukur langganannya untuk memangkas rambutnya yang mulai panjang, sepertinya ia harus mencari salon yang bagus dan cocok dengan seleranya saat tiba di London nanti. Memikirkan hal itu membuatnya tersadar bahwa sebentar lagi, ia akan segera meninggalkan ruangan ini, menarik ketiga koper berukuran besar miliknya dan membawa serta sebuah tas berisi saksofon kesayangannya, pergi ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta untuk terbang menuju London, ibukota Inggris. Ia merasa lega sekaligus bersemangat, karena akhirnya hari yang telah ditunggu-tunggu olehnya sejak lama pun tiba. Ia sudah tidak sabar untuk melakukan segala keinginannya; melanjutkan pendidikannya di luar negeri, mengejar mimpinya dalam bidang musik untuk memenuhi “ruang kosong” dalam dadanya.

 

Mungkin sebagian besar siswa yang satu angkatan dengannya semasa SMA tidak akan mengira bahwa Vincentius Adhitama, seorang siswa yang menyandang predikat lulusan terbaik Kolese Kanisius akan lebih memilih untuk mengejar mimpinya sebagai konduktor orkestra dibandingkan mengejar sesuatu yang berbau akademik.

 

Ah, tunggu. Sepertinya tidak akan ada seorang pun yang heran dengan keputusannya, mengingat ia hanya menganggap segelintir orang sebagai temannya, bahkan jumlahnya dapat dihitung dengan menggunakan jari! Vincent adalah seseorang dengan kepribadian yang tertutup, cenderung tidak begitu pandai dalam urusan bergaul. Satu-satunya sahabat yang ia miliki selama hidupnya dan setia hingga saat ini hanyalah musik, musik dan musik

 

Sejak berusia lima tahun, Vincent sudah tahu apa yang ia inginkan . Kecintaannya pada musik klasik sejak kecil bermula dari rumahnya di sini, di Indonesia. Setiap pagi, ayahnya tidak pernah absen untuk menyetel piringan hitam yang berisi karya milik Bach, Mozart, dan Beethoven pada gramofon milik pria paruh baya itu. Walaupun hanya sekedar menikmati kopi hitam ditemani beberapa potong kudapan serta menghabiskan dua hingga tiga batang rokok di teras rumah, namun ayahnya itu pasti akan memilih musik klasik sebagai “temannya” — agar tidak sepi, Nak, begitu katanya suatu hari pada beberapa tahun silam.

 

Ayahnya yang juga adalah pemain musik pada masa kejayaannya, secara tidak langsung membuat Vincent kecil diam-diam memperhatikan gerak gerik beliau saat sedang bermain musik di rumah.

 

Rasa penasaran Vincent yang tinggi menyebabkan dirinya sering mencuri waktu untuk melangkahkan kedua kakinya dengan hati-hati ke ruang tengah sambil berjinjit, hanya untuk memutar piringan hitam itu dan mendengarkan instrumen yang terdengar sangat indah ditelinganya. Entahlah, musik klasik membuatnya tenang hingga terenyuh, juga gembira hingga hampir menangis .

 

Ia teringat kala suatu hari dirinya berjinjit, berusaha meraih piringan hitam yang disimpan oleh ayahnya dalam lemari yang cukup tinggi dengan menjulurkan kedua tangannya. Ia bersusah payah sembari mengeluh, karena tinggi badannya belum cukup untuk meraih benda itu. Maklum, kedua orang tuanya tidak memiliki dingklik kayu untuk digunakan olehnya pada saat itu.

 

Vincent kecil berdecak saat kedua tangannya tak kunjung berhasil meraih sampul piringan hitam yang tersusun rapi pada rak paling atas lemari kayu itu. Ia ingat ia hampir menangis karenanya. Namun tak lama berselang, seketika kedua matanya terbelalak, dadanya berdegup kencang dan bulu kuduk sekujur tubuhnya meremang saat melihat tangan seseorang melewati atas kepalanya dan menarik salah satu sampul piringan hitam itu.

 

Ia tahu siapa itu.

 

Ada perasaan takut yang muncul dalam dadanya. Apakah ayahnya akan memarahinya karena saat ini ia berada di ruang tengah dan bukan di kamarnya? Ia memiliki jadwal belajar dari pukul tujuh hingga delapan lebih tiga puluh malam setiap harinya. Namun pikiran buruk itu luntur dengan sendirinya kala ia mendengar ayahnya tertawa pelan dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Vincent lalu membalikkan badannya sambil menundukkan kepala, merasa takut jika pria itu akan menyuruhnya untuk segera kembali ke kamarnya dan meneruskan kegiatan belajar mandirinya.

 

Do you want to play this , Nak?”

 

Vincent mendengar ayahnya bertanya dengan suara beratnya, namun ia tidak menemukan adanya nada marah dari balik pertanyaan itu. Sebaliknya, tanpa melihat pun, ia dapat merasakan ayahnya sedang menyunggingkan senyum yang lebar. Maka ia lantas mengangkat kepalanya, menatap kedua mata ayahnya yang sudah melengkung seperti bulan sabit, menyebabkan kulit pada kedua ujung matanya terlihat sedikit keriput.

 

Sepasang manik hazelnya menatap ayahnya dengan sorot berbeda. Ia merasa bingung, namun juga tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Tidak mungkin ayahnya memperbolehkannya menyetel piringan itu sekarang juga, ‘kan? Ia tahu kewajiban yang harus dilakukan saat ini, belajar untuk mempersiapkan materi yang esok hari akan diajarkan di sekolah, bukan mengendap-endap ke ruang tengah rumahnya seperti itu.

 

Namun lagi-lagi, ia tak melihat ayahnya membuka mulut untuk memarahinya, atau bahkan mengubah raut wajahnya menjadi kecewa. Sebaliknya, pria itu terlihat tengah membalikkan tubuhnya dengan membawa piringan hitam itu ditangannya, melangkah ke arah gramofon yang diletakkan di sisi kiri televisi.

 

Vincent rasanya ingin berteriak, seketika dadanya merasakan ledakan kembang api didalam sana, membuatnya meletup-letup heboh dan menciptakan euforia. Ia lantas mengangguk riang dan tersenyum lebar, manik hazelnya mengikuti gerak gerik ayahnya yang sedang membuka gramofonnya. Ia lalu mengambil duduk diatas karpet tebal berwarna putih yang digelar di ruang tengah itu, menyilangkan kedua kakinya sambil menunggu ayahnya menyetel piringan hitam berisi musik klasik favoritnya.

 

Saat kedua telinganya perlahan mendengar lantunan musik klasik yang ia tahu adalah karya dari Bach, seketika ia tersenyum lebar dan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Ia terlalu larut dalam alunan musik yang membuat pikirannya menjadi tenang dan adanya perasaan nyaman muncul dalam hatinya. Vincent tidak sadar bahwa ayahnya sudah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk, sedang bersandar pada lemari koleksinya sambil memperhatikan dirinya.

 

Dengan ekor matanya, ia menangkap sosok pria itu tersenyum bangga, raut wajahnya terlihat senang saat menyadari bahwa anak semata wayangnya juga menyukai, bahkan menikmati musik klasik seperti dirinya.

 

Kala Vincent sudah merasa cukup dan puas mendengarkan musik klasik hari itu, ia segera berdiri dari duduknya, berjalan ke arah bufet untuk mematikan mesin pemutar, mengambil piringan hitam itu dari mesin dan merapikannya kembali seperti semula. Ia berlari ke kamar tidurnya yang berada di lantai dua, menarik kursinya, lalu mengambil sebuah buku tulis dengan sampul berwarna hitam yang masih baru dari dalam laci meja belajarnya, pun bolpoinnya serta.

 

Dengan mantap dan yakin, Vincent menuliskan kalimat pertamanya pada kertas dalam buku itu sambil tersenyum penuh arti.

 

Aku harus menjadi seorang konduktor orkestra terbaik di dunia .

 

Hingga kini, buku harian itu selalu Vincent bawa ke mana pun ia pergi. Ia ingat sempat kesal pada dirinya sendiri saat menyadari bahwa buku itu tertinggal diatas meja belajarnya—saat itu, ia dan ayahnya sedang dalam perjalanan menuju Bandung. Selama perjalanan, Vincent merasa gusar dan gelisah, perasaanya tak karuan. Ayahnya yang duduk pada kursi penumpang di sisi kiri sopir keluarganya itu kerap kali menoleh ke arahnya yang sedang menatap nanar pemandangan kebun teh.

 

Saat itu Anjani, ibu kandungnya, sedang sibuk menggelar peragaan busana rancangannya di Hong Kong, maka ia dan Adiwilaga berlibur ke Bandung hanya berdua saja dengan didampingi seorang sopir.

 

Jika seseorang diizinkan membaca buku harian miliknya yang dibawa ke mana pun ia pindah kota atau negara itu, orang itu pasti akan memahami, mengapa dirinya sudah dijuluki kawat besi sejak masih duduk di bangku SMA. Vincent memiliki sifat yang keras seperti batu dan kaku seperti kawat, entah sejak kapan dirinya menutup diri dan lebih memilih untuk menyendiri dibandingkan bergaul dengan orang lain. Tidak ada yang mampu menandingi jalan pikiran Vincent yang begitu ‘lurus’—sulit untuk diubah, tak terkecuali kedua orang tuanya sendiri.

 

Adiwilaga dan Anjani tidak pernah menyangka bahwa anak semata wayang mereka akan menjadi seseorang yang memiliki kepribadian seperti sekarang ini diusia yang belum genap dua puluh tahun itu. Memang, tidak ada yang salah dengan dirinya, namun karena kepribadiannya yang unik itu, Vincent jarang sekali berhasil menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain. Tak jarang orang mengecapnya arogan walaupun tidak mengenalnya, membuatnya sering merenung seorang diri di perpustakaan sekolah.

 

Kertas dalam buku harian itu sudah usang, terlihat bahwa sang pemilik sering sekali membuka dan menorehkan tinta di sana. Dalam buku itu, tersimpan seluruh tulisan Vincent sejak kecil; impian dan cita-citanya untuk menjadi seorang konduktor orkestra. Ia selalu bermimpi untuk mengejar mimpinya yang sejak lama ditorehkan pada sebuah buku harian dengan sampul berwarna hitam miliknya itu.

 

Sekarang, Vincent yakin bahwa keputusannya untuk pindah ke London adalah langkah awal untuk mewujudkannya. Selangkah lebih dekat menuju mimipinya untuk menjadi seorang konduktor orkestra terbaik di dunia.

 

Suara berat ayahnya memecah keheningan yang sudah mengungkung kamar tidurnya selama beberapa menit itu. Ia lantas menoleh, menangkap sosok pria paruh baya itu berdiri diambang pintu sambil melipat kedua tangannya didada, membenarkan letak kacamatanya yang merosot dari hidung mancungnya kemudian.

 

“Vincent, kid .” Ayahnya kemudian melangkah mendekat setelah memencet saklar lampu ruangan pada dinding, menghampirinya yang sedang duduk dipinggir kasur dan menghadap ke arah jendela kamarnya yang tinggi. Pria itu lalu mengambil duduk di samping kirinya, membuat kasurnya sedikit turun karena beban tubuh ayahnya. Ia lalu menolehkan kepalanya, menatap ayahnya yang sedang tersenyum lebar sambil mengusap belakang kepalanya dengan kasih sayang yang terasa hangat, menjalar dengan cepat hingga menyentuh hatinya. “Sudah siap berangkat ke Bandara?”

 

Ia lantas mengangguk, merasakan beban yang telah lama bercokol, kini sedikit lebih ringan. Ia memilih jadwal penerbangan ke London pada pukul satu dini hari agar ia bisa menghabiskan waktu dengan tidur. Mungkin ayahnya sudah bertanya karena lalu lintas Jakarta sangat sulit ditebak. “Sudah, Dad . Vincent sudah siap,” jawabnya cepat sambil menyunggingkan senyum kotaknya. Ayahnya lalu tertawa renyah dan berdecak, menolehkan kepala ke arah jendela kamarnya yang hanya dilapisi tirai tipis transparan itu.

 

Vincent pun mengikuti gestur ayahnya, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu. Beliau lantas merangkul bahunya, sedikit mengeratkan pelukannya. Ia tersenyum, merasakan rasa cinta dan bangga seorang ayah kepada anak laki-lakinya yang begitu luar biasa hanya lewat sebuah pelukan. Dalam hatinya, Vincent bersyukur, memiliki sosok ayah yang selalu mendukungnya tanpa batas. Sejak kecil, apapun keinginan dan keputusannya selalu dituruti, namun tentu masih dalam batas wajar, membuatnya paham apa itu arti mimpi, cita-cita, dan bagaimana caranya untuk meraih semua itu dengan sabar. Tidak ada impian yang serta merta disuguhkan padamu dan selalu hargai proses , son, begitu kata ayahnya.

 

“Kamu sudah yakin tidak ada yang tertinggal, Nak?” Ayahnya membuka suara, terdengar serak dan parau.

 

Apakah pria itu sedang menangis ?

 

Vincent menanggapi pertanyaannya hanya menggeleng, mengangkat kepalanya dari bahu ayahnya itu. “Tidak, Vincent sudah cek semuanya. All set, Dad ,” gumamnya sambil menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit kamarnya, tidak ingin menyaksikan ayahnya yang sedang bersedih. Dadanya terasa nyeri, memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja pria itu belum rela melepaskan anak semata wayangnya pergi jauh dari tanah air untuk mengejar mimpinya seorang diri.

 

Hanya Vincent yang dimiliki oleh Adiwilaga saat ini, apalagi kedua orang tuanya itu baru saja secara resmi bercerai beberapa bulan yang lalu.

 

Alright ,” sahut pria paruh baya itu beranjak dari kasur, melangkah ke arah barisan kopernya dan menarik salah satu gagang yang terdapat sebuah tanda pengenal bertuliskan ‘Vincentius T. Adhitama’ itu. “ Let’s go. Say bye to your room if you want . Dad akan tunggu kamu didalam mobil,” ujar pria itu sambil tersenyum, melangkah pergi dari sana setelah mendengarnya menggumam.

 

Ia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah meja belajarnya, menggendong tas yang berisi saksofonnya pada bahu kanan dan menenteng tas ranselnya pada bahu kiri, melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya sambil menyeret dua koper besarnya serta.

 

Sesaat sebelum akhirnya Vincent menutup pintu kayu jati berwarna cokelat tua itu, ia membalikkan tubuhnya, mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kamar yang selama ini telah menjadi “tempat perlindungannya” untuk terakhir kalinya. Hatinya mencelos, menyadari bahwa akhirnya ia harus pergi meninggalkan Jakarta, meninggalkan Indonesia, meninggalkan rumah serta ayahnya sendirian .

 

Namun, ia pun merasa senang dan bersemangat, dirinya sudah selangkah lebih dekat untuk mewujudkan mimpinya. Ia tidak akan menyia-nyiakan “kesempatan” dan peluang yang diberikan secara cuma-cuma oleh ayahnya untuk menempuh pendidikan musik di luar negeri. Tentu dengan usaha ekstra, Vincent pun akhirnya mengantungi izin dan restu dari ibunya, walaupun ia harus membujuk wanita itu selama tiga bulan lamanya—setiap hari mencoba untuk membicarakan tentang mimpinya itu empat mata layaknya seseorang yang sedang mempresentasikan penelitian tesisnya di depan penguji sidang.

 

Don’t make me regret this, London, batin Vincent dalam hati sambil memejamkan kedua matanya lalu menarik napas panjang, sebelum akhirnya menutup pintu kamarnya, menuruni anak tangga dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu utama rumahnya.

 

🎶

 

London, 2007

 

Vincent tidak bisa menyembunyikan senyum sumringahnya saat menginjakkan kedua kakinya di Terminal 3 Bandar Udara Heathrow, London sore ini. Untuk pertama kalinya, ia berpergian seorang diri tanpa didampingi oleh kedua orang tuanya. Tak hanya itu, ini adalah kali pertama dirinya mengunjungi salah satu negara yang terletak di Benua Eropa itu, jauh dari Indonesia. Ia sangat bersemangat, menggelengkan kepalanya berulang kali saat melihat megahnya bandar udara itu sambil menahan giginya yang bergemeletuk karena kedinginan. Kedua matanya berbinar, tak peduli jika terkesan norak karena baru pertama kali mengunjungi kota London. 

 

Udara terasa sangat dingin siang itu, menusuk hingga tulangnya saat Vincent melangkah keluar dari pintu kedatangan terminal itu, kedua pipi dan hidung mancungnya perlahan terlihat memerah—ia sempat melihat pantulan dirinya pada cermin didekat sliding door . Ia lalu mengaitkan kedua tangannya yang sudah terbalut dengan sarung tangan tebal dan meniupnya, membiarkan hangat napasnya sendiri meredakan rasa dingin yang membuat keduanya hampir kaku itu. Beruntung saat pesawat yang membawanya terbang dari Jakarta itu hendak mendarat di Bandara Heathrow, London, ia memutuskan untuk mengenakan mantel panjangnya yang berwarna coklat muda. Setidaknya, salah satu pakaian favoritnya itu sukses melindungi dirinya dari serangan udara dingin.

 

Ia sangat menyukai musim dingin, dan tentu saja saat salju mulai turun. Entahlah, ia merasa euforianya begitu berbeda bila dibandingkan dengan Jakarta yang tingkat kelembaban udaranya sangat parah dan hampir selalu membuat kelenjar keringatnya terangsang. Namun untuk kali ini, ia tidak bisa menahan rasa dingin yang semakin lama semakin asyik menggigit sekujur tubuhnya. Ia lantas mendorong troli barang yang cukup berat—ya, Vincent membawa tiga koper ke London—ke arah pangkalan taksi terdekat.

 

Setelah sekitar sejauh seratus meter berjalan kaki, akhirnya Vincent menghampiri salah satu taksi yang ada di paling depan barisan dan memasukkan kopernya kedalam bagasi, dibantu oleh pengemudi kendaraan roda empat berwarna hitam tersebut.

 

Vincent menghela napas saat memasukkan kopernya yang terakhir, melangkah ke sisi kanan taksi itu dan melangkah masuk. Ia mengambil duduk, mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pesan untuk mencari alamat tujuan—tempat yang akan menjadi “rumahnya” selama ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di London.

 

Ia lalu mencondongkan tubuhnya untuk memberitahu alamat tujuannya pada sang pengemudi itu.

 

To Lisson Grove near Church Street, please, ” ujarnya sambil menunjuk kearah ponselnya untuk memberitahu titik tujuan yang tepat. Vincent lalu meminta sang pria untuk memberi kode jika mereka sudah memasuki daerah itu. “ Please let me know if we’re almost there. I need to inform my acquaintance.

 

Pria itu menggangguk. “ Sure, Sir, ” jawabnya sambil melempar senyum tipis ke arah Vincent lewat kaca spion. “ Welcome to London .”

 

Ia pun membalas senyum pria itu ramah, hendak mengucapkan terima kasih saat mendengarkan dering telepon masuk pada ponselnya. Ia lantas melirik kearah benda elektronik itu, menyunggingkan senyumnya kemudian saat melihat nama ayahnya terpampang jelas di sana.

 

Ignasius Adiwilaga Adhitama is calling… 

 

Vincent lalu menggeser ikon tombol telepon berwarna hijau pada dering keempat.

 

Halo, Vincent ,” sapa ayahnya dengan suara paraunya. Vincent tahu bahwa saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam di Jakarta. Ia terenyuh sekaligus tidak tega pada pria diujung telepon itu. Mengapa ayahnya itu tidak memilih untuk istirahat dan meneleponnya esok hari ? “ Anak Dad sudah sampai ?”

 

Ia menggumam menjawab pertanyaan ayahnya. “ Yeah, Dad . Sudah. Ini Vincent sudah ada didalam taksi menuju Church Street ,” jelasnya sambil menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah luar taksi. “ Weather is nice, much better than Jakarta . Tapi dingin sekali, untung saja Vincent sudah pakai mantel coklat.” Ia lalu memejamkan kedua matanya, perlahan merasakan tulang ekor serta bagian pantatnya pegal karena duduk selama hampir dua puluh jam didalam pesawat. Walaupun ia menghabiskan hampir separuh perjalanan dengan tidur, namun tetap saja, tidak ada yang mampu menandingi kenyamanan yang diberikan oleh kasur miliknya yang empuk di kediaman Adhitama. “Mengapa Dad belum tidur?”

 

Pria itu berdecak. “ Henry baru saja telepon Dad . He asked for your phone number . Dad lupa kirim nomormu ,” jawab ayahnya sambil menghela napas berat lalu menyambung lagi. “ Untung saja Dad belum tidur .”

 

Vincent hanya terkekeh lalu mendesah. “Di sini masih pukul empat sore, Dad . Vincent bisa mampir ke kafe atau musical instrument store named Stringers London di dekat rumah, kalau memang Henry belum ada di sana saat Vincent sampai. It’s okay .” 

 

Ayahnya  terdengar mencebik. “ Ya, kamu mudah sekali bicara, Nak. Padahal hampir sehari penuh kamu duduk dengan posisi yang sama ,” balas pria itu. Samar-samar, Vincent dapat mendengar suara televisi yang menyala diujung telepon. Biasanya, ayahnya sedang menonton salah satu saluran televisi sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur, lalu tidak menyadari bahwa dirinya tertidur karena kelelahan.

 

Siapakah yang akan melepaskan kacamata yang dikenakan ayahnya dan meletakkan benda itu diatas nakas? Siapakah yang akan memakaikan selimut pada ayahnya sampai menutupi bagian bahu? Siapakah yang akan mematikan lampu kamar tidur pria itu, jika saat ini Vincent berada di benua dan zona waktu yang berbeda dengan Adiwilaga?

 

Ah, not really . Vincent sempat tidur delapan jam, lalu ke area bar untuk meregangkan kaki. But I didn’t get the chance to take a bath . Qatar is really nice, Dad. Thanks for letting me take the business class seat, though ,” ujarnya. Adiwilaga menghadiahkan tiket penerbangan kelas bisnis dari Jakarta ke London untuk ulang tahunnya yang kedelapan belas. Hell , jika Vincent boleh jujur, ia malah sibuk mengabadikan suasana area kelas bisnis pesawat itu dengan kameranya. Namun Vincent tidak mau menceritakannya pada siapa pun karena ia merasa malu, sudah dipastikan orang yang mendengarnya akan menertawainya.

 

Ck , anything for you, son . ” Ayahnya berdecak lalu menggumam. “ Apa ada yang menarik perhatianmu, Nak ?”

 

Ia menggelengkan kepala, memikirkan apa saja yang telah dilakukannya selama dua puluh jam berada didalam pesawat. Ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya seperti berpikir, sambil sepasang matanya memperhatikan jalanan yang terlihat asing untuknya. “Tidak ada. Hanya menonton pertunjukkan orkestra dan mendengar musik saja. I prefer to be alone , lebih nyaman. Ya, yang seperti Dad tahu, lah,” balasnya sambil menaikkan alisnya sebelah.

 

Adiwilaga terdengar ber-oh-ria lalu menyambung kalimatnya lagi, sepertinya sebentar lagi akan menyudahi percakapan mereka. Vincent memaksa kedua matanya untuk mengerjap beberapa kali demi melawan kantuk, ia tidak ingin tertidur saat ayahnya masih berbicara padanya diujung telepon. “ Ya sudah kalau begitu. Expect to receive Henry’s messages in few minutes ya, Nak. Sepertinya laki-laki itu akan menemuimu di sana .”

 

Vincent memutar kedua bola matanya sambil tersenyum. “Ya, Dad. Okay .”

 

Be nice to him, okay, son ?” Ayahnya mengucapkan kalimat retorik. “ Dia akan menjadi temanmu selama kamu kuliah di London. Keluarganya senang sekali saat tahu bahwa kamu akhirnya bersedia tinggal dekat dengan rumah mereka. Apalagi ayahnya. Sahabat Dad itu ingin bertemu dengan anak laki-laki yang dulu sering sekali digendongnya .”

 

Ia berdecak, berusaha menahan geramannya karena ia masih ingat betul urutan kejadian yang membuatnya malu hingga detik ini. Demi Tuhan, padahal sudah lama sekali pikiran Vincent tidak dihantui bayang-bayang memori menjijikan sekaligus memalukan itu. “Ya, dan Vincent benar-benar memuntahkan semua isi perut karena sedang sakit saat itu, ‘kan?”

 

Ayahnya itu tertawa keras, terdengar tidak peduli jika ada tetangga yang mendengar suara khas yang menggelegar itu. Jangankan tetangganya, dua orang ART dan seorang sopir yang tinggal di kediaman Adhitama itu dipastikan akan terbangun dari tidurnya karena suara tawa ayahnya. “Damn. It’s been a long time, son . Tidak mungkin Tedja akan mengingat kejadian itu hingga sekarang. Dia sudah tua .”

 

Mendengar Adiwilaga berkata demikian, Vincent hanya bisa memajukan bibirnya. Ia yakin pria paruh baya yang sedang berbicara dengannya itu pasti mampu menebak gerak-geriknya tanpa melihat dengan mata kepalanya sendiri. “Sama seperti Dad lah.”

 

“Hey,” kata pria itu menegurnya dengan mendesis. God, Vincent benar-benar akan merindukan saat-saat di mana ia dan ayahnya seringkali bertengkar kecil hanya karena keduanya selalu menjahili satu sama lain jika sedang bersama.

 

Vincent tertawa. “ Yeah, yeah. Sorry, Dad .”

 

Pria itu terdengar menguap, membuatnya lantas melirik kearah jam tangan yang melingkar dipergelangannya. Saat ini waktu menunjukkan hampir pukul lima sore di London, yang artinya hari sudah berganti di Jakarta. “Son, Dad istirahat dulu, ya ?”

 

Ia mengangguk, menggangap seolah ayahnya yang berada diujung telepon itu dapat melihat gerak-geriknya. “ Alright . Jangan lupa pasang alarm untuk besok ya, Dad ,” pinta Vincent sembari mengingatkan pria itu. Pasalnya, beliau harus pergi ke luar kota sejak subuh dengan rekan-rekan sejawatnya dulu.

 

Ayahnya menggumam, terdengar sedang menyibakkan selimutnya yang ia hafal bahannya sedikit tebal itu. Setiap malam, Vincent hampir selalu mengobrol dengan ayahnya di ruang tengah, sebelum keduanya kembali ke kamar tidur masing-masing dan beristirahat. Belum genap dua puluh empat jam berpisah, namun ia kini sudah merindukan kehadiran ayahnya di sampingnya. Bagaimana pria paruh baya itu akan menghabiskan harinya mulai saat ini di kediamannya seorang diri? Ia tidak mungkin meminta ibunya untuk datang ke rumahnya, sekedar untuk mengecek kondisi ayahnya, ‘kan?

 

Keduanya baru saja selesai mengurus sidang perceraiannya dua bulan yang lalu, membuat langkah Vincent sedikit “pincang” karena sosok ibunya yang “pergi” dari kehidupannya. Walaupun Anjani lebih banyak menghabiskan hidupnya dengan pergi ke luar negeri karena tuntutan pekerjaan, namun Vincent bersyukur karena ibunya itu tidak pernah lupa akan keluarga kecilnya.

 

Ya. Sudah . Dad juga sudah minta ART untuk ketuk kamar Dad kalau belum bangun esok hari ,” ujar pria itu sebelum akhirnya menyambung lagi. “Kid , jangan lupa telepon Anjani, tell her that you’ve already arrived safely in London ,” katanya mengingatkan.

 

Ia menggumam sambil menghela napas berat, menolehkan kepalanya ke arah jendela mobil yang ditumpanginya sambil mengedarkan pandangan. Ternyata kemacetan tampak menghiasi kota London, sama seperti Jakarta , batinnya. Vincent sedang asyik memandangi hamparan langit yang cerah dengan matahari yang sedikit bersembunyi dibalik awan, saat melihat bus dua tingkat berwarna merah terang—biasa disebut double decker —sedang berhenti tepat di samping kendaraannya itu, menghalangi pandangan matanya.

 

Ia sempat merasa kesal, sebelum akhirnya menyadari sesuatu yang unik. Dari balik kaca jendela yang transparan, Vincent menyaksikan interaksi seorang anak perempuan balita dengan sepasang pria dan wanita sedang duduk didalam bus. Balita itu sedang digendong oleh keduanya, raut wajahnya terlihat gembira. Kedua mata polosnya terlihat berbinar, air liur menetes dari balik bibir mungilnya, membuat dua orang dewasa yang menggendongnya itu tertawa. Vincent menopang dagunya pada telapak tangannya, memperhatikan pemandangan itu yang membuat hatinya terenyuh. Ia sudah merindukan kedua orang tuanya, mengingat saat-saat hubungan antara ayah dan ibunya masih harmonis dan berbagi kebahagiaan, seperti yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri saat ini.

 

Lamunannya buyar saat mendengar ayahnya berdehem diujung telepon. Ia teringat bahwa ia belum menanggapi kalimat pria itu beberapa saat lalu. Vincent lalu menghela napas dan menyandarkan tubuhnya kembali pada jok mobil, mengistirahatkan kepalanya pada sandaran yang empuk itu. “Ya, Dad. I will, ” ujarnya singkat. “ Anyway, Vincent ingin istirahat sebentar, masih tersisa sekitar lima puluh menit lagi. Traffic, I guess ,” katanya beralasan.

 

Selain merasakan kedua matanya hampir tertutup karena kantuk, ia juga tidak ingin ayahnya mendengar suaranya yang sedang menahan tangis.

 

“Alright,” bisik ayahnya sebelum kembali terdengar menguap, menulari Vincent dan membuatnya melakukan hal yang sama. Kedua matanya benar-benar sayu, tubuhnya pun terasa lemas. Rasanya ia ingin segera berendam dengan air hangat— God, semoga saja Henry memiliki fasilitas bathtub dan water-heater di rumahnya itu. “Dad matikan teleponnya ya, Nak? I’ll call you again soon.”

 

Ia hanya menanggapi dengan menggumam saat ayahnya melanjutkan kalimatnya, meminta anak semata wayangnya untuk selalu menjaga diri selama tinggal di London. Vincent lalu mengatakan hal yang sama, meminta agar ayahnya itu untuk tetap menjaga kesehatan dan mengurangi konsumsi rokok selama dirinya merantau ke negeri orang. Lucu memang, perasaannya dapat berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam hitungan jam. Vincent merasa bersemangat saat ayahnya memeluknya erat, membisikkan kalimat penyemangat sambil menepuk bahunya kala ia hendak melangkah masuk menuju area keberangkatan. Ia hanya tersenyum dan melonjak-lonjak untuk meredam kesedihannya, tidak ingin ayahnya semakin menangis karena mendengarnya menangis. Berpisah dengan orang tua di usia yang belum genap dua puluh tahun membuat Vincent seperti hampa, layaknya ruang kosong yang tak berpenghuni. Ayahnya itu telah menjadi penyokong dan penopang hidupnya layaknya pilar, pelindung hidupnya layaknya atap rumah. Bukannya ia tidak bersyukur akan kehadiran ibunya, tidak sama sekali. Namun kedekatannya dengan Adiwilaga memang terlihat sejak kecil, karena sang ibu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.

 

Sambungan telepon akhirnya terputus saat taksi yang ia tumpangi kembali melaju membelah kemacetan kota London.

 

Vincent menghela napas berat, meletakkan ponselnya atas diatas pahanya. Hatinya terus-menerus merapalkan kalimat yang ia katakan sejak melangkah keluar dari kamar tidurnya hampir dua puluh empat jam yang lalu.

 

Don’t make me regret this, London .

 

Perlahan kantuk pun menyerang, menggelayut santai pada kedua matanya, memaksanya untuk memejamkannya. Kacamata bulat kesayangannya yang biasa bertengger pada batang hidungnya, kini sudah merosot turun dari singgasananya karena hidung Vincent yang sedikit berminyak. Ia enggan mengeluarkan kertas minyak yang ia miliki dari dalam tas, memilih untuk membiarkan kulitnya beradaptasi dengan udara, cuaca serta suasana baru yang sangat berbanding terbalik dengan Jakarta.

 

Ia hampir tertidur dan mempersilakan alam bawah sadarnya mengambil alih waktunya, saat ia merasakan ponselnya bergetar sebanyak empat kali. Dengan malas, ia meraih benda itu dan mengetuk layarnya dengan ibu jarinya, mengernyitkan dahi kemudian saat melihat nomor tidak dikenal mengirim pesan singkat padanya lewat aplikasi iMessage

 

Nomor siapa ini ? Vincent tidak pernah menyebarkan nomor ponselnya sembarangan saat dirinya masih tinggal di Indonesia. Tidak mungkin ada seseorang yang berdiri di dekatnya saat dirinya tadi membeli kartu sim pada vending machine yang tersedia untuk mengintip nomor ponselnya, ‘kan?

 

Tidak mungkin ada kasus seperti itu. Ini bukanlah Jakarta.

 

Ia hampir saja menghapus pesan itu dan memblokir nomor yang tidak dikenalnya, sesaat sebelum kedua manik hazelnya terbelalak karena bisa saja Vincent tidak dibukakan pintu oleh calon teman satu tempat tinggalnya selama di London jika ia tadi melakukannya.

 

Plus, ia tidak mau jika ayahnya memarahinya selama lima menit lewat telepon karena sudah berlaku tidak sopan dengan orang itu.

 

Vincent lalu membuka pesan itu dan membaca isinya.

 

From : +44 7295 123030

 

Halo , is this Vincent’s number?

My name is Henry.

Saya dapat nomormu dari Oom Adiwilaga.

Salam kenal. :)

 

🎶

 

Perjalanan menuju rumah Henry—putra sulung Tedja, sahabat ayahnya—memakan waktu hampir satu jam. Vincent sempat melanjutkan tidur singkatnya selama sang pengemudi taksi berwarna hitam itu membelah kemacetan menuju Lisson Grove di daerah Marylebone. Ia terbangun dari istirahatnya, mengerjapkan kedua matanya yang sedikit berkedut, meringis saat merasakan kepalanya nyeri, seperti ada seseorang yang sedang menghantamnya berkali-kali. Vincent lalu memijat tengkuknya yang terasa pegal, rasanya sudah rindu dengan tempat pijat refleksi yang terletak tak jauh dari rumahnya di bilangan Menteng. Ia lalu menolehkan kepalanya, melihat hamparan langit biru yang semula cerah, kini telah berubah menjadi biru gelap. 

 

Laju taksi yang ditumpanginya pun melambat, menandakan bahwa ia hampir sampai di tujuan—sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan Lisson Grove—yang akan menjadi tempat tinggalnya selama di London. Ia lantas merutuk dalam hati, sedikit menyesal karena tidak meminta informasi mendasar pada ayahnya tentang Henry, seorang laki-laki sebaya dirinya yang akan menjadi teman pertamanya di negeri orang.

 

Sir, we’re almost there. You can inform your acquaintance, ” ujar pengemudi taksi padanya sambil menatapnya lewat kaca spion tengah, membuatnya menoleh dan menatap pria itu. Sang sopir mengatakan pula bahwa ia tidak bisa berhenti terlalu lama karena letak rumah yang sangat dekat dengan persimpangan jalan raya dan lampu lalu lintas itu.

 

Vincent lantas mengangguk, meraih ponselnya lalu mengirimkan pesan pada Henry bahwa ia hampir sampai. Tak membutuhkan waktu lebih dari semenit, taksi itu pun akhirnya menepi di depan sebuah bangunan yang tidak terlihat seperti rumah, namun bentuknya jauh berbeda dengan komplek bangunan yang ia lihat sebelumnya—terletak persis di sebelah bangunan yang menurut peta merupakan rumah Henry—dengan beberapa bangunan yang berjejer berimpitan tanpa pembatas antara satu dengan yang lain.

 

Tunggu. Ia tidak salah alamat, ‘kan? Akan sangat lucu dan merepotkan jika ia harus kembali menelepon ayahnya yang sudah tidur di Indonesia, atau bahkan Henry untuk menanyakan di mana letak persis gedung itu. Vincent melihat dua pintu utama dengan warna cat merah terang dan hitam dari kejauhan, menerka-nerka apakah bangunan ini adalah benar adalah rumah milik keluarga Tanoewongso.

 

Sopir taksi itu pun memindahkan transmisi lalu mematikan mesin, keluar dari mobil setelah menarik pedal untuk membuka pintu bagasi, membuat Vincent dengan sigap mengeluarkan selembar uang lima puluh poundsterling yang sudah ia siapkan dalam saku mantelnya untuk membayar argo perjalanan. Ia lalu menyambar tas ransel dan tas saksofonnya, membuka pintu disisinya dan keluar dari mobil, sekilas mengecek apakah ada barang yang tertinggal. Ia tidak mau membuat dirinya sendiri repot di London karena kecerobohannya.

 

Saat sedang sibuk mengeluarkan tiga buah koper miliknya dari bagasi, Vincent mendengar langkah kaki seseorang seperti berlari ke arahnya sambil berseru memanggil namanya, membuatnya lantas terkesiap, tak terkecuali pengemudi taksi yang tengah membantunya mengangkat barang-barangnya yang cukup berat itu.

 

“Vincentius!”

 

Suara yang berat menyapa telinganya, membuatnya lantas menoleh dan mengernyit, berusaha menebak apakah itu Tedja atau orang lain yang mengenal dirinya. Ia tidak dapat melihat apapun karena kacamata bulatnya berembun, maka ia melepasnya, mengelapnya asal dengan lap kacamata yang ia simpan dalam saku celananya lalu mengenakannya kembali.

 

Ah, ia benar. Orang yang memanggilnya itu adalah Tedja.

 

Albertus Tedja Tanoewongso, seorang investor besar yang namanya sangat dikenal di Indonesia dan luar negeri—Vincent tidak begitu ingat di mana saja. Nama pria paruh baya itu seringkali disebut di stasiun televisi yang membahas soal bisnis nasional dan internasional. Adiwilaga dan Tedja sudah bersahabat sejak keduanya menempuh perkuliahan jurusan Ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Keduanya lengket bak lebah dan madunya, tidak pernah terpisahkan. Julukan yang diberikan oleh rekan-rekan mereka akhirnya kedaluwarsa saat Tedja memutuskan untuk meneruskan pendidikan magisternya di Harvard, sedangkan Adiwilaga hanya ingin berfokus pada cintanya dengan musik, tidak mengindahkan gelar akademiknya dan akhirnya banting setir menjadi seorang pemusik.

 

Tedja memiliki tinggi tubuh yang sama dengan ayahnya, namun postur tubuh mereka sangat berbeda. Pria yang sedang berkacak pinggang sambil tersenyum di sisi dalam pagar itu masih terlihat bugar—sepertinya masih sering berolahraga, berbanding terbalik dengan ayahnya—otot bisepnya tercetak jelas dibalik kemeja lengan panjang yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Sepertinya pria itu baru saja kembali dari rapat atau urusan pekerjaan, karena pakaiannya begitu rapi.

 

Tidak mungkin Tedja berpakaian seperti ini hanya untuk menyambut kedatangannya di London, kan?

 

Hal lain yang tak kalah penting adalah Vincent hampir tidak mengenali wajah Tedja karena pria itu kini mengenakan kacamata baca yang terlihat melorot dari batang hidungnya. 

 

Sahabat ayahnya itu akhirnya membuka pagar rumahnya, bersamaan dengan dirinya yang mengucapkan terima kasih pada sopir dan menyerahkan selembar uang untuk membayar. Pengemudi taksi itu pun membalas ucapannya, mengatakan semoga ia merasa betah tinggal di London lalu masuk kedalam mobil sambil melambaikan tangan.

 

Setelah melihat kendaraan roda empat itu pergi dari sana, Vincent lantas berpikir bagaimana caranya menarik tiga koper besar itu sekaligus, karena ia benar-benar sudah lelah. Namun sepertinya Tuhan mendengar doanya dan menolongnya lewat Tedja. Pria itu terlihat sudah melangkah mendekat dan merentangkan kedua tangannya. Tedja memeluk tubuhnya singkat, lalu melonggarkannya kembali sambil tersenyum lebar. “Wah, kamu sudah besar sekali ya, Vincent. Sama dengan anak Oom,” ujarnya sambil menepuk kedua bahunya. “Masih ingat dengan Oom, ‘kan?”

 

Vincent lantas mencium aroma rokok yang menguar dari kemeja pria itu. Sepertinya Tedja adalah perokok aktif, sama seperti ayahnya. Ia lalu mengangguk kikuk menanggapi pertanyaan yang ditujukan padanya. Pasalnya, terakhir kali ia bertemu dengan sahabat ayahnya ini adalah saat pria itu bermain golf dengan sang ayah beberapa tahun silam. Selain itu, ya, saat Vincent memuntahkan seluruh isi perutnya pada kemeja Tedja saat ia masih berumur lima tahun. “Tentu, Oom. Saya masih ingat. Oom apa kabar? Dad titip salam untuk Oom,” katanya menyampaikan pesan dari ayahnya layaknya mandat yang harus segera dilakukan.

 

Thanks, Vincent. Send my regards to your Dad as well ,” kata pria itu sambil membantunya menarik salah satu kopernya. Vincent sempat mencegah Tedja untuk melakukannya, namun sahabat ayahnya itu malah menggeleng dan tetap mencengkeram gagang kopernya itu. “Ayo masuk. Oom dan Henry sedang masak masakan Indonesia untuk menyambut kamu di London.”

 

“Aduh,” keluhnya tidak enak hati, membuat keluarga Tanoewongso repot untuk menyambutnya di London. “Tidak perlu repot, Oom. Saya jadi tidak enak,” sambungnya sambil menggigit bibir. Ia merasa memiliki hutang budi pada keluarga Tanoewongso itu.

 

Tedja lalu menggeleng, melirik ke arahnya sambil tersenyum. “ Well, kid. Jangan begitu, kita ini sudah seperti keluarga. Santai saja. Oom dan Henry memang hobi memasak.”

 

Vincent lantas mengangguk lemah. “Ah begitu. Terima kasih Oom untuk jamuannya,” ujarnya sambil tersenyum. Ternyata Tedja memang memiliki keahlian berbicara dan bernegosiasi, membuat seorang Vincent yang keras kepala dan kaku akhirnya menyerah.

 

Keduanya lalu menyusuri jalan setapak menuju pintu utama rumah itu beriringan. Bagian depan rumah terlihat asri, banyak sekali tanaman yang tumbuh mempercantik pemandangan walaupun didominasi dengan warna hijau. Vincent lantas mengernyitkan dahi sambil menaiki anak tangga yang berada di depan pintu dengan hati-hati. Apakah Henry memiliki hobi berkebun?

 

Welcome to London , kid . Bagaimana, flight -nya menyenangkan? Kata Adiwilaga, kamu terbang menggunakan kelas bisnis, ya?” Tedja bertanya padanya sambil menaiki anak tangga dengan mengangkat kopernya.

 

Rasanya Vincent ingin menepuk dahinya. Ayahnya itu benar-benar tidak bisa menahan untuk tidak menceritakan apapun pada sahabatnya ini.

 

Vincent tersenyum kikuk sambil menampilkan sederet giginya yang putih dibalik bibirnya yang kering—ia lupa memakai pelembab bibir sebelumnya. “Iya, Oom. I had a pleasant flight , thank God . Terima kasih ya Oom, sudah memperbolehkan saya tinggal di sini.”

 

Pria itu hanya berdecak sambil mengibaskan tangannya. “Oom malah senang kamu bisa tinggal di sini, kid . Setidaknya Adiwilaga merasa aman melepasmu di London. Ayahmu itu sepertinya belum rela berpisah dengan anak semata wayangnya.”

 

Vincent lalu tenggelam dalam keheningan, sesaat sebelum akhirnya Tedja membuka pintu berwarna hitam dan keduanya disambut oleh seseorang yang tidak ia kenali.

 

“Hai, welcome to London, Vincent. Nama gue Henry, salam kenal. Maaf tadi kalau lo kaget dengan pesan gue. I asked your phone number thru your Dad. I hope you don’t mind .”

 

Seorang laki-laki yang sebaya dengan dirinya berbicara dalam satu tarikan napas, tiba-tiba mengulurkan tangan ke arahnya, mengajaknya untuk berjabat tangan. Akhirnya ia bertemu dengan Henry, putra sulung Tedja Tanoewongso yang akan menjadi teman satu atapnya itu untuk pertama kalinya. Vincent tak mampu menahan gerakan matanya untuk tidak memperhatikan sosok yang sedang berdiri di hadapannya itu dengan seksama. Laki-laki itu memiliki rambut pirang dengan disisir rapi kebelakang, terlihat cocok dengan kedua bola matanya yang berwarna coklat gelap. Hidungnya mancung dan bibirnya terlihat mungil. Ia pun baru menyadari bahwa tinggi tubuh pria itu sama dengannya.

 

Vincent berani bersumpah, ia seperti sedang berhadapan dengan seorang model, sempat merasa ragu jika laki-laki itu benar seusia dengannya. Ah, ini adalah kali pertama dirinya berpikir seperti itu tentang seseorang, namun menurutnya, Henry memang memiliki paras yang tampan dan unik.

 

It’s okay. Terima kasih,” kata Vincent sambil melangkah masuk, melepas sepatunya dan meletakkannya pada rak yang terletak disamping pintu masuk kemudian, mengalihkan pandangannya dari Henry yang notabene masih berstatus “orang asing”. Ia tidak ingin laki-laki itu merasa aneh dan kikuk karena sikapnya barusan. Untung saja, Henry tidak mengatakan apapun. Sepertinya laki-laki itu tidak sadar bahwa Vincent hampir tidak mengedipkan kedua matanya saat sibuk menatapnya.

 

Ia lalu mengenakan sandal ruangan yang tersedia di samping rak alas kaki—mengikuti Tedja dan Henry yang sepertinya menerapkan hal itu di dalam rumah ini. “Nama saya Vincent, seperti yang kamu sudah tahu,” katanya sambil melepas kacamata bulatnya dan menyelipkan benda itu pada kerah kemejanya. Vincent pun akhirnya melepas sarung tangannya yang tebal dan mantel coklatnya kemudian, saat mendengar Henry mengatakan bahwa ia sudah menyalakan penghangat ruangan yang terletak di ruang tengah rumah itu. Laki-laki itu juga memintanya untuk menggantungkan mantelnya pada tiang yang diletakkan tak jauh dari tempatnya berdiri.

 

Henry terdengar tertawa renyah sambil melangkah ke arah dapur yang berada di sebelah pintu masuk. Mendengar anak laki-lakinya tertawa, Tedja hanya menggelengkan kepala sambil memukul pelan puncak kepala putra sulungnya itu. Vincent tersenyum simpul, kembali fokus dengan barang bawaannya, tidak ingin menyenggol siapa pun dan barang apapun yang ada di dalam rumah ini karena masih membawa tas pada bahu kanannya yang berisi saksofon itu.

 

Setelah selesai menyusun tiga kopernya di dekat pintu dan menaruh kedua tasnya di lantai, ia lantas mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan, melihat Henry sedang mengaduk-aduk isi panci yang terletak diatas kompor menyala dengan spatulanya, sedang Tedja terlihat sedang mengatur alat makan pada meja kayu yang berada di samping kitchen island . Rumah ini terasa nyaman dan cocok dihuni untuk dua hingga tiga orang saja karena konsepnya yang minimalis.

 

Saat tadi Vincent masuk ke dalam rumah, sepasang manik hazelnya disambut oleh area dapur yang menyatu dengan ruang makan yang terbuka, berikutnya terdapat area ruang tengah yang terlihat homey . Dinding rumah itu didominasi dengan perpaduan warna beige dan putih gading yang tidak mencolok, cocok dengan lantai yang dilapisi parket kayu yang senada dengan meja dan kursi makan. Vincent lalu menoleh ke kiri, melihat jendela tanpa tirai yang tinggi memperlihatkan suasana di luar rumah, terdapat sofa berwarna abu yang panjang dan terlihat empuk, berhadapan dengan sebuah televisi yang ditempelkan di dinding, diatas perapian berwarna hitam.

 

Ia tidak melihat ruangan lain di sana, menyimpulkan bahwa kamar tidur dan kamar mandi mungkin terletak di lantai dua bangunan itu.

 

Lima belas menit berlalu, namun Vincent sudah merasa nyaman berada di dalam rumah ini. Walaupun segalanya terasa berbeda dengan rumahnya di Indonesia, namun ia yakin dapat menganggap tempat ini sebagai rumah keduanya. Beruntung Vincent bukanlah orang yang rewel dan pemilih dalam urusan tempat tinggal.

 

Tedja lalu menghampirinya dan mengajaknya untuk duduk di meja makan, pria itu mengatakan bahwa makanan yang dimasak olehnya dan Henry sudah siap untuk disantap. Vincent mengucapkan terima kasih lalu membalikkan tubuhnya, seketika mencium aroma yang begitu lezat menggugah seleranya. Ia merasakan perutnya bereaksi dan berbunyi, padahal dirinya sempat menyantap sepotong sandwich sesaat sebelum pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandar Udara Heathrow. Sepasang matanya lantas menangkap semangkuk nasi berukuran besar yang porsinya cukup untuk tiga orang, panci transparan untuk menghidangkan seporsi besar sop buntut yang asapnya masih mengepul ke udara, dan beberapa potong tempe goreng yang diletakkan berdampingan dengan semangkuk sambal diatas meja persegi yang tidak terlalu besar itu. 

 

Oh, Tuhan. Ia benar-benar merasa seperti di rumah.

 

“Ayo, kid, makan dulu. Oom dan Henry juga belum makan malam, jadi sekalian saja, ya?”

 

“Semoga lo suka ya, Vin dengan makanan seadanya ini,” ujar Henry kembali bersuara, membuatnya hanya bisa mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, sudah tidak sabar untuk segera mengambil sop buntut secukupnya dan menyantap tempe yang menggoda seleranya itu. Ia tidak menyangka bahwa anggota keluarga Tanoewongso memilih untuk menyajikan masakan Indonesia untuk menyambut kedatangannya, bukan makanan Eropa yang membuatnya harus beradaptasi terlebih dahulu.

 

Ketiganya mengobrol santai sambil menyantap makanan mereka, sesekali tawa mereka pecah karena ternyata Tedja dan Henry cukup humoris, kerao melemparkan candaan dan lawakan yang membuatnya hampir tersedak jus jeruk beberapa saat lalu. Melalui obrolan hangat itu, Vincent pun akhirnya tahu bahwa Henry sudah tinggal di London sejak sepuluh bulan yang lalu— ingin segera pergi dari Jakarta dan beradaptasi dengan lingkungan di London , katanya. Laki-laki yang sebaya dengan dirinya itu juga mendaftar di Royal Academy of Music, University of London sama seperti dirinya.

 

Selain memiliki kesamaan karena lahir pada hari, bulan, dan tahun yang sama, keduanya juga ingin mengejar mimpi mereka dalam bidang musik.

 

Ia menangkap dengan ekor matanya, Tedja sedang menopang dagu dengan melipat kedua tangannya, terlihat tersenyum saat memperhatikan dirinya dan Henry yang sedang asyik mengobrol banyak hal soal musik. Vincent lalu mengerjapkan matanya, secara tidak sadar dirinya seperti orang yang berbeda dengan Vincent yang asli—kaku dan sulit untuk bergaul dengan orang lain.

 

Tedja lalu bertanya padanya tentang apa saja yang sudah dilakukannya sebagai persiapan untuk menempuh perkuliahan pada bidang musik itu. “ I’m taking some courses at Associated Board of the Royal Schools of Music starting next month, Oom, karena saya saat masih SMA tidak ambil jurusan Musik,” jelasnya setelah meneguk segelas air mineral hingga habis. Perutnya sangat penuh dan ia merasa kekenyangan, senang dengan jamuan makan malam yang menurutnya begitu lezat dan tanpa cela itu.

 

Pria itu mengangguk sambil menggumam, sedang Henry terlihat bangkit dari duduknya untuk mengisi ulang gelasnya dan melangkah ke arah dapur. “Ah, ya, Oom paham. Henry sudah ambil course juga, if I’m not mistaken. Kalian bisa belajar bersama,” ujar Tedja singkat, lalu menoleh ke arah anak sulungnya dan mengajaknya berbicara. “ Son , jangan lupa untuk tunjukkan semua sudut di rumah ini pada Vincent, ya?”

 

Henry yang sedang meneguk air mineralnya hanya menggumam, lalu mendesah saat air dalam gelas itu tandas. “ Of course I will , Pap,” katanya menanggapi permintaan ayahnya lalu kembali duduk berhadapan dengannya.

 

Pria paruh baya itu lalu menepuk tangan sekali sambil tersenyum, mengulurkan tangannya dan memegang bahu kanannya. “Semoga betah di London ya, kid.

 

Tidak perlu ada seorang pun yang tahu bahwa Vincent sudah mengharapkan hal itu sejak pesawat yang membawanya ke London lepas landas meninggalkan Jakarta. “ Yeah, sure, Oom Tedja. Thank you so much for doing this . I’m really happy .”

 

Setelah membantu membereskan sisa makanan dan piring serta alat makan yang kotor, Tedja lantas pamit untuk kembali ke hotelnya yang terletak di pusat kota London. Pria paruh baya itu ternyata akan menghadiri rapat investor di kota ini dalam beberapa hari kedepan, maka ia terbang dari Singapura menuju London, sambil menengok anak semata wayangnya yang sudah menetap selama hampir setahun di Inggris.

 

Henry lalu menutup pintu utama rumahnya sesaat setelah mobil milik perusahaan menjemput ayahnya itu di rumahnya, lalu menoleh ke arahnya sambil tersenyum ceria. “Gue tahu lo pasti sudah lelah dengan sambutan kecil-kecilan ini, so I will show you upstairs. Kamar kita ada di lantai dua ya, Vin.”

 

Ia mengangguk menanggapi dua pernyataan yang dilontarkan oleh Henry, berjalan mengekor laki-laki itu dan menaiki anak tangga menuju lantai dua yang terpisah dari ruang utama bangunan itu. Seketika aroma mawar segar bercampur dengan vanilla menyapa indra penciumannya saat keduanya sampai di lantai dua, membuatnya lantas merindukan lilin aromaterapi miliknya yang sengaja ditinggal olehnya di Indonesia.

 

Henry lalu membalikkan tubuhnya sambil mengedikkan bahu, menyugar surainya yang sudah berantakan dengan kedua tangannya dan tersenyum. “Kamar tidur lo ada di sebelah sana, Vincent,” kata laki-laki itu sambil menunjuk ke arah pintu yang terlihat di ujung lorong. Lampu sepanjang lorong cenderung terasa hangat dengan cahaya berwarna kuning temaram. “ And this is my room ,” katanya sambil menunjuk ke arah pintu yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri dengan ibu jarinya. “I hope we can get along .”

 

Vincent mengangguk dan membalas senyum laki-laki itu, mengharapkan hal yang sama. Sepertinya Henry akan menjadi seorang teman yang baik untuknya, walaupun ia harus membutuhkan tenaga ekstra karena sifatnya yang keras dan kaku, berbanding terbalik dengan Henry yang pembawaannya ceria dan murah senyum. “Ya, saya harap juga begitu, Henry.”

 

Alright then ,” sahutnya singkat. Laki-laki itu sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya ber-oh-ria, seperti baru saja mengingat sesuatu. “ But anyway, just speak informal with me, Vincent. Oke? Gue agak menyayangkan kalau ketemu orang Jakarta di London tapi ngomongnya tetap terlalu sopan seperti lo.”

 

Ia hampir saja mendengus mendengar Henry berkata demikian. “Maaf, saya tidak terbiasa,” ujarnya dengan sopan. Vincent tidak mau jika Henry, orang asing yang baru pertama kali ditemuinya hari ini akan memberi nilai buruk sikapnya. Ia selalu memperhatikan kesan pertama seseorang atas dirinya, walaupun pada akhirnya, jarang sekali ada yang bertahan untuk berada didekatnya dan menjadi seorang teman.

 

Jika Vincent boleh jujur, ia sudah merasa lelah, ingin segera mengganti pakaiannya dan mandi—bersyukur Henry sempat mengatakan bahwa rumahnya itu menyediakan fasilitas bathtub dan air panas—satu poin plus darinya.

 

Henry terlihat menaikkan alisnya, memiringkan kepala dan akhirnya menyeringai. “ What a rare one. Baiklah, semoga lo tahan dengan gue yang nyablak ini, ya. Now I really hope that we can be friends . Anggap saja rumah sendiri, ya. Selamat beristirahat!”

 

Vincent mengulas senyum tipis, sebisa mungkin terlihat ramah walau sebenarnya dalam hati, ia sudah hampir menjerit karena tidak terbiasa dengan seseorang yang menerobos ruang personalnya. “Ya. I really hope so too ,” ujarnya sambil mengangguk, memperhatikan Henry yang mengacungkan kedua ibu jari tangannya di udara lalu berlalu dari sana, meninggalkannya sendirian di tengah lorong rumah itu.

 

Or maybe not.