Actions

Work Header

O ilios

Summary:

Pernikahan di antara sang dewi dan sang raja yang mortal, membuahkan hasil seorang anak laki-laki; yang mewarisi mata dewi dan tubuh manusia fana. Aku, Hyacinthus. Tapi hampir semua memanggil ku dengan panggilan Hyacinth. Aku terlahir dalam kondisi yang baik tanpa cacat sedikit pun. Orang-orang mengatakan; aku adalah anak yang sempurna, melihat fisik ku yang prima. Beranjak dewasa panggilan —atau mungkin bisa disebut pujian, itu tak luput diberikan padaku dari para rakyat, tamu, dan staff kerajaan, bahkan beberapa nymph. Aku tidak pernah termakan semua omong kosong mereka, perihal sematan kata 'sempurna' itu. Menurutku, bahkan dewa seperti ibuku saja tidaklah sempurna. Sampai pada suatu siang yang lebih terik dari hari-hari lain, aku bertemu dengan tuan pemilik mata se biru biji aquamarine. Semenjak hari itu, aku tau bahwa sebuah definisi kesempurnaan —yang sesuai dengan akal ku, itu nyata dan berwujud. Ialah yang ter-indah, ialah yang ter-agung; Apollo.

Notes:

Hi we meet here!! Kalau kalian sudah pernah bertemu dengan kisah ini di twitter @cremejrulee, dengan cover JN & RJ beserta setangkai bunga lembayung di tengahnya. Ya! itu adalah kisah yang sama. cerita ini aku unggah ulang disini. karena aku sedang berlatih, dan mengulik fitur-fitur di AO3. Kalau kalian belum pernah baca cerita ini sebelumnya di twitter atau dimanapun, I would like to say, WELCOME TO THE STORY, AND ENJOY!

(It's a histroical fic. So the whole big pictures are highly inspired by the true event. The plot n everything are based on my imagination and my deep diving in greek myth websites and books. It's very limited source bout these two..)

If you need a music to accompany, please checkout my playlist dedicated to this fic: https://open.spotify.com/playlist/1gTDJLu9N9XbscrhZ9y89e?si=OpQtV467Rz2qooQZKKbIiw&utm_source=copy-link (highly recommended)

Happy reading!

Work Text:

Glosarium

  • Muses: Muses adalah kelompok dewi yang melambangkan seni. Mereka dianggap sebagai sumber ilmu pengetahuan dan inspirasi seni.
  • Nymph: Nymph adalah salah satu jenis makhluk legendaris yang diasosiasikan dengan lokasi atau tempat tertentu. Mereka diidentikkan dengan peri, atau bidadari yang tinggal di alam bebas.
  • Mortal: Makhluk hidup (manusia, hewan, demigod, nymph; punya jangka hidup lebih lama dari mortal lain)
  • Immortal: Makhluk abadi (Dewa)
  • Olympians : 12 dewa-dewi utama Yunani yang tinggal di puncak Gunung Olimpus.
  • Ichor: darah para dewa
  • Ambrosia: makanan dewa, belum ada yang benar-benar yakin bentuknya seperti apa. sumber bilang, kayak salep gitu.
  • Nektar: makanan dewa. Kalau ini kayak madu gitu, rasanya manis, dan warnanya emas. Selain ambrosia dan nektar, dewa juga minum wine.

Musim semi adalah musim yang paling ku nantikan setiap tahun. Walaupun biasanya tidak berlangsung lama, tapi aku amat menikmati hari-hari di musim peralihan itu. Setelah sebelumnya selama berbulan-bulan meringkuk dibalik helaian kulit binatang, berharap menghalau dingin yang berusaha menyerang kulit. Aku tidak terlalu suka kulitku tertutup, dan atau terbalut oleh kain-kain hewan itu. Bukan saja karena terasa berat dan tidak nyaman, melainkan lapisan-lapisan itu menutupi kulitku yang dipuja oleh seluruh rakyat, bahkan para nymph dan dewa. Aku suka menampilkan kulit yang di wariskan oleh ibu.

Aku terlahir dari sepasang dewi dan raja Sparta yang mortal. Laki-laki itu bernama, Pierus, atau biasa disebut dengan raja Amyclae dari Sparta. Laki-laki itu tidak tampan. Tubuhnya kini sudah membengkak, akibat terlalu banyak mengkonsumsi anggur, dan bermalas-malasan. Padahal sebelumnya ia memiliki tubuh yang sangat tegap dan gagah, karena ia adalah salah satu prajurit perang terbaik. Wajahnya dipenuhi dengan jenggot tebal sewarna rambut jagung. Aku sampai detik ini selalu mengasihani ibu, yang notabene seorang dewi atau biasa disebut the muse. Ia bernama Clio, dan dapat dideskripsikan sebagai wanita cantik, tinggi menjulang dengan rambut hitam yang panjang. Tubuhnya berkilau berwarna coklat keemasan.

Ibuku adalah dewi sejarah. Ia cakap dan cerdas, serta memiliki wawasan yang luas akan segala hal. Aku tidak akan menyebutnya sempurna. Karena memang tidak. Kekurangannya cukup banyak. Tapi beberapa hal yang paling meresahkan dan merugikan orang lain, bahkan dirinya sendiri, adalah; angkuh dan bacar mulut. Ia selalu merasa dirinya adalah makhluk yang paling pintar dan paling tahu segalanya. Ia dapat dengan mudah merendahkan para manusia fana, dan nymph yang bukan keturunan Zeus. Tidak hanya ibuku, seluruh saudaranya yang merupakan perkumpulan the nine muses pun sama. Angkuh.

Karena keangkuhan ibuku itulah, yang membuatnya menikahi ayahku yang notabene hanyalah manusia fana. Permasalahan sepele. Hanya karena; ia mencemooh hubungan Aphrodite dan Adonis, si mortal kekasih yang paling dicinta oleh dewi kecantikan dan cinta. Aphrodite marah dan mengutuknya untuk mencintai seorang mortal juga. Sayangnya, laki-laki itu adalah ayahku. Jika ingin disandingkan dengan Adonis, tentu sejauh puncak gunung olympus, dan saluran air dibawah kastil kami.

Pernikahan di antara dewi dan sang raja itu, membuahkan hasil. Yaitu seorang anak laki-laki yang mewarisi mata sang dewi dan tubuh manusia fana sang raja. Aku, Hyacinthus. Tapi hampir semua yang mengenalku memanggil dengan, Hyacinth. Aku terlahir dalam kondisi yang baik tanpa cacat. Orang-orang mengatakan; aku anak yang sempurna, melihat fisik ku yang prima. Beranjak dewasa panggilan —atau mungkin bisa disebut pujian, itu tak luput diberikan padaku dari para rakyat, tamu, dan staff kerajaan, bahkan beberapa nymph.

Setiap pagi, aku mematut diri di depan cermin, dan berpikir; apa yang mereka lihat dariku? Kesempurnaan semacam apa? Apa karena, proporsi wajah ku yang bisa dikategorikan sebagai rasio emas? Atau karena rambut hitam kecoklatan yang mengkilap? Mungkinkah karena bola mata yang berwarna violet dan sebening air? Atau karena tubuh yang tegap dan langsing, dibalut dengan kulit-kulit halus, warisan dari ibuku?

Aku tidak tahu indikator untuk mencapai sebuah kata sempurna seperti apa. Tapi jika mereka mengatakan aku adalah sebuah perwujudan dari kata itu. Sepertinya mereka salah. Karena bahkan dewa saja tidak ada yang sempurna, apalagi aku yang hanyalah anak setengah dewa?

 

Kehidupan sebagai pangeran normal saja. Aku bangun di pagi hari, sarapan bersama ayah dan saudara-saudaraku. Ibu tidak tinggal di kastil ini. Ia tinggal di puncak gunung Helicon, atau terkadang di puncak gunung Olympus, bersama dengan kedelapan saudaranya.

Menurutnya berasosiasi dengan manusia adalah hal rendahan. Tapi itu tidak menjadikannya ibu yang buruk bagiku. Ia sering mengunjungiku. Memberikan banyak pengetahuan baru, sehingga aku menjadi anak terpintar di kelas. Aku tidak bisa mengatakan itu sebuah kecurangan, karena aku tidak mencontek saat ujian. Melainkan hanya mendapatkan pelajaran tambahan dari sang dewi. Lagipula tidak ada yang akan keberatan dengan hasil itu. Bagaimanapun aku adalah pangeran, sang anak raja. Anak-anak lain tidak akan berani. Alih-alih iri dengan kepintaranku, mereka lebih sering memuja.

Setelah makan pagi, biasanya aku pergi berlatih di lapangan, bersama anak laki-laki lain. Biasanya kami berlatih fisik sampai datang jam makan siang. Bisa dikatakan kemampuanku untuk aktivitas fisik tidak terlalu cemerlang. Mungkin karena tubuhku tidak sebesar tubuh anak laki-laki lain. Tubuhku biarpun tegap, tapi otot-otot di kedua lenganku tidak sebesar Cynortus –kakakku dari istri lain sang raja, dia murni seorang manusia fana, tapi kekuatannya luar biasa. Ia sering membantu mengencangkan otot-otot dengan cara mengangkat bejana-bejana penuh dengan minyak.

Setelah makan siang biasanya aku berlatih ilmu lain di dalam sebuah ruangan, bersama seorang guru. Biasanya, pelajran yang diberikan setiap harinya berbeda-beda. Kadang belajar kesenian (musik, lukis, kerajinan, dan lain-lain), ilmu pengetahuan dan sejarah. Setelahnya, menjelang senja biasanyasudah tidak ada tugas apapun. Anak laki-laki lain berpikir aku akan mendapat kelas khusus kerajaan sebagai pangeran setiap sore, karena selalu tidak terlihat dimanapun di wilayah kastil. Padahal tidak. Aku sering menghabiskan waktu, sore hari di sungai Eurotas. Entah melakukan apa. Biasanya bersenandung sambil melemparkan batu ke dalam sungai.

 

Suatu hari ketika dirgantara mulai berubah warna dan memunculkan bias lembayung. Saat itu aku sedang asik meniup seruling –mengulang pelajaran yang ku dapatkan di siang harinya, di pinggir sungai Eurotas. Tiba-tiba terdengar suara hentakan kencang dari balik punggung. Sontak mengalihkan pandanganku, dari aliran sungai, ke belakang. Terlihat disana satu pohon ek besar bergoyang hebat. Mataku terbelalak kencang melihat fenomena itu. Bagaimana sebuah pohon berbatang tebal, bisa bergoyang begitu hebat dengan sendirinya? Membuat ratusan helaian dedaunan jatuh ke tanah.

Aku mendekati pohon itu, berusaha mencari penyebab fenomena. Kemudian dapat melihat bulu-bulu halus seperti milik burung merpati di balik batang pohon. Ku beranikan diri menghampiri, walau jantung berdegup kencang. Aku sejujurnya ketakutan, karena makhluk ini mungkin saja sesosok monster utusan titan. Beberapa detik setelahnya, kutemukan pemandangan lain.

Bukanlah monster, melainkan sosok dewa. Rambutnya sedikit ikal, gelap dan panjang menutupi kuping. Kulitnya pucat sewarna awan. Dan di punggungnya terdapat sayap megah berwarna putih, seperti merpati. Aku menanyakan apa yang terjadi padanya. Ia terkesiap, saat aku mengajaknya berbicara. Ia berkata; ia sedang terbang rendah, dalam perjalanan ke hutan, untuk menyampaikan pesan kepada nymph hutan, dan tak sengaja menabrak pohon besar ini.

Setelahnya ku ketahui dewa itu bernama Zephyrus. Ia adalah dewa angin barat. Itu kedua kalinya aku bertemu dengan dewa –setelah ibuku. Dapat ku rasakan kulitnya, dingin dan keras, ketika aku membantunya berdiri. Dia bukan dewa yang pandai berbicara sepertinya. Aku kesulitan berbicara dengannya. Padahal aku sangat penasaran dan ingin berbicara banyak dengan dewa. Kesempatan yang jarang ditemui. Setelahnya ia berpamitan, dan berlalu ke hutan.

Setelah kejadian itu, aku beberapa kali bertemu dengan Zephyr, panggilannya. Ia sering terbang rendah di area sungai Eurotas. Jikalau ia sedang terburu-buru, ia hanya akan melambaikan tangan padaku dari atas. Tapi jika ia sedang tidak melakukan tugas, ia sering juga mengunjungiku. Ia sering mengajak terbang rendah, mengitari Amyclae, dan menikmati pemandangan sore di puncak bukit.

Dia masih sulit diajak berbicara. Ia akan menjawab pertanyaanku dengan satu atau dua kata saja. Setelah itu ia akan diam. Untung saja aku mewarisi sifat ibu; sikap ingin tahu yang tinggi. Maka akan ku lemparkan pertanyaan sebanyak mungkin padanya. Karena jujur saja kehidupan para dewa-dewi sangat menyita atensi. Aku selalu ingin tahu apa yang mereka lakukan sehari-hari.

Walaupun ibuku memberitahu perihal kedewaannya. Tapi aku yakin, setiap dewa-dewi memiliki kehidupan yang berbeda-beda. Tidak. Aku tidak sesering itu bertemu Zephyr. Ia sering ditugaskan di daerah barat sana. Hanya  beberapa kali saja, dengan hitungan jari, dalam setahun ini. Paling sering ku temui ia saat musim semi. Ia tidak pernah kutemukan di musim dingin. Aku menanyakan kemana dia saat musim dingin. Ia hanya menjawab, jauh.

Sama seperti dewa-dewi lain, Zephyr juga sedikit angkuh. Ia enggan berdekatan dengan mortal lain. Jika ia merasa ada mortal yang akan mendekat ke radarnya, ia akan menghembuskan angin yang kencang dari mulutnya, untuk membuat mereka pergi. Aku tidak tahu mengapa ia mau bergaul denganku. Padahal aku pun sama mortal.

 

Suatu hari di musim panas, umurku tujuh belas tahun kala itu. Ayah mengajakku ke pulau Delphi. Katanya ia perlu menghadap seorang pendeta disana. Dulu, saat aku masih berumur sepuluh, seingatku, ayah pernah berkunjung ke lokasi itu juga. Tidak tau pasti apa yang ia lakukan, tapi desas-desusnya, ia meminta peramalan dari sorang pythia —pendeta perempuan. Aku tidak banyak bertanya, karena tau ia tidak akan menjawabnya. Ia pasti akan mengatakan, ikut saja, dan itu akan membuatku mengikutinya kemanapun. Aku pikir sang raja menyukaiku. Secara tidak langsung ia selalu memilihku sebagai pendampingnya ke segala acara. Tapi ya, wajar memang. Kakak-kakakku sibuk mengurus militer. Hanya aku anak laki-laki nya yang bisa dibilang 'tidak terlalu sibuk'.

Butuh waktu lima hari perjalanan darat dan laut, untuk mencapai lokasi itu. Pulau itu sepi. Seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Hanya terdapat satu bangunan batu megah di tengah pulau itu. Berada di tengah bukit gundul. Sebuah kuil, dengan pilar-pilar batu putih besar, menjulang tinggi hampir menyerupai bangunan depan kastil kami di Sparta. Ayah memintaku menunggu di luar bersama dengan beberapa penjaga.

Aku anak yang aktif, dan enggan dengan aktivitas menunggu sesuatu yang tidak pasti dan tidak kunjung berakhir. Mungkin sudah lebih dari tiga jam aku menunggu di pekarangan kuil. Matahari di tengah musim panas hari itu tidak main-main dalam melakukan pekerjaannya. Dalam hati aku mengutuk sang dewa yang bertugas akan hal itu. Peluhku bercucuran dimana-mana. Tunik merah, sudah berubah warna menjadi warna anggur di bagian punggung, dibanjiri keringat.

Aku berkata pada para penjaga bahwa aku akan berkelana sesat, ke belakang kuil. Awalnya mereka melarang, dan memaksa untuk mengikuti kegiatan berkelanaku. Tapi aku bersikukuh menolaknya. Aku pikir, hanya sebentar, dan aku cukup kuat melawan serangan manusia lain, jika ada. Akhirnya karena aku juga punya kendali akan perintah, mereka tunduk pada perintahku, dan tetap berjaga di sekitar kuil.

Aku berjalan beberapa meter menjauh dari kuil itu. Mataku langsung terbelalak ketika menemukan sungai disana. Aku \ berlari kencang ke arah sungai itu. Kubayangkan segarnya air mengalir itu, menyapa tubuhku yang terbakar sinar sialan ini.

Tunikku ku lepaskan dan ku letakkan di atas batu besar di pinggir sungai. Aku yakin betul pulau ini tidak berpenghuni, selain siapapun yang berada di dalam kuil. Aku tidak menemukan bangunan, bahkan eksistensi manusia lain disana. Bahkan hewan pun tak kutemui. Maka aku tidak berpikir panjang untuk membuka tunik dan memperlihatkan tubuhku.

Aku berlari antusias memasuki sungai. Dingin menyapa kulit telapak kaki. Ah, segarnya, aku sudah mencelupkan seluruh tubuh ke dalam sungai. Airnya tidak terlalu dingin, tapi sangat cukup menyegarkan kulit yang mulai memerah. Kulitku bisa dikategorikan cerah, seperti warna gading. Percampuran warna kulit coklat keemasan milik ibu, dan kulit pucat milik ayah. Sehingga kulitku akan cepat memerah jika terpapar panas.

Beberapa menit aku menikmati momen untuk berendam di sungai itu dengan tenang, sampai suara gemericik muncul dari ujung liku sungai. Aku sontak menjadi awas, dan langsung memasang pertahanan untuk diriku sendiri. Ku perhatikan, tidak ada siapapun, tapi suaranya semakin terdengar jelas. Seperti suara orang sedang berenang.

Tak lama, sesuatu muncul dari liku sungai. Seekor angsa. Unggas putih yang cantik. Tidak hanya satu, tapi tiga. Angsa itu terlihat berbeda. Ukurannya besar, dua kali ukuran normal angsa yang pernah ku temui di danau dekat kastil. Bulu-bulunya pun berkilauan di bawah cahaya sang surya. Belum pernah seumur hidup melihat angsa yang secantik ini.

Aku mundur beberapa langkah. Lantas terhenti, saat sebuah kereta terlihat di belakang angsa. Ternyata angsa-angsa itu menarik sebuah kereta kencana. Kereta emas itu, cantik. Dipenuhi ukiran di setiap sisinya. Ini pertama kalinya aku melihat sebuah kereta ditarik oleh sekumpulan angsa. Selama ini yang aku lihat adalah, kuda, dan keledai yang menarik sebuah kereta. Seperti yang sering digunakan di tempat asalku. Dan juga kereta ini berlapis emas mencolok. Siapapun yang menaiki kereta ini memiliki kedudukan jauh dari ku apalagi ayahku. Tapi apa kedudukan tertinggi di bumi bagi seorang mortal, dari pada seorang raja? Sepertinya tidak ada. Kecuali, pemilik kereta kencana ini adalah sosok dewa.

Aku terperangah, dan tidak bisa melanjutkan langkahku. Rahangku terjatuh ke bawah melihat pemandangan itu. Kini angsa itu sudah berada lima langkah di depanku, dan mereka berhenti. Aku tidak bisa melihat siapa pengendara kereta kencana itu, karena terhalang tubuh angsa yang besar.

Setelahnya sebuah kaki kekar terulur, dari kereta. Terang. Kulitnya seterang cahaya sang surya. Tubuhnya mengikuti kemudian. Sesosok turun dari kereta kencana itu.

Aku tidak bisa bernafas dengan baik, ketika melihat sosok itu pada jarak ini. Selain kulitnya yang seterang cahaya sang surya, sosok itu memiliki tubuh tinggi, besar dan gagah. Garis-garis lekuk otot terpatri sempurna di lengannya. Sebuah jubah putih dengan aksen emas, menjuntai di tubuhnya, menutupi sebagian dada dan bagian bawahnya. Dapat ku lihat dada busung yang terlihat kokoh. Di pinggangnya terikat satu tas berisi anak panah sliver, dan pada punggungnya terdapat busur besar. Aku belum pernah melihat busur panah se gagah itu. Milik Militheus –Pemanah kerajaan, tidak seperti itu. Punyanya yang selama ini aku pikir yang paling keren, ternyata tidak ada apa-apanya dengan milik sosok ini.

Mataku mengetat ketika ia menoleh ke arahku. Matanya biru, mengilap seperti batu aquamarine. Cerah dan bening seperti laut Myrtoan, di siang hari di tengah musim panas. Rambutnya sewarna emas pucat, panjang, dan menutupi telinga. Di pucuk kepalanya, dihiasi mahkota hijau, yang terbuat dari daun salam. Kilauan berpendar-pendar di sekujur tubuhnya. Membuat netraku berbinar terkena pantulannya. Jikalau ada hal yang lebih terang dari sinar matahari diatas kepalaku saat itu, ialah sosok ini.

Aku yakin dengan seluruh hidupku, bahwa siapapun dia bukanlah manusia fana.

Dua bola biru itu membidik milikku yang masih tertawan di tempat. Kaki-kakiku rasanya seperti tertanam. Aku gelagapan, ditatap begitu. Apalagi kondisiku bisa dikatakan jauh dari kata ‘pantas’ untuk berhadapan dengan sosok ini. Tubuhku polos. Jika ia benar dewa, maka akan sangat tidak pantas bagiku seorang mortal berpenampilan seperti ini di hadapannya.

Ia berjalan perlahan ke arahku. Senyap. Tiada bebunyian apapun yang ia ciptakan. Padahal ia berjalan di atas sungai. Bahkan aku bergeser sediki, menciptakan banyak bebunyian. Tapi tidak sosok ini. Aku tidak bisa mendengar suara apapun darinya, baik nafas, langkah, apapun. Bahkan anak panah silver yang berada di pinggangnya pun tak membuat keributan. Kakiku bergetar. Aku tau kebanyakan dewa angkuh dan seringkali merendahkan. Aku takut diperlakukan dengan tidak berkeprimanusiaan oleh sosoknya. Ya, wajar saja, karena mereka adalah dewa, dan bukan manusia.

Jarak di antara kami semakin tandas. Kerlingan cahaya di tubuhnya semakin terang. Aku semakin jelas bisa melihat bagaimana bercahaya rambut dan kulitnya. Mata birunya tidak berkedip, menatap irisku. Membuatku ciut. Aku seketika menundukkan kepala. Aku yakin, dia adalah salah satu dewa terkuat di negeri ini. Aku yakin kedudukannya mungkin lebih tinggi dari dewa semacam Zephyr dan ibuku. Ibu pernah menceritakan tentang dua belas dewa inti, atau yang terkuat –Olympians. Ras terkuat. Tapi aku belum pernah melihat satupun dari mereka. Ibuku selalu bilang, bahwa ia tidak suka dengan para Olympians. Mereka adalah dewa-dewa angkuh dan bertindak sesuka hati. Aku tidak bisa menelan mentah-mentah informasi tersebut, karena buktinya ibuku sendiri adalah sosok dewa yang buruk.

“Siapa namamu?” Suara baritonnya, mengalun dengan lembut. Bahkan suaranya membuat hatiku bergetar. Penuh wibawa, namun indah.

“Maafkan aku, Tuan, berpenampilan tidak pantas seperti ini. Boleh persilahkanku untuk berpakaian terlebih dahulu, sebelum menyapamu?” Tuturku pelan, sambil sedikit membungkuk.

“Katakan saja, siapa namamu,” ucapnya lagi.

“Hyacinthus, putra Pierus, raja Amyclae, dari Sparta, Tuan,” kataku.

“Apa yang kau lakukan di pulauku?”

Mendengar pertanyaannya, aku membawa wajahku yang tertunduk untuk menghadapnya. Aku terkesiap. Aku tidak tahu pulau ini berkepemilikan. Berpikir bahwa pulau ini pulau tidak berpenghuni. Apa ia salah satu penghuni kuil?

“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya mendampingi raja untuk berkunjung ke kuil di depan.”

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Saya bosan, dan mencari mata air untuk sedikit menyegarkan diri dari terik matahari, dan membasuh keringat, Tuan. Maaf jika saya tidak sopan menerobos daerahmu.” Aku mulai ketakutan, ketika ia terus menanyakan perihal keberadaanku disana.

Seingatku, penglihatanku cukup baik dan jernih. Cahaya matahari dan cahaya yang diciptakan sosok di depan juga tidak membuatku sakit kepala, sampai memudarkan netraku. Tapi aku tidak yakin dengan pemandangan yang tersaji di depan kini. Ia tersenyum. Menenggelamkan kedua manik birunya. Apa yang ia lakukan? Mengapa ia tersenyum seperti itu pada makhluk fana sepertiku? Aku tidak pernah melihat dewa tersenyum begitu hangat. Bahkan senyuman ibu tidak pernah terlihat tulus dan tidak terasa hangat.

“Silahkan lanjutkan kegiatanmu, Hyacinthus. Maaf mengganggumu,” ucapnya setelah itu.

Aku terperangah, dan langsung menyangkal ucapannya. Aku berusaha meyakinkannya bahwa ia tidak mengganggu sama sekali, melainkan diriku lah yang seharusnya lebih tanggap dengan kondisi. Tapi ia hanya membalas dengan senyuman, lantas bergegas meninggalkan. Entah kemana.

 

Kami kembali ke kapal kami, setelah ayah menyelesaikan agendanya di dalam kuil. Mungkin hampir lima jam laki-laki itu di dalam sana, dan aku tidak mengetahui apapun apa yang ia lakukan di dalam sana. Aku tidak berani membawa diri untuk bertanya pada laki-laki tua itu. Walaupun rasa penasaran sudah memenuhi relungku. Tapi aku menahannya, karena ayah bukan lah raja yang sabar dan terbuka. Laki-laki itu jarang menceritakan kondisi kerajaan dan kondisinya padaku, ia selalu menjaga informasi sendirian. Ia tidak sungkan meneriakiku, ketika aku memaksanya. Setelah saat itu aku tidak berani lagi memaksanya.

Suara deburan ombak yang menabrak tubuh kapal kami, menjadi musik yang menemani malam itu. Aku bisa melihat bulan penuh, mengambang di gelapnya laut Myrtoan. Aku sedang bersandar pada pembatas kapal kayu, menikmati semilir angin malam, sambil menghirup bau garam dari lautan. Memori siang tadi kembali lagi, kala melihat pantulan cahaya bulan yang terang, seperti matanya, entah mata siapa. Aku tidak tau siapa sosok itu. Aku tidak berani berlama-lama menatap matanya. Apalagi menanyakan identitasnya.

Sungguh berbeda dengan pertemuanku dengan Zephyr, si dewa angin barat. Bahkan detik bertemu dewa bersayap itu, aku bisa langsung menyentuh tangannya yang sedingin embun. Tapi sosok dewa itu. Aku bahkan tergetar hanya dengan melihat rambut emasnya yang bergerak luwes saat terbawa angin. Aku berterima kasih pada sosok itu. Karena, malam-malam di perjalanan yang membosankan, akhirnya tidak terasa terlalu membosankan lagi. Karena pikiran tentangnya sukses memenuhi kepalaku.

 

Saat kembali ke Sparta, tidak ada yang berubah. Keseharian ku sama seperti biasanya. Aku masih belum pandai dalam aktivitas fisik, seperti berpedang dan memanah. Masih selalu kalah telak dari Cynortus.

Sore hari aku masih sering ke sungai Eurotas. Aku sudah lama tidak bertemu Zephyr, sepertinya ia sedang sibuk di barat sana. Satu hari di suart sore, aku bosan. Entah mengapa aku terpikir untuk berlatih memanah di dalam hutan, yang berlokasi di belakang kastil. Memburu rusa atau kelinci.

Aku bawa anak panah dan busur, dan masuk ke dalam hutan. Sore itu matahari masih bertengger terang di angkasa, membuat semua esensi di dalam hutan terlihat dengan jelas. Aku bisa melihat hewan-hewan kecil, seperti tupai, kodok, dan burung, berkeliaran di dalam sana. Pohon-pohon berdaun hijau menjulang tinggi. Aku juga menemukan bebungaan. Tidak sebanyak saat musim semi memang. Tapi cukup menghibur ku yang dilanda kebosanan. Aku suka memandang bunga, dengan warna yang cantik dan bau yang harum.

Aku menghunuskan anak panah ke mangsa yang malangnya terpilih –seekor rusa jantan, di dekat pohon pinus, kira-kira lima meter dari tempat ku berdiri. Meleset. Rusa itu lalu dengan cepat hengkang. Ku coba lagi mengganti mangsaku –seekor kelinci. Berwarna coklat dan tubuhnya besar. Ia terlihat tidak jauh, Mungkin tiga sampai empat meter di depanku. Tapi lagi-lagi gagal. Aku menghembuskan nafas berat, tanda kekecewaan pada diri sendiri.

Berjalan lebih jauh lagi ke dalam hutan, mencari mangsa lain. Tapi tanpa kusadari langit mulai menggelap. Jingga mulai berubah menjadi lembayung. Aku memutuskan untuk kembali saja ke kastil. Karena berjalan sudah terlalu jauh, dan sepertinya membutuhkan waktu yang lama untuk kembali ke kastil. Di tengah jalan, aku seperti melihat bayangan besar dan gelap bergerak cepat, sekelebat, dari ujung mata.

Aku merasa ada eksistensi lain di belakang. Bahkan sekarang bisa ku dengar suara gesekan daun, dan langkah kaki. Langkahnya terdengar besar. Aku mulai resah, dengan keadaan ini. Maka aku bawa tungkai ku dengan cepat. Peluh mulai bercucuran di pelipis. Aku memutuskan untuk berlari, dan tidak menengok ke belakang untuk memeriksa suara-suara itu. Ketika berlari, suara itu terdengar makin ribut, dan kencang.

Bodohnya aku yang sudah kepalang takut. Kaki ini malah tersandung oleh akar pohon yang menyembul dari tanah. Membuat tubuhku jatuh terjerembab ke depan. Aku menengok kebelakang berharap siapapun atau apapun yang mengejar di belakang, masih jauh. Nyatanya tidak. Sosok itu berdiri dengan gagah tak jauh dari tubuhku yang masih terjerembab di atas tanah. Seekor beruang jantan, berwarna coklat tua. Tubuhnya besar, lima kali dari tubuhku. Mataya berkilatan. Aku berusaha membawa tubuhku untuk bangkit, tapi nyatanya tubuhku lemas bukan main. Nyali ku menciut. Aku belum pernah melihat beruang sebesar ini selama hidup. Mungkin inilah akhir dari hidup anak Pierus, anak setengah dewa, yang menciut nyalinya dihadapkan dengan seekor beruang.

Tubuhku bergetar hebat, ketika beruang itu menderam. Suaranya meluluh lantakkan hatiku. Wajahku mungkin sudah sepucat tulang kini. Kaki dan tanganku terasa seperti kain sutera yang terombang-ambing terbawa angin di jemuran. Lemas. Ketika beruang itu mulai mendekat ke arahku, aku menutup mataku lamat-lamat. Aku tidak mau melihat mulutnya terbuka, dan mencabik tubuhku. Maka aku rapatkan kedua mata.

Tapi beberapa sekon setelahnya, aku mendengar suara deraman itu lagi, kini diiringi suara dekingan. Aku tidak merasakan bulu-bulu hewan itu di tubuhku, tanda ia belum mendekatiku. Lalu ku beranikan diri untuk membuka pelupuk. Ku temukan hewan besar itu sedang mengerang kesakitan, dan tubuhnya limbung. BIsa terlihat dua anak panah menancap di bagian tubuhnya. Satu di mata, dan satu lagi di bagian dada, tepat di bagian jantung. Beruang itu lalu jatuh terkapar ke samping. Menciptakan bunyi dentuman hebat.

Aku yang bingung, masih termangu di tempat. Tubuhku masih bergetar. Lalu ku bawa netraku memutar, memperhatikan tiap sudut hutan. Mencari siapa pemilik anak panah itu. Karena aku yakin itu bukanlah anak panahku. Nihil. Aku tidak menemukan siapapun disana kecuali burung yang berterbangan keluar dari pohon, akibat dentuman kencang yang diciptakan binatang besar ini.

Beberapa menit, setelah ku pastikan binatang itu benar-benar sudah kehilangan nyawanya dan tidak membahayakan, aku mendekat padanya. Aku perhatikan anak panah yang mematikan makhluk ini dengan cepat. Ialah anak panah silver yang kokoh. Aku mencoba mencabut anak panah itu dari tubuh berbulu, tapi sulit sekali untuk dilakukan. Panah itu menancap dalam sekali ke jantungnya. Aku bahkan menggunakan kedua tanganku dan masih tidak bisa menariknya.

Aku memutuskan untuk kembali ke istana, karena jam makan malam hampir tiba, dan jika terlambat mungkin staf kerajaan akan kelimpungan mencari keberadaanku. Untung saja hanya terlambat beberapa menit, dan aku bisa memberikan alibi pada ayah, perihal keterlambatanku.

Malamnya, dikamar, aku merasa gelisah. Suara deraman beruang itu terus menggema di kepala. Suara angin malam yang meniup tirai kamar, membuat perasaan gundah. Aku selalu membuka jendela, karena cuaca musim panas yang sangat tidak bisa ditoleransi ini, akan membuatku kesulitan untuk tidur, jika tidak mendapat angin semilir dari luar. Aku bergerak kesana kemari dengan mata tertutup, tapi  masih saja tidak bisa menjemput lelap. Tubuhku lelah. Tapi memori sore tadi memanggil rasa takutku lagi.

Aku memang bukan pangeran yang tangguh seperti kakak-kakakku. Aku memang terkenal dengan kecantikan parasku, dan mungkin memang itu saja yang bisa di banggakan dari diriku. Padahal aku juga ingin di takuti seperti Cynortus, atau disegani seperti Argalus — kakak tertua kami. Aku juga ingin menjadi seorang prajurit seperti mereka. Bertarung dalam perang kelak. Tapi tak bisa kupungkiri, aku kadang lebih tertarik pada bidang kesenian, dibanding politik dan aktivitas fisik. Ibu selalu berkata bahwa aku harus pandai dalam segala hal. Pandai di kesenian saja tidak cukup, begitu pula pandai dalam bela diri saja. Semua ilmu harus dikuasai dengan maksimal jika ingin menjadi laki-laki terhebat. Aku tau maksud ibu seperti itu, agar bisa mengambil alih kerajaan ketika ayah kami mati kelak.

Diambang realitas, pelupukku terbuka segaris. Dengan fokus yang tidak tepat dan buram, samar-samar ku lihat bayangan sosok di jendela. Seperti seseorang sedang terduduk disana, di balik tirai putih yang berterbangan tertiup semilir angin malam. Tapi tepat kala itu juga, aku bertemu dengan lelapku.

 

Pagi hari. Aku duduk di meja makan yang penuh dengan berbagai macam hidangan; buah, roti, ikan, dan sayur-sayuran berbumbu. Sebuah roti menganggur di tangan. Termangu, memikirkan mimpi yang semalam hadir di tidurku.

Mimpi itu tidak spesial, hanya;

aku yang sedang berburu di tengah hutan di siang hari. Terlihat gembira karena berhasil melesatkan anak panah tepat di tubuh seekor rusa. Di mimpi itu ku lihat diriku seorang diri, tapi aku tertawa sambil memandang esensi lain. Aku tidak melihat apa dan siapa yang tertawa bersama denganku.

Tidak ada yang spesial dari mimpi itu bukan? Nah! Yang membuatku memikirkan mimpi itu adalah, mimpi itu terasa amat nyata dan jelas.

Aku dapat merasakan sengatan matahari, aku bisa mencium bau pepohonan dan tanah kering. Ada aroma lain yang ku tangkap disana. Aroma buah ara yang terlalu matang, dan terpapar sinar matahari. Bau manis, hangat, dan musky. Aku mengingat aroma itu dengan jelas di ingatan. Aku yakin itu bukan aroma tubuhku. Tubuhku selalu menguarkan aroma percampuran antara thyme, sinamon, dan minyak olive. Aku menggunakan minyak-minyak itu untuk melindungi, dari kekeringan akibat terik matahari, dan gigitan serangga. Pertama kalinya mendapatkan mimpi sejelas itu, dan dapat kuingat bahkan sampai sekarang, hampir tiga jam setelah bangun dari tidur.

Malam-malam selanjutnya, aku masih merasakan adanya esensi yang duduk di balik tirai, jendela. Aku sebenarnya tidak masalah, karena sosok itu tidak mengganggu selama ini. Tapi aku penasaran, siapa sosok itu, dan apa maksud kedatangannya. Beberapa kali aku coba untuk menangkap sosok itu, tapi hasilnya nihil. Tiap kali ku buka mata, dan menghampiri jendela, aku tidak menemukan siapapun. Hanya bulan sabit yang menggantung di langit.

Malam ini, aku berbaring di kasur, membelakangi jendela. Menghadap almari yang berada di samping ranjang. Aku tidak pernah menggunakan apapun saat tertidur. Aku tidak mengizinkan sehelai kain pun melekat di tubuhku kecuali sehelai kain untuk alas kline –kasur kayu dengan lapisan wol, yang ku tiduri ini. Suhu tinggi di tengah musim panas, membuat ku tidak tahan bahkan dengan sehelai sutera pun, aku masih merasa kegerahan.

Aku merasakan sosok itu hadir lagi. Aku tau jika aku membuka mata dan menghampirinya, sosok itu pasti akan kabur lagi. Tapi demi dewa, aku sudah penasaran bukan main. Maka aku balik tubuhku dengan mata yang masih tertutup. Kini aku menghadap jendela yang terbuka. Tidak. Aku tidak membuka mata. Aku menunggu beberapa menit, sampai sosok itu mengira aku sudah tertidur dengan pulas.

Menit selanjutnya, akhirnya aku buka mata, dan menemukan sosok itu ada disana. Jelas. Bukan hanya bayangan hitam lagi kini. Aku tidak tau bahwa khusus malam ini, bulan penuh, bersinar lebih terang dari malam-malam sebelumnya. Ia duduk disana, memandangku dengan teduh, dengan cahaya bulan menyinarinya. Aku pikir sosok itu akan terkejut mendapatiku membuka mata. Tapi ternyata aku yang terkejut bukan main. Hal pertama yang menyapa netraku adalah; helaian rambut emas yang berterbangan terbawa semilir angin. Pemandangannya terlalu familiar. Wajah, tubuh, dan bola matanya. Aku ingat jelas. Siapa yang bisa melupakan dua iris biru sewarna samudera? Dan senyum itu. Senyum yang membuat matanya mereplika bulan sabit, siapa bisa melupakannya? Aku menahan nafasku lagi. Sosoknya selalu sukses membuat nafasku tercekat di tenggorokan.

“Maaf mengganggu mu.” Suara itu kembali menggetarkan hati. Kini bulu kudukku ikut meremang dibuatnya. Aku lantas bangun dari baring.

“Tuan, apa yang kau lakukan di ujung jendela ku, di tengah malam seperti ini?” Tanyaku.

“Hyacinthus, putra Pierus, raja Amyclae.” Ucapnya lagi.

“Ya, betul,” jawabku setelah menelan ludah.

Ia tersenyum lagi. Membuatku kebingungan. Malam ini ia tidak mengenakan mahkota hijau, dari daun salam, di kepalanya. Rambutnya berterbangan menciptakan kerlingan bak ribuan bintang menari disana. Aku rasa karena kedewaannya, yang membuat presensinya begitu mencengangkan. Aku melihat sebuah lira di salah satu tangannya.

“Kau sulit tertidur beberapa hari ini,” ia turun dari jendelaku. Kini ia berada di dalam ruang kamarku. Ia berjalan perlahan –masih tidak menimbulkan bebunyian. Jubah merah dengan aksen emasnya bergerak dengan anggun, mengikuti gerak tubuhnya. “Apa karena kehadiran ku?” Lanjutnya.

Aku menggeleng ribut. Aku memang penasaran dengan sosoknya, tapi aku gelisah beberapa hari ini bukan karena sosoknya. Aku masih dihantui dengan bayangan beruang raksasa yang siap memakanku kala itu. Andai tidak ada pemanah unggul yang entah memanah dari mana, dan melumpuhkan beruang itu, mungkin tubuhku sudah berakhir di dalam tanah.

Ia berada di ujung kasur sekarang. Tubuhnya menjulang tinggi. Aku harus mendongak untuk bisa melihat wajahnya. Matanya semakin terlihat terang di dalam kegelapan.

“Aku membawa lira, untuk membantumu tertidur,” ucapnya.

Aku tidak bisa menahan alisku untuk terangkat. Aku bingung mengapa ia repot-repot memanjat jendela di lantai tiga, dan membawa lira untuk membantuku tertidur?

“Tapi tuan, untuk apa kau membantuku?” Tanya ku bingung. Menggaruk tengkuk canggung. Ini sangat aneh. Aku masih belum berani menanyakan identitasnya. Takut ia marah, karena tidak mengetahui identitas dewanya.

“Aku suka melihatmu tertidur.”

Jawabannya sukses membuat ku terperangah. Aku tidak bisa berkedip. bibir ku terjatuh ke bawah, membuat lubang dimulutku. Apa aku tidak salah dengar? Seorang dewa melihat ku tertidur? Aku mulai meragukan kedewaannya.

“Aku akan mulai memainkannya,” ucapnya. Ia terlihat sedikit bingung, melirik ke kanan-kiri, seperti mencari sesuatu, “dimana aku bisa duduk?” Tanyanya.

“Disini saja, tuan.” Aku menggeser tubuh. Kasur ini hanya untuk satu orang, maka tidak banyak tempat kosong yang tersisa untuknya duduk. Tapi aku bahkan rela duduk di lantai dan memberikannya kasurku jika ia mau.

Sosok itu duduk di ujung kasur. Ia memintaku untuk terbaring, tapi mana bisa kulakukan? Seorang dewa akan menampilkan pertunjukan musik, apa mungkin aku bisa tertidur? Atau malah aku akan terjaga, karena permainan musiknya?

Aku membaringkan tubuhku miring, dengan satu tangan menahan kepalaku. Ia menaruh alat musik berdawai itu di atas pahanya. Lira itu indah, aku baru pertama kali melihat alat musik dengan tempurung kura-kura yang terukir dengan indah. Terdapat kilauan emas di tiap sisinya. Jarinya mulai menyusup di antara dawai, menciptakan nada abstrak. Hanya begitu saja sudah terdengar indah di telingaku. Tangan satunya ia bawa untuk memutar tuas-tuas di bagian atas, menyetel dawai agar di posisi sempurna.

Saat ia melakukan itu, aku termangu menilik figurnya. Potongan rahangnya tajam, seperti belati. Kulit pipinya terlihat mulus tanpa cela. Aku yakin sutera pun akan kalah halus dengan kulitnya. Aku perhatikan otot-otot di tangannya, saat memutar tuas lira. Otot itu terlihat pantas di tangannya. Seperti ia terlahir dengan otot sempurna itu. Aku dapat mencium aroma sedap dari tubuhnya, hangat dan manis, aku tidak dapat deskripsikan aromanya, tapi cukup familiar. Seperti aku pernah menciumnya di suatu tempat

Ia lalu mulai memainkan liranya. Jari jemarinya terlihat anggun memetik dawai demi dawai. Menciptakan susunan nada yang teramat indah. Suaranya begitu jernih –seperti air di sungai Eurotas, manis –seperti delima matang, dan hangat –seperti perapian di tengah musim dingin. Aku merasa tenang. Pikiranku tentram, kala indera pendengaran dan penglihatan ku di manjakan dengan suara dan pemandangan yang tidak pernah kubayangkan akan berkolaborasi di dalam kamar temaram ini.

Aku belum pernah mendengar musik semerdu ini. Bahkan musik yang dimainkan oleh musisi kelas atas yang sering menghibur di pesta-pesta kerajaan saja, tidak akan bisa bersanding bahkan sedikit dengan musik yang dimainkan sosok ini. Wajahnya tenang. Helaian rambut emasnya menjuntai menutupi sebagian mata, terlihat halus dan mengkilat, seperti dawai liranya.

Paginya, aku terbangun, dan tidak menemukan sosok itu dimanapun di dalam kamarku. Aku berharap apa? Buat apa sosok dewa menemaniku tidur? Semalam, tanpa disadari aku terlelap begitu saja. Aku yang terlena dengan permainan musiknya, perlahan menjatuhkan kepalaku ke bantalan kasur. Setelah itu aku tidak ingat lagi. Yang aku tau, aku langsung tertidur. Ternyata metodenya memainkan lira untuk membantuku terlelap sangat ampuh.

Sepanjang hari, aku tidak dapat fokus pada pelatihanku, baik latihan fisik maupun kelas sejarah. Yang ada di kepalaku hanya sosok surgawi itu. Aku mulai mengingat nama-nama dewa yang pernah ibuku ceritakan. Aku mengingat cerita demi cerita yang pernah kuterima tentang dewa olympians. Aku mengulik informasi di kepalaku, akan dewa yang memainkan alat musik. Siapa nama dewa itu? Aku tidak bisa berpikir. Yang kuingat hanya Zeus, dewa langit dan petir. Istrinya Hera, dewi perempuan dan keluarga. Hades dewa dunia bawah. Athena dewi kebijaksanaan dan perang. Demeter, Apollo, Artemis… Informasinya tertukar-tukar di kepalaku. Tapi aku pikirkan lagi. Mungkinkan sosok itu adalah salah satu dari kedua belas dewa olympians? Apakah mungkin seorang dewa dengan strata tertinggi melakukan hal-hal yang ia lakukan malam tadi, kepada seorang mortal?

 

Aku tidak pernah menantikan malam tiba selama hidupku. Aku menyukai suasana di sore hari. Ketika langit mulai berubah menjadi jingga. Tapi hari ini aku benar-benar menantikan kehadiran bulan untuk menggantikan matahari. Aku berharap ia kembali hadir dengan liranya. Aku memakai tunik sutera ku. Salah satu yang terbaik yang ku miliki. Sewarna daun mint, dengan aksen renda emas. Sampai tengah malam, sosok itu belum hadir juga. Padahal aku sudah siap menyambutnya dengan baik dan sopan kali ini. Aku sudah mulai merasa kantukku hadir. Tapi aku terus memukul pipi ku pelan, agar aku tetap terjaga, saat ia datang. Atau mungkin ia tidak akan datang kali ini?

Aku sudah mulai meninggalkan realitas dan berjalan ke alam bawah sadar, ketika ranjang kecilku berdecit. Bahkan suara sekecil itu membuat ku kembali ke realitas secepat bintang jatuh. Aku membuka pelupukku cepat. Walau aku belum menemukan fokusku, tapi rambut emas itu, aku sudah hafal betul. Dengan cepat aku usak kasar kedua mataku, agar cepat menemukan fokusku. Benar saja. Sosok itu duduk di ujung kasurku dengan liranya di atas paha. Tak ia mainkan. Ia hanya memandangku. Tenang.

“Apa aku membangunkankmu?” Tanyanya, dengan suara beratnya. Ia tersenyum lagi, menyambut kehadiranku ke realitas.

“Tidak,” jawabku, sambil menggeleng, “aku menantimu, Tuan.”

“Aku ada urusan di rumah,” jawabnya. Rumah? Apakah puncak gunung olympus maksudnya?

Aku mengangguk, sambil menatap sosok yang selalu terlihat prima di depanku. Aku berdehem, dan memberanikan diriku untuk menanyakan sebuah pertanyaan, yang sempat kupikirkan saat makan malam tadi, yaitu; “Boleh aku mengetahui kapan kau meninggalkan kamarku, kemarin?” Tanyaku.

Ia menatap mataku. Mata kami saling bertemu, tapi lagi-lagi nyali ku ciut. Aku melempar pandanganku, ke sudut lain di dalam ruangan. menatap satu lampu minyak yang menyala, dan menggantung di salah satu tembok batu.

“Tepat sebelum tugas pertamaku dimulai,” jawabnya santai.

“Tugas? Tugas apa?” Untuk sesaat aku lupa, aku sedang berbicara dengan dewa, maka aku benarkan kalimatku, “Maaf tuan, bolehkah aku mengetahui tugas pertamamu?”

“Menarik surya,” jawabnya.

Aku memiringkan kepalaku bingung. Aku tidak mengerti perkataannya, dan sepertinya ia menyadari itu.

“Tugas pertamaku setiap hari adalah menarik surya, untuk menerangi bumi. Apa kau tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya?”

Aku terkesiap. Merasa bodoh di hadapan dewa. Aku tau tugas dewa matahari, untuk menarik surya setiap harinya, agar matahari terbit. Yang aku tidak tau, sosok inilah dewa matahari itu.

“Maafkan ketidakpahaman ku tuan. Aku mengetahui, tugas dewa matahari. Tapi aku tidak mengetahui kau adalah dewa tersebut,” jelasku sejujur-jujurnya.

Ia menggeleng pelan, sambil terkekeh. Bukan kekehan mengejek.

“Panggil saja aku Apollo,” tuturnya tegas, nan lembut. Aku akhirnya mengetahui namanya dengan pasti, setelah ku menimang-nimang siapakah nama dewa ini, apakah Apollo, Dionysus, atau Hermes.

“Panggil aku Hyacinth, Tuan.”

“Tinggalkan kata tuan,” pintanya.

Aku tidak serta merta menurutinya, aku pikir mungkinkah seorang mortal sepertiku memanggilnya dengan sebutan nama saja? Tapi ia meyakinkanku, agar memanggilnya tanpa embel-embel lain selain nama. Lalu aku menurutinya.

“Aku akan memainkan lira ku, supaya kau bisa kembali tertidur.” Ia sudah memposisikan lira emasnya di paha, dan jemarinya mulai berada di dawai.

“Apollo, mengapa kau memainkan lira mu untukku? Aku hanyalah seorang mortal,” aku memberanikan diriku untuk mengatakan hal itu. Rasa penasaran yang terus menderu tak bisa lagi kutahan.

“Kamu adalah anak raja dan muse, itu membuatmu separuh dewa. Aku kenal ibumu, kami sering bermusik bersama.” Aku tertegun, mendengarnya. Ternyata ia bergaul dengan ibuku. Ya, aku yakin, karena ibuku dan kedelapan saudaranya selalu menjadi penghibur tiap kali para olympians sedang mengadakan simposium. Apollo lalu melanjutkan kalimatnya. “Aku memainkannya, karena aku suka bermain musik,” terdapat jeda diantara kalimat, aku bisa melihat seulas senyuman di wajahnya, “dan karena aku suka padamu.”

Rasanya sesuatu yang berat, seperti martil menimpa dadaku. Aku terperangah, mendapati jawabannya. Lidah ku tak bisa bergerak, seperti sesuatu menahannya di dalam. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Ia yang menyadari reaksi ku yang tidak lazim itu, lalu tertawa. Tawa ringan. Aku bisa dengar suara baritonnya melayang dengan ringan, seperti serpihan bunga dandelion setelah tertiup angin.

“Apakah itu bisa dilakukan?” Tanyaku.

“Apa yang bisa dilakukan?”

“Menyukai seorang mortal? Terlebih kita baru beberapa kali bertemu.” Tanyaku.

“Ayah dan ibumu. Mereka adalah mortal dan immortal."

“ — dan aku tidak butuh waktu yang lama untuk tau isi hatiku.”

Aku tau dewa-dewa itu memang banyak yang memiliki hubungan dengan mortal. Tapi yang membuatku menanyakan hal itu adalah karena; aku sudah teringat cerita ibuku akan dewa matahari ini. Dewa ini adalah dewa yang memegang banyak tanggung jawab, mulai dari matahari, ramalan, musik, puisi, kesembuhan, bahkan wabah. Dewa ini juga menjadi dewa yang selalu dipuja dimanapun, karena ketampanan dan tugas-tugas pentingnya. Dan mortal itu adalah diriku.

Aku sampai saat ini tidak pernah menyangka sosok dewa Olympians akan menyatakan perasaannya padaku, dengan mudah begini. Aku sudah sering mendapat pernyataan cinta dari sesama manusia fana, maupun demigod –setengah dewa sepertiku, bahkan sosok nymph sungai, pernah hampir mengatakannya, namun ia urungkan. Tapi belum pernah dan tak pernah terbayangkan salah satu dari dewa Olympians.

“Jadi, aku bisa memainkannya sekarang?” Tanyanya, saat aku tidak menjawab lagi kalimat terakhirnya.

Lagi dan lagi aku terpesona akan permainan merdu liranya. Aku sudah menetapkan musik yang Apollo mainkan, adalah musik terindah di seantero dunia, dan akan menjadi musik favoritku. Malam ku terasa damai, dan nyaman. Aku bersama sang dewa matahari, di tengah megahnya sinar bulan, dan tentram nya alunan lira. Percayalah, ini adalah momen terbaik dalam hidupku menjadi seorang pangeran.

Setelah hari itu, Apollo datang setiap malam ke kamar berdinding batu ini. Ia akan menghiburku dengan berbagai macam jenis musik yang ia ciptakan. Terkadang ia bernyanyi, dan terkadang ia membacakan puisi. Perasaanku padanya bertumbuh setiap harinya. Aku tau, tidak seharusnya membiarkan diriku terlalu dekat dengan dewa. Mengingat semua mortal yang berhubungan erat dengan dewa, seringkali berakhir tidak baik. Tapi aku tidak bisa menipu diriku sendiri, bahwa aku amat menyukai momen ku bersama dengannya.

Ia adalah satu-satunya dewa yang ramah, dan dapat diajak berbicara mengenai apa saja, menurutku. Seluruh rasa penasaranku akan kehidupan kedewaan, akan ia jawab dengan sabar. Aku jadi teringat perbincanganku dengan Zephyr, si dewa bersayap. Bukannya aku ingin membandingkan, tapi perbedaannya amat kentara. Apollo gemar tertawa. Ia akan menanggapi seluruh pertanyaanku dengan senyuman, dan jawaban-jawaban yang masuk akal.

Terkadang aku menunjukkan sisi bodohku padanya, saat ia menjelaskan hal-hal yang tidak ku pahami. Seperti tentang cerita cinta pertamanya pada nymph hutan, Daphne. Cerita cinta yang malang, namun aku masih belum mengerti saat ia menceritakan hanya inti kisahnya saja. Akhirnya ia dengan sabar dan berbaik hati menceritakan keseluruhan ceritanya padaku.

Bahwa ia menantang Eros, si anak Aphrodite yang sedang bermain-main dengan anak panah, sampai si dewa cinta itu kesal padanya, dan menghunuskan anak panah emasnya tepat di jantung Apollo. Membuat sang dewa matahari terjatuh berlutut di hadapan Eros. Disaat yang bersamaan, sosok nymph hutan bernama Daphne mendominasi netranya. Apollo yang sedang dalam pengaruh cinta dari hunusan anak panah Eros, lantas langsung jatuh hati pada perempuan cantik itu.

Tetapi kemarahan Eros belum selesai sampai disitu. Ia ingin membuat Apollo tersiksa. Maka ia hunuskan anak panah silver tepat ke punggung Daphne, dan membuat perempuan itu benci setengah mati dengan Apollo. Daphne yang jijik dengan sang dewa matahari itu, lantas memilih untuk mengubah dirinya sendiri menjadi pohon salam, untuk menghindari sang dewa matahari, dengan bantuan ayahnya, nymph sungai.

Aku bisa melihat raut kesedihan di wajahnya, kala menceritakan kisah tragis itu. Aku sempat bertanya padanya; apakah kau benar mencintai nymph itu? Karena menurutku ia hanya sedang dalam pengaruh anak panah Eros saja, sehingga mungkin ia tidak benar-benar jatuh cinta. Tapi Apollo berkata; Aku mencintainya. Walau dalam pengaruh Eros, tapi aku benar-benar mencintainya, sepenuh hati. Aku bisa merasakan perasaannya, hanya dari mendengar suaranya. Ketulusan terdengar disana.

Ia juga menceritakan tentang kisah asmaranya yang selalu gagal, bahkan dengan perempuan mortal, bernama Cassandra. Perempuan itu akhirnya mendapat kutukan dari Apollo, karena menolak dan menipunya.

Aku sekarang mengerti. Apollo memang dewa yang terlihat sempurna. Tampan, dipuja dimanapun, dan memiliki banyak kekuatan. Tapi kekurangannya ada di keberuntungannya dalam masalah asmara. Ia tidak seberuntung ayahnya, Zeus, yang dapat memperistri siapapun yang ia mau.

Tapi aku juga bertanya-tanya, mengapa perempuan-perempuan itu menolak sang dewa matahari. Laki-laki ini terlihat luar biasa. Ia juga baik, setidaknya padaku. Aku tau dia menyukaiku, maka ia berperilaku baik padaku. Tapi banyak dewa-dewi lain yang bersikap buruk pada terkasihnya. Ya walaupun ia sering mengutuk siapapun yang tidak tunduk padanya. Aku jadi berpikir, apakah nasibku juga akan berakhir terkutuk, seperti Cassandra? Atau berubah menjadi pohon salam seperti Daphne?

Aku harap tidak. Semoga tidak.

 

Sore hari, seperti biasa aku bersantai di sungai Eurotas. Aku membawa serulingku , tapi tak ku mainkan. Aku hanya terbaring dan menatap langit. Menatap matahari yang ditarik oleh Apollo pagi tadi. Aku membayangkan dirinya menarik sang surya dengan bantuan kereta kudanya. Apakah ia sedang berada disana sekarang? Apa yang kulitnya rasakan saat berdekatan dengan solar itu? Apakah rambut itu bercahaya karena terus-menerus menyerap cahaya matahari? Atau mungkin itu mengapa semua yang dilakukan dewa itu terasa hangat? Karena ia terlalu sering berdekatan dengan matahari?

Tidak. Bukan. Melainkan karena ia matahari itu sendiri.

Tanpa peringatan apapun, satu wajah tiba-tiba menyembul di atas wajahku. Jubah merah berpadu emas menjuntai, bergerak kesana kemari di atas wajahku. Cahaya matahari terhalang oleh keberadaannya, tapi tak membuat pandanganku menjadi gelap. Karena dewa matahari itu sama terangnya dengan matahari.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku padanya. Ia lantas duduk disebelahku. Kalau boleh jujur, aku suka dirinya dibawah sinar matahari. Karena tubuhnya akan memancarkan kilauan luar biasa. Sebuah mahkota daun terpasang di kepala, membuat rambutnya tertahan, dan tidak berjatuhan menutupi mata birunya.

“Aku ingin bertemu denganmu, tentu,” Jawabnya.

“Apa kau sedang tidak ada tugas?”

“Ada. Aku selalu punya tugas. Dan tugas ku selalu paling banyak di antara dewa lain.”

“Lantas mengapa kau–” belum selesai aku melisankan kalimatku. Ia dengan cepat memotong kata-kataku, “Tapi aku memilih untuk menemuimu, karena itu lebih penting saat ini.”

Aku tidak bisa menjawab. Apakah akan banyak hal yang tidak berjalan sesuai dengan seharusnya, karena Apollo memilih untuk menemuiku, daripada mengerjakan tugas-tugasnya? Apakah aku akan menjadi biang masalah untuk dunia ini? Tapi aku tidak berani menentang keputusan dewa.

“Tenang saja Hyacinth, apapun tugasku itu bisa menunggu. Tapi rinduku tidak,” lanjutnya.

Tak kusadari sebuah senyum menyembul di bibirku. Aku belum pernah digoda oleh seorang dewa. Aku tidak tau apakah ini tipu muslihatnya, tapi yang pasti, itu sukses membuat hatiku melemah.

“Kamu dewa memanah juga?” Tanyaku. Aku mengamati busur gagah yang menggantung di belakang punggungnya.

“Bisa dibilang.”

Aku terkekeh, lalu berkata, “Apa yang tidak bisa kau lakukan?”

“Banyak hal. Aku tidak bisa mengubah anggur menjadi air seperti Dionysus. Aku tidak bisa terbang dan berlari kencang seperti Hermes, dan aku tidak bisa membuat makhluk lain jatuh cinta seperti Eros.”

“Aku lemah dalam pelajaran memanah,” aku berkata, “Otot-otot tangan dan kaki ku tidak terlalu kuat,” lanjutku.

“Aku tau, Hyacinth.”

“Bagaimana kau bisa tau?”

“Aku tau banyak hal tentangmu. Aku dewa jika kau lupa.”

Aku terkekeh. betul juga. Dia bisa menarik informasi sebanyak-banyaknya tentangku dengan bantuan alam ini.

“Aku bisa mengajarkanmu, Hyacinth,” ucapnya lagi.

Mata ku membola. Sebuah pelajaran khusus dari dewa? Apakah aku bermimpi? Ini adalah hal yang paling diinginkan oleh manusia fana manapun.

“Aku akan menjadi manusia yang sangat beruntung, mendapat pelajaran langsung darimu,” jawabku, dengan mata berbinar-binar. Aku amat tidak sabar memulai pelajaran memanahku bersama sang dewa.

 

Keesokan harinya, ia menepati janjinya untuk mengajarkanku memanah. Kami pergi ke hutan. Sejujurnya aku masih takut masuk ke dalam hutan itu lagi. Beberapa kali aku mengelap peluh yang bercucuran di pelipis, dan berhenti untuk sekedar mengambil nafas yang terasa pendek, karena rasa takut ku menyeruak di diri. Apollo sadar walau aku tak mengatakannya. Ia lalu menuntunku. Ia mengambil alih posisi, menjadi di depanku. Ia memimpin jalan untuk menerobos hutan ini.

Kami menemukan mangsa. Seekor rusa jantan, yang sedang berdiam diri, entah melakukan apa. Apollo mendemonstrasikan terlebih dahulu. Ia mengambil satu anak panah di pinggangnya. Membidik rusa itu, dan menghunusnya dalam hitungan detik. Anak panah itu melesat kencang, dan mengenai tepat di perbatasan leher dan dada rusa itu. Hanya butuh beberapa detik, sampai rusa itu kehilangan nyawanya. Aku hanya bisa melongo melihat apa yang barusan terjadi.

Bahkan Militheus, yang notabene terhebat dalam masalah memanah di kerajaanku, tidak pernah melakukan tembakan sesempurna itu. Mungkin total waktu yang digunakan Apollo, hanya sekitar sepulu detik; dari mulai membidik, melesatkan anak panah, dan sampai si mangsa terenggut nyawanya. Aku memang berlebihan. Dia adalah dewa, pasti ia akan melakukan hal-hal jauh lebih baik dari manusia. Tapi tetap saja tidak bisa menghentikanku untuk tertegun, pada tiap hal yang ia lakukan. Aku sontak menepuk tanganku, sambil masih tidak percaya. Ia menoleh ke arahku, dan aku bisa melihatnya tersenyum dari ekor mataku.

Aku telah memilih mangsa ku. Seekor rusa betina kali ini. Apollo memintaku membidik di bagian pundak rusa, atau di bagian paru-paru. Itu adalah area yang cukup luas, namun cukup mematikan. Ia sempat mengatakan bahwa pose tubuhku tidak baik. Ia memintaku untuk menarik lenganku untuk terangkat lebih tinggi dan kokoh. Ia juga memintaku mengangkat daguku, membuat netraku sejajar dengan anak panah yang sudah ditarik di busur.

Tapi bolehkah aku mengutarakan rasa ku saat ini? Aku tau, tak seharusnya fokusku beralih dari rusa, dan anak panah yang sedang membidik siap ini. Tapi suaranya sungguh tegas dan lembut diwaktu yang bersamaan. Fokusku teralihkan, karenanya. Aku tidak yakin pelajaran ini akan berhasil, jika aku terus begini.

Aku melesatkan anak panah itu. Tidak sekencang Apollo, tapi cukup cepat dari biasa yang aku lakukan. Walaupun bidikan ku sedikit meleset. Aku dapat merasakan kemampuanku sedikit bertambah. Aku membalikkan tubuhku ke belakang, dimana ia berdiri, menatapku. Aku menampilkan wajah kecewa, karena aku gagal membidiknya. Lalu ia mengatakan, “kita punya banyak waktu untuk berlatih, Hyacinth. Jangan bersedih.”

 

Pekan selanjutnya, di satu hari, aku sangat antusias menanti malam. Apollo kini mulai mengajarkanku cara bermain lira. Aku sedari dulu suka memainkan musik. Aku sering memainkan seruling, karena aku kurang pandai dengan jari-jari ku. Permainan serulingku juga tidak bagus. Hanya sekedar bisa saja. Tapi bukan pelajaran lira yang membuatku antusias hari itu. Melainkan karena beberapa hari lalu, aku meminta kasurku diganti dengan yang lebih besar dari yang ku punya saat ini. Kasur itu bisa menampung dua orang bahkan lebih.

Akhirnya kasur itu jadi juga, dan sudah berada di dalam ruanganku. Kamar dengan tembok berbatu dan beberapa kain merah yang menjuntai ini jadi terlihat lebih sempit, tapi aku tidak masalah. Yang penting, sang dewa tidak perlu duduk di ujung kasur lagi kali ini. Ia bisa duduk dengan leluasa di kasur empukku.

Akhirnya yang ku nantikan hadir, bersama lira ditangannya tentu. Setiap malam, ia selalu meninggalkan mahkotanya. Sehingga rambutnya akan berterbangan, dan aku menyukai pemandangan itu. Apollo terkejut melihat kasur baruku. Setelah aku jelaskan maksudku mengganti kasur, ia tertawa cukup kencang. Ia mengatakan bahwa, tidak masalah baginya, toh ia tidak merasa kesakitan.

Kami memulai pelajaran lira. Aku memiliki liraku sendiri. Tidak sebagus milik Apollo. Tapi itu katanya lira terbaik dan termahal di kota. Permainan liraku tidak kian membaik. Padahal sudah berhari-hari jariku berlatih. Tapi tetap saja aku belum bisa bermain sepandai Apollo, dan mungkin tidak akan pernah bisa juga aku disandingkan dengannya. Malam kian larut, dan Apollo meminta ku untuk beristirahat, sembari ia memainkan lira nya.

“Apollo, apakah dewa tertidur?” Tanyaku.

“Tidak juga.” Ia menatapku yang sudah terbaring di kasur. Ia sedang duduk bersandar pada kepala kasur di sampingku. Sambil kakinya terjulur lurus. Tangannya masih memainkan dawai-dawai lira.

“Tapi kalian bisa melakukannya?”

“Tentu.”

“Bagaimana– Hm –jika malam ini kau tertidur bersamaku?” Tanyaku. Lagi dan lagi, aku melupakan posisiku dan pada siapa aku berbicara. Bodohku.

Ia memandangku lamat, seulas senyum tipis muncul, dan ia berkata, “tentu,” sambil meletakan liranya di meja samping kasurku.

Ia membaringkan tubuhnya disampingku. Aku merasa kecil saat bersisian dengannya. Tiba-tiba aku merasa gugup. Rasanya aneh seorang dewa tertidur di kasurku. Aku yakin kasurnya di Olympus jauh lebih nyaman dari kasur ini. Bisa-bisanya aku meminta untuk merebahkan tubuh gagahnya di kasur tak seberapa ini. Aku membalikkan tubuh, telentang, menghadap langit-langit. Aku tidak berani menatapnya di sampingku.

Apollo berbaring menghadapku. Aku bisa merasakan dua iris tajam menatapku lekat, lewat ekor mata. Rambut emasnya tersebar di bantalan.

“Selamat malam, Hyacinth,” ucapnya.

“Selamat malam,” jawabku. Lalu menutup kedua mataku.

Aku tidak tahan. Alu terus bergerak kekanan-kiri dengan gelisah. Sesuatu membuatku ingin terus membuka pelupuk mataku. Sesuatu memaksaku. Ya, itu adalah hasratku sendiri. Beberapa menit telah bergulir setelah aku menutup mataku, tapi kini aku sudah membuka lagi pelupukku dengan lebar. Aku menoleh ke samping ke tempat dimana Apollo berada. Aku langsung disapa dengan tatapan teduh yang disajikan oleh dua bola biru bening yang menyala. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak sedang lelah karena berlarian untuk memburu rusa. Aku juga tidak baru selesai meniup seruling ku, sehingga membuat nafasku tersengal. Aku barusan hanya menolehkan kepalaku saja, dan tiba-tiba semua perasaan aneh ini berbondong-bondong memenuhi hatiku.

“Apa yang membuatmu gelisah?” Tanyanya.

Aku hanya menggeleng. Aku tidak mungkin menjawab dengan menyebutkan namanya ‘kan?

“Hyacinth,” panggilnya. Terucap dengan lembut.

“Ya?” Aku tidak berani menatap kedua matanya, maka aku menatap belah bibirnya yang terbuka.

“Matamu cantik,” ucapnya. Terdengar syahdu di telingaku. Paru-paruku terasa diisi angin ribut, mendengar kalimatnya. Lidahku seperti ditindih ribuan kerikil, dan bibirku terasa dijahit bak ujung-ujung tunikku.

“Violet, warna kesukaanku,” tuturnya lagi. Aku tidak pernah tau dewa memiliki warna kesukaan.

“Mengapa kau suka melihatku tertidur, ketika kau menyukai mataku?” Tanyaku. Akhirnya aku berhasil menyingkirkan ribuan kerikil dan membuka jahitan dibibirku.

“Karena wajahmu pun sama cantiknya, dan melihatmu tertidur, membuat ku tenang,” jawabnya lagi. Aku memberanikan diri untuk memutar tubuhku, sempurna, menghadap padanya. Aku bawa tanganku untuk menyanggah pipi di atas bantalan. Apollo membuka belah bibirnya lagi untuk berkata, “percayalah, kecantikanmu mengalahkan dewa-dewi kecantikan itu sendiri.”

“Terima kasih.”

Untuk pertama kalinya aku berhasil melawan nyali ku. Aku berhasil memandang iris birunya, cukup lama. Sampai rasanya aku mulai hanyut dan terombang-ambing di biru samudera itu.

“Apollo, apa kau akan mengizinkan tangan kasar ini untuk menyentuh kulit wajahmu, jika aku memohon?” Tanyaku. Entah keberanian dari mana, dan pikiran darimana, aku mengatakan itu. Tapi hal itu sudah ku dambakan bahkan detik pertama aku bertemu dengannya di sungai di Delphi.

“Kau tidak perlu memohon Hyacinth, tentu saja.”

Aku sedikit ragu. Tanganku memang tidak sekasar tangan laki-laki lain di dalam kerajaan ini. Mungkin bisa dibilang tanganku yang terhalus dari mereka semua. Tapi tetap saja dibandingkan dengan kulit Apollo, pasti kulitku terasa jauh kasar. dan juga akhir-akhir ini tangan ku menjadi lebih kasar, karena jari-jariku banyak digunakan untuk menarik busur panah, dan bermain lira.

Dengan ragu-ragu aku mengangkat tanganku. Jari-jari ku yang ujungnya terdapat gurat-gurat kemerahan, mulai mendekat ke wajahnya. Perlahan, ujung jemariku menyentuh kulit wajahnya. Jariku masih berjinggit di kulit pipinya. Tapi melihatnya yang tidak keberatan dengan perlakuan ku, maka aku beranikan diri untuk menyentuhnya lebih jelas. Dan demi Zeus, kulitnya terasa seperti apa yang tak pernah ku bayangkan. Lebih lembut dari sutera, dan lebih empuk dari bunga kapas. Kulitnya adalah hal terhalus yang pernah bersinggungan dengan kulitku. Aku mengusap kulit pipi itu selembut yang aku bisa.

“Apa kau terganggu dengan sentuhanku?” Tanyaku. Aku khawatir jika ia tidak menyukainya. Tapi aku mulai egois, dan ingin melakukan apapun yang hasratku titahkan.

“Tidak sama sekali. Aku menyukainya,” jawabnya lantang.

Saat itu juga aku mulai rakus menyentuh wajahnya. Ku sentuh ujung hidungnya. Lancip, seperti ujung anak panahnya. Aku mendekatkan wajahku padanya, untuk memandang seksama karya dewa Zeus, dan Dewi Leto ini. Sempurna. Apapun yang berada di wajah ini sempurna. Semua manusia yang memujaku, apa mereka belum pernah melihat dewa ini sebelumnya? Karena, sesungguhnya pria ini adalah sosok nyata dan perwujudan paling tepat untuk sebuah kata sempurna dan indah secara fisik -menurut akalku. Menit demi menit bergulir, dan aku tidak bosan menyentuh wajahnya. Bahkan aku sampai menyentuh ujung daun telinganya yang lentur. Ia pun tak lelah menatapku, saat wajahnya, ku jelajahi.

“Tidakkah kau ingin menyentuhku?” Pertanyaan itu secara spontan terlontar dari bibirku. Aku tidak tau mengapa, tapi aku ingin merasakan kulit jemarinya, di wajahku. Selama ini Apollo tidak pernah menyentuhku. Kami selalu berada di jarak aman. Aku sempat berpikir dia tidak benar-benar menyukaiku, karena ia terlihat enggan untuk menyentuhku. Aku seharusnya sadar diri. Tubuhku tidak semulia itu, dan tidak seberharga tubuhnya. Mungkin juga tubuhku kotor. Tapi tidakkah ia berpikir untuk menyentuhku bahkan hanya sehelai rambut?

Ia terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak tau apa yang ia pikirkan. Tapi apapun itu, aku ingin mengetahuinya saat ini juga. Aku ingin mendengar isi kepalanya.

“Bolehkah?” Tanyanya.

“Tentu. Kau adalah dewa. Kau tidak perlu bertanya,” seruku cepat. Pikirku, dia bisa melakukan apapun yang ia mau bukan? Ia adalah dewa.

“Berjanjilah kau tidak akan merubah dirimu menjadi makhluk lain, jika aku menyentuhmu,” tuturnya. Wajahnya serius. Aku bisa melihat irisnya sedikit bergetar. Apa dia ketakutan? Apa dewa bisa merasa takut? Tapi apa yang ia takutkan?

Aku mengangguk menjawab pertanyaanya, “aku berjanji. Kau bisa menyentuhku,” kataku.

Tanganku masih berada di pipinya. Oh dewa! Aku merasakan sengatan aneh di sekujur tubuhku, saat kulit jemarinya menyentuhku. Ia genggam jemariku dalam satu kepalan. Ia bawa menuju bibirnya, dan ia kecup ujung jari-jemariku. Aku bergidik, tatkala menyentuh kulit bibirnya. Ia tunjukan ujung jemariku. Secara ajaib, gurat-gurat kemerahan di ujung jari ku bekas menarik busur, dan bermain lira selama beberapa minggu ini, menghilang. Bukan memudar, tapi menghilang. Rasa perih yang kadang muncul ketika kemerahan itu tertekan pun hilang. Mataku membola. Aku sepertinya tidak akan terbiasa dengan sifat kedewaannya. Yang ku lupakan, ia adalah dewa kesembuhan, jadi hal ini adalah hal yang wajar.

“Pasti sakit rasanya selama ini?” Tanyanya padaku.

“Tidak sesakit itu.”

“Aku seharusnya bisa melakukannya lebih awal. Tapi aku tidak berani menyentuhmu,” jelasnya.

“Apa yang membuatmu takut? Aku hanyalah mortal. Aku tidak punya kekuatan apapun. Aku bahkan tidak bisa menembakkan anak panah ku tepat sasaran.”

Ia tertawa, aku bisa mendengar dengusan dari hidungnya.

“Aku tidak mau fenomena Daphne, terulang kembali.” Tawanya memudar, tergantikan dengan suara lemah. Aku kini teringat akan kisah malang itu. Ia mati-matian mengejar Daphne, dan ketika ia berhasil menangkapnya, perempuan itu memohon dan lebih memilih untuk diubah menjadi sebuah pohon, daripada harus tertangkap oleh Apollo.

“Kebencian yang melandasinya melakukan hal itu,” ucapku. Ia tidak bergeming. Aku pun melanjutkan kalimatku yang sudah tersusun rapi di benak, “sedangkan aku tidak. Aku tidak membencimu, walau seujung kuku pun.”

Berselang detik. Ia menangkup pipiku. Aku tidak diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri. Hatiku tersentak lagi. Sentuhannya sehalus kulit wajahnya. Padahal tangannya terlihat kekar dan berurat, dan mengingat pekerjaan berat yang ia lakukan. Tapi mungkin ini adalah kelebihan dari sifat dewaannya. Kulit tangannya tidak dingin seperti kulit Zephyr. Kulitnya cukup hangat, sama seperti kami manusia. Walau aku tahu bukan darah yang mengalir di tubuh itu melainkan ichor, cairan berwarna biru yang memenuhi tubuh para dewa. Hangat mulai merebak di pipiku. Tapi rasanya bukan karena tangannya, tapi karena tubuhku yang tiba-tiba memanas.

Aku sudah berani memandang matanya dengan lamat kini. Aku perhatikan seluruh figur di wajahnya. Aku baru menyadari sebuah titik hitam berada di bawah salah satu matanya. Aku menyentuh titik legam itu. Seperti sebuah tanda, yang tercipta dari arang. Tapi menempel lekat di kulitnya. Aku belum berani menyentuhnya jauh dari area wajahnya. Padahal sejujurnya setelah aku berhasil menyentuh wajahnya, aku tergiur untuk menyentuh lengan, dan dadanya yang kekar. Tidak, itu terlalu berlebihan.

Detik telah berganti menjadi menit, menit lalu bergeser menjadi jam. Aku dan Apollo masih saling berpandang, dan menyentuh wajah satu sama lain. Ia membacakan sebuah puisi, yang pernah ia buat untuk ibunya. Aku pun menceritakan kehidupan masa kecilku, begitu pun Apollo. Walaupun ia hanya menjalani masa kecilnya kurang dari satu minggu. Dewi Leto –ibunya, memberikannya Ambrosia –makanan para immortal, saat hari kelima setelah ia lahir. Membuatnya berubah menjadi dewasa, di usia terprima. Ia tidak bisa mengatakan usianya berapa, ia tidak tahu.

Malam itu aku merasa menjadi lebih dekat dengan sang dewa. Aku ingin mengutuk diriku sendiri, tapi aku tak sanggup. Aku sudah membiarkan diriku menjadi mangsanya kini. Aku tidak tau bagaimana ujungnya. Kutukan atau malapetaka apa yang menantiku kelak. Aku hanya memohon agar sampai waktu itu tiba, perasaanku pada Apollo sudah bertumbuh dengan pesat, menjadi besar melebihi kutukan itu sendiri. Maka tidak akan ada celah untuk rasa penyesalan atau ketakutan, saat hari itu tiba. Kami, atau bisa dibilang, aku, tertidur dengan tangan yang saling bertaut.

Mulai malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menjaga kedua tanganku dengan sebaik mungkin.

 

Dua hari setelahnya, aku dan Apollo masih menghabiskan banyak waktu kami bersama-sama. Satu siang, aku mangkir dari kelas kesenianku, untuk berpergian dengan Apollo. Ia mengajakku ke air terjun yang berada di dalam hutan. Cukup jauh. Aku awalnya bingung, dengan apa kami pergi kesana? Apollo mungkin bisa dengan sekejap berada di tempat itu, dengan bertransformasi menjadi cahaya, tapi aku? Aku bahkan berjalan dengan lambat. Tapi ternyata ia membawa kereta kencananya yang pernah kulihat di saat pertemuan pertama kami. Kereta itu berada di pinggir sungai Eurotas kini, lengkap dengan tiga angsa yang akan menariknya. Aku tidak pernah membayangkan akan menaiki kereta para dewa.

Tak butuh waktu lama. Ternyata angsa tersebut tidak bekerja dengan berenang, tapi hewan itu terbang, menarik kereta kencana yang berisi diriku dan Apollo. Aku berseru dengan riang, kala aku menyentuh awan, dan rambutku berterbangan. Apollo hanya terkekeh dan tersenyum melihat tingkah manusia setengah dewa disampingnya.

Kami sampai di air terjun itu. Keberadaannya sangat terpencil, hingga rasanya tidak ada manusia yang bisa menerobos hutan sedalam ini. Air yang terjatuh pun terasa berbeda. Segar, dan bening seperti kristal. Aku dan Apollo berenang dan bermain seperti anak laki-laki berumur tujuh tahun. Kami berlarian saling mengejar dan tertangkap. Aku tidak tau dewa suka bermain-main. Ternyata karakteristiknya tidak jauh dengan karakter manusia.

Di awal, saat Apollo membuka jubahnya, aku sempat termangu dengan pemandangan tubuhnya. Bahkan dengan air sejernih dan seberkilau di danau ini saja. Kerlingannya masih kalah dengan kerlingan di tubuh surgawi itu. Tubuhnya bak pahatan, otot-otot perutnya terbentuk sempurna. Aku menelan ludah ku beberapa kali, dan bahkan sampai tak mampu mengedipkan mataku.

Setelahnya kami bersantai dibawah pohon ara. Ia mengambil beberapa buahnya yang sudah matang. Apollo duduk dengan kaki terulur. Ia lalu menepuk pahanya, memintaku berbaring, dengan pahanya menjadi bantalan kepala. Aku menurut. Pahanya kokoh, namun nyaman. Beberapa buah ia letakkan di atas rerumputan, dan masing-masing berada di tangan kami. Buah itu sudah matang sempurna.

Mataku tidak dapat terbuka dengan baik, karena sorot sinar matahari membutakan netraku, diposisi seperti ini. Apollo sepertinya menyadari itu. Aku tidak tau ia melakukan apa setelahnya, tapi beberapa saat kemudian, sinar itu tak lagi menyorot tepat ke wajahku. Aku memandangnya curiga. “Bahkan sinar matahari malu berhadapan dengan paras indahmu,” tuturnya, sambil tertawa ringan.

Aku menyantap buah berkulit gelap itu. Manis. Cairan pink lalu membasahi tanganku, setelah gigitan pertama. Apollo pernah bilang, bahwa dewa tidak memakan makanan manusia. Mereka hanya memakan ambrosia dan nektar. Tapi ia penasaran dengan rasa makanan yang menjadi buah favoritku itu. Cairan pink dari buah yang digigit Apollo lalu menetes dan jatuh ke pipiku. Aku asalnya ingin mengusap cairan itu, dengan tanganku. Tapi pergerakanku gagal terlaksana, sesaat wajah Apollo mendekat, dan kini hanya berada sejengkal dari wajahku. Aku bisa merasakan deru nafasnya di pipiku.

Semakin dekat,

Semakin dekat,

Sampai akhirnya bibirnya mendarat di pipiku. Tepat dimana cairan itu terdampar. Aku secara spontan menutup mata, dan menahan nafasku. Apa yang ia lakukan? Ia menjulurkan sedikit lidahnya untuk menyapu cairan itu dari pipiku. Bulu kudukku meremang. Desiran aneh tiba-tiba menjalar di tubuhku. Di antara rasa yang awam itu, aku dapat mencium aroma yang familiar. Seperti aroma buah ara yang terlalu matang, dan terpapar sinar matahari. Bau manis, hangat, dan musky. Saking tersirapnya, aku sampai menjatuhkan buah yang masih ada ditanganku. Dengan malang buah itu menggelinding di rerumputan.

Apollo mengangkat wajahnya, dan menatap lamat mataku yang terbelalak.

“Aku baru tau begini rasanya,” ucapnya, masih dalam jarak yang intim.

“Bagaimana?” Tanyaku dengan suara bergetar.

“Manis.” Aku mengangguk setuju. Buah ara yang sudah matang memang manis, dan menyegarkan. Ia lalu melanjutkan ucapannya, “kau, makhluk fana.” Alisku terangkat, tanda kebingungan. Ia hanya melempar senyum, dan membawa tubuhnya kembali tegak, dan bersandar di batang pohon besar. Meninggalkanku dengan sejuta tanya, dan hati yang memanas.

Semilir angin menerbangkan rambut emasnya. Mahkota yang biasa digunakan, berada disamping jubah Apollo yang masih terjemur di atas batu besar di pinggir danau, bersama tunikku. Kami berbicara banyak hal. Aku, lebih tepatnya. Apollo lebih banyak mendengarkan kali ini. Aku bercerita mengenai keinginanku untuk menjadi seorang prajurit. Keinginan untuk jadi seorang musisi, dan keinginan untuk bisa meramal. Aku belum bisa memilih, bidang apa yang paling cocok untukku. Tapi bagi seorang pangeran, semua orang pasti mengharapkanku untuk bertempur membela kerajaan. Aku juga menginginkannya. Tapi melihat kemampuanku di aktivitas fisik, belum mumpuni. Maka aku harus menguatkan keterampilan lain, jikalau, memang aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang prajurit. Jujur saja, setelah aku bertemu Apollo, aku semakin tertarik untuk menjadi musisi. Bermain lira, dan bersenandung. Tapi entahlah. Ayahku sebenarnya tidak pernah memaksaku melakukan apapun. Aku bebas memilih apapun yang ku mau.

“Apollo, kau adalah dewa ramalan, bukan?” Aku bertanya, dan ia dengan cepat mengangguk.

“Berarti kau bisa meramal ku?”

“Bisa.”

“Apa kau pernah melakukannya?” Aku bangun dari baringku, di paha Apollo. Aku kini duduk bersimpuh. Wajahku ku bawa mendekat padanya, dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

“Belum. Kau ingin aku melakukannya?”

“Tidak. Jangan lakukan,” sergah ku cepat, sambil melambaikan tanganku ribut.

“Karena?”

“Aku ingin selalu merasa terkejut, dengan setiap momen kehidupanku, dengan apa yang akan terjadi pada kita,” aku berkata. Apollo masih menatapku dengan lamat, “dan aku ingin kau merasakan kejutan-kejutan itu juga. Sebuah sengatan kecil di hati, ketika kau merasa terkejut. Itu amat mengasyikan.” Aku lihat Apollo menenggelamkan matanya, saat sang senyum terbit di bibirnya. Ia menyentuh pipiku dengan ibu jarinya.

“Aku sejak awal, tidak berniat untuk meramalmu. Aku tidak berani melihat masa depanmu,” ia menghela nafas panjang, “aku takut jika aku tidak ada disana,” tuturnya.

 

Setelah kepergian kami ke air terjun, Apollo tidak menghampiriku lagi selama seminggu penuh. Aku mulai merasakan kehampaan di kamarku. Temaram tak pernah membuatku merasa kesepian. Tapi selama seminggu ini, aku merasakannya. Seringkali aku menunggunya di pinggir jendelaku. Duduk dimana ia biasa duduk sebelumnya. Seperti yang kulakukan saat ini. Memandang bulan, berharap sang dewi bulan –Artemis, yang merupakan saudara kembarnya, dapat melihatku dari atas sana. Sedang termangu dilingkupi harap, menanti kehadiran adiknya.

Dua hari yang lalu, ayahku memanggilku ke ruang pribadinya. Kami berbicara di pinggir perapian. Aku tidak mengerti mengapa ia menyalakan perapian di musim panas. Memang sudah peralihan ke musim gugur, tapi cuaca masih terlalu hangat untuk menyalakan api sebesar ini.

Awalnya ia membuka percakapan dengan pembahasan tentang bagaimana aku mulai pandai dalam bidang memanah, dan mendapat pujian dari Militheus. Lalu ia membahas mengenai kemangkiranku pada kelas kesenian, beberapa hari lalu. Aku berdalih. Aku mengatakan bahwa aku pergi berburu ke hutan dalam. Ia tampak tidak percaya, tapi akhirnya ia hanya memintaku untuk berhati-hati, karena di dalam hutan masih banyak beruang yang ganas. Aku ingin mengatakan padanya, bahwa aku sudah bertemu dengan salah satunya, tapi tak mungkin ku katakan. Itu akan membuatku semakin sulit bepergian sendiri.

Akhirnya, ia menanyakan sebuah pertanyaan, yang ditanyakan dengan ragu-ragu. Ia menanyakan, apakah aku pernah melihat sosok dewa di sekitar kastil atau di dalam hutan. Jujur aku tersentak mendengar pertanyaanya. Jelas aku melihatnya. Bukan hanya melihat, aku bahkan melakukan banyak hal dengan dewa itu.

Aku menjawab pertanyaan itu dengan bualan. Aku tak mengatakan bagaimana dewa itu bahkan berada di dalam kastil ini hampir setiap malam, dan aku menghabiskan hampir separuh waktuku dalam sehari dengannya, selama beberapa bulan terakhir.

Wajah ayahku tampak gusar, aku menangkap beberapa momen, saat ia menatap nanar perapian. Aku tidak tahu apa yang salah dengannya. Apakah ia sedang memikirkan sebuah peperangan atau apa? Aku tidak bisa dan berani menanyakan itu.

Di akhir, ia berpesan padaku; jangan sampai jatuh pada jerat sang dewa jikalau kau bertemu salah satunya. Dewa adalah makhluk yang kejam dan dingin. Aku rasanya ingin menyangkal semua perkataannya. Pertama; terlambat. Aku sudah jatuh. Kedua; ia tidak kejam dan dingin. Tidak padaku, dan juga nafasnya hangat sama seperti kami para mortal. Ketiga; aku tidak peduli dengan perkataan ayah.

Sudah lewat tengah malam. Cuaca sudah mulai beralih dari musim panas ke musim gugur, membuat angin bertiup cukup kencang, menerbangkan helaian rambut gelapku. Aku bersandar pada dinding batu, bingkai jendelaku. Aku duduk disana sudah hampir dua jam lamanya. Kamarku berada di lantai tiga bangunan batu ini. Kakiku menjuntai, menggantung di udara. Sayup-sayup, saat mataku mulai terasa berat, karena tiupan angin, aku melihat burung gagak yang aneh, terbang dekat. Gagak itu berwarna putih, aku baru pertama kali melihat yang seperti itu. Menit setelahnya, yang ku ingat, aku memejamkan mataku.

Aku tak tau berapa lama aku tertidur di ujung jendela, di atas ketinggian tiga lantai. Tapi yang jelas, aku tersentak ketika tubuhku terambang dengan bantuan dua tangan kokoh. Aku terbangun, dan menemukan Apollo membawaku masuk ke dalam kamarku.

“Apa yang kau lakukan disana?!” Bentaknya padaku. Aku belum pernah mendengarnya berteriak padaku selama ini. Suaranya terdengar mengerikan.

“Aku tak sengaja tertidur disana. Aku sedang menantimu,” jelasku, mencicit. Tubuhku sudah terduduk di atas kasur kini. Dalam kegelapan aku bisa melihat tubuh Apollo kotor, dipenuhi bercak cairan berwarna gelap. Begitupun di beberapa bagian tubuhku kini.

“Bisakah kau berhenti melakukan hal yang dapat membahayakan dirimu!? Kau adalah setengah dewa, Hyacinth! Tetap saja kau seorang mortal! Kematian bisa menghampirimu kapan saja!” Ia mengatakannya dengan tergesa-gesa. Aku bisa lihat gurat-gurat tegas di dahinya. Aku dapat merasakan getir, dari suaranya.

Aku lalu bangkit dari kasurku, dan berjalan ke arahnya. Aku menjatuhkan diriku, berlutut di hadapannya. Aku tidak mau membuat dewa marah dan memberiku hukuman, maka aku memohon ampunan padanya. Aku takut. Aku belum siap jika dikutuk, atau dihukum saat ini. Perasaanku padanya, belum memenuhi seluruh hatiku.

“Bangun. Aku memaafkanmu, asal kau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.” Akhirnya, suaranya kembali pada suara Apollo yang menggetarkan hatiku, bukan suara yang mencekam. Lantas aku mengangguk dengan yakin.

Wajah Apollo hari ini terlihat berbeda. Cahayanya sedikit redup dari biasanya, gurat di dahinya masih tercetak jelas. Bibirnya sedikit melengkung kebawah, bahkan setelah ia memaafkanku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat bercak yang mengotori tubuhnya. Darah. Aku yakin darah ini milik seorang mortal. Karena warnanya merah, bukan warna biru, seperti darah para dewa. Ataupun berwarna anggur gelap, seperti darah para nymph.

“Apa yang terjadi padamu?” Tanyaku. Aku tidak bisa menyimpan ekspresi khawatir.

“Aku baru menyelesaikan tugasku,” jawabnya datar. Aku ingin sekali menodongnya dengan ribuan tanya. Tapi aku tak berani. Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik. Aku pun baru melakukan kesalahan. Aku tidak mau membuatnya marah untuk kedua kalinya.

“Tolong izinkan aku, membersihkan tubuhmu,” pintaku.

Ia tidak langsung menjawab. Ia butuh waktu beberapa sekon, hingga akhirnya mengangguk setuju.

Kami berada di dalam kamar mandi, di dalam kamarku. Aku cukup kesulitan menyiapkan air di dalam sana. Karena aku belum pernah menyiapkan air mandi sendiri selama ini. Pelayan selalu siap untuk memenuhi bak mandiku dengan air dan bebungaan, setiap kali aku ingin mandi. Tapi akhirnya aku berhasil. Apollo sudah berada di dalam bak marmer yang terisi penuh air. Aku di luar bak menggosok tubuhnya dengan kain yang biasa dipakai oleh para pelayan untuk menggosok tubuhku. Saat aku mengusap dadanya, tangan Apollo menangkap pipi ku. Mengusap bercak darah disana. Bercak yang tak sengaja berpindah dari tubuhnya, ke tubuhku.

“Aku membuat tubuhmu kotor,” ucapnya.

“Tidak apa. Aku akan membersihkannya, setelah aku selesai denganmu,” jawabku.

“Tidak. Bergabunglah. Aku akan membantumu.”

Aku tidak berani dan tidak sanggup membantahnya. Maka aku lakukan. Aku bergabung bersamanya di dalam bak yang tidak terlalu besar itu, setelah menanggalkan tunikku. Kami duduk berhadapan. Kaki-kaki kami merentang, dan terjulur tumpang tindih satu sama lain. Apollo lalu menarik tubuhku mendekat padanya. Ia membasahi wajahku dengan air, dan mengusap kedua pipi dan rambutku, yang terkena bercak darah. Aku tidak tau tugas apa yang ia kerjakan, sampai menciptakan pertumpahan darah sebanyak ini. Air di dalam bak itu perlahan mulai berubah warna. Mulai mengeruh. Maka aku membuka saluran air, dan mengisinya dengan air baru. Tanganku sedikit bergetar, ketika aku membersihkan rambut emasnya. Helaian-helaian itu sangat halus, mengelus sela-sela jariku.

Aku tak tau sejak kapan, tapi Apollo tidak melepaskan tatapannya dariku. Matanya bergerak kemanapun tubuhku bergerak. Aku tidak bisa membaca siratan dari tatapan matanya. Tanpa kusadari, dada kami kini sudah hampir menempel satu sama lain, menandakan jarak intim sudah tercipta di antara kami. Sepertinya ia menarikku secara berkala dan perlahan, selama aku mengurusnya. Bahkan sudah tidak ada sejengkal, jarak diantara kami. Belah bibirnya terbuka sedikit. Bibirnya berwarna merah muda dan mengkilap, menampilkan pantulan cahaya sewarna fajar, dari lampu minyak yang menggantung di sisi-sisi ruangan. Aku menelan ludahku, mendapati pemandangan menawan itu. Terakhir kali aku berada sedekat ini dengan wajahnya, sekitar sepekan lalu, saat di bawah pohon ara.

Ia mengusap wajahku. Tangannya berjalan menurun, secara perlahan dari pelipis, sampai ke dagu. Tanganku mengerat pada sehelai kain yang aku genggam sedari tadi, di pinggangnya. Ia angkat dagu ku, membuat pandangan kami sejajar. Aku langsung terpaku dengan manik aquamarine itu.

“Katamu, aku bisa menyentuhmu dimanapun,” ucapnya pelan. Aku mengangguk, untuk menjawab pertanyaannya. Aku sudah terjerat, kau bisa menyentuhku kapanpun dan dimanapun, benakku.

Ia mencondongkan lagi wajahnya. Menggodaku dengan deru nafasnya yang berhembus menabrak pipi dan bibirku. Aku beberapa kali ikut membuang nafas berat, karena sensasi aneh yang aku rasakan di tubuhku. Ia mulai menyentuh punggungku, mengusapnya lembut. Sentuhannya membuatku merasakan hal-hal yang tak bisa ku identifikasi, hal-hal yang belum pernah tubuhku jumpai sebelumnya. Aku berfikir, apakah sensasi ini tercipta berkat sifat kedewaannya? Jemarinya dengan lihai menari di tubuhku. Di perut, leher, dan dada. Secara natural aku memejamkan mataku, dan merasa tiap jengkal sentuhannya.

Dahi kami sudah menyatu, begitu pula dada kurusku dan dada bidangnya. Detak jantungku berdetak bak genderang penanda peperangan. Aku sampai tak bisa merasakan detak Apollo, saking kencangnya jantungku bekerja. Nafasku tersengal-sengal. Aku tidak tahu mengapa tubuhku bereaksi seperti ini hanya dengan sentuhannya. Hidung kami saling bersinggungan, dan aku menyesap tiap nafas yang keluar dari mulut dan hidungnya. Bibir Apollo. Aku ingin merasakan bibir dewa. Hasrat itu terus mendesakku.

Jari Apollo kini terjerat di antara helai rambutku. Aku dapat merasakan tangannya mendorong pelan kepalaku. Sehingga bibir kami akhirnya bertemu. Aku dan Apollo sama-sama membuka mulut kami. Aku akhirnya merasakan bibirnya. Bibir yang acap kali merapalkan bait puisi pengantar tidur. Hawa hangat dan manis memenuhi mulutku. Seperti memakan madu yang terpapar matahari. Tapi ini jauh lebih lezat, aku tidak bisa deskripsikan dengan baik, keagungan ini.

Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, maka aku hanya menerima apapun yang Apollo berikan. Aku mereguknya, dengan rakus. Tiap hembusan nafas, dan sesapannya. Tak sadar, kedua tanganku sudah bertengger di lehernya. Ia lalu beralih menciumi leherku. Desiran aneh itu semakin menjadi. Darahku seperti berjalan di arteri secara abstrak. Aku berkali-kali menahan nafasku.

Bak pelajaran lira ku dengan Apollo, jemariku bergerak lihai diantara dawai-dawai. Kini jari-jariku bergerak lihai di helaian rambut emasnya. Tubuhku semakin terdorong kebelakang, sampai punggungku menyentuh ujung bak batu yang dingin. Aku mengistirahatkan kepalaku di ujung lisnya. Tinggi air di dalam bak mungkin hanya setinggi perut kami.

Apollo mulai bergerak menurun, dari leherku. Ia menjulurkan lidahnya, dan menyapu dadaku. Hangat. Lidahnya terasa hangat dan halus. Tidak seperti lidah kucing yang pernah menjilat jemariku. Aku mengerang, tatkala pucuk dadaku dihisap olehnya. Membuat efek sengatan hebat di tubuhku. Aku tidak tau mengapa ia melakukan ini padaku. Yang kutahu posisi ini biasa dilakukan oleh seorang bayi pada ibunya. Aku tidak tau jika pria dewasa juga melakukannya. Tapi anehnya, itu tidak menganggu sama sekali. Bahkan aku menyukainya. Aku menyadari satu hal, setelah sesapan-sesapan yang Apollo lakukan ditubuhku. Kemaluanku mulai mengencang.

Apollo lalu menarik pinggangku merapat padanya. Sambil ia kembali melahap bibirku. Ia mengangkatku hanya dengan satu tangannya, dan yang kulakukan adalah; melingkarkan kedua kakiku pada tubuhnya. Aku tidak tau apakah hal ini pantas dilakukan kepada dewa. Tapi kepalaku kosong. Aku sudah tidak mampu memikirkan tata krama.

Ia bangkit dari bak sempit ini, denganku berada di tangannya. Ia berjalan keluar, menuju kasurku. Sambil terus Menggerus bibirku, seperti anggur yang akan diubah menjadi wine. Aku mulai berusaha membalasnya, dengan mengikuti apa yang ia lakukan padaku. Ku lumat bibir bawahnya, dan ku sesap perlahan.

Kaki yang melingkar di tubuhnya ku lepaskan, tatkala punggungku menyentuh kasur. Tubuh kami masih basah. Tapi aku tidak peduli. Lidahnya mendesak masuk kedalam mulutku. Melilit lidahku. Aku tau Apollo tidak akan mati, hanya karena tidak bernafas. Tapi aku akan, dan ia melupakan itu. Aku menepuk pundaknya pelan, ketika aku merasa pasokan oksigen ku sudah mulai menipis. Tapi ia yang sudah terlena, tak menerima sinyal dengan baik. Aku terpaksa mendorong tubuhnya, dan memutus pertautan bibir kami. Aku menarik nafas dalam-dalam setelahnya, sambil memandang wajahnya, yang terlihat menyesal.

“Untuk sesaat aku lupa bahwa kau adalah mortal. Rasamu terlalu nikmat melampaui ambrosia dan nektar. Aku terbuai. Maafkan aku, telah merenggut nafasmu,” ucapnya.

Aku tertawa pelan, melihat sang dewa, merasa begini bersalah, “Aku tak apa-apa,” balasku. Ia lalu mengusap lagi pipi ku. Ia menyatukan dahi kami lagi, lalu aku berbisik di telinganya, “apakah aku harus mendapatkan izinmu, untuk membalas perlakuanmu padaku?” Ia menggeleng. Maka aku kecup perpotongan rahangnya. Bibirku mulai berkelana, ke ceruk lehernya. Bau manis, dan bau besi tercipta di tubuhnya. Campuran aroma tubuhnya, dan residu darah yang baru kami bersihkan. Ia tidak diam saat aku menyesap bagian lehernya. Ia kecup pundakku dengan lembut. Aku tidak tau apakah perlakuan ku padanya, dapat menciptakan sensasi yang sama, dengan yang ia ciptakan pada tubuhku. Aku ingin membuatnya merasakan itu juga, karena rasanya sungguh luar biasa. Aku juga menyesap kedua pucuk dadanya yang mencuat. Tak pernah terlintas bahkan secuil pun pikiran untuk melakukan hal-hal ini bersama sang dewa. Rasanya mustahil, tapi ini semua nyata, dan terjadi.

Apollo berada di atasku. Tangannya yang kekar mengkukung tubuhku di kasur. Tanganku sebaliknya, meremas dadanya yang kencang. Sambil menerima ciuman dari bibir Apollo. Satu tangannya kemudian membelai perutku. membuat ku meremang. Tangannya berjalan ke arah selatan. Sebuah sengatan hebat menjalar di tubuhku, seketika tangannya sampai di kemaluanku yang sudah menegang –tanpa kusadari. Tubuhku melengkung dibuatnya. Ia meremas-ku. Aku bisa merasakan kenikmatan yang tak pernah dalam seumur hidupku sebagai pangeran, ku rasakan. Aku benar-benar memuja Apollo sebagai dewa. Ia bisa memberikan rasa nikmat seperti ini padaku. Sepertinya ini adalah hal-hal yang hanya dewa yang bisa melakukannya.

Kenikmatan itu kian bertambah, kala ia menggerakan jemarinya. Aku menutup mataku, merasakan deburan darah, yang kencang di tubuhku, bak ombak di tengah laut Myrtoan, di malam hari. Aku mencengkram pundaknya dengan kuat, menyalurkan emosiku. Tak sengaja, namanya terlontar begitu saja dari belah bibirku. Membuatnya mempercepat pergerakan tangannya. Tak ada suara lain, selain suaraku yang sedang meracau, dan hembusan nafasnya. Aku tidak bisa membungkam mulutku. Lenguhan, terus memaksa untuk keluar.

“Jangan berhenti, aku mohon,” kataku. Aku tau, tidak sepatutnya aku memerintah dewa. Tapi tiada hal lain yang paling ku inginkan saat ini, selain merasakan kenikmatan ini selama mungkin, yang aku bisa.

Ia tidak berhenti. Tangannya terus bergerak seirama dengan nafasku. Kenikmatan ini terus bertambah, dan bertambah. Aku tau akan ada puncak dari rasa ini. Aku merasakan sesuatu akan keluar dari kemaluanku. Saat itu, aku tau aku akan sampai di puncaknya tak lama lagi. Aku berseru lebih kencang, begitupun deru nafas Apollo. Sampai akhirnya, cairan hangat menyembur dariku, membuat tubuh ku bergedik hebat. Cairan putih itu berceceran di perutku dan Apollo. Itu adalah puncaknya, aku tau itu. Rasa nikmatnya luar biasa. Tubuhku bergetar hebat, dan lemas setelahnya. Tapi aku langsung bangun dari baring, dan mengelap cairanku yang mengenai tubuh sang dewa. Pada awalnya aku pikir itu adalah air kemihku, dan berpikir betapa berdosanya aku, mengotori tubuh dewa, dengan cairan kotor itu. Tapi ia tidak marah. Ia malah berbaring miring menghadapku. Ia menarikku untuk berbaring di sampingnya.

“Maafkan aku mengotori tubuhmu. Akan ku siapkan lagi air untuk membersihkanmu,” ucapku. Ia menahanku. Menarik tubuhku masuk ke dalam dekapnya. Tubuhnya besar, sehingga aku dengan mudah tenggelam di dalamnya. Ia lalu berbisik, “bisakah kau membuatku merasakan kenikmatan seperti yang kuberikan padamu tadi?”

“Aku tidak tau. Aku hanya manusia setengah dewa,” jawabku polos.

“Aku tidak menggunakan kekuatan dewaku, untuk melakukannya,” jawabnya. Aku tidak percaya pada awalnya. Mana mungkin kenikmatan seperti itu bisa diciptakan oleh makhluk mortal dan bukan bagian dari kekuatan dewanya? Tapi ia menjelaskannya perlahan padaku, dan aku mulai dapat menerima alasannya. Karena itu terdengar masuk akal.

“Aku tidak tau apa aku bisa menciptakan rasa nikmat itu untukmu. Tapi biarkan aku mencobanya. Aku akan berusaha sebaiknya.”

Aku bangkit, dan duduk bersimpuh di samping pahanya yang sedang terbaring. Untuk beberapa saat aku terdiam disana, mencoba mengatur nafas, dan menenangkan diri. Pasalnya tanganku bergetar hebat, dan basahkarena keringat. Aku akan menyentuh milik sang dewa. Aku khawatir.

Apollo tau, apa yang kurasakan, sepertinya tergambar jelas dari gelagatku. Ia bangkit, dan duduk berhadapan denganku. Ia mengusap lenganku, dan mulai mencium bibirku lagi.

Itu berhasil. Aku jauh lebih tenang, dari sebelumnya. Aku akhirnya beranikan diriku untuk menyentuh bagian bawah perut Apollo. Tanganku penuh dengan milik dewa. Sudah mengeras, dan kekar. Tidak ada yang tidak gagah dan kekar di tubuh ini, selain bibir dan matanya –itu terlihat indah. Aku mulai menggerakan jemariku. Mencoba mereplika apa yang ia lakukan padaku sebelumnya.

Lumatan bibir kami terputus. Apollo memejamkan matanya, dan menengadah ke langit-langit. Aku mengambil kesempatan itu, untuk menyesap ceruk lehernya. Ia tidak berisik sepertiku. Ia tenang. Tapi aku bisa rasakan nafasnya berderu, tersengal-sengal. Dada busungnya naik turun. Aku tidak tau apakah pekerjaanku ini benar atau salah. Tapi ia tidak mengeluh, atau menghentikanku. Maka aku lanjutkan.

Semakin panas, maka aku naikan tempo pergerakan tanganku. Dan tak lama setelahnya ia menyemburkan cairan hangatnya. Berceceran di tubuhku. Aku terkejut melihat cairan yang terbaring di atas kulitku. Cairan itu putih dan berkilau seperti mutiara. Aku tidak mengerti, apakah hanya efek yang diciptakan di mataku, atau memang milik dewa berbeda? Aku tidak pernah dengar informasi terkait.

“Apa aku melakukannya dengan baik?” Tanyaku pada Apollo. Ia tersenyum, dan mengecup ujung hidungku, “Ya,” jawabnya singkat.

Kami sudah membersihkan tubuh kami, dan kini sudah terbaring bersisian satu sama lain di atas kasur.

“Aku menyukainya, bisakah kita melakukannya lagi dilain kesempatan?” Tanyaku.

“Tentu. Kapanpun kau menginginkannya,” jawabnya. Aku menyukai, ketika ia memperlakukanku seolah aku lah yang dewa di antara kami berdua. Ketika ia menuruti perkataanku, tanpa banyak penjelasan.

Kami tidak langsung tidur. Karena aku merengek sebuah penjelasan terkait tugasnya, sebelum ia hadir disini. Dan akhirnya Apollo bercerita. Ia dan sang kembaran –Artemis, pergi ke kaki gunung Sipylus, untuk menghampiri seorang perempuan yang telah menghina ibunya. Dan apa yang ia lakukan, cukup mencengangkan. Aku tak bisa mengedipkan mata, dan menutup mulutku, saat ia menceritakannya. Kedua kembar dewa-dewi bulan-matahari, itu menghabisi ke empat belas anak dari perempuan itu. Hukuman atas penghinaan yang ia lontarkan kepada seorang dewi.

Aku tidak mau percaya. Tapi aku harus percaya. Karena Apollo adalah dewa, sifat angkuhnya pasti masih ada di dalam dirinya, walau tak pernah ia munculkan dihadapanku. Perempuan itu menghina dewi Leto, karena hanya melahirkan dua anak –Apollo, dan Artemis. Sedangkan perempuan itu dapat menghasilkan empat belas anak, dengan jumlah yang rata –tujuh perempuan dan tujuh laki-laki. Apollo menghabisi anak laki-laki beserta suami, dan Artemis menghabisi anak perempuan. Hukuman terakhir untuk perempuan malang itu adalah dari sang ayah, Zeus.

Apollo tidak tau apa yang ayahnya lakukan pada perempuan itu, karena setelah ia menghunuskan anak panah ke kepala sang suami, ia langsung bergegas menghampiriku. Ketika seekor gagak menginformasikan padanya, jika aku sedang dalam bahaya. Gagak. Apakah gagak putih itu yang ia maksud?

“Tunggu, jadi kau bertransformasi menjadi gagak?” Tanyaku, tak percaya.

“Tidak, itu bukan aku. Itu hanya hewan, yang ku tugaskan untuk menjagamu.”

“Kau menugaskan hewan? Seperti ayahku menugaskan prajurit?”

“Ya, bisa dibilang begitu.” Aku seharusnya tidak kaget. Aku hanya lupa aku sedang berbicara dengan siapa. Dewa.

“Tapi kau bisa bertransformasi menjadi hewan?”

“Tentu, hampir sebagian dewa bisa melakukannya.”

“Hewan apa? Aku takut, tak sengaja membuatmu tertembak ketika aku sedang berburu,” jawabku. Ia terkekeh geli, dan mengusap pucuk kepalaku.

“Kau tidak akan menemukanku di dalam hutan. Aku paling sering memilih untuk menjadi lumba-lumba,” jawabnya. Aku dengan spontan tertawa. Apa tidak ada hewan lain yang lebih gagah? Singa? Atau buaya mungkin? Kenapa ia malah memilih hewan licin itu?

“Kenapa lumba-lumba?”

“Kata ibuku, ketika aku dan Artemis lahir di pulau Delos, beberapa lumba-lumba menyaksikan persalinannya dari laut, dan mereka memberikan selamat pada ibuku. Disaat tidak ada makhluk hidup lain disana selain kami. Jadi hewan itu cukup spesial bagiku,” jelasnya. Aku tidak tau bahwa cerita dibaliknya penuh dengan makna. Satu yang aku pahami betul dari Apollo. Ia amat menyayangi ibu dan saudara kembarnya.

“Apollo, menurutmu, jika aku bisa berubah wujud menjadi sesuatu. Apa yang paling cocok denganku?” Tanyaku. Sudah dini hari, tapi kini bukannya mengantuk, aku malah semangat mengobrol dengannya.

“Permata. Karena kau indah,” jawabnya cepat.

“Permata terdengar berlebihan. Keindahannya juga tidak bisa dinikmati semua orang. Hanya kalangan raja dan dewa saja yang bisa menikmati keindahannya,” sanggahku.

“Keindahanmu lebih pantas untuk dinikmati makhluk-makhluk tertentu saja. Bahkan tidak semua dewa pantas untuk menikmati keindahanmu,” tuturnya tegas. Aku bisa melihat alisnya terangkat sebelah. Setelahnya ia lanjutkan kalimatnya, “hanya aku yang pantas.” Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa tertawa ringan. Entah mengapa, tapi aku suka jawaban itu.

“Aku serius, Apollo.”

“Aku pun sama,” jawabnya. Melihatku terdiam dan hanya menatapnya dengan dahi yang berkerut, ia lalu membuka belah bibirnya, “baiklah. Lantas keindahan seperti apa yang bisa dinikmati oleh semua orang?” Tanyanya.

“Bunga?” Jawabku. “Seperti yang bertebaran dimanapun, saat musim semi.”

Ia tersenyum, mendengar celotehanku, “aku yakin, bunga itu adalah bunga tercantik yang pernah tumbuh di bumi,” ucap Apollo. Ia merengkuh tubuhku ke dalam sebuah pelukan. Tak lama setelahnya kami tertidur. Aku rasa Apollo tidur malam itu. Karena aku sempat terbangun, dan menemukannya memejamkan mata, dan nafasnya tenang. Aku menyukai wajahnya yang sedang tertidur. Ia terlihat menawan. Bulu matanya panjang, dan tebal, menjuntai seperti tirai.

“Selamat malam, O ilios mou. (My sun)” Kukecup ujung hidungnya, berharap tidak membangunkannya.

Malam itu aku bermimpi, dengan jelas dan terang.

Sore hari di satu lahan luas, dekat sungai Eurotas, aku mengunakan tunik sewarna gading, dan Apollo dengan jubahnya berwarna merah, lengkap dengan renda emas di tiap ujungnya. Kami berlarian, saling mengejar dan tertangkap. Aku tertawa dengan lepas, begitu pula Apollo. Kami terlihat menikmati sore itu. Aku menyapa seekor gagak putih yang terbang rendah. Aku rasa latar dari mimpi itu musim semi, karena aku dan Apollo menanam bunga bersama setelahnya. Aku yang menyirami, dan Apollo yang menyinarinya.

Aku ingin mimpi itu menjadi kenyataan.

 

Beberapa hari kemudian, siang hari, saat aku sedang di dalam kelas melukis. Salah satu pelayan mengatakan, ayahku memanggil di ruang pribadinya. Sungguh aneh. Ia jarang memanggilku siang hari, kecuali ada tamu kerajaan. Aku sampai di depan pintu kayu besar. Pintu itu langsung dibukakan oleh prajurit yang berjaga. Ruangan itu besar. Aku bisa langsung menemukan ayahku di dalam sana. Sedang berdiri dengan cawan anggur berada disatu tangannya, “putraku,” sapanya.

Aku yakin ada tamu kerajaan disana. Ia tidak akan menyapaku begini jika tidak ada orang penting. Benar saja. Aku melihat laki-laki tinggi, gagah sedang duduk dengan penuh wibawa, di salah satu kursi. Rambut emasnya berkilau seperti biasa. Apollo. Ya, dia ada diruang pribadi ayahku. Aku tersentak melihat eksistensinya disana. Meminum anggur dengan seorang raja yang murni manusia fana. Ia tersenyum padaku. Aku tidak. Aku masih menunjukkan ekspresi bingung. Ayahku menghampiri, merangkul dan membawaku mendekat.

“Dewa matahari, Apollo,” terang ayahku. Aku sudah tau. “Sampaikan hormatmu, nak,” titanya padaku.

Aku menunduk, “Yang mulia,” ucapku kaku. Aku sudah tidak terbiasa dengan titel itu. Aku sekarang terbiasa mendesahkan namanya dalam temaram.

“Kedatangannya, memintamu untuk menjadi pendampingnya,” ucap ayahku. Aku langsung melongo. Kenapa ia memintaku pada ayahku secara langsung begini? Ayahku terlihat gugup. Aku bisa lihat peluhnya bercucuran ke janggutnya, dari pelipis. Tak biasanya ia begini. Apa karena seorang dewa yang mendatanginya.

“Kenapa?” Tanyaku. “Kenapa memilihku, Tuan?”

Apollo bangkit dari duduknya. Menghampiriku dan ayah. Ia berdiri tepat didepanku. Cukup dekat sampai aku harus sedikit mendongak untuk bertemu matanya. “Kamu yang terbaik di negeri ini. Aku telah melihatmu berburu di dalam hutan.”

Tidak, bukan aku yang terbaik di negeri ini, aku bahkan bukan yang terbaik di kerajaan ini, batinku.

Ayahku terlihat gusar. Aku tau ia menginginkanku untuk menolak permintaan sang dewa. Aku ingat malam ketika ia mengatakan dewa adalah makhluk kejam dan dingin. Tapi disatu sisi ia tahu, kami para mortal tidak bisa menolak permintaan dewa dengan mudah. Apalagi permintaan yang diminta secara resmi seperti ini.

“Baiklah,” jawabku. Apollo tersenyum. Ayahku tidak.

 

Apollo mengajakku untuk ikut bersamanya. Ia bahkan mengajakku di depan ayahku. Laki-laki tua itu sudah tidak punya banyak kendali lagi atasku kini. Apabila dewa sudah meminta seseorang untuk mendampinginya, maka orang itu harus tunduk dengan perintah sang dewa. Apapun itu. Dan siapapun yang menentang mungkin akan mendapat hukuman.

Kami kembali ke air terjun. Menggunakan kereta kencananya. Aku tidak bosan berkendara dengannya. Sangat mengasyikan. Dan air terjun ini. Aku juga tidak akan pernah bosan mengunjunginya.

Aku dan Apollo tengah berenang di danau. Aku berteriak dan berseru girang. Aku senang bukan main diminta menjadi pendampingnya, satu kejutan lain yang Apollo berikan padaku. Ia juga terlihat senang. Walaupun ia tak berteriak dan berseru tapi aku bisa lihat dari wajahnya. Cahaya matahari di angkasa juga menjadi lebih terang dari biasanya.

Aku berenang menembus tirai air terjun yang menjuntai dari puncak bukit. Dibaliknya aku menemukan pintu gua. Gua itu unik. Tidak seperti gua lain yang gelap. Gua ini dipenuhi dengan bebatuan berwarna hijau muda, batu emerald sepertinya, aku kurang yakin. Warnanya seperti warna air di danau, dasar air terjun. Dindingnya pun sama. Aku sudah beberapa kali kesini, tapi belum pernah tau keberadaan gua ini.

Ternyata gua itu tidak dalam. Hanya belasan langkah kaki dan aku sampai di ujungnya. Saat aku membalik tubuhku, aku langsung menabrak tubuh besar Apollo yang berdiri di balik punggung. Ternyata ia menyusul di belakangku. Ia mengikutiku yang berjalan masuk ke dalam gua. Aku tidak dengar suara langkahnya. Aku tidak pernah mendengarnya.

Apollo melangkah mendekat padaku. Aku sontak mengambil langkah mundur. Ternyata ia sengaja membuatku terpojok, untuk menciumku. Aku mulai terbiasa dengan ciuman yang ia berikan. Alih-alih terganggu, aku malah mendambanya di setiap saat. Setiap hari yang ada di kepalaku hanya rasa yang mengalir dari mulutnya, sentuhannya, dan kenikmatan yang ia ciptakan.

Aku dengan mudah mengalungkan tanganku di leher Apollo. Seperti aku menggantungkan hidupku padanya. Ciuman itu telah berganti menjadi pagutan. Tangannya mulai menggerayangi tubuhku. Dan sampailah kami di kegiatan itu. Tangan kami berdua bekerja secara bersamaan, memuaskan satu sama lain. Aku selalu menjadi yang berisik disana. Aku tidak tau bagaimana ia bisa menahan lenguhannya. Aku mencapai puncak terlebih dahulu. Cairan itu menyembur kemana-mana.

“Aku bisa memberi rasa nikmat diatas rasa nikmat ini,” ucapnya, diselingan hembusan nafas berat. Pikirku, ia akan menggunakan kekuatan dewanya mungkin kini. Karena ini saja sudah terlalu nikmat. Apakah ada rasa yang lebih dari rasa ini? “Mau melakukannya?” Sambung Apollo. Aku yang penasaran lantas mengangguk.

Ia lalu memutar tubuhku, membuatku menghadap dinding batu. Aku menoleh sedikit ke arah nya di balik punggungku, “Apollo, aku harus melakukan apa?” Tanyaku. “Diam, dan terima,” ucapnya lembut, lalu mencium pundakku.

Tangannya meremas bokongku. Membuatku sedikit terlonjak. Ia lalu menyentuh lubang analku. Aku terkejut, dan sempat membalikkan tubuhku kearahnya. Apa yang akan ia lakukan? Ia meyakinkanku untuk percaya padanya. Tentu aku percaya padanya.

Aku bisa merasakan ia meregangkan lubangku dengan tangannya. Menarik-narik sedikit bokongku. Sejujurnya aku malu. Tapi aku kesampingkan rasa itu. Karena desiran hasrat ku dengan cepat muncul lagi saat tangannya menyentuhku disana. Tak lama, aku merasakan miliknya sudah menempel di lubangku. Jantungku berdegup kencang, memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Ia berusaha memasukan miliknya di lubangku. Oh tidak! Ini lubang saluran pembuangan kotoran di tubuhku, apakah pantas dimasuki milik dewa? Aku gugup bukan main. Salah Satu tangan Apollo membekap mulutku, satu lagi untuk membantu memasukan miliknya. Sepertinya ia jengah mendengarku yang ribut terus menanyakan banyak hal terkait yang ia lakukan.

Seperti luka tersayat patahan batang pohon lapuk di tengah hutan. Itu yang kurasakan, saat milik Apollo berhasil memasuki lubangku. Bahkan belum seutuhnya masuk. Baru pangkalnya saja. Aku menjerit dalam bekap tangannya. Aku meremat keras tangan Apollo yang membekap mulutku. Tak sadar, setetes air mata terjun bebas dari mataku. Apollo sadar, aku tersiksa. Ia lalu membuka bekapanku, dan membiarkanku merintih dengan bebas. Setelahnya ia usap, bagian tubuh yang menyakitkanku. Beberapa detik, aku sudah tidak merasakan rasa sakit itu lagi. Aku tidak merasakan apapun. Hanya penuh di dalam lubangku. Kekuatan sang dewa. “Maafkan aku, menyakitimu,” ucapnya lembut, dilanjutkan mencium belah bibirku.

Sengatan aneh menjalar di tubuhku, seketika Apollo menghentakkan pinggulnya. Miliknya menabrak sesuatu di dalam diriku, yang menciptakan gelenyar asing. Demi dewa! Aku dapat merasakan nikmat, yang jauh lebih hebat dari yang ia berikan sebelumnya. Kepalaku kosong. Aku seperti melayang-layang bersama angsa Apollo di angkasa, mencapai puncak Olympus. Aku tidak tau rupa Olympus seperti apa, tapi ibuku selalu mengatakan bahwa disana tempat yang indah, dan tidak kumuh seperti bumi.

Tangan kekarnya memelukku dari balik punggung. Menahanku agar tidak jatuh dan tidak bergerak terlalu hebat. Siapa yang tidak bergerak hebat, diberi kenikmatan seperti ini? Tumbukan dibagian bawah semakin luar biasa. Semakin ia masuk lebih dalam, semakin ajaib rasanya. Apollo berada di dalam tubuhku.

Aku sudah hilang hitungan, perihal seberapa banyak Apollo memujiku. Ia terus mengatakan betapa menawannya tubuhku, dan rasa yang diriku ciptakan. Aku sempat berpikir siapa yang dewa di antara kami berdua? Aku atau dirinya? Suara persatuan kulit kami berdua menggema di dalam gua kecil itu, bersaingan dengan derasnya suara air terjun di luar. Seperti tidak mau kalah, Apollo mempercepat gerakannya. Membuat tubuhku melengkung, menunduk. Kakiku sebenarnya sudah tidak kuat, tapi, Apollo menjaga tubuhku dengan baik. Kami menyembur hebat. Aku rasa cairan itu jauh dua kali lebih banyak dari sebelumnya. Cairan milik Apollo berceceran di lantai gua yang sama mengkilapnya.

Ia memutar tubuhku, dan membawaku ke dalam dekap. Ia tau betul, aku sudah tidak sanggup menopang tubuhku dengan kaki-kaki ku. “Tidak ada yang bisa memberikan kenikmatan ini selainku, Hyacinth,” bisiknya di telingaku. Aku setuju, “aku pun tidak berpikir untuk memintanya dari siapapun selain dirimu,” jawabku, di depan wajahnya.

Aku mencintainya. Aku benar-benar mencintai Apollo, matahariku.

Kami keluar dari gua, denganku yang terangkat, dengan kedua tangan Apollo. Aku sudah mengatakan bahwa aku bisa berjalan, dan aku sudah tidak merasakan rasa sakit, sedikitpun. Tapi ia bersikukuh, untuk menggendongku. Setelah ia menurunkanku di bawah pohon ara, aku bisa melihat wajahnya berubah. Kepalanya lalu menoleh ke segala arah, seperti sedang mencari sesuatu. Ia memberi isyarat padaku, untuk tidak mengeluarkan suara, dan aku menurut, walau aku tidak mendengar atau melihat apapun disana selain kami berdua. Aku bungkam. Hanya mataku yang bergerak lincah mengikuti pergerakannya.

Apollo mengambil busur dan satu anak panah. Ia bidik cepat ke atas pohon yang berada di sebelah pohon kami. Anak panahnya dengan cepat melesat, dalam hitungan detik. Setelahnya aku bisa mendengar suara rintihan, dan sesuatu terjatuh dari puncak pohon. Sebuah makhluk bersayap. Bukan, bukan burung. Ini terlalu besar untuk disebut burung. Walau sayapnya memang nampak seperti burung merpati. Ketika makhluk itu menghantam bumi, aku mengetahui, itu adalah Zephyr. Dewa angin barat, yang sudah lama tak kujumpai.

“Beraninya kau masuk ke tanah suciku,” geram Apollo. Suaranya tidak tinggi, tapi aku bisa mendengar kemarahan disana.

Zephyr bangkit, dan mencabut anak panah yang menancap di pundak kanannya. Setelahnya, cairan biru bercucuran dari sana.

“Beraninya kau mengambil pendampingku,” gertak Zephyr, tak mau kalah. Aku yang mendengar itu, bingung, sejak kapan aku menjadi pendamping Zephyr? Apollo menatapku, dan aku hanya bisa menggeleng ribut. Aku tidak.

“Jangan asal bicara. Kau tak mau pulang tanpa sayap-sayap bodohmu itu ‘kan?” Apollo menggertak lagi.

“Aku yang menemaninya selama ini.” Zephyr masih berusaha mencari alasan yang logis, terkait hubunganku dengannya.

Aku lalu bangkit, dan berdiri di damping Apollo, “baru sekarang kau buka mulutmu dengan lebar?” Kataku mengancamnya, “sepertinya lebih baik kau tidak berbicara, seperti yang biasa kau lakukan, daripada mengatakan hal-hal tidak masuk akal,” serangku lagi.

Aku bisa lihat wajahnya berkerut dimana-mana. Aku telah membuat dewa marah. Tapi aku tidak peduli, Apollo akan melindungiku, ‘kan? Setidaknya itu yang aku yakini. Zephyr setelahnya pergi. Ia terlihat kesulitan mengendalikan sayap kanannya.

“Aku tidak pernah menerima penawaran apapun darinya, aku bersum–” aku berusaha menjelaskan pada Apollo secepat mungkin, perihal hubungan ku dengan Zephyr, tapi ia dengan cepat membuat ku berhenti dengan jari telunjuknya, di bibirku. “Aku tau,” ucapnya santai.

 

Kabar apapun akan cepat sampai di telinga ibuku, seakan ia berada di kamar sebelah. Padahal ia jauh di puncak gunung Helicon.

Esoknya, ibuku menghampiriku. Ia menanyakan perihal ku yang sudi menjadi pendamping Apollo. Pendamping, –Therapon, sebutan bagi orang-orang yang bersumpah setia hidup, dan matinya mengabdi pada sang Dewa. Jabatan ini memang terhormat. Tidak banyak mortal yang mendapat jabatan ini. Kebanyakan adalah sesama dewa. Karena para dewa biasanya tidak sudi berdekatan terlalu lama dengan sosok mortal. Ibuku selama ini, selalu berupaya untukku bisa merebut tahta kerajaan, menggantikan ayahku, dan menggulingkan kedua kakakku. Itu yang ia inginkan. Karena, aku tidak pernah mau ditawari untuk berubah menjadi dewa seutuhnya. Menurutku, hidup selama-lamanya itu mengerikan, dan pasti akan melelahkan dan menjenuhkan.

Aku sempat meneriaki ibuku, kala ia berbicara hal buruk tentang Apollo. Bagaimana laki-laki itu seperti halnya dewa yang amat brengsek. Aku tidak suka siapapun menjelekkannya, hanya karena sikap yang ditampilkannya sehari-hari. Aku merasa, diriku adalah satu-satunya yang paling mengetahui Apollo. Hanya aku yang menghabiskan waktu paling banyak dalam sehari dengannya. Sebelum kembali ke Helicon, ibuku mengatakan satu kalimat;

Jangan terlalu dekat dengan matahari, nanti kau akan terbakar.

 

Kami sedang berburu siang itu. Aku berhasil menembak satu rusa. Sudah berjam-jam kami berburu di dalam hutan. Biasanya aku sudah bisa menembak tiga rusa, dan jika sedang beruntung satu kelinci. Tapi hari ini, entah mengapa fokusku berhamburan. Aku tidak bisa mengeluarkan isi kepalaku, yang cukup banyak ini.

Kemarin malam, ayahku memanggilku lagi. Ia menanyakan perihal hari-hariku mendampingi Apollo. Aku jelaskan beberapa kegiatan yang kami lakukan bersama, tentu tidak kegiatan yang kami lakukan di dalam temaram. Ia hanya mengangguk-angguk. Tatapannya seperti kosong. Aku jarang melihat ayahku begini. Ia biasanya selalu tegas menyampaikan apapun informasi yang perlu kami terima. Nak, dewa adalah wujud dari malapetaka untukmu, ucap laki-laki besar itu, dengan serak. Aku baru menyadari laki-laki ini sudah semakin tua. Rambut-rambut silver kini sudah banyak yang bercampur dengan rambut merahnya.

Aku tau. Ayah, kau tak perlu mengingatkan. Tapi biarkan anakmu ini memilih jalan hidupnya sendiri. Aku sudah memilih untuk masuk kedalam jeratnya.

Apollo sepertinya sadar akan kondisiku, ia mengajakku untuk beristirahat di bawah pohon pinus, di atas batu berukuran besar. Ia memintaku untuk merebahkan tubuhku di kakinya.

“Apa yang mengganggu pikiranmu?” Tanyanya. Tangannya sibuk memainkan rambut gelapku yang kontras dengannya.

“Tidak. Aku hanya memikirkan masa depanku.”

“Ada apa dengan masa depanmu?”

“Harus jadi apa aku? Prajurit, musisi, atau cendekiawan?” Aku menyentuh rahangnya menggunakan ujung telunjuk.

“Cukup jadi pendampingku,” jawabnya.

“Apakah aku akan menjadi pendampingmu untuk selama-lamanya? Kau tidak akan membuangku ‘kan?”

“Tidak mungkin ku lakukan,” tuturnya lembut, “aku mencintaimu, Hyacinth.”

Aku terkesiap. Terakhir kali ia baru menyukaiku, tapi hari ini ia mengatakan ia mencintaiku. Cintaku berbalas. Aku paling suka melihatnya berada di atasku, dari bawah begini. Posisinya memang seharusnya berada di atasku.

“Maukah kau hidup bersamaku selamanya?” Apollo, seorang dewa, memintaku hidup bersama dengannya, selamanya, “kamu tau tidak akan ada selamanya untuk kita berdua? Cepat atau lambat, kematian akan menjadi akhir dari cerita kita,” Balasku. Aku adalah mortal, aku tidak bisa hidup selamanya seperti dirinya. Aku terbayang, ketika aku sudah berubah menjadi seperti ayahku, dan Apollo masih seperti ini, masih gagah dan menawan. Apakah saat itu ia masih menganggapku cantik? Disaat manusia lain akan lahir, dan tumbuh cantik.

“Aku bisa meminta Zeus untuk membuatmu menjadi dewa. Dengan begitu kita akan hidup bersama selamanya.”

Aku tersenyum. Tidak. Aku tidak mau berubah menjadi dewa. Aku tidak mau berjalan tanpa mengetahui ujungnya, tujuannya, akhirnya, dan kapan waktu untuk beristirahat. Itu akan melelahkan. Walaupun Apollo akan berjalan bersamaku.

“Aku harap itu bukan perintah untukku. Karena itu terlalu berat untuk dilakukan.”

“Tidak. Itu adalah sebuah penawaran. Aku tidak akan memaksamu, satu-satunya yang ku cinta. Aku tidak mau kehilanganmu. Satu-satunya makhluk yang berani dan mau mendampingi ku.” Aku harap ia tidak membual dengan kata-katanya. Karena aku teramat menyukainya. Aku suka bagaimana ia membuatku merasa dicinta. Bahkan hanya dengan sentuhan telunjuknya. Aku tau aku adalah makhluk yang berarti baginya.

“Bagaimana jika, aku menemanimu seumur hidupku? Selama-lamanya ku? Sampai nafas terakhirku?” Tanyaku, “sampai saat itu, tolong tetap mencintaiku. Aku tidak tau apa aku masih cantik kelak. Tapi aku harap masih ada sedikit cinta untukku.”

“Aku akan mencintaimu, selama-lamanya ku,” ujarnya. Ia mencium dahiku setelahnya.

Aku tidak takut pada malapetaka, aku punya cintanya bersamaku. Seharusnya itu cukup.

 

Musim gugur. Tidak ada yang berubah. Cinta kami masih kuat. Aku masih mendampinginya. Aku ikut ke seluruh lahan-lahan sucinya, dengan kereta kencana angsanya. Kami makin sering bercinta. Dimanapun, dan kapanpun. Di kamarku, di hutan, di pinggir sungai Delos. Aku tidak bosan sedikitpun. Tempat favoritku, ialah diatas kereta kencananya. Pernahkah terbayang melakukannya di udara? Tidak pernah ku bayangkan sebelumnya, tapi kami lakukan. Apollo mengendarai kereta kencana, aku mengendarainya.

 

Musim dingin tiba. Aku mulai memakai jubah bulu-bulu binatang untuk melindungi diri dari sengatan angin dingin. Tapi setiap malam jendela kamarku, tak pernah ku tutup. Aku menanti Apollo, karena ia tidak pernah datang selama musim dingin. Sudah berminggu-minggu aku menantinya, tapi ia tidak kian muncul. Aku percaya padanya. Aku bertanya pada ibuku, apakah dewa memiliki misi khusus saat musim dingin? Apa lagi, saat musim dingin, cahaya matahari tidak tampak terang. Ibuku tidak tau, karena ia tidak mendapat pekerjaan khusus selama musim dingin. Aku malah mendapat ocehannya, perihal rasa ingin tahu ku terhadap Apollo. Aku bingung dengan ibuku. Ia bukannya dekat dengan Apollo? Setahuku Apollo kini menjadi pemimpin dari the nine muses –ibuku, dan kedelapan saudaranya. Tapi siapa yang ibuku suka? Bahkan suaminya saja ia benci.

Setiap malam, selama musim dingin aku masih menunggunya di pinggir jendela. Aku tidak duduk disana. Aku takut ia datang dan memarahiku lagi, karena aku membahayakan nyawaku. Aku hanya memandang bulan yang silih berganti. Penuh, setengah, penuh lagi, sampai aku sudah tidak ingat berapa banyak bulan penuh yang ku lalui untuk menantinya. Aku rindu. Apapun tentangnya. Sentuhannya, suaranya, permainan liranya, wajahnya, dan tubuhnya. Satu malam aku melihat gagak putih terbang di luar jendelaku, aku yang hampir jatuh tertidur, seketika segar bugar. Ia menghampiriku, memberi satu potong kertas kecil tergulung di kakinya. Sebuah surat

 

Bisakah kau menjauhi jendelamu, dan menungguku di dalam kamarmu, di atas kasur mu saja, cintaku? Aku sedang berada ditempat yang jauh. Aku berada di Hyperborea. Jika kau pernah mendengar lokasi itu. Aku yakin kamu akan suka berada disini. Musim semi adalah satu-satunya musim disini. Maaf aku tak bisa mengajakmu, karena ini terlalu jauh untuk seorang mortal. Aku sang matahari, butuh mempertahankan kehangatanku. Tapi sebenarnya aku tidak terlalu jauh darimu. Aku bersamamu tiap siang, dalam wujud cahaya. Aku memainkan lira ku setiap malam disini, berharap kau bisa mendengarnya. Aku akan minta bantuan Morpheus, agar aku bisa hadir di mimpimu. Jadi tolong, tidurlah yang nyenyak setiap malam.

Mataharimu.

Aku hanya bisa tersenyum membaca suratnya. Setelah kehadiran surat itu, aku tidak menunggu di jendela lagi. Aku berusaha tidur secepat mungkin setiap malam berharap bertemu Apollo di mimpiku. Sambil Mengenang nada manis dari lira yang biasa ia mainkan. Aku tau Morpheus –dewa mimpi, sibuk, dengan urusannya mengantar pesan Zeus. Tapi aku setiap hari berharap, bahwa hari itu akan menjadi giliran ku mendapat pesan dari Apollo. Satu malam, akhirnya Apollo datang ke mimpiku. Ia menunjukkan padaku Hyperborea.

Tempat itu indah luar biasa, aku belum pernah melihat tempat seindah itu selama ini. Kupu-kupu dan burung berwarna-warni menyapaku. Dimanapun yang kulihat bunga dan rerumputan. Air terjun menjadi dinding-dinding lokasi ini. Rumah-rumahnya berwarna-warni dipenuhi lukisan. Tapi yang paling indah disana, tentu mataharinya. Luar biasa cerah, dan bercahaya. Aku yakin tempat itu menjadi jauh lebih indah karena sang dewa berada disana. Mimpi itu terlalu jelas. Aku bahkan bisa merasakan kulitnya di wajahku, dan aromanya dihidungku. Demi dewa aku merindukannya. Bahkan di dalam mimpi, aku tidak bisa menahan diriku untuk menciumnya. Untungnya ia tidak menolak. Musim dingin jadi terasa lebih hangat dari sebelumnya, semenjak mimpi ku bersamanya.

 

Suatu siang, ayahku memanggil kami para anak laki-lakinya. Aku, Cynortus, dan Argalus. Adik perempuanku, Polyboea, dan Laodamia, kini sedang menenun di ruang tengah kastil. Mereka sempat menyapa kami, saat kami melewatinya untuk ke ruang pribadi ayah. Ternyata ayahku membawa kabar perang. Melawan kota Athena. Aku tidak mengerti bibit masalahnya. Perebutan wilayah sepertinya. Aku banyak melamun saat ayahku mengatakan hal itu. Kedua kakakku yang bagian dari petinggi militer, mau tidak mau harus memimpin jalannya perang itu. Ketika kedua kakakku pergi, aku diminta untuk tetap tinggal di ruangannya.

“Kau tidak perlu ikut perang ini, nak. Berjagalah di dalam kastil,” ucap ayahku. Tidak ada yang salah daripada perkataannya. Tapi entah mengapa harga diriku terluka mendengarnya. Aku merasa disetarakan dengan anak perempuan, yang menanti para lelaki yang pergi berperang, dan tidak bisa melakukan apapun. Aku adalah seorang pangeran, dan aku setengah dewa. Aku bisa bertarung. Kemampuanku dalam memanah sudah jauh membaik, semenjak pelajaranku dengan Apollo.

“Aku akan ikut,” ucapku tegas. Ayahku, menggeleng, “tidak perlu. Kita sudah memiliki Cynortus dan Argalus untuk memimpin jalannya perang ini.” Mendengar kalimat itu semakin membuat hatiku terluka. Aku rasanya ingin murka di depannya. Tapi bagaimanapun dia tetap ayahku, dan ia adalah raja.

“Aku akan berlatih lebih giat, dan aku akan ikut. Tidak ada yang bisa menahanku,” gertakku. Aku lalu pergi meninggalkannya dari ruangan itu.

Perang itu akan dimulai mungkin beberapa bulan lagi. Banyak persiapan yang perlu dilakukan sebelum memulai sebuah perang. Aku pun punya waktu untuk menguatkan tubuhku. Aku pasti akan berada di barisan prajurit panah, tidak bersama dengan kakak-kakau yang akan berperang menggunakan pedang.

Malamnya, gagak putih itu datang lagi. Tentu dengan sepucuk surat. Aku antusias bukan main mendapat pesan lagi dari Apollo.

 

Tolong biarkan ayah dan kakak-kakakmu saja, yang mengurus perang itu. Tolong hindarkan dirimu dari marabahaya. Kau berjanji untuk menemaniku seumur hidupmu. Selama-lamanya. Aku mau kau hidup lebih lama, bersamaku.

Mataharimu

Aku tidak tahu dewa-dewa ini mendapat kabar darimana. Secepat cahaya, mereka mengetahui informasi. Bahkan baru lewat beberapa jam, dari pertemuanku dengan ayah. Tapi ia yang jauh di ujung dunia sudah mengetahuinya.

Aku tidak tahu bagaimana cara membalas suratnya. Gagak itu sudah pergi, bahkan setelah aku melepas surat itu dari kakinya. Maka aku berharap untuk bertemu dengannya di dalam mimpi. Aku berharap Morpheus mempertemukan kami lagi di mimpiku.

Benar saja. Malam itu Apollo datang ke mimpiku. Jubah merah, mahkota daun, dan busur di punggungnya. Pada dahinya terdapat gurat-gurat. Rahangnya sedikit mengeras.

“Tolong tinggal lah,” ucapnya.

“Izinkan aku untuk melakukan ini. Aku ingin dipandang tinggi untuk satu kali saja. Aku ingin menjadi pangeran yang berbuat sesuatu untuk kerajaanku, walau sedikit,” pintaku padanya. Ia tidak membalas. Hanya menghela nafas kasar. Manik matanya sedikit bergetar. “Aku tidak akan mati dalam perang itu. Aku berjanji,” kataku, berusaha meyakinkannya.

“Aku akan kembali dalam waktu dekat. Kau harus banyak berlatih agar tidak kalah dalam peperangan itu,” jawabnya. Aku berseru riang, dan tanpa sadar aku menyerangnya dengan pelukan dan kecupan singkat.

Walau hanya dalam mimpi, aku tau Apollo dapat merasakan ciumanku. Karena aku bisa merasakannya dengan jelas dan terang. Aku semakin merindukannya.

 

Musim semi. Hari yang kutunggu-tunggu tiba. Apollo datang menghampiriku yang sedang bersantai di sungai Eurotas, dengan lira di tangannya. Tanpa membuang detik. Aku langsung berlarian, menghampirinya. Melempar tubuhku padanya. Ia memelukku dengan erat. Kami berpelukan dengan erat. Bagai tangan yang sedang bertautan. Aku sungguh merindukannya. Hangatku datang lagi menentramkan jiwa dan ragaku.

Aku banyak bertanya padanya tentang tempat bernama Hyperborea itu, dan ia dengan sabar menjawabnya satu-persatu. Apapun pertanyaanku, ia akan selalu punya jawabannya.

“Apa kau merindukanku?” Tanyaku padanya.

“Setiap detik ku habiskan untuk merindukanmu,” jawabnya. Usapan di pipiku terasa seperti sebuah validasi untuk perasaannya. “Apa kau merindukanku?” Ia bertanya balik.

“Aku tidak pernah menutup jendela setiap malam. Menghabiskan berjam-jam setiap malam memandang saudaramu dari balik bangunan batu, berharap ia bisa menyampaikan salamku padamu. Apa itu sudah bisa menjawab pertanyaanmu?” Senyumnya dengan cepat mengembang di bibir. Kami rindu satu sama lain.

Kami berbaring bersisian di samping sungai eurotas. Matahari begitu terik di atas wajah kami, dan di samping tubuhku. Tapi aku tidak merasakan panas. Rasanya nyaman saja. Aku tidak terbakar berdekatan dengannya, seperti apa kata ibuku.

“Apollo,” panggilku. Ia menoleh ke arahku, dan berdehem.

“Apa hal yang paling menyedihkan menjadi seorang dewa?” Tanyaku padanya.

“Melihat mortal meninggalkan dunia,” jawabnya singkat.

“Tapi kau membunuh mereka.”

“Bukan berarti aku tidak sedih, setelah melakukannya,” jawabnya lagi. Aku hanya mengangguk-angguk.

“Apa hidupmu selama ini menyenangkan?” Tanyaku lagi.

“Tidak semenyenangka setelah bertemu denganmu.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku memegang peran penting dalam kehidupannya.

“Kadang aku berpikir untuk mati ketika bersama denganmu.” Wajahnya langsung berubah saatku mengatakan hal ini. Dahinya langsung berkerut.

“Apa yang kau katakan?”

“Aku ingin mati di saat yang paling membahagiakan bagiku. Dengan memori terakhir yang paling indah. Daripada mati dengan tragis, membawa cerita buruk,” jelasku.

“Berhenti mengatakan hal seperti itu, atau aku akan memaksamu memakan ambrosia saat ini juga,”’ ancamnya padaku. Aku hanya balas tertawa, yang membuat Apollo sepertinya semakin kesal dengan tingkahku.

Setelahnya kami hanya terdiam, memandang angkasa, merasakan semilir angin dengan iringan permainan lira Apollo, yang mengelus telingaku. Memenuhi relung hatiku.

 

Beberapa hari setelahnya. Apollo mengajakku untuk bermain cakram. Katanya untuk melatih otot-ototku. Agar lengan-lenganku semakin kokoh saat aku menggunakan anak panah, dan kakiku juga lebih gesit. Aku antusias. Ia bilang ia membawa cakramnya sendiri. Aku sudah membayangkan bagaimana indahnya cakram dewa. Aku mengenakan tunik yang sewarna gading. Mematut diriku lamat-lamat di cermin. Entah mengapa hari itu aku ingin berpenampilan sebaik mungkin untuk bertemu dengan kekasihku.

Aku bertemu dengannya di lahan luas antara sungai eurotas dan hutan belakang kastil. Lahan itu tidak terlalu datar memang. Terdapat bebatuan yang besar. Tapi cukup untuk arena kami berlari, saling melempar dan menangkap cakram. Apollo sudah berada disana ketika aku sampai. Ia mengenakan jubah sewarna buah delima, dengan aksen emas. Menawan. Seperti biasa. Aku suka melihatnya memakai mahkota daunnya. Ia terlihat seperti raja yang paling agung ketika mengenakannya.

Kami mulai melempar cakram itu dengan perlahan ke udara. Aku yang melemparnya pertama kali. Apollo berlarian menangkap cakram ku yang kembali ke arah bumi. Rumput hijau menggelitik telapak kaki kami, ketika kami berlarian kesana kemari. Aku banyak tertawa, pun Apollo. Aku suka melihat barisan gigi-gigi putih nan rapi miliknya. Mungkin karena kami masih dilanda rindu, membuat ku tak lelah menatapnya.

Permainan kami semakin intense. Lemparan-lemparan cakram kami lebih kencang dari sebelumnya. Cakram itu terbuat dari emas. Cukup berat dan kokoh. Sejujurnya itu agak terlalu berat untukku. Jadi cakram yang aku lemparkan tidak akan terbang terlalu tinggi. Tapi ketika Apollo yang melempar. Piringan emas itu bisa melesat setinggi mungkin hingga menembus awan. Tubuhnya berputar-putar dengan anggun ketika melemparkannya.

“Berhati-hatilah dengan cakram yang terjatuh Hyacinth, nanti kau terluka.” Apollo mengingatkan ku yang terlampau antusias menangkap cakram-cakramnya. Aku akan dengan cepat berlarian dengan gesit ke arah cakramnya mendarat.

Saat Apollo akan melemparkan lagi cakramnya, aku melihat gagak putih sedang terbang rendah. Gagak yang selalu mengawasiku, membantuku menghindari marabahaya. Aku melambaikan tanganku ke arahnya dengan riang. Aku lihat dari ekor mataku, Apollo tersenyum. Aku jadi teringat mimpiku pada musim panas silam. Semua yang terjadi hari ini berjalan persis seperti mimpiku itu. Jubah merah Apollo, tunik gadingku, canada tawa dianatar kami, dan buruk gagak ini Aku amat bersyukur mimpi itu benar menjadi kenyataan. Apakah setelah ini kami akan menanam bunga bersama? Aku tidak sabar.

Tubuh Apollo berputar dengan luwes. Otot-otot di tangannya mengencang saat ia menghempaskan cakram itu. Mataku berbinar-binar menatap piringan emas itu di udara. Aku berlari kencang mengikuti arah piringan itu. Tapi pergerakannya sedikit aneh. Piringan itu seperti berganti haluan secara tiba-tiba. Maka aku lesatkan kakiku dengan gesit mengganti arah tujuanku. Aku berlari mendekat ke cakram yang akan segera jatuh ke bumi.

Cakram itu turun dengan kencang. Aku tidak bisa menangkapnya, itu terlalu kencang. Tapi aku sudah sampai tepat dimana cakram itu akan terdampar. Cakram itu menghantam salah satu batu besar tepat di depanku. Membuatnya terpental kembali ke atas.

Sayangnya, aku terlalu dekat dengan posisi batu itu. Tak sampai sesekon, aku dapat merasakan hantaman hebat di kepalaku. Cakram itu dengan kencang beradu dengan dahiku. Tubuhku langsung jatuh ke dataran, terkulai lemas, dan kepalaku sakit bukan main. Darah merah, khas mortal milikku, mulai bercucuran dari luka hebat di dahiku. Perlahan penglihatanku memudar, suara di telingaku juga. Aku masih bisa mendengar Apollo meneriakan namaku dengan kencang. Aku tak pernah mendengarnya berteriak begitu lantang. langkah kakinya terdengar tergesa dan besar. Pertama kalinya aku mendengarnya. Mendengar pergerakannya.

Aku berada di dalam dekap Apollo, ia merengkuh ku dengan erat. Aku sudah tidak bisa merasakan apapun. Aku berusaha mengerjapkan mataku, mematut fokus, untuk memandangnya. Suaranya semakin redup di telingaku. Aku masih ingin mendengarnya. Yang dapat ku rasakan hanyalah kulitnya, yang menyentuhku. Aku tidak dengar jelas apa yang ia katakan, dan apa yang ia lakukan, otakku sudah tidak bisa menerima dan memproses informasi itu.

Nafasku terasa pendek. Aku berusaha membuat paru-paruku bekerja dengan baik, untuk mengolah oksigen dalam tubuhku. Tapi, aku tidak sanggup. Bahkan, hanya untuk menarik oksigen saja aku sudah kesulitan. Aku paksakan tanganku bergerak berupaya untuk meraup nafas, dan untuk menyentuh wajah Apollo yang sudah tak terbentuk dengan jelas di penglihatanku. Tapi biar begitu, cahayanya masih terang, tidak redup bahkan sedikitpun.

Kelabu sudah mendominasi netraku, terlukis bias cahayanya. Apollo. Aku suka melihatnya berada di atasku. Seperti saat berbaring di pinggir sungai Eurotas untuk memandang angkasa. Memandang cahaya matahari. Memandang Apollo. Aku selalu tersenyum kala melihatnya di atasku. Kebahagiaan selalu berbondong-bondong masuk memenuhi hatiku. Tapi kali ini. Mengapa terasa amat kosong? Apa ini akhirnya?

“Maaf,” kataku lirih. Aku ingin mengatakannya dengan lantang, tapi lidah ini sukar bergerak. Aku dengar samar-samar Apollo meneriakan nama saudaranya, Artemis tolonglah! Artemis! Suaranya serak, walau terredam di telingaku

Aku bisa merasakan Apollo menyentuh dahiku, tepat dimana cakram itu melukaiku. Seperti saat ia mencoba mengobati sakitku. Aku berharap ia bisa menyembuhkan luka ini. Tetesan hangat berjatuhan di pipiku. Hujan? Seingatku langit sedang cerah-cerahnya tadi. Sepertinya bukan. Tetesan itu hanya beberapa. Mungkin air mata sang dewa.

Jika aku boleh jujur, aku berharap masih dapat kesempatan bersama dengannya, dalam waktu yang lebih lama lagi. Aku ingin bersamanya, sampai aku tidak cantik lagi. Sampai rambutku berubah sliver semua. Aku ingin bersamanya, selama mungkin. Tapi sepertinya. Waktu ku telah tiba. Malapetaka itu telah hadir, menyambut ku. Tak apa, aku tidak menyesal.

Cintaku padanya sudah memenuhi hati ini, sehingga sudah tidak ada celah bagi penyesalan dan keraguan. Jika ini memang akhirnya, aku ingin mengucapkan satu hal pada Apollo. Satu lagi, sebagai salam perpisahan, pada makhluk ilahi itu. Aku tau Apollo akan sedih. Satu lagi makhluk mortal meninggalkan dunia dihadapannya.

 

Cintaku,

Aku tidak berakhir menjadi seorang prajurit, musisi, ataupun seorang peramal. Aku akhirnya berakhir menjadi pendampingmu, seumur hidupku, selama-lamanya ku. Aku tidak menyesal. Justru aku bangga, dan merasa amat beruntung. Ayahku berkata bahwa dewa adalah sebuah malapetaka bagi para mortal. Tapi sepertinya bukan dirimu yang ia maksud, buktinya, bagiku, mencintaimu, dan dicintai olehmu adalah sebuah keberkahan di hidupku yang mengambang ini. Terimakasih telah membuat mortal yang tak berharga ini, merasa dicintai dan dikasihi dengan segenap jiwa. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk menyentuh keagungan. Jangan menangis, matahariku. Tugasmu untuk menerangi dunia ini. Jangan kau buat kelabu. Cintaku bersamamu, selama-lamanya kau.

Aku ingin mengatakan itu semua, tapi aku tak bisa membuka belah bibirku, dan kata yang bisa ku lisankan hanyalah, O ilios mou (my sun).


Apollo

Sang matahari, begitu semua memanggilku. Aku biasa hidup dalam kemewahan, dan dipuja. Aku adalah sang dewa, hidupku akan dipenuhi kemudahan, dan kemahsyuran. Tapi aku salah. Sosok dewa pun bisa dikecewakan. Bisa dielakkan. Aku baru sadar tidak semua berjalan dengan baik, dan tidak semua bisa ku dapatkan, walau aku adalah sang Agung. Setelah Daphne mencampakkanku, dan memilih untuk mengakhiri nafasnya, untuk berubah menjadi pohon. Dan ketika Cassandra menipuku, dengan kekuatan ramal yang aku hibahkan padanya. Aku malang dalam cinta. Setelah kegagalan itu, aku berjanji untuk tidak mencintai siapapun, apalagi mortal.

Tapi hari itu, saat aku selesai dari kerja kerasku untuk menerangi bumi, aku bertemu denganmu. Bertemu dengan bulat mata violet, yang berkilauan. Detik itu juga, aku mematahkan janjiku pada diriku sendiri. Aku jatuh cinta, pada manik itu, dan pada pemiliknya.

Aku selalu berhati-hati mendekatimu, karena pengalaman burukku di masa lalu. Aku tidak ingin melepaskan yang satu ini. Hatiku benar-benar tertawan akan kecantikanmu. Bahkan aku berani menjatuhkan Aphrodite dan Eros, apabila harus memilih siapa makhluk tercantik di bumi ataupun langit. Hyacinth. Namamu pun cantik. Berhari-hari ku perhatikan dirimu yang tertidur lelap dengan tenang. Hatiku memanas.

Aku sang matahari. Hatiku sepanas sinarnya. Tapi semenjak pertemuanku denganmu, aku serasa terbakar oleh diriku sendiri. Jika aku menghanguskan kulitmu, siang itu. Kau menghanguskan kulit hatiku.

Aku tak pernah merasakan kulit mortal yang lebih halus dari kulit cerahmu. Sentuhan dari ujung jarimu amat lembut dan berhati-hati, seakan aku adalah barang yang bernilai tinggi. Sentuhanmu selalu sukses membuat tulang belakangku melengkung hebat.

Aku seorang dewa, dan kau adalah mortal pertama yang membuatku rela meninggalkan tugas-tugasku, hanya untuk menatap bulu mata yang menari terkena terpaan angin di sungai eurotas. Hanya untuk mendengar suaramu memanggil namaku, dan hanya untuk menatap manik violet mu. Bukan panah, lira dan kuilku di Delphi lagi, yang memenuhi kepalaku semenjakmu. Tapi wajah cemerlang, aroma yang seperti pencampuran minyak olive dan thyme, gerakan lincah kaki mungil saat berlarian di hutan, dan suara melengking saat berterbangan di angkasa menggunakan kereta kencanaku. Kau membuatku merasa aman dan yakin untuk mencinta lagi.

Hyacinth, kau adalah satu-satunya mortal yang sudi dan yakin untuk mencintaiku –sesuatu yang digadang-gadang menjadi malapetaka untuknmu. Walau sang raja sudah melarangmu untuk bersanding denganku. Karena ramalan yang ia dapatkan dari kuilku di Delphi, perihal hadirnya kematian untuk anak cemerlangnya itu, di tangan dewa. Tapi kau tidak mengindahkan peringatan sang raja, dan memilih menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Aku tau kau sudah mengetahui hal itu. Aku tau kau punya kemampuan dasar untuk meramal, melalui mimpi-mimpimu. Kemampuan itu diturunkan oleh ibumu. Dan sepertinya hanya diriku yang tidak mengetahuinya, karena aku telah berjanji padamu untuk tidak membaca masa depan kita. Hyacinth, maafkan aku. Tapi aku menyesal. Dewa ini tidak berguna.

Hari-hari dimana aku jauh darimu, aku terus menerus membujuk Morpheus untuk mempertemukan kita di alam mimpi. Kau tidak tau betapa rindunya aku padamu. Aku sang matahari yang menghangatkan semua makhluk di tengah dinginnya cuaca, tapi aku kedinginan, jauh dari kehangatanku.

Morpheus bukanlah dewa yang baik. Aku dipaksa melakukan banyak hal dan memberikannya banyak hal hanya untuk bertemu denganmu beberapa detik. Intinya bukan itu. Hyacinth, musim dingin kemarin hanya 4 bulan, 150 hari, 3,624 jam, 217,440 menit, dan 12,960,000 detik. Aku sudah gusar tiap saatnya, dengan ketidak hadiranmu di sisiku. Bagaimana jika selama-lamanya kau tidak berada di sampingku?

Hari itu, saat kau berlari penuh semangat dan tawa hadir dari belah bibirmu, untuk menangkap cakram yang ku lemparkan. Aku dengan bodohnya ikut tertawa melihat barisan gigi rapi dan hidungmu yang mengernyit, tanpa mengetahui malapetaka akan menghampirimu.

Semilir angin yang sejuk seketika berubah menjadi dingin, sedingin angin ribut. Aku berlari sekencang yang ku bisa, untuk menggagalkan malapetaka itu. Aku mencoba menggunakan seluruh kekuatan dewaku. Aku bahkan memohon pada Artemis, untuk meminta pada Zeus untuk menjadikanmu immortal sama seperti kami saat itu juga, dan atau membuatku mortal, agar aku bisa membiru bersamamu.

Aku masih berharap kau tidak akan berakhir dingin di tanganku. Tapi nyatanya aku salah. Bahkan dewa bisa salah, dan bahkan dewa punya batasannya. Aku tidak bisa melawan kematian yang sudah terlukis di gulungan takdirmu.

Hatiku hancur lebur tak berampas, duniaku runtuh menyatu dengan tanah , harapanku musnah, kala kepalamu jatuh ke pundakmu, dan mengucurkan cairan merah itu. Wajahku sepucat wajahmu. Kepalaku tertunduk menatap ke bawah, bak bunga anggrek yang patah tangkainya, menatapmu.

Aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana aku membiarkanmu terlalu dekat denganku, hanya untuk membunuhmu ditanganku sendiri. Aku membakarmu, karena kau terlalu dekat denganku. Hyacinth, apakah mencintaiku adalah malapetaka? Apakah mencintaimu adalah sebuah kesalahan?

Kau memang bukanlah yang pertama ku cinta, tapi kau adalah yang pertama yang aku bunuh karena besarnya rasa cintaku. Aku harusnya tau, jika aku menetapkan hati pada makhluk fana, maka aku harus siap dengan kefanaan yang bisa datang kapanpun. Tapi siapa yang menyangka itu akan datang secepat ini? Tidak diriku.

Saat aku membawa tubuh sepucat tulang milikmu, menghadap ayahmu, ia bertekuk lutut di hadapanku. Penyesalan tercetak jelas di wajahnya. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa akan takdir anak kesayangannya itu. Umurmu baru delapan belas tahun. Tapi masa mudamu ku renggut begitu saja.

Ibumu hadir secepat kilat, dan ia mmeneriakan dukanya di wajahku. Ia menyalahkanku, dan berusaha mengutukku. Aku tidak melawan, karena ia berhak, dan aku mengharapkan kutukan itu. Aku ingin dikutuk menjadi manusia fana, atau seekor rusa, yang kelak mati tertembak anak panah. Tapi ia tidak mungkin bisa melakukan itu padaku. Aku memohon pada Hades, untuk tidak menerima rohmu di alam bawah. Aku memohon pada Artemis, untuk membawamu ke bulan, aku memohon pada Zeus untuk membukakan surga untukmu. Walau aku tak bisa bertemu dengan wujudmu lagi, setidaknya aku tau, roh mu hidup di suatu tempat yang baik.

Kau pernah mengatakan, jika kau bisa berubah wujud, kau ingin berubah menjadi sebuah bunga yang cantik di musim semi? Maka ku lakukan. Aku mengubah darahmu menjadi bibit yang tumbuh menjadi bunga yang indah. Seindah dirimu, seharum dirimu, dan setegar dirimu. Aku berjanji, selama musim semi sampai selama-lamanya, kau akan selalu menghiasi tanah bumi, dan bersemi menebar kecantikan.

Bunga itu tak akan pernah layu, dan tak akan pernah punah dari dunia, karena begitulah cintaku padamu. Aku menuliskan kata perpisahanku padamu di setiap lembar bunga lembayung itu. Al’ Al’ Al’, sebuah kata yang menggambarkan kesedihan mendalam bagi sosok dewa.

Aku menghukum diriku sendiri dengan kesedihan berkepanjangan. Lagu dan puisi yang aku ciptakan sejak detik, itu adalah sebuah lagu dan puisi yang tersedih yang pernah diciptakan di dunia ini. Sehingga membuat siapapun yang mendengarkannya akan ikut terenyuh. Kau akan selalu hidup di bibirku, di tanganku, di kepala ku, di hatiku. Hyacinth, bagiku, jiwa mu tak pernah mati.

Cintaku, terimakasih, dan maafkan aku.

Mataharimu, yang membakar hidup, angan dan tubuhmu.


Epilog

Keduanya memang tak bisa bersama selamanya, melawan takdir. Tapi kesedihan Apollo berlangsung selamanya tiap musim semi. Ia akan membuat sebuah perayaan dikhuskan untuk sang terkasih. Perayaan itu disebut Hyachintia. Perayaan untuk mengenang kematian, dan keteguhan jiwa anak muda itu. Setelahnya di ketahui, piringan emas yang melukai kepala Hyacinth, adalah ulahh dari Zephyr, sang raja angin barat yang cemburu. Ia meniupkan angin yang begitu kencang, sehingga cakram Apollo berganti arah, dan berakhir menabrak batu. Sang dewa angin, tidak ingin pria tampan yang ia kasihi itu dimiliki oleh makhluk lain, jika ia tidak bisa memilikinya. Kematian Hyacinth, tidak disebabkan oleh sang dewa matahari, melainkan oleh dewa angin barat. Apollo berhasil memohon pada Zeus, untuk membawa Hyacinth ke surga. Anak muda itu hidup abadi disana. Ia masih bisa melihat Apollo dari atas. Namun tidak dengan Apollo.

 

Kali ini, aku yang memandangmu dari atas. Terima kasih telah menolehkan wajahmu ke langit setiap saat, meskipun netra birumu tak bisa bersitatap dengan manik violetku.

Hyacinth