Work Text:
Han Seungwoo as Saka.
Cho Seungyoun as Evan.
Cuma hari-hari biasa Evan di kamar kostnya, kecuali ada penyusup yang sekarang lagi main HP sambil memijat kakinya yang ia taruh di pangkuan laki-laki berbadan besar itu. Namanya Saka, satu jurusan, satu kampus, satu kelas, cuma satu kostan yang berbeda. Tapi manusia satu ini suka gak tahu diri dan main masuk seakan ini kamar kostanya juga.
"Lo gak jelas banget ke sini pagi-pagi, gak ada rumah ye lu."
"Gak."
Udah, gitu aja. Mereka lanjut fokus ke HP, kaki Evan tetap dipijat-pijat asal, kayaknya cuma butuh 'mainan' karena tangan satunya cuma scroll tiktok.
"Van, lo tidur sama Hesa, kan?"
Evan langsung mendelik ke arah Saka, sekalinya ngomong langsung bikin jantungan. "Pagi-pagi udah menebar fitnah aja lo!" Elaknya, Saka mengedikkan bahunya, "Hesa yang bilang ke gue. Katanya udah tidur sama lo."
"Serius? Kok bocor gitu..."
"Lah, berarti beneran dong? Lo udah tidur sama dia?" Saka menoleh dan nyengir lebar, sukses mengulik 'rahasia' dari mulut Evan. Tinjuan sedang melayang ke bisep keras Saka, "bangsat lo!"
"HAHAHA!! Anjing..." Saka terdiam setelahnya, "kalo lo bisa tidur sama dia, kenapa sama gue nggak?" Evan mau lemparin lemari ke kepala manusia satu ini. Kalau ngomong gak pernah mikir kayaknya.
"Apaan sih!? Gak jelas ah! Stop gak lo!" Evan melirik galak, dia setengah salting gara-gara ketahuan, pipinya sudah merah. "Ih, serius, Van," tangan Saka menggoyangkan kaki Evan dengan bercanda, tingkahnya kadang suka manja.
"Ya lo kan temen gue! Masa sama temen ngentot?!" Evan beralasan banyak, sayangnya Saka gak puas, dia berdecak lidah, "jadi bisanya sama mantan doang? Yang nyakitin lo itu, bukan sama yang nemenin lo 24/7 ini?" Saka memanyunkan bibirnya kecewa, Evan sudah mau meninju dinding di kirinya, ranjang memang menempel pada dinding biar dia gak jatuh kalau tidur.
"Lo tuh, ya! Cuma pengen ngewe doang sama gue apa gimana sih! Sangean najis," Evan menendang pelan paha Saka, HP nya sudah ditaruh ke kasur, sekarang fokus mencak-mencak ke Saka dulu.
"Yahh... Si Hesa juga salah, udah mantan malah pengen ngewe sama lo. Kalau gue kan masih mending, sayang sama lo iya, peduli sama lo iya, jagain lo iya, apa yang nggak gue lakuin buat lo?" Saka tersenyum sambil tangannya bermain di lutut Evan, mengelus dan mencubit pelan.
Bibir Evan naik tanpa diduga, dia tertawa tanpa suara, tangannya menutup mulutnya dengan tak percaya. "Bangsat lo, Saka," keduanya terkekeh kecil, sampai Evan menarik kaus Saka dan mencium bibirnya. Saka terkejut untuk beberapa detik sebelum membalas ciuman Evan. Saka merubah posisinya, dia di atas Evan sepenuhnya, tubuhnya ada di antara paha Evan dan mengukunginya selagi mencumbu.
Suara kecap bibir dan lenguhan kecil memenuhi kamar yang tak seberapa besar ini, tangan Evan ada di belakang tengkuk Saka, menekannya agar ciuman mereka makin dalam. Saka menggigit kecil bibir bawah Evan, meminta ijin untuk masuk, Evan tersenyum kecil dan membuka celah bibirnya, lidah mereka bergelut saling ingin mengalahkan.
Tangan Saka menyelip ke dalam baju Evan, menyentuh kulitnya dan naik ke dadanya. Evan berjengit saat tangan Saka meremas dadanya, ibu jarinya mengusap putingnya dan membuatnya memekik di sela ciuman. Saka melepas ciuman guna menatap wajah Evan saat jarinya jahil di dalam kaus, dia tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, ekspresi Evan cantik, membuatnya makin ingin berbuat jahil.
"Mhnn-" Evan meremas lengan atas Saka, putingnya dicubit dan ditarik-tarik pelan, Saka tertawa gemas sambil mengecup leher Evan dan berbisik ,"lucu banget."
Evan memejamkan matanya, kecupan Saka dan tangannya membuatnya makin larut, tangan Saka hangat menyentuh kulitnya, kecupan Saka di lehernya juga manis, kadang digigit kecil. Evan merengek pelan, dia mendorong pundak Saka untuk menjauh, dia tak mau lama-lama.
"Lepas," titahnya pada Saka, Saka langsung melepas kausnya, sementara dia melepas celana pendeknya, setelah bawahnya polos, Evan membuka lemari nakas di samping ranjangnya. Dia mengeluarkan sesaset kondom dan sebotol besar lubrikan yang dibiarkan di sisinya, sementara saset itu dilemparkan ke perut Saka.
"Lo mau nidurin gue, kan? Tuh, tidurin gue sekarang."
Saka yang sudah melepas baju cuma nyengir lebar mendengarnya, saset itu ia ambil dan sisihkan sejenak, "lo punya beginian? Lo udah tidur berapa kali sama Hesa?" Evan cuma mendengus, "nih, lihat! Botolnya masih banyak isinya! Lo jangan fitnah gue sering tidur sama Hesa semenjak putus ya anjing!" Evan menyodorkan botol merah berisi lubrikan yang masih banyak, paling cuma dipakai dua kali.
"Iya-iya, percaya gue, tenang aja Van," Saka melepas celananya dengan cepat, penisnya langsung terpampang nyata di depan Evan, dia yang tadinya mengambek langsung kembali salting. Saka menyingkap kaus Evan, membuat badannya kini terekspos, penisnya yang sudah dripping pun terlihat, Saka tersenyum kecil dan mengecup dada kanan Evan.
Tubuh besar Saka ada di atasnya, bibir Saka sedang mengecupi putingnya yang sudah tegang karena udara AC juga karena rangsangan Saka sedari tadi. Evan melenguh pelan, jari-jarinya meremas surai Saka yang lebat, dia menatap bagaimana Saka bermain di dadanya, lidahnya sudah menjilati putingnya dan menggesekkan bibirnya di putingnya. Lama-lama dia mulai membanding-bandingkan antara sahabatnya dengan mantannya itu.
"Saka lebih gentle."
"Saka lebih 'gede'."
"Saka lebih manis."
Saka lebih-lebih bahkan sebelum mereka melakukan itu sepenuhnya, penis mereka bahkan belum saling menyentuh. Tangan Evan menyelip ke bawah untuk meraih penis Saka, "oh..." Evan mendesah dalam hati, rasanya keras dan hangat, ujungnya licin karena pre-cumnya, tangannya mengelusnya pelan, uratnya terasa jelas di tangannya. Evan menggigit bibirnya, lagi-lagi membandingkan, "Saka lebih jantan."
Tangan Evan sekarang mengocok penis Saka, merasakan licinnya yang dia sebarkan ke seluruh batangnya. Saka masih menghisap putingnya dan memberikan tanda di sekitar dadanya. Lidah Saka menyusuri belahan dadanya lalu mengecupnya dari atas ke bawah, Evan mendesah pelan, pemandangan itu indah banget.
"Saka... Buruan," pintanya. Saka melirik ke atas, dia tersenyum dan mengecup bibir Evan sekilas. Saka bangkit dan berlutut, tangan Evan reflek lepas dari penis Saka, dia sedikit kecewa karenanya. Saka meraih botol lubrikan itu, dia melumuri jarinya dan menuangkannya di pintu anal Evan.
"Eh iya, lo bersih?" Saka bertanya, Evan mengangguk, "gue bersih, kok," balasnya. Saka lagi-lagi tertawa menggoda, "kok lo bersih? Udah ada rencana mau tidur sama siapa, sih?" Jari Saka sudah mengelus pintu anal Evan, Evan berdecak lidah, "gue emang suka bersih-bersih kali! Ini kan pagi-pagi, harus bersih-- ahh!" Evan mendesah di ujung gara-gara jari Saka melesak masuk perlahan.
"Huum iya, boti yang profesional ya, pagi-pagi gini udah bersih," Saka melirik Evan, menatap wajahnya saat jari panjangnya masuk makin dalam dan menekuk. Saka menggigit bibir dalamnya gara-gara itu, wajah Evan yang melayang padahal baru jarinya yang menyentuh prostatnya.
"Ahhh-- Saka..." Evan merapatkan pahanya secara reflek, jari Saka tetap bergerak mengelus prostatnya, membuat banjir di abdomennya karena pre-cum. Tangan besar Saka mengelus pinggangnya, "enak?" Evan mengangguk, pahanya dibuka lagi dan kini jari Saka bertambah satu, membuat lubangnya melonggar mau tak mau. Evan menikmati foreplay ini, dia santai walau libidonya makin meninggi.
"Kalau sama Hesa..." Pikiran batin itu berhenti, karena di depannya sekarang itu Saka, bukan Hesa. Kenapa dia membuat kegiatan ini jadi validasi kalau Hesa itu lebih buruk dari Saka? Mereka berbeda, tapi Evan jelas lebih memilih Saka untuk menjadi 'rumah'nya tanpa terkecuali. Walaupun mereka cuma sebatas sahabat.
Saka melebarkan jarinya, perlahan agar Evan juga tidak sakit, dia melonggarkannya dengan hati-hati, dia tahu penisnya mungkin tak muat kalau Evan tak rileks atau kurang licin.
"Evan, gue masukin sekarang ya?" Saka menarik jarinya, kerutan merah muda itu berdenyut saat jarinya sudah selesai bermain di sana. Evan mengangguk, pahanya melebar dan dia menyamankan posisinya. Saka memakai kondom rasa strawberry itu dan mengarahkannya ke lubang Evan yang terus berdenyut. Saka melirik Evan, memerhatikan ekspresinya sekali lagi saat dia mendorong.
"Nghh-- Saka..." Evan memejamkan matanya, alisnya mengernyit dan bibirnya digigit, "cantik." Pipi Evan memerah, kulit putihnya kontras dengan bibir ranum pink kemerahan yang sedang digigit dan dijilat berkali-kali itu. Saka serius saat dia mau pelan-pelan, penisnya melesak pelan tapi pasti, setengah masuk dan rasanya melayang. Dia menahan jiwanya untuk melayang sebelum Evan juga merasa yang sama.
"Hunghh gede banget," Evan melirik ke bawah, persatuan tubuh mereka yang malah membuatnya makin mengetat. "Van, jangan ketatin banget, nyeri," gumam Saka, tangan Saka mengelus kepala Evan saat Evan kembali rileks, "gue gerak, ya?"
Evan mendesah panjang, licinnya lubrikan membuat gerakan Saka tak terlalu sakit, tapi rasanya terlalu geli di dalam. Tangan Evan reflek mencengkeram lengan Saka, penis Saka makin lancar keluar masuk, sesekali menggesek prostatnya walau sekilas.
"Sshh-- Evan... Ahh-" Saka, mencengkram pinggang Evan dengan satu tangannya, sementara tangan satunya untuk bertumpu. Saka kembali menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Evan, dia menggeram rendah merasakan penisnya diremas dan dipijat. Gerakan pinggul Saka pelan tapi hentakannya dalam, Evan merengek terus karenanya.
"Hmhh cepetan, ahh jangan pelan-pelan," suara Evan meninggi dan merengek, tangannya memeluk Saka erat. Pinggulnya dia naikkan sedikit agar Saka bisa menyentuh titik dalamnya, memenuhi lubangnya dengan besarnya.
"Bentar, gue gak mau lo kesakitan," Saka bangkit untuk melumuri penisnya dengan lubrikan lagi sebelum mendorong paha Evan agar bagian bawahnya naik, gempurannya kali ini cepat dan penuh hentakan. "Ahh-!! Ahnn~ Sakaa-!" Evan mencengkeram bantal begitu Saka menggempurnya dengan tempo kencang. Bunyi tamparan kulit langsung menggema di kamar kost Evan, ranjang berdecit dan kayunya sedikit membentur tembok.
Tangan Evan mencengkeram paha Saka, menepuknya karena temponya terlalu cepat, "heunghh pelan-pelan!" Pekiknya, Evan mendesah sampai suaranya makin tinggi, lubangnya dirojok tanpa ampun tapi dia menikmatinya terlalu berlebihan, ucapan pelan-pelan itu cuma pengalihan isu kalau dia mau lebih. Karena sekarang dadanya membusung dan tangannya mengocok penisnya sendiri seraya Saka menghentakkan penisnya dalam-dalam.
"Aanghh--! Hunghh Sakaa!! Ahh- Saka! Sakaahh--" Evan mendesahkan nama Saka macam nyanyian pujian pada Tuhan, begitu memelas dan memuji cara mainnya. Saka di atasnya tersenyum senang, senyum yang manis, bukan seperti Hesa yang puas karena dia terlalu rapuh saat digempur.
"Evan... Lo cantik banget," Saka mengelus perut Evan dan memelankan temponya, penisnya kini perlahan keluar masuk, jadi bisa merasakan ketat dan pijatannya anal Evan lebih detil. Nafas Evan memburu, dadanya naik turun dan wajahnya lelah karena nafsu yang membendung.
"Kenapa pelan? Lagii, yang kenceng," tangan Evan mengocok penisnya sendiri dengan cepat, bunyinya sudah becek dan pre-cum menetes terus, Saka mencondongkan tubuhnya dan menyibak rambut Evan dari dahinya. Dahi yang basah keringat itu dikecup lembut, "sabar, jangan buru-buru," gumamnya. Dahi mereka menempel sekarang, hidung Saka yang tajam itu menusuk milik Evan yang bulat lucu. "gue suka lihat lo dripping gini, manis banget," lanjut Saka, hentakannya dalam dan tepat sasaran, "ahnn-!" Lolongan panjang Evan tanda kalau dia sudah sampai, penis yang dikocok itu langsung mengeluarkan sperma putihnya ke perut rata Evan. Saka yang menyaksikan cuma tertawa gemas, pipi Evan dikecup sekilas.
"Hnhh... Saka..." Evan melenguh pelan, tangannya penuh sperma dan dia menjilatnya tanpa malu. Saka bangkit dan mengeluarkan penisnya, dia melumuri lagi penisnya dengan lubrikan, dia belum selesai, cuma membiarkan Evan tenang sejenak.
"Van, gue mau ganti posisi. Gue mau coba posisi itu... Apa namanya? Doggy, ya?" Saka mengelus pinggang Evan sambil bertanya, dia ketagihan mengelus pinggang ramping itu. Cantik sekali karena kaus yang dikenakan Evan terlihat seperti crop top karena disingkap, memberikan kesan indah di lekuknya.
Evan yang sudah tenang dan stabil cuma menatap Saka, dia berfikir tentang apa yang tak ia sukai barusan, tentang Saka yang suka menunda-nunda. Tangannya bertumpu seraya dia bangkit dan berbalik, kali ini tengkurap sebelum pinggangnya menungging naik.
Saka bersiul saat Evan menungging tinggi di depan wajahnya, tangannya langsung meremas pipi pantatnya dan mengusap lubang Evan dengan ibu jarinya. "I got my peaches out in georgia~" Saka bernyanyi selagi tangannya kini bermain di bongkahan pantat bulat Evan, Evan terkekeh kecil, dia sengaja menggoyangkan pantatnya naik turun lari dari genggaman tangan Saka.
PLAK!
Tamparan langsung melayang ke pantat mulus itu, pipi pantat Evan bergetar lucu saat bertemu telapak Saka. "Nakal, lari-lari gitu, diem Van, gue mau gigit bakpao rasa strawberry," Saka mengelus pantat itu sebelum mengecup dan menggigit kecil. Evan menggigit bibir bawahnya, menahan tawa gemas, Saka memang suka bercanda, sih. Tapi masa di saat begini dia malah bercanda jelek gini.
"Mhnn- Saka ih!" Evan menyembunyikan wajahnya di bantal, Saka di belakang cuma tertawa kecil, dia masih gemas menggigit sampai sedikit berbekas. Tangannya mulai jahil saat gigitan gemas itu berubah jadi gigitan menggoda, elusan makin naik dari paha ke paha dalam Evan, sementara lidah Saka menyusuri sekitar lubang Evan, benar rasanya strawberry, manis. Tangan Saka mengocok penis Evan yang menggantung bebas, pelan bergerak selagi dia menggoda lubang Evan yang berkedut minta perhatian.
"Nghh Saka... Jangan godain terus," rengek Evan, pantatnya digoyang lagi, dia mau dirojok lagi seperti tadi, bukan digodai begini. Penisnya kembali tegang begitu jari Saka mengelus lubang uretranya, cairan bening kembali menetes dan membasahi jari serta sprei.
"Evan-- lo manis banget," puji Saka, pujian yang tak berguna karena Evan terlalu realistis, "itu karena lubrikan gue, bodoh! Buruan~!" Evan balik menggoda Saka dengan mengedutkan lubangnya, Saka menampar pintu anal itu dengan jarinya, "kedut-kedut gitu, kayak memek aja," Saka melepas stimulasinya di penis Evan dan kini memposisikan dirinya.
"Bangsat, mulut lo kayak gak sekolah ngatain lubang gue memek," Evan memutar matanya malas, pinggangnya ditekan agar melengkung sampai pantatnya menukik tinggi, posisi yang binal pokoknya. Tubuh atas Evan menyentuh kasur dan Saka yang badannya tinggi sangat kontras dengan badan Evan yang lebih kecil sedikit.
"Gue masukin lagi, ya? Mau cepet atau pelan?" Saka mendorong masuk penisnya, lenguhan manja kembali terdengar, Evan menjawab dengan suara manisnya, "yang cepet, mau yang cepet." Saka menindih tubuh Evan, penisnya masuk lebih dalam di posisi ini. Saka melenguh rendah, dia menaruh dahinya di punggung Evan, satu tangannya menyelip ke dalam kaus dan mengusap punggung Evan seraya dia bergerak maju mundur.
Desahan Evan dibungkam bantal, cuma lenguhan rendah yang terdengar, tangannya erat mencengkeram yang bisa digapai. "hnghh--" Evan berjengit saat Saka menghentakkan pinggulnya, pahanya yang sedikit rapat membuatnya bisa merasakan tiap senti penis Saka di dalam.
"Hnghh Sakahh~" Evan menoleh sedikit ke belakang, Saka membalas panggilannya dengan gumaman lembut, dada Saka menempel pada punggungnya, tangannya yang meremas bantal digenggam Saka erat. "Kenapa, cantik? Enak, ya?" Ujar Saka dengan kurang ajarnya di telinga Evan, Evan mengangguk pelan, matanya sayu dan mulutnya terbuka untuk mendesahkan nama Saka tanpa lanjutan kata koheren.
"Hhinghh Sakaa-!" Evan meremat jemari Saka, tubuhnya terus tersentak dan nikmat makin menjalar, ujung kakinya menekuk saat prostatnya lagi-lagi digempur. "Sshh Evan, sempit banget," Saka sengaja memelankan temponya saat dia hampir keluar. Evan di bawahnya sudah lemah, penisnya bergesek pada kasur, sudah basah dan siap menyembur lagi kalau tempo Saka brutal.
"Sakaa, Evan mau keluar lagi, cepetinn--" Evan merengek penuh permohonan ampun dan belas kasih dari Saka yang yang membalas dengan gempuran cepatnya, suara kulit mereka benar-benar persis video Twitter yang sering mereka tonton di kamar masing-masing.
"Arghh Evan... Fuck you, Evan," jangan lagi tidur sama Hesa itu," genggaman tangan Saka mengerat di jari Evan, Evan cuma mengangguk, bantalnya sudah basah karena air mata dan salivanya sendiri. Tubuhnya terus tersentak, paha dan pantatnya pasti merah.
Plok plok plok bunyinya begitu kencang, juga desahan mereka, penghuni kost lain pasti akan menegurnya habis ini. Tapi Evan cuma mementingkan orgasmenya, penisnya yang tergesek sprei sudah hampir keluar kalau Saka tak mengeluarkan penisnya tiba-tiba dan membalikkan tubuhnya lagi.
"Gue mau lihat muka lo," gumam Saka, tanpa menunggu ucapan Evan, dia langsung menghujam penisnya ke lubang Evan. "Akh--! Ahh! Saka!! Sakaa, anjinghh!!" Tubuh Evan langsung tersentak kembali, bantal sudah berantakan di atas kepalanya, keringat sudah membasahi tubuhnya padahal AC sudah paling dingin.
Saka di depannya begitu gagah menggagahinya, ototnya dan lengan besar itu yang menahan pahanya, sialan, Evan makin dekat. Saka lebih-lebih dari Hesa, bagaimana dia bisa membuatnya malu tiba-tiba saat disetubuhi, entah kenapa dadanya berdegup kencang saat Evan sadar wajah Saka yang keenakan begitu erotis dan jantan.
"Ahh bangsat!" Evan mengumpat dan menutup wajahnya, malu sekali padahal dia setengah telanjang dan tengah dihancurkan.
Saka langsung protes, "Jangan tutup," pintanya dengan suara lembut. Tapi Evan merengek dan tetap menutup wajahnya dengan tangannya, Saka terkekeh gemas, lutut Evan dikecupnya dan dia menghentakkan penisnya dalam-dalam untuk menggoda yang di bawah.
"Evan~ jangan ditutup dong mukanya, gue mau lihat muka cantik lo ini," telunjuk Saka mengetuk buku tangan Evan layaknya pintu. "Knock knock, show me your pretty face or I'll stop," Saka mengatakan ancaman itu dengan suara terlembut yang pernah Evan dengar. Bukannya tunduk, dia malah tersenyum salting di balik tangannya.
"Saka! Bisa gak sih gak gemes gini?! Kita lagi ngentot, anjing!" Evan memekik sambil menepuk pipi Saka, menampar pelan niatnya. Saka pura-pura kaget, pinggulnya sudah berhenti sepenuhnya, "lho? Gue gak ada niat ngelucu tahu! Emang begini dari lahir," dia tertawa di ujung kalimat, tawa yang membuat Evan merona di pipi. "Ck, udah ah! Lanjutin," Evan menyentuh otot perut Saka dan menyusurinya sampai ke ujung pubis Saka dengan jarinya, niat menggoda dan mengembalikan mood tadi.
"Hmm," Saka menggumam, dia sempat-sempatnya mengusak kepala Evan dan kembali menghentakkan pinggulnya, penisnya keluar masuk dengan tempo yang stabil, "mhnn- Saka..." Evan memanggilnya lembut, satu tangan Saka bertaut di tangan Evan, satunya lagi meraih penis Evan dan mengocoknya cepat.
"Mau keluar, cantik? Enak, ya?" Gempuran Saka makin cepat demi mengantar Evan ke puncaknya sekalian mengejar puncaknya juga. Evan mengangguk, kepala penisnya diusap oleh ibu jari Saka, uretranya terus mengeluarkan pre-cum bening sementara analnya mengetat, "gila... Enak banget," Evan terlalu keenakan untuk mengucap dengan mulutnya. Saka dengan brengseknya berucap seakan tahu kata hatinya, "ngomong dong, kalau enak. Pake mulutnya, cantik."
Evan menggila, dia kesal tapi nikmat yang diberi Saka lebih berkuasa. "Enak, Saka. Enak banget, jangan berhenti, gue mau keluar, hhunghh," Evan meremat genggaman tangan Saka, penisnya makin diremas dan dimainkan, lubangnya terus digempur, puncaknya makin dekat dan sedetik kemudian pinggulnya terangkat dan lolongan panjang bernada tinggi memenuhi kamar.
Saka juga di puncak, dia menghentak dalam dan menggeram rendah, Saka memeluk tubuh Evan saat dia menyemburkan spermanya di dalam latex itu. Evan terlalu melayang untuk bisa mendengar ucapan Saka yang membenamkan wajah di dadanya, terdengar seperti "gue sayang lo," tapi Evan tak yakin, kepalanya pening karena penisnya berdenyut dan pahanya bergetar hebat akibat orgasmenya.
Kesadaran Evan hilang, dia terlelap begitu orgasmenya selesai. Saka? Sibuk membersihkan tubuh Evan dari lubrikan licin tadi, tak lupa membuang kondom dan bungkusnya. Saat selesai dia kembali bermain HP seakan tak terjadi apa-apa, bedanya dia tersenyum tipis sambil sesekali melirik Evan yang masih terlelap.
Hari sudah siang saat Evan bangun, dia mengerjapkan mata dan melirik sampingnya yang terasa terisi badan besar yang memakan tempat. Saka tertidur di sampingnya dengan HPnya yang masih menyala, ketiduran saat scroll tiktok rupanya. Dia mengerang pelan, tubuh bawahnya sakit tapi tak sesakit waktu bersama Hesa tentunya, Saka membuat cara pandangnya soal seks berubah mungkin, sekarang dia masih mau yang seperti tadi, penuh senyum dan kelembutan. Dia bisa tertawa dan dibuat tertawa, kupu-kupu di perutnya berterbangan saat kenyataannya dia sedang disetubuhi, seperti jatuh cinta.
Evan mendengus geli, "ah, cuma ngentot doang," bukan momen penting, mungkin habis ini dia bisa FWB-an dengan Saka. Mungkin saja, kalau Evan tidak menatap wajah Saka yang terlelap dan mengecup bibirnya dengan pelan. Detik itu juga dia merasakan jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, semua itu karena omongan kurang ajar Saka soal "tidur" dengan mantannya.
"Can I have you?"
© Capriwoodz
