Actions

Work Header

Bebas

Summary:

20 tahun terkungkung dalam permainan Fatui, menjadi budak dan kaki tangan mereka.

Pada akhirnya, ia telah bebas.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Ajax, bangun." sebuah suara bariton memanggil dengan nada rendah. Seorang pria bersurai ginger mengerjap, menyibak mata birunya yang kehilangan cahaya. Sinar matahari pagi menelisik masuk melalui celah tirai, dan manik biru miliknya refleks memicing, mengecilkan pupil. Beberapa bulir keringat menghiasi wajah tampannya, dan keningnya berkerut.

Sekelilingnya kabur, sebelum perlahan-lahan menampilkan fokus. Sesosok pria bersurai coklat gelap berdiri di hadapannya, memegang sisi tempat tidur. Wajahnya teduh. Tak lama bagi sang ginger untuk memproses siapa yang berdiri di hadapannya.

"Zhongli-sensei...?"

Sosok di depannya memerhatikan bagaimana wajah tersebut pucat pasi, penuh keringat. Tampak panik.

"Mimpi buruk itu lagi?" sang surai coklat yang dipanggil sebagai Zhongli menyapa, terdapat kekhawatiran di gurat mukanya. Si ginger, Ajax, kontan mengelap peluh yang membasahi muka, kemudian menggelengkan kepala.

"... kurasa sulit untuk tidak bermimpi setelah semua yang terjadi." ujarnya, mengeluarkan tawa yang memaksa. Zhongli hanya terdiam sembari menatap ke arah sang surai ginger, kemudian menepuk bahunya dengan lembut, membuat Ajax menoleh balik kepadanya.

"Saya sudah membuatkan sarapan."

Ajax mengerjap, kemudian menyibak selimut yang menutupi badannya. "Yah, sayang sekali aku tidak bisa membalas kebaikanmu hari ini."

"Kau sudah membantu banyak sebelum-sebelumnya." balas Zhongli sembari memerhatikan Ajax yang turun dari tempat tidur. "Saya tunggu di luar, dan kita bisa sarapan bersama, hm?"

Zhongli pergi keluar, meninggalkan Ajax sendiri dengan pemikirannya.

Selepas berkemas, sang pria rambut ginger, mengintip keluar jendela. Cakrawala pagi adalah yang membentang di luar sana, dengan sinar mentari yang menyapa dan membelai surai dan pipinya, hangat. Liyue tampak terang benderang, penuh cahaya dan keramahan. Begitu berbeda dengan tempat asalnya, Snezhnaya.

Tempat yang membuatnya berubah menjadi mesin pembunuh.

Mimpi buruk yang baru dialaminya masih terasa nyata. Tentu saja, karena itu bukan sekadar mimpi buruk, melainkan peristiwa yang telah terjadi di masa lampau.

Masa di mana ia bergerak aktif sebagai Harbinger di bawah organisasi Fatui, sebagai pisau dan panah mereka.

Masa di mana ia bergerak menjalankan misi "mulia" yang diberikan Sang Tsaritsa untuk "membebaskan" dunia.
.
"T-tolong, jangan sakiti saya..."

Kata-kata itu terputar kembali di kepalanya.

"S-saya mohon. Saya janji saya akan bilang tidak melihat apa-apa."

Pria bersurai kuning dengan mata hijau itu memelas. Dan apa yang Ajax lakukan?

Memberinya belas kasih ala Harbinger. Mengirim pria Mondstadt itu ke alam akhirat.
.
Sampai sekarang pun, Ajax masih ingat suara tembakan yang ia lesatkan, dan pria tak berdosa yang terkapar jatuh di hadapannya.
.
Dan banyak peristiwa lain semisal itu. Semuanya masih terpatri dengan segar di kepala. Sebab, bagaimana ia bisa lupa?

Bahkan di saat Ajax tak ingin membunuh pun, ia harus melakukannya.

Tangannya terkepal, penuh amarah, namun tak bisa berbuat apa-apa.
.
"Kode itu seperti sihir."

Zhongli berkata sembari menaruh cangkir tehnya di atas meja. Mentari cerah menyapa, udara begitu terik, dan wajah sang Sensei terlihat bercahaya. Ajax sedikit memicing ketika menoleh ke arahnya, masih belum terbiasa dengan cahaya matahari yang begitu intens menyinari Liyue. "Ia akan membuatmu membunuh apa saja dalam range targetmu."

"Aku tahu, dan kau tak perlu mengingatkanku." Ajax menjawab dengan getir. Tangannya yang sedaritadi ditangkupkan di meja bergeser pelan. "Proyek Harbinger ini membuatku menjadi mesin pembunuh bagi mereka. Aku punya kekuatan super dan dapat melakukan apa saja, tapi bagi Fatui, Harbinger hanyalah boneka."

Pria berambut ginger itu menarik napas sejenak, sebelum melanjutkan.

"Aku... hanya khawatir akan melukai orang yang sesungguhnya tak perlu kulukai."

Seperti pria Mondstadt itu, yang berada di tempat yang salah, di waktu yang salah. Atau seperti beberapa korban lain yang memiliki nasib yang sama.

Atau seperti sahabat semasa kecilnya yang harus ia bunuh karena bertentangan dengan misi Fatui.

Ajax suka bertarung dan menjadi kuat. Tapi jika ia harus membunuh orang-orang yang tak memiliki salah apa-apa? Sejujurnya, ia pun tak menikmatinya.

Zhongli sedari tadi hanya mendengarkan, namun setelah Ajax tak menunjukkan keinginan untuk bicara lagi, ia berujar.

"Bagaimana kalau saya membantumu menyembuhkan diri, Ajax?"

Manik biru milik sang ginger melebar. Ia mencari-cari ekspresi bercanda atau mengejek dari Zhongli, namun yang ia temui hanyalah keseriusan. Ajax mengerutkan kening, nyaris tertawa.

"Ingin membantu pun, mau bagaimana caranya? Kau hanyalah konsultan dari Wangsheng, bukan?"

"Konsultan, ya, tapi saya punya akses ke bidang medis pula." seulas senyum menenangkan dipasang Zhongli. "Jangan khawatir. Saya akan pastikan terapimu berjalan lancar, dan kau tidak perlu mengingat mimpi buruk lagi."

Ajax terperangah, kala pria bersurai coklat itu mengulurkan tangannya. Sama seperti ia pertama kali mengulurkan tangan kepada Ajax, memberinya rumah dan makanan, setelah Fatui musnah.

Apakah benar ia bisa pergi meninggalkan mimpi buruk yang telah diguratnya dalam alam bawah sadar?
.
"Longing."

Ajax meneguk ludah mendengar kode yang diucapkan Zhongli. Langit memerah karena matahari sore, dan mendung karena awan kumulonimbus menggantung. Jantungnya bergemuruh bersama dengan tiupan angin penanda hari akan hujan.

Sudahkah ia terbebas dari mimpi buruk ini?

"Rusted."

Zhongli bertutur pelan sembari mengitari Ajax. Pria berambut ginger itu mengepalkan tangan, mencegah dirinya melakukan hal yang tak diinginkan.

Tidak semudah itu memecahkan kode yang terpatri lama dalam kepalanya, bukan?

"Seventeen."

Lidah Ajax kelu, tak mampu menguntai kata. Hanya diam mendengarkan gumaman Zhongli yang tengah mengetes keberhasilannya memusnahkan kode-kode tersebut dari kepala Ajax.

"Daybreak."

Ajax memejamkan iris birunya, membiarkan Zhongli terus mengitari sambil mengawasinya dengan sepasang manik emas.

"Furnace. Nine. Benign."

Kali ini, ia tidak merasakan apa-apa

"Homecoming."

Kali ini, ia tidak merasakan ada keinginan untuk membunuh.

"One."

Desau angin menyapa pipinya, membelai lembut.

"Freight Car."

Semesta yang tenang, meski ditutupi awan kelabu, seolah sedang memberinya selamat.

"Soldier?"

Sebulir air mata menuruni pipi Ajax. Perlahan, ia menyibak kelopak matanya, dan mendapati Zhongli yang memandang ke arahnya dengan mimik serius.

Kemudian, perlahan, ia mengembangkan senyum. Sebuah senyum yang menenangkan.

Dan untuk pertama kalinya, Ajax merasa sangat lega, seperti ada beban yang diangkat darinya.

Zhongli menganggukkan kepala, membiarkan Ajax yang terisak dalam diam. Berkata,

"Selamat, Ajax."

20 tahun terkungkung dalam permainan Fatui, menjadi budak dan kaki tangan mereka, mengikuti segala perintah tanpa terkecuali. Berhenti menjadi diri sendiri.

Pada akhirnya, ia telah bebas.

Notes:

aaa emmmm....

ini diambil dari scene tfaws, bagian white wolf disembuhin di wakanda.

saya mau ngomong apalagi ya wkwk

intinya terima kasih sudah membaca, dan mohon maaf kalau tidak terlalu sesuai canon marvel. I might miss some details lmao.

comment/kudo sangat diapresiasi