Work Text:
"mau makan apa?" aku menawari gadis manis di depan ku untuk memilih menu makan malam kami hari ini. karena sejujurnya, aku pun kehabisan ide harus kemana lagi membawa kekasih ku ini wisata kuliner. empat hari di kota kelahiranku merupakan waktu yang cukup bagi si manis yang kerap disapa renjun ini untuk membabat abis seluruh wisata kuliner terkenal di pojok kota. ya, renjun namanya. gadis manis yang kukencani sejak beberapa bulan yang lalu. kami bertemu di twitter. awalnya hanya sapaan kasual dan gurauan saja. namun seiring berjalannya waktu, rasa ingin memadu kasih tumbuh kian lebat di antara kami. hingga beberapa bulan yang lalu, aku nekat menawarkan hubungan yang serius dengannya. terkejut, bagaimana renjun menyetujui begitu saja akan ajakan ku. dan voila, kamu berpacaran hingga sekarang, mungkin tanggal 26 nanti sudah jalan bulan ke 7.
"makan apa enaknya? aku ngikut aja. terserah" jawaban yang sebenarnya sudah ku prediksi sejak aku mulai bertanya kepada renjun. baiklah, mungkin hari ini menu makan malam kita junk food saja, mcd atau kfc? entahlah.
"oke, mcd aja kali ya? kamu mau ap—" tanyaku terjeda seiring dengan gulir bola mataku tertuju pada kekasihku yang kini sedang berbaring menyamping, dengan posisi menyendok dan membelakangi ku. dengkuran halus terdengar, sepertinya pacarku ini ketiduran.
setan darimana kira-kira yang menggodaku untuk duduk di ranjang, tepat di samping badan kekasihku yang masih tidur dengan posisi menyamping. ku elus pelan pinggang ramping renjun. dengan intensi awal menenangkan kekasihku yang sedang terlelap. nafasku memburu hebat saat tanganku dengan berani masuk ke dalam kaos fit-body nya. mengelus pelan perut depan renjun, kurasakan beberapa spot yang menonjol, lipatan lemak mungkin, namun kudapati hal itu membuatku semakin bernafsu untuk terus menjamah badan kekasihku. erangan halus terdengar ketika tangan ku dengan nakal meremas bagian bawah payudara gadis manis di bawah ku ini. seakan merasa tertantang, alih-alih menjauhkan tangan ku dari badannya, aku malah semakin gencar menggesekkan ujung jariku dengan puting cokelat milik renjun.
posisiku masih duduk di samping nya membuat diriku merasa sedikit tidak nyaman. maka dengan keberanian yang tersisa, aku memutuskan untuk berbaring di samping badan kekasihku. mendempetkan tubuh kami berdua, sembari memposisikan tangan masih di dalam kaos renjun dan terus menggerayai tubuh nya. posisi badan renjun yang menyendok membuatku dengan mudah menangkup paha nya dengan kedua kaki ku. merapatkan tubuh kami, sedekat mungkin. pelan namun pasti, dapat kurasakan sesak di dalam celana jeans ku semakin menjadi.
maka langkah selanjutnya adalah menyingkap kaos pacarku itu ke atas. posisi tubuh ku yang lebih besar dan tinggi dari nya memberi akses untuk melihat gundukan putih kenyal yang terhimpit satu sama lain akibat posisi tidur renjun yang menyamping. reflek ku gigit bibir bawah ku, tubuhku terbakar, nafsu ku sudah memuncak, tubuh kekasih ku memang paling bohai ketimbang tubuh mantan kekasih atau gadis gadis yang pernah kutiduri sebelumnya. oh sungguh, renjun ku sangat menawan.
seakan kurang puas, yang ku lakukan selanjutnya malah menurunkan celana training yang ia gunakan. memperlihatkan bagian privat bawah kekasih ku yang sedikit berbulu. entah mana yang membuatku sedikit terkejut, fakta bahwa kekasih manis ku ini tidak mengenakan celana dalam atau fakta bahwa sepertinya ia belum mencukur bulu kemaluannya. namun sungguh tidak masalah, selama itu bersih, aku akan dengan senang hati mengentot vagina kekasih ku yang manis ini. ada bulu atau tidak, aku akan tetap bergairah.
tangan ku reflek mengulurkan jari tengah untuk menekan-nekan bagian atas kemaluan renjun. ku elus pelan, sambil sesekali ku berikan stimulus tamparan pelan di bagian atasnya. sementara bibirku tak henti mencumbui leher belakang kekasihku, berharap ia segera terjaga agar kami bisa melanjutkan permainan panas ini, karena sungguh aku sangat ingin mengentotnya saat ini.
“sayang… wake up” ujarku pelan.
“ummh?” renjun bergumam pelan, matanya perlahan terbuka dan langsung terarah pada tangan kekarku yang kini sedang bermain dengan klitorisnya di bawah sana. sedikit tekanan dengan ibu jari, dan digesek pelan dengan ujung ibu jari, membuat klitoris renjun semakin mengencang, dan dapat kulihat bahwa renjun merasakan gelombang nafsu yang sama saat ini dengan ku.
“kenapa sayang? maaf ya, kamu tadi cantik banget. aku ga kuat liatnya, honey.”
“ungghh..” oh ya, tentu saja renjun mulai kehilangan akal sehatnya, saat dengan lancang kedua tanganku bermain di kedua daerah sensitifnya. tangan kanan ku pada klitoris berkedut miliknya, dan tangan satunya pada pentil keras payudara miliknya pula. dengan sabar aku membiarkan penisku semakin keras dan mengacung, tanpa menyentuhnya sedikit pun. jujur saja, ego ku saat ini menginginkan renjun, kekasih manis ku, untuk merasa nikmat terlebih dahulu, sebelum aku merojok vagina perawannya dengan penis berurat milikku.
“uh.. s-sayanghh…. stop…. pliiisshh..” renjun mengerang ketika jari tengah ku bergesekan dengan lingkaran lubang senggamanya, seakan menggoda renjun agar bersabar, karena aku tidak akan cepat-cepat menyetubuhi nya. aku masih ingin merekam baik-baik wajah sange kekasih polosku itu untuk bahan onani jika kami ldr lagi nantinya.
“beneran mau stop? tapi memek kamu udah basah nih, honey.” tubuh renjun semakin menegang saat aku dengan sengaja menggunakan kata memek kepadanya, rupanya ia senang.
“aahh… enak banget donghyuckii-iiehh…” kini posisi renjun sudah sepenuhnya menempel kepadaku, dengan kepala yang mendongak, menatap wajahku dari bawah, peluh membasahi dahi mulus renjun. spontan, aku memberikan kecupan di sana, membuat ia semakin meremang karena double stimulus yang kuberikan pada tubuhnya.
“mau ga, dientot sama aku sampe lemes, sayang?” aku bertanya, namun tidak benar-benar ingin bertanya, hanya ingin menggoda kekasih manisku ini saja.
“uuhh…. kondoomhhh donghyuckie…” aku mengangguk pelan, kutarik laci di sebelah kasur, dan mengambil sebungkus kondom untuk ku tunjukkan bahwa aku siap melakukan penetrasi pada vagina miliknya.
“aahh… do it… do whatever you wanna do, donghyuckie” respon ku hanya menyeringai puas.
detik berikutnya, ku loloskan celana jeansku yang sedari tadi sesak di bagian penisku karena sudah tegak dan mengacung sedari tadi. renjun hanya mengedipkan mata sembari melihat bagaimana penis ku keluar dari boxer.
“pegang, njun.” posisi kami kini sudah berbeda dari beberapa detik yang lalu, aku bangkit dengan menumpukan kedua lututku pada ranjang, dan renjun terbaring dengan baju yang tersingkap, menatapku dari bawah, melihat bagaimana aku mengocok pelan penis beruratku.
“u-uh… pegang titit kamu?” renjun nampak ragu,
“kontol sayang, ini kontol.” wajah renjun merona panas, seperti yang kukatakan, pacarku ini perawan, dan sangat polos. namun, sayang sekali harus berpacaran dengan diriku, penikmat sex.
“y-ya. kon-n-ntol….”
“good girl, now please give me your hand and wrap my penis with it sayang.”
takut-takut, kekasihku melingkarkan tangan lencirnya pada penis ku yang mencuat. dengan gerakan yang amatiran, ia memaju dan mundurkan tangan pada penis ku, berharap agar penis milikku semakin tegang dibuatnya.
“yaaa.. that’s good sayang, ah”
“ajarin aku, donghyuck” binar terkesan semakin nampak dari mata kecoklatan renjun. dapat kurasakan, kocokan tangan renjun di penisku semakin kencang.
“ya, dengan senang hati, princess” detik berikutnya yang ku lakukan adalah menggagahi badan renjun, berada di atasnya, dan mencumbui seluruh wajahnya. sungguh kekasihku sangat cantik.
“kamu cantik sayang”
“gombal, cepet lakuin, kondomnya jgn lupa dipasang!!” renjun berseru kesal, dan respon lucu nya yang seperti ini lah yang aku tunggu tiap harinya. ku lepaskan kaos milik renjun, sementara celana nya ku biarkan terjatuh sampai lutut. dengan sigap ku posisikan penis ku yang sudah menegang sempurna di depan lubang vagina nya.
“kamu perawan?”
“iya, donghyuck. aku perawan”
sedetik kurasakan kebanggaan tersendiri, karena aku lah yang menjadi lelaki pertama yang akan menjebol keperawanan wanita sesempurna renjun.
“ini bakalan sakit, sedikit. kamu boleh lampiasin sakitnya ke aku. kalau ga kuat, bilang stop, ok?”
sedikit menundukkan kepala, memegangi penisku agar masuk dengan cekatan pada lubang senggama milik renjun. pada saat ini, kurasakan cairan hangat sebagai pelumas alami membasahi vagina pacarku. tidak ada suara dan respon dari renjun saat aku memasukkan ujung penis ku dengan perlahan, hingga aku berani menghentakkan separuhnya, dan renjun langsung menutup matanya, sebagai respon.
“shhh.. sakit sayang?” aku bertanya dengan nada lembut kepada renjun, aku tidak ingin bermain kasar dengannya. bagaimanapun, sex pertama harus mengesankan bukan untuk kekasih manisku ini?
“u-uhh… lanjutin donghyuck…”
mengetahui hentakan selanjutnya akan terasa lebih sakit, aku menundukkan kepalaku, dengan cekatan kukulum pelan puting payudara milik renjun yang sedari tadi sudah mengeras sejak pertama kali elusan kuberikan padanya. pada hitungan ketiga, kurasakan penisku terhentak dan masuk sepenuhnya pada lubang hangat milik renjun.
sungguh… ini sangat nikmat.
“a-ahh… sshh, sayaaanghh. you’re so warm.” racauku tidak jelas, pandangan renjun perlahan melembut. bisa kurasakan, dinding vaginanya mulai berkedut.
“memek kamu hangat sayaang.. sshhh…” pipi pacarku merona, aku memang memuji nya, sekaligus mengatakan fakta.
“a-aku gerak yah??” renjun langsung menyetujui permintaanku. detik berikutnya, aku memaju mundurkan pinggul ku, mencari friksi memabukkan antara urat penis dengan dinding vagina milik renjun.
“aanghh… uhhh, d-donghyuckhh” renjun merasakannya, nafsu yang semakin membakar seiring bertambahnya kecepatan genjotan penisku pada vagina nya.
aku pun sama, ini adalah sex ternikmat yang pernah aku lakukan. jepitan vagina renjun pada penisku sungguh memabukkan. masih dengan posisi missionary, tubuh atas renjun tergerak seirama dengan sodokan penis ku kepadanya, nafasnya tersengal. aku makin gencar, menyodok, menggenjot, memberikan stimulasi apa saja, termasuk memainkan klitorisnya seirama dengan gerakan brutal penisku di dalam vagina renjun.
“oohh, renjuuunnhhh.. fuuckkk” mengumpat, mengerang, dan mendesah kami lakukan tiada henti. seakan selalu kurang, ku percepat tempo sodokan ku di dalam sana.
“ohh sayaanghh, aku hamilin yahhh??? shiitt” renjun hanya mengangguk pasrah, detik berikutnya aku merasakan putih ku akan sampai.
“aanngh… donghyuckieh, renjunn mau pipiiss… uuhhh” renjun pun, ia akan sampai. ku percepat gerakan menyodok penis ku di dalam rahim renjun, dan di detik berikutnya, air mani ku menyembur dengan deras di dalam sana.
croott–crott–crott
“unghh.. hangaat….” ucap renjun sambil tersenyum manis, tubuh kami penuh peluh, namun rasanya sangat nikmat. penyatuan ku dengan renjun masih berlangsung. tubuh ku seketika menegang, ketika teringat bahwa kami tidak memakai kondom. ah, namun persetan. akan kunikahi renjun dengan tubuh bohai nya jika pun ia hamil. lagian siapa yang menolak mempunyai istri dengan tubuh bohai seperti renjun, akan dengan senang hati aku menjadi suaminya, dan tiap hari merasakan surga dunia, mengentot renjun dengan berbagai macam gaya. ah, sungguh, renjun ku begitu indah, aku mencintainya.
