Work Text:
“Operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di wilayah perairan Kepulauan Seribu sudah memasuki hari ke-13. Ini merupakan hari terakhir operasi pencarian yang telah diperpanjang sebanyak dua kali. Tim Sar gabungan masih mengusahakan mencari cockpit voice recorder beserta potongan tubuh korban yang mana adalah para awak kapal dan penumpang—”
“Adek, nanti malam ikut ke rumah Bunda, ya?”
Yang dipanggil angkat kepala dari posisi menunduk, lempar tatapan bertanya dengan kondisi mata sembab dan lembab, kepada orang yang sudah mengusik acara rutinnya belakangan ini; mendengarkan siaran ulang berita-berita dari hari lalu.
“Doa bersama, hari terakhir.”
Lima detik memproses jawaban, kerutan yang sempat mampir di dahi memudar, satu helaan nafas keluar, kepalanya kembali dibawa ke arah bawah, “Injun di rumah.”
“Mas diminta bawa Adek ke sana, Bunda pengin ketemu.”
“Pusing, mau tidur,” tolaknya.
Renjun rebahkan tubuh lelahnya itu, lalu rangkul benda mati yang sudah sedari tadi hanya diremat, usap, dekap—berulang begitu terus.
“Adek,” panggil saudara laki-lakinya yang sedang berikan usapan sayang kepada kepala Renjun yang tenggelam pada boneka putih dengan dua tanduk. “Udah cukup, ya?”
Nggak, batin yang diusap.
“Sakitnya, diberhentiin hari ini, ya? Ikhlasin.”
Mana bisa, keluh yang sekarang lagi meringkuk.
“Adek?” dipanggilnya lagi yang sedang berpura-pura tidak hidup itu.
“Mas nggak suka kalau kamu begini terus. Beneran mas telfonin Abah sekarang juga, biar kamu dibawa ke tempat Eyang.”
Ancaman klasik dengan membawa nama Eyang akan selalu berhasil digunakan untuk mengontrol tindak tanduk Renjun.
Dan kali ini pun, senjata andalan itu sukses membuat gulungan selimut berwarna biru pastel terbuka, menampilkan muka berantakan nan redup si gemas yang biasanya selalu dihiasi rona cerah; karena mataharinya.
“Sabtu sore Injun ke rumah Bunda. Kaya biasanya,” jawabnya, sambil berganti posisi menyamping ke arah kanan, lalu menarik selimutnya sampai ke bawah hidung.
Satu lagi helaan napas lebih berat terdengar, kali ini dari yang masih duduk di tepian ranjang dekat dengan tungkai kaki Renjun. “Yaudah, tapi nanti jangan cuma diminum air putihnya aja. Kamu udah seminggu nggak makan nasi. Adek nggak boleh nakal kayak begini terus.”
Nampan kayu isi satu porsi makan siang mendarat apik di meja kecil di sebelah samping kanan kepala Renjun. “Besok mas cabut kabel wifinya kalau hari ini tetep nggak mau makan, biar kamu nggak bisa nonton ulang berita-berita itu lagi.”
Renjun urung berikan respon. Ia hanya pandangi satu porsi makan siangnya itu tanpa ada minta untuk menyantapnya barang satu butir nasi.
“Adek,” diusapnya lengan kecil yang masih betah sembunyi di balik selimut.
“Donghyuck bakal marah kalau kamu kaya gini terus.”
Donghyuck.
Renjun semakin erat memeeluk bonekanya, terisak lagi untuk kesekian kali di hari ini. Sakitnya muncul lagi.
“Hyuck, aku laper. Kamu pulang, ya? Kita makan di warung lamongan pak Hendro kesukaan kamu,” ucapnya pelan ke arah boneka dipelukan.
“Aku bolehin kamu makan sambel dua mangkok, beneran nggak akan aku gaplok,” Renjun mulai raup kasar udara di sekitar.
“Tapi kamu pulang dulu—”
kesini, lanjutnya dalam hati, terhalang isak yang sudah semakin menjadi.
“Hyuck,” satu rematan kuat didapat si boneka.
“Kalau kamu pulangnya ke rumah sana, aku di sini gimana?”
Pukul empat lebih dua belas menit, di halaman seluas lapangan bola basket bagian kiri rumah Bunda, sedang ada satu manusia mungil duduk diam di kursi panjang dekat pintu. Kedua matanya fokus pandangi dua buah kursi ayunan tua di depannya, yang sedang asik bergoyang pelan tertiup angin.
Kamu pernah jatuh nyusruk di sana kan ya, Hyuck? Itu aku tau yang dorong, sengaja. Monolognya pelan di dalam hati, terkekeh diakhir.
“Gantengnya Bunda lagi ketawain apa ih, sendirian begini?” tanya Bunda yang baru saja datang dari dalam rumah, ambil barang buat Renjun, katanya tadi.
“Keinget Hyuck pernah terjun bebas di sana bun, kepalanya duluan yang nyusruk tanah. Dikiranya didorong setan pohon sawonya pak Sulis, padahal mah itu kerjaan Injun,” jelasnya agak menggebu.
Bunda gemas bukan kepalang akibat dari penampakan kedua bola mata Renjun yang akan membulat lucu dan sedikit berkilau, setiap arah pandangnya ditujukan ke area ayunan tua tadi.
“Iya gitu? Yang dikasih nama koreng setan sama si Abang itu, ya?”
“Hehehe, diem aja ya… Bunda jangan bilang-bilang Hyuck, nanti Injun di—” celotehannya terputus oleh sekelebat kenangan.
dikekepin sepuluh menit pakai kelek dia, lanjutnya di dalam hati sendiri, seraya menundukkan kepalanya lagi, siap-siap tumpahkan tangisannya lagi.
Bunda yang awalnya asik tersenyum jenaka, seketika tertular sendunya. Kemudian diambilnya satu tangan kecil yang sedang meremat ujung bajunya itu, lalu diusap-usap pelan.
“Sayang, Bunda punya sesuatu.”
Satu buah flashdisk kecil berwarna hitam muncul dari saku kiri baju. “Sebelum berangkat, Abang kasih ini ke Bunda, titip buat Injun.”
Renjun bingung, bergantian pandangi antara telapak tangannya dan wajah bunda, berikan tatapan bertanya: ini apa?
“Nggak tau. Bunda belum lihat isinya, dimarahin sama si Abang. Katanya, ‘Inget ya bunda nggak boleh ngintip, abang malu, itu cuma buat telinga Injun soalnya,’ gitu, sambil nyengir lebar macem kuda,” Bunda jawab pertanyaan Renjun sambil peragakan mimik wajah si penitip barang kala itu.
Renjun hanya berikan senyuman tipis, coba visualisasikan sendiri adegan asli dari pesan yang ditipkan kepada Bunda dari Donghyuck. Ia tersentak kecil waktu telapak tangan Bunda tiba-tiba mampir di pipi sebelah kanannya, usap kelopak mata bagian bawah yang ternyata agak basah.
“Injun anak ganteng Bunda, sesaknya jangan didekap terus, ya? Lepasin, kayak Bunda, kayak yang lainnya juga. Biar Abang nggak sedih di sana.”
Nggak bisa, tolaknya mutlak.
“Injun… si Abang itu beneran sayang banget sama Injun,” Bunda usap-usap sayang kepala Renjun yang semakin menunduk.
”Bunda juga sayang banget sama Injun,” bahu dan satu tetes air mata Renjun ikut turun.
“Injun juga sayang ‘kan, sama Abang?”
Renjun enggan beri jawaban langsung. Ia malah lingkarkan kedua lengannya kepada perut hangat Bunda. Ingin cari sedikit tenang terlebih dahulu.
Tiga menit setelahnya, kepala yang sedang diusap sayang oleh Bunda itu bergerak pelan, berikan anggukan kecil sebanyak dua kali, sebagai jawaban atas pertanyaan yang tadi.
“Pake cinta nggak, nih?”
Bunda geli, bukan jawaban suara yang ia dapatkan, malah gerakan mendusel ulah kepala Renjun yang ingin masuk lebih dalam pada ceruk lehernya, “I—iya? Kan Hyuck sahabat Injun dari dulu.”
Bunda gemas bukan kepalang pandangi raut bingung pada wajah ayu milik Renjun—yang sungguhan saat ini sedang sangat mirip dengan kucing gembulnya kang Ujang, tetangga sebelah kalau lagi mampir ke rumah minta disayang.
“Abang pasti ngambek nih, ternyata cintanya itu bertepuk sebelah.”
“Hmm?” Renjun angkat kepalanya, ia bawa untuk melihat bola mata Bunda, “Cinta ke siapa?”
Wajah ayu dengan kerutan tipis di beberapa spot itu tersenyum teduh, telapak tanganya yang sedari tadi asik usap-usap punggung kesayangan putranya itu dibawa pindah ke area pipi gembil Renjun, “Ke anak gantengnya Bunda yang ini lah.”
Renjun bingung, alisnya mengkerut, bibirnya mengerucut karena ditarik maju oleh Bunda, “Abang cintanya sama Injun.”
Renjun benar-benar dibuat bingung.
”Bukannya Hyuck udah sama Kian, si pramuga—“
”Bukan,” potong Bunda cepat. “Abang nggak ada apa-apa sama Kian. Injun salah paham.”
Renjun lagi-lagi dibuat bungkam. Fakta yang dibeberkan si Bunda sungguh mengejutkan.
“Cintanya Abang ke Injun itu sama kayak cinta punya Bunda ke Ayah, dan Ibu ke Abah. Abang itu beneran cinta Injun, sebagai Renjun. Bukan cuma sebagai teman kecil aja.”
“Sejak kapan, Bunda?” yang ditanya menghendikkan bahu, tanda tidak tahu.
“Hyuck nggak pernah ngomong tentang itu,” sekarang ganti gelengan kepala yang didapat Renjun.
“Bunda bohong, ya?” kali ini dibalas dengan senyuman teduh dari wanita di sampingnya.
“Coba itu flashdisknya ditancepkan pondel Injun sebentar, terus putar yang nomor enam.”
“Kenapa nomor enam?” tanya Renjun penasaran, namun lagi-lagi Bunda enggan beri jawaban, ia hanya geleng-geleng lucu—seperti mengejek—kepada Renjun.
”Katanya Bunda nggak liat?”
”Bunda tadi ngintip pake mata batin. Udah, gih, coba diputer dulu itu,” perintah Bunda.
“Bun, nanti kalau Injun tanya-tanya macem polisi yang lagi nilang, suruh ngintip yang nomor enam dulu.”
“Kenapa gitu?”
“Biar nggak diterusin acara cosplay jadi polisi tilangan.”
Bunda tersenyum kecil ingat pesan dari putranya kala itu. Lalu tiba-tiba ia merasakan pergerakan dari manusia lucu di sebelahnya—yang sedari tiga menit yang lalu diam tak bersuara, “Eh kok geser? Ganteng kenapa?”
“Ini katanya disuruh geser kalau ada Bunda di samping Injun,” jawab Renjun sambil memperlihatkan layar ponselnya ke arah Bunda, yang kemudian dibalas gelengan heran, “Yaudah, sok aja langsung ganteng dengerin di telinga, biar Bunda nggak bisa nguping.”
Renjun geser tiga jengkal dari posisi semula, berdeham satu kali, lalu tempelkan ponselnya ke telinga sebelah telinga kiri.
“Injun, i love you.”
Sekujur tubuh Renjun menegang.
“Aku cintanya sama kamu, dari dulu, dari kita masih sekolah ngelaju. Cuma kamu, Jun. Aku cinta kamu.”
Renjun bawa kepalanya menengok ke arah Bunda pakai bibir yang mengerucut, siap tumpahkan tangis dan rengekan perih.
“Bunda, Injun dibolehin bales cintanya Hyuck?” Renjun yang semakin nyaman dipelukan bunda, ajukan pertanyaan pertama setelah tenang dari acara dua puluh lima menit menangis dadakan.
“Kenapa nggak boleh?”
“Soalnya, kayaknya Injun yang bikin Hyuck masuk penerbangan,” Renjun rasa, tubuh yang sedang dipeluknya itu menegang.
“Dulu Injun pernah bilang suka sama seragam Ayah, mau punya suami kayak Ayah.”
Bunda dibuat bungkam, ingat satu dialog dengan putra semata wayangnya.
“Bunda, jadwal terbang besok itu tempatnya jauh, Abang yang pegang. Masih inget ‘kan kalau Abang yang jadi kapten, Bunda harus siapin apa?”
Atas pertanyaan itu, Bunda pejam mata lima detik sebelum berikan respon, lalu setelahnya ia menghela napas yang terasa berat, “Kalau sampai satu minggu nggak ada telefon, pinjam tikar Jeno buat di ruang tengah.”
Donghyuck tersenyum puas, peluk Bundanya yang saat ini sedang melipat-lipat pakaian.
”Sekarang aturannya tambah satu lagi; gapapa nangis, tapi jangan salahin Ayah, diri Bunda sendiri sama Injun juga, ya? Salahin Abang aja, yang nakal ‘kan Abang.”
“Injun juga denger waktu Bunda nangis, habis Jeno keluar terus lari-lari ke rumahnya buat ambil tikar.”
Bunda bawa pandangannya ke arah langit biru di atas sana, angan-angannya putar balik ke beberapa hari yang lalu.
Hari ke-10 pukul sebelas malam, belum juga ada telefon kabar dari putranya, Bunda sungguhan gusar, tapi enggan pinjam tikar ke rumah Jeno.
Hari ke-13 pukul dua belas siang, Bunda remat-remat remote control televisi yang sedang sajikan berita terkini tentang pencarian hari terakhir hilangnya pesawat Donghyuck. Bunda geram, kenapa tiba-tiba dinyatakan hari terakhir pencarian? Padahal jenazah putra kebanggaannya saja belum diketemukan.
Hari ke-14 pukul enam pagi, Bunda yang sedang duduk santai di ruang tengah sembari pandangi satu figura potret tiga manusia berbeda usia, yang saling rangkul sambil tersenyum bahagia itu, tiba-tiba tersentak kaget akibat dari ketukan brutal pada pintu utama, “Bunda! Ini Jeno.”
Lima belas menit berlalu, Bunda hanya bungkam selama menyimak penjelasan Jeno yang didapat dari rekan kerjanya di kantor pusat. Bahu sahabat kecil putranya itu juga diam-diam bergetar, tahan tangis yang mendesak ingin keluar.
Gak boleh nangis, harus kuat depan Bunda, seru suara hati Jeno.
Kelu, kaku, dunianya sekali lagi runtuh seluruhnya. Satu penggal kalimat yang Bunda harap itu adalah sebuah kebohongan yang tidak akan pernah didengar oleh telinganya: status kapten Lee Donghyuck baru saja ditetapkan meninggal, sudah bukan lagi dicari.
Gagal.
Masih berusaha untuk berdiri tegak walau semestanya berantakan, Bunda genggam tangan Jeno yang ternyata gagal tahan tangisan, “Boleh pinjam tikar lipat punya mamah? Ambil sekarang ya nak, sekalian bantu Bunda siapin ruang tengah.”
Selepas Jeno tutup pintu utama, Bunda langsung serahkan seluruh tubuh lemasny bersatu dengan dinginnya lantai. Telapak tangan kanannya ambil liontin kalung yang berisi potret Donghyuck dan Ayahnya yang memakai seragam kebesaran, “Kenapa, kalian pergi?”
Tangisan Bunda semakin berganti menit, semakin keras, diiringi raungan penuh kesakitan, sungguhan pedih kalau didengar.
“Harusnya kamu nggak kasih lihat seragam itu ke anak aku, Mas. Harusnya kamu simpen sendiri aja bangganya kamu itu. Harusnya anak aku nggak usah ikut-ikutan jadi kaya kamu, harusnya—”
Bunda remat kain baju bagian dada kirinya, sesaknya bukan main.
“—harusnya kalian nggak hilang dan pergi tinggalin Bunda, sendirian di sini,” tangisnya pecah.
Begitu juga dengan Renjun yang ternyata sedang berdiri mematung di balik pintu, dengar semua raungan kesakitan Bunda hebatnya.
“Hyuck, katanya kalau kamu mau langsung kasih kabar yang bisa buat banyak orang bahagia,” Renjun remat gagang pintu di depannya dengan kuat.
“Hyuck, ini namanya kabar duka, nggak ada bahagianya sama sekali,” tangisan Renjun ikut keluar hingga tumpah tuah, raungannya saling sahut dengan milik bunda di dalam sana.
“Bunda?” Renjun usap area bawah kelopak mata cantik yang sedikit berair itu, “Bunda marah sama Injun?”
Gelengan serta dekapan hangat didapatkan Renjun, “Mana mungkin bisa marah sama si ganteng kesayangan Bunda.”
“Itu takdir, Injun. Sudah jadi jalannya si Abang. Kita nggak bisa apa-apa selain ikhlas lepasin Abang.”
“Tapi, salah Injun banyak,” cicit si gemas, sungguhan mirip kucing kalau lagi ngerayu minta ekor lele goreng. Bunda nggak tahan, lalu dicubitnya pelan sampai empunya mengerang kecil.
“Apa aja tuh? Coba sebutin, nanti Bunda kasih rate,” semakin maju bibir si kucing.
“Injun bikin Hyuck nunggu lama banget, cinta sendirian, sakit sendirian, berharap sendirian.”
Kepala Renjun dibawa menengadah ke arah langit, pandang jauh tembus awan, “Bodoh banget, Injun nggak bisa cepet sadar. Bunda nggak apa-apa kalau mau marah, Injun emang salah udah bikin hati Donghyuck sakit selama ini.”
Bunda berikan senyuman tercantik andalannya, lalu disandarkannya kepala riuhnya tu ke pundak lebar milik Renjun.
“Bukannya Injun juga begitu? Sama kaya Abang juga ‘kan?”
“Hmm?”
“Dari lama nunggu si Abang sambil cinta sendiri, sakit sendiri, berharap sendiri.”
Renjun tersenyum getir, lolos lagi butiran air matanya. Hari ini agaknya bisa untuk membangun sebuah waduk.
“Sayangnya Abang ke Injun itu gedeeeee banget. Malah kayaknya ngelebihin porsi yang buat Bunda sama Ayah,” ucap Bunda meyakinkan.
Bunda ambil telapak tangan sebelah kanan milik Renjun yang masih memegang erat flashdisk hitam tadi.
“Kalau ganteng nggak percaya, di dalam sini si Abang udah bikin dongeng panjang buat Injun.”
Renjun pandangi telapak tangannya yang sedang digenggam erat, “Dongeng tentang perasaan Abang. Nanti, disimak baik-baik, ya?”
Bunda bawa kepalanya menghadap wajah sembab Renjun, “Sayang, janji sama Bunda. Habis dengerin semua sampai selesai, gantian ikhlasin Abang, ya?”
Sekarang giliran Renjun yang bungkam, lidahnya kelu, susah terima perintah.
Hyuck…
“Lepasin sesak yang Injun peluk di dada sini,” jari telunjuk Bunda tunjuk dada sebelah kiri milik Renjun.
Aku, apa bisa sanggup?
“Lepasin Abang, ya? Biar mataharinya kita di sana, nggak sedih waktu lihat yang di sini.”
Nggak bisa.
Renjun kembali peluk Bundanya lagi. Ingin buang jauh-jauh lelah dan sakit hari ini.
Nggak, aku gak bakalan pernah bisa kuat atau bahkan sanggup lepas kamu, Hyuck.
Maaf, aku nggak bisa.
“Bun, satu lagi ya titipan Abang.”Bunda pandangi lekat-lekat mimik serius kebanggaanya.
“Kalau—” nafasnya terlihat berat, agak tersendat.
“—kalau Injun nggak mau dateng bantuin Bunda gelar tikar di ruang tengah pas Abang belum sampai di rumah, kasih ini ke dia di hari Sabtunya, ya, Bun?”
“Hari Sabtu setelah tujuh harian acaranya Bunda aja.”
“Kenapa harus begitu, Bang?” Bunda heran, setahunya, benda kecil berwarna hitam yang diterimanya ini adalah benda yang satu mingu belakangan ini selalu putranya pandangi dengan raut mula sendu, kapanpun dan dimanapun.
“Injun ‘kan pasti main ke sini hari Sabtu, kayak biasanya. Kalau yang kenapa harus sehabis tujuh hari itu, biar Bunda bisa lihat muka gemes Injun kalau lagi nangis sambil ndusel-ndusel manja. Soalnya beneran mirip si mengnya kang Ujang.”
Bunda bawa kedua telapak tangannya menangkup pipi berisi kebanggaannya, lalu beri tugas penting kelada dua ibu jarinya untuk hapus air mata si matahari.
“Kenapa nangis ih? Jelek amat.”
“Bundaaa, Abang tuh nggak mau bikin Injun sedih. Abang, pengin lihat Injun bahagia terus sama Abang…”
Begitu Bunda peluk erat-erat lelaki kelahiran Juni itu, seluruh air matanya langsung berlarian tunggang-langgang tinggalkan pelupuk mata si matahari.
“Injun pasti bakalan selalu ketemu bahagia, walau Abang nggak lagi di ada sebelahnya,” Bunda berikan tepukan penenang kepada bongkahan pantat putranya, agar reda raungan tangisannya yang tanpa aba-aba malah semakin menjadi.
“Abang ih, kok malah makin banter meweknya! Makanya kalau nggak mau Injun dibahagiain sama orang lain, ya Abang harus bisa pulang.”
“Bisa ya, pulang? Abang harus yakin, pasti bisa pulang ke rumah sini. Bunda tunggu, bareng si ganteng yang mirip kucing,” ucapnya penuh harapan, dibarengi dengan kekehan jahil, bermaksud memberikan suasana tenang kepada bocah yang masih sesenggukan di pelukan.
“Bunda,”
“Kalau Abang nggak bisa pulang, Abang janji bakalan tetap dan selalu jagain Bunda sama Injun, dari rumah yang di atas.”
Ucap Donghyuk lirih kepada Bunda di pelukan—yang ia tahu juga sedang kewalahan tahan aliran air mata yang mendesak minta dikeluar kan sedari tadi.
Bunda tersenyum pilu dengan kesenduan akibat dari mengingat-ingat kembali dialog di waktu senja, satu hari sebelum keberangkatan putra kebanggannya. Jemarinya ketikan pesan singkat ke anak ganteng yang sepanjang sore tadi temani habiskan senja di taman samping rumah.
“Tugas Bunda selesai satu nih, Bang,” lapor Bunda setelah keluar dari chatroom whatsapp miliknya dengan Renjun.
“Buat upah karena udah ngelapin ingusnya si kucing, nanti malam Abang dateng ya ke mimpi, Bunda?” pinta Bunda, ibu jarinya usap-usap sayang wajah tampan yang terpajang pada homescreen ponselnya itu.
“Bunda kangen banget sama Abang.”
“Ekhem... Suara nomor satu, untuk bocah kicik tukang ngumpet di kelek aku.”
“Kurang ajar, cari ribut ini dugong terdampar,” amuk Renjun, berusaha melotot garang kepada satu foto selfie dengan pose dua jari yang ada di galeri.
Agaknya, mental gloomy si gemas ini langsung menguap begitu terdengarnya rekaman suara yang ada di flashdisk hitam pemberian Bunda tadi.
“Injun udah siap dengerin kisah para penggembala sapi? Nyimaknya sambil baring aja gih, biar boyok kamu nggak sakit lagi. Soalnya ini bakal panjaaaaang banget. Hehehe.”
“Iya, ini udah baring. Sambil liatin muka kamu, biar kita kayak lagi ngobrol langsung. Hehehe,” kekehan senang keluar dari birai Renjun, bahagia karena akhirnya ia bisa mendengar lagi tawa riang dari jagoan kesayangannya.
Satu jam lebih empat puluh lima menit Renjun habiskan dengan gerutuan campur gelak tawa, simak rekaman suara Donghyuck dari nomor satu hingga lima.
Dari mulai konser lagu-lagu kesukaan mereka berdua, hingga penjelasan runtut mengenai kesalahpahaman di antara mereka mengenai sosok Kian—yang satu bulan belakangan ini sedang dicemburui Renjun.
“Ah cepet banget, udah sampe nomor enam aja ini,” keluhnya, enggan berpisah dari suara mataharinya.
“Injun, isi rekaman nomor enam ini penting banget, rahasia besar negara nih. Kalau masih ada Bunda di sebelah, geser! Jauh-jauh dari Bunda pokoknya.”
“Iya, iya. Udah geser tiga jengkal tadi, cuma bisa segitu, soalnya ‘kan kursi taman samping rumah kamu sempit kalau didudukin berdua.”
“Udah belum? Kalau udah, sekarang aku mau ngomong serius. Fyuuuh…”
“Tegang amat,” kekeh Renjun sembari usap-usap sayang potret Donghyuck yang kali ini sedang menampilkan pose space out sambil peluk guling.
“Injun, i love you.”
“Aku ini cintanya sama kamu, dari dulu, dari kita masih sekolah ngelaju. Cuma kamu, Jun. Aku cinta kamu.”
Ada satu jeda helaan napas yang terdengar berat milik Donghyuck, selama lima detik.
“Jadi, boleh nggak kalau aku minta dikasih cinta porsi ekstra? Cinta untuk Donghyuck si sahabat, kekasih, suami, dan ayah dari anak-anak Renjun besok.”
“Cinta untuk Donghyuck, masa depan Renjun.”
Belah bibir yang tadinya masih semerah ceri milik Renjun terangkat, senyum kecil dengan dua bola mata indah yang sedang pancarkan binar cantik namun terasa pedih. Ia terpaku pandangi potret Donghyuck dengan latar belakang bibir pantai, sedang tertawa lebar ke arah kamera—ke hadapan Renjun.
Satu, dua hingga lima menit berlalu, Renjun usap kasar kelopak basahnya, “Iya, boleh. Semuanya boleh buat Hyuck, masa depan Renjun.”
Lagi, si gemas yang hari ini sedang sangat ringkih ini menangis lagi. Dipukulnya dada bagian kirinya, harap bisa lepas sesak yang terasa sakit.
ting!
Satu pesan masuk dari Bunda berisi voice note dengan nama “Rekaman Terakhir” tertera bersama rentetan kalimat penenang yang tak dihiraukan oleh Renjun, karena saat ini seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada isi rekaman itu.
“Suara rahasia nomor tujuh, yang seharusnya, semestinya, nggak akan pernah didenger Injun.”
Kernyitan tipis hadir diantara dua bola mata Renjun yang sudah membengkak—merah dan lembab.
“ Injun, kalau kamu denger ini tanpa ada aku di samping kanan yang lagi gelendotin bahu gangstermu, aku minta maaf, ya? Maaf, ternyata kali ini aku nggak bisa pulang ke rumah.”
Donghyuck ambil jeda kosong tanpa suara, lalu tiga menit setelahnya diucap tiga kata yang ia tahu akan menjadi bensin untuk kobaran rasa sakit pada hati kesayangannya.
“Injun, jangan nangis.”
“Injun, sayangnya Hyuck…”
Air mata yang tadinya tumpah hanya satu, dua, hingga lima tetes per detik, sekarang semakin tumpah ruah. Luruh bersama sesal, sesak serta sakit yang datang lagi.
Aku ini, apa bisa?
Satu pertanyaan serupa diulangnya lagi.
“Bisa ya, Jun? Lepas, ikhlasin aku.”
Nggak.
“Aku yakin... Nanti, besok, suatu hari, Injun pasti ketemu bahagia. Walau bukan aku lagi yang jadi sebab utama.”
Nggak bisa.
“Injun harus bisa lewatin semua, Injun harus bahagia.”
Nggak mau.
“Bisa ya, sayang?”
Dan jawabanya tidak berubah sama sekali.
“Nggak bisa, Hyuck. Sampai kapan pun, aku nggak bakalan sanggup bahagia tanpa kamu.”
