Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-04-14
Words:
1,234
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
63
Bookmarks:
5
Hits:
1,141

Rush Hour

Summary:

[Nanami Kento/Fem!Reader]

Kemacetan Jakarta yang sangat tidak wajar menjadi titik akhirmu. Namun, Nanami selalu siap untuk membuat segalanya lebih baik.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Cahaya lampu pada malam hari di daerah Sudirman cukup menyilaukan pada malam hari. Namun, cahaya tersebut tidak memberikan rasa nyaman seperti halnya matahari, hanyalah rasa pening, pedih, dan sakit kepala yang dirasakan. Lampu-lampu berdominan warna kuning dan merah perlahan terlihat memudar semakin lama kau menatapnya.

Kakimu perlahan mulai pegal, baju yang kau kenakan semakin tidak nyaman semakin lama kau terjebak di kemacetan kota Jakarta. Bunyi klakson sudah tidak asing di telingamu tapi tetap membuat kepalamu sakit. Radio di dalam mobil yang menyala dan diramaikan oleh sepasang penyiar sudah kau acuhkan. Beberapa kali stasiun telah diganti dengan harapan kau menemukan penghilang rasa bosan dan penyemangat. Sayangnya usahamu nihil.

Waktu menunjukkan pukul 20.42 malam, sudah hampir dua jam sejak kau meninggalkan kantormu. Tidak seperti biasanya kau membawa mobil tapi hari ini, diakibatkan oleh cuaca yang rawan hujan dan kebetulan suamimu sedang menggunakan kereta, kamu pikir itu merupakan ide yang bagus. Betapa menyesalnya dirimu saat ini.

Entah apa yang terjadi atau apapun penyebabnya, kemacetan sedang tinggi-tingginya di seluruh daerah Jabodetabek. 

Mengatur mobilmu pada posisi netral, kamu mengistirahatkan kaki yang semakin lama semakin pegal dan meletakkan kepalamu pada setir. Wajahmu terasa berat meski make-up yang kau gunakan sama seperti hari-hari lain, tipis. Matamu perih melihat sinar-sinar dari lampu mobil. Rasa lelah menyelimuti seluruh tubuhmu, rasanya kau hanya ingin mandi dan segera merebahkan diri dalam kasur. 

Besar keinginanmu untuk memboloskan diri dari kantor esok hari. Namun, mengingat kau juga termasuk pencari nafkah untuk kamu dan suamimu, Nanami Kento, kamu tidak tega membiarkannya bekerja keras sendirian. Ini hanyalah satu hari, satu kemacetan, kau bisa melewati ini. Batinmu.

Seseorang bisa membohongi diri sendiri tapi hati dan fisik tidak bisa, buktinya saat ini tubuhmu seakan-akan sudah berteriak meminta untuk istirahat. Sekeras apapun kamu mencoba untuk menahan rasa lelahmu, kamu tidak bisa menahan air mata yang akhirnya menetes. Satu tetes, kemudian dua, kemudian tiga, dan akhirnya mengalir deras seperti sungai yang deras.

“Tuhan, capek…. ” kata-kata tersebut keluar dari mulutmu sembari kau menangisi kondisimu saat ini. 

Suara klakson dari mobil dibelakangmu sudah tidak kau pedulikan, isi kepalamu hanyalah rasa lelah dan keinginan untuk meluapkan seluruh emosi. Kau ingin sekali berhenti di tempat, menjadi transparan dan membiarkan orang lain melanjutkan hidupnya. Namun, yang kau dapatkan hanyalah suara klakson yang berlanjut dan teriakan dari pengendara lain. 

Mengusap air matamu, kamu bergerak maju, hanya untuk membuat suara-suara tersebut berhenti. Ponselmu yang sembari tadi tidak bersuara tiba-tiba berdering, nama “Kento ❤” tertulis di layar.

Gelombang emosi melanda tubuhmu, tangis yang awalnya sunyi seketika berubah menjadi sesenggukan. Tanganmu bergetar untuk mengangkat telepon, bahkan sebelum Nanami maupun dirimu mengeluarkan kata ‘ Halo’, suara tangisanmu langsung keluar tanpa bisa kau kendalikan.

Sayang…?” Suara dalam Nanami terdengar dari ponselmu, rasa khawatir dapat kau rasakan meski kau hanya mendengar suaranya saja. “ Honey, what’s wrong?”

“Kento…” Bahkan untuk memanggil namanya saja butuh perjuangan. “ Aku capek, Mas…”

Nanami tidak bersuara, setelah pernikahan ia telah mengenal sifat istrinya lebih dalam hingga ia tahu, saat ini kamu hanya butuh untuk didengarkan saja. Ia tidak perlu mengeluarkan saran apapun karena pada dasarnya, mendengarkan pun cukup untukmu. “ Take your time, sweetheart.

“Ga tau, aku capek banget, bosku emosi banget hari ini terus laptopku nge- freeze dan udah dua jam aku macet,” Kamu menumpahkan seluruh masalah yang kau alami hari ini, bagian kecil dalam dirimu tidak ingin menyusahkan Nanami tapi jika kamu tidak cerita rasanya kamu akan meledak. “Aku capek Mas Kento… Aku mau pulang…”

Aku mau pulang. Mendengar kalimat tersebut, rasanya ada sesuatu yang menyilet hati Nanami. Mendengar harimu yang buruk hari ini, ia ingin sekali segera membantu dan membiarkan dirimu istirahat. Sejujurnya, Nanami tidak begitu menyukai dirimu yang masih bekerja, bukan karena ia ingin mengekang ataupun membatasi. Namun untuk menghindari melihatmu kelelahan dan menangis, satu hal yang dia tidak pernah inginkan adalah melihatmu sedih.

Stasiun MRT saat ini cenderung sepi, mengingat rush hour sudah hampir selesai tapi entah kenapa hari ini kemacetannya luar biasa. “Sayang, kamu dimana sekarang?”

Kamu yang dari tadi hanya menangis cukup terkejut dengan pertanyaan tersebut. Melihat sekelilingmu, kamu menjawab “Aku di Senayan.”

Oke, sebentar ya. ” Tangisanmu masih belum berhenti tapi kamu mengangguk, seakan-akan Nanami bisa melihat. “Stay strong, love, I’ll see you in a bit.”

Telepon tertutup dan kamu menatap ponselmu dengan penuh sangsi. Apa yang ia rencanakan?

Bohong jika kamu bilang kamu tidak kecewa dengan Nanami yang tiba-tiba menutup telepon. Air matamu masih mengalir dengan deras, kamu yakin maskara beserta make-up kamu sudah hancur saat ini. Kamu hanya bisa menatap ponselmu, sedikit kecewa dengan tingkah laku suamimu.

Kamu kembali meletakkan dahimu di setir mobil, hanya melihat kedepan saat mendengar bunyi klakson dari kendaraan di belakangmu. Tubuhmu lemas, meski sedih tapi kamu menjalani kemacetan ini hingga kau sampai di rumah.

Saat pikiranmu kosong dan tatapanmu tidak terfokus, kamu melihat seseorang berlari keluar dari stasiun MRT bawah tanah. Seorang pria dengan rambut blonde yang sangat kau kenali. Di tangannya ia memegang plastik dan jasnya telah ia lepas dan ia pegang di tangan satunya. Gestur tubuhnya terlihat terburu-buru dan kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seakan-akan mencari sesuatu.

Seperti adegan yang ada dalam drama, tatapan kalian bertemu dan sosok Nanami segera berlari ke arah mobilmu. Menerjang mobil-mobil yang sedang terjebak macet, ia menghampiri sisi pengendara dan mengetuk pelan jendela mobil. 

Kamu membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa, tangisanmu telah berhenti karena rasa syok yang berlebih. Suamimu menyuruhmu untuk melompat ke sisi penumpang dan ia menggantikan dirimu sebagai pengendara. Sebongkah plastik penuh dengan camilan dan minuman favoritmu diletakkan pada pangkuanmu. “Maaf ya, mas agak lama, tadi indoapril rame.”

Bisu, itu yang kamu rasakan, tidak ada kata-kata yang bisa kau lontarkan. Meski dari dirimu ingin sekali melemparkan kata-kata penuh terima kasih dan kasih sayang kepada suamimu. Dia yang juga pulang dari kantor, kamu yakin dia pasti lelah, tapi dia menghampiri dirimu yang terjebak macet untuk menggantikanmu.

Tangannya mengelus kepalamu lembut dan kamu bisa melihat Nanami sedikit berkeringat dan rambutnya yang selalu ia rapihan di pagi hari sudah berantakan. Salah satu bukti ia sudah tidak peduli dengan penampilan dan fokus dia hanyalah untuk menghampirimu dengan cepat.

Air mata yang tadinya terhenti akhirnya mulai jatuh lagi, kamu tidak bisa menahan rasa hangat dan haru yang memenuhi tubuhmu. Nanami yang melihat dirimu menangis langsung panik, kondisi mobil yang terhenti dimanfaatkan untuk fokus kepada dirimu. “Sayang, kenapa? Maafin mas ya kamu jadi capek kayak gini…”

Kamu menggeleng, “Bukan, aku nangis karena terharu, maafin aku nyusahin mas terus…”

Kali ini giliran Nanami yang menggeleng kepalanya, ia menarik dirimu dalam dekapannya dan mengelus kepalamu lembut. “ No, don’t say that,” Ucapnya “ This is the least I can do for you.

Nanami menghapus air matamu dengan sapu tangannya, “Kamu makan dulu ya? Kalo udah istirahat aja, I’ll drive us home.

Bahkan saat makan pun kamu masih menangis dan Nanami mengambil kesempatan untuk menggodamu. Kamu menyangkal godaannya tapi kalian berdua terus tertawa, perlahan rasa lelahmu mulai beralih. Dari lelah secara mental menjadi lelah secara fisik.

Rasa sakit di kepala yang awalnya sangat mengganggu sudah hilang, yang kamu rasakan sekarang adalah kelopak mata yang berat. Nanami terus mengajakmu berbincang tapi lama-kelamaan responmu mulai berkurang hingga akhirnya tidak ada respon sama sekali.

Perhatian Nanami terfokus pada dirimu yang sudah tertidur sambil memegang botol minuman di tanganmu. Sebuah senyum muncul di bibirnya, ia menurunkan kursi penumpang agar kamu dapat tidur lebih nyaman dan menempatkan sebuah kecupan pada keningmu. Nanami menoleh terakhir kali ke arahmu sebelum berfokus pada jalan yang sudah mulai lancar, meski ia pun merasa sangat lelah tapi ia rela melakukan apapun untuk dirimu.

Thank you, Mas…

My pleasure, darling.

Notes:

inspirasi
Halo semuanya! Semoga kalian enjoy fanfic kali ini ya, ini bener2 self indulgent banget karena aku sendiri baru mulai kerja tapi udah kerasa banget capeknya dan kemaren sempet kena macet Jakarta yang parah banget. Kritik dan saran sangat diapresiasi!

Find me here!
twitter
wattpad