Actions

Work Header

Hati yang seluas samudera dan kita yang hampir tenggelam di sana

Summary:

Bagi Haechan, nggak pernah sekalipun dalam hidupnya kepikiran untuk pakai barang bekas. Di tengah maraknya fenomena thrifting — yang mana membuat harga baju bekas melonjak naik — Haechan sama sekali tidak pernah tertarik. Karena arti kata bekas menurut KBBI adalah sesuatu yang tertinggal sebagai sisa (yang telah rusak, terbakar, tidak dipakai lagi, dan sebagainya).

Tapi Haechan, Mark bukanlah barang.

Notes:

Halo! tulisan ini merupakan hasil commis dari anon yang setuju untuk dijadikan bacaan publik. Terima kasih banyak, anon!

 

Disclaimer : Karakteristik tokoh dalam cerita ini sama sekali tidak mencerminkan sifat asli idol yang digunakan namanya. Semuanya murni hanya karangan penulis belaka.

Work Text:

Bagi Haechan, nggak pernah sekalipun dalam hidupnya kepikiran untuk pakai barang bekas. Di tengah maraknya fenomena thrifting — yang mana membuat harga baju bekas melonjak naik — Haechan sama sekali tidak pernah tertarik. Karena arti kata bekas menurut KBBI adalah sesuatu yang tertinggal sebagai sisa (yang telah rusak, terbakar, tidak dipakai lagi, dan sebagainya).

 

Jadi mau bagaimanapun masih bagusnya barang bekas itu, pasti akan selalu ada yang enggak sempurnanya. Iya betul; sisa, dan rusak. 

 

Maka sama halnya ketika teman-temannya memberi saran agar Haechan balikan lagi sama Kak Mantan, aduh … amit-amit deh, jauh-jauh. Jangan sampai kejadian.

 

“Sumpah ya, lo berdua yang putus tapi yang susah satu organisasi!” Jaemin mendumal dari kursi kemudi, memasang wajah masam dengan matanya yang terfokus pada jalan di depan yang begitu padat. Jaemin dalam mode begini sebenarnya bikin Haechan takut. Tapi ya sudah … Haechan berusaha tahan dan memberanikan diri, dibandingkan harus berurusan dengan si dia yang bahkan Haechan merasa mual untuk menyebutkan namanya.

 

“Maaf …” cicit Haechan. Matanya melirik takut-takut dari kursi penumpang. 

 

Tiiit … tiiit … tiiit …

 

Klakson yang Jaemin tekan dengan tidak sabaran buat Haechan berjengit kaget. Dirinya semakin mundur duduk merapat pada pintu.

 

Monyet! Udah tau macet tetep aja nyalip. Goblog!

 

Haechan tahu makian Jaemin tertuju untuk pengendara motor yang dengan sembrono mengambil jalur mobilnya. Tapi tetap saja, dirinya yang merasa dimarahi.

 

“Na, jangan marah-marah. Lo mau apa nanti gue kasih deh.”

 

Jaemin terlihat memejamkan mata dan menarik napas panjang. Sampai saat Jaemin membuka mata, mobil di depan mereka masih belum ada tanda-tanda untuk melaju. Maka Jaemin tatap Haechan tepat di kedua matanya dengan tatapan tajam. “ Lamborghini . Mampu gak lo beliin?” Tanya Jaemin sarkastik.

 

Mulut Haechan terbuka lebar mendengar permintaan sahabatnya. “Hah? yang bener aja dong!”

 

“Ya lo juga yang bener aja dong! Lo tuh ….” ucapan Jaemin terpotong dengan dirinya yang mengacak rambut frustasi, “kalau aja nerima tawaran Kak Mark buat pergi bareng ke Sartika langsung dari kampus instead of minta gue jemput lo dulu di kampus yang mana lo tahu jelas hari ini gue enggak ada kelas, kita nggak akan kejebak macet kayak begini dan telat dateng rapat! Gue males banget Bang Taeyong pasti bakalan ngedumel.”

 

Haechan paham betul marahnya Jaemin sangat beralasan. Jaemin yang harusnya bisa sampai di Sartika tempat anak BEM mengadakan rapat, malah harus berkendara memutar jalan dari rumahnya demi menjemput dirinya dulu di kampus. Dan itu sangatlah membuang-buang waktu. 

 

Tapi Haechan masih berharap bahwa sedikit saja, sedikit saja Jaemin bisa memahami bagaimana kondisi dirinya.

 

“Gue nggak mau bareng sama dia.”

 

“Karena lo berdua udah putus?” Tanya Jaemin yang kini sudah mulai melajukan kembali mobil miliknya. Jalanan di depan sudah mulai terurai.

 

Haechan memejamkan mata. Berbicara perihal Mark dan hubungan mereka yang kandas, ternyata masih saja terasa begitu buat dirinya sesak. “Hm,” maka hanya gumaman singkat yang dapat Haechan beri untuk jawab tanya dari Jaemin.

 

“Putus hubungan asmara bukan berarti putus juga hubungan pertemanan, Haechan” kini yang lebih muda beberapa bulan mulai melunakkan suaranya, hanya karena ia lihat raut murung di wajah Haechan. “Gue bingung, jujur. Akhir bulan Mei lo berdua kelihatan baik-baik aja, terus tiba-tiba kok bisa putus? Mana lo nggak mau cerita penyebab putusnya lo sama Kak Mark.” 

 

Haechan diam mendengarkan Jaemin yang tidak berhenti mengoceh dengan tangannya yang lihai membelokkan kemudi. 

 

“Haechan, jawab.”

 

“Gue cuma … cuma ngerasa kita berdua udah nggak cocok buat satu sama lain.”

 

“Chan, setau gue sama yang lain, Kak Mark tuh definisi sempurna. Jadi maaf kalau gue sama yang lain sering kepo kenapa lo berdua bisa udahan.”

 

Haechan tertawa kecil, “ He’s indeed a perfect guy .”

 

“Yaudah, balikan dong. Lo baru aja bilang dan mengakui kalau Kak Mark tuh sempurna, ‘kan? Gue mau lihat lo bahagia lagi, Chan. Gue sedih sebulan terakhir lo murung begini.”

 

Lelaki dengan rambut coklat itu menunduk, menyembunyikan senyum sedih dari Jaemin, lalu dengan lirih menjawab, “gue nggak bisa.”

 

[]

 

“Widih asik banget, rapat udah setengah jalan ada yang baru dateng nih.” Tepat seperti dugaan Jaemin, Bang Taeyong langsung menyinggung perihal kehadiran mereka yang terlambat.

 

Keduanya menunduk, merasa malu karena acara yang dibahas dalam rapat kali ini merupakan acara yang cukup besar. 

 

“Sorry Bang, kejebak macet.” Jaemin beranikan diri untuk menjawab.

 

Taeyong tertawa mengejek, “Ya lo tau macet, kenapa nggak berangkat lebih siang? Udah mau ngejabat jadi anggota BEM setahun masih aja nggak bisa nge-estimasi waktu. Liat temen-temen lo yang lain, gak ada tuh yang telat.”

 

“Salah gue, Bang.” Kini Haechan ikut berbicara, bagaimanapun ini kesalahannya. Jaemin tidak pantas dimarahi juga. “Gue minta Jaemin buat jemput gue dulu ke kampus, padahal dia lagi nggak ada kelas.”

 

“Hadeh … kan lo bisa naik taksi online atau angkutan umum atau ojeg? Manja amat perlu dijemput.”

 

Sepasang mata di kursi ujung terus memperhatikan bagaimana Haechan terlihat begitu gugup mendapat pertanyaan yang barusan Bang Taeyong lontarkan. Mark dalam diamnya tidak melepas pandang dari tangan Haechan yang meremat ujung baju miliknya. Sebab Mark tahu jelas jika Haechan paling tidak bisa menaiki angkutan umum, taksi online atau ojek online. Rasanya ia ingin bantu Haechan untuk menjawab, rasanya ia ingin bantu Haechan untuk menjelaskan, tapi bahkan tawaran yang tadi siang ia berikan untuk pergi bersama ke tempat rapat Haechan tolak. Memperjelas bahwa diantara mereka tidak lagi ada hubungan apa-apa.

 

“Iya Bang, maaf.” Hanya itu yang mampu Haechan katakan setelah berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang tiba-tiba terasa dicekik.

 

“Yaudah yaudah, cepet duduk. Gue mau mulai pembagian divisi.”

 

Tanpa diperintah dua kali, Haechan dan Jaemin segera mendudukkan diri di sebelah Giselle. Keduanya menghembuskan nafas lega saat fokus Bang Taeyong tidak lagi untuk memarahi mereka. 

 

Saat Haechan tengah fokus menuliskan pembagian divisi, tiba-tiba ia merasakan Jaemin mendekat. Kemudian ia dengar Jaemin berbisik, “Kak Mark dari tadi liatin lo terus.”

 

Haechan tahu Mark duduk di kursi paling ujung, dan Haechan dengan sengaja tidak sekalipun menengok ke arah sana. 

 

“Biarin.” Jawabnya singkat.

 

Karena dirinya tidak lagi mau melihat Mark dan bagaimana cara ia memandang dirinya seolah-olah masih ada cinta.

 

[]

 

Pukul sepuluh malam, rapat dengan resmi ditutup. Menghasilkan tema acara OSPEK tahun ini disertai pembagian kerja yang dirasa sudah dilakukan seadil-adilnya. Mark memperhatikan satu persatu temannya berpamitan dan beranjak pergi pulang. Dan ada Haechan di sana, masih asik ngobrol di parkiran dengan Jaemin dan Renjun. Mark ingin sekali menghampiri Haechan, menawari sekali lagi ajakan pulang bersama. Tapi Mark urungkan niatnya karena ia jelas tahu jawaban yang akan Haechan beri hanya berupa penolakan.

 

“Duluan ya gue.” Mark berbasa-basi saat melewati mereka bertiga. 

 

Renjun dan Jaemin menoleh, sedang Haechan malah membuang muka.

 

“Oh, iya Kak. Tiati di jalan.” Renjun menimpali sedang Jaemin hanya mengangguk.

 

“Sip.” Mark membalas, kemudian ia beranikan diri untuk diam sebentar, untuk melihat keadaan Haechan. “Haechan pulang ke kos sama siapa?”

 

Haechan melengos, sama sekali enggan menjawab pertanyaan yang lebih tua. Jaemin yang merasa tidak enak kakak tingkatnya diabaikan seperti itu memilih bersuara untuk mewakili Haechan. “Sama gue, Kak.”

 

Mark tersenyum kecil sambil mengangguk. “Yaudah kalau gitu. Hati-hati, ya?”

 

Ucapan hati-hati dari Mark tidak mendapat jawaban. Tidak dari Haechan, hanya dari Jaemin yang mengangguk kikuk.

 

Rasanya Mark ingin mengulang waktu ke beberapa bulan lalu, saat ucapan hati-hati yang ia lontarkan tiap Haechan akan keluar dari mobilnya dijawab yang lebih muda dengan senyum manis dan kecupan di pipi. Mark ingin mengulang waktu yang lalu, saat hubungannya dan Haechan jauh dari kata canggung. 

 

Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Mark memikirkan berbagai macam kemungkinan akan hubungan keduanya yang bisa usai sebulan lalu, dan dengan cara yang menurutnya jauh dari kata damai. Mereka berakhir disertai tangis, penuh luka dan rasa kecewa. Mark terus berusaha untuk perbaiki.  Karena Ia dan Haechan, keduanya mempunyai salah dan memberi pilu. Tapi Mark tahu, dalam hal ini yang paling merasa menderita adalah Haechan.

 

Jadi Mark akan terus usaha untuk perbaiki, agar ia bisa mulai kembali apapun … apapun hubungannya dengan Haechan. Asal tidak berakhir seperti ini, seperti orang asing yang begitu Haechan tidak sukai kehadirannya. 

 

[]

 

Berakhir sendirian di dalam kamar kos selalu mampu buat Haechan melamun. Meskipun mulutnya sering bicara jika ia tidak ingin lagi berhubungan dengan Mark, namun hati juga pikirannya menolak dan memilih mengkhianati dengan terus memikirkan dan memutar kembali memori yang sudah tercipta bersama yang lebih tua.

 

Padahal Haechan hanya sedang duduk berselonjor di atas karpet kamar kosnya, tapi kemudian lamunannya berhasil membawa Haechan pada saat Mark asik tidur-tiduran dengan menjadikan paha Haechan sebagai bantalan. 

 

Waktu itu, sudah lebih dari tiga hari keduanya tidak bisa menghabiskan waktu berduaan. Dengan banyaknya tumpukan tugas akademis dan kewajiban organisasi, sulit bagi keduanya bertemu untuk sekedar melepas rindu. Hari itu Mark baru saja menyelesaikan laporan praktikum, tapi ia pilih untuk langsung menemui sang kekasih hati. Berniat meluruhkan segala penat dalam dekap orang yang ia sayang. 

 

“Kantung mata kamu jadi item gini.” Jemari Haechan mengukir halus area mata yang lebih tua. Mengakibatkan kelopak mata Mark sedikit bergetar karena merasakan sedikit geli di sana. “Capek banget ya kamu?”

 

“Pasti aku jelek kayak zombie.” Mark berucap dengan suaranya yang dalam dan lelah, khas seperti orang yang mengantuk. “Capek. Badanku kayak mau patah, semoga gak keterusan jadi sakit. Tapi abis ketemu kamu jadi gak begitu kerasa.” Mark melanjutkan, mengucapkan kalimat gombalan yang begitu pasaran, tapi bisa buat Haechan salah tingkah.

 

“Idih … dangdut banget sih, Kak.”

 

Haechan tertawa kecil kemudian menggeleng — meskipun ia tahu Mark tidak bisa melihat ia sedang menggeleng karena yang lebih tua masih asik pejamkan mata dan nikmati usapan lembut tangan Haechan di wajahnya. Lalu Haechan merunduk, mengganti usapan tangannya yang tengah memanjakan Mark dengan dua bilah bibirnya. Haechan beri kecupan-kecupan lembut mulai dari dua kelopak mata Mark yang terpejam, kemudian Haechan sibak rambut Mark yang menghalangi keningnya agar ia bisa bubuhkan kecupan di sana, dan terakhir … kecupan Haechan mendarat di bibir Mark yang sedang tersenyum lebar. 

 

“Kamu nggak kayak zombie kok. Meskipun kantung mata udah mirip panda, tapi tetep ganteng. Pacar aku paling ganteng satu kampus.”

 

Mark tertawa dengan matanya yang perlahan terbuka, dan Mark melihat matahari di atasnya … begitu cantik, begitu hangat. Mark ingin terus mendekat dan merasakan hangat si matahari.

 

“Pacar kamu yang paling ganteng satu kampus lagi mau banget dicium yang lama nih.” 

 

“Males banget tapi aku sayang.”

 

Keduanya tersenyum salah tingkah, hingga akhirnya Mark mengulurkan tangannya ke arah tengkuk Haechan, menarik perlahan sampai jarak wajah keduanya berdekatan. Hangat saja tidak cukup, kini Mark ingin terbakar, ia ingin terbakar sampai seluruh badan, jika dan hanya jika itu karena Haechan. 

 

Hidung mereka sudah bersentuhan, terpa napas keduanya juga sudah saling menyambut. Mark sudah bisa merasakan hangat si matahari sampai pipinya merona merah, dan Mark sudah tidak sabar agar dirinya lekas terbakar kasih yang disiram rindu. 

 

Dua inci jarak yang tercipta sebelum belah bibir keduanya melebur jadi satu, tapi sedetik kemudian dering gawai yang lebih tua menggagalkan semuanya.

 

Mark tahu Haechan merasa kecewa saat ia mendengar helaan nafas panjang darinya juga wajah Haechan yang segera menjauh. Yang Haechan tidak tahu, Mark juga sama kecewanya.

 

Jungwoo is calling

 

Ada ragu di wajah Mark sesaat sebelum ia mengangkat panggilan dari Jungwoo. Ia tatap Haechan seperti sedang menunggu persetujuan.

 

“Angkat aja.” Haechan berkata datar. 

“Maaf, sebentar ya.” Mark raih jemari Haechan cepat untuk ia cium. Lalu tangannya yang lain menggulir icon berwarna hijau, menjawab panggilan masuk.

 

“Oit, kenapa Woo?” 

 

“Mark, gue minta maaf banget nih ganggu waktu istirahat lo. Tapi bisa ke kampus gak? Laprak kelompok gue ada error dan sekelompok gak ada yang paham.”

 

Sejujurnya badan Mark sudah terasa remuk. Tiga hari lebih ia dan kelompoknya begadang menyelesaikan laporan praktikum, jadi saat tadi siang laporan kelompoknya selesai, Mark merasa separuh bebannya sudah hilang. Yang ia inginkan hanyalah beristirahat, menghabiskan waktu berdua dengan Haechan untuk balas dendam pada rindu dan jam tidur, berharap tidurnya hari ini berada pada dekap hangat yang lebih muda. 

 

“Waduh … udah coba tanya sama Aheng?”

 

“Udah, tapi dia gak paham sama sampel kelompok gue.” Nada panik terdengar jelas dari seberang sana, “Gue tanya sama lo soalnya kelompok lo sama gue kan ngambil kasus sampelnya sama. Please banget ya, Mark … deadline besok pagi, gue bisa gila kalau laprak gak selesai malem ini.”

 

Meskipun Mark tidak ingin beranjak dari posisinya kini, tapi dirinya merasa begitu tidak tega mendengar nada putus asa dari teman satu angkatannya. Mark paham betul posisi Jungwoo, saat sudah diambang ketidakmampuan dan tidak ada satu orang yang bersedia untuk menolong. Percaya atau tidak, rasanya bagaikan sendirian di dalam sumur yang kosong. Mengharapkan uluran tangan dalam keadaan hati tidak tenang dan ketakutan.

 

Jadi Mark putuskan untuk membuang lelahnya. “Iya, sepuluh menit lagi gue ke sana.”

 

“Makasih Mark, beneran makasih banget ya Tuhan. Gue sama yang lain ada di meja aslan di lantai tiga.” 

 

“Hmm, sama-sama.”

 

Ketika obrolannya dengan Jungwoo selesai, sekarang Mark harus menghadapi Haechan yang sudah memasang wajah kesal.

 

“Sayang …” Mark mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan yang lebih muda.

 

“Kamu bilang kamu capek.”

 

“Iya, tapi Jungwoo lagi butuh bantuan.”

 

Haechan tertawa pahit, “Emang gak bisa minta bantuan sama yang lain?”

 

“Sample nya kelompok dia sama kayak kelompok aku, Chan.”

 

“Aku tanya kamu dulu, kamu beneran capek?”

 

Dahi Mark terlipat begitu mendengar pertanyaan dari yang lebih muda, “Iyalah. Masa aku bohong.”

 

“Yaudah, kalau capek tuh istirahat!” 

 

Mark menghela nafas panjang, “Aku lagi gak mau berantem.” Ucapnya dengan nada lelah.

 

Tawa sarkas keluar lagi dari mulut Haechan. “Siapa juga yang mau berantem? Aku mau kamu istirahat doang.”

 

“Chan … I’m fine, okay ? Aku bantuin Jungwoo sebentar, nanti aku balik lagi ke sini.”

 

“Gak perlu.” Haechan menjawab cepat. “Abis nolongin Kak Jungwoo, kamu pulang langsung ke rumah. Istirahat.”

 

Lelah disundut amarah. Mark berusaha sebisa mungkin dirinya tidak terbawa emosi. “Kamu bisa enggak, enggak perlu marah-marah perkara hal kecil kayak gini.”

 

Ekspresi tidak percaya tercetak jelas di wajah Haechan mendengar ucapan Mark barusan. Hal kecil? Hal kecil tadi ia bilang? Haechan tidak percaya atas apa yang Mark ucapkan sampai ia tidak mampu berkata  apa-apa. 

 

Haechan berdiri, dengan cepat mengambil handphone dan jaket miliknya.

 

“Mau kemana kamu?” Mark menyusul langkah Haechan dengan cepat. Menghalangi pacarnya agar tidak bisa membuka pintu.

 

“Keluar. Kamu juga mau pergi bantuin Kak Jungwoo kan? Buruan, ini udah lebih dari sepuluh menit.” Cibirnya.

 

For God sake , Haechan!” 

 

“Apa? Kamu nggak mau aku marah-marah, ya udah oke. Ini aku mau keluar biar kita nggak berantem.”

 

Gagang pintu sudah berhasil Haechan pegang. Sebelum dirinya keluar, Haechan menatap Mark yang tampak kebingungan. “Satu hal yang mau aku ingetin sama kamu, Kak. Ini bukan lagi perkara kecil kalau kamu udah ngelakuinnya lebih dari sekali. Mentingin diri kamu sendiri dulu, kesehatan kamu. Stop mikirin orang lain kalau kamu sendiri lagi ngerasa sakit.”

 

Hari itu Haechan menyadari satu hal; Mark dan kebaikannya yang buat Haechan jatuh cinta. Mark dan kebaikannya pula yang buat Haechan merasa kecewa. 

 

[]

 

Di lain sisi, Mark punya celah kecewanya sendiri untuk Haechan. Mark paham benar sedari dulu, jauh sebelum mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan, sebelum keduanya memulai masa pendekatan, Haechan adalah anak dengan seribu satu pertemanan. Dan bagi Haechan, merangkul atau berdempetan dengan yang lain bukanlah suatu perkara besar. 

 

He’s a clingy person . Bukan karena ia kurang merasa dicintai oleh Mark, tapi Haechan merasa senang berdekatan dengan orang lain untuk mencari rasa aman, rasa nyaman. Haechan mencari perlindungan dengan selalu berdekatan pada orang-orang yang ia percaya. 

 

Tapi masalahnya adalah Mark dan egoisme dalam dirinya merasa bahwa Haechan harusnya sudah merasa cukup akan sentuhan dan pelukan yang ia berikan.

 

Mark cemburu, itu jelas. 

 

Karena dalam hatinya yang paling dalam, ketika Haechan dengan begitu mudahnya menempel pada Jaemin dan Jeno atau Renjun bahkan Yeri, Mark merasa tidak begitu dibutuhkan. Peran miliknya untuk memberi kasih pada Haechan seolah terbagi-bagi. menyisakan sedikit ruang dan buat dirinya sesak. Terkadang Mark tidak jadi bertindak hanya karena Haechan berkata, “ Iya, gapapa. Ada Jaemin .”

 

Pertanyaannya, Mark. Apa kamu ada saat Haechan benar-benar butuh? Apa Haechan jadi prioritas kamu?

 

Mark dengan hati yang penuh iri dan Haechan yang memendam sedih sendiri membawa keduanya pada garis akhir hubungan yang dihuni oleh luka.

 

“Apa harus sampe peluk-peluk Jaemin begitu di tempat umum?”

 

“Kak, apa sih? Kamu tahu aku sama Jaemin udah sedeket apa. Aku udah nganggep dia kayak saudara aku sendiri.”

 

“Ya tapi apa perlu sampe begitu? Kalau aku nggak dateng, mungkin pelukan kamu nggak akan lepas dari Jaemin.”

 

“Kamu sendiri telat dateng karena abis jemput Kania, ‘kan? Bahkan dia tadi dateng rapat pake jaket kamu!”

 

Stop blaming everything on me !”

 

Then stop being the good boy for everyone. Stop being a hero wannabe !”

 

“What?”

 

“Kamu mau tau nggak … aku udah mulai capek sama kamu yang selalu baik sama semua orang. Aku mulai capek terus-terusan ditanya apa kita udah nggak ada hubungan karena selalu — selalu ada yang liat pas kamu nganter balik Kania, atau pas kamu bantu Kak Jaemin nugas, berduaan. Atau …”

 

“Atau pas kamu rela gantiin uang danusan yang diilangin sama Kak Jungwoo.”

 

Haechan … tolong, jangan nangis .

 

“Tapi kamu enggak ada pas aku butuh. Kamu bisa tuh jadi pahlawan buat semua orang. Kamu bisa jadi pahlawan buat semua orang kecuali aku!”

 

Karena kamu enggak terlalu butuh aku, Haechan

 

Then you too, can you stop being clingy to everyone?”

 

Aku kecewa sama diriku sendiri setelah ngomong begitu sama kamu, sayang. Aku kecewa.

 

“Kamu tahu jelas kenapa aku seneng deket sama orang lain, Kak… Kamu tahu jelas alasannya apa.”

 

Karena kamu takut sendirian. Kamu dan momen di usia tiga belas yang masih nakutin kamu sampai sekarang. Kamu takut sendirian.

 

“I’m just trying to be a good person, Haechan.

 

“But you hurt me. You hurt me and I think it’s better for me to stop, for us to stop.”

 

Enggak … aku sayang banget sama kamu, Haechan. Aku nggak mau berhenti sayang sama kamu.

 

“Aku mau putus, Kak.”

 

Mark punya celah kecewanya sendiri untuk Haechan. Tapi ternyata, kecewanya Haechan punya porsi lebih besar.

 

[]

 

Kak Mark

Haechan, aku enggak mau putus

 

Kak Mark

Baby, please… let’s talk

 

Kak Mark

Chan, aku di depan kos kamu

 

Kak Mark

Maaf aku udah ngecewain kamu

 

Read

 

[]

 

Sifat dan karakter manusia memang susah untuk diubah. Mark sampai sekarang masih dengan sukarela membantu teman-temannya yang kesusahan. Sebagian diantaranya ada yang salah mengartikan dan menganggap Mark menaruh hati. Padahal niat Mark itu sesederhana tidak ingin temannya merasa kesusahan, ia tidak ingin kondisinya dulu dialami oleh orang di sekitar yang ia kenal.

 

Haechan memperhatikan Mark yang sedang tertidur di atas tiga kursi aula yang disejajarkan. Hari ini kampus akan mengadakan sosialisasi pertama untuk mahasiswa baru terkait pelaksanaan OSPEK kampus dan OSPEK jurusan, yang mana artinya semua anggota BEM sedang menyiapkan aula utama kampus untuk tempat berkumpul. Menginap bukan lagi hal aneh bagi mereka yang biasa disebut sebagai budak proker , termasuk Mark dan Haechan di dalamnya. Sedari kemarin siang, sebisa mungkin Haechan menghindari kontak langsung dengan Mark.

 

Tapi pagi ini ada yang aneh pada cowok yang satu tahun lebih tua dari dirinya itu. Bukan maksud Haechan sengaja memperhatikan — ia bersumpah itu hanya karena mereka berada dalam ruang lingkup yang sama semalam terakhir. Haechan menyadari Mark lebih diam dari biasanya. Mata yang lebih tua tidak berbinar dan bibirnya mulai memucat. 

 

Hanya dengan pengamatan singkat, Haechan tahu jelas Mark sedang sakit.

 

Namun sepertinya rekan kerja yang lain tidak begitu menyadari, lebih tepatnya mereka kurang peduli. Mark dan sikap terlalu baiknya pada semua orang juga seringkali dimanfaatkan. Tidak terkecuali seperti sekarang, saat Mark dibangunkan oleh Bang Bang Yuta untuk membelikan baterai microphone di minimarket depan kampus. Sekedar informasi, untuk menuju minimarket dari aula itu lumayan memakan jarak.

 

Padahal itu bukan jobdesk miliknya, padahal pekerjaan Mark sudah selesai, padahal Mark bisa saja pilih untuk lanjutkan istirahatnya sebentar setelah semalaman begadang dan menolak permintaan Bang Bang Yuta. Tapi ini Mark yang sedari dulu terlalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Tapi ini Mark yang begitu saja mengiyakan bahkan dengan senyuman untuk pergi ke minimarket depan.

 

Haechan rasa amarahnya mau meledak.

 

Karena bagaimanapun ia benci Mark, melihatnya dengan langkah lemas adalah hal terakhir yang ingin ia lihat di muka bumi. Haechan tidak suka ketika yang lebih tua sakit.

 

Jadi Haechan putuskan untuk diam-diam menyusul Mark yang sudah keluar dari aula. Tanpa banyak kata, ia rebut kunci motor milik Bang Bang Yuta yang berada dalam genggaman Mark, membuat Mark sedikit terlonjak karena kaget.

 

“Chan?” Dengar, bahkan suaranya sudah serak.

 

“Aku aja yang beli batrenya.”

 

“Eh … gak usah. Kakak aja yang beli.”

 

Haechan tatap Mark dengan pandangan sengit, “Sama aku aja. Kamu jangan balik masuk ke dalem. Pergi dulu ke kantin belakang aula, istirahat di sana sampe aku balik. You need a rest .” Ucapnya, seperti perintah mutlak yang susah untuk Mark tolak.

 

Mark putuskan untuk tidak melawan, tubuhnya benar-benar merasa perlu direbahkan meskipun hanya sepuluh menit.

 

“Makasih, ya.”

 

Makasih masih peduli sama aku.

 

“Hm. You really have to learn how to say no, Kak.” Haechan berkata terakhir kali sebelum menjalankan motor milik Bang Bang Yuta.

 

 

Tidur Mark ternyata lebih dari sepuluh menit. Tidak ada anggota BEM lain yang menyusul untuk membangunkannya. Dan itu semua bisa terjadi karena Haechan memintakan izin untuk Mark pada Bang Taeyong. Memohon pengertian darinya bahwa yang lebih tua sedang sakit dan membutuhkan istirahat. 

 

Mark terbangun dengan satu bungkus roti dan selembar obat kaplet yang Haechan titipkan pada ibu warung.

 

[]



"Katanya udah gak peduli," Dengan gerakan terus menyikut lengan Haechan, seringai jahil tercetak jelas pada wajah pria yang lebih tinggi tiga sentimeter darinya. “tapi sampe rela nyusul ke depan buat beliin batre tuh roman-romannya masih ada rasa yang tertinggal sih.”

 

Haechan menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, Jaemin akan terus mengejeknya sepanjang hari. “Gue cuma nolongin, Na. Dia lagi sakit.”

 

“Ciee hahaha. Balikan sih kata gue mah. Lo berdua masih sayang satu sama lain, ‘kan? Kelihatan jelas banget, Chan.”

 

“Nggak bisa.” Haechan menjawab singkat.

 

Seperti prinsip hidupnya, ia tidak suka memakai barang bekas. Terlepas kondisinya sebagus apapun, pasti akan ada kurangnya. Haechan tidak akan kembali menjalin kasih bersama Mark. Ia tidak ingin berakhir pada luka yang sama.

 

Jaemin mengecek jam yang berada pada pergelangan tangannya. 07.15, masih ada empat puluh lima menit sebelum acara dimulai. Lalu ia memutuskan untuk menarik Haechan menuju pojok ruang aula, menghindari kerumunan panitia lain.

 

“Na, ngapain sih?”

 

Just ten minutes talk buat ngebuka hati lo.”

 

Haechan mengusap wajahnya lelah. “Buat apa? Kalau lo mau gue balikan lagi sama Kak Mark, jawaban gue tetep sama, Na. Gue nggak bisa.”

 

“Tapi sebulan terakhir gue jadi saksi seberapa seringnya lo ngelamun, Haechan. Sebulan terakhir gue jadi saksi pola makan lo makin nggak bener. Sebulan terakhir gue tahu kalau lo sedih pisah sama Kak Mark. Lo keliatan lebih-lebih-lebih bahagia sama dia, Chan.”

 

“It’s just a phase, okay? I’m getting better.”

 

“Lo kenapa nolak banget ide buat balikan sama dia?” Jaemin bertanya penasaran. Sampai saat ini, ia dan teman-teman dekat Haechan yang lain belum tahu jelas alasan keduanya memutuskan hubungan. Seolah orang-orang di sekitar mereka berdua berusaha sebisa mungkin tidak pernah membahas hal mengenai alasan hubungan keduanya usai.

 

“Lo tahu kan gue paling anti pakai barang bekas. Sama kayak menjalin hubungan, gue nggak mau balikan sama mantan gue, Na. Gue nggak mau ngulang cuma buat dapetin luka yang sama.”

 

“Chan … tapi Kak Mark bukan barang. Dia manusia dan dia pasti bisa belajar buat perbaiki kesalahannya. Maaf banget kalau gue kesannya maksa begini, tapi lo bakalan paham saat lo lihat diri lo dan Kak Mark dari mata gue, Chan. Lo bakalan paham saat lo lihat diri lo dan Kak mark dari mata temen-temen lo.”

 

“Lo berdua sejelas itu masih sama-sama sayang.”

 

Jaemin tidak salah. Faktanya, Haechan memang masih menaruh rasa sayang pada Mark. Karena bagaimanapun perasaan sayang tidak akan semudah itu hilang. Perasaan sayang masih ada, hanya saja masih terkubur oleh kecewa.

 

“Gue yakin hubungan lo sama Kak Mark masih bisa diperbaiki. Tolong, Chan. Tolong berusaha buat bahagia lagi.”

 

Haechan memang sudah merasa lelah. Terus berlari dari jangkauan Mark tanpa mau mendengar apa-apa yang akan keluar dari mulut yang lebih tua.

 

Haechan juga rindu. Meskipun pada tiap harinya ia berusaha untuk tidak peduli pada Mark yang jelas sekali sering mencuri pandang. Haechan sangat mahir dalam menahan diri untuk tidak membalas pandangan Mark.

 

Inginnya untuk memperbaiki masih belum ada karena kecewa yang kepalang merambat ke hati. Namun jika terus begini, dirinya hanya akan terjebak pada lubang kecewa padahal ada tangga yang siap untuk bawa Haechan keluar dari sana. 

 

Maka saat Mark menghampiri untuk mengucapkan terima kasih ketika acara usai, Haechan pilih untuk tetap tinggal dan mendengarkan.

 

“Makasih banyak buat yang tadi.”

 

“Sama-sama.”

 

“Chan, boleh aku nganter kamu pulang ke kost?”

 

“Mending Kak Mark langsung pulang. Aku bisa jalan kaki.”

 

“Tapi aku mau ngobrol banyak sama kamu.” 

 

Kalimat Haechan selanjutnya buat Mark seperti berada di alam mimpi.

 

“Masih ada besok. Hari ini mending kamu langsung pulang, istirahat. Masih ada besok kalau kamu mau ngobrol.” Haechan tersenyum, “aku nggak akan kemana-mana.”

 

[]

 

Haechan tepati janjinya. Pada dua hari kemudian di kursi penumpang yang sering ia tempati dulu. Bersama Mark yang sebelah hidungnya masih tersumbat tapi tetap memaksa bahwa keduanya harus bertemu.

 

Mark terlalu takut kesempatannya akan hilang jika terlalu lama ia mengulur waktu, Mark terlalu takut secara tiba-tiba Haechan berubah pikiran.

 

“Mau kemana, Kak?”

 

Mark menoleh sekilas sambil mulutnya melengkung senyum — senyum yang belum juga luntur sedari awal Haechan masuk ke dalam mobilnya. “Rumah. Bunda kangen sama kamu.”

 

“Hah … Bunda?” haechan bertanya kaget, “dia nggak tahu kalau kita udah putus?”

 

“Dia sayang banget sama kamu, Haechan. Aku mana tega bilang kalau kita udahan.” Ada hening yang merambat, sebelum Mark menyadari mungkin mengajak Haechan ke rumah pada hari pertama mereka mau berbaikan adalah suatu hal yang berlebihan. “Atau … kamu keberatan? Mau mampir aja ke tempat lain?”

 

Tawaran Mark dijawab dengan gelengan oleh Haechan. “Nggak apa-apa. Aku juga kangen sama Bunda.”

 

Senyum Mark semakin melebar.

 

“Chan …” Mark kembali membuka obrolan saat dirinya merasa bahwa situasi mereka sudah cukup terhindar dari kata canggung. “Aku mau minta maaf. Maaf buat semuanya yang aku lakuin dan ninggalin luka buat kamu.”

 

Oh, jadi ini waktunya . Batin Haechan. Jadi ini waktunya Haechan menghadapi masalahnya bersama Mark. Ia tidak lagi sanggup berlari.

 

“Kamu ngerti kan, ‘Kak, kenapa aku mutusin buat udahan.”

 

Mark mengangguk. Kakinya menginjak rem saat di depan mereka lampu lalulintas berubah warna menjadi merah. “Aku udah salah memperlakukan kamu.”

 

It’s … It's not just about that .” Haechan menatap Mark yang sudah lebih dulu menatap dirinya semenjak mobil berhenti, “Ini bukan cuma tentang kamu yang salah memperlakukan aku, Kak. Lebih dari itu ….” tatapan Haechan berubah sedih, “kamu juga udah salah memperlakukan diri kamu sendiri.”

 

“Baiknya kamu sama orang itu yang bikin aku yakin buat nerima kamu jadi pacarku. Satu kampus kayaknya tau seberapa baik kamu ke semua orang. Tapi Kak … baiknya kamu juga yang bikin aku selalu mikir, kalau porsi sayang kamu ke aku nggak ada bedanya buat orang lain. Even sometimes … kamu lebih milih bantu orang dibanding ngutamain diri kamu sendiri, atau aku.”

 

Mark baru saja ingin menjawab saat suara klakson dari kendaraan yang sudah tidak sabar berbunyi bersaut-sautan. Lampu lalulintas sudah berubah hijau, Mark injak kembali pedal gas, melajukan mobilnya sampai ia menemukan tempat untuk menepi. Karena ia ingin menatap Haechan saat beri penjelasan. 

 

Mark pilih menepikan mobilnya di bawah pohon rindang yang di seberangnya ada warung kupat tahu. Ia buka seatbelt agar tubuhnya lebih leluasa menghadap pada pria yang masih sangat ia sayang.

 

“Aku …” otak Mark berputar keras untuk cari padanan kata yang pas, “aku nggak akan nyari pembenaran atas tindakan aku, Chan. Tapi ada alasan kenapa aku seneng bantu orang lain dan nggak mentingin diri aku sendiri.”

 

Haechan diam memperhatikan.

 

“Kamu tau kan kalau Ayah aku sekarang ini bukan Ayah kandung aku. Dia nikah sama Bunda pas aku kelas 1 SMA. Bisa dibilang ekonomi aku sama Bunda jauh dari kata cukup sebelum kenal sama Ayah.”

 

Mata Mark memanas hanya dengan membayangkan keadaannya bersama Bunda dulu. 

“Aku tau jelas gimana rasanya butuh bantuan tapi nggak ada satupun yang mau bantu, bahkan itu saudara sendiri.” Tawa Mark terdengar getir. Ia menunduk, menyembunyikan hidungnya yang mulai memerah. Butuh waktu beberapa saat untuk Mark melanjutkan, karena tenggorokan miliknya kini serasa dililit kawat tajam. “Aku cuma mau orang-orang di sekitar aku nggak ngerasain gimana keadaan aku dulu.”

 

Hati Haechan ikut merasa perih mendengar masa lalu Mark yang baru ia ketahui sekarang. Dengan perlahan Haechan mengulurkan tangannya, menggapai jemari Mark yang mulai sedikit bergetar.

 

Hangat menjalar saat Mark merasakan tangannya digenggam.

 

“Maaf kalau sikap aku bikin kamu mempertanyakan posisi kamu. Tapi kamu harus tau kalau porsi sayang aku ke kamu itu ada di urutan  paling atas setelah Bunda dan Ayah. Maaf kalau kamu ngerasa aku nggak mentingin kamu. Aku begitu karena kamu selalu bilang nggak apa-apa, bahkan ada temen-temen kamu yang selalu bisa gantiin peran aku.”

 

“Kak Mark …” Haechan memanggil lirih. 

 

I’m so sorry .” Dan Tangis Mark seketika pecah.

 

I’m so sorry , Haechan. I really miss you, I really miss us . Hidup aku kosong banget nggak ada kamu, Chan. Please … please maafin aku.”

 

Melihat Mark yang biasanya selalu bisa diandalkan dan sekarang sedang menangis sesenggukan, tidak ada hal lain yang ingin Haechan lakukan selain untuk memeluk tubuh yang lebih tua.

 

Haechan segera melakukannya. Ia tarik tubuh Mark dalam dekapnya.

 

Haechan bisa rasakan Mark mengeratkan pelukan mereka, Haechan bisa rasakan Mark membenamkan wajah di ceruk lehernya. Membuat Haechan bisa merasakan basah dari air mata Mark.

 

Hey ... hey … ” tangis Haechan ikut turun, “ it’s okay, Kak. It's okay . I forgive you already.”

 

The day we broke up … I’m so sorry for doubting your love . Aku paham kamu mau deket-deket sama orang karena kejadian dulu. Padahal kamu udah cerita sama aku, tapi aku masih aja nggak mau paham gara-gara egois. Maaf, Haechan. Maaf.”  

 

“Nggak apa-apa, Kak. Aku juga ngerti.”

Mark menarik tubuhnya dari pelukan Haechan, hanya untuk melihat wajah yang lebih muda. “Jangan nangis,” ucapnya sambil menghapus air mata yang terlanjur turun di pipi Haechan menggunakan punggung tangannya. “jangan nangis…”

 

“Orang kamu duluan!”

 

Kemudian keduanya tertawa meski masih ada air mata.

 

“Chan,” Mark berkata setelah tawa keduanya reda, “Kakak bisa dapet kesempatan lain nggak?”

 

“Buat apa?”

 

“Sayang dan jagain kamu.” Mark menjawab penuh harap.

 

Jemari Haechan kini bergantian menghapus air mata Mark yang mulai mengering. Menyusuri lekuk wajah yang lebih tua dengan begitu hati-hati.

 

Begitu pun untuk memulai kembali, Haechan ingin berhati-hati.

 

“Tapi aku mau minta sesuatu, Kak.”

 

“Apa?” Tanya Mark, ia genggam jemari Haechan yang masih berada di wajahnya.

 

“Jangan maksain diri kamu buat selalu bisa nolong orang lain. Kamu harus janji bisa mentingin diri sendiri dulu sebelum kamu mentingin yang lain, ya? Kamu nggak punya kewajiban untuk selalu bisa, untuk selalu berusaha. You have  your own limit at helping people and that’s totally fine. Kamu cuma manusia yang hatinya seluas samudra, aku nggak mau kamu tenggelam karena kebaikan kamu sendiri.”

 

Apa yang bisa Mark lakukan selain meng-iyakan? Jawabannya tidak ada. Ucapan Haechan benar adanya. Terkadang ia terlalu memaksakan untuk selalu bisa membantu tanpa sadar dirinya malah yang mengalami kesulitan. 

 

Mark mengangguk mantap, “ I’ll working on it .”

 

Then the answer is yes . Kamu dapet kesempatan lagi dari aku.”




-FIN



[]








Catatan tw// mentioning of kidnapping : Haechan pernah diculik sama angkot pas pulang sekolah. Jadi dia ada trauma naik kendaraan umum. Mangkanya Haechan seneng deket sama orang-orang yang udah dia percaya dan milih kosan yang bisa ditempuh dengan jalan kaki kalau mau ke kampus.