Work Text:
Perjodohan.
Sebuah konsep yang sangat akrab untuk Naoya Zenin, ia sudah seringkali melihatnya. Dirinya tidak terkejut ketika suatu hari ayahnya membawakan berita pernikahannya dengan seorang wanita dari klan kecil yang ia tidak ketahui.
Bagi Naoya, wanita yang berhak menjadi istrinya adalah wanita yang siap untuk menuruti semua perintahnya. Ia tidak membutuhkan seseorang yang kuat, pintar, dan memiliki ambisi tinggi. Hanya satu hal yang ia butuhkan, penurut.
Pernikahan kalian terjadi sangat cepat, pertemuan pertama kalian yang cenderung singkat tidak memberikan Naoya gambaran tentang dirimu. Namun, kau yang hanya diam di sebelah ayahmu dengan senyum manis yang selalu tertampak telah sedikit memikat perhatian Naoya.
Secara fisik kau sangatlah indah, dari wajah yang cantik dan tubuh yang cocok untuk mengandung putra penerus klan. Ditambah kau terlihat cukup tahu diri dan penurut. Ya, Naoya menyetujui.
Membawamu ke perkumpulan petinggi klan Zenin adalah hal yang sudah umum dilakukan. Menyusuri rumah tradisional Jepang, Naoya berjalan dengan tegap, terpancar aura otoritas pada setiap langkah kakinya. Tidak jauh di belakang, tepatnya pada jarak tiga langkah, ada dirimu yang mengikuti suamimu dengan sopan.
Naoya membuka pintu ke ruang pertemuan, terlihat ayah dan beberapa saudaranya sudah menunggu. "Kau telat, Naoya!"
Suamimu tidak memperdulikan celotehan dari saudaranya, ia memilih untuk langsung duduk di sebelah ayahnya.
Ketika kau memasuki ruangan, dengan kimono yang gemilang, sangat cocok dengan kulitmu. Rambut telah ditata dengan rapi dan make-up tipis memperlihatkan seluruh kecantikan natural. Kau adalah sebuah angin segar di dalam ruangan yang pengap.
Kau duduk di sebelah Naoya dengan anggun, senyum yang kau miliki saat kalian pertama bertemu masih tertampak di wajahmu. Para lelaki mulai berbincang antara satu dengan yang lain, sama sekali tidak mengacuhkan keberadaanmu. Kau tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Seorang pelayan memasuki ruangan dengan membawa seperangkat cangkir teh beserta tekonya. Bahkan sebelum Naoya berkesempatan menoleh ke arahmu, kau telah bergerak untuk membagikan cangkir serta menuangkan teh untuk seluruh petinggi dalam ruangan tersebut.
Tentu saja, Naoya mendapatkan tuangan pertama.
Para petinggi klan memperhatikan gerak-gerikmu dan mengirim tatapan sinis ke arah Naoya. Tatapan sinis yang penuh dengan rasa iri. Rasa bangga bertumbuh dalam diri Naoya, ia hanya mengirimkan seringai penuh rasa kemenangan.
Setelah kau kembali ke tempat duduk awalmu. Pertemuan klan dimulai. Kau tidak banyak berbicara, hanya membuka mulut ketika Naobito mengajakmu berbincang. Suaramu merdu, seperti malaikat dari surga. Jemari panjangmu meraih teko dan menuangkan teh ke gelas Naoya yang sudah hampir habis.
Rasa senang mulai bertumbuh di dalam Naoya, kelihatannya kau memilih untuk diam pada pertemuan kali ini.
"Ah, maaf memotong pembicaraan tapi tuan-tuan keliru."
Naoya berkata terlalu cepat.
Kalimat tersebut sontak membuat semua petinggi dalam ruangan itu menoleh ke arahmu. Kamu kembali membuka suara pada diskusi petinggi klan, kali ini mendiskusikan mengenai pilihan Jujutsu Tech untuk tidak mengeksekusi Yuuji secara langsung.
" Gojo-san telah berdiskusi lama dengan para petinggi untuk mencapai keputusan terbaik."
Seketika seluruh ruangan terdiam dan tekanan di ruangan seakan menebal. Beberapa petinggi Zenin menatapmu dengan ekspresi kaget, lebih kepada pengetahuanmu terhadap eksekusi sang siswa kelas 1 di Jujutsu Tech.
Sedangkan Naoya? Dahinya mengkerut, bibirnya membentuk sebuah garis lurus. Seketika ia meremas kepalan tangannya. Seluruh pandangan baik serta perasaan senang yang ia miliki tentangmu seketika hilang, ia diselimuti oleh amarah dan rasa cemburu mendengar nama Gojo Satoru.
Kau kembali menutup mulutmu tanpa ada rasa dosa, mengetahui bahwa kamu mengatakan hal yang benar. Keheningan yang melanda terpecah oleh suaramu menuangkan teh kedalam gelas Naobito.
Bagi Naoya, inilah titik mula acara malam itu mulai hancur. Kau yang awalnya hanya diam dan berbicara jika diajak mulai melibatkan diri dalam percakapan para petinggi. Setiap kali kau mendengar sebuah pernyataan salah dari para petinggi klan, kau tidak menahan diri untuk membenarkan. Hal ini kian menimbulkan aura yang canggung.
Namun, secara perlahan malam kembali meriah, para petinggi mencoba tidak mengacuhkan kata-kata yang keluar dari bibirmu. Kau sudah sering melibatkan diri dalam diskusi tapi mereka tidak pernah berpikir panjang tentang pendapatmu. Bagi mereka, kau tidak penting sehingga mereka tidak terlalu memusingkan hal tersebut.
Beda hal dengan Naoya. Sang penerus klan Zenin sudah geram dengan perbuatanmu. Kau adalah istrinya. Maka, memenuhi kriteria yang telah ditetapkan olehnya merupakan hal yang wajib, sakral bahkan. Namun, sudah beberapa kali kau telah mengingkar kriteria yang telah ia tetapkan.
Beberapa petinggi klan terkekeh pelan, mengetahui amarah Naoya yang terpampang jelas di wajahnya. Hal ini semakin membuatnya geram.
Anggun, baik hati, perhatian, tapi.....terlalu pintar.
That's not good. Naoya tidak butuh istri yang terlalu pintar. Ia hanya memerlukan istri yang cantik dan bisa menuruti keinginannya, sehingga ia tidak malu untuk bertemu dengan petinggi-petinggi klan lain. Jika wanita tersebut bisa memberkahinya dengan seorang putra, wanita itu sudah sempurna.
Kamu tidaklah sempurna, Naoya harus melakukan sesuatu.
.
.
.
.
.
Tubuhmu sedikit terlompat ketika Naoya melemparmu ke arah kasur. Matamu penuh dengan rasa kebingungan dan kau yakin Naoya bisa melihatnya. Saat keluar dari ruangan, mood Naoya memang tidak terlihat bagus tapi kau tidak tahu apa yang bisa menyebabkan hal tersebut.
Dalam hatimu, kau memiliki kecurigaan bahwa kau adalah penyebabnya. Namun, kau juga tidak begitu yakin. Lantas, apa yang telah kau lakukan sehingga bisa menyebabkan kemurkaan dari sang suami?
Naoya merangkak ke atasmu dan mengurungmu di bawah tubuhnya yang jauh lebih besar. Ia tidak memberimu kesempatan untuk bertanya dan memilih untuk langsung menerkam bibirmu dengan miliknya. Kau menekan telapak tanganmu pada dada bidangnya, mencoba untuk mendorong Naoya agar ia melepaskan ciuman panas kalian. Belum sampai semenit saja dirimu sudah kehabisan napas.
Bagi Naoya, tanganmu yang mendorongnya merupakan penolakan dan ia tidak mentolerir hal tersebut malam ini. Mencengkram tanganmu dengan kuat, ia memecah ciuman untuk mengunci kedua pergelanganmu di atas kepala. Menyebabkan dirimu terekspos.
Tangan kanan Naoya menahan kedua pergelangan tanganmu dan tangan kirinya dengan handal menurunkan obi dan membuka kerah kimono- mu. Sang pria semakin kesal saat merasa dirimu menggeliat meski telah berada di bawah kendalinya. Ia menahan tubuhmu, menempelkan kedua dada kalian agar kau sama sekali tidak bisa bergerak.
Bibirnya segera menggigit dan menghisap leher jenjangmu dengan ganas, sengaja agar terdapat berkas kepemilikan yang sulit untuk disembunyikan. Perlahan bibirnya bergerak turun sebelum terhenti pada buah dadamu dan bergerak untuk mengemut putingmu, seperti bayi mencoba mendapatkan susu dari ibunya. Tangan kiri Naoya memberikan stimulasi pada buah dadamu yang lain.
Kau merasa sangat tidak berdaya di bawah Naoya, seluruh bagian tubuhmu dibuat tidak bisa bergerak olehnya. Napasmu terengah-engah dan tubuhmu perlahan semakin panas, rasa tidak nyaman mulai muncul di bagian liang senggamamu.
“ U-Uhn, Naoya~” Suara desahanmu seperti suara malaikat di telinga Naoya, memberikan efek langsung pada kejantanannya.
Ingin mendengar lebih banyak suara-suara manismu, Naoya menggesekkan lututnya langsung ke daerah kewanitaanmu. Kau tersentak akibat rasa nikmat yang seketika mengalir dalam tubuhmu.
Jemari Naoya turun, menyusuri kulit halus pahamu dan meraba pelan celana dalammu yang sudah basah. Sang pria terkekeh, hanya dari ciuman dan stimulasi buah dadamu saja kau sudah dalam kendalinya. "Basah banget, sayang. "
Mendorong celanamu ke samping, Naoya langsung memasukkan jari tengahnya ke dalam liang senggamamu. Sempit.
Ia tidak tahu bagaimana kejantanannya akan muat muat tapi ia tidak begitu memperdulikan hal tersebut. Kalau memang tidak muat, he'll make it fit.
Jarinya mencapai titik yang sangat dalam dan bergerak dengan cepat, menyerang langsung titik nikmat yang kau tak tahu kamu miliki. Seluruh energi yang ada di tubuhmu terasa hilang, kakimu bergetar.
" You probably can't reach this place with your little fingers, huh? " Nada yang digunakannya terdengar mengejek, kau merasa malu mendengarnya. " Don't worry, your husband's here to help .”
“E-Enggakh~!” Jari Naoya menyentuh satu titik dalam dirimu yang menyebabkan kau mendesah. Selama lebih dari dua puluh tahun kau hidup, kau tidaklah asing dengan rasa nikmat. Namun, Naoya selalu berhasil membawamu ke satu surga ketujuh, sebuah nikmat yang belum pernah kau capai sebelumnya.
Naoya yang telah menemukan titik terlemahmu bisa merasakan kau semakin basah, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk memasukkan jari kedua dan mempercepat gerakannya. Tubuhmu secara insting melengkung, semakin menempel ke tubuh Naoya yang jauh lebih kekar. “S-Stop! N-Naoyaa~!”
Meskipun mulutmu berkata berhenti, Naoya tidak mengacuhkan, setelah mengetahui titik terlemahmu, ia malah mempercepat gerakannya. Seluruh tubuhmu bergetar, bibirmu tidak berhenti mengeluarkan nyanyian-nyanyian indah yang merupakan candu untuk Naoya. Jempolnya bergerak untuk memainkan biji kelentitmu, sebuah tindakan untuk memperoleh semakin banyak desahanmu.
Cengkramanmu pada jarinya terasa menyesakkan, Naoya bisa mengetahui bahwa kamu sudah berada di ujung. Tidak memberikan dirimu ampun, Naoya tidak berhenti hingga akhirnya kau mencapai puncak. Seluruh tubuhmu bergetar, energi meninggalkan tubuhmu bersamaan dengan orgasme pertamamu di malam itu. Cairanmu yang mengalir membasahi jari Naoya.
Naoya menatap jemarinya dan menggerakkannya, melihat cairan tersebut menguntai jarinya. Perhatiannya berpindah ke wajahmu, air mata yang mengalir bercampur dengan keringat serta salivamu. Meskipun menurut orang lain kau terlihat berantakan, Naoya menatapmu seperti kau adalah karya seni terindah. Karya seni yang dibuat olehnya.
“Oi,” Naoya menepuk pipimu untuk menarik perhatian. Masih dalam kondisi kehabisan napas, kau menggunakan energimu yang tersisa untuk menatap suamimu yang menyeringai. Sebelum kau bisa bereaksi, Naoya memasukkan jarinya kedalam mulutmu. “Hisap.”
Rasa manis pada indera pengecapmu menyebabkan kau mencoba menjauh. Tidak begitu ingin berurusan dengan aksi Naoya saat ini akibat dari rasa lelah pada seluruh tubuh.
“ Ack -!” Kau tersedak saat Naoya mendorong jarinya semakin kencang dalam mulutmu. Wajahnya seketika berubah gelap akibat aksi penolakanmu.
“ Kubilang hisap .”
Naoya kehilangan kesabaran adalah hal yang sangat umum tapi jarang sekali hal tersebut tertuju ke arahmu. Kau akui, kau sangat takut melihatnya. Secara enggan, kau menghisap jemarinya, mencoba sebisa mungkin untuk tidak memperhatikan rasa cairanmu sendiri.
PLAK .
Sebuah tamparan mendarat pada pipimu. “Hisap yang benar, lacur.”
Matamu terbelalak, sebagian dari tamparan yang ia berikan dan sebagian dari julukan yang ia gunakan. Atas dasar rasa takut, kau menjilat jari Naoya secara bersih. Matamu mengintip dari bawah bulu mata dan melihat ekspresi puas Naoya, rasa lega menyelimuti dirimu.
Terfokus untuk membersihkan jari Naoya, kau tidak menyadari tangan satunya bergerak turun dan menekan biji kelentitmu. Matamu tertutup rapat dan mulutmu menutup di sekitar jarinya, mencoba untuk mengurangi rasa nikmat yang kau dapatkan. Untuk kewarasan dirimu sendiri.
Naoya mengeluarkan kejantanannya dari celana yang ia kenakan. Tanpa aba-aba, ia menghentakkan masuk ke dalam liang senggamamu. Sebuah erangan keluar dari mulut Naoya, pijatan yang kau berikan membuatnya tenggelam dalam nikmat dunia. “ Ugh, shit .”
Tubuhmu yang masih merasakan efek dari puncak pertama seketika tersentak akibat rasa penuh di bagian bawah tubuhmu. “ N-Nyao~ !”
Naoya tidak menunggu dirimu untuk menyesuaikan, ia langsung menggerakkan pinggulnya secara cepat. Suara kulit bertemu dengan kulit memenuhi ruang tidur kalian.
Otakmu terasa meleleh dan alur pikiranmu sudah tidak berjalan, yang kau tahu hanyalah rasa nikmat yang diberikan oleh sang suami. Sama sekali tidak kuat dengan rasa nikmat yang datang secara bertubi-tubi, kakimu mencoba mencari tapakan. Alhasil akhirnya melingkar pada pinggang Naoya, dengan seluruh energi sisa yang kau miliki, kau menahan Naoya agar tidak bergerak. Setidaknya memberikanmu waktu untuk berpikir.
Namun, upayamu nihil. Seketika posisimu telah berubah dengan Naoya mendorong wajahmu ke kasur dan bokongmu naik, memberikan dia kontrol sepenuhnya pada tubuhmu. Ah, kau benci sekali saat dia menggunakan cursed technique- nya agar bisa mengatur tubuhmu seenak jidat.
Naoya lanjut menggempurmu dari belakang, tangannya bergerak dan memilin putingmu, memberikan stimulasi tambahan. Dengan posisi sekarang, yang bisa kau lakukan hanyalah menerima apapun yang diberikan Naoya untukmu.
Mulutmu terbuka lebar, mencoba menarik nafas sebanyak mungkin karena paru-parumu terasa seperti terbakar. Saliva menetes membasahi kasur kalian berdua tapi kau sudah tidak peduli. Berpikir jernih saja sudah tidak bisa, persetan dengan kasur yang basah, kau bisa mengatasi hal itu besok.
“ Naoya, don’t stop-! O-Oh God!” Kata-katamu semakin lama semakin terbatas, yang bisa kau keluarkan hanyalah nama Naoya ditambah dengan beberapa sumpah serapah.
Tiba-tiba Naoya berhenti, untuk beberapa saat ia membiarkan kejantanannya dalam liang senggamamu, merasakan seluruh kedutan yang kau berikan. Kau mencoba bergerak untuk mendapatkan rasa nikmat yang sedang melanda. Naoya tertawa melihatmu, terdapat nada mengejek dalam tawanya. Kau merasa sangat malu.
Ia mengeluarkan kejantannya dan duduk bersandar pada tumpukan bantal. Naoya dapat melihat lubangmu berkedut, seakan-akan mencari sesuatu yang bisa diapit. Tidak bisa menahan diri, ia melemparkan sebuah tamparan pada bokong kananmu.
“ Ngh !” Kau mengerang.
“Kemari.” Perintahnya.
Perlahan, kau bangkit dari posisimu dan memandang Naoya. Ia menepuk pahanya, mengisyaratkan dirimu untuk memposisikan diri pada pangkuannya. Kau bisa merasakan kejantanannya menempel dan kadang berkedut pada kulit perutmu.
Naoya mengecup pelan telingamu dan berbisik. “ There’s no God here, dear ,” Ia menjilat telingamu dan kau menoleh, mencoba menjauhkan wajahmu tapi Naoya tidak membiarkan hal tersebut terjadi. “ Tonight, I am your God, and you will serve me as such .”
Ia memaksa wajahmu untuk menatapnya, kau bisa melihat sekilas kilat kenakalan pada matanya. Naoya mencengkram rambutmu pada tangannya dan mendorong wajahmu tepat pada kejantanannya.
Aroma maskulin yang dikeluarkan membuat kepalamu pusing dan liang senggamamu terangsang. Malu-malu kau menjulurkan lidahmu dan menjilat bagian bawah batangnya yang penuh dengan nadi dan pembuluh darah yang mencolok. Rasa manis bercampur dengan asin, hasil dari campuran cairanmu dan pre-cum darinya terasa memabukkan.
Perlahan kau memasukkan kepala jamurnya kedalam mulutmu, tidak lupa untuk menjilat agar memberikan stimulasi yang cukup. Kepala Naoya mendongak saat merasakan sensasi hangat dari mulutmu. Sebisa mungkin kau memasukkan kejantanannya dalam mulut mungilmu, sisa yang tidak muat kau pijat dengan jemarimu.
Tangan Naoya yang mencengkram rambutmu mulai menggerakkan kepalamu maju dan mundur. Beberapa kali kepala batangnya menghentak tenggorokanmu, menyebabkan air mata menetes.
Kau berusaha menggunakan gag reflex -mu agar kau bisa bernapas tapi semakin lama, gerakan Naoya semakin kasar. Tidak hanya tangannya yang menggerakkan kepalamu tapi pinggulnya juga mulai bergerak untuk menggempur mulut mungilmu.
Beberapa kali kau sudah tersedak dan bernapas sudah semakin sulit, tanganmu mencengkram paha kekarnya. Dalam hatimu, kau berharap Naoya bisa sadar akan kebutuhanmu untuk bernapas. Namun, ketika kau mengintip ke wajahnya, yang kau lihat hanyalah seringai jahat yang terpampang.
Hentakan terakhir menyebabkan kau men- deepthroat kejantanannya dan Naoya melepaskan benihnya dalam mulutmu. Pahit, sesak. Itulah yang kau rasakan tapi Naoya menahan kepalamu agar tidak bergerak. Menyebabkan dirimu harus menerima kondisi hingga Naoya sudah selesai melepaskan puncaknya.
Sisa air mani yang tidak bisa ditampung lagi di mulutmu, Naoya lepaskan pada wajah dan rambutmu. Memberikan warna putih yang kontras dengan rambutmu yang hitam. Hembusan napas berat keluar dari mulut Naoya, perlahan kejantanannya melemas. Jempolnya menahan rahangmu agar tetap terbuka.
“Taste it before swallowing.” Perintahnya. Kau melingkarkan lidahmu, mencoba membuat seluruh bagiannya merasakan hasil benih dari Naoya sebelum kau menelannya dalam satu tegukan.
Sebuah ekspresi bangga terpampang pada wajah tampan sang penerus klan Zenin.
“ Good girl .” Ia melemparmu ke atas kasur, kembali ke posisi doggy . “ Spread your pussy and beg for me.”
Kau menoleh ke arahnya, meski wajahmu penuh dengan berbagai macam cairan, Naoya dapat melihat jelas wajah bingungmu. Ia hanya mengangkat satu alis yang seakan-akan berkata ‘Menunggu apa lagi?’
Kau meletakkan wajahmu di permukaan kasur dan tanganmu bergerak untuk melebarkan liang senggamamu, memberikan dirimu sepenuhnya padanya. “ N-Naoya, please fuck me…”
Rangsangan yang Naoya dapatkan langsung lari menuju kejantannya, seketika sudah mulai mengeras lagi. Ia beranjak dari duduknya dan memposisikan kejantanannya pada liang senggamamu.
“ What a smart little wife ,” Naoya meremas bokongmu, kagum akan keindahan tubuhmu. “ But I don’t need a smart wife .”
Kepala kejantanannya bergerak masuk dan keluar dalam kewanitaanmu. Kamu yang telah dipenuhi dengan birahi rasanya hanya ingin menghentakkan kejantannya masuk. Ingin rasanya merasakan liang senggamamu penuh. Namun, Naoya mencengkram pinggulmu dengan keras, membuatmu tidak bisa bergerak sama sekali. Kau merasakan deja vu , kembali tidak berdaya dan hanya bisa menerima apapun yang diberikan oleh Naoya.
“ I don’t need you yapping at clan meetings ,” Sebuah tamparan pada bokongmu, kau mengerang. “ I just need you dumb and pretty for me, ” Naoya kembali memberikan tamparan yang keras pada bokongmu yang mulai menampakkan warna merah. “ You’ll do that for me, won’t you, dear?”
Pikiranmu seketika mengalami kilas balik pada pertemuan petinggi klan, dimana kamu melibatkan diri dengan memberikan fakta. Kau bingung, kau hanya membenarkan pernyataan yang salah. Sebagai seseorang yang menganut tinggi kebenaran, meski kau sudah menikah dengan seseorang yang sudah hilang akalnya seperti Naoya, kau berpegang teguh pada prinsipmu.
“Enggak.” Ucapmu tegas. Setidaknya setegas yang kamu bisa dengan kondisimu yang saat ini dipenuhi dengan birahi. “I won’t tolerate that.”
Naoya mengangkat satu alisnya. Jujur, ia sudah memperkirakan kau akan menyangkal tapi ia tetap tidak suka. “Kalau begitu urus birahimu sendiri.”
Beranjak dari kasur, Naoya pergi ke sisi lain ruangan sembari memperbaiki pakaiannya. Ia menuju meja rias dan duduk di kursinya, mencari sisir untuk merapikan rambutnya yang berantakan.
Sedangkan kau? Kau hanya bisa menatap Naoya dengan wajah tidak percaya masih dalam posisi terekspos. Kau terduduk sambil melihat Naoya beberes untuk persiapan tidur. Tidak ada pertukaran kalimat diantara kalian berdua selama Naoya beberes dan kamu yang hanya bisa menatap, merasakan birahi yang kian meningkat.
Naoya melihatmu terdiam mengetahui kau sedang mengalami dilema, pertarungan dalam pikiran. Pilihan antara tetap menjadi seseorang yang sok tahu dan melibatkan diri di tempat yang seharusnya kau tidak berada, dan berhenti berbicara untuk mencapai birahi yang kau inginkan.
Sang penerus klan akan memastikan kamu tidak bisa mencapai puncakmu tanpa ada izin darinya. Kau berada dalam kerajaannya, kekuasaannya, hingga pilihanmu hanya satu. Tunduk kepada raja yang berkuasa.
Naoya bergerak ke arah pintu dan dia mendengar suara gesekan kain. Kau telah berada dalam posisi merangkak di atas kasur, tanganmu berada di udara mencoba untuk meraih Naoya. Tatapan kalian bertemu dan Naoya menunggu kamu melakukan sesuatu.
Namun, kau hanya terdiam. Naoya mendengus, keras kepala sekali.
Memutuskan tidak lagi ingin mengurus kondisi istrinya, Naoya meraih gagang pintu. “Aku akan tidur di kamar lain, akan ada pelayan wanita yang menemanimu agar kamu tidak mencapai puncak tanpaku.”
Rasa panik melanda dalam dirimu seperti tsunami yang melanda kota. Prinsipmu yang bagaikan gedung pencakar tinggi seketika runtuh. Kau bergegas meraih suamimu hingga terjatuh tapi kau tidak peduli dengan hal itu saat ini. Lutut dan sikumu nyeri akibat dari hantaman dengan lantai kayu kediaman Zenin. Namun, kau berhasil meraih celana tidur yang dikenakan oleh sang suami.
Melihat kondisimu yang tersungkur di lantai, sebuah seringai langsung muncul pada wajah Naoya. Ah, ternyata prinsipnya pun kalah dengan hawa nafsu.
“Kenapa, sayang ?” Nadanya terkesan mengejek.
Kau merangkak tanpa melepaskan peganganmu pada celananya. Takut jika kau melepaskannya, Naoya akan langsung pergi dari hadapanmu. Kau bersujud pada lantai kayu yang dingin di hadapan suamimu dalam keadaan telanjang bulat.
“ S-Saya mohon, tolong bantu saya Tuan Naoya,” Suaramu bergetar, seakan-akan kau ingin menangis. “ Saya akan menurut, saya tidak akan sok tahu, saya akan menaati kata-kata Tuan Naoya.”
Oh, how low you’ve become .
Naoya berjongkok didepanmu, tangannya memegang pipimu dan membimbingnya agar dapat menatap wajahnya. Benar saja, wajahmu sudah tidak karuan dan beberapa benihnya yang sudah mengering mulai tersapu luntur oleh air mata yang sangat ini sedang mengalir dengan deras.
Menarik wajahmu mendekat, Naoya mendaratkan sebuah kecupan pada dahimu. Sebuah kecupan yang penuh dengan rasa sayang, menyebabkan rasa senang dan hangat menyelimuti dirimu.
“ Persembahkan dirimu .”
Kau tidak menghabiskan waktu dan langsung bergerak kembali menuju kasur. Kau duduk pada pinggiran kasur dan melebarkan kakimu. Tidak ada kata-kata yang perlu dilontarkan, Naoya sudah tahu akhirnya kau sudah sepenuhnya berada dalam kontrolnya.
Menurunkan celananya, Naoya kembali memposisikan kejantanannya pada liang senggamamu. “Jika aku melihatmu bertingkah sok tau sekali lagi pada pertemuan klan, you can kiss your future orgasms goodbye. ”
Kau mengangguk, mengerti. “S-Saya berjanji tidak akan bertingkah lagi.”
Puas dengan jawabanmu, Naoya perlahan memasukkan kejantanannya dalam liang senggamamu. Menikmati rasa hangat dan himpitan yang dari tadi sebenarnya juga ia inginkan.
“ Aaaahn~ T-terus Naoya~!” Suara desahanmu terdengar semakin indah setelah mengetahui Naoya telah merubahmu menjadi istri idamannya.
Ketika sudah sepenuhnya masuk, kau merasa sangat penuh dan lengkap. Tanganmu melingkarkan diri pada leher Naoya, mencakar punggungnya. Orgasme yang tertunda membuat dirimu sensitif, sebelum Naoya bergerak pun kau rasanya sudah di ujung.
Pinggul Naoya mulai bergerak, otakmu yang perlahan sudah kembali bekerja langsung meleleh. Apalagi ketika Naoya mulai mempercepat gerakannya tanpa aba-aba. Semua hentakannya mengenai bagian yang tepat dalam liang senggamamu. Naoya tidak dijuluki ‘the fastest’ tanpa adanya alasan.
Biasanya, kau tidak akan dibiarkan meninggalkan bekas pada tubuh Naoya tapi saat ini semua pikiran tidak ada yang terproses. Naoya pun tidak melakukan perbuatan apapun untuk menahan cakaranmu pada punggungnya.
Memang pada kenyataannya Naoya tidak menyukai ketika kamu meninggalkan bekas apapun di kulitnya. Ia selalu ingin terlihat sempurna di hadapan klan maupun shaman lain. Namun, saat ini cakaran yang kau tinggalkan bagaikan penghargaan akan takluknya dirimu.
Ditambah, ternyata rasa sakit dari kukumu sedikit memberikan rangsangan untuk dirinya. Jepitan liang senggamamu, cakaranmu, suaramu, semuanya membuat Naoya kecanduan. Ia bisa sekali menghabiskan waktu menikmati hal-hal tersebut tanpa ada rasa bosan. Entah sejak kapan Naoya telah tergila-gila denganmu.
Naoya meletakkan kepalanya di sebelah kepalamu, membuat nafasnya yang tersenggal dan erangan yang ia keluarkan terdengar jelas. Suaranya terdengar sangat seksi.
“ I’m close -” Sahutmu dan Naoya semakin mempercepat gerakannya, memastikan mengarahkan pada titik lemahmu. Terdapat rasa geli pada bagian bawah tubuhmu dan kau tahu, puncakmu yang sedari tadi kau tunggu-tunggu sudah dekat.
Naoya bergidik ketika kau mencapai orgasme, liang senggamamu menjepit kejantanannya hingga ia sangat susah untuk bergerak. Hal ini membuatnya mencapai puncaknya untuk kedua kali pada malam ini. Mengeluarkan seluruh benihnya dalam liang senggamamu, mewarnai bagian dalam dirimu putih total.
Tanganmu melemah dan terjatuh ke kasur di sebelah kepalamu. Nafasmu yang tersenggal perlahan stabil. Energimu telah sepenuhnya habis akibat dari pertemuan klan dan kejadian panas dengan Naoya. Perlahan, alam tidur mengundangmu dan kau menerima dengan senang hati.
Naoya perlahan mengeluarkan kejantanannya, ia menatap tubuhmu yang tertidur pulas di atas kasur. Benih yang ia keluarkan di liang senggamamu sebagian mengalir keluar. Ia tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Tujuan utamanya malam ini sangat jelas, bukan untuk membuatmu mengandung seorang anak laki-laki. Namun, menghilangkan sifat sok tahumu dan membuatmu menjadi istri yang penurut.
Tujuan tersebut telah tercapai, menurut Naoya kau sudah menjadi istri yang sempurna. Tidak pintar, tidak berisik, tidak banyak mau, dan hanya penurut. Benar-benar sempurna .
